Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )
Jurus terakhir dari Formasi Tempur Kuasadalah satu goresan yang sering disebut ‘ Kereta Jalan ‘, yakni goresan terakhir dari karakter 道 ( baca: dao, artinya: jalan,… ). Saat dengan kuas menggoreskan garis ini, akan terasa tidak putus diseret dan ditarik. Seperti kaligrafi Huang Tingjian ——— [ Satu gelombang tiga putar ]. Seperti satu goresan itu terus diseret dan diseret, di dalam kekuatan timbul lagi kekuatan, kekuatan menyambung kekuatan.
Saya sangat tertarik bagaimana Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi jurus terakhir ini? Bagaimana merasakan goncangan, gulungan di dalam goresan ini, bagaimana merasakan hubungan tarik menarik antara ketegangan dengan ketegangan? mengenai satu goresan ini, Nyonya Wei seperti biasa tetap memberikan empat kata: Ombak Berkejar Guruh Menggelinding
Gelombang di laut atau di sungai, bergerak berkejaran ke depan, sambung menyambung, terus menggulung tanpa henti. Pada masa Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi kaligrafi, dia sedang menetap di Cina Selatan yang dekat laut, mungkin di sekitar Nanjing atau Zhejiang. Mereka mempunyai kesempatan bertemu laut, dapat merasakan gemuruh pasang surut air laut atau pun sungai, dapat merasakan ombak berkejar. Gelombang saat air pasang naik, segulung segulung berlari menerjang datang, sampai di tepi tanggul, tiba-tiba seluruhnya menghantam pecah berderai, seperti ombak kaget meretak tebing, pecah menjadi selapis bunga gelombang.
Wang Xizhi yang belajar kaligrafi sudah bukan seorang anak kecil lagi, dia telah mengalami berat dan kecepatan batu jatuh, mengalami gerakan lapisan awan di atas cakrawala, mengalami ketegaran rotan kering sepuluh ribu tahun di kedalaman hutan; hidupnya telah menumpuk cukup banyak rasa, menumpuk cukup banyak cerita dan fenomena alam semesta. Dia telah mengenal cula badak, gading gajah yang ditebas putus; dia juga telah mengenal kekuatan dan kelenturan luar biasa ketika menarik lengkung sebuah busur.
Seorang guru yang menuntun masuk ke dalam keindahan hidup, pada pelajaran-pelajaran terakhir, mungkin tidak perlu lagi menjelaskan terlalu banyak.
Nyonya Wei dan Wang Xizhi mungkin bersama-sama berdiri di tepi sungai atau di tepi laut, bersama-sama mendengar suara air pasang dan surut, pada musim yang berbeda, waktu yang berbeda, purnama atau bulan sabit, subuh atau senja, keadaan air pasang dan surut juga akan berbeda. Kadang-kadang suara ‘ sha, sha ‘ seperti daun bergesekan dalam hujan dan angin, seperti ulat sutera menguyah daun murbei; ada juga kalanya ‘ gong ‘ gong ‘ , seperti sepuluh ribu barisan kuda berpacu menerjang.
Berdiri di tepi pantai, guru dan murid sama-sama dapat merasakan kekuatan yang terpendam di dalam kejaran ombak yang menggetarkan hati. Kekuatan ini berbeda dengan kekuatan lepas dari Busur Melepas Seratus Pikul; ‘ Ombak Berkejar ‘ adalah kekuatan yang lebih kalem, lebih terpendam, sambung menyambung, tidak putus tidak selesai, berkejar menuju pukulan terakhir yang sudah ditakdirkan.
Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 – 1105, Dinasti Song )
Pada masa peralihan antara musim semi dan musim panas, persentuhan antara hangat dan dingin Kanglam yang segera berakhir, panas dan dingin tumpang tindih, Yin dan Yang saling mendorong, di udara ada kegerahan yang siap meledak, dari jauh terdengar suara guruh yang terpendam, teriakan yang tertahan dalam geram, seperti sesaat tidak dapat menemukan mulut keluar. Di antara langit dan bumi yang luas, mengikuti sabetan halilintar, satu-satu suara guruh, juga mirip suara kejaran ombak yang datang dari jauh.
Suara guruh pada musim panas, bagaikan menggelinding datang dari tempat yang jauh, suaranya dari kecil lalu pelan-pelan menjadi besar, segelombang segelombang, ada kekuatan yang bersambungan tanpa jeda, ini yang disebut ‘ guruh menggelinding ‘, yaitu goresan terakhir ketika menulis karakter 道. Satu goresan yang diseret panjang, berkelanjutan, adalah ombak laut menerjang, adalah guruh mengemuruh.
Ombak Berkejar Guruh Menggelinding ——— empat kata ini, adalah ingatan pada ombak laut dan suara guruh. Bukan cuma mata melihat ombak laut, Nyonya Wei seolah ingin Wang Xizhi berubah jadi ombak, merasakan tubuhnya bergerak, menggelegak. Demikian juga dengan guruh yang menggelinding. Di dalam semesta yang luas, ada suara terus menerus menyiar, seperti ada kegerahan luar biasa, mirip guruh di musim panas. Dari dalam kegerahan dan tekanan yang tak terkira, tiba-tiba melepaskan teriakan, agak terpendam, selapis-selapis menumpuk datang.
Mungkin banyak yang mengenal seorang kaligrafer besar bernama Wang Xizhi, dan mungkin juga mesti tahu dia ada seorang guru yang mahir membukakan jiwanya dan menuntun hidupnya ——— Nyonya Wei.
Contoh kaligrafi gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, diambil dari [ Epitaf Cao Quan ]
Satu jurus lagi dari Nyonya Wei yang menggunakan perumpamaan pemanahan: Persendian Kuat Tali Busur, dan jurus ini bukan membicarakan kelenturan, ketegangan, namun ingin Wang Xizhi memperhatikan sebuah busur, bagaimana menggulung mengikat tali busur dan dahan busur menjadi satu. Sebuah busur, seandainya sambungan tali busur dan dahan busur ( limb ) tidak bagus, maka sangat sulit menghasilkan kekuatan. Persendian Kuat Tali Busur membicarakan tentang ‘sambungan’ di kelokan tajam pada goresan pertama di dalam karakter 力 ( baca: li, artinya: tenaga ). Goresan ini bermula dari ‘ garis horizontal ‘ lalu berputar tajam lurus ke bawah menjadi ‘ garis vertikal ‘, menjaga kekuatan goresan ‘ garis horizontal ‘ agar tetap berlanjut ke dalam ‘ garis vertikal ‘, bagaimana supaya di antara dua goresan yang berbeda arah, berbeda kekuatan menemukan ‘ sambungan ‘ yang paling mantap. Persis seperti persendian tubuh manusia, karena harus menahan kekuatan yang sangat besar lalu menjadi rumit. Pergelangan dan siku tangan, lutut, pergelangang kaki, semuanya juga begitu.
Coba perhatikan sebuah busur yang bagus, di dua ujung dahan busur baik terbuat dari kayu maupun besi, tersambung dengan tali yang terbuat dari urat atau kulit binatang. Dan di antara tali dan busur, agar tidak lepas, digunakan perekat, digulung dan diikat dengan tali dan benang, sangat mirip persendian tubuh manusia, sangat kuat dan bertenaga. Sewaktu tali busur ditarik, ketegangannya membuat kita merasa ada kekuatan yang tersimpan di dalamnya.
Jurus Persendian Kuat Tali Busur juga merupakan semacam perubahan di masa peralihan dari gaya 汉隶 ( baca: Han Li ), yaitu gaya ‘ Resmi ‘ pada masa Dinasti Han menuju gaya 楷书 ( baca: Kai Shu ) atau gaya ‘ Umum ‘ pada masa Dinasti Tang.
Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 – 641, Dinasti Tang )Di dalam gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, kelokan di ujung ‘ garis horizontal ‘ menuju ‘ garis vertikal ‘, tidak tampak ada perhentian kuas. Namun, di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang sudah jelas kelihatan perhentian kuas di kelokan tersebut. Seperti saat menulis karakter 力, di ujung ‘ garis horizontal ‘ gerakan kuas pelan-pelan diangkat sedikit, lalu berhenti sesaat, baru menikung turun menjadi goresan ‘garis vertikal ‘
Di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang, perhentian kuas ini telah menjadi ciri khas, seperti dapat dilihat dalam kaligrafi Ouyang Xun, Yan Zhenqing ( contoh kaligrafinya ada di catatan sebelumnya ) dan Liu Gongquan.
Persendian Kuat Tali Busurdari Nyonya Wei ini bukan hanya salah satu pelajaran kaligrafi kepada Wang Xizhi saja, tetapi mungkin menyimpan beberapa isyarat perubahan gerakan kuas di masa peralihan dari gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han menuju gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang.
Kaligrafi Liu Gongquan ( 778 – 865, Dinasti Tang )Dan setelah menulis enam jurus Formasi Tempur Kuas, saya merasa mungkin tidak mesti sepenuhnya mengikuti perumpamaan Nyonya Wei. Fenomena alam seperti dalam jurus Batu Jatuh dari Puncak Tinggi, Arakan Awan Seribu Li, Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, bisa dipahami jaman dahulu maupun sekarang. Mengenai pemahaman terhadap kekuatan, ketegangan sebuah busur, sebenarnya bisa diubah sesuai tempat dan waktu. Saya kira banyak alat-alat moderen yang dapat digunakan sebagai perumpamaan ketegangan dan kelenturan. Formasi Tempur Kuas sudah melewati seribu tujuh ratus tahun, mungkin sudah perlu perumpamaan-perumpamaan baru.
Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 -641, Dinasti Tang )Waktu kecil belajar kaligrafi ada banyak ‘ aturan ‘, kemudian baru pelan-pelan menyadari, ternyata bukan semuanya tentang kaligrafi, tetapi adalah ‘ aturan ‘ bersikap terhadap orang maupun dunia luar. Misalnya, waktu kakek mengajari saya menulis karakter Han, selalu menekankan ‘ lurus dan benar ‘, kalau duduk dengan posisi benar dan punggung lurus, pena dengan sendirinya akan ‘ lurus dan benar ‘, maka ‘ lurus dan benar ‘ adalah pelajaran kaligrafi saya yang pertama.
Sebelum mulai menulis, melatih tubuh duduk ‘ lurus dan benar ‘, dua kaki dibuka, selebar bahu. Kakek berkata: ” Ruang di antara kakimu harus bisa ‘ tidur ‘ seekor anjing. ” Perumpamaan ini agak aneh. Suatu sore yang panas, saya sedang latihan kaligrafi, Si Hitam tiba-tiba menyusup ke kolong meja, berbaring tepat di antara kakiku. Saya menunduk lihat anjing itu, senang sekali, sore itu sangat tenang latihan menulis. Saya kira sekarang Si Hitam pasti menemani kakek di atas sana, terakhir kali melihatnya sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dia kelihatan lemah dan murung, mungkin depresi karena dua kali berturut-turut gagal membesarkan anaknya. Akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam semak. Kakek berkata: ” Anjing baik tidak akan mati di depan tuannya, dia bahkan berusaha agar kita tidak menemukan jasadnya ” Saya yang menemukan dia tergeletak kaku di dalam semak. Latihan menulis pada masa kecil seperti dilengkapi dengan berbagai kenangan yang tidak mudah aus. Mungkin kakek menyuruh saya melebarkan kedua kaki, hanya ingin tubuh saya tidak terkekang, terasa lepas. Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )
‘ Pergelangan Gantung ‘ adalah salah satu latihan penguasaan kuas, dengan kuas di tangan, pergelangan dan siku tangan menggantung, tidak boleh bersandar pada permukaan meja. Satu sisi adalah untuk menjaga tubuh tetap ‘ lurus ‘, dan yang lebih penting adalah setelah ‘ Pergelangan Gantung ‘, maka gerakan kuas tidak lagi hanya dari jari-jari tangan, kekuatan gerakan akan melalui pergelangan tangan yang lentur, menggerakkan siku, lengan dan bahu. Terutama waktu menulis karakter besar, bersama gerakan dari bahu, punggung, sangat menyerupai kungfu, bisa bercucuran keringat.
Kakek selalu berkata bahwa kaligrafi juga semacam olah raga, mungkin karena gerakan dalam kaligrafi mirip Tai Chi, melatih pernafasan dan keseimbangan tubuh, dengan menggunakan tarik lepas gerak diam tubuh, memang sangat mirip dengan latihan pernafasan dalam olahraga Timur.
Berbicara tentang kungfu dan olahraga, jurus kelima dalam Formasi Tempur Kuas adalah pelajaran yang berhubungan erat dengan keduanya: memanah, dan jurusnya disebut Busur Melepas Seratus Pikul
Memanah dan kaligrafi adalah dua dari enam pelajaran ( seni ) yang mesti diikuti kaum terpelajar pada jaman Dinasti Qin ( 221 SM – 207 SM ), sehingga sangat wajar menghubungan goresan kuas dengan pemanahan. Busur Melepas Seratus Pikul di dalam Formasi Tempur Kuas membicarakan ‘ garis vertikal ‘ yang memiring ke kanan, dan ujungnya disertai dengan satu gerakan menekuk jadi mata kail, seperti dalam karakater 戈 ( baca: ge, semacam mata tombak )
Ketika Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis karakter seperti 戈 begini, dia mengingatkan Wang Xizhi yang masih kecil, di dalam goresan ada suatu kelenturan yang sangat kuat, seperti busur yang memiliki kekuatan seratus pikul, siap melepaskan sebatang anak panah.
Nyonya Wei tidak menekankan bentuk busur atau pun anak panah, namun adalah kelenturan yang luar biasa setelah tali busur ditarik hingga menegang, maka, kata ‘ Lepas ‘ berubah menjadi sangat penting ——— satu goresan kuat yang penuh kelenturan, yang dapat melepaskan anak panah.
Memanah harus menggunakan busur, menarik tali busur, ada tarikan antara bahu dan busur, kuat atau lemah tarikan itu hanya sendiri saja yang bisa merasakan. Nyonya Wei memang ingin Wang Xizhi merasakan kekuatan lenturan saat anak panah melesat pergi, dan menggunakan pengalaman ini untuk menulis goresan di dalam karakter 戈
Ini sudah merupakan pelajaran estetika, bukan sekedar teknik menulis. Melalui pelajaran menulis, mengembalikan apa yang dialami tubuh sendiri untuk memahami hidup. Kaligrafi Yang Ningshi ( 873 -954, Dinasti Tang )
Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )Kalau melihat tiga jurus sebelumnya, dapat diketahui bahwa yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan sepenuhnya kaligrafi, tetapi membiarkan Wang Xizhi sendiri merasakan berbagai macam bentuk, berat, tekstur, dan gejala di alam terbuka.
Hubungan goresan kaligrafi dengan alam yang ada di dalam tiga jurus sebelumnya tidak sulit dipahami oleh anak sekarang. Namun, jurus keempat ini saya rasa tidak mudah, dan juga telah melanggar perlindungan binatang: Tebas Putus Cula dan Gading.
Tebas Putus Cula dan Gadingadalah berbicara tentang satu unsur di dalam karakter Han: Tendangan kuas menurun ke arah kiri yang disebut 撇 (baca: pei), misalnya karakter 匕 (baca: bi, bisa diartikan, sendok, sekop, mata panah…), pada goresan terakhir ada satu tendangan kuas menurun dari kanan ke kiri, itu yang disebut ‘pei’. Ini adalah gerakan kuas lawan arah, ujung kuas bergerak ke arah berlawanan, harus seperti cula badak yang tajam ditebas putus, atau seperti gading gajah yang melengkung ditebas putus, mesti terasa tajam dan keras.
Dua benda yang diumpamakan dalam jurus keempat ini tidak mudah kita temui hari ini, mungkin sesekali dapat melihatnya di kebun binatang, tetapi tetap terasa sangat asing. Jurus Tebas Putus Cula dan Gading adalah dari tubuh binatang memahami tendangan kuas ke arah kiri dalam kaligrafi, seperti dalam jurus Rotan Kering Seribu Tahun belajar ‘ garis vertikal ‘ yang lentur dan kuat dari tumbuhan. Begitulah Formasi Tempur Kuas, menggunakan berbagai benda di alam untuk mempelajari kaligrafi. Oleh sebab itu, jika bisa memahami inti dari Formasi Tempur Kuas, mungkin bisa menggunakan contoh yang berbeda di jaman yang berbeda pula.
‘Tendangan ke kiri’ di dalam karakter Han, harus tajam, keras, dan ada terasa semacam gerak lawan arus. Satu goresan begini, misalkan di jaman sekarang, tidak tahu Nyonya Wei akan mengumpamakan benda apa untuk menjelaskan kepada Wang Xizhi?
***
Urutan goresan kuas [ Delapan Unsur Karakter Yong ] Formasi Tempur Kuas selain sebagai sebuah cara belajar, juga membuka dunia pengetahuan dan rasa yang kaya bagi seorang anak.
Di masa antara Dinasti Chen ( 557 – 589 ) dan Dinasti Sui ( 589 – 618 ) mulai beredar buku pelajaran kaligrafi bernama: 永字八法 ( baca: Yong Zi Ba Fa, (artinya: Delapan Unsur Karakter Yong), dengan cara membongkar karakter Han, dibagi menjadi delapan unsur, sebagai dasar seorang anak mengenal karakter Han. Delapan Unsur Karakter Yong sangat jelas dikembangkan dari Formasi Tempur Kuas, dan pengelompokan unsur dasar karakter Han menjadi lebih sempurna. Namun, Delapan Unsur Karakter Yong agak abstrak, membongkar karakter 永 berdasarkan urutan goresan kuas menjadi delapan unsur ——— 侧 ( baca: ze, artinya: menyamping ) sama dengan ‘titik’ dalam Formasi Tempur Kuas ; 勒 ( baca: le, artinya: tali kekang ) sama dengan ‘ garis horizontal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 努 ( baca: nu, artinya: berusaha, berupaya ) sama seperti ‘ garis vertikal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 趯 ( baca: ti, artinya: lompat ) sama dengan ‘ mata kail ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 策 ( baca: ce, artinya: memcambuk ) sama dengan ‘ garis horizontal menengadah ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 掠 ( baca: lue, artinya: merebut, merampas ) sama dengan ‘ tendangan panjang ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 啄 ( baca: zhuo, artinya: mematuk ) sama dengan ‘ tendangan ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 磔 ( baca: zhe, artinya: membelah ) sama dengan ‘ tendangan ke kanan ‘ dalam Formasi Tempur Kuas
Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )Walaupun pengelompokan unsur dasar menjadi lebih sempurna, terutama dapat membagi ‘ tendangan kuas ‘ menjadi empat unsur: 策 ( memcambuk ), 掠 ( merampas ), 啄 ( mematuk ), 磔 ( membelah ) lalu dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih terperinci ( saya rasa kurang cocok dimasukkan semuanya di sini ), namun dari segi pengajaran ——— terutama untuk seorang anak, kurang perumpamaan yang mudah dimengerti, sehingga belajar kaligrafi kehilangan pemahaman estetika, terjerumus ke dalam penjiplakan bentuk belaka.
Saya sendiri lebih menyukai Formasi Tempur Kuas, karena cara pengajarannya berdiri di atas landasan ‘ apresiasi keindahan ‘, bukan hanya mengajari bentuk saja, tetapi lebih menekankan seorang anak sendiri merasakan dan memahami proses belajar itu.
Saya rasa apresiasi keindahan mesti berhubungan erat dengan kegiatan dalam kehidupan sendiri, seandainya kehilangan itu, seni dan keindahan tidak lebih hanya bentuk saja.
Terkejut Isim karena calon adik iparnya Payman adalah kawan dekat Pak Longor, Bason dan Kantril. Kebetulan libur musim panas tahun ini Isim kembali ke Indonesia setelah 23 tahun menetap di Italia. “Hallo…Aku Isim baru tiba di bandara Polonia Medan bersama keluarga mau liburan, 3 hari ke danau Toba, Pulau Samosir, tongging dan tanah karo. Jadi mungkin hari ke empat aku bisa main ke Jakarta. Bason terkejut menerima telepon Isim. Tak ubahnya Kantril yang sudah mulai tekun bermeditasi dipandu Bason. Rindu tak jumpa selama puluhan tahun akan terhapus 4 hari lagi.
Kantril, Bason dan Kantril sejak SMA tahun 80-an gabung di The Campino Connection, club anak muda yang mereka dirikan bersama kawan-kawan sebaya di Medan. Club yang cukup diperhitungkan pada waktu itu. Punya diskotik yang selalu disewakan, balap di jalanan, tapi aktif softball, skateboard dan selalu mendaki gunung Sinabung maupun gunung Sibayak apabila libur sekolah. The Campino Connection adalah ajang kegiatan anak muda multidimensionil.
Walaupun setelah mahasiswa mereka berpisah, tapi tetap saja berkawan erat. Isim di fakultas pertanian, Kantril fisipol dan Bason di ekonomi. Hanya saja karakter Isim berbeda dengan Kantril dan Bason, Bason Kantril kutu buku aktif membangun kelompok diskusi bedah buku ilmiah di beberapa tempat. Konsep pemikiran ‘Das Kapital’ karya Karl Marx, maupun ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ Paulo Friere dikuasai mereka secara mendalam. Merasa pejuang kelas berat memberikan tinjauan kritis terhadap sistem pembangunan yang dilaksanakan orde baru dinilai sarat dengan ketidakadilan. Sedangkan Isim dijuluki “manusia penikmat hidup”. Playboy kelas kakap yang selalu mencari sasaran mahasiswi kaya raya.
Biasanya, momentum yang ditunggu Isim adalah perayaan natal setiap tahun. Walaupun Isim tak pernah ke gereja, tapi setiap perayaan natal seluruh fakultas di universitas tersebut — pasti Isim hadir sambil menggandeng gadis yang dicintainya —-. Pacaran 3-4 bulan putus hubungan dan cari mahasiswi lain. Kantril dan Bason kagum terhadap kemampuan gombal Isim dihadapan gadis. Dan, tak henti hentinya mereka ingatkan Isim agar menghentikan tabiat buruknya itu. Tapi Isim tetap saja tak perduli.
Pernah satu waktu semester 4 Kantril yang sudah tak kuliah, mencoba hidup bersama gelandangan pinggir rel kereta api. Ikut merasakan penderitaan kaum sengsara mencari kardus, kaleng, besi botol sebagai mata pencaharian. Kantril terhasut buku ‘Partispasi Riset Aksi’ pengalaman Paulo Friere di Brazil. Sekitar 2 bulan Kantril tinggal di pondok sengsara pinggir rel kereta api. Sesekali Bason yang heboh mengorganisir petani pedesaan bermalam di gubuk Kantril. Karakter mahasiswa sok pembela rakyat miskin melekat kuat pada jiwa Kantril dan Bason.
Terpikir Kantril tuk menanam pekarangan sempit pinggir rel kereta api dengan sayur-sayuran maupun anggrek yang mahal harganya. Secepat kilat Bason usul: ”Kita suruh Isim tuk mencuri bibit sayur mayur yang bertebaran di halaman fakultas pertanian. Lantas kita minta Isim bujuk pacarnya Isti (yang cinta tanam anggrek) kasih bibit anggrek tuk saudara saudara kita yang sengsara ini.”
Dengan ringan senang hati, Isim laksanakan pesan kedua kawannya. Bahkan Isti terlibat mengajari para gelandangan cara bercocok tanam anggrek. ”Nampaknya Isti gadis baik budi. Jangan kau putuskan hubungan kaliam, jadikan Isti jadi istrimu.” Kantril dan Bason sangat terkesan atas kemampuan Isti berintegrasi di tengah-tengah gelandangan sengsara. Segala atribut gadis kaya raya ditinggalkannya di rumah, apabila interaksi ke rumah gubuk pinggir rel kereta api. Tapi, yang namanya Isim palyboy kampungan hanya bertahan 7 bulan pacaran dengan Isti.
Hanya Isim yang berhasil menggenggam ijazah sarjana. Bason Kantril larut akibat jiwa romantisme pejuang rakyat tak tuntas menyelesaikan perkuliahan. Walaupun begitu, Bason yang tak mengantongi gelar sarjana berhasil duduk di posisi penting di penerbitan majalah politik bergengsi. Kantril punya toko kelontong dan Isim penguasa travel biro di Italia.
Ketika Bason Kantril akan kutatap, hatiku terharu. Seakan hari-hari yang berkesan itu datang kembali membuai kami bertiga. Deg-degan Isim di bandara Sukarno Hatta menunggu kedatangan Bason dan Kantril. Sebenarnya Isim masih sangat capek meninggalkan anak istrinya di Medan melanjutkan liburan. Isim butuh istirahat sebelum lanjutkan perjalanan ke Jakarta. Hasrat jumpa kawan lama tak boleh ditunda, Isim paksakan fisik harus ke Jakarta. Duduk lemas lunglai di ruang tunggu bandara, kepalanya pusing tujuh keliling. Dan, ketika Kantril dan Bason menepuk bahu, Isim tak kuat berdiri. Sakit jantungnya kumat, Isim hampir pingsan, terpaksa dibopong ke polklinik bandara dalam keadaan tak sadarkan diri.
Kaligrafi 徐渭 ( Xu Wei, 1521 – 1593, Dinasti Ming )Pelajaran ketiga dari Nyonya Wei untuk Wang Xizhi adalah ‘ garis vertikal ‘, inilah garis di tengah yang ditarik memanjang ketika menulis karakter 中 ( baca: zhong , artinya: tengah ). Ketika menulis karakter Han, menggoreskan satu garis tegak lurus ini memang sedap. Waktu kecil saya sering melihat tukang obat memamerkan kemampuannya di depan kelenteng, selain jual obat, juga memperagakan jurus kungfu, gambar jimat, sering juga menulis kaligrafi, dia akan di atas selembar kertas besar menulis karakter 虎 ( baca: hu, artinya: harimau ) yang juga sangat besar. Karakter ‘ harimau ‘ ini jika ditulis dengan salah satu gaya kaligrafi: ‘ Gaya Rumput ‘ ( semacam stenografi ), maka garis terakhir akan ditarik sangat panjang, memanjang hingga ke ujung kertas, satu ‘ garis vertikal ‘ yang sungguh panjang.Saya pernah melihat tukang obat menggunakan sebuah kuas yang kurang lebih sebesar sapu, penuh tinta, leluasa dan meluap, dengan gerakan tarian atau kungfu, seakan terbang dengan kuas di atas kertas, qi-nya penuh meluap. Ketika menulis hingga goresan terakhir, kuasnya berhenti di satu tempat di atas kertas, bersiap menarik ke bawah satu goresan ‘ garis vertikal ‘, muridnya harus sigap menarik kertas ke depan, ditarik jadi satu garis yang sangat panjang. Kecepatan tarikan garis begini harus benar-benar terjaga, dan garis itu akan timbul semacam bentuk yang disebut putih terbang. Putih Terbang ini terjadi karena tinta di dalam kuas tidak cukup, dan kuas kering akan menciptakan garis-garis tipis, seperti serat-serat di dalam rotan kering, di indera penglihatan berubah menjadi sangat indah. Seperti pohon tua, seperti rotan kering, seperti serat-serat di dalam kayu atau bambu yang penuh kelenturan dan tidak mudah ditarik putus.
Bagian Putih Terbang dalam kaligrafi Cina menciptakan perasaan kecepatan kibasan dan kealotan. Nyonya Wei membawa Wang Xizhi ke dalam hutan, dari rotan kasar dan tua belajar kekuatan gerakan kuas.
Lukisan 徐渭 ( Xu Wei, 1521 – 1593, Dinasti Ming )Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi melihat Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, saat mendaki gunung berpegang pada sepotong rotan kering, sepotong yang di dalam perjalanan waktu yang panjang tumbuh menjadi kehidupan. Anak itu meminjam kekuatan rotan, menaikkan tubuhnya ke atas, meminjam kekuatan rotan, menggantung di udara. Tubuh yang menggelatung di udara dapat merasakan kealotan sepotong rotan ——— kekuatan yang alot dan keras yang tidak dapat ditarik putus.
Rotan tua tidak bisa ditarik putus, alot dan keras, ingatan ini kemudian berubah menjadi penghayatan di dalam menulis kaligrafi. ‘ Garis vertikal ‘ ini mesti ditulis hingga tidak bisa ditarik putus, ditulis menjadi alot, ditulis menjadi lentur, di dalamnya akan ada daya yang meluap keluar dari dua sisi.
Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun bukan hanya tumbuhan di alam terbuka, ia telah diumpamakan menjadi sepotong garis kehidupan yang tegar dan kuat dalam kaligrafi Cina. Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun terhadap apa saja kelihatan sangat tua, tetapi ada kehormatan terhadap ketegaran hidup yang samasekali tak tertaklukan.
Wang Xizhi masih anak kecil, namun Nyonya Wei melalui Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun membuat dia di dalam perjalanan hidup yang pelan dan panjang memiliki kekuatan yang alot. Keindahan kaligrafi, selalu saling berhubungan dengan kehidupan.
Batu Jatuh dari Puncak Tinngi mempelajari berat dan kecepatan
Arakan Awan Seribu Li mempelajari kelapangan dada
Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun mengerti keteguhan dan ketegaran
Nyonya Wei adalah guru kaligrafi, dia juga guru kehidupan
Rahwana menundukkan kepala,
telah dicukurnya rambut dan bulu-bulu lembut pada dada perkasa
dipangkasnya pula semacam cinta
yang menjalar dan menjulur di dinding hatinya yang luka
“kesepian dan kesedihan adalah milik manusia,
bahkan jika ia adalah penjahat yang tampak terasing dari air mata”
Maka digapainya pena dan ditulisnya untuk Rama,
Telah kucium harum rambut Shinta tapi wanginya justru membakar Alengka—negeri yang selama bertahun-tahun kubangun dalam mendung dan hujan tak reda-reda— kini kukembalikan ia seutuhnya dengan rambut panjang, leher jenjang dan cintanya yang perawan Kau telah menang bahkan sebelum perang Tapi aku pun punya kemenangan Yang kamu tak perlu paham, Selamat berjuang Aku tiba-tiba rindu pada kematian sesuatu yang pernah dengan keras kau perjuangkan tapi tak pernah mampu kau dapatkan Sampai aku mencair menjadi darah dan menyelusup di kaki pegunungan tempat Hanuman bertapa, membaca dan menulis sajak cinta
Kaligrafi Yan Zhenqing, 709 -784, Dinasti TangBanyak sisi dari Formasi Tempur Kuas milik Nyonya Wei yang pantas untuk direnungkan. Pelajarannya yang kedua adalah membawa Wang Xizhi mengenali unsur dasar lain dari tulisan Han, yaitu ‘ garis horizontal ‘ atau karakter Han [ 一 ] yang artinya ‘ satu ‘
Seandainya menarik keluar [ 一 ] dari sebuah karakter, kita akan menemukan beberapa rahasia kaligrafi: [ 一 ] dan ‘ titik ‘ sama-sama adalah unsur dasar pembentukan tulisan Han. Pelajaran kaligrafi yang diberikan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi memang dimulai dari latihan unsur dasar. Saya ingin memberikan beberapa contoh [ 一 ] dari kaligrafer-kaligrafer berbagai Dinasti setelah Wang Xizhi, seperti: 颜真卿 ( Yan Zhenqing, 709 -784, Dinasti Tang ), 宋徽宗 ( Song Huizong, 1082 -1135, Dinasti Song ), 董其昌 ( Dong Qichang, 1555 – 1636, Dinasti Ming ), 何绍基 ( He Shaoqi, 1799 -1873, Dinasti Qing ). Karya-karya mereka sangat berpengaruh dan berkarakter, jadi sekalipun mereka yang tidak begitu kenal dengan kaligrafi Cina juga dapat membedakan unsur [ 一 ] di dalam karya kaligrafi mereka.
Unsur [ 一 ] dalam karya Yan Zhenqing dan Song Huizong berbeda sangat jauh, ‘ garis horizontal ‘ Yan Zhenqing begitu kokoh dan berat, sedangkan ‘ garis horizontal ‘ Song Huizong kurus langsing dan di ujungnya ditekuk jadi mata kail; begitu juga unsur [ 一 ] dalam karya Dong Qichang dan He Shaoqi juga tidak sama, ‘ garis horizontal ‘ Dong Qichang tipis jernih bagai benang sutera melambai di dalam air, dan unsur [ 一 ] He Shaoqi ada ketegaran yang kusut mengikat. Kaligrafi Song Huizong, 1082 -1135, Dinasti Song
Pada jaman Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis, masih belum begitu banyak maestro dari Dinasti sebelumnya yang dapat dijadikan panutan, dan Nyonya Wei seperti juga tidak menganjurkan seorang anak terlalu cepat mencontoh kaligrafer yang sudah ‘ jadi ‘. Oleh sebab itu, Wang Xizhi bukan mulai mengenal garis horizontal dari [ 一 ] yang ditulis kaligrafer sebelumnya. Kaligrafi Dong Qichang, 1555 – 1636, Dinasti MingPelajaran pengenalan terhadap unsur [ 一 ] ini justru berlangsung di alam yang luas.
Nyonya Wei membawa Wang Xizhi keluar rumah, seorang anak kecil, berdiri di padang datar yang luas, menatap cakrawala, menatap cakrawala yang merentang jauh, menatap barisan gumpalan awan di atas cakrawala pelan-pelan bergerak ke dua arah. Nyonya Wei berbisik di telinga anak itu: ” Arakan Awan Seribu Li ” Kaligrafi He Shaoqi, 1799 -1873, Dinasti QingArakan Awan Seribu Li, empat kata ini tidak mudah dijelaskan, selalu merasa menulis [ 一 ] hanya perlu pergi memperhatikan cakrawala. Sesungguhnya Arakan Awan Seribu Li adalah menunjukkan barisan awan di atas horizon. Awan rendah-rendah memenuhi, berbaris, menggelinding di atas horizon, itu yang dimaksud Arakan Awan Seribu Li. Ada perasaan yang luas, ada perasaan terbuka menjulur di kedua sisi. Saya agak lama berpikir, mengapa mesti mengunakan dua kata ini, ‘ arakan awan ‘?
Ketika awan membuka barisan, ada semacam gerakan yang sangat pelan, sangat mirip dengan kandungan air kuas perlahan diserap dan menebar di atas kertas. Maka, Arakan Awan Seribu Li adalah hubungan antara kuas, tinta, dan jenis kertas yang kuat menyerap. Menggunakan pena atau pensil atau alat tulis berujung keras sangat sulit merasakan Arakan Awan Seribu Li
Waktu kecil belajar kaligrafi, sering mendengar orang berkata bahwa kaligrafi yang bagus mesti seperti ‘ bekas bocoran di dinding ‘ Waktu itu saya kurang mengerti apa sesungguhnya yang dimaksud ‘ bekas bocoran ‘ itu. Kemudian baru pelan-pelan menemukan, sewaktu menulis kaligrafi, di sekitar goresan kuas akan meninggalkan segaris bekas air agak bening di atas kertas kasar, ini adalah bekas yang menebar dari serapan air tinta, bukan sesuatu yang yang sengaja digores kuas. Sebab bukan garis yang sengaja digores, sehingga mirip kesederhanaan yang primitif dan ketidak-beraturan yang dicapai bekas-bekas yang tercetak alamiah, oleh sebab itu kelihatan agak kalem.
Air bocor merambat dari atap, tanpa warna, bekasnya tidak jelas. Namun setelah lama diendap waktu, bekas-bekas ini akan timbul warna yang agak kuning, agak cokelat, agak merah, dan itu adalah jejak dari penderitaan waktu, oleh sebab itu adalah tingkat teratas apresiasi keindahan.
Kaligrafi Wang Xizhi, 303? -361?, Dinasti JinKalau jaman dulu mengajar kaligrafi mesti membawa anak-anak pergi melihat ‘ bekas bocoran ‘, pergi mengubah jejak yang ditinggalkan waktu ke dalam kaligrafi, mungkin Arakan Awan Seribu Li juga mempunyai makna tersendiri? Yaitu ketika menulis garis horizontal, bagaimana agar ia ditarik terbuka sehingga tercipta hubungan yang bergerak beraturan antara kuas, tinta dan kertas, adalah timbulnya ingatan terhadap lapisan awan yang bergerak tenang di atas padang luas yang senyap, memahami kebesaran, keheningan kehidupan, dan setelah itu jika menulis [ 一 ] lagi, baru mungkin ada gema percakapan antara langit dan bumi.
Gambar diunduh dari byskell.files.wordpress.comHari ini Jakarta resmi menjadi kota mati! Seakan sebuah black hole ditaruh di pusat kota dan menelan habis setiap gram denyut kota lengkap dengan segala energi kehidupan di dalamnya. Satu dua helai daun meluruh malas ditiup angin melewati beberapa angkot dan bus yang teronggok di tengah jalan. Tapi sungguh aku lebih suka Jakarta yang mati. Seperti saat ini.
*****
“Dengar! Aku tidak suka dikencingin!!!”
“Phufft, aku kira tidak ada satu pun yang suka.”
“Setidaknya dia bisa membersihkan bekasnya.”
“Jangan harap, norma sudah lama mati.”
“Ingin rasanya aku tendang pas di kemaluannya!!”
“Haha, sebaiknya jangan, pasti modar itu orang.”
“Pokoknya aku tidak bisa terima, Eko-. Selain itu, kau ingat kapan terakhir kali lokomotif kita diservis? Aku kira itu beberapa tahun yang lalu. Ingat teman kita, si Ekonomi Jurusan Bogor-Jakarta Kota yang dibakar supporter bola kemarin hari gara-gara dia ngadat di tengah jalan raya yang sedang padat. Aku tau dia mempunyai masalah di lokomotifnya yang sudah tua. Oh, jangan berusaha membantahku. Dia sendiri sering mengeluh padaku sehabis seharian disiksa jadwal, penumpang dan bos kita.”
“Aku tidak berusaha membantahmu kawan. Aku cuma mau bilang kita semua mempunyai nasib yang hampir sama di sini. Sudah, sudah. Waktunya kerja dan ingat… Jangan mencelakai orang. Setidaknya kau lebih bermartabat ketimbang aku. Gerbongmu ber-AC, kau tak pernah merasakan membawa penumpang 2 kali batas maksimalmu kan? Syukuri itu, Fellas.”
“Entahlah, aku sudah cukup muak. Oke oke baik, aku tidak akan bertingkah, jadi tolong singkirkan wajah cemberutmu itu.”
“Hehe, kau memang lucu.”
*****
Nafasku tersisa separuh saat seorang petugas loket kereta api menguap lebar pagi itu. Ketololanku bermalas-malasan di tempat tidur 10 menit lebih lama di pagi hari tadi terbayar sudah dengan sederet macet yang menghadangku. Belum genap pukul setengah tujuh dan aku sudah harus berjibaku tergopoh-gopoh jika tidak ingin gajiku yang kecil tersunat karena telat masuk kantor. Beruntung kereta lokal tujuan Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat (stasiun terdekat dengan kantorku) yang menjadi langgananku 5 tahun terakhir belum berangkat meskipun penumpang di dalamnya sudah dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi. Berjubel, berdesakan sampai hampir tumpah ruah di dekat pintu masuk gerbong. Yah, untuk dua ribu perak itulah layanan terbaik yang bisa kau dapatkan. Puluhan juta pekerja dengan bermacam profesi di kawasan Jabodetabek ini memang sudah sangat bergantung dengan keberadaan angkutan kereta lokal meskipun harus berimpitan satu sama lain seperti sekarang. Sebenarnya ada alternatif lain untuk hal ini. Kereta lokal express atau kereta lokal ekonomi AC yang jauh lebih longgar, nyaman, cepat, tepat waktu dan mahal tentu saja. Tarifnya yang sedikit menguras kocek membuatku berpikir dua kali menimbang kebutuhan bulanan versus gajiku yang sering minus.
*****
Ibu Ratih masih memegang pisau dapur saat mengangkat telepon rumahnya yang berdering. Sebuah deringan yang akan merusak pagi indahnya.
“Selamat pagi, apa benar ini kediaman Bapak Wiliam Sujatmiko?”
“Selamat pagi, iya benar sekali.”
“Dengan ibu siapa saya berbicara?”
“Saya Ibu Ratih, istri beliau. Mohon maaf, Pak. Suami saya sudah berangkat kerja sekitar 20 menit yang lalu.”
“Sebenarnya bukan itu maksud dan tujuan saya menelpon Ibu. Sedikit sulit untuk mengatakannya.”
“Maaf, saya tidak mengerti maksud Bapak.”
“Mmmhh, suami Anda mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Sudirman dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit.”
“Apa???!!!! Bagaimana keadaan suami saya, Pak??!! Saya harus segera ke sana, tolong berikan alamat rumah sakitnya!!”
“Iya Bu, tapi saya minta Ibu menenangkan diri. Kita doakan yang terbaik untuk suami Ibu. Ibu sekarang langsung ke Rumah Sakit Fatmawati” *Klik*.
Ibu Ratih merasakan degup jantungnya berlarian sepanjang jalan. Mulutnya yang mungil tak henti merapal sesuatu, entah itu doa, entah gugup. Rumah Sakit Fatmawati memang hanya berjarak 5 km dari rumahnya, namun kali ini perjalanan 20 menit menuju tempat itu terasa seperti perjalanan melewati dimensi lain, terasa berjam-jam bagi Bu Ratih. Sesampainya di rumah sakit, hentakan di jantungnya makin mengejar kala beliau tiba di rumah sakit yang dimaksud penelpon tadi. Bagaimana bisa itu terjadi, suaminya tidak ada di rumah sakit yang disebutkan tadi dan tidak ketahuan rimbanya. Untung dia sempat menyimpan nomor penelpon tadi.
“Pak, suami saya di mana??!! Saya sudah di rumah sakit tapi tidak ada pasien dengan nama suami saya. Jangan macam-macam ya, Anda bisa saya laporkan polisi kalau berniat jahat pada suami saya.”
“Ibu, ibu tenang dulu. Saya bukan penjahat, saya ini pegawai di Rumah Sakit Fatmawati dan saya sama sekali tidak berniat jahat kepada siapapun. Suami ibu dan saya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, kami sedang di dalam ambulans namun macet sangat parah disini Bu.”
“Tt..tolong suami s..saya, Pak.”
“Pasti Bu, kami upayakan yang terbaik untuk suami Ibu, tolong Ibu bantu dengan doa dan keikhlasan.”
Ibu Ratih sudah dalam kondisi setengah pingsan saat ambulans itu datang 3 jam setelah percakapan terakhir dengan petugas rumah sakit yang menolong suaminya. Yah, 3 jam dalam perjalanan yang membuat suaminya kehabisan banyak darah dan meninggal di tengah kerumunan macet Jakarta. Tak perlu ditanya bagaimana kondisi Ibu Ratih yang seketika itu histeris dan terjatuh lemas, pingsan. Butuh beberapa jam hingga beliau siuman dan pingsan lagi setelah ditemani petugas rumah sakit yang tadi. Beberapa kata yang sempat didengarnya bahwa suaminya terjatuh setelah bersenggolan dengan sesama pengemudi motor yang melaju meliuk-liuk di kerumunan macet pagi itu di bilangan Jalan Sudirman.
*****
Oke, kantorku memang tergolong dekat dilihat jaraknya hanya sekitar 25 km dari kostku. Hanya dibutuhkan kurang dari setengah jam kalau ditempuh dengan motor tua bebek tahun ’70-an yang kecepatan maksimalnya hanya 70 km/jam seperti yang aku pakai setiap hari. Namun itu jika Jakarta dalam keadaan ‘tidak normal’ alias keadaan hari Minggu atau keadaan hari libur nasional atau dalam bahasa yang lebih mudah dikatakan, TIDAK MACET. Jadi dalam keadaan Jakarta ‘normal’ perjalananku ke kantor memakan waktu tak kurang dari 2 jam penuh bahkan sering lebih lama. Wow! Artinya setiap hari aku harus bangun sangat pagi bahkan sebelum matahari mengucek matanya. Tapi sebenarnya apa yang membuatku muak bukan mengenai lama perjalanan itu. Berlama-lama di tengah kemacetan membuatku merasa sangat tidak berguna. Bahkan aku percaya emosiku yang tidak stabil dan kecerdasan otak yang menurun disebabkan karena seseorang terlalu lama disekap kemacetan. Yah, aku percaya itu terjadi padaku di hari-hari pertama aku masuk kantor. Beruntungnya 1 km dari tempat kostku ada stasiun kecil dan ada kereta lokal tujuan Stasiun Pasar Senen yang singgah di stasiun kecil itu setiap 1 jam sekali. Kantorku pun bisa dijangkau dengan jalan kaki 10 menit dari Stasiun Pasar Senen itu. Ya bisa dibilang solusi yang menyelamatkan hidupku beberapa bulan terakhir.
Namun pagi itu aku cukup malas untuk bangun. Alhasil berangkat ke kantor hanya dengan cuci muka dan gosok gigi. Nanti aku mandi di kantor saja, begitu pikirku. Motor tua itu pun kugeber habis-habisan menuju stasiun untuk mengejar kereta lokal langgananku. Sial memang kalau prinsip semesta bahwa malas hanya mendatangkan masalah memang benar adanya. Macet pun tidak mau berkompromi. Jurus terakhir, gigi persneling motor aku oper, gas motor dan rem bergantian aku permainkan, meliuk-liuk di tengah keramaian Jakarta pagi. Ah, cukup berhasil. Stasiun hanya terpisah 1 belokan depan. Sekali lagi aku berkelit sana sini dan kemudian tanpa sengaja stang motorku menyenggol seorang pengendara motor lainnya. Sempat kulirik dia oleng ke kiri dan di saat bersamaan sebuah bis lokal Jakarta menyerobot celah sempit di samping pengendara tadi. Kelihatannya dia terhantam badan bus tadi. Mungkin sedikit parah lukanya. Beberapa detik aku sudah mengerem motorku namun kemudian aku geber kembali. Aku pikir pasti nanti dia ditolong warga sekitar. Susah untuk berbelok putar arah di tengah kerumunan onggokan besi-besi bermesin yang meraung-raung ini. Selain itu aku tak mau terlambat. Semoga lukanya tidak terlalu parah.
*****
“Bah, macam mana pula itu kereta. Seenaknya jidat dia berhenti di situ. Kita mana bisa lewat kalo begini caranya. Anak istriku makan apa kereta tolol !!”
“Sabar atuh bang, kan emang di mana-mana kalo kereta mau lewat yang lain ya kudu berhenti.”
“Tak usah kau bilang aku pun tau kalo macam itu. Yang awak maksud, lihat itu, lihat! Kenapa kereta tolol itu berhenti di tengah jalan macam begitu, palang pintu pun tak akan terbuka lah kalo kereta belum jalan. Itu kereta mogok tau ! Ah tolol pula kau ini!”
“Mana aku tahu Bang itu kereta mogok atau nggak. Saha atuh yang peduli?”
“Kalo kereta itu sering mogok seperti sekarang, waktu jadi terbuang, penumpang kurang, kita ngejar setoran juga seret. Mikir dikit lah kau ini!! Lagian sudah beberapa bulan ini kereta-kereta di Jakarta sering mogok, di mana-mana mogok. Baca berita di televisi lah kau ini biar ga tolol-tolol amat.”
“Ah, kumaha sia wae lah, anying! Tuh udah jalan itu, kebuka tuh palang pintunya. Ayo buruan Bang, jangan ngomel mulu.”
“Aaaaah, apapula awak bilang, susah kan. Pekara kereta usai, macet pun datang. Kapan awak kaya kalo gini, kalo kejar setoran aja susah, hah?”
“Berisik terus sih Bang, tuh ada ruang kosong tuh sebelah kanan, ambil bang! ambil! seroboott!”
“Iya, tau. Jangan macam istriku pula kau ini, ngomel tak henti-henti”
“Bang! liat kanan bang! awaassss!! *Braakkk!!!!!!*
*****
“Oke, kawan, kita semua tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap kita. Kita memang seonggok besi bermesin bagi mereka, tapi tidakkah mereka belajar merawat dan menjaga hal-hal yang setidaknya menolong mereka? Berguna bagi mereka? Aku ingin sedikit mengajarkan pada mereka 1 hal tentang itu. Besok aku dan teman-teman yang lain akan mogok total di semua trayek, jadwal, dan stasiun.”
“Ayolah kawan, jangan sesinis itu. Mungkin efeknya sedikit terasa jika seluruh teman-temanmu mogok. Aku yakin mereka akan segera beralih ke yang lain dan melupakan perihal kau mogok dan sebagainya. Mereka akan tetap seperti itu, mati rasa dan satu lagi, jujur aku dan teman-temanku yang lain pasti tidak suka mendapat limpahan penumpang darimu dan teman-temanmu. Beban kami sudah cukup berat.”
“Kau selalu cerdas kawan, aku pun memikirkan hal serupa. Kalau hanya aku dan teman-temanku yang mogok, mereka hanya menganggap masalah ini sekilas saja. Tidak akan pernah sadar dan karena itulah aku sudah berbicara dengan beberapa angkot dan bajaj kenalanku yang cukup senior. Mereka setuju dan berjanji akan memimpin yang lain untuk melakukan hal serupa.”
“Lalu?”
“Aku memintamu dan teman-temanmu untuk bergabung besok. Kita mogok bersama. Kita jadikan Jakarta kota mati meskipun mungkin hanya beberapa hari.”
“Setelah itu?”
“Ya, kita berharap mereka mau memperhatikan sedikit nasib kita, sedikitnya tidak membiarkan terseok-seok. Kau dan kawan-kawanmu pun bisa merasakan hawa AC dan parfum di bangku-bangku penumpangmu kalau beruntung. Setidaknya pinggangmu tak akan ngilu saat digeber kalau suspensimu itu diganti. Aku hanya ingin nasib kita semua lebih beradab kawan.”
“Yah…..mungkin aku bisa membicarakannya dengan teman-temanku setelah ini”
“Bagus, aku tau kau memang bisa diandalkan. Oh ya, hampir kelupaan bagian terbaik dari rencana kita. Kau tahu mobil-mobil dan motor-motor pribadi yang sering congkak selama ini? Kita akan balas mereka. Besok kita akan mogok, tapi bukan di sembarang tempat. Aku sudah membaginya. Aku dan teman-temanku akan mogok di hampir setiap perpotongan jalan raya dan rel kereta api. Angkot dan bajaj yang jumlahnya luar biasa akan mogok di setiap pintu masuk-keluar perumahan elit, minimal berjajar 2-3 angkot atau bajaj. Sisanya akan memblokir ruas jalan dan persimpangan yang cukup vital. Lalu kau beserta teman-temanmu akan mogok malang melintang di setiap pintu masuk ataupun pintu keluar tol. Kita buat mereka mengenang hari itu.”
“W.w..wo..w. Kau brilian.”
*****
Aku terengah-engah saat bangun pagi ini. Mimpi yang cukup aneh. Aku bermimpi mengalami kejadian yang sama persis seperti yang aku alami pagi kemarin saat berangkat kerja. Bersepeda motor meliuk-liuk kemudian menyenggol pengendara motor. Sama persis, namun yang membuat bulu kudukku masih meremang sampai sekarang, di dalam mimpiku pengendara motor yang ternyata seorang bapak berumur 45 tahunan itu meninggal di TKP. Berdarah-darah kepalanya ditutupi daun pisang ala kadarnya. Aku dalam mimpi itu berhenti dan menoleh ke mayat bapak itu saat diangkat ke mobil jenazah dan sekejap seakan nyawanya ditiupkan kembali, mayat bapak itu bangun sekelebat. Menuding dan memandang tajam ke arahku. Matanya yang semerah saga itu membuatku berteriak ketakutan dan terbangun dengan keringat mengucur. Aku merasa bersalah meninggalkannya kemarin, di tengah jalan.
Dan ternyata mimpiku tadi pagi bukan satu-satunya hal teraneh yang aku alami hari ini. Keluar dari kost dengan motor tuaku, aku dikejutkan dengan kerumunan orang-orang yang berusaha memindahkan bajaj dan angkot yang secara ajaib berjajar menutupi pintu masuk-keluar gang. Entah ke mana sopirnya. Kulihat beberapa montir menyumpah serapah di kejauhan sambil menendangi ban bus yang tampaknya juga mogok. Namun yang aneh bus itu mogok tidak dalam posisi yang wajar. Bagaimana mungkin bus mogok dengan posisi tepat melintang menutup akses jalan seakan posisi itu memang disengaja. Entahlah yang aku tahu, hari ini aku tidak akan sampai di kantor tepat waktu. Atau mungkin tidak sama sekali.
“Restrukturnisasi Kepolisian Tak Ada Guna” sebuah artikel di koran Debrita tulisan DR Pardomuan terbit hari ini. Dengan nama samaran Muslimin, selalu dikirim DR Pardomuan ke koran terbesar di Trieste. Beginilah caranya membantu uang saku Muslimin. Muslimin yang paling sering mengalami kekeringan kantong. Muslimin anak petani miskin akhirnya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selama dua tahun kuliah biaya hidupnya ditanggung secara kolektif oleh DR Pardomuan beserta beberapa kawannya. Syukurlah Muslimin tidak sebandel Tigor. Muslimin sangat mematuhi aturan dan peraturan yang diterbitkan oleh fakultasnya. Dia tidak menyia-siakan bantuan yang diberikan kepadanya. Sekali 6 bulan ayahnya datang dari kampung membawa ubi, sayur mayur menginap di ruang meditasi rumah DR Pardomuan, tak muat tidur di kamar kost Muslimin yang sangat berprihatin bersama 2 orang kawannya. Dan, kalau datang dari kamping, ayah Muslimin akan cerita banyak dengan Ibu dan Arben Rizaldi. Ibu dan Arben Rizaldi juga memberi perhatian yang besar kepada ayah Muslimin yang hidup seadanya.
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcomTulisan karya imitasi Muslimin tersebut memberikan tinjauan kritis mengenai usaha Kapoltri (Kepala Polisi Trieste) meningkatkan fungsi kepolisian Trieste dalam memberantas kejahatan korupsi, narkoba, kepolisian Trieste dalam memberantas kejahatan korupsi, narkoba, perampokan dan lain sebagainya. Jadi dalam tubuh organisasi Poltri ada tiga departemen baru yaitu : Depbranko (Departemen Brantas Korupsi), Depbrankrim (Departemen Brantas Kriminal) dan Depbrankoba (Departemen Brantas Narkoba). Padahal pada struktur Poltri yang lalu, penanganan kasus narkoba, kriminal sudah ada unit khusus dan satu unit khusus menerima pengaduan korupsi. Unit itu masih ada , tapi masih juga didirikan Depbranko, Debankrim dan Depbrankoba. Sehingga akhirnya tugas unit dan departemen Poltri tumpang tindih, tidak efisien. Sangat gemuk organisasi Poltri dalam menjalankan fungsinya. Otomatis anggaran belanja negara semakin besar dialokasikan untuk poltri. Sementara peningkatan profesionalisme polisi dalam penanganan kasus sama sekali tidak ditingkatkan. Inikan pemborosan uang Negara?. Begitulah inti tulisan (imitasi) Muslimin. Karena begitu rutinnya tulisan imitasi Muslimin, Muslimin jadi banyak dikagumi kawan-kawannya. termasuk para dosen. Sehingga banyak organisasi mahasiswa meminta beliau jadi pembicara dalam berbagai forum. Karena Muslimin tidak menguasai tulisannya sendiri (?) dia tidak pernah menerima tawaran menjadi pembicara.
Kawan-kawan FDP hanya bisa tertawa melihat Muslimin yang sering kelabakan memberi respon simpatik dari berbagai pihak akibat tulisannya di koran. “Tak penting kucing warna apa, yang penting bisa menangkap tikus. Tak perduli dengan cara apa. yang penting dapat duit, hua…ha…ha..” Muslimin hanya bisa tertawa melihat nasibnya sebagai penulis opini yang populer di koran. Hua…ha…ha…
Sikap kaum terpelajar yang getol membaca dan menulis sebenarnya tidak dimiliki Muslimin. Cita-citanya selama menjadi mahasiswa dan apabila sarjana nantinya tidak serumit obsesi Tigor maupun Mikail. Tidak pernah dia mengutamakan bacaan buku di luar buku wajib kuliah. Buku perkuliahan tetap mendapat prioritas utama agar dapat nilai tinggi dalam ujian semester. “Nanti kalau aku dilantik, pasti foto pelantikan bersama ayah ibuku dilengketkan di ruang tamu rumah kami di kampung. Dan kedua orang tuaku merasa bangga punya anak seorang sarjana di tengah-tengah keluarga kami yang tidak memiliki anak yang sarjana. Lantas aku akan melamar menjadi pegawai negeri, agar nanti punya uang pensiun. Tidak seperti pegawai swasta, ayahku akan hidup bahagia sepanjang waktu, hua..ha..ha…” Sangat lugu pikiran Muslimin. Tapi, Tigor , Mikail, Ucok dan warga FDP lainnya tetap mengasihi keluguan Muslimin. “Memang begitulah kelasnya, Apa mau dikata?” kata Dr Pardomuan.
Aku mencintai bahasa. Aku mencintainya karena perannya terhadap kehidupan kita, bagaimana bahasa menyediakan kita cara untuk mendedakan luka, keagungan nuansa dan kehalusan eksistensi kita (Maya Angelou)
Pram, begitulah kita mengenal sastrawan yang mencintai bahasa dan menggunakan bahasanya untuk berbuat. Pram barangkali adalah sastrawan yang tak hanya kritis tapi juga konsisten dengan apa yang disuarakan. Perjalanan karir dan hidupnya seperti lika-liku yang tak habis untuk dibaca. Di balik kebesaran dan nama Pram, kita mengenal sosok Pram yang lain, Pram dikenal sebagai sosok yang keras, tegas dan juga sangat kritis terhadap para pengkritiknya. Dunia sastra Indonesia seperti tak seimbang menempatkan posisi Pram di samping para sastrawan yang lain. Pram adalah luka, karena keberpihakannya pada PKI yang dinilai Pram sebagai partai paling konsisten terhadap revolusi. Pram pun mengalami nasib naasnya setelah peristiwa 65 dengan menanggung resiko karyanya dihanguskan dan dibuang di pulau buru. Tapi di sanalah Pram justru menciptakan kuartet pulau buru di tahun 1975 meski sudah dilisankan di tahun 1972. Karya-karyanya erat dengan kehidupannya, ia seperti meniupkan nyawa dalam karyanya, hingga karya itu secara tak sadar adalah suara jiwanya. Meski demikian, ia menganggap karya sastra tetap tidak bisa dikontrol oleh sang pencipta itu sendiri. Ia adalah anak dan buah pikiran dari penulis yang terbuka terhadap kritik dan interpretasi pembaca. Di awal kepengarangannya, ia kerap diserang oleh para kritikusnya yakni balfas desember 1956 novel perburuan dinilai tidak terstruktur, akhir kisahnya dibuat-buat dan tokoh-tokohnya tidak meyakinkan. Pram pun akhirnya naik pitam dan menanggapi dengan cara yang emosional. Kritik ini dilancarkan setelah Pram dan teman-temannya mempelopori gelanggang seniman merdeka tahun 1947. Tahun 1950 ia ikut menandatangani “surat kepertjayaan gelanggang” 18 Februari 1950. Pramudya ikut menyepakati konsepsi “humanisme universal” yakni istilah yang dipopulerkan oleh HB.Jassin yang menandai angkatan 45. Buku karya Savitri Scherer ini membantu kita memahami mengapa dan bagaimana Pramudya bisa ikut luruh dalam peristiwa perdebatan dan polemik sastra yang semula ia ikut dalam “gelanggang seniman merdeka” hingga akhirnya ia pun tidak sepakat dan melepaskan diri dari kelompok gelanggang, ketika ia bergabung dengan lekra, ia pun mulai simpatik terhadap PKI dan juga terlibat dalam polemik sastra yang menyerang para generasi baru gelanggang dalam manifes kebudayaan 1963.
Goda Politik
Faktor-faktor yang menyebabkan Pram meninggalkan gelanggang dan akhirnya memutuskan hubungan dengan HB Jassin tidak semata persoalan politik semata, tapi juga karena Pramudya merasa dikhianati oleh prinsip-prinsip yang dinilainya tak sesuai dengan yang diajarkan Jassin kala ia mencetuskan “humanisme universal”. Pram menilai, Jassin dan para pengikutnya tak konsisten dan hanya “klenengan” dan tak mempedulikan rakyat sebagai aspek yang penting dalam karya sastra. Pram pun kecewa dengan sikap gurunya yang kemudian tak peduli ketika ia dipenjara karena menulis Hoa kiau di Indonesia (1960).
Buku ini mengurai dengan jelas mengapa Pramudya bergeser pada ideologi kiri dan memihak PKI. Meski ini berakibat dengan tuduhan ia adalah anggota PKI. Melalui lekra itulah ia bersuara dan menyuarakan prinsip-prinsipnya. Ia sadar betul, ide-ide awalnya bermula dari kritik para seniman dan kritikus lekra termasuk A.S Dharta yang membukakan matanya terhadap kenyataan-kenyataan sosial dan akan pentingnya arti rakyat dalam kesenian dan kesusasteraan. Ia pun tak mampu menahan goda politik yang waktu itu menjadi prinsip PKI bahwa politik adalah panglima, yang sebelumnya menggunakan demokrasi rakyat.
Melalui 10 bab dalam buku ini kita diajak tak hanya menelusuri karya Pramudya, riwayat kepenulisannya, tapi juga lika-liku politik dan kehidupan yang dijalani Pramudya sebagai penulis. Buku ini diawali dengan pendekatan kritis yang menganalisis terhadap perkembangan sastra Indonesia, kemudian menjelaskan kehidupan singkat Pramudya, bab berikutnya membahas tentang polemik sastra dan diikuti dengan pembahasan karya-karya Pramudya dan kontroversi karir Pram antara tahun 63-65. Menurut Savitri, Pramudya adalah penulis yang berdiri di tengah masyarakatnya dan bagian hakiki darinya, meminjam Teuw, Pram adalah “novelis yang tidak hanya mewakili Indonesia, melainkan juga seorang sastrawan yang mewakili kawasan Asia”.
Buku ini juga mendudukkan posisi Pram yang larut dalam posisi yang dilema antara berpihak pada corong partai atau tetap konsisten dengan karyanya yang dicipta. Ia menulis novel “Sekali Peristiwa di Banten” yang mencerminkan sikap Pramudya yang harmonis terhadap borjuasi nasional dan kekuatan angkatan bersenjata. Secara teoritis ini tidak sesuai dengan program pembentukan negara sipil sosialis. Di tahun 60, karya Pramudya yang membela minoritas tionghoa menyatakan siapa musuh Indonesia yang sebenarnya dan borjuasi nasional adalah bagian dari musuh tersebut. Savitri menyebut sikap ambivalen Ppramudya dapat dilihat cerminan akurat sikap ambivalen PKI terhadap “borjuasi nasional”.
Di akhir buku ini, Savitri menjelaskan bagaimana Pramudya menciptakan karyanya yang berbeda dari periode sebelum ia di pulau buru. Ia menciptakan “Bumi Manusia” dengan idealisme konservatif yang berbeda dengan “Gadis Pantai” dengan idealisme revolusioner. Bagaimanapun juga Pram adalah penulis yang tak pernah lepas dari prinsip-prinsip dan tujuan awal dia menulis yakni mendekapkan dirinya di tengah-tengah masyarakat dan tidak terlepas dari masyarakat. Pram adalah representasi dari sosok penulis yang konsisten dengan prinsip meski dengan sikapnya itu pula ia harus melibatkan diri dengan goda politik dan sikap politik partainya.
Judul buku : PRAMOEDYA ANANTA TOER , Luruh Dalam Ideologi
Penulis : Savitri Scherer
Penerbit : Komunitas Bambu
Hal : 190 halaman
ISBN : 978-602-9402-02-5
Harga : Rp.50.000,00
*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aktifis IMM, bergiat di Bilik Literasi Solo.
gambar diunduh dari bp.blogspot.comSetiap tahun, ratusan perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri di seluruh Indonesia mencetak sekian banyak wisudawan, sarjana-sarjana yang siap kerja dengan berbagai visi dan karakter juga watak yang bebeda. Seiring dengan semakin banyaknya tenaga lulusan perguruan tinggi justru memunculkan spekulasi-spekulasi yang baik disadari atau tidak oleh masyarakat, sering terlupakan dalam perkembanganya. Sudah cukupkah hanya dengan ijazah dengan IPK tinggi dan gelar sarjana menjadikan individu tersebut dibilang berhasil? Lantas keberhasilan yang bagaimana?
Seseorang bisa dikatakan berhasil bukan hanya dipandang dari segi berapa banyak jumlah gaji yang diperoleh dari pekerjaan, atau berapa besar kekayaanya setelah mereka bekerja, melainkan keberhasilan yang lebih mencerminkan sebuah hasil yang telah kita lakukan dari hasil kerja atau kegiatan yang berintegritas. Banyak bukti yang dapat kita lihat secara mata telanjang dan terjadi di sekeliling kita, dapat kita lihat di setiap cover surat kabar, atau pun menjadi topik perbincangan terhangat di berita elektronik ibukota, mulai dari masalah maraknya korupsi baik di badan pemerintahan tertinggi sampai rakyat jelata atau masalah-masalah di dunia pendidikan misalnya saja, adanya demo mahasiswa yang anarki bahkan berbagai berita yang membahas tindakan-tindakan tercela para pendidik yang semestinya di gugu dan tiru malah memberi bocoran soal ujian pada siswanya. Sungguh hal menghawatirkan serta memberikan dampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin membuktikan banyaknya pelanggaran-pelanggaran.
Integritas Generasi Muda
Salah satu penyebab dikatakan tidak berhasilnya seseorang adalah terkait telah hancurnya integritas masyarakat baik secara kolektif dan terutama personal. Perlunya kder- kader baru yakni genereasi muda yang sedari sekarang kita pupuk dan tumbuhkan dalam pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial di sistem sosial serta mampu menjadi penyatu unsur-unsur di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
Sudah sewajibnya mulai dari sekarang generasi muda khususnya menyadari bahwa pemuda menjadi tonggak kemajuan segala bidang, yang harus mulai menumbuhkan loyalitas dan integritasnya. Sekarang bukan waktunya untuk mengutuk kegelapan atas apa yang terjadi di negara kita, lebih baik mulai dari masing-masing individu untuk menyalakan obor penerang, dengan menjadi leaderships visioner dan transformative, serta berkekuatan intelektual dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara bijak dan berintegritas. Begerak sesuai jalur dalam birokrasi, tidak melanggar hukum, dan menjadi pribadi anti korupsi. Yang bukan hanya memahami dan menghayati tapi jauh berimbas bila kita mau mengubah pikiran dan pandangan kita akan arti kesuksesan itu dan tentunya diimbangi dengan nilai-nilai budaya serta keagamaan dari masing-masing individu.
Nailatul Faiqoh adalah mahasiswa fakultas teknik sipil Universitas Negeri Semarang