Arsip Tag: rongga

Engkau dalam Lima Elemen

Puisi John Kuan

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Jika kau adalah mimpi, bagai api di sumbu
lilin, cahayamu di kaca jendela menjilat embun beku.
Jika kau adalah api, mata hangat, nostalgia mendidih,
udara kamar menggelegak, bara cengkeh berdesis
di antara bibir. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah api,
petir, guruh, lintang kemukus, setitik lampu tidak sengaja
terbuka di satu sudut badai, mimpi menyala

Jika kau adalah mimpi, bagai air mencair di dasar
tempayan musim semi, selamatkan dahaga seekor burung sesat.
Jika kau adalah air, sepenuh rongga tubuh, bawa perahu
ke lengkung teluk, hujan menjelang subuh, menetes tembus
buah rindu. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah air,
salju, sungai, kelenjar, uap, setetes kafein di petang senyap
mengapungkan serpihan waktu, mimpi hanyut

Jika kau adalah mimpi, bagai logam di tungku
ingatan, melebur setiap partikel giwang rebah di bantal.
Jika kau adalah logam, sebuah hati emas, setua bumi
gantung di lekuk leher, mendekati jantung, cakram rem
di tikungan maut. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah logam,
rambut perak, kulit tembaga, jarum dalam tumpukan jerami
cahaya mata seribu satu malam, mimpi memuai

Jika kau adalah mimpi, bagai kayu seranting
bunga plum, makin dingin makin pecah kecambah.
Jika kau adalah kayu, suara bakiak tersenyum di ujung lorong,
empat kaki meja, satu bangku di stasiun terlantar, selembar kertas
tertulis rapi. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah kayu,
duri mawar, inang benalu, pijar batubara, menunggumu sejajar
di luar garis lingkaran tahun, mimpi membatu

Jika kau adalah mimpi, bagai tanah penuh
debu cinta, diterbangkan angin hasrat ke ladang-ladang kekal.
Jika kau adalah tanah, segel sebuah fosil di antara bibir,
jejak kaki hujan, aroma lumpur musim semi, rawa ilalang
persembunyian angsa liar. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah tanah,
bejana, malam savana, pagi tundra, sungai-sungai mengalir
lewat, aku mengayuh sampai di jendelamu, mimpi tumbuh

Siapa Namamu?

Puisi Karen Kamal*

cinta buta
gambar diunduh dari x1a.xanga.com

Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Kita lupa kapan pertama kali bertemu
Tapi kita tak terpisahkan
Layaknya detik mengikuti menit, menit mengikuti jam
Kau berdiri menghadap si pencatat waktu saat rindu menerjang,
agar bayangan tetap memanjang
Lelah dan air bening di kening jatuh berlomba-lomba pada pipi seperti air mata
Dalam waktu 3 bulan kau bentuk hati dalam rongga dada yang sudah retak
Menghidupkan kembali bayangan berbadan manusia hingga mengisi jarak di antara jari-jarimu
membalas senyumanmu seperti sedang bercermin
selalu menciummu seperti kesetanan
Bayangan selalu menggerutu dan mengumpat pada naskah-naskah tak berjudul yang menggerogotinya
Mereka tak bedanya belatung pemakan mayat busuk
Kau diam dan mendengar — tak pernah marah
Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Sekali-kali ucapkan namamu dengan lantang karena semua bayangan punya tuan yang bernama
Ia juga akan setia pada tuannya

Karen Kamal: seorang pelajar yang sedang bergelut dalam industri start-up. Menghabiskan hari-hari dengan pergi ke kampus, les, dan browsing sambil ditemani secangkir kopi. Kontak: hello@karenkamal.com