Kepulangan Terakhir

Cerpen Halim Bahriz

Enam tahun lalu, untuk pertama kali, aku menyukai seorang perempuan.  Perempuan itu bernama Rani. Tanpa kesengajaan, kami memilih kampus dan jurusan yang sama. Namun kedekatan geografis semacam itu tak lantas memunculkan keberanian berungkap perasaan. Tak pernah kupunyai kemampuan berbicara soal-soal demikian. Aku lebih lihai menuliskan teks orasi untuk keperluan demo. – Birokrat mulut cap kentut, Birokrat busuk, kami datang ke kampus ini bukan untuk dianakkerdilakan, bukan untuk dininabobokkan dengan bea siswa, kami muda, kami yang bicara, kami akan terus berteriak-teriak selama kalian tak becus melaksanakan kejujuran pendidikan.Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! -. Yah, mungkin beberapa orang akan mengiranya sekedar umpatan-umpatan murah dari emosi yang gagal dipulangkan.  Saat makin sering menemukan Rani di kampus, meski hanya punggungnya, semulai itulah, ada semacam kesadaran tentang diri sendiri yang gagap, bahkan untuk sekedar berucap nama: Rani.

sendu
Gambar diunduh dari http://www.styvop.devianart.com

Rani membikin dunia lain yang tanpa sadar sering kusambang di waktu-waktu tanpa duga. Misalkan saat sedang berlangsung pertemuan sengit dengan Rektor soal transparasi pendanaan Unit Kegiatan Mahasiswa, Tiba-tiba pikiranku terbang menuju sebuah sudut sempit, dan di tempat itu aku pernah menemukan Rani bercumbu rayu dengan seorang lelaki. Ah, seingatku, beberapa kali kutemukan Rani dalam keadaan memalukan seperti itu, di tempat yang sama, di sudut itu. Setiap akan melewati sudut itu, aku selalu merasa kekurangan oksigen, dada terhimpit dan nafasku membikin dua bunyi yang mendesis. Jika tak bersungguh paksa, sekuat tenaga tak kubiarkan diriku menjadi lebih memalukan dari cumbu rayu Rani dengan melewati sudut itu.

Dikesempatan yang lain, saat sedang mendiskusikan konsep aksi turun jalan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, Tanpa sebab yang jelas, namun dengan berbekal kecerdikan (lebih tepatnya kelicikan), aku berhasil mengeluarkan seorang senior dari forum hanya karena tadi siang kupergoki dia sedang makan bakso bareng Rani di Kantin. Entalah, mengapa bisa demikian. Aku seperti berada pada satu keadaan yang mengerikan. Ada kenyataan asing yang berlangsung di tubuhku, dan pikiranku dikendalikan oleh sesuatu yang tak bisa kukenali, tak bisa kukendalikan balik.

Kenyataan-kenyataan aneh itulah yang kemudian membuatku merasa membutuhkan tempat bersembunyi. Tempat yang hanya aku dan aku yang mengetahui. Tempat menyusun rahasia-rahasia kecil soal aku dan Rani. Tentu, tempat persembunyian itu di kemudian hanya dipenuhi kepedihan-kepedihan yang sunyi.

Luka paling hebat barangkali saat kutemukan untuk pertama kalinya Rani tersedu tepi jalan yang pikuk (meski dikemudian hari datang luka yang lebih menyembilu). Dengan cepat dan sigap ia mendekap erat. Perasaanku campur aduk. “Tak baik begini di tepi jalan” ucapku setelah gemetaran yang cukup panjang. Lalu, Rani mengajakku ke atap gedung di kampus. Ia ingin melihat matahari tua yang karam. Ia biasa menenangkan diri dengan melihat senja. Namun aku sudah menyimpan curiga sekaligus tak memungkiri menimbun perasaan senang yang datang bertubi-tubi.

Dan, memang, setelah air matanya dikeringkan angin sore yang genit, Rani pun memulai ceritanya. Tentu, kisah luka. Apalagi yang membikin orang malu bertumpah air mata, selain kisah luka. Dalam tersedu ia lirih berkata “Empat jam yang lalu aku diperkosa empat lelaki mabuk yang tak kukenal” . Dengan cepat jantungku makin kecil, menjadi ringan, seperti pelepah pohon pisang yang telah mengering. Dan setelahnya, adalah puncak kecengenganku sebagai seorang lelaki sekaligus aktifis yang terkenal arogan. Tak hanya peluh mata, isak makin mendesak untuk diperdengarkan. Kali ini justru dariku, bukan Rani.

“Aku yang mendapat luka, mengapa kau yang menangis lebih deras?”.

Aku hanya terdiam, gemetaran mengusapi air mata, sembari pelan-pelan menenangkan isak dan menyusun keberanian untuk berbicara.

“Aku, telah menyukaimu sejak enam tahun lalu. Saat kita masih sama-sama berseragam putih abu-abu. Saat kau begitu menyukai Es Krim, Bakso, nyala lilin. Saat kau begitu rajin menuliskan namamu pada tempat-tempat yang sebenarnya tak menyimpan kenangan apapun. Saat kau masih sering lupa mengerjakan PR dan lebih rajin menuliskan catatan-catatan menyedihkan, lalu, tanpa perasaan malu, kau memajangnya di mading-mading, terutama mading dekat kamar mandi laki-laki. Mungkin air mata ini sebentuk pernyataan rasa suka yang hingga hari ini tak juga reda,  meski enam tahun telah terlewat tanpa percakapan apa-apa denganmu, mungkin rasa suka itu sederas air mata yang kini kau saksikan sendiri. Bukankah sangat manusiawi jika aku menangis karena seseorang yang menjatuhkanku ke hatinya? Aku juga tak ingin secengeng ini sebenarnya, tapi, bagaimana lagi, segalanya tak mampu tertahan, tak lagi mampu ditahan”.

“Kenapa kau tak pernah mendekatiku?”.

“Aku pengecut, Aku hanya berani menikmatimu tak kurang dari jarak 20 Meter”.

“Hahaha…bukankah kau aktifis?”.

“Lalu?”.

“Aku sering melihatmu berteriak-teriak di jalan, mengumpati Dosen-Dosen, bahkan Rektor. Aku tak melihat rupa pengecut seberkas pun di wajahmu ”.

“Jangankan kau, aku pun tak mengerti kenapa demikian”.

“Aneh”.

“Ya memang aneh. Mana ada lelaki yang menyukai seseorang selama enam tahun, lalu mengungkapkan perasaan sukanya setelah perempuan yang disukainya diperkosa oleh empat lelaki lain”

“Hahaha…”.

Rani seperti tubuh terbelah. Menangis deras, segegas, lekas, berbahak-bahak ia tertawa.

“Kau tak bersedih?” selipku dalam bahaknya.

“Tentu saja, Tapi hidupku memang sejak dulu telah terbiasa pedih. Aku juga terlahir dari sebuah pemerkosaan. Kesedihan berkepanjangan juga tak merubah apapun. Tak ada masa lalu yang bisa diperbaiki. Ia hanya bisa ditinggalkan”

Sejak itu, Kami bersepakat saling mengerti dan mengingatkan. Kami berbagi apapun tanpa keberadaan rahasia sama sekali. Aku tak perlu lagi tempat persembunyian. Rani, adalah tempat bersembunyi terbaik yang pernah kudatangi. Rani membuatku menyadari hal-hal yang selama ini kubengkalaikan. Semisal, Rajin mandi pagi hari, menyetrika pakaian juga minum air putih yang cukup. Dan yang membuatku merasa beruntung:kusembuhkan luka dengan menyembuhkan luka.

Tapi, kisah dari senja itu tak berlangsung lama. Seperti senja, sebentar, lekas karam dan menyisa rindu juga kehilangan.

Pesimisme itu muncul setelah Rani memasrahkan tubuhnya kurebahi dengan birahi, pada saat itu pula tanpa kendali kupelihara kecemasan demi kecemasan. Awalnya, Aku menolak melakukan hal seronok semacam itu. Tapi, tubuh, memiliki keinginan dan kehendaknya sendiri. Makin lama, Kami makin keterlaluan melakukan transaksi ketubuhan, membiarkan kebinatangan menjadi penguasa, dan aku, seperti mendiami tubuh yang salah. Bahkan, di tempat-tempat yang tak sepenuhnya kami miliki berdua, tanpa malu, kami saling menelanjangi. Kami makin tolol, makin tak terkendali, dan makin menyedihkan sebagai manusia. Hingga perasaan jijik pada diri sendiri memilih keputusan untuk membikin jeda.

Rani sigap menolak. “Jangan ada jeda!”, Selanya.

Tapi aku keras bersikukuh. ”Aku hanya menginginkan kita saling berfikir dan merenung, apakah hubungan ini masih berlangsung dalam semangat saling memperbaiki diri?”.

Lalu, kami saling memperdengarkan suara isak, membiarkannnya mengguncangi sekujur badan, hingga perlahan suara isak itu saling menjauh, melirih, membikin jarak dan menggantarkan kami berdua pada waktu bernama Jeda.

Dalam jeda itu, nampaknya aku kelabakan memperlakukan rindu. Aku mulai menemukan Rani dengan cara-cara yang memalukan. Dari tempat-tempat yang juga memalukan. Seperti penyair-penyair tengil yang mengingat kekasihnya. Aku tak mengerti kenapa musti menyukai bau pagi, desah  hujan,  dengkur kesunyian. Bahkan dari uluran memilukan seorang pengemis, empatiku bisu, aku justru khusuk mengingat Rani hanya karena mereka memiliki letak tahi lalat yang sama dan bentuk hidung yang sangat mirip.

Tak lama, rindu itu sungguh keterlaluan. Memaksaku mengakhirkan jeda secara sepihak. Keputusan untuk menemui Rani di rumahnya malam itu juga tak bisa dicegah lagi. Aku bersiap dengan kejutan-kejutan kecil yang memang selalu kita bawa pada setiap pertemuan. Tapi, justru Rani yang pada akhirnya lebih mengejutkan meski Rani tak bermaksud menyiapkan kejutan apapun buatku. Malam itu, kedatanganku tak lebih dari sebuah pengantaran diri pada liang luka.

Aku memang telah terbiasa selonong ke dalam rumah Rani. Awalnya, kukira kami saling merindukan. Kukira, kedatanganku juga akan menenangkan kerinduan Rani atas diriku. Tapi, itu hanya prasangka yang pada akhirnya tak pernah terbukti. Sama sekali tak kumiliki duga akan menemukan Rani bertumpang tindih dalam birahi dengan lelaki lain. Malam itu, aku sepenuhnya percaya, bahwa tak ada yang lebih pilu selain memergoki dua mulut yang saling menggilas, empat paha yang saling menjepit, empat mata yang saling melenyapkan dan dua kelamin yang saling mengutuhkan. Sedang separuh dari itu, adalah rupa birahi milik kita yang dirampas. Malam itu, yah, malam itu, rinduku lunas, lunas selunas-lunasnya, dan, jeda memang benar telah usai, benar telah selesai.

Kenyataan pahit semacam itu tak pernah terbayangkan akan mampu mengurungku hingga berhari-hari di dalam kamar yang kini kubiarkan selalu gelap dan pintu selalu tertutup. Keseharianku adalah rebahan luka, menjadikanku lelaki cengeng yang menghabisi waktu dengan mengkasihani diri sendiri, menjadi tubuh yang terkeping-keping oleh kepedihan-kepedihan picik. Membiarkan belatung-belatung kenangan menyicitiku.

Kemarin, Rani mengirim pesan singkat. Ia meminta maaf. Ia juga memberikan bonus kejujuran, bahwa ia tak pernah diperkosa oleh siapapun. Ia menangis di tepi jalan hanya karena tubuhnya telah ditolak oleh lelaki idamannya minggu itu. Aku pun telah sepenuhnya mengerti bahwa Rani tak pernah jadi tempat persembunyian. Rani tak lebih dari tempat penyekapan, Ia menyekapku, dari banyak hal, dari banyak keseharian, bahkan dari diriku sendiri.

Dalam pengurungan diri itu,  jejak sepanjang perjalanan hidupku berdatangan. Tapi aku hanya menuliskan tentang Rani. Halaman demi halaman dalam Buku harianku hanya dipenuhi oleh kisah luka memilu sekaligus memalukan tentang Rani. Hingga kisah itu musti dihentikan paksa.

“Sudah! tangisan telah kehabisan akal menenangkanku. Kisah ini musti berakhir atau diakhiri, sebelum segalanya menjadi semakin rumit. Aku harus berdiri, kembali berjalan, menapaki waktu yang makin menjauh. Yah, berjalan, karena hanya dengan cara itu segalanya bisa ditinggalkan. Dan kukabulkan maafmu, Rani, mungkin memang hanya dengan maaf masa lalu akan menjinak dalam ingatan”

Kunyalakan lampu kamar. Mencoba berdiri lebih lama, tubuhku makin kurus, meringan. Lalu,  kucoba melangkah ke luar kamar, dan tubuh ini memang benar-benar terasa sangat ringan, telapak kakiku terasa tak menyentuh apapun.

Rumahku masih sangat singup senyap. Tapi memang beginilah rumahku. Debu-debu menebal di sana-sini; di muka lantai, di muka perabotan-perabotan, di muka kaca jam dinding, dan foto – foto aksi turun jalan milik Ayah dan Ibu juga nampak begitu buram. Pintu dan jendela masih pekat mengunci. Sementara sepi, lebih hebat lagi mengutuki rumahku. Rumah ini memang nyaris tak pernah riuh, gemericik dari kamar mandi pun hanya terdengar jatuh dari gayungan dan air mataku sendiri, bahkan bau sarapan juga nyaris tak pernah tercium sejak bertahun lalu.

Ibuku seorang aktifis gerakan perempuan yang jarang pulang. Ia menyibuk diri mengurusi perempuan dan anak-anak yang nasibnya tak karuan setelah perceraian. Ia juga mencoba memberikan edukasi bagaimana berdiri sama tegak sebagai seorang perempuan tanpa meninggalkan peran sebagai seorang Istri, tentu juga sebagai Seorang Ibu. Sementara Ayah, lebih tak kumengerti lagi perihal kesibukannya. Ia bahkan sekedar kukenal dengan sebutan Ayah, selebihnya mungkin hanya wajah kami yang sangat mirip.  Dan sebutan itu, tak lebih dari panggilan lain bernama saku bulanan.

Di luar rumah nampak langit telah gelap. Aku merindukan warung kopi Cak.Ipul, menemui teman-teman segenggaman, membicarakan kepalan tangan, teriakan, juga darah, bukan embun, bukan hujan apalagi air mata. Karena kami percaya, antara air mata dan darah, siapa yang lebih gagah tertumpah di tengah arena peperangan.

Sesampainya, Aku hanya menemukan Cak.Ipul sendirian, matanya penuh sesal, dan nafasnya seolah terus-terusan menghitungi waktu. Tak biasanya Cak.Ipul terlihat angker seperti itu Aku duduk di sampingnya, lutut kami saling berciuman. Sepertinya antara aku dan Cak.Ipul sedang berada dalam kelumit pikiran yang sama.

“Kopi Pahit Cak.Ipul” tegurku sepenuh rindu.

Cak.Ipul hanya mengangguk, tak hendak berdiri, matanya bersikukuh pada satu tempat, entah dimana.

“Sekarang Hujan?” lirih ia membalas pesanan kopiku.

Aku semakin tak mengerti, kenapa tiba-tiba ia menanyakan hujan. Aku hanya diam.

“Apakah Sekarang sedang hujan?” ujarnya lebih keras.

“Sepertinya tidak” jawabku.

“Apa kau tak mendengarnya? Bukankah itu suara hujan”.

“Suara?  Hujan?”.

“Yah, suara hujan”.

“Cak.Ipul lihat sendiri kan, semuanya masih kering, tak basah sama sekali”.

“Tapi suara itu nyata sekali. Bukankah suara hujan hanya dari hujan? Suara hujan teramat sulit dipertirukan oleh apapun. Apa kau tak mendengarnya? Coba pejamkan mata dan sedikit lebih tenang”.

“Begitukah?”.

“Coba saja”.

Sejenak aku memejam dan menenang. Aku tak mendengar apa-apa, apapun. Bahkan, desah nafas Cak.Ipul sama sekali tak sampai di telinga. Sepi sekali. Tapi, lamat-lamat ada suara hujan mendekat ke arahku.

“Yah, yah, aku mendengarnya. Itu memang suara hujan. Lalu ada apa dengan suara itu”

“Apa kau tak pernah merindukan hujan?” .

“Beberapa waktu yang lalu, hujan membikinkanku rindu”

“Hari ini, pertama kalinya aku merindukan hujan”.

“Begitukah? Apa karena malam ini Cak.Ipul kesepian?”.

“Tidak, Aku hanya merasa hampa, hampa sekali”.

Kami saling berdiam, menepi pada nasib masing-masing. Dan memang, malam itu suasana begitu lain, jalanan yang biasanya ricuh oleh suara-suara motor, malam itu, mereka memakai laju yang sangat lambat, nyaris tak menyuarakan apa-apa. Tak ada tarian angin di dedaunan, Tak ada kerasak tikus dari tumpukan sampah. Tak ada suara sendal menjejal di atas trotoar. Hanya suara hujan yang datang tanpa air, yang aneh, yang sesekali secara mengejutkan menjadi suara tangisan lirih yang dekil.

“Apa kau pernah menangis?”, Cak.Ipul memulai lagi percakapan yang semakin aneh.

“Beberapa waktu yang lalu, aku rajin sekali menangis. Mungkin jika air mata itu tak menguap akan menggenang seperti  comberan”

“Apa saat itu kau terluka?”

“Yah, Sangat terluka ”

“Apa kulitmu juga pernah mendedarah?”

“Tentu saja, Waktu itu sedang demo besar-besaran, kisruh dan kepalaku kena kemplang polisi. Sudah berulang kali, bekasnya juga masih bisa diraba. Apa Cak.Ipul ingin merabanya?”

“Ah, tidak tidak! Itu tak penting”

“Kau tahu? Kalo antara keduanya sama ada karena luka?”

“Tentu saja, dan aku menyadari betul tentang luka yang tak pernah sederhana itu, hehe…”

“Memang luka yang kau tangisi masih ada bekasnya? Mana? Aku ingin merabanya”

“Oh, tentu ada. Tapi tak bisa diraba”

“Hmmm…Aku juga pernah rajin sekali menangis, meskipun sekarang sudah tak bisa lagi. Dan bekas lukanya masih ada. Mau kau merabanya?”

“Hah? Bagaimana bisa begitu?”

“Mana tanganmu. Coba buktikan sendiri”

Belum kusentuh luka Cak.Ipul, tiba-tiba ia hilang, menghilang tanpa cara apapun. Perlahan, warung Cak.Ipul menghitam, menjadi pepuingan. Sebuah Police line mengitari warung Cak.Ipul yang telah menjadi bangkai dari lahapan api. Tiba-tiba angin menderu-deru, aku tercekam, seolah mengerti tentang angin itu, ia seperti sedang mengatakan sesuatu, entah apa. Tapi aku tahu ia sedang mengatakan sesuatu. Tubuhku gemetar, kedinginan, angin itu makin mendekat, mendekap, membikin tarian kunang-kunang di sekujur tubuhku. Aku tak tahan lagi, benar-benar tak sanggup dengan keadaan itu. Aku berlari sekencangnya, menjauh tanpa menyempatkan diri menoleh sesudut pun. Sepanjang lariku, aku  seolah berpapasan dengan banyak masa lalu, ia seolah mendekat lalu dengan cepat meninggalakanku. Aku seperti berlari di tempat. Hingga tanpa sadar aku telah berada tepat di depan gedung wakil rakyat. Aku berhenti dan diam.

Aku bertahan di tempat itu nyaris sampai matahari terbit. Aku duduk bersama segenap keasingan dan keterasingan, mencoba menyusun kepingan masa lalu saat begitu gegap kita menggenggam, berteriak-teriak, sesekali melempari gedung itu dengan batu dan telur busuk. Tapi, kepingan-kepingan itu tak juga membentuk masa lalu yang utuh. Keasingan dan keterasingan lebih bingar mengumpatiku dari pada kepingan ingatan masa-masa kegemilanganku menjadi seorang aktifis itu.

Keadaan begitu sepi, sepi sekali. Aku bahkan meragu apa memang keadaan seperti ini masih bernama sepi. Aku seperti sedang berada di tempat yang salah.

Subuh meraba telinga. Aku semakin merasa aneh, seperti mendengar suara subuh yang datang dari jantungku sendiri. Keadaan semakin nyinyir. Tubuhku seperti dicincangi waktu. Tapi suasana yang memedih itu tak lantas memancingku untuk menangis lagi. Aku telah lupa menenangkan diri dengan air mata.

Lamat-lamat, suara hujan mendekat. Tapi, air tetap tak mengguyur. Tubuhku kembali gemetar, dingin. Dikejauhan terlihat uap embun yang terangkat, mirim fatamorgana di atas jalan aspal yang panas. Perlahan, kulihat teman-teman seperjuangan menderap dengan teriakan-teriakan. Kepalan tangan juga terlihat meninju-ninju ke udara. Yah, mereka memang teman-temanku, tanpa pikir panjang dalam, aku bergabung dengan mereka. Tanganku mengepal, meninjui langit, sembari mengumpat-ngumpat dengan sepenuh amarah. Lalu, dari jauh Rani tertangkap mata. Ia juga mendekat.

Tiba-tiba teman-temanku menguap satu demi satu, hanya tersisa celana, rok, kaos, ikat kepala, batu-batu, telur busuk, arloji, anting, cincin, kalung dan meninggalkannya semua berserak di jalanan. Sementara itu, Rani semakin dekat, sangat dekat, hingga Ia berhenti tepat di depanku. Pelan-pelan, ia menangis kecil, sangat sederhana, ia kelihatan sangat cantik, begitu manis. Ia tak pernah terlihat secantik itu sebelumnya. Ia membawa sekeranjang bunga warna-warni, entahlah untuk apa ia membawa bunga padaku. Ia sangat tahu, aku, sama sekali tak menyukai bunga. Sama sekali tak menyukai wewangian apalagi bunga. Tapi bunga yang dibawa Rani menyerbakkan ketenangan. Hingga mataku berpejam khusuk menikmati aroma wewangian itu.  Wangi itu seperti mengantarku pada dunia yang sama sekali belum kuketahui. Tapi, tak kurasakan keasingan, tak kurasakan keterasingan. Mungkin aku sedang bermimpi. Aku seperti tertidur, aku seperti bermimpi, tapi aku sepenuhnya menyadari sedang tertidur dan sedang bermimpi.

Dalam pejam itu, aku merindukan hujan untuk pertama kali. Dan aku mengerti perihal rindu yang dimaksudkan Cak.Ipul. Yah, rindu pada hujan, bukan rindu karena hujan. Lalu, suara isak Rani memaksaku membuka mata pelan-pelan, sejenak waktu melenyap, kosong, benar-benar kosong. Kupejamkan mata lagi pelan-pelan, dan setelah itu Rani menaburkan bunga ke wajahku.

 

Di sekitar tahun yang keruh

: Jember 2011

 

 

 

 

Halim Bahriz

Lahir di Lumajang-Jawa Timur pada 1989. Kedekatan dengan dunia seni diawali dari kegemaran melukis meski kemudian agak ditinggalkan. Keseharian bersama UKM Kesenian UNEJ mengepingi aktifitas seninya. Selain puisi dan fotografi, ia menyukai teater dengan menulis naskah drama dan sesekali memproduksi pementasan. Pada November 2010 berpartisipasi dalam acara ‘Tribute To Rendra’dengan mementaskan reportoar PENJARA-PENJARA: Perlakuan yang Tak Semestinya di Taman Budaya Jawa Timur bersama para penggiat teater lintas komunitas kampus UNEJ. Naskah PENJARA-PENJARA: Perlakuan yang Tak Semestinya Sempat memenangi sayembara penulisan kreatif sastra mahasiswa tingkat Jawa Timur (2010) dan Naskahnya yang lain, ‘KEMATIAN’ terpilih sebagai nominasi naskah terbaik Sayembara penulisan naskah drama (FTI) Federasi Teater Indonesia (2011). Saat ini sedang mempersiapkan antologi puisi pertamanya ‘Punggung Dada (PD)’ dan membikin keseharian baru dengan Kelompok Belajar ‘TIKUNGAN :Tak Harus Lurus.

 

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #15

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 15

“Kira-kira begini surat kita untuk Sabidaor Foundation,” kata DR Pardomuan sambil menyerahkan selembar kertas ke Susanti. Seminggu kemudian beliau tidak dipapah lagi, walaupun wajahnya masih layu kurang bersemangat. “Tolonglah translitkan ke bahasa inggris ya…Susan”.

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

“Baiklah Pak, mungkin 3 hari ini selesai, saya langsung kirim,” kata Susanti. Ningsih tadi sudah datang bersama Lyana Dewi, kawan satu kuliahnya yang akan magang di FDP sebelum diangkat menjadi staf.

Surat itu tak begitu panjang.

 

Rilmafrid, 9 April 1984

 

Kepada Yth

Sabidaor Foundation

di.

t e m p a t

 

Salam sejahtra,

 

Setelah berpulangnya Mikail dan Tigor, staf andalan FDP, saat sekarang ini FDP sedang merekrut 2 orang staf baru. Lyana Dewi akan menggantikan posisi Susanti di keuangan. Susanti akan menggantikan posisi Tigor sebagai koordinator lapangan. Dan, Dirga Belanta menggantikan Mikail sebagai tenaga lapangan.

 

Kedua rekan ini adalah kawan dekat warga FDP yang sudah lama mengenal program kita melalui  perkawanan. Bahkan beberapa kali sudah ikut gabung bersama FDP di sekretariat. Jadi mereka bukan orang asing lagi di tengah-tengah FDP.

Kiranya mereka dapat ikut bergabung melanjutkan program FDP.

 

Atas perhatian kami haturkan terima kasih banyak,

hormat kami

DR Pardomuan

sekretaris pelaksana

 

Muslimin semakin acap menggantikan posisi almarhum Mikail sebagai tukang ojek Susanti. Dengan gaya kampungan, Muslimin, warga FDP yang paling sengsara, juga mulai dikenal di keluarga Susanti. Mungkin karena  penampilan dan tingkah laku lugu kaku tapi penuh  hormat Muslimin dapat diterima dengan baik oleh keluarga Susanti.

Setelah dari kantor pos “Mus…kalau tak ada kerja bisa kawani aku ke Monza? Sejak Monza mulai bermunculan 6 bulan yang lalu, Aku kepingin ke sana. Tapi, aku malu dilihat kawan-kawan dan keluarga.” Susanti menyampaikan lagu permintaannya sebelum sampai ke sekretariat.

“Aku juga nggak ada kerja. Lantas kenapa malu? Aku sering ke Monza, pakaian dan kaos-kaosnya cantik-cantik semua, walaupun bekas orang Eropa.” Muslimin tak memahami bahwa orang kelas atas akan merasa dirinya rendah kalau membeli baju bekas. Dia pikir semua kelas sosial di dunia ini wataknya sama dengan kelas sosialnya.

“Kios ini langgananku. Dia sudah kenal aku, kau bisa bongkar habis seluruh pakaian yang bertumpuk itu. Dan, harganya pasti lebih murah.” Muslimin ikut mempromosikan  Monza, ketika Susanti turun dari motor. Dengan gaya malu-malu sedikit menyembunyikan wajahnya Susanti menuju kios.

“Namboru…Ini ito kandungku,” kata Muslimin.

“Ah! Banyak kali cerita kau!! Mana ada itomu secantik ini, Hua..ha..ha..,” Namboru  pemilik kios tertawa. Susanti sambil tersenyum malu mencubit perut Muslimin. Semaksimal mungkin Muslimin melayani Susanti agar puas membongkar tumpukan kaos dan jaket. “Ini jaket cocok untuk kau kalau bermalam di lapangan.” Muslimin memamerkan jaket yang didapatnya.

 

Dalam perjalanan ke sekretariat Susanti tak henti hentinya ketawa. “Lucu kali belanja di Monza ya? Hii…hi…hii.” Susanti cekikikan  diboncengan Muslimin. “Pacarilah anak namboru itu biar kau dikasih kaos gratis Hua..ha..ha..” Susanti gembira sekali.

Di sekretariat Ningsih dan Dewi Lyana juga sangat terpengaruh oleh promosi Muslimin. Mereka juga berhasrat belanja ke Monza di kawani Muslimin. Dirga Belanta tak menaruh perhatian, karena dia sudah lama termasuk langganan tetap Monza. Buku-buku almarhum kekasih yang sudah terkumpul rapi di sekretariat FDP sangatlah memikat hati Susanti. Semula maksudnya dengan Ningsih hanya sebatas merapikan perpustakaan FDP, tapi di tengah kerepotan menyusun perpustakaan, otaknya bicara: “Untuk apa kususun semua buku ini tanpa membaca buku-buku ini. Aku kan bukan mesin yang tak punya otak. Lagi pula, dengan membaca buku-buku ini aku semakin mengenal mendiang suamiku Mikail Pratama lelaki idaman hatiku sepanjang hidup.” Dewi Lyana sebenarnya kasihan melihat kawan kerjanya yang dirundung malang di saat dirinya bersemangat menghabiskan tenaga di sekretariat FDP merapikan perpustakaan. Di sekretariat ini Dewi akan mulai meniti karir profesinya yang tidak konvensionil.

 

Tidak betul rakyat Trieste adalah masyarakat primitif . Memang kekerasaan komunal serta rumitnya kasus-kasus kekerasan dan kebrutalan tak pernah absen di republik Trieste. Inilah argumentasi yang kuat untuk mengatakan rakyat Trieste adalah primitif. Oleh sebab itu, (sebenarnya) Trieste belum siap menjalankan demokrasi moderan.

“Justru saya menuduh bahwa tuduhan itu diterbitkan oleh kaum terpelajar yang masih primitive.” Dalam makan malam bersama keluarga Susanti katakan sikapnya. Sang ayah sangat terkejut, Seolah kalimat Susanti ditujukan untuk memojokan dirinya sebagai pengusaha yang selalu menjalin kolaborasi dengan calon besannya ayah almarhum Mikail Pratama. Agar suasana tidak menjadi keruh,” Sudahlah Susanti tekun saja kau membaca buku buku pedoman perkuliahanmu. Ayah dengar sekarang ini banyak buku terbitan baru yang menyesatkan pikiran kaum muda.” Ternyata dugaan sang ayah keliru. Dipikirnya temperamen Susanti akan reda setelah mendengar ucapannya.

“Apa ayah bilang? Apa aku harus pasrah dijadikan bidak catur sistem kapitalisme yang biadab ini?” Mata Susanti terbelalak nada suaranya meninggi membuat kondisi meja makan semakin tegang.

 

Diceritakan Susanti kisah di meja makan tersebut di atas goncengan motor Muslimin. Susanti sebenarnya akan diantar ke sekretariat FDP untuk lanjutkan tugas sampai jam 2 siang. Lantas dijemput Muslimin lagi dari sekretariat antarkan kuliah dan akan diantar pulang ke rumah oleh tukang ojek paling setia jam 5 sore.  Tapi,  rencana itu  sedikit berubah. Jalan Sisingamangaraja arah menuju sekretariat FDP ditutup. Ada unjuk rasa besar-besaran oleh tukang becak yang digusur kotapraja selama seminggu ini. Tukang becak marah besar karena cara kotapraja yang seenaknya mencabut pentil becaknya membiarkan tukang becak harus mendorong becak ke tukang tempel ban. Kemarahan tukang becak sudah sangat memuncak. Mereka didukung oleh KNPT (Komite Nasional Pemuda Trieste) beserta seluruh underbownya. Para pengurus organisasi pemuda sudah ada di lapangan di tengah-tengah massa tukang becak yang merah padam menahan kemarahan atas sikap aparat negara yang tidak menghargai mereka.

 

Minggu lalu sudah ada pertemuan sangat tertutup di hotel Mincister, hotel mewah bintang lima yang baru diresmikan. Assisten I Gubernur Rilmafrid, Komandan Militer Rilmafrid, Panglima Tentara Trieste beserta beberapa pimpinan organisasi pemuda  hadir dalam pertemuan itu. Pada intinya pembicaraan membahas rencana pengembangan ekonomi Rilmafrid. Banyak tawaran dari modal asing untuk mendirikan cabang pemasaran produk-produk asing di Rilmafrid.

Booming pusat penjualan mulai dari mobil mewah sampai ke sepeda trendy akan  dibuka di Rilmafrid. Salah satu syarat yang diajukan pemodal adalah penataan sarana transportasi. Diharuskan seluruh jalan-jalan utama di kota bersih dari kepadatan becak dan pasar trasdisionil. Organisasi pemuda diharapkan dapat menginvestigasi kekuatan organisasi tukang becak. Mereka diharapkan dapat menyusup dalam unjuk rasa itu. Merancang chaos memancing pengunjuk rasa bertindak keras menciptakan unjuk rasa menjadi kerusuhan sosial. Agar ada alasan militer dan polisi bertindak brutal membantai para demonstran. Sehingga pada akhirnya kekuatan tukang becak semakin lemah. Tukang becak tidak bisa solid lagi dalam memperjuangkan tuntutan mereka kepada pemerintah. Dan, terpaksa dengan berat hati meninggalkan tempatnya selama ini beroperasi.

Begitulah kebusukan pemerintahan Trieste akibat kekuatan modal asing. Negara menjadi budak dari modal asing yang tanpa rasa kemanusian menindas rakyatnya sendiri.

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya:Bagian 14

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Tentang Masa, Ketika Aku Hidup Untuk Mencintaimu

Puisi Dianna Firefly

mother's love
Gambar diunduh dari http://www.kemonbaca.blogspot.com

[1]
Mungkin di keheningan ini, aku bisa mendengar suaramu.
Yang tak ada pada nyata.
Yang begitu sulit menembus masa,
Ketika aku hidup untuk mencintaimu.

[2]
Dan sunyi bersetubuh dengan angin, merajam jiwaku. Desaunya mengantar berita, kamu sudah tak ada. Jadi percuma aku berkelana, mencarimu di lorong-lorong khayalku. Memang sudah tiada, pagi di mana aku bisa suguhkan kopi manis untukmu. Memang sudah tiada, senja yang kurancang untuk melihat wajah tuamu berkilauan di bawah cahaya. Memang tak akan pernah ada, malam di mana aku bisa mendoakanmu.

[3]
Karena seorang anak akan mencari sepi di mana ia bisa mengenang kedua orang tuanya. Namun kau memang tak pernah ada, ketika sepi, bahkan seramai apa pun hidupku.
Senyap.

[4]
Karena memang selalu ada waktu bagi jiwa untuk merindukan seseorang yang tak pernah ada saat aku membuka mata. Mungkin dia ada, di masa lalu yang paling suram, yang semua orang ingin meniadakannya. Tapi jika aku bisa, aku ingin dewasa kala itu juga, agar aku bisa memilah mana yang baik dan jahat. Melihatmu untuk mengerti posisimu. Mendengarmu untuk memahami kondisimu. Memelukmu meski sekali saja dalam hidupku. Namun kini aku terlanjur tahu segala yang buruk tentangmu. Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu?

 

April 2012

*) Untuk saudara-saudaraku di jalanan, anak-anak yang ditinggalkan; kita.

 

Penulis: Dianna Firefly, berusia dua puluh tahun namun terkadang merasa telah hidup ratusan tahun lamanya. Tentu usia seperti itu tidak terbukti karena usia twitternya saja baru dua tahun. Twitter? Intinya mau promosi, jangan lupa follow @DiannaFirefly ya.

Semestinya Aku Menciumnya

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

marah romantis
gambar diunduh dari dreemstime.com

Jadi ceritanya begini. Malam itu sudah mendekati larut, kautahu, itu waktunya orang beranjak masuk kamar, tidur! Aku menemaninya, entah kegiatan apa aku harus menyebutnya, yang jelas berdua di lantai balkon, lebih tepatnya tempat jemuran. Lebih dari 3 jam aku menasehatinya dengan berbagai katakata bijak yang kupungut dari mana saja. Ia diam. Aku berpikir, pasti katakataku telah memikat hatinya.
Lalu malam itu, ya, malam itu, rambutnya tertiup angin, tepat menampar mukaku. Wanginya menggoda. “Aroma apa?” tanyanya. “Bunga lili,” jawabku sok tahu. “Ngawur! Cobalah lebih dekat.” “Jangan, itu tidak baik. Nanti jadi gosip gak sehat.”
Entah kenapa dia tiba-tiba marah. Aku ditinggalnya sendiri di atap rumah. Sebulan tanpa kabar hingga aku memberanikan diri bertanya, kenapa?
Lalu jawabannya mengejutkanku. “Aku ingin kaudiam dan segera mencium rambutku. Bukan memberi kotbah sepanjang jam!”

Kisah Lamalera

Cerita Rikardus Miku Beding

kisah lamalera
ilustrasi diunduh dari http://www.myshofiya.files.wordpress.com

Saat semua orang terlelap tidur dalam dekapan dinginnya malam, baik di pantai maupun di rumah, aku dan saudaraku, Anderas Soge, harus bangun meneguk segelas kopi dan sebatang rokok koli sembari aku sibuk menyiapkan perlengkapan untuk berlayar di tengah lautan pagi ini. Ibuku Khatarina Kneo Tapoona sibuk menyiapkan bekal. Sebelum berangkat, kami sempatkan diri untuk melihat foto dinding almarhum Baba Benediktus H. Beding sambil mengucap dan berdoa selalu,“Bapa jaga grie kame liko lapak kame di kre kme.” Ada sebuah semburan semangat yang kami dapatkan setelah melakukan itu, karena semangat kerja almarhum tak kan pernah dilupakan.
Kebahagiaan yang kami dapatkan setelah pulang melaut bukanlah banyak tidaknya hasil laut yang kami dapatkan. Tapi… rasa bahagia itu muncul manakala dari kejauhan kami  sudah melihat wajah seorang ibu yang menyambut kami dengan senyum manis dan manja untuk menyambut kami. Semangat almarhum (BH), semangat kami, semakin terpatri dalam hati. Kami bertambah bahagia saat kami dan ibu berjibaku memilih ikan untuk dijual. Aku bahagia  dan bangga sekali memiliki sesosok ibu yang sabar dan penyayang. Berkali-kali ucapan syukur aku panjatkan kepada Tuhan yang telah memberi aku seorang ibu  yang sangat peduli pada anak-anaknya
“Senyum, ekspresi manusia untuk mengungkapkan suka maupun duka. Namun senyum yang satu ini saya katakan  lebih super dari kata Mario Teguh.”

Dilema

Puisi Alvino Aryo Nugroho

Bimbang temani dalam jiwa yang sesak akan tanya
terus bertanya di antara waktu yang berputar singkat
aku dan cintanya . . terambang di tengah ketakutan akan sebuah kebenaran
aku takut akan kenyataan, ia takut untuk mengungkapkan . .

Aku mengendap di antara malam yang berbisik sunyi
tergopoh melangkah penuh kegontaian
berpijak diri seperti sebuah angan yang takkan menjadi realita . .
hatiku seperti sepi, karena fikir selalu berusaha untukku menebak sebuah mimpi

Aku sudah di tengah-tengah lautan hujan badai. .
angin tak mengizinkan ku kembali . .
tapi melangkah jauh ke depan, juga kenyataan untukku mati . .

masihku terduduk dalam buaian lamunan perih
hati ini selalu menjerit akan kebebasan sebuah cinta,
ia berteriak melafalkan arti sejati,
tapi sebenarnya hanya mengingkari sebuah luka . .
yang digores perlahan . . dibuat indah agar tak terasa pilu . .

aku benar-benar ragu . .
seperti sebuah embun yang takut terjatuh dari helaian hijau kehidupan . .
takut murninya ternodai hitam tanah kenistaan . .

masihku mengelak dalam kata manis terselubung
yang padahal hanya lari dari kenyataan sakit . .
tersenyum hanya hiasan latar sarat makna
yakinkan dirinya bahwa ku tak apa ..

aku punya pertanyaan untukku . .
masih sanggupkah aku merangkai perjalanan ini?
atau aku palingkan saja jalan panjang ini?

dan aku punya pertanyaan untuknya . .
buang jauh-jauh dirinya?
atau aku yang keluar dari cerita ini?

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #14

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 14

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Pukulan berat yang menimpa Susanti tidak boleh berlama-lama hinggap di hati sanubarinya. Semua pihak pasti merasakan pukulan hidup yang dirasakan Susanti atas kematian kawan dekat dan kekasih tercinta.  Tapi, adalah sebuah kedunguan seorang manusia apabila tak segera bangkit dan kembali bergerak maju menantang kehidupan ini. Susanti sudah bangkit melalui sikap semakin menyerahkan kehidupan ini dan lebih banyak main ke sekretariat FDP. Untuk tekun bekerja memahami sekaligus melaksanakan program FDP. Bersama Ningsih mereka mulai asyik dengan penyempurnaan inventaris dan dokumentasi kesekretariatan FDP. Beberapa catatan-catatan kecil yang akan diolah almarhum Tigor, sebenarnya belum layak didokumentasi. Sengaja dibawa Susanti ke rumahnya untuk dipelajari dan dilengkapi dengan seksama. Susanti berkeras hati akan melanjutkan karya Tigor bersama kelompok tani yang sudah terbentuk.

Dan, hampir seluruh buku koleksi almarhun Mikail Pratama diserahkan ibu ke secretariat.

“Lebih baik seluruh peninggalan Mikail digotong ke sekretariat Lebih baik ibu tak melihat segala peninggalan Mikail. Nanti, kalau lihat harta benda Mikail, saya bisa nangis sendiri.” Begitulah ucap ibu di hadapan Susanti dan Ningsih. Susanti tunduk menangis mendengar ibu berkata begitu. Hanya tinggal tunggu waktu saja, ibu yang di hadapannya akan menjadi ibu mertua.  Semua rencana  bersama Mikail sudah tak mungkin diwujudnyatakan.

 

DR Pardomuan hampir stroke akibat kematian orang yang dikasihinya: Tigor dan Mikail. Beliau baru 3 hari yang lalu keluar dari rumah sakit. Dan, belum diperkenankan melakukan kegiatan di sekretariat. Sepanjang hari berada di kamar dan hanya untuk makan siang dan malam, dengan agak dipapah Arben Rizaldi, DR Pardomuan berjalan  ke meja makan keluarga. Sangat terpukul DR Pardomuan. Sedangkan Mukurata kembali pulang ke negaranya setelah mengantarkan DR Pardomuan kembali dari rumah sakit.

Arman dan Ucok belum juga berhasrat ke lapangan. Mereka habiskan waktu bermalam di sekretariat mengenang perjalanan program yang baru berjalan 1 tahun. Sesekali Muslimin datang ke sekretariat meramaikan suasana pembicaraan. Jiwa sekretariat FDP terasa sangat lesu. Tak nampak kegiatan yang progresif dalam seminggu kematian Tigor dan Mikail. Niat DR Tumpak Parningotan untuk pindah memboyong seluruh anggota keluarganya dari Kepriano gagal terlaksana. Istrinya sangat keberatan DR Parningotan terlibat sepenuh hati dalam program FDP.

Dua minggu lagi motor yang dibawa oleh Tigor dan Mikail akan keluar dari bengkel. Walaupun dengan biaya tinggi, motor sudah dapat dipergunakan seperti sedia kala. Muslimin diserahi tugas untuk mengurus motor itu.

bersambung…

Kisah Sebelumnya:Bagian 13

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Abelard, Heloise, Birahi dan Reinkarnasi

Gerundelan John Kuan

tragedy love story
Gambar diunduh dari http://www.derekdelintfansite.com

Sudah beberapa kali saya melepaskan kesempatan mengunjungi Cina, selalu merasa sebaiknya menjaga sedikit jarak, mungkin dengan begini akan lebih bagus terhadap panoramanya, produk budayanya, atau orang-orang yang hidup di dalam sejarahnya. Pernah seorang teman bertanya seandainya saya berkunjung ke Cina lagi, paling ingin kemana, saya menjawab Yicheng dan Tibet.    Yicheng dan sekitarnya adalah daerah pengembaraan dan tempat Li Bai menumpang hidup di masa tua. Nama tempat ini agak jarang disebut, ia terletak di barat laut provinsi Hubei, atau mungkin saya kasih titik koordinat saja: 111°57′-112°45′ bujur timur, 31°26′-31°54′ lintang utara.

Dan Tibet, adalah demi berbagai lapis perbandingan sejarahnya dan letak geografinya, tentu juga demi agamanya.

*

Reinkarnasi lama, saya kira, adalah satu hal yang paling misterius di dunia moderen ini. Dan yang percaya akan hal ini kelihatannya sungguh tidak sedikit ——— bahkan yang tidak percaya agama Buddha Tibet juga mengakuinya dalam diam. Ini adalah salah satu sisi yang memancarkan kebaikan dunia manusia, saya berharap akan terus berlangsung. Kadang-kadang penganut agama Kristen terhadap perihal tertentu bisa menjadi sangat ketat dan sempit, seringkali memiliki semacam gaya ‘ ketika menguasai sebuah perdebatan, akan mengejar hingga lawan kehabisan nafas ‘, tetapi terhadap reinkarnasi lama, seperti tidak ada orang yang tampil meragukannya. Mengikuti perkembangan ini, tampaknya kelanjutannya tidak ada masalah besar.

 

*

Reinkarnasi lama biasanya seperti tidak keluar dari lingkup Dataran Tinggi Tibet.

Pada 3 Maret 1984 Lama Yeshe mencapai nirwana di San Fransisco, tanggal 12 Februari tahun berikutnya ada seorang bayi laki-laki lahir di Granada, Andalusia Spanyol, ternyata adalah reinkarnasi sang lama. Granada adalah dunia agama Katolik Spanyol kuno, Federico Garcia Lorca pernah menulis sebuah puisi, judul dan temanya mengambil ‘ Santo Mikael ‘, dengan Malaikat Agung Santo Mikael sebagai malaikat pelindung Granada. Saya pernah coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, puisinya sekitar enam puluh baris, bait pertama dan bait terakhir kira-kira begini:

 

Dari pagar balkon juga bisa kelihatan

bayang antara barisan keledai dan barisan keledai

penuh memikul bunga matahari, telah mendaki

gunung, gunung, gunung

 

……

 

Santo Mikael, raja segala benda Langit

raja diraja sejak dahulu kala

penuh dengan keagungan orang Berber

jeritan dan keanggunan jendela balkon

 

bagaimana seorang lama bisa memilih reinkarnasi di dunia seperti di atas? Tetapi menurut cerita, semasa hidup lama Yeshe pernah beberapa kali ke Granada menyebarkan Darma, dan kedua orangtua anak lelaki itu: Osel Hita Torres, adalah pengikut agama Buddha Tibet, ah, rupanya mereka adalah murid-muridnya!

Ketika Osel Hita Torres berumur dua tahun, dia dibawa orangtuanya ke India, Dalai Lama menatapnya dari dekat, memastikan bahwa anak Spanyol ini memang reinkarnasi lama Yeshe, maka prosesi masuk kuil dilakukan, dia menjadi pemimpin Kuil Kopan di Nepal, melanjutkan posisi lama Yeshe sebelumnya. Di seluruh dunia bukan sedikit orang yang tahu hal ini, saya kira, dan semua orang membelalakkan mata lihat, diam-diam mengakui maknanya yang penuh misteri itu, tanpa hingar-bingar.

Ini sungguh mitologi moderen yang paling menyentuh, sebuah kitab wahyu besar yang sulit dijelaskan. Saya sampai tidak tahan menulis sebuah puisi, meniru gaya nyanyian rakyat. Mengapa menggunakan gaya ini? Rupanya Malaikat Agung Santo Mikael yang di bawah pena Lorca membimbing saya, Granada yang dia lindungi membimbing saya.

 

     Datanglah datanglah, datang sampai di Andalusia

     Carilah daku carilah daku di Granada yang jauh…

 

*

Rasa kesunyian yang diberikan agama kepada manusia dapat saya bayangkan, bahkan saya percaya saya dapat menghargai kesunyian begini. Asketisme adalah sesuatu yang mulia, hal ini saya setuju juga, maka membaca karya sastra Barat abad pertengahan, masih bisa memahami.

Konon, agama juga memberi orang rasa khidmat dan puas. Mengenai ini saya masih belum bisa memahami. Kadang-kadang di dalam filem menunjukkan adegan demikian, misalnya seorang prajurit yang telah mengalami duka dan luka pelan-pelan bersujud menghadap angin dan awan di padang luas berdoa, rendah hati, lelah, dan di jauh seperti ada cahaya ilahi berpijar, menciptakan semacam rasa khidmat dan puas, seperti juga sangat mengharukan. Namun saya berpikir kembali, yang membuat hati tersentuh, bukan ‘ seperti ada cahaya ilahi berpijar ‘, bagi saya, yang menggetarkan hati, rupanya adalah efek yang dihasilkan dari crescendo musik latar.

*

Kesunyian relijius membuat orang tetap memiliki kesempatan kontemplasi, memang bagus.

Membuang dan menutup hawa nafsu seharusnya juga merupakan satu bagian dari kesunyian.

Saya sering berpikir: yang paling sulit di dalam kehidupan biara, pasti adalah membuang dan menutup hawa nafsu. Seorang lelaki atau perempuan di masa remaja karena hasutan sisi rohani meninggalkan kehidupan duniawi, masuk ke dalam kesunyian relijius, menjadi biarawan, memutuskan akar dari perasaan dan emosi alamiah, menekan birahi, bagaimanapun adalah sesuatu yang sulit dipercaya.

Walaupun sulit dipercaya, namun saya memilih sikap tidak begitu curiga ——— memang sulit, tetapi bukan samasekali tidak mungkin.

*

Perancis di abad ke-12 ada seorang teolog bernama Abelard, dengan pengetahuan yang luas dan penampilan yang menarik menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa, kemudian karena hubungan percintaan dengan muridnya, seorang gadis bernama Heloise, dia menikah dan mempunyai anak secara rahasia, melanggar sumpahnya, mereka masing-masing dikurung di dalam biara, seumur hidup tidak bisa bertemu. Ada yang menceritakan bahwa di masa tua Abelard menulis surat kepada teman, menyayangkan cinta lamanya yang makin kabur; hal ini diketahui Heloise, lalu menulis surat mengutarakan cintanya yang masih tumbuh merambat. Setelah keduanya meninggal dunia, surat-surat cinta mereka dicetak dan dibaca, menjadi salah satu kisah legendaris abad pertengahan yang paling memilukan dan memukau. Penyair Inggeris abad ke-18 Alexander Pope menulis sebuah puisi panjang: Eloisa to Abelard, membayangkan penerimaan dan penolakan Heloise terhadap cinta dan nafsu, membuat orang tercengang. Salah satu bagian seperti begini:

 

Datanglah, Abelard! Apa yang membuat kau takut?

Obor Venus tidak dibakar untuk yang mati.

Kemampuan alamiah tidak teledor, hanya agama tidak perbolehkan;

sekalipun kau mati jadi dingin, Eloisa tetap mencintaimu.

Ah putus asa ini, lidah api tak padam! Seperti demi yang mati membakar

terang, percuma cahaya yang hangatkan tempat abu tulang.

 

Setiap kali aku beralih pandang, apa pula itu?

Paras yang akrab, ke arahnya aku terbang mengejar,

bangkit dari dalam pepohonan, bangkit di depan altar,

menodai jiwaku, membuat sepasang mataku berenang liar,

Berkeluh demi kau, meniup mati lampu doa subuh,

kau diam-diam ikut campur di antara aku dan tuhan,

di dalam setiap himne aku seperti bisa mendengar dirimu,

sebiji rosari dihitung, setetes airmata lembut jatuh,

dan di saat gulungan awan harum dari tungku membumbung,

suara organ penuh berisi naikkan jiwaku berkibar,

begitu teringat dirimu, semua kekhidmatan menghilang,

biarawan, lilin panjang, gereja, berenang di depan mataku:

jiwaku yang terempas karam di dalam lautan lidah api,

dan altar menyala, malaikat-malaikat geleng menoleh.

 

Aku menelungkup di dalam kesedihan yang rendah, di sini

butiran kelembutan, kebajikan berkumpul di dalam kelopak mata,

aku gementar berdoa, berguling di dalam debu dunia,

mulai tahu di kedalaman jiwa kehormatan berpijar bagai cahaya fajar ———

Datanglah, kau yang paling sempurna, jika berani

dengan diri melawan Langit, merebut hatiku,

datanglah, dengan lirikan sepasang mata yang menggoda

sirnakan seluruh gambaran benderang sepenuh langit!

Bawa seluruh kehormatan, kesedihan, airmata itu pergi,

bawa seluruh pengakuanku yang tak berbuah dan doa pergi,

renggut aku, satu tarikan ke atas, renggut aku dari tempatku yang diberkati,

bantu setan-setan merebut paksa diriku dari sisi tuhan!

 

Tidak, tinggalkan aku jauh-jauh bagai kutub selatan buat kutub utara!

biarkan Gunung Alpen memisahkan kita, lautan luas menggemuruh.

Jangan datang, jangan tulis surat, tolong jangan mengingat diriku,

juga jangan seperti aku karena dirimu hati menjadi pedih!

Sumpah dapat dibatalkan, aku akan menghapus kenangan masa lalu,

lupakan aku, buanglah aku, sungguh-sungguh membenciku.

Mata yang indah, tampang memikat ( aku bisa melihatnya )

adalah paras yang telah lama aku cinta dan harap, selamat tinggal!

Oh cahaya kehormatan khidmat, oh kebajikan seindah Langit,

kelupaan suci membebaskan kegelisahan rendah!

Harapan yang segar merekah, gadis riang lembut punya Langit,

dan Keyakinan, kekekalan dini kita!

Silakan masuk, setiap tamu yang damai, yang ramah,

terima diriku dan selimuti aku di dalam peristirahatan kekal.

 

 

Come, Abelard! for what hast thou to dread?

The torch of Venus burns not for the dead.

Nature stands check’d; Religion disapproves;

Ev’n thou art cold–yet Eloisa loves.

Ah hopeless, lasting flames! like those that burn

To light the dead, and warm th’ unfruitful urn.

 

What scenes appear where’er I turn my view?

The dear ideas, where I fly, pursue,

Rise in the grove, before the altar rise,

Stain all my soul, and wanton in my eyes.

I waste the matin lamp in sighs for thee,

Thy image steals between my God and me,

Thy voice I seem in ev’ry hymn to hear,

With ev’ry bead I drop too soft a tear.

When from the censer clouds of fragrance roll,

And swelling organs lift the rising soul,

One thought of thee puts all the pomp to flight,

Priests, tapers, temples, swim before my sight:

In seas of flame my plunging soul is drown’d,

While altars blaze, and angels tremble round.

 

While prostrate here in humble grief I lie,

Kind, virtuous drops just gath’ring in my eye,

While praying, trembling, in the dust I roll,

And dawning grace is op’ning on my soul:

Come, if thou dar’st, all charming as thou art!

Oppose thyself to Heav’n; dispute my heart;

Come, with one glance of those deluding eyes

Blot out each bright idea of the skies;

Take back that grace, those sorrows, and those tears;

Take back my fruitless penitence and pray’rs;

Snatch me, just mounting, from the blest abode;

Assist the fiends, and tear me from my God!

 

No, fly me, fly me, far as pole from pole;

Rise Alps between us! and whole oceans roll!

Ah, come not, write not, think not once of me,

Nor share one pang of all I felt for thee.

Thy oaths I quit, thy memory resign;

Forget, renounce me, hate whate’er was mine.

Fair eyes, and tempting looks (which yet I view!)

Long lov’d, ador’d ideas, all adieu!

Oh Grace serene! oh virtue heav’nly fair!

Divine oblivion of low-thoughted care!

Fresh blooming hope, gay daughter of the sky!

And faith, our early immortality!

Enter, each mild, each amicable guest;

Receive, and wrap me in eternal rest!

 

Bait pertama di atas dengan cahaya api melambangkan cinta, disebut ‘ obor Venus ‘, adalah biarawati memohon Abelard datang, masuk ke dalam hati dan pikirannya, hidup nyalakan cinta dan birahinya, membuka kemampuan alami hidup dan nafsu. Bait kedua makin jelas menggambarkan yang siang malam dibayangkan Heloise adalah paras Abelard, sekalipun di depan altar juga tidak sirna, sehingga merasa Abelard telah masuk mengacau penglihatannya, berdiri di antara dia dan tuhan. Empat baris di awal bait ketiga, Heloise sendiri merasa terguncang oleh lindungan tuhan, merasa telah kehilangan kekuatan hati buat memikirkan Abelard, maka kian tidak peduli dengan bergelora memanggil nama Abelard, memohon dia dengan cintanya melawan tuhan, merebut hatinya, menghapuskan gambaran-gambaran malaikat di depan matanya, lalu bergabung dengan setan, merampas dirinya dari dekapan tuhan. Sekarang kita tahu nafsu adalah tidak baik, atau setidaknya di depan altar adalah sesuatu yang buruk, yang berlumuran dosa, yang dikuasai setan ——— dan Heloise dengan lantang meminta Abelard bersama setan, menuntaskan cinta dan birahinya terhadapnya. Ini adalah klimaks dari cinta yang menggelora dan gila, membuat pikiran orang terombang-ambing. Bait terakhir dimulai dengan [ Tidak ], Heloise jatuh dari puncak kegilaan cinta ke dalam kenyataan yang mati senyap, kembali ke dalam kesunyian yang mengelilingi biara, lelah, takut, lemah, hilang rasa, memohon malaikat menerimanya sebagai seorang biarawati yang taat, dan [ menyelimutinya di dalam peristirahatan kekal ].

Puisi Pope ini, telah memiliki kerangka discovering psychology, beberapa ratus tahun setelahnya, bagi yang pernah bersentuhan dengan psikologi analisis Freud, pasti akan melihat isyarat-isyarat seksualitas yang kuat di dalamnya. Dengan sedikit lebih dekat memperhatikan penggalan puisi yang tidak sampai lima puluh baris ini, dapat menguak gambaran yang diberikan Pope, mungkin adalah semacam proses masturbasi, adalah proses segelombang-segelombang menggulung naik gemuruh tumpukan fantasi seks Heloise. [ Merebut paksa diriku dari sisi tuhan ] tentu adalah klimaks, selanjutnya pelan-pelan surut, masuk ke alam kegelisahan, bimbang, penyesalan, dan putus asa.

*

Sesuai data sejarah sastra, ketika Heloise digoda, dirinya masih seorang gadis muda, sedangkan Abelard sudah lama melampaui parobaya. Setelah skandal ini meletus, Abelard dikebiri, dikurung di biara, Heloise juga dikurung di biara perempuan, membawa kenangan yang tak terkira.

Bagi Abelard, menghadapi [ biarawan, lilin panjang, gereja ] tidak terlalu sulit, walaupun masa lalu membuat sedih dan putus asa. Bagi Heloise, semua itu adalah hukuman tambahan yang dipaksakan dunia luar kepadanya: dia kehilangan kekasih, anak, dusun dan ladang, disekap di balik tembok biara; masa lalu tentu membuat orang sedih dan putus asa, yang terpampang di depan mata juga membuat sedih dan putus asa.

 

*

Umpama Heloise tidak mengalami sepenggal kisah dengan Abelard itu, umpama dia sejak gadis dan masih perawan sudah dibawa masuk ke biara sebagai biarawati, dia tentu tidak akan mempunyai nafsu yang begitu kuat bagai arus pasang naik. Kita seperti bisa begitu mengumpamakan, namun juga belum pasti.

Dengan demikian, kesunyian seharusnya adalah ritme kehidupan yang paling alamiah. Dia menengadah ke arah tuhan dan malaikat, khusuk mendengar lonceng doa subuh, bayang cahaya lilin panjang membawa damai hening dan ketaatan. Di bawah situasi begini, Heloise mungkin tidak akan mengalami pertentangan antara tubuh dan jiwa. Kemungkinan akan begini, namun juga belum pasti. Hal ini begitu sulit, begitu sulit benar-benar dipahami.

*

Mengekang nafsu di mulut dan perut, kekuasaan dan harta, nama dan lain-lain bisa dipahami, bisa dilaksanakan, hanya mengekang birahi adalah tantangan paling besar dalam hidup, dan yang bisa benar-benar teguh melaksanakannya sepanjang hidup sungguh sangat sedikit.

*

Apakah tuhan juga perlu mengekang birahi?

*

Maksud saya tuhan yang esa, apakah dia perlu mengekang birahi? Saya pikir, tuhan, yang esa itu, awalnya juga tidak mengekang birahi, kalau tidak dia tentu hanya menjadi tuhan bagi biarawan-biarawan yang teguh dan suci, dan tidak akan sejak awal sudah menjadi tuhan yang kita menengadah bersama.

 

*

Agama mendidik penganutnya dengan ‘ pengekangan nafsu ‘ yang terkandung di dalamnya, adalah hal yang baik. Seandainya ingin melalui pengekangan nafsu, meraba ke arah pertapaan, kesunyian, kehampaan, maka pasti harus ada sedikit ketentuan ——— yang disebut terakhir itu bukan setiap orang memerlukannya. Menurut saya, melakukan pengekangan nafsu, manusia masih bisa terus berkembang biak dan berkelanjutan, namun terhadap yang lain-lain mungkin agak sulit diduga.

Kecuali kita sungguh percaya perihal reinkarnasi itu.

A JUBILEE

Puisi Juminten Gerimis Rindu Rindu

keriaan
Gambar diunduh dari akun facebook Juminten Gerimis Rindu Rindu

ah, a jubilee
everywhere adorns gold
smiling masks sneer
foul whispers
throw waves
rotate in the same axis
dig deeper
where has the real
buried?
the moon weeps
brave a star is a joke
keep dancing
please don’t stumble

(wish
could hide
in your arms)

 

KERIAAN

ah, keriaan
di mana pun berhias emas
seringai senyum topeng
bisik-bisik cemar
melempar gelombang
berputar dalam inti sama
gali lebih dalam
di manakah yang sejati
terkubur?
rembulan merintih
tegar gemintang jadi lelucon
tetaplah menari
janganlah terjatuh

(berharap
bisa sembunyi
di rengkuhmu)

Lomba Menulis Resensi Buku

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Kabar RetakanKata – Ingin mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga? Ikuti saja lomba menulis resensi di Blog RetakanKata.Sesuai dengan yang telah diumumkan melalui funpage RetakanKata di facebook, maka untuk bulan Juli ini, Blog RetakanKata kembali mengadakan lomba menulis berhadiah. Kali ini lebih seru lagi, sebab hadiah dan pemenangnya diperbanyak. Jika sebelumnya kami hanya memilih dua pemenang, maka pada acara lomba kali ini, kami akan memilih tiga pemenang. Hadiahnya pun semakin menarik. Dan yang paling penting, lomba ini tetap gratis!

Lomba menulis kali ini dikhususkan untuk menulis RESENSI BUKU dengan ketentuan lomba sebagai berikut:

  1. Kamu dapat mengirim naskah lombamu sebanyak-banyaknya.
  2. Tentu saja karya yang dikirim dilampiri dengan kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia) dan alamat email atau nomor handphone yang mudah dihubungi.
  3. Resensi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
  4. Buku yang diresensi berupa buku fiksi.
  5. Resensi ditulis pada kertas A4 dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, dengan spasi 1,5 margin 3 cm dari atas, 2 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 2 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 1200 sampai dengan 2000 kata
  6. Hadiah:
  • Pemenang I mendapat pulsa sebesar Rp100.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang II mendapat pulsa sebesar Rp 50.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang III mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Batas akhir pengiriman naskah tanggal 29 Juli 2012. Naskah dikirim ke retakankata@gmail.com.
Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
Selamat Berkarya!

Mana Ina

Cerpen Agus Wepe

1

Kami duduk berhadap-hadapan di meja foodcourt[1] yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan bongkahan esnya yang besar-besar. Bu Bodro jelas lupa bahwa aku tak boleh kebanyakan es. Ina mengamatiku membuang bongkahan-bongkahan es itu tanpa ekspresi. Ah—Ina, mana senyummu itu?

Ina tak memesan apa pun. “Kau tak makan?” tanyaku. Ia hanya menggeleng tanggung. “Di sini makanannya terlalu banyak vetsin,” jawabnya. Ah, terlalu banyak hal yang telah kupikirkan. Ina pun sudah dewasa. Ia pasti tahu kapan saatnya lapar, dan kapan saatnya untuk berselera-makan. Tapi ia tidak makan sedari pagi. Aku tahu—aku sudah tanyakan pada ibunya tadi pagi. Sarapan buatan ibunya tak terjamah. Kuputuskan untuk bangkit dan mencari Bu Bodro.

Kupesankan Ina sepiring nasi berlauk tempe dan selada rebus. Sudah jelas ada makanan tanpa vetsin begini, kenapa ia masih tak mau makan? Terlalu banyak aku bertanya, terlalu banyak alasan yang telah ia persiapkan.

Kulihat ia mengetuk-ngetuk terali besi yang memagari foodcourt dengan kuku jarinya. Kusodorkan makanan kepadanya. “Makan,” kataku. “Kalau kau tak makan, nanti aku dimarahi ibumu.”

Yang kumaksud adalah ibu angkatnya. Ia sangat perhatian kepada Ina. Ia menikah dengan ayah Ina karena ia steril[2], dan ia sangat menyayangi Ina sebagaimana anak kandungnya sendiri.

Ina makan dan sesekali berhenti untuk memainkan sendoknya. Rautmukanya masih datar. Suasana hari ini pun benar-benar datar. Spanduk iklan obat maag yang melekat di terali sesekali berkibar pelan, tertahan oleh buntalan plastik berisi air yang digantungkan pada kedua ujungnya. Angin semilir tanggung. Meski foodcourt ini menghadap lapangan luas, pusaran angin kecil yang biasa menerbangkan dedaunan kering pun tak muncul kali ini. Tapi aku makan dengan lahap. Di kejauhan, pemilik kios lain memutar musik koplo keras-keras. Jari-jari kakiku mendadak bergerak membuat ketukan.

Dua bulan lalu, semua masih terasa menyenangkan. Kami begitu girang menjajal hal-hal baru; mendaftar ke klub pecinta alam, pergi ke seminar kewirausahaan sambil bergandengan, mencoba makanan di restoran yang baru dibuka, atau sekedar cekikikan sambil mengepas baju di mall. Kami tutup facebook kami, berharap ini tak akan jadi ajang mencari obyekan lagi.

Lihatlah kini—Ina jadi begitu membosankan. Ia tak pernah lagi mencubit. Ia tak pernah lagi mengingatkan untuk bangun pagi. Tak pernah ada lagi resep-resep baru yang ia ceritakan. Yang ada hanya tatapan yang seakan menuntutku untuk melakukan sesuatu.

“Aku tak lapar. Mas tahu itu. Mas harusnya tahu itu.”

Kutengok piringnya—masih penuh, lauk dan sayurnya teraduk-aduk kacau.

“Aku selesai,” kataku. Ina hanya menatapku, masih dengan mengaduk-ngaduk makanannya. Makanan kubayar. Semua, milikku dan Ina.

“Selesai,” tegasku. Aku melangkah keluar. Ina memanggilku kembali. “Mas!” teriaknya—“Aku pulang sendiri”.

Aku hanya membuang wajah.

Dari kejauhan, kulihat Ina makan dengan lahapnya—sambil sesenggukan.

***

2

cerpen agus wepe
Gambar diunduh dari kompasiana.com

Seorang perawat masuk dengan sebuah baki. Sebentar ia bercakap dengan Harjiyo, kemudian menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya. Ia kemudian meletakkan sebuah wadah berisi dua butir pil ke atas meja. Sanah, istri Harjiyo, mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga suster berusia tigapuluhan itu. Yang dibisiki kemudian mengajak berbincang di luar.

“Ini biasa terjadi, Bu. Memang biasanya badan ngilu, mual-mual—ini efek samping obatnya. Ibu mendampingi saja, diajak ngobrol dan berdoa. Memang harus telaten, Bu.” terang suster itu.

“Tapi saya ndak tega melihatnya, Sus. Bapak itu sudah kering-kerontang, tinggal tulang. Masih mau disuruh sakit-sakit begini.”

“Iya, Bu, saya tahu. Mungkin ada orang yang sangat Bapak sayangi, atau yang bisa membuat perasaannya tenang. Ibu bisa mendatangkannya ke sini. Ibu bantu saja agar Bapak merasa nyaman, ya.”

“Iya, Sus.”

“Baik Bu. Saya pamit dulu. Nanti jika butuh sesuatu, saya ada di pos perawat di ujung sana. Mari, Bu.”

Wajah Sanah masih terlihat khawatir ketika perawat itu pergi. Sebentar terdengar suara batuk-batuk dan erangan Harjiyo. Tergopoh-gopoh Sanah masuk untuk menenangkan suaminya itu.

“Ina mana, Nah?” tanya Harjiyo.

“Nanti sore, Pak. Pasti dia datang.” Sanah berkilah.

“Betul itu? Badanku sakit, Nah.”

“Iya, Pak. Nanti pasti hilang sakitnya.” Sanah mengelus kaki Harjiyo.

“Aku mati saja, Nah.”

“Hus—ini Ina sebentar lagi datang.”

Harjiyo menunggu hingga petang, hingga ia tak mampu lagi menahan sakit di tubuhnya. Ia jatuh tertidur. Hingga larut Ina tak datang.

***

3

Entah karena tayangan iklan televisi atau suatu sebab lain, sore itu Aning mencoba membuat teh yang paling sedap sedunia. Barangkali teh hangat itu mampu mencairkan kegundahan yang mengerak di hati suaminya. Bismillah, Tuhan pasti tahu jalan terbaik.

Hanya ada Aning dan Hendro di rumah. Hari magrib, namun si anak semata wayang belum juga pulang dari kampus. Hendro yang sedang rebah di kursimalas mendadak terbangun mendengar suara nampan beradu dengan permukaan meja. Aning mengambil tempat duduk di samping suaminya.

“Teh, Pak.”

Hendro menggosok matanya.

“Ya. Lha Ina mana?”

Aning mengangkat bahu. “Mungkin ke rumah Anam. Tadi pagi ‘kan, dijemput Anam ke kampus. Lagian, hapenya ketinggalan.”

“Oh—”

Hendro menyeruput tehnya, lalu membuang napas keras-keras. Aning senang mendengarnya. Teh sore ini memang enak, ternyata. Ya, mungkin memang inilah saat tepat untuk mendekati suaminya.

“Pak.”

Jantung Aning berdebar. Ia harus mampu membujuk Hendro.

“Kita jenguk Bapak, ya?” rayunya. Hendro terkesiap. Ia kira istrinya tak akan membahasnya kali ini. Namun, rupanya Aning masih selalu dihantui rasa bersalah terhadap mertuanya.

“Pak?”

Hendro masih ragu. Bapak marah. Bapak marah kepada Aning. Bapak marah karena Ina ikut tinggal dengan Aning. Tapi Bapak sakit. Sekarat malah.

“Kita bahas nanti,” tukasnya.

“Nanti kapan, Pak?”

“Ya nanti! Kita tunggu Ina pulang!”

Hendro mendengus kesal. Ia ingin menyalahkan istrinya, namun keputusannya untuk menikahi seorang perempuan mandul adalah keputusan yang ia buat sendiri. Ia sudah dewasa, punya anak gadis pula. Tak adil jika ayahnya tak merestui pernikahannya dengan Aning.

***

4

Pagi hari, Ina belum pulang. Entah ia menginap ke mana. Hendro tak peduli. Aninglah yang sangat khawatir kepada Ina. Ia sudah menghubungi Anam, namun Anam sudah tak bertemu dengan Ina sejak kemarin siang. Baru saja ketika ia hendak mencari ke kampus, datanglah SMS dari Ina, mengabarkan bahwa ia menginap di tempat kos kawannya. Ini pun cukup melegakan bagi Aning.

Pagi itu juga, rupanya Aning telah merencanakan sesuatu. Selepas Hendro berangkat ke kantor, berkemas ia membawa berbagai macam makanan dalam rantang. Ibu pasti lapar, pikirnya. Ia harus berani menemui mertuanya.

Aning sampai di rumahsakit tepat ketika Sanah tengah menyeka tubuh Harjiyo. Bau pesing bercampur desinfektan menyeruak dari seluruh ruangan. Aning berkempis hidung sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

S’amlekum,” Aning menguluksalam.

Alekumsalam, mangga pinarak[3].”

Aning sedikit terkejut melihat keadaan Harjiyo yang sedemikian rupa. Rambut gondrongnya telah habis, hanya tersisa kepala licin berhias segaris urat yang menonjol dan bercak-bercak hitam penuaan. Kakek bertubuh gempal itu telah banyak mengempis, tersisa balung-kulit[4] saja.

“Bapak?”

Harjiyo ingin mengangkat kepalanya, namun tak kuat. Sanah memberi aba-aba kepada Aning untuk mendekat. Datang ia berjongkok di depan ranjang pasien. Harjiyo mengangguk lemah.

“Kamu?”

“Iya, saya, Pak. Aning.”

“Ina? Mana Ina?”

“Ina, Pak?”

“Iya, anak—kamu.”

Wajah Aning bergetar. Matanya mulai merambang. “I—iya—anak saya?”

Harjiyo tersenyum. Aning mulai sesenggukan. Lemah ia menjawab:

“Pasti, Pak. Sore ini dia pasti datang.”

“In—ini—”

“Iya, Pak?”

“Kesempatan terakhirmu, untuk tidak berbo—hong.”

Perasaan Aning semakin kacau-balau. “Bapak memaafkan saya?”

“Ma-na—In-na!”

***

5

Aku duduk di meja foodcourt yang paling ujung, dekat kios nasi Bu Bodro. Dalam piringku teronggok dua centong nasi, dua potong mendoan, selada dan kecambah rebus, disiram dengan kuah sate. Di sebelahnya tergeletak segelas es teh dengan sedikit bongkahan es. Tak ada yang mengamatiku membuangi bongkahan itu.

Tadi pagi Ina telepon. Ia katakan bahwa ia tak pulang. Kami harus bertemu. Sore ini juga. Harus ada sesuatu yang diketahui. Harus ada sesuatu yang dipahami. Akung[5] sakit, katanya. Bapak dan Ibu tidak bisa menjenguk Akung, katanya.

Aku tak pernah paham seperti apa sebenarnya jalan pikiran Ina itu. Kadang ia bisa sangat menyenangkan, kadang sebaliknya. Ia bisa jadi sangat tertutup dan pendiam. Kadang ia bisa begitu senangnya, hingga ia tak segan-segan datang ke rumah hanya untuk memberitahukan bahwa resep buatannya berhasil. Di lain waktu, ia bahkan tak mau meneuiku sama sekali ketika aku datang ke rumahnya.

Memangnya semua perempuan seperti itu?

Aku menunggu agar muncul pemahaman yang sempat tertunda.

Hingga petang Ina tak datang.

 

 

Banyumas, 22012012


[1] pusat jajanan berupa kios-kios kecil yang dihimpun di bawah satu atap

[2] mandul, tidak subur

[3] silakan masuk

[4] tulang dan kulit, sangat kurus

[5] kakek

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #13

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 13

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

“Gila!! Sudah gila si Tigor itu. Masya …bicara soal estetika film dituduh cita rasa kelas borjuis. Gila!! Sudah gila si Tigor itu.” Susanti kesal karena segala jenis nasihatnya bersama Mikail sama sekali tidak dipedulikan Tigor.

“Sudahlah, aku sudah capek menghadapi Tigor. Marilah kita nikmati malam asmara ini hanya untuk kita berdua. Ini malam untuk kita sayang…,” kata Mikail sembari membelai rambut Susanti dengan penuh kasih. Kemudian Susanti peluk pinggang sambil menyandarkan kepalanya di dada penuh kelembutan. Mereka duduk di teras depan rumah Susanti, menikmati malam minggu. Lampu malam rumah sudah dipadamkan, jarum jam sudah menunjukan jam 11.20 malam. Pertanda seisi rumah Susanti sudah tidur semuanya.

“Jangan kau pergi ya…Mikail. Jangan kau rusak suasana kita ini karena mendadak bilang ada janji sama Tigor,” Susanti takut kehilangan peristiwa mesra yang indah.

“Hua…ha…ha,” Mikail tetawa deras. Lantas sadar sudah keterlaluan suara ketawanya. Dicumbunya bibir Susanti. Susanti respon kegairahan ciuman Mikail sampai matanya tertutup rapat, meresapi percintaan dalam batas kewajaran. Mereka juga yakin bahwa Ucok, Ningsih, Arman dan kawan-kawan FDP sedang asyik menikmati malam minggu bersama pasangannya masing-masing. Sementara Tigor dengan muka keriting berpikir keras membaca buku Karl Marx.

Dua minggu setelah nonton film Midnight Express, Tigor datang ke rumah Mikail.

“Wah, kenapa malam begini kau datang Tigor?” kata Ibu Mikail menyambut kedatangan Tigor jam 9 malam. “Iya…Bu,..ada yang mendesak. Mau jumpa Mikail.” Tigor langsung menuju kamar Mikail.

“Mikail, malam ini tokoh gerakan buruh, mahasiswa, tukang becak sudah ngumpul di rumah Pak Regar. Mau rapat tentang aksi besar-besaran dua hari lagi di DPR. Kawani aku, Kita sudah agak terlambat.”

Mikail pun ambil jaketnya, pulpen dan notes kecil, segera keluar rumah bersama Tigor. Motor dikebut Tigor agar sesegera mungkin sampai ke rumah Pak Regar di desa Kembang Bondar. Tempat rapat dilaksanakan.

Sedangkan jam setengah delapan tadi, di sekretariat FDP, DR Pardomuan, Ningsih, Armand dan Muslimin, Ucok sedang menyambut seorang dosen juniornya Pak Pardomuan yang baru pulang dari Jepang.

“Saya bingung sekali. Tak ngerti entah bagaimana saya bersikap,” tampak Pak Sahulaka sangat terbeban. Pedih sekali wajah dan perasaan Pak Sahulaka yang sulit sekali memilih kata-kata untuk bercerita.

Dua bulan yang lalu Pak Syukur, istri serta anak tunggal buah hati mereka yang manis Blusi -masih kelas satu SD- bersantai ke pusat pertokoan Rilmafrid yang baru dibuka. Waktu Blusi membuang bungkus eksrim di depan restoran, tiba tiba dua orang naik motor dengan kecepatan tinggi mengangkat paksa Blusi. Blusi  meronta-ronta dan beberapa motor mencoba mengejar Blusi. Semua orang menyaksikan kejadian itu, segera menunjukan solidaritasnya terhadap kemalangan yang menimpa Pak Syukur. Langsung hubungi polisi untuk membantu menemukan anak mereka Blusi yang manis. Segala usaha untuk menemukan Blusi selama dua bulan tidak membuahkan hasil. Ibu Syukur sekarang sudah diam dengan mata kosong hilang ingatan akibat peristiwa itu. Pak Syukur juga sering sakit-sakitan dan jarang datang ke kampus. Pak Sahulaka sangat kenal wajah Blusi karena saling kunjung antar kedua keluarga ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Keranci anak mereka yang sebaya Blusi bersahabat sangat akrab. Hampir setiap sore mereka bersama-sama les bahasa inggris maupun secara bergantian saling kunjung. Dua keluarga yang menjalin persahabatan yang erat sejak Pak Syukur dan Pak Sahulaka mahasiswa. Kemudian berada dalam kampus yang sama menjadi dosen, mereka terus menerus menjalin persahabatan semakin erat.

Dan, ketika Pak Sahulaka di Jepang dilihatnya Blusi sudah duduk di depan restoran. Duduk macam anak gelandangan. Jorok, bau, baju compang camping dan lidahnya sudah dipotong.Tak bisa lagi bicara dan tubuhnya tak mampu berdiri tegak. Ketika Pak Syukur ingin menggendong Blusi, seorang pemuda berwajah buas melotot sambil mengeluarkan sebilah pisau belati dari pinggangnya. Orang Jepang kawan Pak Sahulaka segera menarik tangan Pak Syukur agar secepatnya meninggalkan tempat itu. Kawan Pak Syukur langsung bercerita panjang. “Di Jepang terkenal sebuah sindikat bawah tanah. Mereka menculik anak-anak dari negara lain. Kemudian organ tubuhnya diambil untuk ditrasplantasikan ke pasien kaya raya yang membutuhkannya. Si pasien sembuh, tapi anak-anak itu menjadi cacat tak terurus. Diberikan kepada sindikasi pengemis. Anak itu diperas habis-habis setiap hari mengemis.”

“Pernah seorang dosen sedang sekolah ambil master di sini. Beliau dari Philipina, melihat langsung anaknya yang diculik beberapa bulan yang lalu. Dia ambil anaknya. Tapi besok paginya bapak dan anak itu sudah ditemukan tewas dekat pinggir sungai arah keluar kota.”

Pak Sahulaka tak mampu berpikir normal gara-gara melihat Blusi. Digagalkannya bea siswa yang sudah diterimanya dengan susah payah. Pak Sahulaka kembali ke Rilmafrid penuh kepanikan. Apakah kasus ini disampaikannya ke Pak Syukur atau tidak? Apakah ada gunanya kalau kita lapor kasus ini ke polisi ? Atas alasan itulah Pak Sahulaka datang berkunjung ke DR Pardomuan. Dan, tak ada jalan keluar yang mereka temukan, walaupun sudah 2 jam membahasnya. Semuanya hanya bisa terharu, membisu dan sedih atas kepedihan nasib Blusi dan Pak Syukur.

Tigor sudah tak sempat lagi hadir pada acara tersebut. Mikail dan Susanti juga tak hadir karena ada keluarga Susanti yang kemalangan. Seluruh warga FDP tak tahu sedang di mana Tigor saat Pak Sahulaka berkunjung ke sekretariat.

Malam itu Susanti sedang mendengar kaset baru Michail Frank di kamarnya sambil baring membaca novel terlarang karya Pramudya Ananta Toer: Arus Balik. Tapi, perasaannya sesak meronta, dibayang-bayangi ketakutan dalam kegelapan. Tak bisa santai menghayati lagu Michail Frank, dan tak bisa konsentrasi membaca karya Pramudya Ananta Toer. Susanti pikir Mikail sang kekasih tercinta juga sedang santai berada di kamarnya.

Ningsih, Armand, Muslimin dan Ucok sudah berada di rumahnya masing-masing melepas lelah setelah sehari penuh sibuk dengan berbagai kegiatan.

Padahal, Mikail dan Tigor dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Pak Regar di desa Kembang Bondar. Mereka sudah terlambat 2 jam hadir dalam pertemuan yang direncanakan Tigor. Sudah tak sadar lagi bahwa maut selalu menanti nyawa korban di jalanan gelap. Dilomba Tigor mobil kijang biru tua yang juga sedang ngebut. Dan, mereka berhadapan langsung dengan mobil truk besar membawa kayu gelondongan hasil pencurian. Mobil truk berat yang besar itu juga sangat kencang jalannya. Supir yang sudah mabok menghantam keras motor Tigor yang menggonceng Mikail. Tigor dan Mikail terpelanting jauh ke pinggir jalan terbentur hutan pohon karet yang berdiri kuat dan keras. Motor mereka hancur lebur di bawah truk besar yang supirnya mabok. Dada Mikail hancur luluh terbentur batang pohon karet yang baru ditebang. Kepala Tigor keras terbentur batang pohon karet yang besar. Hidungnya yang remuk bercucuran darah segar. Keduanya tak sadarkan diri. Dan, beberapa waktu kemudian mati di tempat.

Jam dua malam di Rumah Sakit Santo Yoseph,  Susanti bersama  ayah dan ibu.  Jimmi Rocky bersama ayah ibu dan DR Pardomuan, ibu, Arben Rizaldi serta Ucok, Armand, Ningsih, Muslimin — sudah berkumpul — bersama Rosita Dameria kakak kandung almarhum Tigor. Baru beberapa menit berada di rumah sakit, Ningsih dan Muslimin repot memangku dan mengipas ngipas tubuh Susanti yang sudah jatuh pingsan. Mayat Mikail dan Tigor sedang dibersihkan di kamar jenazah.

Dalam kepedihan yang sangat mendalam, ada juga rasa kebingungan ayah dan ibu Susanti. Rupanya selama ini anak kesayangan Susanti serius berpacaran dengan Mikail Pratama anak kawan dekat mereka. Pak Kurus segera dijemput dari pelabuhan Pangkoper oleh supir keluarga almarhum Mikail Pratama . Besok pagi DR Tumpak Parningotan akan datang naik pesawat pertama dari Kepriano. Dan, kepada  Mukurata segera dikirim kabar dukacita. Sementara Pak Regar, bersama tokoh gerakan buruh, pimpinan organisasi tukang becak, dan organisasi gerakan mahasiswa diintrograsi dengan ketat sambil dengan sadis tubuhnya disiksa habis habisan oleh prajurit militer. Sebelum dimasukan ke dalam penjara militer tanpa melalui proses hukum.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 12

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Karena Setiap Kata Punya Makna