Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Korupsi dan Penumpulan Akal Sehat

Gerundelan John Kuan

Selama bertahun-tahun membaca catatan-catatan sejarah Cina, ada dua peristiwa yang tidak bisa hilang dari pikiran. Mungkin disebabkan kedua hal ini sangat sulit dijelaskan, berhubungan dengan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kehilangan akal sehat. Tetapi sesungguhnya siapa yang benar-benar bisa menjelaskan ketamakan manusia:

ilustrasi diunduh dari 4.bp.blogspot.com

Di ujung musim semi tahun 777, salah satu perdana menteri terkorup dari Dinasti Tang bernama Yuan Zai ( 元载 ) terjerembab dari puncak kekuasaannya. Dia dihukum mati, demikian juga isterinya, dua orang anaknya, sanak keluarga dekat dan jauh, juga orang-orang yang pernah menggelayut di dahan gemuknya mengisap kuasa dan korupsi. Harta bendanya disita, rumah-rumah dan kantor-kantornya digeledah, dari semua barang-barang langka dan mewah yang disita, ini paling mengejutkan: Tukang sita menemukan 800 Dan merica yang ditimbun di salah satu kantornya ( semacam mahkamah agung ). Ini adalah salah satu bukti sejarah korupsi yang paling aneh, menggelikan dan absurd. Sekarang mari kita hitung-hitung 800 Dan merica dengan ukuran timbangan masa kini. 1 Dan sama beratnya dengan 79.320 gram, 800 Dan sama dengan 63.456.000 gram, berarti sekitar 63 ton. Jumlah ini mungkin cukup untuk konsumsi seluruh penduduk Chang’an selama satu tahun. Saya tidak habis pikir kenapa Yuan Zai mau menumpuk begitu banyak merica, menyimpan 63 ton merica sebagai hasil korupsi tentu sangat merepotkan. Tetapi dari catatan sejarah kita tahu Yuan Zai sangat cerdas, dia dari keluarga miskin, dia memanjat ke puncak birokrasi dari tingkat paling rendah. Tetapi kenapa dia bisa berakhir demikian. Setelah memendam bertahun-tahun tanda tanya ini, akhirnya saya coba membuat sebuah kesimpulan yang sangat berani: Korupsi ternyata bisa menumpulkan akal, bisa membuat orang jadi bodoh; dia pasti merasa dirinya paling cerdas sehingga merasa bisa membohongi seluruh dunia.

Satu lagi adalah perdana menteri dari Dinasti Ming bernama Yan Song ( 严嵩 ), ceritanya kurang lebih sama, hanya saja tidak demikian tragis seperti Yuan Zai, tetapi bukti korupsinya sama anehnya, sama menggelikan, sama absurdnya. Setelah dipecat dari jabatan dan dijebloskan ke penjara, dari rumahnya disita setumpuk sumpit, jumlahnya sangat mencenggangkan, ini saya beri daftar isinya:
sumpit emas 2 pasang, sumpit gading berhias ukiran emas 1.110 pasang, sumpit bertahta permata 10 pasang, sumpit gading 2.691 pasang, sumpit bambu bintik 5.931 pasang, sumpit gading berhias ukiran perak 1.009 pasang, sumpit kayu eboni 6.896 pasang, sumpit kayu merah 9.510 pasang, total 27.159 pasang, kalau tidak salah hitung. Yan Song adalah kolektor nomor satu dalam 3.000 tahun sejarah sumpit yang tercatat di dalam lembaran sejarah. Apakah korupsi ada hubungannya dengan nafsu makan, saya tidak tahu, agaknya perlu di dalami. Tetapi korupsi berhubungan dengan penumpulan akal, saya kira bisa diterima.

Lomba Menulis Flash Fiction RetakanKata

Kabar RetakanKata – Ingin mendapat pulsa plus buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga? Ikuti saja lomba menulis flash fiction di Blog RetakanKata. Lomba menulis ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda, 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2012. Kali ini lomba dikhususkan untuk menulis flash fiction bertema “Kebangkitan Pemuda”. Kamu bisa menulis segala lika-liku terkait dengan peran pemuda dan atau mahasiswa dalam berkontribusi pada kemajuan masyarakat atau pun generasinya.
Ketentuan lomba adalah sebagai berikut:
  1. Peserta lomba tidak perlu mendaftarkan diri. Siapa saja yang ingin mengikuti lomba dapat langsung mengirim naskah lomba sebanyak-banyaknya melalui email retakankata@gmail.com dengan subyek email LOMBA FF_nama pengirim.
  2. Karya yang dikirim dilampiri dengan kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia) dan alamat email atau nomor handphone yang mudah dihubungi.
  3. Karangan adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
  4. Jika ada kutipan dari pihak lain dalam karangan, harus mencantumkan referensi di catatan kaki.
  5. Karangan ditulis pada kertas A4 dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, dengan spasi 1,5 margin 3 cm dari atas, 2 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 2 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 400 sampai dengan 1000 kata.
  6. Karya-karya pilihan akan dikumpulkan dan jika para pengarang menghendaki untuk dibukukan, RetakanKata akan membantu proses selanjutnya sepanjang memenuhi persyaratan untuk diterbitkan dalam sebuah buku.
  7. Hadiah:
  • Pemenang I mendapat pulsa sebesar Rp150.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang II mendapat pulsa sebesar Rp 100.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang III mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Batas akhir pengiriman naskah tanggal 16 November 2012 pukul 24.00 WIB.
Nama peserta dan naskah lomba tidak akan dipublikasikan. Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 30 November 2012. Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
NB:
Hadiah pulsa dapat ditukar dengan uang tunai jika pemenang menginginkan.
Selamat Berkarya!
Didukung Oleh:

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati #4

Sembilu

berjalan di kegelapan
Ilustrasi dari blogspot.com

1.
Setiap langkahmu adalah jarak,
menjauh dari kenangan yang rapuh,
meninggalkan luka di setiap jejak.

2.
Harapanmu merimbun jadi sepiku,
mekar liar di ufuk fajar,
rubuh luruh di kaki subuh.

3.
Tentang rasa yang tak pernah kautahu,
serupa labirin di ruang kosong,
berkelindan di kekal ketidakpastian.

4.
Tanpamu,
setiap kata adalah perjumpaan kekalahan demi kekalahan,
pelan menuntunku menuju kekalahan selanjutnya,
hingga entah.

Kutiup Malam

Bila namamu tak mampu lagi kusebut,
Kutiup malam,
Biar tenggelam dalam hitam.

Pejalan

Seorang pejalan, bercerita segala sesuatu yang ditemu di jalan. Tentang pohon, tentang kayu, tentang tanah, tentang batu. Tentang yang lekat, tentang yang luruh, tentang igau atau denyut semak perdu. Angin barangkali diam, tetapi sunyi seringkali lebih lolong dari pecahan hati.
Kaki goyah harus tetap kokoh menopang dada -tempat kenangan bersemayam-, juga benak -tempat resah berlabuh dan hiruk pikir berkecamuk-.
Tidak banyak hal dapat dibawa dalam kantung nasib. Lorong panjang kadang bercecabang. Cukupkan bekal untuk esok sehari. Sebab lusa, -mungkin datang, mungkin juga tidak-.
Hari adalah hitungan rasa bosan. Dan waktu telah menjelma pemburu. Mata lintang pukang mencoba untuk tidak tertipu fatamorgana. Telinga sedikit berkarat. Banyak suara tetapi tidak banyak lagi yang didengar selain isak dan tangis. Selebihnya air mata yang berbicara. Mulut sesekali tersenyum pada siapa saja yang kebetulan berpapasan. Sepotong firman terlipat rapi di tepi jalan.
Setiap pejalan akan berpapasan, dan juga kembali sendirian. Setiap kota adalah rumah. Setiap cinta adalah dermaga. Dan kabut adalah pengingat kerinduan tempat doa-doa dikabulkan.
Senja dan kicau burung, liuk padu batang padi adalah penghibur harap yang terbunuh beribu kali. Angan yang terbang ke pelukan entah, tak jarang pecah mengalir bersama getir.
Seseorang mencari seorang yang lain. Mereka yang kalah tertidur dalam lelah. Dan malam menjadi semakin sepi. Pejalan hidup tidak untuk berhenti.

Algojo

Cerpen Junaidi Abdul Munif
Editor Ragil Koentjorodjati

Perkenalkan, namaku Jimmy. Lengkapnya, aku tak perlu menyebutkannya, karena aku takut Anda akan terus mengingat namaku. Kasihan sekali Anda jika tahu nama lengkapku, karena otak Anda akan diisi oleh sesuatu yang –menurutku- kurang berarti. Aku sarjana ekonomi lulusan dari sebuah universitas ternama. Kalau ditulis lengkap, namaku akan menjadi Jimmy……… SE. Hebat bukan?
Namun, aku sering dipanggil dengan nama Jack. Apa hubungannya? Jangan dibahas terlalu lanjut. Dan aku rasa itu bukan hal penting. Banyak sekali nama panggilan yang sangat jauh berbeda dan kelihatannya sama sekali tak ada hubungannya dengan nama asli. Kalau nama panggilanku Jack, minimal masih ada hubungannya bahwa keduanya sama-sama diawali dengan huruf J.
Profesiku? Mungkin Anda akan mengira aku bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar. Berpenampilan parlente dengan menenteng tas ke mana-mana. Bukan, bukan itu. Aku sangat jauh dari kesan itu: seorang eksekutif muda yang jadwal hari-hari dipenuhi rapat dan rapat, ketemu relasi bisnis, seorang pekerja yang tak pernah kekurangan uang di kantong, dompet dan rekeningnya, yang jika berbelanja hanya tinggal menggesekkan kartu kredit.
Sekarang aku akan memberitahukan apa pekerjaanku. Dan, ini penting, Anda harus mencatatnya, sekaligus……waspada! Pekerjaanku adalah pembunuh bayaran!
Tentang profesi yang mengerikan ini, aku juga tidak tahu pasti mengapa ada profesi seperti itu di dunia ini. Sangat jauh dari ilmu yang aku pelajari selama kuliah. Tapi itulah, di negara tercinta ini sudah terlalu banyak sarjana sehingga lapangan pekerjaan yang sedikit itu pun harus diperebutkan oleh orang yang di belakang namanya dipenuhi dengan gelar. Pekerjaan seperti sebutir gula yang diperebutkan oleh ribuan semut. Dan karena aku gagal bersaing untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku, apa boleh buat, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi, akhirnya aku memilih pekerjaan ini.
Aku cukup bersyukur. Di tengah persaingan hidup yang semakin sengit, pekerjaanku masih jalan terus. Pekerjaanku tidak pernah terkena imbas krisis global. Bahwa sering ada orang yang kena PHK, aku sama sekali tak pernah mengalami hal itu. Ya, Anda harus tahu, kalau Anda sering menonton berita kriminal di televisi, banyak sekali terjadi peristiwa pembunuhan. Tahukah Anda, bahwa dari yang mati itu ada yang merupakan korbanku? Aku sangat beruntung, polisi tak bisa melacak jejakku. Bukankah ada adagium, penjahat selalu selangkah lebih maju dari polisi? Mungkin Anda menganggap aku sebagai pembunuh profesional yang sangat lihai. Terima kasih kalau Anda berpikir begitu, artinya Anda memberi apresiasi pada pekerjaanku.
Tentang polisi yang selalu gagal mencium jejakku, aku tak tahu kenapa. Padahal aku tak pernah secara khusus belajar keterampilan membunuh secara canggih, yang jejaknya tak bakal diketahui polisi. Aku menjadi percaya, bahwa nasib baik dan keberuntungan itu memang ada. Dan selalu lolosnya aku dari tangkapan polisi adalah salah satu keberuntungan itu.
Order pembunuhan yang pertama kali kuterima datang dari seorang pemilik toko. Aku tak akan menyebutkan jenis tokonya itu. Aku takut Anda akan mencurigai orang itu. Toko itu menghidupi banyak karyawan. Kasihan jika karyawan-karyawan itu mesti kehilangan pekerjaannya jika banyak orang seperti Anda akan memboikot toko itu.
Dia menyuruhku karena benci usahanya disaingi. Ya, pada awalnya toko pengorder jasaku ini masih bisa mengimbangi toko saingannya. Namun pelan-pelan, para pelanggannya mulai beralih ke toko saingannya itu. Pengorderku merugi. Ia mendapat modal dari mengutang. Karena ia tak bisa membayar utangnya, ia semakin benci pada saingannya dan berniat menghabisinya. Tapi ia bingung bagaimana caranya menghabisi nyawa pemilik toko rival bisnisnya. Ia takut tertangkap polisi.
Beruntung saat itu aku sedang membeli suatu barang di tokonya. Aku bilang padanya, aku sangat butuh barang itu tapi tak mampu membayarnya. Ia pun mengatakan bahwa usahanya mulai seret. Ia berkeluh kesah tentang keuntungannya yang semakin hari semakin menyusut. Lantas aku bilang, akan bekerja menjadi pelayan di tokonya. Ia menjawab bahwa ia sudah tak mampu lagi membayar karyawan. Lalu aku mengatakan apa pun akan kulakukan untuk membayar sebagai kompensasi kalau aku telah mengambil barangnya. Secara tak terduga, dia memanggilku masuk ke ruangan kecil yang sunyi. Di situ dia mengeluarkan ide gila untuk membunuh pemilik toko yang membuat usahanya bangkrut. Gilanya, aku menyanggupi untuk membunuhnya. Bukankah aku sudah mengatakan akan melakukan apa saja untuk membayar barang yang kuambil itu?
Selama dua hari aku selalu datang kepadanya, berdiskusi dengan cara apa aku harus membunuh saingannya. Kami saling bertukar pendapat tentang cara yang paling aman dari kecurigaan polisi. Dan akhirnya kami sepakat membunuhnya dengan suatu cara. Cara apa itu? Aku tak akan menjelaskannya di sini. Takut kalau Anda tertarik untuk mengikutinya. Bisa-bisa orderku berkurang, diserobot oleh Anda!
Pemilik toko saingannya itu seminggu kemudian mati di tanganku. Pengorderku senang bukan main. Ia memberiku uang dua juta. Tapi aku menolaknya. Dalam perjanjian sebelumnya tak ada kesepakatan kalau aku akan menerima imbalan uang. Aku menganggap pembunuhan itu sesuai dengan nilai barang yang kuambil darinya. Ya, mau apa lagi, kalau sedang butuh, tak ada nilai yang sanggup menghargai sebuah barang.
Dari mulut ke mulut, kabar tentang keberhasilanku membunuh yang tak mampu terlacak oleh polisi menyebar secara rahasia. Aku diberitahu oleh pengorder pertamaku bahwa ada temannya yang akan menyewa jasaku. Akhirnya aku meminta handphone pada pengorder pertamaku -dan ia tak keberatan- agar memudahkan berkomuniksi dengan pengorder selanjutnya.
Mulailah aku menjalani sepak terjang sebagai seorang pembunuh profesional. Banyak dari pengorder langsung menyebutkan harga untuk nyawa orang yang aku bunuh itu. Sangat menggiurkan. Kalau sepuluh kali saja aku mendapat order membunuh, aku akan langsung jadi orang kaya. Jika telah menjadi kaya, aku berjanji akan mulai usaha dengan jalan yang benar, tentu dengan strategi membangun yayasan untuk membantu kerja pemerintah mengentaskan kemiskinan dan merawat anak-anak terlantar.

***
pembunuh bayaran
gambar diunduh dari http://www.fitr4y.files.wordpress.com

Sekarang aku akan menceritakan order terakhir pembunuhan yang kuterima. Anda adalah orang yang beruntung karena mengetahuinya. Jarang-jarang lho.
Aku sedang tiduran di kasur butut sambil merokok dan menikmati segelas kopi.
Tiba-tiba sebuah sms masuk ke nomor handphone-ku.
“Bisa Anda ke Jl Melati 20? Sangat penting.” Begitu isi sms itu.
Aku langsung membalasnya. “Bisa. Kapan? Sekarang?”
“Iya. Sekarang.”
Aku segera mengambil jaket kulit dan keluar menyetop taksi. Malam yang pekat dengan udara dingin cukup membuat kota yang siang hari sangat menggeliat ini mati.
Tak ada keramaian seperti yang terjadi di siang hari.
Setelah berdiri di pinggir jalan, sekitar seperempat jam, akhirnya aku mendapat sebuah taksi.“Jalan Melati,” kataku.
Sopir taksi langsung menjalankan taksinya tanpa sedikitpun menoleh kepadaku. Aku lebih banyak diam dari pada mengajak sopir untuk bercakap-cakap, meski sekadar omong kosong yang akan menghangatkan suasana malam yang begitu dingin ini.
Jalan Melati sangat sepi. Seperti bagian lain kota ini, seperi seorang tua renta yang kehabisan tenaga sehingga tak mampu bergerak sedikitpun. Aku mencari rumah benomor 20. Ketemu. Sudah gelap memang, tapi sebuah lampu lima watt yang menyala cukup memberi bukti bahwa memang betul ada orang memintaku untuk datang ke tempat ini.
“Selamat datang, Jack. Saya sangat butuh jasa Anda,” katanya. Ia seorang laki-laki parlente yang masih memakai setelan jas rapi, meski hari sudah malam begini.
“Siapa yang mesti saya bunuh?” tanyaku setelah duduk di sofa butut yang di sana-sini sudah berlubang.
“Ini alamatnya,” ia menyodorkan secarik kertas padaku “Dan ini fotonya,” lanjutnya sambil menyerahkan selembar foto bergambar laki-laki tua yang dandanannya tak kalah parlente dengan pengorderku ini.
“Kapan nyawanya harus keluar dari tubuhnya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok filter dan menyelipkannya di bibir.
“Malam ini.”
Secepat itukah? Pertanyaan ini batal kulontarkan. Sebagai pembunuh profesional, aku memang dituntut siap bekerja kapan saja. Kapan diperintah untuk membunuh, saat itu juga aku akan membunuh.
“Ini dp-nya. Sisanya setelah pekerjaan Anda selesai,” ia menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku tak tahu berapa isinya, karena langsung kumasukkan ke saku jaket. Tabu bagiku untuk tahu berapa ongkos tiap nyawa yang kucabut.
Aku segera melesat menembus malam yang dingin. Rokok yang kuhisap cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai diserang bermacam penyakit ini. Jalan Wisanggeni 35. Itu adalah alamat yang diberikan pengorderku di Jl Melati 20.
Entahlah, aku merasa kurang nyaman malam ini. Tidak seperti biasanya, aku akan sangat bersemangat untuk menghabisi nyawa seseorang. Menyaksikan orang mati terkapar oleh tanganku, ada kepuasan tersendiri. Anda bilang aku sadis? Itu terserah Anda. Yang penting aku puas, dapat uang banyak. Sederhana bukan?
Tapi nyatanya, aku bukan termasuk orang yang kaya. Sudah lebih dari seratus kali aku menghabisi nyawa orang, tapi tetap tidak kaya. Masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit dengan kebersihan yang tidak terjamin. Kamar mandi bau pesing karena harus bergantian dengan penghuni kontrakan lainnya. Dan kenyamanan yang terenggut karena penghuni kamar di sebelahku selalu menyetel musik rock keras-keras, seolah penghuni lainnya harus mendengar musik yang disukainya itu.
Aku telah sampai di jalan Wisanggeni 35. Sayang, aku tak bisa segera beraksi. Masih banyak orang di rumah itu. Bahkan suara para penghuni yang ada di dalamnya terdengar hingga ke pinggir jalan di tempat aku sekarang berdiri. Aku mencari tempat yang aman untuk sembunyi dan mengintai. Menunggu waktu yang tepat untuk beraksi menghilangkan nyawa orang yang fotonya ada di tanganku ini.
Aku menelepon pengorderku di Jalan Melati 20.
“Suasana belum aman. Bisa ditunda besok saja?” kataku mengabarkan situasi rumah di Jalan Wisanggeni 35.
“Harus sekarang. Tunggu sampai ada waktu yang tepat. Kalau malam ini Anda tidak berhasil membunuhnya, bisa-bisa besok saya yang akan mati.”
Akhirnya aku tetap berdiri di tempat yang terhalang semak-semak, sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang ada di saku jaketku. Gila! Lama sekali orang yang berkumpul itu membubarkan diri? Tapi sebagai pembunuh profesional, mau tak mau aku harus tetap menunggu.
Akhirnya jam dua pagi tak ada lagi keramaian di rumah itu. Aku segera menyelinap ke sana. Kebetulan lampunya masih menyala. Berarti orang yang harus kubunuh itu belum tidur. Bukan masalah buatku, orang yang akan kubunuh sudah tidur atau belum. Kalau sudah, tentu akan sangat mudah membunuhnya. Kalau belum, berarti aku harus bertarung dulu dengannya karena dia pasti akan mempertahankan diri. Ya, itung-itung sebagai hiburan dan pengalaman. Kalau pekerjaan yang aku jalani ini tidak semuanya berjalan mulus.
Aku sudah berada di depan pintu. Kudorong pintu itu sedikit. Ternyata belum dikunci. Aku tak membuang tenaga untuk mendobrak membuka pintu yang sudah dikunci.
Aku tak menyangka, orang yang akan kubunuh ini tahu kalau nyawanya mungkin sebentar lagi akan melayang di tanganku. Sama sekali ia tak takut sedikitpun menghadapiku. Malah ia tersenyum, seperti bertemu dengan sahabat yang lama tidak ketemu.
“Anda Jack? Algojo yang ditugaskan untuk membunuh saya? Sabar, masih banyak waktu. Jangan terburu-buru. Saya tak akan lari dari Anda,” katanya tenang.
Gila! Pikirku. Mau mati saja masih santai kayak gitu. Apa dia belum tahu reputasiku selama ini?
“Anda pasti pembunuh yang sangat profesional. Saya yakin akan segera mati jika Anda sekali saja menyentuh saya. Ngomong-ngomong dengan apa saya akan Anda bunuh? Anda belum pernah gagal dalam membunuh, bukan? Jangan takut, saya tak akan mengecewakan Anda. Tapi sebelum saya mati di tangan Anda, saya ingin meditasi dulu. Semacam persiapan kalau kematianku sudah tiba. Tadi banyak tamu yang datang ke rumah saya ini hingga meditasi baru bisa saya lakukan sekarang.”
Menyebalkan! Mau mati saja masih memikirkan meditasi. Kenapa ia tidak berpikir bagaimana caranya meloloskan diri dari tanganku?
Tapi memang, malam ini aku merasa aneh. Perasaanku tidak tenang seperti biasanya. Aku kurang enjoy untuk beraksi. Bahkan gugup menghadapi orang yang begitu tenang menjelang ajalnya ini.
Aku duduk di kursi yang ada di belakang tempat dia meditasi. Aku harus sabar menunggunya. Bukankah aku cukup baik membiarkan calon korbanku melaksanakan keinginannya untuk yang terakhir kali sebelum pergi untuk selama-lamanya? Jarang aku berbaik hati seperti ini.
Tapi lama sekali ia meditasi. Ia tenang duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit. Entah sedang membaca apa. Dan aku pun tak sabar untuk menghabisinya karena waktu sudah hampir menunjukkan jam tiga pagi.
Aku mendekatinya, merogoh belati dari dalam jaket kulitku. Pelan-pelan aku dekati dia. Aku begitu hati-hati mendekatinya hingga langkah kakiku nyaris tak menimbulkan suara. Ia sama sekali tak menghiraukan kalau aku sudah berada di belakangnya. Tinggal pegang lehernya dan aku tancapkan pisau belati ini ke dadanya. Beres sudah. Aku tak pernah gagal dalam membunuh.
Namun tiba-tiba, seperti ada yang mencegah tanganku untuk memegang lehernya dan menancapkan belati di dadanya. Nafasku tiba-tiba sesak. Aku jatuh tersungkur di lantai. Aku berusaha bangkit untuk membunuhnya. Tapi aku tak pernah bisa bangkit lagi. Aku pun mati sebelum berhasil membunuh orang itu. Untuk pertama kali inilah aku gagal menyelesaikan tugasku, pembunuhan ke-seratus satu.

***

Dua hari setelah kegagaln itu, sebuah berita di koran menyebutkan ada seorang laki-laki yang frustrasi karena terhimpit masalah ekonomi hendak mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di sebuah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya untuk liburan ke Paris. Namun sebelum berhasil membunuh dirinya sendiri dengan belati yang digenggamnya, ia keburu mati. Tak ditemukan bekas penganiayaan di tubuh lelaki itu. Tak ada sesuatu yang menjelaskan identitas lelaki itu. Di saku jaketnya hanya ditemukan sebuah amplop berisi potongan-potongan kertas yang ditata menyerupai uang. Diduga kuat laki-laki itu juga mengalami sakit jiwa, mungkin karena saking lamanya terhimpit kemiskinan.
Berita itu ada di pojok kanan bawah koran dengan gambar seorang lelaki yang diburamkan wajahnya, mengenakan jaket kulit sedang terkapar di lantai dengan tangan memegang belati. Sayang, tak ada yang begitu antusias membaca berita yang berjudul “Gagal Bunuh Diri, Tetap Mati” itu.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #Tamat

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 23

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Kemisteriusan almarhum Tigor dalam integrasinya bersama kelompok tani, terulang kembali oleh Ucok. Sudah 2 buah laporan lapangan Ucok tidak diserahkan ke sekretariat. Ucok semakin misterius.  Dan, semakin sering warga FDP kehilangan jejak, di mana Ucok berada ketika diperiksa di lapangan tidak ada, di sekretariat juga tak nongol, padahal dia punya tanggung jawab besar membimbing para  pemagang. DR Pardomuan tampak susah menerima laporan Armand.

“Dari Pak Regar aku dengar dia sudah bersama calo TKW menghabiskan malam di Pub Trienjel bersama para gadis dan minuman keras. Memang semakin marak kasus-kasus penculikan anak gadis orang dari desa-desa. Sudah ramai desa oleh para calo  berkeliaran.” Armand tambahkan keterangannya. DR Pardomuan hanya menatap jauh, sangat berat memikul beban. Karena laporan yang sama sudah diterimanya juga dari Maemunah dan Inggrid. Walaupun belum diangkat menjadi staff, tapi mereka berdua sangat konsisten menjaga citra FDP di tengah masyarakat.

“Yah…mungkin minggu depan kita sidang si Ucok. Kalau saja dia menerima cinta si Dewi, bisa semakin tertib hidup si Ucok itu.” DR Pardomuan kembali ke ruang kerjanya.

 ***

Sampailah saatnya penampilan teater perkawinan palsu dimulai. “Oleskan minyak gosok ini ke sekitar matamu,” kata Susanti. “Untuk apa?” Muslimin bingung.

“Supaya nampak baru siap nangis, Tolol!!” kata Susanti pula. “Pakai baju yang agak kusut agar terkesan kau sedang sangat susah menghadapi ini. Jam 8 malam diperkirakan ayah ibu baru siap makan malam bersama. Di situlah kita datang.”

Muslimin tak bisa menyembunyikan ketegangannya. Jantungnya yang berpacu kuat tak bisa dinetralisir. Dikeluarkanya motor dari garasi kostnya.

“Tenang kau menghadapinya. Masya.…debar jantungmu bisa kurasakan di goncengan ini. Tapi, aku yakin debar jantungmu pasti lebih kuat lagi kalau aku tak mau kawin sama kau, Jelekku oh Muslimin, hua..ha…ha..”

Susanti masih bisa iseng sambil mencubit perut si Muslimin di atas motor yang gemetar jalannya dibawa Muslimin.  Ayah, ibu…malam ini kami datang uh…uh…uh.. Susanti lap air mata buayanya. Muslimin tunduk gemetaran.

“Ada apa…?” Mata ibu terbelalak. Ayah juga tampak bingung melihat anak gadisnya yang selama ini keras kepala datang malam ini dalam kondisi yang sangat lemah.

“Aku yang salah Bu…” kata Susanti sambil peluk ibunya. “Aku sering lari malam dari kamar Yuni uh…uh… ke rumah Muslimin. Dan…, mendesak Muslimin melakukan zinah Bu..uh..uh..uh..” Susanti mahir sekali memainkan peran.

“HEH! Kurang ajar kau, kau rusak Muslimin, KURANG AJAR!!!” maki Ayah penuh berang.

“Maaf kan aku ayah Uh…uh…uh..” Muslimin tak berani mengangkat kepala. Hening beberapa saat, Susanti kembali tunduk duduk di tempat duduknya semula.

“Jadi, bagaimana rencana kalian?” akhirnya Ibu hapus air matanya.

“Saya harus masuk agama islam. Minggu depan kita makan bersama di desa rumah orang tua Muslimin, sekaligus akad nikah.” Susanti masih heboh menghilangkan sisa-sisa kepedihan hatinya. “Maafkan kami Ayah” Muslimin peluk tubuh mertuanya, lantas mertuanya pun memeluk kuat tubuh menantunya. Mereka saling peluk dan berurai air mata mirip di film-film India.

Baru saja keluar dari gerbang rumah.

“Hua…ha…ha….berhasil!” teriak Susanti merayakan kemenangannya, tak perduli orang-orang di jalan raya.

“Pukimak kau! Kau memang hebat!” Muslimin ikut gembira. Motor sudah berjalan normal atas kendali Muslimin yang beban beratnya  sudah terangkat dari jiwa. Minggu depan akan ada sandiwara lanjutan di rumah Muslimin. Sandiwara yang tidak seberat sandiwara malam ini.

TAMAT

Kisah Sebelumnya: Bagian 22

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Masih

Puisi Anwari WMK

Setelah berucap
Selamat tinggal
Engkau balik badan
Hatimu berkata:
Telah terlesapkan
Segenap kenang

Di tikungan jalan
Engkau hilang
Jiwamu berguman:
Telah tercampakkan
Segenap beban

Tapi di hatiku
Engkau masih ada
Tak pernah kemana-mana
Takkan kemana-mana

Dan kini,
Sajak-sajak adalah saksi
Bahwa akulah
Pencinta sejati

Bersenandung sepi
Aku lantas pulang
Ke rumah puisi
Sambil terus mengenang
Wajahmu
Meski kian kaku
Sebeku batu

(2012)

Kajian Kearifan Lokal: “Kembang Galengan”

Gerundelan David Ardyanta

foto David Ardyanta
#Syair lagu Kembang Galengan
(Cipt: B.S. Noerdian)

Kembang galengan
Meletik sing nggawa aran
Tanpa rupa tanpa ganda
Mekare mung sak sorenan

Kembang galengan
Kaudanan kepanasan
Kaidek eman-eman
Dipetik sapa oyan

Kaidek eman-eman
Dipetik sapa oyan
Dipetik sapa hang oyan
Dipetik sapa hang oyan

Taping temena nyawang langit
Ngelirik unyike godong
Weruh obahe wit-witan
Kepingin milu angin nggoleki sangkan paran

Kembang galengan
Iming-imingana emas berlian
Aluk mituhu nunggu kedokan
Meluk nggandoli lemah prujukan

#Terjemahan bebasnya:

Bunga penghias pematang
Terlempar tanpa nama
Tanpa pesona tanpa aroma
Hanya mekar untuk satu sore

Bunga penghias pematang
Kehujanan kepanasan
Terinjak sayang
Dipetik, siapa yang mau?

Terinjak sayang
Dipetik, siapa yang mau?
Dipetik, siapa yang mau menerimanya?
Dipetik, siapa yang maumenerimanya!

Tetapi, lihatlah langit dengan seksama
Melirik pupus-pupus daun
Terlihat gemulai gerak pepohonan
Ingin mengikuti arah angin mencari asal usul

Bunga penghias pematang
Bujuk rayulah ia dengan emas permata
Akan lebih baik menunggu petak-petak sawah
Memeluk dan memperjuangkan tanah dimana ia telah dibesarkan

Rangkaian kata-kata sederhana namun menurut saya memiliki kedalaman filosofi dan pemikiran dari penciptanya B.S Noerdian yang berasal dari kota Gandrung, Banyuwangi Jawa Timur. Syair lagu ini menggunakan bahasa Osing dari suku Osing yang tersebar di beberapa daerah di lereng Gunung Ijen.

Lirik lagu Kembang Galengan ini seakan mengisyaratkan tentang seseorang yang dengan sederhana dalam menyikapi hidup ini. Kembang galengan. Meletik sing nggawa aran. Tanpa rupa tanpa ganda. Mekare mung sak sorenan. Seseorang yang sederhana ibarat hanya sekuntum bunga penghias pematang, yang tak pelu mengunggulkan nama dan pribadi sebagai sebuah pencintraan. Penampilan yang sederhana, ibarat bunga pun ia tak beraroma dan ia sangar sadar benar bahwa hidup ini demikian pendek dan terbatas, seperti bunga yang hanya mekar untuk satu sore lalu layu dan mati.

Bungan penghias pematang yang demikian sederhana telah melakoni kehidupan yang penuh suka duka ini, sayang jika harus diinjak-injak dan hanya disia-siakan saja, namun jika dipetik pun siapakah gerangan yang mau menerima sesuatu yang begitu sederhana ini? Sesuatu yang mungkin dianggap tak ada harganya! Apa yang ia inginkan hanyalah untuk menjadi sesuatu, sebuah warna yang telah memperkaya warna-warna yang ada di kehidupan ini, apapun warna itu.

“Taping temena nyawang langit. Ngelirik unyike godong. Weruh obahe wit-witan. Kepingin milu angin nggoleki sangkan paran.” Sebuah unsur keyakinan dan religi yang demikian kokoh tersirat dalam syair ini. Ia yang sederhana dengan segala kesederhanaannya, hati, jiwa dan pikirannya selalu bermunajat dan berbhakti pada Tuhan Pencipta Semesta, mengagumi dan menyelaraskan diri dengan segala ciptaanNya serta mencoba mengerti/membaca segala firman-firmanNya yang tak tertulis namun tersirat dalam setiap materi ciptaanNYa. Selaras dengan konsep manusia Jawa tentang “Sangkan Paraning Dumadi”, sebuah konsep tentang asal usul, jati diri dan kemana kembalinya manusia pada akhirnya. Demikianlah juga mereka, sangat religius!

Ungkapan rasa Nasionalisme kebangsaan, kecintaan mereka pada tanah air, tanah kelahiran mereka, juga tersirat tegas dalam lirik terakhir dari syair lagu ini. “Kembang galengan. Iming-imingana emas berlian. Aluk mituhu nunggu kedokan. Meluk nggandoli lemah prujukan.” Sekali lagi meski dengan kesederhaannya, bujuk rayu dengan emas permata atau apapun juga, tak akan dapat menggoyahkan untuk tetap berpijak, memeluk dan memperjuangkan tanah kelahirannya, tanah yang telah menumbuhkan dan membesarkannya. Betapa nasionalis!

Semoga ada petikan makna yang bermanfaat yang dapat diambil dari syair lagu dan tulisan sederhana ini.

“kembang galengan, hang meletik sing nggawa aran, tanpa rupa tanpa ganda, mekare mung sak sorenan!”

Bulan, Air, dan Teratai dalam Penciptaan Borobudur

Kabar Budaya – RetakanKata.
Bulan itu berarti Pikiran, Air itu berarti ketenangan, Mekarnya Teratai berarti lambang kehidupan.

Candi Borobudur dibangun oleh tiga hal tersebut : Bulan, Danau dan Teratai. Arsitek borobudur adalah Gunadharma, membangun Borobudur sebagai bangunan terindah pada masanya, dulu Borobudur dibangun di tengah danau, danau itu adalah danau purba, danau yang melingkari dataran Kedu.

Suatu saat Gunadharma didatangi sang Guru yang bernama Arimpala, ia ahli arsitek India. Disana Gunadharma arsitek muda Jawa itu belajar tentang susunan batu-batu. Gunadharma berpikir bahwa alam akan menyatukan pikiran dalam bangunan.

Di Usia 42 tahun, Gunadharma diangkat menjadi kepala urusan tata kota kerajaan Syailendra yang saat itu baru saja memenangkan pertempuran dengan kerajaan Mataram Kuno dan membangun kota baru di sekitar bukit Menoreh. Gunadharma diperintahkan untuk membangun candi yang akan dijadikan pusat-nya dunia.

Kerajaan Syailendra pada masanya memegang hak kuasa jalur perdagangan di seluruh pesisir Jawa dan Sumatera. Juga merupakan kerajaan terkaya di wilayah Selatan Dunia. Kerajaan Syailendra bahkan memiliki perwakilan dagang sampai ke Yunani.

Adalah sebuah mangkok putih yang bernama Cempalatupa yang dijadikan inspirasi atas bentuk lereng dan stupa candi borobudur. Suatu saat Gunadharma duduk diam di beranda rumahnya, ia melihat mangkok cempalatupa berwarna putih itu, dari situ ia berpikir tentang bulan.

“Rembulan adalah pikiran yang tercerahkan” gumam Gunadharma saat melihat bentuk Cempalatupa. Dari cempalatupa kemudian digambarlah bentuk stupa yang kita kenal sekarang ini. Candi Borobudur adalah gambaran dari mekarnya bunga teratai. Dulu diatas bukit menoreh ada Istana Raja, namanya Bharashmabya, itu tempat tetirah para Pangeran Syailendra sebelum menyucikan diri masuk ke Borobudur.

Dari atas Bharashambya bisa dilihat Borobudur yang seperti bunga teratai sedang mekar. Setiap Bulan Purnama bulat sempurna diadakan pendidikan meditasi dengan diikuti lebih dari 10.000 para bhiksu, para bhiksu ini dididik dalam ratusan ashram yang mengelilingi Borobudur, salah satu Biksu ini terkenal dengan nama Dharmakirti, yang merupakan guru dari Atisha, dan Atisha adalah seorang paling suci dalam tradisi Buddha Tibet di India.

Pembangunan Borobudur melibatkan ribuan ahli ukir dan ahli teknik sipil baik dari India ataupun dari Asia Kecil, mereka berdatangan ke Jawa dan berkonsolidasi membangun bangunan suci bagi umat Buddha, juga umat manusia umumnya. Konstelasi arsitektur Borobudur amat seimbang, perpaduan antara posisi bulan, posisi cahaya matahari pagi dan cahaya matahari sore serta posisi bintang-bintang. Borobudur adalah keseimbangan. Dan keseimbangan adalah langkah pertama dalam memahami kemanusiaan.

Sumber: Status FB Gusblero Free

Lukisan Terakhir

Puisi Lila Prabandari

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

sudah kulukiskan,

pondok kecil berdinding kayu bangkirai

di tepi danau tenang yang beriak kecil airnya

ada dermaga panjang dan tempat makan di ujungnya

merapat sampan hangat di tepinya

dan kebun bunga di halaman depannya

oh tentu…

ada tempat workshop keramik mungil di sampingnya

kukuaskan warna-warna pelangi segar

dan kusapukan suasana nyaman

karena aku tahu

di situlah kau akan meninggalkanku…

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #22

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 22

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Susanti justeru mau keluar dari FDP. “Kenapa kau keluar?” Muslimin marah. “Kau jangan langsung marah. Biasanya, dalam sebuah lembaga seperti FDP tidak boleh suami istri bekerja dalam tempat yang sama.” Susanti kasih pengertian. “Apa kita sudah suami istri?” suara Muslimin meninggi. “Kita kan masih lama kawin.” Masih belum diterima Muslimin alasan Susanti mengundurkan diri dari FDP. “Aku sudah diterima magang di BNT (Bank Negeri Trieste) selama 3 bulan di bagian perkreditan. Setelah itu diangkat menjadi staf. Gaji sebagai staf di FDP tidak begitu tinggi, walaupun kita berdua bekerja. Anak kita nantinya harus hidup agak nyaman, tidak tersendat-sendat dalam soal biaya masa perkembangannya. Itu makanya aku lebih baik kerja di BNT. Ini demi masa depan kita.”

Mengendur kemarahan Muslimin. “Besok aku akan sampaikan ke DR Pardomuan.” Kemudian tempat makan bakso di simpang Deigo mereka tinggalkan. “Mus,.. sebenarnya ada soal lain yang lebih prinsip ingin kusampaikan padamu. Tapi, aku takut kau marah.” Susanti masih melanjutkan pembicaraan di atas motor. “Apa itu?” Muslimin penasaran. “Besoklah kita bicarakan sepulang dari FDP. Ini memang rencana gila tapi kupikir cukup efektif,” jawab Susanti.

Pada manusia pertama Adam dan Hawa rencana Tuhan yang maha mulia dirusak iblis melalui buah terlarang dan ular. Adam dan Hawa digoda oleh buah terlarang dan ular sehingga dunia ini berantakan sampai saat sekarang ini. Rencana Tuhan tidak dapat terwujud, karena iblis sudah merajalela menguasai manusia.

Nah, sekarang rencana Tuhan sedang dirusak iblis melalui struktur organisasi yang mapan permanen. Negara, departemen pendidikan, departemen keuangan, partai politik, bahkan organisasi agama adalah organisasi-organisasi yang sudah sangat mapan dan permanen. Itu semua dipakai iblis merusak rencana Tuhan. Makanya tak perlu heran kalau orang ke gereja maupun ke masjid tidak lagi dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Justru, orang tersebut akan dipakai iblis merusak rencana Tuhan. Kita lihat sendiri, di masjid  dan gereja penuh dengan korupsi, kemunafikan, penyelewengan sexual, dan lain lain.

Penghantar diskusi yang disampaikan DR Tumpak Parningotan beberapa waktu yang lalu masih terngiang-ngiang di hati sanubari warga FDP. Itu makanya tak ada ketaatan hidup beragama di kalangan staf FDP. Dan, itu bukanlah dianggap suatu kesalahan. DR Pardomuan pun tak pernah sembayang ke masjid.

 

Demikian juga hubungan kisah cinta antar Susanti dan Muslimin yang berlainan agama. Mereka berdua sebenarnya tidak terganggu dengan perbedaan agama tersebut, tapi tentunya akan menjadi sorotan masyarakat umum. Oleh sebab itu, beberapa kali ayah Susanti ingin memutuskan hubungan mereka, tapi tidak juga berhasil.

“Begini usul gilaku, Mus. Minggu depan kembali aku pamit tidur lagi di rumah Yuni. Setelah seminggu kita menghadapi orang tuaku. Kita katakan bahwa kita terlanjur berkawan sehingga apa yang tidak layak dilakukan oleh pasangan yang masih pacaran sudah kita lakukan. Seolah aku sudah hamil dan datang menghadap orang tuaku minta maaf.” Susanti sampaikan pikirannya dengan sangat hati-hati.

“Rencana GILA! Apa kau kepingin melihat aku dipukuli orang tuamu? Sudah GILA KAU!” Muslimin panik atas usulan itu. Justru Susanti jadi marah melihat ekspresi Muslimin yang uring-uringan.

“Kau ini yang GILA. Kau pikir apa kita bisa kawin normal seperti penganten pada umumnya? Dipestakan lantas seluruh sanak saudara dan kawan-kawan hadir, salam-salaman, berfoto dan lain sebagainya. Apa mungkin?!” Susanti marah. “Belum lagi kita perhitungan biayanya yang sangat besar. Sebenarnya bisa untuk cicil rumah. PAKAI OTAKMU!” Susanti yang semula sangat hati-hati menyampaikan usulnya, ternyata lepas kontrol. Tak bisa ditahannya emosi menghadapi respon si Muslimin yang gamang itu.

“Okelah kalau begitu. Pokoknya aku patuh sama aturan main yang kau gariskan,” Muslimin duduk bersandar lemas kehilangan gairah hidup. Di sekretariat FDP semua orang sudah pulang, disinilah pikiran gila itu dibahas oleh dua insan sambil memadu kasih.

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 21

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Kucing

Flash Fiction Maria Ita

gambar diunduh dari informazioniunique.blogspot.com

Bu Marno dibuat geregetan setahun belakangan. Kamar sebelah dihuni oleh seorang gadis jomblo penyuka kucing berusia dua puluh sembilan tahun. Bu Marno dan si Gadis sama-sama menghuni rumah dinas yayasan tempat mereka bekerja. Yang bikin pusing tentu saja semua kelakuan si Gadis dan kucing-kucingnya. Suara mereka yang sangat ribut beradu dengan suara televisi yang menggelegar. Kucingnya bukan hanya satu tapi tiga ekor. Mulai dari yang badannya paling kurus berkaki panjang dan berdada montok bernama Meme, lalu yang paling kecil berbulu putih paling merasa cantik bernama Tutik dan yang paling gemuk berbulu paling panjang, paling manja, bernama Titin.
Ajaib! Ketiga kucing itu bisa bicara. Setiap hari mereka bermalas-malasan di lantai sambil ngoceh tak karuan dan menonton film Korea. Topik ocehannya macam-macam. Ada yang ngomongin kucing-kucing jantan imajiner, lalu gosip-gosip selebriti di televisi, dan yang tak pernah absen adalah ngomongin makanan. Sore harinya mereka berkebun dengan berkostum tanktop-hotpant sambil tetap ngeang-ngeong tidak jelas.
Kucing-kucing itu sangat mendewakan si Gadis sebagai sosok mamak yang perhatian, konsultan cinta yang jitu, orang penting karena dekat dengan para pembesar yayasan dan sering tercatat sebagai bendahara dalam setiap kepanitiaan. Titin, kucing termuda, paling terlihat mengagungkan si Gadis. Bu Marno semakin muak melihat gaya si Gadis yang tertawa-tawa bangga mendengar celotehan para kucing.
Dinding rumah bu Marno yang terbuat dari batu bata pilihan sepertinya tak mampu menjadi tameng bagi lengkingan-lengkingan mereka. Suaranya seperti menembus dinding lalu menusuk-nusuk gendang telinga bu Marno. Bu Marno selalu mengurung diri di kamar atau minggat dari rumah jika lengkingan tak juga berhenti, menyumpal telinganya dengan headset atau menaikkan volume speaker laptopnya. Suatu kali bu Marno pernah membanting pintu kamar. Tapi malang, bantingan pintu itu hanya disambut dengan tawa cemoohan dan sindiran-sindiran. Tak ada yang mempedulikan keberadaan bu Marno, sedikitpun.

Lahat, 15 Oktober 2012
*)Maria Ita, penulis kumpulan puisi Ibukota Serigala

Erina ke Jakarta

Cerpen Bhima Yudistira
Editor Ragil Koentjorodjati

City_Rain_by_jesidangerously

Senja di desa Wae Sano memang menyilaukan mata, dengan keindahan latar belakang bukit-bukit kapur yang terbentang sepanjang danau belerang, di tepi barat pulau Flores. Seorang gadis, bernama Erina sudah ditakdirkan lahir di alam yang mengagumkan ini. Segalanya akan dimulai dari tanah leluhur ini, tanah penuh harapan sekaligus kebencian, tanah masa lalu sekaligus menyimpan mimpi seorang Erina, gadis Wae Sano, begitu orang biasa memanggilnya. Ia asli Flores, lahir dan dibesarkan di kampung Wae Sano, dengan kondisi yang hampir tidak terjamah manusia kota. Dengan debit air diambang batas kritis, penduduk desa hidup dalam keterbatasan yang mungkin menyebabkan separuh dari penduduk desa meninggalkan kampungnya dalam seperempat abad terakhir ini.  Mereka yang mampu bertahan tinggal orang-orang tua dengan kaki kapalan karena harus menempuh jarak berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan satu jerigen air bersih. Jangankan berbicara kehidupan layak, listrik pun belum dikenal di desa ini.

Anak-anak yang berangkat ke sekolah tidak membawa buku tulis dan  pensil atau jenis lainnya dari keperluan normal sekolah, mereka membawa jerigen air, bayangkan kawan, jerigen air bukan lainnya. Mereka dengan semangat mendaki bukit-bukit terjal di sisi kampung, masuk ke pedalaman hutan di Lenda hingga ke tepi danau berbau asam, berlarian membawa jerigen kosong yang akan penuh terisi ketika mereka pulang sekolah. Kehidupan manusia-manusia di Wae Sano tidaklah seindah dongeng-dongeng pahlawan atau lagu-lagu yang sering dinyanyikan orang tua saat meninabobokan anak mereka. Kehidupan di Wae Sano sangat keras, dan menyakitkan.

Bukit-bukit terjal di sekeliling Wae Sano menjadi saksi kerasnya kehidupan masyarakat desa. Danau yang elok jika dilihat oleh para wisatawan tidak dapat mendatangkan kemakmuran apapun, bahkan menjadi malapetaka di setiap awal musim hujan. Debit air danau belerang yang tajam baunya perlahan bertambah, seiring dengan racun-racun berwarna kuning kehitaman yang meluap-luap di pesisir danau. “Jangan sekali-kali Kae dekati danau itu! Sebuah laknat akan menimpa setiap orang. Ya benar, danau itu keramat,” ujar Tua Golo. Keramat karena telah menelan puluhan nyawa yang mencoba untuk berenang, atau menyebrangi danau penuh lumpur kuning beracun. “Danau sial!” begitu sebut Tua Golo (adat) ketika berkeliling sekitar danau sebagai tradisi menolak segala celaka yang bisa timbul di tahun-tahun penuh hujan.

Pernah Erina seorang diri berendam di pemandian air panas di balik danau, tiba-tiba warna air berubah menjadi abu-abu penuh lumpur. Erina berteriak, untung Papa Petrus dengan sigap berlari dari rumahnya untuk menyelamatkan Erina yang mulai merasakan mati rasa di kakinya. Danau itu mengalirkan racun yang teramat berbahaya, bahkan pemburu hutan menggunakan lumpur danau untuk menjebak babi hutan, yang tewas seketika memakan daun-daunan bercampur air danau.

Erina memang bukan sembarang gadis, ia tergolong anak cerdas, di tengah penduduk desa yang kurang gizi dan air bersih, soal hitung-menghitung Erina paling pandai. Ia anak tunggal dari Papa Pedo, seorang tukang batu yang menjual keringatnya kepada pemerintah kabupaten. Batu-batu dikumpulkan mulai matahari belum terbit, hingga malam dengan penerangan lampu minyak seadanya, Ayah Erina menggali dan memukul batu kemudian menjualnya untuk perbaikan jalan antar kabupaten di Labuan Bajo. Hasil kerja kerasnya digunakan untuk membeli beras dan kecap di pasar tiap sabtu, itu pun masih berhutang sana-sini. “Yang penting kamu sekolah yang tinggi Nak, capai cita-citamu. Itu pesan bapak, jadilah perempuan seperti Kartini yang pernah Bapak baca waktu seumur kamu dulu, sayang bapak sudah tidak bisa membaca lagi,” pesan Ayah Erina. Ia peluk anaknya dengan kehangatan seorang bapak tukang batu.

Perjalanan kehidupan membuat Ayah Erina sadar, bahwa profesi tukang batu akan segera tergantikan oleh mesin-mesin pemecah batu pesanan kabupaten. Ia bergumam, “Tenaga tua ini segera akan punah, ya Tuhan, harus kerja apa lagi untuk hidup, mengapa hidup begitu penat dan berat seperti ini?” Terkadang Erina mengintip ke dalam kamar ayahnya ketika melihat ayahnya menangis, meratapi tembok-tembok rumahnya yang hampir rubuh. Erina terlahir dari keluarga serba kurang, namun semangatnya tinggi, ia rela menghabiskan waktu tanpa bermain hampir 10 tahun dari waktu hidupnya.

Pulang dari sekolah, Erina mengambil alat pemukul kemiri, lalu membuka karung goni berisi kemiri milik pamannya. Erina diupah per kilogram lima ratus rupiah, tidak pernah naik mulai dari dulu ia pertama kali mencoba membantu pamannya menjadi kuli pecah kemiri. Ibu Erina sudah lama meninggal akibat wabah disentri yang tidak jelas kapan datang dan hilangnya. Ketika bercerita soal ibu Erina, Papa Pedo hanya mengumpat danau belerang yang terkutuk itu, menuduh danau itu penyebab malapetaka hilangnya nyawa Ibu Erina. Walaupun dokter keliling sudah menjelaskan kepada penduduk, bahwa disentri bukan disebabkan karena belerang, tetap saja Ayah Erina tidak percaya, bahkan sekali waktu dokter keliling yang ditugaskan langsung dari Dinas Kesehatan Kabupaten dibentaknya dengan sumpah serapah karena menurutnya dokter itu menyebarkan kebohongan tentang disentri.

Danau yang tidak pernah menghasilkan ikan apapun itu selalu dikutuk oleh penduduk ketika salah seorang diantara mereka meninggal, sakit jantung, ginjal, bahkan tertabrak truk, tetap saja danau itu yang disumpah telah membawa kematian. “Oh. Betapa bodohnya penduduk desa ini, semoga Tuhan memberi kesempatan belajar untuk anak-anak yang tertular penyakit bodoh orang-orang tua itu. Ya Tuhan selamatkanlah anak-anak, aku tidak peduli dengan manusia-manusia kolot sok pintar di desa ini!” Hanya itu yang bisa Pastur Maksimus gumamkan ketika ia mendapati berbagai macam tingkah aneh penduduk ketika meratapi kematian saudara atau teman dekatnya.

Sebulan sudah sejak Ayah Erina tidak mendapatkan pesanan memecah batu untuk perbaikan jalan karena dana kabupaten untuk membeli batu guna memperbaiki jalan dihentikan, anggarannya digunakan untuk membeli mesin pemecah batu yang baru. Waktu mendengar kabar datangnya rencana pembelian mesin itu, ayah Erina segera meloncat dari tempat tidurnya jam dua malam, berlarian seperti orang kesetanan, menyumpah di tepi danau, “Mati kau Danau sial! Terkutuk!”

Ya, gejala orang frustasi, mungkin ia terkena sakit gila pikir penduduk yang terganggu tidurnya akibat teriakan-teriakan ayah Erina. Di jalan ia berteriak-teriak, “Habis sudah kae, habis sudah!” Penduduk mungkin sudah terbiasa mendengar orang tiba-tiba berteriak sambil berlarian di jalan-jalan kampung, kalau bukan ada festival desa, kemungkinan kedua, ada orang gila.

Tua Golo malam itu berkumpul di rumah Pastur Eman, sambil membawa oleh-oleh buah-buahan yang biasa diberikan kepada Pastur sebelum memulai jamuan rohani di minggu pagi. Tua Golo bercerita tentang peristiwa tadi siang yang menimpa Papa Pedo. Ia dengan miris bercerita tentang malangnya kehidupan ayah satu anak itu setelah pemerintah kabupaten tidak membutuhkan tenaganya lagi. “Dua puluh lima tahun sudah ia bekerja menjadi tukang batu, bayangkan Bapa, 25 tahun! Dan sekarang pekerjaan satu-satunya hilang sudah! Nasib benar Kae Pedo!” seru Tua Golo yang bersemangat bercerita tentang malapetaka hari ini. “Lalu, apa kita masih mengumpat pada danau yang membawa celaka itu?” kata Pastur sambil tertawa. “Tentu itu bukan maksud saya Bapa, tapi mungkin danau itu malapetaka juga, lain waktu aku akan menyumpahi danau itu! Sekarang kita harus menolong Kae Pedo mendapatkan pekerjaan. Menurut Bapa bagaimana?” Pastur terdiam sebentar berhenti tertawa sambil melihat mata bulat Tua Golo yang berapi-api memikirkan satu penduduk kampungnya yang baru saja menjadi pengangguran. “Itu yang saya tunggu Tua Golo, kebetulan saya punya kawan di Jakarta, ia kerja jadi tukang bangunan, mungkin Kae Pedo bisa bantu-bantu sedikit.” Secercah harapan muncul di mata Tua Golo, “Baiklah besok saya sampaikan, tolong Bapa bantu atur ya, saya tidak mau penyakit gilanya Kae Pedo menular ke penduduk lain, bencana! Bencana benar itu Bapa! Kasihan juga Erina harus menanggung beban berat, ia sudah banyak berkorban Bapa!”

Setelah berusaha menghibur ayah Erina, Tua Golo memberikan informasi pekerjaan dengan penghidupan yang lebih baik di kota Jakarta. Banyak pemuda yang bekerja di Jakarta setelah lulus sekolah menengah di desa ini, lalu bertaruh nasib menjadi tukang bangunan atau juru parkir di Jakarta. “Ah.. aku memang belum tau Jakarta, tapi aku yakin d isana lebih baik, dan di sana juga tidak ada danau pembawa sial seperti di sini, Semoga kau mendapatkan kerja di sana, aku sudah atur dengan Bapa, apa yang bisa kami bantu, mungkin uang seperlunya dan bekal makanan hingga kau tiba di Jakarta.” Kemudian ayah Erina menatap Tua Golo sambil matanya berkaca-kaca, “Kau memang pemimpin desa, kau bahkan tidak pernah berutang budi padaku, aku yang akan mengingat kebaikanmu dan desa ini, aku berjanji Kae!” Sambil meminum kopi, kemudian ayah Erina memanggil Erina, “Nak, kau sudah besar sekarang, sudah gadis pula, Bapak ingin cari kerja di Jakarta, kau teruslah sekolah, setiap bulan Bapak kirim uang untuk sekolahmu, jangan putus atau kau gunakan untuk membeli barang yang tidak perlu! Ingat! Sekolah! Itu yang utamanya, Mau kau jadi seperti Bapak?” Erina hanya terdiam. Ayah Erina menyadari bahwa keputusan untuk pergi ke Jakarta dan meninggalkan anak gadisnya di desa merupakan hal yang harus dilakukan.

Setahun berlalu..

Sudah tiga bulan Erina tidak mendapatkan kabar dari ayahnya, di mana ia sekarang atau bagaimana kesehatannya. Kiriman uang pun berhenti, Erina hanya membantu menjadi penjaga toko kelontong milik Tua Golo di sudut pasar Lenda. Ia bertanya pada setiap orang yang baru kembali dari Jakarta di terminal pasar Lenda, “Ada yang tau bapak? Pedo namanya, tinggi dan berkumis, dengan tanda bekas luka di dahinya, pernahkah Kae melihat?” sambil ditunjukkan foto ayahnya. Tak satu pun yang tahu keberadaan ayahnya. Selama ini ayahnya hanya menelpon untuk mengetahui kabar Erina dan menanyakan apakah uang kirimannya telah sampai ke tangan Erina, tanpa menyebutkan alamat tempat dia kini tinggal di Jakarta.

Didesak oleh situasi yang membuat hatinya cemas, akhirnya Erina mengambil sisa uang di amplop wesel berwarna biru kiriman terakhir ayahnya sebelum kabar ayahnya tidak terdengar lagi. Dibuka amplop itu dan terdapat selembar kertas, mungkin berisi alamat rumah pikir Erina, ternyata ia tersentak, itu semacam surat pesan yang biasa ditulis oleh orang yang sangat dekat dengan kematian.

Ananda Erina,

Surat ini bukan untuk dijawab, simpanlah baik-baik, dan jagalah. Berikan kepada anakmu kelak…

Apa menurutmu kebahagiaan yang paling ingin Bapak rasakan? Bapak ingin sekali lagi melihat kau dipangku oleh ibumu dalam dekapan yang penuh hangat. Kini aku hanya seongok manusia yang tidak pantas kau panggil Bapak. Aku sudah gagal, gagal di dalam kehidupan ini, uang yang kukirimkan ini, mungkin uang Bapak yang terakhir. Simpanlah baik-baik. Ingat pesan Bapak yang selalu terucap, tapi jangan pernah kau bosan mendengarnya Nak, Bapak ingin kau sekolah setinggi-tingginya, jadilah manusia bebas, lakukan apa saja yang kau inginkan Nak dengan ilmumu, jadilah manusia-manusia yang punya harapan!

Hidup bukan untuk menangisi kesedihan, hidup untuk melawan, melawan nasib yang menidurkanmu Nak, nasib yang berkuasa atas hidupmu. Lawan Nak! Lawan! Kau harapan bapak yang terakhir!

 

Ttd.

Ayah seorang “putri penantang nasib!”

Setelah membacanya, Erina menangis terisak-isak, “Di mana bapak sekarang? Tegakah melihat aku sendiri di sini? Pulang Pak. Erina ingin bersama Bapak.”

Satu bulan telah berlalu sejak wesel terakhir dikirim ke Erina, berisi uang Rp.500.000,-. Teringat akan foto ayahnya yang ia letakkan di bawah bantal, sewaktu-waktu ia ingin menangis, ia lihat foto ayahnya untuk membangunkan semangat yang hampir runtuh. Gadis belia kini tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa, dan hidupnya hanya menunggu dipinang oleh pemuda desa, itu pun jika beruntung mendapatkan pemuda yang ingin menikahinya. Mungkin dijadikan istri ketiga sudah bersyukur.

Sejak saat itu Erina tidak percaya lagi akan adanya doa, ia tidak lagi pergi ke gereja seperti yang pernah ia lakukan dulu. Tuhan baginya tidak pernah ada, kalaupun ada, Tuhan hanyalah gambaran akan nestapa dan rasa sedihnya. “Tuhan tak mampu menjawab doaku. Aku Erina dan aku ingin menjadi manusia-manusia bebas seperti yang bapak bilang dulu,” gumam Erina di dalam hati.

Sudah setahun semenjak surat terakhir bapak, Erina sangat ingin pergi ke Jakarta, berusaha menemukan tempat tinggal terakhir ayahnya, di surat weselnya tercantum alamat pengirimnya yang mungkin saja mengarahkan Erina kepada ayahnya yang sangat ia rindukan. Berangkatlah Erina dengan uang secukupnya, dari Wae Sano ke Jakarta membutuhkan waktu 4 hari pelayaran dan bisa mencapai waktu 1 minggu jika pelabuhan sape di Bima terpaksa ditutup karena tingginya ombak membuat kapal membatalkan jadwal normalnya.

Erina akhirnya sampai di kota Jakarta, kota dengan bayangan-bayangan aneh, wanita-wanita malam di sepanjang stasiun Senen dengan rok mini menjajakan cinta semalam, dan pedagang-pedagang asongan di sekitar Pasar Senen membuat mata Erina berputar-putar mencari nama jalan yang sulit untuk diingatnya, jalan Kampung Rambutan no.3, Pasar Senen seperti yang tertulis di belakang wesel pos berwarna biru. Akhirnya Erina menemukan rumah dengan pintu cat hijau, dan pagar setinggi lutut. Setelah bertanya pada tetangga, ternyata rumah itu memang pernah dijadikan tempat tinggal tukang bangunan yang sedang mengerjakan proyek perumahan tak jauh dari situ. Kini dada Erina berdebar-debar, berharap ia masih bisa mencari alamat tinggal ayahnya, setidaknya jika ayahnya sudah tiada ia masih bisa menemukan tempat ayahnya dikubur. Senja semakin gelap, Erina terpaksa mencari tempat penginapan, sekalian makan, pikirnya. Ada sebuah rumah yang bertuliskan “menerima tamu” tak jauh dari stasiun Pasar Senen. Ia sendirian masuk ke dalam rumah itu, dengan uang seadanya ia memesan satu kamar dengan kipas angin. Hmm ini murah, Jakarta tidak seperti dugaanya dulu, semua begitu mahal, dan orang-orangnya brutal. Ternyata Jakarta sangat ramah dengan tempat penginapan yang murah, “apa mungkin aku sedang beruntung?”. Ia rebahan di atas kasur kemudian tertidur.

Esoknya ketika bangun ia meraba-raba tas yang seingatnya tadi malam di simpan di dalam lemari. Hilang semua. Hilang tak tersisa, beserta uang dan amplop wesel biru dan foto ayahnya. Ia bertanya kepada penjaga penginapan yang tidak tahu menahu masalah tas yang hilang di dalam kamar malah membentaknya dengan kasar. “Maaf Mbak, tapi itu salah lu sendiri ga hati-hati naroh tas di dalam lemari yang ga dikunci, barang hilang gue ga bisa tanggung jawab, lo urus sendiri! Sekarang lo mau bayar pake apa nih?” Dengan nada mengancam ibu penjaga malah menagih uang sewa kamar kepada Erina. Dengan bingung Erina tidak bisa melakukan apa-apa, lalu bu Retno menunjuk rumah di depannya sambil berkata “Udah, mending lo sekarang cari kerja di situ, bantu cuci-cuci piring, atau ngapain deh yang penting ntar lo balikin uang sewa ya! Sana kerja!”

Sebulan sudah semenjak Erina tiba di Jakarta, kini ia menyewa kamar di rumah bu Retno, dan sehari-hari penghasilannya hanya cukup untuk membayar uang sewa dan makan nasi sayur secukupnya bahkan terpaksa berhutang. Ia terjebak, tapi tak bisa apa-apa. “Sekarang aku bekerja mencuci piring, kukumpulkan uangku sedikit demi sedikit untuk mencari rumah ayah,” besar harapan Erina untuk bertemu kembali dengan ayahnya.

Di hari yang panas itu, Erina sedang mengerjakan mencuci piring seperti biasa, kini ia bertugas membersihkan kamar-kamar kosong di lantai dua gedung yang gelap penerangannya. Ketika membersihkan kamar di pojokan, tiba-tiba Erina tersentak hingga ia hampir terjatuh. Di dalam kamar itu ada sosok laki-laki yang dikenalinya, sedang berdua dengan wanita dalam kondisi yang tak layak. Segera ia memekik, “Ayah?” Pria yang sedang asyik berduaan dengan wanita tersebut kemudian berbalik badan dan setengah telanjang ia menarik selimutnya, “Siapa kau?”

“Aku Erina, kaukah Papa Pedo?” seru Erina secara spontan

Dengan keadaan yang aneh itu pria tadi menjawab, “Ah, Anakku,” sambil matanya berkaca-kaca seolah tidak percaya.

“Apa yang sedang Ayah lakukan?” tanya Erina

“Tidak anakku, mari kukenalkan dengan teman Ayah,” sapa hangat ayah Erina

Pertemuan singkat ini bukanlah momen yang diharapkan oleh Erina, aneh, tak terduga dan membuat pikirannya berputar-putar, lutut Erina langsung lemas, “Benarkah ia Ayah yang Erina kenal? Yang ia cari selama ini? Atau aku sedang bermimpi?” gumam Erina.

Sambil memakai baju, pria yang memang ayah Erina berkata, “Mendekatlah anakku, aku takut sekali menghadapi Jakarta. Aku ingin kita pulang ke kampung lagi, menyumpahi danau Wae Sano yang telah membawa laknat kepada tanah leluhur kita. Mari anakku, bukan tempatmu di sini,” sambil ia berusaha memeluk Erina.

Erina tidak menangis sedikitpun, ia masih belum percaya pria setengah telanjang yang beberapa menit yang lalu sedang tidur dengan wanita entah dari mana kini memanggilnya lembut “Mari pulang Anakku”. Pria yang dulu menjadi teladan hidupnya, kini begitu asing.

Di tengah-tengah hiruk pikuk Jakarta, Erina dan Ayahnya keluar dari kamar itu, sambil berpengangan tangan, dengan latar gedung tempat Erina bekerja sebulan ini, di kamar penuh tanda tanya itu tertulis “Panti Pijat Sinar Melati”.