Berbicara mengenai seks bukan lagi hal yang tabu dan terkadang pembicaraan tentang seks dijadikan bahan lelucon di kalangan kaum muda. Pendidikan seks diberikan tidak hanya melalui sekolah formal namun juga melalui didikan yang diberikan dari orang tua. Orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan informasi tentang seks ketika anak pada masa pubertas, sebelum diberikan oleh pendidikan formal.
Pada masa kini, seks tidak lagi dilakukan dalam koridor yang tepat dan dengan bebasnya kaum muda melakukan hubungan seks tanpa adanya status pernikahan. Bagi budaya Indonesia, seks pranikah tidak bisa diterima dan dianggap memalukan. Memalukan yang dimaksud adalah karena seks hanya dilakukan ketika dua manusia yang berakal itu telah berstatus suami-isteri.
Banyak kaum muda melakukan hubungan seks dengan pasangannya yang pada akhirnya tidak menjadi suami mereka dengan mengatasnamakan “CINTA” tanpa menyadari resiko atau konsekuensi di kemudian hari. Resiko atau konsekuensi seperti penyesalan seumur hidup dan atau hamil. Kaum muda yang tidak bisa menikmati masa mudanya dengan baik memilih untuk menjadi ibu muda di usia yang muda dan belum matang baik secara psikologis (mental) dan secara finansial menjadi sebuah bencana dalam rumah tangga. Anak menjadi korban karena ketidaksiapan orang tua.
Resiko lain yakni penyesalan seumur hidup dengan memberikan pernyataan negatif pada diri “kenapa aku bisa sebodoh ini melakukan hal itu dengan laki-laki yang bukan suamiku?” atau “betapa tidak berharganya diriku. Aku sudah kotor, tidak layak lagi untuk dicintai orang lain”. Dan atau pertanyaan lainnya yang menjurus pada hal negatif tentang diri. Beberapa perempuan yang saya temui dan mereka menceritakan betapa menyesal mereka karena telah melakukan seks pranikah. Pemikiran negatif yang melahirkan perasaan negatif menyebabkan perempuan-perempuan tersebut seakan tidak ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Apalagi ditambah dengan cibiran negatif dari lingkungan yang semakin memperparah kondisi psikologis perempuan tersebut.
Mungkin benar, perempuan-perempuan yang terlanjur memberikan kehormatan pada pria yang bukan suaminya adalah tindakan yang keliru, tetapi ketika dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab sekiranya bukanlah hal yang salah, melainkan pemikiran negatif dari orang lain tentang mereka adalah salah. Apa hak kita untuk mencibir atau memberikan pernyataan negatif terhadap mereka, seakan kita tidak pernah melakukan kesalahan di dunia ini. Kaum muda (perempuan-perempuan) yang sudah terlanjur “terjatuh” ada baiknya kita rangkul dan memberikan dukungan sosial baik secara dukungan emosional, penghargaan, informasi, dan appraisal.
Secara tidak sadar, dukungan sosial menjadi penting dalam kehidupan setiap orang, terlebih khusus bagi kaum muda yang terlanjur melakukan seks pranikah. Dukungan sosial berupa emosional yakni dengan memberikan ekspresi simpati, perhatian, dan keprihatinan. Pastikan bahwa kaum muda tersebut merasa nyaman, dicintai, dimiliki, dan menjadi bagian dalam relasi dengan kita.
Dukungan sosial dalam bentuk penghargaan yakni dengan memberikan penghargaan positif, dorongan, penguatan, membantu membangun perasaan harga-diri, rasa dihormati dan dibangun. Dukungan sosial dalam bentuk informasi yakni saran, arahan dan umpan-balik yang mengarahkan mereka pada kondisi yang lebih baik. Dukungan appraisal dalam bentuk informasi yang menolong untuk penilaian-diri dan penilaian atas suatu situasi atau kejadian. Dukungan dalam bentuk ini akan membantu mereka dalam mengatasi masalah dalam segala situasi atau bagaimana situasi itu harus dihadapi.
Kaum muda membutuhkan perhatian dalam bentuk dukungan sosial dari lingkungan baik keluarga, teman, sahabat, maupun pihak lain yang menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Tanpa dukungan bagaimana kehidupan mereka selanjutnya, mereka juga masih menginginkan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Karena itu, dukungan sosial menjadi sangat penting tanpa harus kita mengenal mereka secara lebih dekat, tetapi mulailah dari lingkungan yang terdekat yang membantu mereka mengembangkan potensi mereka jauh lebih baik. Kaum muda lebih membutuhkan hal itu ketimbang penilaian negatif tentang mereka dan perlu diingat bahwa mereka sama berharganya dengan kita.
* Penulis adalah Mahasiswa, tinggal di Salatiga. Catatan: Opini ini terpilih sebagai opini terbaik kedua tentang ‘Seks Pranikah’
Oleh Paulus Catur Wibawa ilustrasi 3.bp.blogspot.comSeks pranikah punya sejarah yang sangat panjang. Barangkali sejak pernikahan itu sendiri ada dan dilembagakan. Dan itu artinya sejak dahulu kala, sebelum Joko Tarub mengintip bidadari mandi, sebelum Kertanegara memuja Tantra sambil pesta orgy, sebelum para gundik dipelihara kumpeni. Sampai zaman ketika para artis suka merekam perzinahannya sendiri, ketika undang-undang mengatur rok mini dan ketika tetek palsu menambah percaya diri dan perasaan sexy.
Seks pranikah dan seks bebas tentu adalah istilah masa kini untuk menunjuk pada perilaku seksual—katakanlah, persetubuhan—yang dilakukan di luar ikatan perkawinan. Perbedaan dua istilah itu terletak pada cakupannya. Seks bebas dilakukan tak peduli dengan pacar, teman, kenalan atau bahkan orang yang—secara pribadi—tidak saling kenal. Seks pranikah dilakukan dengan orang yang (seolah-olah) akan menikah, meskipun pada akhirnya belum tentu menikah.
Banyak pihak telah berusaha menyadarkan betapa tindakan seksual harus dilakukan secara benar dan bijaksana. Seks bebas dan seks pranikah telah melahirkan berbagai gangguan kesehatan, rumahtangga yang hancur atau terpuruk karena ketidaksiapan, anak-anak “haram” yang tidak siap secara sosial.
Dalam masalah ini, perempuan sering menjadi korban. Terutama, bila ia sudah menyerahkan (atau dirampas) kehormatannya. Terlebih lagi bila laki-laki tersebut ternyata tidak menjadi suaminya. Sangat mungkin itu mengakibatkan luka yang dalam dan tak mudah diobati seperti misalnya, dendam pada laki-laki, penolakan pada konsekuensi dari hubungan seksual itu sendiri, pengucilan diri, stigma dari masyarakat sekitar dsb. Lalu bagaimana mensikapinya? Banyak solusi praktis sudah sering dikemukakan. Pertama, sekedar mengulang beberapa pendapat itu, laki-laki yang berbuat harus (dituntut untuk) bertanggungjawab. Salah satunya adalah dengan cara menikahi secara resmi. Tapi jika itu tidak mungkin, misalnya karena ia sudah beristri, pertanggungjawabannya harus dalam bentuk lain, entah secara kekeluargaan atau secara hukum. Kedua, perempuan yang menjadi korban juga harus bertanggungjawab. Sekalipun korban, ia juga terlibat dalam kondisi yang tidak diinginkan ini. Karenanya, ia harus juga bertanggungjawab, terlebih bila hubungan seks pranikah tersebut menyebabkan kehamilan. Sekarang ini banyak LSM dan lembaga keagamaan punya perhatian pada persoalan semacam ini. Ada yang concern pada ibu-ibu yang hamil di luar nikah, ada juga yang concern pada anak-anak yang lahir di luar pernikahan. Keempat, keluarga dan masyarakat sekitar perlu memberikan dukungan. Para korban tidak semestinya dijauhkan dari lingkungan, atau dikecam. Sebaliknya, mereka perlu dimaafkan dan dibantu untuk melanjutkan kehidupan mereka. Kelima, meminjam pendapatnya Hannah Arrent, perlulah memaafkan. Forgiveness is the exact opposite of vengeance, which acts in the form of re-enacting against an original trespassing whereby far from putting an end to the consequences of the first misdeed, everybody remains bound to the process, permitting the chain reaction contained in every action to take its unhindered course. Arrent memang pertama-tama bicara soal politik, yakni tentang korban Nazi. Tetapi saya kira ia benar, bahwa proses pemulihan hanya bisa terjadi setelah didahului dengan memaafkan—betapapun sulitnya—pihak-pihak yang bersalah. Tanpanya, pemulihan hanya seperti tongkat ajaib yang kekurangan mantra. Bisakah seorang korban memaafkan? Mungkin sangat sulit. Apalagi jika luka yang disebabkannya sangat dalam. Tetapi tanpa memaafkan, luka itu akan tetap ada, korban selamanya terbuang di alam dendam dan kekecewaan.
Catatan: Opini ini terpilih sebagai opini terbaik pertama tentang ‘Seks Pranikah’
RetakanKata – Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ dengan tema SEKS PRANIKAH. Jangka waktu tiga hari ternyata tetap tidak membatasi semangat para sahabat untuk mengirimkan opininya.
Dan berikut ini diumumkan nama penulis dan opini yang terpilih sebagai opini terbaik pertama, kedua dan ketiga.
Selain ketiga opini tersebut, sebagai bentuk penghargaan RetakanKata kepada rekan-rekan mahasiswa, maka RetakanKata juga memilih satu opini favorit dari rekan mahasiswa berjudul “Keluargaku Adalah Segalanya Untukku” karya Anita Rachmawati.
Opini terbaik pertama akan mendapat hadiah pulsa senilai Rp 100.000,00. Opini terbaik kedua dan ketiga akan mendapat pulsa senilai Rp 50.000,00. Untuk opini favorit dari rekan mahasiswa akan mendapat pulsa senilai Rp 25.000,00. Pastikan nomor hape yang dicantumkan aktif sebab RetakanKata akan menghubungi anda dengan nomor 085958551155 untuk memastikan pengiriman pulsa jarak jauh.
Semoga pengumuman ini dapat memacu gairah menulis para sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa di seluruh penjuru Nusantara yang ingin ikut berpartisipasi atau yang karyanya belum terpilih untuk dimuat di blog RetakanKata. Sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa dapat mengikuti sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ berikutnya, dengan tema ABORSI.
Selamat mengikuti sayembara berikutnya! Salam membaca dan menulis!
Kolam teratai musim gugur hanya menyisakan serpihan bunga dan daun rapuh, melalui kisi-kisi jendela saya duduk merasakan kesunyian setelah seluruh warna musim panas pudar, merasakan waktu pelan-pelan mendinginkan secangkir teh Cina, merasakan semacam sepi yang mengharukan di dalam lukisan-lukisan Sanyu yang dipamerkan di Museum Sejarah Nasional Taiwan hari itu. Pameran lukisan Sanyu berjudul Di Mana Kampung Halaman
Sanyu, dalam Bahasa Mandarin dipanggil 常玉 ( baca: Chang Yu ) lahir di Provinsi Sichuan, Cina pada tahun 1901, berasal dari keluarga kaya. Sejak ke Paris belajar melukis ketika berumur 20 tahun hingga meninggal dunia di usia 67 tahun di Paris karena keracunan gas di studionya, dia hanya sekali saja kembali menginjak kakinya di tanah kampung halaman, sisa hidupnya hampir seluruhnya dihabiskan di perantauan, menjelma jadi sebutir bintang seni yang sunyi menggantung di tepi langit.
Sanyu tidak meninggalkan catatan apa pun, riwayatnya yang ada sekarang hanya berupa anekdot-anekdot dalam beberapa tulisan teman-teman sejamannya atau sesama pelukis Cina yang merantau ke Paris. Beberapa cerita itu muncul berulang kali dalam tulisan mengenai dirinya; seperti dia pernah menikah dengan seorang gadis Perancis, tetapi tidak bertahan lama, atau dia pernah hidup seatap dengan seorang gadis bertubuh montok, atau pun dia pernah hidup bersama dengan seorang gadis Jerman. Dalam tulisan lain diceritakan bahwa dia pernah akan dipromosikan oleh seorang agen lukisan yang sangat berpengaruh, namun tidak dapat menyerahkan 20 lukisan seperti yang dijanjikan tepat waktu, sehingga agen tersebut terpaksa mengangkat pelukis Asia yang lain, seorang pelukis Jepang: Foujita. Juga beberapa hal lain yang berhubungan dengan sifatnya yang agak eksentrik, tertutup, kurang bertanggung jawab, memuja kebebasan jiwa, seperti banyak kehidupan seniman di Paris sehabis Perang Dunia.
Agak kabur, tetapi ada dua hal yang sangat jelas. Pertama, hampir semua teman-temannya dan sesama pelukis mengakui Sanyu sebagai pelukis yang sangat berbakat. Kedua, hidup sengsara dan melarat di Paris, terutama setelah kakak sulungnya yang mendukung hidupnya di Paris meninggal. Kehidupannya di hari tua sangat menyedihkan, dia bertahan hidup sebagai tukang cat dan tukang kayu bagi teman-temannya sesama perantau Cina di Paris; pemilik restoran dan pemilik toko perabot. Pada masa-masa sulit inilah Sanyu melukis seekor gajah yang sangat kecil berlari di gurun yang tak bertepi. Sambil menunjuk gajah kecil yang hampir terkubur gurun itu berkata kepada temannya: Itulah diriku!
Melihat lukisan Sanyu di Museum Sejarah Nasional Taiwan bukan sekedar menikmati sebuah karya seni, tetapi seolah membaca sepotong sejarah senirupa Cina Moderen. Sekitar tahun 1968 Menteri Pendidikan Taiwan mengundang Sanyu mengadakan pameran lukisan di Taiwan. Sanyu setuju, dia memilih empat puluh dua lukisannya untuk dikirim ke Museum Sejarah Nasional Taiwan, dan pemerintah Taiwan juga segera mengirim biaya perjalanan untuknya. Setelah menerima uang Sanyu tiba-tiba berubah pikiran, dia merasa sinar matahari dan piramida Mesir jauh lebih menarik. Tetapi begitu pulang dari melancong dia sendiri juga bingung kemana mencari biaya untuk perjalanannya ke Taiwan, dia tidak muncul, museum terus menunggu, setelah menunggu beberapa waktu, tiba-tiba Sanyu meninggal dunia di Paris.
Sanyu tidak memiliki keturunan, maka museum akan selamanya mewakili dia menyimpan lukisan-lukisannya itu. Tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau sesuatu yang sudah direncanakannya. Tanpa kebetulan ini sesungguhnya sangat sulit mengumpulkan lukisan-lukisan Sanyu dari berbagai periodenya dalam jumlah begitu banyak. Apalagi sekarang, lukisannya sudah merupakan lukisan cat minyak pelukis Cina yang paling mahal. Kalau melihat sikap dia terhadap karyanya seperti yang dicatat teman-temanya, dia mungkin sengaja mewariskan lukisan-lukisan ini kepada museum. Dia pernah berkata dengan enteng ketika seorang temannya bertanya kenapa dia menolak seseorang yang ingin membeli lukisannya: ” Saya tidak suka wajahnya, dan saya juga tidak ingin lukisanku hidup bersamanya ”
Banyak dari lukisan itu dilukis di atas selembar papan kayu atau daun pintu atau daun jendela, karena pelukisnya tidak ada uang untuk membeli kanvas, sehingga di dunia pun muncul ” lukisan cat minyak di atas papan kayu “. Hubungan antara cat dengan papan kayu kadang-kadang agak sulit, maka tak terelakan banyak sudut-sudut lukisan retak, mengelupas, tergores, membuat orang iba. Terindah dan terburuk bersama-sama hadir dalam sebuah lukisan, apakah bukan sebuah peringatan?
Ada satu masa, seperti semua pelukis Barat mesti melukis pot bunga, tentu termasuk pot bunga matahari milik Van Gogh itu. Bunga pelukis Barat selalu begitu cemerlang dan penuh sehingga mata orang yang melihat seolah kewalahan menangkapnya. Dan Sanyu juga melukis bunga, namun tidak seperti ” bunga potong ” pelukis Barat, bunga Sanyu selalu ditanam di dalam pot tanah liat berbentuk persegi. Menurut pandangan saya, pot itu pasti produk dari dapur pembakaran di kampung halamannya: Sichuan. Kenapa Sanyu melukis bunga mesti memberi juga kita satu pot tanah dangkal? Apakah itu cara dia bertahan? Hidup di perantauan, di Paris, di pusat kekuasaan keindahan Barat, dia melawan, mungkin saja bunga kecil dan lemah yang dia lukis itu adalah dirinya? Di dalam hatinya pasti juga menyisakan sepotong tanah sempit dan dangkal untuk dirinya hidup?
Anehnya, tanah di dalam pot begitu dangkal, bukan saja ada pohon yang tumbuh, bahkan berbunga, walaupun kecil-kecil, dan di sana-sini juga ada tunas mencuat, dan lebih mengejutkan adalah ada seekor burung hinggap di sana, dan ternyata burung itu sedang bernyanyi.
Saya merasa di belakang bunga, burung, dan pot tanah liat itu ada sepatah dua patah kata yang menunggu dijelaskan ——— namun, saya juga tidak ingin mengungkapkan, maka saya memilih pergi duduk melihat teratai layu di musim gugur, sambil menerka mengapa semua perempuan di dalam lukisannya tampak samping dan belakang?
Puisi Dianna Firefly Gambar diunduh dari blogs.elca.orgKini (T)uhan hanya sebaris kalimat yang kau gunakan sebagai mantra pembunuh dan mereka adalah tumbal yang darahnya menjadi perlambang bahwa kebenaran sudah mati. (T)uhan pun ikut mati. Aku melihat (T)uhan mati di genangan darah yang keluar dari tubuh mereka. Mati dengan keji dan (T)uhan tidak pernah bangkit sejak hari itu. (I)a tidak pernah menuju surga.
Satu persatu manusia mati dalam raganya yang hidup. Mereka berkeliaran seperti anjing-anjing tidak bertuan. Mengais alasan sebagai pembenaran. Menggerogoti tulang belulang yang ia anggap lawan. Kadang menangis tanpa air mata lalu tertawa hingga gila.
…
Sejak kematian (T)uhan yang entah. Aku berdiri di bawah tiang salib. Merenungi apa yang kuimani. Berkali-kali mencari. Mencari sesosok manusia yang dua ribu tahun lalu disalibkan. Tiang salibnya kini dijadikan kayu bakar. Apakah yang telah (T)uhan korbankan? Ada atau tidak. Apakah yang aku mau dari sesuatu yang kukehendaki? Tentang (T)uhan dan hidup.
Dunia telah banyak berubah. Dua ribu tahun sejak saat itu berlalu, bahkan lebih dari itu. Para ilmuwan menghitung umur bebatuan –mereka lebih suka menghitung umur bebatuan daripada mengingat umurnya sendiri– dan mendapatkan hasil bahwa bumi berumur milyaran tahun, (T)uhan dimana selama itu?
(T)uhan baru saja lahir, tepat pada saat (K)itab pertama diturunkan. (K)itab yang entah. Melayang-layang dari langit kepada orang (t)erpilih, yang memang terpilih atau menganggap diri menjadi pilihan.
(K)itab lain pun bermunculan. Mungkin, itu terjadi saat (T)uhan lahir berkali-kali. Reinkarnasi. Dalam rupa dan watak berbeda. Lahir di bangunan mirip kastil dan berlonceng, di bangunan yang selalu malam penuh bulan bintang, di bangunan yang terbuat dari batu-batu, di bangunan yang selalu diasapi, di patung-patung, di gunung, di lembah dan ngarai, dimana saja (T)uhan-(t)uhan mau lahir. Toh, (I)a adalah (T)uhan kan?
(T)uhan pun hidup bersama manusia. Bergandengan tangan, tertawa ria. Hanya saja, (T)uhan terkadang menjadi pencemburu, tamak, dan tidak berbelas kasih. Manusia apa lagi? Akhirnya mereka berebut harta warisan: (s)urga. (T)uhan melawan (T)uhan, (T)uhan melawan manusia. Manusia melawan manusia.
Aku menyaksikan semua itu. Aku diam saja. Aku menderita. Setiap luka mereka adalah lukaku, begitu juga tangisnya. Namun aku tidak peduli, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan meskipun aku diper(t)uhankan.
Cave Cat by Erica Shipley, diunduh dari erica-shipley.com
Val benar-benar kagum dengan eksotika pulau ini. Di bagian timur dan selatan pulau tersebut membentang pasir putih yang lautnya belum tercemar dan nampak kebiru-biruan. Pasti sangat menyenangkan berada di tengah-tengah pulau nan indah, jauh dari kebisingan kota dan suara-suara teriakan minta deadline ‘’bisik Val’’ ditambah keramahan penduduk pulau yang jarang Val temukan di kota. Baru beberapa jam Val tiba warga kampung beramai-ramai datang ke rumah pak Rustam tempat Val menginap untuk sekedar bersalaman dengan Val. Val diperlakukan bak seorang selebritis. Lalu semangkok soto khas Madura lengkap dengan toppanya menjadi hidangan yang cukup mengganjal perut Val yang sedari tadi sudah bernyanyi setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam.
Gili ketapang, begitulah nama sebuah kampung dan pulau kecil di Selat Madura, tepatnya 8 km di lepas pantai utara Probolinggo yang menjadi tujuan Val kali ini. Gili ketapang dihuni oleh suku Madura. Tak seperti kebanyakan dalam pikiran orang yang menganggap mereka suku yang arogan dan kasar dengan sebilah celurit yang setiap saat siap memakan korban. Bagi Val mereka cukup ramah dan bersahabat. Ah, masalah suku ini kerap kali menjadi awal pertikaian di negeri tercinta ini. Val yang asli Solo sering kali menjadi bahan ledekan teman-teman sekantornya yang selalu mengkonotasikan dirinya dengan putri Solo yang kerjanya lamban. Namun akhirnya Val bisa membuktikan bahwa putri solo juga bisa bekerja secara cekatan dan ulet hingga akhirnya Val bisa menduduki jabatan sebagai redaktur. Atau si Roy yang berasal dari ujung negeri ini kerap kali dipanggil si keriting. Val tak habis pikir, bukankah Tuhan menciptakan umat-Nya berbeda-beda dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain bukan untuk saling mencaci dan saling bermusuhan.
***
Pagi cerah ditemani Munah anak pak Rustam, Val berjalan menyusuri pantai. Semilir angin dan deburan lembut ombak hangat menusuk-nusuk kalbunya. Bagaikan labrin yang membentuk formasi begitu indah, saat Val menyaksikan di kejauhan perahu-perahu nelayan yang baru pulang melaut. Sementara di pinggir pantai para perempuan berjejer menanti kepulangan suami dan anak-anak mereka. Maka setelah puas bermain dengan deburan ombak sampailah Val pada sebuah titik. Sebuah batu karang raksasa berbentuk bulat memanjang yang memang menjadi tujuan kedatangan Val ke pulau ini.
‘’Inilah yang dinamakan gua kucing Kak, konon menurut cerita, dahulu pulau ini dihuni ribuan kucing yang dipelihara oleh syech Ishaq, salah seorang penyebar agama Islam di pulau ini. Namun setelah beliau meninggalkan tempat ini kucing-kucing itu menghilang tanpa diketahui rimbanya. Tapi anehnya setiap malam jum’at legi suara- suara kucing itu terdengar dari dalam gua.” Val mendengarkan cerita Munah dengan seksama. Tak hanya misteri tentang gua kucing yang membuat Val penasaran, namun bau-bau kemenyan serta beberapa bekas ritual yang dibiarkan berserakan membuat bulu kuduk Val merinding.
Meong!!! Seekor kucing berwarna belang tiba-tiba meloncat dari balik batu karang tepat disamping Val diikuti kucing-kucing lainnya hingga jumlahnya puluhan. Lalu di belakang kucing-kucing itu muncullah seorang gadis kecil berperawakan sedang. Beberapa saat kemudian gadis itu melemparkan remah-remah ikan asin membuat suara kucing-kucing itu semakin gaduh.. Gadis itu bagaikan ratu kucing di antara puluhan kucing-kucing itu.
‘’Dia Naila kak. Kasihan dia, emaknya meninggal saat melahirkannya sementara Eppaknya hilang di laut beberapa bulan lalu karena terseret ombak dan sekarang Naila hanya tinggal bersama kakeknya yang sudah tua. Kakeknya dari pagi hingga sore bekerja memperbaiki jaring dan kapal-kapal nelayan di kampung sebelah. Jadi setiap hari Naila hanya ditemani kucing-kucingnya itu. Orang-orang sini percaya bahwa Naila merupakan titisan salah satu pengikut syech Ishaq, yang lama tinggal di pulau ini dan kemudian menikah dengan salah satu penduduk’’ Gadis kecil yang unik, Val mengambil beberapa gambar keakraban dua makhluk berbeda rupa itu dengan camera pocketnya. Ngapote….. Wak lajere ethangale…. Reng majeng tantona la padha mole….
Sambil membelai kucing-kucingnya gadis itu ngejungan lirih, membuat Val semakin penasaran untuk mengenalnya lebih dekat.
***
Esoknya Val kembali ke tempat itu. ‘’Hai, aku Val, boleh kakak duduk di sini?’’ Val mengambil tempat di sebelah Naila. Sesekali Val ikut membelai kucing-kucing itu yang terlihat bersahabat. Gadis bernama Naila itu hanya sesaat tersenyum ke arah Val, sebelum kembali. bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Namun dari sorot matanya, Val yakin gadis itu menerima kehadirannya. Beberapa saat mereka terdiam dan hanya terdengar deburan ombak dan suara riuh kucing-kucing Naila.
‘’Namaku Naila, kalau kakak ingin kenal dengan kucing-kucingku yang lain mari ikut ke rumahku.’’ Gadis itu berlari-lari kecil menuju rumahnya, tak jauh dari gua. Di sebelah rumah sederhana itu terdapat sebuah tempat semacam kandang ayam lengkap dengan kardus-kardus bekas dan kain perca sebagai alas. Di dalam kardus beberapa ekor bayi kucing yang masih merah sedang menyusu pada induknya. Tak beberapa lama Naila masuk ke dalam dan mengambil piring kemudian meletakkan remah-remah ikan asin lalu mengelus bayi-bayi kucing itu penuh kasih. Setelah memberi makan kucingnya, Naila mengajak Val masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sangat jauh dari kata layak untuk dihuni, batin Val. Hanya ada sebuah meja dan dipan tua berbaur menjadi satu dengan dapur sehingga menimbulkan aroma yang sangat tidak nyaman. Namun ada hal lain yang membuat Val berdecak kagum. Dinding-dinding yang sebagian telah berlubang dipenuhi lukisan-lukisan yang juga bergambar kucing.
‘’Ini lukisan Nai, bagus kan Kak?’’ Gadis itu membawa selembar lukisan yang masih basah oleh cat warna. Val mengangguk mantap.
Val teringat beberapa waktu lalu, Val juga memiliki sepasang kucing ras pemberian seorang sahabatnya. Setiap saat Val menghabiskan waktunya bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Val begitu sayang terhadap kucing-kucingnya. Val memberi mereka makanan juga tidak sembarangan. Dia memberi makanan khusus untuk kucing ras yang berharga cukup mahal, sehingga kucingnya terlihat sehat dan menggemaskan hingga rajin membawa ke dokter hewan. Satu hari kucingnya melahirkan beberapa ekor anak kucing yang juga lucu-lucu. Semakin ramailah rumah Val dengan kehadiran kucing-kucing mungil itu. Setiap pagi kucing-kucingnya mengantar Val ke depan pintu gerbang rumahnya sambil berputar-putar dan mengeong-ngeong manja seakan ingin mengatakan agar Val cepat pulang dan kembali bercengkerama dengan mereka. Namun pekerjaan Val sebagai seorang jurnalis yang harus meninggalkan rumah hingga berhari-hari membuat Val tak bisa merawat kucingnya seperti dulu. Pun demikian mama papanya juga sibuk bekerja. Lalu Val pun berpikir untuk menyewa seorang pembantu yang khusus merawat kucing-kucingnya. Namun binatang juga punya perasaan seperti halnya manusia. Mereka akan lebih nyaman jika yang merawat adalah majikannya sendiri. Kucingnya berubah menjadi pemurung dan tidak mau menyentuh makanan. Karena takut terjadi sesuatu akhirnya Val menitipkan kucing-kucingnya untuk dirawat saudaranya yang juga memiliki beberapa ekor kucing ras. Sungguh, Val sangat merindukan saat-saat menyenangkan itu.
***
Malam telah larut saat Val menyelesaikan laporannya. Val membuka kelambu, angin laut lembut menampar wajah putihnya. Di kejauhan lampu kelap-kelip dari perahu-perahu nelayan menambah indah suasana malam. Malam ini tepat malam jum’at legi, sayup-sayup Val mendengar puluhan kucing mengeong-ngeong riuh. Seperti kepercayaan warga setempat, setiap malam jum’at legi akan teredengar suara-suara kucing dari dalam gua. Namun Val lebih berpikir realistis, bahwa suara-suara itu pastilah datang dari kucing-kucing Naila yang memang dibiarkan bebas berkeliaran.
Namun bukan suara-suara itu yang mengganggu pikirannya. Ada hal lain yang lebih penting yang membuat matanya tak juga terpejam. Tiga hari lalu Gili Ketapang kedatangan tamu dari dinas kesehatan kota yang memberikan pengobatan secara gratis. Satu hal yang sangat menggembirakan dan ditunggu-tunggu warga kampung. Karena bagi mereka yang kebanyakan adalah nelayan kecil biaya kesehatan masih teramat mahal. Setelah pemeriksaan usai tersiarlah kabar yang mengejutkan sekaligus mengerikan. Beberapa perempuan didiagnosis terjangkit virus toksoplasma dan harus mendapatkan perawatan secara intensif. Dan menurut dokter satu-satunya cara memutus rantai penyebaran toksoplasma adalah dengan mengkarantina seluruh hewan peliharaan warga yang terindikasi menularkan virus itu termasuk puluhan kucing milik Naila. Berat bagi Val menyampaikan berita yang pasti akan sangat menyakitkan bagi Naila, namun harus Val katakan demi keselamatan warga kampung. Selama ini terjalin kedekatan yang cukup akrab antara Val, Naila dan kucing-kucingya. Naila banyak bercerita betapa dia sangat menyayangi kucing-kucingnya dan tak ingin berpisah dengan mereka selamanya.
Bagai petir di siang bolong. Naila benar-benar shock mendengar kabar yang disampaikan Val siang itu. Sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Air matanya luruh saat petugas dari dinas kehewanan lengkap dengan masker dan sarung tangan mengambil satu persatu binatang piaraan milik warga untuk dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng besar. Hingga tiba pada eksekusi kucing-kucing Naila. Namun tak seperti binatang peliharaan warga lain yang begitu penurut ketika dibawa petugas. Kucing-kucing Naila yang semula jinak, berubah menjadi liar dan ganas. Beberapa mencoba mengeong, mencakar, meronta, seakan tidak rela dipisahkan dari tuannya.
‘’Jangan, jangan ambil kucingku.’’ Naila berusaha sekuat tenaga mencoba menghalangi proses eksekusi dengan membentangkan kedua tangan mungilnya di depan petugas.
‘’Biarlah Nak, mereka sementara membawa kucing-kucingmu,’’ kakeknya mencoba membujuknya. Namun Naila bersikeras tetap tak mengijinkan petugas membawa kucing-kucingnya.
‘’Kak Val, mengapa mereka begitu jahat ingin mengambil kucing-kucing Naila. Apa salahku?’’ kali ini suaranya merintih
‘’Percayalah, Bapak-bapak itu tidak sejahat yang Naila pikirkan, mereka hanya ingin mengobati kucing-kucing Naila supaya sehat ‘’
‘’Benarkah kak?’’
Val mengangguk kelu. Val menghapus air mata yang membanjiri pipi mungil Naila.
Meong!!! Seekor kucing berwarna kuning keemasan tiba-tiba lepas dari gendongan petugas dan menghambur ke pelukan Naila kemudian menjilati tangannya seakan ingin mengucapkan salam perpisahan.
“Pergilah pus, nanti Naila pasti akan datang mengunjungi kamu,’’ sesaat Naila memeluk dan menciuminya berkali-kali sebelum menyerahkan kepada petugas. Val benar-benar terenyuh menyaksikan peristiwa ini. Terbuat dari apa hatimu Nai, hingga makhluk-makhluk tak berdosa itu begitu mencintaimu dan ingin selalu ada di sisimu, batin Val. Beberapa saat kemudian truk yang membawa puluhan ekor kucing itu menderu pelan, meninggalkan jejak luka di hati Naila.
Lalu kegetiran melingkupi hari-hari Naila. Kemurungan tampak jelas di wajahnya. Sepulang sekolah atau mengaji Naila lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Tak ada lagi keceriaan atau canda tawa Naila dengan kucing-kucingnya. Tak ada riuh suara berebutan remah-remah ikan asin. Val benar-benar merasa bersalah tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus kesedihannya. Beberapa kali dia menanyakan kabar kucing-kucingnya dan kapan mereka dikembalikan membuat hati Val makin trenyuh. Karena Val tahu untuk mengembalikan binatang yang telah terjangkit penyakit tidaklah mudah. Ingin rasanya Val membawa Nai ke kota, membelikannya beberapa boneka kucing yang lucu atau mug-mug cantik bergambar kucing, sekedar menjadi pelipur hatinya.
Menjelang hari-hari terakhir kepulangannya, tiba-tiba Naila menderita demam tinggi. Val yang mengunjunginya sempat mendengar beberapa kali Naila mengigau memanggil kucing-kucingnya. Naila terlihat sangat merindukan kucing-kucingnya. Kembalikan kucingku, kembalikan! Val menitikkan air mata, tak kuasa setiap mendengar rintahannya. Beruntung setelah mantri desa memberi obat penurun panas, demam Naila sedikit mereda.
‘’Kak, jangan pergi!‘’ Naila menatap wajah Val dengan tatapan sendu. Matanya menyiratkan kesedihan sekan tak rela kehilangan sahabat untuk kedua kalinya. Val mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa dia pasti akan mengunjunginya kembali.
‘’Kalau kakak ke kota, Nai titip salam yah untuk kucing-kucingku. Tolong bilang kalau Naila sangat merindukan mereka.’’ Val mengangguk mantap
‘’ Ini ada hadiah untuk kakak.’’ Naila menyerahkan sebuah lukisan sederahana yang telah dibingkai dengan selembar plastik.
‘’Terima kasih saying.’’ Val memeluk dan mengecup pipi Naila lembut.
***
Val kembali memandangi gambar yang diberikan Nai. Gadis bermata belok dan berambut panjang dikelilingi oleh puluhan kucing, sungguh sangat indah dan terasa hidup. Anak itu benar-benar berbakat menjadi pelukis hebat, batin Val. Tiba-tiba ekor mata Val tertumbuk pada sudut lukisan yang lain. Sebuah titik-titik buram berwarna hitam. Seingat Val titik-titik itu tak ada sebelumnya. Penasaran, dengan sebuah spidol Val menghubungkan titik-titik itu. Deg! Sebuah perasan bergemuruh, seakan tak percaya dengan pengliatannya. Batu bulat memanjang dengan ujung lancip dan sebuah nama tertulis di sana, NAILA, aneh, apa maksud gambar ini. Belum selesai Val berpikir, Roy menyerahkan sebuah surat bersampul coklat susu. Maimunah, Gili Ketapang, Val membaca alamat yang tertera di sampul surat. Keringat dingin membanjiri wajahnya saat membaca kalimat demi kalimat dalam surat itu. Singkat namun membuat kepala Val berputar-putar tak karuan, Naila dan kucing-kucing kesayangannya. Malam jum’at legi. Mungkinkah ini jawaban misteri gua kucing itu? Jantung Val semakin berdetak tak karuan.
Malang, 09 Februari 2012
Keterangan : Topa : sejenis lontong Probolinggo : nama salah satu kota di Jawa Timur Eppak : bapak Ngapote ….Wak lajere ethangale…. Reng majeng tantona la padha mole…. ; Lagu berbahasa Madura Ngejungan : bernyanyi Toksoplasma : semacam infeksi kandungan yang disebabkan oleh hewan peliharaan seperti kucing, kera ataupun anjing. Toksoplasma akan berbahya jika menyerang wanita hamil, karena akan menyebabkan janin yang dikandung menjadi cacat.
Foto Anna, Maria, Venice by danmedhurst.com, diunduh dari flickr.com Doa dalam Sebotol Waktu
Aku tak pintar bikin doa yang merdu
Jadi kumulai doaku dengan “Aku tak bertanya kenapa cuaca begini buruk, Ibu
Tapi beri aku gerimis yang manis
Dalam sebotol waktu
Tegukkan di leher ayahku yang sedang sakit rindu”
Kututup dengan “Amin” sebelum kutitipkan padamu
Lalu kita menunggu
Selagi kemarau gigih meyakinkan kita bahwa langit menyimpan begitu banyak cahaya
Doa kita mungkin akan sampai di sana
Sebagai air mata yang mengental dalam sebongkah mega
Dan masih saja kita menunggu
entah sampai kapan
sampai doa kita pulang bersama hujan
sampai kudengar tawa ayahku dari seberang
sampai kututup doaku dengan “Terima kasih, Ibu” padamu
sementara engkau masih saja bertahan menunggu
di dalam gua batu
***
Seorang Anak di Depan Patung Maria
Tak rela melihat gadis yang dipujanya
Berdiri terus di dalam gua, letih, kurang tidur dan tampak merana
Peziarah kecil datang menyerahkan pensil dan buku tulisnya
Tiap pagi kutulis kata-kata pak guru di sini
Kalau sudah siang dan pak guru mulai membosankan
Aku selalu tertidur di atas buku ini
Tapi kini buku tulis ini untukmu
Agar kau bisa menulis pesanan mereka yang memohon-mohon padamu Agar kau bisa tidur dengan tentram kalau lilin doa dan bunga-bunga Mulai membosankanmu
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.comKabar duka baru saja mengemuka di solo. Diskusi dan bedah buku Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan yang rencananya diadakan di Balai Sudjatmoko sabtu (12/5/12) dibatalkan karena desakan polisi. Menurut kabar, polisi di desak ormas yang menilai diskusi buku tersebut tak layak diselenggarakan dan kemudian mendesak Balai Sudjatmoko membatalkan agenda diskusi.
Sebelumnya secara beruntun kekerasan terjadi di dunia akademik kita. Penolakan bedah buku Alloh,cinta dan kebebasan karya Irshad Manji yang rencana diadakan di Balai Sudjatmoko (8/5/12) dibatalkan oleh LUIS (5/5/12). Kemudian di Jakarta pembatalan diskusi serupa dibubarkan polisi (4/5/12) dan di Yogja pun demikian halnya (9/5/12). Pembubaran maupun bentuk penekanan yang terjadi selama ini lebih didasarkan pada motif arogansi dalam masyarakat kita. Di mana letak kebebasan akademik dan kebebasan menyuarakan pendapat jika diskusi dan dialog sudah dianggap sebagai suatu ancaman.
Kekerasan yang dikedepankan mencerminkan bahwa moralitas akademik sudah tak ada dalam masyarakat kita. Apa jadinya bila bangsa yang berbudaya dan beragama lebih mengedepankan kekerasan? Agama lebih dianggap sebagai momok dan juga monster menyeramkan. Dialog yang menjadi kunci dan ciri orang beragama sudah dilupakan begitu saja. Apa jadinya bila orang beragama lengkap dengan pakaian dan senjatanya hanya untuk menyerang orang mau berdiskusi dan berdialog? Ada kesalahan paradigma yang mendasari mereka melakukan perbuatan tersebut. Sudah sejak jaman nabi-nabi dahulu, dialog dan diskusi adalah strategi yang diutamakan daripada kekerasan dan pedang. Nabi Muhammad SAW adalah contoh yang nyata. Bila diijinkan Nabi Mohamamd SAW, Jibril akan menimpakan Gunung Uhud pada kaum Quraisy, tapi Nabi lebih memilih berdoa agar orang kafir mendapat hidayah. Kekerasan adalah cara yang ditempuh bagi orang yang lemah, kata Gandhi. Maka dialog dan musyawarah dan diskusi intelektual adalah jalan yang mesti di kedepankan.
Sesat pikir
Ada semacam fenomena sesat pikir di kelompok yang mengedepankan kekerasan dan tak sepakat dengan dialog. Iman adalah sesuatu yang mutlak dalam diri, tapi alangkah nistanya bila iman hanya berlandaskan pada dogma dan dalil yang sempit semata. Bukankah sudah ada sejarah para nabi kita yang menggunakan akal untuk mencerna, memahami dan menghayati setiap peristiwa dan ayat tuhan di alam ini. Agama sekali lagi bukan dan tidak mengajarkan pemberangusan apalagi menggunakan cara-cara kekerasan menghadapi diskusi. Diskusi dan dialog semestinya dilawan dengan dialog. Maka harus kita tegaskan bahwa kekerasan dalam dunia akademik di ruang publik melalui bentuk-bentuk pelarangan, penekanan, intimidasi sampai pada tahap pembubaran orang berdiskusi dan berdialog adalah sesat pikir yang mesti diluruskan. Dalil agama mestinya tak disalahgunakan hanya untuk melegitimasi perbuatan mereka. Agama terlampau kotor bila digunakan untuk melegitimasi perbuatan mereka.
Agama semestinya lebih mengedepankan dialog dan juga diskusi intelektual. Bukankah islam pun mengajarkan “katakan kebenaran walau pahit?” Agama apapun pasti tak mengajarkan cara-cara kekerasan dalam menghadapi sesama manusia. Untuk apa beragama bila pedang dan darah lebih dikedepankan daripada perdamaian dan cinta kasih? Bukankah agama mengajarkan demikian? Seorang pemikir anti kekerasan Dom Holder Camara mengatakan dalam bukunya “spiral kekerasan” : “Apapun agamamu, cobalah berusaha agar agama membantu menyatukan umat manusia, bukan untuk memecah belah”. Setidaknya itulah ajaran yang ada juga di agama kita, bukan sebaliknya justru mengedepankan pedang daripada pikiran dan hati kita.
Arogan
Sikap pembubaran diskusi yang ada di Solo, Yogja dan Jakarta adalah bentuk arogansi semata. Hal ini bukan tidak berdasar, melainkan negara kita bukan negara agama. Justru karena negara kita bukan negara agama, mestinya kita menghormati hak-hak orang beragama menjalankan keyakinannya. Apalagi di forum intelektual, bila ingin menggugat, gugatlah dengan cara-cara akademik dan dialog. Bukan dengan membubarkan paksa, pembubaran paksa adalah cara-cara yang memicu kekerasan. Intelektual mestinya sejajar dengan iman. Bila iman tidak bisa diterima dengan rasionalitas maka iman tersebut mestinya diragukan. Oleh karena itu, pembubaran diskusi dan juga bedah buku adalah bentuk arogansi yang mendasarkan pada ego kelompok yang dipicu dengan semangat agama yang melenceng.
Pembubaran diskusi dan bedah buku Irshad Manji dan bedah buku gerwani yang ada di Solo dan Jakarta serta Yogja adalah representasi kematian akademik. Artinya, akademisi dan juga manusia sudah tak lagi mempunyai moralitas dan nalar akademik yang maju. Bila sikap seperti ini masih berkembang dan ada di negeri ini, maka konflik dan juga kekerasan akan semakin rentan terjadi di negeri ini. Persoalan ini hanya bisa diselesaikan dengan menghidupkan kembali ruang-ruang dialog dan juga forum kerukunan umat beragama. Agar nalar akademik dan juga nalar intelektual lebih dikedepankan daripada kekerasan. Kekerasan hanya akan membuat kerukunan makin sulit diusahakan.
Terlebih lagi, dunia akademik mestinya tidak mengembangkan doktrin dan juga pemikiran yang sempit. Kebebasan akademik mesti dikembangkan, kampus mesti mengawali, bahwa setiap pemikiran mesti dihargai dan dihormati. Kita tidak membicarakan pro dan kontra, setuju atau tidak, diskusi adalah cara intelektual untuk mencari dan menemukan kebenaran. Bila tidak demikian, maka ilmu dalam dunia akademik kita tak lebih dari sekadar doktrin dan dogma semata. Kampus itulah yang mesti mengawali, kasus di UGM adalah peristiwa yang mencoreng dunia akademik kita.
Jika kampus yang semestinya menjadi corong dan gerbong untuk ruang akademik dan kebebasan akademik sudah memiliki pemikiran yang sempit. Maka ini adalah tanda bahwa lelayu akademik itu sudah ada di dunia akademik dan ruang publik kita.
*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhamadiyah Surakarta, bergiat di Bilik Literasi Solo, mengelola Kawah Institute Indonesia
Cerita Bersambung Martin Siregar Bagian 9 Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcomWaktu berjalan terus. Tak ada seorang pun manusia yang mampu menghentikan lajunya perjalanan waktu. Dan, waktu yang telah berlalu tak bisa terulang kembali. Pertemuan sore hari di rumah Susanti memberikan kemampuan Tigor dan Mikail merefleksikan persahabatan mereka. Keduanya merasa perlu mengembalikan kondisi persahabatan mereka seperti sedia kala. Tetap dengan intensitas perjumpaan yang padat sambil mengulas persoalan-persoalan filosofi untuk melengkapi kerangka berpikir konstruktif struktural. “Belakangan ini aku sudah tak pernah lagi membaca buku dan menulis opini.” Tigor menyesali hari-harinya yang terbuang dengan sia-sia.
“Aku juga sering berangan-angan belakangan ini. Mengerjakan apa saja pun aku malas,” kata Mikail. “Okelah,.. besok kujemput kau pulang kuliah. Mari kita jalan terus sampai larut malam, mengulang apa yang selama ini kita lakukan.”
Jalan bersama sampai larut malam, nonton bioskop, Tigor nginap di rumah Mikail ngobrol panjang tentang banyak hal, membuat kehangatan persahabatan mereka kembali lagi bersemi. Ibu Mikail senang sekali melihat Tigor kembali lagi sering nginap di rumah mereka. “Kemana selama ini Gor,” Ibu menyapanya. “Ingatkan Mikail supaya tetap serius menyelesaikan kuliahnya. Ibu takut penyakit lama Mikail kambuh lagi dan kuliahnya berantakan.”
“Iya,..Bu.” Tigor sudah merasa ibunya Mikail adalah ibunya juga. Karena perhatian keluarga Mikail kepada Tigor tak ada bedanya dengan ibunya sendiri. Mau mandi, mau makan atau mau tidur di kamar Mikail seenaknya saja Tigor kerjakan. Sudah macam rumah sendiri.
Acara makan pisang goreng di rumah Susanti pun rutin diselenggarakan, serta sikap Mikail menunjukan usaha-usaha mengisi suasana percintaannya bersama Susanti. Persahabatan tiga serangkai bersemi lagi.
***
Ucok ditugaskan FDP untuk mengirim proporsal ke Sabidoar Foundation. Armand dapat tugas menyusun daftar kebutuhan sekretariat dan mekanisme internal kelembagaan bersama Ucok dan Ningsih. DR Pardomuan mengurus badan hukum FDP sekaligus membuka nomor rekening Yayasan FDP. Agar (seandainya) Memorandum of Understanding bulan Juni mendatang jadi ditandatangani, persiapan institusionil FDP sudah mantap. Karena melihat latar belakang perkenalan FDP dengan Sabidaor Foundation adalah kontak person bersama direktur pelaksana Sabidaor, lantas membangun hubungan emosionil melihat kunjungan Mukurata yang terus menjalin kontak respondensinya, maka peluang FDP mendapat dukungan dana dari Sabidaor tidak diragukan lagi. Seluruh warga FDP tidak terlalu khawatir proporsal mereka ditolak oleh Sabidaor Foudation.
***
Dua bulan lagi Anita Theresia dibaptis menjadi suster, setelah 3 tahun berdiam di biara Katolik Tantangun. Tapi, perasaannya sangat gundah gulana. Perkenalannya 6 bulan yang lalu dengan pemuda Johan Niskeno kaya raya pejabat pemerintahan Trieste mengguncangkan sikapnya yang ingin mengabdikan diri seumur hidup untuk gereja katolik. Kegigihan Johan tak mengenal kata mundur sambil terus menunjukan perhatiannya yang sungguh mempersunting Anita, ternyata berhasil meluluhlantakkan hati Anita. Pada akhirnya, Anita lebih memilih menjadi istri Johan Niskeno dari pada bertahan hidup di biara. Semua pihak terpukul dan marah terhadap komitmen Anita yang goyah gara-gara Johan. Sempat juga keluarganya berhasrat membatalkan maksud perkawinannya. Tapi, berkat usaha keluarga Johan Niskeno melakukan pendekatan kekeluargaan akhirnya perkawinan mereka dibaptis di gereja kristen protestan.
Hidup gemerlapan sebagai istri Johan Niskeno yang hidup mewah, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan biara — tidaklah membuat Anita Theresia lupa daratan —-. Karakter yang dibangun selama berada dibiara tetap dipeliharanya sampai saat sekarang ini. Hanya Mikail Pratama anaknya yang butuh perhatian khusus . Sedangkan ketiga anaknya Rini Anggelina, Yayuk Astuti dan Jimmi Rocky, sudah dapat berjalan dengan baik tanpa kontrol yang ketat dari beliau. Dan, walaupun sekarang sudah beragama kristen protestan, tapi ibu Mikail masih tetap melakukan meditasi katolik yang diajarkan di biara. Beliau sangat takut kehilangan hati nurani akibat kondisi ekonomi keluarganya yang berkelimpahan. Cinta yang tulus kepada sesama umat manusia juga dirasakan Tigor bekas anak brandalan itu: Tigor, kalau uang kiriman dari kampung belum datang dan kalau perlu uang minta sama ibu ya… Tak usah malu malu. Ibu sudah menganggap dirimu adalah anak sendiri,” Ibu berkata lembut kepada Tigor. “Iya..bu” Tigor juga sangat mengasihi ibu Mikail. Beberapa saat kemudian. “Sebenarnya ibu khawatir kalau saja dana program yang didukung Sabidaor jadi dilaksanakan. Ibu khawatir kuliah kalian jadi teganggu.” Ibu nampak cemas mendengar rencana kerja FDP.
Kalau istri DR Pardomuan dan Arben Rizaldi hanya tahu mengejek kegiatan ayahnya bersama FDP, tapi ibu Mikail memonitor segala jenis kegiatan anaknya dengan baik. Seluruh perkembangan kegiatan anaknya dipahaminya secara mendalam. “Tidak…tidak usah ibu kawatir.” Justru program kerja yang dibangun oleh FDP akan mendukung perkuliahan kami. Bahkan akan memberi kami nilai plus karena di saat kawan-kawan masih belajar teori kemasyarakatan, kami sudah mempraktekannya.” Mikail memberi argumentasi menolak pendapat ibunya. “Yah,…semoga sajalah.” Ibu lebih banyak melihat sejarah orang yang bekerja di masyarakat, sementara kalian masih ingin membuat sejarah. Percayalah terhadap ucapan ibu.” Kemudian ibu pergi kekamar meninggalkan Mikail dan Tigor makan malam. “Selamat malam,” kata ibu yang kelihatan susah.
“Aku pikir ucapan Ibu tadi perlu kita renungkan dengan serius. Nampaknya dia tidak main main.” Kondisi Tigor agak tegang waktu masuk ke kamar Mikail.
“Ah! Tak usah terlalu kau pikirkan. Ibu itu kayak post power sindrom, apa yang ingin dilakukannya pada masa muda gagal semua. Mungkin akibat perkawinan dengan ayah. Mana mungkin mimpi calon seorang suster dapat terfasilitasi dalam kehidupan berumah tangga,” Mikail mencoba menganalisa sejarah hidup ibu. “Nah! Justru karena itu aku yakin analisanya tak meleset.”
Mikail pikir, beban Tigor merenungkan kata-kata ibu semakin berkurang setelah Mikail menjelaskan latar belakang ibu. Ternyata Tigor semakin percaya sama ucapan ibu.
“Mikail aku berharap skripsi sarjanaku judulnya ‘Gerakan Petani dalam Konteks Kekuatan Hukum di Trieste’. Walapun kita bikin skripsi 2 tahun lagi, tapi aku punya komitmen untuk tulis skripsi dari program FDP,” kata Tigor sambil berbaring menarik bantal. Rokok dihisapnya kuat-kuat dan, “Kapan lagi perguruan tinggi memaparkan aspirasi masyarakat kelas bawah secara orisinil dan ilmiah”.
Mikail terperanjat, dia tak sangka bahwa renungan Tigor sudah sedalam itu. “Aku dukung pikiranmu, Gor,” Mikail bersemangat. “Iya…bulan Juli mendatang aku tidak tidur di kamar kost lagi. Aku akan tidur di rumah kelompok tani yang menjalankan program kita.” Kembali lagi Mikail terkejut, “Jadi, kau tak kuliah? Nanti tak bisa ujian.” Mikail semakin khawatir membayangkan keberadaan kawannya Tigor. Sudah jenuh sekali rupanya Tigor dengan kondisi kampus. Padahal, status seorang mahasiswa sangat terhormat di tengah-tengah masyarakat Trieste. Sebuah status yang disejajarkan dengan masyarakat lapis atas. Mahasiswa adalah kaum elite di masyarakat.
“Aku hanya titip absen saja sama kawan-kawan. Karena masuk perkuliahan itu tak ada ilmunya. Lebih baik kita baca buku wajibnya di rumah. Kemudian kita singkatkan buku itu, agar intisari bukunya dapat kita pahami. Masukan dari dosen ketika kuliah sama sekali tak ada. Jadi, percuma saja kuliah isi absen.” Tigor tarik lagi rokok kreteknya sekuat tenaga. Mikail terdiam tak bisa bilang apa-apa.
“Gor,.. Melihat kedekatanmu dengan keluarga kami, maka layaklah kami turut bertanggung jawab atas perkuliahanmu di hadapan keluargamu di Pangkoper. Apa yang kami bilang ke keluargamu kalau kuliahmu gagal?”
Mikail kelihatan panik memperhatikan Tigor yang seenaknya baring sambil tetap merokok.”Tak usah khawatir, aku akan langsung sampaikan maksudku ini ke kakak Rosita Dameria. Aku yakin dengan gampang keluargaku bisa mengerti,” kata Tigor dengan tenangnya.
“Justru aku tak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini ke ibumu. Dia bukan basa basi mengasihi aku. Kau dibelikannya kaos t-shirt yang cantik, aku juga dapat. Kita dua sudah tak dibedakannya. Aku takut mengecewakan beliau.” Tigor buka bajunya, diambilnya celana pendek Mikail dan dinyalakannya rokok untuk kesekian kalinya. Lantas keduanya terdiam. Sebuah persoalan besar mendominasi pikiran mereka.
Biasanya mereka menghabiskan malam bersama suara tape yang tiada henti. Tapi malam ini situasi diskusi cukup serius, seolah musik tidak boleh terdengar. “Okelah..Gor, aku tidur duluan.” Mikail peluk bantal guling dan melapis tubuhnya dengan selimut tipis membiarkan Tigor berbaring dengan isapan rokok kretek. Rokok para dukun kata kawan-kawan mereka.
RetakanKata – Mengingat jangka waktu ‘Menulis Opini Dapat Pulsa‘ sebelumnya sangat pendek (hanya 3 hari), saya memaklumi kesulitan rekan-rekan RetakanKata dalam membuat tulisan. Untuk menebus ‘dosa’ tersebut, maka sekali lagi RetakanKata menyelenggarakan sayembara menulis opini dapat pulsa lagi. Hadiah tetap sama, yaitu tulisan pertama terbaik mendapat pulsa Rp 100.000,- dan dua tulisan terbaik berikutnya mendapat pulsa Rp 50.000,- Jadi jangan sampai lupa mencantumkan nomor hape ya!
Ketentuan sayembara sebagai berikut:
Tema: ABORSI
Panjang tulisan: minimal 1 lembar A4, dengan huruf Times New Roman, spasi 1,5, margin 3 atas, 3 kiri, 2,5 kanan dan 2,5 bawah. Maksimal 2 lembar A4.
Menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD
Jika ada referensi, kutipan dan daftar pustaka, maka harus mencantumkan sumber-sumbernya. Sumber referensi tidak boleh mengambil dari wikipedia.
Batas waktu kirim artikel 3 Juni 2012 pukul 00.00 WIB
Cantumkan identitas pengirim secukupnya dan mudah dihubungi.
Pemenang adalah yang artikelnya dimuat pada minggu berikutnya (tanggal 10 Juni 2012)
Gerundelan Ragil Koentjorodjati Gambar diunduh dari bp.blogspot.comJauh hari sebelum tahun 2012, sudah banyak pihak mempertanyakan sikap pemerintah terkait dengan kekerasan atas nama agama. Anda bisa mengunakan alat pencari google untuk menemukan berbagai pendapat dan pandangan para tokoh, mulai dari akademisi seperti Anies Baswedan, Benny Susetyo, Magniz Suseno, tokoh-tokoh mahasiswa, dan berbagai organisasi LSM. Intinya sama, mempertanyakan sikap pemerintah terkait kekerasan atas nama agama. Puncaknya –jika boleh disebut demikian- pada bulan Mei 2011 Komisioner PBB untuk Hak-hak Asasi Manusia, Navanethem Pillay, menyurati pemerintah Indonesia, menyatakan keprihatinan mereka terhadap peningkatan jumlah laporan mengenai kekerasan terhadap kelompok keagamaan minoritas di Indonesia. Surat keprihatinan terhadap kekerasan atas nama agama dan sekaligus keprihatinan terhadap respons pemerintah yang dinilai kurang memadai. Dan kita tahu, sampai hari ini, tidak ada perkembangan signifikan menuju ke arah yang lebih punya harapan. Kekerasan masih terus berlanjut bahkan cenderung meningkat. Dari laporan media massa, sudah lebih dari 65 kasus kekerasan dalam waktu setahun terakhir, belum ditambah dengan kekerasan yang tidak terpublikasi media.
Tirani Minoritas.
Ada satu pemikiran yang berkembang bahwa kekerasan terjadi karena provokasi dari minoritas. Dalam konteks negara demokrasi, tirani minoritas tidak diijinkan terjadi. Demokrasi ala ‘suara rakyat suara Tuhan’ merujuk pada suara terbanyak untuk mengambil sebuah tindakan pada level pragmatis kemasyarakatan. Dengan menggunakan label agama mayoritas, maka pemahaman makna ‘minoritas’ terbatasi pada terminologi ‘bukan islam’. Pada titik ini, ada banyak pertanyaan yang timbul karena pemikiran tersebut menuntun pada arah yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris.
Berdasarkan data BPS tahun 2010, dari jumlah penduduk sebanyak 237, 6 juta jiwa, sebanyak 207,2 juta jiwa (87,18 persen) mengaku beragama Islam, 16,5 juta jiwa (6,96 persen) beragama Kristen, 6,9 juta jiwa menganut agama Katolik (2,91 persen), 4 juta penganut agama Hindu (1,69 persen), 1,7 juta penganut Buddha (0,72 persen), 0,11 juta penganut Konghucu (0,05 persen), dan agama lainnya 0,13 persen.
Sumber data lain menunjukkan bahwa sebagian besar Muslim adalah Suni. Dua organisasi massa Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, diperkirakan mempunyai lebih dari 40 juta dan 30 juta pengikut Suni. Sekitar satu juta hingga tiga juta adalah Muslim Syiah. Dalam jumlah yang lebih kecil lagi mencakupi al-Qiyadah al-Islamiya, Darul Arqam, Jamaah Salamullah, dan pengikut Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII). Dalam skala yang lebih kecil, Ahmadiyah –yang mana status keislamannya masih dipersoalkan beberapa pihak- memiliki anggota sekitar 400.000. Ahmadiyah ini terdiri dari dua kelompok yaitu Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore.
Agama lain, agama yang belum diakui pemerintah sebagai agama resmi, mencakupi berbagai agama asli suku-suku di Indonesia dan lebih dari 200 aliran kepercayaan di seluruh penjuru nusantara, diperkirakan memiliki lebih dari 300.000 pengikut.
Jika mengacu pada model demokrasi ‘suara rakyat suara Tuhan’ dengan jumlah suara mayoritas sebagai acuan kebijakan, maka jumlah suara yang menginginkan kebebasan beragama tanpa kekerasan, secara statistik jauh lebih banyak dari aliran minoritas yang memaksakan kehendaknya. Sebab sikap aliran minoritas yang melakukan penyegelan gereja, menurunkan patung Budha dan melakukan tindakan anarkis berlabel agama di berbagai tempat, bukan representasi valid sikap mayoritas Islam secara keseluruhan. Logika tirani minoritas yang selama ini diarahkan pada penganut agama selain Islam, pada kenyataannya berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di lapangan.
Pemerintah, Negara dan Agama.
Secara singkat, hubungan negara dan agama dipedomani sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan mengatakan bahwa cantuman ini klise dan sudah kuno, sebab pada kenyataannya sila itulah yang ada di Pembukaan UUD’45. Sila itulah yang memberi pedoman bahwa Indonesia bukan negara agama. Sila itulah yang memberi pedoman pada pemegang kekuasaan bahwa semua agama dan aliran kepercayaan berhak menjadi anak kandung bangsa Indonesia. Secara sederhana, Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna spiritualitas –kualitas hidup batin yang merujuk pada keyakinan akan Tuhan dan kemanusian- adalah nomor satu bagi seluruh penghuni rumah bernama Republik Indonesia, apapun jalan yang ditempuh menuju spiritualitas itu.
Merujuk pada pemahaman di atas, fungsi pemerintah adalah mengeksekusi tataran ide tersebut sehingga menjadi sesuatu yang konkrit di masyarakat dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Akuan pemerintah atas keenam agama resmi, absennya pemerintah dalam berbagai tindak kekerasan atas nama agama dan penguasaan atas akses-akses beragama atau akses menuju manusia Indonesia berspiritual, adalah bukti-bukti nyata kegagalan memahami makna sila pertama Pancasila oleh seluruh komponen pemerintah, terutama aparat penegak hukum dan aparat Kementerian Agama. Mengapa dua entitas ini? Sebab dua entitas inilah yang berinteraksi langsung dengan segala persoalan keagamaan di tataran masyarakat. Mereka gagal memisahkan antara kepentingan pribadi, agama dan negara. Gagal memedomani Pancasila sebagai cara pandang bangsa Indonesia. Gagal memahami agama yang dianutnya dalam konteks keberagaman kehidupan berspiritual di Indonsia.
Dampak dari berbagai kegagalan tersebut, tidak saja mewujud pada ketidakpedulian atas konflik yang terjadi di masyarakat, tetapi juga malah mengekploitasi konflik demi konflik untuk kepentingan pribadinya. Agama dijadikan kendaraan untuk memenuhi berbagai ambisi pribadinya.
Lantas Bagaimana?
Sudah jamak dipahami bahwa beragama adalah salah satu jalan menjadi manusia spiritual. Mayoritas warga bangsa menginginkan semangat hidup bersama dalam damai dan tolong menolong. Standar minimal yang harus diterapkan pada aparat pemerintah adalah tidak membiarkan berbagai kekerasan dan konflik bernuansa agama terus terjadi. Aparat pemerintah minimal memahami tugas pokok dan fungsinya menyelenggarakan kepemerintahan yang sehat dan transparan. Transparan dalam arti keterbukaan terhadap segala akses bagi warga bangsa untuk memperoleh hak-haknya. Sehat dalam arti tahu diri sebagai orang yang digaji oleh para pembayar pajak yang mana kontribusi nominalnya didominasi orang tidak beragama Islam. Sehat berarti juga mampu menempatkan diri sebagai anggota masyarakat majemuk dengan atribut keagamaannya dalam wadah warga bangsa sebagaimana kutipan ‘Islam 100% dan Indonesia 100%’. Tentu saja tidak hanya Islam, tetapi juga aparat-aparat yang beragama lain.
Pada tataran ideal, tentu kita harus bersepakat kekerasan -atas nama apapun- tidak pernah menyelesaikan persoalan. Untuk itu, mengembalikan Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara adalah mutlak. Dengan memedomani Pancasila, negara mengakui semua agama memiliki hak hidup yang sama sekaligus memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk mencapai kehidupan spiritualitasnya masing-masing. Oleh sebab itu, pemerintah tidak bisa membuat aturan main sendiri yang bertentangan dengan Pancasila. Apapun agama atau kepercayaannya, hak-hak sipil harus dipenuhi, tanpa meninggalkan koridor apa yang kita sebut sebagai tindak pidana.
Puisi Karen Kamal* gambar diunduh dari x1a.xanga.com
Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Kita lupa kapan pertama kali bertemu
Tapi kita tak terpisahkan
Layaknya detik mengikuti menit, menit mengikuti jam
Kau berdiri menghadap si pencatat waktu saat rindu menerjang,
agar bayangan tetap memanjang
Lelah dan air bening di kening jatuh berlomba-lomba pada pipi seperti air mata
Dalam waktu 3 bulan kau bentuk hati dalam rongga dada yang sudah retak
Menghidupkan kembali bayangan berbadan manusia hingga mengisi jarak di antara jari-jarimu
membalas senyumanmu seperti sedang bercermin
selalu menciummu seperti kesetanan
Bayangan selalu menggerutu dan mengumpat pada naskah-naskah tak berjudul yang menggerogotinya
Mereka tak bedanya belatung pemakan mayat busuk
Kau diam dan mendengar — tak pernah marah
Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Sekali-kali ucapkan namamu dengan lantang karena semua bayangan punya tuan yang bernama
Ia juga akan setia pada tuannya
Karen Kamal: seorang pelajar yang sedang bergelut dalam industri start-up. Menghabiskan hari-hari dengan pergi ke kampus, les, dan browsing sambil ditemani secangkir kopi. Kontak: hello@karenkamal.com