Arsip Tag: thomas utomo

Metamorfosis Gadis Desa: dari Pembantu Rumah Tangga ke Penari Telanjang

Resensi Thomas Utomo

novel nh diniNamaku Hiroko selesai ditulis Nh. Dini tahun 1974. Tiga tahun kemudian atau tepatnya tahun 1977, PT Dunia Pustaka Jaya yang kala itu digawangi sastrawan Ajip Rosidi menerbitkannya dalam bentuk novel. Sempat cetak ulang sebanyak dua kali, sebelum akhirnya hak penerbitan Namaku Hiroko berpindah ke Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 1986. Di tangan GPU, Namaku Hiroko—sampai saat ini baru mengalami cetak ulang sebanyak sembilan kali. Untuk sementara, cetakan terakhir keluar pada Mei 2009. Apa sesungguhnya keunggulan dari novel bertokoh utama Hiroko ini, sampai-sampai mengalami cetak ulang berkali-kali, bahkan menjadi banyak kajian skripsi, tesis, dan disertasi, baik mahasiswa lokal maupun manca?

Secara sinoptik, novel ber-setting Jepang—dan sebagian kecil Indonesia—usai Perang Dunia II ini, memaparkan alur kehidupan Hiroko Ueno, seorang gadis udik yang merantau bekerja ke kota sebagai pembantu rumah tangga; guna memutus rantai kemiskinan yang membelit dia dan keluarganya sekian generasi. Mula-mula, Hiroko bekerja pada sepasang suami-istri berusia lanjut. Pertengkaran majikan suami-istri yang terus-menerus terjadi, nyaris setiap hari dan kematian neneknya, membuat Hiroko pindah bekerja pada sepasang suami-istri muda yang baru dikaruniai bayi merah.

Di rumah majikan yang baru, Hiroko mengenal Sanao, adik lelaki nyonya rumah yang menurut Hiroko, memiliki daya tarik demikian kuat, sehingga dia tidak berdaya mengabaikannya. Sanao adalah golongan pemuda cendekia yang datang menginap di rumah kakaknya guna mengikuti ujian yang diadakan oleh salah satu pabrik terbesar di daerah Kansai. Pemuda inilah yang kemudian mengenalkan Hiroko pada dunia dewasa: pergaulan intim antara lelaki-perempuan. Hal ini terjadi saat majikan Hiroko pergi pesta di pinggir kota.

“…… betapa hati perawanku melonjak kegirangan ketika tangannya (Sanao—pen) meraba leher dan tengkukku, kemudian turun membelai dadaku. Tangan dengan pergelangan pipih, dengan jemari kuat namun halus, bergerak dengan kemauan pasti serta keahlian tersendiri. Aku diam tak bergerak. Terayun antara mimpi dan kesadaran. Kenikmatan baru mulai kukecap, perlahan, seperti menghemat sesuatu yang lezat. Akhirnya aku terbaring setengah memejamkan mata. Napasnya dekat menghangati mukaku. Dengan pasrah, kubiarkan ketegapan laki-laki membuka jalan ke dunia dewasa yang berisi teka-teki, tetapi sekaligus penuh janji gairah bagiku…(hal. 48)”.

Sejak pengalaman bersama Sanao, yang kemudian berulang, pikiran Hiroko jadi lebih terbuka dalam memandang sekeliling. Selain wawasan yang lebih terasah berkat buku-buku yang dipinjamkan Sanao, Hiroko juga jadi percaya diri dalam menanggapi bentuk mukanya yang bulat gemuk, dengan rambut yang tegang kaku, kusut, kurang terurus, juga pergelangan tangannya yang menggembung dan betis yang membengkok. Menurut Hiroko, bentuk tubuhnya tersebut tidaklah menarik dan karenanya dia dijangkiti rasa rendah diri. Namun Sanao yang beraut muka tampan dan berperawakan gagah penuh kejantanan, berkenan menggaulinya secara intim. Hal ini membuat Hiroko penasaran dan bertanya-tanya: gerangan apa yang menyebabkan Sanao tertarik pada dirinya? Jawaban atas pertanyaan itu baru terkuak pada malam terakhir Sanao menginap di rumah kakaknya. Rupanya, Sanao terpikat pada sepasang dada Hiroko yang ranum menggiurkan, juga karena pinggul Hiroko yang berisi, amat menggairahkan.

Pengakuan Sanao tersebut, membuat Hiroko berpikir, “Dua kekayaan yang sewaktu masa sekolah kuanggap sebagai beban, karena membedakan diriku dari kawan-kawanku, kini malah kupandang sebagai kebanggaan. Benarlah seperti yang pernah kubaca dari salah satu majalah, bahwa datangnya seorang lelaki dapat merubah anggapan seorang perempuan terhadap dirinya sendiri,” (hal. 53).

Kepergian Sanao ditambah kerewelan tuan rumah yang memaksa Hiroko melayani kebutuhan seksualnya selama delapan hari berturut-turut tanpa tambahan uang saku atau gaji ekstra, membuat Hiroko tidak kerasan bekerja di rumah pasangan muda tersebut. Setelah mencari dan bertanya ke sana-kemari, akhirnya Hiroko mendapat pekerjaan yang cukup sesuai dengan keinginannya, yakni menjadi pelayan toko. Rupa-rupanya, selain dipasrahi tugas menjadi penolong sekaligus penunjuk jalan bagi pembeli yang membutuhkan, Hiroko juga diberi tanggung jawab untuk menjadi peragawati toko guna memamerkan gaun, pakaian, atau baju yang sedang dipasarkan sesuai musim.

Bersamaan dengan itu, Hiroko berkenalan dengan Yukio Kishihara, lelaki setengah tua berpunggung miring dengan deretan gigi cokelat oleh rokok. Meskipun penampilan Yukio secara jasmaniah jauh dari kata menarik, Hiroko tetap mau berhubungan bahkan pergi keluar bersama lelaki itu. Alasannya satu: lelaki setengah tua yang mengepalai pabrik besar itu, memiliki dompet yang tebal. Sampai suatu malam, Hiroko sukarela menyerahkan tubuhnya ke pelukan Yukio, usai keduanya menonton pertunjukkan striptease. Sejak malam itu, Hiroko menjadi perempuan simpanan Yukio, dengan bayaran uang saku yang menggiurkan.

Sambil menjalin hubungan dengan Yukio, Hiroko terus memutar otak, mencari pekerjaan tambahan yang mampu memberinya gaji lumayan yang bisa mempertebal tabungannya, sehingga dia bisa memutuskan hubungan dengan Yukio. Karena semakin lama, Hiroko semakin muak dengan kelakuan dan penampilan Yukio, kecuali isi dompetnya, tentu saja.

Tanpa repot mencari, suatu malam, Hiroko mendapat pekerjaan bergaji lumayan, yaitu menjadi penari telanjang di sebuah bar. Pada saat yang sama, Hiroko berkenalan dengan Suprapto, mahasiswa asal Indonesia beraut muka tampan berkantong lumayan. Kesempatan itu dimanfaatkan Hiroko guna mencampakkan Yukio dan beralih ke Suprapto.

Baik Hiroko maupun Suprapto merumuskan bahwa, “Seorang penari telanjang seperti penari-penari lain. Pikiran penonton—itulah yang baik atau buruk” (hal. 164).

Hiroko akhirnya memutuskan hubungan dengan Suprapto, setelah tubuh pemuda itu menggendut dan gerakannya berubah lamban. Hiroko beralih ke pelukan Yoshida, suami sahabat karibnya; Natsuko. Meski sempat berselingkuh dengan Sanao; adik mantan majikannya yang dulu, hubungan Hiroko dengan Yoshida dapat berlangsung langgeng sampai memiliki dua anak. Yoshida bahkan membelikan Hiroko rumah, bar, dan toko.

“Ya. Aku puas dengan kehidupanku. Hidup di tengah kota yang beragam. Dan aku tidak menyesali pengalaman-pengalamanku,” papar Hiroko mengakhiri novel ini (hal. 242).

Secara substansial, tokoh Hiroko merupakan gambaran metamorfosis seorang gadis desa yang udik lagi naif menjadi perempuan hedonis yang bergerak maju mengejar hawa nafsunya akan uang dengan memasabodohkan segala pertimbangan moral atau kesopanan, seperti percakapan antara Hiroko dengan Yoshida,

“Apa yang paling Anda sukai di dunia ini?”

“Apa yang paling saya sukai?” Kami tetap berpandangan. “Uang!” (hal. 208).

Atau tercermin dalam pernyataannya berikut: “Masa bodoh semua hukum, baik teman, sahabat ataupun moral yang dibenarkan kebanyakan orang.” (hal. 214).

Hiroko yang semula pemalu dan lugu berubah menjadi perempuan yang penuh percaya diri, bebas, ambisius, pragmatis, materialistis, dan pemuja kenikmatan hidup (hedonis). Dia bahkan tidak ragu-ragu bergaul intim secara bebas dengan bermacam lelaki: menyerahkan keperawanannya kepada Sanao, adik lelaki majikannya, menjadi eksperimen seksual majikannya, menjadi perempuan simpanan Yukio Kishihara, kumpul kebo dengan Suprapto, menjadi perempuan idaman lain atau PIL Yoshida, suami sahabatnya, “berselingkuh” dengan Sanao, dan juga bercintaan dengan lebih banyak lelaki saat bekerja sebagai penari telanjang. Kecuali dengan Sanao, semua pergaulan intim Hiroko terjadi disebabkan karena faktor kebendaan (uang) semata. Dan ketika pergaulan intimnya dengan Suprapto mengakibatkan kehamilan, dengan enteng Hiroko menggugurkannya (hal. 71-72).

Selain bebas bergaul intim dengan beragam lelaki, Hiroko juga memiliki keleluasaan penuh dalam memilih pekerjaan. Hal ini dapat ditelusuri dari perantauannya ke kota yang mula-mula bekerja sebagai pembantu rumah tangga sebanyak dua kali, kemudian menjadi pelayan toko yang disambung menjadi peragawati, disusul menjadi penari telanjang sekaligus hostes, dan selanjutnya menjadi pemilik toko dan bar setelah menjadi PIL Yoshida. Semua pekerjaan itu dilakoni Hiroko dengan sepenuh kesungguhan dan totalitas, karena seperti pengakuannya sendiri bahwa dia adalah jenis orang yang menghirup kehidupan tanpa setengah-setengah (hal. 240).

Sesungguhnya, apabila mau, Hiroko akan mampu hidup “normal” seperti kebanyakan perempuan beradat Timur, ialah bekerja dan berumah tangga secara “wajar” tanpa menonjolkan daya pikat tubuh. Namun, Hiroko justru memilih keluar atau menyimpang dari ragam jenis kehidupan dan pekerjaan yang dikatakan “lazim di masyarakat” semata karena uang. Selain mementingkan uang, Hiroko juga amat mementingkan penampilan jasmaniah, baik diri sendiri maupun orang lain—termasuk lelaki yang hendak mengajaknya bercintaan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan sifat dan sikap Hiroko terjadi setelah dia bermukim di kota. Nilai-nilai pedesaan yang lebih mementingkan kebersamaan, sopan santun, dan toleransi perlahan-lahan Hiroko tanggalkan dan diganti dengan nilai-nilai kehidupan kota yang kerap dikatakan “modern” namun sesungguhnya produk kapitalis. Dan pada akhirnya, Hiroko berubah menjadi perempuan yang egois.

Seperti umumnya karya-karya Nh. Dini, novel ini pun sesungguhnya bermuatan gugatan terhadap dominasi kaum lelaki. Melalui tokoh Hiroko, Nh. Dini hendak menunjukkan bahwa perempuan pun mampu ber-ulah krida layaknya lelaki yang tidak mengindahkan pertimbangan moral atau hukum sopan santun masyarakat. Meskipun kelakuan Hiroko cukup membuat “ngilu” pembaca, namun barangkali hal itulah yang menyebabkan novel ini laris di pasaran dan lebih dari layak baca semata demi meluaskan wawasan. Tentu saja, daya kritis dan filter yang kuat tetap harus menjadi pegangan yang utama saat melalap novel berilustrasi sampul gadis bertelanjang dada ini.

Ledug, 1 Januari 2013

Ilustrasi Sampul Namaku HirokoJudul            :     Namaku Hiroko
Pengarang    :     Nh. Dini
Penerbit       :     Gramedia Pustaka Utama
Cetakan        :     Kesembilan, Mei 2009
Tebal            :     248 halaman
ISBN            :     978-979-655-587-1
Harga           :     Rp 45.000,00
 
 
Thomas Utomo bekerja di SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon/SMS 02815730489. E-mail totokutomo@ymail.com

Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Resensi Thomas Utomo

IKHTISAR
Selama ini, Orang Rimba atau suku-suku yang hidup di pedalaman kerapkali diidentikkan sebagai kumpulan manusia yang barbar, primitif, biadab, bodoh, dan sederet labeling negatif lainnya. Permukiman yang jauh di pedalaman, seolah-olah membenarkan stigma yang telanjur melekat bahwa mereka antiperubahan dan mengisolasi diri dari perkembangan zaman yang semakin modern. Hal inilah yang memunculkan rentangan jarak yang terlampau jauh antara Orang Rimba dengan Orang Terang—orang-orang yang bermukim di luar pedalaman. Di satu sisi, Orang Rimba bersikap apriori dan menganggap Orang Terang sebagai perusak alam, penipu, pembawa malapetaka dan kutukan. Di sisi lain, seperti tidak ada upaya dari Orang Terang untuk membantu memberdayakan Orang Rimba yang semakin termarginalkan oleh arus zaman yang semakin kompetitif dan terus bergerak. Kesan yang justru muncul, terjadi semacam pembiaran, terutama oleh para birokrat, agar Orang Rimba tetap bodoh dan terbelakang, sehingga mudah dibohongi, seperti saat terjadi transaksi jual-beli hasil hutan, perjanjian batas wilayah, tata kelola hutan, dan pembalakan liar.
Butet Manurung, seorang gadis Batak lulusan FISIP UNPAD, merasa tergugah untuk berkontribusi memberdayakan Orang Rimba melalui jalur pendidikan. Mula-mula, ia bekerja pada WARSI (Warung Informasi Konservasi) sebagai fasilitator pendidikan bagi Orang Rimba di Cagar Biosfer Bukit Duabelas (sekarang Taman Nasional Bukit Duabelas). Sebagaimana pepatah tak ada laut yang tak bergejolak, begitu pula yang dialami Butet dalam upayanya membelajarkan Orang Rimba. Ia dituduh sebagai misionaris, pembawa malapetaka dan kutukan, diintimidasi cukong pembalakan, mengalami malnutrisi, bahkan nyaris dibunuh oleh seorang perempuan rimba karena dicurigai hendak merebut suaminya. Butet sempat bimbang akan tantangan pekerjaan yang dengan sadar dipilihnya sendiri. Lebih-lebih karena tekanan ibunya yang menginginkan ia keluar dari pekerjaan yang dianggap aneh dan tidak menjanjikan masa depan. Namun seperti kata Leonardo da Vinci, “Rintangan tak dapat menghancurkanku.  Setiap rintangan akan menyerah pada ketetapan hati yang kukuh,” Butet akhirnya sadar dan percaya, inilah jalan yang Tuhan tunjukkan kepadanya untuk berbuat, untuk berjuang.
Agar dapat memahami karakter Orang Rimba dan mendapat kepercayaan mereka, ia menolak tinggal di tenda atau pondok yang disediakan WARSI. Ia lebih memilih tinggal bersama Orang Rimba dan memakan apa pun yang mereka suguhkan, termasuk daging yang lazimnya diharamkan oleh Orang Terang. Rupanya, keputusan Butet tersebut menjadi jalan pembuka kepercayaan dari Orang Rimba.
Berbeda dengan Yusak—fasilitator pendidikan WARSI sebelumnya, yang meninggal karena malaria, Butet tidak menawarkan pendidikan kepada Orang Rimba. Sebaliknya, ia berbuat sedemikian rupa agar Orang Rimbalah yang memintanya memberikan pendidikan. Misalnya, saat Orang Rimba tengah menyanyikan 30 baris lagu rimba, Butet merekamnya dalam tape recorder, kemudian mencatatnya. Ketika ia dengan mudah melafalkan lagu rimba sambil membaca catatannya, Orang Rimba terheran-heran dan bertanya, bagaimana ia bisa begitu mudah melakukannya, sementara ia baru saja mendengarkan lagu rimba tersebut? Butet pun bersenang hati menjelaskan fungsi tape recorder dan menulis. Kali lain, Butet menggambar aneka binatang hutan dan memberi keterangan dengan bahasa rimba di bawahnya. Atau memamerkan buku cergam dan dongeng untuk anak-anak, yang kemudian diamati secara kagum dan antusias oleh Orang Rimba. Hal itu yang terus disusul kesempatan-kesempatan lain, semakin menumbuhkan minat Orang Rimba, utamanya anak-anak, untuk mempelajari hal-hal yang menurut mereka menakjubkan. Namun, Butet tetap bergeming, diam menunggu, hingga akhirnya mereka berujar, “Ibu, beri kami sekolah!”
Tidak mudah membelajarkan Orang Rimba. Awalnya, proses KBM dilakukan di rumah transmigran asal Jawa yang bermukim di luar pedalaman Bukit Duabelas. Hal ini disengaja demi menghindari kemarahan orang-orang tua rimba yang masih saja beranggapan pendidikan akan mengubah adat atau agama mereka dan mendatangkan malapetaka.
Seiring berjalannya waktu, jumlah siswa Butet semakin bertambah.  Beruntung, ia akhirnya diperbolehkan mengajar di dalam hutan setelah orang-orang tua rimba yakin, bahwa pendidikan tidak akan mengubah adat atau agama mereka, sebaliknya justru akan membantu mereka dalam bekerja. Contohnya, mereka akan bisa menghitung juga mengalikan jumlah uang yang seharusnya didapat dari menjual hasil hutan, sehingga mereka tidak dapat ditipu lagi oleh Orang Terang, seperti pada tempo-tempo yang lampau.
Dari para siswa yang mula-mula, Butet lalu memilih dua di antaranya yang dirasa paling pandai, ialah Linca dan Gentar, yang didaulat menjadi asistennya dalam mengajar. Mereka bertiga kemudian berpindah dari satu rombong (kelompok) ke rombong lain di pedalaman Bukit Duabelas untuk memenuhi panggilan mengajar di banyak tempat. Dalam perjalanan itulah, Butet menemui berbagai pengalaman menarik, misalnya terkait pembelajaran calistung: meskipun beberapa Orang Rimba mengaku sudah paham mengenai angka dan operasi hitung, namun saat dihadapkan pada soal operasi hitung bersusun, mereka kerap salah mengerjakan, seperti ini:
18
25 +
313
Rupanya mereka mengerjakan operasi hitung dari kiri ke kanan seperti saat menulis atau membaca huruf. Juga, kebiasaan Orang Rimba yang mengucapkan kata dengan huruf akhir S menjadi Y, dan sebaliknya. Contoh, kata “BAS” akan dibaca “BAY”, sementara kata “BAY” dibaca “BAS”.
Selama bekerja pada WARSI, Butet mendapat gaji Rp 500.000,00 per bulan. Dengan gaji yang begitu kecil, toh ia tetap bertahan, lantaran kecintaannya pada orang-orang rimba yang sudah mendarah-daging. Namun setelah hampir empat tahun bekerja, ia semakin sadar, ternyata WARSI hanya menjadikan Orang Rimba sebagai obyek penelitian semata. Prioritas utama WARSI ialah konservasi hutan, dengan mengesampingkan sama sekali peran Orang Rimba sebagai penghuni dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pedalaman Bukit Duabelas. Kekecewaan ini, ditambah kekecewaan-kekecewaan lain akibat kebijakan WARSI yang lebih kerap merugikan Orang Rimba, akhirnya membuat Butet memutuskan hengkang dari WARSI. Bersama teman-teman satu pemahaman dan cita-cita, ia kemudian mendirikan SOKOLA; Kelompok Pendidikan Alternatif bagi Masyarakat Adat.
Masalah baru timbul; pendirian SOKOLA tidak didukung pendanaan yang memadai. Para pendiri SOKOLA pun berpencaran, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sempat didera putus asa, Butet berusaha melupakan cita-citanya melanjutkan sokola (sekolah) bagi orang-orang rimba. Namun, seperti kata Paulo Coelho, “Kalau kamu sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka seluruh alam akan menolongmu!”  Pada Maret 2004, ia mendapat penghargaan Woman of the Year dari Anteve (ANTV) atas kiprahnya memberdayakan Orang Rimba di pedalaman Bukit Duabelas, Jambi melalui jalur pendidikan. Hadiahnya uang sebesar Rp 20.000.000,00. Dengan uang itu ditambah dana lain dari sebuah yayasan, ia dan teman-teman kembali berkumpul dan bisa melanjutkan cita-cita yang sempat tertunda.
Pada 13 April 2005, SOKOLA dilegalkan dengan akta notaris dengan status perkumpulan.  Sampai sekarang SOKOLA masih eksis dan terus berkembang merambah daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Aceh, Flores, Makassar, Maluku, dan Bulukumba.

TEKNIK PENULISAN
Sokola Rimba secara karakter dapat disebut memoar bernuansa diary, yang digarap sedemikian rupa dengan tetap mempertimbangkan latar yang kuat serta plot maju yang rapi. Sudut pandang yang digunakan adalah akuan, yaitu penulis sebagai narator yang bersenyawa dengan isi tuturan. Gaya bahasanya santai dan segar, yang sekaligus merepresentasikan pikiran dan kepribadian sang penulis.

KEUNGGULAN
Oleh karena dituturkan tangan pertama, artinya penulis sebagai orang yang mengalami dan menyaksikan langsung, maka isi buku sangat meyakinkan. Lebih-lebih karena bahasa yang digunakan penulis cenderung denotatif, santai, segar, dan tidak berbelit-belit. Dalam hal ini, pembaca akan dapat menebak bahwa penulis bukanlah tipikal perempuan sentimentil yang gemar merumitkan masalah dan mengungkapkan isi hati secara mendayu-dayu. Sebaliknya, pembaca akan menemukan sisi maskulinitas seorang perempuan yang lebih suka menyikapi masalah secara sederhana dan mengedepankan akal sehat.
Hal lain yang patut dipuji adalah penyuntingannya yang rapi dan teliti. Dari halaman muka sampai akhir buku, nyaris tidak ditemukan salah ketik atau pun susunan bahasa yang janggal—meskipun bahasa yang digunakan adalah semibaku.
Yang lebih menarik, buku yang dicetak menggunakan kertas HVS ini, dilengkapi dengan 25 foto berwarna mengenai aktivitas SOKOLA (termasuk foto profil penulis) hasil dokumentasi SOKOLA dan pihak-pihak lain. Juga dua peta lokasi rombong dan ladang Orang Rimba, dokumentasi WARSI. Kesemuanya amat menarik pandang.

KANDUNGAN NILAI
Dikaitkan dengan fungsi buku bagi pembacanya, Sokola Rimba mengandung sejumlah nilai berharga seperti; Pertama, nilai spiritual. Setelah membaca Sokola Rimba, pembaca akan memperoleh informasi yang memberikan kepuasan batin, seperti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan; perlukah Orang Rimba beragama, akankah pendidikan mengubah adat-istiadat dan keyakinan mereka, bagaimana pandangan Orang Rimba mengenai modernisasi, dan sebagainya lagi.
Kedua, nilai pendidikan. Sokola Rimba merupakan rekam jejak pengalaman Butet Manurung belajar bersama Orang Rimba, karena itulah buku ini sangat layak dibaca oleh calon guru, guru, atau siapa pun yang tertarik dengan masalah pendidikan. Dengan membaca Sokola Rimba, pembaca akan mengetahui tantangan KBM di dalam rimba, kendala-kendalanya, hambatan peserta didik saat mengikuti proses KBM, rintangan-rintangan yang justru datang dari birokrat, dan sebagainya lagi. Melalui pengalaman membaca tersebut, pembaca akan mendapat informasi yang mencerahkan, yang memberikan gagasan atau inspirasi mengenai bagaimana baiknya pendidikan itu.

SUBSTANSI
Budaya Orang Rimba
Kelompok Orang Rimba tersebar di kawasan hutan Bukit Duabelas yang memiliki luas lebih dari 60.000 hektar. Nama Bukit Duabelas, sama sekali tidak berkaitan dengan jumlah bukit yang ada di hutan. Hanya yang jelas, hutan ini merupakan barisan bukit yang oleh Orang Rimba disebut setali bukit. Hutan ini meliputi tiga kabupaten di Propinsi Jambi, yaitu Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Muaro Tebo, dan Kabupaten Sarolangun.
Menurut survei WARSI pada tahun 1997, populasi Orang Rimba di pedalaman Bukit Duabelas sebanyak 1.300 jiwa, yang terbagi dalam 11 rombong (kelompok), yang masing-masing rombong dipimpin oleh temenggung (kepala kelompok). Tiap rombong terdiri dari sejumlah bubung (keluarga), yang kemudian dapat terbagi menjadi beberapa pesaken (rumahtangga). Biasanya tiap rombong disebut berdasarkan nama sungai besar di dekat tempat mereka bermukim.
Meskipun kepala rombong dijabat laki-laki, namun sistem yang dianut oleh Orang Rimba adalah matriarkat, yakni istri mempunyai kedudukan lebih tinggi dalam rumahtangga. Istri berhak memerintah, bahkan menghardik suami, sementara suami tidak diperbolehkan membantah, apalagi marah. Sedari kecil mula, laki-laki dididik untuk mengekang hawa nafsu—apa pun bentuknya.  Sebaliknya hal ini tidak berlaku bagi perempuan. Orang Rimba lebih suka memiliki anak perempuan daripada anak laki-laki, karena sebegitu menikah, anak laki-laki harus tinggal di rumah keluarga istrinya dan tidak boleh meninggalkan rumah lebih dari enam hari. Namun begitu, laki-laki diperbolehkan melakukan poligini dan mengumpulkan istri-istrinya di bawah satu atap.
Di antara tradisi yang dianut Orang Rimba adalah melangun, yaitu berkelana meninggalkan tempat tinggal karena ada anggota rombong atau kerabat yang meninggal. Tujuannya untuk melupakan kesedihan, membuang sial, atau menghindari kutukan. Waktu melangun bisa berkisar enam bulan sampai tujuh tahun, tergantung seberapa besar pengaruh orang yang meninggal semasa masih hidup.
Secara umum, Orang Rimba amat teguh menganut adat-istiadat. Mereka percaya pelanggaran terhadap adat-istiadat akan mendatangkan malapetaka dan kutukan dari dewa-dewa yang bersemayam di bebukitan. Oleh karena itulah, mereka membatasi pergaulan dengan Orang Terang, sebab mereka meyakini pergaulan dengan Orang Terang akan mempengaruhi dan mengacak-acak adat-istiadat mereka, yang selanjutnya mendatangkan kemurkaan dewa-dewa. Selain percaya kepada yang Mahatinggi yang mereka sebut dewa, mereka juga percaya akan keberadaan jin dan setan, yang kesemuanya diyakini bersemayam di bebukitan.
Pakaian Orang Rimba, baik laki-laki maupun perempuan adalah cawat. Namun akibat interaksi dengan Orang Terang yang mau tidak mau tidak dapat terhindarkan, sekarang ini tidak sedikit Orang Rimba yang mengenakan celana, kaos, atau kemeja dalam keseharian. Akan tetapi, tradisi tidak mengenakan penutup payudara bagi perempuan yang sudah menikah masih tetap dilakukan. Ini semata-mata demi efektivitas kegiatan menyusui bayi yang lahir hampir setiap tahun.
Seperti kebanyakan manusia di belahan dunia lain, Orang Rimba juga menyukai sastra, dalam hal ini ialah syair atau pantun (lisan). Kegiatan bersyair biasa dilakukan kapan pun dalam suasana macam apa pun, seperti malam hari, hendak memanjat pohon, mengobati orang sakit, dan merayu perempuan.
Tradisi bahasa Orang Rimba adalah bahasa lisan. Setelah adanya sokola, barulah mereka mengenal dan mengetahui bahasa tulis, juga bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan.
Sebenarnya, bahasa rimba yang digunakan di pedalaman Bukit Duabelas, hampir serupa dengan bahasa Melayu-Indonesia. Barangkali karena letak Propinsi Jambi yang berada tepat di sebelah selatan Propinsi Riau, daerah asal-muasal bahasa Indonesia. Jadi meskipun pergaulan dengan Orang Terang terbatas, diyakini pastilah ada pengaruh tertentu dari Orang Terang kepada Orang Rimba. Menariknya, dalam percakapan menggunakan bahasa rimba yang terdokumentasikan dalam buku ini, ditemukan sejumlah bahasa atau kata yang mirip bahasa Jawa. Sebut sebagai contoh: dulur, bae, dan seketi.  Dalam bahasa rimba, kata dulur berarti saudara. Kemungkinan besar kata ini berasal dari bahasa Jawa ngoko (atau mungkin bahasa rimbalah yang mempengaruhi bahasa Jawa), yaitu sedulur, yang juga memiliki arti serupa. Begitu juga kata bae dan seketi, yang masing-masing berarti saja dan sakti, baik dalam bahasa rimba maupun bahasa Jawa.
Matapencaharian Orang Rimba adalah berburu dan berladang. Hanya sejumlah kecil dari komunitas Orang Rimba yang menjadi kaki-tangan cukong pembalakan. Masalahnya, Orang Rimba membuka ladang baru dengan cara membakar hutan terlebih dahulu. Sementara pembalakan yang terjadi semakin menggila, tanpa mengindahkan keseimbangan alam. Orang Rimba yang tidak memiliki kemampuan baca-tulis tidak mampu berbuat banyak menghadapi pembalakan tersebut. Akibatnya, keberadaan Orang Rimba semakin terdesak masuk ke dalam hutan.

Pandangan Orang Rimba terhadap Orang Terang
Secara umum, Orang Rimba memandang buruk Orang Terang. Menurut mereka, Orang Terang adalah penipu, perusak alam, pembawa wabah penyakit, atau pembawa sial. Itulah sebabnya Orang Rimba membatasi interaksi dengan Orang Terang.  Hal ini dapat dimengerti. Dari pengalaman interaksi dengan Orang Terang, kerapkali Orang Rimba nyata-nyata ditipu Orang Terang, tetapi sayangnya mereka tidak bisa membuktikan penipuan tersebut, karena ketidakmampuan mereka dalam hal baca-tulis.
Pandangan Orang Terang terhadap Orang Rimba
Orang Terang memiliki sebutan tersendiri bagi Orang Rimba ialah Orang Kubu, yang berarti bodoh, kotor, primitif, kafir, atau arti lain yang senada. Sebenarnya kata ini berasal dari bahasa Orang Rimba itu sendiri, yang justru dipakai oleh Orang Terang untuk mencemooh identitas Orang Rimba. Ditambah lagi, para wartawan yang meliput aktivitas Orang Rimba, kerapkali melakukan pemberitaan secara keliru. Gambaran Orang Rimba yang diekspos kepada dunia luar seringkali adalah gambaran atas kehidupan pesimis Orang Rimba, bahwa Orang Rimba itu patut dikasihani, karena tersiksa dengan tekanan dunia luar terhadap hutannya. Jarang sekali ditampilkan sudut optimis Orang Rimba seperti keceriaannya, keberdayaannya, atau kearifan budayanya.  Padahal segi-segi positif itu ada. Image pesimis yang selama ini diberitakan media, akhirnya membuat Orang Rimba jadi ikut mengasihani dirinya sendiri. Orang Rimba seakan-akan digiring agar mereka mengakui “kepesimisan” mereka. Sebaliknya, orang luar yang mengaku peduli dan ingin menolong, justru membuat Orang Rimba tampak lebih tidak berdaya lagi. Jadi tidak aneh bila kemudian Orang Rimba menjadi terpengaruh dan hanya berharap uluran bantuan dari pihak luar saja, tanpa adanya keinginan memberdayakan diri sendiri.

Orang Rimba dan Perubahan Zaman
Pada bulan Agustus tahun 2000, Cagar Biosfer Bukit Duabelas diubah statusnya menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas. Luas area yang semula 32.000 hektar, kini berubah menjadi 60.500 hektar. Namun sebenarnya, perubahan status dan luas area itu tidak memberi pengaruh yang berarti bagi peningkatan kualitas hutan, karena kenyataannya luas area yang dimaksud lebih merupakan luasan batas patok saja.
Menurut penelitian, kerusakan hutan di Indonesia adalah sekitar 3.800.000 hektar per tahun. Diperkirakan, setiap harinya ada beribu-ribu buldoser yang beroperasi secara ilegal, padahal satu buldoser bisa menghabiskan 30 pohon besar.  Belum lagi pembalakan pohon-pohon secara ilegal dengan menggunakan gergaji chain-saw.
Hal itulah yang barangkali membuat WARSI—sebagai LSM lokal yang berkedudukan di Jambi—merasa ikut bertanggung jawab untuk mengkonservasi hutan di Taman Nasional Bukit Duabelas yang semakin lama semakin gundul.  Salah satu caranya dengan mengampanyekan habitat Orang Rimba yang terancam, dengan mengundang para wartawan media cetak dan televisi untuk meliput aktivitas keseharian Orang Rimba dan keadaan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas. Sayangnya, liputan tersebut didramatisasi sedemikian rupa, sehingga merupakan artifisial belaka. Orang Rimba dan Butet Manurung dipaksa untuk melakonkan adegan-adegan bahkan dialog-dialog yang telah diskenariokan wartawan dengan pihak WARSI, tanpa meminta persetujuan atau pendapat Orang Rimba dan fasilitator pendidikan terlebih dahulu. Kali lain, WARSI membawa sejumlah Orang Rimba  ke sana ke mari menemui pihak-pihak yang dianggap mampu memberi pengaruh untuk mendukung kebijakan atas Bukit Duabelas. Kendati demikian, dalam pertemuan-pertemuan tersebut, Orang Rimba seakan-akan hanya menjadi pajangan saja, karena tidak diberi kesempatan guna mengutarakan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri.
Di sisi lain, dalam keadaan permukian Orang Rimba yang semakin memprihatinkan, Orang Terang menawarkan konsep hidup di luar hutan dengan agama baru dan nafkah dari hasil kebun kelapa sawit kepada Orang Rimba. Tentu saja perkebunan kelapa sawit tersebut akan menggunakan lahan milik Orang Rimba itu sendiri.
Berkat bujukan tersebut, semakin banyak saja Orang Rimba yang dengan rela hati menjual ladang-ladang mereka kepada Orang Terang. Hasilnya penjualan tersebut mereka gunakan untuk membeli sepedamotor, yang ternyata dibeli hanya untuk dielus dan dipandangi saja, karena mereka tidak bisa mengendarainya. Orang Rimba tidak sadar bahwa sebenarnya mereka hanya menjadi obyek, baik obyek penelitian atau obyek bagi kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik.

Pendidikan bagi Orang Rimba
Pendidikan menjadi solusi utama untuk memperoleh keterampilan guna menghadapi realitas sosial dan perubahan zaman. Dengan adanya pendidikan, Orang Rimba akan bisa memberdayakan dirinya sendiri. Mereka akan mampu mewakili diri serta menyuarakan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri, tanpa perlu bantuan pihak lain di luar mereka sebagai perantara. Dengan pendidikan pula, Orang Rimba akan dapat memosisikan dirinya di tengah persoalan yang menderanya, serta bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang, sehingga mereka tidak akan mengalami penipuan oleh pihak luar.

KESIMPULAN
Pendidikan adalah solusi utama untuk memberdayakan Orang Rimba. Tentu saja pendidikan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, adat-istiadat, keadaan masyarakat, dan kondisi lingkungan tempat tinggal Orang Rimba. Mengenai konservasi hutan, Orang Rimba merupakan bagian tidak terpisahan dari hutan itu sendiri. Dengan pendidikan, Orang Rimba akan bisa menjadi subyek bagi konservasi hutan, karena merekalah yang lebih tahu keadaan dan kebutuhan hutan yang sesungguhnya daripada orang di luar hutan.
Juga dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Orang Rimba tentu berlainan dengan kebudayaan Orang Terang, sebagimana kebudayaan antardaerah di Indonesia yang juga berlainan. Perbedaan tersebut tidak perlu diseragamkan, karena justru akan membunuh kemajemukan budaya nasional Indonesia. Kebudayaan Orang Terang sebaiknya bukan menjadi teladan, tapi menjadi perbandingan. Kebudayaan Orang Rimba sudah bagus begitu untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Kalau pun ada kekeliruan atau kekurangan dalam Orang Rimba, sepatutnya Orang Terang tidak menjadikannya sebagai sasaran cemoohan apalagi penipuan, melainkan perlu melakukan pendekatan persuasif agar kehidupan Orang Rimba semakin berkembang ke arah yang lebih baik.

Judul   :  Sokola Rimba
Penulis:  Butet Manurung
Editor:  Dodi Yuniar
Penerbit:  INSIST Press, Yogyakarta
Ukuran:  15×21 cm
Tebal:  xvi+252 halaman
ISBN:  979-3457-83-X
Harga:  Rp 38.000,00

*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tulisan-tulisannya dimuat di Annida, Suara Muhammadiyah, Radar Banyumas, Nikah, Fatawa, dll. E-mail totokutomo@ymail.com. Telepon (0281) 5730489.

Tentara

Cerpen Thomas Utomo

salam tempel
Gambar diunduh dari jobs-europe.com

Aku bangun tidur dengan masih mengantuk dan badan pegal-pegal. Semalaman tidurku gelisah. Berkali-kali aku terbangun. Dan melihat jarum jam yang bergeser terus-menerus, aku berdebar ketakutan. Hatiku serasa menciut.
Kendati azan subuh sudah selesai berkumandang, aku tidak segera beranjak dari dipan. Aku sengaja mengulur waktu. Aku ingin menikmati betul-betul detik demi detik terakhirku. Sampai Ibu melihatku dan menegur,
“Lho, To, kok malah bengong? Lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo, cepat mandi!”
Dengan malas aku beranjak mengambil handuk. Lalu beringsut menuju kamar mandi.
Setelah sarapan, aku lantas memasukkan barang-barang keperluanku ke dalam tas. Kakakku perempuan sudah menunggu di ambang pintu.
“Cepat, ah! Nanti terlambat!” ujarnya tak sabar.
Udara masih dilumuri kabut saat kami berangkat. Lagi-lagi aku sengaja mengulur waktu dengan cara memacu sepeda motor lambat-lambat.
Akhirnya kami tiba di Korem. Turun dari sepeda motor, aku menjabat tangan kakakku erat, seakan-akan ini adalah pertemuan kami yang penghabisan. Dia tersenyum dan menyuruhku bergegas.
“Sukses, ya!” katanya memompakan semangat.
Sebentar kemudian, dia dan sepeda motornya sudah menghilang di kelokan jalan.
Aku menjilat bibirku yang mendadak terasa kering. Tiba-tiba aku merasa mulas. Meski begitu, aku berhasil memaksa kakiku buat melangkah.
Sekelilingku masih sepi. Hanya kulihat seorang perempuan berperut buncit sedang berjalan lambat-lambat dengan kaki telanjang. Tangan kanannya memegangi bagian bawah perutnya yang menggelembung. Aku menuju mesjid di sebelah barat pintu gerbang. Hampir jam setengah enam. Namun di dalam mesjid kulihat ada dua shaf orang-orang sedang berjemaah sembahyang subuh. Tiba-tiba aku baru sadar. Dilihat dari belakang, keseluruhan bentuk jasmaniah orang-orang itu boleh dikatakan serupa: tubuh-tubuh tegap, punggung kekar berbentuk huruf V. Kebanyakan dari mereka berambut cepak. Untuk kesekian kalinya aku kembali gugup.
Tanpa kusadari, sinar matahari mulai mencabik sapuan benang kabut. Sekelilingku mulai ramai oleh pemuda-pemuda sebayaku. Seperti aku, mereka bergerombolan duduk di teras mesjid. Mereka mengobrol dan berkelakar dengan logat bahasa yang berlainan. Begitu akrab dan santai. Padahal dari pendengaran yang kutangkap, pemuda-pemuda itu kebanyakan kali baru saling mengenal. Alangkah iriku.
Aku memiliki sifat pemalu yang kata ibuku cenderung keterlaluan. Aku menyadarinya dan sangat tersiksa karenanya. Orang-tua dan kakak-kakakku tidak membantuku keluar dari sifat yang semakin lama menekan dan memasungku dalam kesendirian yang menyedihkan. Aku dan dua kakakku perempuan dibesarkan di bawah tangan besi Ayah. Kami diajar untuk menghormati orang-tua dengan penghormatan yang lebih mendekati rasa takut daripada kasih mesra. Ayahku seorang tentara berpangkat sersan mayor. Oleh lapangan pekerjaannya sebagai tentara, dia mendidik kami dengan kedisiplinan a la militer. Dalam pandangannya, segala sesuatunya harus berjalan teratur, rapi, dan tepat waktu. Penyelewengan dari ketentuan yang telah digariskan Ayah, akan membuahkan hukuman sesuai tingkat kesalahan yang kami perbuat. Sewaktu kecil, di antara tiga bersaudara, akulah yang paling sering digitik dengan sogok bedil atau dijedotkan ke tembok, hanya karena “kesalahan kecil” seperti terlambat pulang sekolah, tidak mau tidur siang, atau lupa mengangkat jemuran. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali geblég kasur mendarat di tubuhku, karena hal “sepele” yang serupa. Aku pernah mendengar sendiri Ayah berkata pada rekannya, kalau dia baru merasa puas memukuli kami—aku dan kakak-kakakku—setelah kami menangis melolong-lolong. Kalau memukuli anak tidak sampai menangis, rasanya kurang marem, katanya. Ibuku tidak banyak mengusik hukuman Ayah. Kebanyakan kali, Ibu hanya menjadi bayangan Ayah. Selesai mengerjakan kewajiban-kewajiban rumah-tangga, dia lebih suka melarikan kekosongan waktunya ke mesin jahit. Membikin pakaian atau menyambung-nyambung kain perca menjadi keset, serbet, atau taplak.
Sedari kecil aku mulai merasa diriku berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki di lingkunganku. Aku tidak suka bergerombolan pergi mandi-mandi di kali atau bermain sepak-bola dan kelereng. Permainan anak laki-laki seringkali membosankan dan membikinku berkeringat. Makanya aku tidak suka. Aku lebih suka menggabung kakak-kakakku yang bermain pasaran atau békel dengan teman-temannya. Tapi seringkali aku diusir, karena dianggap mengganggu dan merusak mainan mereka.
Melihat permainan dan pergaulanku yang berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki lain, aku kerap dihina dengan sebutan: banci! Darahku selalu mendidih mendengar hinaan itu, karena aku percaya tubuh dan jiwaku laki-laki tulen. Tapi aku hanya bisa memendam amarah, karena aku tidak bisa berkelahi. Anak-anak tentara yang lain, kerap membawa-bawa pekerjaan ayahnya agar ditakuti dan tidak ada yang berani mengejek, hingga mereka bisa berlaku sewenang-wenang. Tapi aku tidak pernah meniru kelakuan itu. Aku tidak suka berlindung di bawah ketiak orang lain, meski orang itu ayahku sendiri.
Sebagai laki-laki yang tidak pandai bicara dan menempatkan diri, aku selalu merasa gelisah dan canggung jika berada dalam keramaian. Aku ketakutan oleh sebab yang tak pasti. Aku takut bajuku jelek. Aku takut sikapku wagu. Aku takut diejek seperti perempuan. Makanya di sekolah aku lebih memilih tenggelam dalam tumpukan buku-buku perpustakaan daripada pergi ke warung jajan. Aku tidak punya teman dekat. Bagiku, berteman dengan buku-buku lebih mengasyikkan. Selain tidak usah bercakap-cakap, aku juga tidak perlu khawatir sikapku akan wagu.
Sampai SMA, aku masih meneruskan kebiasaanku mengunjungi perpustakaan. Selain alasan yang telah kusebutkan, ada kejadian lain yang membuatku semakin tidak betah berlama-lama di dalam kelas. Diprakarsai gerombolan siswa laki-laki, teman-teman sekelas berkomplot menjadikanku maskot kelas. Perkataan “maskot” di sini, bukanlah sebuah gelar yang membanggakan. Ini lebih dimaksudkan sebagai penghinaan. Aku menjadi bahan olok-olokan seantero kelas. Misalnya jika guru akan menunjuk siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis, tanpa dikomandoi, teman-teman kompak bersuara meminta guru menunjukku. Tidak cukup sampai di situ. Jika aku mau maju, teman-teman menyiuliku. Ada juga yang berkata sumbang, semisal: “I-hi…, pacarnya Lisa maju.” Yang akan disambung geer dan sorak-sorai teman-teman yang lain.
Bagiku, segala sesuatunya adalah perkara besar. Olok-olokan teman-teman sekelas membuatku tertekan. Tidak ada teman yang bisa kuajak bicara, selain tumpukan buku yang tetap tenang dalam kediamannya. Aku tidak menceritakan masalahku pada orang-orang di rumah. Selain malas, aku pikir juga tidak banyak gunanya. Paling-paling ibuku akan berkhotbah, “Kamu yang sabar, To. Banyak-banyaklah berdoa.” Sedangkan ayahku: “Salahmu sendiri nggak ngelawan. Jadi laki-laki kok melempem.”
Bingung hendak berbuat apa, akhirnya aku melampiaskan keruwetan pikiranku pada makanan. Di rumah, aku menjadi makhluk pemamah biak kelas wahid.
Pekerjaanku berpusar pada makan, tidur, sekolah, membaca. Tidak heran dalam tempo singkat tubuhku jadi melar. Dengan tinggi seratus enam-puluh delapan centimeter, bobot tujuh-puluh lima kilo membuatku tidak leluasa bergerak.
Suatu hari aku menemukan majalah bergambar sampul laki-laki bertubuh langsing namun atletis, ialah majalah Men’s Health. Melihat tubuh penuh ukiran otot itu, entah mengapa aku seperti tersihir. Mungkin lebih tepatnya kagum. Dalam diriku timbul sebuah pikiran: barangkali aku bisa seperti laki-laki itu! Aku ingin tubuhku jadi bugar dan ringan.
Berbekal bacaan dari majalah Men’s Health, aku yang sebelumnya tidak menyukai kegiatan yang menggunakan banyak gerak jasmani dan mengeluarkan keringat, tiba-tiba menemukan diriku begitu terobsesi pada olah-raga kardiovaskular, macam lompat tali, berenang, dan jogging.  Memang mula-mula badanku sering pegal-pegal. Tapi lama-lama, asyik juga. Tujuan utamaku ialah ingin menurunkan berat badan. Hanya itu. Aku juga mengurangi porsi makan dan menelan pil pelangsing. Aku sungguh merasakan betapa tidak nyamannya bergerak ke sana ke mari dengan membawa tubuh tambun. Ditambah lagi aku tidak ingin membahagiakan orang-orang yang menemukan julukan baru bagi diriku, yaitu Paman Gembul.
Melihat diriku rupanya Ayah salah paham. Laki-laki pemuja kejantanan itu mengira anak laki-lakinya yang lembek telah berubah. Dia mengira aku berolah-raga karena ingin menjadi tentara!
Saat itu menjelang masa-masa akhir SMA. Aku belum punya bayangan hendak meneruskan ke mana. Tetapi Ayah dengan sifatnya yang pemaksa, menyuruhku mengikuti jejaknya: menjadi tentara. Boleh dikatakan aku terlahir dari keluarga tentara. Kakekku dari pihak Ibu; tentara. Pakdhé, Oom, dan saudara sepupu juga tidak sedikit yang menjadi tentara. Cuma ada dua sepupuku yang jadi polisi. Kata Ayah, di pundakku tersandang kewajiban buat meneruskan darah tentara keluarga kami.
Sewaktu Ayah berkata seperti itu, aku tidak membantah. Ayah selalu menjelma Burisrawa setiap kali bicara dan tertawa. Suaranya keras menggelegar, terbahak-bahak. Kali itu, Ayah kembali mengulangi ajarannya, bahwa rida Tuhan mengikuti rida orang-tua. Karena itu—kata Ayah—aku harus manut orang-tua, jika tidak mau laknat Tuhan menimpaku berpuing-puing.
Aku tahu watak orang-tuaku. Karenanya aku tidak berani mengatakan secara langsung penolakanku pada kemauan Ayah. Dengan hati-hati kukatakan bahwa kakiku impur dan bahuku miring sebelah. Dengan kekurangan-kekurangan itu, bisakah aku menjadi tentara? (Maksudku sebenarnya mengatakan hal itu tentu saja untuk memadamkan kemauan Ayah). Tapi ternyata Ayah tenang-tenang saja. Dia malah terkekeh dan berkata: itu semua bisa diatur. Kamu tenang saja. Aku mengerti maksud Ayah dan hal itu membikin hatiku kecut.
Aku tidak menyangsikan kesanggupan Ayah menjadikanku tentara melalui perantaraan rekannya. Aku juga tidak khawatir kantong Ayah bakal kering jika membiayaiku masuk pendidikan tentara—karena di kantor, Ayah menduduki kursi yang basah. Yang kusangsikan ialah kesanggupan diriku sendiri. Barangkali mudah saja aku masuk pendidikan tentara dengan uang pelicin. Tapi ‘ kan masalah tidak berhenti hanya sampai di situ. Bagaimana selama proses pendidikan? Bagaimana selama masa dinas? Sebagai manusia yang mawas diri, aku merasa memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan yang patut dibanggakan. Menjadi tentara selalu lebih mementingkan kekuatan otot, daripada ketajaman pikiran. Aku tidak dikaruniai ketajaman otak seperti kakakku sulung. Tapi aku juga tidak pernah menduduki peringkat istimewa dalam mata-pelajaran olah-raga. Nilai-nilai olah-ragaku tidak pernah beranjak dari angka enam atau enam setengah.
Aku ingin menolak kemauan Ayah. Namun hatiku yang kecil mengisyaratkan adanya kesialan yang bakal menimpaku jika aku mengecewakan Ayah. Berkali-kali kubuktikan sendiri, bahwa kata-kata orang-tua adalah malati, yang akan menimbulkan kuwalat jika tidak dipatuhi.
Mendekati masa-masa akhir SMA, hatiku semakin berdebar ketakutan. Ketakutan antara menghadapi ujian akhir nasional dan semakin dekatnya waktu pendaftaran tentara.

*****
Ternyata, aku lulus ujian akhir nasional dengan hasil yang tidak mengecewakan. Tentu saja. Kami seangkatan mendapat bocoran jawaban langsung dari kepala sekolah dan guru-guru. Dengan ijazah di tangan, pupus sudah ketakutanku yang pertama. Tinggal ketakutan yang kedua, yang saat itu kuanggap sebagai ketakutan yang terbesar dan menentukan kelanjutan masa depanku.
Sebulan setelah pengumuman kelulusan, pendaftaran Secatam dibuka. Menuruti perintah Ayah, aku pergi ke Ajenrem guna mencari informasi persyaratan pendaftaran. Semuanya kucatat kemudian kuurus berkas-berkas yang dibutuhkan.
Ujian seleksi tiba, kutempuh dengan hati diselimuti kecemasan.
Hari pertama ialah ujian kesehatan. Kami sebanyak seratus pemuda dikumpulkan di DKT. Kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing sejumlah sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok secara bergantian memasuki bilik-bilik pemeriksaan.
Dimulai hari pertama, aku sudah dihinggapi rasa rendah diri yang menyiksa. Betapa tidak. Selama proses ujian kesehatan berlangsung, kami diwajibkan hanya memakai celana pendek di atas lutut. Selama itu pulalah mataku disuguhi lautan penuh otot: dada-dada bidang, perut-perut kencang bergurat enam kotak, punggung-punggung tegap berbentuk huruf V, dan sebagainya lagi yang serba memancarkan kejantanan. Bodohnya, aku terus saja memperhatikan tubuh-tubuh sterk itu sambil membanding-bandingkannya dengan tubuhku sendiri. Alangkah jauh perbedaannya. Betul berkat latihan lompat tali, berenang, dan jogging, berat tubuhku susut menjadi enam-puluh  kilo. Tetapi bentuk tubuhku lencir. Tidak bergurat-gurat otot seperti pemuda-pemuda itu.
Dari keseluruhan bilik pemeriksaan yang harus kami masuki, ada satu bilik yang membuat tubuhku panas-dingin. Dalam bilik itu, kami bersepuluh wajib telanjang bulat menghadap tiga dewan penguji. Sementara di sebelah kiri kami adalah jendela kayu yang terbuka lebar dengan taman dan koridor di seberangnya. Sesekali kulihat laki-laki berseragam hijau atau perempuan berpakaian putih-putih melintas. Dua penguji kami berseragam PDH. Mereka duduk di belakang meja sambil mencatat. Yang seorang berseragam putih-hitam. Laki-laki inilah yang memeriksa aurat kami satu per satu, depan-belakang. Sampai pemuda kesembilan, semuanya nampak tidak ada masalah. Giliran pemuda terakhir, yakni pemuda di sebelah kiriku, penguji itu kedengaran mengeluh. Aku sempat menoleh. Ternyata pemuda di sampingku hernia. Auratnya melorot, sehingga menjadi bentuk yang memuakkan.
Kukira, itulah bilik pemeriksaan terakhir. Aku keluar bilik dengan pikiran ruwet. Antara malu, kasihan pada pemuda itu, dan kecamuk pikiran yang lain. Yang jelas aku mendongkol pada ayahku. Dia tidak pernah memberitahuku bahwa dalam ujian seleksi masuk pendidikan tentara, ada satu tahap yang mengharuskan peserta untuk telanjang bulat. Ayah juga tidak menceritakan detil tahapan yang harus kutempuh selama mengikuti ujian seleksi. Dan hal ini membuat ketidak-sukaanku pada Ayah semakin berkarat!
Setelah mengaso selama empat jam, petugas memanggil nomor-nomor dada kami. Tidak semua nomor dipanggil. Kali itu, kami hanya harus masuk sebuah bilik, bergantian satu per satu hanya memakai celana dalam. Tibalah giliranku. Seorang penguji memeriksa tubuhku, kemudian menyebutkan kekurangan-kekurangan yang dia temukan (yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui): leher terlalu condong ke depan, bahu miring, punggung tidak simetris, kaki membengkok, dan telapak kaki rata seperti bebek. Dua penguji lain yang duduk di belakang meja hanya manggut-manggut, lalu mencatat. Tetapi tiba-tiba penguji yang tadi memeriksa tubuhku bersuara: dia anaknya Hadi Pranoto—sambil matanya menunjuk kepadaku. Dua penguji lain kembali mengangkat muka, sebentar meneliti keseluruhan diriku, lalu mengangguk, dan kembali mencatat.
Jam tujuh malam, hasil ujian seleksi tahap pertama diumumkan. Kami maju satu per satu menerima sepucuk surat sesuai nomor dada kami. Dan ketika kuketahui bahwa aku lulus ujian, aku merasa itu adalah sesuatu yang “wajar”. Kukatakan wajar, soalnya dengan begitu banyak kekurangan yang kumiliki, aku tetap bisa lulus, karena ada sebuah pesan sponsor: dia anaknya Hadi Pranoto. Dan pengetahuan ini, membuat aku semakin takut.
Usai pembagian surat , seorang petugas menjelaskan secara ringkas mengenai ujian esok hari, yaitu ujian jasmani: apa-apa yang harus kami bawa dan siapkan, juga di mana dan jam berapa kami harus berkumpul.
Keluar dari ruangan, aku menjumpai kakakku sudah menunggu. Kukabarkan tentang kelulusanku. Dia tersenyum, lalu kami pulang.
*****
Jam enam pagi peluit berbunyi, penanda dimulainya kegiatan. Kami berbaris rapi di sebuah lapangan tenis. Seorang tentara memberi penjelasan urutan-urutan ujian seleksi kali itu. Seperti sebelumnya, kami dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil.
Ujian pertama adalah berlari mengelilingi lapangan sepak-bola dalam waktu dua-belas menit. Tanpa kesukaran berarti, sampai bunyi peluit tanda berakhirnya waktu berlari, aku bisa menyelesaikan enam setengah kali putaran. Aku cukup bangga dengan pencapaianku itu. Ternyata, meski kakiku membengkok ke dalam, aku tetap mempunyai kesanggupan buat berlari kencang. Di antara anggota kelompokku, aku menduduki peringkat kedelapan.
Tetapi sebegitu akan ujian kedua, rasa cemas kembali menjalariku. Kami beriringan menuju palang-palang restok. Kami diberi waktu tiga menit buat melakukan pull-up atau back-up. Tiba giliranku, aku gemetaran. Tapi aku nekat. Dan nyatalah. Tanganku yang kurus tidak kuat mengangkat tubuhku sampai dagu melewati palang restok. Pemuda-pemuda lain menertawakanku. Dengan sedih, aku pura-pura tidak melihat dan mendengar. Penguji kami ada dua orang. Seorang daripadanya memperhatikanku dengan pandangan menghina sambil bibirnya berkecumik menggumamkan sesuatu, lalu berujar, “Nomor 385, nilai restok nol. Gagal!”
Ujian berikutnya segera menyusul: push-up dan sit-up.
Usai melakukannya, aku bersender pada anyaman kawat pembatas lapangan tenis sambil melipat kaki. Pemuda-pemuda di sekitarku ramai mengobrol. Sesekali aku turut mencampuri. Itu pun kalau aku ditanya lebih dulu. Tiba-tiba seorang tentara melambaikan tangan ke arahku. Aku menoleh kanan-kiri guna memastikan.
“Ya, kamu nomor 385!” serunya.
Aku bangkit dan langsung mendekat.
“Nomor 385,” ulang laki-laki itu, lalu beralih pada catatan di tangannya. “Namamu Teguh Triyanto?”
“Iya, Pak,” sahutku perlahan, tanpa menyembunyikan rasa penasaran.
“Yang tegas!”
“Siap, Pak! Betul saya!”
Tentara itu terkekeh. “Bagus. Begitu, dong. Itu baru namanya calon tentara,” lalu menyambung, “Kamu anaknya Hadi Pranoto?”
“Siap, betul!”
“Hmm.. begitu.” Dia manggut-manggut. “Ya sudah. Sana kamu kembali ke tempatmu!” Tangannya melambai, menyuruhku pergi.
Aku kembali duduk tanpa sempat tahu, kenapa tentara itu bertanya demikian? Hatiku menduga-duga, mungkin tentara itu adalah teman Ayah.
Ujian terakhir di Korem hari itu adalah pemeriksaan postur tubuh. Kami masuk sebuah aula dengan hanya menggunakan celana dalam. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku kembali dihinggapi rasa malu.
Kira-kira ada empat-puluhan pemuda yang masuk aula. Dua dari empat dinding aula merupakan lapisan kaca yang memantulkan keseluruhan bentuk tubuh kami. Aku mengelakkan mata, karena malu melihat pantulan tubuhku sendiri. Dua penguji memeriksa tubuh kami satu per satu. Bagian tubuh yang dirasa kurang sempurna, langsung diberi tanda silang menggunakan spidol merah. Giliranku, aku merasakan coretan di tengkuk, bahu kanan-kiri, pinggang, paha, betis, dan telapak kaki (sebelum mencoret telapak kaki, penguji menyuruhku mengangkat dan menunjukkan telapak kakiku). Lalu penguji berjalan ke muka tubuhku, mencoret dadaku kanan-kiri.
Penguji yang mencoreti tubuh, bersuara, “Lihat nomor 385. Bodinya mirip sekop.” Suara itu pelan, namun mengandung nada ketawa. Kurasa pemuda-pemuda lain mendengarnya, karena suasana aula yang senyap.
“Betul,” sahut rekannya yang bertugas mencatat. “Pahanya kayak talas Bogor !” suaranya keras, bernada kegirangan seperti menemukan mainan yang telah lama hilang.
Baru pertama kali aku mendengar ejekan seperti itu. Aku tersinggung. Ejekan itu serupa tusukan berbisa yang melumpuhkan kepercayaan diriku yang tersisa.
Dan seperti memiliki daya magnet, tiba-tiba berpasang-pasang mata menancapkan arah pandangnya kepadaku, seolah hendak mencari kebenaran kata-kata itu.
“Hei, siapa yang menyuruh kalian menengok?!” hardik penguji, mengoyak kesenyapan aula. Para peserta kembali menghadap depan dengan posisi tegap. Penguji pun melanjutkan tugasnya.
Tidak terkirakan rasa nelangsa yang merasukiku. Dan begitu saja. Tiba-tiba aku membenci diriku sendiri. Aku benci sekaligus malu memiliki bentuk tubuh seperti ini, Aku ingin menghilang. Ingin lenyap dan dilupakan. Andai saja aku memiliki keberanian untuk mengutarakan penolakanku pada kemauan Ayah, tentu aku tidak akan terperangkap dalam situasi yang tidak mengenakan ini.
Pemeriksaan postur tubuh selesai.
Seperti robot, aku keluar aula dengan hati hampa. Kami kembali berpakaian, dan lalu beristirahat di serambi samping aula.
“Euh, mestilah aku akan gagal,” keluh pemuda di samping kananku.
Aku menengok untuk melihat muka pemuda itu. Ternyata, dia teman satu kelompokku.
“Aku juga. Begitu banyak coretan di tubuhku,” sahutku tanpa bermaksud menghibur.
“Ayahmu tentara ya, Mas?” tanya pemuda itu mengalihkan pembicaraan.
Mengapa dia bertanya begitu? Apa tadi dia melihat dan mendengar percakapanku dengan seorang tentara di lapangan tenis, sehingga lalu dia bertanya demikian?
“Iya,” sahutku, segan. Aku selalu malas mengakui atau mengatakan pekerjaan ayahku. Soalnya, orang-orang kerap memerhatikan keseluruhan diriku, sebegitu tahu kalau ayahku seorang tentara. Mungkin hendak melihat dan mengukur: pantas atau tidak orang macam diriku menjadi anak tentara.
“Hmm.. Pastilah kamu mendapat pertolongan,” gumamnya tanpa melihat ke arahku.
Aku menerka kata-katanya itu sebagai sebuah sindiran. Dan sebagai tanggapan, aku tersenyum sumir.
“Ini pertama kalinya kamu mendaftar?” tanyaku.
“Bukan. Ini ketiga kalinya.”
“Kemarin-kemarin, kamu gagal di apa?”
“Postur tubuh.”
“Kedua-duanya?”
“Ya.”
Aku terdiam, ingin tahu lebih lanjut; apa kali ini pemuda itu “dibawa” oleh seseorang. Tapi aku malas menanyakannya. Aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri.
Berenang menjadi tahap terakhir dari ujian jasmani. Dengan menggunakan tiga buah truk, kami diangkut menuju kolam renang milik  SPN di lereng Gunung Slamet.
Ujian renang dimulai. Kami kembali diharuskan hanya memakai celana dalam. Kuceburkan diriku bersama empat pemuda lain. Mungkin karena capek atau lapar atau karena dasarnya aku lemah, aku tidak kuat mengayuhkan tangan sekencang-kencangnya. Padahal di ujian ini, teknik menjadi tidak penting. Yang utama hanyalah rentang waktu yang ditempuh. Dan ketika tanganku menyentuh dinding finis, aku baru tahu kalau dari kami berlima, akulah yang paling bontot mencapai finis.
Sempat kudengar seorang penguji berseru, “Huu.. dasar lamban!”
Sewaktu duduk kembali di dalam truk yang selanjutnya mengangkut kami menuju Ajenrem, aku semakin berdiam diri. Pemuda-pemuda di sekelilingku asyik mengobrol, namun anehnya aku seperti tidak mendengar apa pun. Kulayangkan mataku menembus kaca pelapis kepala truk.
Sekitar jam dua siang, kami sampai di Ajenrem. Para peserta ujian turun dari truk seperti air bah, lalu mereka terpecah menjadi gerombolan-gerombolan yang duduk-duduk di emperan bangunan Ajenrem, atau di warung-warung makan dan pinggir jalan. Aku sengaja menyisih, berjalan ke arah timur, menuju alun-alun Purwokerto. Seorang pemuda yang tidak perlu kuketahui namanya, membuntutiku. Dia mengaku berasal dari Tegal. Setelah tahu aku orang asli Purwokerto, pemuda itu memintaku menemaninya mencari bakul mie bakso. Aku hanya kenal beberapa warung mie bakso di sekitar daerah ini, yaitu di daerah alun-alun kota sebelah timur Ajenrem. Setelah menemukan warung mie bakso, kutinggalkan pemuda itu menuju toko buku loakan di sebelah barat penjara. Aku membeli buku sejarah Kerajaan Aceh karya Denys Lombard. Lalu keluar, karena azan sembahyang asar telah memanggil.
Sebelum dan selama aku mengikuti ujian seleksi, ibuku telah berprihatin. Dia rajin berpuasa dan sembahyang tahajjud guna mengirimiku kekuatan. Sama seperti Ayah, Ibu juga berhasrat besar aku menjadi tentara. Kesungguhan Ibu membuatku terharu. Namun dalam sujud sembahyang asar kali itu, aku justru memanjatkan doa supaya aku gagal masuk pendidikan tentara. Aku telah semakin mantap bahwa aku memang tidak pantas menceburkan diri dalam lapangan pekerjaan itu.
Sewaktu aku bocah, kakekku pernah bercerita, dalam lapangan pekerjaan tentara, soal ejek-mengejek, hina-menghina bukan lagi menjadi masalah. Itu adalah hal yang “lumrah”, bahkan terkesan seperti menjadi “keharusan”. Katanya, ejekan-ejekan itu diperlukan guna mengasah kekuatan mental tentara, di samping kekuatan tubuh yang terlatih berkat latihan-latihan fisik. Kakek bilang, kekuatan mental adalah pokok kekuatan tentara yang akan mempengaruhi kekuatan tubuh untuk menjaga pertahanan negara.
Kata-kata kakekku itu hanya kudengarkan sambil lalu, tanpa perhatian penuh—karena tidak kurasakan pentingnya. Dan perjalanan waktu pelan-pelan mengikis ingatanku akan kata-kata  itu. Tapi, kejadian di Korem dan kolam renang, membuat ingatanku kembali terseret pada kata-kata Kakek.
Aku memiliki telinga yang tipis. Dan jika aku menjadi tentara, tidak terbayangkan betapa selama proses pendidikan dan masa selanjutnya, aku “harus melayani” ejekan demi ejekan yang masuk ke telingaku—karena aku tidak pernah bisa memasabodohkan semua perkataan dan sikap yang merendahkan harga diriku; semuanya kudengarkan dan kupikirkan. Oleh kesadaran dan pengetahuan itu, aku merasa tidak siap dan tidak mampu.
Tapi aku takut. Aku seperti dikejar-kejar perasaan bersalah pada Ayah dan Ibu. Aku minta ampun dan juga mohon pada Tuhan agar menghindarkanku dari kemurkaan Ayah. Kalau aku benar-benar gagal di ujian ini, Ayah pasti akan kecewa dan marah padaku. Tetapi aku berharap, Ayah juga mengerti bahwa aku telah berusaha. Semoga.
Setelah sembahyang, aku merasa lebih tenang. Saat langit sebelah barat semakin merah, hasil ujian seleksi jasmani diumumkan. Tiap-tiap kelompok dibariskan secara berbanjar. Nomor-nomor kami dipanggil secara berurutan.
Petugas yang membagikan surat adalah tentara yang tadi menanyaiku di lapangan tenis di Korem. Begitu aku di hadapannya, entah kenapa wajah tentara itu nampak keruh. Dia seperti sedang memendam sesuatu. Atau mungkin dia kecapekan. Dia menyerahkan surat hasil ujian tanpa memandang ke wajahku.
Aku memojok untuk mengetahui hasil ujian. Dan, puji Tuhan. Sesuai yang kuharapkan, surat itu mengabarkan bahwa aku tidak lulus ujian seleksi jasmani! Dikatakan, aku tidak memenuhi syarat dalam bidang postur tubuh dan uji samapta restok. Keseluruhal nilai uji jasmani ditambah uji kesehatanku juga masih kurang dari batas ketentuan minimal. Aku disarankan mencari peluang lain di luar anggota TNI.
Aku tidak tahu kepada siapa Ayah “menitipkanku” (sebelum aku mengikuti ujian, Ayah telah memberi sejumlah uang muka kepada rekannya, agar semua prosesku dimudahkan). Dan memang aku tidak perlu mengetahuinya. Yang pasti, aku sungguh berterima-kasih kepadanya, karena sudah tidak meluluskanku. Aku menerima hasil ujian itu dengan lapang dada—karena seharusnyalah demikian. Aku segera menyisih. Sengaja berjalan melipir. Kutolehkan wajahku menghindari muka-muka para peserta. Beberapa pemuda mencegat, bertanya mengenai hasil ujian jasmaniku. Demi kesopanan, aku terpaksa berhenti dan melayani pertanyaan mereka. Secara singkat kujawab aku tidak lulus, lalu aku segera pamit. Aku tidak mau lagi bercakap-cakap dengan mereka. Dan memang tidak perlu. Dengan kertas hasil ujian di tangan, pikiranku kini dipenuhi satu hal: pulang. (*)
Ledug, 22 Desember 2010
Catatan:
Ajenrem: Ajudan daerah resort militer
Bakul: Pedagang
DKT: Detasemen kesehatan tentara
Geblég: Alat pemukul kasur dari penjalin yang dibentuk seperti raket
Korem: Komando resort militer
Marem: Puas hati
Nelangsa: Sedih
PDH: Pakaian dinas harian
Secatam: Sekolah calon tamtama
SPN: Sekolah polisi negara
TNI: Tentara nasional Indonesia
Wagu: Kaku; tidak pantas
 *) Thomas Utomo bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tulisan-tulisannya dimuat di Annida, Suara Muhammadiyah, Radar Banyumas, Nikah, dan Fatawa.