Revolusi dan Kesusastraan

Goenawan Muhammad
Goenawan Muhammad (Photo credit: Wikipedia)

Gerundelan Goenawan Mohamad

Jika revolusi adalah “pengejawantahan budi-nurani kemanusiaan”, seperti dikatakan Presiden Soekarno, bisakah kita menolak menempatkan diri di dalamnya? Di tahun 1948, di Perancis, Albert Camus berkata: “Bukan karena perjuanganlah kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang-pejuang”. Dengan kata lain ada hubungan yang wajar dan logis antara keduanya. Kita tak perlu melepaskan kesenian dari diri kita dalam revolusi atau perjuangan itu. Kesenian dan kesusastraan juga suatu “revolusi”:secara langsung atau tak langsung ia memperjuangkan kembali untuk hati nurani yang pada suatu masa dikaburkan, atau belum ditemukan, oleh suatu sejarah. Maxim Gorky, Multatuli, Jose Rizal. Dalam kenyataan juga sering terlihat, bagaimana benih dan semangat revolusi terungkap dengan jelas dalam karya-karya sastra.

Tapi tidakkah dengan begitu kesusastraan akan merupakan propaganda revolusi, suatu alat? Kesusastraan bukanlah semata-mata alat, meskipun mempunyai aspek itu, seperti kita mengakui bahwa kesusastraan bukanlah pensil atau pistol. Sebab kesusastraan mengandung fungsi komunikasi yang langsung. Ia membutuhkan faktor kemerdekaan, agar sifatnya tetap otentik. Jika kita memang membutuhkan kesusastraan sekarang dan di sini untuk itu, keretakan antara kesusastraan dan revolusi tidak harus terjadi.

Keretakan antara kesusastraan dan revolusi terjadi bila salah satu menjadi reaksioner, menyimpang dari cita-cita semula. Dalam sejarah memang terjadi hal itu, ketika kekuatan revolusi berpindah kepada kekuatan kekuasaan. Di situ sebenarnya telah terjadi sektarisme. Di situ sebenarnya telah terjadi penganutan paham, aliran atau sistim pemikiran secara dogmatis serta tegar, dan telah tumbuh sikap tak terbuka dalam menghadapi persoalan, dalam mencari kebenaran suatu masalah. Di situ telah terjadi kecenderungan kuat untuk menolak atau memalsukan kebenaran-kebenaran yang tidak tercakup oleh pemikiran sendiri. Dengan kata lain: satu proses kebohongan. Jika revolusi telah berpindah kepada kekuatan kekuasaan semata-mata, maka dasar kemanusiaan yang terdapat dalam tujuannya semula pun digilas dan dihancurkan.

Bagi kesusastraan itu merupakan suatu kontradiksi. Tak ada suatu kreasi kesusastraan yang berharga tanpa mempunyai dasar semacam kasih. Tentu saja harus dimaklumi, bahwa tindakan-tindakan politik, adanya penggunaan kekuasaan dalam revolusi – yang sering bisa mengganggu tidur nyaman dan hati nurani kita – merupakan suatu hal yang tak terelakkan sama sekali. Hanyalah harus dijaga, agar kita tidak kemudian menjadi kebal dan tebal muka akan kejadian-kejadian demikian. Saya kira justru di situlah letak kesusastraan dalam revolusi: di satu pihak ia adalah kritik terhadap kebudayaan yang harus tumbang oleh revolusi, di lain pihak ia adalah kritik terhadap ekses-ekses revolusi sendiri.

15 September 1962

Naskah diambil dari Buku Kesusastraan dan Kekuasaan

Soal Ham dan Pemberangusan: Sekitar Polemik Pramoedya Lekra vs Manikebu

Oleh A.Kohar Ibrahim

polemik kebudayaanBung GM, dalam tanggapannya, antara lain menegaskan:

“Bagi saya, yang perlu adalah merintis bersama sebuah masa baru bagi Indonesia, setelah kita menempuh sebuah masa silam yang berdarah, kotor dan penuh kebencian – agar semua itu tak terulang lagi.”

Implementasi kongkritnya bagaimana? Secara prinsip saya setuju sekali dengan itikad yang luhur itu, dengan menarik pelajaran dari pengalaman. Tetapi baru pendapat orang perseorangan macam Bung GM. Hanya seorang penandatangan Manikebu juga peserta KKPI atau anggota PKPI. Tapi bagaimana yang lainnya? Seantero anggota, sponsor dan pendukungnya. Terutama sekali kaum militeris yang kemudian memegang tampuk kekuasaan Orba Jendral.

“Sudah lama saya telah memilih jalan ini, dan melakukan apa yang saya bisa, di tengah situasi yang tak mudah di bawah pengawasan Orde Baru,” tegas GM.

Iya. Bagaimana pula dalam praktek atau kenyataannya? Untuk itu saya acungkan jempol. Namun, lagi-lagi hanya “sebatas” skop “ke-saya-an” Bung GM sendiri. Bagaimana kongkritnya yang lain? Yang bersifat kolektif, terorganisasi atau kelembagaan. Baik berupa penerbitan majalah Horison, pendudukan di lembaga-lembaga penerbitan lainnya maupun berupa Dewan Dewan Kesenian, seminar, konferensi ini dan itu? Bukankah semua posisi penting aktivitas kebudayaan dan kesenian tersebut telah dihegemoni kaum Manikebuis alias pendukung Orba Jenderal belaka? Sedangkan orang-orang macam Pram atau orang-orang Lekra dan lainnya tetap saja berada di luar pagar, difitnah dan dimusuhi? Bahkan ketika ada pujian, penghargaan atau pembelaan secara obyektif atas hasil kreasi mereka pun, terhadap kaum yang peduli bukan saja tak diucapkan terima kasih malah dimusuhi pula adanya?

Sungguh, saya pun masygul, Bung GM. Jika mengingat bagaimana perilaku kaum penguasa kebudayaan Orba Jendral mengibar panji humanisme universil, pembela dan yang mempersucikan Pancasila dengan Sila Perikemanusiaan, namun dalam prakteknya berkenaan dengan kekuasaan, ternyata hanya menjalani tongkat komando kaum militeris anti-komunis. Mengucilkan semua mereka yang diberi cap terlibat “G30S/ PKI”, sebagai kaum penganut ideologi diharamkan: MarxisLeninis-Komunis. Makanya sah-sah saja terus diberangus, tidak diizinkan mengekspresikan diri yang merupakan hak azasi baik dengan tulisan (di penerbitan berupa majalah dan koran-koran) maupun secara lisan di berbagai forum seminar atau konferensi.

Iya mengingat semua itu, sungguh saya masygul, Bung GM. Kemasygulan yang agak terlipur ketika berupaya memahami persoalan, dan mendapatkan informasi seorang Indonesianis macam David Hill, dari makalahnya berjudul “Siapa Yang Kiri” (Sastra Indonesia Pada Mula Tahun 80-an). Menurut David Hill, konferensi atau seminar di TIM (diorganisir oleh Horison dan Tempo), dan penerbitan majalah adalah dalam rangka implementasi politik anti-komunis. Majalah Horison, yang didirikan dalam bulan Juni 1966, selama bulan-bulan sengit setelah coup yang menaikkan kaum konsevatif ke atas tahta adalah barisan depan seniman sayap kanan. Dengan menggelarkan Mochtar Lubis sebagai pimpinan, yang kepadanya seniman-seniman muda menganggapnya sebagai tokoh pimpinan politik dan kesenian, maka dewan redaksi mengumpulkan banyak penanda-tangan Manifes Kebudayaan dan mengabadikan pandangan seni dan sastra tersebut.”

Begitulah, antara lain, fakta yang mencerminkan betapa pesta kemenangan kekuasaan yang berjaya dari kaum Manikebuis. Dalam kaitan penikmat menikmati kekuasaan di institusi kebudayaan, saya jadi teringat akan adanya (lagi, seperti diinfokan David Hill) Seminar yang diorganisir Horison bulan Agustus 1982. Dengan topik tentang “Peranan Sastra Dalam Perubahan Sosial” yang diilhami oleh polemik antara Goenawan Mohamad dan Sutan Takdir Alisyahbana, mengenai fungsi sosial kesusastraan dan nilai tulisan berkonteks sosial. Muncul beberapa komentar. Akan tetapi, menurut David Hill, “penyair Sutardji Calzoum Bachri umpamanya, tidak melihat keharusan menggunakan puisinya sebagai mekanisme perubahan sosial. Ia mentertawakan dan meremehkan soal itu dengan menyatakan bahwa seorang penyair itu bodoh untuk membacakan sajak ketika berhadapan dengan tank yang sedang maju.”

Tetapi, tertawaan dan opini Tardji itu bisa jadi inspirasi untuk menggubah parodi: Bagaimana kalau para penyairnya itu bukan dalam posisi berhadapan dengan tank, melainkan membonceng atau ngintilin di belakang? Seperti yang terjadi di tahun 1966: Bersama pasukan militer “Yang Menang Sebelum Bertempur!”

Duh! Ironisnya! Tak urung para penyair, pengarang dan jurnalis macam itu juga yang setelah terjadinya kudeta militer berhasil, jadi bagian pelaksana mesin propaganda Orba Jendral. Menduduki posisi-posisi penting berbagai lembaga media ma-ssa maupun dewan-dewan kesenian di Jakarta maupun di dae-rah. Maka pemberangusan terhadap para wartawan, budayawan, seniman, sastrawan dan penyair oleh penguasa Orba Jenderal dilanggengkan. Bukan setahun dua tahun, tapi ber-dasa-dasa-warsa lamanya!

Ah, Bung GM, bagaimana orang semacam saya tak masygul mengingat kenyataan ini? Dan korbannya bukan hanya saya seorang, melainkan syak-gudang banyaknya! Termasuk yang paling kondang: Pramoedya Ananta Toer.

Lantas saya jadi tergugah seraya menggugat karena ujar kata Voltaire: “Sungguh pun aku benci pandanganmu, tapi akan kubela dengan jiwaku sendiri hakmu untuk mengutarakannya.” (MIMBAR N 1, 1990; Amsterdam, Editor: Dipa Tanaera alias A.Kohar Ibrahim).

Sungguh! Kisah-kisah ragam macam lagu manusia itu memang bisa merupakan tragedi dan bisa sebagai komedi, bahkan bisa digubah ubah jadi parodi!

Dalam soal pemberangusan untuk berekspresi menyatakan perasaan dan pikiran yang merupakan salah satu hak azasi manusia, agaknya sikap dan kesadaran orang memang ternyata tidaklah seragam. Bisa cepat sadar bisa pula bebal tak ketulungan! Ada juga yang menafsirkan atau memberi warna menurut selerasanya sendiri-sendiri. Seperti tafsiran ala Ikra dan semacamnya. Sedangkan bagi saya: Humanisme hanya satu! Yakni Humanisme itu sendiri. Karena, meskipun sekian miliar jumlahnya, sekian banyak macam warna dan besar kecilnya, umat manusia itu ya seumat manusia belaka yang jadi penghuni bola bumi yang bundar dan indah ini. Iya, tak?

Oleh karena itu, kiranya bisa Bung GM ketahui sudah, dengan penerimaan saya atas HAM yang dideklarasikan 10 Desember 1948 oleh PBB, dan penganut opini Voltaire tersebutkan itu, maka jelaslah posisi saya.

Akan halnya untuk memberikan pembuktian, akan jejak langkah saya atau aktivitas-kreativitas saya, memang tidak nampak oleh Bung GM, yah? Bukan salah Bung. Pun bukan salahku! Tapi terutama sekali salahnya sang penguasa Orba Jendral itu, lho!

Tapi, bagaimana pun juga, meski bak setetes air di samudera, bisalah dilacak jejak-langkah saya itu. Baik dalam karya lukis atau gambar maupun karya tulis atau penerbitan. Termasuk yang membela penerbitan Bung ketika dibredel Orba Jendral. (Simak Majalah ARENA N 14 1995, Culemborg. Editor : A.Kohar Ibrahim).

*

Catatan:

(1).Naskah ini pertama kali disiar milis ACI – Art-Cultur Indonesia, kemudian beberapa media internet lainnya.

Dipetik dari buku: “Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu” Penerbit: Titik Cahaya Elka, Batam.

(2).Biodata: tertuju bagi peminat dan pembaca mengetahui tonggak-tonggak jejak akivitas kreativitas Abe A.Kohar Ibrahim.

Sajak Renta Murniatun

Cerpen Ewin Suherman

gambar diunduh dari http://onlyblog.blog.tiscali.it
gambar diunduh dari http://onlyblog.blog.tiscali.it

Sajak-sajak itu berceceran di atas meja lusuh. Meja lembab karena tersiram tumpahan kuah sayur bening yang meluber dari piring saat aku mengambilnya dari panci peot, untuk teman makan nasi pera. Nasi yang dimasak dari beras dolog. Beras raskin yang dihargai lima ribu rupiah per dua kilo.

Sajak-sajak itu tidak hanya berceceran. Namun juga lapuk digelayuti debu. Kusut disesapi udara sembab dengan aroma asin pengab menusuk penciuman. Sajak yang telah sama renta dengan ragaku. Ragaku yang lelah seperti hari yang menyerah kepada senja. Lalu pasrah ditindih malam, dilekatkan kepada gelap.

Dia, sajak-sajak itu, sebelum terbengkalai seperti mati, aku telah melupakannya terlebih dahulu. Aku melupakannya tiap kata. Per kalimat. Lalu paragraf. Aku telah melupakannya, kadang karena tidak disengaja. Namun lebih sering karena aku yang menyengaja.

“Kenapa?” tanya Sumitro, kakak laki-lakiku, yang semenjak kecil telah mengajarkanku bersajak. Menggantikan Abah selepas beliau mangkat, tepat satu jam beliau pulang dari bersajak karena ditanggap salah seorang kerabat di desa sebelah.

Kenapa? Pertanyaan yang sekalipun tak pernah aku jawab. Pertanyaan yang terus dia ulang, adalah ketika ia mulai mencium gelagat kejauhanku dari sajak dan bersajak. Ketika ia mulai sadar, bahwa aku lebih sering meluangkan waktu untuk bersama dengan teman-teman baruku, yang diberikan oleh Mas Rahmadi dan Yusuf, suami dan anakku, sebagai ganti mereka menemaniku, sebelum mereka pergi jauh dan malah meyakinkan bahwa mereka tak akan pernah kembali. Kecuali aku yang justru akan menemui mereka kelak. Di rumah baru mereka, yang entah di mana, aku tak tahu. Juga sama sekali tak mengerti apa maksud yang mereka katakana sebelum masing-masing pergi meninggalkanku bersama dengan teman yang mereka berikan sebagai ganti.

Terkadang, pada saat-saat tertentu, di dalam kebersamaanku dengan Sumitro, pikiranku akan menemui titik cerna. Melumat perkataan, baik Mas Rahmadi dan Yusuf, adalah menyoal kematian. Hidup setelah mati.

Akan tetapi, aku tak bisa menelannya lebih banyak lagi. Akan ada rasa sakit yang luar biasa. Yang saking sakitnya, malah membuatku tak bisa menahan tawa. Dan dari sana, hanya teman-temanku saja yang ikut menemaniku. Tertawa terpingkal-pingkal tanpa ada rasa takut orang akan menyebut kami gila.

Terus kami tertawa, hingga aku mulai lupa, dan membiarkannya itu terjadi, lupa dengan sajak dan bersajak. Dan lagi dan lagi, Sumitro bertanya, kenapa? Perihal yang terkadang membuatku jengah terhadap sikapnya. Alih-alih menampakkan dirinya yang kembali memegang tanggung jawab penuh atas diriku, karena aku kembali melajang, justru membuatku merasa dipagari. Aku merasa seperti didikte.

Seperti hari ini, beberapa jam yang lalu, sebelum malam dan hening, Sumitro tergopoh-gopoh mendatangiku. Meninggalkan dua orang tamunya di depan, hanya untuk bertanya, kenapa? Lalu, tanpa memperhatikan jawaban dariku, dia memintaku untuk tidak tertawa keras-keras untuk demi menghormati dua orang tamunya.

Oh, tidakkah ia melihat perihal apa yang membuat diriku tak bisa berhenti menahan tawa? Bahwa Nyi Dewi, temanku yang diberikan oleh Yusuf dan Mas Rahmadi, tengah menirukan bagaimana lucu dan konyolnya seorang lurah dari desa sebelah. Lurah itu meminta Nyi Dewi agar tidak pergi meninggalkannya dan berteman denganku. Nyi Dewi menyulap tubuhnya menjadi lebih gempal sekaligus lusuh. Perutnya buncit dan melorot, seakan hendak jatuh ditarik gravitasi. Mulutnya ia monyong-monyongkan, sesekali menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning beraroma tengik.

Aku tak mengerti dan bertanya, apakah karena Nyi Dewi yang selalu bersamaku, membuatku lupa untuk bersajak, membawa Sumitro begitu membencinya? Sehingga melihatnya pun ia tak sudi. Oh, bukankah dia sendiri yang memintaku untuk tidak larut dalam luka atas kepergian Yusuf dan Mas Rahmadi? Menyuruhku untuk menjemput kebahagiaanku yang lain? Lantas, inilah kebahagiaanku. Bersama dengan Nyi Dewi dan terkadang juga teman-temannya yang lain. Akan tetapi mengapa Sumitro berkeberatan dan tak memperbolehkan diriku untuk tertawa?

 “Karena kalau mereka teman. Mereka tidak akan membiarkanmu lupa dan malah melupakan sajak-sajak yang diajarkan Abah dulu,” kata Sumitro pelan, setelah ia dengan begitu tidak sopan mengusir Nyi Dewi dari beranda rumah kami, beranda tempat biasa kami bersua.

Oh, dua kubu dalam saat yang bersamaan membuatku limbung. Nyi Dewi dengan dunianya mampu menyingkirkan segala lara yang pernah menghujamku beberapa saat. Beberapa saat namun rasanya membuatku jatuh dan mengeluh, kenapa aku dilahirkan untuk menikmati segala lara itu? Menyaksikan semuanya terjadi di depan mataku?

Sementara Sumitro, ia dengan pelukan dalih peran dan tanggung jawabnya lagi terhadap diriku, paling tidak sampai nanti aku kembali menikah. Sumitro dengan segala kebenaran yang dilakukannya. Dan aku yang melihatnya demikian. Tak ada celah di dalam dirinya. Tak ada tempat meski sejengkal untuk satu laku timpang. Ah..

Namun begitu, seperti ujar yang sangat lama dan tua, yang digembar-gemborkan, bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Maka rasanya tidak salah, jika jalan yang kupilih untuk kembali tertawa adalah dengan menerima apa yang ditinggalkan oleh suami dan anakku. Nyi Dewi. Tidak selalu dengan Sumitro, meski tak boleh aku menyangkal, atau menolak bahwa ia adalah orang yang paling bertanggung jawab di dalam hidupku kini. Walaupun keberadaannya tidaklah ia bisa mengangkatku dari ingatan terhadap Yusuf dan Mas Rahmadi. Ingatan yang terus melemahkan dan melukaiku.

Pun untuk bersama-sama dengan Nyi Dewi, tetap harus ada yang kutinggalkan. Harus ada yang aku korbankan. Dan itulah sajak-sajak. Yang diajarkan Abah yang kemudian diteruskan Sumitro. Itulah yang kutinggalkan. Sebab seiring dengan ingatanku terhadap anak dan suamiku, sajak-sajak itupun melukai Nyi Dewi. Membuatnya sangat kesakitan bila aku menyenandungkannya. Meski hanya selarik, tetapi itu akan membuat Nyi Dewi sangat merasa kesakitan.

“Itu salah, Murni,” bantah Sumitro dengan suaranya yang selalu halus dan pelan. “Pemikiranmu ,mengenai apa yang harus kau lakukan untuk mengambil keputusan itu keliru. Tidak seperti itu caranya. Melainkan…”

Ah, Sumitro belum juga mengerti. Atau mungkin dia malah menutup mata kepada hidup? Bahwa ia selalu mengenai pilihan. Seperti dirinya menjalani kebaikan apa yang menurutnya benar. Bukankah demikian pula dengan diriku? Kenapa dia harus memaksa? Bahkan untuk diriku bisa legowo atas kepergian anak dan suamiku.

Aku legowo. Hatiku sudah ikhlas. Toh itu semua juga berkat dirinya karena membuatku memutar kembali langkah-langkahku dan memulainya lagi dari awal. Tetapi mengapa dia berbicara -selalu berbicara- yang seolah-olah mengalihkan kalimatnya ke dalam bahasa yang lain menyebutku gila? Tak waras?

Menyindir hanya karena aku tak pernah lagi bersajak dan menemui-Nya. Tidakkah alasanku sangat jelas? Jawabanku begitu lugas ditanya kenapa aku tidak lagi menemuiNya? Itu karena Dia yang meninggalkanku. Dua kali malah Dia meninggalkanku. Pertama adalah ketika Yusuf pergi. Disusul dua tahun berikutnya adalah Mas Rahmadi. Lalu, untuk apakah aku menemui-Nya? Sementara aku sudah mendapatkan penggantinya untuk tersenyum?

Tetapi Sumitro memaksaku mengingat kembali sajak-sajak yang akan membuat kepalaku terasa sangat sakit bukan kepalang. Tak hanya itu, pun dia menghina Nyi Dewi. Baru setelah itu, aneh sekali, Sumitro tertawa terpingkal-pingkal sambil berkacak pinggang. Berbicara sendirian menggunakan bahasa yang sama sekali aku memahaminya, dan membuatku heran bagaimana ia bisa menguasainya sementara Nyi Dewi tidak sembarangan mengajarkannya? Atau dia menguping kami sewaktu-waktu, sehingga ia sangat lugas berintonasi dengan menggunakan bahasa kami?

Pradugaku, mungkin, mungkin sekali ini Sumitro kalah. Tak bisa menahan diri dari melihat kelucuan yang Nyi Dewi tampilkan? Sumitro tertawa terpingkal-pingkal dan berbicara sendirian. Sejenak seakan ia sedikit bertoleransi dan melupakan sajak-sajak. Ia lupa menemui-Nya. Dan, oh, sungguhkah aku diperkenankan untuk menyebutnya gila? Dia, Sumitro tidak waras? Sebab yang terlihat di mataku seperti itu. Atau hanya aku saja yang memang tidak waras? Aku gila. Ah..

Sumitro terus tertawa terpingkal-pingkal. Sampai matanya berair dan ia mengaku perutnya kram. Dia menyutujui tertawa membuat satu kesenangan tiada tara rasanya. Lalu, kulihat Nyi Dewi mulai menjauhiku. Mendekati Sumitro yang kini memandangnya setara dengan ketika ia menyebut sajak.

Kenapa? Pertanyaan itu kini bergilir memenuhi rasa ingin tahuku. Menjadi milikku sendiri. Sebelum semuanya dalam pandangannku menjadi senyap. Kecuali tawa-tawa Sumitro dan Nyi Dewi, yang gaungnya terdengar hingga larut malam.

Ewin Suherman dilahirkan di Tegal, 5 Pebruari 1985. Penulis bisa dihubungi melalui surel ewin.suherman@yahoo.com Atau kontak 0856-4349-2570.

Menggapai Kebahagiaan Bersama Ki Ageng Suryo Mentaram

Resensi Arif Saifudin Yudistira*)

Spiritualitas jawaKi Ageng Suryo Mentaram adalah sosok pemikir orisinil negeri ini. Sebagaimana dalam kosmologi jawa, Ki Ageng Suryo Mentaram melakoni “laku”. Laku yang dilakukan dengan meninggalkan segala yang duniawi, kekayaan, harta dan kekuasaan. Semua itu ditinggalkan untuk melakukan pencarian hidup yang sejati. Atau dalam istilah orang jawa sering dikatakan “sejatinya hidup itu apa?”

Ki Ageng tampak juga melakoni hidup ala falsafah budha. Ia meninggalkan hal yang bersifat materi untuk memuaskan hasrat rohaniah. Hasrat rohaniah ini ia jalani bersama kawula alit, di sanalah ia merasakan hidup dan kehidupan yang sebenarnya hingga berkesimpulan “Aku bukan aku” yang artinya bahwa kehidupan kita tak lain adalah bagian dari kehidupan orang lain. Adanya rasa kasih sayang dan tidak mementingkan diri sendiri. Marcel Bonnef menyebut langkah Ki Ageng Suryo Mentaram mirip Siddharta, untuk menyibak penderitaan manusia, kemudian mengawali pencarian yang berakhir pada “pencerahan”

Falsafah hidup

Pelajaran penting dari falsafah hidup Ki Ageng Suryo Mentaram penting untuk menghadapi dunia yang semakin materialistis dan bersifat rasionalitas mekanik. Ia menganggap hidup itu seperti layaknya takdir yang mesti dijalani. Bila seseorang sudah menganggap hidup itu adalah bagian dari takdir, maka seseorang akan menerima dengan iklas bahagia, sengsara, kaya ataupun miskin, atau juga warna-warni kehidupan. Ia mengajarkan “tidak ada sesuatupun di atas bumi dan di kolong langit yang pantas untuk dikehendaki dan dicari, atau sebaliknya ditolak secara berlebihan”. Artinya dalam kehidupan ini sifat “narima ing pandum” menerima bahagian hidup kita dengan iklas (hal. 15).

Di dalam buku ini, kita akan menemukan bagaimana sebenarnya Ki Ageng Suryo Mentaram penting diangkat kembali dalam khasanah pemikiran filsafat kita. Pemikirannya tentang falsafah hidup kebahagiaan perlu kita jadikan pelajaran penting. Ia mengajarkan pada kita tentang makna mawas diri. Hal ini mirip dengan yang dilakukan oleh syair yang diciptakan Paku Buwono IV: “benar atau salah keburukan atau kebenaran, juga kebahagiaan /atau kemalangan penyebabnya ditemukan/ dalam tiap-tiap diri kita/ dan bukan dalam diri orang lain/ maka dari itu kita mesti berhati-hati (pupuh VII,durma 3).

Pelajaran atau ilmu Ki Ageng sering disebut dengan istilah kawruh jiwa. Ki Ageng menjelaskan yang dimaksud kawruh jiwa itu tak lain adalah “pengetahuan tentang rasa”. kawruh jiwa bukan agama, yang mengajarkan baik dan buruk sebagai petunjuk harus berbuat begini dan begitu, bukan pula kewajiban atau larangan. Kawruh jiwa hanyalah pengetahuan, yang mencoba memahami jiwa dan hal-hal yang terkait tentang itu, sebagaimana pengetahuan tentang hewan dan pengetahuan tentang tanaman dan sebagainya (hal.57). Intinya pelajaran tentang kawruh jiwa adalah pengetahuan tentang bagaimana memahami “rasa” atau “jiwa” manusia. Di dalam kawruh jiwa itulah, kita akan menemukan falsafah hidup yang membawa manusia kepada kebahagiaan sejati, atau sejatinya kebahagiaan. Sebab dalam pandangan kawruh jiwa, hidup itu tak lain dari sementara atau kehidupan yang ibarat hanya mampir ngombe.

Ilmu bahagia

Bagaimana ilmu bahagia yang diajarkan Ki Ageng Suryo Mentaram? Hidup itu mesti dijalani dengan enam “sa”.  Sabutuhe (sebutuhnya), saperlune (seperlunya), sacukupe (secukupnya), sabenere (sebenarnya), samesthine (semestinya) dan sakpenak’e (sepantasnya). Dengan menjalani kehidupan yang enam “sa” tadi, diharapkan manusia itu tidak berlebihan, dan senantiasa menyikapi bagian dari hidup ini dengan sewajarnya dan waspada. Ki Ageng juga menggambarkan ini seperti mulur-mungkret, artinya hidup ini kadang harus diterima dengan dada yang lapang, kadang kita cukup, kadang kita mengalami saat kurang.

Dengan seperti itulah maka Ki Ageng tak merasa kekurangan, merasa dicukupkan dalam hidup meski ia bersama rakyat jelata dan meninggalkan istana dan segenap kemewahannya. Penggambaran Ki Ageng Suryo Mentaram ini ada dalam puisi Saini Kosim sebagaimana ditulis ulang oleh Bandung Mawardi. “Kutinggalkan gelar dan istana untuk menjadi penggali sumur. Kulepas dunia bayang-bayang dan kuraih wujud” (hal.135). Karena tindakan ini Ki Ageng mendapatkan cacian dari keraton dan atas kemauan kuatnya itu pula ia menemukan kebahagiaan sejati. Bahwa kebahagiaan menurut Ki Ageng yakni tidak mementingkan diri sendiri, dan selalu memperhatikan “rasa” dan perasaan orang lain.

Dari pengelanaan pemikirannya Ki Ageng menemukan konklusi: bila orang sudah memiliki “rasa” aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia. Maka dalam mengawasi keinginannya sendiri dan perjalanan hidupnya sendiri ia merasa itu bukan aku. Begitu juga dengan menanggapi dunia seisinya dan semua kejadian-kejadian orang pun akan merasa “itu bukan-aku”. Demikianlah rasa aku itu bahagia dan abadi. (hal.143).

Esai-esai dalam buku ini tak lain adalah untuk mengangkat kembali khasanah pemikiran Ki Ageng Suryo Mentaram tentang bagaimana menggapai kebahagiaan sejati. Pemikiran Ki Ageng dihadirkan kembali di abad 21 dengan pamrih orang atau manusia modern akan menilik ulang bagaimana kehidupan ini menjadi semakin rusak atau bahagia karena tak memahami “rasa” sebagaimana yang dituturkan oleh Ki Ageng Suryo Mentaram. Dengan membaca buku ini, kita menjadi semakin mengerti bahwa hidup itu mesti tak dijalani dengan puja uang, puja kekuasaan dan puja kemahsyuran. Sebab bila kita menilik pemikiran Ki Ageng, semua itu berarti belum menemukan “aku” yang sejati. Aku yang sejati bahagia dan abadi, tidak lain adalah aku yang menyadari bahwa semua yang ada dalam kehidupan ini tak lain adalah bukan dari “ aku” itu sendiri. Selamat menyelami pemikiran Ki Ageng yang tersaji dalam buku ini.

Spiritualitas jawaJudul Buku: Matahari Dari Mataram
Penulis: Afthonul Aif, dkk
Penerbit: KEPIK
Tahun: Oktober 2012
ISBN: 9 786 029 960 877

*) Penulis adalah Pegiat Bilik Literasi Solo, Pengelola kawah institute Indonesia

Puisi-puisi Sonny H. Sayangbati

1). Surat Dari Rumah

Selembar surat yang tertulis dalam kertas putih, tertulis dengan tinta biru, ditulis olehmu dengan huruf miring, aku terima seminggu kemudian, saat aku di Pontianak

Dua kali kamu menulis surat rindumu, selanjutnya kita tenggelam dalam liku-liku kehidupan, surat itu tertulis dan tersimpan dalam sebuah kamus, sebuah buku bagian darimu, kukenang

2). Satu Pintu

Setiap hari aku melewatinya,
sebuah rumah tanpa jendela,
tanpa lubang agin,
hanya satu pintu,
seseorang keluar dan masuk

Puisi Kolaborasi Sonny H. Sayangbati dan Muhammad Rois Rinaldi

3). Jalan Seorang Lelaki

Seorang lelaki menentukan langkahnya,
memilih jalan yang harus ditempuh,
menuju cahaya terang,
tanpa mengeluh dan lelah,
karena cinta-Nya

4). Kekasihku

Dia seperti angin sepoi-sepoi,
meniup dalam bisikan rindu,
selalu manja,
wajahnya memandang rembulan,
di dada kekasih hati

5). Engkau Akan Tahu Birunya Laut (Stanza)

Menangislah dengan kencang kekasihku,
deras air matamu seperti sungai mengalir,
bilur-bilur lukamu akan sembuh,
kesedihan membuatmu setangguh batu karang,
janganlah berpaling lagi ke hulu sungai,
mengalirlah ke lautan maha luas,
engkau akan tahu birunya laut,
dan dalamnya cinta.

Biodata Singkat Penulis

Bekerja sebagai konsultan lubricant, tinggal di Jakarta, pendidikan Komunikasi Massa (S1), aktif menulis puisi di beberapa group puisi facebook, pages pribadi dan blog pribadi, puisi di terbitkan beberapa media online seperti : Kompas.com, Rima News.com, Atjeh Post.com, Lintas Gayo.com, Jurnal Kebudayaan Tenggoma, Our Voice LGBT.com

Sedangkan di media cetak : Berita Minggu Singapura, New Sabah Times dan Koran Republika

Sedang mempersiapkan buku puisi Antologi PBKS yang akan terbit bulan Juni 2013 dan Antologi 45 Penyair CDK yang akan terbit akhir bulan Maret 2013

RetakanKata Terpilih sebagai Kandidat Blog Terbaik dari Indonesia

Kabar Budaya – RetakanKata

DWIni tentang kebebasan berekspresi tingkat internasional. Seluruh pengguna internet di bumi ini diminta memberikan suaranya untuk memilih yang terbaik versi pengguna pada acara The Bobs Award yang diselenggarakan Deutch Welle.

Lebih dari 4200 website dan proyek online telah didaftarkan pada The Bobs – Best of Online Activism Awards tahun 2013. Seribu lebih banyak dari tahun lalu. Dan juri telah memilih 364 finalis untuk maju pada masing-masing kategori.

“Ini menunjukkan begitu banyak cara untuk menunjukkan kebebasan berekspresi dan mendorong transparansi politik,” ungkap Ute Schaeffer, editor Deutch Welle untuk muatan regional. Berbagai tema diangkat seperti perubahan kondisi sosial dan ekonomi, hak atas air, hak-hak perempuan, dan perlawanan atas sensor-sensor, ungkap Gabriel González, Manajer the Bobs Award.

Deutch Welle adalah kantor berita Jerman yang mulai menyelenggarakan penghargaan ini sejak tahun 2004. Sepanjang sembilan tahun terakhir, acara ini memberikan penghargaan kepada upaya-upaya membangun hubungan budaya, mendorong transparansi, dan menciptakan jembatan penghubung antar budaya di negara-negara yang berbeda bahasa.

Tahun ini The Bobs memilih blog dalam 14 kategori lomba. Dari kategori blog berbahasa Indonesia, RetakanKata menjadi salah satu blog yang dinominasikan, menemani 9 blog dari Indonesia. Tentu ini menggembirakan dan sudah sepatutnya RetakanKata menyampaikan terima kasih untuk dukungan dan kesetiaan sahabat RetakanKata menyambangi blog ini. Selanjutnya RetakanKata akan masuk pada putaran pilihan pengguna. Sahabat RetakanKata dapat memberikan suaranya dengan cara sign in melalui Facebook atau Twitter kemudian klik link di bawah ini.

RETAKANKATA on THE BOBS!

Jika Kamu Lelah Mendengar ‘Budaya Perkosaan’

Artikel Lauren Nelson

Suntingan dan Alih Bahasa RetakanKata

Seseorang bertanya padaku hari ini,” Apa yang dimaksud dengan budaya perkosaan itu? Aku lelah mendengar semua itu.”

Ya. Aku mendengar dan aku juga lelah membicarakannya. Tetapi aku akan tetap membicarakannya sebab orang sepertimu terus menerus menanyakan hal yang sama.

Budaya perkosaan adalah:

 Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun ada puluhan saksi mata namun tak seorang pun berkata, “Hentikan!”

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun ada puluhan saksi mata namun mereka tidak menemukan seorang pun membantu.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan orang tua mendapatkan informasi itu namun tidak ada konsekwensi apapun karena sang lelaki berkata.”tidak terjadi apa-apa!”

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan di kemudian hari kita mendapati para pelatih mereka menjadikan itu sebagai sebuah lelucon dan tetap melestarikannya.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun para staf menenukan dokumentasi tersimpan di bawah karpet sang pelatih, mereka tetap bekerja seperti biasa.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, dan sang pelatih mengancam reporter yang berkata,”Temukan dirimu. Jika tidak, maka seseorang akan menemukanmu”, tetapi penghuni kota lebih khawatir kehilangan pelatih mereka yang berbakat daripada kehilangan integritas.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, mereka mengambil foto dari setiap proses perkosaan dan dijadikan lelucon di berbagai jejaring sosial, menggunakan hashtag menyebarluaskan kejahatan.

gambar dari www.rantagainsttherandom.wordpress.com
gambar dari http://www.rantagainsttherandom.wordpress.com

Budaya perkosaan adalah:

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, dan seseorang membuat lelucon di video,”Gadis itu telah diperkosa.””Mereka memperkosa lebih cepat dari Mike Tyson!” dan yang lain terbahak-bahak.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan seluruh kota lebih berkonsentrasi meningkatkan pelayanan mereka pada program sepakbola daripada memperhatikan kenyataan anak-anak mereka di bawah ancaman tanpa rasa bersalah.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan media-media menyesalkan fakta bahwa masa depan yang menjanjikan telah dihancurkan oleh kejahatan mereka, seolah-olah mereka adalah korban.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan meskipun ia belum cukup umur, namun nama korban perkosaan berumur 16 tahun disebar luas di stasiun televisi nasional.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, tetapi karena perkosaan terjadi di sebuah pesta seks dan minuman, orang asing di internet bisa begitu galak berpendapat bahwa perempuan itulah yang salah membiarkan dirinya menjadi korban serangan.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan anggota masyarakat menyebarkan isu: korban perkosaan mendapat ancaman pembunuhan.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia, seluruh media sosial mendokumentasikan dan memberi tahu kita untuk berhati-hati melakukan posting di media sosial.

Ketika sekelompok atlet memperkosa gadis belia dan ketika upaya menutup-tutupi kejahatan di-ekspose para hacker, kita menyebutnya aksi teroris dan menyalahkan korban.

Ya, aku sedang berbicara tentang Steubenville. Lelah mendengar semua ini? Baiklah, mari kita berbicara sesuatu yang lain.

Budaya perkosaan adalah ketika Steubenville begitu jauh sebagai contoh pertama sebuah klub atletik yang menutupi tuduhan kekerasan seksual.

Budaya perkosaan adalah ketika kampus-kampus di seluruh pelosok negeri tidak melaporkan kejadian ke polisi namun cukup dikelola para pejabat yang terhormat yang malah melindungi pelaku dari konsekwensi perbuatan jahat mereka.

Budaya perkosaan adalah ketika universitas mengancam mengeluarkan siswa yang berbicara bahwa dia diperkosa (bahkan tanpa sempat mengidentifikasi sang pemerkosa), sebab menceritakan penderitaannya adalah sebuah pelecehan.

Budaya perkosaan adalah ketika pelawak yang sepanjang karirnya menggunakan perkosaan dan pelecehan seksual sebagai bahan lelucon, tetap dipertahankan oleh komunitas leluconnya dan tidak kehilangan penggemarnya.

Budaya perkosaan adalah ketika jurnalis mengatakan ini:

            Saya pikir, keseluruhan percakapan ini tidak benar. Saya tidak ingin seseorang pun berbicara tentang perempuan. Saya tidak ingin seorang lelaki berkata pada saya mengenai apa yang harus saya pakai, bagaimana harus berperilaku atau bahkan bagaimana minum. Dan sejujurnya, saya tidak ingin kamu berkata bahwa saya butuh senjata untuk mencegah perkosaan. Dalam kasus ini, jangan beri tahu saya bahwa meski dengan senjata, saya luput dari perkosaan. Jangan meminta saya untuk mencegah perkosaan.

…dan inilah respon masyarakat…

Budaya perkosaan adalah ketika politisi tidak mengerti bagaimana tindakan aborsi yang dicari para korban perkosaan adalah serupa dengan memperkosanya sekali lagi.

Budaya perkosaan adalah ketika para kader partai politik berkata: Tuhan kadang diperkosa, dan beberapa gadis begitu mudah diperkosa, dan perkosaan yang legal tidak akan menyebabkan kehamilan, namun mereka tidak pernah kehilangan dukungan konstituen maupun dukungan pimpinan partainya.

Budaya perkosaan adalah ketika seorang berpidato pada sebuah konvensi politik membuat lelucon kekerasan seksual dan ia membuat gedung perwakilan itu nyaris runtuh karena gelak tawa.

Budaya perkosaan adalah ketika kita menghabiskan banyak waktu untuk memberi tahu perempuan agar mengubah perilaku mereka supaya tidak diperkosa, mengembalikan kesalahan pada sang korban.

Budaya perkosaan adalah ketika hak-hak istimewa dan ketololan yang disengaja bergabung menjadi satu seperti iklan-iklan ini:

voice-for-men

BECAUSE THIS HAS BEEN A POINT OF CONFUSION – NO, ALL MEN ARE NOT RAPISTS.
THE FOLLOWING AD IS A REPREHENSIBLE ATTEMPT BY AN MRA GROUP TO UNDERMINE PRODUCTIVE DIALOGUE ON RAPE CULTURE BY FALSELY ASSOCIATING IT WITH INFLAMMATORY STATEMENTS.

WE GOOD? GOOD.

Budaya perkosaan adalah ketika perempuan berbicara keluar dan menjadikan dirinya contoh yang dibicarakan.

Budaya perkosaan adalah ketika kita melihat iklan seperti ini terlalu sering muncul di layar.

belvedere-ad

rape-jump

dominos

Budaya perkosaan adalah ketika kamu lelah mendengar ini karena membuatmu tidak nyaman dalam posisi diammu dan tidak pernah memunculkan cukup kesadaran untuk melawan semua itu,- inilah sebab mengapa budaya ini masih berkeliaran.

Yah…Maaf jika kamu lelah mendengar semua ini. Tetapi, bukankah kita tidak berharap kita tutup mulut selekas ini, bukan?

Sumber tulisan dan gambar dari rantagainsttherandom.wordpress.com

Menelanjangi Kata

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

Seni memungkinkan kita untuk masuk dalam jagat rasa atas keindahan.
(Wiji Thukul)

penerbit jagad abjadBagi seorang pembaca awan, keindahan puisi adalah ketika ia langsung mengerti akan makna yang terkandung di dalamnya. Puisi menjadi sebuah karya yang tidak asing lagi dan mudah untuk kita jumpai. Namun, puisi kadang hanya berhenti sampai di lidah saja, manakala puisi ini menjelma menjadi kejenuhan. Akan tetapi lain bagi mereka yang memiliki jiwa seni, mereka akan memelototi puisi itu hingga menemukan arti dan makna yang sesungguhnya yang terkendung di dalamnya. Baginya satu puisi yang belum ia temukan maknanya sama saja menciptakan misteri dalam diri, yang pada akhirnya nanti hanya menjadi bayang-bayang ketidak pastian.

            Budiawan Dwi Santoso menyapa para penikmat puisinya dengan bait-bait puisi yang pendek dan penuh teka-teki itu. Tidak mengherankan ketika buku ini berjudul “Sekejap buku kumpulan puisi”, di dalamnya kita akan menemukan kumpulan-kumpulan puisi yang hanya dengan beberapa baris saja. Namun, kita akan duduk begitu lama dan terpana untuk menemukan makna yang terkandung dalam sekejap puisi itu. Disinilah letak keunikan dari puisi-puisinya tersebut, potongan-potongan kata yang simpel namun maknanya tak sesimpel potongan-potongan kata itu.

            Pria kelahiran Sukoharjo 04 Jannuari 1986 ini menyajikan puisi layaknya sebuah hidangan istimewa. Hidangan istimewa di sini karna puisi-puisinya disajikan dengan tema-tema yang sebenarnya sudah melekat pada diri kita namun kita tak pernah menyadarinya. Ia (si penulis) mengubahnya penampilan dari tema-tema tersebut sehingga layak untuk dinikmati. Tema-tema rumah, catatan, percakapan, jarum jam, dan jeda adalah sesuatu yang sudah melekat dalam keseharian kita, mereka begitu dekat dengan kita namun kita tak pernah menyadarinya.

            Kehidupan manusia kian modern dan kita kian meninggalkan kata, kita tak pernah membedahnya, kita tak pernah menelanjanginya, kita bahkan acuh tak acuh terhadap kata-kata yang berlalu-lalang di hadapan kita. Teknologi kian canggih, dan kata-kata kian beterbangan di antara tangan dan mata satu orang ke orang yang lain. Namun, kata-kata itu serasa hambar, datang kemudian pergi. Tak ada yang salah dengan teknologi, namun misteri yang ada di dalamnyalah yang kadang tak kita pahami. Pria yang aktif sebagai Santri Pengajian Malam Senin Bilik Literasi ini mencoba mendobrak itu semua, ia menghadirkan kehidupan-kehidupan yang sarat akan nilai-nilai estetis dan etika. Kita akan jumpai realitas ini dalam puisinya yang berjudul Catatan Senja, 5.

Catatan Senja, 5

Di batas memerah,

seorang lelaki tua mendapati dirinya

tergeletak dalam selembar promosi

Masa kecilnya terangkum

Dalam sekaleng minuman

Murah.

Keindahan Memori

          Manusia memiliki kemampuan untuk mengingat setiap peristiwa-peristiwa yang dilaluinya, seperti yang diungkapkan oleh Professor Hobby bahwasannya anugerah terbesar manusia-kemampuan untuk mengejar mimpi-mimpi kita. Pengarang lewat kumpulan puisi ini menyimpan dan mengabadikan setiap kenangannya dengan hari-hari yang ia lalui, tersimpan di dalamnya cita-cita, misteri, kesedihan, kengerian, keindahan, bahkan cinta.

            Baginya (si penulis), setiap detik adalah kenangan yang begitu sayang untuk dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Bahkan kesedihan dan kerinduannya pada kekasihnya menjadikan ia bermain dengan kata-kata ini hingga tercipta sebait puisi. Ia mampu mengabadikan perasaannya dan memepersembahkannya untuk sang kekasih. Pada awalnya kita tidak akan merasakan bahwa itu sebuah puisi biasa, namun setelah kita menghayati kata demi kata, kita akan menemukan makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.

 

Catatan Malam, 2

Aku rindu sajak yang terbit

Menyinari diriku,

menghangatkan tubuhku

aku rindu sajak yang terbit

membangunkan hidupku

menggerakkan jiwaku

aku rindu sajak yang terbit,

mempertemukan kumbang dan kembang

menumbuhkan-kembangkan hutan perlambangan

 

            Puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang sangat ingin bertemu dengan orang yang dirindukannya. Merindukan sapa yang mampu membuatnya bangkit dan kembali berjalan menggapai citanya. Menggambarkan keinginan yang mendalam akan sebuah pertemuan dua insan hingga tak kan terpisahkan lagi. Ia (seseorang dalam puisi) ingin menciptakan tanda akan keberadaannya dengan sang kekasih.

            “Penyair haruslah berjiwa ‘bebas dan aktif’. Bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya” (Wiji Thukul). Begitulah gambaran ideal seorang penyair, bagaimana ia seharusnya memiliki pikiran yang bebas dan juga aktif, tanpa adanya keperpihakan terhadap pemegang kepentingan. Begitu juga dengan puisi-puisi yang terdapat di dalam buku ini, puisi-puisi di dalam buku ini patut kita bedah dan kita telanjangi makna yang ada di dalamnya, hingga kita tak akan menemui keperpihakan terhadap pemegang kepentingan.

            Catatan Malam, 7, seakan-akan menyapa kita tentang bagaimana masa kecil kita yang penuh tawa kini hilang tak berjejak, atau bahkan masa kecil mereka yang terenggut, hingga kita tak mampu untuk mengingat kenangan masa kecil kita lewat masa kecil anak-anak zaman kini. Sebuah sajak gelap, menceritakan tentang kita: masa kecil menertawakan lupa-Kita. Puisi ini menggambarkan bagaimana kenangan-kenangan yang sempat terjadi pada masa lalu yang menceritakan tentang ia dan alam serta apa yang ia alami, kini hanya menjadi bahan ejekan diri sendiri. Betapa mirisnya keindahan kenangan tak pernah dikenang, bahkan sesuatu yang indah hanya dianggap sebagai sesuatu yang lalu tanpa arti, kematian, kelahiran, tawa lepas, itu semua bagi mereka di masa sebagai bukti eksistensi. Namun, sekarang orang sudah terlalu percaya diri dan merasa bahwa tak ada yang lebih hebat dari dirinya, fakta inilah yang menjadikan manusia kian terpuruk dengan egoisme diri.

            “Sekejap buku kumpulan puisi” ini menjadi buku yang patut untuk kita dalami akan arti yang terkandung di dalamnya, bagaimana seharusnya kita bermesraan dengan kata-kata dan bagaimana seharusnya kita menyikapi kata-kata yang begitu singkat namun penuh akan makna. Kumpulan puisi ini menjadi kumpulan puisi yang sekejap, namun kita tak akan pernah kehabisan kata dan akal untuk menelanjangi kata-kata yang terdapat dalam puisi tersebut.

Judul buku: Sekejap: Buku Kumpulan Puisi
Penulis: Budiawan Dwi Santoso
Penerbit: Jagat Abjad
Harga: Rp. 15.000
Tahun: 2013
Tebal: 98 halaman
ISBN: 978-979-1032-92-6

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi Semester 6 Universitas Muhammadiyah Surakarta, aktif sebagai asisten laboratorium.

Buku, Musik dan Film

Gerundelan Binandar Dwi Setiawan

Ini hanya sekedar catatan. Cara saya untuk menghabiskan waktu, cara yang lumayan menyenangkan. Juga untuk mengingat periode-periode dalam waktu yang telah saya habiskan selama dua puluh tiga tahun ini, mengenai beberapa karya yang sedikit banyak menarik minat saya, menguras perhatian saya, dan atau bahkan menginspirasi saya, mengubah cara berpikir. Setidaknya ini bisa dikatakan sebagai rangkuman tentang tiga hal yang selama ini selalu memiliki peran dalam kehidupan saya, entah sebagai penyakit entah sebagai suplemen, entah sebagai dokter entah sebagai perawat, entah sebagai obat entah sebagai racun, atau apapun lainnya yang lebih luas dari penggambaran penggambaran d iatas itu,  yakni Buku, Musik, dan Film.

Yang pertama adalah tentang buku. Buku, dalam hemat pemikiran saya adalah cara paling brilian sekaligus paling dermawan dalam dunia kita untuk berbagi. Melalui sebuah buku, kita bukan hanya bisa berbagi segala apa yang telah kita tahu atau kita anggap sebagai pengetahuan, tetapi juga bisa berbagi tentang keresahan-keresahan, tentang apapun yang kita ingin bagi. Hal istimewanya, buku acap kali melakukan sesuatu lebih dari yang dia bisa, paham tidak maksud saya, sebagai contoh saja, jadi kadang-kadang ada seorang penulis yang mengandalkan beberapa kalimat sebagai penggambar sesuatu, sebenarnya yang digambarkan oleh penulis adalah rumah tapi bisa terjadi yang tertangkap oleh pemahaman pembaca justru apartemen, hotel, atau bahkan istana. Itulah kenapa kemudian pena menjadi lebih tajam dari pedang.

Saya pertama kali menamatkan sebuah buku, maksud saya menghabiskan dari halaman pertama sampai halaman terakhir, ketika usia kelas tiga atau kelas empat sekolah dasar, barangkali umur delapan atau sembilan tahun, buku itu sekitar tiga ratus sekian halaman. Waktu itu saya merasa biasa saja, baru di kemudian hari setelah agak remaja saya sadari kalau menamatkan buku setebal itu merupakan hal yang agak di luar kebiasaan anak-anak seumuran itu. Buku itu sudah saya lupa judulnya maupun pengarangnya, covernya berwarna hitam dengan gambar Ka’bah yang dikelilingi jutaan manusia, kertasnya sudah buram dengan prosentase gambar yang hanya sekitar lima persen dari keseluruhan halaman. Berkisah tentang perjalanan hidup dua puluh lima rasul yang wajib dipercayai. Saya tidak tahu karena apa, mungkin karena itu buku pertama yang saya selesai baca, jadi buku itu cukup berkesan, seperti peletak dasar pertama mengenai bagaimana baik itu, atau bagaimana buruk itu, bahkan tanpa mengurangi hormat saya sedikitpun, buku itu jauh lebih mengajari saya ketimbang kedua orang tua saya.

Setelah buku itu, saya mengalami rentang waktu yang relative panjang tanpa membaca buku, kecuali buku pelajaran tentunya. Oh ya, tentang buku pelajaran, di usia antara kelas empat sampai lulus sekolah dasar ada dua tema dalam pelajaran yang selalu saya suka, yakni fisika yang waktu itu masih menyatu  dalam bidang pelajaran  ilmu pengetahuan alam dan sejarah yang masuk ke dalam bidang pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Untuk fisika, saya menyukai tema bunyi dan gelombang, atau tentang tata surya yang menjelaskan gambaran awal untuk saya mengenai matahari, planet, bulan, dan benda-benda langit  lainnya. Untuk sejarah, saya menyukai tentang tema kerajaan-kerajaan, era di mana Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Jepang belum masuk ke wilayah bersebut Nusantara. Saya menyukai tentang bagaimana Raden Wijaya membangun Majapahit, bagaimana sebuah keris bisa membunuh tujuh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung, favorit saya tentunya penggambaran bagaimana sebuah kerajaan telah runtuh tetapi kemudian salah seorang keturunan rajanya berhasil melarikan diri untuk membangun kerajaan yang baru. Waktu itu saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya setiap kerajaan yang ada di Nusantara ini pasti sejatinya dipimpin oleh satu keturunan yang sama, keyakinan itu sampai sekarang belum berubah. Kedua hal itu, fisika dan sejarah, buku-bukunya selalu saya baca berulang-ulang, beberapa teman sekolah saya mengira saya seorang penghafal yang kuat , tapi yaa sebenarnya tidak, itu lebih karena saya menyukai dan karena memang saya baca berulang-ulang, jadi yaa mudah saja bagi saya mengingat materi-materinya.

Periode selanjutnya yakni usia sebelas sampai empat belas tahun ,saya juga tak banyak membaca. Beranjak ke usia lima belas saya mulai mengenal novel sebagai bacaan yang asyik. Saya bertemu dengan Sherlock Holmes, seorang tokoh rekaan fiktif Sir Arthur Conan Doyle, saya membaca semua novel Sherlock Holmes, kalau tidak salah hanya empat atau lima buah tapi kini mengembang menjadi begitu banyak dan tak pernah benar-benar Sir Arthur Conan Doyle yang mengarangnya. Ada satu prinsip Sherlock Holmes yang saya kagumi, yakni ketika setiap dugaan tak memiliki bukti kebenarannya, maka dugaan terakhir yang tersisa semustahil apapun itu, itulah kebenarannya. Melalui Sherlock Holmes saya juga belajar bahwa setiap manusia seharusnya berpikiran terbuka terhadap setiap kemungkinan.

Setelah Sherlock Holmes, saya tertarik dengan bacaan sastra, khususnya cerpen dan novel. Tetapi rupanya saya mengalami apa ya namanya, semacam kesalahan atau mungkin boleh dibilang ketidaktepatan dalam memilih sebuah karya. Saya katakan tidak tepat karena waktu itu saya sering memilih bacaan terbaik dalam jenisnya saat pertama kali, jadi ketika saya ingin membaca lagi yang sejenis, saya tidak menemukan satu pun karya yang lebih baik. Sebagai contoh saya pertama kali membaca novel detektif, yaa Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle, mencari lagi yang lain bertemu  dengan Poirot-nya Agatha Christie, yaa kecewa jadinya. Kalau novel-novel pencerahan pertama kali The Alchemist-nya Paulo Coelho, dan sampai sekarang tak ada novel sejenis yang sebaik The Alchemist. Di dunia cerpen ada Godlob-nya Danarto, ini benar-benar kumpulan cerpen mahakarya, yang bahkan cerpen-cerpen Danarto lainnya sekalipun tak ada yang bisa menandinginya.

Bertemu dengan The Alchemist itu seperti bertemu dengan jatidiri. Bertemu dengan kalimat-kalimat yang saya sendiri mencarinya selama ini. Kebanyakan hal dalam The Alchemist adalah hal-hal yang sebenarnya saya sudah memahaminya, hanya saja tak bisa menjelaskannya dalam bentuk kalimat. Jadi membacanya adalah pengalaman yang hebat bagi saya, lembar per lembarnya selalu membuat saya tercengang, kadang-kadang sambil merasa laahhh ini ni. Setelah Coelho, saya bertemu dengan karya-karya Leo Tolstoy, Rabindranath Tagore, Ben Okri, Dostoyevsky, Kafka, Ernest Hemmingway, Stephen King, Kahlil Gibran,… Mereka itu adalah nama-nama terbaik bagi saya di dunia satra, tetapi tetap saja saya memilih Coelho sebagai yang paling hebat. Salah satu hal hebatnya adalah kemampuannya menyajikan  pelajaran-pelajaran terdalam dengan cara seakan akan itu sebagai pelajaran-pelajaran teringan. Membaca Coelho itu seperti mendapatkan emas dengan cara memetik dari pohon, kita tak perlu bersusah susah sesusah menggali tanah ratusan meter ke dalam.

Oh, ya, tentang Kahlil Gibran saya ingin memberi catatan sedikit. Waktu itu nama ini begitu populer di kalangan lingkungan sekolah saya, hampir setiap teman tahu dan pernah membacanya. Tapi tidak tahu kenapa saya tidak begitu tertarik dengan karya-karyanya, mungkin karena di dalam pikiran saya ada semacam persepsi  bahwa menulis seperti Kahlil Gibran itu gampang, saya anggap gampang karena memang yang ditulis hanya inti-intinya, langsung ke pelajaran-pelajarannya. Kahlil Gibran tidak pernah atau jarang sekali menyembunyikan atau menyamarkan pesan-pesannya, bagi saya karya-karya Gibran terlalu tersurat. Sedangkan menurut saya, penulis yang hebat itu yang bisa memberi pesan dengan tanpa menyertakan kalimat pesannya secara langsung. Karya sastra yang hebat itu adalah sebuah rumah sederhana yang di dalamnya tersimpan almari perhiasan yang terkunci rapat yang tidak seorangpun tahu keberadaannya kecuali penulis dan pembaca yang sebijak penulis itu sendiri. Konteksnya, Gibran terlalu mengumbar almari perhiasannya hingga semuanya tahu.

Godlob, lain lagi ceritanya. Saya membaca Godlob hanya karena bertemu secara sepintas saja dengannya di taman bacaan langganan saya. Berapa kali bertemu tak pernah saya ambil untuk saya bawa pulang ke rumah. Hingga ketika akhirnya saya bingung memilih buku apa yang hendak saya baca, si petugas taman bacaan merekomendasikan Godlob. Godlob ini berisi sekitar belasan cerpen, yang menurut saya semuanya bagus. Danarto sangat khas dengan cerpen-cerpen yang ceritanya tak masuk akal, tokoh-tokohnya unik, seringkali tokohnya bukan manusia, temanya tasawuf. Tasawuf yang biasanya berbentuk bukan cerpen, ditangannya bisa menjadi cerpen, bisa menjadi begitu profokatif. Godlob ini semacam asap yang kemudian saya telusuri terus , membuat saya bertemu dengan apinya, yakni  karya-karya Ibnu Arabi, Al Hallaj, Syekh Siti Jenar, Syekh Ahmad Sirhindi, Al Junayd, dan lain lain sejenisnya. Jika soal kualitas cerpen setelah Danarto ada lagi nama besar yang semua karyanya saya suka, AA Navis.

Setelah Godlob dan The Alchemist, filsafat menjadi semacam mainan baru bagi jiwa kanak kanak saya, saya begitu enjoy menikmati berbagai macam bahasan filsafat, awalnya sebuah buku berjudul Socrates Café, kemudian buku-buku yang bersifat kajian yang banyak saya baca,termasuk di dalamnya ada Bhagavad Ghita. Begitu banyak istilah, begitu banyak pemahaman, begitu banyak versi, itulah filsafat menurut saya, filsafat itu hanya makanan pikiran, hanya memancing kita untuk berlatih berpikir, tak pernah benar-benar kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sekaligus tak pernah benar-benar terlepas dalam kehidupan sehari-hari, perannya seperti kunci yang hanya berguna saat kita hendak masuk dan atau saat kita hendak keluar rumah, selebihnya tidak. Semua jenis filsafat itu kemudian ditendang lenyap oleh nama baru yang kemudian begitu menginspirasi saya. Lao Tze. Ketika Karl Marx mengatakan manusia itu harus super fisik, tak berperasaan, kuat, bisa mengalahkan yang lain. Ketika Sidharta Gautama mengatakan yang suci adalah dia yang pikirannya baik, perkataannya baik, perbuatannya baik. Lao Tze justru mengatakan orang suci adalah dia yang suka tertawa terbahak bahak, bicaranya ngawur, dan lain lain. Lao Tze adalah kejelasan jalan tengah yang hebat antara Marx yang super fisik dan Gautama yang super rohani, antara Musa yang super manusia dan Isa yang super malaikat. Lao Tze menyuruh kita untuk berbuat mengerahkan sekuat-kuatnya apapun daya yang kita punya, tapi setelah itu berlepas diri akan hasilnya. Berbuat tanpa berbuat, mengajar tanpa kata-kata. Menjadi tidak menonjol, wajar, selaras dengan alam. Menjadikan diri kita sekuat alam semesta tapi sekaligus serendah hati makhluk terlemah. Pertemuan dengan Lao Tze memungkasi keinginan saya untuk menjelajah berbagai jenis aliran filsafat.

Setelah periode itu, saya menjadi lebih tertarik untuk menulis daripada membaca. Dan seringkali yang membuat saya membaca karena saya mengalami kemacetan ide ketika menulis. Puthut EA, iya, nama inilah yang kemudian mengajari saya banyak hal tentang bagaimana menulis itu. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai tentang materi-materi tulisannya, tetapi karena gaya bahasanya terlampau enak untuk dinikmati makanya saya jadi membaca hampir semua karyanya. Satu yang tampaknya enak untuk dibagi adalah novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Novel ini memang bukan sebuah novel berkualitas wah, tapi lagi-lagi gaya bertuturnya yang membuat saya jatuh cinta dengan novel ini, berkisah tentang perjalanan seorang penulis yang mencari pasangan hidup. Di samping novel ini, ada lagi karya Puthut EA yang sangat brilian bagi saya, yakni Makelar Politik, hanya kumpulan esai esainya tentang hal-hal menarik baginya, tapi Makelar Politik mempunyai kebisaan yang luar biasa untuk dibaca saat luang ataupun saat sibuk, saat sedih ataupun saat senang, saat kopi ataupun saat dehidrasi.

Di tengah-tengah semua yang telah saya ceritakan tadi, saya juga bertemu dengan buku-buku populer seperti Chicken Soup, Harry Potter, Ippho Santosa, Laskar Pelangi, Supernova, dan banyak lagi lainnya, tapi tampaknya tidak menarik untuk saya turut sertakan dalam tulisan ini.

Yaa sekedar begitulah sharing tentang buku dalam kehidupan saya, kalau saya punya waktu luang berbarengan dengan mood iseng menulis lagi, pasti akan saya lanjutkan share tentang musik, terus juga tentang film. Semoga bisa memberi sedikit manfaat bagi anda yang punya waktu luang berbarengan dengan mood iseng membaca note ini.

Salam berbagi…!!! Jreeng Jreeeeenkkk…!!!

(Red=Nah, sekarang bagaimana pengalamanmu dengan buku? Buku apa saja yang paling memberi inspirasi pada hidupmu)

Mary, Mary, Godwin, Shelley #3

Kolom John Kuan

Dua tahun setelah Mary dan Shelley minggat bersama, isteri sang penyair mati bunuh diri. Maka Mary Wollstonecraft Godwin pun resmi menikah dengan Shelley.

Mary selalu berdiskusi dengan Shelley seluruh rencana penulisannya. Mereka bersama-sama mengunjungi kota besar dan kecil juga hutan gunung dan tepi laut daratan Eropa, selain catatan harian ditulis bersama-sama, mereka juga memendam kepala masing-masing, menulis puisi dan novel sendiri, seringkali memasukkan negeri asing tempat mereka hidup bersama ke dalam tulisan, samar-samar sebagai latar, namun lebih sering melampaui, simbolis. Mary dengan bakat alamnya, ditambah pendidikan luar biasa dan harapan yang diberikan orangtuanya, saat itu sepenuh cinta dan saling menggetarkan dengan Shelley yang penuh daya imajinasi, wawasan, dan cita-cita yang menjulang, memberi dia daya kreasi yang tak terbayangkan, melepas keluar seluruh kekuatan terpendam seni dan filsafatnya.

~

Mary dan Shelley, juga banyak teman-teman mereka suka sekali berkisah cerita hantu, sekalipun mereka adalah intelektual menonjol yang rasional dan kaya rasa. Mary pernah menulis sebuah artikel tentang hantu (On Ghost), membaca ini bisa membuat bulu kuduk berdiri. Salah satu bagian konon adalah pengalaman pribadi salah satu temannya. Temannya bercerita bahwa tidak lama setelah seorang temannya meninggal dunia, almarhum tahu dia sangat mengenangnya, sehingga setiap malam mengunjunginya. Begitu dia berbaring di atas ranjang antara tidur dan tidak, temannya yang telah meninggal itu akan pelan-pelan mendekat dan menyentuh kedua pipinya, sehingga dia bisa dengan tenang tertidur. Demikian berlangsung beberapa hari. Mary menambah satu kesimpulan: Bisa dibayangkan, hal begini sangat bisa dipercaya; namun temannya berkata bahwa temannya yang telah meninggal dunia itu suatu hari berhenti mengunjunginya (sekalipun dia setiap malam masih berdebar baring di atas ranjang), hanya karena dia pindah rumah. Kalau menurut perkataannya ini, hantu ternyata tidak dapat menemukan alamat rumah barunya, dan sebagainya dan seterusnya.

~

Di sekitar hutan lebat sebelah timur Jerman, ada orang sedang memacu kuda menuju rumah teman, dan di sekitar pinggir hutan, dia tersesat. Orang itu terus mencari jalan di antara pepohonan, akhirnya tampak di jauh ada setitik cahaya remang. Dia berjalan ke arah cahaya, baru tahu ternyata cahaya berasal dari sebuah biara terlantar. Sebelum mengetuk pintu, dia merasa seharusnya mengintip sedikit bagian dalam dari jendela. Dia melihat sekelompok kucing berkerumun di depan sebuah liang lahat, dan empat ekor di antaranya sedang bekerja sama menurunkan sebuah peti mati, di atasnya tergeletak sebuah mahkota. Orang itu kaget setengah mati, hatinya menerka dia mungkin sudah masuk ke alam hantu atau kampung penyihir jahat, cepat-cepat melambungkan badan ke atas kuda, dengan kecepatan penuh lari dari tempat tersebut. Agak lama, akhirnya dia sampai di rumah teman, dan teman sedang duduk begadang menunggunya. Temannya bertanya kenapa wajahnya begitu pucat dan takut? Awalnya dia ragu-ragu, tidak ingin buka mulut, amat yakin temannya tidak akan percaya. Namun akhirnya juga membeberkan apa yang terjadi. Dia baru selesai menceritakan bagian peti mati yang ada mahkota di atasnya bagaimana diturunkan, tampak kucing temannya yang lelap di depan perapian tiba-tiba berdiri, langsung berkata: “Sekarang giliran aku jadi raja kucing!” cepat-cepat memanjat ke puncak cerobong, hilang tanpa bekas.

~

Cerita di atas adalah salah satu bagian yang dicatat Mary di dalam On Ghost, cerita ini berasal dari seorang pengarang cerita misteri yang dia dan Shelley kenal di Jenewa.

 Ada orang mengatakan Mary tidak mendengar langsung dari penulis cerita misteri itu.

Mei 1816, Mary dan Shelley, bersama adik perempuannya yang lain bapak lain ibu, Claire pergi ke Swiss, tinggal di Jenewa yang dingin beku, kala malam sering bersama teman hidup api berkisah cerita hantu. Sekitar Agustus, Shelley dan seorang temannya pergi mengunjungi penulis cerita misteri itu, mendengar lima buah cerita hantu, dan semuanya dicatat, cerita di atas adalah salah satu. Teman yang bersama-sama Shelley pergi mendengar cerita hantu bukan orang lain, dia adalah Byron.

~

 A gentleman journeying towards the house of a friend, who lived on the skirts of an extensive forest, in the east of Germany, lost his way. He wandered for some time among the trees, when he saw a light at a distance. On approaching it he was surprised to observe that it proceeded from the interior of a ruined monastery. Before he knocked at the gate he thought it proper to look through the window. He saw a number of cats assembled round a small grave, four of whom were at that moment letting down a coffin with a crown upon it. The gentleman startled at this unusual sight, and, imagining that he had arrived at the retreats of fiends or witches, mounted his horse and rode away with the utmost precipitation. He arrived at his friend’s house at a late hour, who sate up waiting for him. On his arrival his friend questioned him as to the cause of the traces of agitation visible in his face. He began to recount his adventures after much hesitation, knowing that it was scarcely possible that his friend should give faith to his relation. No sooner had he mentioned the coffin with the crown upon it, than his friend’s cat, who seemed to have been lying asleep before the fire, leaped up, crying out, ‘Then I am king of the cats;’ and then scrambled up the chimney, and was never seen more.

 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley suka nuansa misterius, suka mengali ke daerah yang dalam, mencari ke jaman kuno, pasti akan suka yang begini, setengah klasik setengah populer, suatu bentuk tulisan yang mencurigakan juga menggembirakan, bentuk ini juga pernah sangat populer, terselip di dalam tradisi besar kebudayaan, ditampilkan dalam bentuk cerita misteri, legenda, catatan, juga novel, dengan daya hidup yang demikian kuat, menggembirakan juga mencurigakan, kiranya Mary pasti sangat menyayangi, juga Shelley, juga Byron juga teman-teman mereka.

~

Kesulitan dalam mengarang, awalnya bukan masalah tema, adalah makna yang diberikan tidak menemukan sandaran yang dapat ditelusuri dan tepat, kata-kata tidak bisa secara efektif menjadi rujukan, menyebabkan hati dan pikiranmu menyelam terlalu lama, teori yang dibaca dan dipelajari terombang-ambing, pada saat itu, sekalipun sendiri merasa kata-kata telah selesai diungkapkan, orang lain merasa kamu samasekali belum bicara.

Atau, kamu belum berbicara, orang lain sangka kamu telah bicara, bahkan telah berbicara banyak; mereka menerka tujuanmu, dengan kata-kata yang terbatas sebagai landasan, sesuka hati intepretasi, mencemari karyamu, kadang-kadang seluruhnya salah.

Kadang-kadang, mereka sengaja salah.

~

 Kitab Sejarah Dinasti Jin – 晉書 mencatat suatu kali Raja Kuaiji ( 会稽 ) Sima Daozi – 司马道子 dan Xie Chong – 谢重 sedang duduk berbicara. (Saat itu malam berbulan, terang dan bersih, Daozi merasa pemandangan begini bagus sekali, sangat menikmati) Xie Chong menimpali: “lebih baik dihias sedikit awan tipis.” Sebab Daozi ingin bercanda sambil menyindir Xie Chong maka berkata: “Anda sengaja mengotori hati, bahkan mau memaksa langit ikut tercemar?”

Ini adalah pelajaran yang sangat bagus

Su Dongpo ketika menulis buku esainya (zhilin – 志林), tidak dapat menahan diri menambah beberapa goresan pena: (Langit biru bulan putih, tentu merupakan satu hal yang menyenangkan di dunia; atau masih ada yang berkata: Lebih baik dihias sedikit awan tipis. Sebab tahu hati memang tidak bersih, sering ingin mencemari langit.)

Tahun 1100 Masehi, Su Dongpo di dalam pembuangan di Pulau Hainan mendapat pengampunan Kaisar, dalam perjalanan pulang melewati Qiongzhou, pada malam tanggal 20 bulan 6 menyeberangi lautan, menggunakan maksud di atas, berputar jadi sebait puisi begini:

Awan bubar bulan terang siapa menghias?

Langit rangkul laut warnanya memang jernih.

云散月明谁点缀?天容海色本澄清

~

Februari 1821 John Keats meninggal dunia di Roma karena sakit, saat itu Mary dan Shelley menetap di Pisa, latar belakang Shelley dan Keats sangat berbeda, samasekali tidak ada hubungan persahabatan, mereka juga tidak saling mengapresiasi. Namun kematian John Keats di usia muda, 25 tahun, membuat Shelley sangat sedih, terutama karena dia mendengar bahwa John Keats menderita sakit dan ambruk, disebabkan oleh para kritikus menyerang puisi-puisinya, lalu menulis sebuah elegi panjang (Adonais) untuknya.

~

Kritikus dapat memarahi seorang penyair sampai sakit, sampai mati?

Tidak mungkin.

 ~

Januari 1818 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley menerbitkan Frankenstein, tidak lama kemudian bersama sang penyair berangkat ke Italia. Tahun itu Shelley mulai menulis drama liris Prometheus Unbound. Selain itu, karya puisi tidak putus, ada panjang ada pendek, salah satu adalah sebuah soneta yang berubah bentuk:

Ozymandias

Aku bertemu seseorang datang dari tanah purba

Berkata padaku: Dua potong paha besar pahatan batu

Tegak di atas gurun, tanpa batang tubuh… tak jauh di dalam pasir

Setengah terkubur satu wajah hancur, mengernyit,

Bibir berkerut, aba-aba sinis dingin yang angkuh

Buktikan pematung kala itu demikian bisa membaca hatinya

Dalam-dalam memahat ke benda mati itu, bertahan hingga kini

Lebih lama dari hati yang menjaga dan tangan tukang yang meniru;

Dan di atas dudukan patung hanya muncul beberapa kata:

Aku bernama Ozymandias, Raja Segala Raja

Lihat hasil karyaku, alangkah perkasa, mengeluhlah!

Di sisinya tiada apapun, hanya kelihatan tumpukan serpihan

Dikelilingi kehancuran, tak bertepi, mati senyap

Adalah pasir rata yang luas dan sunyi menjulur hingga jauh.

 

I met a traveller from an antique land

Who said: Two vast and trunkless legs of stone

Stand in the desart. Near them, on the sand,

Half sunk, a shattered visage lies, whose frown,

And wrinkled lip, and sneer of cold command,

Tell that its sculptor well those passions read

Which yet survive, stamped on these lifeless things,

The hand that mocked them and the heart that fed:

And on the pedestal these words appear:

“My name is Ozymandias, king of kings:

Look on my works, ye Mighty, and despair!”

Nothing beside remains. Round the decay

Of that colossal wreck, boundless and bare

The lone and level sands stretch far away.

Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

Sebenarnya kami kurang begitu suka menyebut ini sebuah lomba. Kami lebih suka menyebut ini sebagai ajang bersuka ria dengan menulis. Semacam seremoni merayakan kemerdekaan untuk menulis. Tapi, apa boleh buat, istilah lomba ini terlanjur memudahkan komunikasi kita tentang bagaimana sebuah perayaan ini dilakukan sehingga menjadi semacam kegembiraan bagi siapa saja. Yah, itulah tujuan utama kegiatan menulis kita kali ini: merayakan kemerdekaan menulis dengan penuh suka cita. Penggunaan istilah lomba cukup dipandang sebagai pemudahan komunikasi saja.

Seharusnya lomba ini diselenggarakan setiap menyambut ulang tahun berdirinya RetakanKata. Tetapi karena beberapa hal mengganggu agenda, terpaksa tahun ini sedikit mundur ke belakang. Dengan parade lomba yang begitu panjang sepanjang tahun 2012, kami berharap, mundurnya agenda lomba menulis cerpen ini dapat dimaklumi. Tentu kami membutuhkan sedikit jeda untuk bernafas setelah lomba cerpen RetakanKata 2012, menyusul rangkaian lomba-lomba yang lain, sebut saja misalnya lomba menulis opini sebanyak dua kali, lomba menulis resensi, lomba menulis flash fiction, weekly writing challenge dan festival blog sastra indonesia. Meski cukup melelahkan, namun kebahagiaan sahabat RetakanKata menjadi penghibur yang menyemangati kami untuk terus mempertahankan RetakanKata.

Mengawali lomba di tahun 2013 ini, RetakanKata kembali menyelenggarakan lomba menulis cerpen yang tetap GRATIS bagi siapa saja. Dengan menambah kategori lomba, mudah-mudahan perayaan kemerdekaan menulis ini menjadi lebih meriah. Ya, lomba kali ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu: kategori untuk umum dan kategori untuk buruh migran. Kategori umum terbuka bagi siapa saja, baik warga negara indonesia maupun bukan. Sedang kategori buruh migran hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran di mana pun mereka berada. Ketentuan lebih lengkap mengenai lomba cerpen ini dapat disimak di page Lomba Cerpen RetakanKata. Selain menambah kategori lomba, kali ini juga menambah daftar panjang hadiah untuk para juara. Semoga perayaan kemerdekaan menulis ini benar-benar membawa kegembiraan bagi siapa saja.

Untuk membaca ketentuan lomba dan mengunduh formulir pendaftaran klik: LOMBA CERPEN RETAKANKATA 2013.

Kami tunggu karya-karya Anda dan Selamat Bersukacita!

Mary, Mary, Godwin, Shelley #2

Kolom John Kuan

Cerita Detektif

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Cerita detektif seandainya hanya untuk membuang waktu, ditulis dengan plot berdebar dan mengundang curiga sebagai hiburan, maka tidak akan jauh berbeda dengan cerita-cerita silat, dengan bayang pisau cahaya pedang, getaran angin pukulan, jurus-jurus tombak memilin, ditambah dengan amis darah petarungan dan pengejaran cinta yang bertepuk sebelah tangan sebagai titik koma, garis lintang dan bujur, ditulis buat main-main, samasekali tidak ada hubungan dengan genre sastra, dengan penjelajahan dan pembacaan sastra.

~

Siapa berani bayangkan Godwin menulis Caleb Williams hanya untuk menyediakan hiburan kepada pembaca London? Tentu tidak, siapa itu Godwin! Bapak Kaum Anarkis, tahu! Namun saya berani mengatakan bahwa cerita silat maupun tidak silat yang heboh di rak-rak laris, tidak peduli kata-katanya bisa dicerna atau tidak, jalan ceritanya dan tokoh-tokohnya seberapa hidup, temanya berbobot atau tidak, tidak peduli keluar dari ujung pena siapa, saat dia pegang pena menulis, tujuannya hanya untuk memikat perhatianmu, sedapat mungkin berusaha jangan sampai hatimu bercabang di tengah jalan, lempar buku terlelap, mengerek daya hiburan hingga lapisan teratas, buat merebut kepercayaanmu akan kemampuannya membantu kau menghabiskan waktu.

 ~

Sirkus pada masa-masa awal hanya memiliki satu lingkaran besar, sebagai tempat pertunjukan ( ring ). Orang-orang duduk menggelilingi tempat pertunjukan, serentak memandang ke lingkaran, orang-orang yang memandang begini, disebut penonton ( audience ). Di dalam lingkaran petunjukan ada berbagai kegiatan terus berlangsung, satu menyambung satu, ini disebut acara ( program ).

Lihat sekarang! Seorang badut berbaju bintik topi berbunga sedang lenggang lenggok bergaya, selanjutnya adalah monyet naik sepeda, gajah berdiri tegak berbaris, menumpang kaki depannya di punggung koleganya yang berjalan di depan, kemudian adalah kuda putih dan kuda hitam yang dihias indah berlari kecil dengan teratur. Lihat, manusia terbang, orang perkasa menelan pedang, sang jelita meloncat lewat lingkaran api penuh mata pisau, cambuk pawang binatang buas berambut pirang berlengan tato melayang menjerit, perintah singa jantan duduk baik-baik, lalu sendiri menyodorkan sepotong daging ke mulut singa, selanjutnya badut keluar lagi, mengitari lingkaran pertunjukan satu kali, melambaikan tangan kepada penonton, sekarang suara musik sedikit agak membosankan, sebab pemain-pemain musik sedang istirahat, minum dan merokok. Tidak lama, dari belakang meloncat keluar dua ekor monyet, bersama badut berlari beriring, dan melambaikan tangan kepada penonton…

Acara begini, lihat saja, sirkus jaman dulu umumnya demikian, hiruk-pikuk, penuh gaya penuh warna, permainan bagus sambung menyambung. Namun bagaimanapun juga, di dalam seluruh acara sekalipun sebagian besar waktu kau tetap bersemangat, antusias, riang, sesekali juga merasa ada acara tertentu yang tidak begitu memikat, oleh sebab itu ketika singa jantan akhirnya berhasil duduk dengan baik, kau angkat tangan melihat jarum arloji, mengetahui sekarang sudah jam sekian sekian, ada sedikit lelah, tidak tahu acara apa selanjutnya?

Suatu kali dalam acara yang sedang berlangsung, serentak ada seperempat penonton (termasuk lelaki perempuan tua dan muda) yang sedang menonton di lingkaran pertunjukan menunjukkan ekspresi kebosanan, dan di antaranya (seperempat penonto ) ada separuh serentak angkat tangan melihat jarum arloji, sesaat ketika pawang berambut pirang berlengan tato menarik kembali cambuknya yang panjang, singa jantan pelan-pelan duduk sempurna, menunggu dia menyodorkan sepotong daging ke dalam mulutnya.

Badut berbaju bintik topi berbunga memperhatikan kondisi begini, hatinya sangat galau: “Banyak orang merasa membosankan, pada saat ini.” Dia melapor kepada kepala penyusun acara, si Kumis: “Harus dicari solusinya.” Si Kumis menghela nafas berkata, dia telah memperhatikan masalah ini, sebab manusia terbang nomor dua sudah pernah melapor kepadanya, lalu orang Kazak penuntun kuda juga, pemain alat musik tiup juga, Jenny pelompat lingkaran api juga, dan beberapa anggota lain, semuanya pernah mengutarakan bahwa tidak peduli acara apapun sedang berlangsung, sedikit banyak pasti ada penonton menunjukkan kebosanan. “Bagaimana menyedot perhatian semua orang sehingga hatinya tidak bercabang di tengah jalan, bahkan berebutan meninggalkan tempat duduk?” Kumis kepala penyusun acara masuk ke dalam renungan: “Bagaimana mengerek daya hiburan hingga lapisan teratas. buat merebut kepercayaan mereka akan kemampuannya membantu mereka menghabiskan waktu?”

“Saya punya solusi!” Badut berbaju bintik topi berbunga pecah ilham berkata: “Tempat pertunjukan dari satu lingkaran ditambah menjadi tiga lingkaran, setiap menit setiap detik, biarkan tiga macam acara berbeda berlangsung di dalam tiga lingkaran pada waktu bersamaan, dan penonton tetap duduk mengelilingi, mengelilingi di luar area tiga lingkaran, suka melihat acara di lingkaran mana, tinggal pilih, kalau bosan, boleh memilih lingkaran lain, selamanya tidak akan kehabisan tontonan, selamanya tidak lelah, tidak bosan, terus menjaga hati yang mengebu, hingga acara berakhir bersamaan.”

 ~

Pemaparan di atas, adalah cikal bakal three-ring circus.

Nama badut tidak dicantum, namun sumbangannya terhadap industri hiburan amat kasat mata, tidak bisa diabaikan, perihal ini bukan saja terjadi di sirkus, juga mempengaruhi pembuatan film, penyusunan acara di parlemen, media berita, juga memberikan inspirasi yang amat besar kepada semua orang yang bertekad menulis novel, tentu bukan hanya cerita detektif atau cerita silat saja.

~

Godwin menggunakan cerita detektif sebagai kritik sosial, di Inggris pada ujung abad kedelapan belas Masehi. Mary Wollstonecraft Godwin Shelley juga mengikuti langkahnya. Dia menulis Frankenstein, menciptakan monster rekayasa ilmuwan pertama dalam sejarah. Sebuah fiksi ilmiah begini sesungguhnya juga merupakan kritik sosial, mencerminkan intelektual Eropa Barat hidup di pembukaan abad kedelapan belas, sebuah jaman yang penuh tantangan, bagaimana memandang sifat manusia dan sains, dan juga sisi gelap sifat manusia dan sains.

Karena Setiap Kata Punya Makna