Arsip Tag: cerita pendek

Paninea

Cerpen Gui Susan

Jika kita tahu rasanya lapar, maka, ketika kita merasakan perasaan kenyang, kita akan bersyukur dan terberkati.

cerpen anak malang
gambar diunduh dari nosirds-files-wordpress.com

Paninea menutup bukunya, tulisan yang sederhana itu cukup menghibur hatinya. Tapi, tetap tidak bisa membohongi dirinya dari rasa lapar. Paninea mengelus perutnya, seperti ingin sekedar menabahkan perutnya yang sedang digerus rasa lapar.

Paninea menatap ke sekeliling pasar, banyak orang berhilir mudik. Kebanyakan mereka membawa kantung-kantung belanjaan yang diisi sayuran, daging, atau baju. Hari raya, seharusnya Paninea pun merasakan makan daging. Tidak dia pikirkan baju baru, Paninea sangat mendambakan makan daging. Dalam benaknya ada terselip doa, semoga tetangga di samping-samping rumahnya bersudi diri untuk memberikan semur daging dan ketupat ketika hari raya nanti. Di kehidupan keseharian, untuk memakan daging, Paninea harus mengikhlaskan kakinya dipukul ibunya.

“Apa kau bilang Nea? Kau mau minta dibuatkan semur daging? Buta mata kau itu? Orang miskin kaya kita harus pandai bersyukur! Ketemu nasi sudah cukup, jangan minta macam-macam,” hardik Ibu sewaktu Paninea merenggek ingin merasakan semur daging. Dan hardikan ibu itu disimpan baik dalam hati Paninea. Angin berhembus kencang, orang masih banyak berlalu lalang, ada juga penjual sayuran yang berleye-leye karena dagangannya tidak laku.

Paninea membuka lagi bukunya, dengan tangan gemetar dia mulai menyusun kembali kata-kata.

Apa kabar bapak? Apa bapak ingat kalau Nea masih hidup dengan ibu? Katanya bapak akan jemput Nea dan bawa  Nea makan enak, main komidi putar terus beli gulali. Apa bapak tahu apa yang ibu lakukan setelah bapak pergi?

***

Paninea hanya gadis kurus berkulit coklat, rambutnya sepunggung, matanya cokelat, dan kukunya panjang-panjang. Paninea adalah gadis kecil yang menjual plastik di pasar dari jam enam pagi sampai jam dua siang, lalu Paninea akan bergegas menuju surau kecil yang terletak di ujung lorong. Di saku belakang celana Paninea selalu ada buku notes kecil dan pensil yang panjangnya tidak lebih dari jari kelingking. Paninea suka menulis, itu alasan kenapa dia selalu membawa buku notes dan pensil ke mana-mana.

Jam sepuluh pagi, Paninea berjalan gontai menawarkan plastik ke ibu-ibu yang dilihatnya kesulitan dengan barang belanjaannya. Sejak dari jam enam pagi, Paninea hanya dapat uang lima ribu rupiah. Keringat keluar dari kulit jangatnya. Wajah Paninea memucat, karena biasanya sebelum jarum jam menunjuk angka sepuluh, dia sudah bisa menjual plsatik dan mengumpulkan uang hingga lima belas ribu rupiah di saku bajunya. Hari itu, sepertinya akan menjadi hari yang buruk. Paninea duduk di ujung lorong, dia mengeluarkan buku dan pensilnya.

Cuma 5000 pasti ibu marah sekali. Tidak ada beras, tidak ada daging, pasti aku dipukul lagi.

Paninea menarik nafas dalam-dalam. Ketakutan terbesar Paninea adalah rumah. Rumah di mana Paninea tinggal dengan ibunya; ibu tiri. Sudah 3 tahun kabar dari Bapak Paninea tidak terdengar lagi. Paninea ingat, Bapak Paninea pamit untuk mencari uang di kota. Itulah kabar terakhir yang bertahan di ingatannya, sejak perpisahan itu, tidak ada lagi kabar.

Paninea tinggal dengan ibu tirinya, Mak Suripah, dan Paninea kerap dijadikan bulan-bulanan kemarahan jika ibunya tidak ada panggilan nyanyi di dangdut dorong atau di pesta-pesta kawinan. Jikapun ada panggilan, ibunya kerap pulang dalam keadaan tidak sadar dan bau alkohol. Yang paling membuat heran Paninea adalah ibunya sering pulang bersama lelaki yang berbeda. Jika sudah ada lelaki yang bertandang ke rumah mereka, Paninea akan dapat uang jajan untuk beli gulali di warung, tidak banyak, cuma 4 butir tapi hal itu menggembirakan hati kecil Paninea.

Paninea mengeluarkan buku dan pensilnya.

Apa ibu sayang dengan nea?

Paninea berdiri dan kembali mencoba menjual plastik. Hingga sore, Paninea hanya dapat sepuluh ribu rupiah. Wajahnya pucat ketakutan, dengan gontai Paninea berjalan pulang ke rumahnya. Di depan pintu, Paninea melihat sebuah motor terparkir di bawah pohon mangga. Hati Paninea sedikit terhibur, tandanya ibu ada kerja malam ini. Paninea masuk ke dalam rumah, Pak Masus, pemilik orkes dangdut sedang duduk manis di samping ibu.

“Heh, dapat berapa jualannya?” tanya Ibu.

“Sepuluh ribu, Bu.”

“Ahh..kok cuma segitu!”

Pak Masus mengelus pundak Ibu.

“Sabar Jeng, nanti malam kan dapat bagian nyanyi. Sini Nea, Om kasih uang beli gulali. Belinya yang jauh ya,” Pak Masus mengeluarkan uang lima ribuan. Paninea berdiri terpaku. Ibunya menatap dengan sedikit melotot, seakan memberi instruksi untuk mengambil uang itu dan menyuruh Paninea lekas keluar dari rumah.

Paninea mengambil uang yang disodorkan oleh Pak Masus lalu pergi gegas tanpa melihat lagi ke belakang. Paninea berjalan tidak tentu arah, dia tidak pergi ke warung. Hati kecilnya berkata bahwa dia tidak ingin gulali, ini bukan uang yang baik, gumamnya pelan. Akhirnya Paninea memutuskan untuk duduk di pojok surau sembari menuliskan banyak sekali kalimat. Hingga akhirnya Paninea tertidur karena terlalu letih.

***

Paninea akhirnya terbangun ketika suara bedug dipukul; menggema ke seluruh kampung. Paninea menatap ke jam dinding, subuh. Matanya mengerjap seakan ingin meyakinkan diri kalau-kalau dia salah melihat. Tersadar kalau memang sudah subuh, Paninea langsung berdiri dan berlari pulang ke rumahnya, ibunya pasti mengamuk, pikirnya.

Sesampainya di halaman rumah, motor Pak Masus masih terparkir di bawah pohon mangga. Perasaan Paninea tercampur aduk. Pelan-pelan dia masuk ke dalam rumah, Pak Masus sedang duduk, bertelanjang dada dan terselip rokok di bibirnya. Seketika bulu kuduk Paninea meremang tidak menentu, dadanya berdegup kencang.

“Sini duduk, deket Om,” panggil Pak Masus.

Paninea diam kaku, tanpa memperdulikan ajakan Pak Masus, Paninea masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Pak Masus. Paninea terjatuh ke lantai dan pak Masus menindihnya dari atas. Paninea menangis menjadi-jadi, dan tiba-tiba ibu sudah berdiri tepat di belakang Pak Masus.

Air matanya menetes, entah mengapa, untuk pertama kali Paninea melihat ibunya menangis. Ibu berlari ke dapur, lalu tidak berapa lama kemudian ibu datang dengan membawa pisau dapur. Mata Paninea ketakutan. Ibu, sembari menutup matanya menghujamkan pisau dapur itu tepat ke punggung bagian tengah Pak Masus.

Pak Masus berteriak kesakitan sebelum kemudian jatuh ke atas tubuh Paninea, ujung pisau tepat mengenai bagian tengah dada Paninea. Darah mengalir. Ibu menarik tubuh Pak Masus dan menarik Paninea untuk berdiri. Ibu membuka baju Paninea dan memeriksa ke lukanya. Bergegas Ibu masuk ke kamar. Di tangannya terkepal segulung uang yang diikat karet gelang. Ibu mengulurkan uang itu dan menaruhnya di tangan Paninea. Paninea menangis terisak.

“Pergi sana, jangan kembali ke sini. Anggap ibu mati, ” ujar ibu pelan.

Dada Paninea sekejap nyeri. Monster yang sangat ia takuti kini bersukarela melindunginya. Paninea menggeleng, dia tidak mau berlari seperti pengecut.

“Pergi!” hardik Ibu.

Paninea menggeleng.

“Pergi!! Jangan pernah kembali, ibu sudah mati.”

Paninea menggeleng lagi.

Ibu mendorong tubuh Paninea keluar dari pintu, Paninea berontak. Lalu ibu mengunci pintu dari dalam. Paninea menangis dan mengetuk.

“Ibu!” jerit Paninea

“Pergilah Nak, ini akan berat buatmu. Itu uang untuk bekalmu hidup ke depan. Ibu sudah mati.”

Untuk pertama kali, Ibu memanggil Paninea dengan kata-kata ‘Nak’. Paninea semakin menangis tersedu.

“Pergilah Nea, beli makanan yang kau suka,” ujar Ibu.

Itulah kata-kata Ibu yang akan menjadi kata-kata terakhir yang didengar Paninea, sebab pada keesokan paginya, ketika pintu rumah dibuka paksa oleh warga kampung, Ibu sudah meninggal dengan pisau tertancap di dadanya. Paninea berdiri kaku di bawah pohon mangga. Air matanya mengalir. Tanpa henti. Kali ini, dia tidak lagi ingin menulis. Tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk menceritakan ini.

 

Cahaya terang berisi air itu menghasilkan buih-buih yang menutupi permukaannya, yang meghalangi kita untuk dapat melihatnya dengan sumber mata batin yang berada jauh di dalam.”

 Rumi. Matsanawi VI, 3400-3431.

*) Gui Susan,  pecinta buku dan seorang ibu, tinggal di Jakarta, berjejaring sosial di twitter @GuiSusan dan Facebook: Gui Susan. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Kompas.com

Wasiat Emak

Cerpen Susan Dwi

lukisan a hadi
ilustrasi diunduh dari foto lukisan ibu anak karya A Hadi di situs bejubel.com

Ada yang berbeda di serambi rumah Emak malam ini. Ketiga putranya yang sudah lebih dari lima bulan tak pernah menampakkan batang hidung, tiba-tiba datang berkumpul. Satu tujuan mereka, membicarakan wasiat Emak. Aku turut diundang karena sore tadi hanya aku yang berada di sisi wanita itu sebelum nafas terakhirnya terhembus.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

“Emak minta salah seorang putranya menggantikan Emak berjualan di pasar,” ucapku lirih.

Edi, putra sulung Emak mengernyitkan dahinya. Ia menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara. Aku menahan batuk. Melihat wajah Edi, aku jadi teringat Emak yang dulu selalu mengeluhkan kebiasaan buruk Edi semasa muda. Judi adalah kawan akrab lelaki itu hingga akhirnya Emak harus menjual sawah warisan Simbah untuk menutup hutang putranya.

“Emak tidak sebutkan nama?” tanya Edi. Alis kanannya sedikit terangkat. Mimik mukanya menyiratkan kecurigaan. Sepertinya ia tak percaya padaku.

Aku menggeleng. Aku ingat betul, apa yang diucapkan Emak. Meski dengan terbata-bata, aku dapat mendengarnya dengan jelas.

“Itu saja?”

Aku mengangguk lemah.

“Emak tak bicara soal warisan?” Tono menyesap kopi pekatnya. Di ujung bibirnya tampak ampas kopi yang tertinggal.

Huh, kau bahkan tak mau merawat Emak! Sekarang minta warisan?

Aku menggeleng lagi. Ingin sekali aku mengumpat karena kesal pada putra kedua Emak itu. Meski ia adalah suami kakakku, namun kadang aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin Mbak Yuli bisa memercayakan setengah masa hidupnya kepada lelaki mata duitan dan pelit macam Tono.

“Kita bagi saja biar adil,” Agung, putra bungsu Emak yang sedari tadi asyik menikmati pisang goreng sisa tahlilan, menyampaikan usul. Serentak Edi dan Tono mengangguk setuju.

“Lalu wasiat Emak?” aku terperanjat. Acara membahas wasiat terakhir Emak berubah menjadi ajang pembagian warisan.

“Kita bahas nanti saja,” Agung menyunggingkan senyum di wajahnya. Matanya menghakimiku, isyarat aku tak diperbolehkan ikut campur dalam pembagian warisan. Dengan lunglai, kutinggalkan tiga bersaudara itu.

***

Mendung kelabu menggantung kian rendah di langit gelap. Hawa dingin bertiup mengiringi gerimis yang sejak satu jam lalu hadir bersama galau di hatiku. Malam ini makam Emak pasti basah. Mungkin akan sebasah pipi Emak jika melihat betapa rakus ketiga buah hatinya. Sejauh ini, tak terlihat setitik pun air mata mengaliri wajah mereka karena sedih.

Edi yang tinggal di kota, bahkan rela menempuh perjalanan empat jam demi membahas warisan yang mungkin ditinggalkan Emak untuknya. Padahal, lebaran kemarin ia tak dapat meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar mencium tangan Emak.

Tono, kakak iparku, putra kedua Emak. Meski hidup dalam gelimang harta, tak serupiah pun ia pernah berikan pada wanita yang telah menghadirkan dirinya di dunia ini. Aku, adik kandung istrinya, juga tak dibiayai sekolah. Tiga tahun lalu, lelaki itu malah ’membuangku’ di rumah Emak. Meski begitu, justru aku dapat bernafas lega karena tak jadi putus sekolah. Emak menghidupiku layaknya putra sendiri.

Agung, putra bungsu yang tak pernah absen meminta-minta pada Emak. Usianya sudah menginjak kepala tiga, memiliki seorang istri dan dua orang anak. Namun tak pernah sekali pun ia memberi nafkah yang layak pada keluarga dengan jerih payahnya sendiri. Cerita dari Emak, istrinyalah yang bekerja sejak mereka menikah. Tiga tahun pertama menjadi buruh pabrik. Tiga tahun selanjutnya jadi buruh tani di sawah Tono. Tiga tahun terakhir, mengadu nasib di negeri tetangga. Kabar yang kudengar, istri Agung tak kirim uang lagi sejak tiga bulan lalu.

“Aku minta rumah saja,” sayup terdengar suara Tono. Kami hanya terpisah selembar bilik bambu yang jadi dinding rumah Emak. Jangankan suara, asap rokok ketiga orang itu mampu menyelinap melalui celah anyaman bambu. Kulekatkan telinga pada daun jendela.

“Aku minta semua ternak,” Agung meninggikan suara seperti takut jatah warisannya direbut kedua kakak lelakinya.

“Aku yang memutuskan. Aku anak tertua,” Edi berseru tak ingin kalah.

Aku menahan nafas agar dapat jelas mendengar percakapan mereka. Aku telah menduga sejak awal, Edi akan menggunakan dalih ’anak tertua’ sebagai senjata dalam pembagian harta.

“Tono dapat semua ternak. Agung dapat semua sawah. Rumah Emak jadi bagianku. Adil kan?” Edi beranjak meninggalkan kedua adiknya yang melongo melihat kakaknya jadi hakim.

***

Malam belum usai. Hawa dingin melingkupi seluruh desa yang baru saja diguyur hujan. Aku harus merapatkan sarung untuk mengusir gigitan udara malam. Aroma pohon bambu yang tumbuh mengelilingi pekarangan Emak menyeruak. Suara katak meramaikan nyanyian jangkrik di tengah guyuran hujan. Ramai yang senyap. Sunyi karena malam ini aku tak mendengar cerita Emak tentang ketiga putranya lagi.

Tubuhku terbaring. Mataku terpejam. Tetapi aku masih terjaga. Sekitar sepuluh jam sejak kepergian Emak, hatiku sudah dipeluk kerinduan padanya. Biasanya, tiap jam tiga pagi, Emak mengendap-endap berangkat ke pasar karena takut membangunkanku. Jika aku terlanjur bangun, Emak selalu menyuruhku kembali ke kamar untuk kembali tidur.

Rasa kasihan menggelayut di benakku. Mengira-ngira salah serta dosa apa yang dulu telah diperbuat Emak hingga Tuhan memberinya tiga orang anak lelaki berperangai buruk. Aku yakin, darah Bapak begitu kental mengaliri pembuluh nadi mereka.

Tiga puluh tiga tahun Emak menjanda. Suami Emak juga tak pernah kembali dari rantauannya. Hanya dua kali Bapak pulang kampung. Kepulangannya yang terakhir untuk mengurus cerai. Lelaki tua itu hendak menikah lagi setelah bertemu seorang janda di kota.

Anganku terbang melayang.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

Sepenggal kalimat itu terurai dari bibir Emak menjelang ajalnya. Dengan air mata bercucuran karena ketiga putranya tak sempat mendampingi di saat terakhir. Suaranya begitu lirih dan tersendat-sendat oleh nafas yang hampir putus.

Sebenarnya sejak lusa kemarin, Emak telah meminta mereka untuk menuntun Emak mengucapkan syahadat. Rupanya, wanita itu telah merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa di sisinya. Sayang, meski aku telah pontang-panting menyusuri desa untuk menjemput Tono dan Agung, mereka bergeming. Banyak urusan, kilah mereka.

Meski nyaris putus asa, nama Edi terlintas di ingatanku. Sengaja kupinjam telepon di balai desa untuk menghubunginya. Tetapi dengan menelan kekecewaan, aku harus mendengar penolakan yang begitu kejam.

Katakan pada Emak, aku masih banyak pekerjaan. Belum lagi, aku harus cari uang dulu buat ongkos. Bilang saja, lebaran tahun ini, aku sempatkan ke sana!

Aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengisi sistem pernafasanku dengan udara yang lebih bersih. Asap rokok bertebaran dari luar ruangan itu. Tono dan Agung terus saja membakar tembakau di serambi depan. Mereka tengah asyik berbincang seolah tak ada kantuk yang membebani mata keduanya.

Banyak hal yang mereka bahas. Sayang, semua hanya omong kosong. Kurasa mereka tak berminat membuka memori untuk mengenang kebaikan Emak semasa hidup.

Aku terhenyak. Harusnya mereka bersyukur karena memiliki ibu yang begitu penyayang dan sabar. Dan mestinya mereka menyesal karena belum dapat membalas kebaikan Emak dengan cara yang pantas.

“Kenapa Mas Edi pilih rumah, ya?” pertanyaan seputar warisan. Agung, putra Emak yang paling bodoh itu selalu encer otaknya bila berhubungan dengan uang.

“Karena Emak pasti menyimpan semua hartanya di rumah,”

“Oh, pantas saja kau tadi juga minta warisan rumah Emak,”

“Tentu saja,”

Aku menghela nafas cukup panjang.

Mereka ini terbuat dari tanah atau api? Raganya manusia, hatinya iblis!

“Lalu bagaimana dengan Bowo?”

Tono menyebutkan namaku. Semakin kutajamkan pendengaran. Inilah yang aku cemaskan. Aku belum tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Siapa yang akan berbaik hati untuk membiayai hidupku. Jelas Tono tak akan bersedia menampungku.

***

Sekali lihat saja, aku dapat merasakan betapa lapuknya lapak Emak. Dindingnya terbuat dari papan triplek dengan anyaman bambu yang tersusun berantakan. Rembesan air sisa hujan semalam tampak merayapi bagian bawah yang menancap ke tanah. Sementara selembar seng berkarat jadi atapnya. Beberapa lubang kecil tersebar di sana. Aku yakin jika hujan datang, Emak akan kuyup. Apabila tengah hari, pastilah panas mendera.

Aku terpaku cukup lama. Lapak ini sudah reyot. Beberapa bulan lagi mungkin saja, atap beserta dindingnya runtuh akibat diterpa angin.

Inilah lapak yang tiga bersaudara itu berikan padaku. Tadi pagi, diam-diam mereka mengadakan rapat rahasia. Edi, Tono, dan Agung akhirnya sepakat memberikan wasiat Emak kepadaku.

“Pakailah lapak itu untuk mencari nafkah,” ujar Edi tadi pagi sebelum pulang, kembali ke kota. Aku sedikit kesal. Mereka tak berniat turut tahlilan selama tujuh hari di rumah Emak. Tono dan Agung juga berencana untuk pulang ke rumah masing-masing. Dari percakapan yang kudengar, minggu depan mereka baru akan kembali ke rumah Emak untuk pengurusan perihal warisan.

“Emak ingin salah seorang dari putranya yang mewarisi lapak itu,” sanggahku. Meski dalam hati aku tak keberatan diberi mandat berharga dari Emak.

“Lapak itu sudah diwariskan padaku, sekarang jadi hak milikku, kan?”

Tono dan Agung mengangguk-angguk. Aku juga.

“Ya sudah, kuberikan padamu. Tolong dirawat, ya?” sorot mata Edi menampakkan rasa iba yang dibuat-buat. Bergegas ia pergi dengan mengendarai motor.

Aku menghirup udara semampuku. Aroma pasar yang basah menyengat, berjejalan masuk memenuhi rongga dadaku. Matahari cukup terik. Tiada tampak lagi penjual dan pembeli berkeliaran. Cuma aku.

Kujejakkan kaki memasuki lapak Emak. Aku menelan ludah. Ini lapak yang digunakan Emak semasa hidup untuk mengais rezeki. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, tetapi juga untuk menafkahiku. Kini lapak telah menjadi milikku.

Lapak seisinya adalah wasiat Emak. Harusnya mereka tidak terlalu serakah dan mengabaikan keinginan wanita yang telah memelihara mereka sejak kecil.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,

Kulangkahkan kaki perlahan. Dua langkah, empat langkah. Aku berhenti pada titik di sudut lapak dan berjongkok.

Kugali tanah lempung yang becek dengan jemariku kuat-kuat. Keringat membasahi keningku. Nafasku memburu. Sebuah kotak kayu jati teronggok di pojok ruang gelap yang sempit itu. Aku menelan ludah seolah haus sedang mencapit kerongkongan. Mataku perih. Beberapa tetes peluh menyelinap melewati deretan bulu mataku yang tipis.

Tanganku tergetar ketika membuka kotak itu.

Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu, karena di sana Emak menyimpan semua warisan untuk mereka.

***

 

*) Susan Dwi, mahasiswa kelahiran Surabaya 1987, kini tinggal di Surabaya.

 

Baca cerita pendek lain:
Menembus Waktu
Mata Kelinci Bertelaga Teduh
Algojo

Mata Kelinci Bertelaga Teduh

Cerpen Aksan Taqwin

/1/

Telaga teduh. Pohon jambu. Rumput mengering. Ayam bertamu. Ikan kecil serupa kecebong secara cekat kabur ketika Kasrun hendak menangkap. Ibunya telah meracik berbagai bumbu-bumbu yang akan segara ditumpahkan di sekujur tubuh indah sang ikan. Masih belum juga reda hujan sedari pagi. Kasrun pun belum juga kembali. Ikan belum sempat ia kemasi dari peraduan yang hening. Hanya tiga ekor ikan yang masuk di sebuah timba kecil warna hijau. Sehijau rumput depan rumahnya. Lalu mengalirlah senyum Ibunya ketika mata Kasrun menyapa sambil menenteng timba.

lukisan kanvas
Absurditas (aquarelle on paper, 37cm x 32cm, 2005), karya Antonsammut.
website http://www.antonsammut.com

Mata kelinci. Serupa syarif. Kadang mata serupa kembang kamboja yang menggerimisi tanah. Telah menjadi segumpal kedamaian sejenak, bertaburan sepi serupa kuburan. Namun tampak damai dan bahagia. Mengais hidup yang buaya. Kasrun masih diam. Menggenang di atas tepian air. Telaga teduh bermata merah jambu. Dikelilingi gunung bonsai berdiam pohon kelapa yang miring. Tiada wajah yang menguning kepada keluarga yang hening. Berkecukupan adalah sebatas syukur yang tiada keluh kesah bagi mereka. Berdiam hati, meski cemooh mengalirkan ludah hingga ke tanah menusuk telinga, hati merunduk masihlah teduh bagi mereka.

Bapaknya pegawai negeri sipil di perangkat desa—Narko. Berhati kelinci yang selalu menanam senyum di penjuruhan desa. Tiada air mata atau pun mengais kesakitan pada lambung-lambung fakir. Tergolong absolut yang berdiri di tengah-tengah gambut. Bisa jadi alunan beserta senyum akan disuguhkan melalui bibirnya, kepada Narko mereka patuh. Narko yang mengalir laksana asap cerutunya yang cokelat.

Menangkap senja. Gerimis tipis merinai pada gambut yang memerah. Hingga pada mata Kasrun menculik teduh rumah. Berduyun sambil membawa ikan-ikan kecil yang tidak seberapa ukuran tubuhnya. Bersamaan dengan Bapaknya pulang kerja. Masih tampak rapi dan berwajah pohon jati. Bapaknya tampak letih. Bersamaan dengan senja perempuan, keduanya saling mencucui diri. Ibunya masih sibuk mempersiapkan makan malam. Meracik bumbu-bumbu yang belum usai. Senyum liris mengiris bawang bombai. Cabe yang sadis telah diiris, hingga sampai pada harapan yang siap dihidangkan.

/2/

Seperti bapaknya. Wajah Narko serupa bapaknya yang dahulu menjadi kepala desa di kota yang selalu mendapatkan adi pura. Nyaris sama. Hati kelinci, mata sapi, tubuh kuda yang adalah sama ada pada dirinya. Narko bersayap letih, berangkat dari keluarga fakir pada awalnya. Atas kejujuran dan kebaikan bapaknya serupa merpati, hingga ia diangkat dan didorong para warga menjadi bupati. Asal tunjuk jari sudah jadi.

“Bapak, sepatu saya sudah rusak.” Rintihan Kasrun kepada bapaknya.

Cukup mengangguk lalu diam. Sibuk membaca surat kabar tentang pelecehan seksual, korupsi adalah menyentuh hati. Berimajinasi menjadi pemimpin paling tinggi akan dihamburkan kemakmuran pada garis tanah yang damai bagi Narko. Wajah Kasrun sepi. Malu kembali merintih di atas wajah bapaknya yang putih. Berkesinambungan di beranda rumah nun damai adalah keluarga paling bahagia, baginya. Yang terpenting berkecukupan saja sudah cukup, begitulah ucap Sarni adalah suami Narko ketika ditanya tetangga mengapa tidak membeli alat kendaraan. Keterbiasaan hidup sederhana adalah penenaman berawal dari diri Narko. Tipis duka.

“Berapa harga sepatu itu?” bibir Narko mencoba menyapa kembali kalimat anaknya.

Setelah menyebut merk dan harga membuat Narko semakin bingung. Sepasang sepatu yang adalah gaji sebulan. Sedang lambung butuh tanaman, cairan dan segala nafas untuk hidup. Buatnya, ibunya, juga rumah. Sementara adalah penundaan. Mencoba menasehati dari bibir tipisnya, Kasrun cukup mengganggukan kepala.

“Biarkan Bapak menabung dulu, anakku. Namun, tidakkah kau beli saja sepatu yang lebih murah yang sepertiga dari gaji bapak?”

Gelengan kepala Kasrun membuat Narko resah semakin gelisah. Mencoba meredamkan penuh sabar hingga tiada penutup usia bagi penyakitnya yang adalah jantung. Hampir lima tahun dia berjuang sekuat tenaga demi penyakitnya yang sudah berskala tinggi. Ibunya cukup cantik, bersabar menyambung hidup dalam kederhanan. Kesederhanaan yang bagi mereka adalah saru. Pejabat yang bermata kelinci.

/3/

Narko sangat bijak dalam berkemimpinan. Sangat deras dana untuk desa masuk padanya, namun dia hanya semata-mata membuat keperluan seluruh warga dan desa. Tak pernah sepeser pun ia ambil meski untuk sebungkus rokok. Kerap warga menyukainya, meski terkadang ia hidup sengsara.

“Bapak, apa sudah cukup membeli sepatu buat Kasrun?” rintih Kasrun sambil memanja.

Narko semakin bingung. Uang yang sudah tekumpul hampir cukup telah dipinjam karibnya. Dia memubutuhkan untuk operasi sesar istrinya. Narko tak kuasa menahan rintihan karibnya yang menyapa dan bertamu di beranda retinanya. Mengalir air mata hangat pada mata karib adalah prihatin. Lalu esoklah membeli sepatu untuk anak, nyanyian hati yang sepi.

/4/

“Apa kau tidak mampu mendidik anakmu? Bagaimana bisa terwujud keindahan di indonesia sedangkan anak pejabat mencuri sepatu kelas tinggi tanpa risih. Kuakui kau memang becus memimpin rakyatmu, juga mampu menjaga profesi, namun bukan berarti kau lalai dalam mendidik anak. Masak membelikan sepatu anak saja tidak mampu.” Hentak warga menghakimi.

Narko cukup diam dan merasa bersalah kepada anaknya. Tidak mampu memberikan pelangi yang telah ia minta. Iya, baginya sepatu itu adalah pelangi. Berdiam diri dan merasa malu kepada para warga, mengiris hatinya sendiri, mencoba bertahan atas jantungnya yang hampir meledak.

“Jika tidak mampu, kau bisa ambil beberapa uang untuk pembangunan jalan desa. Dan kami ikhlas.” Sartir getir menusuk telinga Narko dari salah satu warga dari puluhan warga.

Narko cukup diam. Mengelus dada. Merasa berenang di telaga darah bertabur gigi buaya yang sewaktu-waktu siap dikunyah. Matanya menyepi. Wajahnya menguning. Istrinya mencoba menghiburnya, menyanyikan nada-nada semasa muda demi meredamkan api dalam hati.

Hujan. Menengadah sebagai pelebur resah. Semangkok keringat pada pembakaran ego. Ego bertudung kesabaran mata. Wajah. Hati. Sampai mengerucut pada jiwa. Menutup aib, mencairkan kembali darah mengalir di penjuruhan nadi.

“Janganlah kau ulangi lagi, anakku. Bapak akan menabung kembali untukmu. Membeli sepatu yang kau mau.” Rintihan yang mengelus pundaknya adalah senyum ibunya.

Kasrun cukup menganggukan kepala. Sambil berdiam diri dan menyepikan hati dia menuliskan sebuah sajak untuk bapaknya. Baginya hati bapak adalah hati Bung Hatta. Sesosok pemimpin yang anti korupsi. Sajak yang ia tulis menyentuh hati Narko. Bersikap sedemikian pun tanpa ia sadari. Bermuncul pada masa lalu atau terkait pada mimpinya yang kerap mencintai kepribadian Bung Hatta.

Rumah kamboja. Sepi nun damai adalah keluarga. Menukar kata, menyelimuti segala keluh kesah menjadi hal yang sangat biasa. Begitu pula istrinya yang kerap memasak mata kuda untuk suaminya. Seperti mata-mata yang menyelinap di lorong-lorong tabuh dalam jalan hidup keluarga.

/5/

            Kampung itu kembali riuh. Dikejutkan kembali dengan peristiwa yang serupa dengan Kasrun. Tetangga sebelah semalam telah tertimpa musibah. Seluruh hartanya ludes dimaling orang yang tidak dapat dijangkau batang hidungnya. Histeris. Depresi. Wajahnya lucet, hingga pada akhirnya Narko menghampirinya penuh santun.

Sebenarnya Narko sudah enggan berhadapan dengannya. Karena dia adalah warga yang sangat sombong dan kikir pada umumnya. Hingga pada akhirnya Narko yang tak lebih dari seorang pemimpin harus bersikap bijak. Menghampirinya dan mencoba meredamkan keluh kesahnya.

“Pakailah uang ini sebagai kebutuhanmu. Sebagai pengganti hartamu yang hilang” lantunan Narko menyentuh hati.

Kerap tidak jadi membelikan sepatu untuk anaknya. Kasrun cukup pasrah dan diam dalam kekinian. Tiada resah atau tangis lagi baginya. Yang ada hanyalah bapak yang bermurah hati pada warga. Pelangi di matanya, kesejukan pada hati kecilnya. Seseuatu yang adalah kebanggaan tersendiri.

“Wah berarti dia adalah salah satu komplotan dari maling itu?” celetukan salah satu warga yang adalah fitnah.

Serentak para warga percaya. Menghabisi rumah Narko beserta isinya. Menghabisi Narko hingga tak berdaya, bertudung pada usia yang menyempit atas jantungnya. Lagi-lagi Narko hanya bertahan hidup untuk anak dan istrinya. Kembali meredamkan hati kembali dan tersenyum tipis meski rumah sudah habis.

“Pentingkanlah orang lain yang membutuhkanmu, anakku” Lantunan terakhir Narko kepada anaknya di mata istrinya. Wajahnya serupa kamboja. Hingga kembali pada telaga teduh. Telaga teduh. Pohon jambu. Rumput mengering. Ayam bertamu. Perkampungan yang indah. Pada telaga teduh yang menggenang di mata Narko serupa mata kelinci. Lembut berhati tunduk.

Brondong, 15 Juni 2012

*) AKSAN TAQWIN, terlahir di kota soto; Lamongan 18 Maret 1989. Mahasiswa Universitas PGRI Ronggolawe Tuban ini memiliki aktivitas menulis yang cukup. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini cukup kreatif dalam menulis, jadi tak heran berbagai tulisannya telah dimuat di media cetak. Beberapa Esai, cerpen dan Puisi-puisinya pernah dimuat di Jawa Pos (Radar Bojonegoro), Majalah Akbar, kotakata ,Tabloid Nusa, Majalah Sagang, Majalah Warta. Puisi-Puisinya juga tergabung dalam antologi bersama: Jual-Beli Bibir (Ilalang Pustaka:Mei 2011), Sehelai Waktu (Scolar: juli 2011). Mimpi Kecil(Seruni 2011), Deverse 120 Indonesian poet: Puisi dua bahasa (Jagad shell publishing 2012). 50 Puisi terbaik untuk kota padang tercinta se-Indonesia 2011. 15 Besar Puisi Rinai Rindu Untuk Muhammad-Mu. 20 besar pusi terbaik Lingkar Bhineka 2012. 10 Puisi terbaik lomba cipta puisi Koran Bogor 2012.  Cerpennya Kutilang Mencium Bulan (Pemenang Harapan Empat Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) Award 2011 Nasional.). Pemenang harapan Lomba cipta cerpen Kalimantan selatan dalam cerita. Kawa Banua 2012. Seringkali menghadiri acara sastra lintas kota di Indonesia. Temu penyair muda 2011.

Aktivitasnya selain tergabung dalam Komunitas Penulis (Komunitas Sanggar Sastra:KOSTRA), dia juga tergabung dalam teater LABU Tuban.

Cerita Pendek Mingguan yang Lain:

Bagaikan Nyala Api

Pencuri Mimpi

MISTERI GUA KUCING

Ponte Vecchio

Algojo

Cerpen Junaidi Abdul Munif
Editor Ragil Koentjorodjati

Perkenalkan, namaku Jimmy. Lengkapnya, aku tak perlu menyebutkannya, karena aku takut Anda akan terus mengingat namaku. Kasihan sekali Anda jika tahu nama lengkapku, karena otak Anda akan diisi oleh sesuatu yang –menurutku- kurang berarti. Aku sarjana ekonomi lulusan dari sebuah universitas ternama. Kalau ditulis lengkap, namaku akan menjadi Jimmy……… SE. Hebat bukan?
Namun, aku sering dipanggil dengan nama Jack. Apa hubungannya? Jangan dibahas terlalu lanjut. Dan aku rasa itu bukan hal penting. Banyak sekali nama panggilan yang sangat jauh berbeda dan kelihatannya sama sekali tak ada hubungannya dengan nama asli. Kalau nama panggilanku Jack, minimal masih ada hubungannya bahwa keduanya sama-sama diawali dengan huruf J.
Profesiku? Mungkin Anda akan mengira aku bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar. Berpenampilan parlente dengan menenteng tas ke mana-mana. Bukan, bukan itu. Aku sangat jauh dari kesan itu: seorang eksekutif muda yang jadwal hari-hari dipenuhi rapat dan rapat, ketemu relasi bisnis, seorang pekerja yang tak pernah kekurangan uang di kantong, dompet dan rekeningnya, yang jika berbelanja hanya tinggal menggesekkan kartu kredit.
Sekarang aku akan memberitahukan apa pekerjaanku. Dan, ini penting, Anda harus mencatatnya, sekaligus……waspada! Pekerjaanku adalah pembunuh bayaran!
Tentang profesi yang mengerikan ini, aku juga tidak tahu pasti mengapa ada profesi seperti itu di dunia ini. Sangat jauh dari ilmu yang aku pelajari selama kuliah. Tapi itulah, di negara tercinta ini sudah terlalu banyak sarjana sehingga lapangan pekerjaan yang sedikit itu pun harus diperebutkan oleh orang yang di belakang namanya dipenuhi dengan gelar. Pekerjaan seperti sebutir gula yang diperebutkan oleh ribuan semut. Dan karena aku gagal bersaing untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku, apa boleh buat, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi, akhirnya aku memilih pekerjaan ini.
Aku cukup bersyukur. Di tengah persaingan hidup yang semakin sengit, pekerjaanku masih jalan terus. Pekerjaanku tidak pernah terkena imbas krisis global. Bahwa sering ada orang yang kena PHK, aku sama sekali tak pernah mengalami hal itu. Ya, Anda harus tahu, kalau Anda sering menonton berita kriminal di televisi, banyak sekali terjadi peristiwa pembunuhan. Tahukah Anda, bahwa dari yang mati itu ada yang merupakan korbanku? Aku sangat beruntung, polisi tak bisa melacak jejakku. Bukankah ada adagium, penjahat selalu selangkah lebih maju dari polisi? Mungkin Anda menganggap aku sebagai pembunuh profesional yang sangat lihai. Terima kasih kalau Anda berpikir begitu, artinya Anda memberi apresiasi pada pekerjaanku.
Tentang polisi yang selalu gagal mencium jejakku, aku tak tahu kenapa. Padahal aku tak pernah secara khusus belajar keterampilan membunuh secara canggih, yang jejaknya tak bakal diketahui polisi. Aku menjadi percaya, bahwa nasib baik dan keberuntungan itu memang ada. Dan selalu lolosnya aku dari tangkapan polisi adalah salah satu keberuntungan itu.
Order pembunuhan yang pertama kali kuterima datang dari seorang pemilik toko. Aku tak akan menyebutkan jenis tokonya itu. Aku takut Anda akan mencurigai orang itu. Toko itu menghidupi banyak karyawan. Kasihan jika karyawan-karyawan itu mesti kehilangan pekerjaannya jika banyak orang seperti Anda akan memboikot toko itu.
Dia menyuruhku karena benci usahanya disaingi. Ya, pada awalnya toko pengorder jasaku ini masih bisa mengimbangi toko saingannya. Namun pelan-pelan, para pelanggannya mulai beralih ke toko saingannya itu. Pengorderku merugi. Ia mendapat modal dari mengutang. Karena ia tak bisa membayar utangnya, ia semakin benci pada saingannya dan berniat menghabisinya. Tapi ia bingung bagaimana caranya menghabisi nyawa pemilik toko rival bisnisnya. Ia takut tertangkap polisi.
Beruntung saat itu aku sedang membeli suatu barang di tokonya. Aku bilang padanya, aku sangat butuh barang itu tapi tak mampu membayarnya. Ia pun mengatakan bahwa usahanya mulai seret. Ia berkeluh kesah tentang keuntungannya yang semakin hari semakin menyusut. Lantas aku bilang, akan bekerja menjadi pelayan di tokonya. Ia menjawab bahwa ia sudah tak mampu lagi membayar karyawan. Lalu aku mengatakan apa pun akan kulakukan untuk membayar sebagai kompensasi kalau aku telah mengambil barangnya. Secara tak terduga, dia memanggilku masuk ke ruangan kecil yang sunyi. Di situ dia mengeluarkan ide gila untuk membunuh pemilik toko yang membuat usahanya bangkrut. Gilanya, aku menyanggupi untuk membunuhnya. Bukankah aku sudah mengatakan akan melakukan apa saja untuk membayar barang yang kuambil itu?
Selama dua hari aku selalu datang kepadanya, berdiskusi dengan cara apa aku harus membunuh saingannya. Kami saling bertukar pendapat tentang cara yang paling aman dari kecurigaan polisi. Dan akhirnya kami sepakat membunuhnya dengan suatu cara. Cara apa itu? Aku tak akan menjelaskannya di sini. Takut kalau Anda tertarik untuk mengikutinya. Bisa-bisa orderku berkurang, diserobot oleh Anda!
Pemilik toko saingannya itu seminggu kemudian mati di tanganku. Pengorderku senang bukan main. Ia memberiku uang dua juta. Tapi aku menolaknya. Dalam perjanjian sebelumnya tak ada kesepakatan kalau aku akan menerima imbalan uang. Aku menganggap pembunuhan itu sesuai dengan nilai barang yang kuambil darinya. Ya, mau apa lagi, kalau sedang butuh, tak ada nilai yang sanggup menghargai sebuah barang.
Dari mulut ke mulut, kabar tentang keberhasilanku membunuh yang tak mampu terlacak oleh polisi menyebar secara rahasia. Aku diberitahu oleh pengorder pertamaku bahwa ada temannya yang akan menyewa jasaku. Akhirnya aku meminta handphone pada pengorder pertamaku -dan ia tak keberatan- agar memudahkan berkomuniksi dengan pengorder selanjutnya.
Mulailah aku menjalani sepak terjang sebagai seorang pembunuh profesional. Banyak dari pengorder langsung menyebutkan harga untuk nyawa orang yang aku bunuh itu. Sangat menggiurkan. Kalau sepuluh kali saja aku mendapat order membunuh, aku akan langsung jadi orang kaya. Jika telah menjadi kaya, aku berjanji akan mulai usaha dengan jalan yang benar, tentu dengan strategi membangun yayasan untuk membantu kerja pemerintah mengentaskan kemiskinan dan merawat anak-anak terlantar.

***
pembunuh bayaran
gambar diunduh dari http://www.fitr4y.files.wordpress.com

Sekarang aku akan menceritakan order terakhir pembunuhan yang kuterima. Anda adalah orang yang beruntung karena mengetahuinya. Jarang-jarang lho.
Aku sedang tiduran di kasur butut sambil merokok dan menikmati segelas kopi.
Tiba-tiba sebuah sms masuk ke nomor handphone-ku.
“Bisa Anda ke Jl Melati 20? Sangat penting.” Begitu isi sms itu.
Aku langsung membalasnya. “Bisa. Kapan? Sekarang?”
“Iya. Sekarang.”
Aku segera mengambil jaket kulit dan keluar menyetop taksi. Malam yang pekat dengan udara dingin cukup membuat kota yang siang hari sangat menggeliat ini mati.
Tak ada keramaian seperti yang terjadi di siang hari.
Setelah berdiri di pinggir jalan, sekitar seperempat jam, akhirnya aku mendapat sebuah taksi.“Jalan Melati,” kataku.
Sopir taksi langsung menjalankan taksinya tanpa sedikitpun menoleh kepadaku. Aku lebih banyak diam dari pada mengajak sopir untuk bercakap-cakap, meski sekadar omong kosong yang akan menghangatkan suasana malam yang begitu dingin ini.
Jalan Melati sangat sepi. Seperti bagian lain kota ini, seperi seorang tua renta yang kehabisan tenaga sehingga tak mampu bergerak sedikitpun. Aku mencari rumah benomor 20. Ketemu. Sudah gelap memang, tapi sebuah lampu lima watt yang menyala cukup memberi bukti bahwa memang betul ada orang memintaku untuk datang ke tempat ini.
“Selamat datang, Jack. Saya sangat butuh jasa Anda,” katanya. Ia seorang laki-laki parlente yang masih memakai setelan jas rapi, meski hari sudah malam begini.
“Siapa yang mesti saya bunuh?” tanyaku setelah duduk di sofa butut yang di sana-sini sudah berlubang.
“Ini alamatnya,” ia menyodorkan secarik kertas padaku “Dan ini fotonya,” lanjutnya sambil menyerahkan selembar foto bergambar laki-laki tua yang dandanannya tak kalah parlente dengan pengorderku ini.
“Kapan nyawanya harus keluar dari tubuhnya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok filter dan menyelipkannya di bibir.
“Malam ini.”
Secepat itukah? Pertanyaan ini batal kulontarkan. Sebagai pembunuh profesional, aku memang dituntut siap bekerja kapan saja. Kapan diperintah untuk membunuh, saat itu juga aku akan membunuh.
“Ini dp-nya. Sisanya setelah pekerjaan Anda selesai,” ia menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku tak tahu berapa isinya, karena langsung kumasukkan ke saku jaket. Tabu bagiku untuk tahu berapa ongkos tiap nyawa yang kucabut.
Aku segera melesat menembus malam yang dingin. Rokok yang kuhisap cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai diserang bermacam penyakit ini. Jalan Wisanggeni 35. Itu adalah alamat yang diberikan pengorderku di Jl Melati 20.
Entahlah, aku merasa kurang nyaman malam ini. Tidak seperti biasanya, aku akan sangat bersemangat untuk menghabisi nyawa seseorang. Menyaksikan orang mati terkapar oleh tanganku, ada kepuasan tersendiri. Anda bilang aku sadis? Itu terserah Anda. Yang penting aku puas, dapat uang banyak. Sederhana bukan?
Tapi nyatanya, aku bukan termasuk orang yang kaya. Sudah lebih dari seratus kali aku menghabisi nyawa orang, tapi tetap tidak kaya. Masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit dengan kebersihan yang tidak terjamin. Kamar mandi bau pesing karena harus bergantian dengan penghuni kontrakan lainnya. Dan kenyamanan yang terenggut karena penghuni kamar di sebelahku selalu menyetel musik rock keras-keras, seolah penghuni lainnya harus mendengar musik yang disukainya itu.
Aku telah sampai di jalan Wisanggeni 35. Sayang, aku tak bisa segera beraksi. Masih banyak orang di rumah itu. Bahkan suara para penghuni yang ada di dalamnya terdengar hingga ke pinggir jalan di tempat aku sekarang berdiri. Aku mencari tempat yang aman untuk sembunyi dan mengintai. Menunggu waktu yang tepat untuk beraksi menghilangkan nyawa orang yang fotonya ada di tanganku ini.
Aku menelepon pengorderku di Jalan Melati 20.
“Suasana belum aman. Bisa ditunda besok saja?” kataku mengabarkan situasi rumah di Jalan Wisanggeni 35.
“Harus sekarang. Tunggu sampai ada waktu yang tepat. Kalau malam ini Anda tidak berhasil membunuhnya, bisa-bisa besok saya yang akan mati.”
Akhirnya aku tetap berdiri di tempat yang terhalang semak-semak, sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang ada di saku jaketku. Gila! Lama sekali orang yang berkumpul itu membubarkan diri? Tapi sebagai pembunuh profesional, mau tak mau aku harus tetap menunggu.
Akhirnya jam dua pagi tak ada lagi keramaian di rumah itu. Aku segera menyelinap ke sana. Kebetulan lampunya masih menyala. Berarti orang yang harus kubunuh itu belum tidur. Bukan masalah buatku, orang yang akan kubunuh sudah tidur atau belum. Kalau sudah, tentu akan sangat mudah membunuhnya. Kalau belum, berarti aku harus bertarung dulu dengannya karena dia pasti akan mempertahankan diri. Ya, itung-itung sebagai hiburan dan pengalaman. Kalau pekerjaan yang aku jalani ini tidak semuanya berjalan mulus.
Aku sudah berada di depan pintu. Kudorong pintu itu sedikit. Ternyata belum dikunci. Aku tak membuang tenaga untuk mendobrak membuka pintu yang sudah dikunci.
Aku tak menyangka, orang yang akan kubunuh ini tahu kalau nyawanya mungkin sebentar lagi akan melayang di tanganku. Sama sekali ia tak takut sedikitpun menghadapiku. Malah ia tersenyum, seperti bertemu dengan sahabat yang lama tidak ketemu.
“Anda Jack? Algojo yang ditugaskan untuk membunuh saya? Sabar, masih banyak waktu. Jangan terburu-buru. Saya tak akan lari dari Anda,” katanya tenang.
Gila! Pikirku. Mau mati saja masih santai kayak gitu. Apa dia belum tahu reputasiku selama ini?
“Anda pasti pembunuh yang sangat profesional. Saya yakin akan segera mati jika Anda sekali saja menyentuh saya. Ngomong-ngomong dengan apa saya akan Anda bunuh? Anda belum pernah gagal dalam membunuh, bukan? Jangan takut, saya tak akan mengecewakan Anda. Tapi sebelum saya mati di tangan Anda, saya ingin meditasi dulu. Semacam persiapan kalau kematianku sudah tiba. Tadi banyak tamu yang datang ke rumah saya ini hingga meditasi baru bisa saya lakukan sekarang.”
Menyebalkan! Mau mati saja masih memikirkan meditasi. Kenapa ia tidak berpikir bagaimana caranya meloloskan diri dari tanganku?
Tapi memang, malam ini aku merasa aneh. Perasaanku tidak tenang seperti biasanya. Aku kurang enjoy untuk beraksi. Bahkan gugup menghadapi orang yang begitu tenang menjelang ajalnya ini.
Aku duduk di kursi yang ada di belakang tempat dia meditasi. Aku harus sabar menunggunya. Bukankah aku cukup baik membiarkan calon korbanku melaksanakan keinginannya untuk yang terakhir kali sebelum pergi untuk selama-lamanya? Jarang aku berbaik hati seperti ini.
Tapi lama sekali ia meditasi. Ia tenang duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit. Entah sedang membaca apa. Dan aku pun tak sabar untuk menghabisinya karena waktu sudah hampir menunjukkan jam tiga pagi.
Aku mendekatinya, merogoh belati dari dalam jaket kulitku. Pelan-pelan aku dekati dia. Aku begitu hati-hati mendekatinya hingga langkah kakiku nyaris tak menimbulkan suara. Ia sama sekali tak menghiraukan kalau aku sudah berada di belakangnya. Tinggal pegang lehernya dan aku tancapkan pisau belati ini ke dadanya. Beres sudah. Aku tak pernah gagal dalam membunuh.
Namun tiba-tiba, seperti ada yang mencegah tanganku untuk memegang lehernya dan menancapkan belati di dadanya. Nafasku tiba-tiba sesak. Aku jatuh tersungkur di lantai. Aku berusaha bangkit untuk membunuhnya. Tapi aku tak pernah bisa bangkit lagi. Aku pun mati sebelum berhasil membunuh orang itu. Untuk pertama kali inilah aku gagal menyelesaikan tugasku, pembunuhan ke-seratus satu.

***

Dua hari setelah kegagaln itu, sebuah berita di koran menyebutkan ada seorang laki-laki yang frustrasi karena terhimpit masalah ekonomi hendak mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di sebuah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya untuk liburan ke Paris. Namun sebelum berhasil membunuh dirinya sendiri dengan belati yang digenggamnya, ia keburu mati. Tak ditemukan bekas penganiayaan di tubuh lelaki itu. Tak ada sesuatu yang menjelaskan identitas lelaki itu. Di saku jaketnya hanya ditemukan sebuah amplop berisi potongan-potongan kertas yang ditata menyerupai uang. Diduga kuat laki-laki itu juga mengalami sakit jiwa, mungkin karena saking lamanya terhimpit kemiskinan.
Berita itu ada di pojok kanan bawah koran dengan gambar seorang lelaki yang diburamkan wajahnya, mengenakan jaket kulit sedang terkapar di lantai dengan tangan memegang belati. Sayang, tak ada yang begitu antusias membaca berita yang berjudul “Gagal Bunuh Diri, Tetap Mati” itu.

Tanda Mata

Cerpen Chotibul Umam

gambar diunduh dari 1.bo.blogspot.com

Seorang pemuda dengan wajah tenang sedang duduk di atas kursi roda. Sudah sekian bulan dia terbaring seperti tak bernyawa. Entah penyakit apalagi yang tak jenuh menghinggap di tubuhnya. Daya tahan tubuh seakan tak lagi mau berpihak pada niatnya untuk menjalani hidup. Tapi di balik matanya yang bulat dia masih menyisahkan cita-cita yang selama ini tertunda. Seperti sedang merencanakan sesuatu yang barangkali dia sendiri tak tahu bagaimana akan bertindak.

Dari kejahuan tampak seorang gadis yang tiba-tiba mampu memecah ingatannya. Diputarlah roda yang membawa tubuh lemahnya untuk lebih dekat namun tetap menjaga jarak dengan gadis tersebut. Gadis berambut gelombang itu seakan tak sungkan untuk mengenakan pakaian layaknya seorang pria. Rambutnya yang tergerai ditutup dengan topi khas gaya Putu Wijaya, dan tas yang menungging di punggungnya seolah ingin menunjukkan bahwa dia menyimpan berbagai macam lensa yang dibutuhkan, di sisi lain baju rompi yang turut mempercantik penampilannya lebih memberi kesan bahwa dirinya memang  fotografer yang berpengalaman.

Sepucuk mawar di pagi itu mulai mekar. Harumnya mulai turut memperindah taman bunga di tepian kolam air mancur. Angin segar yang berhembus ringan semakin kian diburu oleh para pasien sebelum ikut membaur bersama polusi, ditemani sanak famili atau perawat pribadi, mereka berharap segala duka akan segera hilang.   

Pemuda itu sempat menyimpan pertanyaan dalam hati saat melihat gadis itu. “Apa yang diharapkannya dengan mengambil gambar di tempat seperti ini? Bukankah ada yang lebih indah dari sekedar mengabadikan orang-orang yang dirundung duka?” ujarnya dalam hati.

Matanya terlihat cekung dengan warna hitam yang membalut tepat di pelupuknya. Belum sempat keinginannya untuk menyapa tiba-tiba rasa nyeri di kepala menyerang. Diputarlah kursi roda yang membawa tubuh ringannya untuk segera kembali ke kamar. Kembali untuk mengurai beban kepala yang tak sebanding dengan cintanya.

“Bagaimana dengan hari ini Mas Adam? Apakah sudah lebih baik,” tanya suster pribadinya sembari mengantarkan sarapan pagi. 

Ia seperti terkejut ketika melihat suster muncul dari bilik pintu kamarnya. Hanya dengan senyum ringan pemuda berparas layu itu menjawabnya, selebihnya tak ada kata yang keluar.

“Sebelum dokter datang memeriksa, ada baiknya Mas Adam sarapan dulu mumpung lagi hangat buburnya.”

“Sus, masih berapa lama lagi saya tinggal di sini?” tanyanya

“Kata dokter tidak lama lagi. Hanya saja kondisi tubuh Mas Adam masih diragukan maka dari itu dokter menyarankan lebih baik tinggal di sini dulu,” jawabnya.

“Boleh saya bertanya Sus?” tanya pemuda beralis tebal itu.

“Boleh Mas…”

“Apa Suster pernah jatuh cinta?”

“Ya sering Mas, malahan hampir tiap hari,” jawabnya meledek.

“Apa yang biasanya orang berikan sebagai tanda cinta kepada orang yang dicintainya?”

“Ya macam-macam Mas. Dengan bunga boleh. Lukisan juga boleh atau puisi apalagi. Bisa juga dengan memberikan sesuatu yang menjadi kesukaannya. Oh…, ada yang sedang jatuh cinta ya,” guraunya.

“Mungkin Sus, tapi nggak tahu.”

“Nggak tahu atau nggak berani Mas,” seraya tersenyum.

“ Heheh…ya terimakasih Sus atas sarannya”

“Ya sama-sama Mas,” senyumnya ramah.

Kamar bernomor 13 ruang VIP adalah tempat dimana dia merebahkan segela penat. Tak ada satupun keluarganya yang berkunjung, sebab dia menutup diri dari keluarga maupun teman dekatnya. Dipilihnya rumah sakit sebagai tempat tinggalnya sementara adalah atas kemauannya sendiri. Dia sangat menyadari dengan kondisinya yang telah berbulan-bulan menahan rasa sakit di kepala.

Malam telah menjelang dan bulan yang terang  sinarnya perlahan jatuh menembus dinding-dinding sepinya malam. Bila saat-saat seperti ini para pasien tak lagi diperbolehkan keluar dari kamarnya. Karena udara malam dianggap  liar seperti tak kenal memilih untuk dijadikan korbanya. Di setiap barisan bangsal mata malaikat maut seolah mengintai para penghuninya. Meski itu sebuah resiko usaha dan doa harus tetap dilakukan.

Mula-mula kepalanya mulai nyeri dicarinya tempat obat. Dia menelusuri disekitar laci ,meja, sampai dibawah ranjang. Ketika tak sengaja dia menendang kotak sampah lalu jatuh berserakan dia melihat sebungkus obat. Diambilnya dengan tergesah-gesah lalu lekas diminumnya sesaat kemudian jatuh tertidur di atas lantai tanpa alas.

“Mas Adam,….!” teriaknya suster ketika membuka pintu

“Mas Adam bangun Mas” sembari meanggoyangkan tubuhnya.

Akhirnya dia terbangun dengan tergagap. Dengan wajah pucat pasi dia dipapah berdiri kemudian dibaringkan tubuhnya di atas ranjang.

“Bagaimana Mas Adam bisa tertidur di atas lantai” tanya suster penuh.

“Tidak  tahu Sus, setelah saya minum obat langsung terjatuh”

“Pasti terlalu capek.”

“Sekarang Mas Adam mandi dulu habis itu kita jalan-jalan keluar” lanjut suster.

Dia bergegas membersihkan tubuhnya. Berpakain rapi dengan sedikit berdandan. Hari ini tidak seperti biasanya dia terlihat tampan, berbeda betul dengan hari-hari sebelumnya. Rambutnya yang pendek dibiarkan sedikit acak-acakkan. Tak ketinggalan pula dia memakai wangi-wangian. Disemprotkan parfum bermerk ke tubuh kurusnya seperti ingin memberi aroma semangat dalam hidup.

“Wah  hari ini mas terlihat tampan,” puji suster.

“Memang Mas Adam punya janji hari ini, dengan seseorang mungkin,? ujarnya.

“Nggak ada Sus, cuma ingin tampil beda dari hari biasanya.”

“Baguslah Mas, saya senang mendengarnya,” katanya begitu riang seraya mendorang kursi roda.

Dari kejauhan terlihat lagi seorang gadis fotografer seperti tempo itu. Untuk kali ini dia sedang membidik objek. Sekali bidik sesekali itu pula dia langsung melihat bidikannya mengoreksi hasil dari gambar kameranya. Mungkin dirasa belum cukup puas hasil jepretannya lalu diarahkan lagi mata kamera ke objek tadi. Setelah sekian kali dia membidik, baru sebentar senyumnya mulai mengembang seperti merasa puas dengan hasil yang terakhir ini. Sejurus kemudian dia mengedarkan matanya dengan jeli berharap menemukan sesuatu yang menarik. Tiba-tiba kamera itu diarahkan kepada sosok pemuda yang duduk di kursi roda dengan seorang suster sedang mendorong dibelakangnya.

“Cekrek.”

Tersontak ketika dia tahu bahwa dirinya sedang dijadikan objek gambar seorang fotografer.

“Sus, dia itu fotografer?” tanya pemuda itu dengan menunjuk ke arah gadis yang sedang mengambil gambar.

“Ya Mas, hampir satu minggu dia di sini katanya mau mengadakan pameran fotografi di kota ini.”

Si gadis sepertinya menyapa pemuda yang berkursi roda itu dengan tersenyum manis. Gadis itu pun berjalan menuju ke arah pemuda yang ditemani seorang suster tersebut.

“Pagi Mas, kenalkan saya Ana” gadis cantik itu menyapa sembari memperkenalkan namanya    

“Pagi juga Mbak Anan, saya Adam” pemuda itu pun membalasnya.

“ Mbak Ana katanya ingin mengadakan pameran fotografi di kota ini?”  

“Ya Mas, rencananya bulan depan bareng teman-teman”

“Mas, saya tinggal dulu mau ke ruang dokter pribadi Mas Adam” sela suster di tengah percakapan mereka.

“Mbak Ana saya tak tinggal dulu ya?” lanjutnya.

“Oh ya silahkan Sus.”

“Kalau boleh tahu kenapa yang jadi objek rumah sakit Mbak?”

“Heem, karena saya ingin mengabadikan orang-orang yang tegar dan berani bertahan menghadapi hidup, dan saya kira orang-orang di luar sana harus bisa mengambil pelajaran dari orang-orang yang sakit. Mereka yang jelas-jelas dalam keadaan sakit masih mau mencuri kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya” jawabnya dengan lugas.

Angin pagi itu menerpa tubuh sakitnya. Semacam duka atau suka meski itu semua silih berganti beranjak. Entah apa yang ada dalam pikiranya seperti ingin menyampaikan kata-kata tapi tak selugas apa yang biasa dia katakan.

“Begini Mbak, saya punya permintaan yang mungkin bisa dijadikan bahan untuk pameran nanti” pintanya dengan tatapan sedikit nanar.

“Apa itu Mas?”

“Tolong bidik mata saya, cuma mata saya,” tegasnya.

“Boleh juga Mas.”

“Cekrek,,cekrek,,cekrek” beberapa kali gadis bermata jelita itu mengambil gambar sesuai keinginannya.

“Terima kasih Mbak”

“Ehm punya kertas dan pensil Mbak”

“Ini Mas” disodorkannya kertas dan pensil.

Tidak lama dia menuliskan sesuatu di atas kertas. Lalu diberikannya lagi kepada gadis bernama Ana itu.

“Kalau memang gambar tadi bisa dijadikan sebagai bahan pameran. Saya minta judul dan sinopsis ceritanya sama persis dengan apa yang saya tulis tadi Mbak” pintanya.

“Siap Mas” jawabnya gadis berparas anggun itu.

Selang beberapa saat sang suster datang bersama dokter pribadinya. Mereka pun akhirnya berpamitan kepada  si gadis . Ditariknya pemuda tersebut dari tempat semula. Entah baru beberapa jam lewat. Tak lama kemudian sebuah kereta ranjang keluar dari kamar bernomor 13. Terlihat kain putih itu telah menutup seluruh tubuh yang nampak terbujur kaku berjalan di depan mata si gadis. Dia  terpaku melihat sosok yang telah tertidur panjang. Suara serak roda kereta ranjang itu seperti ingin mengabarkan bahwa usia hidupnya memang tak sepanjang usia cintanya.

Tepat ketika pameran fotografer itu dibuka. Di samping pintu masuk pameran terpajang foto berukuran paling besar. Siapa pun yang akan masuk ke ruang galeri itu pasti tak akan melewatkan foto bertuliskan tanda mata dengan sinopsis” ketika kata-kata tak lagi bisa menjadi peluru, bisakah tanda mata sebagai ungkapan cintaku padamu?” teruntuk Fhy Savitri.

Tembakan Lelaki Borneo

Tembakan Lelaki Borneo[1]

 Cerpen Anton Trianto

gambar diunduh dari situsaja.blogspot.com

Bunyi tembakan dan suara barang yang pecah terdengar nyaris bersamaan. Menggetarkan udara dan terasa membekas di gendang telinga. Menyusul di belakangnya suara berat seorang lelaki yang memaki-maki.

“Riwuuuut! Tempayanku, Riwuuut! Sontoloyo! Asu!”

Menyusul lagi di belakangnya suara banyak orang terkekeh-kekeh menggenapi parade suara gaduh di tempat itu. Sebuah tempat yang merupakan sebidang halaman belakang sebuah rumah. Tempat yang dipenuhi oleh banyak lelaki yang sedang menggendong bedil di tangannya.

Di tempat itu berdiri seorang pemuda, tubuh kecil berkulit hitam. Pemuda yang barusan saja menembak, dimaki dan ditertawakan. Namanya Riwut. Semua orang di sana menggeleng-geleng kepala atas apa yang sudah diusahakannya. Riwut pun juga terpaksa geleng-geleng kepala atas kegagalan-kegagalannya.

Mata Riwut menatap sebuah botol kosong bekas minuman keras buatan Belanda yang diletakkan di atas tumpukan karung berisi pasir. Botol kosong itu adalah sasaran latihan tembaknya sore ini. Botol kosong yang diletakkan sembilan hasta di depan ujung laras bedilnya itu, benar-benar membuat hatinya sangat jengkel.

Tujuh kali sudah peluru meletus dari moncong senapan Riwut. Namun tetap saja sasaran tembak itu bergeming di tempatnya semula. Tak bergerak barang secuil jarak pun. Peluru Riwut malah nyasar menghantam sebuah tempayan air milik majikannya yang terbuat dari tembikar. Bagian tengah tempayan itu rengkah isinya muncrat berhamburan.

Bukan hanya tempayan air yang jadi korban keganasan senapan Riwut. Sebelumnya, dahan pohon randu di belakang sasaran tembak juga berlubang ditembus peluru. Beberapa karung pasir di kiri kanan sasaran bernasib sama, bocor dicium timah panas. Sementara tiga buah peluru melesat menyapa awan, hilang entah kemana. Tak satu pun tembakan Riwut kena sasaran.

Riwut membidik lagi. Ia kembali mengatur posisi badannya. Kuda-kuda kakinya dikuat-kuatkan. Suara kokang senapan terdengar. Riwut mulai memicingkan sebelah matanya lalu menahan nafas.

“Sudah, sudah! Cukup! Kita hemat peluru!” seorang lelaki berbadan tinggi gempal mencegah dan memberikan isyarat tangan kepada Riwut agar tidak menembak lagi.

“Kau belum bisa menembak juga,” katanya pada Riwut dengan kerut di dahinya. Yang ditanya cuma bisa menjawab dengan cara memamerkan senyuman hambar dan seringai kosong.

Lelaki tinggi gempal itu melepas hembus nafas pelan, prihatin dengan kegagalan Riwut menembak. Lelaki itu adalah Cak Hasan. Dahulu Cak Hasan adalah seorang chudanco[2] PETA[3], kini ia jadi anggota BKR[4]. Cak Hasan diminta oleh Ki Kusno, untuk melatih laskar rakyat bentukannya agar bisa menggunakan berbagai senjata api hasil rampasan dari gudang senjata milik Jepang. Ki Kusno sendiri adalah majikan Riwut, orang yang memaki karena tempayan airnya pecah ditembak Riwut. Ia terkenal sebagai salah seorang jawara silat ternama di Surabaya.

“Riwut, latihan yang becus! Masa sampai hari ini kau belum juga bisa menembak!” bentak Ki Kusno dengan air muka yang geram.

Lagi-lagi Riwut hanya bisa memamerkan senyuman hambar dan seringai kosong sebagai sahutan untuk Ki Kusno. Riwut tak berani berlama-lama menatap sorot mata majikannya yang sedang kesal. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah Cak Hasan. Cak Hasan terlihat sedang memberi tanda kepada semua orang di tempat itu untuk berkumpul lebih dekat.

“Dengar semua! Kabar yang kami dapat, pasukan Sekutu yang diwakili Inggris segera akan berlabuh di Surabaya, mungkin dua tiga hari lagi. Dan seperti yang telah kita tahu, desas-desus berkembang bahwa akan ada Belanda membonceng di dalamnya. Mereka hendak kembali mengangkangi kemerdekaan kita.”

Lantang suara Cak Hasan membuat suara lain jadi bungkam. Cak Hasan memang penuh kharisma. Air mukanya yang selalu tenang dan nada bicaranya yang datar dan tegas bagai menyihir siapa saja untuk hormat dan segan padanya. Tidak terkecuali Ki Kusno yang terkenal sebagai seorang jagoan.

“Kita tidak punya banyak waktu untuk terus latihan senjata. Kita harus segera bersiap, bersiaga. Seluruh laskar rakyat diharapkan terus bekerja-sama membantu BKR.”

Cak Hasan berhenti sejenak. Bola matanya bergerak menyapu seluruh wajah lelaki yang ada di sana, lalu berhenti pada wajah Riwut. Ditatap lama oleh Cak Hasan, Riwut membuang pandangnya ke tanah.

“Bagi yang sudah mempunyai senjata, pergunakan amunisimu dengan bijaksana. Yang belum bisa menembak, usahakan segera bisa, silahkan latihan sendiri. Tapi ingat, hemat pelurumu! Mulai sekarang semuanya harus siaga, pantau setiap perkembangan dan kabar yang datang. Jalin terus komunikasi dengan BKR. Kita tahu Belanda tidak akan main-main untuk mengembalikan kekuasaannya. Paham semua?”

Semua kepala lelaki di hadapan Cak Hasan bergerak mengangguk tanda mengerti.

“Baik. Cukup sampai hari ini latihan kita.”

“Merdeka!”

“Merdeka!”

Semua orang pun bubar. Cak Hasan berpamitan kepada Ki Kusno lalu bergerak kembali ke markas BKR. Sementara Ki Kusno bergegas menghampiri Riwut.

“Riwut! Kemari!”

Riwut tergopoh menemui Ki Kusno. Dilihatnya sorot mata Ki Kusno belum juga berubah sedari tadi. Sorot mata kesal yang hendak menerkam wajahnya.

“Riwut, bagaimana kamu ini? Kamu serius tidak selama latihan? Sampai hari ini kau belum juga bisa menembak?”

Riwut cuma diam, matanya ke tanah.

“Musuh kita adalah Belanda, Wut! Mereka pakai bedil, meriam, dan senjata api lainnya. Kamu kira bisa menghadapi mereka hanya dengan parang, pedang dan jurus-jurus silatmu saja, hah?!”

Riwut masih diam, matanya melirik wajah Ki Kusno sejenak lalu kembali ke tanah.

“Aku tahu, kita semua belum ada yang mahir menembak. Tapi paling tidak kami bisa membidik sasaran lumayan lebih baik ketimbang kau. Tapi kau, benar-benar payah!”

Riwut tetap diam, ia merasa seperti terbenam pelan-pelan ke dalam lumpur hisap, tak kuasa membela diri. Ki Kusno diam sejenak, diamatinya raut wajah Riwut lekat-lekat. Tak tega juga akhirnya Ki Kusno melihat kesan wajah menyerah tak berdaya yang diperagakan oleh Riwut. Ki Kusno pun mengendurkan urat lehernya.

“Kau bisa jadi seorang yang amat berguna bagi perjuangan ini. Badanmu lincah, gerakmu cepat, bayangkan jika kau mampu menembak dengan baik.”

“Tak tahu aku, Ki. Sudah aku coba. Tapi tetap tak bisa,” akhirnya Riwut bersuara.

“Latihan yang becus, Riwut. Akan sangat berbahaya jika kau menembak dengan caramu itu lalu bergabung dengan laskar di garis depan perjuangan.”

Riwut mengangguk pelan. Ki Kusno kemudian pergi meninggalkan rumah sekaligus padepokan silat juga markas laskar rakyat buatannya itu. Seperti biasa, setiap senja mulai menguning, Ki Kusno harus sudah berada di sekitar gudang beras milik Koh Ah Guan. Di sana ia bertugas sebagai mandor yang mengawasi para pekerja membereskan karung-karung beras sebelum pintu gudang dikunci. Kali ini ia tak mengajak Riwut membantunya mengawasi gudang Koh Ah Guan. Riwut diperintahkan untuk menjaga markas.

Ki Kusno memang seorang centeng. Dahulu meneer-meneer[5] Belanda, para indo dan priyayi kaya sering menyewa jasa Ki Kusno. Namun sejak kedatangan Jepang, ia kini hanya melayani permintaan tauke-tauke Cina saja. Jawara silat itu sering dibayar untuk bekerja sebagai mandor perkebunan, penjaga gudang, tukang pukul, bahkan pengawal pribadi.

Menjadi centeng sewaan tentu perlu merekrut beberapa orang anak buah. Lima tahun sudah Riwut direkrut jadi anak buah Ki Kusno. Awalnya Ki Kusno bertemu Riwut di Pelabuhan Ujung. Kala itu Ki Kusno sedang disewa untuk membantu mengawasi keamanan proses bongkar muat barang kapal yang baru datang dari Rotterdam.

Sedikit terkejut Ki Kusno saat melihat ada seorang kuli baru bekerja di sana. Kemampuan kuli itu menyelesaikan pekerjaannya memukau Ki Kusno. Kuli itu mampu bergerak sangat lincah dan cepat walau sedang memanggul beban berat di pundaknya. Ia mampu menyelesaikan pekerjaannya dua kali lebih cepat dari kuli lainnya.

Dia-lah Riwut, si kuli baru itu. Seorang pemuda asal Borneo. Kuli itu tak mengerti bahasa Jawa, tapi bisa sedikit Melayu. Namun masalah bahasa tak jadi soal buat Ki Kusno, tampaknya ia sudah kepincut dengan kemampuan fisik Riwut. Akhirnya Ki Kusno menemui Riwut dan menawarkan pekerjaan sebagai anak buahnya dengan upah yang jauh lebih tinggi daripada upah kuli. Riwut pun menerima tawaran itu.

Tak butuh waktu lama, Riwut pun menjadi orang kepercayaan terdekat Ki Kusno. Selama ini tak ada satu pun tugas yang Riwut lalaikan. Semua perintah tuntas ia laksanakan. Kecuali satu perintah yang masih tersisa sekarang, belajar menembak dengan senapan.

Masih di halaman belakang markas laskar rakyatnya Ki Kusno, Riwut duduk termenung memandangi senapannya. Tangannya menyapu seluruh badan senapan, mulai dari laras, pelatuk hingga popornya. Lagi, Riwut geleng-geleng kepala. Ia tak bisa paham mengapa dirinya seperti tak berjodoh dengan senjata itu.

Diambilnya satu butir peluru dari kantung yang tergantung di sabuknya. Didekatkan peluru itu ke matanya, dilihatnya lekat-lekat. Lalu peluru itu ia dekatkan bersisian dengan moncong senapan. Entah kenapa, tiba-tiba ia ingat senjata warisan leluhurnya di Borneo.

Andai Ki Kusno menyuruhnya menembak menggunakan senjata leluhurnya itu, tentu botol kosong itu sudah terpelanting pecah. Jangankan botol, seekor harimau gila pun sanggup ia robohkan sampai mampus hanya dengan senjata tersebut. Tapi ia tak mau berlama-­lama memikirkan senjata leluhurnya itu.

Riwut kembali berdiri. Ia menata posisi dan kuda-kuda kakinya lagi. Bedil diangkat dan moncong larasnya diarahkan kembali ke botol kosong yang masih di atas tumpukan karung pasir. Senjata di-kokang, mata kirinya kembali memicing.

Suara tembakan kembali menggelepar di udara. Dahan pohon randu kembali berlubang. Botol kosong tetap diam di tempatnya. Di belakang Riwut, suara tawa mengejek kembali terdengar.

“Jangan memaksa diri, Wut! Hari sudah petang, sudah mandi sana! Botol itu juga sudah muak dengan bau badanmu!” rupanya Sudiro – anak buah Ki Kusno yang lain – mengintip dari jendela saat tembakan Riwut meletus, lalu ia tertawa.

Suara tembakan meletus lagi. Peluru Riwut kembali terbang, menyapa awan lalu hilang. Sudiro tertawa lagi, bahkan lebih keras.

**

Bulan November, Surabaya porak poranda. Hampir genap dua puluh hari kekuatan tempur tentara Inggris menggilas perlawanan kota itu. Yang tersisa hanya reruntuhan pos-pos pertahanan yang berwarna legam juga sejumlah jasad dan bekas tumpahan darah para pejuang. Serangan udara, serbuan tank dan tembakan mortir Inggris sejak tanggal sepuluh telah membungkam Surabaya dalam sebuah kekalahan.

Semua front perjuangan rakyat Surabaya dipukul mundur jauh hingga ke selatan tidak terkecuali laskar rakyatnya Ki Kusno. Ki Kusno telah kehilangan banyak anak buahnya. Lebih sialnya lagi ia kini putus kontak dengan pasukan BKR pimpinan Cak Hasan.

Setelah pertahanan di Wonokromo disergap oleh tank-tank Sherman, pasukan pejuang tercerai berai mundur ke arah Gunungsari. Karena gencarnya tembakan kanon dari moncong tank, Ki Kusno dan empat anak buahnya termasuk Riwut panik lalu lari terpisah dari pasukan BKR. Mereka lari masuk ke dalam hutan yang masih merimbun tak jauh dari Kali Surabaya.

Mereka terjebak lebih dari tiga hari di dalam hutan dengan keadaan kekurangan bahan makanan. Sumber makanan kian menipis karena binatang-binatang yang bisa diburu tak terlihat lagi berkeliaran dalam hutan itu. Sementara sumber air semakin sulit dicapai karena tentara Inggris masih terus bergerak menyapu kekuatan pejuang hingga di tepian Kali Surabaya.

Ki Kusno harus memutuskan sesuatu. Diam di dalam hutan lalu kemungkinan mati kelaparan, atau terus bergerak ke timur menembus rimbunan pohon hingga sampai ke Wonocolo dengan persediaan makanan dan minuman yang tak memungkinkan. Dan pilihan terakhir adalah nekat menyelinap melewati barikade tentara Inggris di depan mereka di sekitar Kali Surabaya.

Ki Kusno lebih condong pada putusan yang nekat. Ia mengirim Riwut untuk mengintai kemungkinan dimana keberadaan pos-pos penjagaan musuh dan bagaimana gambaran peluang mereka untuk menyelinap. Riwut di suruh pergi saat langit senja telah benar-benar gelap.

Namun hingga malam kian meninggi, Riwut tak kunjung kembali. Ki Kusno dan anak-anak buahnya gusar menunggu informasi. Dengan diterangi sedikit nyala api yang membakar tumpukan ranting-ranting kecil, Ki Kusno mengajak sisa anak buahnya untuk merundingkan hal tersebut dan memutuskan rencana selanjutnya.

“Riwut belum juga kembali. Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jika malam berlalu dan terang pun datang, maka kita terpaksa menunda rencana kita. Akan sangat sulit kita menyelinap di saat cahaya sedang benderang,” resah Ki Kusno membuat suaranya kian berat.

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Ki Kusno sembari mengamati mata anak buahnya.

“Kami.. Kami hanya menunggu perintah sampeyan, Ki,” jawab Sudiro singkat dan pelan.

“Goblok! Menunggu perintah saja bisanya kalian! Tak pernah memberi masukkan jika diminta! Asu!”

Anak-anak buah Ki Kusno tersentak akibat dibentak dengan kuat seperti itu. Mereka diam tertunduk.

“Ya, sudah. Malam ini juga kita susul Riwut. Siapkan semuanya!”

“Baik, Ki!”

Akhirnya berbekal temaram cahaya bintang dan bulan separuh serta nyala api dari sebuah suluh kecil, mereka bertiga bergerak kembali ke utara. Menembus malam dan pekatnya hutan.

**

Temaram sinar bulan separuh tak bisa mengaburkan mata seorang lelaki yang sedang mengintai seekor ular sendok yang sedang meliuk-liuk di atas tanah. Lelaki itu tampak sungguh gembira. Sudah berjam-jam mungkin ia mencari binatang ini di sekitar hutan, akhirnya ketemu juga. Pelan-pelan ia mendekat sambil mengambil sebuah benda yang tersandang di punggungnya.

Benda itu berbentuk pipa berongga yang terbuat dari kayu berwarna coklat dengan dua utas tali tambang sebagai pengikat di kedua ujungnya. Di salah satu ujung tersebut terpasang semacam mata tombak kecil yang dipaku dan diikat dengan lilitan rotan yang kuat. Panjang benda itu nyaris mencapai satu hasta setengah.

Lelaki itu mengendap-endap mendekat. Benda kayu berbentuk pipa berada di tangan kiri sang lelaki. Sementara tangan kanannya mencabut sebilah pisau yang terselip di sabuk sebelah kirinya.

Tiba-tiba sang ular menyadari kehadiran lelaki itu. Kepalanya langsung berdiri tegak lalu berbalik menghadap ke arah sang lelaki. Ular itu memasang sikap siaga. Otot-otot di sisi-sisi kepalanya mulai melebar bagai sayap burung yang mengembang. Suara desisnya menjadi-jadi.

Sang lelaki tenang-tenang saja menghadapi kemarahan ular itu. Tangan kirinya mulai menyerang dengan menusuk-nusukkan mata tombaknya ke arah kepala ular. Sementara tangan kanannya yang memegang pisau juga melakukan gerakan-gerakan mengayun seperti bersiap-siap hendak melempar.

Sang ular membalas dengan reaksi mematuk-matuk benda kayu berbentuk pipa dan mata tombaknya. Sang lelaki terus saja menyerang ular itu dengan mata tombak tersebut. Tiba-tiba, dengan sebuah hentakan tangan yang penuh tenaga, lelaki tersebut melempar pisau kecil di genggaman tangan kanannya. Pisau pun terbang lalu menembus tubuh sang ular. Ular itupun berakhir selamanya.

Setelah memastikan ular tersebut tak bernyawa lagi, lelaki itu mencabut pisau dari badan sang ular. Kemudian ia duduk bersila di atas tanah. Pisau dan benda kayu berbentuk pipa di letakkannya dekat bangkai ular. Matanya memandang dalam ke arah benda kayu berbentuk pipa tersebut. Sebuah kenangan manis sekaligus pahit pasti kembali jika ia melihat benda itu.

Benda kayu berbentuk pipa tersebut adalah salah satu bagian dari senjata warisan leluhurnya. Karena senjata itulah ia pernah berbangga hati memiliki seorang ayah. Ia bangga karena ayahnya didaulat sebagai prajurit yang paling lihai menggunakan senjata tersebut.

Kenangan manis itu kembali. Ia ingat masa kanak-kanak hingga remajanya dihabiskan dengan belajar menggunakan senjata itu. Ia masih ingat betapa sabar ayahnya mengajarkan seluruh kemampuan yang ia miliki.

Namun segera kenangan pahit menyusul di belakang kenangan manis itu. Ia tentu tak lupa, dengan senjata itu juga ia pernah membunuh seorang manusia. Selembar nyawa anak tetua adat melayang di tangannya hanya karena perkara cinta. Lalu ia lari dari tanah kelahirannya di Borneo, menghindari hukum adat yang sudah pasti menghendaki dirinya juga mati.

Senjata warisan leluhurnya itu tidak boleh tidak pasti akan mengantar kembali semua kenangan dari tanah kelahirannya. Sumpit, demikian senjata itu dikenal. Senjata asli suku-suku dayak di Borneo. Senjata yang racunnya mampu merobohkan seekor harimau gila sekalipun.

Sebenarnya lelaki itu enggan melihat sumpit lagi. Tapi entahlah, dia sendiri bingung mengapa senjata itu juga turut serta ia bawa saat memutuskan menyeberang ke tanah Jawa. Wajah seorang ayah yang selau membayang dalam sumpit itulah yang mungkin membuat ia tak kuasa meninggalkan sumpit itu di tanah kelahirannya.

Sesaat kemudian lelaki itu tersadar dan buru-buru ingin melepaskan diri dari kenangan-kenangan itu. Ia menarik pikirannya dari bayangan-bayangan masa lalu melalui tarikan nafas yang berat dan dalam. Seluruh kenangan tentang tanah Borneo ditiupnya jauh-jauh seiring hembusan nafas yang dilepaskannya. Ia tak mau lagi melihat masa lampau.

Saat ini yang paling penting bagi lelaki itu adalah perintah majikannya. Dan saat ini ia ingin bertindak lebih jauh dari apa yang diperintahkan. Oleh karena itu ia mencari ular untuk diambil bisanya.

Tangan lelaki itu kemudian merogoh sebuah kantong kecil terbuat dari kulit yang tergantung di sisi kanan sabuknya. Ia mengeluarkan semacam tabung kecil kemudian membuka tutupnya. Di dalam tabung itu ada gumpalan sesuatu yang tampak telah mengering dan keras. Bau tak sedap menyeruak keluar.

Inilah racun racikan ayahnya. Racun ini adalah pelengkap agar sumpit menjadi senjata yang sanggup membunuh sebuah sasaran hidup. Karena telah lama tidak digunakan, cairan racun itu menggumpal dan mengering. Namun lelaki itu tahu, dengan mencampur ramuan racun itu dengan beberapa tetes bisa ular dan air ludah, racun tersebut tak lama kemudian akan kembali mencair dalam bentuk yang kental.

Lelaki itu kemudian mengambil bangkai ular. Ia menyayat daging dekat taring-taring ular dengan pisau. Selanjutnya ia meremas kepala ular tersebut tepat di dekat gigi taringya. Cairan putih kemerahan terlihat keluar menetes dari sela-sela gigi-gigi taring ular lalu masuk ke dalam tabung. Setelah cukup banyak bisa ular yang tertampung, lelaki itu segera meludahi tabung tersebut beberapa kali lalu mengaduk-aduk isi tabung tersebut. Gumpalan racun pun perlahan mencair.

Lelaki itu selanjutnya mengeluarkan tujuh buah damek. Damek adalah anak sumpit, benda yang merupakan bagian paling penting dari senjata sumpit. Laksana peluru pada senapan atau anak panah untuk busurnya, demikianlah damek berperan. Benda tersebut terbuat dari bilah bambu yang di potong tipis dan diraut hingga meruncing salah satu ujungnya. Sementara ujung yang lain ditempeli bulu-bulu angsa di sekelilingnya. Lelaki itu mencelupkan damek satu persatu secara perlahan dan berulang-ulang hingga dirasa cukup. Lalu ia biarkan racun pada permukaannya mengering oleh tiupan angin.

Lelaki itu memandangi damek-damek itu. Ia telah memutuskan untuk menggunakan sumpit lagi setelah bertahun-tahun lamanya ia tinggalkan. Ia jadi ingat hari di mana ia didatangi sebuah firasat yang menggerakkan dia untuk membawa serta sumpit dalam pertempuran. Dan pada hari itu, markas laskar rakyatnya Ki Kusno habis dihancurkan oleh serangan udara Inggris. Mungkin malam inilah hikmah dari firasatnya hari itu, pikir lelaki tersebut. Ia berhasil menyelamatkan senjata warisan leluhurnya dari serangan udara sehingga bisa digunakan untuk memperlancar rencananmya keluar dari hutan malam ini.

Sebuah rencana di luar rencana majikannya telah ia susun. Ia sengaja hendak mengejutkan majikannya. Sekaligus mengejutkan tentara Inggris yang sebelumnya telah diintainya di tepian Kali Surabaya dekat sebuah jembatan kecil yang sudah hancur dan runtuh ke aliran kali.

**

Ki Kusno, Sudiro dan dua orang lainnya menahan nafas sejenak dari balik semak rumput yang tinggi. Di depan mereka, terlihat sebuah pos penjagaan yang didirikan oleh tentara Inggris. Pos itu dijaga oleh tujuh hingga sepuluh orang. Rencana untuk menyelinap melewati tentara Inggris kini sepertinya terlihat sangat mustahil.

“Bagaimana ini, Ki? Mereka lebih banyak dari kita!” bisik Sudiro kepada Ki Kusno.

Ki Kusno cuma diam. Entah sedang berpikir atau sedang tenggelam dalam kebingungannya.

Di tengah-tengah kebingungan dan rasa cemas Ki Kusno dan anak buahnya, tiba-tiba terdengar jeritan dari salah satu tentara Inggris. Seorang tentara Inggris terhuyung-huyung memegangi lehernya lalu roboh. Kelojotan sebentar sebelum diam untuk selamanya. Tentara Inggris yang lain tersentak lalu berteriak-teriak memberi tahu rekannya yang lain untuk siaga.

Kini giliran pihak musuh yang dihantui kebingungan dan rasa cemas karena diserang dengan tiba-tiba. Belum sempat mereka tahu apa yang terjadi dan siapa yang menyerang mereka, tiba-tiba satu lagi tentara Inggris terjungkal roboh lalu mengelepar mati. Tanpa suara tembakan, tanpa terlihat siapa yang menyerang, satu persatu tentara Inggris jatuh bertumbangan.

Ki Kusno dan anak buahnya terbelalak menyaksikan pemandangan tersebut. Bingung, tak tahu apa yang terjadi. Tiga orang tentara Inggris yang tersisa perlahan langsung mengambil gerakan mundur dari pos penjagaan. Air muka ketakutan jelas tampak di wajah mereka.

Melihat keadaan itu, Ki Kusno berinisiatif mengambil kesempatan untuk menyerang sisa-sisa tentara Ingris tersebut. Setelah memberi aba-aba perintah kepada anak buahnya, Ki Kusno langsung saja menghamburkan tembakan ke arah tiga orang tentara Inggris yang masih dalam kebingungan dan ketakutan.

Tak lama kemudian baku tembak pun terhenti. Tiga orang tentara Inggris meregang nyawa dengan lubang peluru yang menganga di bagian tubuh mereka masing-masing. Ki Kusno dan anak buahnya keluar dari persembunyian mereka.

“Kita berhasil, Ki!” teriak Sudiro girang.

“Ya. Terima kasih untuk hantu hutan yang telah membantu kita membunuh Inggris-Inggris sontoloyo ini,” sahut Ki Kusno.

Bulu kuduk Sudiro dan teman-temannya sejenak meremang berdiri. Hantu? Mungkinkah yang melakukannya hantu, demikian pikir mereka. Tiba-tiba dari arah sebelah kanan terdengar suara seorang lelaki yang memanggil-manggil mereka. Sontak Ki Kusno dan anak buahnya terkejut lalu bersiap hendak menembak. Namun begitu melihat siapa yang datang mereka menurunkan moncong senjata masing-masing lalu berseru.

“Riwut!”

“Kau yang melakukan semua ini?”

Lelaki yang barusan muncul mengangguk-angguk sembari tersenyum.

“Hebat, Kau! Bagaimana kau melakukannya?” tanya Ki Kusno.

“Dengan sumpit, Ki.” Jawab Riwut singkat sambil menunjukkan senjatanya dengan bangga.

Akhirnya sisa-sisa laskar rakyat itu meneruskan perjalanan mereka keluar dari hutan dan berharap dapat melakukan kontak kembali dengan pejuang-pejuang lainnya. Namun belum lima ratus meter mereka meninggalkan pos penjagaan tentara Inggris yang mereka hancurkan tadi, tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan dari sebuah senapan mesin.

Ki Kusno, Sudiro dan dua anak buah lainnya terpelanting tewas bermandi darah. Beruntung Riwut sigap melompat dan lari menyelamatkan diri dan bersembunyi. Tak lama kemudian muncul seorang tentara Inggris memeriksa jasad-jasad korbannya. Menyadari salah satu bidikannya lepas, tentara Inggris itu lantas kembali memasang sikap siaga dengan senapannya lalu perlahan bergerak memburu korbannya yang lolos.

Dari jarak seratus meter, Riwut melihat tentara Inggris itu semakin mendekat ke arah persembunyiannya. Riwut kebingungan. Ia tak bisa lagi menggunakan sumpit karena semua damek telah habis terpakai. Tak ada pilihan lain selain menggunakan senapannya untuk menembak tentara Inggris itu.

Riwut mulai membidik dari tempat persembunyiannya. Sebuah tembakan terdengar membelah udara malam. Tentara Inggris itu roboh. Riwut melongo menatap senapannya. Kali ini ia tepat mengenai sasarannya hanya dengan sekali tembak. Ia girang bukan kepalang.

***


Catatan:

[1] Borneo adalah nama lain dari Kalimantan. Istilah Borneo dipakai pada zaman kolonial Belanda

[2] Chudanco adalah salah satu istilah kepangkatan pada tentara PETA. Chudanco artinya kepala regu.

[3] PETA (Pembela Tanah Air) adalah milisi (pasukan) yang dibentuk oleh pemerintahan kolonial Jepang di Indonesia dengan tujuan mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu

[4] BKR (Badan Keamanan Rakyat) adalah sebuah organisasi ketentaraan yang dibentuk oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1945 yang merupakan cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

[5] Meneer = Tuan

Mana Ina

Cerpen Agus Wepe

1

Kami duduk berhadap-hadapan di meja foodcourt[1] yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan bongkahan esnya yang besar-besar. Bu Bodro jelas lupa bahwa aku tak boleh kebanyakan es. Ina mengamatiku membuang bongkahan-bongkahan es itu tanpa ekspresi. Ah—Ina, mana senyummu itu?

Ina tak memesan apa pun. “Kau tak makan?” tanyaku. Ia hanya menggeleng tanggung. “Di sini makanannya terlalu banyak vetsin,” jawabnya. Ah, terlalu banyak hal yang telah kupikirkan. Ina pun sudah dewasa. Ia pasti tahu kapan saatnya lapar, dan kapan saatnya untuk berselera-makan. Tapi ia tidak makan sedari pagi. Aku tahu—aku sudah tanyakan pada ibunya tadi pagi. Sarapan buatan ibunya tak terjamah. Kuputuskan untuk bangkit dan mencari Bu Bodro.

Kupesankan Ina sepiring nasi berlauk tempe dan selada rebus. Sudah jelas ada makanan tanpa vetsin begini, kenapa ia masih tak mau makan? Terlalu banyak aku bertanya, terlalu banyak alasan yang telah ia persiapkan.

Kulihat ia mengetuk-ngetuk terali besi yang memagari foodcourt dengan kuku jarinya. Kusodorkan makanan kepadanya. “Makan,” kataku. “Kalau kau tak makan, nanti aku dimarahi ibumu.”

Yang kumaksud adalah ibu angkatnya. Ia sangat perhatian kepada Ina. Ia menikah dengan ayah Ina karena ia steril[2], dan ia sangat menyayangi Ina sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Ina makan dan sesekali berhenti untuk memainkan sendoknya. Rautmukanya masih datar. Suasana hari ini pun benar-benar datar. Spanduk iklan obat maag yang melekat di terali sesekali berkibar pelan, tertahan oleh buntalan plastik berisi air yang digantungkan pada kedua ujungnya. Angin semilir tanggung. Meski foodcourt ini menghadap lapangan luas, pusaran angin kecil yang biasa menerbangkan dedaunan kering pun tak muncul kali ini. Tapi aku makan dengan lahap. Di kejauhan, pemilik kios lain memutar musik koplo keras-keras. Jari-jari kakiku mendadak bergerak membuat ketukan.

Dua bulan lalu, semua masih terasa menyenangkan. Kami begitu girang menjajal hal-hal baru; mendaftar ke klub pecinta alam, pergi ke seminar kewirausahaan sambil bergandengan, mencoba makanan di restoran yang baru dibuka, atau sekedar cekikikan sambil mengepas baju di mall. Kami tutup facebook kami, berharap ini tak akan jadi ajang mencari obyekan lagi.

Lihatlah kini—Ina jadi begitu membosankan. Ia tak pernah lagi mencubit. Ia tak pernah lagi mengingatkan untuk bangun pagi. Tak pernah ada lagi resep-resep baru yang ia ceritakan. Yang ada hanya tatapan yang seakan menuntutku untuk melakukan sesuatu.

“Aku tak lapar. Mas tahu itu. Mas harusnya tahu itu.”

Kutengok piringnya—masih penuh, lauk dan sayurnya teraduk-aduk kacau.

“Aku selesai,” kataku. Ina hanya menatapku, masih dengan mengaduk-ngaduk makanannya. Makanan kubayar. Semua, milikku dan Ina.

“Selesai,” tegasku. Aku melangkah keluar. Ina memanggilku kembali. “Mas!” teriaknya—“Aku pulang sendiri”.

Aku hanya membuang wajah.

Dari kejauhan, kulihat Ina makan dengan lahapnya—sambil sesenggukan.

***

2

cerpen agus wepe
Gambar diunduh dari kompasiana.com

Seorang perawat masuk dengan sebuah baki. Sebentar ia bercakap dengan Harjiyo, kemudian menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya. Ia kemudian meletakkan sebuah wadah berisi dua butir pil ke atas meja. Sanah, istri Harjiyo, mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga suster berusia tigapuluhan itu. Yang dibisiki kemudian mengajak berbincang di luar.

“Ini biasa terjadi, Bu. Memang biasanya badan ngilu, mual-mual—ini efek samping obatnya. Ibu mendampingi saja, diajak ngobrol dan berdoa. Memang harus telaten, Bu.” terang suster itu.

“Tapi saya ndak tega melihatnya, Sus. Bapak itu sudah kering-kerontang, tinggal tulang. Masih mau disuruh sakit-sakit begini.”

“Iya, Bu, saya tahu. Mungkin ada orang yang sangat Bapak sayangi, atau yang bisa membuat perasaannya tenang. Ibu bisa mendatangkannya ke sini. Ibu bantu saja agar Bapak merasa nyaman, ya.”

“Iya, Sus.”

“Baik Bu. Saya pamit dulu. Nanti jika butuh sesuatu, saya ada di pos perawat di ujung sana. Mari, Bu.”

Wajah Sanah masih terlihat khawatir ketika perawat itu pergi. Sebentar terdengar suara batuk-batuk dan erangan Harjiyo. Tergopoh-gopoh Sanah masuk untuk menenangkan suaminya itu.

“Ina mana, Nah?” tanya Harjiyo.

“Nanti sore, Pak. Pasti dia datang.” Sanah berkilah.

“Betul itu? Badanku sakit, Nah.”

“Iya, Pak. Nanti pasti hilang sakitnya.” Sanah mengelus kaki Harjiyo.

“Aku mati saja, Nah.”

“Hus—ini Ina sebentar lagi datang.”

Harjiyo menunggu hingga petang, hingga ia tak mampu lagi menahan sakit di tubuhnya. Ia jatuh tertidur. Hingga larut Ina tak datang.

***

3

Entah karena tayangan iklan televisi atau suatu sebab lain, sore itu Aning mencoba membuat teh yang paling sedap sedunia. Barangkali teh hangat itu mampu mencairkan kegundahan yang mengerak di hati suaminya. Bismillah, Tuhan pasti tahu jalan terbaik.

Hanya ada Aning dan Hendro di rumah. Hari magrib, namun si anak semata wayang belum juga pulang dari kampus. Hendro yang sedang rebah di kursimalas mendadak terbangun mendengar suara nampan beradu dengan permukaan meja. Aning mengambil tempat duduk di samping suaminya.

“Teh, Pak.”

Hendro menggosok matanya.

“Ya. Lha Ina mana?”

Aning mengangkat bahu. “Mungkin ke rumah Anam. Tadi pagi ‘kan, dijemput Anam ke kampus. Lagian, hapenya ketinggalan.”

“Oh—”

Hendro menyeruput tehnya, lalu membuang napas keras-keras. Aning senang mendengarnya. Teh sore ini memang enak, ternyata. Ya, mungkin memang inilah saat tepat untuk mendekati suaminya.

“Pak.”

Jantung Aning berdebar. Ia harus mampu membujuk Hendro.

“Kita jenguk Bapak, ya?” rayunya. Hendro terkesiap. Ia kira istrinya tak akan membahasnya kali ini. Namun, rupanya Aning masih selalu dihantui rasa bersalah terhadap mertuanya.

“Pak?”

Hendro masih ragu. Bapak marah. Bapak marah kepada Aning. Bapak marah karena Ina ikut tinggal dengan Aning. Tapi Bapak sakit. Sekarat malah.

“Kita bahas nanti,” tukasnya.

“Nanti kapan, Pak?”

“Ya nanti! Kita tunggu Ina pulang!”

Hendro mendengus kesal. Ia ingin menyalahkan istrinya, namun keputusannya untuk menikahi seorang perempuan mandul adalah keputusan yang ia buat sendiri. Ia sudah dewasa, punya anak gadis pula. Tak adil jika ayahnya tak merestui pernikahannya dengan Aning.

***

4

Pagi hari, Ina belum pulang. Entah ia menginap ke mana. Hendro tak peduli. Aninglah yang sangat khawatir kepada Ina. Ia sudah menghubungi Anam, namun Anam sudah tak bertemu dengan Ina sejak kemarin siang. Baru saja ketika ia hendak mencari ke kampus, datanglah SMS dari Ina, mengabarkan bahwa ia menginap di tempat kos kawannya. Ini pun cukup melegakan bagi Aning.

Pagi itu juga, rupanya Aning telah merencanakan sesuatu. Selepas Hendro berangkat ke kantor, berkemas ia membawa berbagai macam makanan dalam rantang. Ibu pasti lapar, pikirnya. Ia harus berani menemui mertuanya.

Aning sampai di rumahsakit tepat ketika Sanah tengah menyeka tubuh Harjiyo. Bau pesing bercampur desinfektan menyeruak dari seluruh ruangan. Aning berkempis hidung sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

S’amlekum,” Aning menguluksalam.

Alekumsalam, mangga pinarak[3].”

Aning sedikit terkejut melihat keadaan Harjiyo yang sedemikian rupa. Rambut gondrongnya telah habis, hanya tersisa kepala licin berhias segaris urat yang menonjol dan bercak-bercak hitam penuaan. Kakek bertubuh gempal itu telah banyak mengempis, tersisa balung-kulit[4] saja.

“Bapak?”

Harjiyo ingin mengangkat kepalanya, namun tak kuat. Sanah memberi aba-aba kepada Aning untuk mendekat. Datang ia berjongkok di depan ranjang pasien. Harjiyo mengangguk lemah.

“Kamu?”

“Iya, saya, Pak. Aning.”

“Ina? Mana Ina?”

“Ina, Pak?”

“Iya, anak—kamu.”

Wajah Aning bergetar. Matanya mulai merambang. “I—iya—anak saya?”

Harjiyo tersenyum. Aning mulai sesenggukan. Lemah ia menjawab:

“Pasti, Pak. Sore ini dia pasti datang.”

“In—ini—”

“Iya, Pak?”

“Kesempatan terakhirmu, untuk tidak berbo—hong.”

Perasaan Aning semakin kacau-balau. “Bapak memaafkan saya?”

“Ma-na—In-na!”

***

5

Aku duduk di meja foodcourt yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan sedikit bongkahan es. Tak ada yang mengamatiku membuangi bongkahan itu.

Tadi pagi Ina telepon. Ia katakan bahwa ia tak pulang. Kami harus bertemu. Sore ini juga. Harus ada sesuatu yang diketahui. Harus ada sesuatu yang dipahami. Akung[5] sakit, katanya. Bapak dan Ibu tidak bisa menjenguk Akung, katanya.

Aku tak pernah paham seperti apa sebenarnya jalan pikiran Ina itu. Kadang ia bisa sangat menyenangkan, kadang sebaliknya. Ia bisa jadi sangat tertutup dan pendiam. Kadang ia bisa begitu senangnya, hingga ia tak segan-segan datang ke rumah hanya untuk memberitahukan bahwa resep buatannya berhasil. Di lain waktu, ia bahkan tak mau meneuiku sama sekali ketika aku datang ke rumahnya.

Memangnya semua perempuan seperti itu?

Aku menunggu agar muncul pemahaman yang sempat tertunda.

Hingga petang Ina tak datang.

 

 

Banyumas, 22012012


[1] pusat jajanan berupa kios-kios kecil yang dihimpun di bawah satu atap

[2] mandul, tidak subur

[3] silakan masuk

[4] tulang dan kulit, sangat kurus

[5] kakek

Tunangan (2)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata
kasih tak sampai

Seseorang keluar dari rumah kemudian berdiri di tangga. Alexandr Timofeitch, atau biasa dipanggil, Sasha. Sasha datang dari Moskow sepuluh hari yang lalu dan kini tinggal di rumah Nadya. Tahun lalu janda Marya Petrovna, wanita kurus kecil dan sakit-sakitan yang telah tenggelam dalam kemiskinan, datang ke rumah dan meminta bantuan. Hubungan yang tidak begitu akrab dengan ibunya atau nenek Sasha dijadikan alasan untuk meminta bantuan. Perempuan itu memiliki anak laki-laki, Sasha. Untuk beberapa alasan, lelaki ini memiliki bakat sebagai seniman. Ketika ibunya meninggal, demi keselamatan jiwanya, nenek Nadya mengirimnya ke sekolah Komissarovsky di Moskow. Dua tahun kemudian ia pindah sekolah melukis. Hampir lima belas tahun ia menghabiskan waktu di sana, dan menyisakan sedikit ujian praktik pada bagian arsitektur. Dia tidak dipersiapkan menjadi arsitek, meski demikian ia mengambil pekerjaan sebagai juru cetak logam yang ditulisi. Hampir setiap tahun Sasha datang ke rumah dengan kondisi yang biasanya sangat sakit. Ia kemudian tinggal bersama nenek Nadya untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya.
Dia mengenakan mantel berkancing di atas dan celana lusuh berbahan kanvas, dengan lipatan kusut di bagian bawah. Kemejanya belum disetrika dan entah bagaimana, semua yang ada padanya tampak tidak segar. Dia sangat kurus dengan mata besar, jari-jari kecil panjang serta wajah berjenggot gelap. Selain itu semua masih tampak sama, dia tampan. Dengan Shumins ia sudah seperti saudara, dan di rumah mereka, ia merasa seperti di rumahnya sendiri. Ruang di mana ia tinggal selama bertahun-tahun di keluarga itu, biasa disebut kamar Sasha.
Saat berdiri di tangga, ia melihat Nadya, kemudian menghampirinya.
“Sangat menyenangkan di sini,” katanya pada Nadya.
“Tentu saja, Kamu harus tinggal di sini sampai musim gugur.”
“Ya, aku harap demikian. Aku memberanikan diri untuk berkata bahwa aku akan tinggal bersamamu sampai September.”
Dia tertawa tanpa alasan, kemudian duduk di samping Nadya.
“Aku sedang duduk sambil menatap ibu,” kata Nadya. “Dia tampak begitu muda dari sini! Tentu saja ibuku memiliki beberapa kelemahan,” ia menambahkan, setelah berhenti sejenak, “tapi tetap saja ia seorang wanita yang luar biasa.”
“Ya, dia sangat menyenangkan…” Sasha setuju. “Ibumu, dengan caranya sendiri tentu saja, adalah wanita yang sangat baik dan manis, tapi… Bagaimana ya mengatakannya? Aku pergi pagi ini ke dapur dan di sana aku menemukan empat pelayan tidur di lantai, tanpa kasur dan kain untuk alas tidur, bau, dan berkutu,… itu sama seperti dua puluh tahun yang lalu, tidak ada perubahan sama sekali. Nah, Nenek – semoga Tuhan memberkatinya- apa lagi yang bisa kamu harapkan dari Nenek? Kamu tahu, ibumu berbicara dengan bahasa Perancis dan bertindak seperti dalam panggung teater pribadinya. Orang harus berpikir untuk mengerti. ”
Sambil berbicara, Sasha meregangkan dua jarinya menjauh dari wajah pendengarnya.
“Entah bagaimana, semua yang ada disini tampak aneh bagiku, aku sedang mencoba keluar dari kebiasaan,” ia melanjutkan. “Tidak ada jalan keluar. Tidak ada yang pernah melakukan sesuatu. Ibumu menghabiskan seluruh hari dengan berjalan berkeliling seperti putri bangsawan. Nenek tidak melakukan apa-apa, demikian juga kamu. Dan Andrey Andreitch-mu itu, ia juga tidak pernah melakukan apa-apa.”
Tahun kemarin Nadya sudah mendengar semua itu, dan dia mengingat-ingat, tahun sebelumnya juga seperti itu. Dia tahu bahwa Sasha tidak bisa membuat kritik lain, dan di hari-hari sebelumnya, itu cukup menggelikannya, tapi sekarang, untuk beberapa alasan dia merasa jengkel.
“Itu semua basi, dan aku telah muak mendengar itu bertahun-tahun,” kata dia sembari bangkit. “Kamu harus memikirkan sesuatu yang sedikit lebih baru.”
Sasha tertawa dan turut bangkit, lalu mereka pergi bersama menuju rumah. Nadya -tinggi, indah, dan diciptakan dengan baik- berdiri di samping Sasha terlihat sangat sehat dan cerdas berpakaian. Nadya menyadari semua itu dan untuk beberapa alasan yang ganjil, ia merasa kasihan pada Sasha.
“Kamu mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kamu katakan,” katanya. “Kamu baru saja berbicara tentang Andrey-ku seolah-olah kamu mengenalnya, padahal tidak.”
” Andrey-ku….? persetan dengannya, Andrey-mu. Aku turut bersedih untuk masa mudamu.”
Mereka –keluarga Shumins- sedang duduk untuk makan malam ketika dua orang muda itu masuk ke ruang makan. Nenek, atau yang biasa dipanggil Granny di rumah itu adalah seorang wanita yang sangat gemuk, sederhana dan polos dengan alis lebat dan sedikit kumis. Ia berbicara dengan keras, dan dari suara serta caranya berbicara dapat dilihat bahwa dia adalah orang paling penting dalam rumah. Ia memiliki komplek pertokoan di pasar, sebuah rumah kuno dengan kebun dan jalan setapak, namun setiap pagi ia berdoa dengan berlinang air mata supaya Tuhan menyelamatkan dirinya dari kehancuran. Putri menantunya, ibu Nadya -Nina lvanovna- seorang wanita berambut pirang yang diikat ke dalam, berkacamata untuk satu mata, dan memakai cincin berlian di setiap jarinya. Bapa Andrey, seorang pria kurus tua ompong yang wajahnya selalu tampak seolah-olah dia hanya akan mengatakan sesuatu yang lucu, dan putranya, Andrey Andreitch, seorang pemuda kekar dan tampan dengan rambut keriting, tampak seperti seorang seniman atau aktor. Mereka semua berbicara tentang hipnotisme.
“Kamu akan sembuh dalam seminggu di sini,” kata Nenek kepada Sasha. “Hanya saja, kamu harus makan lebih banyak. Apa yang kau lihat?” ia mendesah. “Kamu benar-benar mengerikan! Kamu seperti anak pada umumnya, pemboros, itulah kamu!”
“Setelah menghambur-hamburkan kekayaan ayahnya dengan hidup berfoya-foya,” kata Bapa Andrey perlahan, dengan mata tertawa. “Dia makan dengan selera binatang.”
“Saya suka ayahku,” kata Andrey Andreitch, menyentuh bahu ayahnya. “Dia orang tua yang indah, seorang rekan tersayang.”
Semua orang terdiam untuk beberapa saat. Sasha tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan menaruh serbet makan ke mulutnya.
“Jadi Anda percaya pada hipnotis?” tanya Bapa Andrey pada Nina Ivanovna.
“Saya tidak bisa, tentu saja, menyatakan bahwa saya percaya,” jawab Nina Ivanovna, dengan mimik serius, bahkan nyaris tersiksa, “tapi menurut saya, ada banyak hal yang misterius dan tak terpahami di alam.”
“Saya cukup setuju dengan Anda, meskipun saya harus menambahkan bahwa agama jelas membatasi bagi kita domain yang misterius.”
Sebuah kalkun besar dan sangat gemuk disajikan. Bapa Andrey dan Nina lvanovna melanjutkan percakapan mereka. Berlian Nina Ivanovna bersinar di jarinya, kemudian air mata mulai berkilauan di matanya, ia tumbuh bersemangat.
“Meskipun saya tidak bisa mendebat Anda,” katanya, “Anda harus mengakui ada begitu banyak teka-teki larut dalam hidup ini!”
“Semua mengakui, saya jamin.”
Setelah makan malam Andrey Andreitch memainkan biola dan Nina lvanovna menemaninya dengan piano. Sepuluh tahun lalu ia mendapat gelar dari Fakultas Seni sebuah universitas, namun sampai sekarang ia tidak pernah bertahan di satu bidang, tidak punya pekerjaan pasti, dan dari waktu ke waktu hanya turut ambil bagian dalam konser amal. Dan di kota ia dianggap sebagai musisi.
Andrey Andreitch mulai bermain, semua mendengarkan dalam diam. Samovar*) mendidih diam-diam di atas meja dan tidak ada yang minum teh selain Sasha. Kemudian ketika dua belas string biola yang berdenting tiba-tiba putus, semua orang tertawa, sibuk ke sana kemari, lalu mulai mengucapkan selamat tinggal.
Setelah melihat tunangannya keluar, Nadya naik ke lantai atas di mana kamarnya dan kamar ibunya berada. (Lantai di bawahnya ditempati nenek). Mereka mulai menempatkan lampu di bawah ruang makan, sementara Sasha masih duduk minum teh. Dia selalu menghabiskan waktu lama untuk minum teh dalam gaya Moskow, minum sebanyak tujuh gelas pada suatu waktu. Beberapa saat setelah Nadya menanggalkan pakaian dan pergi ke tempat tidur dia bisa mendengar pelayan membersihkan lantai bawah dan suara Nenek yang berbicara dengan marah. Akhirnya semua hening, dan tidak ada lagi suara terdengar, selain batuk Sasha yang dari waktu ke waktu memberat di kamarnya, di lantai bawah.

Bersambung…

Catatan:

Samovar
Samovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.