Arsip Tag: puisi

Udara, Air, Tanah, Api

Puisi Binandar Dwi Setiawan
 

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Udara

 
kekasih, mata belumlah terhalangi dari melihat
terlunta aku dibelantara, kehilangan makna ku mencakupnya
percakapanmu itu terlalu berwibawa bagiku
secuilpun tak engkau rasa ketakterbenakkan yang merajam setiap titik bagian tubuhku
aku mampu saja membagi kepadamu, aku tidak mampu saja membagi kepadamu
jatah, curahan, mengapa menyanggahnya terus menerus
pintu yang mana yang terbuka jika seluruhnya adalah kungkungan dinding tek tertembuskan
cobalah rasakan kesakitan yang mendalam ini
cobailah hembusan dinginnya saja, niscaya eranganlah nafasmu yang engkau anggap gagah itu
aku tak sedang meragukanmu, tapi kebodohan merangkumku, menodong syairku maju
dan tangan diatas tangan diatas nada diatas tangisan diatas keperihan
diatas apa yang engkau tak bakal sanggup menanggungnya
ketika hari itu tiba, niscaya menyapaku pun engkau segan sepenuhnya jiwa
sebenarnya engkau tak pernah mengenalku
menangislah, menangislah saat ini juga, aku menuntutmu, aku memaksamu!
kawan yang terdekat, aku melihat samuderamu sebagai hitam tanpa arah, gelisah, memekak
dan enak saja engkau mengklaimnya sebagai yang membeningkan..!
bukan tentang konsep, bukan tentang prosedur, bukan tentang bagaimana yang seharusnya
wahai yang seluruh perhatianku tertuju kepadamu, aku tak memintamu menuruti
aku tak memintamu jadi ini itu, dan teruslah berusaha membunuhku
berjanjilah untuk terus berdiri… engkau dengar itu..!!!
erangilah keperihan yang membusuk di pucuk pucuk daun tua ini
sudah kusampaikan kepadamu, dan sudinya kekosongan membakar
dan ketidakmungkinan padamu melekat selekat diri
kekasih, aku ulangi lagi, mata belumlah terhalangi dari melihat…
 

Air

 
habis sudah cerita tertulis
tinta mengental atau kering, aku tak peduli lagi
akulah yang menghabisinya, mengembalikannya kepada asalnya
identitas yang paling menyala yang tak terhentikan yang marah
 
maukah engkau disampingku untuk menelisik lebih dalam lagi
sebab tak kutemukan lagi apa yang dulu sering terbuka bagiku
di kerincian gelas gelas itu tak kutahu apakah udara atau tanah
apakah air atau api, yang mana yang memfrustasikan kelahiran gelas
ketika tidak ada yang terputus, ketika itulah pencarian terhentikan, dan mawar menyemburkan darah
 
pastilah ini bukan perasaan
sebab tidak kulakukan kecuali menghindar
kehendakmu menantangku, bukan hanya untuk siapa yang akan pergi
setiap molekulku adalah kesalahan yang takkan pernah memungkinkan perbaikan
maka jangan heran dengan semua keherananku, biarkanlah aku maju
sebab akulah pemilik seribu jurus dari seribu jurus yang ada
definisi pun tak mendeklarasikan akanku
ketika penalaan selalu saja terjadi pada setitik saja bentukan benakku
maka lebih agung aku mati, agar aku tak terkait dengan apa yang memang sesungguhnya
tak pernah terkait padaku, sekali saja jangan menoleh kearahku
bukan aku pelakunya, bukan aku tersangkanya, bukan yang berbuat aku
ketika ini hanyalah sebuah koma, bukan kata atau kalimat
hatimupun terpaksa mengernyit dan bertapa dalam semedi yang harusnya milikku
percayakah engkau sedangkan aku percaya
seluruh tentangmu pun akan terbenarkan
bukan dimulai dari saat ini atau telah ada sejak dulu
tapi karena memang seperti itulah yang kejadian inginkan….
 

Tanah

 
Aku ingin lebih tidur dari ini
Berkipasnya udara memanjakan daya
Dan terus bertambah kekuatan tanpa pusat tanpa batas
Aku ingin lebih tidur dari ini, saja
 
Aku ingin engkau lebih menginjakku, lebih melukaiku, lebih menyakitiku. dan sah bagimu bila hendak menguliti luka per luka disekujur rasaku. atau cahaya yang mencegahmu, atau kegelapan yang memberhentikanmu. bolehlah aku terjatuh dari atap langit mengabadikan kealpaanku akan kejatian dirimu yang keseluruhannya cakrawala tergetar betapa setianya aku kepadamu. termabuk aku mengungkap sari, dan ini benar bahasaku. yang tak menuntutmu untuk tahu, hanya aku yang menyertaimu dalam segala jenis predikat. merebut sepenuhnya dirimu dalam pola yang mustahil untuk engkau pahami. merasuki, menjadikan aku sebagai engkau. hingga terasakan olehku segala yang menimpamu. pergi menghilanglah semiliar citra pagar dan batas. berada diantara kepenjaraan dan kebebasan, aku syahdu menari pada kesemuanya gerakan, tertabuhkan oleh tangisan dan tawamu. oleh segala rupa ambiguitas. makna makna pun akhirnya berseliweran, menyalami satu per satu keanggunan tegak berlakunya kejadian. siapa yang membingkis ini menjadi sedemikian indahnya.
 
Aku ingin menceritakan kepadamu, betapa keadaan ini tak pernah bertopeng
Bahwa aku bersedih seketika kebahagiaan tiba, bahwa aku bahagia seketika kesedihan tiba
Maafkan aku jika memilih membahagiakanmu esok hari, daripada melukaimu saat ini
Sempurna
 

Api

 
jangan lukiskan aku dengan kemarahan dan nada yang tak berimbang
telah kucuri dari kalian semua, sesuatu yang tak kalian tahu dalam keberhargaannya
dengan itulah kehidupanku, dengan itulah sempurnaku, dengan itulah aku sang aku
dan memang akan selalu beginilah samaranku melengkapkan yang tak lengkap
aku berani menyandang sifat ini, meski itu menutup kesempatan akan sebuah percakapan
sampaikan salamku pada segala kedambaan yang kurelakan
kepada kesucian cahaya ketika putih adalah terang, pada agungnya pertumbuhan yang tak tertetesi keangkuhan
menjadi keberhakan atasnya menyentuhku, dia yang kekejamannya tak pernah terpahami
wajarlah aku bertanya bilamanakah dua cawan satu permadani teradakan kembali
untukku bersyahdu dengan diriku sendiri
mengenalkannya pada identitasnya yang sebenarnya
bahwa tak apalah buah berbeda bentuk dengan akarnya, tak apalah tak semuanya terjawab
maka dengankulah keberputaran berlangsung, keseimbangan tersakralkan
syarat menjadi kenyataan yang samar, membiarkan bersebaran pandang demi apa yang dipesanggrahan mata
bukan hendak mempersulit segalanya, aku hanya ingin meletakkan segala sesuatu pas sesuai pada tempatnya
maka beginilah adanya dalam keseharusannya…

Desember Debu Kelabu

Puisi Anwari WMK

burung pipit
gambar oleh Anwari WMK

Bertengger di reranting pohon
Seekor burung bernyanyi
Senandungkan lagu ihwal
Desember mendebu kelabu

Nyanyian adalah tanda
Tentang suka cita jiwa
Untuk selarik makna
Nikmat mereguk fana

Sukma kian tercabik dingin
Desember mendebu kelabu
Seekor burung di reranting pohon
Hanya dimampukan takdir
Senandungkan tembang pilu

Hingga senja menjelang
Burung itu masih bernyanyi:

“Tak ada perih lebih sembilu
Dari Desember mendebu kelabu
Tak ada pedih di atas nyeri
Dari Desember mendebu kelabu”

(Desember 2012)

Tukang Cuci, 1932

Puisi John Kuan

1932
gambar diunduh dari laman fesbuk John Kuan

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan airnya berpijar keluar
1932, berpijar keluar air kotor sejarah.
Seandainya kau ikut airnya berjalan
ke bawah, mungkin akan bertemu
kincir angin, ampas tebu, mesin giling,
pabrik gula, atau seekor bangau putih
simpan sayap, tutup mata, berdiri satu kaki
istirahat, di atas sebongkah batu bertulis
seperti nisan, seperti prasasti: Phoa Beng Gam

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera
Derap delman lewat, deru oto lewat, gemeretak
roda gerobak, lonceng sepeda. Di dalam gelak
tawa tukang cuci ada busa sabun, keringat basi,
aroma kopi. Di tangan mereka setiap debu
kerah jaman dibilas putih kembali, begitu cepat
seolah tidak bergerak, ketika kau buru-buru
menoleh lihat air merembes keluar 1648
keruh, bau, mampat di dalam bingkai ingatan.

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan dirimu menyusuri cahaya pagi
keluar, tidak lama, kau akan melihat panggung itu
semua topeng dan dekorasi telah dilepas,
yang terlibat ( sutradara tiga, empat orang,
tata lampu satu orang, penulis naskah tidak jelas )
siap siaga, setiap saat bisa dinyalakan.
Bau hangus berputar di dalam lingkaran tahun
tiang-tiang jati gosong, pemain utama sesat
di dalam sebuah notulen rapat: Ni Hoe Kong

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera.
Bertugas monolog berdiri di depan, seperti membaca
sebuah puisi; mimik, hematku, secukupnya saja.
Musik latar, diatur sesuai kecepatan memori
Angin meniup turun beberapa derajat, mengerutkan
permukaan kanal, sepenggal ekor dialog melayang
keluar: seluruh penghuni pecinan telah dibantai!
Dari sebuah bingkai jendela 1740, cahaya lilin
berkedip lewat 1998, masuk menerangi
lubang telinga lembab berjamur

Perawi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di Portland yang dingin, sepasang gagak
               menolak menjadi angin. Matamu tersedak
mencari langit yang lain. Fajar musim semi
                 mematuki embun di putih kuntum cherry.
Hitam paruh gagak mengepak ke batang
               pohon oak. Kuning napas waktu merayap
di kerah jaketmu. Matamu telah terjepit
               di ruang tunggu. Derit kereta menjemput
jerit gagak. Para penumpang menjemput
               jerit yang lain, senyap yang lain. Tak ada
angin akan menjemput hitam sayap gagak
            ke hijau bukit itu. Sebuah teluk terbentang
ke dalam matamu. Kausesap bau ombak
               dengan kulitmu. Kautangkap jerit senyap
dengan bibirmu. Langit menjadi lidahmu.
foto yulden erwin
Foto diambil dari album Ahmad Yulden Erwin

*Perawi: orang yang menyampaikan kabar bahagia.

Kwatrin Musim Gugur

Setelah mendapat contoh puisi bentuk tanka, kali ini RetakanKata menampilkan puisi bentuk kwatrin yang diambil dari buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad.

(1)

Di udara dingin proses pun mulai: malam membereskan daun
menyiapkan ranjang mati.
Hari akan melengkapkan tahun
sebelum akhirnya pergi.

(2)

Kini akan habis matahari
yang membujuk anak ke pantai.
Tinggal renyai.
Warna berganti-ganti. Dan engkau tak mengerti.

(3)

Pada kalender musim pun diam.
Pada kalender aku pun bosan.
Di bawah daun-daun merah, bersembunyi jejak-Mu singgah
Sunyi dan abadi. Musim panas begitu megah.

(4)

Kabar terakhir hanya salju.
Suara dari jauh, dihembus waktu.
Kita tak lagi berdoa. Kita tak bisa menerka.
Hanya ada senja, panas penghabisan yang renta.

 

 

Autumn Quatrains

(1)

And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,
making the death bed.
Day will end the year
befor it finally departs.

(2)

Soon it will die,
the sun that herds children to the beach.
Leaving only drizzle.
Shifting colors. And you do not understand.

(3)

On the calendar the season is mute.
Even I am bored with the calendar.
Beneath the red leaves, Your footprints are buried,
still and unchanged. The summer was so great.

(4)

The latest news is snow.
A distant murmur, ushered by time.
We pray no more. We fail to know.
We have only dusk, the worn-out final heat.

 

 

(Diambil dari Goenawan Mohamad: Selected Poems)

 

 
Membaca puisi yang lain:
September Suatu Hari
A JUBILEE
Puisi-Puisi Paulus Catur Wibawa

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati #4

Sembilu

berjalan di kegelapan
Ilustrasi dari blogspot.com

1.
Setiap langkahmu adalah jarak,
menjauh dari kenangan yang rapuh,
meninggalkan luka di setiap jejak.

2.
Harapanmu merimbun jadi sepiku,
mekar liar di ufuk fajar,
rubuh luruh di kaki subuh.

3.
Tentang rasa yang tak pernah kautahu,
serupa labirin di ruang kosong,
berkelindan di kekal ketidakpastian.

4.
Tanpamu,
setiap kata adalah perjumpaan kekalahan demi kekalahan,
pelan menuntunku menuju kekalahan selanjutnya,
hingga entah.

Kutiup Malam

Bila namamu tak mampu lagi kusebut,
Kutiup malam,
Biar tenggelam dalam hitam.

Pejalan

Seorang pejalan, bercerita segala sesuatu yang ditemu di jalan. Tentang pohon, tentang kayu, tentang tanah, tentang batu. Tentang yang lekat, tentang yang luruh, tentang igau atau denyut semak perdu. Angin barangkali diam, tetapi sunyi seringkali lebih lolong dari pecahan hati.
Kaki goyah harus tetap kokoh menopang dada -tempat kenangan bersemayam-, juga benak -tempat resah berlabuh dan hiruk pikir berkecamuk-.
Tidak banyak hal dapat dibawa dalam kantung nasib. Lorong panjang kadang bercecabang. Cukupkan bekal untuk esok sehari. Sebab lusa, -mungkin datang, mungkin juga tidak-.
Hari adalah hitungan rasa bosan. Dan waktu telah menjelma pemburu. Mata lintang pukang mencoba untuk tidak tertipu fatamorgana. Telinga sedikit berkarat. Banyak suara tetapi tidak banyak lagi yang didengar selain isak dan tangis. Selebihnya air mata yang berbicara. Mulut sesekali tersenyum pada siapa saja yang kebetulan berpapasan. Sepotong firman terlipat rapi di tepi jalan.
Setiap pejalan akan berpapasan, dan juga kembali sendirian. Setiap kota adalah rumah. Setiap cinta adalah dermaga. Dan kabut adalah pengingat kerinduan tempat doa-doa dikabulkan.
Senja dan kicau burung, liuk padu batang padi adalah penghibur harap yang terbunuh beribu kali. Angan yang terbang ke pelukan entah, tak jarang pecah mengalir bersama getir.
Seseorang mencari seorang yang lain. Mereka yang kalah tertidur dalam lelah. Dan malam menjadi semakin sepi. Pejalan hidup tidak untuk berhenti.

Masih

Puisi Anwari WMK

Setelah berucap
Selamat tinggal
Engkau balik badan
Hatimu berkata:
Telah terlesapkan
Segenap kenang

Di tikungan jalan
Engkau hilang
Jiwamu berguman:
Telah tercampakkan
Segenap beban

Tapi di hatiku
Engkau masih ada
Tak pernah kemana-mana
Takkan kemana-mana

Dan kini,
Sajak-sajak adalah saksi
Bahwa akulah
Pencinta sejati

Bersenandung sepi
Aku lantas pulang
Ke rumah puisi
Sambil terus mengenang
Wajahmu
Meski kian kaku
Sebeku batu

(2012)

Lukisan Terakhir

Puisi Lila Prabandari

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

sudah kulukiskan,

pondok kecil berdinding kayu bangkirai

di tepi danau tenang yang beriak kecil airnya

ada dermaga panjang dan tempat makan di ujungnya

merapat sampan hangat di tepinya

dan kebun bunga di halaman depannya

oh tentu…

ada tempat workshop keramik mungil di sampingnya

kukuaskan warna-warna pelangi segar

dan kusapukan suasana nyaman

karena aku tahu

di situlah kau akan meninggalkanku…

Puisi Lila Prabandari

Lagu ke-empat

 

hei,

ini lagu ke empat yang telah kunyanyikan untukmu

dengan nada dasar c memang tak cukup bagus untuk didengar

entah suaraku entah lagunya

atau barangkali syairnya

tapi aku ingin menyanyikannya

dan aku pun ingin kau mendengarnya

tentang hatiku yang merindumu

ingin sekali kau ada disini

melihat senyummu

atau obrolanmu yang terbata-bata gagu

aku rindu sikap salah tingkahmu

saat kunyanyikan lagu ke empat ini

lagu rindu

 

 

gambar diunduh dari shutterstock

Biarlah

 

kubiarkan luka itu,

untuk yang kesekian kali

meradang dan bernanah

perih? tak lagi…

mati

kaku

dan tak berasa

senyum dan tatap mata kosong

tak bernyawa

diam…

dan lebih berarti

Satu Sudut Cerita

Puisi John Kuan

1.

Minke tidak tahu dirinya kembali menjadi pembukaan sebuah novel.

Sudah dua tahun di ibukota jual-beli peluh, kulit, perut dan hasil bumi

Sesekali juga sejarawan bawah tanah rangkap geolog jarang ke lokasi,

katanya tidak penting. Apalagi hari ini, tapi hari ini sungguh G30S/PKI

Hari ini adalah absolut, bukan apalagi. Novel masa kini ingin pembukaan

baru kembali: Belum pernah melihat langit melengkung begini rendah

dan mendung, sekalipun kilat berkali menyapu genangan tinta dramatis.

Minke keluar dari UG pencakar langit mencari otak kecil, dia lepas-tangkap

di dalam sebuah taksi melaju di antara spasi kata-kata dekoratif. Minke

kaget, tidak pernah melihat badai ibukota bisa demikian membabi-buta

mengaduk jiwa seorang penjual-beli, juga mengaduk jiwa neokapitalis

juga jiwa supir taksi poskolonialisme, bahkan jiwa seorang pemain filem

menempel di kursi, ingatan dan tekad adalah pemercik api otomatis, sejarah

sial negeri malang ditransfusi lewat pembuluh darahnya ke ujung nozel

membakar mesin, mendinginkan cuaca tropis, melesat di jalan demokrasi

Tapi beberapa puluh kaki di bawah tanah, beberapa jiwa bergelombang

tapi bukan kaget. Minke kembali masuk ke UG pencakar langit, kelihatan

otak kecil duduk di satu sudut, satu sudut sejarah, dikepung hantu bisu

Otak kecil sedang melamun, seperti dapat mimpi bagus, bermimpi sulur

merambat di bawah tanah jadi hutan, mengantar air hujan, dan api,

hantu bisu tersenyum, hilang mendebu di dalam udara rima Angkatan 66.

gambar diunduh dari lil4ngel5ing_files_wordpress_com

2.

Minke dari gesekan rima Angkatan 66 menyusup ke dalam mimpi siang

Bersama otak kecil bernostalgia ——— hari itu juga celaka gelap, berdua

somnabulisme di dalam hujan miring, seandainya memang ingin caci-maki

mereka harus menghujat terlahir di dalam sebuah novel, di latar jaman

celaka gelap itu. Tapi memorial adalah tidak perlu, masa muda mereka

tidak usah dikenang hari ini. Mereka hanya perlu antar air hujan dan api,

melewati sebumi genangan hening. Minke menemukan latar telah jadi danau

beberapa bongkah awan hitam sedang menyelam, di atas pencakar langit

kilat sedang geram mengasah gigi. Dan otak kecil melihat latar makin kuyup

akhirnya menjelma jadi lumpur hitam. Bayangkan penjual-beli peluh, kulit,

perut dan hasil bumi bersama sekerat otak kecil bahu membahu meratap

seseorang tidak perlu identitas, seperti sang priyayi sesat di dalam lumpur.

Mungkin ini sedikit OOT: Beberapa tahun kemudian, ketika otak kecil bertatap

muka dengan regu penembak Sang Maut, mungkin akan teringat tahun 2000

suatu petang di depan rumah jagal sebuah kota provinsi, nama tidak penting

Rumah jagal itu telah telantar, dikuasai sekelompok seniman jadi rumah seni.

Namun seni eksperimen pura-pura itu membuat lambung luka. Mereka lebih

memilih keluar mengisap udara masa lampau: Di dalam ketenangan mengisap

habis bau darah terakhir. Tidak tahu mati berapa banyak babi, di udara

seakan penuh roh babi. ” Mungkin juga ada roh manusia ” Seseorang mulai

berbicara dunia-akhirat. ” Coba bayangkan, setelah mati apapun tidak ada ”

3.

Memori selalu di saat termenung berpapasan, menoleh kemudian melongo

Otak kecil terayun-ayun dalam perjalanan pulang, tidak tahu siapa berkedip

mata kepadanya, meniru senyum Maut, tapi senyum begitu hanya bikin orang

menguap. G30S tiap tahun pasti lewat, otak kecil tiba-tiba sadar sesungguhnya

novel ini tidak perlu sebuah pembukaan baru. Kalau curhat, otak kecil memang

ada sedikit. Tulis novel juga sudah pernah, namanya [ Curhat Tahun Celaka ]

Cerita tentang seorang lahir salah ruang dan waktu, negaranya dibombardir

guru kebenaran agung, bahkan rumah sakit bersalin juga, orang itu gunakan

waktu setahun taruh nyawa dewasa, tapi lupa dia mesti belajar bahasa apa,

tunjuk langit dalam hati: Cepat atau lambat kalian pasti akan mencicipi lihainya

Curhat Tahun Celaka! Novel terlalu absurd, apalagi kenyataan. Ketika otak kecil

sampai di rumah, Minke masih berjalan di alur cerita, berputar di dalam indeks

tapi tidak tersesat, hanya hampir menginjak bibir jurang negara. Pengawal alur

cerita menghardik, figuran juga memohon, namun dia samasekali tidak hirau

Minke amat jelas destinasinya, otak kecil juga tahu. Sebuah negara memalukan,

sebuah pemerintah memalukan, pejabat menggosok aus suatu hari suatu bulan

di kertas almanak, menetaskan berapa butir hukum, orang-orang tidak peduli,

mau cinta bisa cinta, mau pisah bisa pisah, alam tukar musim, hati siapa terluka?

Begitulah, otak kecil sampai di rumah, hanya dengan kaleng bir dia berbisik

Menyewa sepetak utopia di antara pasar moderen dan pasar tradisional, juga

diberi bonus neraka, sulur merambat sampai sini, transportasi air hujan dan api.

Tahi Lalat

Puisi Arif Saifudin

Di usia yang tak pernah kita duga
kita saling mengenali dan berbagi

di waktu yang singkat dan cepat
kita sempat berdebat

tentang pagi, malam dan siang
yang selalu riuh dengan peristiwa yang menantang

di pertemuan yang singkat
aku masih mengenangmu

mengenalimu
menyimpan hangat senyummu

tapi ada sesuatu yang tak bisa kulupa
yaitu tanda di dagumu

Yang membuatku kelu sekaligus pilu
bila merindu tak menemuimu

Kini, tahi lalatmu telah
kusimpan dalam album foto
di hatiku

kurawat selalu

September Suatu Hari

Puisi John Kuan

1.

Petai cina sepuluh batang

tebang pilih tiga sisa tujuh

sekejap gemericik, derai

miring gerimis September

menabur di pekarangan jauh

Bunga jombang berlomba

guling di rumput hijau

hanya tidak diijinkan masuk pintu ———

Di balik pintu sekat ruang

sekat waktu, duduk hening, alis putih 

bunga anggrek, bonsai Buxus

agak jauh agak jauh ada sederet bambu

Kau menulis bunga plum

aku baca sejarah kolonial

 

Suhu hangat sedang mengukus

lumut hijau di sela bata merah

Tahun itu bukan April saja bisa keji

sehalaman bunga baru selesai merekah

di hutan karet tidak hanya cangkang biji meletus

 

2.

Bugenvil tetangga seperti satu malam

mekar semua, bahkan diam-diam menjulur lewat

dinding kayu, seperti juga ada sayap

seekor kupu-kupu putih mengaduk lembab

meriak semacam getaran sunyi

di sebelah dinding kayu: sungguh pekarangan hening

( Anak lelaki mereka luka parah di atas ranjang

September yang dingin ) Maukah

kita berdoa untuk kesehatannya?

 

Petai cina tujuh batang:

semacam romantis, pusing menaksirnya

September juga tidak setara musim gugur

Sebiji hati sesat di lorong-lorong batu hijau

tiba-tiba purnama agak basah di atas tembok, sorot

kau menulis bunga plum

aku baca sejarah kolonial

 

Petai cina tujuh batang

Tujuh batang juga bagus