Wanita Itu Bernama Marida #11 -Tamat-

Cerbung Willy Wonga

Leo menciumku. Gemuruh tepuk tangan segera bergeletar. Bening meluap dari mataku yang tak mampu terbendung, dan sekali lagi aku berpaku tatap pada wanita itu.

“Demikian kalian bukan lagi dua…,” sabda sang pastor terdengar mengambang di udara yang kering. Seronok kembang mawar di pintu membubungkan asa akan warna-warni cerlang-cemerlang setelah ini. Warna-warni hidup. Sekilas kulempar tatap pada wajah-wajah menatap. Ada gelisah terbalut senyum pun ada bahagia tersiram air mata.

Wanita itu duduk di barisan depan, di samping lelaki berambut uban tipis-tipis. Si suami terkasih. Sepuluh tahun terasa cepat beranjak, tak terasa tiba di hari ini. Hari tatkala kuganti dengkiku dengan cinta berlumur terima kasih. Air mata yang mulai menitik kini menghapus semua luka lama, sebersih gaun pengantin yang pernah dikenakan pada wanita itu.

marida sayangSepuluh tahun masa perangku. Aku pernah mengutuk dokter yang mencetuskan vonis atas penyakitku. Sebab, tanpa dia tahu, tanpa Andre tahu, dan hanya aku bersama wanita itu yang mengerti akan perasaan terguncang mendengarnya. Marida membantah Andre dan menjejal benakku dengan kata-kata:

“Percaya padaku. Aku juga dokter, dan kamu tidak sakit sayang. Itu adalah reaksi yang wajar…reaksi yang wajar…”

“Kamu tidak mengalami kelainan seperti anggapanmu,” atau;

“Kau wanita normal, sayang.”

Sungguh aku minta maaf pada wanita itu melalui senyumku. Semoga dia paham. Pasti hari-harinya telah amat melelahkan, setelah ditafik kehadirannya di rumah oleh anak tiri pengidap electra complex. Kemudian mengembalikan rasa percaya diriku akan cinta seorang ayah yang diam-diam tengah berjuang menyembuhkan penyakit anaknya.

Aku tak pernah tahu selama masa itu. Bahwa pada usia enam belas tahun hingga awal dua puluh satu tahun aku mengidap penyakit itu. Kata dokter itu fakta yang langka, fakta yang timbul akibat kehilangan seorang ibu. Kasus yang tidak sering terjadi.

Dan Andre, mengelabui penyakitku dengan sering tidak di rumah. Sementara waktu itu aku tahu dia sering kencan dengan para wanita cantik. Memang demikian kenyataannya, namun dia telah akui perbuatannya. Bahwa dia kesepian, bahwa sebenarnya dia sangat mencintaiku lebih dari apapun di dunia serta ingin menyembuhkan putri tercintanya.

Akhh…

Leo menciumku. Gemuruh tepuk tangan segera bergeletar. Bening meluap dari mataku yang tak mampu terbendung, dan sekali lagi aku berpaku tatap pada wanita itu. Dia tersenyum, mengingatkan akan senyum yang pernah ditulus-tuluskan. Namun kini senyum itu begitu menyejukan.

“Biarkan aku menggantikan Yohana,” kalimat yang pernah terlepas dari bibir mahaindahnya yang tak pernah rusak. Dulu dia tak pantas menyebut nama milik wanita berhati malaikat. Sekarang aku nobatkan dia setara dengannya. Mereka sungguh berhati malaikat.

Sepuluh tahun penuh perjuangan mestinya terbayar sekarang. Sekiranya terbayar dua tahun terakhir ini. Bagaimanapun aku angkat jempol buat wanita seperti dia. Marida adalah pohon belimbing di samping rumah. Semakin dipangkas dia makin bertunas, tidak lelah, tidak pula jemu merindangi. Sebaliknya aku adalah mawar di tanah tandus. Sejak Bundaku tercinta, Yohana tercerabut dari muka bumi dan Andre lupa menyirami, aku kerdil dan layu hampir sekarat.

Sempat dia angkat tangan, mengaku kalah. Namun berdiri lagi, hingga aku sendirilah yang menjadi lelah. Bukan lelah, aku yang menyerah. Pada pengorbanan dan cinta  Marida.

Pada ayahku, sungguh benciku tak pernah berlangsung lama. Selalu aku jatuh cinta lagi padanya. Tak akan terlupakan denyar-denyar bahagia di mata pria itu saat mendampingi acara konserku yang pertama. Dia bilas senyum minta maafnya dengan memelukku. Kembali membisikan kata-kata yang pernah Aku rindukan,“Aku sayang kau, malaikatku.”

Seharusnya mereka menyalahkanku atas kecelakaan yang membuat anak dalam rahim Marida menyapa dunia terlalu awal lantas dipanggil kembali oleh penciptanya. Aku membuat sebuah kerusakan dengan memaksa Marida yang tak mampu lagi memandang jemari kakinya waktu itu mengantarku ke sekolah. Dan berujung pada kecelakaan itu. Sungguh kasihan, Marida tak pernah hamil lagi. Entah setan berhati baik padaku atau Tuhan tengah mengutuki kecuranganku, waktu itu aku tidak peduli. Malah bersyukur.

“Kamu tidak bersalah sayang,” terbaring di ranjang Marida menegurku. Aku berburai air mata buaya. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang keguguran.

Itulah ingatanku pada pernikahanku enam bulan lalu dari hari ini. Hari ketika aku memberikan ginjalku untuk wanita itu, berharap dia kembali sembuh dan tidak berhenti menyayangi anak suaminya.

Aku genggam tangan wanita itu. Dia masih tersenyum dalam baringnya.

“Jangan menyia-nyiakan hidupmu, sayang. Aku sudah menuju usia petang sementara kamu masih harus memulai rumah tangga kalian. Simpan niatmu, bila nanti anak-anakmu membutuhkannya.”

“Biarkan aku menolongmu. Aku sudah bulatkan tekad, tidak ada yang lebih berarti daripada saat-saat seperti ini untuk mengorbankan diri.” Aku mengingatkan Marida bahwa dia telah mengkhianati rahimnya demi aku. Leo kurang setuju sebenarnya namun aku merasa akan lebih baik bila tindakan ini dilakukan.

“Aku baik-baik saja,” air matanya kembali mengalir deras. Nadanya terdengar tidak pasti dan aku tahu dia bukannya tidak menginginkan donor ginjal dariku. Mungkin sebenarnya dia mau, namun enggan menerimanya. Seharian kami membicarakan ini. Marida bergeming dan aku tetap memaksanya. Hingga akhirnya dia mau menerimanya. Aku menangis kini. Benar-benar menangis, di pelukan wanita itu. Aku tahu bahwa penebusanku belum seberapa dengan pengorbanan Marida, tetapi setidaknya hal itu akan membuat Marida kembali melanjutkan hidup dan cinta sebagai ibu tiriku.

Sekali lagi aku tatap wanita itu. Apa jadinya jika dia benar-benar menyerah; pasti tidak akan pernah ada keseruan meminum bir di sebuah bar pada suatu bulan desember yang menggigil. Marida bilang di situ mereka bertemu, dia dan Andre, aku mendengus saat itu, akan tidak ada seorang wanita yang berani menamparku di depan Andre, lantaran aku bilang anak dalam kandungannya adalah tidak sah. Marida menangis setelah tangannya mengenai wajahku, aku memakinya berkali-kali. Atau bila dia menyerah, -mana mungkin pernah terjadi-, selama tiga hari berdua kami keluyuran di Bandung. Keluar masuk tempat-tempat jualan gaun dan kosmetik tanpa sepengetahuan Andre. Aku tiba-tiba rindu akan masa di mana aku berusaha melawan cahaya cinta dari mata Marida.

Ahhh, setelah sekian banyak waktu berlalu, aku berpaling pada Tuhan serta berharap Dia memaafkanku. Seandainya Tuhan memaafkan dan mengarunia seorang bayi mungil akan aku sertai nama wanita itu dalam deretan nama panjangnya. Pamella Marida Nugraheni  jika perempuan dan Francois Marida Putra bila dia adalah bayi laki-laki yang manis. Dan di hari ulang tahunnya yang ke tujuh akan kuhadiahi dengan sebungkus kado tua di belakang baju terlipat. Aku harap dia tidak kecewa dengan isinya nanti. Tetapi bila dia kecewa, tak apa, sebab aku juga pernah menaruh kecewa pada kado itu. Semoga seperti aku pula, anakku akan menyimpan di tempat tersembunyi, hanya dia yang tahu apa isinya, untuk di kemudian hari dia pandangi kembali dengan senyum minta maaf pula. Kado sederhana, sesederhana sebentuk cinta yang paling istimewa.
T.A.M.A.T

Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #10

Alir Api

Puisi Binandar Dwi Setyawan
Maka baur hilang segala
Wajah kekasihmu tak lagi terang
Kau semakin diburu rindu
Dikerubut bingung
Mati oleh kasmaranmu sendiri

Rusak arah penisbatan, sudah
Ditenangi ketidaktenangan
Membiasai keonaran
Lalu dari apakah lagi kau bisa terkejut
Bahkan pembaringan kauanggap medan laga

Pengaturanmu meluar batas
Takut dalam dirimu menakuti tiang tiang
Segalanya menyebab
Tafsiri
Kelebat tujuan bagai kesejatian

Menguat atau melemahkah kau
Jawab jawab tersekat
Asing semakin asing
Kau tak tahu lagi dengan apa kau musti bertarung
Lalu kekasihmu muncul
Jelas sudah bagimu siapa dia

alir api
gambar diunduh dari meydianmey.wordpress.com

Paninea

Cerpen Gui Susan

Jika kita tahu rasanya lapar, maka, ketika kita merasakan perasaan kenyang, kita akan bersyukur dan terberkati.

cerpen anak malang
gambar diunduh dari nosirds-files-wordpress.com

Paninea menutup bukunya, tulisan yang sederhana itu cukup menghibur hatinya. Tapi, tetap tidak bisa membohongi dirinya dari rasa lapar. Paninea mengelus perutnya, seperti ingin sekedar menabahkan perutnya yang sedang digerus rasa lapar.

Paninea menatap ke sekeliling pasar, banyak orang berhilir mudik. Kebanyakan mereka membawa kantung-kantung belanjaan yang diisi sayuran, daging, atau baju. Hari raya, seharusnya Paninea pun merasakan makan daging. Tidak dia pikirkan baju baru, Paninea sangat mendambakan makan daging. Dalam benaknya ada terselip doa, semoga tetangga di samping-samping rumahnya bersudi diri untuk memberikan semur daging dan ketupat ketika hari raya nanti. Di kehidupan keseharian, untuk memakan daging, Paninea harus mengikhlaskan kakinya dipukul ibunya.

“Apa kau bilang Nea? Kau mau minta dibuatkan semur daging? Buta mata kau itu? Orang miskin kaya kita harus pandai bersyukur! Ketemu nasi sudah cukup, jangan minta macam-macam,” hardik Ibu sewaktu Paninea merenggek ingin merasakan semur daging. Dan hardikan ibu itu disimpan baik dalam hati Paninea. Angin berhembus kencang, orang masih banyak berlalu lalang, ada juga penjual sayuran yang berleye-leye karena dagangannya tidak laku.

Paninea membuka lagi bukunya, dengan tangan gemetar dia mulai menyusun kembali kata-kata.

Apa kabar bapak? Apa bapak ingat kalau Nea masih hidup dengan ibu? Katanya bapak akan jemput Nea dan bawa  Nea makan enak, main komidi putar terus beli gulali. Apa bapak tahu apa yang ibu lakukan setelah bapak pergi?

***

Paninea hanya gadis kurus berkulit coklat, rambutnya sepunggung, matanya cokelat, dan kukunya panjang-panjang. Paninea adalah gadis kecil yang menjual plastik di pasar dari jam enam pagi sampai jam dua siang, lalu Paninea akan bergegas menuju surau kecil yang terletak di ujung lorong. Di saku belakang celana Paninea selalu ada buku notes kecil dan pensil yang panjangnya tidak lebih dari jari kelingking. Paninea suka menulis, itu alasan kenapa dia selalu membawa buku notes dan pensil ke mana-mana.

Jam sepuluh pagi, Paninea berjalan gontai menawarkan plastik ke ibu-ibu yang dilihatnya kesulitan dengan barang belanjaannya. Sejak dari jam enam pagi, Paninea hanya dapat uang lima ribu rupiah. Keringat keluar dari kulit jangatnya. Wajah Paninea memucat, karena biasanya sebelum jarum jam menunjuk angka sepuluh, dia sudah bisa menjual plsatik dan mengumpulkan uang hingga lima belas ribu rupiah di saku bajunya. Hari itu, sepertinya akan menjadi hari yang buruk. Paninea duduk di ujung lorong, dia mengeluarkan buku dan pensilnya.

Cuma 5000 pasti ibu marah sekali. Tidak ada beras, tidak ada daging, pasti aku dipukul lagi.

Paninea menarik nafas dalam-dalam. Ketakutan terbesar Paninea adalah rumah. Rumah di mana Paninea tinggal dengan ibunya; ibu tiri. Sudah 3 tahun kabar dari Bapak Paninea tidak terdengar lagi. Paninea ingat, Bapak Paninea pamit untuk mencari uang di kota. Itulah kabar terakhir yang bertahan di ingatannya, sejak perpisahan itu, tidak ada lagi kabar.

Paninea tinggal dengan ibu tirinya, Mak Suripah, dan Paninea kerap dijadikan bulan-bulanan kemarahan jika ibunya tidak ada panggilan nyanyi di dangdut dorong atau di pesta-pesta kawinan. Jikapun ada panggilan, ibunya kerap pulang dalam keadaan tidak sadar dan bau alkohol. Yang paling membuat heran Paninea adalah ibunya sering pulang bersama lelaki yang berbeda. Jika sudah ada lelaki yang bertandang ke rumah mereka, Paninea akan dapat uang jajan untuk beli gulali di warung, tidak banyak, cuma 4 butir tapi hal itu menggembirakan hati kecil Paninea.

Paninea mengeluarkan buku dan pensilnya.

Apa ibu sayang dengan nea?

Paninea berdiri dan kembali mencoba menjual plastik. Hingga sore, Paninea hanya dapat sepuluh ribu rupiah. Wajahnya pucat ketakutan, dengan gontai Paninea berjalan pulang ke rumahnya. Di depan pintu, Paninea melihat sebuah motor terparkir di bawah pohon mangga. Hati Paninea sedikit terhibur, tandanya ibu ada kerja malam ini. Paninea masuk ke dalam rumah, Pak Masus, pemilik orkes dangdut sedang duduk manis di samping ibu.

“Heh, dapat berapa jualannya?” tanya Ibu.

“Sepuluh ribu, Bu.”

“Ahh..kok cuma segitu!”

Pak Masus mengelus pundak Ibu.

“Sabar Jeng, nanti malam kan dapat bagian nyanyi. Sini Nea, Om kasih uang beli gulali. Belinya yang jauh ya,” Pak Masus mengeluarkan uang lima ribuan. Paninea berdiri terpaku. Ibunya menatap dengan sedikit melotot, seakan memberi instruksi untuk mengambil uang itu dan menyuruh Paninea lekas keluar dari rumah.

Paninea mengambil uang yang disodorkan oleh Pak Masus lalu pergi gegas tanpa melihat lagi ke belakang. Paninea berjalan tidak tentu arah, dia tidak pergi ke warung. Hati kecilnya berkata bahwa dia tidak ingin gulali, ini bukan uang yang baik, gumamnya pelan. Akhirnya Paninea memutuskan untuk duduk di pojok surau sembari menuliskan banyak sekali kalimat. Hingga akhirnya Paninea tertidur karena terlalu letih.

***

Paninea akhirnya terbangun ketika suara bedug dipukul; menggema ke seluruh kampung. Paninea menatap ke jam dinding, subuh. Matanya mengerjap seakan ingin meyakinkan diri kalau-kalau dia salah melihat. Tersadar kalau memang sudah subuh, Paninea langsung berdiri dan berlari pulang ke rumahnya, ibunya pasti mengamuk, pikirnya.

Sesampainya di halaman rumah, motor Pak Masus masih terparkir di bawah pohon mangga. Perasaan Paninea tercampur aduk. Pelan-pelan dia masuk ke dalam rumah, Pak Masus sedang duduk, bertelanjang dada dan terselip rokok di bibirnya. Seketika bulu kuduk Paninea meremang tidak menentu, dadanya berdegup kencang.

“Sini duduk, deket Om,” panggil Pak Masus.

Paninea diam kaku, tanpa memperdulikan ajakan Pak Masus, Paninea masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Pak Masus. Paninea terjatuh ke lantai dan pak Masus menindihnya dari atas. Paninea menangis menjadi-jadi, dan tiba-tiba ibu sudah berdiri tepat di belakang Pak Masus.

Air matanya menetes, entah mengapa, untuk pertama kali Paninea melihat ibunya menangis. Ibu berlari ke dapur, lalu tidak berapa lama kemudian ibu datang dengan membawa pisau dapur. Mata Paninea ketakutan. Ibu, sembari menutup matanya menghujamkan pisau dapur itu tepat ke punggung bagian tengah Pak Masus.

Pak Masus berteriak kesakitan sebelum kemudian jatuh ke atas tubuh Paninea, ujung pisau tepat mengenai bagian tengah dada Paninea. Darah mengalir. Ibu menarik tubuh Pak Masus dan menarik Paninea untuk berdiri. Ibu membuka baju Paninea dan memeriksa ke lukanya. Bergegas Ibu masuk ke kamar. Di tangannya terkepal segulung uang yang diikat karet gelang. Ibu mengulurkan uang itu dan menaruhnya di tangan Paninea. Paninea menangis terisak.

“Pergi sana, jangan kembali ke sini. Anggap ibu mati, ” ujar ibu pelan.

Dada Paninea sekejap nyeri. Monster yang sangat ia takuti kini bersukarela melindunginya. Paninea menggeleng, dia tidak mau berlari seperti pengecut.

“Pergi!” hardik Ibu.

Paninea menggeleng.

“Pergi!! Jangan pernah kembali, ibu sudah mati.”

Paninea menggeleng lagi.

Ibu mendorong tubuh Paninea keluar dari pintu, Paninea berontak. Lalu ibu mengunci pintu dari dalam. Paninea menangis dan mengetuk.

“Ibu!” jerit Paninea

“Pergilah Nak, ini akan berat buatmu. Itu uang untuk bekalmu hidup ke depan. Ibu sudah mati.”

Untuk pertama kali, Ibu memanggil Paninea dengan kata-kata ‘Nak’. Paninea semakin menangis tersedu.

“Pergilah Nea, beli makanan yang kau suka,” ujar Ibu.

Itulah kata-kata Ibu yang akan menjadi kata-kata terakhir yang didengar Paninea, sebab pada keesokan paginya, ketika pintu rumah dibuka paksa oleh warga kampung, Ibu sudah meninggal dengan pisau tertancap di dadanya. Paninea berdiri kaku di bawah pohon mangga. Air matanya mengalir. Tanpa henti. Kali ini, dia tidak lagi ingin menulis. Tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk menceritakan ini.

 

Cahaya terang berisi air itu menghasilkan buih-buih yang menutupi permukaannya, yang meghalangi kita untuk dapat melihatnya dengan sumber mata batin yang berada jauh di dalam.”

 Rumi. Matsanawi VI, 3400-3431.

*) Gui Susan,  pecinta buku dan seorang ibu, tinggal di Jakarta, berjejaring sosial di twitter @GuiSusan dan Facebook: Gui Susan. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Kompas.com

Wanita Itu Bernama Marida #10

Cerbung Willy Wonga

Perang sepihakku. Hingga akhirnya wanita itu menyerah. Saat itu sudah tahun ke tujuh. Ketika aku mulai menemukan sosok pengganti Andre dalam diri Leo.

Tahun ketiga, wanita itu melakukan tubektomi. Dia terbaring di kamarnya selama seminggu setelahnya. Teman-teman Andre datang dan pergi. Lebih banyak dari mereka memberi simpati agar Andre tabah dan menerima keputusan mulia istrinya. Aku hanya masuk ke sana ketika dibutuhkan, ketika Andre tenggelam dalam alunan musik piano dan lupa mengantar makanan masakan Bi Imah pada Marida. Dia tersenyum dalam baringnya. Menanyakan apakah Aku tidak apa-apa selama seminggu ini sebab dia tidak mengantar ke sekolah. Aku bilang tidak apa-apa. Tidak bernada ketus, sedikit bertoleransi dengan keadaannya.

“Mengapa kamu melakukan ini?”  aku bertanya, dia memaksa diri tersenyum. Juga terkesan ditulus-tuluskan. Bagi Marida ini pertanyaan yang sama yang keluar dari mulut Andre. Pada Andre dia menjelaskan begini; betapa dia ingin hanya dengan mencintai Aleksa seorang, untuk membuktikan dia bisa menjadi istri Andre dan ibu tirinya, betapa rasa memiliki anak sendiri sudah tidak terlalu penting dibandingkan mengabdikan diri untuk cinta tak terbalasnya. Secara tersirat dia lebih memilih berkorban untukku ketimbang Andre, dan waktu itu Andre kecewa pada Marida. Terlebih Marida berniat melakukannya bukan untuk sementara.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

“Sakit?” mungkin suaraku terdengar berpura-pura, tetapi membuat Marida menggeleng lemah dan tersenyum lagi.

Tetapi hari-hari tetap berjalan dengan apa yang telah ada sebelum ini. Perang sepihakku. Hingga akhirnya wanita itu menyerah. Saat itu sudah tahun ke tujuh. Ketika aku mulai menemukan sosok pengganti Andre dalam diri Leo. Mungkin akhirnya jiwa-raganya telah terkorosi dengan intimidasiku yang tak kunjung habis.

Di matanya ada sembab. Sementara dadanya yang busung menyimpan sebak tertahan. Tiba-tiba dia merindukan seorang bayi lain untuk menghapus penatnya mengabdikan diri buatku. Aku dengar dia berkata begitu. Dia terdengar menyesali keputusannya melakukan tubektomi, dan meracau bahwa aku tak mungkin tersembuhkan dari perasaan benci.

Diam-diam aku perhatikan momen-momen kemenangan ini, tatkala aku berhasil mengambil kembali poin juara serta mengembalikan rasa sakit padanya. Andre duduk di samping, membungkus bahu si wanita dengan sebelah tangan, di bawah langit malam berbintang cukup banyak. Kata-kata penghiburan membanjir dari mulut Andre, bercampur bujuk rayu yang mendamba. Semuanya agar wanita itu tidak menyerahkan kemenangan. Demikian maksud Andre. Dari sikap dan polah, tergambar kalau dia ingin Marida tetap kokoh menghadapiku.

“Aku tahu, memang berat bagimu..” demikian kalimat penghiburan itu terucap.

“Kamu sebenarnya tahu dari awal bahwa aku akan menyerah, bukan?”

“Shh, dia memang keras kepala, sayang. Namun hanya hati orang sepertimu yang mampu mengembalikan kepercayaan Aleks,”

“Lalu aku harus bagaimana? Aku takut, Andre. Takut mengecawakanmu, juga takut menyakiti Aleksa lebih dalam lagi.”

“Itu tidak benar. Aku yakin kau dan dia hanya butuh waktu. Aku tahu kamu mulai menyayangi dia, atau hanya perasaanku sajakah itu?” tanya Andre hati-hati. Takut meremukkan makhluk berlinang air mata dipelukannya.

“Kamu benar…” Marida sesenggukan, air mata makin deras mengguyur dari dua sumber yang telah banyak terkuras.

“Aku janji kita akan menghadapi ini bersama-sama. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian.”

“Ya, maafkan aku, Andre. Karena aku, dia kini turut memusuhimu. Seharusnya hanya aku seorang.”

“Tidak Marida. Aleksa telah memusuhiku sejak sebelum kedatanganmu. Ketika aku kehilangan jati diriku sendiri dan sering pergi meninggalkan dia.” Ucap Andre kacau. Terlihat kilau di mata pria itu. Aku tak yakin Andre bisa menangis.

“Semua lantaran dia butuh figur seorang seperti Yohana. Pasti dia sangat mencintai kalian berdua. Makanya dia tidak ingin kehilangan orang tercintanya lagi.”

“Jangan menyerah Sayang.” Tetapi wanita itu menggeleng layu.

Selain sembab, di mata Marida ada penat terjuntai. Sisa-sisa semangat telah terkuras selama tujuh tahun hidup bersama. Dia menyerah tanpa syarat dan hari-hari kemenanganku bakal datang setelah fajar menyingsing nanti. Namun, ternyata fajar baru benar-benar menyingsing setelah sepuluh tahun kedatangan wanita itu.

 

bersambung…

Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #9

Artikel-artikel Terpilih dari Weekly Writing Challenge RetakanKata

Kabar Budaya – RetakanKata

prosa liris
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam weekly writing challenge. Untuk tema minggu lalu “Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013”, banyak naskah yang masuk dan rata-rata mengesankan. Sungguh berat hati kami untuk memilih tulisan-tulisan terbagus yang kami yakin, sangat berkesan bagi para penulisnya. Maka, RetakanKata menampilkan empat tulisan terbagus pada weekly writing challenge kali ini. Ini satu lebih banyak dari tiga tulisan yang direncanakan.

Oh ya, tulisan-tulisan terpilih dapat dibaca pada link-link berikut:

Hello 2013, Goodbye 2012!
Ketika Aku Mencintaimu
Jangan Bersedih
Batu Karang di Bawah Sebuah Payung

Selanjutnya, untuk weekly writing challenge minggu ini, RetakanKata mengangkat tema:

“Tawuran Pelajar/Mahasiswa, Penting?”

Persahabatan kadang melampaui kampus-kampus. Artinya, bisa saja kawan kamu atau saudara kamu atau mungkin bahkan “gebetan” kamu, berbeda kampus dengan tempat kamu belajar. Nah, ketika terjadi tawuran, kadang melebar ke mana-mana, pemicunya tidak jelas, tujuannya juga tidak jelas, bahkan kadang yang terlibat tawuran tidak tahu menahu duduk persoalannya. Pokoknya main hajar. Bayangkan jika tiba-tiba kampus atau sekolahmu tawuran dengan kampus atau sekolah tempat sobat dekatmu atau saudaramu belajar. Main hajar, yang dihajar kawan sendiri, menyedihkan kan?

Nah, weekly writing challenge minggu ini menantang para sahabat RetakanKata untuk menjawab pertanyaan:

Apa sih sebab terjadinya tawuran?

Mengapa harus tawuran?

Cari aktivitas yang positif yuk!

Tentu saja jawabannya dalam bentuk esai, dengan ketentuan penulisan esai sebagaimana tercantum pada artikel kirim naskah. Seperti biasa, kirim lewat surel retakankata@gmail.com dengan subyek WWC_JudulEsaiKamu. Batas akhir kirim naskah 19 Januari 2013. Ebook keren hanya untuk yang artikelnya dimuat.

Kami tunggu jawaban tantangan menulis ini.

Batu Karang di Bawah Sebuah Payung

Oleh Retna Agustina

Tanggal 30 Mei 2012, aku mengalami pertengkaran yang hebat dengan salah seorang teman. Aku melakukan sebuah kesalahan padanya. Bisa dibilang aku tidak menepati janji untuk suatu proyek perkuliahan yang kami rencanakan beberapa minggu lalu. Tentu saja aku sudah minta maaf dan jawabannya klasik”oke nggak apa-apa”. Tapi ternyata “apa-apa”. Dia sakit hati dan meluncurkan beberapa pembalasan dendam untuk menyerangku. Dia mulai menyebarkan berita yang tidak benar tentang diriku kepada teman-teman di kampus. Dia meniru gaya hidupku habis-habisan, entah apa maksudnya. Dia berusaha menggagalkan usaha yang aku bangun dengan cara-cara licik. Aku tetap bertahan hingga suatu ketika dia berhasil membuatku bertengkar dengan sahabatku. Saat itulah pertahananku runtuh.

Aku serasa mengalami kematian ketika harus ditolak, dihindari dan dimaki oleh sahabatku. Aku membangun persahabatan kami dengan cara membunuh karakterku yang sombong dan pemarah, bukan dengan hadiah atau uang. Kami melewatkan banyak waktu bersama untuk tertawa dan menangis. Kami memanjatkan banyak doa satu sama lain di setiap malam. Kami juga mengalami banyak pertengkaran, tapi selalu ada kebesaran hati untuk mengakui kesalahan masing-masing. Kami benar-benar belajar arti mengasihi, mengampuni, dan bagaimana memaknai kebersamaan. Selalu ada dukungan dan tangan yang kuat untuk mengangkat salah satu dari kami ketika terjatuh, berduka atau mengalami kegagalan. Sekarang aku harus melakukan segalanya tanpa sahabat. Itu sungguh sangat sulit.

Tiga bulan berlalu dan aku masih berjuang untuk menjalani keseharianku tanpa sahabat. Aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk tetap berkuliah. Hari itu hujan turun sangat deras dan aku ragu untuk keluar dari lobi kampus, sampai akhirnya seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun menghampiriku. Dia menawarkan sebuah payung padaku seharga dua ribu untuk sekali menyeberang jalan. Ya, ojek payung. Aku setuju dengan tawarannya. Anak itu berjalan satu meter di sampingku sambil bernyanyi nyaris berteriak seolah lagu yang dia lantunkan dapat membuat hujan ini berhenti. Aku menatap matanya yang begitu ceria. Dari mata itu aku tahu menjadi ojek payung bukanlah keinginannya. Aku melihat ada banyak cita-cita yang mulia di sana. Sungguh, dia membuatku merasakan satu ketegaran yang luar biasa.

Belum selesai aku terkagum, dia menunjukkan kekuatan kepribadiannya yang lain. Dia berlari ke sebuah warung dan kembali padaku dengan sebungkus teh hangat. Dia mengatakan bahwa tanganku bergetar di sepanjang perjalanan dan menurutnya aku bisa sakit karena terlalu lama kedinginan.

Aku menawar, “kalau begitu apa rahasiamu agar tidak sakit, sementara hujan terus membasahi tubuhmu dan itu pasti sangat dingin bukan? Beri aku satu jawaban dan aku akan menerima teh hangat ini!”

“Hmm…kau tahu batu karang? Dia dibentuk dari ombak yang besar, jadi tetesan air hujan tidak akan membuatnya hancur. Aku adalah batu karang yang tidak akan pernah sakit hanya karena kehujanan.”

Jawaban itu mengantarkan teh hangat pemberiannya ke dalam tanganku. Baiklah, dia sekarang membuatku sangat iri dengan kepintarannya dan malu karena dia benar-benar sangat kuat. Aku rasa payung yang dia sewakan padaku layak untuk dibayar mahal. Aku melanjutkan pembicaraan, ”apa aku juga bisa jadi batu karang sepertimu?”

”Ya, jika kau mau menghadapi ombak yang menyerangmu! Bisakah kau mengembalikan payungku sekarang? Aku ingin melihatmu menghadapi ombak pertamamu.”

Aku memicingkan mata menunjukkan kebingungan. Apa maksudnya dengan ombak pertamaku. Dia menunjuk semua kendaraan yang melaju dan memintaku menyeberang sendirian. Aku tertawa melihat tingkahnya tetapi aku menurut juga. Setibanya di seberang jalan, aku baru ingat bahwa aku belum membayarnya. Beruntung dia masih di sana. Aku berteriak, ”hey batu karang! Aku belum membayar sewa payungmu!”

Dia menggeleng kuat dan balas berteriak,” tetaplah tersenyum saat ombak menyerangmu dan aku akan menganggap semua ini sudah lunas!” Dia melambaikan tangannya lalu kembali menawarkan jasa sewa payung pada pejalan kaki yang lain.

Aku berjanji akan tetap tersenyum dalam keadaan apapun. Aku akan menjalani setiap hari dengan mandiri. Aku akan melewati tahun demi tahun dengan sangat kuat. Aku akan mengikuti perkuliahan dan diwisuda dengan atau tanpa sahabat. Aku tidak akan marah pada Tuhan untuk semua musibah yang menimpaku, karena aku tahu Dia ingin aku menjadi batu karang.

Tanggal 1 Januari 2013, aku move on. Aku menemukan teman-teman yang baru dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang-orang di sekitarku. Aku adalah batu karang kedua setelah anak kecil yang menawarkan jasa ojek payung itu dan aku siap mengerjakan skripsiku. Selamat datang ombak keduaku!

 

*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Retna Agustina.

Jangan Bersedih

Oleh Mira Seba

Aku masih tercenung di depan mama yang sedang terlelap tidur ketika tulisan ini aku buat. Perasaanku selalu terguncang setiap menjenguk mama di rumah sakit umum bagian kejiwaan. Sejak awal tahun ini mama sudah 3 kali menjalani rawat inap di bagian kejiwaan ini.

Mama adalah ibu yang relatif ‘rapuh’, mudah panik, mudah merasa khawatir terhadap apa yang belum terjadi. Perasaannya sangat peka. Keinginan yang kuat untuk melindungi orang-orang yang ia cintai – tentu saja dalam hal ini kami anak-anaknya membuat dirinya cenderung khawatir secara berlebihan bila dirinya merasa memiliki ‘kekurangan’ untuk dapat membahagiakan anak-anaknya. Hal ini terjadi ketika papa meninggalkan kami untuk selamanya setahun yang lalu. Macam-macam yang dipikirkan oleh mama. Dia khawatir tidak bisa membiayai sekolah kami, khawatir tidak bisa memberikan materi untuk kami, khawatir tidak bisa membantu menyelesaikan masalah, hingga khawatir tidak bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah Deri, adikku yang masih sekolah dasar.

Mama pun cenderung tidak bercerita kepada siapa pun kesulitan yang sedang ia hadapi meski hanya untuk menceritakan masalah yang ia miliki. Tidak juga kepadaku, anak sulungnya karena mama takut aku menjadi ‘susah’ dengan masalah yang mama miliki.

Namun aku tahu, mama sering menangis di kamar dan melamun sendirian. Mata mama sering ‘kosong’ meski sedang berada di antara kami. Aku, Risti dan Deri mengira mama terus menerus bersedih karena ditinggal papa. Keluarga kami tergolong biasa saja. Papa seorang guru SMA dan mama hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah dipusingkan oleh urusan mencari uang. Papa berusaha memenuhi semua kebutuhan keuangan bagi keluarga.

Mama mengalami gangguan ‘kesedihan yang mendalam’. Selalu murung dan ia merasa lemas. Kehilangan nafsu makan. Ketika aku menerima permintaan para tetangga untuk memberikan les kepada anak-anak sekolah dasar di sekitar rumah, kesedihan mama malah semakin menjadi. Itulah awal mama dirawat di rumah sakit bagian kejiawaan. Mama mulai meracau, menyalahkan diri sendiri hingga ingin bunuh diri.

Aku tak kalah terpukul dan juga mengalami kesedihan yang mendalam. Para tetangga, keluarga, guru-guru hingga psikolog yang menangani mama justru memberikan perhatian dan dukungan yang besar kepadaku. Sekarang akulah orang yang paling ‘dewasa’ untuk mengendalikan situasi keluarga. Mereka ‘mengandalkan’ aku meski aku baru berusia 18 tahun, baru kelas 3 SMA dan mengalami kebingungan yang amat sangat dengan kondisi orang tuaku bahkan masa depanku beserta adik-adikku.

Depresi, itulah yang dialami mama. Dokter Amir dan Ibu Sofi sebagai psikiater dan psikolog yang menangani mama banyak menjelaskan gangguan depresi. Kata mereka, mama harus terus terusan diberi perhatian, dikuatkan melalui kasih sayang dan cinta yang tulus dari kami anak-anaknya karena kamilah sumber dari kegelisahan, ketakutan dan kesedihan yang mendalam pada diri mama. Lebih dari itu, aku juga ‘dikuatkan’ untuk selalu optimis, untuk ikhlas menerima apa yang terjadi dan berusaha mencari jalan keluar bila mempunyai suatu masalah.

Sama sekali tidak mudah ‘menenangkan’ hati mama, membuatnya gembira apalagi menjadi optimis. Kami berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaan sedih dan khawatir di hadapan mama. Padahal, aku sendiri begitu banyak pikiran dan mengalami kesedihan juga apalagi sehari setelah mama dirawat untuk ke-3 kalinya di rumah sakit bagian kejiwaan ini, Dani kekasihku memutuskan hubungan denganku.

Hari ini, hari ke-4 mama dirawat di rumah sakit, juga hari terakhir di penghujung tahun 2012. Hatiku sendu, menghabiskan malam tahun baru di rumah sakit dalam keadaan patah hati pula. Luar biasa, bathinku berkata tahun ini tahun yang penuh dengan pengalaman baru, tak terkatakan. Di sana ada perasaan sedih yang luar biasa namun tak akan aku ucapkan selamat tinggal padanya karena di tahun 2012 ini pula banyak pengalaman baru yang bisa memperkaya bathinku, membantu mendewasakan dan mematangkan pribadiku.

Besok adalah hari pertama di tahun yang baru. Aku masih berlinang air mata ketika bathinku bertekad, hidup harus dijalani. Aku tidak takut untuk menangis. Kata Ibu Sofi, semua orang boleh bersedih tetapi jangan terlalu sedih. Artinya kita harus berusaha untuk mengendalikannya, carilah jalan keluar dari masalah yang dihadapi agar tidak bersedih berkepanjangan. Aku akan mencari teman atau siapa saja yang dapat dijadikan teman bicara untuk ‘meringankan’ beban hati dan pikiran. Dan aku bertekad akan membantu mama mengatasi gangguan depresinya, membantu dia mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan seperti ketika masih ada alm. Papa. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jadi tetaplah optimis.

*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Mira Seba.

Ketika Aku Mencintaimu

Oleh Rizki Mulya Pratiwi

Salah satu kata pepatah yang kini berperan penting dalam perjalanan hidupku adalah “benci dan cinta memiliki perbedaan yang sangat tipis. Kalau kau terlalu mencintai seseorang, kelak kau akan sangat membencinya. Dan bila kau sangat membenci seseorang, maka kelak kau akan sangat mencintainya.”

Dulu aku sama sekali tak pernah membayangkan dapat hidup bersama Ahmad Muamar, seorang pemuda yang awalnya sangat kubenci. Beberapa tahun silam, ketika kami masih sama-sama bekerja di sebuah restoran, ia jatuh cinta padaku karena aku membuatkannya segelas teh manis. Pada waktu itu aku sama sekali tidak membayangkan bahwa ia akan jatuh cinta padaku, karena aku membuatkan minuman itu bukan untuk menarik perhatiannya, tapi karena ia temanku.

Ia mulai meneleponku tiap malam, membuatkanku minuman di pagi hari, sampai akhirnya ia menyatakan perasaan cintanya padaku. Aku tak pernah menyalahkan rasa cintanya, karena mencintai adalah hak semua orang. Tapi ia mulai menuntut alasanku ketika aku katakan bahwa aku tak mencintainya. Aku hanya menyukainya sebagai teman baik.

Ia terus memaksaku agar aku mencintainya dan itu membuat aku sangat membencinya. Aku tak bisa memaksakan hatiku untuk mencintai orang yang tak aku cintai. Aku mencari alasan untuk menolaknya. Seminggu kemudian aku mengatakan padanya bahwa aku sudah bertunangan dengan orang yang dijodohkan ayahku. Aku sampai harus menyewa seorang teman untuk aku kenalkan sebagai tunanganku di depan Amar.

Lambat laun ia tahu kalau aku berbohong. Ia mulai menuntutku lagi untuk menerima cintanya. Aku benar-benar merasa tertekan dibuatnya. Karena tak tahan lagi, aku menjanjikan waktu tiga bulan. Barangkali saja tiga bulan ke depan aku bisa mencintainya. Tapi kenyataan berkata lain. Aku malah jatuh cinta pada pemuda lain bernama Ikhsan.

Janji adalah hutang, dan hutang harus dilunasi. Mau tak mau aku harus menerima cinta Amar. Aku pun mulai mencoba menjalani hubungan dengannya dan mengesampingkan perasaanku pada Ikhsan. Baru seminggu menjadi pacarnya, aku sudah tidak kerasan. Ia terlalu protektif bagiku yang hobi jalan-jalan. Aku mulai membesar-besarkan kesalahan-kesalahan kecilnya. Setelah dua minggu aku bertahan, aku pun memutuskan hubungan kami.

Seminggu setelah aku putus dengan Amar, aku menjalani hubungan dengan Ikhsan yang ternyata juga mencintaiku. Aku tahu, pasti itu sangat menyakiti hati Amar. Bahkan beberapa temanku mencap aku brengsek karena menyakiti hati Amar. Tapi pada waktu itu aku tak pedulikan apa pun, karena aku sedang jatuh cinta dan sedang terbang mengangkasa menuju nirwana cinta. Lima bulan kemudian aku resign dari restoran dan banting stir jadi penjaga toko yang gajinya sangat pas-pasan. Sebagai seorang perantau, dengan gaji setengah dari gaji lama, hidupku jadi serba kekurangan. Di saat aku terpuruk, Ikhsan malah meninggalkanku. Ia lebih memilih jabatannya daripada aku. Aku luntang-lantung, hilang arah, kerjaanku mulai berantakan, juga hidupku mulai tak karuan.

Empat bulan setelah putus dari Ikhsan, aku dapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan dan mulai menata hidupku kembali. Saat itu aku merasa sangat kesepian. Hati kecilku berharap Amar kembali. Aku baru menyadari bahwa hanya dia yang mencintaiku dengan tulus. Sikap protektifnya kepadaku adalah salah satu caranya mencintaiku. Di setiap sholatku aku memohon pada Tuhan agar memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku pada Amar. Jika Amar sudah sangat membenciku dan tak tersisa lagi cinta untukku, aku harap ia masih bisa memaafkanku.

Setiap ada telepon atau SMS bernomor asing masuk ke Hp-ku, aku akan berharap itu Amar. Sampai akhirnya ia benar-benar meneleponku seminggu sebelum hari ultahku. Baru kali itu aku merasa sangat bahagia sekaligus lega menerima telepon darinya. Aku segera meminta maaf dan mengatakan padanya bahwa ternyata aku membutuhkannya. Aku sangat beruntung karena Amar masih mencintaiku, katanya meskipun ia mencoba membenciku, ia tak pernah bisa melakukannnya.

Lagi-lagi sikap protektif dan tempramentalnya membuatku jengah. Ia juga sangat egois. Ia mau mengkritik tanpa mau dikritik orang lain. Akhirnya untuk kedua kalinya aku putus dengan Amarku.

Tiga bulan kemudian ia datang lagi dan meminta maaf kepadaku. Aku – yang mungkin telah ditakdirkan Tuhan untuk melabuhkan hatiku padanya – pun memaafkannya. Pada malam itu ia mengatakan bahwa ia tak ingin kehilangan aku lagi dan berniat untuk mempersuntingku. Aku bahagia mendengarnya. Aku tak  pernah memikirkan ini sebelumnya. Selamat tinggal masa lalu, karena awal tahun 2013 ini aku akan menikah dengan Amar dan memulai kehidupan baru bersamanya. Aku bersyukur dulu sangat membencinya hingga sekarang aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangan dia sampai nanti maut yang mengambilnya dariku.

*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Rizki Mulya Pratiwi.

Hello 2013, Goodbye 2012!

Oleh Erlinda Sukmasari Wasito

Sebentar lagi kita akan meninggalkan 2012 dan memasuki 2013. Tahun yang menyenangkan dan penuh gelombang. Tahun yang membuat saya tumbuh dan berkembang. Dua belas bulan, 52 minggu, dan 365 hari yang terasa singkat adalah bukti betapa saya menikmati hidup. Betapa cepat waktu bergulir. Hingga ketika akan melepas 2012, banyak kenangan indah yang tersimpan dalam memori.

Salah satu pengalaman paling menakjubkan di tahun 2012 adalah saat saya dan tim membuat film dokumenter berdurasi 15 menit dengan tema kebudayaan lokal. Ini terjadi di semester dua kuliah saya di jurusan Komunikasi Diploma IPB. Saya yang tidak punya pengalaman membuat film apalagi terlibat dalam sebuah pembuatan film langsung didapuk sebagai sutradara. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya. Jelas bangga. Teman-teman satu tim memberikan kepercayaan yang luar biasa pada saya.

Film kami berjudul “Bekasi Bukan Betawi”. Dalam film ini kami menyoroti kehidupan Teh Eem Bilyanti dan keluarganya sebagai seniman yang memperjuangkan eksistensi kebudayaan Bekasi. Kami mengikuti kemanapun Teh Eem melangkah. Mulai dari mengurus anaknya yang masih bayi, melatih tari anak-anak di sanggar di halaman rumahnya, hingga mengantar anak didiknya mengikuti lomba tari. Tak kalah dengan sang putri, ayah Teh Eem yang seorang dalang dan ibunya yang sinden masih giat melaksanakan pertunjukan dari panggung ke panggung.

Saya terpesona. Akibat tugas pembuatan film ini, saya tidak hanya mendapat kesempatan menjadi seorang sutradara. Mata saya pun menjadi terbuka. Karena seperti kebanyakan orang awam lainnya, dulu saya berpikir kesenian yang dimiliki Bekasi sama saja dengan Betawi. Padahal Bekasi bukanlah Betawi. Bekasi memiliki ciri khasnya sendiri.

Selain misi mendapat nilai yang bagus, saya dan tim pun terdorong ingin mengangkat kisah perjuangan Teh Eem dan keluarganya agar dapat diapresiasi lebih banyak orang. Dengan memutar film itu di kelas, di depan dosen dan mahasiswa lain, saya ingin menunjukkan “Ini lho Bekasi. Bekasi juga punya seni.” Hasilnya luar biasa. Decak kagum mewarnai pemutaran film kami. Meski hasil penyuntingannya masih standar dengan berbagai kekurangan di sana sini, saya dan tim cukup berbangga hati.

Kini, menyambut 2013, saya akan segera menginjak semester empat. Di semester empat nanti saya akan kembali mendapat tugas membuat film. Hal itu membuat saya senang. Saya sangat ingin melakukan reuni, mengerjakan film bersama tim yang lama. Saya bersyukur pernah dipertemukan dan ditakdirkan mengerjakan proyek bersama mereka. Tim saya adalah orang-orang yang luar biasa, tidak banyak mengeluh, mau bersusah-susah, dan pekerja keras.

Jadi, apa saja keinginan saya di 2013? Pertama, saya ingin kembali membuat film bersama tim, terutama dengan editor. Sebab kami sudah sangat kompak dan saling memahami isi pikiran masing-masing. Kedua, saya ingin UAS berjalan dengan lancar. Saya ingin mengalami peningkatan dalam hal akademik. Ketiga, saya berharap acara yang saya dan teman-teman buat tanggal 3 Januari nanti sukses besar. Acara tersebut dibuat oleh Aksi Event Organizer, yaitu 31 orang mahasiswa yang tergabung dalam 1 kelas praktikum. Acara tersebut bernama Sparteen, akronim dari Sport and Art for Teen. Terdiri dari kompetisi 3 on 3 Basketball, Modern Dance, dan Rally Photo. Tentu, lagi-lagi, proyek sebesar ini dibuat untuk pengambilan nilai.

Tentu semua orang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula dengan saya. Saya juga mengharapkan hal-hal baik untuk mengisi sepanjang 2013. Namun, bukankah tidak ada yang namanya hal baik jika tidak ada hal buruk? Saya tidak mau memiliki daftar resolusi terlalu panjang. Saya hanya akan berusaha memaksimalkan kemampuan dan daya juang. Beginilah indahnya hidup.

*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Erlinda Sukmasari Wasito, Mahasiswi Institut Pertanian Bogor.

Pembayar Pajak, 1940

Puisi John Kuan

tax payer
gambar oleh John Kuan

Melihat kau jongkok di dalam halaman tua

National Geographic, katanya: [ Orang Toraja

memakai bahu jalan sebagai blangko pajak ]

——— dua raut wajah negeri atas, seolah baru

melangkah keluar dari mimpi purba leluhur, berbalut selimut.

Dingin, serius, melankolis, menghitung jumlah ladang

dan ternak dalam segenggam serpihan kayu

Tiga orang satu kursi, tentu buat pemungut pajak

dari negeri bawah. Santai, hangat, sulit diduga

entah menyindir atau bercanda. Jemarinya mondar-mandir

memindahkan ladang dan ternak ke atas sekeping batu tulis

Dari mantel kapas, hitam, menjulur keluar satu tangan cekatan

menjelma seluruh milikmu menjadi angka dan tanda.

Dua pasang kaki telanjang mencengkeram bumi, begitu kekar

menyatu, kau ingin aku tahu tubuhmu adalah tanahmu.

Kau ingin aku tahu hal begini tidak bisa dirasakan

orang beralas kaki. Atau kau sengaja meninggalkan blangko ini

buat puluhan tahun kemudian diisi pajak waktu, denyut hati.

Perempuan Sekat Hidup

Fiksi Kilat Agus Sulistyo
 

gambar ilustrasi
gambar diunduh dari kompas.com
Pagi pelan beringsut. Sinarnya merangkak di sekat sebuah bilik. Pelan … tak sepelan hasrat perempuan empat puluhan tahun itu untuk meninggalkan tangis hatinya. Dengan segenggam harap di telapak tangan. Sekenanya dia rapikan tubuhnya. Sesaat dia hembuskan nafasnya untuk memuntahkan rasa salah di sudut hatinya. Sebelum sekat-sekat itu menyaksikan bayang tubuh lemahnya meninggalkan ruang itu. Meninggalkan seorang laki-laki yang menjadi bagian cerita salah satu malamnya. Laki-laki yang masih terlena. Bergulat mengembalikan tenaga yang dia pakai untuk mengabulkan hasratnya.

“Terima kasih ya Mas …” katamu pelan kepadaku. Aku tersenyum. Mataku enggan beralih dari dua bocah itu. Tertawa lepas. Tawa yang menari di sela-sela percik air. Butir-butir air yang melayang ke udara terantuk telapak-telapak mungil itu.
“Ayo Le … sudah mandinya, masuk angin nanti. Pakai baju terus nanti jalan-jalan liat kembang api ya Nak …”
Mata kedua bocah itu begitu berbinar. Menyorotkan rasa hati mereka. “Horeeee nanti liat kembang api … kembang api!”
Aku ambil nafasku, aku hentakkan kuat-kuat. Terbayar sudah ketidakmampuanku membuang tangis kedua bocah itu semalaman. Kedua bocah yang tidak sempat tuntaskan mimpinya. Menyayatkan rintihan di atas bantal. Tangis kehilangan kehangatan di pekat dingin malam. Di antara deras hujan. Menanti sang ibu kembali. Kembali dari mempertaruhkan jiwanya untuk kedua buah nafasnya.

“Maafkan aku ya Mas, selalu rmerepotkanmu …”
Dan selalu saja aku hanya tersenyum. Senyum getir menertawakan kebodohanku. Ketidakmengertianku terhadap sketsa hidup yang ada di hadapanku. Aku hanya bisa memelihara rasa ini di salah satu ruang batinku. Selalu terhenti pada sebuah keinginan. Dan aku selalu datang terlambat. Datang di saat tangis-tangis itu telah pecah.
“Pak, nanti ikut liat kembang api ya …” suara anak ragilku membuyarkan anyaman di kepalaku.

“Mas, aku titip anak-anakku sebentar ya …”
Aku hanya ternganga. Seperti biasa, sorot mataku tak pernah mampu hentikan langkahmu. “Hanya sebentar kok Mas, aku sudah janji sama anak-anak …” gema suaramu hilang ditelan deru motor yang membawa tubuhmu. Terbawa serta sepotong harapan kedua anakmu.

Malam begitu cepat merayap. Membelit sebuah penantian. Secepat kilat aku datangi kedua bocah itu. Kali inipun aku terlambat! Kedua bocah itu telah melukiskan kesendiriannya di atas bantal itu. Aku dekap erat. Aku tampar kedua pipiku untuk mengusir kelemahanku. “Kita lihat kembang api … Kita bersama melihat kembang api itu …”

Aku sendiri … ketiga anakku sendiri … kedua bocah amanah itu sendiri …. Artinya kini tidak ada yang sendiri. Aku tersenyum, semakin lebar … hingga membahanakan tawaku. Bersanding dengan tawa kelima anak manusia itu!
“Tetetet … teeeeet … teeeeet …. selamat tahun baru kelima anakku!”
Tawa kami pecah. Berhamburan ke udara. Berkumpul dengan tawa-tawa lain. Tawa pijakan untuk tetap menjaga keinginan baik. Keinginan baik untuk menyongsong pintu hari baru. Langit yang biasanya muram. Ikut terkekeh-kekeh. Geli digelitik si kembang api.
 
Solo, Des Buncit ‘12

Metamorfosis Gadis Desa: dari Pembantu Rumah Tangga ke Penari Telanjang

Resensi Thomas Utomo

novel nh diniNamaku Hiroko selesai ditulis Nh. Dini tahun 1974. Tiga tahun kemudian atau tepatnya tahun 1977, PT Dunia Pustaka Jaya yang kala itu digawangi sastrawan Ajip Rosidi menerbitkannya dalam bentuk novel. Sempat cetak ulang sebanyak dua kali, sebelum akhirnya hak penerbitan Namaku Hiroko berpindah ke Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 1986. Di tangan GPU, Namaku Hiroko—sampai saat ini baru mengalami cetak ulang sebanyak sembilan kali. Untuk sementara, cetakan terakhir keluar pada Mei 2009. Apa sesungguhnya keunggulan dari novel bertokoh utama Hiroko ini, sampai-sampai mengalami cetak ulang berkali-kali, bahkan menjadi banyak kajian skripsi, tesis, dan disertasi, baik mahasiswa lokal maupun manca?

Secara sinoptik, novel ber-setting Jepang—dan sebagian kecil Indonesia—usai Perang Dunia II ini, memaparkan alur kehidupan Hiroko Ueno, seorang gadis udik yang merantau bekerja ke kota sebagai pembantu rumah tangga; guna memutus rantai kemiskinan yang membelit dia dan keluarganya sekian generasi. Mula-mula, Hiroko bekerja pada sepasang suami-istri berusia lanjut. Pertengkaran majikan suami-istri yang terus-menerus terjadi, nyaris setiap hari dan kematian neneknya, membuat Hiroko pindah bekerja pada sepasang suami-istri muda yang baru dikaruniai bayi merah.

Di rumah majikan yang baru, Hiroko mengenal Sanao, adik lelaki nyonya rumah yang menurut Hiroko, memiliki daya tarik demikian kuat, sehingga dia tidak berdaya mengabaikannya. Sanao adalah golongan pemuda cendekia yang datang menginap di rumah kakaknya guna mengikuti ujian yang diadakan oleh salah satu pabrik terbesar di daerah Kansai. Pemuda inilah yang kemudian mengenalkan Hiroko pada dunia dewasa: pergaulan intim antara lelaki-perempuan. Hal ini terjadi saat majikan Hiroko pergi pesta di pinggir kota.

“…… betapa hati perawanku melonjak kegirangan ketika tangannya (Sanao—pen) meraba leher dan tengkukku, kemudian turun membelai dadaku. Tangan dengan pergelangan pipih, dengan jemari kuat namun halus, bergerak dengan kemauan pasti serta keahlian tersendiri. Aku diam tak bergerak. Terayun antara mimpi dan kesadaran. Kenikmatan baru mulai kukecap, perlahan, seperti menghemat sesuatu yang lezat. Akhirnya aku terbaring setengah memejamkan mata. Napasnya dekat menghangati mukaku. Dengan pasrah, kubiarkan ketegapan laki-laki membuka jalan ke dunia dewasa yang berisi teka-teki, tetapi sekaligus penuh janji gairah bagiku…(hal. 48)”.

Sejak pengalaman bersama Sanao, yang kemudian berulang, pikiran Hiroko jadi lebih terbuka dalam memandang sekeliling. Selain wawasan yang lebih terasah berkat buku-buku yang dipinjamkan Sanao, Hiroko juga jadi percaya diri dalam menanggapi bentuk mukanya yang bulat gemuk, dengan rambut yang tegang kaku, kusut, kurang terurus, juga pergelangan tangannya yang menggembung dan betis yang membengkok. Menurut Hiroko, bentuk tubuhnya tersebut tidaklah menarik dan karenanya dia dijangkiti rasa rendah diri. Namun Sanao yang beraut muka tampan dan berperawakan gagah penuh kejantanan, berkenan menggaulinya secara intim. Hal ini membuat Hiroko penasaran dan bertanya-tanya: gerangan apa yang menyebabkan Sanao tertarik pada dirinya? Jawaban atas pertanyaan itu baru terkuak pada malam terakhir Sanao menginap di rumah kakaknya. Rupanya, Sanao terpikat pada sepasang dada Hiroko yang ranum menggiurkan, juga karena pinggul Hiroko yang berisi, amat menggairahkan.

Pengakuan Sanao tersebut, membuat Hiroko berpikir, “Dua kekayaan yang sewaktu masa sekolah kuanggap sebagai beban, karena membedakan diriku dari kawan-kawanku, kini malah kupandang sebagai kebanggaan. Benarlah seperti yang pernah kubaca dari salah satu majalah, bahwa datangnya seorang lelaki dapat merubah anggapan seorang perempuan terhadap dirinya sendiri,” (hal. 53).

Kepergian Sanao ditambah kerewelan tuan rumah yang memaksa Hiroko melayani kebutuhan seksualnya selama delapan hari berturut-turut tanpa tambahan uang saku atau gaji ekstra, membuat Hiroko tidak kerasan bekerja di rumah pasangan muda tersebut. Setelah mencari dan bertanya ke sana-kemari, akhirnya Hiroko mendapat pekerjaan yang cukup sesuai dengan keinginannya, yakni menjadi pelayan toko. Rupa-rupanya, selain dipasrahi tugas menjadi penolong sekaligus penunjuk jalan bagi pembeli yang membutuhkan, Hiroko juga diberi tanggung jawab untuk menjadi peragawati toko guna memamerkan gaun, pakaian, atau baju yang sedang dipasarkan sesuai musim.

Bersamaan dengan itu, Hiroko berkenalan dengan Yukio Kishihara, lelaki setengah tua berpunggung miring dengan deretan gigi cokelat oleh rokok. Meskipun penampilan Yukio secara jasmaniah jauh dari kata menarik, Hiroko tetap mau berhubungan bahkan pergi keluar bersama lelaki itu. Alasannya satu: lelaki setengah tua yang mengepalai pabrik besar itu, memiliki dompet yang tebal. Sampai suatu malam, Hiroko sukarela menyerahkan tubuhnya ke pelukan Yukio, usai keduanya menonton pertunjukkan striptease. Sejak malam itu, Hiroko menjadi perempuan simpanan Yukio, dengan bayaran uang saku yang menggiurkan.

Sambil menjalin hubungan dengan Yukio, Hiroko terus memutar otak, mencari pekerjaan tambahan yang mampu memberinya gaji lumayan yang bisa mempertebal tabungannya, sehingga dia bisa memutuskan hubungan dengan Yukio. Karena semakin lama, Hiroko semakin muak dengan kelakuan dan penampilan Yukio, kecuali isi dompetnya, tentu saja.

Tanpa repot mencari, suatu malam, Hiroko mendapat pekerjaan bergaji lumayan, yaitu menjadi penari telanjang di sebuah bar. Pada saat yang sama, Hiroko berkenalan dengan Suprapto, mahasiswa asal Indonesia beraut muka tampan berkantong lumayan. Kesempatan itu dimanfaatkan Hiroko guna mencampakkan Yukio dan beralih ke Suprapto.

Baik Hiroko maupun Suprapto merumuskan bahwa, “Seorang penari telanjang seperti penari-penari lain. Pikiran penonton—itulah yang baik atau buruk” (hal. 164).

Hiroko akhirnya memutuskan hubungan dengan Suprapto, setelah tubuh pemuda itu menggendut dan gerakannya berubah lamban. Hiroko beralih ke pelukan Yoshida, suami sahabat karibnya; Natsuko. Meski sempat berselingkuh dengan Sanao; adik mantan majikannya yang dulu, hubungan Hiroko dengan Yoshida dapat berlangsung langgeng sampai memiliki dua anak. Yoshida bahkan membelikan Hiroko rumah, bar, dan toko.

“Ya. Aku puas dengan kehidupanku. Hidup di tengah kota yang beragam. Dan aku tidak menyesali pengalaman-pengalamanku,” papar Hiroko mengakhiri novel ini (hal. 242).

Secara substansial, tokoh Hiroko merupakan gambaran metamorfosis seorang gadis desa yang udik lagi naif menjadi perempuan hedonis yang bergerak maju mengejar hawa nafsunya akan uang dengan memasabodohkan segala pertimbangan moral atau kesopanan, seperti percakapan antara Hiroko dengan Yoshida,

“Apa yang paling Anda sukai di dunia ini?”

“Apa yang paling saya sukai?” Kami tetap berpandangan. “Uang!” (hal. 208).

Atau tercermin dalam pernyataannya berikut: “Masa bodoh semua hukum, baik teman, sahabat ataupun moral yang dibenarkan kebanyakan orang.” (hal. 214).

Hiroko yang semula pemalu dan lugu berubah menjadi perempuan yang penuh percaya diri, bebas, ambisius, pragmatis, materialistis, dan pemuja kenikmatan hidup (hedonis). Dia bahkan tidak ragu-ragu bergaul intim secara bebas dengan bermacam lelaki: menyerahkan keperawanannya kepada Sanao, adik lelaki majikannya, menjadi eksperimen seksual majikannya, menjadi perempuan simpanan Yukio Kishihara, kumpul kebo dengan Suprapto, menjadi perempuan idaman lain atau PIL Yoshida, suami sahabatnya, “berselingkuh” dengan Sanao, dan juga bercintaan dengan lebih banyak lelaki saat bekerja sebagai penari telanjang. Kecuali dengan Sanao, semua pergaulan intim Hiroko terjadi disebabkan karena faktor kebendaan (uang) semata. Dan ketika pergaulan intimnya dengan Suprapto mengakibatkan kehamilan, dengan enteng Hiroko menggugurkannya (hal. 71-72).

Selain bebas bergaul intim dengan beragam lelaki, Hiroko juga memiliki keleluasaan penuh dalam memilih pekerjaan. Hal ini dapat ditelusuri dari perantauannya ke kota yang mula-mula bekerja sebagai pembantu rumah tangga sebanyak dua kali, kemudian menjadi pelayan toko yang disambung menjadi peragawati, disusul menjadi penari telanjang sekaligus hostes, dan selanjutnya menjadi pemilik toko dan bar setelah menjadi PIL Yoshida. Semua pekerjaan itu dilakoni Hiroko dengan sepenuh kesungguhan dan totalitas, karena seperti pengakuannya sendiri bahwa dia adalah jenis orang yang menghirup kehidupan tanpa setengah-setengah (hal. 240).

Sesungguhnya, apabila mau, Hiroko akan mampu hidup “normal” seperti kebanyakan perempuan beradat Timur, ialah bekerja dan berumah tangga secara “wajar” tanpa menonjolkan daya pikat tubuh. Namun, Hiroko justru memilih keluar atau menyimpang dari ragam jenis kehidupan dan pekerjaan yang dikatakan “lazim di masyarakat” semata karena uang. Selain mementingkan uang, Hiroko juga amat mementingkan penampilan jasmaniah, baik diri sendiri maupun orang lain—termasuk lelaki yang hendak mengajaknya bercintaan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan sifat dan sikap Hiroko terjadi setelah dia bermukim di kota. Nilai-nilai pedesaan yang lebih mementingkan kebersamaan, sopan santun, dan toleransi perlahan-lahan Hiroko tanggalkan dan diganti dengan nilai-nilai kehidupan kota yang kerap dikatakan “modern” namun sesungguhnya produk kapitalis. Dan pada akhirnya, Hiroko berubah menjadi perempuan yang egois.

Seperti umumnya karya-karya Nh. Dini, novel ini pun sesungguhnya bermuatan gugatan terhadap dominasi kaum lelaki. Melalui tokoh Hiroko, Nh. Dini hendak menunjukkan bahwa perempuan pun mampu ber-ulah krida layaknya lelaki yang tidak mengindahkan pertimbangan moral atau hukum sopan santun masyarakat. Meskipun kelakuan Hiroko cukup membuat “ngilu” pembaca, namun barangkali hal itulah yang menyebabkan novel ini laris di pasaran dan lebih dari layak baca semata demi meluaskan wawasan. Tentu saja, daya kritis dan filter yang kuat tetap harus menjadi pegangan yang utama saat melalap novel berilustrasi sampul gadis bertelanjang dada ini.

Ledug, 1 Januari 2013

Ilustrasi Sampul Namaku HirokoJudul            :     Namaku Hiroko
Pengarang    :     Nh. Dini
Penerbit       :     Gramedia Pustaka Utama
Cetakan        :     Kesembilan, Mei 2009
Tebal            :     248 halaman
ISBN            :     978-979-655-587-1
Harga           :     Rp 45.000,00
 
 
Thomas Utomo bekerja di SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon/SMS 02815730489. E-mail totokutomo@ymail.com

Karena Setiap Kata Punya Makna