Arsip Tag: yin yang

Isis dan Pangu

Gerundelan John Kuan
isis dan osiris
Gambar diunduh dari theusesofenchantment.com

Kecuali datangnya sakit dan bencana, pada umumnya, kita jarang memiliki perasaan yang mendalam terhadap kematian.    Kematian seolah adalah sesuatu yang begitu jauh dari kita. Atau begini saja: kita tidak merasa kematian mempunyai hubungan dengan kita. Tapi Jean-Paul Sartre berkata: ” Dimulai dari sesaat dilahirkan, kita akan selangkah-selangkah berjalan menuju kematian. “Kesadaran terhadap kematian sering menyebabkan perubahan sangat besar dalam kehidupan.Orang Mesir Kuno memiliki renungan yang dalam dan kokoh terhadap kematian.

Peradaban baru mulai, memanfaatkan lumpur kaya kandungan yang dibawa banjir Sungai Nil mengembangkan pertanian, membentuk kota, mendirikan negara. Namun, di awal mulainya kemajuan peradaban, juga merupakan awal mulainya rasa tak berdaya terhadap kematian, orang Mesir menciptakan mitologi begini:

Dewa utama Osiris dan adik perempuannya Isis mengikat sebagai suami-isteri, melahirkan seorang anak lelaki bernama Horus; mereka hidup bahagia seperti di dalam hampir semua cerita.

Osiris adalah lambang kebenaran, kebaikan, ketekunan, namun menimbulkan kebencian dan iri dari Dewa Kegelapan Set; setelah membunuh Osiris, Set memasukkan tubuh Osiris ke dalam peti kayu, dibuang ke dalam Sungai Nil.

Isis yang kehilangan suami, siang malam menangis. Dia menyembunyikan anaknya Horus di rawa berilalang, meminta dewi laut menjaganya, dan sendiri mengembara ke empat penjuru, mencari tubuh suaminya.

Setelah melewati berbagai kesulitan dan derita, Isis akhirnya berhasil menemukan tubuh Osiris. Dia bersujud di sisi tubuh kaku itu, menjerit pilu, berharap Osiris bisa hidup kembali.

Isis harus segera menyembunyikan kembali tubuh Osiris, balik menjemput anaknya Horus. Tak duga, Set yang penuh benci dan dengki, menggunakan kesempatan ini, dengan segala cara berhasil menemukan tubuh Osiris, agar bisa tuntas membinasakan Osiris, dia mengoyak tubuh Osiris menjadi potongan-potongan kecil, lalu ditebarkan ke dalam Sungai Nil.

Isis yang kembali bersama anaknya, menemukan suaminya telah menjadi serpihan, luar biasa sedih, konon, airmata pilunya mengalir jadi banjir Sungai Nil yang datang setiap tahun di awal musim panas.

Walaupun begitu, Isis tidak menyerah, dia mencari ke setiap sudut, mengumpul kembali setiap potongan tubuh Osiris yang hanyut di dalam sungai, menggunakan jarum dan benang menyatukan serpihan-serpihan itu, dia akan dengan setiap jahitan mengembalikan tubuh suaminya.

Karena airmata Isis, banjir tahunan Sungai Nil membawa datang endapan lumpur yang kaya kandungan, menyuburkan tanah, membangkitkan pertanian; karena cinta Isis, tubuh Osiris dari serpihan utuh kembali, hidup kembali.

Alam dewata tersentuh, banyak dewi-dewi membuka sayap, mengibaskan angin kehidupan, Anubis membawa datang linen, selapis-selapis dibalut dibungkus, membantu Isis menghidupkan kembali suaminya Osiris.

Menurut cerita, itulah mumi Mesir yang pertama.

Di dalam mumi tersimpan sedih pilu orang Mesir Kuno terhadap kematian, cinta kepada yang telah mati, harapan yang teguh dan berkobar terhadap hidup kembali.

Orang Mesir terlalu teguh atau mungkin bisa disebut keras kepala, mereka percaya, asalkan tubuh masih ada, sekalipun disobek jadi serpihan, tetap bisa dijahit utuh kembali; mereka percaya, asalkan tubuh ada, pasti ada kemungkinan berlanjutnya hidup.

Osiris kemudian dinobatkan sebagai Dewa Kematian, di mulut pintu maut menerima orang-orang yang sampai di alam lain. Di dalam banyak makam-makam Mesir Kuno masih meninggalkan pahatan atau mural begini: Osiris merentangan kedua tangan menyambut, Anubis dan isterinya Isis berdiri di samping menemaninya, juga ada dewi-dewi yang membuka sayap, mengibas angin hidup kembali.

Mumi-mumi kering mengerut yang tersimpan di British Museum, bisa membuat orang terguncang, dengan cara yang begitu mendalam dan sedih meneror yang hidup, menyaksikan bentuk terakhir dari hidup ini!

Orang Mesir terlalu rasional, mereka samasekali tidak menghindari kematian sebagai suatu kenyataan, mereka menciptakan orang mati menjadi mumi, mereka menggunakan granit memahat patung-patung raksasa, mereka terus berharap kekekalan tubuh ini.

Cara Mesir menghadapi kematian adalah khidmat dan pilu.

Mengenai kesadaran orang Cina Kuno terhadap kematian adalah begini:

pangu
Gambar diunduh dari 2.bp.blogspot.com

Pangu yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, suatu hari mati, dia rebah di atas bumi, dagingnya berubah menjadi tanah ladang, tulang-belulangnya berubah jadi pegunungan, keringatnya mengalir jadi sungai-sungai, rambut, janggut dan bulu tubuhnya berubah jadi rumput dan pohon, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan, nafasnya menjadi awan dan angin di langit…

Saya selalu menyukai cerita ini, seperti banyak cerita di dalam mitologi Nusantara, sedih pilu terhadap kematian berubah menjadi keceriaan hidup baru, hidup perorangan mengikat menyambung dengan segala hal dan segala benda di dalam semesta, kematian menjadi semacam persembahan, kematian adalah bentuk cinta yang lain…

 

     Bunga gugur itu bukan benda tiada rasa,

     menjelma jadi lumpur musim semi lindungi bunga.

落红不是无情物,

luòhóng bù shì wúqíng wù

化作春泥更护花。

huà zuò chūnní gēng hù huā

Tiba-tiba teringat sepenggal puisi penyair Dinasti Qing: Gong Zizhen ( 1792 -1841 ) ini. Tafsir terhadap kematian yang begini, lebih matang, lebih cermat, mungkin adalah kearifan yang diperoleh dari pengamatan terhadap perubahan alam. Ini juga sangat mirip dengan orang Ibrani Asia Barat Kuno yang berkata di dalam injil: Sebiji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, akan tumbuh keluar lebih banyak biji gandum lagi.

Tidak tahu juga apakah karena Pangu, orang Cina setelah periode Lima Dinasti ( 907 – 960 ) menjadi kurang begitu melukis figur manusia, tetapi sangat suka melukis pemandangan alam. 

Kesukaan orang Cina melukis pemandangan alam benar-benar sangat terkenal dan tidak usah diceritakan lagi. Pemandangan alam seolah bentuk lain dari figur manusia. 

Pegunungan adalah tulang belulang manusia, ladang dan sawah adalah daging manusia, hutan adalah rambut manusia, dan sungai-sungai besar yang terus menerus mengalir, pasti adalah airmata dan cairan darah yang tidak henti mengalir dari jaman ke jaman. 

Saya berulang kali menceritakan kisah Isis dan Pangu ini kepada orang-orang di sekitar saya, terus berusaha mencari penjelasan yang masuk akal di dalamnya. Namun, setelah beberapa kali menceritakan, akhirnya saya menemukan bahwa bagian terbaik dari cerita-cerita kuno ini, bukan berada pada penjelasan yang masuk akal, tetapi pada cerita mereka yang disampaikan dengan begitu asli dan polos.

Sejak adanya istilah ‘ sastra ‘ yang amat merepotkan ini, dan malangnya lagi sejak ‘ sastra ‘ terus-menerus diulas oleh peneliti-peneliti di sekolah-sekolah tinggi, cerita pun karam.

Saya agak malu pada umur segini masih sering kepergok terjerumus bersama anak-anak kecil di depan rak-rak buku dongeng, sesungguhnya saya belum pernah benar-benar terlepas dari cengkeraman legenda, dongeng, mite, dan lain-lain yang pokoknya bernama cerita.

Setelah menulis Isis dan Pangu, saya merasa sedikit bosan dengan motif sendiri mencari penjelasan yang masuk akal terhadap mitologi-mitologi tua. Bersandar di kursi istirahat, teringat satu per satu legenda, dongeng, fabel yang diceritakan nenek, dari bintang sampai kupu-kupu, dari burung pipit sampai ayam jago, manusia-manusia pertama yang turun dari langit, keluar dari batu, menetas dari telur, keluar dari bambu di dalam mitologi Nusantara, Echo dan Narcissus dari mitologi Yunani, cerita-cerita Jataka. Semua cerita-cerita ini begitu sederhana, namun bukan sebuah penjelasan masuk akal yang dapat mengantikannya.

hitam dan putih
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Di dalam cerita-cerita itu, saya tiba-tiba merasa memperoleh kebebasan yang luar biasa, seolah tiba-tiba terlepas keluar dari bingkai ‘ sastra ‘ yang sesak dan membosankan itu, kembali memiliki ruang yang lapang. Di antara cerita dan cerita, di antara kenyataan dan imajinasi, di antara jaman dahulu dan jaman sekarang, dapat menerobos, tanpa sekat, datang dan pergi sesuka hati.

Kadang-kadang kenyataan yang terselubung akan menjadi kepedihan cerita, dan sejarah mungkin juga menjadi kesuraman cerita; namun, bagaimana pun hidup pasti akan berlanjut, dan bukan hanya saja berlanjut, bahkan ingin mendengar cerita-cerita bagus, cerita-cerita indah, cerita-cerita sedih, cerita-cerita yang bisa dijelaskan dan yang tidak bisa dijelaskan, sebab hidup belum berakhir, bait puisi belum berakhir, saya sering merasa tokoh-tokoh cerita-cerita tua ini di sekelilingku, mempunyai nyanyian tangisan tawa dan airmata yang sama.

Surat Cinta

Oleh John Kuan
Berpisah untuk sementara adalah baik, sebab semua yang terpampang di depan mata kelihatan seperti pengulangan, tidak mampu dibedakan. Menara tinggi sekalipun berubah jadi kerdil, seandainya dengan seksama kau melihatnya dari dekat, dan segala remeh-temeh juga akan berubah jadi persoalan besar, ketika kau terus-menerus bersentuhan dengannya. Melibatkan hati, sudah cukup membuat kebiasaan-kebiasaan kecil tampil dalam bentuk yang emosional, dan apabila sasaran sudah tidak ada di depan mata, hasrat itu akan sirna sendiri. Disebabkan sasaran itu sedang dekat, hasrat yang membuncah itu tumbuh dalam bentuk serentetan persoalan-persoalan kecil, namun ketika memiliki jarak, melalui reaksi yang luar biasa, hasrat akan kembali ke dimensinya yang alami.

Ini adalah pembukaan sepucuk surat cinta, tidak usah ragu, bukan disertasi filsafat. Coba terka surat cinta siapa. Selanjutnya dia menulis:

Demikian juga dengan cintaku. Setiap kali kita tidak bersama — sekalipun di dalam mimpi juga begitu — aku langsung dapat rasakan yang waktu berikan pada cintaku untukmu, persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan: dia membuat cintaku terus tumbuh. Setiap kali kita berpisah di dua tempat yang jauh, cintaku padamu, akan muncul begitu rupa, dalam cinta yang demikian besar, penuh berdesakan kekuatan akalku, entitas hatiku. Aku sekali lagi menyadari diriku adalah seorang lelaki, sebab aku kembali dapat merasakan hasrat yang demikian bergelora. Pengejaran akademis dan pendidikan moderen menggulung kita ke dalam situasi yang sulit dan rumit, tidak dapat tidak bersikap skeptis memandang semua pengaruh subjektif dan objektif, demikian secara utuh, kita dirancang menjadi kecil, lemah, kasar, dan plin-plan. Namun cinta ——— bukan cinta demi tipe ( orang ) Feuerbach, bukan demi metabolisme Moleschott, juga bukan demi proletariat ———adalah cinta ini, cinta kepada yang tercinta, adalah cinta untukmu yang terdalam, membuat seorang lelaki kembali menjadi lelaki lagi.

Surat cinta siapa? Kalau bukan Marx siapa lagi? Selain Marx, di dunia ini tidak akan ada orang yang memasukkan dialektika, kontradiksi, subjektif dan objektif, referensi filsafat dan sains moderen ke dalam surat cinta, bahkan tetap tidak lupa mengungkit proletariat-nya. Surat cinta itu berakhir:

“Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali,” iya, di dalam lekukan lenganmu dan sebab ciumanmu — biarkan Brahmana dan Pythagoras terus berpegang teguh pada pandangan mereka tentang reinkarnasi, sebab aku setuju, juga biarkan agama Kristen menyebarkan doktrin bangkit kembali!

Tentu Marx tidak setuju dengan reinkarnasi Brahmana dan Pythagoras. juga memandang enteng doktrin Yesus bangkit kembali. Demi cinta, dia berkata: aku bisa kompromi, bahkan dapat menerima teori-teori menyesatkan itu. Mati di dalam pelukannya, dan karena ciuman bergelora hidup kembali.

*

Marx dan Jenny menikah pada tahun 1843, konon Jenny sangat cantik. Waktu itu Marx baru berumur 25 tahun. Surat cinta di atas ditulis pada tahun 1856 di London, dan Jenny demi berbagai hal mulai menunjukkan gejala jiwanya yang tergoncang. Paling banyak mengulurkan tangan bantuan adalah Engels

*

Persahabatan Marx dan Engels dimulai dari tahun 1843 di Paris

Tahun itu juga dia awal mengenal penyair Heinrich Heine, bersentuhan dengan Sosialisme Perancis, mengintip jiwa dan kehidupan proletariat. Dua tahun kemudian meninggalkan Perancis menuju Belgia, karya-karya tidak berhenti, di antaranya [Theses on Feuerbach], [The Poverty of Philoshopy] dan lain-lain, dan [The Communist Manifesto] merupakan karya tahun 1848. Di antara tahun-tahun ini dia pernah berpolemik dengan Proudhon, dan tahun 1849 menyeberang ke Inggris, baru kemudian ada surat yang saya salin di atas. Desember 1881 Jenny meninggal dunia, tidak sampai dua tahun kemudian Marx juga meninggal, dan [Das Kapital] jilid dua dan jilid tiga setelah melalui penyuntingan Engels baru diterbitkan, memakan waktu sekitar sepuluh tahun.

*

Dia menggunakan cara menulis desertasi menulis surat cinta, sehingga bentuk dan cara penyampaian menjadi samasekali berbeda. Bagian pertama dia menggunakan dialektika yang begitu rapi untuk membicarakan tentang ada dan hilangnya “hasrat”, membacanya bisa membuat orang tercengang. Sebenarnya dia berpanjang lebar setengah hari, hanya ingin berkata: “Sejak berpisah aku sangat merindukan adinda”, tetapi tidak suka tembak langsung, dengan rasionalitas menutup sensibilitas, tujuannya juga untuk menemukan sensibilitas. Di dalam surat ini saya menggunakan “hasrat” untuk menerjemahkan “passion”, dan belum pernah memeriksa teks asli yang tentu dalam Bahasa Jerman yang belum bisa saya kuasai, tidak tahu apakah kata ini sudah tepat? Marx berbuih-buih membicarakan hasrat, yang dimaksudnya selain cinta dan nafsu lelaki dan perempuan, mungkin melebar hingga rasa cemburu, amarah dan lain-lain. Setidaknya dalam Bahasa Inggeris kata ini dapat diartikan demikian. Menurut cerita, Marx pernah menulis puisi untuk Jenny. Saya belum pernah membaca puisinya, namun dari membaca disertasi, saya percaya dia pasti suka puisi dan mahir berpuisi.

Lenin berbeda. Ini dapat kita terka melalui kata “passion” yang disebut di atas. Suatu kali Lenin sedang bersama Gorky mendengar Piano Sonata No. 23 di F minor milik Beethoven, mereka berdua sama-sama terpukau. Namun sebelum seluruh movement berakhir, Lenin tiba-tiba “insyaf”, berkata pada Gorky: Barang ini terlalu indah, terlalu berbahaya, kita harus agak kejam menaklukkannya, menekannya, menghancurkannya, kalau tidak bagaimana melaksanakan revolusi? Sonata Beethoven itu juga bernama Appassionata

*

Makin lama berpisah, cintaku padamu makin besar, Marx berkata: “Persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan”. Berarti waktu sama dengan sinar matahari dan air hujan, cintaku sama dengan tumbuhan. Seperangkat metafora ini agak berbahaya, namun cukup masuk akal.

Tentu, masih termasuk suatu penyimpangan. Penyimpangan intelektualitas? Penyimpangan puisi?

*

Bagaimana kalau dibandingkan dengan cara penyampaian begini?

Rodolphe tiba-tiba kembali di kala senja, Emma sangat terkejut. Dia berkata: Aku terus ragu-ragu tidak pulang melihatmu adalah tindakan benar, sebab setiap orang dapat memanggilmu Nyonya Bovary, dan kau tidak mengijinkan aku menggunakan nama itu memanggilmu, tapi itu memang bukan namamu, milik orang lain! Kemudian Rodolphe membenamkan wajahnya di dalam ke dua telapak tangannya, berkata dalam suara terputus-putus: ” Aku tidak dapat melupakan kau. Mengingat kau, kembali membuat aku putus asa! Ah, maafkan aku… aku bisa menjauh… selamat tinggal! Aku akan pergi ke tempat yang jauh… tempat yang jauh, di sana tidak akan ada orang mengungkit namaku padamu… ”

Begini Gustave Flaubert menulis ungkapan rindu lelaki dan perempuan yang bertemu setelah berpisah enam minggu, Madame Bovary pertama kali dimuat secara bersambung pada tahun 1856 di Paris, tahun yang sama Marx menulis surat cintanya di London

*

Ilmu pengetahuan dan kajian akademis membuat orang kehilangan intuisi cinta, tidak lagi menyimpan rasa sayang yang ada di dalam percintaan, sebab dia merasa tidak senang di segala sisi, mencurigai segala hal. Ilmu pengetahuan apa? Kajian akademis apa? Penjelajahan Marx terlalu luas dan dalam, saya tidak mampu analisa. Namun dia ada mengungkit Feuerbach dan Moleschott; begitu saja dapat menggores dua nama ini di dalam surat cinta, tentu membuat orang di samping timbul rasa hormat, juga ada iri dan kagum. Ludwig Andreas von Feuerbach adalah filsuf Jerman, mempunyai pandangan yang sangat istimewa tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Marx pernah menulis sebuah buku khusus untuk mengkritiknya [Theses on Feuerbach] di tahun 1846. Jacob Moleschott adalah seorang pakar fisiologi Belanda yang juga merupakan salah satu tokoh penting materialisme. Di ujung surat cinta itu, dia memetik dua baris puisi (Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali), tidak jelas dipetik dari mana, tapi saya duga mungkin dari Heine. Kemudian, dia berbicara kepercayaan Brahmana tentang reinkarnasi, bahkan Pythagoras juga ikut diseret, filsuf dan ahli matematika Yunani abad ke-5 SM. Kalau kita lihat tesis doktornya di Universitas Berlin ketika dia berumur 23 tahun juga mengkaji filsuf Yunani Kuno: Democritus dan Epicurus.

Tentang Yesus bangkit kembali dan naik ke surga, kemungkinan besar dia tidak percaya. Sekalipun lelehur Marx adalah penganut Yudaisme dan banyak yang menjadi rabi, tetapi ayahnya setahun sebelum Marx lahir masuk agama Kristen Protestan. Dia tidak percaya tentang bangkit kembali, saat ini demi puisi, dia kompromi, demi cinta.

Sesungguhnya seluruh isi surat juga tidak bisa terhindar jatuh ke dalam retorika. Walaupun demikian, ini tetap bukan sebuah disertasi — masih merupakan sepucuk surat cinta. Ingat, Marx di masa muda sangat rajin membaca puisi-puisi Yunani Kuno, Shakespeare, apalagi Kesusasteraan Jerman; dia sendiri juga pernah menulis puisi yang romantik, sebuah tragedi, dan sebuah roman yang belum selesai. Di dalam kata pengantarnya untuk Das Kapital jilid satu edisi Bahasa Jerman, dia mengakhiri dengan sepenggal puisi Dante:

Segui il tuo corse,e lascia dir le genti

*

Kritik Marx terhadap agama sudah merupakan pengetahuan umum

Kritik pengikut Engels terhadap agama dapat ekstrem sampai tingkat tertentu. Mereka percaya hanya dengan ateisme baru dapat membebaskan manusia. Marx selangkah lebih maju. Menurut dia kritik terhadap agama merupakan pendahuluan kita dalam mengkritik segala hal.

Agama adalah [ungkapan kesedihan nyata] kaum proletar, juga merupakan [protes mereka terhadap kesedihan nyata]. Di bawah ini adalah kata-kata Marx yang paling terkenal:

“Agama adalah keluh-kesah makhluk yang tertindas, nurani dunia yang kejam, hati dan jiwa dari seluruh kondisi yang tidak berhati dan tidak berjiwa. Agama adalah candu rakyat ”

Candu rakyat? Kaum proletar disuap candu oleh penguasa sehingga ketagihan berat, dan terkekang? Mungkin seperti ini maksudnya, namun juga terasa tidak begitu tepat. Apakah penguasa pasti dapat menolak agama, melarang candu? Kelihatannya tidak pasti. Kalau demikian, apakah perhatian dan cinta Marx terhadap kaum proletar, sudah melebar hingga ke penguasa? Ini pasti tidak mungkin

Dia mengungkit dalam surat cintanya tentang [cinta terhadap proletariat]. sudah! Patah paku potong besi, sampai di sini saja, tidak bahas lagi!

*

Agama bukan tujuan, ateisme juga bukan tujuan, bahkan komunisme juga bukan tujuan. Bagi Karl Marx, itu hanyalah bagian-bagian dari proses perkembangan manusia. Nyawa manusia barulah tujuan yang sebenarnya.

*

Moleschott, keahliannya memang sudah seharusnya di fisiologi

Kenyataannya, keterlibatan Moleschott dalam sejarah sains dapat dilihat dalam konsep [man-machine]. Dalam sejarah memang ada sekelompok ilmuwan suka melihat, menikmati, menganalisa manusia sebagai mesin. Pertama, ilmu rekayasa awalnya memang dirancang untuk mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi, desain mesin meniru cara pengelompokan taksonomi. Kedua, dengan manusia mesin sebagai bayangan, sangat bisa menjelaskan uraian penting tubuh makhluk hidup (termasuk manusia dan binatang). Ketiga, dalam karya sastra sangat mudah terlihat, seperti Mary Shelley dengan [Frankenstein] coba menyelidiki pengalaman dan nilai manusia.

Konsep [Man-machine] ini sudah ada sejak jaman Yunani Kuno, hanya tidak umum, dan tidak mendalam. Pada jaman renaisans penguasaan teknik di Eropa mulai maju, alat yang terbuat dari tali, tinta, metal, tanah dan kayu makin bertambah, tentu akan teringat hal ini, terutama setelah melalui penjelasan Rene Descartes, sudah menjadi ilmu populer. Descartes dengan semangat filsafat mesin memperlakukan hal ini, bahwa tubuh manusia dan binatang mirip struktur mesin; dalam bukunya [ Traite de L’Homme ] yang terbit pada tahun 1662, dia menggunakan hydraulic automata untuk menjelaskan hubungan unik antara mesin dengan tubuh dan pikiran manusia. Setelah itu, melewati promosi dan penelitian dunia akedemis abad ke-18 dan abad ke-19, sehingga banyak cendekiawan Eropa percaya bahwa manusia dijelaskan sebagai sebuah mesin sangat bisa diterima. Moleschott tepat berada di puncak periode ini.

Konsep [man-machine] dengan iatromathematic. Yang disebut belakangan ini berasal dari astrologi, pelan-pelan mulai menggunakan fenomena alam semesta untuk menjelaskan fisiologi manusia, lama kelamaan tentu tidak dapat terhindar akan tergantung pada penemuan-penemuan alat, desain-desain mesin, hingga hari ini cinta terhadap kalkulator masih begitu dalam.

*

Cinta terhadap kalkulator begitu dalam — membuat orang bergidik

Seandainya berkembang sampai menjadi berkeyakinan kalkulator, lalu tiap hari disembah, tiada hari tanpa dia, situasi bisa jadi sangat genting.

Namun saya percaya manusia hanya akan berhenti pada rencana (mungkin juga sudah dilaksanakan) mempergunakan kalkulator saja, tidak benar-benar mempercayainya. Kau mempergunakannya, menyuruhnya, menindasnya, membohongnya, menyiksanya, suatu hari dia akan berontak. Kalkulator dalam film 2001: Space Odyssey telah berontak, mengerti balas dendam. Kalkulator itu diberi nama HAL, membuat saya teringat pangeran yang dapat begitu saja, tanpa pandang bulu berubah gaya dan sifat sesuai keadaan dalam drama Shakespeare (Lihat Henry IV pertama, kedua, dan Henry V). Namun seorang teman berkata bahwa ini tidak ada hubungannya dengan pangeran, sebenarnya erat berhubungan dengan IBM: tiga huruf HAL masing-masing mundur selangkah, jadi IBM.

*

Konsep [man-machine] adalah menganalisa dan menjelaskan manusia sebagai mesin

Kalkulator sebaliknya, mesin dianggap sebagai manusia, maka disebut komputer. Mereka sama-sama memiliki sesuatu yang unik, namun tidak tahu bagaimana memulainya.

*

Mungkin semua ini juga sudah ada sejak dahulu kala

Xu Zheng-徐整 yang hidup di abad ke-3 Masehi dalam bukunya:Tiga Lima Catatan Sejarah -三五历记 menggambarkan permulaan semesta begini:

Langit dan bumi kacau seperti telor ayam, Pangu lahir di tengah-tengahnya. 18.000 tahun, langit dan bumi terbuka, terang jernih sebagai langit, gelap keruh sebagai bumi. Pangu di tengah-tengahnya, sehari berubah sembilan kali, dewa di langit, yang bijak di bumi; tiap hari langit meninggi 3 meter, bumi menebal 3 meter, Pangu tumbuh 3 meter, begini selama 18.000 tahun, ukuran langit begitu tinggi, ukuran bumi begitu dalam, Pangu begitu panjang, kemudian baru ada Tiga Maharaja.

Paling suka membaca [ Pangu begitu panjang ]. Ren Fang – 任昉 yang hidup di abad ke-5 Masehi menyusun sebuah buku: Kisah Aneh – 述异记, ternyata Pangu telah mati. Ini membuat kita terpaksa teringat [man-machine], [iatromathematic], dan kalkulator, bahkan melampaui semuanya:

Setelah Pangu mati, kepala menjadi Empat Gunung, mata menjadi matahari dan bulan, cairan tubuh menjadi sungai dan lautan, bulu menjadi tumbuhan. Cerita rakyat jaman Qin dan Han menuturkan: Kepala Pangu sebagai Gunung Timur, perut sebagai Gunung Tengah, lengan kiri sebagai Gunung Selatan, lengan kanan sebagai Gunung Utara, kaki sebagai Gunung Barat. Para bijak berkata: Tangisan Pangu menjadi sungai, qi menjadi angin, suara menjadi guruh, bola mata menjadi halilintar. Kisah kuno mengatakan: Pangu senang menjadi cerah, marah menjadi mendung. Cerita rakyat tanah Chu: Suami isteri Pangu, permulaan yin yang.

Ini adalah cerita sempurna, lahirnya semesta, langit bumi gunung sungai, harus tunggu seorang pencipta mati. Awal cerita adalah kesimpulan dari Ren Fang terhadap hal ini, isinya ada di sini. Mencatat perbedaan dalam cerita rakyat Qin dan Han, dan yang menarik adalah: Setelah Pangu mati, tentu tumbang berbaring menghadap langit, kepala di timur kaki di barat. Kita menggabungkan kesimpulan Ren Fang, cerita rakyat Qin dan Han, perkataan para bijak, kisah kuno, kita pasti akan terasa semua ini memang ada sejak dahulu kala, bahkan melampaui semuanya — melampaui Descartes, Newton, Moleschott, bahkan menyamai mitologi, semacam agama.

*

Suami isteri Pangu, permulaan yin yang. Gambaran ini begitu indah, gambaran mitologi, mendekati agama

*

Terkubur di dalam lekukan lengannya

sebab ciumannya dan bangkit kembali

Apa yang susah dimengerti? Sungguh kasihan sama Marx yang demi hal kecil begini panik dan salah tingkah, untuk menjelaskan perkataannya sendiri masih harus menggunakan agama India Kuno, dan teologi agama Kristen: Demi cinta, aku kompromi!