Arsip Tag: lomba menulis 2012

Lomba Menulis Resensi Buku

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Kabar RetakanKata – Ingin mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga? Ikuti saja lomba menulis resensi di Blog RetakanKata.Sesuai dengan yang telah diumumkan melalui funpage RetakanKata di facebook, maka untuk bulan Juli ini, Blog RetakanKata kembali mengadakan lomba menulis berhadiah. Kali ini lebih seru lagi, sebab hadiah dan pemenangnya diperbanyak. Jika sebelumnya kami hanya memilih dua pemenang, maka pada acara lomba kali ini, kami akan memilih tiga pemenang. Hadiahnya pun semakin menarik. Dan yang paling penting, lomba ini tetap gratis!

Lomba menulis kali ini dikhususkan untuk menulis RESENSI BUKU dengan ketentuan lomba sebagai berikut:

  1. Kamu dapat mengirim naskah lombamu sebanyak-banyaknya.
  2. Tentu saja karya yang dikirim dilampiri dengan kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia) dan alamat email atau nomor handphone yang mudah dihubungi.
  3. Resensi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
  4. Buku yang diresensi berupa buku fiksi.
  5. Resensi ditulis pada kertas A4 dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, dengan spasi 1,5 margin 3 cm dari atas, 2 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 2 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 1200 sampai dengan 2000 kata
  6. Hadiah:
  • Pemenang I mendapat pulsa sebesar Rp100.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang II mendapat pulsa sebesar Rp 50.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang III mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Batas akhir pengiriman naskah tanggal 29 Juli 2012. Naskah dikirim ke retakankata@gmail.com.
Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
Selamat Berkarya!

Virginitas dan Sekelumit Problematikanya

Oleh: Gyan Pramesty
Virginitas dianggap sebagai mahkota terindah yang melekat kepada diri wanita, terjaga, terlindungi dan tak diperkenankan diganggu-gugat. Sebagian manusia mempergunakan eksistensi virginitas sebagai alat untuk mengukur nilai seorang wanita. Selaput tipis yang membentengi liang peranakan wanita dianggap gerbang keramat yang tak boleh terkoyak, sebelum waktu yang ditetapkan, yakni pernikahan. Terkoyaknya selaput tipis tersebut akan merusak nilai seseorang, setidaknya itulah yang ditanamkan oleh ribuan orang kepada wanita-wanita muda yang akan menginjak vase matangnya keinginan akan persetubuhan. Dogma positive yang dimaksudkan untuk memberi pengertian tentang seberapa rendahnya wanita yang membiarkan benda tersebut terkoyak. Amat sangat positive.
Tetapi dogma tersebut, sering kali berpindah fungsi sebagai pembatas hak asasi manusia (HAM), khususnya wanita. Masa puber merupakan masa berkembangnya hasrat terdalam dari seorang wanita, dan dogma tersebut memaksa mereka mengungkung hasrat tersebut sedalam-dalamnya, kewajaran yang dialih-fungsikan menjadi ketidak-wajaran.
Para wanita mengkerut, menyembunyikan hasrat mereka dalam balutan jubah-jubah kehormatan yang digadang-gadang sebagai kesucian. Mereka takut mengekspresikan diri-mereka sendiri, mereka mengingkari eksistensinya sebagai makhluk yang berhasrat. Terpaku dalam keharusan berselaput. Terdidik untuk menyembunyikan kucuran yang hanya bisa terealisasi dalam mimpi. Terdiam.
Salah interpretasi sudah melanda dunia kewanitaan. Masyarakat menuntut mereka tetap virgin, selalu perawan, sebelum ijab kabul di depan penghulu. Mereka melupakan ada hasrat yang keberadaannya tak mampu disangkal siapapun. Hasrat biologis.
Wanita semakin tersudutkan. Mereka yang terlanjur memberikan keperawanannya kepada seseorang, akan terus mempertahankan hubungan tersebut. meskipun mereka terkukung dalam penderitaan. Karena tak dapat dipungkiri, pria yang telah merenggut virginitas seorang wanita akan memperlakukan wanita tersebut sesuai dengan kehendaknya, karena yang ada dalam benaknya adalah si wanita tidak akan meninggalkan si pria karena tidak akan ada pria lain yang sudi menikahi makhluk tak berselaput dara. Alhasil, wanita kehilangan keberhargaannya.
Hal tersebut akan berimbas kepada seluruh aspek kehidupan wanita. Ia akan terlihat lebih suram, wajahnya tak bercahaya. Karena benaknya dipenuhi oleh berbagai yang tak pasti, sudikah si pria yang telah merenggut keperawanannya mengiringi langkahnya hingga ke pelaminan, adakah pria lain yang sudi menjadi suaminya setelah mereka mengetahui ketidak-perawanannya. Ia tertekan.
Maka dari itu, solusi yang paling tepat untuk fenomena tersebut adalah solusi psikologis yang harus diamalkan oleh para wanita di seluruh dunia.
Sebelum melakukan hubungan pranikah, para wanita harus berfikir ulang, cukup kuatkah landasan berfikirnya. Apabila si wanita tidak dapat melepaskan diri dari paradigma tentang virginitas yang ditanamkan masyarakat kepadanya, lebih baik ia menjauhi perbuatan tersebut. karena hanya akan menimbulkan penderitaan jiwa terhadap dirinya.
Tetapi, apabila ia yakin mampu melepaskan diri dari paradigma tersebut yakinlah dengan apa yang dilakukan. Yakinlah bahwa ia dan nilai yang melekat dari padanya tidak berdasarkan kepada selaput tipis yang ada di selangkangannya. Yakinlah bahwa ia adalah mahkluk mulia yang mampu menaklukan dunia. Yakinlah bahwa ia hanya ia yang mampu mendeskripsikan, bukan masyarakat serta paradigma kunonya.

Catatan:
Opini ini terpilih sebagai opini terbaik ketiga tentang ‘Seks Pranikah’

PEMAAFAN

Oleh Paulus Catur Wibawa
ilustrasi 3.bp.blogspot.com
Seks pranikah punya sejarah yang sangat panjang. Barangkali sejak pernikahan itu sendiri ada dan dilembagakan. Dan itu artinya sejak dahulu kala, sebelum Joko Tarub mengintip bidadari mandi, sebelum Kertanegara memuja Tantra sambil pesta orgy, sebelum para gundik dipelihara kumpeni. Sampai zaman ketika para artis suka merekam perzinahannya sendiri, ketika undang-undang mengatur rok mini dan ketika tetek palsu menambah percaya diri dan perasaan sexy.
Seks pranikah dan seks bebas tentu adalah istilah masa kini untuk menunjuk pada perilaku seksual—katakanlah, persetubuhan—yang dilakukan di luar ikatan perkawinan. Perbedaan dua istilah itu terletak pada cakupannya. Seks bebas dilakukan tak peduli dengan pacar, teman, kenalan atau bahkan orang yang—secara pribadi—tidak saling kenal. Seks pranikah dilakukan dengan orang yang (seolah-olah) akan menikah, meskipun pada akhirnya belum tentu menikah.
Banyak pihak telah berusaha menyadarkan betapa tindakan seksual harus dilakukan secara benar dan bijaksana. Seks bebas dan seks pranikah telah melahirkan berbagai gangguan kesehatan, rumahtangga yang hancur atau terpuruk karena ketidaksiapan, anak-anak “haram” yang tidak siap secara sosial.
Dalam masalah ini, perempuan sering menjadi korban. Terutama, bila ia sudah menyerahkan (atau dirampas) kehormatannya. Terlebih lagi bila laki-laki tersebut ternyata tidak menjadi suaminya. Sangat mungkin itu mengakibatkan luka yang dalam dan tak mudah diobati seperti misalnya, dendam pada laki-laki, penolakan pada konsekuensi dari hubungan seksual itu sendiri, pengucilan diri, stigma dari masyarakat sekitar dsb. Lalu bagaimana mensikapinya? Banyak solusi praktis sudah sering dikemukakan. Pertama, sekedar mengulang beberapa pendapat itu, laki-laki yang berbuat harus (dituntut untuk) bertanggungjawab. Salah satunya adalah dengan cara menikahi secara resmi. Tapi jika itu tidak mungkin, misalnya karena ia sudah beristri, pertanggungjawabannya harus dalam bentuk lain, entah secara kekeluargaan atau secara hukum. Kedua, perempuan yang menjadi korban juga harus bertanggungjawab. Sekalipun korban, ia juga terlibat dalam kondisi yang tidak diinginkan ini. Karenanya, ia harus juga bertanggungjawab, terlebih bila hubungan seks pranikah tersebut menyebabkan kehamilan. Sekarang ini banyak LSM dan lembaga keagamaan punya perhatian pada persoalan semacam ini. Ada yang concern pada ibu-ibu yang hamil di luar nikah, ada juga yang concern pada anak-anak yang lahir di luar pernikahan. Keempat, keluarga dan masyarakat sekitar perlu memberikan dukungan. Para korban tidak semestinya dijauhkan dari lingkungan, atau dikecam. Sebaliknya, mereka perlu dimaafkan dan dibantu untuk melanjutkan kehidupan mereka. Kelima, meminjam pendapatnya Hannah Arrent, perlulah memaafkan. Forgiveness is the exact opposite of vengeance, which acts in the form of re-enacting against an original trespassing whereby far from putting an end to the consequences of the first misdeed, everybody remains bound to the process, permitting the chain reaction contained in every action to take its unhindered course. Arrent memang pertama-tama bicara soal politik, yakni tentang korban Nazi. Tetapi saya kira ia benar, bahwa proses pemulihan hanya bisa terjadi setelah didahului dengan memaafkan—betapapun sulitnya—pihak-pihak yang bersalah. Tanpanya, pemulihan hanya seperti tongkat ajaib yang kekurangan mantra. Bisakah seorang korban memaafkan? Mungkin sangat sulit. Apalagi jika luka yang disebabkannya sangat dalam. Tetapi tanpa memaafkan, luka itu akan tetap ada, korban selamanya terbuang di alam dendam dan kekecewaan.

Catatan:
Opini ini terpilih sebagai opini terbaik pertama tentang ‘Seks Pranikah’

Pengumuman ‘Menulis Opini Dapat Pulsa’: Seks Pranikah

RetakanKata – Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ dengan tema SEKS PRANIKAH. Jangka waktu tiga hari ternyata tetap tidak membatasi semangat para sahabat untuk mengirimkan opininya.
Dan berikut ini diumumkan nama penulis dan opini yang terpilih sebagai opini terbaik pertama, kedua dan ketiga.

Selain ketiga opini tersebut, sebagai bentuk penghargaan RetakanKata kepada rekan-rekan mahasiswa, maka RetakanKata juga memilih satu opini favorit dari rekan mahasiswa berjudul “Keluargaku Adalah Segalanya Untukku” karya Anita Rachmawati.
Opini terbaik pertama akan mendapat hadiah pulsa senilai Rp 100.000,00. Opini terbaik kedua dan ketiga akan mendapat pulsa senilai Rp 50.000,00. Untuk opini favorit dari rekan mahasiswa akan mendapat pulsa senilai Rp 25.000,00. Pastikan nomor hape yang dicantumkan aktif sebab RetakanKata akan menghubungi anda dengan nomor 085958551155 untuk memastikan pengiriman pulsa jarak jauh.
Semoga pengumuman ini dapat memacu gairah menulis para sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa di seluruh penjuru Nusantara yang ingin ikut berpartisipasi atau yang karyanya belum terpilih untuk dimuat di blog RetakanKata. Sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa dapat mengikuti sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ berikutnya, dengan tema ABORSI.
Selamat mengikuti sayembara berikutnya! Salam membaca dan menulis!