Arsip Tag: tawuran pelajar

WWC: Semua Orang Bisa Menjadi Pahlawan

Oleh April Fatmasari

perkelahianpelajar
gambar diunduh dari bangauputih.info

Dari judul yang tertulis memang mengartikan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk menjadi pahlawan hanya saja setiap orang memiliki perbedaan dalam memaknainya. Bagaimana orang bisa disebut sebagai pahlawan? Apakah saat orang tersebut membantu orang secara ikhlas atau membantu mengalahkan orang lain dalam bentrokan? Masih adakah yang menganggap bahwa menang dalam bentrokan atau tawuran disebut sebagai pahlawan? Kemudian sesaat berbangga hati telah memenangkan suatu ajang lempar batu, kerikil dan lain sebagainya hingga pihak lawan merasa tidak puas serta ingin membalas dendam. Sesempit itukah arti kata pahlawan?
Saat kita beranjak dari remaja menjadi dewasa, saat itulah pemikiran kita sedang berkembang seolah mencari jati diri sebenarnya sebagai seorang pemuda. Dan seharusnya seorang pemuda dapat membedakan makna konotasi dan denotasi dari kata pahlawan.
Sekumpulan teman atau komunitas dapat membangun jati diri seorang pemuda yang produktif secara tidak langsung. Seperti kata pepatah, siapa yang berteman dengan penjual parfum maka kita beraroma wangi sedangkan jika berteman dengan pandai besi maka kita terkena aroma tempaan besi. Sehingga pasti ada sekumpulan pemuda yang masih menganggap menjadi pemenang dalam tawuran merupakan pahlawan dalam kelompok tersebut.
Padahal sesungguhnya kita semua mengetahui bahwa tawuran itu memiliki dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Pemuda yang emosinya labil, broken home, ingin dianggap pahlawan hebat kemudian berkumpul dengan orang-orang berjiwa keras, pendendam, memiliki egois yang tinggi biasanya memiliki bentuk penyaluran yang negatif. Sekelompok pemuda tersebut akan tersulut emosinya hanya karena permasalahan sepele berlanjut adu mulut hingga berunjung pada ajang tawuran karena masing-masing kelompok merasa paling hebat. Jika tidak menerima ajakan tersebut akan dianggap sebagai pengecut.
Saat tawuran terjadi, banyak pihak lain yang tidak mengetahui duduk permasalahan termakan oleh isu tersebut hingga terkena dampaknya.
Seakan pemuda yang terlibat di dalam tawuran tersebut menganggap dirinya hebat dapat mengalahkan kelompok lain hingga luka parah. Sehingga sekumpulan pemuda tersebut akan menyimpulkan, jika ada salah seorang dari kelompok yang terluka hati maupun fisiknya maka satu-satunya jalan adalah dilawan secara fisik hingga terlihat kelompok mana yang lebih dominan terluka dan dianggap kalah.
Miris sekali jika semua pemuda memiliki pandangan seperti itu dengan mempermasalahkan hal-hal kecil bersifat individual dengan mengedepankan emosi semata. Padahal setiap pemuda memiliki zamannya. Hidup sebagai pemuda hanya sekali, waktu sekali itu akan lebih berharga untuk menyandang gelar pahlawan muda yang sebenarnya. Apakah untuk menjadi pahlawan harus melalui serangkaian peperangan? Tentu saja tidak.
Setiap pemuda dapat menjadi pahlawan di bidang yang diminati, direncanakan, ditekuni dan disalurkan secara positif pada orang lain. Pada kenyataannya, masyarakat membutuhkan pemuda yang berprestasi baik akademik maupun non akademik untuk menyelesaikan permasalahan besar bukan lagi permasalahan individu yang seolah sangat besar. Itu semua akan bisa dibangun jika pondasi tiap individu pemuda juga kuat dan pondasi paling dasar tersebut adalah agama.
Jika pondasi agama kuat dibangun di lingkungan keluarga, teman-teman yang mendukung kegiatan positif, bersiaplah menjadi pahlawan yang peka terhadap realita kehidupan masyarakat. Karena setiap pemuda memiliki potensi menjadi pahlawan di lingkungan masyarakat.

*) Penulis adalah mahasiswi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.

Artikel-artikel Terpilih dari Weekly Writing Challenge RetakanKata

Kabar Budaya – RetakanKata

prosa liris
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam weekly writing challenge. Untuk tema minggu lalu “Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013”, banyak naskah yang masuk dan rata-rata mengesankan. Sungguh berat hati kami untuk memilih tulisan-tulisan terbagus yang kami yakin, sangat berkesan bagi para penulisnya. Maka, RetakanKata menampilkan empat tulisan terbagus pada weekly writing challenge kali ini. Ini satu lebih banyak dari tiga tulisan yang direncanakan.

Oh ya, tulisan-tulisan terpilih dapat dibaca pada link-link berikut:

Hello 2013, Goodbye 2012!
Ketika Aku Mencintaimu
Jangan Bersedih
Batu Karang di Bawah Sebuah Payung

Selanjutnya, untuk weekly writing challenge minggu ini, RetakanKata mengangkat tema:

“Tawuran Pelajar/Mahasiswa, Penting?”

Persahabatan kadang melampaui kampus-kampus. Artinya, bisa saja kawan kamu atau saudara kamu atau mungkin bahkan “gebetan” kamu, berbeda kampus dengan tempat kamu belajar. Nah, ketika terjadi tawuran, kadang melebar ke mana-mana, pemicunya tidak jelas, tujuannya juga tidak jelas, bahkan kadang yang terlibat tawuran tidak tahu menahu duduk persoalannya. Pokoknya main hajar. Bayangkan jika tiba-tiba kampus atau sekolahmu tawuran dengan kampus atau sekolah tempat sobat dekatmu atau saudaramu belajar. Main hajar, yang dihajar kawan sendiri, menyedihkan kan?

Nah, weekly writing challenge minggu ini menantang para sahabat RetakanKata untuk menjawab pertanyaan:

Apa sih sebab terjadinya tawuran?

Mengapa harus tawuran?

Cari aktivitas yang positif yuk!

Tentu saja jawabannya dalam bentuk esai, dengan ketentuan penulisan esai sebagaimana tercantum pada artikel kirim naskah. Seperti biasa, kirim lewat surel retakankata@gmail.com dengan subyek WWC_JudulEsaiKamu. Batas akhir kirim naskah 19 Januari 2013. Ebook keren hanya untuk yang artikelnya dimuat.

Kami tunggu jawaban tantangan menulis ini.