Arsip Tag: facebook

Puisi 2 Koma Tujuh, Sebuah Fenomena

Gerundelan Sonny H. Sayangbati

2 koma tujuh
Gambar diambil dari grup puisi 2 koma tujuh

Tentang Payung

Jika dukamu adalah hujan

Payung itu aku

 

Mencintaimu

Kubiarkan mataku menggali kubur

Dengan huruf huruf

 

Sumber : Koleksi Puisi-Puisi Imron Tohari [@ Lifespirit) Imron Tohari (Catatan Pribadi) Facebook]

Menurut kamus populer (ensiklopedia) kata ‘fenomena’ (1) diambil dari bahasa Yunani ‘phainomenon’ yang artinya apa yang terlihat, menurut arti kata turunannya (adjektif) berarti : ‘sesuatu yang luar biasa’. Di mana luar biasanya puisi 2 koma 7 ini?

Saya pribadi mengagumi puisi ini, baik secara filosofi, estetika dan lain sebagainya, khususnya dari dua sudut pandang. Puisi ini mengagumkan, sejak pertama saya mengenalnya, bahasanya padat sekali dan kata-kata harus dibangun dengan teknik ‘bahasa tinggi’, bahasa filosofis, memiliki metafora yang unik, dibangun dengan susunan kata-kata yang indah, coba perhatikan dengan saksama puisi-puisi di atas tersebut.

Antara judul dan tubuh puisi, berkesinambungan dan serasi sekali, itulah sebabnya tidak mudah untuk menulis puisi jenis ini, namun mudah bagi seseorang yang mencintai dan mendalami puisi ini. Tentu saja secara teknik kita harus menguasainya terlebih dahulu.

Dalam hal ini secara tehnik atau teknis penulisan saya tidak membicarakan ini, dan sebaiknya Anda dianjurkan untuk memperhatikan dan mempelajari puisi 2 koma tujuh ini secara lebih mendalam.

Diluncurkannya Buku Puisi 2 Koma 7 Baru-Baru Ini

Buku di atas akan segera terbit dalam waktu dekat dengan sampul cover depan seperti tertera dalam gambar di atas. Dan ini merupakan sejarah bagi puisi 2 koma 7 yang akan ikut serta dalam meramaikan khasanah perpuisian di tanah air, dan ini merupakan karya dari penemu, penggagas, anggota dan simpatisan yang bergelut dalam fenomena puisi 2 koma 7 ini. Secara pribadi saya menyambut hal ini dengan hangat dan gegap gempita. Saya menulis bukan berdasarkan atas pesanan atau ingin sesuatu yang sensasi biasa. Semata-mata karena saya menyukai dan mengagumi, walaupun memang saya kenal penemu dan penggagasnya serta sahabat-sahabat simpatisan puisi 2 koma tujuh ini.

Sejak saya mengenal puisi 2 koma 7 ini sekitar bulan Desember 2012 di group puisi Bengkel Puisi Swadaya Mandiri asuhan penyair Prof. Dimas Arikha Mihardja (Nama Pena), saya mencoba menulis beberapa puisi jenis ini dan berhasil diapresiasi oleh creator dan admin group tersebut, dan inilah puisi yang pertama saya buat di group tersebut :

Nostalgia

jika kali ciliwung meluap,

kuingat rumahku, tenggelam

Puisi ini akan selalu saya kenang dan memang puisi ini sebuah nostalgia yang merupakan kenangan saya seumur hidup berdasarkan kisah nyata, sewaktu sungai Ciliwung meluap maka rumah-rumah di bantaran kali Ciliwung akan tenggelam.

Boleh dikata banyak juga mungkin para penyair membuat sesuatu kerangka baru dalam pembuatan puisi, seperti halnya puisi-puisi lama dan kontemporer : soneta, haiku, mbeling, stanza dan lain sebagainya dan ada yang jenis baru di laman media sosial facebook seperti puisi 517 di Ekspresi Seni yang diperkenalkan oleh Syafrein Effendi Usman.

Puisi 2 koma 7 menurut saya lebih fenomenal atau luar biasa, dan mungkin prediksi ke depan puisi model ini akan lebih banyak lagi penikmatnya, walaupun kelihatannya sederhana namun memiliki daya pikat tersendiri. Sama halnya puisi Haiku sangat terkenal dan disukai banyak kalangan penyair-penyair di Malaysia saat ini.

Kita harapkan puisi 2 koma 7 ini menjadi setidak-tidaknya tuan di negeri sendiri, dan bisa jadi sama halnya dengan seni-seni tradisional lainnya di Indonesia yang populer di negara-negara lain.

Puisi 2 koma 7 memang baru dikenal dikalangan terbatas saja, khususnya dalam dunia sastracyber atau cybersastra, namun jangan dikira penggemarnya dari kalangan penyair biasa, penyair-penyair akademik maupun penyair-penyair yang memang memiliki bakat tradisional dari lahir juga banyak yang menyukainya.

Tantangan Ke Depan Bagi Puisi 2 Koma 7

Secara tradisi puisi memang dibangun dalam komunitas seni atau hidup secara mandiri di kelompoknya yaitu sanggar. Jika dahulu para anggota dalam sanggar saling bertemu muka dan bercengkerama, bergaul dengan hangat dan membuat acara atau pagelaran ataupun sayembara puisi, kini ada fenomena baru yaitu sanggar cybersastra atau group puisi di facebook, di mana para anggotanya memiliki jaringan yang luas dan tersebar lintas batas dan dari berbagai macam kelompok strata sosial bergaul dan saling memberikan gagasan serta karya-karya mereka dalam group.

Fungsi sanggar yang tradisional memang tidak tergantikan keakrabannya, dari segi kehangatan tentu berbeda antara sanggar dengan komunitas cybersastra semisal group puisi di Facebook, namun dari segi kualitas serta daya jangkau memang ini sebuah fenomena tersendiri.

Tidaklah heran puisi 2 koma 7 tumbuh subur karena hal ini, kemudahan jangkauan, fasilitas yang mudah dan cepat, banyaknya informasi, serta apresiasi yang cepat ditanggapi membuat puisi 2 koma 7 ini tumbuh pesat sekali, sekitar 1.300 orang yang terdaftar dalam group ini yang tersebar dalam jangkauan daerah yang luas sampai ke luar negeri.

Membuat buku adalah salah satu cara untuk melestarikan sebuah karya menuju keabadian. Ini adalah sebuah rekam peristiwa yang tercatat. Hal ini akan lebih mudah lagi jangkauannya dalam menyebarkan atau mempopulerkan karya puisi atau gagasan baru, seperti halnya Remy Sylado dalam memperkenalkan puisi Mbelingnya di majalah Aktuil serta buku-buku puisinya ‘Mbeling’.

Dengan beredarnya puisi 2 koma 7 ini tentu akan direspon oleh para pembaca dari berbagai kalangan, dan interaksi tentu akan terjadi dan kita tidak tahu bagaimana interaksi ini disambut di kalangan masyarakat puisi di Indonesia, baik yang bersikap menerima dengan aktif, biasa-biasa saja atau kalangan sastra yang kritis. Ini merupakan ujian bagi puisi 2 koma 7, kita semua mengharapkan umpan balik itu, apa pun hasilnya.

Pertumbuhan dan perkembangan puisi 2 koma 7 ke depan bukan semata-mata tergantung dari para kritikus sastra semata, menurut hemat saya tergantung dari orang-orang yang memiliki dan mencintai serta meghargainya sebagai sebuah karya yang indah.

Kritikus sastra hanya sebagai medan uji atau secara akademik teori saja, namun yang penting adalah prakteknya, atau hasil mujarabnya bagaimana sebuah gagasan itu dicintai dan dinikmati.

Oleh sebab itu mari kita lihat bersama, bagaimana sebuah karya indah puisi 2 koma 7 ini direspon oleh masyarakat perpuisian di Indonesia, apakah ia memuisi atau tidak, Anda-lah yang tahu dan memilihnya.

JATUH CINTA

 Kulihat kupu-kupu di tanganmu

 Oh, kau memuisi

 (lifespirit, 1 Januari 2013)

KELUHAN CINTA

 Menatap selimut kesepian

Bersisian kabut adakah rindu?

 (lifespirit, 29 Januari 2013)

 Sebenarnya Hatiku yang Telah Kau Genggam

 (Puisi No. 1)

 Kau ada dalam gerabah,

setiap sentuhan tanganku

(Puisi No. 3)

Remaslah jari-jariku, genggamlah!

Milikmulah aku ini selamanya

Jakarta, 14/8/2013

*) Penulis kelahiran Jakarta, 14 Desember, tinggal di Jakarta, menyukai sastra, senang menulis puisi, prosa dan artikel mengenai sastra. Karyanya diterbitkan di beberapa media cetak dan media online seperti di : SKH Republika, SKH Mata Banua, Jurnal Kebudayaan Indoprogres, SKH Berita Minggu Singapura, SKH New Sabah Times, SKH Utusan Borneo, Kompas.com, Koran Atjeh Post, Koran Bogor, Jateng Times, Rima News, Radar Seni, RetakanKata, Jurnal Kebudayaan Tanggomo, Wawasan News, Angkringan News, Artadista.com, Majalah Sastra Digital Frasa, Majalah Review Malaysia, Ourvoice, Sastra Kobong.

Karya puisinya telah dibukukan dalam antologi bersama beberapa penyair manca negara : ‘Lentera Sastra’ diluncurkan pada tanggal 22 Juni 2013 di Kuala Lumpur bersama komunitas Puisikan Bait Kata Suara, ‘Manusia Dan Mata-Mata Tuhan’ bersama komunitas Coretan Dinding Kita, ‘Jendela Senja’ bersama komunitas Kabut Tipis, sedangkan buku Cinta Rindu Dan Kematian di komunitas Coretan Dinding Kita sedang dalam proses cetak.

Saat ini aktif menulis di sastra cyber (cybersastra) dan memiliki halaman puisi yang diberi nama : Info For Us by Sonny H. Sayangbati di media sosial Facebook, dan beberapa website sastra.

 Penulis bisa dihubungi di alamat email : sonny_sayangbati@yahoo.com dan sonny14sayangbati@gmail.com

Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

Kabar Budaya – RetakanKata

festival blog sastra indonesiaMendasarkan pemikiran yang ada di sini dan menyadari bahwa setiap pemikiran dalam upaya menumbuhkembangkan seni dan sastra Indonesia adalah berharga maka RetakanKata menyelenggarakan Festival Blog Sastra Indonesia.  Untuk FBSI kali ini khusus diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap pelajar dan mahasiswa yang secara mandiri menuliskan karya-karyanya di blog. Untuk FBSI yang bersifat umum, kami menunggu kalau sudah ada sponsornya. Yang berminat menjadi sponsor FBSI untuk umum, silakan menghubungi Redaksi RetakanKata.

Untuk mengikuti festival ini, simak ketentuan-ketentuan berikut:

Kriteria Peserta

  • Pelajar dan atau Mahasiswa warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.
  • Usia peserta antara 17 – 30 tahun.
  • Memiliki blog pribadi yang berusia minimal 3 bulan.
  • Sudah menjadi follower RetakanKata. Jika belum, sila daftarkan dulu blog atau user email pemilik blog sebagai follower blog yang ada di sidebar blog RetakanKata. (Perhatikan: follower blog bukan follower di facebook atau twitter)

Kriteria Blog

  • Blog mengandung unsur tema seni dan budaya Indonesia (tidak terbatas pada seni tulis saja). Blog yang –minimal-, memuat puisi, cerpen atau otobiografi, diperbolehkan ikut serta.
  • Blog bersifat pribadi dan mandiri. Artinya blog bukan merupakan bagian dari blog keroyokan atau blog yang diisi oleh banyak orang.
  • Tidak ada batasan dalam penggunaan platform blog (wordpress, blogspot, blogger, multiply.)
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mendaftarkan satu blog.

Ketentuan Umum dan Tata Cara

Peserta mendaftarkan blog yang diikutsertakan festival blog sastra Indonesia dengan tata cara sebagai berikut:

1)      Kirim surel (email) dengan subyek “DAFTAR FBSI_NAMA” ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri:

a)      identitas diri (copy/scan) kartu identitas pelajar/mahasiswa

b)     nama dan alamat blogmu, logo atau image Blog (ukuran maks 400×400) dan slogan (tagline) atau deskripsi blogmu (maksimal 120 kata). Buatlah sebagus-bagusnya sebab deskripsi blogmu akan ditampilkan di laman FBSI.

2)      Lakukan reblog atas artikel festival ini dan pasang banner FBSI di laman depan (frontpage) blogmu.  Jangan lupa mentautkan banner dengan alamat link yang mengarah ke laman (page) FBSI.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
https://retakankata.com/fbsi/

3)      Jika proses pendaftaran di atas sudah purna, maka logo dan deskripsi blogmu akan ikut tampil di laman FBSI.

Keuntungan yang Didapat

  • Memperkenalkan blogmu pada pembaca yang lebih luas
  • Kamu bisa saling tukar menukar link dengan sesama pecinta sastra
  • Menambah kenalan para pecinta seni dan budaya dari seluruh Indonesia
  • Dan tentu saja, yang beruntung akan mendapat hadiah atau uang pengembangan blog sebagai berikut:
  1. Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,-
  2. Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,-
  3. Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,-
Kriteria Penilaian

Penilaian blog akan ditentukan dengan menggunakan gabungan cara-cara berikut:

  1. Penilaian juri independen
  2. Popularitas (rating) dan pendapat atas blogmu di laman FBSI. Gunakan hashtag #festivalblog untuk mengundang kawanmu di twitter dan google plus untuk memberi komen dan memberi rating logo blogmu di laman FBSI.

Untuk mengetahui rating dan pendapat, kamu dapat klik logo blogmu di laman FBSI.

  • FBSI akan dimulai sejak 16 Desember 2012 dan ditutup pada 10 Januari 2013.
  • Periode penilaian dimulai sejak 10 Januari 2013 sampai 10 Februari 2013.
  • Target pengumuman lomba tanggal 14 Februari 2013.

Contoh tampilan festival blog akan seperti Galeri Foto. Jika logo atau foto yang ditampilkan di-klik, maka akan tampak gambar diperbesar.

Di gambar tersebut terdapat tombol komentar, reblog dan suka. Kawanmu bisa memberi rating suka dan meninggalkan balasan di ruang komentar -di bawah nama gambar-. Jadi, tunggu apa lagi, ajak kawan-kawan bloger memperkenalkan blog-blog sastra di seluruh Indonesia melalui Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

Mana Ina

Cerpen Agus Wepe

1

Kami duduk berhadap-hadapan di meja foodcourt[1] yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan bongkahan esnya yang besar-besar. Bu Bodro jelas lupa bahwa aku tak boleh kebanyakan es. Ina mengamatiku membuang bongkahan-bongkahan es itu tanpa ekspresi. Ah—Ina, mana senyummu itu?

Ina tak memesan apa pun. “Kau tak makan?” tanyaku. Ia hanya menggeleng tanggung. “Di sini makanannya terlalu banyak vetsin,” jawabnya. Ah, terlalu banyak hal yang telah kupikirkan. Ina pun sudah dewasa. Ia pasti tahu kapan saatnya lapar, dan kapan saatnya untuk berselera-makan. Tapi ia tidak makan sedari pagi. Aku tahu—aku sudah tanyakan pada ibunya tadi pagi. Sarapan buatan ibunya tak terjamah. Kuputuskan untuk bangkit dan mencari Bu Bodro.

Kupesankan Ina sepiring nasi berlauk tempe dan selada rebus. Sudah jelas ada makanan tanpa vetsin begini, kenapa ia masih tak mau makan? Terlalu banyak aku bertanya, terlalu banyak alasan yang telah ia persiapkan.

Kulihat ia mengetuk-ngetuk terali besi yang memagari foodcourt dengan kuku jarinya. Kusodorkan makanan kepadanya. “Makan,” kataku. “Kalau kau tak makan, nanti aku dimarahi ibumu.”

Yang kumaksud adalah ibu angkatnya. Ia sangat perhatian kepada Ina. Ia menikah dengan ayah Ina karena ia steril[2], dan ia sangat menyayangi Ina sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Ina makan dan sesekali berhenti untuk memainkan sendoknya. Rautmukanya masih datar. Suasana hari ini pun benar-benar datar. Spanduk iklan obat maag yang melekat di terali sesekali berkibar pelan, tertahan oleh buntalan plastik berisi air yang digantungkan pada kedua ujungnya. Angin semilir tanggung. Meski foodcourt ini menghadap lapangan luas, pusaran angin kecil yang biasa menerbangkan dedaunan kering pun tak muncul kali ini. Tapi aku makan dengan lahap. Di kejauhan, pemilik kios lain memutar musik koplo keras-keras. Jari-jari kakiku mendadak bergerak membuat ketukan.

Dua bulan lalu, semua masih terasa menyenangkan. Kami begitu girang menjajal hal-hal baru; mendaftar ke klub pecinta alam, pergi ke seminar kewirausahaan sambil bergandengan, mencoba makanan di restoran yang baru dibuka, atau sekedar cekikikan sambil mengepas baju di mall. Kami tutup facebook kami, berharap ini tak akan jadi ajang mencari obyekan lagi.

Lihatlah kini—Ina jadi begitu membosankan. Ia tak pernah lagi mencubit. Ia tak pernah lagi mengingatkan untuk bangun pagi. Tak pernah ada lagi resep-resep baru yang ia ceritakan. Yang ada hanya tatapan yang seakan menuntutku untuk melakukan sesuatu.

“Aku tak lapar. Mas tahu itu. Mas harusnya tahu itu.”

Kutengok piringnya—masih penuh, lauk dan sayurnya teraduk-aduk kacau.

“Aku selesai,” kataku. Ina hanya menatapku, masih dengan mengaduk-ngaduk makanannya. Makanan kubayar. Semua, milikku dan Ina.

“Selesai,” tegasku. Aku melangkah keluar. Ina memanggilku kembali. “Mas!” teriaknya—“Aku pulang sendiri”.

Aku hanya membuang wajah.

Dari kejauhan, kulihat Ina makan dengan lahapnya—sambil sesenggukan.

***

2

cerpen agus wepe
Gambar diunduh dari kompasiana.com

Seorang perawat masuk dengan sebuah baki. Sebentar ia bercakap dengan Harjiyo, kemudian menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya. Ia kemudian meletakkan sebuah wadah berisi dua butir pil ke atas meja. Sanah, istri Harjiyo, mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga suster berusia tigapuluhan itu. Yang dibisiki kemudian mengajak berbincang di luar.

“Ini biasa terjadi, Bu. Memang biasanya badan ngilu, mual-mual—ini efek samping obatnya. Ibu mendampingi saja, diajak ngobrol dan berdoa. Memang harus telaten, Bu.” terang suster itu.

“Tapi saya ndak tega melihatnya, Sus. Bapak itu sudah kering-kerontang, tinggal tulang. Masih mau disuruh sakit-sakit begini.”

“Iya, Bu, saya tahu. Mungkin ada orang yang sangat Bapak sayangi, atau yang bisa membuat perasaannya tenang. Ibu bisa mendatangkannya ke sini. Ibu bantu saja agar Bapak merasa nyaman, ya.”

“Iya, Sus.”

“Baik Bu. Saya pamit dulu. Nanti jika butuh sesuatu, saya ada di pos perawat di ujung sana. Mari, Bu.”

Wajah Sanah masih terlihat khawatir ketika perawat itu pergi. Sebentar terdengar suara batuk-batuk dan erangan Harjiyo. Tergopoh-gopoh Sanah masuk untuk menenangkan suaminya itu.

“Ina mana, Nah?” tanya Harjiyo.

“Nanti sore, Pak. Pasti dia datang.” Sanah berkilah.

“Betul itu? Badanku sakit, Nah.”

“Iya, Pak. Nanti pasti hilang sakitnya.” Sanah mengelus kaki Harjiyo.

“Aku mati saja, Nah.”

“Hus—ini Ina sebentar lagi datang.”

Harjiyo menunggu hingga petang, hingga ia tak mampu lagi menahan sakit di tubuhnya. Ia jatuh tertidur. Hingga larut Ina tak datang.

***

3

Entah karena tayangan iklan televisi atau suatu sebab lain, sore itu Aning mencoba membuat teh yang paling sedap sedunia. Barangkali teh hangat itu mampu mencairkan kegundahan yang mengerak di hati suaminya. Bismillah, Tuhan pasti tahu jalan terbaik.

Hanya ada Aning dan Hendro di rumah. Hari magrib, namun si anak semata wayang belum juga pulang dari kampus. Hendro yang sedang rebah di kursimalas mendadak terbangun mendengar suara nampan beradu dengan permukaan meja. Aning mengambil tempat duduk di samping suaminya.

“Teh, Pak.”

Hendro menggosok matanya.

“Ya. Lha Ina mana?”

Aning mengangkat bahu. “Mungkin ke rumah Anam. Tadi pagi ‘kan, dijemput Anam ke kampus. Lagian, hapenya ketinggalan.”

“Oh—”

Hendro menyeruput tehnya, lalu membuang napas keras-keras. Aning senang mendengarnya. Teh sore ini memang enak, ternyata. Ya, mungkin memang inilah saat tepat untuk mendekati suaminya.

“Pak.”

Jantung Aning berdebar. Ia harus mampu membujuk Hendro.

“Kita jenguk Bapak, ya?” rayunya. Hendro terkesiap. Ia kira istrinya tak akan membahasnya kali ini. Namun, rupanya Aning masih selalu dihantui rasa bersalah terhadap mertuanya.

“Pak?”

Hendro masih ragu. Bapak marah. Bapak marah kepada Aning. Bapak marah karena Ina ikut tinggal dengan Aning. Tapi Bapak sakit. Sekarat malah.

“Kita bahas nanti,” tukasnya.

“Nanti kapan, Pak?”

“Ya nanti! Kita tunggu Ina pulang!”

Hendro mendengus kesal. Ia ingin menyalahkan istrinya, namun keputusannya untuk menikahi seorang perempuan mandul adalah keputusan yang ia buat sendiri. Ia sudah dewasa, punya anak gadis pula. Tak adil jika ayahnya tak merestui pernikahannya dengan Aning.

***

4

Pagi hari, Ina belum pulang. Entah ia menginap ke mana. Hendro tak peduli. Aninglah yang sangat khawatir kepada Ina. Ia sudah menghubungi Anam, namun Anam sudah tak bertemu dengan Ina sejak kemarin siang. Baru saja ketika ia hendak mencari ke kampus, datanglah SMS dari Ina, mengabarkan bahwa ia menginap di tempat kos kawannya. Ini pun cukup melegakan bagi Aning.

Pagi itu juga, rupanya Aning telah merencanakan sesuatu. Selepas Hendro berangkat ke kantor, berkemas ia membawa berbagai macam makanan dalam rantang. Ibu pasti lapar, pikirnya. Ia harus berani menemui mertuanya.

Aning sampai di rumahsakit tepat ketika Sanah tengah menyeka tubuh Harjiyo. Bau pesing bercampur desinfektan menyeruak dari seluruh ruangan. Aning berkempis hidung sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

S’amlekum,” Aning menguluksalam.

Alekumsalam, mangga pinarak[3].”

Aning sedikit terkejut melihat keadaan Harjiyo yang sedemikian rupa. Rambut gondrongnya telah habis, hanya tersisa kepala licin berhias segaris urat yang menonjol dan bercak-bercak hitam penuaan. Kakek bertubuh gempal itu telah banyak mengempis, tersisa balung-kulit[4] saja.

“Bapak?”

Harjiyo ingin mengangkat kepalanya, namun tak kuat. Sanah memberi aba-aba kepada Aning untuk mendekat. Datang ia berjongkok di depan ranjang pasien. Harjiyo mengangguk lemah.

“Kamu?”

“Iya, saya, Pak. Aning.”

“Ina? Mana Ina?”

“Ina, Pak?”

“Iya, anak—kamu.”

Wajah Aning bergetar. Matanya mulai merambang. “I—iya—anak saya?”

Harjiyo tersenyum. Aning mulai sesenggukan. Lemah ia menjawab:

“Pasti, Pak. Sore ini dia pasti datang.”

“In—ini—”

“Iya, Pak?”

“Kesempatan terakhirmu, untuk tidak berbo—hong.”

Perasaan Aning semakin kacau-balau. “Bapak memaafkan saya?”

“Ma-na—In-na!”

***

5

Aku duduk di meja foodcourt yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan sedikit bongkahan es. Tak ada yang mengamatiku membuangi bongkahan itu.

Tadi pagi Ina telepon. Ia katakan bahwa ia tak pulang. Kami harus bertemu. Sore ini juga. Harus ada sesuatu yang diketahui. Harus ada sesuatu yang dipahami. Akung[5] sakit, katanya. Bapak dan Ibu tidak bisa menjenguk Akung, katanya.

Aku tak pernah paham seperti apa sebenarnya jalan pikiran Ina itu. Kadang ia bisa sangat menyenangkan, kadang sebaliknya. Ia bisa jadi sangat tertutup dan pendiam. Kadang ia bisa begitu senangnya, hingga ia tak segan-segan datang ke rumah hanya untuk memberitahukan bahwa resep buatannya berhasil. Di lain waktu, ia bahkan tak mau meneuiku sama sekali ketika aku datang ke rumahnya.

Memangnya semua perempuan seperti itu?

Aku menunggu agar muncul pemahaman yang sempat tertunda.

Hingga petang Ina tak datang.

 

 

Banyumas, 22012012


[1] pusat jajanan berupa kios-kios kecil yang dihimpun di bawah satu atap

[2] mandul, tidak subur

[3] silakan masuk

[4] tulang dan kulit, sangat kurus

[5] kakek