Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Mengenang Munir

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Jakarta, 10 September 2004,

– sepucuk surat untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati, yang ditinggalkan ayah mereka.

gambar dari loveindonesia.com
gambar dari loveindonesia.com

Kelak, ketika umur kalian 17 tahun, kalian mungkin baru akan bisa membaca surat ini, yang ditulis oleh seorang yang tak kalian kenal, tiga hari setelah ayahmu meninggalkan kita semua secara tiba-tiba, ketika kalian belum mengerti kenapa begitu banyak orang berkabung dan hari jadi muram. Kelak kalian mungkin hanya akan melihat foto di sebuah majalah tua: ribuan lilin dinyalakan dari dekat dan jauh, dan mudah-mudahan akan tahu bahwa tiap lilin adalah semacam doa: “Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini, biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menangkap gelap.”

 Ayahmu, Alief, seperti kami semua, tak takut akan gelap. Tapi ia cemas akan kelam. Gelap adalah bagian dari hidup. Kelam adalah putus asa yang memandang hidup sebagai gelap yang mutlak. Kelam adalah jera, kelam adalah getir, kelam adalah menyerah.

 Dengan tubuhnya yang ringkih, Diva, ayahmu tak hendak membiarkan kelam itu berkuasa. Seakan-akan tiap senjakala ia melihat di langit tanah airnya ada awan yang bergerak dan di dalamnya ada empat penunggang kuda yang menyeberangi ufuk. Ia tahu bagaimana mereka disebut. Yang pertama bernama Kekerasan, yang kedua Ketidakadilan, yang ketiga Keserakahan, dan yang keempat Kebencian.

Seperti kami semua, ia juga gentar melihat semua itu. Tapi ia melawan.

Di negeri yang sebenarnya tak hendak ditinggalkannya ini, Nak, tak semua orang melawan. Bahkan di masa kami tak sedikit yang menyambut Empat Penunggang Kuda itu, sambil berkata, “Kita tak bisa bertahan, kita tak usah menentang mereka, hidup toh hanya sebuah rumah gadai yang besar.” Dan seraya berujar demikian, mereka pun menggadaikan bagian dari diri mereka yang baik.

Orang-orang itu yakin, dari perolehan gadai itu mereka akan mencapai yang mereka hasratkan. Sepuluh tahun yang akan datang kalian mungkin masih akan menyaksikan hasrat itu. Terkadang tandanya adalah rumah besar, mobil menakjubkan, pangkat dan kemasyhuran yang menjulang tinggi. Terkadang hasrat kekuasaan itu bercirikan panji-panji kemenangan yang berkibar? yang ditancapkan di atas tubuh luka orang-orang yang lemah.

Ya, ayah kalian melawan semua itu –Empat Penunggang Kuda yang menakutkan itu, hasrat kekuasaan itu, juga ketika hasrat itu mendekat ke dalam dirinya sendiri –dengan jihad yang sebenarnya sunyi. Seperti anak manusia di padang gurun. Ia tak mengenakan sabuk seorang samseng, ia tak memasang insinye seorang kampiun. Ia naik motor di tengah-tengah orang ramai, dan bersama-sama mereka menanggungkan polusi, risiko kecelakaan, kesewenang-wenangan kendaraan besar, dan ketidakpastian hukum dari tikungan ke tikungan. Mungkin karena ia tahu bahwa di jalan itu, dalam kesunyian masing-masing, dengan fantasi dan arah yang tak selamanya sama, manusia pada akhirnya setara, dekat dengan debu.

Alief, Diva, kini ayah kalian tak akan tampak di jalan itu. Ada yang terasa kosong di sana. Jika kami menangis, itu karena tiba-tiba kami merasa ada sebuah batu penunjang yang tanggal. Sepanjang hidupnya yang muda, Munir, ayahmu, menopang sebuah ikhtiar bersama yang keras dan sulit agar kita semua bisa menyambut manusia, bukan sebagai ide tentang makhluk yang luhur dan mantap, tapi justru sebagai ketidakpastian.

Ayahmu, Diva, senantiasa berhubungan dengan mereka yang tak kuat dan dianiaya; ia tahu benar tentang ketidakpastian itu. Apa yang disebut sebagai “hak asasi manusia” baginya penting karena manusia selalu mengandung makna yang tak bisa diputuskan saat ini.

Ada memang yang ingin memutuskan makna itu dengan menggedruk tanah: mereka yang menguasai lembaga, senjata, dan kata-kata sering merasa dapat memaksakan makna dengan kepastian yang kekal kepada yang lain. Julukan pun diberikan untuk menyanjung atau menista, label dipasang untuk mengontrol, seperti ketika mereka masukkan para tahanan ke dalam golongan “A”, “B”, dan “C” dan menjatuhkan hukuman. Juga mereka yang merasa diri menguasai kebenaran gemar meringkas seseorang ke dalam arti “kafir”, “beriman”, “murtad”, “Islamis”, “fundamentalis”, “kontra-revolusioner”, “Orde Baru”, “ekstrem kiri”? dan dengan itu membekukan kemungkinan apa pun yang berbeda dari dalam diri manusia.

Ayah kalian terus-menerus melawan kekerasan itu, ketidakadilan itu. Tak pernah terdengar ia merasa letih. Mungkin sebab ia tahu, di tanah air ini harapan sering luput dari pegangan, dan ia ingin memungutnya kembali cepat-cepat, seakan-akan berseru, “Jangan kita jatuh ke dalam kelam!”

Tapi akhirnya tiap jihad akan berhenti, Alief. Mungkin karena tiap syuhada yang hilang akan bisa jadi pengingat betapa tinggi nilai seorang yang baik.

Apa arti seorang yang baik? Arti seorang yang baik, Diva, adalah Munir, ayahmu. Kemarin seorang teman berkata, jika Tuhan Maha-Adil, Ia akan meletakkan Munir di surga. Yang pasti, ayahmu memang telah menunjukkan bahwa surga itu mungkin.

Adapun surga, Alief dan Diva, adalah waktu dan arah ke mana manusia menjadi luhur. Dari bumi ia terangkat ke langit, berada di samping Tuhan, demikianlah kiasannya, ketika diberikannya sesuatu yang paling baik dari dirinya?juga nyawanya?kepada mereka yang lemah, yang dihinakan, yang ketakutan, yang membutuhkan. Diatasinya jasadnya yang terbatas, karena ia ingin mereka berbahagia.

Maka bertahun-tahun setelah hari ini, aku ingin kalimat ini tetap bertahan buat kalian: ayahmu, syuhada itu, telah memberikan yang paling baik dari dirinya. Itu sebabnya kami berkabung, karena kami gentar bahwa tak seorang pun akan bisa menggantikannya. Tapi tak ada pilihan, Alief dan Diva. Kami, seperti kalian kelak, tak ingin jatuh ke dalam kelam.

Sumber: Majalah Tempo Edisi. 29/XXXIII/13 – 19 September 2004, sebagaimana ditulis ulang oleh Akhmad Sahal.

Catatan:

“Malam Renungan Mengenang 9 Tahun Munir” akan diselenggarakan pada hari  Sabtu 7 September 2013 Pk.19:00 WIB di Bundaran HI. Titik kumpul di Kantor Kontras Pk.17:00 WIB.7 September 2004-7 September 2013

Sejoli Sunyi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di mana akan kausimpan cahaya

Bulan padam menjelma debur ombak

Memeluk urat-urat laut di lenganmu?

 

Tersimpan di sini, di sela tebing rintih

Sebenting karang terlipat tatap matamu

Bercak-bercak perih, jejak kata digerus waktu

 

‘Kadang kita tak bisa memilih,’ lirihmu

‘Hingga mimpi kita membiru.’ Tapi, luka adalah pantai

Adalah cahaya dan gelap pada nadir yang sama

 

Kukecup desir angin lewat ujung rambutmu

Sebutir embun terbit di ufuk matamu, memercik

Sebagai gerimis usai menggaris pagi di telapak tanganku

 

‘Antar aku pulang, Sayang, antar aku kembali

Berlayar ke negeri paling sunyi, ketika dusta bukan lagi

Sehitam pedagogi,’ bisikmu. Aku membisu, jauh menatap

 

Debur ombak, memimpikan revolusi berderap di lentik jemari

Kakimu, tak lain segurat proyektil di tembok batas kota itu

‘Lupakan mimpi-mimpi gilamu, Sayang, tapi rabalah bibirku

 

Di rimbun rumpun alfalfa, di gerimis tatap matamu,’ pintamu

Berharap jadi sejoli, sepasang lelaki yang dipaksa bermimpi

Melawan ilusi, hingga kauledakkan tubuhmu di stasiun kereta pagi

 

 

26 Agustus 2013

Opium yang Memerdekakan Kita

Resensi Irfan Ansori

Editor Ragil Koentjorodjati

perdagangan-canduPengetahuan sejarah sangatlah berharga. Itulah sebabnya, mengapa Sukarno melalui “Jas Merah”-nya mengajak kita untuk selalu merenungi sejarah, dengan menjadikannya sebagai cerminan agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama. Maka dari itu, diperlukan bagi kita untuk sedikit-banyak membahas bagaimana cara bangsa ini berupaya mendanai perjuangan kemerdekaan. Hal ini mengingat terdapat suatu fakta yang jarang sekali terungkap dalam buku-buku sejarah, yakni perihal perdagangan dan penyelundupan candu atau opium.

Buku yang ditulis oleh Juliatmo Ibrahim berangkat dari laporan penelitian yang lakukannya pada tahun 2007-2009 di Surakarta. Buku ini mengungkap fakta sejarah bentuk-bentuk perdagangan dan penggunaan candu di Surakarta pada masa revolusi. Salah satu temuan menariknya adalah bahwa pemerintah Indonesia saat itu, melalui Kantor Besar Regi Candu, ternyata mengelola dan memperdagangkan candu untuk dana perjuangan. Di sisi lain, perdagangan candu secara ilegal telah pula dilakukan oleh pedagang-pedagang yang kebanyakan orang Cina di Surakarta dan bisnis itu dapat berkembang.

Candu merupakan sejenis bahan minuman yang diperoleh dari tanaman papaver somniferum. Bahan minuman ini mengandung racun yang dapat melemahkan syaraf-syaraf tubuh manusia, dan apabila dipergunakan berlebihan akan menyebabkan efek memabukkan. Candu dalam istilah umum disebut sebagai opium, berasal dari bahasa latin apion. Oleh karena memabukkan, maka otomatis candu menjadi haram dikonsumsi oleh umat Islam yang merupakan agama mayoritas rakyat Indonesia.

Faktor pendorong yang menyebabkan pemerintah memilih candu sebagai dana perjuangan adalah kondisi sosial, ekonomi, dan keuangan yang porak-poranda akibat pendudukan militer Jepang. Pemerintah republik menyadari bahwa sumber-sumber ekonomi dalam sektor pertanian dan perkebunan tidak dapat diandalkan karena sebagian besar pabrik-pabrik pengolah hasil perkebunan hancur akibat pendudukan Jepang.

Kesulitan ini diperparah dengan tidak berkembangnya sektor keuangan. Pada masa revolusi, terjadi kekacauan dalam penggunaan mata uang. Pada masa itu, beredar tiga mata uang di masyarakat yaitu mata uang Jepang, mata uang NICA dan mata uang Republik Indonesia (ORI). Pemerintah kesulitan untuk menghentikan laju kedua mata uang asing tersebut karena sudah banyak dimiliki oleh masyarakat. Bahkan nilai mata uang ORI lebih rendah dibandingkan kedua nilai mata uang tersebut.

Kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan tersebut berdampak pada pemberian gaji kepada pegawai pemerintah dan penyediaan dana untuk perjuangan. Pemerintah harus menyediakan uang yang sangat besar untuk membeli perlengkapan perang dan menyediakan logistik atau perbekalan bagi para pejuang. Senjata dan amunisi yang dimiliki oleh para pejuang sebagian besar merupakan hasil rampasan dari para serdadu Jepang. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika masih banyak perjuangan para laskar dengan menggunakan keris, bambu runcing dan alat tradisional lainnya.

Selain itu, diperlukan cadangan devisa yang banyak untuk membiayai perwakilan-perwakilan Indonesia yang berangkat ke luar Negeri, juga duta besar Indonesia di beberapa Negara seperti Bangkok, Rangoon, New Delhi, Kairo, London dan New York.

Untuk mengatasi masalah dana tersebut, pemerintah secara diam-diam menggunakan candu yang dianggap dapat segera menyediakan pendanaan secara cepat untuk kebutuhan perjuangan. Agar pengelolaan candu dapat berjalan lancar maka pemerintah kemudian membentuk beberapa kantor strategis. Kantor pusat pengelolaan candu bertempat di Surakarta dengan nama Kantor Besar Regi Candu dan Garam Surakarta. Kantor ini berada di bawah Kementerian Pertahanan bagian intendance dan Kantor Kementerian Keuangan. Oleh karena itu, badan-badan perjuangan yang menginginkan candu harus mendapatkan ijin atau pengesahan dari kedua Kementerian itu atau dari kantor wakil presiden.

Candu kemudian dijual dan diselundupkan ke luar negeri seperti Singapura atau Birma agar pemerintah Indonesia dapat menukarkan atau membeli senjata, mendapatkan devisa (uang asing) untuk membeli keperluan publik, dan juga ditukarkan dengan emas. Penyelundupan ke Singapura dimulai pada bulan Juli 1974 atas perintah perdana Menteri Amir Syarifudin. Penyelundupan candu semakin intesif dilakukan sejak dikeluarkan perintah penjualan candu (candu trade) oleh Wakil Presiden Muhammad Hatta pada bulan Februari 1948. Berdasarkan perintah tersebut, A.A. Maramis selaku Menteri Keuangan memerintahkan kepada kantor Regi Candu dan Garam di seluruh republik terutama di Surakarta dan badan-badan perjuangan untuk melaksanakan naskah tersebut.

Walaupun pemerintah Indonesia memperbolehkan badan-badan perjuangan memperdagangkan atau menyelundupkan candu untuk dana perjuangan, tetapi pemerintah juga melarang masyarakat memiliki candu tanpa izin dan melebihi besarnya candu yang dimiliki yaitu 1 tube. Namun tetap saja terjadi perdagangan secara illegal, seperti misalnya di beberapa pusat penjualan di Surakarta semacam Nusukan, Pasar Gede, dan Bekonang. Pedagang yang sangat terkenal pada waktu itu adalah Nyah Gudir, yaitu wanita yang tinggal di Nusukan.

Keberhasilan buku ini dalam mengungkap dokumen-dokumen rahasia yang menjadi penguat argumentasi buku ini. Sayangnya, buku ini tidak memberikan gambaran bagaimana respon umat beragama—dalam hal ini Islam—dalam menanggapi ini. Kita tahu, perdagangan candu jelas berbenturan dengan ajaran agama. Namun demikian, kehadiran buku ini setidaknya menunjukkan sisi lain perjuangan bangsa Indonesia. Fakta-fakta sejarah ini diharapkan membuat kita menjadi lebih arif dalam mensikapi masa lalu dan masa sekarang. Mungkin demikian.

perdagangan-canduJudul Buku: Opium dan Revolusi : Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950)
Penulis: Juliatmono Ibrahim
Tebal Buku: 156 Halaman
Penerbit: Pustaka Pelajar
Tahun Terbit: Cetakan I, Februari 2013

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Sobron UMS.

Puisi 2 Koma Tujuh, Sebuah Fenomena

Gerundelan Sonny H. Sayangbati

2 koma tujuh
Gambar diambil dari grup puisi 2 koma tujuh

Tentang Payung

Jika dukamu adalah hujan

Payung itu aku

 

Mencintaimu

Kubiarkan mataku menggali kubur

Dengan huruf huruf

 

Sumber : Koleksi Puisi-Puisi Imron Tohari [@ Lifespirit) Imron Tohari (Catatan Pribadi) Facebook]

Menurut kamus populer (ensiklopedia) kata ‘fenomena’ (1) diambil dari bahasa Yunani ‘phainomenon’ yang artinya apa yang terlihat, menurut arti kata turunannya (adjektif) berarti : ‘sesuatu yang luar biasa’. Di mana luar biasanya puisi 2 koma 7 ini?

Saya pribadi mengagumi puisi ini, baik secara filosofi, estetika dan lain sebagainya, khususnya dari dua sudut pandang. Puisi ini mengagumkan, sejak pertama saya mengenalnya, bahasanya padat sekali dan kata-kata harus dibangun dengan teknik ‘bahasa tinggi’, bahasa filosofis, memiliki metafora yang unik, dibangun dengan susunan kata-kata yang indah, coba perhatikan dengan saksama puisi-puisi di atas tersebut.

Antara judul dan tubuh puisi, berkesinambungan dan serasi sekali, itulah sebabnya tidak mudah untuk menulis puisi jenis ini, namun mudah bagi seseorang yang mencintai dan mendalami puisi ini. Tentu saja secara teknik kita harus menguasainya terlebih dahulu.

Dalam hal ini secara tehnik atau teknis penulisan saya tidak membicarakan ini, dan sebaiknya Anda dianjurkan untuk memperhatikan dan mempelajari puisi 2 koma tujuh ini secara lebih mendalam.

Diluncurkannya Buku Puisi 2 Koma 7 Baru-Baru Ini

Buku di atas akan segera terbit dalam waktu dekat dengan sampul cover depan seperti tertera dalam gambar di atas. Dan ini merupakan sejarah bagi puisi 2 koma 7 yang akan ikut serta dalam meramaikan khasanah perpuisian di tanah air, dan ini merupakan karya dari penemu, penggagas, anggota dan simpatisan yang bergelut dalam fenomena puisi 2 koma 7 ini. Secara pribadi saya menyambut hal ini dengan hangat dan gegap gempita. Saya menulis bukan berdasarkan atas pesanan atau ingin sesuatu yang sensasi biasa. Semata-mata karena saya menyukai dan mengagumi, walaupun memang saya kenal penemu dan penggagasnya serta sahabat-sahabat simpatisan puisi 2 koma tujuh ini.

Sejak saya mengenal puisi 2 koma 7 ini sekitar bulan Desember 2012 di group puisi Bengkel Puisi Swadaya Mandiri asuhan penyair Prof. Dimas Arikha Mihardja (Nama Pena), saya mencoba menulis beberapa puisi jenis ini dan berhasil diapresiasi oleh creator dan admin group tersebut, dan inilah puisi yang pertama saya buat di group tersebut :

Nostalgia

jika kali ciliwung meluap,

kuingat rumahku, tenggelam

Puisi ini akan selalu saya kenang dan memang puisi ini sebuah nostalgia yang merupakan kenangan saya seumur hidup berdasarkan kisah nyata, sewaktu sungai Ciliwung meluap maka rumah-rumah di bantaran kali Ciliwung akan tenggelam.

Boleh dikata banyak juga mungkin para penyair membuat sesuatu kerangka baru dalam pembuatan puisi, seperti halnya puisi-puisi lama dan kontemporer : soneta, haiku, mbeling, stanza dan lain sebagainya dan ada yang jenis baru di laman media sosial facebook seperti puisi 517 di Ekspresi Seni yang diperkenalkan oleh Syafrein Effendi Usman.

Puisi 2 koma 7 menurut saya lebih fenomenal atau luar biasa, dan mungkin prediksi ke depan puisi model ini akan lebih banyak lagi penikmatnya, walaupun kelihatannya sederhana namun memiliki daya pikat tersendiri. Sama halnya puisi Haiku sangat terkenal dan disukai banyak kalangan penyair-penyair di Malaysia saat ini.

Kita harapkan puisi 2 koma 7 ini menjadi setidak-tidaknya tuan di negeri sendiri, dan bisa jadi sama halnya dengan seni-seni tradisional lainnya di Indonesia yang populer di negara-negara lain.

Puisi 2 koma 7 memang baru dikenal dikalangan terbatas saja, khususnya dalam dunia sastracyber atau cybersastra, namun jangan dikira penggemarnya dari kalangan penyair biasa, penyair-penyair akademik maupun penyair-penyair yang memang memiliki bakat tradisional dari lahir juga banyak yang menyukainya.

Tantangan Ke Depan Bagi Puisi 2 Koma 7

Secara tradisi puisi memang dibangun dalam komunitas seni atau hidup secara mandiri di kelompoknya yaitu sanggar. Jika dahulu para anggota dalam sanggar saling bertemu muka dan bercengkerama, bergaul dengan hangat dan membuat acara atau pagelaran ataupun sayembara puisi, kini ada fenomena baru yaitu sanggar cybersastra atau group puisi di facebook, di mana para anggotanya memiliki jaringan yang luas dan tersebar lintas batas dan dari berbagai macam kelompok strata sosial bergaul dan saling memberikan gagasan serta karya-karya mereka dalam group.

Fungsi sanggar yang tradisional memang tidak tergantikan keakrabannya, dari segi kehangatan tentu berbeda antara sanggar dengan komunitas cybersastra semisal group puisi di Facebook, namun dari segi kualitas serta daya jangkau memang ini sebuah fenomena tersendiri.

Tidaklah heran puisi 2 koma 7 tumbuh subur karena hal ini, kemudahan jangkauan, fasilitas yang mudah dan cepat, banyaknya informasi, serta apresiasi yang cepat ditanggapi membuat puisi 2 koma 7 ini tumbuh pesat sekali, sekitar 1.300 orang yang terdaftar dalam group ini yang tersebar dalam jangkauan daerah yang luas sampai ke luar negeri.

Membuat buku adalah salah satu cara untuk melestarikan sebuah karya menuju keabadian. Ini adalah sebuah rekam peristiwa yang tercatat. Hal ini akan lebih mudah lagi jangkauannya dalam menyebarkan atau mempopulerkan karya puisi atau gagasan baru, seperti halnya Remy Sylado dalam memperkenalkan puisi Mbelingnya di majalah Aktuil serta buku-buku puisinya ‘Mbeling’.

Dengan beredarnya puisi 2 koma 7 ini tentu akan direspon oleh para pembaca dari berbagai kalangan, dan interaksi tentu akan terjadi dan kita tidak tahu bagaimana interaksi ini disambut di kalangan masyarakat puisi di Indonesia, baik yang bersikap menerima dengan aktif, biasa-biasa saja atau kalangan sastra yang kritis. Ini merupakan ujian bagi puisi 2 koma 7, kita semua mengharapkan umpan balik itu, apa pun hasilnya.

Pertumbuhan dan perkembangan puisi 2 koma 7 ke depan bukan semata-mata tergantung dari para kritikus sastra semata, menurut hemat saya tergantung dari orang-orang yang memiliki dan mencintai serta meghargainya sebagai sebuah karya yang indah.

Kritikus sastra hanya sebagai medan uji atau secara akademik teori saja, namun yang penting adalah prakteknya, atau hasil mujarabnya bagaimana sebuah gagasan itu dicintai dan dinikmati.

Oleh sebab itu mari kita lihat bersama, bagaimana sebuah karya indah puisi 2 koma 7 ini direspon oleh masyarakat perpuisian di Indonesia, apakah ia memuisi atau tidak, Anda-lah yang tahu dan memilihnya.

JATUH CINTA

 Kulihat kupu-kupu di tanganmu

 Oh, kau memuisi

 (lifespirit, 1 Januari 2013)

KELUHAN CINTA

 Menatap selimut kesepian

Bersisian kabut adakah rindu?

 (lifespirit, 29 Januari 2013)

 Sebenarnya Hatiku yang Telah Kau Genggam

 (Puisi No. 1)

 Kau ada dalam gerabah,

setiap sentuhan tanganku

(Puisi No. 3)

Remaslah jari-jariku, genggamlah!

Milikmulah aku ini selamanya

Jakarta, 14/8/2013

*) Penulis kelahiran Jakarta, 14 Desember, tinggal di Jakarta, menyukai sastra, senang menulis puisi, prosa dan artikel mengenai sastra. Karyanya diterbitkan di beberapa media cetak dan media online seperti di : SKH Republika, SKH Mata Banua, Jurnal Kebudayaan Indoprogres, SKH Berita Minggu Singapura, SKH New Sabah Times, SKH Utusan Borneo, Kompas.com, Koran Atjeh Post, Koran Bogor, Jateng Times, Rima News, Radar Seni, RetakanKata, Jurnal Kebudayaan Tanggomo, Wawasan News, Angkringan News, Artadista.com, Majalah Sastra Digital Frasa, Majalah Review Malaysia, Ourvoice, Sastra Kobong.

Karya puisinya telah dibukukan dalam antologi bersama beberapa penyair manca negara : ‘Lentera Sastra’ diluncurkan pada tanggal 22 Juni 2013 di Kuala Lumpur bersama komunitas Puisikan Bait Kata Suara, ‘Manusia Dan Mata-Mata Tuhan’ bersama komunitas Coretan Dinding Kita, ‘Jendela Senja’ bersama komunitas Kabut Tipis, sedangkan buku Cinta Rindu Dan Kematian di komunitas Coretan Dinding Kita sedang dalam proses cetak.

Saat ini aktif menulis di sastra cyber (cybersastra) dan memiliki halaman puisi yang diberi nama : Info For Us by Sonny H. Sayangbati di media sosial Facebook, dan beberapa website sastra.

 Penulis bisa dihubungi di alamat email : sonny_sayangbati@yahoo.com dan sonny14sayangbati@gmail.com

Pengumuman Lomba Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom

Anda tentu sependapat bahwa lebih banyak orang yang meyakini menulis cerpen itu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Banyak tip-tip ditulis di website, blog maupun buku-buku untuk memudahkan penulisan menunjukkan bahwa ada suatu tingkat kesulitan yang coba dipecahkan para pengarang. Harapannya, tentu para penulis tip menginginkan lebih banyak orang memiliki kemampuan menulis, tidak hanya cerpen namun juga jenis karangan yang lain.

Maka melimpahnya peserta lomba menulis cerpen RetakanKata 2013 patut disyukuri. Apresiasi luar biasa perlu disampaikan kepada para peserta yang telah berupaya dengan segenap kemampuan untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka, terutama pada para sahabat buruh migran yang telah mencuri waktu untuk menulis di tengah-tengah kesibukan mereka. Meski tidak semua dapat menjadi pemenang lomba tahun ini, namun ada harapan besar di kemudian hari para penulis ini akan menjadi penulis besar.

Dari dua kategori yang dilombakan tahun ini, sayangnya hanya sedikit yang mengikuti kategori B (buruh migran). Tercatat hanya ada empat naskah untuk kategori B. Hal ini bukan berarti tidak ada peserta dari buruh migran sebab para sahabat buruh migran lebih banyak mengikuti lomba pada kategori A (umum). Untuk itu, kedua kategori dilebur menjadi satu dan jumlah pemenang tahun ini diperbanyak menjadi 20 pemenang lomba dari 504 naskah cerpen yang masuk.

Menimbang pada dua kategori yang digabung menjadi satu, maka hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba adalah sebagai berikut.

  • Juara I, cerpen berjudul Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente, berhak mendapat uang tunai Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara II, cerpen berjudul Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary, berhak mendapat uang tunai Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara III, cerpen berjudul Angsa Salju karya Sulfiza Ariska, berhak mendapat uang tunai Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Cerpen Laki-laki dalam Kereta, Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku dan Legiun Dajjal, berhak mendapat uang tunai masing-masing Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 1 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013:

  1. Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente
  2. Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary
  3. Angsa Salju karya Sulfiza Ariska
  4. Laki-laki dalam Kereta karya Diyah Hayu Rahmitasari
  5. Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku karya Ardi Kresna Crenata
  6. Legiun Dajjal karya Royyan Julian
  7. Mak Parmi karya Danang Duror Alfajri
  8. Bayi yang Hilang karya Albert Wirya
  9. Savitri Jadi Sintren karya Imamul Muttaqin
  10. Anak Kocok karya M. Said Hudaini
  11. Garis Rosary karya Dhianita Kusuma Pertiwi
  12. Kirana karya Jenni Anggita
  13. Pulang karya Meilina Widyawati
  14. Musim Semi di Taman Ueno karya Yanti Hanalia Mantriani
  15. Esspreso Cinta karya Kadek Lestari Diah Paramitha
  16. Makan Malam Terakhir karya Lidya Pawestri Ayuningtyas
  17. Garis Waktu karya Wilibrodus Wonga
  18. Penari Tiang karya Marina Herlambang
  19. Hukum Pancung karya Upik Junianti
  20. Dubai di Ujung Hari karya Meylani Nurdiana

Catatan:

Seluruh cerpen pemenang lomba akan dibukukan dan masing-masing pemenang akan mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata 2013. Pemenang yang ingin mendapatkan lebih dari satu buku, dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui email retakankata@gmail.com dengan mengganti  uang cetak dan penerbitan buku yang dipesan.

Para peserta dan pembaca yang ingin memesan buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013 dapat mengirim pesanan melalui retakankata@gmail.com dengan melakukan pembayaran dimuka sebesar Rp 50.000 per buku belum termasuk ongkos kirim. Hubungi redaksi RetakanKata untuk keterangan lebih lanjut.

Hadiah berupa blog dan buku tidak dapat ditukar dengan uang dan blog tidak dapat dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan dari RetakanKata. Lihat harga blog di Lapak RetakanKata.

Seluruh pemenang diwajibkan melakukan verifikasi dengan mengirim email yang dilampiri data diri berikut foto serta profile singkat penulis sebagai pelengkap penerbitan buku. Verifikasi dapat dilakukan sampai dengan akhir Agustus 2013. Jika lewat dari bulan Agustus pemenang belum melakukan verifikasi, maka kemenangannya dibatalkan dan hak-haknya dicabut.

Apabila para pembaca mengetahui adanya kecurangan, ketidakbenaran data dan naskah cerpen, diharapkan memberikan informasi kepada RetakanKata melalui retakankata@gmail.com sampai batas waktu akhir bulan Agustus.

Pengumuman ini juga dapat dibaca di BUKUONLINESTORE.COM sebagai bagian dari RetakanKata Network. Lihat juga blog-blog yang ada di bawah BukuOnlineStore:

Kemerdekaan, Google dan Sepatu

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

Hari ini tampak ada yang istimewa di Google. Jika Anda buka googledotcom, maka tulisan ‘google’ akan membentang serupa bendera merah putih dengan lambang serupa burung garuda di tengah, menggantikan huruf ‘O’. Tampaknya, google turut merayakan peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-68 tahun ini.

sepatu-bekas
gambar diolah dari annida.online

Berkat google, saya jadi tahu tema perayaan kemerdekaan tahun ini. Sebagaimana dipaparkan di situs sekretariat negara, kebetulan tahun ini pemerintah mengangkat tema “Mari Kita Jaga Stabilitas Politik dan Pertumbuhan Ekonomi Kita Guna Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat”. Bagi Google, Indonesia adalah partner yang punya prospek bisnis menggiurkan. Stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi berarti pula keuntungan bagi perusahaan. Rakyat bisa juga membaca seperti itu. Rakyat juga bisa saja membaca tema tersebut sebagai sebuah perintah, ajakan atau bisa juga iklan sosialisasi sesuatu yang disebut sebagai keberhasilan pemerintah mengisi kemerdekaan. Yang jelas, ada argumentasi yang disampaikan pemerintah dalam tema tersebut. Persoalannya, apakah ada cukup alasan untuk menerima argumentasi tersebut.

Sebuah cerita lama,-barangkali banyak dari Anda yang sudah mengetahuinya-, tentang sepatu Bally Bung Hatta. Cerita ini cukup menyedihkan, bagaimana seorang Bung Hatta yang juga seorang wakil presiden yang turut memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, menyimpan guntingan iklan sepatu yang tidak mampu dibelinya. Anda tahu, pada tahun itu, sekitar 1950-an, sepatu Bally adalah salah satu sepatu ‘kelas tinggi’. Namun bagaimanapun, Bally hanyalah sebuah sepatu, tidak akan lebih mahal dari sebuah mercedes dan Bung Hatta “tidak mampu” membelinya. Pertanyaannya: apa yang dikenakan di kaki Bung Hatta waktu itu? Jangan-jangan beliau tidak bersepatu.

Saya tidak hendak mengajak Anda untuk membandingkan sepatu Bung Hatta dengan sepatu para pejabat publik kita, apalagi membandingkan kekayaan Bung Hatta dengan kekayaan para pejabat publik kita. Konon Pak Ali Sadikin pernah membayar tagihan listrik rumah Bung Hatta karena beliau tidak sanggup membayar tagihan listrik. Barangkali akan banyak dari kita di jaman ini yang berpikir: “bodoh” sekali Pak Wapres ini, kesempatan emas dibuang begitu saja. Namun jika kita perhatikan betul, maka Bung Hatta menyimpan kekayaannya di sepatu, tapi bukan berbentuk dollar seperti yang ditangkap KPK, melainkan sebuah contoh manusia yang terus menerus belajar menjadi manusia merdeka.

Anda seharusnya percaya, kemerdekaan seseorang dapat dilihat dari apa yang dikenakan di kakinya. Seorang petani yang membajak sawah menjadi tidak merdeka sebagai petani ketika ia terkungkung sepatu di kakinya. Namun ia bisa menjadi petani yang bebas bergerak dengan sepatu boot ketika membuka lahan untuk ladang baru. Seekor kera dapat bebas bergelantungan di pohon tanpa harus mengenakan sepatu di kakinya tetapi pejabat publik menjadi murah harganya ketika ia tidak mengenakan sepatu di kakinya.

Pepatah jawa mengatakan: Ajining diri dumunung ana ing lati, ajining raga dumunung ana ing busana. Pepatah ini semacam pesan, rasa hormat dan patuh orang lain kepada Anda tergantung pada bagaimana ucapan dan perbuatan Anda. Pada tingkat paling dasar, orang menaruh hormat pada apa yang kelihatan, semacam baju dan sepatu yang dikenakan. Maka harga diri Anda tampaknya tergantung pada bagaimana penampilan fisik Anda. Untuk itu orang kemudian bersolek menghias diri, memilih berbagai sandal dan sepatu sebagai simbol-simbol kepribadian Anda. Anda berharap orang lain mengenali jati diri Anda dari apa yang Anda kenakan. Jika orang percaya pada apa yang dikenakan seseorang, maka orang tersebut akan mencoba mendengar kata-kata Anda. Rasa hormat kemudian muncul dari penghormatan terhadap kata-kata yang dapat “dipegang”. Dan perbuatan adalah pakaian bagi tubuh rohani Anda.

Maka ibarat topi, sepatu Bally dapat dikatakan sebagai mahkota yang dikenakan di kaki, pakaian bagi tubuh yang kasat mata.  Jika wapres dapat dianalogikan sebagai seorang wakil raja, maka sudah sepatutnya ia  menggenakan mahkota di kepalanya, namun Bung Hatta rela menjadi wakil raja tanpa mahkota. Dan Bung Hatta tidak menjual kemerdekaannya untuk sebuah sepatu Bally. Ada yang lebih penting dari sekedar sebuah sepatu yang ia kenakan, yaitu sepatu yang sebaiknya dikenakan bagi rakyatnya. Ia tidak berhenti pada pikiran bagaimana menggunakan kemerdekaannya untuk memerdekakan orang lain, namun juga mewujudkannya dalam perbuatan. Maka Ia adalah contoh manusia yang merdeka sejak dari pikiran hingga perbuatannya, kemerdekaan yang membantunya menjadi manusia jujur dan sederhana. Ia tidak berhenti pada tingkat fisik (kasat mata), tetapi lebih pada pencapaian pembebasan dari keinginan-keinginan duniawi. Lalu bagaimana dengan pejabat kita di jaman ini? Jawaban Anda menentukan pemahaman tema “Mari Kita Jaga Stabilitas Politik dan Pertumbuhan Ekonomi Kita Guna Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat”, sebagai cara memerdekakan rakyat atau malah menguatkan sepatu-sepatu kekuasaan yang menindas rakyat.

Tiga Puisi Ahmad Yulden Erwin

KITAB HALAMAN

Kini mulai kubaca lagi halaman rumahku:
Pagar batu, dua rumpun seruni, sepasang
kelinci, atau tiga larik haiku berlari memeluk

ranting petai cina. Kau tidak bisa bertanya:
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?
Tiada batas kecuali dalam pikiranmu semata.

Tanah basah, genangan air bekas hujan, kilat
tiba-tiba menyergap seperti sekuntum anyelir
mekar penyap di fajar mataku. Jika kau dapat

melihat dengan jernih, maka akan kaudengar
sepasang kutilang berkicau di dahan mangga;
akan kaurasakan manis desir angin membelai

kuntum-kuntum widuri di halaman tetangga.
Pada saat itu, janganlah sungkan bertanya:
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?

————————————————————————–

IMPROVISASI

                                       Aku pergi…
                                       – Tanzan

1
Hujan belum turun pada baris sajakmu,
juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu.
Malam yang tersangkut ranting kering

tak juga bergeming oleh tatap matamu.
Kau tahu, semua mesti berakhir, seperti
bangkai capung yang terinjak sepatumu.

Pintu. Debu. Remah roti. Semut-semut
merayap di toples gula. Segalanya adalah
mimpi yang terbakar di telapak tanganmu.

Tak ada yang kekal, juga bayangan bulan
yang terpantul pada kedua bola matamu.
Sepatu kautaruh di raknya. Baju, celana,

singlet, sempak: kaugantung di samping
jendela. Kautatap tubuhmu di depan kaca:
Bukan sabda. Bukan kata. Bukan tanda.

2
Tak ada satori saat kautatap percik hujan
di nako jendela kamarmu. Tak ada kensho
saat petir menyergap gendang telingamu.

Kau tersenyum memandang kotak sampah
di pojok ruang tamu. Waktu telah menjadi
segelas air bening yang mengalir perlahan

di dinding ususmu. Kau tak lagi menatap
arloji di tangan kirimu. Kaubiarkan saja
detik-detik memercik pada tiga larik haiku.

Kautatap bunga-bunga krisan di meja tamu.
Kau tertawa. Semua menjelma metafora:
Bukan suara. Bukan udara. Bukan cahaya.

———————————————————————–
MENATAP KELUAR JENDELA

Ujung sebatang ranting
kering, langit biru bening,
sepasang capung hijau
hinggap di pucuk ranting.
Pikiran adalah lidah-lidah
kering, amat merindukan
setetes air: kesegaran dalam
kebeningan. Tapi langit,
di sana, terlihat amat jauhnya.

Kini kau kembali terkurung
dalam kenyerian kamar.
Mungkin ada baiknya kau
belajar mencintai kamar,
menghargai arti debu dan abu,
tumpukan kertas tak terpakai,
serakan pena tak terpakai,
sederet rencana di luar rencana.

Dari balik jendela,
di luar segala rencana,
kau mulai menyerap
kebeningan: kristal kilau maut,
pikiran hanyut menuju awal,
awal pun hanyut menuju akhir,
akhir yang berawal di jendela terbuka.

Kini, dalam kekinian
yang paling kini,
kau mulai menyadari
ada yang tak bisa kausadari.
Ujung sebatang ranting
kering, langit biru bening —
daun hijau tumbuh di pucuk ranting.

——————————————————

Bandarlampung, 2012 – 2013

Semi-Otomatis Menulis Puisi

Kolom John Kuan

——— Untuk Abdul Hadi WM

:: seluruh kata dan kalimat di dalam 10 puisi ini saya jambret dari buku puisi Abdul Hadi WM: Tuhan, Kita Begitu Dekat ::

1. Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan dekat, aku panas
dalam kainmu arahnya gelap
aku nyala lampu padammu

2. Langit Di Mana-Mana

Di atas air, di atas pasir
senja haus waktu, cair
dinding hatimu pada kayu
muara kemarau, putri-putri buih
di atas badan sunyi perahu dagang
membersihkan gelap
menelan dongengmu, penunggu muara ramah itu

3. Sarangan

Cemara menyerbu
bulan, kolam luka-lukanya
sejoli tidur

4. Pelabuhan Banyuwangi

Ombak berdiri di geladak
kelasi percaya seketika, seketika
mengalir tali temali, tiang, lampu-lampu
pelabuhankah bersuara?

5. Kuncup

Kuncup dunia
batu menggeliat
suara airmata hama
palangnya diberi nama gelisah

6. Anak

Anak gelombang mengerti
terpendam, diam, surut, tak karam
tidur merenggut bintang

7. Kudengar

Bersua rambut hitammu
gelombang bunga terjaga
di ruang susut ranjang cakrawala

8. Tangan

——— Untuk Sutardji Calzoum Bachri

Tangan di kabut meluap
jantung, sungai, tebing curam
tak lebih dalam, kita tahu
tapi ombak bosan karang

9. Doa I

Kenyang hingga lapar
Kaulah kenyang itu
Nasi jiwa lapar
Sekedar kenyang
Kaulah airmata. Amin

10. Cinta

——— Untuk Tedjawati

Laut pada arus
ombaknya hatimu
memukul kegelapan
menangkap cahaya
pecah menjelma di sampingku di sampingmu
kata-kata, waktu
jembatan kalbu

Catatan:

Seluruh puisi-puisi ini berasal dari buku puisi Abdul Hadi WM: Tuhan, Kita Begitu Dekat. Judul di atas sama persis seperti judul di dalam buku puisi Pak Abdul Hadi WM, isinya sudah saya utak-atik, begini yang saya sebut semi-otomatis menulis puisi. Misalnya yang No. 1 Tuhan, Kita Begitu Dekat, puisi aslinya begini:

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap
kini aku nyala
pada lampu padammu

Tiga Puisi Cinta dan Satu Nyanyian Pilu

Puisi John Kuan

——— meniru Inger Christensen

1.

cintai aku titik/ kalau tidak aku akan lenyap di udara titik/ biarkan
aku bagai mobil parkir di garis kuning tengah malam koma/ numpang
hidup sebelum fajar menyingsing titik// cintai aku titik/ biarkan aku
sebagai sisa pijar minyak di sela jarimu koma/ erat mendekap
keringat hangat koma/ tidak ingin dikuras jatuh titik// cintai aku titik/
walau cinta licin macam belut koma/ spesimen seperti aku ini titik/
hanya di saat kau menatap koma/ baru kembali peroleh kebebasan titik
// cintai aku titik/ kalau tidak aku sudah mau bernyanyi buatmu titik/
oh my god koma/ dijamin membuat kau merasa lebih baik koma/
lebih baik mencintaiku titik//

2.

jangan lagi memberondong ke arahku koma/ bukan pula aku robohkan
bentengmu koma/ jangan lagi memberondong ke arahku koma/ sungguh
aku tidak cukup nyali merampok bank koma/ jangan lagi memberondong
ke arahku koma/ pendapatku masih belum menang piala perdamaian koma/
jangan lagi memberondong ke arahku koma/ aku tidak ambil topi baja
ke medan perang koma// sedihku hanya 21 derajat celsius koma/ terpurukku
masih menunggu elevator koma/ deritaku diserahkan kepada askes koma/
sepiku telah dikirim menemani kucing koma// satu tembakan lagi aku akan
berubah jadi mazinger z koma/ satu tembakan lagi aku akan transparan koma
/ ayo tambah satu tembakan koma biarkan sakit membuktikan koma/
roh ini masih belum dibius koma/ biarkan cinta menampakkan mujizat
terbesar titik dua/ sehabis mati koma/ masih bisa mati sekali lagi koma//

——— bukan meniru Pablo Neruda

3.

tidak ingat lagi nama jalan itu
hanya tahu kau tinggal di loteng YAMAHA
papan nama sudah padam, tidak tahu lampu rumah siapa
bergoyang menyapu permukaan jalan
cuma tahu jalan memutar pulang amat panjang, amat panjang
bagai melewati galaksi lain.
tidak ingat lagi rupa jalan itu
hanya tahu angkat kepala akan disambut hujan garpu pisau jarum
itu adalah malam di hari ketiga
hari kedua aku masih ikut pawai
biarkan tempurung kepala diisi penuh suara drum
hari keempat sudah lupa
ingat betul telah minum sup buah pare
namun ujung lidah seperti bisa mencicip manis irama di ujung jalan
sehari berikutnya mungkin adalah banyak tahun kemudian
aku kembali ke jalan itu ( kita sama-sama sudah tua di dalam mimpi )
jalan itu, masih sepi, kacau, indah, biasa
kau kembali ke loteng, aku angkat kepala menatap
sekalipun dunia mau kiamat juga tidak hirau

4.

aku harap sendiri bukan sebuah sangkar
tapi angin yang menyusup lewat
aku harap bisa dengan nyanyian kau riang
tapi bukan cinta
aku harap bisa dengan bersih sorot mata
menikmati sebiji ceri
aku harap setelah pisau dicabut dari ranjangku
mampu rapat sendiri
hanya kadang di paruh malam
aku masih bisa ambles ke lobang luka
berebut menyantap habis ceri terakhir
nyanyian indah diulang hingga sumbang
kadang aku biarkan pintu sangkar terbuka
tapi tidak ada orang ingin masuk
atau keluar

Cerita yang Lewat di Depan Pintu

Fiksi-fiksi Mini Ragil Koentjorodjati

1. Lonceng Tengah Malam.

Hari hampir natal. Maria, aku mengenalnya sebagai perempuan berkubang kemiskinan, seperti biasa menunggu lonceng tengah malam. Hari gelap memanggil, gegas ia bersimpuh di depan altar, berdoa pada malaikat pelindung. Kemiskinan, siapapun tidak menginginkannya. Itu sebabnya ia rajin berdoa.

Lalu malam itu, malam menyambut saat Sang Juruselamat dilahirkan, kyrie eleison mengema di kejauhan. Maria bersimpuh di depan gua. Airmatanya berlinang, ia menunggu lonceng tengah malam. Menunggu Sang Juruselamat. Hingga larut. Tepat tengah malam, sepi pecah berkelontang. Bukan lonceng yang berdentang, hanya sebuah bom yang diletakkan dan meledak tidak pada tempatnya. Maria lumat. Sepertinya Tuhan punya cara yang berbeda untuk menyelamatkannya.

2. Tekad

Ia tidak menyangka kekasihnya akan menulis begini di fesbuk: yakinlah, orang baik pasti indah pada akhirnya; orang jahat bisa saja indah pada akhirnya.
Sejak membaca status kekasihnya itu, ia memilih untuk menjadi orang jahat yang mencintai kekasihnya.

3. Saksi Hidup

Sepertinya sudah cukup lama ia di sana, menyaksikan nyawa-nyawa meregang lepas dari raga, satu demi satu. Tidak sekedar satu dua musim, barangkali bermusim-musim sebanyak bilangan terhitung dari helai-helai uban ibuku yang tercerabut dan tumbuh berulang kali. Itu lebih dari sangat lama aku kira. Ia sudah berdiri tegak pada saat ibuku seumur anak pemain boneka. Dan ia masih tegak hingga ibuku menimang cucunya. Entah berapa nyawa yang telah disaksikannya pergi pada masa sepanjang itu.

Meski tak lagi setegar dulu, tetapi basah embun pagi dan terik matahari tetap semacam hiburan baginya. Ia telah banyak menyaksikan orang mati. Kadang memang ada yang cukup mengerikan, misalnya, aku juga ingat kejadian itu, seorang lelaki terseret mobil di dingin aspal pagi hari, terseret 200 meter sebelum sebuah bus melaju melindasnya dari arah berlawanan. Terlalu pagi kejadian itu hingga orang mengira sebatang pelepah pohon kelapa luruh ke jalan. Semacam krak mendadak tanpa bunyi decit rem. Deru mesin lebih keras dari jerit kematian. Memang, lelaki itu tengah memanggul pelepah kelapa untuk bahan kayu bakar di pagi hari. Rupanya pelepah itu terlalu panjang hingga membawanya ke alam baka.

Aku yakin ia tahu betul kejadian itu sebab ia di sana lebih dulu daripada aku. Para pengendara itu tak pernah ditemukan, sebab pagi terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Ia tetap diam, meski pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Memang, bukan lagi sekedar kematian, tetapi lebih tepatnya pembunuhan. Suara dor di pagi buta, -itu berarti seorang bandeng mati-, atau lengking sirine menyayat di malam purba, -itu tandanya seseorang akan dikubur di bukit kopi-, adalah parade pembunuhan di sepanjang jalan kaki merbabu. Merapi Merbabu Komplek menjadi semacam catatan sejarah orang-orang mati tanpa sempat diadili. Dan ia di sana begitu menikmati takdirnya sebagai sepi.

Ketika Penyair Bertapa

Resensi Arif Saifudin Yudistira

kumpulan-puisi-joko-pinurboSepertinya sulit memisahkan Joko Pinurbo dengan puisi. Puisi itu Jokpin, dan Jokpin itu puisi. Jokpin sebagaimana dikatakan oleh Afrizal, ia lebih mendekatkan puisi dengan waktu. Waktu, momen dan peristiwa jadi bahan yang diendapkan untuk menjadi puisi. Bisa jadi ini mudah secara sepintas, tapi lihatlah bagaimana dia menuliskan dalam buku ini. “Segalanya menjadi mudah dengan mudah-mudahan” (2012), kalimat singkat itu seperti sederhana, tapi tak sesederhana untuk bisa kita ciptakan. Kemampuan Joko Pinurbo merawat kata dan mengeluarkan kembali dalam rupa kata yang lain, tampak menjadi kekuatan dalam puisinya.

Meski demikian, puisi Jokpin yang erat dengan humor, sinisme dan satire, bisa jadi menipu pembaca yang kurang jeli. Jokpin sendiri pernah berkisah bagaimana seorang almarhum Linus Suryadi mengira Ayah Jokpin sudah mati. Hal itu dikarenakan Linus mendengarkan Jokpin membaca puisinya yang berjudul Warisan Ayah. Mendengar pertanyaan Linus, Jokpin terkejut, Ayah saya baik-baik saja, katanya.

Puisi memang dekat pada waktu, momen dan peristiwa, tapi tak tentu peristiwa yang dialami oleh penyair. Di sini puisi bergerak dari ruang internal ke eksternal sesuka hati, tergantung pada bagaimana penyair mengolahnya. Mengutip yang dikatakan oleh Goenawan Mohammad, logika puitik tidak merepresentasikan keberadaan dalam kata-kata, melainkan membawa keberadaan kepada kehadiran dalam bentuk kata-kata. Oleh karena itulah Jokpin menuliskan selamat datang kepada pembaca puisi dengan mengucapkan salam sayangnya: “selamat menunaikan ibadah puisi”. Dari sebab itu, sebenarnya logika puitik tidak hanya bermain dalam kata-kata semata, tapi ia menangkap yang sejati dari peristiwa, momentum dan waktu. Maka tak salah filsuf Heidegger pun mengatakan bahwa wacana berfikir yang asli adalah puisi.

Di buku kumpulan puisi terbarunya ini, Jokpin ingin menunjukkan identitas puisinya yang lain dari sebelumnya. Sebagaimana dikatakan Jokpin (Tempo,7-13 januari 2013) “saya tidak ingin puisi saya dicap erat dengan celana terus, saya ingin meninggalkan celana. Ketika penyair tak bisa lepas dari cap yang menempel itu, maka penyair mati kreatifitasnya. Saya tidak ingin mati”. Maka tidak salah bila Jokpin menganggap puisi yang kuat adalah puisi yang mengembangkan visi baru dalam puisi. Puisi yang membuat kita mendefenisikan ulang apa itu puisi.

Buku Puisi Puitwit Haduh Aku di Follow  ini merupakan wujud visi baru dalam puisinya. Ia seperti ingin menampilkan puisi yang keluar jauh dari celananya, tetapi tidak terlalu jauh juga. Lihat misalnya puisi berikut : Waduh, celanamu tertinggal di dalam sajakku/Sajakku terkunci dan aku tak tahu dimana kuncinya. Celana yang biasa dipakai Jokpin menjadi idiom yang penting dalam puisinya di masa lalu seolah tertinggal dan mau dikunci agar pembaca tak lagi mengkaitkan ataupun membawa Jokpin dengan celananya yang dulu. Ia ingin memakai celana baru. Celana baru itulah puisinya yang sekarang. Simaklah cita-cita Jokpin yang mendefinisikan ulang apa itu puisi yang ada dalam bukunya ini. “Semua ingin menjadi penyair, iya kan? Aku sih ingin jadi puisi yang dilipat dan diselipkan di sela-sela rusukmu”(2012).

Ada warna baru yang ingin disuarakan melalui puisi twitter ini. Pada tanggal 22 Agustus 2012 Jokpin menulis: “Apa yang saya tulis mungkin bukan puisi, melainkan kekasih puisi”. Ada semacam kesadaran, barangkali orang boleh mengatakan atau menganggap twitter ini memang bukan puisi, melainkan lebih dalam yakni ruang untuk mengendap, menepi dan menghidupkan imajinasi sebagaimana yang ditulis Jokpin di sampul akhir buku puisinya.

Di usianya yang sudah melebihi setengah abad, Jokpin masih saja memainkan usia ke dalam sajaknya. Kata-kata humoris, menggemaskan dan hadir seperti kejutan, kejutan itulah yang ingin disampaikan dalam puisi twitter ini. Sejak aku dipanggil Om dan kemudian Pak, kepalaku mulai beruban(hal.74). Jokpin memang sudah beruban, tapi ia tak mau kalah dengan ubannya, seolah ia mau melawan uban yang ada di kepalanya dengan humor dan kejutan dalam puisinya. Ada kerja yang tak mau kalah dengan usia, puisi seolah ingin mencegah tua. Simak puisinya berikut ini: Entah kenapa saya selalu gagal menjadi tua. Saya ingin pikun dan pelupa agar lebih merdeka. Tapi puisi mencegah saya (hal.100)

Meski sudah mendapatkan penghargaan bersama Tahi lalat (2012) sebagai Karya Sastra Terbaik 2012 pilihan Tempo, mendapatkan KLA dengan puisi Kekasihku (2004), dan penghargaan sebelumnya Sih Award untuk sajaknya Celana 1, Celana 2, Celana 3, Jokpin tak ingin besar diri tapi tetap rendah hati. Ia ingin terus mencipta dan terus menerus berpuisi, atau bahkan ia ingin menjadi puisi yang tak dikenali siapa penulisnya. Ia menuliskan dengan kalimat sederhana dalam buku ini: “Selamanya saya penyair amatir. Gaji saya bahkan tak cukup untuk membiayai kesibukan melamun saya“(hal.61).

Di puisi-puisi pendek, singkat dan sederhana inilah, Jokpin bertapa brata. Joko pinurbo tak ingin dicap sebagai penyair yang produktif atau penyair yang tiap tahun bisa menerbitkan berbagai kumpulan buku puisi. Joko pinurbo dalam setahun bisa jadi hanya menghasilkan 11 puisi saja. Tapi kesebelas puisi itulah yang hadir bersama tubuh dan dirinya. Di sela-sela kesibukannya, Joko Pinurbo melakukan pertapaannya. Ia menggunakan waktu untuk mengendap, menepi, untuk menghidupkan imajinasi. Imajinasi-imajinasi itulah yang bisa kita nikmati dalam puisi pendeknya dalam buku ini. Kita akan menemukan kejutan, renungan dan hikmah melalui imajinasi dalam puisi ini. Akhirnya saya ucapkan pula “Selamat menunaikan ibadah puisi“ sebelum membaca buku ini.

kumpulan-puisi-joko-pinurboJudul: Haduh, Aku di Follow
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Jakarta
Cetak: 2013
Tebal: vi +122 halaman
ISBN: 978-979-91-0529-5

*)Penulis adalah pegiat di bilik literasi Solo, Buku puisinya “Hujan di Tepian Tubuh – (2012)”

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati #5

1. Ketika Malam
 
Cinta-cinta bersandar,
di gigir bening,

sungai cintamu.

mengalir,
begitu hening.

2. Kita mencinta, seperti tak mencinta

Lama,
seperti selamanya.
-tanpa kata, -tanpa bicara.

Diam ini,
terlalu dalam, -teramat dalam.
hingga batas, -tanpa batas.
-tanpa henti, -tanpa tepi.

Letihmu lelah,
lelahku letih.
Kita mencinta, seperti tak mencinta.

Teronggok bagai batubatu,
yang tenggelam makin dalam.
-dalam diam, -dalam dalam.

Diam ini, seperti selamanya.

gambar diunduh dari http://ismimei.files.wordpress.com
gambar diunduh dari http://ismimei.files.wordpress.com

3. Perahu Kertas

Seharusnya kita tidak terkejut,
bila musim hujan datang sedikit lebih cepat,
atau sedikit lebih lambat.
Perahu kita akan mengapung,
begitu hening, begitu tenang,

Dua atau tiga nelayan cukup membuat bahagia,
seorang memancing nila, yang lain menyiapkan penggorengan,
masa bodoh dengan semua hal yang tidak masuk akal.
Dari balik jendela bambu, kita bahagia bersama mereka.
Biasanya engkau tidak tahan untuk tidak campur tangan,

Sungai menggelora, menerabas akar bunga bakung,
air tumpah ruah,
Nelayanmu menangis, engkau pun menangis,
Perahu kita kandas,
kembali terurai menampilkan harga makanan yang tak mampu kita beli.
Lain waktu, itu mengajarimu melipat daun pisang membuat payung.

: kita buat satu lagi, kataku

Kita tertawa, memayungi perahu dan nelayan kita,
menyusuri sungai entah sejauh apa,
begitu mudahnya lapar terlupa,
begitu sulitnya bertahan pada bahagia.

Hujan yang datang sedikit lebih cepat, atau sedikit lebih lambat,
Tidak pernah mengejutkan hati yang bahagia.