gambar diunduh dari bp.blogspot.comSering aku bolak-balik memori-memori usang. Dan mengenai dia adalah seni, seperti goresan pena di tiap lagu ciptaan. Atau denting piano mengalun di pagi-pagi prematur. Pernah aku bersyukur menjalani hidup hanya dengan mendengar dia menembang lagu cinta. Pikirku, seelok lagu demikian hidup yang akan dirintis bersama. Di sana ada ritme lembut sebelum menghentak, pula ada barisan kata indah terdengar kuping.
Adalah kesalahanku tidak mengenal banyak pria dalam hidup. Aku minder, itu poin penting akibat kurang cantik. Sehingga lelaki pertama yang buat aku jatuh hati ini adalah cinta segala rupa. Menjeratku.
Mengenal seni, bikin aku beranggap semua pencinta seni adalah pria romantis. Dan aku menyukai hal-hal berbau romantis. Ada hal romantis dilakukan Andre dalam hidupku yakni menemaniku berkeliling pulau Flores. Sebuah pulau kecil yang ada danau tiga warnanya serta aroma asli dari pepohonan dan stepa di pinggir jalan. Istri pertamanya kelahiran Flores sehingga sedikit banyak Andre sudah mengenal pulau itu. Sebuah petualangan yang mestinya monumental bagiku. Mengingat setelahnya Andre mulai mengabaikanku.
“Dari mana kita harus memulai?” tanyaku waktu pesawat mendarat di kota Ende. Kota kecil namun tak kalah kotor dan hiruk pikuk seperti di sini.
“Dari sini kita ke timur. Hingga tiba di ujung pulau, di mana orang-orang sering berburu ikan paus. Semoga kita tiba pas musim berburu. Lalu balik lagi ke arah barat, ke ujung pulau ini pula. Kau akan lihat hewan raksasa yang namanya komodo.”
Jadi mulailah sebuah perjalanan memakan waktu tiga hari. Momen-momen penuh bahagia tiada terkira merasakan kehadiran Andre yang utuh. Di Lembata kami menikmati daging paus di antara penduduk setempat. Berperahu motor bersama nelayan yang bersedia membawa kami melihat-lihat tandusnya sebagian pulau tersebut dari tengah laut. Aku muntah-muntah, Andre memijitku dengan kekhawatiran tingkat tinggi hingga kami kembali ke darat dan mualku berhenti. Waktu kami berdua menyelusuri tepian pembatas menyaksikan danau Kelimutu, tiga warna, aku merasakan nirwana terbentuk kala itu. Cinta bergelora dan dia tidak henti-henti memelukku. Sebuah anugerah belaka. Tidak ada seorang penyanyi, pemusik dan wartawan di sana yang merenggut Andre dari sisiku. Aku bahagia bukan main. Kemudian perjalanan berakhir di Labuan Bajo. Kota kecil pula, tempat di mana beberapa pulau kecil dihuni komodo. Berdua kami menghabiskan waktu menyambangi kadal raksasa sebelum menikmati keindahan pantai di daerah itu. Kemesrahan berlimpah ruah di sini. Cinta bermekaran laksana kembang albesia di awal musim penghujan. Seperti bentangan terumbu karang di bawah laut Labuan Bajo. Penuh semarak canda tawa.
“Aku ingin kamu tahu bahwa kau diselimuti oleh cinta. Tidak ada orang lain lebih mencintaimu selain aku. Kamu harus tahu itu. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya.” Bisiknya di antara peluk. Begitu lembut membuat aku bergelayut manja pada lengannya.
“Apakah aku begitu berarti bagimu?”
“Huss, kamu ingat sebaris syair lagu baruku?”
“Kaulah pertama saat kuawali hari dan terakhir ketika tertidur malam nanti: kusebut namamu..” kami melantun bersama.
“Berikan aku sepotong arti cinta!” Aku tersenyum. Menggoda Andre dengan menirukan salah satu kalimat dalam lagu ciptaannya.
“Saat aku bertahan di sisimu dan masih bertahan di sana meski tanpa alasan aku kira itulah cinta.” Dia kecup keningku. Ahh..
Dan aku berjanji saat itu; untuk mencintainya seumur hidup. Apapun yang terjadi.
Minggu,21 Maret 1999. Senja baru saja mengunjungi pinggiran kota Sambas saat seorang bule jangkung tergagap-saat ditawari sepotong daging setengah matang oleh seorang prajurit Melayu. Daging berwarna kelabu itu berasal dari tubuh seorang Madura yang baru beberapa jam lalu berhasil mereka tembak dengan sebilah senapan buru. “Katakan kepadanya tidak, saya tidak mau itu,”katanya kepada Budi, sopir sekaligus penerjemahnya.
Budi lantas berbicara kepada lelaki Melayu itu. Demi mendengar penjelasan tersebut, alih-alih menghentikan aksinya, sang prajurit itu malah tergelak sembari secara demonstratif menjejalkan potongan daging manusia itu ke mulutnya. “Enak.Serasa daging ayam,”serunya. Inilah salah satu penggalan kisah yang menurut saya paling edan dari In The Time of Madness,sebuah buku yang berisi kumpulan catatan reportase konflik yang terjadi di Jakarta,Sambas, Singkawang dan Timor Timur selama rentang 1997-1999.
Jujur saja, saya terhenyak dan sedih membaca buku ini. Seperti Richard Lloyd Parry, (Bule yang menulis buku tersebut), kembali saya jadi tak habis pikir bagaimana kegilaan itu bisa dilakukan oleh seorang manusia kepada manusia yang lainnya? Ketika kebencian sudah mencapai ubun-ubun, kemanusian seseorang mencapai limitasinya dan seolah hilang dimakan rasa marah . Ironisnya, justru sebuah harapan tentang Indonesia yang lebih baik dan demokratis justru harus didahului oleh situasi horror gaya kanibalis, sebuah kondisi yang juga sempat saya saksikan di Jakarta, Tobelo, Ambon, Sampit dan Poso.
Disamping rasa sedih dan ngeri yang tak terkatakan, diam-diam saya juga kagum terhadap karya Parry ini. Ia nyaris sempurna merekam semua kegilaan tersebut. Bukan saja lewat sebuah tulisan reportase yang detail tapi juga tutur kata bagai perpaduan antara novel-novel Hemingway dan film-film Hithcock. Wajar jika kemudian, wartawan senior, Farid Gaban menjuluki karya Parry ini sebagai “jurnalisme sastrawi dalam praktik dan contoh nyata”.
Selama ini, untuk mendapatkan “data panas” mengenai sebuah berita, jurnalis perang yang berkiprah di The Times (Inggris) itu saya dengar tak segan-segan memburunya dengan berbagai cara. Termasuk dengan mendatangi nara sumber sampai ke berbagai kawasan medan perang di Afghanistan, Kosovo dan Irak. Di Indonesia, hal sama ia lakukan dengan “menjemput” berita langsung ke pelosok hutan dan kampung yang tersebar di Kalimantan dan Timor Timur.
“Parry adalah wartawan tak kenal lelah yang berani masuk ke relung kejahatan manusia paling dalam,”tulis sebuah ulasan dalam Literary Review.
Buku yang berisi liputan Parry tentang konflik etnis di Kalimantan,kerusuhan Mei 1998 dan Huru-hara Referendum di Timor Timur pada 1999 itu, menurut saya memang sangat laik untuk dibaca. Bukan saja oleh para jurnalis dan peneliti, tapi juga oleh semua orang Indonesia.Setidaknya untuk memberitahu,Indonesia yang kita kenal bukan sekadar sorga indah yang selalu kita saksikan di sinetron-sinetron tapi juga sebuah tanah yang kusam dan kaya dengan berbagai kegilaan berdarah di luar nalar manusia normal. Buktinya adalah kisah prajurit Melayu yang memakan daging seorang lelaki Madura, seperti dituturkan Parry di atas.
Judul: In The Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos
Penulis: Richard Llyod Parry
Penerbit: Grove Press, New York, 2005
Harga: $7.66
Oke…okelah. Lebih baik aku ke Pontianak hari jumat 26 oktober, supaya lebih santai dilibur Idul Adha. Inilah keputusanku hari senin waktu istirahat bersama kekasih hati, sebelum getah karet dikutip.”Iyalah…Berarti kita masih bisa noreh hari kamis”:Istriku senang merespon keputusanku”. Kita pakai saja duit dari penjualan buku untuk ke Pontianak. Tak usah usik dana untuk biaya kehidupan sehari hari. Hua…ha…ha…Kalau dana keluarga sangat terbatas, pastilah bisa dikelola dengan bijaksana. Tapi seandainya dana yang tersedia agak berlebih, maka ada saja keperluan yang (seolah) mendesak. Tiba tiba saja perlu beli sepatu, baju baru atau lauk pauk yang enak.
Hari kamis hujan lebat semalaman, sehingga kami tidak bisa noreh. Pagi ini setelah antar Jati ke sekolah, banyak ngobrol berdua di ruang tamu. kayak masa pacaran pada zaman dahulu kala. Istriku sangat intens membicarakan penanggulangan biaya Jati yang harus kuliah. Beberapa peluang ekonomi untuk ditabung selama 3 tahun (Selama Jati SMA), dipaparkannya dengan lancar. Mulai dari ternak ikan lele yang sudah gagal 2 tahun, sampai ke soal membukukan tulisan tulisanku bersama Pay Jarot. Aku sangat yakin bahwa gagasan gagasan istriku sudah lama terpendam dalam benaknya. Tapi, aku pura pura mengangguk angguk seakan gagasan cemerlang itu baru kuketahui. Yah, Mudah mudahan saja istriku makin semangat karena aku mengangguk angguk. Mudah mudahan dia tak tahu bahwa anggukan itu adalah sebuah sandiwara (berpura pura) kagum sama pikirannya.
Lebih baik pagi ini kita susun bajumu ke Pontianak. Kau pilih baju serta perlengkapan ke Pontianak, aku mau masak. Maka akupun sibuk memilih baju celana serta buku buku yang perlu di fotocopy untuk bahan baku Anggie Maharani memahami unkonvensinil, teologia pembebasan, wacana perubahan sosial dan lain lain. (Terpaksa) aku harus fasilitasi Anggie sebagai peresensi sekaligus sukarelawan sales bukuku di kabupaten Sanggau. Pulang dari Pontianak aku akan segera ke Sanggau menyerahkan bukuku tuk dijualnya sekaligus membahas tahapan membangun Kelompok Cinta Baca Nulis di Sanggau
“Baju begini kau ke Pontianak ???”. Istriku geram melihat aku. Kau bilang, kau mau launching, bedah buku, bahas gerombolan unkonvensinil, bicara soal menulis. Harus kau usahakanlah berpenampilan rapi bersih agak terhormat. OooaaLlaa… Kembali lagi kudengar cerewet istriku yang bisa mengalahkan gaduhnya suara radio rusak. Yah,…Aku hanya pasrah membiarkan persekongkolan anak istriku mengatur dan memilih baju celana yang akan kubawa. ”Sudah kubeli sikat gigi, sabun cair, odol dan tempat peralatan mandimu yang agak keren. Waduh!!! Kok secantik ini tas kecil mahal hanya untuk keperluan mandi. Sebenarnya aku mau protes tapi tak kuasa.
Jati bilang sebaiknya bapak naik taksi saja, supaya laptop bapak yang sudah rusak (kalau dibuka harus disanggah pakai tongkat supaya tak jatuh). Aku keberatan atas usul Jati. Disamping harga tiket taksi yang mahal, aku lebih suka naik bus. Puas melihat para penumpang turun naik dengan tingkah laku berbagai macam kelas sosial. Akan makin tajam mata hati nurani meihat realitas kalau naik bus. Begitulah sikapku yang terlalu romantis melihat kehidupan yang sadis dan kejam . Sekali ini Jati tak berni memaksakan pendapatnya.
Sial !! Rupanya hari ini adalah hari libur nasional. Idul Adha membuat buruh dari PT Erna Sanggau berbondong bondong padat memenuhi bus. Kesempatan libur pulang ke kampung halaman. Aku yang sudah sempat naik bus terpaksa berdiri padat bersama buruh perempuan yang cuti kerja. Dalam hati ada juga rasa senang karena aku bisa mengukur stamina tubuhku seberapa lama tahan berdiri. Dan, terbukti bahwa kondisiku cukup prima. Sampai Ngabang (sekitar 80 Km dari desaku) ada penumpang yang turun. Hus !!! Jangan kau yang duduk, bapak sudah tua ini yang harus duduk. Seorang buruh perempuan melarang kawannya duduk di tempat kosong. Pukimaknya cewek ini seenaknya saja tuduh aku:Bapak yang sudah tua, pasti dia tak tahu bahwa aku panggil jengkel mendengar sebutan tersebut. ”Terima kasih,…terima kasih. Aku obral senyum manis ke mereka, sambil duduk meninggalkan penumpang yang lain tetap berdiri sesak.
Sebelum negara republik Indonesia berdiri, leluhur mereka sudah mengelola tanah untuk kebutuhan hidup keluarga. Sampai republik Indonesia berumur 67 tahun, semakin seenaknya negara merampas tanah rakyat demi untuk kepentingan pejabat/pengusaha. Menginjak mampus masyarakat jadi sengsara demi untuk mendukung kestabilan “perekonomian negara”. Pemimpin pemerintahan memang berjiwa BANGSAT!!!. Mual perutku membayangkan kejahatan negara terhadap rakyatnya. Saudara saudaraku didalam bus adalah korban utama dari kebijakan negara. Aku juga korban kejahatan negara, tapi nasibku lebih baik dari mereka. Uh!!!
Gadis manis muda belia kelihatan agak dinamis tersenyum dan mendadak tanya aku:”Bapak ini pasti orang kaya pura pura miskin”. Terkejut aku mendengar pernyataannya. Pura pura pakai celana pendek bawa ransel usang, padahal bapak ini punya perkebunan yang luas. Iya..Kan Pak ?”. Betapa hangatnya pembawaan gadis manis ini. Tak mampu aku menjawab pertanyaannya. Mau kubantah, pasti dia pikir aku berbohong pura pura miskin. Mau kujawab jujur:”Aku mau ngurus penjualan bukuku yang keren”. Pasti akan bertubi tubi pertanyaannya tentang bukuku. Pasti aku akan lelah menjawabnya. Makanya aku hanya menjawab dengan senyum lembut pamerkan gigiku yang ompong. Dalam hati aku berdoa:”Kau doakan saja supaya solusi yang kucapai dengan Pay Jarot dapat berjalan mulus. Sehingga ada keuntungan yang bisa ditabung untuk Jati bisa kuliah.
Pontianak, 26 Okt’ 2012
Sangat berharap kawan kawan segera membeli bukuku.
Rasa ini sejatinya cinta. Tak selalu indah. Kadang luka mewarnainya. Kadang tangis terselip di antara tawa. Tapi inilah sejatinya cinta. Yang akan terus ada meski semesta menentang. Yang akan kembali hidup saat kematian merenggutnya. Dan akan tetap kusimpan hingga tiba di masa yang berbeda. Untuk kembali kupersembahkan padamu yang tercinta.
Young Girl in the Garden at Mezy by Pierre-Auguste Renoir. gambar diunduh dari http://www.paintingall.com
Sepedanya belum berdiri sempurna, saat matanya menangkap sosok mungil di tengah rimbunan semak bunga tulip yang hampir mekar. Bergerak lincah dengan rambut hitam panjang melambai tertiup angin senja. Sosok yang membuatnya terpesona. Membuat dadanya berdebar oleh rasa aneh yang menggelitik sukma.
Sosok gadis mungil itu terus bergerak dalam tarian yang indah. Berayun, berkelit dan meliuk di antara tangkai-tangkai tulip yang beraneka warna. Begitu seirama. Begitu indah. Hingga Robert terlupa oleh niat kedatangannya, terlalu sibuk terpesona. Terlalu sibuk menikmati tarian. Dan terlalu sibuk menenangkan debar, mempertanyakan apa istimewanya gadis mungil yang sibuk di kerumunan bunga tulip di taman sana hingga jantungnya bertalu kencang. Hingga dia tak ingin bergegas. Hingga dia lupa sekelilingnya!
***
Berdiri dalam keremangan. Menatapmu dalam diam. Tak mampu berkata, bahkan tak sanggup mendekat. Inginnya aku ada di sana, mengusap bulir yang turun deras membasahi wajahmu yang rupawan, inginku membuai sedihmu hingga larut tak berbekas dan merengkuhmu meski sesaat.
Ahh…, jangan sakiti dirimu dalam duka Clara! Bisikku lirih pada senyap hampir gelap. Kulihat kau mulai melangkah, berputar tak tentu arah, mengelilingi ruang serentang waktu sekejap. Hentikan sayang! Jangan kausiksa dirimu dalam keterdiaman. Keluarlah dan tertawa! Kataku menggema tapi tak cukup membuatmu mendengar.
Cerialah Clara! Kembalilah bersuka! Dukamu membuatku tak mampu bergerak! Tangismu membuatku tak sanggup bertahan! Bergembiralah Clara! Jangan kausiksa aku dengan isak dan lara! Bersukalah! Hingga tiba waktu kita untuk kembali bersama! Dan kembali aku berteriak, memprotes semesta yang membuat kami jadi berjarak. Merobek heningnya malam dengan segala tanyaku yang tak terjawab. Bahkan tangisku tak mampu membuat semesta menggeliat!
***
Melangkah pelan di antara rimbunan semak tulip yang hampir mekar. Meliuk di antara celah belukarnya. Menghirup aroma senja yang begitu menyejukkan. Menikmati merdu gemericik air sungai yang tak jauh dari rumahnya. Membuat berbagai kenangan di masa entah, kembali menari dalam relungnya. Kenangan yang selalu hadir setiap musim tulip bermekaran.
Bertahun lalu.
“Biji?” Keningnya berkerut saat mendapati beberapa buah biji yang digenggamkan Gerard di telapaknya kala itu.
“Tulip christmas dream. Bunga itu secantik kau saat berbunga.”
“Hahahaa..” Merdu tawanya berbaur dengan gemerisik kincir angin yang berputar tak jauh dari tempat mereka.
“Kau akan langsung jatuh cinta saat melihatnya. Seperti aku, yang langsung jatuh cinta saat melihatmu.”
Clara menyibak helai rambut yang menutupi wajah. Seolah ingin menepis kenangan yang melekat. Menyibukkan diri dengan tulip di hadapan. Menggenggam erat jarum jahit di tangan. Dan menunduk untuk mencari tempat yang tepat. Tempat seperti yang ditunjukkan Gerard di masa entah.
“Tusuk tiap tulip yang hampir mekar. Tepat di bawah kelopaknya.”
Keningnya berkerut heran. Sebuah tanya menyeruak. Bagaimana dia bisa melukai tulip yang tengah berjuang membuka kelopaknya? Bagaimana dia bisa merusak keindahan di depannya?
“Luka itu akan membuat mekarnya lebih lama.”
“Tidakkah itu akan merusaknya?” Keraguan tersirat nyata.
”Hanya tusukan kecil. Kau tak akan merusaknya.”
Keraguan itu masih menyelimutinya untuk sesaat. Dia tak ingin melakukan kesalahan. Terlalu lama dia menunggu saat tulip siap mekar. Dan kini haruskah dia kehilangan kesempatan untuk melihat keindahan yang dirindunya? Dia mendesah resah. Bahkan tulip itu belum membuka kelopaknya.
Gerard menatapnya dengan jenaka. Kebingungannya justru menggelikan kekasihnya.
“Entahlah! Bagaimana luka bisa membuat keindahan itu bertahan lama?”
“Tak semua luka menghancurkan. Luka yang diperolehnya justru membuat tulip bekerja keras menghasilkan gas eliten untuk memperpanjang umurnya.”
Dia hanya terdiam. Tersentuh oleh cerita Gerard tentang tulip yang tak kenal putus asa berjuang hinga kelopaknya bermekaran. Ya! Luka itu justru membuat tulip bertahan! Dan entah kenapa debar aneh yang meresahkan perlahan datang menguasai hatinya.
“Kadang dari luka-lah, kekuatan datang. Tulip menjadikan luka itu sebagai cambuk untuk meraih puncak keindahannya.”
Tatap mata Gerard menyimpan banyak rahasia. Debar aneh itu semakin terasa. Apa yang ingin Gerard sampaikan padanya? Bisiknya dalam diam. Saat itu dia tak tahu bahwa Gerard sedang berusaha menyatakan kebenaran. Kebahagiaan masih menjadi bagian dari kebersamaan mereka. Dan Clara tak pernah mengira bahwa saat itu Gerard sedang mempersiapkan hatinya untuk menerima perpisahan tanpa air mata.
Ingatan masa itu kembali menusuk rasa Clara. Membuat kristal bening berjatuhan seiring isak yang tak mampu dibendungnya.
Gerard! Betapa rindu ini tak tertahankan, bisik Clara di antara kesibukannya melukai setiap tangkai tulip yang hampir mekar. Menusuk tangkai tulip perlahan dengan berbagai kenangan dan rasa. Seolah ingin mentransfer lukanya di tiap tulip yang hampir mekar. Seolah ingin membuang kesedihan. Seolah dengan begitu dia mampu menyerap kekuatan tulip untuk bertahan. Menjaga keindahannya seiring waktu yang berjalan. Mempertahankan kesetiannya hingga waktunya tiba.
Clara kembali mendesah. Tusukan di dadanya semakin terasa nyata. Menyakitinya! Membuat dadanya sesak oleh berbagai kenangan. Kenangan yang mengalir seperti arus sungai di belakang rumahnya. Mengalir tak kenal lelah hingga bermuara ke dalam sungai Rhine yang membelah kota Leiden. Kota yang mempertemukannya dengan sosok lelaki beda bangsa. Yang membuatnya terpana oleh keindahan tulip yang berbunga. Yang mampu menghanyutkannya dalam kisah mengharukan. Gerard! Karena lelaki itulah dia kini menetap di kota Laiden setelah menyelesaikan studinya. Karena lelaki itulah dia menjadi warga asing di negara yang penuh irama gemericik sungai-sungai yang membelah di setiap kotanya. Karena Gerard-lah dia sanggup bertahan untuk menjemput kebahagiaan yang dijanjikannya!
Clara jatuh terduduk sambil menekan dadanya yang tertusuk kenangan. Rasa sakit itu bukan lagi rasa di masa entah. Rasa sakit itu kini menyerangnya begitu nyata. Menyakitinya begitu dalam. Hingga tak memperdulikan angin senja yang terus mengurai rambut hitamnya yang mulai beruban. Tak memperdulikan air sungai yang terus berkecipak tak kenal lelah. Bahkan rasa sakit itu membuatnya tak memperdulikan sisa tulip yang masih harus ditusuknya!
***
Tak perlu mendekat. Tak perlu bertanya apa yang membuat air mata Clara bercucuran. Berpuluh tahun aku telah melihat air mata itu setiap April datang. Berpuluh tahun pula aku tergugu tak mampu merengkuh bahu Clara, hanya bisa menatap dari kejauhan. Hanya mampu mendesah. Dan mengutuki kebodohan karena begitu tega menyakiti hati Clara.
Cinta memang mengaburkan logika. Perasaan itu datang tiba-tiba saat melihat Clara pertama kalinya. Berdesir melihat wajah eksotis khas asia. Tak berkedip menatap aura kelembutan yang terpancar dari aroma ketimuran. Dan bergetar menginginkan perempuan mungil itu untuk menemani hari-hari yang tak kan lama. Ya! Bahkan, seharusnya saat itu harinya diisi dengan menghitung detik yang berjalan. Dan bukan justru berusaha keras mendapatkan kerling perempuan mungil yang disukanya. Seharusnya saat itu aku duduk tenang menanti virus mengikis habis waktu yang tersisa. Dan bukan justru mengajak seorang perempuan ceria untuk membangun mimpi indah bersama dan lalu menghempaskannya. Seharusnya saat itu aku berlari menjauh agar Clara tak mengenalnya. Dan bukan justru menjanjikan sebuah harapan semu tentang cinta. Dan dari semuanya. Kebodohan terbesar yang kulakukan saat aku memintanya untuk setia, memberinya kekuatan di atas fatamorgana!
“Percayakah kau akan kehidupan kembali setelah kematian?”
“Hanya roh kita yang hidup untuk mempertanggungjawabkan semua amalan.”
“Bukan itu yang kumaksudkan. Bahwa kita akan kembali terlahir dalam sosok lain di masa kemudian.”
Clara tersenyum sebelum menjawab tanya. Senyum menyejukkan yang selalu memberinya kekuatan untuk bertahan dari sengatan virus yang menghancurkan raganya.
“Aku pernah membacanya. Dan semua kisah akan kembali terulang. Kita akan dipertemukan sosok-sosok tersayang di masa lampau dalam tubuh baru di masa depan. Ya! Andai itu benar..”
“Aku mempercayainya. Kita akan kembali mengulang kisah. Kita akan bersama. Dan saat itu, semesta tak akan membuat kita terpisah.”
Senyum Clara meredup. Berganti dengan genangan air mata. Hatiku tertusuk melihat kekasihku begitu terluka.
“Jangan menangis, Clara! Aku akan mencari di setiap ruang hingga menemukanmu di masa kemudian. Kita akan kembali bersama. Dan saat itu tak kan kuijinkan kesedihan mewarnai kisah kita.”
Kuusap lembut bahu Clara untuk meredakan isaknya. “Percayalah! Kumohon…, hanya dengan kepercayaan yang kuat maka semuanya akan terjadi seperti kemauan kita. Dengan keyakinan kita berdua, semesta akan mengabulkan.”
Aku tersentak. Kenangan itu mengabur sudah. Tatapanku nanar menatap sosok Clara di antara kerumunan tulip yang hampir mekar. Apa yang terjadi dengannya? Tanya itu menyeruak. Namun kakiku diam tak mampu melangkah. Ragaku beku melihat tangan perempuan yang kucinta melambai dengan sorot mata penuh kepanikan. Inginku berlari ke arahnya. Menarik tubuhnya yang perlahan merosot jatuh di antara semak tulip di taman belakang rumah. Inginku merengkuhnya. Saat tangan Clara yang lain mendekap dada penuh aura kesakitan. Inginku ada di sana. Menguatkan dan menghilangkan apapun yang menyakitinya.
Tapi apa yang bisa kulakukan? Bahkan sekedar berteriak memanggil pertolongan pun tak dapat kulakukan. Apa yang bisa kuperbuat? Selain tergugu dan meneriakkan pada semesta untuk menolong Clara. Ya! Hanya semesta yang bisa mendengarnya. Hanya semesta yang tahu keberadaannya. Dan hanya semesta yang menyaksikannya terpuruk saat melihat kekasihnya telah tiba saat untuk meninggalkan dunia.
Aku masih terkurung dalam keterpakuan. Saat kurasakan keberadaanku perlahan memudar. Mengurai pelan. Melebur dalam cahaya yang menyilaukan. Membuatku tergagap. Tak sempat bertanya saat mataku terpejam erat oleh sinar terang membutakan mata!
***
“Menunduklah!” Suara yang datang dari belakang itu mengejutkannya. Diputarnya badan dan berkerut heran mendapatkan anak lelaki berambut ikal pirang seusianya berdiri menatap sambil menggenggam seikat tulip christmas dream yang begitu disukainya.
“Tusuk tangkai di bawah kelopak itu pelan.”
“Untuk apa?”
“Agar kau bisa mendapatkan tulip mekar lebih lama dari yang seharusnya.”
“Jangan bercanda! Tusukan hanya akan merusaknya.”
“Tusukan itu akan membuat tulip memproduksi gas etilen. Dan gas itulah yang akan membuat tulip mekar lebih lama.”
“Bagaimana tulip bisa bertahan dalam keadaan terluka? Bagaimana mungkin luka bisa membuat keindahan bertahan?”
“Tak semua luka menghancurkan. Luka yang diperolehanya justru membuat tulip bekerja keras menghasilkan gas eliten untuk memperpanjang umurnya.”
Putri terkesima. Bukan hanya oleh kata-kata lelaki bule di depannya. Tapi lebih pada perasaan aneh yang menyerangnya. Debar aneh yang datang seiring ingatan akan kejadian serupa.
“Kadang dari lukalah, kekuatan datang. Tulip menjadikan luka itu sebagai cambuk untuk meraih puncak keindahannya.”
Desiran panas membuatnya ternganga. Entah apa yang terjadi dengan kepalanya. Seorang lelaki belanda yang menggenggam tulip christmas dream kesukaannya. Di taman belakang rumahnya. Di antara tulip yang hampir mekar. Diiringi gemericik air dari sungai yang tak jauh dari rumahnya.
Kata-kata lelaki itu tentang tulip, luka dan kebahagiaan, membuat semuanya terasa lengkap. Membuatnya terserang semacam déjà vu yang dia sendiri tak ingat kapan semuanya pernah terjadi dalam hidupnya. Dan dia masih diam ternganga, sibuk membuka ingatan. Hingga tak memperhatikan bahwa lelaki di depannya berdiri linglung dengan kerutan di keningnya.
“Seperti déjà vu!” bisik Robert lebih pada dirinya. Sambil sibuk menenangkan hatinya yang terus berdebar menatap sosok perempuan asia di depannya. Tak mengerti dengan rasa déjà vu yang begitu pekat terasa. Tak mampu mengingat kapan mengenal gadis mungil itu sebelumnya. Dan kening Robert terus berkerut heran. Berbagai tanya menyerangnya. Kenapa sosok gadis itu seolah begitu dekat. Kenapa dia seolah mengenal gadis itu bertahun lamanya. Siapa dia?
Putri Kusuma! Bahkan hanya itu yang Robert tahu tentang sosok mungil di depannya. Tapi kerasnya debar di dada, ketertarikannya yang tak mampu dicegah dan keinginannya untuk terus dekat dengan gadis itu membuat Robert sadar bahwa cinta telah berdenyut di hatinya. Bukan cinta yang datang tiba-tiba. Tapi jauh di masa entah. Bahkan mungkin sebelum mereka berjumpa untuk pertama kalinya.
*)Rinzhara, seorang ibu rumah tangga yang memiliki kesukaan menulis fiksi.
gambar diunduh darii bp.blogspot.comAku memiliki koleksi perempuan cantik. Bukan hobiku sejatinya, tetapi sekadar koleksi untuk bahan perbandingan mana di antara mereka yang paling banyak kubenci. Pernah aku menatap wajahku di cermin untuk mencari-cari perasaan tersirat terhadap para perempuan itu. Sirik. Dengki lebih pas. Barangkali demikian aku mengetahui perasaan tersebut. Aku benci pada kecantikan mereka. Coba perhatikan mimikku bila ada wanita lain, dari golongan rupawan, di rumah ini. Mulut ini akan bengkok sebagai sinis, alis terangkat dengan mata menyipit. Semacam refleks reaktif terhadap adonan rupa yang lebih menarik. Sesekali kulampiaskan marah pada penciptaku yang teledor sehingga lupa merapikan wajahku dari timbunan lemak di kedua pipi. Juga lupa membetulkan hidungku yang kempis ini.
Ah! Seandainya mereka tidak merebut waktuku dengan lelaki kesayanganku pastilah aku tidak menanam benci semacam ini. Gara-gara kecantikanlah orang paling kucinta di muka bumi ini mengabaikanku. Aku teliti lagi rupa pada cermin, sering pula menatap lama-lama foto-foto kenangan; gambarku sama. Jauh dari cantik. Pantas aku kalah bersaing dengan wanita lain.
“Kecantikan mengubah dunia! “
“Kau terlahir cantik? Yakinlah dunia akan kau genggam!”
Sejak kapan kalimat-kalimat penghancur itu tersisip dalam memori otak? Pasti aku telah membaca dari salah satu buku bacaan, atau kalimat terucap dari seorang bintang film yang kutonton. Kata-kata itu melekat bagaikan tumor ganas, atau ular berbisa, menetes-teteskan racun tiap kali hatiku mengutuki kecantikan wanita lain. Dengan alasan itu aku senantiasa minder bila para perempuan lain datang ke rumah. Mereka datang selalu untuk mengunjungi lelaki terkasihku. Sehingga diam-diam aku pelihara gunjing dan fitnah kepada para pemilik rupa cantik.
“Malaikatku” atau “Bidadariku” atau ”Gadis tercantikku”, demikian Andre pernah menyapa di setiap hari-hariku. Aku melambung ke ufuk timur, terjerang matahari hingga hati ini terasa hangat. Bagiku dia matahari. Bersinar, tampan dan cemerlang. Itulah mengapa aku perlu mencintai Andre sekudus cintaku pada bunga-bunga, pada lapisan awan gemawan, pada bintang-bintang, biarlah terkesan tak terkatakan betapa agung cintaku itu.
Andre, aku sebut ia lelaki pulang subuh! Memang kejam aku menamai Andre begitu. Aku namai dia sesuai tindaknya. Lebih halus ketimbang pemuja malam, atau pengejar rembulan atau penunggu pagi. Sebab sekejam-kejamnya mencecar Andre, aku akan tetap bersama dia. Mana mungkin meninggalkan dia lantaran dia adalah lelaki pulang subuh. Barangkali karena dia pulang subuh itu yang buat aku tetap bertahan hidup dengannya. Pikirku, sudah bagus dia pulang subuh daripada tidak pulang sama sekali? Lalu aku akan jadi wanita paling sepi di bumi, sehingga lebih baik mati saja? Ahh…
“Jam berapa pulangnya, Bi?” aku sering tanya begitu pada pembantu. Bi Imah menatapku, di matanya tergurat kasihan yang mendalam. Dia telah mengasuhku sejak bayi hingga rambutnya telah banyak ubannya kini.
“Biasa, Non. Jam tiga lagi.”
Aku hidup bersama Andre di rumah ini. Dia seorang pianis cukup handal serta sering menciptakan lagu bagus sementara aku hanya seorang pelajar seni. Hidup cukup mewah dengan mengenal orang-orang mewah pula. Dari penyanyi, pemusik bahkan para wartawan yang tak jarang mencuri-curi liput, hingga kami tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama. Andre, pria yang hidup denganku masih di ambang usia tiga puluh pula. Dia menarik walau bukan tampan hingga pada akhir-akhir ini kutahu dia sering mengencani gadis-gadis cantik. Bila tidak berkencan mereka berteman. Tak jarang teman-teman wanitanya datang ke rumah ini dan mengulurkan tangan mereka yang halus terawat menyalamiku. Dan Andre hanya tersenyum sebelum mereka berlalu ke ruang kerjanya.
“Terlalu banyak perempuan yang datang. Studio kan bukan di rumah ini,” keluhku suatu hari. Andre sedang membenah ruang kerjanya, tempat kertas-kertas berserakan berebut tempat di lantai. Sebuah komputer tua bertengger pongah meski telah dipakai sejak Andre di bangku kuliah. Aku jarang sekali masuk ke ruang kerjanya selain sewaktu-waktu mengingatkannya untuk tidak berkubang sampah. Lagipula dia lebih banyak keluar, dengan dalih studio.
“Mereka datang ada urusan dengan lagu-lagu, Sayang.”
Aku akan diam. Aku sebenarnya kecewa atas sikap Andre yang tidak mau tahu perasaanku. Mungkin dia pikir aku tak masalah menghadapi polahnya. Hanya saja aku biarkan dia begitu, sebab dari dulu aku tahu dia lelaki bebas. Sebebas ikan berenang di lautan. Tidak pernah mau terikat sejak kematian istri pertamanya. Hingga aku menjadi terbiasa disepelekan.
Bagi orang-orang macamku, setidaknya, sebagian dari yang pernah mengalami hidup jarang diperhatikan oleh orang terkasih, akan timbul marah pada diri. Atau frustrasi akibat sering diabaikan. Tetapi aku belajar menyembunyikan perasaan. Sampai-sampai orang lain di sekitar menamaiku si pemurah senyum. Aku belajar tersenyum ketika Andre hanya menghabiskan sedikit waktu dalam seharinya denganku pada saat sarapan. Itu pun tidak berlebihan. Sekedar mengingatkanku menghabiskan roti serta menenggak segelas susu coklat panas kesukaan kami berdua. Lalu dia mengantarku ke tempat aku belajar sebelum dia menghilang. Aku tidak pernah tahu di mana dia berada pada kerumunan kota ini. Lumrah, pikirku, hidup dan mencintai seorang pemusik.
Apalagi jarak sekolah dan rumah tidak seberapa jauh jadi ia tidak berpikir untuk menjemput aku lagi sepulang sekolah seni. Cukup pagi hari dia mengantarku. Tak mengapa memang, Aku sudah menikmati berjalan kaki dari sekolah ke rumah seorang diri sejak Andre memutuskan aku bukan seorang anak kecil lagi. Dulu, setahuku sejak tiga tahun lalu Andre lebih banyak pulang rumah pada larut malam. Mendekati tengah malam dan segera tidur dengan dengkurnya yang tidak hilang-hilang. Sebagai orang terdekatnya, dalam persepsiku, aku sering meminta penjelasan.
“Lembur di studio.” Selalu demikian Andre memberi jawab atas tanyaku.
Kendati menyerah dengan perlakuan sebelah mata Andre terhadapku, aku tetap mengkhawatirkannya bila dia belum pulang selepas pukul sepuluh malam. Aku tidak tidur dan lebih banyak tenggelam pada buku-buku bacaan hingga akhirnya dia datang dengan wajah suntuk. Kemudian beberapa pekan terakhir Andre pulang lebih lambat. Selalu menjelang subuh, dan Bi Imah-lah yang terbangun menyambutnya.
Barangkali sebelum cerita ini berakhir, orang akan pertanyakan mengapa aku tidak memilih jalan sendiri bagi hidupku ketimbang pasrah menebah dada tiap kali Andre pergi dengan wanita lain? Lalu pulang subuh? Apalagi bukan tali pernikahan yang menyatukan kami pada satu rumah. Hanya sebuah ikatan natural yang terbentuk. Demikian aku selalu mengartikan kebersamaan kami yang semu.
Agama adalah candu, kata Karl Marx. Pentolan penulis dan filsuf marxis ini memang menyulut berbagai macam perdebatan apalagi jika dibenturkan dengan kaum agamawan yang ortodoks atau kolot. Pada kenyataannya, jika kita lihat dari esensi keagamaan, kalimat itu memang patut sebagai kritikan tajam. Realita akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan agama dijadikan sebagai candu. Alasan seorang marx menyampaikan hal demikian adalah karena agama yang ketika itu dikonstruksikan oleh rezim kekuasaan dan elite agama, ketika diperhadapkan dengan masalah sosial yang ada, agama tidak membela masyarakat yang sedang susah. Elite agama menjadi pendukung setia otoriterianisme dan borjuisi kaum kapitalis. Hal ini diperparah elite agama yang gemar hidup glamour misalnya naik haji berkali-kali. Permenungan di atas yang menjadikan penulis terbuka matanya untuk melahap halaman demi halaman buku bertajuk “Gerakan Sosial Islam: Manifesto Kaum Beriman”, yang dituliskan Doktor Zuly Qodir.
Zuly Qodir yang merupakan putra kota dawet ayu, banjarnegara, menulis dalam bukunya ini gambaran betapa pelik keadaan keberagamaan di negeri ini. Bagaimana tidak, agama di negeri ini telah dijadikan sebagai sebuah alat politik yang manis untuk menggandeng kekuasaan. Fenomena munculnya partai islam di negeri ini menjadi perbincangan menarik dalam buku ini. Buku yang merupakan kumpulan tulisan beliau terkait permasalahan agama dan sosial, agama dan politik, peran ormas keagaamaan yang mendominasi sampai kepada kritik gerakan keagamaan partai yang berbahaya.
Apa yang menarik? Mungkin pertanyaan ini akan muncul ketika kita akan membaca sebuah karya. Kemenarikan buku ini terdapat pada analisis yang matang sehingga setiap jengkal pernyataan berdasarkan data yang jelas, sehingga kita mampu menjamin kebenaran yang ada di dalamnya. Sebuah bab yang membahas mengenai gerakan agama yang berafiliasi dengan politik dengan berkedok dakwah namun sebenarnya hanya menginginkan kekuasaan, di mana digambarkan bagaimana posisi kelatahan masyarakat Indonesia dalam menerima setiap ideologi yang bahkan di negara asalnya dilarang. Sebagaimana dalam salah satu kalimat dalam buku ini, “ hal itu patut kita cermati dan waspadai sebab sebagai gerakan politik, retorika biasanya adalah omong kosong yang penting dapat mengelabui masyarakat yang sedang diarahkan (digiring) mengikuti ideologinya (Qodir : 102). Petikan itu tidak hanya pedas namun juga dihadirkan dengan fakta yang nyata mengenai gerakan politik yang mengatasnamakan agama melakukan tindakan membabi buta.
Bagian terpenting dari buku ini adalah bagaimana pembaca nantinya mampu menempatkan posisinya sebagai seorang yang beragama untuk menghadirkan agama dalam realitas yang tengah kita rasakan ini. Inilah tema penting yang harus ditemukan jawabannya sehingga orang beragama tidak sekedar bermimpi dan berangan-angan masa depan, tetapi penuh kepengapan karena agama bukan lagi hadir sebagai pembawa pencerahan, tetapi malah membiarkan kemungkaran sosial terus bergerilya secara bergiliran menggilas nilai-nilai universal kemanusiaan.
Agama harus ditempatkan sebagai pembela manusia bukan pembela tuhan, karena tuhan sudah tidak perlu dibela. Yang perlu dilakukan oleh agama adalah menjawab tantangan zaman mengenai kemiskinan, bobroknya pemerintahan dan ahlak utamanya. Buku ini juga akan memberikan penyadaran kepada kita untuk menjadi orang beragama yang sejatinya menjawab apa yang ada di sekitar kita, bukan menjadi agamawan yang hanya mementingkan artificial diri dalam beragama.
Penulis menghimbau untuk membaca buku ini kepada para mahasiswa atau aktivis dakwah agar mampu mengartikan agama sebagai penjawab tantangan zaman, bukan agama yang mati karena tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Judul Buku: Gerakan Sosial Islam “ Manifesto Kaum Beriman”
Penulis: Dr Zuly Qadir
Harga: Rp. 45.000,-
Tahun: 2009
Tebal: 366 Halaman
ISBN: 978-602-8479-75-2
*)Peresensi merupakan mahasiswa UMS PBSID 2010. Aktif di PK IMM FKIP UMS Surakarta.
Salah satu elemen penting pembentuk budaya perdamaian adalah adanya keadilan sosial. Istilah keadilan sosial di sini tidak terbatas pada tindakan masing-masing individu, tetapi juga mencakup aspek yang lebih luas: predikat sosial atau sistem tatanan sosial dengan tindakan-tindakannya baik secara individu maupun secara institusional. Bagaimana agama mempengaruhi tindakan yang berpengaruh pada keadilan sosial tersebut?
ilustrasi diunduh dari peace from harmony.org
Agama, dengan konsep-konsep di dalamnya, memiliki kemampuan membentuk konsep di benak pengikutnya. Dengan berbagai miniatur persoalan manusia, lambang dan simbol makna identitas manusia, agama masuk dalam alam sadar hingga bawah sadar manusia membentuk konsep untuk mengatasi persoalan-persoalan mendasar manusia. Konsep-konsep berbasis agama tersebut kemudian membangun persepsi para individu terhadap suatu keadaan. Adalah Persepsi yang kemudian menjustifikasi apakah suatu keadaan atau tindakan telah memenuhi rasa keadilan atau tidak. Ketika persepsi bahwa suatu ketidakadilan telah terjadi, maka persepsi tersebut menyebabkan ketidakpuasan yang kemudian mengarah pada konflik, kerusuhan sipil atau bahkan perang.
Agama atau Religion(s) berasal dari kata riligiare yang berarti “harmoni”, “menyatukan”, “mengikat dalam kebersamaan”, “menjadikan utuh”. Bahasa Sansekerta menyebut “dharma” yang memiliki makna “menyatu dengan semesta” (to bind together as one the whole universe). Agama kemudian ber-evolusi hingga tidak lagi berkutat pada realitas kemanusiaan yang lebih besar dari dirinya sendiri atau persoalan-persoalan jasmaniah. Agama berkembang sebagai pengalaman spiritual, pengalaman mengenai sesuatu “yang suci” atau sesuatu “yang tidak diketahui”. Bagi sebagian orang, agama juga merupakan usaha mencapai kesatuan keteraturan di antara kekacauan (chaos). Agama juga dapat digambarkan sebagai suatu cara sebuah masyarakat melakukan interpretasi atas kehidupan dan membangun standard-standard moral serta perilaku terkait interpretasi tersebut guna memenuhi kebutuhan suatu komunitas. Dari berbagai macam arti dan makna agama tersebut dapat ditarik satu definisi bahwa agama merupakan suatu keyakinan dan praktik-praktik yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat dengan merujuk pada persoalan mendasar umat manusia, pencarian makna, penderitaan dan ketidakadilan; yang kemudian secara khusus merumuskan cara-cara fundamental untuk mengurangi persoalan-persoalan tersebut serta menghadapi kenyataan sembari tetap berupaya memecahkan persoalan mendasar tersebut meskipun ketidakberartian, penderitaan dan ketidakadilan terus berlanjut.
Berbagai konsep agama tersebut berkontribusi pada berbagai variasi “konsep keadilan” dan “persepsi ketidakadilan”. Berbagai macam agama dapat ditemukan di dunia ini. Agama-agama tersebut memiliki perbedaan satu sama lain. Suatu hal yang mendasar bagi satu agama, tidak demikian bagi agama lain. Demikian juga dengan keyakinan pada dewa-dewa atau pada Tuhan, tidak bersifat berterima umum meskipun masing-masing agama sama-sama melakukan peribadatan dan memiliki pemimpin ibadat. Kesamaan dari berbagai agama tersebut barangkali dapat ditemukan pada aspek pengalaman religius dalam beragama. Konsep dan persepsi yang bervariasi tersebut menuntun pada respon yang berbeda-beda dalam menyikapi ketidakadilan yang sama. Hal ini juga yang menempatkan agama sebagai bagian persoalan manusia sekaligus juga sebagai sarana menyelesaikan persoalan manusia.
Persepsi ketidakadilan sebagian besar umat manusia biasanya berkutat pada persoalan:
otoritas (siapa yang berhak mengambil keputusan dan siapa yang harus mengikuti?)
pembagian kerja (siapa yang mengerjakan, apa yang dikerjakan, kapan dan bagaimana pekerjaan itu dikerjakan?)
distribusi sumber daya (bagaimana sumber daya, kesempatan, kewajiban, hukuman, penghargaan, atribut yang mempengaruhi psikologi, ekonomi atau kesejahteraan suatu masyarakat dialokasikan?)
Setiap orang berhadapan dengan persoalan tersebut. Kebutuhan akan keadilan (memenuhi rasa keadilan), membutuhkan koordinasi segenap komponen masyarakat termasuk di dalamnya agama.
Salah satu dampak konsep menyikapi ‘ketidakadilan’ pada suatu keyakinan adalah penindasan terhadap rasa ketidakadilan (pasrah pada ketidakadilan-red). Jika ‘keadilan’ itu bersifat universal, mengapa ada orang yang memilih menerima ketidakadilan daripada menolaknya? Menjawab pertanyaan tersebut, hasil penelitian Barrington Moore menunjukkan bahwa doktrin agama memberi pengaruh kuat pada seseorang untuk menekan rasa ketidakadilan. Beberapa ajaran keyakinan semacam ‘asceticism’, sistem kasta dalam agama dan penerimaan diri sebagai korban, pada intinya menanamkan ‘rasa bangga dan bahagia telah mengalami penderitaan’. Pada kasus tersebut terdapat otoritas moral yang harus diterima dan diyakini para pengikutnya.
Di satu sisi agama mempengaruhi seseorang untuk menerima ketidakadilan dan di sisi lain agama juga menumbuhkan semangat penolakan terhadap ketidakadilan. More menunjukkan bukti-bukti bahwa mereka yang kuat bertahan di kamp konsentrasi Nazi adalah orang-orang yang taat beragama. Demikian juga mereka yang lantang melawan Ferdinan Marcos di Filipina adalah anggota kongregasi Kristen dan Katholik yang taat. Mereka memilih untuk bersiap menerima penderitaan, ditahan atau dibunuh daripada diam menyaksikan ketidakadilan.
Agama dan Ideologi Pembenaran Kekerasan
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, agama dapat menekan atau menumbuhkan rasa ketidakadilan pada tataran sadar dan bawah sadar manusia. Agama juga memberi peran penting dalam pendefinisian makna hidup, penderitaan manusia dan cara mengatasi penderitaan itu. Namun, ketika berbicara soal tatanan sosial yang secara sistematis menguntungkan satu pihak dan merugikan banyak pihak lain dan dominasi satu pihak berada pada tataran kesadaran budaya, maka itu masuk pada ranah ideologi.
Ideologi tidak seharusnya dibangun secara negatif. Ideologi tidak seharusnya dilihat pada batas kesadaran semata. Ideologi dibangun untuk memperbaiki masyarakat, untuk mengelola sistem sehingga ide-ide menemui kemapanannya. Dan sebuah ideologi yang sukses adalah yang meresap dalam kesadaran budaya setiap orang tanpa perlu dipertanyakan lagi. Banyak orang tidak menyadari bahwa keberadaan mereka dibawah kendali ideologi. Kurangnya kesadaran ini membuat orang sulit untuk diajak bicara secara terbuka atau untuk mengubah perilaku mereka. Untuk membangun budaya perdamaian yang positif dibutuhkan peningkatan kesadaran tidak hanya pada soal ideologi. Perdamaian positif berbeda dengan perdamaian negatif. Perdamaian negatif bercirikan lingkungan yang aman -jauh dari peperangan-, namun budaya kekerasan secara verbal dan struktural masih mendominasi. Perdamaian positif tidak sekedar jauh dari peperangan, tetapi juga bercirikan adanya sistem sosial, ekonomi, politik dan budaya yang menempatkan dan memperlakukan manusia secara adil serta humanis dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Untuk membangun perdamaian yang positif, maka para pemimpin agama dan pengikutnya dapat berkontribusi dengan:
Mengakui bahwa keadilan sosial merupakan hal mendasar pembentuk budaya perdamaian;
Mengakui bahwa agama turut bertanggung jawab terhadap keadilan sosial terkait dengan perannya mengajar dan membentuk standard-standard keadilan sosial. Hal ini termasuk juga menghormati keadilan sosial sesuai dengan kesepakatan internasional terkait dengan hak-hak asasi manusia;
Mengakui bahwa kelompok beragama, baik secara sadar atau tidak sadar turut serta menciptakan ketidakadilan sosial, mencederai perdamaian dengan mendiamkan terjadinya praktik-praktik dan kebijakan yang tidak adil di manapun mereka berada;
Berani melakukan uji keyakinan, ide-ide, ajaran dan praktik beragama dengan selalu melakukan konfirmasi apakah hal-hal tersebut memperkuat keadilan sosial dan perdamaian atau malah kontraproduktif terhadapnya;
Turut serta membangun harga diri, rasa percaya diri, disiplin dan membangun kesadaran rasa solidaritas sebagai sebuah komunitas yang berkepentingan terhadap keadilan sosial dan perdamaian. Selain itu juga menumbuhkan kepekaan akan ketidakadilan, menolak kekerasan dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang terlatih dalam membangun kepekaan sosial dengan dukungan iman dan keyakinan mereka, dapat dipercaya mampu membangun perdamaian yang positif;
Bersedia merangkul para korban ketidakadilan;
Bekerja sama dengan para penganut keyakinan atau agama lain untuk tidak membenarkan ketidakadilan dan kekerasan. Kerja sama dapat dilakukan mulai dari mengeluarkan pernyataan, memberi bantuan baik secara fisik maupun moral, memposisikan diri sebagai penjaga penyelesaian masalah tanpa kekerasan, serta menempatkan diri sebagai mediator dalam mencapai perdamaian;
Para pengikut agama dan keyakinan membiasakan diri untuk tidak memberikan dukungan baik fisik maupun moral terhadap tindakan kekerasan, pelestarian sistem yang tidak adil dan lebih mengutamakan perdamaian.
Naskah sumber: The Significance of Religions for Sosial Justice and a Culture of Peace by Patricia M. Mische.
Telaga teduh. Pohon jambu. Rumput mengering. Ayam bertamu. Ikan kecil serupa kecebong secara cekat kabur ketika Kasrun hendak menangkap. Ibunya telah meracik berbagai bumbu-bumbu yang akan segara ditumpahkan di sekujur tubuh indah sang ikan. Masih belum juga reda hujan sedari pagi. Kasrun pun belum juga kembali. Ikan belum sempat ia kemasi dari peraduan yang hening. Hanya tiga ekor ikan yang masuk di sebuah timba kecil warna hijau. Sehijau rumput depan rumahnya. Lalu mengalirlah senyum Ibunya ketika mata Kasrun menyapa sambil menenteng timba.
Absurditas (aquarelle on paper, 37cm x 32cm, 2005), karya Antonsammut. website http://www.antonsammut.com
Mata kelinci. Serupa syarif. Kadang mata serupa kembang kamboja yang menggerimisi tanah. Telah menjadi segumpal kedamaian sejenak, bertaburan sepi serupa kuburan. Namun tampak damai dan bahagia. Mengais hidup yang buaya. Kasrun masih diam. Menggenang di atas tepian air. Telaga teduh bermata merah jambu. Dikelilingi gunung bonsai berdiam pohon kelapa yang miring. Tiada wajah yang menguning kepada keluarga yang hening. Berkecukupan adalah sebatas syukur yang tiada keluh kesah bagi mereka. Berdiam hati, meski cemooh mengalirkan ludah hingga ke tanah menusuk telinga, hati merunduk masihlah teduh bagi mereka.
Bapaknya pegawai negeri sipil di perangkat desa—Narko. Berhati kelinci yang selalu menanam senyum di penjuruhan desa. Tiada air mata atau pun mengais kesakitan pada lambung-lambung fakir. Tergolong absolut yang berdiri di tengah-tengah gambut. Bisa jadi alunan beserta senyum akan disuguhkan melalui bibirnya, kepada Narko mereka patuh. Narko yang mengalir laksana asap cerutunya yang cokelat.
Menangkap senja. Gerimis tipis merinai pada gambut yang memerah. Hingga pada mata Kasrun menculik teduh rumah. Berduyun sambil membawa ikan-ikan kecil yang tidak seberapa ukuran tubuhnya. Bersamaan dengan Bapaknya pulang kerja. Masih tampak rapi dan berwajah pohon jati. Bapaknya tampak letih. Bersamaan dengan senja perempuan, keduanya saling mencucui diri. Ibunya masih sibuk mempersiapkan makan malam. Meracik bumbu-bumbu yang belum usai. Senyum liris mengiris bawang bombai. Cabe yang sadis telah diiris, hingga sampai pada harapan yang siap dihidangkan.
/2/
Seperti bapaknya. Wajah Narko serupa bapaknya yang dahulu menjadi kepala desa di kota yang selalu mendapatkan adi pura. Nyaris sama. Hati kelinci, mata sapi, tubuh kuda yang adalah sama ada pada dirinya. Narko bersayap letih, berangkat dari keluarga fakir pada awalnya. Atas kejujuran dan kebaikan bapaknya serupa merpati, hingga ia diangkat dan didorong para warga menjadi bupati. Asal tunjuk jari sudah jadi.
“Bapak, sepatu saya sudah rusak.” Rintihan Kasrun kepada bapaknya.
Cukup mengangguk lalu diam. Sibuk membaca surat kabar tentang pelecehan seksual, korupsi adalah menyentuh hati. Berimajinasi menjadi pemimpin paling tinggi akan dihamburkan kemakmuran pada garis tanah yang damai bagi Narko. Wajah Kasrun sepi. Malu kembali merintih di atas wajah bapaknya yang putih. Berkesinambungan di beranda rumah nun damai adalah keluarga paling bahagia, baginya. Yang terpenting berkecukupan saja sudah cukup, begitulah ucap Sarni adalah suami Narko ketika ditanya tetangga mengapa tidak membeli alat kendaraan. Keterbiasaan hidup sederhana adalah penenaman berawal dari diri Narko. Tipis duka.
“Berapa harga sepatu itu?” bibir Narko mencoba menyapa kembali kalimat anaknya.
Setelah menyebut merk dan harga membuat Narko semakin bingung. Sepasang sepatu yang adalah gaji sebulan. Sedang lambung butuh tanaman, cairan dan segala nafas untuk hidup. Buatnya, ibunya, juga rumah. Sementara adalah penundaan. Mencoba menasehati dari bibir tipisnya, Kasrun cukup mengganggukan kepala.
“Biarkan Bapak menabung dulu, anakku. Namun, tidakkah kau beli saja sepatu yang lebih murah yang sepertiga dari gaji bapak?”
Gelengan kepala Kasrun membuat Narko resah semakin gelisah. Mencoba meredamkan penuh sabar hingga tiada penutup usia bagi penyakitnya yang adalah jantung. Hampir lima tahun dia berjuang sekuat tenaga demi penyakitnya yang sudah berskala tinggi. Ibunya cukup cantik, bersabar menyambung hidup dalam kederhanan. Kesederhanaan yang bagi mereka adalah saru. Pejabat yang bermata kelinci.
/3/
Narko sangat bijak dalam berkemimpinan. Sangat deras dana untuk desa masuk padanya, namun dia hanya semata-mata membuat keperluan seluruh warga dan desa. Tak pernah sepeser pun ia ambil meski untuk sebungkus rokok. Kerap warga menyukainya, meski terkadang ia hidup sengsara.
“Bapak, apa sudah cukup membeli sepatu buat Kasrun?” rintih Kasrun sambil memanja.
Narko semakin bingung. Uang yang sudah tekumpul hampir cukup telah dipinjam karibnya. Dia memubutuhkan untuk operasi sesar istrinya. Narko tak kuasa menahan rintihan karibnya yang menyapa dan bertamu di beranda retinanya. Mengalir air mata hangat pada mata karib adalah prihatin. Lalu esoklah membeli sepatu untuk anak, nyanyian hati yang sepi.
/4/
“Apa kau tidak mampu mendidik anakmu? Bagaimana bisa terwujud keindahan di indonesia sedangkan anak pejabat mencuri sepatu kelas tinggi tanpa risih. Kuakui kau memang becus memimpin rakyatmu, juga mampu menjaga profesi, namun bukan berarti kau lalai dalam mendidik anak. Masak membelikan sepatu anak saja tidak mampu.” Hentak warga menghakimi.
Narko cukup diam dan merasa bersalah kepada anaknya. Tidak mampu memberikan pelangi yang telah ia minta. Iya, baginya sepatu itu adalah pelangi. Berdiam diri dan merasa malu kepada para warga, mengiris hatinya sendiri, mencoba bertahan atas jantungnya yang hampir meledak.
“Jika tidak mampu, kau bisa ambil beberapa uang untuk pembangunan jalan desa. Dan kami ikhlas.” Sartir getir menusuk telinga Narko dari salah satu warga dari puluhan warga.
Narko cukup diam. Mengelus dada. Merasa berenang di telaga darah bertabur gigi buaya yang sewaktu-waktu siap dikunyah. Matanya menyepi. Wajahnya menguning. Istrinya mencoba menghiburnya, menyanyikan nada-nada semasa muda demi meredamkan api dalam hati.
Hujan. Menengadah sebagai pelebur resah. Semangkok keringat pada pembakaran ego. Ego bertudung kesabaran mata. Wajah. Hati. Sampai mengerucut pada jiwa. Menutup aib, mencairkan kembali darah mengalir di penjuruhan nadi.
“Janganlah kau ulangi lagi, anakku. Bapak akan menabung kembali untukmu. Membeli sepatu yang kau mau.” Rintihan yang mengelus pundaknya adalah senyum ibunya.
Kasrun cukup menganggukan kepala. Sambil berdiam diri dan menyepikan hati dia menuliskan sebuah sajak untuk bapaknya. Baginya hati bapak adalah hati Bung Hatta. Sesosok pemimpin yang anti korupsi. Sajak yang ia tulis menyentuh hati Narko. Bersikap sedemikian pun tanpa ia sadari. Bermuncul pada masa lalu atau terkait pada mimpinya yang kerap mencintai kepribadian Bung Hatta.
Rumah kamboja. Sepi nun damai adalah keluarga. Menukar kata, menyelimuti segala keluh kesah menjadi hal yang sangat biasa. Begitu pula istrinya yang kerap memasak mata kuda untuk suaminya. Seperti mata-mata yang menyelinap di lorong-lorong tabuh dalam jalan hidup keluarga.
/5/
Kampung itu kembali riuh. Dikejutkan kembali dengan peristiwa yang serupa dengan Kasrun. Tetangga sebelah semalam telah tertimpa musibah. Seluruh hartanya ludes dimaling orang yang tidak dapat dijangkau batang hidungnya. Histeris. Depresi. Wajahnya lucet, hingga pada akhirnya Narko menghampirinya penuh santun.
Sebenarnya Narko sudah enggan berhadapan dengannya. Karena dia adalah warga yang sangat sombong dan kikir pada umumnya. Hingga pada akhirnya Narko yang tak lebih dari seorang pemimpin harus bersikap bijak. Menghampirinya dan mencoba meredamkan keluh kesahnya.
“Pakailah uang ini sebagai kebutuhanmu. Sebagai pengganti hartamu yang hilang” lantunan Narko menyentuh hati.
Kerap tidak jadi membelikan sepatu untuk anaknya. Kasrun cukup pasrah dan diam dalam kekinian. Tiada resah atau tangis lagi baginya. Yang ada hanyalah bapak yang bermurah hati pada warga. Pelangi di matanya, kesejukan pada hati kecilnya. Seseuatu yang adalah kebanggaan tersendiri.
“Wah berarti dia adalah salah satu komplotan dari maling itu?” celetukan salah satu warga yang adalah fitnah.
Serentak para warga percaya. Menghabisi rumah Narko beserta isinya. Menghabisi Narko hingga tak berdaya, bertudung pada usia yang menyempit atas jantungnya. Lagi-lagi Narko hanya bertahan hidup untuk anak dan istrinya. Kembali meredamkan hati kembali dan tersenyum tipis meski rumah sudah habis.
“Pentingkanlah orang lain yang membutuhkanmu, anakku” Lantunan terakhir Narko kepada anaknya di mata istrinya. Wajahnya serupa kamboja. Hingga kembali pada telaga teduh. Telaga teduh. Pohon jambu. Rumput mengering. Ayam bertamu. Perkampungan yang indah. Pada telaga teduh yang menggenang di mata Narko serupa mata kelinci. Lembut berhati tunduk.
Brondong, 15 Juni 2012
*) AKSAN TAQWIN, terlahir di kota soto; Lamongan 18 Maret 1989. Mahasiswa Universitas PGRI Ronggolawe Tuban ini memiliki aktivitas menulis yang cukup. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini cukup kreatif dalam menulis, jadi tak heran berbagai tulisannya telah dimuat di media cetak. Beberapa Esai, cerpen dan Puisi-puisinya pernah dimuat di Jawa Pos (Radar Bojonegoro), Majalah Akbar, kotakata ,Tabloid Nusa, Majalah Sagang, Majalah Warta. Puisi-Puisinya juga tergabung dalam antologi bersama: Jual-Beli Bibir (Ilalang Pustaka:Mei 2011), Sehelai Waktu (Scolar: juli 2011). Mimpi Kecil(Seruni 2011), Deverse 120 Indonesian poet: Puisi dua bahasa (Jagad shell publishing 2012). 50 Puisi terbaik untuk kota padang tercinta se-Indonesia 2011. 15 Besar Puisi Rinai Rindu Untuk Muhammad-Mu. 20 besar pusi terbaik Lingkar Bhineka 2012. 10 Puisi terbaik lomba cipta puisi Koran Bogor 2012. Cerpennya Kutilang Mencium Bulan (Pemenang Harapan Empat Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) Award 2011 Nasional.). Pemenang harapan Lomba cipta cerpen Kalimantan selatan dalam cerita. Kawa Banua 2012. Seringkali menghadiri acara sastra lintas kota di Indonesia. Temu penyair muda 2011.
Aktivitasnya selain tergabung dalam Komunitas Penulis (Komunitas Sanggar Sastra:KOSTRA), dia juga tergabung dalam teater LABU Tuban.
Setelah mendapat contoh puisi bentuk tanka, kali ini RetakanKata menampilkan puisi bentuk kwatrin yang diambil dari buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad.
(1)
Di udara dingin proses pun mulai: malam membereskan daun
menyiapkan ranjang mati.
Hari akan melengkapkan tahun
sebelum akhirnya pergi.
(2)
Kini akan habis matahari
yang membujuk anak ke pantai.
Tinggal renyai.
Warna berganti-ganti. Dan engkau tak mengerti.
(3)
Pada kalender musim pun diam.
Pada kalender aku pun bosan.
Di bawah daun-daun merah, bersembunyi jejak-Mu singgah
Sunyi dan abadi. Musim panas begitu megah.
(4)
Kabar terakhir hanya salju.
Suara dari jauh, dihembus waktu.
Kita tak lagi berdoa. Kita tak bisa menerka.
Hanya ada senja, panas penghabisan yang renta.
Autumn Quatrains
(1)
And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,
making the death bed.
Day will end the year
befor it finally departs.
(2)
Soon it will die,
the sun that herds children to the beach.
Leaving only drizzle.
Shifting colors. And you do not understand.
(3)
On the calendar the season is mute.
Even I am bored with the calendar.
Beneath the red leaves, Your footprints are buried,
still and unchanged. The summer was so great.
(4)
The latest news is snow.
A distant murmur, ushered by time.
We pray no more. We fail to know.
We have only dusk, the worn-out final heat.
Ingin tontonan yang menghibur sekaligus mendidik? Daddy Day Camp barangkali cocok menjadi teman Anda menikmati saat rehat di rumah bersama keluarga. Film yang disutradarai Fred Savage ini mengangkat tema pendidikan anak yang dikemas dalam film komedi. Film berdurasi 90 menit ini dipenuhi adegan kocak juga menggelikan. Lucunya lagi, film produksi TriStar Picture ini tercatat masuk dalam film box office dengan pendapatan lebih dari $ 19 juta dan menggondol banyak penghargaan antara lain aktor terburuk, sutradara terburuk, gambar terburuk dan skenario terburuk. Nah lho?
Adalah Charlie Hinton, seorang pengusaha tempat pengasuhan anak, berencana untuk mengisi liburan musim panas bagi anak tunggalnya. Bincang-bincang dengan sahabatnya, Phil, mereka sekeluarga akhirnya sepakat untuk mengirim anak-anak mereka ke perkemahan musim panas. Pada dasarnya Charlie tidak setuju anaknya dilepas di alam. Selain karena pengalaman buruk masa kecilnya saat berkemah, ia tidak menyukai anak tanpa perlindungan di alam terbuka. Mendidik anak bukan berarti harus melepas anak berhadapan dengan bahaya, begitu pendapatnya.
Pendapat tersebut tentu ada benarnya. Namun di sisi lain, seorang anak juga harus dididik untuk mandiri serta bersosialisasi. Kemah pada liburan musim panas adalah saat yang tepat untuk mengajak anak bersosialisasi sekaligus menempa anak untuk tidak menjadi sosok individualis. Hal itulah yang dingin ditanamkan oleh Buck Hinton, sang Kakek, dan Kim Hinton, istri Charlie.
Perdebatan tidak terlalu lama. Kesepakatan harus dijalankan. Sebagai seorang ayah, ia tidak ingin memberi contoh buruk pada anaknya, Ben Hinton. Maka berangkatlah Charlie dan Phil ke tempat perkemahan Driftwood, tempat di mana Charlie kecil berkemah. Alangkah terkejut mereka ketika mendapati Camp Driftwood sudah tidak aktif lagi, tergerus camp baru milik Warner yang menawarkan berbagai permainan modern di alam semacam balap mobil. Dan Warner sedang berencana untuk menghancurkan Camp Driftwood. Uncle Morty, pemilik Camp Driftwood, sudah kehabisan dana untuk mempertahankan bumi perkemahannya. Semua hancur terbengkalai dan tempat pendidikan kepanduan itu tidak memiliki harapan lagi. Situasi bertambah panas ketika Charlie mengetahui bahwa Warner adalah anak yang mengalahkannya pada Olimpiade antar Camp. Terbakar emosi, Charlie justeru beralih rencana mengambil alih kepemilikan Camp Driftwood.
Kekonyolan demi kekonyolan terjadi. Niat baik Charlie menolong Uncle Morty membuahkan kesulitan di kemudian hari. Uncle Morty tidak memberitahunya jika Camp Driftwood telah dijadikan jaminan hutang yang hampir jatuh tempo. JIka hutag tidak dapat dilunasi, maka maka seluruh harta Charlie akan dilelang sebagai pelunasan hutang. Dengan negosiasi yang alot, akhirnya Charlie diberi perjanjian: jika dapat mendatangkan 30 anak pada perkemahan musim panas, seluruh harta termasuk Camp Drifwood tidak akan disita.
Posisi Charlie semakin terjepit. Untung istrinya, Kim Hinton, dengan penuh totalitas mendukung usaha-usaha Charlie meskipun sang suami tampak seperti pengecut. Kim meminta bantuan Buck untuk menghidupkan Camp Driftwood sebab hanya itu satu-satunya cara menyelamatkan diri dari kehancuran keluarga. Cerita semakin menarik ketika usaha Buck dan Charlie mendapat gangguan sabotase dari Warner. Siapa yang akan menang, tentu sangat mudah ditebak.
Sebagai film ringan bagi remaja dan anak-anak, film ini juga patut ditonton orang tua. Kekonyolan dan komedi sebagai pemikat pemirsa muda, mengandung pesan-pesan moral yang dapat dicerna jika anak menonton didampingi orang tua. Nilai-nilai integritas, kekompakan sebuah tim, mengakui kelebihan dan kelemahan diri sendiri dan orang lain yang ditunjukkan selama berada di bumi perkemahan adalah pesan-pesan yang membutuhkan penjelasan dari orang tua. Dirilis tahun 2007, film ini tetap relevan untuk masyarakat Indonesia yang tengah gandrung dengan gadget dan minim pendidikan kepanduan.
gambar diunduh dari wikipedia
Judul Film: Daddy Day Camp
Sutradara: Fred Savage
Bintang: Cuba Gooding, Jr., Lochlyn Munro, Richard Gant, Tamala Jones
Distribusi: TriStar Picture
Release: Agustus 2007
Durasi: 93 menit
Selama bertahun-tahun membaca catatan-catatan sejarah Cina, ada dua peristiwa yang tidak bisa hilang dari pikiran. Mungkin disebabkan kedua hal ini sangat sulit dijelaskan, berhubungan dengan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kehilangan akal sehat. Tetapi sesungguhnya siapa yang benar-benar bisa menjelaskan ketamakan manusia:
ilustrasi diunduh dari 4.bp.blogspot.com
Di ujung musim semi tahun 777, salah satu perdana menteri terkorup dari Dinasti Tang bernama Yuan Zai ( 元载 ) terjerembab dari puncak kekuasaannya. Dia dihukum mati, demikian juga isterinya, dua orang anaknya, sanak keluarga dekat dan jauh, juga orang-orang yang pernah menggelayut di dahan gemuknya mengisap kuasa dan korupsi. Harta bendanya disita, rumah-rumah dan kantor-kantornya digeledah, dari semua barang-barang langka dan mewah yang disita, ini paling mengejutkan: Tukang sita menemukan 800 Dan merica yang ditimbun di salah satu kantornya ( semacam mahkamah agung ). Ini adalah salah satu bukti sejarah korupsi yang paling aneh, menggelikan dan absurd. Sekarang mari kita hitung-hitung 800 Dan merica dengan ukuran timbangan masa kini. 1 Dan sama beratnya dengan 79.320 gram, 800 Dan sama dengan 63.456.000 gram, berarti sekitar 63 ton. Jumlah ini mungkin cukup untuk konsumsi seluruh penduduk Chang’an selama satu tahun. Saya tidak habis pikir kenapa Yuan Zai mau menumpuk begitu banyak merica, menyimpan 63 ton merica sebagai hasil korupsi tentu sangat merepotkan. Tetapi dari catatan sejarah kita tahu Yuan Zai sangat cerdas, dia dari keluarga miskin, dia memanjat ke puncak birokrasi dari tingkat paling rendah. Tetapi kenapa dia bisa berakhir demikian. Setelah memendam bertahun-tahun tanda tanya ini, akhirnya saya coba membuat sebuah kesimpulan yang sangat berani: Korupsi ternyata bisa menumpulkan akal, bisa membuat orang jadi bodoh; dia pasti merasa dirinya paling cerdas sehingga merasa bisa membohongi seluruh dunia.
Satu lagi adalah perdana menteri dari Dinasti Ming bernama Yan Song ( 严嵩 ), ceritanya kurang lebih sama, hanya saja tidak demikian tragis seperti Yuan Zai, tetapi bukti korupsinya sama anehnya, sama menggelikan, sama absurdnya. Setelah dipecat dari jabatan dan dijebloskan ke penjara, dari rumahnya disita setumpuk sumpit, jumlahnya sangat mencenggangkan, ini saya beri daftar isinya:
sumpit emas 2 pasang, sumpit gading berhias ukiran emas 1.110 pasang, sumpit bertahta permata 10 pasang, sumpit gading 2.691 pasang, sumpit bambu bintik 5.931 pasang, sumpit gading berhias ukiran perak 1.009 pasang, sumpit kayu eboni 6.896 pasang, sumpit kayu merah 9.510 pasang, total 27.159 pasang, kalau tidak salah hitung. Yan Song adalah kolektor nomor satu dalam 3.000 tahun sejarah sumpit yang tercatat di dalam lembaran sejarah. Apakah korupsi ada hubungannya dengan nafsu makan, saya tidak tahu, agaknya perlu di dalami. Tetapi korupsi berhubungan dengan penumpulan akal, saya kira bisa diterima.