Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Resensi Thomas Utomo

IKHTISAR
Selama ini, Orang Rimba atau suku-suku yang hidup di pedalaman kerapkali diidentikkan sebagai kumpulan manusia yang barbar, primitif, biadab, bodoh, dan sederet labeling negatif lainnya. Permukiman yang jauh di pedalaman, seolah-olah membenarkan stigma yang telanjur melekat bahwa mereka antiperubahan dan mengisolasi diri dari perkembangan zaman yang semakin modern. Hal inilah yang memunculkan rentangan jarak yang terlampau jauh antara Orang Rimba dengan Orang Terang—orang-orang yang bermukim di luar pedalaman. Di satu sisi, Orang Rimba bersikap apriori dan menganggap Orang Terang sebagai perusak alam, penipu, pembawa malapetaka dan kutukan. Di sisi lain, seperti tidak ada upaya dari Orang Terang untuk membantu memberdayakan Orang Rimba yang semakin termarginalkan oleh arus zaman yang semakin kompetitif dan terus bergerak. Kesan yang justru muncul, terjadi semacam pembiaran, terutama oleh para birokrat, agar Orang Rimba tetap bodoh dan terbelakang, sehingga mudah dibohongi, seperti saat terjadi transaksi jual-beli hasil hutan, perjanjian batas wilayah, tata kelola hutan, dan pembalakan liar.
Butet Manurung, seorang gadis Batak lulusan FISIP UNPAD, merasa tergugah untuk berkontribusi memberdayakan Orang Rimba melalui jalur pendidikan. Mula-mula, ia bekerja pada WARSI (Warung Informasi Konservasi) sebagai fasilitator pendidikan bagi Orang Rimba di Cagar Biosfer Bukit Duabelas (sekarang Taman Nasional Bukit Duabelas). Sebagaimana pepatah tak ada laut yang tak bergejolak, begitu pula yang dialami Butet dalam upayanya membelajarkan Orang Rimba. Ia dituduh sebagai misionaris, pembawa malapetaka dan kutukan, diintimidasi cukong pembalakan, mengalami malnutrisi, bahkan nyaris dibunuh oleh seorang perempuan rimba karena dicurigai hendak merebut suaminya. Butet sempat bimbang akan tantangan pekerjaan yang dengan sadar dipilihnya sendiri. Lebih-lebih karena tekanan ibunya yang menginginkan ia keluar dari pekerjaan yang dianggap aneh dan tidak menjanjikan masa depan. Namun seperti kata Leonardo da Vinci, “Rintangan tak dapat menghancurkanku.  Setiap rintangan akan menyerah pada ketetapan hati yang kukuh,” Butet akhirnya sadar dan percaya, inilah jalan yang Tuhan tunjukkan kepadanya untuk berbuat, untuk berjuang.
Agar dapat memahami karakter Orang Rimba dan mendapat kepercayaan mereka, ia menolak tinggal di tenda atau pondok yang disediakan WARSI. Ia lebih memilih tinggal bersama Orang Rimba dan memakan apa pun yang mereka suguhkan, termasuk daging yang lazimnya diharamkan oleh Orang Terang. Rupanya, keputusan Butet tersebut menjadi jalan pembuka kepercayaan dari Orang Rimba.
Berbeda dengan Yusak—fasilitator pendidikan WARSI sebelumnya, yang meninggal karena malaria, Butet tidak menawarkan pendidikan kepada Orang Rimba. Sebaliknya, ia berbuat sedemikian rupa agar Orang Rimbalah yang memintanya memberikan pendidikan. Misalnya, saat Orang Rimba tengah menyanyikan 30 baris lagu rimba, Butet merekamnya dalam tape recorder, kemudian mencatatnya. Ketika ia dengan mudah melafalkan lagu rimba sambil membaca catatannya, Orang Rimba terheran-heran dan bertanya, bagaimana ia bisa begitu mudah melakukannya, sementara ia baru saja mendengarkan lagu rimba tersebut? Butet pun bersenang hati menjelaskan fungsi tape recorder dan menulis. Kali lain, Butet menggambar aneka binatang hutan dan memberi keterangan dengan bahasa rimba di bawahnya. Atau memamerkan buku cergam dan dongeng untuk anak-anak, yang kemudian diamati secara kagum dan antusias oleh Orang Rimba. Hal itu yang terus disusul kesempatan-kesempatan lain, semakin menumbuhkan minat Orang Rimba, utamanya anak-anak, untuk mempelajari hal-hal yang menurut mereka menakjubkan. Namun, Butet tetap bergeming, diam menunggu, hingga akhirnya mereka berujar, “Ibu, beri kami sekolah!”
Tidak mudah membelajarkan Orang Rimba. Awalnya, proses KBM dilakukan di rumah transmigran asal Jawa yang bermukim di luar pedalaman Bukit Duabelas. Hal ini disengaja demi menghindari kemarahan orang-orang tua rimba yang masih saja beranggapan pendidikan akan mengubah adat atau agama mereka dan mendatangkan malapetaka.
Seiring berjalannya waktu, jumlah siswa Butet semakin bertambah.  Beruntung, ia akhirnya diperbolehkan mengajar di dalam hutan setelah orang-orang tua rimba yakin, bahwa pendidikan tidak akan mengubah adat atau agama mereka, sebaliknya justru akan membantu mereka dalam bekerja. Contohnya, mereka akan bisa menghitung juga mengalikan jumlah uang yang seharusnya didapat dari menjual hasil hutan, sehingga mereka tidak dapat ditipu lagi oleh Orang Terang, seperti pada tempo-tempo yang lampau.
Dari para siswa yang mula-mula, Butet lalu memilih dua di antaranya yang dirasa paling pandai, ialah Linca dan Gentar, yang didaulat menjadi asistennya dalam mengajar. Mereka bertiga kemudian berpindah dari satu rombong (kelompok) ke rombong lain di pedalaman Bukit Duabelas untuk memenuhi panggilan mengajar di banyak tempat. Dalam perjalanan itulah, Butet menemui berbagai pengalaman menarik, misalnya terkait pembelajaran calistung: meskipun beberapa Orang Rimba mengaku sudah paham mengenai angka dan operasi hitung, namun saat dihadapkan pada soal operasi hitung bersusun, mereka kerap salah mengerjakan, seperti ini:
18
25 +
313
Rupanya mereka mengerjakan operasi hitung dari kiri ke kanan seperti saat menulis atau membaca huruf. Juga, kebiasaan Orang Rimba yang mengucapkan kata dengan huruf akhir S menjadi Y, dan sebaliknya. Contoh, kata “BAS” akan dibaca “BAY”, sementara kata “BAY” dibaca “BAS”.
Selama bekerja pada WARSI, Butet mendapat gaji Rp 500.000,00 per bulan. Dengan gaji yang begitu kecil, toh ia tetap bertahan, lantaran kecintaannya pada orang-orang rimba yang sudah mendarah-daging. Namun setelah hampir empat tahun bekerja, ia semakin sadar, ternyata WARSI hanya menjadikan Orang Rimba sebagai obyek penelitian semata. Prioritas utama WARSI ialah konservasi hutan, dengan mengesampingkan sama sekali peran Orang Rimba sebagai penghuni dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pedalaman Bukit Duabelas. Kekecewaan ini, ditambah kekecewaan-kekecewaan lain akibat kebijakan WARSI yang lebih kerap merugikan Orang Rimba, akhirnya membuat Butet memutuskan hengkang dari WARSI. Bersama teman-teman satu pemahaman dan cita-cita, ia kemudian mendirikan SOKOLA; Kelompok Pendidikan Alternatif bagi Masyarakat Adat.
Masalah baru timbul; pendirian SOKOLA tidak didukung pendanaan yang memadai. Para pendiri SOKOLA pun berpencaran, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sempat didera putus asa, Butet berusaha melupakan cita-citanya melanjutkan sokola (sekolah) bagi orang-orang rimba. Namun, seperti kata Paulo Coelho, “Kalau kamu sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka seluruh alam akan menolongmu!”  Pada Maret 2004, ia mendapat penghargaan Woman of the Year dari Anteve (ANTV) atas kiprahnya memberdayakan Orang Rimba di pedalaman Bukit Duabelas, Jambi melalui jalur pendidikan. Hadiahnya uang sebesar Rp 20.000.000,00. Dengan uang itu ditambah dana lain dari sebuah yayasan, ia dan teman-teman kembali berkumpul dan bisa melanjutkan cita-cita yang sempat tertunda.
Pada 13 April 2005, SOKOLA dilegalkan dengan akta notaris dengan status perkumpulan.  Sampai sekarang SOKOLA masih eksis dan terus berkembang merambah daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Aceh, Flores, Makassar, Maluku, dan Bulukumba.

TEKNIK PENULISAN
Sokola Rimba secara karakter dapat disebut memoar bernuansa diary, yang digarap sedemikian rupa dengan tetap mempertimbangkan latar yang kuat serta plot maju yang rapi. Sudut pandang yang digunakan adalah akuan, yaitu penulis sebagai narator yang bersenyawa dengan isi tuturan. Gaya bahasanya santai dan segar, yang sekaligus merepresentasikan pikiran dan kepribadian sang penulis.

KEUNGGULAN
Oleh karena dituturkan tangan pertama, artinya penulis sebagai orang yang mengalami dan menyaksikan langsung, maka isi buku sangat meyakinkan. Lebih-lebih karena bahasa yang digunakan penulis cenderung denotatif, santai, segar, dan tidak berbelit-belit. Dalam hal ini, pembaca akan dapat menebak bahwa penulis bukanlah tipikal perempuan sentimentil yang gemar merumitkan masalah dan mengungkapkan isi hati secara mendayu-dayu. Sebaliknya, pembaca akan menemukan sisi maskulinitas seorang perempuan yang lebih suka menyikapi masalah secara sederhana dan mengedepankan akal sehat.
Hal lain yang patut dipuji adalah penyuntingannya yang rapi dan teliti. Dari halaman muka sampai akhir buku, nyaris tidak ditemukan salah ketik atau pun susunan bahasa yang janggal—meskipun bahasa yang digunakan adalah semibaku.
Yang lebih menarik, buku yang dicetak menggunakan kertas HVS ini, dilengkapi dengan 25 foto berwarna mengenai aktivitas SOKOLA (termasuk foto profil penulis) hasil dokumentasi SOKOLA dan pihak-pihak lain. Juga dua peta lokasi rombong dan ladang Orang Rimba, dokumentasi WARSI. Kesemuanya amat menarik pandang.

KANDUNGAN NILAI
Dikaitkan dengan fungsi buku bagi pembacanya, Sokola Rimba mengandung sejumlah nilai berharga seperti; Pertama, nilai spiritual. Setelah membaca Sokola Rimba, pembaca akan memperoleh informasi yang memberikan kepuasan batin, seperti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan; perlukah Orang Rimba beragama, akankah pendidikan mengubah adat-istiadat dan keyakinan mereka, bagaimana pandangan Orang Rimba mengenai modernisasi, dan sebagainya lagi.
Kedua, nilai pendidikan. Sokola Rimba merupakan rekam jejak pengalaman Butet Manurung belajar bersama Orang Rimba, karena itulah buku ini sangat layak dibaca oleh calon guru, guru, atau siapa pun yang tertarik dengan masalah pendidikan. Dengan membaca Sokola Rimba, pembaca akan mengetahui tantangan KBM di dalam rimba, kendala-kendalanya, hambatan peserta didik saat mengikuti proses KBM, rintangan-rintangan yang justru datang dari birokrat, dan sebagainya lagi. Melalui pengalaman membaca tersebut, pembaca akan mendapat informasi yang mencerahkan, yang memberikan gagasan atau inspirasi mengenai bagaimana baiknya pendidikan itu.

SUBSTANSI
Budaya Orang Rimba
Kelompok Orang Rimba tersebar di kawasan hutan Bukit Duabelas yang memiliki luas lebih dari 60.000 hektar. Nama Bukit Duabelas, sama sekali tidak berkaitan dengan jumlah bukit yang ada di hutan. Hanya yang jelas, hutan ini merupakan barisan bukit yang oleh Orang Rimba disebut setali bukit. Hutan ini meliputi tiga kabupaten di Propinsi Jambi, yaitu Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Muaro Tebo, dan Kabupaten Sarolangun.
Menurut survei WARSI pada tahun 1997, populasi Orang Rimba di pedalaman Bukit Duabelas sebanyak 1.300 jiwa, yang terbagi dalam 11 rombong (kelompok), yang masing-masing rombong dipimpin oleh temenggung (kepala kelompok). Tiap rombong terdiri dari sejumlah bubung (keluarga), yang kemudian dapat terbagi menjadi beberapa pesaken (rumahtangga). Biasanya tiap rombong disebut berdasarkan nama sungai besar di dekat tempat mereka bermukim.
Meskipun kepala rombong dijabat laki-laki, namun sistem yang dianut oleh Orang Rimba adalah matriarkat, yakni istri mempunyai kedudukan lebih tinggi dalam rumahtangga. Istri berhak memerintah, bahkan menghardik suami, sementara suami tidak diperbolehkan membantah, apalagi marah. Sedari kecil mula, laki-laki dididik untuk mengekang hawa nafsu—apa pun bentuknya.  Sebaliknya hal ini tidak berlaku bagi perempuan. Orang Rimba lebih suka memiliki anak perempuan daripada anak laki-laki, karena sebegitu menikah, anak laki-laki harus tinggal di rumah keluarga istrinya dan tidak boleh meninggalkan rumah lebih dari enam hari. Namun begitu, laki-laki diperbolehkan melakukan poligini dan mengumpulkan istri-istrinya di bawah satu atap.
Di antara tradisi yang dianut Orang Rimba adalah melangun, yaitu berkelana meninggalkan tempat tinggal karena ada anggota rombong atau kerabat yang meninggal. Tujuannya untuk melupakan kesedihan, membuang sial, atau menghindari kutukan. Waktu melangun bisa berkisar enam bulan sampai tujuh tahun, tergantung seberapa besar pengaruh orang yang meninggal semasa masih hidup.
Secara umum, Orang Rimba amat teguh menganut adat-istiadat. Mereka percaya pelanggaran terhadap adat-istiadat akan mendatangkan malapetaka dan kutukan dari dewa-dewa yang bersemayam di bebukitan. Oleh karena itulah, mereka membatasi pergaulan dengan Orang Terang, sebab mereka meyakini pergaulan dengan Orang Terang akan mempengaruhi dan mengacak-acak adat-istiadat mereka, yang selanjutnya mendatangkan kemurkaan dewa-dewa. Selain percaya kepada yang Mahatinggi yang mereka sebut dewa, mereka juga percaya akan keberadaan jin dan setan, yang kesemuanya diyakini bersemayam di bebukitan.
Pakaian Orang Rimba, baik laki-laki maupun perempuan adalah cawat. Namun akibat interaksi dengan Orang Terang yang mau tidak mau tidak dapat terhindarkan, sekarang ini tidak sedikit Orang Rimba yang mengenakan celana, kaos, atau kemeja dalam keseharian. Akan tetapi, tradisi tidak mengenakan penutup payudara bagi perempuan yang sudah menikah masih tetap dilakukan. Ini semata-mata demi efektivitas kegiatan menyusui bayi yang lahir hampir setiap tahun.
Seperti kebanyakan manusia di belahan dunia lain, Orang Rimba juga menyukai sastra, dalam hal ini ialah syair atau pantun (lisan). Kegiatan bersyair biasa dilakukan kapan pun dalam suasana macam apa pun, seperti malam hari, hendak memanjat pohon, mengobati orang sakit, dan merayu perempuan.
Tradisi bahasa Orang Rimba adalah bahasa lisan. Setelah adanya sokola, barulah mereka mengenal dan mengetahui bahasa tulis, juga bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan.
Sebenarnya, bahasa rimba yang digunakan di pedalaman Bukit Duabelas, hampir serupa dengan bahasa Melayu-Indonesia. Barangkali karena letak Propinsi Jambi yang berada tepat di sebelah selatan Propinsi Riau, daerah asal-muasal bahasa Indonesia. Jadi meskipun pergaulan dengan Orang Terang terbatas, diyakini pastilah ada pengaruh tertentu dari Orang Terang kepada Orang Rimba. Menariknya, dalam percakapan menggunakan bahasa rimba yang terdokumentasikan dalam buku ini, ditemukan sejumlah bahasa atau kata yang mirip bahasa Jawa. Sebut sebagai contoh: dulur, bae, dan seketi.  Dalam bahasa rimba, kata dulur berarti saudara. Kemungkinan besar kata ini berasal dari bahasa Jawa ngoko (atau mungkin bahasa rimbalah yang mempengaruhi bahasa Jawa), yaitu sedulur, yang juga memiliki arti serupa. Begitu juga kata bae dan seketi, yang masing-masing berarti saja dan sakti, baik dalam bahasa rimba maupun bahasa Jawa.
Matapencaharian Orang Rimba adalah berburu dan berladang. Hanya sejumlah kecil dari komunitas Orang Rimba yang menjadi kaki-tangan cukong pembalakan. Masalahnya, Orang Rimba membuka ladang baru dengan cara membakar hutan terlebih dahulu. Sementara pembalakan yang terjadi semakin menggila, tanpa mengindahkan keseimbangan alam. Orang Rimba yang tidak memiliki kemampuan baca-tulis tidak mampu berbuat banyak menghadapi pembalakan tersebut. Akibatnya, keberadaan Orang Rimba semakin terdesak masuk ke dalam hutan.

Pandangan Orang Rimba terhadap Orang Terang
Secara umum, Orang Rimba memandang buruk Orang Terang. Menurut mereka, Orang Terang adalah penipu, perusak alam, pembawa wabah penyakit, atau pembawa sial. Itulah sebabnya Orang Rimba membatasi interaksi dengan Orang Terang.  Hal ini dapat dimengerti. Dari pengalaman interaksi dengan Orang Terang, kerapkali Orang Rimba nyata-nyata ditipu Orang Terang, tetapi sayangnya mereka tidak bisa membuktikan penipuan tersebut, karena ketidakmampuan mereka dalam hal baca-tulis.
Pandangan Orang Terang terhadap Orang Rimba
Orang Terang memiliki sebutan tersendiri bagi Orang Rimba ialah Orang Kubu, yang berarti bodoh, kotor, primitif, kafir, atau arti lain yang senada. Sebenarnya kata ini berasal dari bahasa Orang Rimba itu sendiri, yang justru dipakai oleh Orang Terang untuk mencemooh identitas Orang Rimba. Ditambah lagi, para wartawan yang meliput aktivitas Orang Rimba, kerapkali melakukan pemberitaan secara keliru. Gambaran Orang Rimba yang diekspos kepada dunia luar seringkali adalah gambaran atas kehidupan pesimis Orang Rimba, bahwa Orang Rimba itu patut dikasihani, karena tersiksa dengan tekanan dunia luar terhadap hutannya. Jarang sekali ditampilkan sudut optimis Orang Rimba seperti keceriaannya, keberdayaannya, atau kearifan budayanya.  Padahal segi-segi positif itu ada. Image pesimis yang selama ini diberitakan media, akhirnya membuat Orang Rimba jadi ikut mengasihani dirinya sendiri. Orang Rimba seakan-akan digiring agar mereka mengakui “kepesimisan” mereka. Sebaliknya, orang luar yang mengaku peduli dan ingin menolong, justru membuat Orang Rimba tampak lebih tidak berdaya lagi. Jadi tidak aneh bila kemudian Orang Rimba menjadi terpengaruh dan hanya berharap uluran bantuan dari pihak luar saja, tanpa adanya keinginan memberdayakan diri sendiri.

Orang Rimba dan Perubahan Zaman
Pada bulan Agustus tahun 2000, Cagar Biosfer Bukit Duabelas diubah statusnya menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas. Luas area yang semula 32.000 hektar, kini berubah menjadi 60.500 hektar. Namun sebenarnya, perubahan status dan luas area itu tidak memberi pengaruh yang berarti bagi peningkatan kualitas hutan, karena kenyataannya luas area yang dimaksud lebih merupakan luasan batas patok saja.
Menurut penelitian, kerusakan hutan di Indonesia adalah sekitar 3.800.000 hektar per tahun. Diperkirakan, setiap harinya ada beribu-ribu buldoser yang beroperasi secara ilegal, padahal satu buldoser bisa menghabiskan 30 pohon besar.  Belum lagi pembalakan pohon-pohon secara ilegal dengan menggunakan gergaji chain-saw.
Hal itulah yang barangkali membuat WARSI—sebagai LSM lokal yang berkedudukan di Jambi—merasa ikut bertanggung jawab untuk mengkonservasi hutan di Taman Nasional Bukit Duabelas yang semakin lama semakin gundul.  Salah satu caranya dengan mengampanyekan habitat Orang Rimba yang terancam, dengan mengundang para wartawan media cetak dan televisi untuk meliput aktivitas keseharian Orang Rimba dan keadaan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas. Sayangnya, liputan tersebut didramatisasi sedemikian rupa, sehingga merupakan artifisial belaka. Orang Rimba dan Butet Manurung dipaksa untuk melakonkan adegan-adegan bahkan dialog-dialog yang telah diskenariokan wartawan dengan pihak WARSI, tanpa meminta persetujuan atau pendapat Orang Rimba dan fasilitator pendidikan terlebih dahulu. Kali lain, WARSI membawa sejumlah Orang Rimba  ke sana ke mari menemui pihak-pihak yang dianggap mampu memberi pengaruh untuk mendukung kebijakan atas Bukit Duabelas. Kendati demikian, dalam pertemuan-pertemuan tersebut, Orang Rimba seakan-akan hanya menjadi pajangan saja, karena tidak diberi kesempatan guna mengutarakan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri.
Di sisi lain, dalam keadaan permukian Orang Rimba yang semakin memprihatinkan, Orang Terang menawarkan konsep hidup di luar hutan dengan agama baru dan nafkah dari hasil kebun kelapa sawit kepada Orang Rimba. Tentu saja perkebunan kelapa sawit tersebut akan menggunakan lahan milik Orang Rimba itu sendiri.
Berkat bujukan tersebut, semakin banyak saja Orang Rimba yang dengan rela hati menjual ladang-ladang mereka kepada Orang Terang. Hasilnya penjualan tersebut mereka gunakan untuk membeli sepedamotor, yang ternyata dibeli hanya untuk dielus dan dipandangi saja, karena mereka tidak bisa mengendarainya. Orang Rimba tidak sadar bahwa sebenarnya mereka hanya menjadi obyek, baik obyek penelitian atau obyek bagi kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik.

Pendidikan bagi Orang Rimba
Pendidikan menjadi solusi utama untuk memperoleh keterampilan guna menghadapi realitas sosial dan perubahan zaman. Dengan adanya pendidikan, Orang Rimba akan bisa memberdayakan dirinya sendiri. Mereka akan mampu mewakili diri serta menyuarakan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri, tanpa perlu bantuan pihak lain di luar mereka sebagai perantara. Dengan pendidikan pula, Orang Rimba akan dapat memosisikan dirinya di tengah persoalan yang menderanya, serta bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang, sehingga mereka tidak akan mengalami penipuan oleh pihak luar.

KESIMPULAN
Pendidikan adalah solusi utama untuk memberdayakan Orang Rimba. Tentu saja pendidikan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, adat-istiadat, keadaan masyarakat, dan kondisi lingkungan tempat tinggal Orang Rimba. Mengenai konservasi hutan, Orang Rimba merupakan bagian tidak terpisahan dari hutan itu sendiri. Dengan pendidikan, Orang Rimba akan bisa menjadi subyek bagi konservasi hutan, karena merekalah yang lebih tahu keadaan dan kebutuhan hutan yang sesungguhnya daripada orang di luar hutan.
Juga dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Orang Rimba tentu berlainan dengan kebudayaan Orang Terang, sebagimana kebudayaan antardaerah di Indonesia yang juga berlainan. Perbedaan tersebut tidak perlu diseragamkan, karena justru akan membunuh kemajemukan budaya nasional Indonesia. Kebudayaan Orang Terang sebaiknya bukan menjadi teladan, tapi menjadi perbandingan. Kebudayaan Orang Rimba sudah bagus begitu untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Kalau pun ada kekeliruan atau kekurangan dalam Orang Rimba, sepatutnya Orang Terang tidak menjadikannya sebagai sasaran cemoohan apalagi penipuan, melainkan perlu melakukan pendekatan persuasif agar kehidupan Orang Rimba semakin berkembang ke arah yang lebih baik.

Judul   :  Sokola Rimba
Penulis:  Butet Manurung
Editor:  Dodi Yuniar
Penerbit:  INSIST Press, Yogyakarta
Ukuran:  15×21 cm
Tebal:  xvi+252 halaman
ISBN:  979-3457-83-X
Harga:  Rp 38.000,00

*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tulisan-tulisannya dimuat di Annida, Suara Muhammadiyah, Radar Banyumas, Nikah, Fatawa, dll. E-mail totokutomo@ymail.com. Telepon (0281) 5730489.

Arak, Alkitab Terjemahan, Taoisme, Socrates, dan Lain-lain

Gerundelan John Kuan

 Buddhisme pantang arak, Taoisme tidak.     Taoisme bukan saja tidak pantang arak, bahkan seperti ada semacam ungkapan: Arak merawat hidup. Perkara ini terlalu rumit, sulit dibela.
     Namun di dalam Kitab Puisi ( Shijing ) ada sebuah puisi [ Bulan Tujuh ] dengan bait-bait begini:

bulan sepuluh panen padi
demikian kita buat arak musim semi
agar umur panjang alis melambai

Menurut Zheng Xuan ( 127 – 200 ), penafsir kitab kuno dari Dinasti Han yang sangat berpengaruh ini, menggunakan padi menyuling arak adalah tindakan benar, [ sebagai alat untuk membantu merawat usia ], Zhu Xi ( 1130 – 1200 ), filsuf terkenal dan juga penafsir kitab kuno dari Dinasti Song memberikan anotasi yang kurang lebih serupa. Pokoknya ada mengabarkan berita-berita merawat hidup, terutama diperlukan ketika merawat orang berumur. Tao Yuanming ( 365 – 427 ), sering juga dipanggil Tao Qian, penyair kita yang doyan arak ini memberi peringatan dalam puisinya, minum arak belum tentu bisa merawat hidup: bukan alat panjang umur! Katanya. Tetapi ada teks lain menulis: bukanlah alat pendek umur! Teks-teks simpang siur ini membuat maksudnya tidak jelas, tapi kalau menunjukkan tidak baik buat tubuh pasti tidak salah. Perkara ini makin rumit, sulit ada kesimpulan adil.
     Saya pernah membaca sebuah syair yang bercerita tentang perbedaan pandangan Buddhisme dan Taoisme terhadap arak, dan sebagainya dan seterusnya, ditutup dengan dua baris ini:

Minum arak belajar dewa,
pantang arak belajar Buddha.

Sikap ini memang sedap dan nyaman, namun baik dewa ataupun Buddha, itu hanya alasan saja, jadi boleh dikatakan sudah sejajar dengan permintaan Guru: sesuka hati tanpa harus melampaui norma. Silakan buka Lunyu: Bab II pasal 4

*
     Ada juga biksu yang ingin mencicipi arak dan daging, tentu sangat tidak patut, maka arak disebut [ sup prajna ], ikan disebut [ bunga rajutan air ], dan ayam disebut [ sayur penyusup pagar ]
     Su Shi ( 1037 – 1101 ), penyair Dinasti Song yang jujur, romantis, tapi sengsara ini terpaksa kritik:
” Membohongi diri sendiri, hanya menjadi bahan tawa dunia. ”
     Kemudian menambahkan: ” Ada juga orang demi kebohongan memainkan pena dengan nama-nama indah, apa bedanya dengan ini? ”
     Saya juga pernah diajak mencicipi berbagai macam daging olahan gluten di restoran vegetarian, tapi sering saya tolak, tidak sedap sambil makan terkenang-kenang Su Shi. Urusan ini sampai di sini saja, terlalu sensitif, tidak baik dilanjutkan.

*
     Ketika Torres berumur dua tahun, anak Spanyol ini dipastikan sebagai reinkarnasi Lama Thubten Yeshe, kemudian dikukuhkan sebagai pemimpin biara, itu adalah kejadian tahun 1987, dan ini sudah pernah saya tulis.
     Anak lelaki ini lahir di Granada, Andalusia, dunia tua agama Katolik. Namun, dia ternyata adalah reinkarnasi Lama Yeshe, kemudian menetap di Nepal, terkesima dan antusias ini juga pernah saya ceritakan.
     Beberapa tahun kemudian, saya pernah membaca berita Lama cilik kita ini menerima undangan Taipei. Kalau tidak salah waktu itu dia baru enam tahun. Para tukang gossip berbodong-bondong pergi bertamu, tentu membawa hadiah. Menurut desas-desus hadiah yang paling disukai Lama cilik kita yang berumur enam tahun ini, masih juga segala macam mainan, samasekali tidak berbeda dengan anak-anak lelaki umur enam tahun umumnya.
     Ini adalah satu hal yang hangat dan menyentuh hati, di dalam dunia nyata kita.
     Dia pernah menunjuk dan memastikan satu per satu benda-benda kudus dari hidup lalunya yang belum selesai, mahkota, tongkat, japa malas, jubah, dan sebagainya. Mungkin itu cara ajaibnya menunjukkan dirinya adalah Lama reinkarnasi, bisa dipahami. Sekarang dia menyukai mainan-mainan plastik, warna-warni pesawat terbang, mobil, dinosaurus, dan makhluk-makhluk aneh lain, terutama Ninja Turtle ( Waktu itu Transformers belum kesohor, Ben-Ten dan kawan-kawan Jepang yang lain juga belum ) yang disukai setiap anak lelaki. Ini juga sepenuhnya bisa dipahami. Selain sebagai reinkarnasi Lama, Torres tetap adalah seorang anak lelaki sehat berumur enam tahun dari Granada.

*
     Di dalam Perjanjian Baru tidak banyak menemui kisah tentang masa kanak-kanak Yesus. [ Injil Matius ] setelah menceritakan tanda-tanda kudus kelahirannya, selanjutnya adalah Yohanes Pembaptis tampil, berkotbah di padang gurun Yudea, katanya: ” Kerajaan Allah sudah dekat, bertobalah kalian. ” Kemudian adalah Yesus dibaptis di Sungai Yordan. [ Injil Matius ] dimulai dengan Yesus dibaptis, jadi sudah dewasa: Begitu keluar dari air, seketika melihat langit retak terbuka, Roh Kudus bagai merpati, turun di atas tubuhnya, lalu ada suara datang dari Langit berkata, kaulah anakKu yang Kukasihi, Aku berkenan padamu. Selanjutnya adalah percobaan empat puluh hari itu.
     Narasi [ Injil Yohanes ] kian padat dan ringkas. Dan salah satu bagian yang menceritakan percakapan Yesus dengan ibunya, adalah untuk mengubah air di dalam tempayan batu menjadi anggur, dan ini adalah mujizat pertama yang ditunjukkan Yesus. Saat itu Yesus telah memiliki pengikut, jadi juga sudah dewasa. Awalnya ibu Yesus berkata kepadanya: ” Mereka kehabisan anggur. ” Ternyata Yesus menjawabnya: ” Ibu, aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu? Waktuku masih belum tiba. ”
     Yesus ketika berumur dua belas tahun sudah mengucapkan kata-kata luar biasa, kisah ini dapat ditemui di dalam [ Injil Lukas ]. Paskah tahun itu, orang tuanya seperti biasa berangkat ke Yerusalem merayakan. Sehabis hari raya, di dalam perjalanan pulang ke Nazaret, mereka sangka Yesus ada di dalam rombongan mereka. Setelah berjalan satu hari, baru menyadari dia tidak ada, buru-buru kembali ke Yerusalem mencarinya. Lewat tiga hari, akhirnya menemukan dia duduk di dalam bait Tuhan bertanya jawab dengan guru-guru. Ibunya berkata: ” Anakku, mengapa engkau berbuat demikian kepada kami? Lihat, ayahmu dan aku begini cemas datang mencarimu! ”
     Yesus yang dua belas tahun berkata: ” Mengapa engkau mencari aku? Tidakkah engkau tahu aku harus selalu dalam urusan Bapa-ku? ”

*
    Maksud Yesus mengenai [ selalu dalam urusan Bapa-ku ], adalah [ bertanggung jawab terhadap Tuhan ]
    Begini sadar diri dan serius, luar biasa, beberapa kata ini dengan [ aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu ] di kemudian hari saling menyahut, membuat orang tercengang dan salah tingkah, tentu ketakutan, dan murung. Ketika Yesus masih di dalam gendongan, ibunya membawa dia keluar, bertemu Simeon; orang yang benar dan saleh itu. Simeon sudah tahu dia adalah Kristus, mengucapkan banyak kata-kata pujian, terakhir berkata kepada ibunya: ” Hatimu juga akan ditusuk tembus sebilah pisau. ”
     Namun, [ Injil Lukas ] dengan jelas menulis, Yesus sejak pulang dari Yerusalem, patuh kepada orang tuanya. Namun, hati yang ditusuk tembus sebilah pisau, adalah sakit tak terperikan seorang ibu yang harus mengalami anaknya menderita, menembus dosa, berdarah, mengorbankan diri.

*
     [ Ibu, aku apa pula sangkut-pautnya dengan kamu? Waktuku masih belum tiba ], Bagian ini saya terjemahkan langsung dari Alkitab Bahasa Mandarin terbitan awal abad ke-20, kemungkinan adalah terjemahan dari Versi King James, ternyata agak berbeda dengan New American Standard. Versi Bahasa Inggeris terbaru ini seandainya saya yang menerjemahkan, akan begini: ” Kamu jangan beritahu apa yang mesti aku lakukan. Waktuku masih belum tiba. ] Artinya, Yesus masih dalam masa persiapan, sesaat itu masih belum ingin menunjukkan dia mampu menciptakan mukjizat. Namun, beberapa waktu kemudian dia terpaksa juga menunjukkan, maka air pun menjadi anggur, itulah mukjizat pertama yang dia tunjukkan.

     Yesus patuh pada orang tuanya.

     Versi Bahasa Inggeris menggunakan kata sifat obedient, buat menegaskan ketika menghilang dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Nazaret, serta kata-kata yang dilontarkan kepada ibunya di bait Tuhan memang sedikit tidak patut, setelah pulang bersama, sekarang dia sudah baik, sudah patuh pada orang tuanya.

*
     Perjanjian Baru dalam terjemahan Bahasa Mandarin menggunakan kata ini: 顺从 ( baca: shùn cóng; artinya patuh ), tidak menggunakan kata: 孝顺 ( baca: xiào shùn; mungkin saya boleh artikan: berbakti ), saya rasa para penerjemah pasti tidak begitu suka dengan kata 孝 ( berbakti ) ini, konsep ini, tradisi besar ini. Dan memang, ‘ berbakti ‘ adalah ide dasar dan implementasi dalam ajaran Ru ( Konghucuisme ), sangkut-pautnya sangat luas dan dalam, setiap sudut bersenggolan dengan agama Kristen ( misalnya penyembahan leluhur ), seandainya bisa menghindari kata ini, lebih baik dihindari saja. Para penerjemah Perjanjian Baru pasti sangat jelas dan bijak.

*
     Para penerjemah awal itu bukan saja bijak, tetapi juga sangat menguasai pengetahuan Cina Klasik, kadang-kadang bahkan sangat berkesan dan dalam.
     [ Injil Yohanes ] dalam Versi King James begitu mulai sudah berkata, pada mulanya adalah Logos; Logos ini bersama-sama dengan Tuhan, dan Logos itulah Tuhan. Pada mulanya Tuhan dan Logos adalah bersama-sama. Kemudian melanjutkan, Tuhan melalui Logos menciptakan segala benda.
     Logos di dalam puisi maupun prosa Yunani Kuno, seperti karangan Homer, Thucydides, Pindar, Plato dan sebagainya, artinya tidak keluar dari [ kata ], [ bahasa ], [ ungkapan ], [ gagasan ], [ janji ], [ percakapan ], [ kisah ], [ sejarah ], lalu berkembang menjadi [ pikiran ], [ sebab-musabab ], dan [ penalaran ] sejenis pandangan-pandangan yang sangat abstrak.
     [ Injil Yohanes ] berkata Logos pada mulanya sudah ada. Tetapi dalam terjemahan Bahasa Inggeris Versi King James tidak tahu bagaimana memanggilnya, sebab dia bukan cuma [ kata ], juga bukan cuma [ gagasan ], sebaliknya dia seperti mengandung makna yang pertama dan memiliki berbagai penjabaran yang kedua. Oleh sebab itu Versi King James kewalahan, lebih baik tidak usah diterjemahkan saja, langsung disebut Logos. Di dalam versi New American Standard yang lebih mengarah ke bahasa sehari-hari, lalu mengubah kata Yunani itu menjadi Word, dengan begitu hanya dapat menangkap makna [ kata ], sekalipun dengan huruf kapital, dan membawa sedikit aroma misterius.
     Berbagai macam semangat melakukan percobaan ini perlu didukung, namun hasilnya seperti kurang memadai. Terus terang, kalau dibandingkan dengan versi terjemahan Bahasa Mandarin, masih kalah. Coba lihat pembukaan [ Injil Yohanes ]: Pada mulanya adalah Tao; Tao ada bersama-sama Tuhan, Tao itulah Tuhan. Tao ini pada mulanya bersama-sama Tuhan, segala benda melalui dia diciptakan…

*
     Entah dapat ilham dari mana, begitu saja sudah bisa memancing masuk kata [ Tao ], sempurna, semua kegalauan dalam terjemahan Bahasa Inggeris langsung terurai. Bukan demikian saja, bahkan bisa menghubungkan ajaran agama Kristen dengan intisari budaya Cina pra-Qin, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, ujung pangkal semuanya Tao, dan bukan hanya umat-umat biasa yang memuji, saya duga cendekia-cendekia tradisional juga ikut terpukau, siapa tahu.

*
     Lao Zi: ” Ada sesuatu berbaur jadi, sebelum Langit dan Bumi lahir…… Aku tidak tahu namanya, kusebut saja Tao. ” Kemudian: ” Tao melahirkan satu, satu melahirkan dua, dua melahirkan tiga, tiga melahirkan segala benda.
     Ini dengan [ Tao itulah Tuhan. Tao ini pada mulanya bersama-sama Tuhan, segala benda melalui dia diciptakan ] walau ada perbedaan tingkatan, namun sepintas akan membuat orang sangka membicarakan hal yang sama. [ Injil Yohanes ] memang berbeda dengan penulis Injil yang lain, gigih menyatakan Yesus adalah Logos Tuhan, menjelaskan Yesus adalah anak Tuhan, sebagai juru selamat, Tuhan melalui dia memberi orang hidup kekal, dan sebagainya dan sebagainya. Konsep ini ( bagi orang-orang terpelajar dalam tradisi Konghucuisme ) adalah tidak masuk akal, sebab di dalam ajaran Ru tidak ada jurusan ini. Namun, Dao De Jing pasal 4 ternyata juga blak-blakan: [ Tao adalah hampa, dan bila digunakan, hindari penuh. Begitu dalam! Bagai muasal segala benda./ Tumpulkan ketajaman, uraikan kekusutan, seimbangkan terang, berbaur ke dalam debu./ Begitu bening! Tao seakan terus ada, aku tidak tahu dia anak siapa, seakan tampil sebelum raja Langit. ]
     Seperti pernah mengenalnya?
     Bisa jadi banyak orang-orang terpelajar tradisional menyangka ini adalah itu, sama-sama ——— Guru berkata: Pagi mendengar Tao, malam sudah boleh mati! Silakan buka Lun Yu Bab IV pasal 8.

*
     Menerjemahkan Logos yang berasal dari Yunani menjadi Tao, kemudian ditambah dengan berbagai penjelasan, tentu sangat bijak dan cerdas, juga tampak maksud di baliknya.
     Namun, mesti juga tahu [ Tao yang bisa diucap, sudah bukan lagi Tao]

*
    Saya masih terus melacak perihal anak Spanyol yang Lama reinkarnasi itu, sudah bertahun-tahun tapi belum luntur, salah satu sebab adalah saya suka semacam transcendental mysticism yang dibawanya.
    Menurut sebuah berita yang saya baca ketika dia berkunjung ke Taiwan, adalah untuk mengumpulkan sumbangan buat mendirikan patung besar Buddha Maitreya di India.
    Patung besar Buddha Maitreya? Tidak tahu seberapa besar. Saya juga sering bertemu dengan patung-patung Buddha yang sangat besar. Selalu merasa patung tidak usah terlalu besar; besar belum tentu indah. Saya pernah melihat sebuah patung kecil Buddha Maitreya di luar Kuil Lingyin ( 灵隐寺 ) di Hangzhou, indah sekali.
    Karya seni di luar seni patung religi juga demikian, besar belum tentu indah.
    Walau patung perunggu di sudut-sudut kota Paris tak terhitung, tetapi patung Jeanne d’Arc yang tidak seberapa besar tetap sangat mengesankan sekalipun berada di antara gedung-gedung megah. Dia dengan baju perang di atas kuda, memancarkan semacam kharisma, ini adalah keindahan ekstrim yang lain.

*
    Venus de Milo.
    Saya rasa yang belajar seni lukis pasti pernah melukisnya. Rupa Venus tidak seragam, yang ini ditemukan pada tahun 1820 di Milos, sekarang disimpan di Museum Louvre. Patung ini tidak terlalu besar, sempurna di dalam keindahan yang cacat, dewi cinta ini mungkin jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan.
    Di Museum Louvre juga ada patung Socrates setengah badan, dan Apollo, dan Athena, kalau tidak salah. Apollo, dewa matahari ini tidak berbeda dengan umumnya patung Yunani, telanjang bulat; Athena lilit sehelai kain panjang yang tipis, kerutannya sangat alamiah, kaki memakai sandal. Athena disebut sebagai dewi pelindung kota Athena, tetapi lebih sering sebagai dewi pelindung semua kota di Yunani.

*
    Athena.
    Athena di dalam mitologi Yunani sangat tidak lazim.
    Dewa utama Olimpus, Zeus selalu takut isterinya Metis akan melahirkan seorang anak yang lebih kuat dari dia, suatu hari setelah bersetubuh, dia menelan isterinya utuh-utuh ke dalam perut, walaupun katanya telah dijelma jadi serangga. Tidak tahu lewat berapa lama, Zeus sakit kepala, memerintah Hephaestus ( ada yang bilang Prometheus ) dengan kapak membelahnya, dari batok kepala yang terbuka, keluar seorang bayi perempuan, yaitu Athena
     Athena selain sebagai dewi pelindung kota, juga sebagai dewi seni dan kerajinan ( terutama tenun dan anyaman ), dan dewi pencipta suling. Dia bermata biru, dingin jelita, selalu dalam pakaian perang, pegang tombak dan perisai. Ini adalah rupa yang sering ditemui. Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat Athena yang tampak samping di dalam sebuah buku, dari tembaga tua, penuh ditutupi bercak, namun sangat indah, membuat orang tidak berani terus menatap.

*
     Apollo tentu adalah dewa matahari, juga merangkap pengobatan, musik, seni panah. Kadang-kadang dia juga sebagai dewa pelindung ternak dan pertanian. Apollo adalah lambang tertinggi kebenaran dan moral, melindungi kebaikan, mengusir kejahatan, menetap di Delfi sebagai Orakel.
     Ketika Socrates dituduh merusak generasi muda Athena, tetap tampil sendiri di pengadilan membela diri. Dia berkata: ” Saya bisa terkenal, tidak lebih karena saya bijaksana melampaui orang. ” Riuh rendah seketika di dalam luar pengadilan.
     ” Kebiijaksanaan yang seperti apa? Hanyalah kebijaksanaan manusia biasa! ” Socrates melanjutkan: ” Saya mungkin saja memiliki kebijaksanaan yang begini, tetapi yang dimiliki oleh orang-orang yang tadi saya sebut itu bisa jadi adalah kebijaksanaan manusia luar biasa, siapa tahu; kebijaksanaan begitu saya tentu tidak punya. Mengatakan saya memiliki kebijaksanaan manusia luar biasa adalah tidak benar, berarti sedang menghancurkan karakter saya. Harap tenang, saudara-saudara, sekalipun kalian  sangka saya sedang berbual. Berikutnya saya akan menceritakan suatu hal tapi bukan pengalaman sendiri, sebenarnya sumbernya sangat bisa dipercaya. Saya ingin meminjam nama dewa Delfi untuk menunjukkan kebijaksanaanku, yang masih ada, atau semacamnya. Kalian pasti sudah tahu Chaerephon, dia adalah kawan saya sejak kecil, juga adalah kawan kalian yang bersama-sama pulang dari pembuangan, bukankah begitu? Wataknya kalian pasti sangat jelas, segala hal tanpa tedeng aling-aling. Suatu kali dia pergi ke Delfi dan berusaha bertanya kepada Orakel ——— harap tenang, mohon jangan ribut, saudara-saudara ——— dia bertanya pada Apollo, apakah ada orang yang lebih bijak dari saya, Orakel berkata memang tidak ada orang lebih bijak daripada Socrates. Sayang Chaerephon sudah mati, saudaranya ada di pengadilan ini dan bisa menjadi saksi ”
    Demikianlah hubungan Socrates dan Apollo. Percakapan di atas dikutip dari catatan Plato.

*
    Ketika Socrates maju ke depan pengadilan membela diri usianya sudah tujuh puluh tahun, yaitu 399 Sebelum Masehi
    Dewan juri pengadilan kali itu sangat ramai, mencapai 501 orang. Di antara mereka selain orang-orang Athena yang mengadukan Socrates, juga ada sahabat-sabahat dan murid-muridnya yang mendukung. Musuh-musuh Socrates biasanya disebut kaum sofis. Hari itu Plato dan Xenophon termasuk sahabat-sahabat dan murid-muridnya yang ikut duduk di dewan juri.
     Seusai perkara, Plato berdasarkan pendengaran sendiri menulis [ Apologia ]

*
    Hubungan Xenophon dan Socrates ——— dan Apollo.
    Xenophon yang ingin ikut Cyrus berperang ke Persia, bertanya kepada Socrates. Socrates tahu Cyrus berhubungan baik dengan Sparta, jika menganjurkan muridnya ikut berperang, pasti akan disalahkan orang-orang Athena, dia lalu menyuruh Xenophon berangkat ke Delfi meminta petunjuk Apollo. Xenophon yang sudah kukuh pendirian, bertanya kepada Apollo: ” Aku mesti berdoa dan melakukan persembahan kepada dewa yang mana, agar bisa dengan terhormat pergi perang, dan selamat pulang? ”
     Apollo berkata: ” Berdoa dan lakukan persembahan kepada dewa yang bersangkutan sudah cukup ”
     Xenophon beritahu Socrates perihal tanya jawab dengan Apollo ini, Socrates memarahi dia kenapa tidak bertanya perjalanan ini berbahaya atau tidak, malah membuat keputusan sendiri,  bertekad ingin pergi. ” Baiklah! ” Kata Socrates: ” Sebab kamu sudah bertanya demikian, maka ikutilah petunjuk dewa! ”

*
     Xenophon berangkat berperang ke Persia di tahun 401 Sebelum Masehi. Pangeran Persia Cyrus mengerahkan sepuluh ribu prajurit Yunani yang terutama terdiri dari orang Sparta, menerjang ke timur, tujuannya adalah untuk merebut tahta dari saudaranya. Pasukan ini langsung menusuk masuk, mereka menyeberangi Sungai Eufrat tiba di Babylon, tanpa rintangan berarti. Namun dalam Pertempuran Cunaxa hancur tercerai-berai. Cyrus mati dalam perang, prajurit-prajurit Yunani berputar ke arah utara, bergerak mundur menyusuri Sungai Tigris, makin dalam terjerumus di sekitar Laut Hitam, membelakangi air bergerak ke barat, terus terbirit-birit masuk Byzantium, terakhir baru perlahan bergerak balik ke Yunani. Perjalanan ini disebut sebagai salah satu long march terpanjang dalam sejarah manusia. Xenophon di masa tua menyelami hati menulis [ Anabasis ] merekam peristiwa ini.
     Menurut catatan, Xenophon kembali ke Athena adalah tahun 399 Sebelum Masehi, itu adalah tahun Socrates dituduh, membela diri di pengadilan, mati dihukum minum racun.
     Tidak lama setelah Socrates mati, Xenophon juga dibuang, dosanya adalah ikut dalam perang Cyrus ke Persia dan bekerja sama dengan orang Spartan. Kalau begitu, maka yang dirisaukan Socrates sebelumnya bukan samasekali tanpa alasan.

*
     Xenophon muda sangat cerdas, tetapi bukan termasuk paling menonjol
     Suatu hari Socrates gandeng tongkat berputar-putar di jalanan Athena, bertemu dengan Xenophon di lorong sempit, dia lalu rintang tongkat menghalangi Xenophon, sambil tersenyum bertanya: ” Kemana bisa cicip arak, kemana bisa beli sandal ” dan berbagai macam pertanyaan, anak muda agak malu, tetapi jawabannya mengalir lancar. Socrates lalu memutar pertanyaannya, kemana bisa menciptakan manusia yang indah dan bijak. Xenophon tidak bisa menjawab.
     Socrates berkata: ” Ikuti aku, kuajari! ”

Tembakan Lelaki Borneo

Tembakan Lelaki Borneo[1]

 Cerpen Anton Trianto

gambar diunduh dari situsaja.blogspot.com

Bunyi tembakan dan suara barang yang pecah terdengar nyaris bersamaan. Menggetarkan udara dan terasa membekas di gendang telinga. Menyusul di belakangnya suara berat seorang lelaki yang memaki-maki.

“Riwuuuut! Tempayanku, Riwuuut! Sontoloyo! Asu!”

Menyusul lagi di belakangnya suara banyak orang terkekeh-kekeh menggenapi parade suara gaduh di tempat itu. Sebuah tempat yang merupakan sebidang halaman belakang sebuah rumah. Tempat yang dipenuhi oleh banyak lelaki yang sedang menggendong bedil di tangannya.

Di tempat itu berdiri seorang pemuda, tubuh kecil berkulit hitam. Pemuda yang barusan saja menembak, dimaki dan ditertawakan. Namanya Riwut. Semua orang di sana menggeleng-geleng kepala atas apa yang sudah diusahakannya. Riwut pun juga terpaksa geleng-geleng kepala atas kegagalan-kegagalannya.

Mata Riwut menatap sebuah botol kosong bekas minuman keras buatan Belanda yang diletakkan di atas tumpukan karung berisi pasir. Botol kosong itu adalah sasaran latihan tembaknya sore ini. Botol kosong yang diletakkan sembilan hasta di depan ujung laras bedilnya itu, benar-benar membuat hatinya sangat jengkel.

Tujuh kali sudah peluru meletus dari moncong senapan Riwut. Namun tetap saja sasaran tembak itu bergeming di tempatnya semula. Tak bergerak barang secuil jarak pun. Peluru Riwut malah nyasar menghantam sebuah tempayan air milik majikannya yang terbuat dari tembikar. Bagian tengah tempayan itu rengkah isinya muncrat berhamburan.

Bukan hanya tempayan air yang jadi korban keganasan senapan Riwut. Sebelumnya, dahan pohon randu di belakang sasaran tembak juga berlubang ditembus peluru. Beberapa karung pasir di kiri kanan sasaran bernasib sama, bocor dicium timah panas. Sementara tiga buah peluru melesat menyapa awan, hilang entah kemana. Tak satu pun tembakan Riwut kena sasaran.

Riwut membidik lagi. Ia kembali mengatur posisi badannya. Kuda-kuda kakinya dikuat-kuatkan. Suara kokang senapan terdengar. Riwut mulai memicingkan sebelah matanya lalu menahan nafas.

“Sudah, sudah! Cukup! Kita hemat peluru!” seorang lelaki berbadan tinggi gempal mencegah dan memberikan isyarat tangan kepada Riwut agar tidak menembak lagi.

“Kau belum bisa menembak juga,” katanya pada Riwut dengan kerut di dahinya. Yang ditanya cuma bisa menjawab dengan cara memamerkan senyuman hambar dan seringai kosong.

Lelaki tinggi gempal itu melepas hembus nafas pelan, prihatin dengan kegagalan Riwut menembak. Lelaki itu adalah Cak Hasan. Dahulu Cak Hasan adalah seorang chudanco[2] PETA[3], kini ia jadi anggota BKR[4]. Cak Hasan diminta oleh Ki Kusno, untuk melatih laskar rakyat bentukannya agar bisa menggunakan berbagai senjata api hasil rampasan dari gudang senjata milik Jepang. Ki Kusno sendiri adalah majikan Riwut, orang yang memaki karena tempayan airnya pecah ditembak Riwut. Ia terkenal sebagai salah seorang jawara silat ternama di Surabaya.

“Riwut, latihan yang becus! Masa sampai hari ini kau belum juga bisa menembak!” bentak Ki Kusno dengan air muka yang geram.

Lagi-lagi Riwut hanya bisa memamerkan senyuman hambar dan seringai kosong sebagai sahutan untuk Ki Kusno. Riwut tak berani berlama-lama menatap sorot mata majikannya yang sedang kesal. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah Cak Hasan. Cak Hasan terlihat sedang memberi tanda kepada semua orang di tempat itu untuk berkumpul lebih dekat.

“Dengar semua! Kabar yang kami dapat, pasukan Sekutu yang diwakili Inggris segera akan berlabuh di Surabaya, mungkin dua tiga hari lagi. Dan seperti yang telah kita tahu, desas-desus berkembang bahwa akan ada Belanda membonceng di dalamnya. Mereka hendak kembali mengangkangi kemerdekaan kita.”

Lantang suara Cak Hasan membuat suara lain jadi bungkam. Cak Hasan memang penuh kharisma. Air mukanya yang selalu tenang dan nada bicaranya yang datar dan tegas bagai menyihir siapa saja untuk hormat dan segan padanya. Tidak terkecuali Ki Kusno yang terkenal sebagai seorang jagoan.

“Kita tidak punya banyak waktu untuk terus latihan senjata. Kita harus segera bersiap, bersiaga. Seluruh laskar rakyat diharapkan terus bekerja-sama membantu BKR.”

Cak Hasan berhenti sejenak. Bola matanya bergerak menyapu seluruh wajah lelaki yang ada di sana, lalu berhenti pada wajah Riwut. Ditatap lama oleh Cak Hasan, Riwut membuang pandangnya ke tanah.

“Bagi yang sudah mempunyai senjata, pergunakan amunisimu dengan bijaksana. Yang belum bisa menembak, usahakan segera bisa, silahkan latihan sendiri. Tapi ingat, hemat pelurumu! Mulai sekarang semuanya harus siaga, pantau setiap perkembangan dan kabar yang datang. Jalin terus komunikasi dengan BKR. Kita tahu Belanda tidak akan main-main untuk mengembalikan kekuasaannya. Paham semua?”

Semua kepala lelaki di hadapan Cak Hasan bergerak mengangguk tanda mengerti.

“Baik. Cukup sampai hari ini latihan kita.”

“Merdeka!”

“Merdeka!”

Semua orang pun bubar. Cak Hasan berpamitan kepada Ki Kusno lalu bergerak kembali ke markas BKR. Sementara Ki Kusno bergegas menghampiri Riwut.

“Riwut! Kemari!”

Riwut tergopoh menemui Ki Kusno. Dilihatnya sorot mata Ki Kusno belum juga berubah sedari tadi. Sorot mata kesal yang hendak menerkam wajahnya.

“Riwut, bagaimana kamu ini? Kamu serius tidak selama latihan? Sampai hari ini kau belum juga bisa menembak?”

Riwut cuma diam, matanya ke tanah.

“Musuh kita adalah Belanda, Wut! Mereka pakai bedil, meriam, dan senjata api lainnya. Kamu kira bisa menghadapi mereka hanya dengan parang, pedang dan jurus-jurus silatmu saja, hah?!”

Riwut masih diam, matanya melirik wajah Ki Kusno sejenak lalu kembali ke tanah.

“Aku tahu, kita semua belum ada yang mahir menembak. Tapi paling tidak kami bisa membidik sasaran lumayan lebih baik ketimbang kau. Tapi kau, benar-benar payah!”

Riwut tetap diam, ia merasa seperti terbenam pelan-pelan ke dalam lumpur hisap, tak kuasa membela diri. Ki Kusno diam sejenak, diamatinya raut wajah Riwut lekat-lekat. Tak tega juga akhirnya Ki Kusno melihat kesan wajah menyerah tak berdaya yang diperagakan oleh Riwut. Ki Kusno pun mengendurkan urat lehernya.

“Kau bisa jadi seorang yang amat berguna bagi perjuangan ini. Badanmu lincah, gerakmu cepat, bayangkan jika kau mampu menembak dengan baik.”

“Tak tahu aku, Ki. Sudah aku coba. Tapi tetap tak bisa,” akhirnya Riwut bersuara.

“Latihan yang becus, Riwut. Akan sangat berbahaya jika kau menembak dengan caramu itu lalu bergabung dengan laskar di garis depan perjuangan.”

Riwut mengangguk pelan. Ki Kusno kemudian pergi meninggalkan rumah sekaligus padepokan silat juga markas laskar rakyat buatannya itu. Seperti biasa, setiap senja mulai menguning, Ki Kusno harus sudah berada di sekitar gudang beras milik Koh Ah Guan. Di sana ia bertugas sebagai mandor yang mengawasi para pekerja membereskan karung-karung beras sebelum pintu gudang dikunci. Kali ini ia tak mengajak Riwut membantunya mengawasi gudang Koh Ah Guan. Riwut diperintahkan untuk menjaga markas.

Ki Kusno memang seorang centeng. Dahulu meneer-meneer[5] Belanda, para indo dan priyayi kaya sering menyewa jasa Ki Kusno. Namun sejak kedatangan Jepang, ia kini hanya melayani permintaan tauke-tauke Cina saja. Jawara silat itu sering dibayar untuk bekerja sebagai mandor perkebunan, penjaga gudang, tukang pukul, bahkan pengawal pribadi.

Menjadi centeng sewaan tentu perlu merekrut beberapa orang anak buah. Lima tahun sudah Riwut direkrut jadi anak buah Ki Kusno. Awalnya Ki Kusno bertemu Riwut di Pelabuhan Ujung. Kala itu Ki Kusno sedang disewa untuk membantu mengawasi keamanan proses bongkar muat barang kapal yang baru datang dari Rotterdam.

Sedikit terkejut Ki Kusno saat melihat ada seorang kuli baru bekerja di sana. Kemampuan kuli itu menyelesaikan pekerjaannya memukau Ki Kusno. Kuli itu mampu bergerak sangat lincah dan cepat walau sedang memanggul beban berat di pundaknya. Ia mampu menyelesaikan pekerjaannya dua kali lebih cepat dari kuli lainnya.

Dia-lah Riwut, si kuli baru itu. Seorang pemuda asal Borneo. Kuli itu tak mengerti bahasa Jawa, tapi bisa sedikit Melayu. Namun masalah bahasa tak jadi soal buat Ki Kusno, tampaknya ia sudah kepincut dengan kemampuan fisik Riwut. Akhirnya Ki Kusno menemui Riwut dan menawarkan pekerjaan sebagai anak buahnya dengan upah yang jauh lebih tinggi daripada upah kuli. Riwut pun menerima tawaran itu.

Tak butuh waktu lama, Riwut pun menjadi orang kepercayaan terdekat Ki Kusno. Selama ini tak ada satu pun tugas yang Riwut lalaikan. Semua perintah tuntas ia laksanakan. Kecuali satu perintah yang masih tersisa sekarang, belajar menembak dengan senapan.

Masih di halaman belakang markas laskar rakyatnya Ki Kusno, Riwut duduk termenung memandangi senapannya. Tangannya menyapu seluruh badan senapan, mulai dari laras, pelatuk hingga popornya. Lagi, Riwut geleng-geleng kepala. Ia tak bisa paham mengapa dirinya seperti tak berjodoh dengan senjata itu.

Diambilnya satu butir peluru dari kantung yang tergantung di sabuknya. Didekatkan peluru itu ke matanya, dilihatnya lekat-lekat. Lalu peluru itu ia dekatkan bersisian dengan moncong senapan. Entah kenapa, tiba-tiba ia ingat senjata warisan leluhurnya di Borneo.

Andai Ki Kusno menyuruhnya menembak menggunakan senjata leluhurnya itu, tentu botol kosong itu sudah terpelanting pecah. Jangankan botol, seekor harimau gila pun sanggup ia robohkan sampai mampus hanya dengan senjata tersebut. Tapi ia tak mau berlama-­lama memikirkan senjata leluhurnya itu.

Riwut kembali berdiri. Ia menata posisi dan kuda-kuda kakinya lagi. Bedil diangkat dan moncong larasnya diarahkan kembali ke botol kosong yang masih di atas tumpukan karung pasir. Senjata di-kokang, mata kirinya kembali memicing.

Suara tembakan kembali menggelepar di udara. Dahan pohon randu kembali berlubang. Botol kosong tetap diam di tempatnya. Di belakang Riwut, suara tawa mengejek kembali terdengar.

“Jangan memaksa diri, Wut! Hari sudah petang, sudah mandi sana! Botol itu juga sudah muak dengan bau badanmu!” rupanya Sudiro – anak buah Ki Kusno yang lain – mengintip dari jendela saat tembakan Riwut meletus, lalu ia tertawa.

Suara tembakan meletus lagi. Peluru Riwut kembali terbang, menyapa awan lalu hilang. Sudiro tertawa lagi, bahkan lebih keras.

**

Bulan November, Surabaya porak poranda. Hampir genap dua puluh hari kekuatan tempur tentara Inggris menggilas perlawanan kota itu. Yang tersisa hanya reruntuhan pos-pos pertahanan yang berwarna legam juga sejumlah jasad dan bekas tumpahan darah para pejuang. Serangan udara, serbuan tank dan tembakan mortir Inggris sejak tanggal sepuluh telah membungkam Surabaya dalam sebuah kekalahan.

Semua front perjuangan rakyat Surabaya dipukul mundur jauh hingga ke selatan tidak terkecuali laskar rakyatnya Ki Kusno. Ki Kusno telah kehilangan banyak anak buahnya. Lebih sialnya lagi ia kini putus kontak dengan pasukan BKR pimpinan Cak Hasan.

Setelah pertahanan di Wonokromo disergap oleh tank-tank Sherman, pasukan pejuang tercerai berai mundur ke arah Gunungsari. Karena gencarnya tembakan kanon dari moncong tank, Ki Kusno dan empat anak buahnya termasuk Riwut panik lalu lari terpisah dari pasukan BKR. Mereka lari masuk ke dalam hutan yang masih merimbun tak jauh dari Kali Surabaya.

Mereka terjebak lebih dari tiga hari di dalam hutan dengan keadaan kekurangan bahan makanan. Sumber makanan kian menipis karena binatang-binatang yang bisa diburu tak terlihat lagi berkeliaran dalam hutan itu. Sementara sumber air semakin sulit dicapai karena tentara Inggris masih terus bergerak menyapu kekuatan pejuang hingga di tepian Kali Surabaya.

Ki Kusno harus memutuskan sesuatu. Diam di dalam hutan lalu kemungkinan mati kelaparan, atau terus bergerak ke timur menembus rimbunan pohon hingga sampai ke Wonocolo dengan persediaan makanan dan minuman yang tak memungkinkan. Dan pilihan terakhir adalah nekat menyelinap melewati barikade tentara Inggris di depan mereka di sekitar Kali Surabaya.

Ki Kusno lebih condong pada putusan yang nekat. Ia mengirim Riwut untuk mengintai kemungkinan dimana keberadaan pos-pos penjagaan musuh dan bagaimana gambaran peluang mereka untuk menyelinap. Riwut di suruh pergi saat langit senja telah benar-benar gelap.

Namun hingga malam kian meninggi, Riwut tak kunjung kembali. Ki Kusno dan anak-anak buahnya gusar menunggu informasi. Dengan diterangi sedikit nyala api yang membakar tumpukan ranting-ranting kecil, Ki Kusno mengajak sisa anak buahnya untuk merundingkan hal tersebut dan memutuskan rencana selanjutnya.

“Riwut belum juga kembali. Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jika malam berlalu dan terang pun datang, maka kita terpaksa menunda rencana kita. Akan sangat sulit kita menyelinap di saat cahaya sedang benderang,” resah Ki Kusno membuat suaranya kian berat.

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Ki Kusno sembari mengamati mata anak buahnya.

“Kami.. Kami hanya menunggu perintah sampeyan, Ki,” jawab Sudiro singkat dan pelan.

“Goblok! Menunggu perintah saja bisanya kalian! Tak pernah memberi masukkan jika diminta! Asu!”

Anak-anak buah Ki Kusno tersentak akibat dibentak dengan kuat seperti itu. Mereka diam tertunduk.

“Ya, sudah. Malam ini juga kita susul Riwut. Siapkan semuanya!”

“Baik, Ki!”

Akhirnya berbekal temaram cahaya bintang dan bulan separuh serta nyala api dari sebuah suluh kecil, mereka bertiga bergerak kembali ke utara. Menembus malam dan pekatnya hutan.

**

Temaram sinar bulan separuh tak bisa mengaburkan mata seorang lelaki yang sedang mengintai seekor ular sendok yang sedang meliuk-liuk di atas tanah. Lelaki itu tampak sungguh gembira. Sudah berjam-jam mungkin ia mencari binatang ini di sekitar hutan, akhirnya ketemu juga. Pelan-pelan ia mendekat sambil mengambil sebuah benda yang tersandang di punggungnya.

Benda itu berbentuk pipa berongga yang terbuat dari kayu berwarna coklat dengan dua utas tali tambang sebagai pengikat di kedua ujungnya. Di salah satu ujung tersebut terpasang semacam mata tombak kecil yang dipaku dan diikat dengan lilitan rotan yang kuat. Panjang benda itu nyaris mencapai satu hasta setengah.

Lelaki itu mengendap-endap mendekat. Benda kayu berbentuk pipa berada di tangan kiri sang lelaki. Sementara tangan kanannya mencabut sebilah pisau yang terselip di sabuk sebelah kirinya.

Tiba-tiba sang ular menyadari kehadiran lelaki itu. Kepalanya langsung berdiri tegak lalu berbalik menghadap ke arah sang lelaki. Ular itu memasang sikap siaga. Otot-otot di sisi-sisi kepalanya mulai melebar bagai sayap burung yang mengembang. Suara desisnya menjadi-jadi.

Sang lelaki tenang-tenang saja menghadapi kemarahan ular itu. Tangan kirinya mulai menyerang dengan menusuk-nusukkan mata tombaknya ke arah kepala ular. Sementara tangan kanannya yang memegang pisau juga melakukan gerakan-gerakan mengayun seperti bersiap-siap hendak melempar.

Sang ular membalas dengan reaksi mematuk-matuk benda kayu berbentuk pipa dan mata tombaknya. Sang lelaki terus saja menyerang ular itu dengan mata tombak tersebut. Tiba-tiba, dengan sebuah hentakan tangan yang penuh tenaga, lelaki tersebut melempar pisau kecil di genggaman tangan kanannya. Pisau pun terbang lalu menembus tubuh sang ular. Ular itupun berakhir selamanya.

Setelah memastikan ular tersebut tak bernyawa lagi, lelaki itu mencabut pisau dari badan sang ular. Kemudian ia duduk bersila di atas tanah. Pisau dan benda kayu berbentuk pipa di letakkannya dekat bangkai ular. Matanya memandang dalam ke arah benda kayu berbentuk pipa tersebut. Sebuah kenangan manis sekaligus pahit pasti kembali jika ia melihat benda itu.

Benda kayu berbentuk pipa tersebut adalah salah satu bagian dari senjata warisan leluhurnya. Karena senjata itulah ia pernah berbangga hati memiliki seorang ayah. Ia bangga karena ayahnya didaulat sebagai prajurit yang paling lihai menggunakan senjata tersebut.

Kenangan manis itu kembali. Ia ingat masa kanak-kanak hingga remajanya dihabiskan dengan belajar menggunakan senjata itu. Ia masih ingat betapa sabar ayahnya mengajarkan seluruh kemampuan yang ia miliki.

Namun segera kenangan pahit menyusul di belakang kenangan manis itu. Ia tentu tak lupa, dengan senjata itu juga ia pernah membunuh seorang manusia. Selembar nyawa anak tetua adat melayang di tangannya hanya karena perkara cinta. Lalu ia lari dari tanah kelahirannya di Borneo, menghindari hukum adat yang sudah pasti menghendaki dirinya juga mati.

Senjata warisan leluhurnya itu tidak boleh tidak pasti akan mengantar kembali semua kenangan dari tanah kelahirannya. Sumpit, demikian senjata itu dikenal. Senjata asli suku-suku dayak di Borneo. Senjata yang racunnya mampu merobohkan seekor harimau gila sekalipun.

Sebenarnya lelaki itu enggan melihat sumpit lagi. Tapi entahlah, dia sendiri bingung mengapa senjata itu juga turut serta ia bawa saat memutuskan menyeberang ke tanah Jawa. Wajah seorang ayah yang selau membayang dalam sumpit itulah yang mungkin membuat ia tak kuasa meninggalkan sumpit itu di tanah kelahirannya.

Sesaat kemudian lelaki itu tersadar dan buru-buru ingin melepaskan diri dari kenangan-kenangan itu. Ia menarik pikirannya dari bayangan-bayangan masa lalu melalui tarikan nafas yang berat dan dalam. Seluruh kenangan tentang tanah Borneo ditiupnya jauh-jauh seiring hembusan nafas yang dilepaskannya. Ia tak mau lagi melihat masa lampau.

Saat ini yang paling penting bagi lelaki itu adalah perintah majikannya. Dan saat ini ia ingin bertindak lebih jauh dari apa yang diperintahkan. Oleh karena itu ia mencari ular untuk diambil bisanya.

Tangan lelaki itu kemudian merogoh sebuah kantong kecil terbuat dari kulit yang tergantung di sisi kanan sabuknya. Ia mengeluarkan semacam tabung kecil kemudian membuka tutupnya. Di dalam tabung itu ada gumpalan sesuatu yang tampak telah mengering dan keras. Bau tak sedap menyeruak keluar.

Inilah racun racikan ayahnya. Racun ini adalah pelengkap agar sumpit menjadi senjata yang sanggup membunuh sebuah sasaran hidup. Karena telah lama tidak digunakan, cairan racun itu menggumpal dan mengering. Namun lelaki itu tahu, dengan mencampur ramuan racun itu dengan beberapa tetes bisa ular dan air ludah, racun tersebut tak lama kemudian akan kembali mencair dalam bentuk yang kental.

Lelaki itu kemudian mengambil bangkai ular. Ia menyayat daging dekat taring-taring ular dengan pisau. Selanjutnya ia meremas kepala ular tersebut tepat di dekat gigi taringya. Cairan putih kemerahan terlihat keluar menetes dari sela-sela gigi-gigi taring ular lalu masuk ke dalam tabung. Setelah cukup banyak bisa ular yang tertampung, lelaki itu segera meludahi tabung tersebut beberapa kali lalu mengaduk-aduk isi tabung tersebut. Gumpalan racun pun perlahan mencair.

Lelaki itu selanjutnya mengeluarkan tujuh buah damek. Damek adalah anak sumpit, benda yang merupakan bagian paling penting dari senjata sumpit. Laksana peluru pada senapan atau anak panah untuk busurnya, demikianlah damek berperan. Benda tersebut terbuat dari bilah bambu yang di potong tipis dan diraut hingga meruncing salah satu ujungnya. Sementara ujung yang lain ditempeli bulu-bulu angsa di sekelilingnya. Lelaki itu mencelupkan damek satu persatu secara perlahan dan berulang-ulang hingga dirasa cukup. Lalu ia biarkan racun pada permukaannya mengering oleh tiupan angin.

Lelaki itu memandangi damek-damek itu. Ia telah memutuskan untuk menggunakan sumpit lagi setelah bertahun-tahun lamanya ia tinggalkan. Ia jadi ingat hari di mana ia didatangi sebuah firasat yang menggerakkan dia untuk membawa serta sumpit dalam pertempuran. Dan pada hari itu, markas laskar rakyatnya Ki Kusno habis dihancurkan oleh serangan udara Inggris. Mungkin malam inilah hikmah dari firasatnya hari itu, pikir lelaki tersebut. Ia berhasil menyelamatkan senjata warisan leluhurnya dari serangan udara sehingga bisa digunakan untuk memperlancar rencananmya keluar dari hutan malam ini.

Sebuah rencana di luar rencana majikannya telah ia susun. Ia sengaja hendak mengejutkan majikannya. Sekaligus mengejutkan tentara Inggris yang sebelumnya telah diintainya di tepian Kali Surabaya dekat sebuah jembatan kecil yang sudah hancur dan runtuh ke aliran kali.

**

Ki Kusno, Sudiro dan dua orang lainnya menahan nafas sejenak dari balik semak rumput yang tinggi. Di depan mereka, terlihat sebuah pos penjagaan yang didirikan oleh tentara Inggris. Pos itu dijaga oleh tujuh hingga sepuluh orang. Rencana untuk menyelinap melewati tentara Inggris kini sepertinya terlihat sangat mustahil.

“Bagaimana ini, Ki? Mereka lebih banyak dari kita!” bisik Sudiro kepada Ki Kusno.

Ki Kusno cuma diam. Entah sedang berpikir atau sedang tenggelam dalam kebingungannya.

Di tengah-tengah kebingungan dan rasa cemas Ki Kusno dan anak buahnya, tiba-tiba terdengar jeritan dari salah satu tentara Inggris. Seorang tentara Inggris terhuyung-huyung memegangi lehernya lalu roboh. Kelojotan sebentar sebelum diam untuk selamanya. Tentara Inggris yang lain tersentak lalu berteriak-teriak memberi tahu rekannya yang lain untuk siaga.

Kini giliran pihak musuh yang dihantui kebingungan dan rasa cemas karena diserang dengan tiba-tiba. Belum sempat mereka tahu apa yang terjadi dan siapa yang menyerang mereka, tiba-tiba satu lagi tentara Inggris terjungkal roboh lalu mengelepar mati. Tanpa suara tembakan, tanpa terlihat siapa yang menyerang, satu persatu tentara Inggris jatuh bertumbangan.

Ki Kusno dan anak buahnya terbelalak menyaksikan pemandangan tersebut. Bingung, tak tahu apa yang terjadi. Tiga orang tentara Inggris yang tersisa perlahan langsung mengambil gerakan mundur dari pos penjagaan. Air muka ketakutan jelas tampak di wajah mereka.

Melihat keadaan itu, Ki Kusno berinisiatif mengambil kesempatan untuk menyerang sisa-sisa tentara Ingris tersebut. Setelah memberi aba-aba perintah kepada anak buahnya, Ki Kusno langsung saja menghamburkan tembakan ke arah tiga orang tentara Inggris yang masih dalam kebingungan dan ketakutan.

Tak lama kemudian baku tembak pun terhenti. Tiga orang tentara Inggris meregang nyawa dengan lubang peluru yang menganga di bagian tubuh mereka masing-masing. Ki Kusno dan anak buahnya keluar dari persembunyian mereka.

“Kita berhasil, Ki!” teriak Sudiro girang.

“Ya. Terima kasih untuk hantu hutan yang telah membantu kita membunuh Inggris-Inggris sontoloyo ini,” sahut Ki Kusno.

Bulu kuduk Sudiro dan teman-temannya sejenak meremang berdiri. Hantu? Mungkinkah yang melakukannya hantu, demikian pikir mereka. Tiba-tiba dari arah sebelah kanan terdengar suara seorang lelaki yang memanggil-manggil mereka. Sontak Ki Kusno dan anak buahnya terkejut lalu bersiap hendak menembak. Namun begitu melihat siapa yang datang mereka menurunkan moncong senjata masing-masing lalu berseru.

“Riwut!”

“Kau yang melakukan semua ini?”

Lelaki yang barusan muncul mengangguk-angguk sembari tersenyum.

“Hebat, Kau! Bagaimana kau melakukannya?” tanya Ki Kusno.

“Dengan sumpit, Ki.” Jawab Riwut singkat sambil menunjukkan senjatanya dengan bangga.

Akhirnya sisa-sisa laskar rakyat itu meneruskan perjalanan mereka keluar dari hutan dan berharap dapat melakukan kontak kembali dengan pejuang-pejuang lainnya. Namun belum lima ratus meter mereka meninggalkan pos penjagaan tentara Inggris yang mereka hancurkan tadi, tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan dari sebuah senapan mesin.

Ki Kusno, Sudiro dan dua anak buah lainnya terpelanting tewas bermandi darah. Beruntung Riwut sigap melompat dan lari menyelamatkan diri dan bersembunyi. Tak lama kemudian muncul seorang tentara Inggris memeriksa jasad-jasad korbannya. Menyadari salah satu bidikannya lepas, tentara Inggris itu lantas kembali memasang sikap siaga dengan senapannya lalu perlahan bergerak memburu korbannya yang lolos.

Dari jarak seratus meter, Riwut melihat tentara Inggris itu semakin mendekat ke arah persembunyiannya. Riwut kebingungan. Ia tak bisa lagi menggunakan sumpit karena semua damek telah habis terpakai. Tak ada pilihan lain selain menggunakan senapannya untuk menembak tentara Inggris itu.

Riwut mulai membidik dari tempat persembunyiannya. Sebuah tembakan terdengar membelah udara malam. Tentara Inggris itu roboh. Riwut melongo menatap senapannya. Kali ini ia tepat mengenai sasarannya hanya dengan sekali tembak. Ia girang bukan kepalang.

***


Catatan:

[1] Borneo adalah nama lain dari Kalimantan. Istilah Borneo dipakai pada zaman kolonial Belanda

[2] Chudanco adalah salah satu istilah kepangkatan pada tentara PETA. Chudanco artinya kepala regu.

[3] PETA (Pembela Tanah Air) adalah milisi (pasukan) yang dibentuk oleh pemerintahan kolonial Jepang di Indonesia dengan tujuan mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu

[4] BKR (Badan Keamanan Rakyat) adalah sebuah organisasi ketentaraan yang dibentuk oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1945 yang merupakan cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

[5] Meneer = Tuan

Manusia Baru

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

pembebasan
gambar diunduh dari shraddhananda.com

Ada satu cerita tentang seorang bocah yang menginginkan mainan baru. Anggaplah mainan itu sebuah boneka Timmy. Anda tahu, Timmy si anak kambing pada kartun Shaun The Sheep cukup digemari anak-anak. Bukan saja karena bentuknya lucu menggemaskan, tetapi juga karakter yang kuat untuk memenuhi rasa ingin tahu, ciri khas anak-anak. Wajar jika si bocah terpikat dan ingin memiliki boneka Timmy ini. Persoalannya, si bocah telah memiliki banyak boneka di ranjang tidurnya. Beberapa telah bau pesing dan sebagian lainnya kotor berdebu.

Memancing rasa tahu si bocah, sang ibu bertanya,”Mengapa harus beli boneka baru? Bukankah yang lama masih bagus?” Karena si bocah tidak menjawab sesuai dengan keinginan ibunya, ia tidak dibelikan boneka baru. Si ibu lebih senang membeli buku-buku pelajaran untuk si anak yang kadang harus dipanggulnya ketika berangkat sekolah. Ya, saya menyebut dipanggul karena memang buku pelajaran dalam satu hari untuk anak SD mendekati berat beras 10 kg. Begitu berat beban yang dipanggul anak-anak SD jaman sekarang. Dan tentu sebagian besar harus buku baru.

Saya tidak hendak melenceng membahas dunia pendidikan kita yang Anda tahu cukup menyedihkan. Lebih menarik minat saya jika membahas pertanyaan “mengapa harus beli boneka baru?” Pertanyaan ini bisa disubstitusi dengan kata-kata lain seperti: mengapa harus buku baru, mengapa harus rumah baru, mengapa harus mobil baru. Jika lebih abstrak lagi: mengapa harus aturan baru, mengapa harus undang-undang baru, mengapa harus agama baru, mengapa harus baru, termasuk di dalamnya “mengapa harus manusia baru?” Apakah yang baru pasti lebih baik dari yang lama?

Jawaban pertanyaan ini bisa ruwet namun juga bisa sederhana, tergantung dari mindset masing-masing orang. Mindset sebagai seperangkat cara pandang konsep berpikir dan bertindak manusia, memegang peran penting dalam menyikapi fenomena-fenomena di abad ini. Kemudian beberapa ajaran menyodorkan konsep “manusia baru” guna menyikapi jaman yang bagi sebagian orang tampak semakin buruk. Manusia baru yang bagaimana?

Beberapa ajaran dan agama menekankan “manusia baru” sebagai “perpindahan manusia lama yang penuh dosa ke manusia baru yang suci.” Konsep pertobatan, penebusan dosa, berdoa, berpuasa, samadhi, bertapa, pada intinya sebagai usaha “menghapus manusia lama menjadi manusia baru.” Lalu mengapa sekian lama kita tidak melihat perubahan yang berarti dari hadirnya manusia baru hasil proses beribadah, berdoa, berpuasa, mati raga dan lain sebagainya itu? Kita masih cukup kesulitan menemukan sebuah hubungan antar manusia yang saling menghormati dan menghargai. Memang negara ini menganut demokrasi, namun masih jauh dari egaliter. Alih-alih menjadi manusia yang hijrah dari keburukan, konsep manusia baru justru membawa manusia “naik kelas” merasa boleh merendahkan yang lain. Simak kejadian akhir-akhir ini soal film dan kartun Nabi Muhammad. Ada perubahan cara pandang (mindset), tetapi tidak bergeser dari fondasi “ke-aku-an” sehingga yang terjadi adalah cara pandang “surga buatku”, “kabar gembira buatku”, atau “alam semesta buatku.” Salah satu tujuan beribadah, berdoa, berpuasa dan mati raga untuk menjadikan manusia sebagai pembawa kabar gembira, sebagai rahmat bagi alam semesta, tidak tercapai. Berdoa dan beribadah sebagai salah satu cara mengubah mindset -cara pandang lama ke cara pandang baru-, berubah fungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan diri sendiri semata.

Kembali ke soal Timmy. Karena sang ibu tidak mengabulkan permohonannya, si bocah berdoa, memohon kepada Tuhan agar keinginannya memiliki boneka Timmy dikabulkan. Itu dilakukan sebab guru-guru agama mengajarkan demikian: berdoalah agar Tuhan mengabulkan permintaanmu. Di suatu malam yang sepi, si bocah berdoa dengan keras sehingga seisi rumah mendengarnya, termasuk sang ayah. Keesokan paginya, sang Ayah membelikannya boneka Timmy. Tuhan telah mengabulkan doanya.

Pertanyaan selanjutnya: apakah Jokowi dan Ahok sebagai pemimpin baru akan lebih baik dari pemimpin lama?

Salam pembaharuan! 🙂

September Suatu Hari

Puisi John Kuan

1.

Petai cina sepuluh batang

tebang pilih tiga sisa tujuh

sekejap gemericik, derai

miring gerimis September

menabur di pekarangan jauh

Bunga jombang berlomba

guling di rumput hijau

hanya tidak diijinkan masuk pintu ———

Di balik pintu sekat ruang

sekat waktu, duduk hening, alis putih 

bunga anggrek, bonsai Buxus

agak jauh agak jauh ada sederet bambu

Kau menulis bunga plum

aku baca sejarah kolonial

 

Suhu hangat sedang mengukus

lumut hijau di sela bata merah

Tahun itu bukan April saja bisa keji

sehalaman bunga baru selesai merekah

di hutan karet tidak hanya cangkang biji meletus

 

2.

Bugenvil tetangga seperti satu malam

mekar semua, bahkan diam-diam menjulur lewat

dinding kayu, seperti juga ada sayap

seekor kupu-kupu putih mengaduk lembab

meriak semacam getaran sunyi

di sebelah dinding kayu: sungguh pekarangan hening

( Anak lelaki mereka luka parah di atas ranjang

September yang dingin ) Maukah

kita berdoa untuk kesehatannya?

 

Petai cina tujuh batang:

semacam romantis, pusing menaksirnya

September juga tidak setara musim gugur

Sebiji hati sesat di lorong-lorong batu hijau

tiba-tiba purnama agak basah di atas tembok, sorot

kau menulis bunga plum

aku baca sejarah kolonial

 

Petai cina tujuh batang

Tujuh batang juga bagus

Sejarah “Kuasa” dan “Makna” Pakaian

Resensi Arif Saifudin Yudistira*)

inda citranindaSejarah pakaian muncul sejak manusia Indonesia mengenal budaya menenun. Dengan masuknya budaya menenun di era neolitikum itulah manusia Indonesia mengenali cara menutup tubuh mereka. Sebagaimana kita mengetahui, manusia Indonesia di masa itu, memandang pakaian masih sebagai satu pelindung dari luar seperti panas, dingin, dan lain sebagainya (I made seraya 1980-1981:16). Di masa lalu, cara berpakaian nenek moyang kita pun seperti tak jauh berbeda dengan kita, mereka menutupi tubuh mereka dengan pakaian untuk menunjukkan kelebihan dan status sosial mereka.

Pakaian memiliki sakralitas tersendiri bagi kaum bangsawan, istana, yang itu berlaku hingga saat ini. Pakaian dikhususkan, tidak boleh sembarangan kawula desa atau rakyat memakai pakaian para raja atau kaum bangsawan. Kuasa “pakaian” ini menunjukkan identitas hingga kini, misalnya ketika kita jumpai pakaian kebesaran di keraton-keraton dan bangsawan di Yogyakarta dan di Solo. Pakaian mereka memiliki ciri khusus, seperti aksesoris, ikat pinggang, penutup kepala dari emas, hingga tongkat. Dari sanalah kita mengetahui pakaian di kalangan kerajaan atau bangsawan memiliki fungsinya sendiri baik pada upacara resmi keraton, upacara yang sifatnya kerakyatan, dan upacara-upacara lainnya. Nuansa etis dan sistem keraton yang ketat dalam tata budaya dan sistem adat ini barangkali bisa dilacak sebagai simbolisasi kuasa keraton yang mengadopsi nilai-nilai barat dan eropa yang dipadukan dengan nilai-nilai jawa. Kita bisa menemui ini pada kesaksian perempuan jawa yang ada di buku “Prajurit Perempuan Jawa”(2011).

Melalui buku busana jawa kuna ini, Inda Citraninda menunjukkan kepada kita, bahwa kita memiliki khasanah budaya dan kekayaan arkeologi yang begitu tinggi di dalam artefak-artefak peradaban kita. Kita bisa menemui ini pada candi misalnya, Inda Citraninda membuka mata kita semua, bahwa simbolisasi, kuasa, dan fungsi pakaian yang melekat pada tubuh tak sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh semata melainkan memiliki implikasi pada bagaimana strata atau kelas sosial itu muncul. Penelitian ini tak hanya memberikan sumbangsih penting bagaimana membaca masa lalu nenek moyang kita yang ada pada relief candi Borobudur, tetapi juga sebagai pijakan bagaimana membaca fenomena pakaian di manusia modern. Hal ini tampak pada bagaimana lingkungan istana kita memakai pakaian yang bermiliar-miliar rupiah untuk upacara resmi kenegaraan hingga pakaian sehari-hari. Melalui harga dan bentuk pakaian kenegaraan itulah, ternyata negara atau dalam hal ini pemerintah masih memakai logika kuno di negeri ini yang dulu dipakai nenek moyang kita. Pakaian seorang raja mesti berbeda dengan kawula, pakaian seorang rakyat jelata harus beda dengan pakaian presidennya.

Antara Kuasa dan Keadaban

Kita mengenali pakaian di masa kini pun menjadi mode dan industri yang menjanjikan. Kelas sosial, gengsi, hingga eksistensi pun muncul, bahkan kini pakaian seperti menjadi budaya popular yang kerap membawa kontroversi dan polemik. Pakaian pun dimanfaatkan oleh dunia hiburan dan dunia kapitalisas modern untuk menyihir anak-anak muda kita ikut dan tak berdaya di mata trend, mode dan model pakaian yang dipakai para selebriti kita. Pakaian pun seperti semakin jelas menunjukkan sebagai alat untuk meningkatkan popularitas dan ketenaran para selebriti kita. Dengan gaya pakaian terbaru, pakaian “sexy” mereka menyihir dan membentuk opini publik melalui tayangan gosip, infotainment dan sebagainya. Pakaian di dunia modern pun seperti tak menunjukkan keadaban kita.

Inda Citraninda mengulas bagaimana pakaian dalam relief karmawibhangga di bagian bawah candi Borobudur. Pakaian dalam relief karmawibhangga menunjukkan berbagai kelas sosial yang ada. Kelas pekerja, kawula desa, hingga pakaian dewa-dewi. Pakaian di relief itu pun menunjukkan bahwa peradaban manusia di masa itu tak memandang pakaian yang ringkas sederhana sebagai unsur dari pornografi sebagaimana sekarang ini. Pakaian sederhana dan ringkas difahami sebagai fakta sejarah dan fungsi pakaian. Tapi justru di masa itulah, kelas sosial sudah mulai melekat pada identitas pakaian yang mereka pakai.

Kini, dunia modern barangkali perlu bercermin pada kajian Inda Citraninda, bahwa pakaian dan tubuh tak semestinya dijadikan eksploitasi dan objek dari media, kamera, hingga budaya patriarchal melalui stereotype “pornografi”. Sebab di masa lalu, kita memahami dan mengenali pakaian wanita yang sederhana dan menampakkan payudara dan bagian atas mereka dengan kondisi yang biasa dan sewajarnya. Selain itu, kajian Inda Citraninda “Busana Jawa Kuna” ini setidaknya memberikan satu pandangan jelas kepada kita semua pada makna dan kuasa pakaian.

Kuasa dan makna pakaian sebagai simbol status sosial itu sudah ada sejak jaman jawa kuno sebagaimana yang diungkap Pigeaud ada empat kelas sosial di masa itu yakni kaum penguasa, agama, orang biasa dan budak (Th.Pigeaud,1958:195). Sejarah kuasa dan makna pakaian di negeri ini pun sudah begitu lama, ia menunjukkan perkembangannya hingga kini. Buku ini setidaknya memberikan satu simpulan besar, bahwa pakaian adalah identitas, kelas-sosial yang melalui uang dan harga itulah pakaian menunjukkan kuasanya pada kita semua.

inda citranindaJudul buku                             : Busana Jawa Kuno
Penulis                                     : Indra Citraninda Noerhadi
Penerbit                                   : Komunitas Bambu
Hal                                            : 120 halaman
ISBN                                         : 978-602-9402-16-2
Harga                                      : Rp 50.000,00
Tahun                                      : Juli, 2012

*)Penulis adalah Mahasiswa UMS, Pegiat Bilik Literasi Solo

Rintik Gerimis Februari

Cerita KauMuda Nihayatun Ijaji
Editor Ragil Koentjorodjati

gerimis menyapu tangis
gambar diunduh dari 1.bp.blogspot.com

Rintik mengalun dengan indah seindah roda lara yang berputar dengan cepat. Kadang terbesit dalam akal ini untuk menyudahi saja seperangkat lara yang nampak makin akrab dengan hidupku. Tapi, ah… Tuhan pasti membenciku seandainya itu terjadi.

Rintik hujan malam ini rupanya mampu membasahi sudut-sudut hatiku yang gersang. Tapi, luka itu terasa semakin sakit dibuatnya. Betapa tidak, luka yang entah kapan bisa mengering ini terus menerus terkoyak tanpa kutahu apa yang bisa kulakukan agar bisa mengobatinya. Kutatap langit kosong itu. Tak ada kerlip di sana. Yang ada hanya rintik hujan yang makin merembas kian dalam di hatiku, membuatku terus menangis meraung-raung dengan keras, meski dalam hati saja.

”Marwah,“ suara berat ibu sejenak mengganti irama rintik hujan. Bukan aku pura-pura tak mengerti rasa khawatir ibu yang makin menggunung tiap harinya terhadapku yang sudah berhari-hari tak sebiji pun nasi bisa masuk ke dalam kerongkonganku, tapi, sungguh nasi segunung pun tak akan mampu memberiku tenaga saat ini.

“Aku telah lupa akan lapar Bu.” Kubalas panggilan ibu dengan senyuman.

“Istirahatlah dulu,” suara ibu melemah. Aku mengangguk

Di kamar inipun rintik itu masih mengalun, mungkin takkan bisa berhenti sebelum denyut jantung ini berhenti pula. Mata ini tak mampu terpejam barang sekejap pun. Hanya bayangan lelaki itu yang terlihat ketika kututup mataku. Senyum indah itu mata elang itu, renyah tawanya itu. “Tuhan sepertinya aku tak mampu lagi hidup dibuatnya,” ratapku.

Esok pun tiba semangkuk bubur ayam dan segelas susu cokelat hangat nampak manis di meja kamarku. Setiap pagi ia selalu hadir. Aku tahu ini perbuatan ibu, ibu tak pernah letih merayuku makan tapi ah…..terasa berat kusantap sarapan itu. Rasanya seperti mengangkat berton-ton besi saat kuingin membuka mulutku untuk menyantapnya. Kubiarkan bubur dan susu itu mendingin, mungkin sampai berembun, beku sebeku hatiku. Sosok ibu hadir tiba-tiba di kamar.

“Tolong Marwah makanlah dulu walau hanya satu suap,” pinta ibu, menusuk rongga-rongga dadaku. Mata ibu nampak makin berkaca. Oh..wajah keriputnya mulai terlihat jelas, ingin kuelus. Semoga ibu tak merasakan apa yang aku rasakan, lalu tubuh kurus ibu dengan segera memelukku. Tuhan, ini jelas hangat yang sama kurasa saat tubuhnya merangkulku nyaman yang luar biasa hingga buatku merinding.

“Ibu mohon kepadamu Marwah, segeralah hentikan semua ini. Lanjutkanlah hidupmu. Jangan berlarut-larut dengan kesedihanmu dan jangan kau jadikan lukamu sebagai teman akrabmu. Ia bisa hadir namun juga bisa hilang Marwah. Ibu benar-benar sudah tak sanggup lagi melihat keadaanmu saat ini. Ibu sudah sangat letih. Marwah tolong hentikan…!!!”

Bahuku terasa basah dengan hujan air mata ibu. Aku masih membisu sebisu angin yang makin mongering.

“Aku tak sanggup untuk melanjutkan hidupku ini, Ibu,” isakku dalam hati.

“Kalau kau tetap seperti ini, Marwah, Ibu berjanji demi malam yang kian nampak pekat ini, Ibu berjanji akan mengikuti apapun yang kau lakukan. Kalau kamu lupa akan makan, Ibu pun takkan makan sesuap nasi pun, tak berbicara sepatah kata pun, mengurung diri, menangis tanpa air mata semuanya. Marwah semua yang kau lakukan saat ini akan ibu lakukan juga.” Air mata Ibu dan air mataku seolah berlomba derasnya. Tapi aku masih terdiam, rasanya keluh tak mampu berkata apapun.

“Baiklah Marwah, kalau kamu tetap diam berarti kamu setuju, kamu setuju ibu punya jiwa mati sepertimu, lupa dengan warna dunia, khilaf dengan nikmat Tuhan dan ini yang terakhir Ibu ucapkan, Ibu menyayangimu bahkan lebih besar dari cintanya dan cinta yang manapun jua.”

Aku tercengang. Ibupun berlalu.

“Tapi…..Ibu…,” suara itu keluar juga dari mulutku. “Jangan Ibu,” tangisku akhirnya pecah juga. Ibu berbalik dan memelukku lagi. “Jangan Bu, maafkan aku yang membuatmu berduka sampai sedemikian rupa. Aku memang bodoh Bu. Aku tak berguna. Harusnya aku tak lupa akan cintamu yang kuat itu Bu. Tapi Bu, aku telah berdosa. Aku benar-benar pendosa.”

“Tidak Marwah. Ibu selalu memaafkan apapuin salahmu tapi ibu mohon lanjutkan hidupmu lagi. Tersenyumlah, berlarilah, tertawalah, Marwah. Tak ada pertemuan yang abadi begitupun perpisahan. Lupakan Helga, ia telah di sisiNya dan biarkan dia tenang di sisi Allah.”

Aku masih terkurung dengan luka yang kubuat sendiri. Bukan hanya kehilangan Helga yang mebuat jiwaku mati seperti ini, tapi Helga tak hanya meninggalkan cintanya untukku, dia juga meninggalkan buah cinta kami yang tengah tumbuh di rahimku. Kesalahan itu terjadi dua jam sebelum Helga meninggalkanku untuk selama-lamanya, sebelum ia menabrak sudut pembatas setelah mengantarku pulang. Jalan aspal yang basah dan licin seusai diguyur rintik gerimis. Aku berdosa. Aku khilaf.

“Tapi…..Bu…, aku hamil!” kata laknat itu keluar juga dari mulutku

Dan tak mampu berkata lagi. Aku menyesal, hancur. Jiwaku telah mati dan tinggal penyesalan serta luka ini saja yang masih hidup.

 

*)Nihayatun Ijaji, seorang aquarius kelahiran 2 Februari.  Untuk lebih mengenalnya bisa mengontak via fb Nayha Boriel Ogura Neinfu atau via telp 087727197687

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #18

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 18

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Beberapa hari kemudian, dalam menjalankan tugas tukang ojek yang paling setia menjemput sewa manis dari kampus, Muslimin membuka pembicaraan.

“Aku heran tengok Arman. Pendapatku sebagai anak petani turun temurun tak pernah dihargainya. Seolah dialah orang yang paling paham tentang kehidupan petani.”

Susanti digoncengan lantas menjawab,”Sudahlah! Diamlah kau… Yok kita minum es campur sambil ngobrol.” Dicoleknya punggung Muslimin.

“Baiklah tuan putri nan jelita,” Muslimin langsung mengarahkan motor ke arah tukang es campur langganan mereka. Tempat mereka memperdalam intensitas perkawanan alias memperdalam hubungan interpersonal.

“Aku sangat setuju sama usulmu itu San. Pikiran petani itu tak usah dipaksakan untuk belajar seperti mahasiswa. Kasihan mereka. Kasihan bapakku.” Muslimin menyatakan dukungannya. dengan wajah serius.

“Ah!! Kau terus hubungkan diskusi kita dengan kondisi keluargamu.” Nampaknya Susanti tidak bernafsu bercerita serius sore ini. “Lebih baik kita ngobrol santai saja, tak usah yang berat berat.” Disendoknya tape dari gelas es campur. Makanan kesenangan Susanti.

“Tidak San, dua hari lagi kita akan membicarakan hal itu. Jadi kau harus punya argumentasi yang kuat mendukung sikapmu.” Muslimin dengan wajah tegang masih tetap kepingin Susanti tertarik membahas topik pembicaraan, sementara Susanti jadi iba hati melihat kawan dekatnya itu. Disentuhnya tangan Muslimin, “Iyalah Mus,.. terima kasih atas dukunganmu. Aku sudah tulis 2 lembar argumentasiku pada rapat mendatang. Nanti kau editnya.” Digenggam Muslimin jari tangan Susanti dengan penuh kasih.

Ketika Muslimin akan berangkat keluar dari es campur, berpapasan dengan Arman dan Ucok yang juga ingin minum es campur. Hanya bertegur sapa seadanya mereka berpisah. “Seenaknya Susanti ingin merubah cita rasa  FDP yang sudah capek-capek kita rumuskan.” Ucok menyalakan rokoknya.

“Iya…mungkin Susanti dan Muslimin tadi membahas hal yang sama dengan kita di tempat es campur ini. Ha…ha..ha..” Arman ringan saja melihat perbedaan pendapat yang terjadi pada pertemuan yang lalu.

“DR Pardomuan pasti tidak setuju dengan sikap Susanti. Dia berani meningalkan perguruan tinggi karena sangat percaya terhadap gerakan revolusioner.” Ucok memberi pendapat agar Arman tidak main-main dengan persoalan beda pendapat yang terjadi.

“Maaf ya… Cok, sampai rumah malam itu aku berpikir bahwa FDP tak mungkin mampu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.” Totalitas kita hidup menyatu dengan petani masih sangat kurang. Kita masih minat hidup agak genit tak mau ketinggalan trend anak muda masa kini. Lagi pula,…Kita sama sekali tidak punya kekuatan politik untuk merubah kebijakan pemerintah.” Akhirnya Arman terpancing untuk mengupas isi pembicaraan yang ditawarkan Ucok. “Macam mana pendapatmu?” Arman justru mendesak Ucok untuk berpikir realistis.

“Nantilah kupikir dulu masak-masak.” Ucok kelihatan melemahkan temperamennya.  Dirga Belanta juga tadi siang sudah nyatakan pikirannya bahwa untuk gerakan struktural di kalangan petani, kapasitas FDP masih belum memungkinkan. Sementara himpitan biaya hidup mungkin akan membuat petani semakin tidak bisa bergerak. Ucok yang mendengar pernyataan Dirga waktu di kampus merasa kecewa. Didesaknya Dirga agar konsisten terhadap garis ideologi FDP. Tapi, sikap keras Ucok sudah tidak dinampakkan lagi pada ngobrol dengan Arman di tukang es campur.

Sementara Ningsih dan Dewi Lyana tidak perduli dengan perbedaan pendapat itu. Mereka  habiskan waktu sampai 3 jam belanja di Monza setelah makan bakso di simpang empat Deigo. Tempat lain sarang mahasiswa-mahasiswa Rilmafrid sering bersantai.

Pada malam lanjutan pertemuan untuk menentukan garis kebijakan FDP, Susanti dan Muslimin tidak hadir. Tak ada yang tahu kenapa mereka berdua tidak hadir. Padahal tadi siang sudah ada tanda-tanda kuat akan terjadi rekonsiliasi. DR Pardomuan di sekretariat sudah memberitahukan angin segar tentang strateginya memecahkan perbedaan pendapat antar Ucok dan Susanti. Maka malam ini disampaikannya pesan itu.

“Baiklah, … tanpa Susanti dan Muslimin kita buka rapat malam ini. Sebenarnya Susanti yang paling perlu hadir, tapi ternyata sudah hampir jam 8 mereka belum juga datang. Pada awal perkenalan kita dengan Mukurata, sudah dinyatakannya bahwa di samping dana untuk organeser petani ada juga tersedia dana untuk peningkatan kesejahteraan petani melalui kegiatan ekonomi mikro maupun usaha-usaha produktif lainnya. Tapi, karena saya dan almarhum Tigor dan Mikail ingin mempraktekan gerakan revolusioner, maka untuk sementara kami tolak tawaran dana untuk pengingkatan kesejahteraan.”

Tiba-tiba sekretariat FDP diketuk. Rupanya ayah ibu Susanti yang datang, langsung dipersilahkan masuk. “Tadi sore Susanti lari dari rumah. Muslimin kami tugaskan untuk melacak di mana Susanti berada. Itu makanya hari ini mereka tak hadir pada rapat FDP.” Ayah Susanti mohon maaf merasa mengganggu acara FDP, sekaligus mohon bantu warga FDP untuk melacak keberadaan anak mereka.

“Di FDP maupun dalam pergaulan Susanti di kampus sama sekali kami tidak melihat ada persoalan mendasar yang membuat Susanti terluka.” DR Pardomuan memberi keterangan. Ucok tunduk seakan ada hal yang membuat dia menyesali dirinya. Hanya sebentar saja tamu sekaligus keluarga FDP itu berkunjung. DR Pardomuan tutup pertemuan dengan tamu. “Baiklah ..Pak kami akan bantu melacak Susanti. Kami pun minta maaf karena tidak mengikuti perkembangan anggota kami.”

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 17

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Bawa Uky Naik Kereta

Cerpen Sri Utami Ningsih
Editor Ragil Koentjorodjati

stasiun jadul
gambar diunduh dari 4.bp.blogspot.com

“Ayah, kapan Ayah ajak Uky naik kereta?”

Itulah kalimat yang berulang kali diucapkan oleh Uky, putra kecilku yang berusia tujuh tahun. Sudah tiga bulan terakhir ini dia merengek minta diajak naik kereta karena ingin seperti teman-temannnya yang sudah pernah naik kereta. Tapi apa daya, yang bisa kulakukan hanya tersenyum, atau mengulur-ulur waktu, walaupun aku tidak tahu kapan tepatnya keinginannya itu bisa kupenuhi.

“Yah, Uky pengen naik kereta. Kapan Yah?” tanya Uky dengan pertanyaan yang sangat familiar di telingaku.

“Jangan sekarang, Uky! Keretanya lagi dipakai sama oaing banyak. Nanti kalau sepi, Ayah pasti ajak Uky naik kereta,” kataku dengan jurus menghindar yang selalu kupakai. Kata-kata itu selalu melukis semburat kesedihan pada wajah Uky. Namun kesedihan itu tak lama kemudian mengembang menjadi senyuman tulus dan polos dari seorang anak yang sangat percaya pada ucapan ayahnya. Dan hal itu secara tidak langsung membuat hatiku sakit.

Sering kulihat Uky di kamarnya, bermain dengan kereta mainannya yang terbuat dari kardus, dan ia gerakkan dengan jemarinya yang mungil. Sungguh, ingin kuwujudkan keinginannya itu. Naik gerbong kereta, menyusuri rel yang panjang, dan melihatnya tersenyum lebar. Tapi ada satu hal yang membuatku segan melakukan hal itu.

“Uky hanya minta diajak naik kereta, Mas, apa susahnya?” tanya Dinda, istriku tercinta. Wanita cantik yang tengah berbadan dua, yang kini menggantikan posisi almarhummah Ibunda Uky.

“Aku hanya takut kejadian lima tahun silam terulang lagi,” jawabku sambil menutup mata.  Menutup lagi peristiwa pahit yang seharusnya sudah pudar seiring berjalannya waktu. Saat d imana berita itu datang, dan menggores kesediahan tiada akhir. Saat aku melihat daftar nama korban kecelakaan kereta api yang terguling. Dan kutemukan sebuah nama, Annisa Rahma, bidadari hidupku yang kini telah menjelma menjadi bidadari cantik di surga.

Dinda tersenyum manis dan menghampiriku dengan membawa secangkir teh yang tadi dibuatnya. “Itulah yang dinamakan takdir, Mas. Tanpa istri Mas naik kereta itu pun, memang Allah sudah menghendakinya menuju tempat yang lebih baik,” kata Dinda dengan sangat bijak.

Aku terdiam, berusaha menyerap kata-kata Dinda. Dan seketika, hatiku pun terbuka. “Kamu benar, Din. Tidak seharusnya aku menyalahkan kereta atau siapapun. Aku terlalu tidak peka dengan perhatian yang Allah berikan untukku. Maafkan aku ya? Aku jadi membuka lagi lembar masa lalu yang seharusnya sudah kututup,” kataku sambil menatap lekat-lekat paras cantik Dinda.

“Tidak apa-apa, Mas…. Terkadang kita perlu membuka masa lalu untuk belajar tentang masa depan. Dinda senang Mas sudah tenang. Jadi, Mas mau mengajak Uky naik kereta, kan?” tanya Dinda. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu mengelusnya penuh cinta, beserta calon adik Uky yang tengah terlelap di perutnya.

Hari-hari pun berlalu. Aku mulai bekerja lebih keras. Pekerjaan utamaku sebagai pembuat batu bata tidak cukup untuk membeli tiket kereta dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluargaku. Aku pun mencari pekerjaan tambahan sebagai pemilah kertas. Memang terlihat mudah, hanya memisahkan kertas putih dan yang berwarna. Namun pekerjaan ini cukup menyita waktuku. Tak jarang aku merasa punggungku sakit karena duduk memilah kertas semalaman. Dan paginya, aku sudah disibukkan dengan pekerjaanku membuat batu bata.

Semakin lama, kondisiku pun semakin menurun. Mungkin aku kelelahan. Dinda sudah menyuruhku untuk beristirahat dan jangan terlalu memforsir diri, namun keinginanku untuk membahagiakan Uky itu, seketika membuat sakitku berkurang. Terbayang olehku senyum Uky yang melihat kendaraan inpiannya itu. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku kembali bangkit.

Sampai suatu hari, ketika aku tengah beristirahat setelah seharian membuat batu bata, si kecil Uky datang dengan membawakanku segelas teh manis hangat. Aku segera meneguknya sampai hampir setengah gelas. Seketika penatku hilang, berganti kehangatan dari suhu teh itu dan senyum dari Uky dan Dinda. Tanpa kuduga, Uky menanyakan suatu hal yang membuatku terkejut.

“Ayah, ayah bekerja siang dan malam buat ngajak Uky naik kereta ya?”

Aku tercengang. Tak terpikirkan olehku kalau pertanyaan seperti itu akan keluar dari bibir Uky yang mungil. Aku harus menjawab apa? Aku sungguh tak mau Uky merasa bahwa dirinya adalah beban bagiku. Tegakah aku berbohong? Tegakah aku melakukan kebohongan yang sejak dulu kularang Uky untuk melakukannya?

“Ayah… Uky nggak usah naik kereta nggak apa-apa kok.Kata teman-teman Uky, tiket kereta itu harganya mahal. Mendingan uangnya buat adik bayi aja,” kata Uky lagi. Lidahku semakin kelu untuk berucap. Aku tak tahu harus berkata apa. Yang dikatakan Uky adalah benar. Usia kandungan Dinda sudah menginjak 7 bulan. Apakah aku harus menangguhkan keinginan kecil Uky?

Dengan sikap keibuan, Dinda menghampiri Uky. Dia bukan hanya seperti ibu, namun juga sosok teman dekat bagi Uky. “Uky tenang aja. Adik bayi punya rezekinya sendiri dari Allah. Rezeki yang datang sekarang adalah rezeki buat Uky. Allah pasti tahu kalau Uky pengen banget naik kereta. Jadi, semahal apapun tiket kereta, kalau Allah sudah berkehendak, pasti pasti bisa. Asal Uky mau mensyukuri apa yang dikasih Allah buat Uky.”

Mata Uky kembali berbinar, seakan menemukan cahaya harapannya. Perlahan senyumnya terkembang dari bibir mungilnya. “Uky janji, Uky akan berterima kasih terus sama Allah. Biar Allah mau naikin Uky ke kereta!” kata Uky dengan lantang. Matanya semakin berbinar menatap harapan.

Setelah kurasa uangku cukup, kupenuhi keinginan Uky itu. Untung saja sejak seminggu kemarin, aku mendapat pesanan batu bata yang cukup banyak. Jadi, aku masih ada simpanan untuk keperluan mendadak. Kini, aku dan Uky berada di sini. Tempat orang-orang berlalu-lalang mengejar waktu. Ada pula yang tengah tersedu melepas kepergian orang tersayangnya. Peluit-peluit yang bersahutan, suara rel yang berderik, derap langkah orang-orang yang terburu-buru, menjadi musik tersendiri di telinga kami. Seakan kami tengah terlibat dalam kesibukan besar di tempat ini.

“Ayah, kereta ini hebat ya? Kalau udah gede, Uky mau bikin kereta api yang panjaaang banget. Terus, Uky mau jadi masinisnya. Ntar tiketnya Uky gratisin deh, biar orang-orang yang pengen naik kereta kayak Uky nggak perlu bingung nyari uang,” kata Uky sambil menatap kereta yang melintas kencang di depannya.

Aku diam-diam tersenyum melihat kebahagiaan Uky. Hatiku tak henti-hentinya bersyukur melihat keinginan anakku hampir terwujud. Sebentar lagi, hanya perlu menunggu waktu.

“Uky, kita beli tiketnya dulu yuk?”

“Uky di sini aja yah, Uky mau lihat kereta!” kata Uky sambil mencari tempat duduk. Sebenarnya enggan aku meninggalkannya seorang diri di tengah keramaian ini. Namun saat kulihat Uky sedang duduk tenang sambil menatap kereta impiannya itu, hatiku jadi tak tega untuk tak mengizinkannya menungguku di sini. Aku akan secepatnya kembali.

Loket tiket kereta ternyata sudah penuh sesak. Antriannya sangat panjang. Bahkan ada yang nekat mendorong-dorong. Kumaklumi, ini adalah long weekend. Pastinya banyak yang ingin segera bertegur sapa dengan keluarga di kampung halaman. Atau setidaknya hanya melepas penat setelah lama berkutat dengan keseharian. Diam-diam aku bersyukur tidak membawa Uky ke sini. Tak dapat kubayangkan tubuh kecilnya terdorong orang-orang yang tidak sabaran itu.

Hampir 20 menit aku berdiri, dan akhirnya tibalah giliranku. Aku segera memesan 2 tiket, dan menyelesaikan transaksi itu dengan cepat. Aku tak ingin Uky bosan menungguku di sana.

“Eh, ada yang terserempet kereta!” kata seseorang, diikuti langkah cepat orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku pun segera ke sana. Kulirik tempat duduk yang tadi dihuni Uky, sudah kosong! Hatiku berkecamuk. Berbagai pikiran negatif bertebaran di otakku. Kusibak orang-orang yang berkerumunan itu, mencoba mencari sosok si kecil Uky yang kuharap baik-baik saja. Kulihat sebuah tas mungil yang tak asing bagiku, tas Uky! Dengan sosok Uky di sampingnya. Dan dalam keadaan….

***

            Hari ini akhirnya datang. Di saat kubisa melihat Uky naik kereta. Namun bukan dengan senyum gembira seperti yang selama ini diinginkannya. Melainkan dengan wajah kaku dan senyum terakhirnya yang abadi.

“Uky, kupenuhi keinginanmu, Nak. Keinginanmu untuk naik kereta. Bahkan dengan kereta yang dihias cantik dengan bunga-bunga. Apa kau senang sekarang, Nak? Kau sudah naik kereta sekarang. Bahkan aku sendiri yang kini menjadi masinisnya. Dengan kereta terindah ini, aku akan mengantarmu, menuju tempat yang paling indah, di sisi-Nya.”

The Secret Admirer

Flash Fiction Vivi Fajar

pengagum rahasia
gambar diunduh dari 4.bp.blogspot.com

Ah, ternyata begini rasanya terjebak dalam mobil bersama seseorang yang menarik seperti kamu. Di luar sana, hujan lebat. Dan kemacetan panjang berkilometer.Berhenti. Bukan cuma mobil ini, rasa-rasanya jantung ini juga jadi kurang lancar memompa darah ke seantero tubuh. Aku menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi juga karena ada yang aneh di sini (menunjuk kening) dan di sini (mendekap dada…). Uhhhh…

Tapi sepertinya kamu nggak peduli. Sebab saat kulirik sepintas, jari-jari lentikmu asyik memainkan tuts Blackberry. Hush, ingin betul rasanya memprovokasi kamu supaya bersuara. Apa sih sebenarnya yang kamu tulis di situ, atau kamu cuma pura-pura membaca supaya terhindar dari intimacy bersamaku?

Suara hujan yang mengetuk-ketuk kaca mobil itu nggak mengganggu kamu ya? Tapi jelas menggangguku. Riuh rendah di sana, dan di sini rasanya sepi, sebab kamu nggak juga bereaksi. Atau kamu cuma menunggu aku memulai? Yah, supaya semua terlihat lebih mudah, lebih elegan, karena aku laki-laki dan kamu perempuan.

Rambutmu wangi, aroma tubuhmu aku suka. Hmm, kenapa baru sekali ini aku mencium aromanya? Parfume barukah itu? Hushhhh, tapi sedekat ini? Bagaimana aku bisa tahan?

Tahukah kamu, aku mengagumi kamu sejak beratus hari yang lalu, saat pertama kali aku menatapmu dan kesempatan seperti ini, sungguh takpernah kubayangkan bisa terjadi. Kudengar kata orang kamu begitu dingin dan pasif, tak peduli, terlalu sulit dimengerti.

Bayangkan, sedekat ini? Uhhh, aku cuma ingin merasakan betapa kehangatan bisa terbangun karena suasana begitu mendukung. Lalu mitos-mitos tentang kamu dan kebekuanmu bakalan cair di hadapanku.

Tapi, waktu kulirik sedikit lagi, kamu masih asyik berbalas kabar dengan entah siapa di ujung sana. Kamu sama sekali nggak menganggapku ada. Ahhh, kalau saja kemudi ini bisa kuajak bercakap, sudah kuajak dia bicara. Kamu tahu, ternyata kamu memang beku.

Tiba-tiba aku merasa rugi sendiri. Tadinya paling tidak ini kuanggap bonus dalam kesendirianku. Berbagi kabin sempit dan sejuk dengan orang semenarik kamu, tapi..

“Hei, please, kamu tau? Kamu itu cantik, kamu pintar, kamu mengagumkan, sungguh mati, aku fans beratmu!!!”.

Sudah.

Ah, leganya. Kulirik kamu di sisi kiriku sekali lagi. Kamu masih menunduk menatap layar Blackberry, membuatku jadi ingin tersenyum sendiri. Sungguh tak terbilang rasanya. Baru saja kuluncurkan pujian-pujian itu dan kamu tetap nggak tahu.

 

 

April 2008
Antara Cawang-Bekasi
Suatu hari, kala hujan di siang yang lengas

Bapak, Ibu, Redoxon dan kaum Lumbricus

Puisi Kayana Octora Nirwasita

Sederhana,

Hingga usiaku yang sudah melewati seperempat abad peradaban, tak pernah bisa dengan pasti menjabarkannya.
Selalu saja meraba-raba, sederhana itu berbentuk apa dan dengan warna apa.

Karena jika bicara bentuk dan warna, maka akan nampak  seperti membicarakan diri sendiri.

Seperti membicarakan wajahku, yang sebagian orang katakan sangat mirip dengan Bapakku. Hampir semuanya. Termasuk warna putihnya kulit Bapak.

Hanya saja aku tidak beruntung memiliki hidung bangirnya. Tidak beruntung memiliki postur tubuhnya yang jangkung.

Untuk wajah dan kulit, aku beruntung memiliki gen dari Bapak, namun untuk postur, rupanya gen Ibu lebih mendominasi. Tinggi tubuh yang sederhana, karena jauh dari kata semampai.

Sederhana,

Jika aku boleh menuangkannya dalam sebuah warna. Pasti kupilih menuangkannya  dalam warna hijau. Hijau selalu sederhana saat berbentuk sebagai daun, yang mampu mengenapi teori  bernama fotosintesis.

Namun, ada masa ketika hijaunya daun, harus mengalah dengan warna kuning. Sebuah semiotika warna tentang berakhirnya masa berkembang. Dan mendekati masa untuk gugur. Jatuh terhempas ke tanah, kemudian berinteraksi dengan mahluk melata dari kaum Lumbricus.

Awalnya aku kira, berbicara tentang sederhana akan mudah, bila seperti membicarakan diri sendiri.

Tapi aku salah,

Bahkan aku makin merasa ambigu memaknainya.

Ehmm…tiba-tiba saja, terlintas di ingatanku. Kejadian yang berasal dari dimensi bernama masalalu.

“ Aku pergi training hanya 4 hari saja, oh iya Redoxon ini untukmu. Cuaca akhir-akhir ini begitu extrim. Minumlah vitamin ini, agar kamu tetap fit. “

Dia menyodorkan sebuah botol suplemen vitamin, sebelum memasuki ruang tunggu.

Redoxon…sederhana.

Mungkinkah  sederhana lebih mirip suplemen vitamin yang disodorkan padaku. Atau seperti sederhananya tinggi badanku yang berasal dari gen Ibuku.

Sebuah Alasan Mengapa (Kita) Harus Menulis

Resensi Riza Fitroh Kurniasih

“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga,
yaitu menulis, menulis, menulis.” (Kuntowijoyo)

eko prasetyoBuku yang masih begitu segar untuk dinikmati, sebuah buku motivasi karangan Eko Prasetyo. Cocok bagi para pemula yang sedang terjun dalam dunia tulis menulis ataupun bagi mereka yang telah sukses berkarir di dunia tulis menulis untuk tetap berkarya.

Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan hal ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kita jauh sebelum mengenal buku dan alat tulis. Menjadi pertanda bahwa aktivitas menulis bukanlah hal yang baru, dan menulis pun dapat dimulai dengan apa saja yang ada di depan kita.

Buku dengan judul Kekuatan Pena ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian utama, yaitu; Catatan Pertama: Meretas Motivasi, Catatan kedua: Budaya Baca, dan Catatan ketiga: Suksesor. Pembagian subtema menjadi tiga bagian menjadikan pembaca lebih mudah dalam mengikuti alur yang dimunculkan.

Pada Bagian Pertama mengulas seputar bagaimana motivasi untuk memulai dalam menulis. Pemunculan realita yang dialami oleh beberapa pemula juga dimunculkan di dalam bagian ini, sehingga diharapkan para pembaca termotivasi untuk memulai menuliskan apa saja yang kita rasakan. Dalam buku ini dikisahkan bahwa seorang pelacur pun juga menulis, baginya menulis merupakan lahan yang potensial untuk digarap. Lebih dari itu menulis juga tidak harus identik dengan pendidikan yang tinggi. Segudang manfaat diperoleh dari kegiatan menulis ini, baik menulis opini maupun karangan sejenisnya. Menulis sebagai upaya membebaskan ide yang kita miliki.

Tak perlu berkecil hati ketika tulisan kita belum dimuat. Dengan tidak termuatnya tulisan tersebut kita mempunyai kesempatan untuk melihat dan membaca ulang tulisan kita. Mengoreksi dan berkonsultasi kepada yang lebih berpengalaman untuk perbaikan tulisan. Ketrampilan menulis menjadi indikasi kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar. Menulis menjadi sarana untuk mencatat/merekam ssebuah peristiwa bersejarah, meyakinkan akan sebuah fakta, memberitahukan akan sebuah informasi dan mempengaruhi demi sebuah cita-cita. Hal ini hanya dapat terwujud dengan baik jika seseorang dapat menyusun dan mengutarakan pikirannya dengan jelas.

Dalam sebuah tulisan dengan judul “Menjaring Ide”, terdapat sebuah pesan yang mengungkapkan “kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Untuk mampu menyusun dan mengutarakan pikirannya dengan jelas hal utama yang paling penting adalah menjaring ide. Seorang yang berprofesi sebagai jurnalis dituntut untuk selalu mengembangkan kreatifitasnya, ide tidak oleh kering.

Eko Prasetyo menyadari akan hal ini, dalam buku ini ia menyebutkan bahwa langkah pertama untuk menjaring ide adalah kita cukup membawa buku tulis kemana pun kita pergi. Kedua memperbanyak membaca, dan yang ketiga adalah banyak mengobrol hal-hal positif. Setelah ide-ide tertulis dalam buku catatan kita tinggal menuangkan ide-ide ini ke dalam sebuah tulisan. Kita cukup menuliskan apa yang kita bayangkan.

Pada catatan kedua tentang budaya baca. Kita akan menjumpai sebuah fakta yang mengejutkan tentang negara kita, Indonesia. Pada tahun 2003, United Nations Development Programme (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan ke-112 di antara 174 negara. Sedngkan pada 2005 turun di urutan 117 di antara 177 negara, angka ini menunjukkan fakta adanya penurunan. Jika dibandingkan dengan negara sedang berkembang lainnya, bahkan di ASEAN sekalipun, kemampuan membaca (reading literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah.

Pada tahun 1992, International Association for Evaluation (IEA) dalam sebuah studi memperoleh hasil bahwasannya kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29. Posisi ini setingkat dengan Venezuela yang menempati peringkat terakhir. Hal ini didasarkan pada kondisi pasif tentang kurangnya gairah dan kemampuan para peserta didik untuk mencari, menggali, menemukan, mengelola, memanfaatkan dan mengembangkan informasi.

Pada bagian terakhir dari buku ini, catatan ketiga dengan tema suksesor, memuat secara eksklusif sekelumit orang-orang yang sukses dari hobinya. Eko Prasetyo menuangkan sebuah fakta kesuksesan dalam buku ini, tercatat per edisi 24 april-21 mei 2008 dalam majalah Adil menuliskan lima nama penulis terkaya di Indonesia. Tempat pertama diisi oleh Andrea Hirata, penulis tetralogi laskar pelangi, yang meraup keuntungan Rp. 2,5 miliar. Kemudian disusul oleh Habiburrahman El Shirazy-penulis novel laris ayat-ayat cinta-yang mendapatkan penghasilan Rp. 1,5 miliar. Berikutnya berturut-turut Nana Kinoysan, Asma Nadia, dan Helvy Tiana Rosa.

Kekayan materi bukanlah yang menjadi tujuan utama. Kekayaan yang diperoleh bisa berupa kepuasan seperti yang diperoleh oleh Helvy Tiana Rosa yang rajin menyumbangkan royaltinya untuk kegiatan sosial. Dengan menulis ternyata manfaat tidak hanya bermanfaat untuk kita, tetapi orang lain juga menikmati hasilnya.

Satu-satunya motivasi Toni Morrison adalah “Bila anda ingin sekali membaca sebuah buku tetapi belum ada yang menuliskannya, Anda harus menulis buku itu.” Tak ada lagi kata untuk tidak menulis, membaca menjadi akar dari terciptanya budaya menulis, membaca dan menulis menjadi sebuah aktivitas yang perkembangannya beriringan.

eko prasetyoJudul Buku      : Kekuatan Pena
Penulis             : Eko Prasetyo
Penerbit           : PT Indeks, Jakarta
Tahun              : 2012
Tebal               : 164 halaman
Harga              : Rp. 35.000,-
ISBN               : 979-062-328-3

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi UMS Angkatan Tahun 2010. Aktif mengembangkan Komunitas 3 Pena Buku (K3PB)

Karena Setiap Kata Punya Makna