Arsip Tag: bahasa batak

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #13

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 13

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

“Gila!! Sudah gila si Tigor itu. Masya …bicara soal estetika film dituduh cita rasa kelas borjuis. Gila!! Sudah gila si Tigor itu.” Susanti kesal karena segala jenis nasihatnya bersama Mikail sama sekali tidak dipedulikan Tigor.

“Sudahlah, aku sudah capek menghadapi Tigor. Marilah kita nikmati malam asmara ini hanya untuk kita berdua. Ini malam untuk kita sayang…,” kata Mikail sembari membelai rambut Susanti dengan penuh kasih. Kemudian Susanti peluk pinggang sambil menyandarkan kepalanya di dada penuh kelembutan. Mereka duduk di teras depan rumah Susanti, menikmati malam minggu. Lampu malam rumah sudah dipadamkan, jarum jam sudah menunjukan jam 11.20 malam. Pertanda seisi rumah Susanti sudah tidur semuanya.

“Jangan kau pergi ya…Mikail. Jangan kau rusak suasana kita ini karena mendadak bilang ada janji sama Tigor,” Susanti takut kehilangan peristiwa mesra yang indah.

“Hua…ha…ha,” Mikail tetawa deras. Lantas sadar sudah keterlaluan suara ketawanya. Dicumbunya bibir Susanti. Susanti respon kegairahan ciuman Mikail sampai matanya tertutup rapat, meresapi percintaan dalam batas kewajaran. Mereka juga yakin bahwa Ucok, Ningsih, Arman dan kawan-kawan FDP sedang asyik menikmati malam minggu bersama pasangannya masing-masing. Sementara Tigor dengan muka keriting berpikir keras membaca buku Karl Marx.

Dua minggu setelah nonton film Midnight Express, Tigor datang ke rumah Mikail.

“Wah, kenapa malam begini kau datang Tigor?” kata Ibu Mikail menyambut kedatangan Tigor jam 9 malam. “Iya…Bu,..ada yang mendesak. Mau jumpa Mikail.” Tigor langsung menuju kamar Mikail.

“Mikail, malam ini tokoh gerakan buruh, mahasiswa, tukang becak sudah ngumpul di rumah Pak Regar. Mau rapat tentang aksi besar-besaran dua hari lagi di DPR. Kawani aku, Kita sudah agak terlambat.”

Mikail pun ambil jaketnya, pulpen dan notes kecil, segera keluar rumah bersama Tigor. Motor dikebut Tigor agar sesegera mungkin sampai ke rumah Pak Regar di desa Kembang Bondar. Tempat rapat dilaksanakan.

Sedangkan jam setengah delapan tadi, di sekretariat FDP, DR Pardomuan, Ningsih, Armand dan Muslimin, Ucok sedang menyambut seorang dosen juniornya Pak Pardomuan yang baru pulang dari Jepang.

“Saya bingung sekali. Tak ngerti entah bagaimana saya bersikap,” tampak Pak Sahulaka sangat terbeban. Pedih sekali wajah dan perasaan Pak Sahulaka yang sulit sekali memilih kata-kata untuk bercerita.

Dua bulan yang lalu Pak Syukur, istri serta anak tunggal buah hati mereka yang manis Blusi -masih kelas satu SD- bersantai ke pusat pertokoan Rilmafrid yang baru dibuka. Waktu Blusi membuang bungkus eksrim di depan restoran, tiba tiba dua orang naik motor dengan kecepatan tinggi mengangkat paksa Blusi. Blusi  meronta-ronta dan beberapa motor mencoba mengejar Blusi. Semua orang menyaksikan kejadian itu, segera menunjukan solidaritasnya terhadap kemalangan yang menimpa Pak Syukur. Langsung hubungi polisi untuk membantu menemukan anak mereka Blusi yang manis. Segala usaha untuk menemukan Blusi selama dua bulan tidak membuahkan hasil. Ibu Syukur sekarang sudah diam dengan mata kosong hilang ingatan akibat peristiwa itu. Pak Syukur juga sering sakit-sakitan dan jarang datang ke kampus. Pak Sahulaka sangat kenal wajah Blusi karena saling kunjung antar kedua keluarga ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Keranci anak mereka yang sebaya Blusi bersahabat sangat akrab. Hampir setiap sore mereka bersama-sama les bahasa inggris maupun secara bergantian saling kunjung. Dua keluarga yang menjalin persahabatan yang erat sejak Pak Syukur dan Pak Sahulaka mahasiswa. Kemudian berada dalam kampus yang sama menjadi dosen, mereka terus menerus menjalin persahabatan semakin erat.

Dan, ketika Pak Sahulaka di Jepang dilihatnya Blusi sudah duduk di depan restoran. Duduk macam anak gelandangan. Jorok, bau, baju compang camping dan lidahnya sudah dipotong.Tak bisa lagi bicara dan tubuhnya tak mampu berdiri tegak. Ketika Pak Syukur ingin menggendong Blusi, seorang pemuda berwajah buas melotot sambil mengeluarkan sebilah pisau belati dari pinggangnya. Orang Jepang kawan Pak Sahulaka segera menarik tangan Pak Syukur agar secepatnya meninggalkan tempat itu. Kawan Pak Syukur langsung bercerita panjang. “Di Jepang terkenal sebuah sindikat bawah tanah. Mereka menculik anak-anak dari negara lain. Kemudian organ tubuhnya diambil untuk ditrasplantasikan ke pasien kaya raya yang membutuhkannya. Si pasien sembuh, tapi anak-anak itu menjadi cacat tak terurus. Diberikan kepada sindikasi pengemis. Anak itu diperas habis-habis setiap hari mengemis.”

“Pernah seorang dosen sedang sekolah ambil master di sini. Beliau dari Philipina, melihat langsung anaknya yang diculik beberapa bulan yang lalu. Dia ambil anaknya. Tapi besok paginya bapak dan anak itu sudah ditemukan tewas dekat pinggir sungai arah keluar kota.”

Pak Sahulaka tak mampu berpikir normal gara-gara melihat Blusi. Digagalkannya bea siswa yang sudah diterimanya dengan susah payah. Pak Sahulaka kembali ke Rilmafrid penuh kepanikan. Apakah kasus ini disampaikannya ke Pak Syukur atau tidak? Apakah ada gunanya kalau kita lapor kasus ini ke polisi ? Atas alasan itulah Pak Sahulaka datang berkunjung ke DR Pardomuan. Dan, tak ada jalan keluar yang mereka temukan, walaupun sudah 2 jam membahasnya. Semuanya hanya bisa terharu, membisu dan sedih atas kepedihan nasib Blusi dan Pak Syukur.

Tigor sudah tak sempat lagi hadir pada acara tersebut. Mikail dan Susanti juga tak hadir karena ada keluarga Susanti yang kemalangan. Seluruh warga FDP tak tahu sedang di mana Tigor saat Pak Sahulaka berkunjung ke sekretariat.

Malam itu Susanti sedang mendengar kaset baru Michail Frank di kamarnya sambil baring membaca novel terlarang karya Pramudya Ananta Toer: Arus Balik. Tapi, perasaannya sesak meronta, dibayang-bayangi ketakutan dalam kegelapan. Tak bisa santai menghayati lagu Michail Frank, dan tak bisa konsentrasi membaca karya Pramudya Ananta Toer. Susanti pikir Mikail sang kekasih tercinta juga sedang santai berada di kamarnya.

Ningsih, Armand, Muslimin dan Ucok sudah berada di rumahnya masing-masing melepas lelah setelah sehari penuh sibuk dengan berbagai kegiatan.

Padahal, Mikail dan Tigor dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Pak Regar di desa Kembang Bondar. Mereka sudah terlambat 2 jam hadir dalam pertemuan yang direncanakan Tigor. Sudah tak sadar lagi bahwa maut selalu menanti nyawa korban di jalanan gelap. Dilomba Tigor mobil kijang biru tua yang juga sedang ngebut. Dan, mereka berhadapan langsung dengan mobil truk besar membawa kayu gelondongan hasil pencurian. Mobil truk berat yang besar itu juga sangat kencang jalannya. Supir yang sudah mabok menghantam keras motor Tigor yang menggonceng Mikail. Tigor dan Mikail terpelanting jauh ke pinggir jalan terbentur hutan pohon karet yang berdiri kuat dan keras. Motor mereka hancur lebur di bawah truk besar yang supirnya mabok. Dada Mikail hancur luluh terbentur batang pohon karet yang baru ditebang. Kepala Tigor keras terbentur batang pohon karet yang besar. Hidungnya yang remuk bercucuran darah segar. Keduanya tak sadarkan diri. Dan, beberapa waktu kemudian mati di tempat.

Jam dua malam di Rumah Sakit Santo Yoseph,  Susanti bersama  ayah dan ibu.  Jimmi Rocky bersama ayah ibu dan DR Pardomuan, ibu, Arben Rizaldi serta Ucok, Armand, Ningsih, Muslimin — sudah berkumpul — bersama Rosita Dameria kakak kandung almarhum Tigor. Baru beberapa menit berada di rumah sakit, Ningsih dan Muslimin repot memangku dan mengipas ngipas tubuh Susanti yang sudah jatuh pingsan. Mayat Mikail dan Tigor sedang dibersihkan di kamar jenazah.

Dalam kepedihan yang sangat mendalam, ada juga rasa kebingungan ayah dan ibu Susanti. Rupanya selama ini anak kesayangan Susanti serius berpacaran dengan Mikail Pratama anak kawan dekat mereka. Pak Kurus segera dijemput dari pelabuhan Pangkoper oleh supir keluarga almarhum Mikail Pratama . Besok pagi DR Tumpak Parningotan akan datang naik pesawat pertama dari Kepriano. Dan, kepada  Mukurata segera dikirim kabar dukacita. Sementara Pak Regar, bersama tokoh gerakan buruh, pimpinan organisasi tukang becak, dan organisasi gerakan mahasiswa diintrograsi dengan ketat sambil dengan sadis tubuhnya disiksa habis habisan oleh prajurit militer. Sebelum dimasukan ke dalam penjara militer tanpa melalui proses hukum.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 12

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Torsa Sian Tano Rilmafrid*

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 1.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Tigor memang sudah sangat acap hidup dalam kondisi yang menegangkan. Anak polisi yang tinggal di pinggir pantai penuh dengan berbagai kasus kriminal penyelundupan barang antar Negara, menempa dirinya bermental baja keras tidak cengeng. Bapaknya termasuk polisi bermoral. Tidak seperti kawan-kawan sejawatnya. Walaupun polisi berpangkat rendah, tapi bisa saja hidup mewah sejahtera kaya raya, karena dengan gampang menawarkan diri menjadi pelindung para toke-toke penyelundup yang memasukan barang ilegal dari Melano ke negara Trieste. Bapak Tigor hidup seadanya, tidak mau jadi kaki tangan penyelundup hingga sering dituduh oleh sejawat maupun keluarganya sendiri dengan sebutan : Bapak Sok Moralis. Ia sama sekali tidak tergiur ikut dalam kancah kaki tangan penyelundupan antar negara.
Ketika abang sulung Tigor tamat dari SMA, secara mendadak Bapaknya minta pensiun dini. “Lebih baik aku berladang menanam semangka dan mangga golek, daripada sekantor dengan manusia manusia bejat di kantor polisi busuk itu” kata Pak Kurus. Maka sejak Tigor SMP kelas 2 catur wulan 2 tahun 1975, di tanah leluhur Pak Kurus, bapak kandung Tigor menghabiskan hari-harinya bersama istri tercinta. Bertani seperti ketika mereka masih muda.
Tentulah pelabuhan bebas Pangkoper harus menciptakan kondisi kota yang mampu memfasilitasi kebutuhan para pelaku berbagai jaringan penyelundupan. Seluruh kota penuh sesak dengan tempat-tempat hiburan semarak kegemerlapan malam, ramai gadis penghibur para pelaku bisnis penyelundupan. Tempat semua pihak yang terlibat bercokol setiap malam melakukan transaksi sambil menikmati hiburan. Mulai dari preman kelas kambing peminum tuak murah sampai kelas mafia kaliber puluhan milyar, tentara dan polisi pangkat rendah sampai ke tingkat perwira tinggi berkeliaran memenuhi seluruh sudut kota Pangkoper.
Kota Pangkoper semakin semarak lagi, karena di kota yang sama itu para nelayan penangkap ikan dalam jumlah besar juga melakukan transaksi. Paling sedikit setiap bulan terjadi pembunuhan sesama nelayan dan pembakaran pukat harimau oleh nelayan tradisonil. Berbagai asal usul daerah tempat tinggal nelayan berkecamuk hiruk pikuk di tengah laut saling sikut menyikut berlomba menangkap ikan.
Oleh sebab itu dengan mudah ditebak, bahwa Pangkoper pastilah sebuah kehidupan kota yang penuh dengan kasus-kasus kekerasan kriminal sadistis. Demi untuk menyelamatkan barang selundupan mobil mewah, elektronika, narkoba, sampai dengan penyelundupan mainan anak-anak berharga murah, adalah penyebab utama dari pertikaian antar anak manusia sepanjang waktu di kota Pangkoper.
Saut Hasudungan, abang sulung Tigor, memang ditawarkan Pak Kurus untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi, sebagai tindakan protes terhadap bapak kandungnya yang sok moralis itu, Saut Hasudungan lebih memilih sebagai pengusaha kedai tuak. Walaupun dia sadar, kehidupannya kelak kemudian hari pasti lebih sejahtera apabila menerima tawaran bapaknya masuk ke perguruan tinggi.
Sedangkan adiknya, Rosita Dameria, tamat SMA tahun 1977 kebetulan berotak encer dengan senang hati menyambut tawaran bapaknya untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di ibukota propinsi Rilmafrid. Sebuah perguruan tinggi ternama di negara Trieste. Anak bungsu keluarga itu adalah Tigor, sama sekali tidak tertarik dengan pola hidup kedua orang tuanya yang menghabiskan waktu bercocok tanam sepanjang hari.
Tapi, walaupun begitu, moral bapaknya yang dituduh sok moralis, secara utuh lengket di dalam jiwa Tigor. Tigor tidak merokok apalagi minum minuman keras berpesta pora narkoba seperti kawan-kawan sebayanya. Kegemarannya sepulang sekolah adalah ngobrol dengan para nelayan di rumah gubuk pinggir pantai. Melalui dialog intens, Tigor dengan tekun menguras segala informasi tentang kehidupan para nelayan yang miskin papa sengsara. Dan, ikut menghujat pejabat negara yang terus menerus melindungi pukat harimau dan segala bentuk penyelundupan di pelabuhan bebas Pangkoper tempat Tigor dilahirkan. Kebiasaan Tigor berikutnya adalah membaca novel. Seluruh novel karangan Mario Fuzo bertema intelijen dan kehidupan mafia Italia sudah habis digarapnya.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’