gambar diunduh dari juminten grimis rindu rindu facebook
TERHANTAM
terpana
jantung kehilangan degup
dingin menyelusup tulang punggung
kilat melumpuh beku
semesta mengambang diam
lebih cepat daripada tahun cahaya
dalam waktu kebenaran
tiada yang berarti lagi
kepolosan lahir
bagaimana bisa buta
bila nyawa bersedia diberikan
pelukan sarat rangkulan pengertian
dan lebih lagi
tiada pernah dalam beribu tahun membiarkan
tak juga akan meremeh
kebodohan adalah nama
bila diri masih bisa ditemukan
maka itu dusta
STRUCK
mesmerized
a heart misses a beat
a creeping chill in the spine
a paralyzing freeze lightning
the universe floats still
faster than the light years
in that moment of truth
nothing matters anymore
innocence is born
how can it be blind
when a life is willingly given for
a hug full of understandings
and then some
never in a billion years to let go
nor will it insolence
idiocy is the name
if oneself can still be found
then it is a lie
-rinaisenandungrindu/struck/terhantam/trancemomentsseries/chakradpsbali/may2012/
gratefully thankful to
– Rudi Cool for the inspiration
– Erha Limanov for the performance
Aku bangun tidur dengan masih mengantuk dan badan pegal-pegal. Semalaman tidurku gelisah. Berkali-kali aku terbangun. Dan melihat jarum jam yang bergeser terus-menerus, aku berdebar ketakutan. Hatiku serasa menciut.
Kendati azan subuh sudah selesai berkumandang, aku tidak segera beranjak dari dipan. Aku sengaja mengulur waktu. Aku ingin menikmati betul-betul detik demi detik terakhirku. Sampai Ibu melihatku dan menegur,
“Lho, To, kok malah bengong? Lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo, cepat mandi!”
Dengan malas aku beranjak mengambil handuk. Lalu beringsut menuju kamar mandi.
Setelah sarapan, aku lantas memasukkan barang-barang keperluanku ke dalam tas. Kakakku perempuan sudah menunggu di ambang pintu.
“Cepat, ah! Nanti terlambat!” ujarnya tak sabar.
Udara masih dilumuri kabut saat kami berangkat. Lagi-lagi aku sengaja mengulur waktu dengan cara memacu sepeda motor lambat-lambat.
Akhirnya kami tiba di Korem. Turun dari sepeda motor, aku menjabat tangan kakakku erat, seakan-akan ini adalah pertemuan kami yang penghabisan. Dia tersenyum dan menyuruhku bergegas.
“Sukses, ya!” katanya memompakan semangat.
Sebentar kemudian, dia dan sepeda motornya sudah menghilang di kelokan jalan.
Aku menjilat bibirku yang mendadak terasa kering. Tiba-tiba aku merasa mulas. Meski begitu, aku berhasil memaksa kakiku buat melangkah.
Sekelilingku masih sepi. Hanya kulihat seorang perempuan berperut buncit sedang berjalan lambat-lambat dengan kaki telanjang. Tangan kanannya memegangi bagian bawah perutnya yang menggelembung. Aku menuju mesjid di sebelah barat pintu gerbang. Hampir jam setengah enam. Namun di dalam mesjid kulihat ada dua shaf orang-orang sedang berjemaah sembahyang subuh. Tiba-tiba aku baru sadar. Dilihat dari belakang, keseluruhan bentuk jasmaniah orang-orang itu boleh dikatakan serupa: tubuh-tubuh tegap, punggung kekar berbentuk huruf V. Kebanyakan dari mereka berambut cepak. Untuk kesekian kalinya aku kembali gugup.
Tanpa kusadari, sinar matahari mulai mencabik sapuan benang kabut. Sekelilingku mulai ramai oleh pemuda-pemuda sebayaku. Seperti aku, mereka bergerombolan duduk di teras mesjid. Mereka mengobrol dan berkelakar dengan logat bahasa yang berlainan. Begitu akrab dan santai. Padahal dari pendengaran yang kutangkap, pemuda-pemuda itu kebanyakan kali baru saling mengenal. Alangkah iriku.
Aku memiliki sifat pemalu yang kata ibuku cenderung keterlaluan. Aku menyadarinya dan sangat tersiksa karenanya. Orang-tua dan kakak-kakakku tidak membantuku keluar dari sifat yang semakin lama menekan dan memasungku dalam kesendirian yang menyedihkan. Aku dan dua kakakku perempuan dibesarkan di bawah tangan besi Ayah. Kami diajar untuk menghormati orang-tua dengan penghormatan yang lebih mendekati rasa takut daripada kasih mesra. Ayahku seorang tentara berpangkat sersan mayor. Oleh lapangan pekerjaannya sebagai tentara, dia mendidik kami dengan kedisiplinan a la militer. Dalam pandangannya, segala sesuatunya harus berjalan teratur, rapi, dan tepat waktu. Penyelewengan dari ketentuan yang telah digariskan Ayah, akan membuahkan hukuman sesuai tingkat kesalahan yang kami perbuat. Sewaktu kecil, di antara tiga bersaudara, akulah yang paling sering digitik dengan sogok bedil atau dijedotkan ke tembok, hanya karena “kesalahan kecil” seperti terlambat pulang sekolah, tidak mau tidur siang, atau lupa mengangkat jemuran. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali geblég kasur mendarat di tubuhku, karena hal “sepele” yang serupa. Aku pernah mendengar sendiri Ayah berkata pada rekannya, kalau dia baru merasa puas memukuli kami—aku dan kakak-kakakku—setelah kami menangis melolong-lolong. Kalau memukuli anak tidak sampai menangis, rasanya kurang marem, katanya. Ibuku tidak banyak mengusik hukuman Ayah. Kebanyakan kali, Ibu hanya menjadi bayangan Ayah. Selesai mengerjakan kewajiban-kewajiban rumah-tangga, dia lebih suka melarikan kekosongan waktunya ke mesin jahit. Membikin pakaian atau menyambung-nyambung kain perca menjadi keset, serbet, atau taplak.
Sedari kecil aku mulai merasa diriku berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki di lingkunganku. Aku tidak suka bergerombolan pergi mandi-mandi di kali atau bermain sepak-bola dan kelereng. Permainan anak laki-laki seringkali membosankan dan membikinku berkeringat. Makanya aku tidak suka. Aku lebih suka menggabung kakak-kakakku yang bermain pasaran atau békel dengan teman-temannya. Tapi seringkali aku diusir, karena dianggap mengganggu dan merusak mainan mereka.
Melihat permainan dan pergaulanku yang berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki lain, aku kerap dihina dengan sebutan: banci! Darahku selalu mendidih mendengar hinaan itu, karena aku percaya tubuh dan jiwaku laki-laki tulen. Tapi aku hanya bisa memendam amarah, karena aku tidak bisa berkelahi. Anak-anak tentara yang lain, kerap membawa-bawa pekerjaan ayahnya agar ditakuti dan tidak ada yang berani mengejek, hingga mereka bisa berlaku sewenang-wenang. Tapi aku tidak pernah meniru kelakuan itu. Aku tidak suka berlindung di bawah ketiak orang lain, meski orang itu ayahku sendiri.
Sebagai laki-laki yang tidak pandai bicara dan menempatkan diri, aku selalu merasa gelisah dan canggung jika berada dalam keramaian. Aku ketakutan oleh sebab yang tak pasti. Aku takut bajuku jelek. Aku takut sikapku wagu. Aku takut diejek seperti perempuan. Makanya di sekolah aku lebih memilih tenggelam dalam tumpukan buku-buku perpustakaan daripada pergi ke warung jajan. Aku tidak punya teman dekat. Bagiku, berteman dengan buku-buku lebih mengasyikkan. Selain tidak usah bercakap-cakap, aku juga tidak perlu khawatir sikapku akan wagu.
Sampai SMA, aku masih meneruskan kebiasaanku mengunjungi perpustakaan. Selain alasan yang telah kusebutkan, ada kejadian lain yang membuatku semakin tidak betah berlama-lama di dalam kelas. Diprakarsai gerombolan siswa laki-laki, teman-teman sekelas berkomplot menjadikanku maskot kelas. Perkataan “maskot” di sini, bukanlah sebuah gelar yang membanggakan. Ini lebih dimaksudkan sebagai penghinaan. Aku menjadi bahan olok-olokan seantero kelas. Misalnya jika guru akan menunjuk siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis, tanpa dikomandoi, teman-teman kompak bersuara meminta guru menunjukku. Tidak cukup sampai di situ. Jika aku mau maju, teman-teman menyiuliku. Ada juga yang berkata sumbang, semisal: “I-hi…, pacarnya Lisa maju.” Yang akan disambung geer dan sorak-sorai teman-teman yang lain.
Bagiku, segala sesuatunya adalah perkara besar. Olok-olokan teman-teman sekelas membuatku tertekan. Tidak ada teman yang bisa kuajak bicara, selain tumpukan buku yang tetap tenang dalam kediamannya. Aku tidak menceritakan masalahku pada orang-orang di rumah. Selain malas, aku pikir juga tidak banyak gunanya. Paling-paling ibuku akan berkhotbah, “Kamu yang sabar, To. Banyak-banyaklah berdoa.” Sedangkan ayahku: “Salahmu sendiri nggak ngelawan. Jadi laki-laki kok melempem.”
Bingung hendak berbuat apa, akhirnya aku melampiaskan keruwetan pikiranku pada makanan. Di rumah, aku menjadi makhluk pemamah biak kelas wahid.
Pekerjaanku berpusar pada makan, tidur, sekolah, membaca. Tidak heran dalam tempo singkat tubuhku jadi melar. Dengan tinggi seratus enam-puluh delapan centimeter, bobot tujuh-puluh lima kilo membuatku tidak leluasa bergerak.
Suatu hari aku menemukan majalah bergambar sampul laki-laki bertubuh langsing namun atletis, ialah majalah Men’s Health. Melihat tubuh penuh ukiran otot itu, entah mengapa aku seperti tersihir. Mungkin lebih tepatnya kagum. Dalam diriku timbul sebuah pikiran: barangkali aku bisa seperti laki-laki itu! Aku ingin tubuhku jadi bugar dan ringan.
Berbekal bacaan dari majalah Men’s Health, aku yang sebelumnya tidak menyukai kegiatan yang menggunakan banyak gerak jasmani dan mengeluarkan keringat, tiba-tiba menemukan diriku begitu terobsesi pada olah-raga kardiovaskular, macam lompat tali, berenang, dan jogging. Memang mula-mula badanku sering pegal-pegal. Tapi lama-lama, asyik juga. Tujuan utamaku ialah ingin menurunkan berat badan. Hanya itu. Aku juga mengurangi porsi makan dan menelan pil pelangsing. Aku sungguh merasakan betapa tidak nyamannya bergerak ke sana ke mari dengan membawa tubuh tambun. Ditambah lagi aku tidak ingin membahagiakan orang-orang yang menemukan julukan baru bagi diriku, yaitu Paman Gembul.
Melihat diriku rupanya Ayah salah paham. Laki-laki pemuja kejantanan itu mengira anak laki-lakinya yang lembek telah berubah. Dia mengira aku berolah-raga karena ingin menjadi tentara!
Saat itu menjelang masa-masa akhir SMA. Aku belum punya bayangan hendak meneruskan ke mana. Tetapi Ayah dengan sifatnya yang pemaksa, menyuruhku mengikuti jejaknya: menjadi tentara. Boleh dikatakan aku terlahir dari keluarga tentara. Kakekku dari pihak Ibu; tentara. Pakdhé, Oom, dan saudara sepupu juga tidak sedikit yang menjadi tentara. Cuma ada dua sepupuku yang jadi polisi. Kata Ayah, di pundakku tersandang kewajiban buat meneruskan darah tentara keluarga kami.
Sewaktu Ayah berkata seperti itu, aku tidak membantah. Ayah selalu menjelma Burisrawa setiap kali bicara dan tertawa. Suaranya keras menggelegar, terbahak-bahak. Kali itu, Ayah kembali mengulangi ajarannya, bahwa rida Tuhan mengikuti rida orang-tua. Karena itu—kata Ayah—aku harus manut orang-tua, jika tidak mau laknat Tuhan menimpaku berpuing-puing.
Aku tahu watak orang-tuaku. Karenanya aku tidak berani mengatakan secara langsung penolakanku pada kemauan Ayah. Dengan hati-hati kukatakan bahwa kakiku impur dan bahuku miring sebelah. Dengan kekurangan-kekurangan itu, bisakah aku menjadi tentara? (Maksudku sebenarnya mengatakan hal itu tentu saja untuk memadamkan kemauan Ayah). Tapi ternyata Ayah tenang-tenang saja. Dia malah terkekeh dan berkata: itu semua bisa diatur. Kamu tenang saja. Aku mengerti maksud Ayah dan hal itu membikin hatiku kecut.
Aku tidak menyangsikan kesanggupan Ayah menjadikanku tentara melalui perantaraan rekannya. Aku juga tidak khawatir kantong Ayah bakal kering jika membiayaiku masuk pendidikan tentara—karena di kantor, Ayah menduduki kursi yang basah. Yang kusangsikan ialah kesanggupan diriku sendiri. Barangkali mudah saja aku masuk pendidikan tentara dengan uang pelicin. Tapi ‘ kan masalah tidak berhenti hanya sampai di situ. Bagaimana selama proses pendidikan? Bagaimana selama masa dinas? Sebagai manusia yang mawas diri, aku merasa memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan yang patut dibanggakan. Menjadi tentara selalu lebih mementingkan kekuatan otot, daripada ketajaman pikiran. Aku tidak dikaruniai ketajaman otak seperti kakakku sulung. Tapi aku juga tidak pernah menduduki peringkat istimewa dalam mata-pelajaran olah-raga. Nilai-nilai olah-ragaku tidak pernah beranjak dari angka enam atau enam setengah.
Aku ingin menolak kemauan Ayah. Namun hatiku yang kecil mengisyaratkan adanya kesialan yang bakal menimpaku jika aku mengecewakan Ayah. Berkali-kali kubuktikan sendiri, bahwa kata-kata orang-tua adalah malati, yang akan menimbulkan kuwalat jika tidak dipatuhi.
Mendekati masa-masa akhir SMA, hatiku semakin berdebar ketakutan. Ketakutan antara menghadapi ujian akhir nasional dan semakin dekatnya waktu pendaftaran tentara.
*****
Ternyata, aku lulus ujian akhir nasional dengan hasil yang tidak mengecewakan. Tentu saja. Kami seangkatan mendapat bocoran jawaban langsung dari kepala sekolah dan guru-guru. Dengan ijazah di tangan, pupus sudah ketakutanku yang pertama. Tinggal ketakutan yang kedua, yang saat itu kuanggap sebagai ketakutan yang terbesar dan menentukan kelanjutan masa depanku.
Sebulan setelah pengumuman kelulusan, pendaftaran Secatam dibuka. Menuruti perintah Ayah, aku pergi ke Ajenrem guna mencari informasi persyaratan pendaftaran. Semuanya kucatat kemudian kuurus berkas-berkas yang dibutuhkan.
Ujian seleksi tiba, kutempuh dengan hati diselimuti kecemasan.
Hari pertama ialah ujian kesehatan. Kami sebanyak seratus pemuda dikumpulkan di DKT. Kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing sejumlah sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok secara bergantian memasuki bilik-bilik pemeriksaan.
Dimulai hari pertama, aku sudah dihinggapi rasa rendah diri yang menyiksa. Betapa tidak. Selama proses ujian kesehatan berlangsung, kami diwajibkan hanya memakai celana pendek di atas lutut. Selama itu pulalah mataku disuguhi lautan penuh otot: dada-dada bidang, perut-perut kencang bergurat enam kotak, punggung-punggung tegap berbentuk huruf V, dan sebagainya lagi yang serba memancarkan kejantanan. Bodohnya, aku terus saja memperhatikan tubuh-tubuh sterk itu sambil membanding-bandingkannya dengan tubuhku sendiri. Alangkah jauh perbedaannya. Betul berkat latihan lompat tali, berenang, dan jogging, berat tubuhku susut menjadi enam-puluh kilo. Tetapi bentuk tubuhku lencir. Tidak bergurat-gurat otot seperti pemuda-pemuda itu.
Dari keseluruhan bilik pemeriksaan yang harus kami masuki, ada satu bilik yang membuat tubuhku panas-dingin. Dalam bilik itu, kami bersepuluh wajib telanjang bulat menghadap tiga dewan penguji. Sementara di sebelah kiri kami adalah jendela kayu yang terbuka lebar dengan taman dan koridor di seberangnya. Sesekali kulihat laki-laki berseragam hijau atau perempuan berpakaian putih-putih melintas. Dua penguji kami berseragam PDH. Mereka duduk di belakang meja sambil mencatat. Yang seorang berseragam putih-hitam. Laki-laki inilah yang memeriksa aurat kami satu per satu, depan-belakang. Sampai pemuda kesembilan, semuanya nampak tidak ada masalah. Giliran pemuda terakhir, yakni pemuda di sebelah kiriku, penguji itu kedengaran mengeluh. Aku sempat menoleh. Ternyata pemuda di sampingku hernia. Auratnya melorot, sehingga menjadi bentuk yang memuakkan.
Kukira, itulah bilik pemeriksaan terakhir. Aku keluar bilik dengan pikiran ruwet. Antara malu, kasihan pada pemuda itu, dan kecamuk pikiran yang lain. Yang jelas aku mendongkol pada ayahku. Dia tidak pernah memberitahuku bahwa dalam ujian seleksi masuk pendidikan tentara, ada satu tahap yang mengharuskan peserta untuk telanjang bulat. Ayah juga tidak menceritakan detil tahapan yang harus kutempuh selama mengikuti ujian seleksi. Dan hal ini membuat ketidak-sukaanku pada Ayah semakin berkarat!
Setelah mengaso selama empat jam, petugas memanggil nomor-nomor dada kami. Tidak semua nomor dipanggil. Kali itu, kami hanya harus masuk sebuah bilik, bergantian satu per satu hanya memakai celana dalam. Tibalah giliranku. Seorang penguji memeriksa tubuhku, kemudian menyebutkan kekurangan-kekurangan yang dia temukan (yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui): leher terlalu condong ke depan, bahu miring, punggung tidak simetris, kaki membengkok, dan telapak kaki rata seperti bebek. Dua penguji lain yang duduk di belakang meja hanya manggut-manggut, lalu mencatat. Tetapi tiba-tiba penguji yang tadi memeriksa tubuhku bersuara: dia anaknya Hadi Pranoto—sambil matanya menunjuk kepadaku. Dua penguji lain kembali mengangkat muka, sebentar meneliti keseluruhan diriku, lalu mengangguk, dan kembali mencatat.
Jam tujuh malam, hasil ujian seleksi tahap pertama diumumkan. Kami maju satu per satu menerima sepucuk surat sesuai nomor dada kami. Dan ketika kuketahui bahwa aku lulus ujian, aku merasa itu adalah sesuatu yang “wajar”. Kukatakan wajar, soalnya dengan begitu banyak kekurangan yang kumiliki, aku tetap bisa lulus, karena ada sebuah pesan sponsor: dia anaknya Hadi Pranoto. Dan pengetahuan ini, membuat aku semakin takut.
Usai pembagian surat , seorang petugas menjelaskan secara ringkas mengenai ujian esok hari, yaitu ujian jasmani: apa-apa yang harus kami bawa dan siapkan, juga di mana dan jam berapa kami harus berkumpul.
Keluar dari ruangan, aku menjumpai kakakku sudah menunggu. Kukabarkan tentang kelulusanku. Dia tersenyum, lalu kami pulang.
*****
Jam enam pagi peluit berbunyi, penanda dimulainya kegiatan. Kami berbaris rapi di sebuah lapangan tenis. Seorang tentara memberi penjelasan urutan-urutan ujian seleksi kali itu. Seperti sebelumnya, kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil.
Ujian pertama adalah berlari mengelilingi lapangan sepak-bola dalam waktu dua-belas menit. Tanpa kesukaran berarti, sampai bunyi peluit tanda berakhirnya waktu berlari, aku bisa menyelesaikan enam setengah kali putaran. Aku cukup bangga dengan pencapaianku itu. Ternyata, meski kakiku membengkok ke dalam, aku tetap mempunyai kesanggupan buat berlari kencang. Di antara anggota kelompokku, aku menduduki peringkat kedelapan.
Tetapi sebegitu akan ujian kedua, rasa cemas kembali menjalariku. Kami beriringan menuju palang-palang restok. Kami diberi waktu tiga menit buat melakukan pull-up atau back-up. Tiba giliranku, aku gemetaran. Tapi aku nekat. Dan nyatalah. Tanganku yang kurus tidak kuat mengangkat tubuhku sampai dagu melewati palang restok. Pemuda-pemuda lain menertawakanku. Dengan sedih, aku pura-pura tidak melihat dan mendengar. Penguji kami ada dua orang. Seorang daripadanya memperhatikanku dengan pandangan menghina sambil bibirnya berkecumik menggumamkan sesuatu, lalu berujar, “Nomor 385, nilai restok nol. Gagal!”
Ujian berikutnya segera menyusul: push-up dan sit-up.
Usai melakukannya, aku bersender pada anyaman kawat pembatas lapangan tenis sambil melipat kaki. Pemuda-pemuda di sekitarku ramai mengobrol. Sesekali aku turut mencampuri. Itu pun kalau aku ditanya lebih dulu. Tiba-tiba seorang tentara melambaikan tangan ke arahku. Aku menoleh kanan-kiri guna memastikan.
“Ya, kamu nomor 385!” serunya.
Aku bangkit dan langsung mendekat.
“Nomor 385,” ulang laki-laki itu, lalu beralih pada catatan di tangannya. “Namamu Teguh Triyanto?”
“Iya, Pak,” sahutku perlahan, tanpa menyembunyikan rasa penasaran.
“Yang tegas!”
“Siap, Pak! Betul saya!”
Tentara itu terkekeh. “Bagus. Begitu, dong. Itu baru namanya calon tentara,” lalu menyambung, “Kamu anaknya Hadi Pranoto?”
“Siap, betul!”
“Hmm.. begitu.” Dia manggut-manggut. “Ya sudah. Sana kamu kembali ke tempatmu!” Tangannya melambai, menyuruhku pergi.
Aku kembali duduk tanpa sempat tahu, kenapa tentara itu bertanya demikian? Hatiku menduga-duga, mungkin tentara itu adalah teman Ayah.
Ujian terakhir di Korem hari itu adalah pemeriksaan postur tubuh. Kami masuk sebuah aula dengan hanya menggunakan celana dalam. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku kembali dihinggapi rasa malu.
Kira-kira ada empat-puluhan pemuda yang masuk aula. Dua dari empat dinding aula merupakan lapisan kaca yang memantulkan keseluruhan bentuk tubuh kami. Aku mengelakkan mata, karena malu melihat pantulan tubuhku sendiri. Dua penguji memeriksa tubuh kami satu per satu. Bagian tubuh yang dirasa kurang sempurna, langsung diberi tanda silang menggunakan spidol merah. Giliranku, aku merasakan coretan di tengkuk, bahu kanan-kiri, pinggang, paha, betis, dan telapak kaki (sebelum mencoret telapak kaki, penguji menyuruhku mengangkat dan menunjukkan telapak kakiku). Lalu penguji berjalan ke muka tubuhku, mencoret dadaku kanan-kiri.
Penguji yang mencoreti tubuh, bersuara, “Lihat nomor 385. Bodinya mirip sekop.” Suara itu pelan, namun mengandung nada ketawa. Kurasa pemuda-pemuda lain mendengarnya, karena suasana aula yang senyap.
“Betul,” sahut rekannya yang bertugas mencatat. “Pahanya kayak talas Bogor !” suaranya keras, bernada kegirangan seperti menemukan mainan yang telah lama hilang.
Baru pertama kali aku mendengar ejekan seperti itu. Aku tersinggung. Ejekan itu serupa tusukan berbisa yang melumpuhkan kepercayaan diriku yang tersisa.
Dan seperti memiliki daya magnet, tiba-tiba berpasang-pasang mata menancapkan arah pandangnya kepadaku, seolah hendak mencari kebenaran kata-kata itu.
“Hei, siapa yang menyuruh kalian menengok?!” hardik penguji, mengoyak kesenyapan aula. Para peserta kembali menghadap depan dengan posisi tegap. Penguji pun melanjutkan tugasnya.
Tidak terkirakan rasa nelangsa yang merasukiku. Dan begitu saja. Tiba-tiba aku membenci diriku sendiri. Aku benci sekaligus malu memiliki bentuk tubuh seperti ini, Aku ingin menghilang. Ingin lenyap dan dilupakan. Andai saja aku memiliki keberanian untuk mengutarakan penolakanku pada kemauan Ayah, tentu aku tidak akan terperangkap dalam situasi yang tidak mengenakan ini.
Pemeriksaan postur tubuh selesai.
Seperti robot, aku keluar aula dengan hati hampa. Kami kembali berpakaian, dan lalu beristirahat di serambi samping aula.
“Euh, mestilah aku akan gagal,” keluh pemuda di samping kananku.
Aku menengok untuk melihat muka pemuda itu. Ternyata, dia teman satu kelompokku.
“Aku juga. Begitu banyak coretan di tubuhku,” sahutku tanpa bermaksud menghibur.
“Ayahmu tentara ya, Mas?” tanya pemuda itu mengalihkan pembicaraan.
Mengapa dia bertanya begitu? Apa tadi dia melihat dan mendengar percakapanku dengan seorang tentara di lapangan tenis, sehingga lalu dia bertanya demikian?
“Iya,” sahutku, segan. Aku selalu malas mengakui atau mengatakan pekerjaan ayahku. Soalnya, orang-orang kerap memerhatikan keseluruhan diriku, sebegitu tahu kalau ayahku seorang tentara. Mungkin hendak melihat dan mengukur: pantas atau tidak orang macam diriku menjadi anak tentara.
“Hmm.. Pastilah kamu mendapat pertolongan,” gumamnya tanpa melihat ke arahku.
Aku menerka kata-katanya itu sebagai sebuah sindiran. Dan sebagai tanggapan, aku tersenyum sumir.
“Ini pertama kalinya kamu mendaftar?” tanyaku.
“Bukan. Ini ketiga kalinya.”
“Kemarin-kemarin, kamu gagal di apa?”
“Postur tubuh.”
“Kedua-duanya?”
“Ya.”
Aku terdiam, ingin tahu lebih lanjut; apa kali ini pemuda itu “dibawa” oleh seseorang. Tapi aku malas menanyakannya. Aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri.
Berenang menjadi tahap terakhir dari ujian jasmani. Dengan menggunakan tiga buah truk, kami diangkut menuju kolam renang milik SPN di lereng Gunung Slamet.
Ujian renang dimulai. Kami kembali diharuskan hanya memakai celana dalam. Kuceburkan diriku bersama empat pemuda lain. Mungkin karena capek atau lapar atau karena dasarnya aku lemah, aku tidak kuat mengayuhkan tangan sekencang-kencangnya. Padahal di ujian ini, teknik menjadi tidak penting. Yang utama hanyalah rentang waktu yang ditempuh. Dan ketika tanganku menyentuh dinding finis, aku baru tahu kalau dari kami berlima, akulah yang paling bontot mencapai finis.
Sempat kudengar seorang penguji berseru, “Huu.. dasar lamban!”
Sewaktu duduk kembali di dalam truk yang selanjutnya mengangkut kami menuju Ajenrem, aku semakin berdiam diri. Pemuda-pemuda di sekelilingku asyik mengobrol, namun anehnya aku seperti tidak mendengar apa pun. Kulayangkan mataku menembus kaca pelapis kepala truk.
Sekitar jam dua siang, kami sampai di Ajenrem. Para peserta ujian turun dari truk seperti air bah, lalu mereka terpecah menjadi gerombolan-gerombolan yang duduk-duduk di emperan bangunan Ajenrem, atau di warung-warung makan dan pinggir jalan. Aku sengaja menyisih, berjalan ke arah timur, menuju alun-alun Purwokerto. Seorang pemuda yang tidak perlu kuketahui namanya, membuntutiku. Dia mengaku berasal dari Tegal. Setelah tahu aku orang asli Purwokerto, pemuda itu memintaku menemaninya mencari bakul mie bakso. Aku hanya kenal beberapa warung mie bakso di sekitar daerah ini, yaitu di daerah alun-alun kota sebelah timur Ajenrem. Setelah menemukan warung mie bakso, kutinggalkan pemuda itu menuju toko buku loakan di sebelah barat penjara. Aku membeli buku sejarah Kerajaan Aceh karya Denys Lombard. Lalu keluar, karena azan sembahyang asar telah memanggil.
Sebelum dan selama aku mengikuti ujian seleksi, ibuku telah berprihatin. Dia rajin berpuasa dan sembahyang tahajjud guna mengirimiku kekuatan. Sama seperti Ayah, Ibu juga berhasrat besar aku menjadi tentara. Kesungguhan Ibu membuatku terharu. Namun dalam sujud sembahyang asar kali itu, aku justru memanjatkan doa supaya aku gagal masuk pendidikan tentara. Aku telah semakin mantap bahwa aku memang tidak pantas menceburkan diri dalam lapangan pekerjaan itu.
Sewaktu aku bocah, kakekku pernah bercerita, dalam lapangan pekerjaan tentara, soal ejek-mengejek, hina-menghina bukan lagi menjadi masalah. Itu adalah hal yang “lumrah”, bahkan terkesan seperti menjadi “keharusan”. Katanya, ejekan-ejekan itu diperlukan guna mengasah kekuatan mental tentara, di samping kekuatan tubuh yang terlatih berkat latihan-latihan fisik. Kakek bilang, kekuatan mental adalah pokok kekuatan tentara yang akan mempengaruhi kekuatan tubuh untuk menjaga pertahanan negara.
Kata-kata kakekku itu hanya kudengarkan sambil lalu, tanpa perhatian penuh—karena tidak kurasakan pentingnya. Dan perjalanan waktu pelan-pelan mengikis ingatanku akan kata-kata itu. Tapi, kejadian di Korem dan kolam renang, membuat ingatanku kembali terseret pada kata-kata Kakek.
Aku memiliki telinga yang tipis. Dan jika aku menjadi tentara, tidak terbayangkan betapa selama proses pendidikan dan masa selanjutnya, aku “harus melayani” ejekan demi ejekan yang masuk ke telingaku—karena aku tidak pernah bisa memasabodohkan semua perkataan dan sikap yang merendahkan harga diriku; semuanya kudengarkan dan kupikirkan. Oleh kesadaran dan pengetahuan itu, aku merasa tidak siap dan tidak mampu.
Tapi aku takut. Aku seperti dikejar-kejar perasaan bersalah pada Ayah dan Ibu. Aku minta ampun dan juga mohon pada Tuhan agar menghindarkanku dari kemurkaan Ayah. Kalau aku benar-benar gagal di ujian ini, Ayah pasti akan kecewa dan marah padaku. Tetapi aku berharap, Ayah juga mengerti bahwa aku telah berusaha. Semoga.
Setelah sembahyang, aku merasa lebih tenang. Saat langit sebelah barat semakin merah, hasil ujian seleksi jasmani diumumkan. Tiap-tiap kelompok dibariskan secara berbanjar. Nomor-nomor kami dipanggil secara berurutan.
Petugas yang membagikan surat adalah tentara yang tadi menanyaiku di lapangan tenis di Korem. Begitu aku di hadapannya, entah kenapa wajah tentara itu nampak keruh. Dia seperti sedang memendam sesuatu. Atau mungkin dia kecapekan. Dia menyerahkan surat hasil ujian tanpa memandang ke wajahku.
Aku memojok untuk mengetahui hasil ujian. Dan, puji Tuhan. Sesuai yang kuharapkan, surat itu mengabarkan bahwa aku tidak lulus ujian seleksi jasmani! Dikatakan, aku tidak memenuhi syarat dalam bidang postur tubuh dan uji samapta restok. Keseluruhal nilai uji jasmani ditambah uji kesehatanku juga masih kurang dari batas ketentuan minimal. Aku disarankan mencari peluang lain di luar anggota TNI.
Aku tidak tahu kepada siapa Ayah “menitipkanku” (sebelum aku mengikuti ujian, Ayah telah memberi sejumlah uang muka kepada rekannya, agar semua prosesku dimudahkan). Dan memang aku tidak perlu mengetahuinya. Yang pasti, aku sungguh berterima-kasih kepadanya, karena sudah tidak meluluskanku. Aku menerima hasil ujian itu dengan lapang dada—karena seharusnyalah demikian. Aku segera menyisih. Sengaja berjalan melipir. Kutolehkan wajahku menghindari muka-muka para peserta. Beberapa pemuda mencegat, bertanya mengenai hasil ujian jasmaniku. Demi kesopanan, aku terpaksa berhenti dan melayani pertanyaan mereka. Secara singkat kujawab aku tidak lulus, lalu aku segera pamit. Aku tidak mau lagi bercakap-cakap dengan mereka. Dan memang tidak perlu. Dengan kertas hasil ujian di tangan, pikiranku kini dipenuhi satu hal: pulang. (*)
Ledug, 22 Desember 2010
Catatan:
Ajenrem: Ajudan daerah resort militer
Bakul: Pedagang
DKT: Detasemen kesehatan tentara
Geblég: Alat pemukul kasur dari penjalin yang dibentuk seperti raket
Korem: Komando resort militer
Marem: Puas hati
Nelangsa: Sedih
PDH: Pakaian dinas harian
Secatam: Sekolah calon tamtama
SPN: Sekolah polisi negara
TNI: Tentara nasional Indonesia
Wagu: Kaku; tidak pantas
*) Thomas Utomo bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tulisan-tulisannya dimuat di Annida, Suara Muhammadiyah, Radar Banyumas, Nikah, dan Fatawa.
Tanpa diketahui oleh Susanti, Muslimin sengaja diundang orangtuanya datang berdiskusi ke rumah.
“Syukurlah tadi Susanti pergi agak cepat ke rumah kawannya, sehingga kedatanganmu sesuai dengan rencana kita. Supaya jangan diketahui Susanti.”
Ibu persilahkan Muslimin duduk di ruang tamu. Sedangkan ayah masih pakai baju kantor ikut duduk bergabung di ruang tamu. Muslimin tampak bingung seolah dia duduk sebagai terdakwa di hadapan dua hakim yang siap memberi vonis. Ada salah apa aku, kok sengaja diundang mereka, pikir Muslimin. Tapi, sampai lelah Muslimin berpikir, dia tak menemukan jawaban atas pertanyaan besar yang ada di kepalanya. Apa lagi kedua hakim pengadilan itu kelihatan tegang menghadap terdakwa. Muslimin sudah menyediakan jawaban seandainya timbul perkataan menghujat:Jangan lagi dekati anakku!
Ah, bukan aku yang getol menjemput Susanti. Dia sendiri yang minta saya jemput setiap hari. Kalau ayah ibu keberatan saya menjemput anak ibu, mulai besok saya tak akan jemput. Muslimin keringat dingin duduk di hadapan para hakim.
“Begini ya.. Muslimin, kami tahu bahwa Susanti cukup cerdas dalam perkuliahan. Kecerdasannya juga diketahui oleh Om-nya yang ada di Trieste. Minggu lalu Om-nya kirim kabar ke kami. Kalau bisa Susanti pada akhir tahun kuliahnya bisa pindah ke Trieste. Dia bisa kerja di perusahaan Om-nya sambil kuliah. Sebuah jabatan penting akan dilimpahkan kepadanya. Jadi, kami harapkan pada akhir semester ini Susanti sudah berada di Trieste. Lagi pula, kalau Susanti berada di Trieste dengan kesibukannya setiap hari, lama kelamaan trauma ditinggal mati Mikail Pratama berangsur angsur hilang dari ingatannya. Kami sudah menganggap kamu adalah anak sendiri. Bagaimana pendapat kamu?” Ibu mempersilahkan Muslimin bicara.
Betapa bangganya Muslimin dianggap sebagai anak sendiri oleh sebuah keluarga kaya raya. Tak pernah terbayangkan olehnya status setinggi itu. Dianggap sebagai anak kandung sebuah keluarga kaya raya.
“Ah, bagi saya tentulah pindah ke Trieste lebih menjanjikan masa depan yang cerah.”
Sebenarnya ada juga kesedihan di hati Muslimin seandainya berpisah dengan Susanti. Tidak bisa lagi tertawa-tawa di atas motor, pergi ke Monza dan ngobrol asyik di FDP.
“Berarti kita sependapat. Kami pikir kamu tidak setuju Susanti ke Trieste karena fungsinya di FDP cukup menentukan. FDP itu kan hanya sebuah kegiatan sambilan sebelum menyelesaikan perkuliahan.”
Kali ini Muslimin suntuk. Kurang ajar! Apa program FDP itu tidak bisa menjadi sebuah pekerjaan profesionil yang terus menerus menuntut peningkatan kapasitas individual demi untuk memperjuangkan rakyat, Kurang ajar!! Pikirannya berkata begitu tapi mulut Muslimin mengucapkan,” Memang benar yang ibu bilang.” Lantas ayah bicara memecahkan kesunyian, “Bahkan saya takut gara-gara FDP kuliahnya jadi terganggu.”
Suasana kembali hening, masing-masing merenung dengan pikirannya masing-masing. “Kami harap kamu bisa bantu kami membujuk Susanti untuk menerima tawaran Om-nya pindah ke Trieste”. Tersentak Muslimin mendengar kalimat itu. “Iyalah..Bu saya usahakan,” jawabnya kemudian, sementara hatinya berontak : Akan kuhasut Susanti untuk tidak pindah ke Trieste. Betapa sunyinya hidup ini tanpa Susanti.
Setelah meneguk kopi yang sudah sedikit lagi, Muslimin berdiri. Ayah ibu juga berdiri. Ditepuk ayah pundak Muslimin sambil berkata, “Kenapa tak pernah lagi menulis di Koran? Saya senang sekali membaca tulisan kamu di koran.”
Kembali lagi Muslimin kelabakan memberi respon. Inilah dosa DR Pardomuan, saya dituntut pembaca koran untuk terus-menerus menulis. Semua orang tak tahu namanya saja opini Muslimin padahal itu adalah buah tulis DR Pardomuan. Dalam kesesakan jiwa, Muslimin masih sempat bicara, “Sebenarnya banyak buah pikir saya yang ingin dikirim ke koran. Tapi, karena kesibukan kuliah, saya tak sempat menulis.” Mampuslah kedua orang tua kaya raya ini, mereka pasrah kena tipu oleh mulut anak petani miskin. Hua…ha..dalam kemenangan ditinggalkannya rumah Susanti.
Ternyata kewajiban menjadi tukang ojek belum berakhir. Bersama Susanti acara-acara yang menyegarkan tetap saja dapat dilaksanakan dengan baik. Bahkan, beberapa acara yang membutuhkan saling keterbukaan yang semakin mendalam dapat mereka ciptakan. Minum es campur tempat yang tak pernah sepi dari kerumunan mahasiswa adalah tempat ngobrol panjang Muslimin dan Susanti mempererat perkawanan mereka.
“Mungkin sudah mulai ada getar cinta antar Muslimin dan Susanti, ya…,” kata Dirga Belanta sambil masukan kertas ke mesin tik. Arman, Ucok, Ningsih yang sedang di sekretariat tak ada yang memberi komentar. Dewi Lyana saja yang berani memberi respon, “Yah,..aku setuju saja seandainya mereka pacaran.”
Kemudian DR Pardomuan dating. “Mana Susanti? Kenapa dia belum juga susun jadwal ke lapangan?” DR Pardomuan menuju ruangannya. Baru sebentar berada di ruang kerja, dipanggilnya Dewi Lyana. “Uang akomodasi dan transportasi si Armand dan Ucok sudah diberikan. Apa Dirga Belanta sudah baca semua pedoman kelapangan? Tiap akhir refleksi bulanan saya akan wawancarai kalian berdua.” DR Pardomuan sudah full bekerja di sekretariat. Sedangkan Muslimin baru saja keluar dari sekretariat menyeberangi jalan menuju ruang meditasi samping rumah DR Pardomuan. Ke tempat monumental sejarah lahirnya FDP. Muslimin mau latihan meditasi karena belakangan ini banyak persoalan keluarga yang menimpa dirinya.
Iklim sekretariat FDP sedang berusaha menyesuaikan diri dalam suasana baru tanpa Tigor dan Mikail Pratama.
Syukurlah yang terjadi di FDP adalah maju dengan langkah harmonis. Walaupun mendapat tantangan yang berat dari keluarga, Susanti dapat mengerjakan tugas koordinator 3 wilayah kerja. Kemajuan interaksi antar FDP melalui Armand, Ucok dan Dirga bersama komunitas masyarakat petani mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. DR Pardomuan cukup berhasil dalam menjalin jaringan kerja dengan sesama LSM Rilmafrid. Sekaligus konsep dialog dalam menghadapi kemapanan konsep pemerintah yang sangat konvensionil, berhasil diterbitkan DR Pardomuan atas bantuan komunikasi dengan DR Tumpak Parningotan dan Mukurata.
Di keramaian pasar. Di antara lalu lalang orang. Di bawah tenda. Siang hari.
Saat lampu panggung menyala, ia sudah hadir. Hilir mudik, sibuk menata berbagai barang yang terletak di depannya: tengkorak buaya besar, tengkorak-tengkorak kecil, kulit ular, jimat, kalung dari gigi binatang, tombak, mandau dan sumpit yang disandarkan pada sebuah perisai; jaring besar, butah, tali nilon dengan mata kail besar di ujungnya, biji-biji buah kering, akar-akar kayu dan ratusan botol besar-kecil berisi cairan aneka warna. Ada juga kliping koran bergambar orang-orang berpenyakit kulit, kliping foto pejabat penting, sertifikat dan tiket pesawat bekas pakai. Di satu sisi, tampak onggokan benda yang ditutupi kain hitam. Di sudut lain, lebih besar dan paling mencolok, tampak sebuah benda yang diselimuti kain kuning, bertabur melati dan kenanga.
(Ceria dan bersemangat) Ayooo…! Mari… Mari kemari, bapak, ibu dan saudara-saudara. Ini pudak bukan sembarang pudak, tapi pudak harum mewangi. Ini minyak bukan sembarang minyak, tapi minyak yang manjur sekali! (Tertawa) Mari! Jangan segan, jangan ragu. Jangan sungkan, jangan malu!
Ya. Mari, saudara-saudara… Mau cari sahabat? Mari mendekat. Mau cari musuh? Harap menjauh. Saya ada di sini, khusus untuk Anda. Untuk silaturahmi, demi kebaikan bersama.
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara… Hari ini saya tidak jualan obat, tapi ingin berbagi pengalaman. Percayalah, saya tidak akan mengambil uang Anda. Jadi, jangan ragu-ragu. Mendekatlah! Anda beruntung sekali hari ini, karena akan bertemu dengan sesuatu yang belum pernah Anda lihat seumur hidup! Boleh percaya, boleh tidak: ketika benda ini saya tunjukkan di tempat lain di kota lain, beberapa orang pingsan, yang lain kesurupan! Jadi, saya mau mengingatkan: bagi Anda yang tidak kuat mental alias lamah bulu, jangan terlalu dekat! Silakan agak ke belakang. Soalnya, reaksi awal bagi yang pertama kali melihat biasanya dada berdebar, badan gemetar!
(Tersenyum lebar) Tapi jangan khawatir! Karena saya yang membawanya, tentu cuma sayalah yang mampu mengendalikannya (Tertawa). Jadi, tenang saja! Selama bersama saya, Anda aman. Dijamin! Sekarang… Apa yang saya maksud sebagai benda yang belum pernah Anda lihat seumur hidup itu? Anda ingin tahu?
(Dengan mimik serius, menunjuk benda yang diselimuti kain kuning) Anda lihat itu? (Mendekati benda itu) Inilah benda yang saya maksud. Anda tahu, ketika benda ini saya perlihatkan di tempat lain di kota lain, turis asal Malaysia dan Brunei berebut ingin membelinya, karena dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia! Mereka mendatangi hotel tempat saya menginap dengan membawa uang sekoper! Anda tahu, berapa mereka berani bayar? S-a-t-u m-i-l-i-a-r! Tapi tidak saya jual. Anda pasti tidak percaya: ditawar satu miliar, tapi tidak dijual. Apa saya sudah gila? Apa saya tak perlu uang? (Tertawa)
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara, maaf… Saya bukan sombong, tidak takabur! Anda lihat tiket-tiket bekas itu? Tiap bulan saya bepergian ke kota lain dengan pesawat terbang. Jadi, bagi saya, uang bukan soal. Maaf.
Tapi bukan itu intinya. Anda tahu, tanah warisan kakek saya saja di Pegunungan Meratus sudah ditawar perusahaan tambang s-e-r-a-t-u-s m-i-l-i-a-r! Kenapa? Sebab, di dalam tanah itu isinya b-a-t-u b-a-r-a semua! Jadi, apa artinya uang semiliar bagi saya? Yang ingin saya katakan adalah: berapa pun benda ini mau dibeli, t-i-d-a-k a-k-a-n s-a-y-a j-u-a-l. Kenapa? Karena b-e-n-d-a ini sendiri dan s-e-j-a-r-a-h yang melatarbelakanginya. Saya akan mengisahkan sejarah ditemukannya benda ini kepada Anda. Tetapi, sebelumnya, maaf, saya haus. Jadi, saya minum dulu… (Tertawa, mengambil botol air mineral dan meminumnya)
(Meletakkan botol air mineral) Anda sudah tidak sabar ingin melihatnya, setelah mendengar cerita saya tentang benda ini? (Tertawa) Sabar, sabar… Benda ini tidak akan ke mana-mana. Dia tidak boleh jauh dari saya. Soalnya, kalau benda ini lepas dari saya dan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, akan terjadi bencana! Saya akan mendapat sanksi luar biasa dari suku pedalaman yang memercayai saya untuk menjaganya.
S-u-k-u p-e-d-a-l-a-m-a-n? Ya! Anda tahu, saya telah mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan benda ini. (Mengubah ekspresi, menjadi lebih serius dan dramatis) Anda lihat ini? (Kepada penonton, memperlihatkan goresan bekas luka di sepanjang lengan dan leher) Inilah harga yang harus saya bayar untuk mendapatkan benda itu. Tapi hasilnya sepadan! Saya dan banyak orang sudah membuktikan keampuhan benda itu, meskipun, sebagai akibatnya, kepala saya hampir lepas dari badan. Anda mau bukti? Maaf, saya tidak bermaksud pamer. Bagi Anda yang punya ilmu sama atau lebih tinggi daripada saya, tolong jangan diganggu. Dilihat, boleh. Diganggu, jangan!
Maaf… (Mengambil mandau dan menghunusnya. Membacokkannya ke lengan, leher dan sekujur badan, lalu mengiris lidahnya) Anda melihat luka? (Memperlihatkan bekas bacokan dan irisan) Ada darah? Tidak? (Melemparkan mandau, mengambil tombak dan menyodorkannya kepada penonton) Ada yang bersedia menombak saya, lalu gantian saya yang menombak Anda? Jangan takut! Tak apa-apa. Kalau saya luka, saya tidak akan menuntut Anda! (Kepada penonton tertentu) Anda berani? Tidak? Oh. (Tertawa) Ya. Sudah. Tak apa-apa. (Kepada penonton tadi) Tak perlu pucat dan berkeringat begitu… (Tertawa, menaruh tombak)
(Serius lagi) Tadi sudah saya katakan: kepala saya hampir lepas dari badan untuk mendapatkan benda itu. Betul! Asal Anda tahu, sejak remaja saya sudah melanglang buana, merantau ke mana-mana, terutama ke pedalaman. Bila di antara Anda ada yang berasal dari suku yang akan saya sebutkan nanti, tolong maju ke depan. Saya akan bicara dalam bahasa suku Anda, agar Anda yakin bahwa saya tidak bohong. Di setiap suku di mana saya pernah tinggal, saya punya satu istri. Jadi, silakan hitung sendiri berapa jumlah istri saya, sebab saya sendiri lupa jumlah persisnya! (Tertawa)
Saya pernah tinggal dengan suku Dayak Meratus di Loksado, di Halong, dengan orang Maanyan di Warukin, orang Bukit di Labuhan. Juga, saya punya istri dari suku Bakumpai, Ot Danum, Lawangan, Deyah, Ngaju, Kenyah, Benuaq…
Ada di antara Anda yang berasal dari suku-suku itu? Mau bicara dengan saya dalam bahasa suku Anda, untuk membuktikan bahwa saya benar-benar pernah tinggal di sana? Ada yang berani maju? (Tangan kanan mengambil mandau, tangan kiri mengambil botol air mineral dan mereguknya. Mata nyalang mengedari penonton)
Tidak? Tidak ada di antara bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang berasal dari salah satu suku yang saya sebutkan tadi? Baiklah… (Menaruh mandau dan botol air mineral) Saya mau mengatakan… (menunjuk benda berselimut kain kuning) benda itu bukan berasal dari salah satu suku yang saya sebutkan tadi, tapi dari suku terasing tak dikenal yang belum diketahui. Mereka tak mengenal, dan tidak dikenal, oleh masyarakat umum, tinggal di gua pegunungan angker yang tak terjamah orang-orang beradab seperti kita. Mereka tak punya nama, tak punya bahasa, tinggal di tempat yang tak ada di peta. Mereka tanpa busana, dan hidup di zaman batu. Dari lima orang yang pernah ke sana, cuma saya yang selamat. Yang lain… (dengan jari tangan, melakukan gerakan memotong leher). Cuma saya yang tahu tempatnya. Tapi, maaf, saya tak bisa mengatakannya kepada Anda, sebab ini rahasia…
Namun, sebelum saya melanjutkan cerita tentang suku tak dikenal itu dan benda keramat mereka yang nanti akan saya buka, saya mau menyampaikan rahasia lain. Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara semua mungkin bertanya: kenapa saya bisa selamat saat bertemu suku terasing tak dikenal, pengayau dan kanibal, yang masih tinggal dalam gua dan tak bernama itu? (Lebih rileks) Saya akan membuka rahasianya. Orangtua angkat saya, yang berasal dari salah satu suku yang saya sebutkan tadi, sebelum saya pergi, membekali saya dengan minyak. M-i-n-y-a-k? Ya! (Mengambil bungkusan kain kuning) Mungkin selama ini Anda kenal minyak sinyongnyong, minyak kuyang, minyak wayang, minyak kukang, minyak bintang, minyak bubut, minyak rambut dan minyak… kulanjar (Tertawa).
Nah, berbeda dengan minyak-minyak tadi, yang kegunaannya kita semua tahu, ini minyak yang sama sekali lain! Bila minyak sinyongnyong, minyak wayang dan minyak kukang untuk pekasihan, seperti pelet di Jawa, minyak kuyang dan minyak bintang untuk kesaktian, dan minyak bubut untuk pengobatan, maka minyak timpakul yang saya bawa ini adalah untuk keselamatan dan kemakmuran.
Minyak timpakul? Ya! Saya ulangi: m-i-n-y-a-k t-i-m-p-a-k-u-l. Ya, betul! Anda tak salah dengar. Menurut saudara ipar dari sepupu keponakan istri saya yang makan sekolahan, Djebar Hapip, timpakul itu i-k-a-n b-u-t-a. Entah apa maksudnya, padahal matanya sebesar mata kodok. Katanya, manimpakul adalah sifat orang yang mudah berubah, tidak tetap pendirian. Sedangkan timpakul janjan adalah sifat orang yang jelek perilakunya. Tapi itu menurut Djebar Hapip! (Ketawa ngakak.). Nah, kalau timpakul berhabitat di rawa-rawa, di pinggir sungai atau di kayu apung, ada juga hewan lain yang perilakunya mirip, tapi tinggal di pepohonan. Apa itu? Angui. Saya ulangi: a-n-g-u-i.
Tapi, berbeda dengan timpakul yang tak ada persamaan namanya dengan binatang sejenis dalam bahasa Indonesia, angui punya, yaitu b-u-n-g-l-o-n. Lalu, menurut Djebar Hapip tadi, angguk angui adalah ungkapan untuk orang yang selalu mengiyakan, tapi kerjanya juga yang jalan.
Baiklah, saya tidak akan bicara panjang lebar tentang angui atawa bunglon, tapi khusus tentang timpakul saja. Anda tahu, setelah orangtua angkat saya itu memanggil ruh timpakul melalui upacara khusus, sesuai dengan adat dan kepercayaannya, proses pembuatannya pun dimulai. Empat puluh satu ekor timpakul dimasak tepat tengah malam Jumat, saat langit tak berbulan tak berbintang. Dengan minyak yang dibuat dari kelapa gading dempet tiga, dicampur ramuan khusus, dikerjakan setelah orangtua angkat saya itu berpuasa empat puluh satu hari, dan selama itu tak boleh menikmati makanan yang dimasak dengan api, ditambah mantra-mantra rahasia, jadilah saripati timpakul: muncul dalam bentuk minyak, seperti yang akan Anda lihat.
(Perlahan dan hati-hati mengeluarkan botol kecil berisi cairan dari dalam bungkusan kain kuning, meletakkannya di telapak tangan) Anda lihat? Ini adalah s-a-r-i-p-a-t-i alias i-n-t-i atawa h-a-k-i-k-a-t jiwa timpakul. Tepat tengah malam Jumat, olesi jari manis Anda dengan minyak ini. Tanpa menarik napas, tekan jari manis Anda ke langit-langit mulut. Selesai. Keselamatan dan kemakmuran menanti Anda. Mengapa? Karena Anda sudah menyatu dengan jiwa timpakul, sudah manimpakul, mambatang timbul! (Ketawa ngakak)
Manimpakul tidak jelek. Itu cermin kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Kita tahu, timpakul biasanya tinggal di tebing-tebing sungai atau di kayu apung yang hanyut. Bila gelombang datang menyapu tebing atau kayu apung tempat timpakul berada, dengan gesit ia melompat ke tebing atau ke kayu apung lain untuk menyelamatkan diri. Tebing atau kayunya tenggelam, dia tidak. Begitu seterusnya. Nah, mengapa cara bertahan hidup yang luar biasa itu dimaknai jelek? Apa salah timpakul? (Ketawa ngakak)
(Mengambil handuk kecil dekat bangku, menyeka keringat yang membanjiri wajahnya) Timpakul tidak bersalah! Andalah yang salah kalau hari ini, pada hari baik bulan baik ini, tidak memiliki minyak ini, karena belum tentu kita akan bertemu lagi. Kalau Anda berminat, silakan. Jumlahnya terbatas. Ini hanya untuk sepuluh orang. Jadi, Anda harus cepat kalau mau dapat. Apakah saya menjualnya? Berapa harganya? Eit, maaf! Sejak awal sudah saya katakan: saya tidak berjualan.
Eit…! Eit, eit, eit…! Sabar, sabar…! Jangan saling dorong begitu! Sabar saja. Kalau memang berjodoh, Anda semua pasti kebagian. Dengar… Dengarkan saya! Saya tidak menjual minyak ini. Kalau tetap memaksa, Anda bisa mendapatkannya, tapi dengan maharnya: mengganti ongkos transportasi saya dari-pedalaman-kemari. Anda tentu tahu berapa tarif angkutan umum dari sana ke sini. Itu saja. Dan minyak ini saya hadiahkan kepada Anda. Anda ikhlas memenuhi permintaan saya?
(Tersenyum lebar) Baik, baik, baik… Anda semua ikhlas. Baiklah. Tapi nanti dulu! Sabar. (Menunjuk benda yang ditutupi kain kuning) Anda ingin saya membuka benda itu sekarang? Atau, nanti saja? Anda ingin buru-buru menebus minyak ini? Baiklah. (Bertepuk tangan, memanggil seseorang di antara penonton) Ini asisten saya. Silakan berhubungan dengan dia untuk mengambil minyak timpakul dan, jangan lupa, serahkan maharnya. Dia akan berkeliling untuk membagikannya pada bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang beruntung. Sementara itu, saya akan menyampaikan kisah sukses orang-orang yang sudah menggunakan minyak ini.
Seperti dapat dilihat, di depan ini adalah foto-foto dan kliping berita surat kabar. Anda tahu, siapa mereka? Mereka adalah pedagang, pengusaha, kontraktor, ulama, guru, pegawai, karyawan, wartawan, seniman, jaksa, hakim, polisi, tentara, pejabat dan wakil rakyat yang sukses karena sudah menggunakan kehebatan minyak timpakul alias manimpakul. Karyawan rendahan yang ingin selamat dan disukai atasan, siapa pun atasannya, gunakan minyak timpakul!
Lurah, camat, kepala bagian atau kepala dinas yang ingin disayangi bupati atau walikota, gunakan minyak timpakul. Kasi, kabag, kasubag, kasubdin, kabid, kepala dinas, kepala perwakilan atau asisten yang ingin selamat dan disayangi gubernur, gunakan minyak timpakul. Bupati, walikota atau gubernur yang ingin lancar berurusan dengan depdagri atau presiden, gunakan minyak timpakul. Sekjen, dirjen atau menteri yang ingin selamat dan disayangi presiden, tidak dicopot walau bagaimanapun kondisi rakyat, bangsa dan negara, gunakan minyak timpakul.
Anda tahu, yang terbukti sukses karena sudah manimpakul adalah wakil rakyat di parlemen: di kabupaten, di kota, di provinsi, apalagi di pusat… (Ketawa ngakak)
(Ceria dan bersemangat) Ayooo…! Mari… Mari kemari, bapak, ibu, dan saudara-saudara. Ini pudak bukan sembarang pudak, tapi pudak harum mewangi. Ini minyak bukan sembarang minyak, tapi minyak yang manjur sekali. (Tertawa) Mari! Jangan segan, jangan ragu. Jangan sungkan, jangan malu!
Lampu padam.
*) Y.S. Agus Suseno, lahir dan bermukim di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Menulis puisi, cerita pendek, naskah teater, editor buku sastra, pekerja seni dan budaya.
RetakanKata – Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam sayembara ‘menulis resensi buku’ di Blog RetakanKata.
Dan berikut ini diumumkan nama penulis dan resensi yang terpilih sebagai resensi terbaik pertama, kedua dan ketiga.
Hadiah untuk para pemenang adalah sebagai berikut:
Pemenang I mendapat pulsa sebesar Rp100.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Pemenang II mendapat pulsa sebesar Rp 50.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Pemenang III mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Kepada para pemenang diharapkan segera mengkonfirmasi lewat email dengan mengirimkan alamat tujuan untuk pengiriman buku dan nomor telpon genggam yang akan diisi pulsa. Pastikan nomor telpon genggam yang dicantumkan aktif sebab RetakanKata akan menghubungi anda dengan nomor 085958551155 untuk memastikan pengiriman pulsa jarak jauh.
Semoga pengumuman ini dapat memacu gairah menulis para sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa di seluruh penjuru Nusantara untuk tetap aktif berkarya. Bagi sahabat yang karyanya belum terpilih untuk dimuat di blog RetakanKata, tidak perlu berkecil hati. Sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa dapat mengikuti sayembara berikutnya.
Selamat mengikuti sayembara berikutnya! Salam membaca dan menulis!
Mengapa cerpen menjadi satu cara untuk mengusik perasaan-perasaan manusia?. Karena disanalah letak karya sastra dipertaruhkan dalam hal membagi dunia imajinasi dan dunia realitas. Cerpen adalah jembatan bagi kita memahami dan mengarungi kehidupan yang serba luas ini. Pengarang meski ia tak selalu bicara dirinya,tapi pikirannya itulah yang membuat ia bergerak dalam karya sastra. Ia bersama karya sastra menyatu. Bila pramodya sadar betul dengan metode mistikumnya dalam membuat karya, maka sitor lebih bergerak pada cerpen yang meski singkat tapi ia adalah teks yang tak berhenti. Sitor pandai mengolah bahasa dan setiap kosakata yang menunjukkan betapa ia menekuni khazanah, kajian mendalam, pengamatan yang jitu hingga penulisan yang luar biasa sebelum membuat cerpen. A teeuw menyebut sitor ia menguasai bahasa Indonesia dengan cara yang kadang-kadang luar biasa.
Misal pada cerpennya Fonteny Aux Roses. Mendengarkan kata itu kita bisa terbayang-bayang tentang perempuan perancis, atau sekilas kita bisa menemui perancis. Dan kita pun tak menyangka nama tempat di perancis bisa dihubungkan ke dalam penguasaan cerita yang meluas. JJ rizal menyebut ini sebagai awal eksistensialisme sitor. Kematian diramu sedemikian mesrahnya, kematian dikemas sedemikian hebatnya dengan permainan ingatan. Ingatan sitor itulah yang membawa kita pada penjelajahan nama-nama tempat, suasana, hingga pada kemampuannya mengemas “tokoh” pada ingatan masa lampaunya. Ia bergerak lihai dan mencoba tidak lurus-lurus dalam bercerita meski pelan. Keunggulan bahasa itulah yang dimanfaatkan sitor dengan memadukan pengalaman ketika ia di perancis dengan menceritakan memori kematian dengan satu gambaran sederhana dan menyenangkan. Ini kita temui di cerpen Fontenay aux Roses yang ditutup dengan kata kunci yang indah : “surga adalah rindu”.
Kemampuannya mengemas ingatan, kenangan dan juga deskripsi peristiwa yang jitu itu pun ada dalam cerpennya “Gerbera”. Ia menutup cerpennya dengan menutup perasaannya pula dengan kalimat sederhana yang mengakhiri ingatannya pula tentang perempuan yang ia kagumi. Di timur fajar memerah. Memerah gerbera. Gerbera. Masihkah bunga mekar di lereng-lereng gunung?. Besok aku hraus terbang ke barat.
Dunia barat
Dunia barat dalam gambaran cerpen sitor begitu tak sederhana. Ia mengalami dan menyelami betul dunia barat itu ketika ia setahun tinggal di paris pada tahun 1952-1953. Perjalanan di barat ia salami di tahun 1950 hingga tahun 1953. Selama itu pula ia mengenali belanda, dan perancis sebagai kota yang memberinya ilham dan inspirasi di dalam membuat karyanya. Disebutkan setelah ia pulang dari perancis ia mengukuhkan posisinya sebagai sastrawan dengan menulis puisi, menulis cerpen, naskah drama, keirikus, penerjemah dan pengajar. Meski demikian cerpen-cerpennya yang dihasilkan tak banyak. Tapi di dalam cerpen itulah ia membuktikan kemampuannya sebagai sastrawan yang patut mendapat tempat di dunia international dan negerinya sendiri. Cerpen “kereta api international” dan cerpen “ Peribahasa Jepang” disebut patut masuk dalam cerita antology barat sebagaimana yang dikatakan A teeuw.
Paris membawa inspirasi dan kenangan dalam Cerpen salju di paris. Cerpen ini membawa kita pada suasana perancis dengan hawa berbeda. Ia lebih menonjolkan tempat dan suasana daripada perasaan tokoh. Sedang cerpen cinta pertama adalah cerpen yang menunjukkan betapa tak mengenakkannya cinta pertama dirasakan oleh gadis perancis. Jarak membawa pada perpisahan meski sebenarnya percintaan itu memungkinkan. Ia menempatkan tokoh pemuda Indonesia ini sebagai pihak jantan, dengan kemampuan menolak cinta si gadis perancis. Dan kelihaian sitor inilah yang menjadi kelebihan sitor dalam memadukan tokoh, identitas, cerita hingga pada kemampuannya menarasikan perasaan-perasaan tokoh.
Begitupun cerpen peribahasa jepang yang menarasikan identitas yang seperti sudah menyatu, antara keakraban dan betapa tingginya budaya jepang, tapi juga menggambarkan betapa perempuan jepang di deskripsikan dengan indah oleh sitor melalui konflik yang ada pada si gadis. Hingga pada kenangan tokoh pria Indonesia yang membawa ingatannya pada gadis jepang tersebut. Tanpa adanya pengetahuan, dan kemampuan dan data yang bagus tentang jepang, ia tak mungkin membolak-balikkan alur ceritapada imajinasi tempat, perasaan tokoh dan pertautan yang cukup intim antara tokoh dua negara tersebut.
Tanah Lahir
Meski ia pernah melakukan perjalanan ke barat, ia pernah mengalami “ketegangan dramatik’ seperti yang diungkapkan pengamat sastera Martin Heinschke, ia tak menghilangkan dengan begitu saja ingatan tentang tanah airnya. Ia kental dengan adat batak, di sebelah barat pantai danau toba di lembah gunung Pusuk Buhit. Ingatan itu dituangkan dengan jeli di cerpen “Perjamuan Kudus” dan “kehidupan Daerah Danau toba” .
Perjamuan kudus menceritakan pemeberontakan sitor akan kondisi zending yang membawa pada pelarangan adat masyarakat setempat. Ia menggambarkan ini di akhir ceritanya dengan menutup upacara terlarang yang digambarkan dengan Pusuk puhit yang merupakan upacara yang aneh dan tidak lazim di masyarakat batak. Di cerpen “Kehidupan Daerah Danau toba” ia ingin menjelaskan betapa kepribadian sitor tampak pada bagaimana kehidupan toba tak mempersoalkan perkara muslim maupun Kristen. Ia ingin menegaskan bahwa perkara agama tak menghalangi manusia berhubungan dan bergaul di masyarakat.
Kumpulan cerpen ini memiliki nilai penting di dalam kesusasteraan dunia karena menunjukkan betapa pentingnya relasi antara pengarang dengan dunia realitas di sekelilingnya. Inspirasi itulah dan kerja kreatif itulah yang ditunjukkan Sitor situmorang yang menghasilkan beragam cerpen yang menarik yang tak hanya mengangkat persilangan budaya, sosok kekosongan jiwa, hingga pencarian spiritual dan cinta. Lengkap sudah buku ini sebagai sebuah penyajian riwayat salah satu karya sitor yakni dalam bentuk cerpen. Sekaligus sebagai penyair ia mampu untuk mengolah dan melepaskan bahasa puitisnya dengan bahasa jiwanya. Hingga cerpen-cerpennya tak sekadar hidup, membawa jiwa kita terbang, hingga menyelami peristiwa hingga semua yang digambarkan oleh penulis dalam cerpen. Disanalah letak kerja kreatif dan keunggulan cerpen sebagai salah satu karya sastra kita. Sitor mampu meletakkan bahasa pada tempatnya, pada kebebasannya dan ia tak mau terjerat terlampau jauh kesana. Tiga peristiwa dan tempat penting dalam cerpen ini tak lain adalah Danau toba yang merupakan biografi pengarang dan kelahirannya, kemudian gunung merapi atau Jogjakarta, dan perancis. Ketiga tempat itu mendasari pengalaman yang erat dan menarik bagi pengarang sebagai jejak laku dan jejak kata.
Tanda seru sitor setidaknya mengingatkan kepada kita bahwa sebagai seorang sastrawan dan penulis yang memiliki etos dan kerja spiritualitas dan kerja literasi yang membawa misi bahwa diri, pribadi, lingkungan dan kemanusiaan adalah hal yang tak bisa dilepaskan dan disuarakan dari seorang pengarang. Kejujuran itulah yang dibawa sitor untuk memasuki dunia imajinasi dan dunia cerita yang mampu mengusik dan menggerakkan kita akan kesadaran lingkungan dan juga ketergerakan batin kita melihat berbagai fenomena dan peristiwa di dalamnya. Sitor mampu mengangkat isu kemerdekaan, perjuangan, cinta kasih, hingga kekosongan jiwa yang lembut dan juga silang budaya ketika ia berada di luar negeri. Kesemua itu tentu tak jauh beda dengan metode pram yang mengandalkan mistikum-nya. Sitor memiliki mistikum nya sendiri hingga ia mampu menggerakkan bahasa sebagai sesuatu yang elastic, manis, tapi tak berlebihan. Semua itu ada dalam cerpen-cerpen yang ia olah. Meski cerpen masa lampau dengan karakter yang sedikit, tapi jalan cerita, kekhasan cerita hingga makna cerita tak bisa ditinggalkan begitu saja dari cerpen-cerpen Sitor situmorang. Sitor telah menunjukkan sifat dan jiwanya yang penuh dengan etos intelektual, kejujuran dan kemanusiaan. Setidaknya cerpen ini adalah buktinya.
Kumpulan cerpen sitor dalam ibu pergi ke surga ini setidaknya menunjukkan betapa sitor adalah sastrawan yang tak hanya lengkap dengan kepribadian yang kuat, tapi juga lihai membawa suasana, konflik dan pengamatan yang kuat pada masanya. Ibu pergi ke surga setidaknya memberikan penegasan kembali meski baru 23 cerpen seumur hidup sitor, sitor telah berhasil memadukan danau toba, perancis dan kepribadian yang mengukuhkan dia sebagai sastrawan Indonesia dan patut di perhitungkan dunia.
Judul buku: Ibu pergi ke surga
Penulis : Sitor situmorang
Penerbit: Komunitas bambu
Hal: 218 halaman
ISBN: 979-3731-88-5
harga: Rp.55.000,00
tahun: januari 2011
Sebuah novel fiksi terjemahan karya Patricia C.Wrede ini termasuk jenis roman yang penuh aksi dan humor. Novel dengan genre remaja yang berjudul Tantangan Naga ini mengulas banyak kisah-kisah inspiratif fantasi yang mampu mempengaruhi para pembaca untuk menikmati imajinasinya masing-masing. Novel yang diadaptasi oleh Fahmy Yamani dari novel asli terbitan Harcourt Publishers, Florida pada tahun 1990 dengan judul Dealing with Dragons: The Enchanted Forest Chronicles ini merupakan novel petualangan yang telah mendapat banyak pujian dari para pembaca di seluruh dunia.
Dalam roman ini, dikisahkan tentang kehidupan seorang putri raja yang dipandang abnormal oleh sekelilingnya, karena selalu bersikap yang tidak pantas di kalangan bangsawan. Putri Cimorene, putri bungsu di kerajaan besar yang terletak di sebelah timur Pegunungan Pagi, Linderwall. Kegemaran dan sikap putri Cimorene yang sangat berbeda dengan keenam kakaknya, membuat Raja dan Ratu Linderwall kesulitan untuk memberi pendidikan bak putri kepadanya. Berawal dari kesukaannya mencari gara-gara hingga menyukai pelajaran memasak, bermain pedang dan sihir, membuatnya mendapat julukan abnormal. Padahal Raja dan Ratu Linderwall telah mempersiapkan beberapa guru dan pengasuh untuk mengajarinya menari, menyulam, menggambar, membungkuk hormat di depan pangeran dan cara berteriak ketika diculik oleh raksasa.
“Hal tersebut sangatlah membosankan”, keluh putri Cimorene setiap mendapat teguran dari ibunya yang takut kalau saja tidak ada seorang pangeran pun yang akan melamar putri Cimorene, karena tingkahnya yang dikenal liar, keras kepala, juga memiliki rambut kepang berwarna hitam pekat dan tubuhnya tidak berhenti untuk bertambah tinggi tentunya inilah alasan bahwa putri Cimorene sangat berbeda dari beberapa putri raja lainnya. Begitupun ketika putri Cimorene mengeluhkan keadaannya kepada ibu peri, bukannya mendukung putri Cimorene, ibu perinya malah membuat putri Cimorene semakin kesal bila berdebat dengannya.
Mendengar itulah ibu peri segera melakukan sesuatu, semata untuk masa depan putri Cimorene. Putri Cimorene mendapat kabar buruk untuk dirinya dan kabar baik untuk kedua orang tuanya juga ibu perinya bahwa dia akan dijodohkan dengan pangeran tampan berambut keemasan, bermata biru, anak dari kerajaan Sathem, dekat pegunungan yang pernah ditemui putri Cimorene sebelumnya ketika diajak orang tuanya menonton pertandingan di kerajaan Sathem tersebut.
Penolakan yang dilakukan putri Cimorene tentang pesta pertunangannya dengan pangeran kerajaan Sathem yang bernama pangeran Therandil, sama dengan penolakannya terhadap kegiatan yang membuat dirinya bosan. Tentangan yang dilakukan putri Cimorene sama sekali tidak merobohkan keinginan ayah dan ibunya. Akhirnya, ia mendapatkan sebuah cara yang cukup mengerikan, yang diberitahu oleh seekor kodok yang ia temui di kolam saat itu. “Pergilah ke jalan utama di luar kota dan ikuti terus menjauhi pegunungan. Setelah beberapa lama, kamu akan menemukan sebuah pondok emas, dikelilingi pepohonan perak berdaun zamrud. Lanjutkan perjalananmu dan jangan singgah di pondok itu, dan jangan menjawab kalau ada yang memanggil dirimu dari dalam pohon tersebut. Teruslah berjalan sampai kamu menemui sebuah gubuk. Dekati pintunya dan ketuklah tiga kali, lalu jentikkan jari-jarimu dan masuklah ke gubuk itu”, saran kodok yang membuat putrid Cimorene pergi dari kerajaan pada tengah malam untuk menjalankan saran tersebut.
Di gubuk itulah awal perkenalan putri Cimorene dengan para bangsa naga, dan putri Cimorene menobatkan dirinya untuk menjadi putri naga. Para naga pun terkejut mendengar permintaan penobatan putri Cimorene tersebut, baru kali ini mereka mendengar ada seorang putri yang ingin ditawan dengan cuma-cuma oleh bangsa naga. Salah seorang naga betina pun menyetujui keinginan putri Cimorene itu dan memulai hari-harinya dengan pelayanan putri Cimorene yang sangat membuat hatinya puas. Keahlian Cimorene untuk memasak, bersih-bersih rumah, menguasai bahasa Latin, dan mantra sihir membuat dirinya sangat berguna untuk naga Kazul, yang memiliki gua cukup luas untuk tempat tinggal mereka berdua dan menyediakan berbagai gua dari mulai dapur, perpustakaan, hingga tempat penyimpanan harta karun naga yang kini berhak diatur oleh putri Cimorene seorang. Pelajaran pedang pun membuat dirinya terselamatkan dari para pangeran yang ingin menyelamatkannya, karena menurut tradisi, pangeran yang menyelamatkan seorang putri tawanan bangsa naga, berhak menikahi putri tersebut setelah mengalahkan seekor naga itu. “Kau tidak akan bisa mengalahkan naga pemilik gua ini. Sebelum kau menantang naga Kazul ini, kau harus berhadapan dengan putri naganya dulu, yaitu aku!” teriak putri Cimorene sembari mengacungkan pedang ketika menemui beberapa pangeran yang ingin menyelamatkannya.
Begitupun dengan kedatangan pangeran Therandil yang tidak hanya sekali, karena tekadnya tidak bisa membantah keinginan ayahnya tentang pertunangannya dengan putri Cimorene dari Linderwall. Kesabaran putri Cimorene pun habis seketika karena kedatangan para pangeran yang dianggap mengganggu pekerjaannya di gua Kazul, sehingga ia mendatangi penyihir yang bernama Morwen. Morwen dikenal baik oleh Kazul. Setelah mendapat mantra dan beberapa cara dari penyihir itu, Cimorene pun berhasil membuat jalur, agar tidak ada manusia yang mampu melaluinya, termasuk para pangeran yang dianggap sok hebat oleh putri Cimorene. Jalur yang dilalui harus menempuh pegunungan dan rintangan lainnya. Di tebing pegunungan itulah putri Cimorene ditemui oleh seorang penyihir yang tidak disukai oleh para bangsa naga, yaitu penyihir Zemenar mantan Raja Naga yang mana sekarang dipimpin oleh Raja Tokoz.
Zemenar yang pernah menemui Cimorene, dan mengetahui tempat kediaman Cimorene karena tawaran putri yang polos itu akan kunjungannya membuat Zemenar dan anaknya memiliki kesempatan bagus karena bisa memasuki gua milik naga yang memiliki perpustakaan lengkap tentang beberapa mantra yang dicarinya selama ini. Mendengar kunjungan itu, Kazul dan Morwen terkejut dan hampir menyalahkan putri Cimorene. Namun, kecerdasan yang dimiliki putri Linderwall ini mengurungkan niat keduanya, yaitu mengetahui apa yang dicari Zemenar ketika meminta putri Cimorene untuk mengizinkannya memasuki perpustakaan. Zemenar sempat membaca buku mantra yang juga dibaca oleh putri Cimorene dan putri Cimorene sangat hafal dengan halaman yang dibaca Zemenar.
Kedatangan tiga putri cantik yang menggunakan mahkota dan gaun anggun, yang tentu saja mereka adalah tawanan naga yang tidak sengaja menjadi tawanan bangsa naga, berbeda dengan putri Cimorene. Mereka bertiga lebih lama menjadi tawanan naga daripada putri Cimorene, sehingga mereka sangat penasaran dengan putri baru yang sangat nyaman menghabiskan waktunya di dalam gua itu. Putri Cimorene pun menceritakan sebabnya dia berada disini kepada putri Keredwel dari kerajaan Raxwel, kini tawanan naga Gornul yang mengerikan, putri Halanna dari kerajaan Poranbuth, kini tawanan naga Zareth, dan putri Alianora dari Duchy di Toure on Marsh, tawanan naga Woraug. Mereka bertiga sangat tidak menyangka mengetahui sikap putri Cimorene yang begitu berani dan menghalangi banyak pangeran untuk menolongnya, itu semua membuat ketiganya yang baru didatangi beberapa pangeran sangatlah iri. Akhirnya, kedatangan pangeran Therandil yang membuat putri Cimorene heran dengan ketangguhannya melawan rintangan di jalur baru yang dibuatnya itu membuahkan perbincanganka, “Aku sudah bilang, aku tidak ingin diselamatkan oleh pangeran siapapun, dari manapun. Kalau begitu, daripada kau kemari tanpa membawa hasil apa-apa, lebih baik kau menyelamatkan Keredwel di gua naga sebelah sana. Kau pun akan menikahi seorang putri, ya walaupun bukan dari Linderwall. Tapi, aku yakin ayahmu akan bangga dengan seorang putri yang kau selamatkan itu”, usul Cimorene, Therandil pun berpikir sejenak dan menyetujuinya.
Tak lama kemudian, putri Alianora pun menjadi akrab menghabiskan waktu berdua bersama putri Cimorene. Putri Alianora fikir kehidupan putri Cimorene bersama naga betina lebih baik ketimbang kehidupannya selama ini tinggal bersama Woraug, naga jantan yang menurutnya semakin hari perlakuannya semakin tidak bisa diduga saja, pernah ketika sore hari putri Halanna datang ke guanya. Sepertinya saat itu emosi Woraug pun terlihat sedang tidak terkendali sehingga tiba-tiba saja Woraug mengeluarkan percikan-percikan apinya dan membuat Halanna menjerit ketakutan. Mendengar kesedihan putri Alianora, putri Cimorene pun berusaha menghiburnya dan menceritakan kepada Kazul yang lebih mengetahui sifat Woraug. Alhasil, Kazul pun mendukung ide putri Cimorene untuk mempelajari mantra penangkal hembusan api naga, putri Cimorene pun mulai mencari bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai buku petunjuk yang ia temui di perpustakaan gua Kazul. Mantra tersebut pun berhasil dilakukan dengan bantuan putri Alianora.
Hal menarik rasa keingintahuan putri Cimorene dan putri Alianora ketika penjelajahannya menuruni gua api malam demi mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mantranya itu, mereka sempat bertemu Antorell (anak Zemenar) yang sedang memetik bunga langka di lembah tersebut dan hanya bisa ditemui di titik tempat dia berpijak saja. Dari kecurigaan itulah, putri Cimorene menceritakannya kepada Kazul dan Morwen. Masalah yang datang dari pengaduan putri Cimorene menjadi cukup rumit, banyak kejanggalan yang terjadi di dunia para penyihir. Ditambah dengan kematian Raja Tokoz yang tidak dapat disangka apa penyebabnya.
Banyak sekali teka-teki yang membuat kita penasaran untuk mengungkapnya dalam kisah hutan pesona ini, hutan teraneh nan ajaib di dunia penyihir dan bangsa naga yang tidak mampu dilewati oleh manusia. Ada apakah di balik hutan pesona itu? Lalu, siapakah dalang dibalik kematian Raja Tokoz yang tentunya dengan dalih untuk mendapatkan gelar raja naga? Bagaimana kelanjutan petualangan putri Cimorene dan naganya? Tentunya kisah ini diakhiri dengan happy ending, namun masih meninggalkan teka-teki di benak pembaca. Imajinatif yang dimiliki Patricia inilah yang mampu membawa pembaca kepada khayalan yang amat luar biasa, cerita penuh mistis, keajaiban yang tidak dapat kita temukan di dunia nyata. Penulis seri “Hutan Pesona” ini mampu menciptakan fantasi yang hidup dalam fikiran para pembaca. Novel dengan ilustrasi yang sangat mewakili isinya ini, ditambah dengan warna hijau alami yang dapat menyegarkan fikiran para pembaca mampu membuat para readers terlena, akan tetapi jangan khawatir! Karena Patricia masih menyuguhkan readers dengan novel yang masih mengisahkan hutan pesona yang tentunya lebih memiliki jenis roman yang kuat. So, untuk para penggemar cerita fantasi, tidak akan menyesal membaca “Tantangan Naga” ini.
Judul buku: Tantangan Naga
Pengarang: Patricia C. Wrede
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: Kaifa
Jenis Buku: Novel fiksi terjemahan
Cetakan: I, Agustus 2004
Tebal: 297 halaman
“Kalau kau adalah saudara waras dari kembar identikmu yang menderita skizofernia, hal paling sulit dalam masalah menyelamatkan dirimu sendiri adalah darah yang ada di tanganmu, ketidaknyamanan melihat mayat yang mirip denganmu terbaring di bawah kakimu. Dan jika kau berusaha bertahan hidup dan sekaligus menjadi penjaga saudaramu karena kau berjanji pada ibumu yang sekarat maka katakan selamat tidur dan selamat datang tengah malam. Ambil buku dan bir. Biasakan diri melihat senyum ompong Letterman yang absurd, atau langit-Lngit kamarmu, atau mencari-cari gelombang radio sekenanya. Ini adalah pengalaman seorang insomnia tak berTuhan. Pengalaman saudara kembar yang tak gila yang berhasil menghindari penyimpangan biokimia.” (Bab 3; alinea pertama.)
Seperti dikatakan Glamour, novel ini merupakan Les Miserables abad dua puluh. Aspek kegilaan, kemarahan, kasih sayang dan penebusan dengan indahnya dijadikan satu paket oleh wally Lamb serta dinarasikan tanpa putus sehingga emosi pembaca akan ikut hanyut bersama karakter-karakter dalam novel ini.
Novel ini mengisahkan tentang konflik fraternal yang melibatkan dua saudara kembar; Thomas dan Dominick. Mereka lahir dengan beda waktu enam menit, namun yang menarik adalah Thomas terlahir pada desember pukul 23.57 tahun 1949 sementara saudaranya pada januari pukul 00.03 tahun berikutnya. Mereka membagi paruh awal dan paruh akhir abad dua puluh. Ibu mereka yang meninggal karena kangker payudara pada 1987 digambarkan sebagai wanita pemalu berbibir sumbing yang selalu menangkupkan satu tangan di daerah mulut sumbingnya setiap kali dia tersenyum. Sejak kecil, kedua kembar tersebut tidak mengenal ayah kandung mereka dan menghabiskan seluruh masa kecil dalam cengkeraman sang ayah tiri; Ray. Oleh seorang ayah angkat yang pemarah dan seorang ibu berbibir sumbing yang pemalu, Thomas dan Dominick bertumbuh dengan caranya masing-masing. Sejak kecil, Thomas sudah menjadi anak kesayangan Ibu mereka. Bagi Ma, Thomas seekor kelinci karena manis sebagai teman bermain, sementara Dominick seekor monyet karena rajin. Di masa depan, Dominick akan mengingat masa kanak-kanak mereka sebagai masa penuh penuh konflik keluarga yang timbul oleh sikap kejam Ray pada Thomas dan kebencian Dominick pada Ray sekaligus kemarahan pada ibunya yang tidak pernah sanggup membalas kekasaran Ayah angkatnya.
Pada suatu titik tertentu, salah satu dari kedua saudara kembar tersebut akhirnya harus menerima kenyataan bahwa saudaranya menderita skizofrenia. Seiring dengan itu, kegelapan-kegelapan mulai membayangi kehidupan salah satu yang waras. Disitulah elemen-elemen lain yang membuat novel ini mengalir seperti puisi mulai bermunculan.
Wally Lamb membuat sebuah novel dengan karakter orang pertama yang sangat manusiawi. Tokoh pertama Aku-an yang diperankan oleh Dominick penuh dengan kepedihan dan kemarahan yang sulit disamarkan. Perasaan bahwa dia adalah seorang yang lolos dari penyimpangan biokimia seperti yang dialami Thomas tidak melegakannya. Sebaliknya justru menumpuk beban sebagai penjaga ‘belahan’-nya yang gila. Terlebih lagi, Dominick telah berjanji kepada Ma, bahwa dia akan menjaga Thomas. Dia akan memastikan kelinci ibunya tetap aman.
Novel ini melenakan sejak halaman pertama. Beberapa saat setelah membaca, saya merenung sejenak tentang kehidupan orang-orang yang terlahir kembar. Di lain kisah yang pernah saya baca, mereka itu menakjubkan, sulit terpisahkan, memiliki kelebihan indra yakni empati; dan saya membayangkan betapa asyiknya kalau saya terlahir kembar. Keren rasanyakalau memiliki seseorang yang adalah cermin dirimu! Tetapi novel ini seolah menampar saya pada tepat awal bab ke-3. Itu merupakan narasi yang merisaukan bahkan sebelum pembaca mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Memiliki saudara kembar yang menderita skizofernia sedikit bisa diterima selama kita berhasil mengawasinya selama ini, namun sangat menakutkan setelah dia memutilasi tangannya sendiri di sebuah perpustakaan. Dan kita bahkan bisa ikut gila bila si penderita dengan sangat yakin mengatakan bahwa tindakannya itu semata kehendak Tuhan.
Waktu itu, hubungan antara Amerika dan Timur Tengah sudah tegang dan presiden Bush mengumumkan bahwa konflik itu sendiri mungkin tidak bisa dihindari lagi. Suatu hari, Thomas duduk seorang diri di pojok perpustakaan dan berdoa. Dia yakin dirinya adalah utusan Tuhan untuk meyakinkan Amerika agar menghentikan pertikaian. Sebagai bukti pengorbanannya dan kegilaannya, dia memotong telapak tangannya sendiri dengan pisau upacara Gurkha milik Ray. Thomas tampaknya tidak kesakitan sehingga Dominick harus menelan kemarahannya sendiri. Memendam kemarahannya untuk dirinya sendiri.
Selain pengkarakteran yang kuat, Novel Sang Penebus juga kaya akan tokoh-tokoh yang sulit dilupakan. Sebelum kematiannya, Ma memberikan Dominick sebuah manuskrip yang ditulis oleh Ayahnya. Jauh-jauh hari kemudian, saat membaca kembali kisah kakeknya, Dominick menyadari bahwa kakeknya tersebut tidak hanya sekedar legenda seorang lelaki dari sisilia yang berhasil menjadi kaya di tanah Amerika. Dia adalah lelaki yang membuat Dominick membencinya sekaligus mencintainya. Tokoh-tokoh lain pun bermunculan. Disinilah munculnya uraian tentang cinta dan perjuangan, nafsu dan dosa, sihir dan Tuhan. Sekali lagi Wally Lamb membuat larutan yang membius dari aspek-aspek tersebut. Misterius tetapi ringan. Mengalir tetapi pedih dan penuh amarah. Manuskrip yang ditulis sang kakek mengisahkan tentang seorang lelaki sisilia yakni dirinya sendiri yang telah meninggalkan Italia dan mulai hidup baru dari awal di tanah Amerika. Hidup berdampingan dengan orang Indian dan lelaki ini berhasil membuat sejarah untuk dirinya sendiri serta menciptakan legenda keluarga. Namun jiwanya penuh dengan amarah. Dia telah menghina Tuhan dan hidup mengutukinya. Dia menikahi seorang istri yang telah mencintai lelaki lain, lalu mereka hidup serumah bersama teman wanita istrinya yang disebutnya sebagai muka monyet. Betapa dia membenci si muka monyet dan ingin membunuhnya, tetapi ternyata wanita tersebut memiliki sejarah gelap di belakangnya. Juga sihirnya. Anak lelaki dari kakek Dominick lahir dan meninggal sementara yang hidup hanyalah anak perempuannya yang berbibir sumbing; Ma. Kemalangan berikutnya akhirnya merenggut nyawa nenek Dominick saat Ma masih sangat belia.
Di sela-sela konflik yang timbul dalam manuskrip, si penulis novel menyisipkan kilas balik-kilas balik yang ditutur dengan pola yang sangat halus. Sebuah masa lalu yang dipilin kembali sehingga tidak terasa membosankan dalam karya ini. Di sana ada kisah masa remaja antara Dominick, Thomas, Leo dan Ralph Drinkwater. Ralph adalah seorang Indian serta memiliki seorang kembar pula. Persahabatan terjalin antara tiga orang tersebut yang tidak sportif terhadap Ralph. Lahir sebagai seorang Indian membuat Ralph sulit untuk disukai, dia bahkan menjadi lebih tertutup setelah kematian saudari kembarnya yang dramatis. Persahabatan mereka yang tidak adil terhadap Ralph ini nyaris terjadi sepanjang hidup mereka seandainya rasa ingin tahu Dominick terhadap ayah kandungnya tidak kesampaian.
Kisah cinta serta konflik lainnya akan melibatkan Dessa, Joy dan Angie. Kemarahan dalam diri Dominick telah membuat dessa pergi dari hidupnya. Cintanya pada Dessa membuat Dominick semakin menderita, bahkan saat dia telah hidup serumah dengan Joy dia masih akan selalu membayangkan Dessa. Hubungan suami istri Leo dan Angie akan membawa pembaca pada kisah asmara Thomas yang gagal. Selain itu, kepribadian Joy yang ganjil juga akan semakin menyemarakan karakter dalam novel ini.
Menjelang akhir cerita, Wally Lamb menyuguhkan lagi sebuah babak dimana sihir mengambil peran dalam novelnya. Disinilah, kenyataan tentang kehidupan dua saudara kembar yang selalu pedih tersebut terkuak. Inilah mengapa Thomas harus mati demi Dominick dan Drinkwater yang satu harus mati demi saudara kembarnya. Semua bermula saat seekor kelinci disihir jadi dua oleh wanita dalam kehidupan kakeknya, dan oleh Dominick sendiri dua kelinci tersebut disatukan kembali oleh wanita sihir yang sama.
Tetapi seperti buku-buku lain, novel ini juga belum terlalu sempurna. Terdapat sebuah penyelesaian masalah yang menurut saya kurang valid dan menggugah setelah sebuah perjalanan kisahnya yang luar biasa. Aspek mistis dalam novel ini yakni sihir yang semula dalam cerita kakek Dominick sangat menarik, ternyata berakhir terlalu cepat. Wally Lamb meringkaskan pertemuan antara Dominick dengan sang penyihir sebagai sebuah kebetulan, padahal akan lebih menarik bila dibuat sebuah konflik lain saat Dominick berusaha menemukan sang penyihir. Mengingat bahwa penyihir tersebut telah hidup selama tiga generasi sejak kakeknya, rasanya terlalu dipaksakan jikalau pertemuan mereka dibuat secara kebetulan. Bukankah sihir tersebut telah berpengaruh pada kehidupan dua anak kembar? Lalu mengapa penulis kurang tajam dalam menyelesaikan konflik antara sihir dan kehidupan tersebut? Selain itu, Wally Lamb hanya menyebut sihir dan Tuhan secara berdampingan, namun hingga akhir cerita tidak pernah ada narasi atau penjelasan tentang hubungan antara keduanya.
Namun, terlepas dari pandangan saya tentang penyelesaian masalah sihir yang kurang memuaskan, novel ini tetap menjadi salah satu yang terbaik. Wally Lamb dan bukunya telah masuk dalam kategori New York’s Bestseller serta menuai beragam pujian dari banyak media cetak. Salah satu pujian datang dari New Orleans Time-Picayune:”Buku yang murah hati dan berjiwa besar. Ini adalah kisah setiap orang, pencarian mistis, kisah tentang penciptaan jati diri, Wally Lamb adalah seorang suhu.” Ya, novel setebal ini seharusnya menguras energi pembaca, tetapa keahlian bercerita sang penulis mampu membuat pembaca akhirnya menyadari bahwa ceritanya berakhir terlalu cepat.
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Judul buku: Sang Penebus; I Know It Must True
Pengarang: Wally Lamb
Penerbit: Qanita
Tahun Terbit: Cetakan I, November 2007; 1460 halaman
Kecuali datangnya sakit dan bencana, pada umumnya, kita jarang memiliki perasaan yang mendalam terhadap kematian. Kematian seolah adalah sesuatu yang begitu jauh dari kita. Atau begini saja: kita tidak merasa kematian mempunyai hubungan dengan kita. Tapi Jean-Paul Sartre berkata: ” Dimulai dari sesaat dilahirkan, kita akan selangkah-selangkah berjalan menuju kematian. “Kesadaran terhadap kematian sering menyebabkan perubahan sangat besar dalam kehidupan.Orang Mesir Kuno memiliki renungan yang dalam dan kokoh terhadap kematian.
Peradaban baru mulai, memanfaatkan lumpur kaya kandungan yang dibawa banjir Sungai Nil mengembangkan pertanian, membentuk kota, mendirikan negara. Namun, di awal mulainya kemajuan peradaban, juga merupakan awal mulainya rasa tak berdaya terhadap kematian, orang Mesir menciptakan mitologi begini:
Dewa utama Osiris dan adik perempuannya Isis mengikat sebagai suami-isteri, melahirkan seorang anak lelaki bernama Horus; mereka hidup bahagia seperti di dalam hampir semua cerita.
Osiris adalah lambang kebenaran, kebaikan, ketekunan, namun menimbulkan kebencian dan iri dari Dewa Kegelapan Set; setelah membunuh Osiris, Set memasukkan tubuh Osiris ke dalam peti kayu, dibuang ke dalam Sungai Nil.
Isis yang kehilangan suami, siang malam menangis. Dia menyembunyikan anaknya Horus di rawa berilalang, meminta dewi laut menjaganya, dan sendiri mengembara ke empat penjuru, mencari tubuh suaminya.
Setelah melewati berbagai kesulitan dan derita, Isis akhirnya berhasil menemukan tubuh Osiris. Dia bersujud di sisi tubuh kaku itu, menjerit pilu, berharap Osiris bisa hidup kembali.
Isis harus segera menyembunyikan kembali tubuh Osiris, balik menjemput anaknya Horus. Tak duga, Set yang penuh benci dan dengki, menggunakan kesempatan ini, dengan segala cara berhasil menemukan tubuh Osiris, agar bisa tuntas membinasakan Osiris, dia mengoyak tubuh Osiris menjadi potongan-potongan kecil, lalu ditebarkan ke dalam Sungai Nil.
Isis yang kembali bersama anaknya, menemukan suaminya telah menjadi serpihan, luar biasa sedih, konon, airmata pilunya mengalir jadi banjir Sungai Nil yang datang setiap tahun di awal musim panas.
Walaupun begitu, Isis tidak menyerah, dia mencari ke setiap sudut, mengumpul kembali setiap potongan tubuh Osiris yang hanyut di dalam sungai, menggunakan jarum dan benang menyatukan serpihan-serpihan itu, dia akan dengan setiap jahitan mengembalikan tubuh suaminya.
Karena airmata Isis, banjir tahunan Sungai Nil membawa datang endapan lumpur yang kaya kandungan, menyuburkan tanah, membangkitkan pertanian; karena cinta Isis, tubuh Osiris dari serpihan utuh kembali, hidup kembali.
Alam dewata tersentuh, banyak dewi-dewi membuka sayap, mengibaskan angin kehidupan, Anubis membawa datang linen, selapis-selapis dibalut dibungkus, membantu Isis menghidupkan kembali suaminya Osiris.
Menurut cerita, itulah mumi Mesir yang pertama.
Di dalam mumi tersimpan sedih pilu orang Mesir Kuno terhadap kematian, cinta kepada yang telah mati, harapan yang teguh dan berkobar terhadap hidup kembali.
Orang Mesir terlalu teguh atau mungkin bisa disebut keras kepala, mereka percaya, asalkan tubuh masih ada, sekalipun disobek jadi serpihan, tetap bisa dijahit utuh kembali; mereka percaya, asalkan tubuh ada, pasti ada kemungkinan berlanjutnya hidup.
Osiris kemudian dinobatkan sebagai Dewa Kematian, di mulut pintu maut menerima orang-orang yang sampai di alam lain. Di dalam banyak makam-makam Mesir Kuno masih meninggalkan pahatan atau mural begini: Osiris merentangan kedua tangan menyambut, Anubis dan isterinya Isis berdiri di samping menemaninya, juga ada dewi-dewi yang membuka sayap, mengibas angin hidup kembali.
Mumi-mumi kering mengerut yang tersimpan di British Museum, bisa membuat orang terguncang, dengan cara yang begitu mendalam dan sedih meneror yang hidup, menyaksikan bentuk terakhir dari hidup ini!
Orang Mesir terlalu rasional, mereka samasekali tidak menghindari kematian sebagai suatu kenyataan, mereka menciptakan orang mati menjadi mumi, mereka menggunakan granit memahat patung-patung raksasa, mereka terus berharap kekekalan tubuh ini.
Cara Mesir menghadapi kematian adalah khidmat dan pilu.
Mengenai kesadaran orang Cina Kuno terhadap kematian adalah begini:
Gambar diunduh dari 2.bp.blogspot.com
Pangu yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, suatu hari mati, dia rebah di atas bumi, dagingnya berubah menjadi tanah ladang, tulang-belulangnya berubah jadi pegunungan, keringatnya mengalir jadi sungai-sungai, rambut, janggut dan bulu tubuhnya berubah jadi rumput dan pohon, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan, nafasnya menjadi awan dan angin di langit…
Saya selalu menyukai cerita ini, seperti banyak cerita di dalam mitologi Nusantara, sedih pilu terhadap kematian berubah menjadi keceriaan hidup baru, hidup perorangan mengikat menyambung dengan segala hal dan segala benda di dalam semesta, kematian menjadi semacam persembahan, kematian adalah bentuk cinta yang lain…
Bunga gugur itu bukan benda tiada rasa,
menjelma jadi lumpur musim semi lindungi bunga.
落红不是无情物,
luòhóng bù shì wúqíng wù
化作春泥更护花。
huà zuò chūnní gēng hù huā
Tiba-tiba teringat sepenggal puisi penyair Dinasti Qing: Gong Zizhen ( 1792 -1841 ) ini. Tafsir terhadap kematian yang begini, lebih matang, lebih cermat, mungkin adalah kearifan yang diperoleh dari pengamatan terhadap perubahan alam. Ini juga sangat mirip dengan orang Ibrani Asia Barat Kuno yang berkata di dalam injil: Sebiji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, akan tumbuh keluar lebih banyak biji gandum lagi.
Tidak tahu juga apakah karena Pangu, orang Cina setelah periode Lima Dinasti ( 907 – 960 ) menjadi kurang begitu melukis figur manusia, tetapi sangat suka melukis pemandangan alam.
Kesukaan orang Cina melukis pemandangan alam benar-benar sangat terkenal dan tidak usah diceritakan lagi. Pemandangan alam seolah bentuk lain dari figur manusia.
Pegunungan adalah tulang belulang manusia, ladang dan sawah adalah daging manusia, hutan adalah rambut manusia, dan sungai-sungai besar yang terus menerus mengalir, pasti adalah airmata dan cairan darah yang tidak henti mengalir dari jaman ke jaman.
Saya berulang kali menceritakan kisah Isis dan Pangu ini kepada orang-orang di sekitar saya, terus berusaha mencari penjelasan yang masuk akal di dalamnya. Namun, setelah beberapa kali menceritakan, akhirnya saya menemukan bahwa bagian terbaik dari cerita-cerita kuno ini, bukan berada pada penjelasan yang masuk akal, tetapi pada cerita mereka yang disampaikan dengan begitu asli dan polos.
Sejak adanya istilah ‘ sastra ‘ yang amat merepotkan ini, dan malangnya lagi sejak ‘ sastra ‘ terus-menerus diulas oleh peneliti-peneliti di sekolah-sekolah tinggi, cerita pun karam.
Saya agak malu pada umur segini masih sering kepergok terjerumus bersama anak-anak kecil di depan rak-rak buku dongeng, sesungguhnya saya belum pernah benar-benar terlepas dari cengkeraman legenda, dongeng, mite, dan lain-lain yang pokoknya bernama cerita.
Setelah menulis Isis dan Pangu, saya merasa sedikit bosan dengan motif sendiri mencari penjelasan yang masuk akal terhadap mitologi-mitologi tua. Bersandar di kursi istirahat, teringat satu per satu legenda, dongeng, fabel yang diceritakan nenek, dari bintang sampai kupu-kupu, dari burung pipit sampai ayam jago, manusia-manusia pertama yang turun dari langit, keluar dari batu, menetas dari telur, keluar dari bambu di dalam mitologi Nusantara, Echo dan Narcissus dari mitologi Yunani, cerita-cerita Jataka. Semua cerita-cerita ini begitu sederhana, namun bukan sebuah penjelasan masuk akal yang dapat mengantikannya.
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Di dalam cerita-cerita itu, saya tiba-tiba merasa memperoleh kebebasan yang luar biasa, seolah tiba-tiba terlepas keluar dari bingkai ‘ sastra ‘ yang sesak dan membosankan itu, kembali memiliki ruang yang lapang. Di antara cerita dan cerita, di antara kenyataan dan imajinasi, di antara jaman dahulu dan jaman sekarang, dapat menerobos, tanpa sekat, datang dan pergi sesuka hati.
Kadang-kadang kenyataan yang terselubung akan menjadi kepedihan cerita, dan sejarah mungkin juga menjadi kesuraman cerita; namun, bagaimana pun hidup pasti akan berlanjut, dan bukan hanya saja berlanjut, bahkan ingin mendengar cerita-cerita bagus, cerita-cerita indah, cerita-cerita sedih, cerita-cerita yang bisa dijelaskan dan yang tidak bisa dijelaskan, sebab hidup belum berakhir, bait puisi belum berakhir, saya sering merasa tokoh-tokoh cerita-cerita tua ini di sekelilingku, mempunyai nyanyian tangisan tawa dan airmata yang sama.
adalah engkau, puisi yang gagal kurangkai.
katakata tanpa bunyi,
lalu terbakar,
bukan amarah tapi hampa tak berkesudahan.
rasa ini, cobalah kaumaknai,
bukan sepi, bukan mati.
sebab kitalah sepi. kitalah yang telah mati.
[2]
airmatamu adalah bait puisi tersendiri yang paling kunikmati,
iramanya menganak sungai,
membelah bukit di dadamu yang gersang,
menetes,
menetas, lalu tuntas,
menyisakan jernih yang ibu,
mengajarmu lebih banyak diam menerima cinta yang kuajarkan.
Perjalanan Pulang
[1]
tak ada bintang, Sayang,
malam ini langit sepi,
dan lampulampu itu,
berirama merah dan kuning dan hijau,
tidak ada ungu.
rel itu masih amat panjang,
dengan kereta yang berjanji membawaku pulang,
menjauh dari kota tempat namamu tak lagi bertuan.
[2]
kereta itu, ya, kereta itu tak kunjung datang.
semoga kaupaham, Sayang.
perbuatan tak semudah perkataan.
mungkin, – sangat mungkin-, kereta itu
dan engkau, hanya ada dalam lamunan.
aku hanya rindu pulang,
semoga kaupaham, Sayang.
Kuhembuskan Namamu
pada ubun-ubun malam,
kuhembuskan namamu.
mengalir bersama deru
debar dada digunting suram.
Orang Gila
Orang gila itu, melangkah begitu gagah. Mungkin ia pernah jatuh cinta, menulis sebuah nama di batin yang miskin. Siapa ynag peduli tangis batin seseorang? Dan mendung tidak memilih waktu untuk menghujaninya dengan tusukan rindu. Ia tetap seperti biasa. Melangkah dengan gagah. Meski ia tahu, satu per satu sahabat meninggalkannya. Ia tetap berjalan. Sendirian.
The Opera
the bird sing ‘Halelujah’
and I said ‘Amen’,
the darkness shines,
a little one’s scream.
PALEMBANG tidak hanya memiliki kain songket saja, namun ada satu kain khas lain yakni kain blongsong.
Sebetulnya kain tradisional Nusantara tidak pernah ada yang namanya ketinggalan jaman, karena memang KAIN dimaknai sebagai SESUATU PENINGGALAN TURUN TEMURUN DARI GENERASI SEBELUMNYA…namun barangkali yang bisa ditandai adalah PEMBARUAN….
Kain blongsong Palembang kini banyak yang telah didesain modern, pilihan warna pelangi memiliki alasan yang sangat baik dan tepat bagi wanita Indonesia yang memiliki sejuta pesona.
Pelangi dapat diartikan keanekaragaman warna yang dipadu menjadi satu keindahan. Seperti juga kehidupan kita dengan banyaknya perbedaan kultur, kebudayaan, adat istiadat. Maka akan membentuk satu keindahan.
Filosofi dari pelangi, bahwa warna membuat suatu keindahan. betapa warna-warna mampu membentuk sebuah keindahan yang luar biasa..
Jadi kenapa malu menggunakan kain khas tradisional kita karena keindahan personal justru akan hadir dari kreatifitas dan tradisi yang menjadi budaya Indonesia.
SEKARANG KAIN BLONGSONG PUN SIAP BERTARUNG DI HATI PARA PEREMPUAN….jiaaaaaaaaaaah..