Arsip Tag: paulus catur wibawa

Melancholic Rahvana

Puisi Paulus Catur Wibawa

Rahwana menundukkan kepala,
telah dicukurnya rambut dan bulu-bulu lembut pada dada perkasa
dipangkasnya pula semacam cinta

      yang menjalar dan menjulur di dinding hatinya yang luka

“kesepian dan kesedihan adalah milik manusia,
bahkan jika ia adalah penjahat yang tampak terasing dari air mata”

Maka digapainya pena dan ditulisnya untuk Rama,

Telah kucium harum rambut Shinta
tapi wanginya justru membakar Alengka—negeri
yang selama bertahun-tahun kubangun dalam mendung dan hujan tak reda-reda—
kini kukembalikan ia seutuhnya
dengan rambut panjang, leher jenjang
dan cintanya yang perawan
Kau telah menang
bahkan sebelum perang
Tapi aku pun punya kemenangan Yang kamu tak perlu paham, Selamat berjuang
Aku tiba-tiba rindu pada kematian
sesuatu yang pernah dengan keras kau perjuangkan
tapi tak pernah mampu kau dapatkan
Sampai aku mencair  menjadi darah dan menyelusup di kaki pegunungan
tempat Hanuman bertapa, membaca dan menulis sajak cinta

rama dan sinta
Gambar diunduh dari http://www.wisatamelayu.com

PEMAAFAN

Oleh Paulus Catur Wibawa
ilustrasi 3.bp.blogspot.com
Seks pranikah punya sejarah yang sangat panjang. Barangkali sejak pernikahan itu sendiri ada dan dilembagakan. Dan itu artinya sejak dahulu kala, sebelum Joko Tarub mengintip bidadari mandi, sebelum Kertanegara memuja Tantra sambil pesta orgy, sebelum para gundik dipelihara kumpeni. Sampai zaman ketika para artis suka merekam perzinahannya sendiri, ketika undang-undang mengatur rok mini dan ketika tetek palsu menambah percaya diri dan perasaan sexy.
Seks pranikah dan seks bebas tentu adalah istilah masa kini untuk menunjuk pada perilaku seksual—katakanlah, persetubuhan—yang dilakukan di luar ikatan perkawinan. Perbedaan dua istilah itu terletak pada cakupannya. Seks bebas dilakukan tak peduli dengan pacar, teman, kenalan atau bahkan orang yang—secara pribadi—tidak saling kenal. Seks pranikah dilakukan dengan orang yang (seolah-olah) akan menikah, meskipun pada akhirnya belum tentu menikah.
Banyak pihak telah berusaha menyadarkan betapa tindakan seksual harus dilakukan secara benar dan bijaksana. Seks bebas dan seks pranikah telah melahirkan berbagai gangguan kesehatan, rumahtangga yang hancur atau terpuruk karena ketidaksiapan, anak-anak “haram” yang tidak siap secara sosial.
Dalam masalah ini, perempuan sering menjadi korban. Terutama, bila ia sudah menyerahkan (atau dirampas) kehormatannya. Terlebih lagi bila laki-laki tersebut ternyata tidak menjadi suaminya. Sangat mungkin itu mengakibatkan luka yang dalam dan tak mudah diobati seperti misalnya, dendam pada laki-laki, penolakan pada konsekuensi dari hubungan seksual itu sendiri, pengucilan diri, stigma dari masyarakat sekitar dsb. Lalu bagaimana mensikapinya? Banyak solusi praktis sudah sering dikemukakan. Pertama, sekedar mengulang beberapa pendapat itu, laki-laki yang berbuat harus (dituntut untuk) bertanggungjawab. Salah satunya adalah dengan cara menikahi secara resmi. Tapi jika itu tidak mungkin, misalnya karena ia sudah beristri, pertanggungjawabannya harus dalam bentuk lain, entah secara kekeluargaan atau secara hukum. Kedua, perempuan yang menjadi korban juga harus bertanggungjawab. Sekalipun korban, ia juga terlibat dalam kondisi yang tidak diinginkan ini. Karenanya, ia harus juga bertanggungjawab, terlebih bila hubungan seks pranikah tersebut menyebabkan kehamilan. Sekarang ini banyak LSM dan lembaga keagamaan punya perhatian pada persoalan semacam ini. Ada yang concern pada ibu-ibu yang hamil di luar nikah, ada juga yang concern pada anak-anak yang lahir di luar pernikahan. Keempat, keluarga dan masyarakat sekitar perlu memberikan dukungan. Para korban tidak semestinya dijauhkan dari lingkungan, atau dikecam. Sebaliknya, mereka perlu dimaafkan dan dibantu untuk melanjutkan kehidupan mereka. Kelima, meminjam pendapatnya Hannah Arrent, perlulah memaafkan. Forgiveness is the exact opposite of vengeance, which acts in the form of re-enacting against an original trespassing whereby far from putting an end to the consequences of the first misdeed, everybody remains bound to the process, permitting the chain reaction contained in every action to take its unhindered course. Arrent memang pertama-tama bicara soal politik, yakni tentang korban Nazi. Tetapi saya kira ia benar, bahwa proses pemulihan hanya bisa terjadi setelah didahului dengan memaafkan—betapapun sulitnya—pihak-pihak yang bersalah. Tanpanya, pemulihan hanya seperti tongkat ajaib yang kekurangan mantra. Bisakah seorang korban memaafkan? Mungkin sangat sulit. Apalagi jika luka yang disebabkannya sangat dalam. Tetapi tanpa memaafkan, luka itu akan tetap ada, korban selamanya terbuang di alam dendam dan kekecewaan.

Catatan:
Opini ini terpilih sebagai opini terbaik pertama tentang ‘Seks Pranikah’

Puisi-Puisi Paulus Catur Wibawa

danmedhurst.com
Foto Anna, Maria, Venice by danmedhurst.com, diunduh dari flickr.com

Doa dalam Sebotol Waktu

Aku tak pintar bikin doa yang merdu
Jadi kumulai doaku dengan
“Aku tak bertanya kenapa cuaca begini buruk, Ibu
Tapi beri aku gerimis yang manis
Dalam sebotol waktu
Tegukkan di leher ayahku yang sedang sakit rindu”

Kututup dengan “Amin” sebelum kutitipkan padamu

Lalu kita menunggu
Selagi kemarau gigih meyakinkan kita bahwa langit menyimpan begitu banyak cahaya
Doa kita mungkin akan sampai di sana
Sebagai air mata yang mengental dalam sebongkah mega

Dan masih saja kita menunggu
entah sampai kapan
sampai doa kita pulang bersama hujan
sampai kudengar tawa ayahku dari seberang
sampai kututup doaku dengan “Terima kasih, Ibu” padamu

sementara engkau masih saja bertahan menunggu
di dalam gua batu

***

Seorang Anak di Depan Patung Maria

Tak rela melihat gadis yang dipujanya
Berdiri terus di dalam gua, letih, kurang tidur dan tampak merana
Peziarah kecil datang menyerahkan pensil dan buku tulisnya

Tiap pagi kutulis kata-kata pak guru di sini
Kalau sudah siang dan pak guru mulai membosankan
Aku selalu tertidur di atas buku ini
Tapi kini buku tulis ini untukmu
Agar kau bisa menulis pesanan mereka yang memohon-mohon padamu Agar kau bisa tidur dengan tentram kalau lilin doa dan bunga-bunga Mulai membosankanmu