Arsip Tag: puisi

Puisi-puisi Fajar M Fitrah

Tamu

 

dari pintu tua itu

berpupuran sepiku

waktu menunggu

di jendela ada kupukupu

 

dari kepak kupukupu

berguguran tanyaku

:

adakah yang lebih dulu

meminang denyutmu?

 

2012


 

Ruang Tamu

 

tiba-tiba lampu mati, lampu itu juga

waktu gelap semata, gelap sempurna

percakapan redup, kita pun lekas

memburu Pintu

yang mungkin tak ada itu

 

2011


 

Cadas

 

baginya sepilah

hembus di keharmonisan lautan

 

kala cakar-cakar ombak menyeruak

dan camar-camar berteriak

 

mimpinya

setia terlempar ke bugar akar-akar

 

sepi juga kekal baginya

: rasa bersalahnya

 

2011


 

Elegi

 

lalu mengalirlah sungai itu ke muara

segala duka, cuaca mengawal arusnya

sewaktu-waktu sirna

 

2011


 

Persimpangan

 

di antara jalan ke barat dan ke timur

: tertegun, barangkali ngungun

di kepala mendung telah mengurung

di belakang waktu jadi burung

 

2011

 

Fajar_M_FitrahFajar M. Fitrah, Lahir di Bandung 25 Maret 1993. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI (Arena Studi Apresiasi Sastra) dan KSC (Komunitas Sastra Cianjur). Penggiat JurnalZine RajaKadal & GERPAMSI (Gerakan Pamflet Puisi).  Dapat dihubungi di nomor 087824244128

Angin Daun Pisang Angin Gubuk Rumput

Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in ...
Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in a 13th century depiction by Liang Kai. (Photo credit: Wikipedia)

Puisi John Kuan

|| Angin Daun Pisang ||

 

Kau berkata: Biar di Kyoto, dengar wiwik

menjerit. Kurindu Kyoto. Aku bilang: Biar

di Daik, lihat ombak merajuk. Kurindu Daik.

Berkasut jepang aku injak empat musim

dan kau, lewat setahun lagi ——— tangan

memegang caping, kaki bersandal jerami.

Kau bilang: 行く春や鳥啼き魚の目は涙

yuku haru ya tori naki uo no me wa namida

berlalu musim semi, mata ikan sembab,

burung berkicau Blues. Sebab itu kita tahu

jalan hidup amat sempit, musim bunga

amat pendek. Begitu lengser musim salju

sebaiknya kau buka bilik hatimu, jajakan

riang bunga. Jelas itu sehamparan hening

bagaimana kau bisa dengar suara tonggeret

menyusup ke balik batu? Lalu bagaimana

pula di antara nasi dan asmara, induk kucing

jadi kurus? Kau berkata: Laut dah gelap,

suara panggilan camar, agak memutih.

Aku melihat kadang Selat Berhala kadang

Selat Malaka, laut kampungku pelan-pelan

gelap, kunang-kunang berkedip di kelam

bakau, bagai berjalan di bawah pijar bintang

negeri jauh. Kau berkata: Seladang kapas

laksana bulan telah merekah bunga

Aku bilang: Sekolam cahaya bulan, bagai

ikan perak, menggelepar sisik-sisik tubuhnya.

Di lubuk botan/ seekor lebah miring/ mundur

keluar. Ah, bukan main sedap, kau sedang

di dalam dunia rasa membuat filem iklan

tujuh belas detik tujuh belas silabel, bukan?

Di bawah pohon pinus bertanya katak, ekor

angin telah kacir ke mana: Dia satu suara,

ping pong, lompat ke dalam perigi tua,

daun pisang di permukaan air, suara serpih

daun pisang koyak, perlahan bergoyang

 

|| Angin Gubuk Rumput ||

 

Telah lebih sepuluh musim gugur menginap

di dalam puisimu, Mister Du. Kertas serbuk

emas di dalam angin barat memantul burung

dan tangga giok. Merah padam api peperangan

telah dingin abu. Gemeretak roda kereta juga

barisan prajurit terbangun di dalam sehamparan

panorama huruf-huruf kuning krisan. Chang’an,

sebuah gelas anggur, tidak bisa kau genggam

terlalu erat. Tamu datang, kau utang arak

Musim semi datang, pergi tonton bunga

Harum padi tentu telah habis dipatuk bayan

Setumpuk beras perang, aku curiga sangat

erat terkait dengan sintaksis terpelintir itu

selalu rampung dengan api kecil, berulang kali

diaduk, dikukus. Bukankah aku telah melihat

kau tuang sana tuang sini, meniup sambil nyanyi

karya baru selesai kau tanak, seolah seluruh

dunia hanya mendengar kau Mister Du seorang.

Namun, puisi bagaimana bisa cuma demi nama

ditulis. Saat memancing masih terkenang

Mister Tao Mister Xie, dan mengenai seafood

di mata kail itu, mana tahu apa epik apa liris?

Malam ini menumpang di dalam puisimu lagi

Mister Du, sebaris krisan di depan gubukmu

kuning hingga bibir sungai. Hanya teringat

seperti kemarin saja, aku melihat dia pulang

kantor, demi kupu-kupu sepanjang jalan

mengadaikan jubahnya. Sebuah kotak obat

kosong tercenung di pojok gubuk. Sakit tentu

masih punya, namun gelisah justru berkurang.

Tahu-tahu yang datang mengetuk pintu mimpi

adalah gerombolan ini ——— Li Bai telah mati,

Wei Ba hilang. Itu terjadi di malam bintang

padat merayap seperti kemacetan di pusat kota.

Mendengar angin musim gugur mengepak

atap gubuk, Mister Du buka mulut: Mau main

catur? Ke bandar besar di atas papan catur

adu langkah sambil petik bunga liar di luar bandar

Sebuah Anti-Travelogue

Puisi John Kuan

Satu Malam di Haurgeulis

Tidak ada cinta palsu, kawin tipu

raja ratu satu baju, sejarah di sini juga

legenda telah lama tidur. Udara hangat

padat, daun muda mangga Indramayu tebar

semacam harum, pipa bambu dalam gelap

menetes sejuk. Perkutut, juga seekor entah

burung apa sedang bersiul. Agak jauh

beberapa jendela mati lampu. Bulan penuh

di atas lumbung, Langit ada petir, terangkan

bunga-bunga mekar, di pekarangan daun

rimbun, rumah utama setengah ambruk.

Pipa bambu terus menetes, ada suara percik,

ayam berkokok, di malam angin aduk hujan

selalu begitu, awan hitam bersekongkol

guruh mengertak di jauh, saat itu angin baru

gila meniup, daun-daun menyahut, setetes

air hujan, banyak tetes air hujan kecipuk

kandang kambing dan atap seng

Dua Hari di Polandia

1.

Jembatan rel, pemusik buta jual nasib,

sebuah peti kayu, seekor camar,

siap siaga mematuk kertas nujum

kurogoh kocek, tapi ragu, sekitar penuh

penonton, aku berhenti, tarik keluar secarik

uang kertas 10 zloty, tertunduk, tidak

pandang bulu, sodor kepada pemusik

buta, camar seolah kilat, dari dasar peti

gigit secarik kertas, aku terima, berlagak

tenang: Awas pada kawan, kata kertas

Hati-hati masuk angin, kata kertas lagi

Aku kasihan kepada uang 10 zloty itu

Esok bangun, muka tebal, sebab pulas

ditampar angin garang, radang sendi

Kalau kawan, sejak itu tidak berani

2.

Biru tua beku, pantai dangkal, tepi Sungai

Wisla, es menumpuk sekujur tanggul

Duduk di atas balak, lonjong tapi basah

pelan-pelan diseka matahari terbenam

Tadi malam bersama Maria diguyur

Etude Szymanowski. Tahu, cinta telah

berakhir, persis seperti cheesecake

gosong dibakar temperatur tinggi

Sisi gereja di seberang Istana Potocki

pekerja belah batu tutup setapak

mata pisau berkedip dalam warna senja

telunjuk mandor mondar mandir

Tiga Jam di Rumah Lu Xun

Duduk hening di bawah bayang waktu, sejarah

tidak teriak lagi. Namun, puisi masih ditulis

pada semrawut jalan-jalan tikus pikiran

Negerimu sudah bangun? Di sudut-sudut ruang

memorial luas, tak terhitung batok kepala sehabis

dipotong taucang, pergi, hanya sisakan segumpal dahak

erat mencekik leher pengunjung, di antara mau

muntah dan tidak, menjaga garis pertahanan terakhir

pita suara. Maka, cekal suara, tidak bicara ihwal negara

diam menembus lewat satu bayang tubuh kesepian

demikian kosong, ingatan dikubur ke dalam bahasa derita,

tertidur, kita hanya berani pelan-pelan melangkah lewat

takut mengejutkan roh sedang merenung

lelah memikul seluruh Cina yang menggelembung

kita melangkah lewat, pada bayang perlahan mengecil

matahari di tengah hari, sebatang pohon jujube, dan langit

sebatang pohon jujube, tiada guruh, hanya segerombolan

suara kepak sayap merpati gegas melintas…

Empat Menit di Akademie Schloss Solitude

Schiller, Goethe telah diundang

ke sini menulis, membaca

setiap hari pukul enam pagi

pelayan ketuk pintu,

diperintah segera bangun

aku teriak: Baginda Yang Mulia

Muse masih amat pulas

buat apa pula aku bangun cepat

pinggiran Stuttgart bagian selatan Jerman

seperti kastil seperti istana di Baden-Wurtternberg

jauh dari debu dunia, tinggi bersemayam di puncak

cuma ada suara angin suara hujan suara burung

orang-orang pakai baju kuno naik kuda gagah

tapak kuda mengetuk bumi berlapis batu kali

di dalam batu kali pernah ada hatiku sebiji

Sejoli Sunyi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di mana akan kausimpan cahaya

Bulan padam menjelma debur ombak

Memeluk urat-urat laut di lenganmu?

 

Tersimpan di sini, di sela tebing rintih

Sebenting karang terlipat tatap matamu

Bercak-bercak perih, jejak kata digerus waktu

 

‘Kadang kita tak bisa memilih,’ lirihmu

‘Hingga mimpi kita membiru.’ Tapi, luka adalah pantai

Adalah cahaya dan gelap pada nadir yang sama

 

Kukecup desir angin lewat ujung rambutmu

Sebutir embun terbit di ufuk matamu, memercik

Sebagai gerimis usai menggaris pagi di telapak tanganku

 

‘Antar aku pulang, Sayang, antar aku kembali

Berlayar ke negeri paling sunyi, ketika dusta bukan lagi

Sehitam pedagogi,’ bisikmu. Aku membisu, jauh menatap

 

Debur ombak, memimpikan revolusi berderap di lentik jemari

Kakimu, tak lain segurat proyektil di tembok batas kota itu

‘Lupakan mimpi-mimpi gilamu, Sayang, tapi rabalah bibirku

 

Di rimbun rumpun alfalfa, di gerimis tatap matamu,’ pintamu

Berharap jadi sejoli, sepasang lelaki yang dipaksa bermimpi

Melawan ilusi, hingga kauledakkan tubuhmu di stasiun kereta pagi

 

 

26 Agustus 2013

Puisi 2 Koma Tujuh, Sebuah Fenomena

Gerundelan Sonny H. Sayangbati

2 koma tujuh
Gambar diambil dari grup puisi 2 koma tujuh

Tentang Payung

Jika dukamu adalah hujan

Payung itu aku

 

Mencintaimu

Kubiarkan mataku menggali kubur

Dengan huruf huruf

 

Sumber : Koleksi Puisi-Puisi Imron Tohari [@ Lifespirit) Imron Tohari (Catatan Pribadi) Facebook]

Menurut kamus populer (ensiklopedia) kata ‘fenomena’ (1) diambil dari bahasa Yunani ‘phainomenon’ yang artinya apa yang terlihat, menurut arti kata turunannya (adjektif) berarti : ‘sesuatu yang luar biasa’. Di mana luar biasanya puisi 2 koma 7 ini?

Saya pribadi mengagumi puisi ini, baik secara filosofi, estetika dan lain sebagainya, khususnya dari dua sudut pandang. Puisi ini mengagumkan, sejak pertama saya mengenalnya, bahasanya padat sekali dan kata-kata harus dibangun dengan teknik ‘bahasa tinggi’, bahasa filosofis, memiliki metafora yang unik, dibangun dengan susunan kata-kata yang indah, coba perhatikan dengan saksama puisi-puisi di atas tersebut.

Antara judul dan tubuh puisi, berkesinambungan dan serasi sekali, itulah sebabnya tidak mudah untuk menulis puisi jenis ini, namun mudah bagi seseorang yang mencintai dan mendalami puisi ini. Tentu saja secara teknik kita harus menguasainya terlebih dahulu.

Dalam hal ini secara tehnik atau teknis penulisan saya tidak membicarakan ini, dan sebaiknya Anda dianjurkan untuk memperhatikan dan mempelajari puisi 2 koma tujuh ini secara lebih mendalam.

Diluncurkannya Buku Puisi 2 Koma 7 Baru-Baru Ini

Buku di atas akan segera terbit dalam waktu dekat dengan sampul cover depan seperti tertera dalam gambar di atas. Dan ini merupakan sejarah bagi puisi 2 koma 7 yang akan ikut serta dalam meramaikan khasanah perpuisian di tanah air, dan ini merupakan karya dari penemu, penggagas, anggota dan simpatisan yang bergelut dalam fenomena puisi 2 koma 7 ini. Secara pribadi saya menyambut hal ini dengan hangat dan gegap gempita. Saya menulis bukan berdasarkan atas pesanan atau ingin sesuatu yang sensasi biasa. Semata-mata karena saya menyukai dan mengagumi, walaupun memang saya kenal penemu dan penggagasnya serta sahabat-sahabat simpatisan puisi 2 koma tujuh ini.

Sejak saya mengenal puisi 2 koma 7 ini sekitar bulan Desember 2012 di group puisi Bengkel Puisi Swadaya Mandiri asuhan penyair Prof. Dimas Arikha Mihardja (Nama Pena), saya mencoba menulis beberapa puisi jenis ini dan berhasil diapresiasi oleh creator dan admin group tersebut, dan inilah puisi yang pertama saya buat di group tersebut :

Nostalgia

jika kali ciliwung meluap,

kuingat rumahku, tenggelam

Puisi ini akan selalu saya kenang dan memang puisi ini sebuah nostalgia yang merupakan kenangan saya seumur hidup berdasarkan kisah nyata, sewaktu sungai Ciliwung meluap maka rumah-rumah di bantaran kali Ciliwung akan tenggelam.

Boleh dikata banyak juga mungkin para penyair membuat sesuatu kerangka baru dalam pembuatan puisi, seperti halnya puisi-puisi lama dan kontemporer : soneta, haiku, mbeling, stanza dan lain sebagainya dan ada yang jenis baru di laman media sosial facebook seperti puisi 517 di Ekspresi Seni yang diperkenalkan oleh Syafrein Effendi Usman.

Puisi 2 koma 7 menurut saya lebih fenomenal atau luar biasa, dan mungkin prediksi ke depan puisi model ini akan lebih banyak lagi penikmatnya, walaupun kelihatannya sederhana namun memiliki daya pikat tersendiri. Sama halnya puisi Haiku sangat terkenal dan disukai banyak kalangan penyair-penyair di Malaysia saat ini.

Kita harapkan puisi 2 koma 7 ini menjadi setidak-tidaknya tuan di negeri sendiri, dan bisa jadi sama halnya dengan seni-seni tradisional lainnya di Indonesia yang populer di negara-negara lain.

Puisi 2 koma 7 memang baru dikenal dikalangan terbatas saja, khususnya dalam dunia sastracyber atau cybersastra, namun jangan dikira penggemarnya dari kalangan penyair biasa, penyair-penyair akademik maupun penyair-penyair yang memang memiliki bakat tradisional dari lahir juga banyak yang menyukainya.

Tantangan Ke Depan Bagi Puisi 2 Koma 7

Secara tradisi puisi memang dibangun dalam komunitas seni atau hidup secara mandiri di kelompoknya yaitu sanggar. Jika dahulu para anggota dalam sanggar saling bertemu muka dan bercengkerama, bergaul dengan hangat dan membuat acara atau pagelaran ataupun sayembara puisi, kini ada fenomena baru yaitu sanggar cybersastra atau group puisi di facebook, di mana para anggotanya memiliki jaringan yang luas dan tersebar lintas batas dan dari berbagai macam kelompok strata sosial bergaul dan saling memberikan gagasan serta karya-karya mereka dalam group.

Fungsi sanggar yang tradisional memang tidak tergantikan keakrabannya, dari segi kehangatan tentu berbeda antara sanggar dengan komunitas cybersastra semisal group puisi di Facebook, namun dari segi kualitas serta daya jangkau memang ini sebuah fenomena tersendiri.

Tidaklah heran puisi 2 koma 7 tumbuh subur karena hal ini, kemudahan jangkauan, fasilitas yang mudah dan cepat, banyaknya informasi, serta apresiasi yang cepat ditanggapi membuat puisi 2 koma 7 ini tumbuh pesat sekali, sekitar 1.300 orang yang terdaftar dalam group ini yang tersebar dalam jangkauan daerah yang luas sampai ke luar negeri.

Membuat buku adalah salah satu cara untuk melestarikan sebuah karya menuju keabadian. Ini adalah sebuah rekam peristiwa yang tercatat. Hal ini akan lebih mudah lagi jangkauannya dalam menyebarkan atau mempopulerkan karya puisi atau gagasan baru, seperti halnya Remy Sylado dalam memperkenalkan puisi Mbelingnya di majalah Aktuil serta buku-buku puisinya ‘Mbeling’.

Dengan beredarnya puisi 2 koma 7 ini tentu akan direspon oleh para pembaca dari berbagai kalangan, dan interaksi tentu akan terjadi dan kita tidak tahu bagaimana interaksi ini disambut di kalangan masyarakat puisi di Indonesia, baik yang bersikap menerima dengan aktif, biasa-biasa saja atau kalangan sastra yang kritis. Ini merupakan ujian bagi puisi 2 koma 7, kita semua mengharapkan umpan balik itu, apa pun hasilnya.

Pertumbuhan dan perkembangan puisi 2 koma 7 ke depan bukan semata-mata tergantung dari para kritikus sastra semata, menurut hemat saya tergantung dari orang-orang yang memiliki dan mencintai serta meghargainya sebagai sebuah karya yang indah.

Kritikus sastra hanya sebagai medan uji atau secara akademik teori saja, namun yang penting adalah prakteknya, atau hasil mujarabnya bagaimana sebuah gagasan itu dicintai dan dinikmati.

Oleh sebab itu mari kita lihat bersama, bagaimana sebuah karya indah puisi 2 koma 7 ini direspon oleh masyarakat perpuisian di Indonesia, apakah ia memuisi atau tidak, Anda-lah yang tahu dan memilihnya.

JATUH CINTA

 Kulihat kupu-kupu di tanganmu

 Oh, kau memuisi

 (lifespirit, 1 Januari 2013)

KELUHAN CINTA

 Menatap selimut kesepian

Bersisian kabut adakah rindu?

 (lifespirit, 29 Januari 2013)

 Sebenarnya Hatiku yang Telah Kau Genggam

 (Puisi No. 1)

 Kau ada dalam gerabah,

setiap sentuhan tanganku

(Puisi No. 3)

Remaslah jari-jariku, genggamlah!

Milikmulah aku ini selamanya

Jakarta, 14/8/2013

*) Penulis kelahiran Jakarta, 14 Desember, tinggal di Jakarta, menyukai sastra, senang menulis puisi, prosa dan artikel mengenai sastra. Karyanya diterbitkan di beberapa media cetak dan media online seperti di : SKH Republika, SKH Mata Banua, Jurnal Kebudayaan Indoprogres, SKH Berita Minggu Singapura, SKH New Sabah Times, SKH Utusan Borneo, Kompas.com, Koran Atjeh Post, Koran Bogor, Jateng Times, Rima News, Radar Seni, RetakanKata, Jurnal Kebudayaan Tanggomo, Wawasan News, Angkringan News, Artadista.com, Majalah Sastra Digital Frasa, Majalah Review Malaysia, Ourvoice, Sastra Kobong.

Karya puisinya telah dibukukan dalam antologi bersama beberapa penyair manca negara : ‘Lentera Sastra’ diluncurkan pada tanggal 22 Juni 2013 di Kuala Lumpur bersama komunitas Puisikan Bait Kata Suara, ‘Manusia Dan Mata-Mata Tuhan’ bersama komunitas Coretan Dinding Kita, ‘Jendela Senja’ bersama komunitas Kabut Tipis, sedangkan buku Cinta Rindu Dan Kematian di komunitas Coretan Dinding Kita sedang dalam proses cetak.

Saat ini aktif menulis di sastra cyber (cybersastra) dan memiliki halaman puisi yang diberi nama : Info For Us by Sonny H. Sayangbati di media sosial Facebook, dan beberapa website sastra.

 Penulis bisa dihubungi di alamat email : sonny_sayangbati@yahoo.com dan sonny14sayangbati@gmail.com

Semi-Otomatis Menulis Puisi

Kolom John Kuan

——— Untuk Abdul Hadi WM

:: seluruh kata dan kalimat di dalam 10 puisi ini saya jambret dari buku puisi Abdul Hadi WM: Tuhan, Kita Begitu Dekat ::

1. Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan dekat, aku panas
dalam kainmu arahnya gelap
aku nyala lampu padammu

2. Langit Di Mana-Mana

Di atas air, di atas pasir
senja haus waktu, cair
dinding hatimu pada kayu
muara kemarau, putri-putri buih
di atas badan sunyi perahu dagang
membersihkan gelap
menelan dongengmu, penunggu muara ramah itu

3. Sarangan

Cemara menyerbu
bulan, kolam luka-lukanya
sejoli tidur

4. Pelabuhan Banyuwangi

Ombak berdiri di geladak
kelasi percaya seketika, seketika
mengalir tali temali, tiang, lampu-lampu
pelabuhankah bersuara?

5. Kuncup

Kuncup dunia
batu menggeliat
suara airmata hama
palangnya diberi nama gelisah

6. Anak

Anak gelombang mengerti
terpendam, diam, surut, tak karam
tidur merenggut bintang

7. Kudengar

Bersua rambut hitammu
gelombang bunga terjaga
di ruang susut ranjang cakrawala

8. Tangan

——— Untuk Sutardji Calzoum Bachri

Tangan di kabut meluap
jantung, sungai, tebing curam
tak lebih dalam, kita tahu
tapi ombak bosan karang

9. Doa I

Kenyang hingga lapar
Kaulah kenyang itu
Nasi jiwa lapar
Sekedar kenyang
Kaulah airmata. Amin

10. Cinta

——— Untuk Tedjawati

Laut pada arus
ombaknya hatimu
memukul kegelapan
menangkap cahaya
pecah menjelma di sampingku di sampingmu
kata-kata, waktu
jembatan kalbu

Catatan:

Seluruh puisi-puisi ini berasal dari buku puisi Abdul Hadi WM: Tuhan, Kita Begitu Dekat. Judul di atas sama persis seperti judul di dalam buku puisi Pak Abdul Hadi WM, isinya sudah saya utak-atik, begini yang saya sebut semi-otomatis menulis puisi. Misalnya yang No. 1 Tuhan, Kita Begitu Dekat, puisi aslinya begini:

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap
kini aku nyala
pada lampu padammu

Tiga Puisi Cinta dan Satu Nyanyian Pilu

Puisi John Kuan

——— meniru Inger Christensen

1.

cintai aku titik/ kalau tidak aku akan lenyap di udara titik/ biarkan
aku bagai mobil parkir di garis kuning tengah malam koma/ numpang
hidup sebelum fajar menyingsing titik// cintai aku titik/ biarkan aku
sebagai sisa pijar minyak di sela jarimu koma/ erat mendekap
keringat hangat koma/ tidak ingin dikuras jatuh titik// cintai aku titik/
walau cinta licin macam belut koma/ spesimen seperti aku ini titik/
hanya di saat kau menatap koma/ baru kembali peroleh kebebasan titik
// cintai aku titik/ kalau tidak aku sudah mau bernyanyi buatmu titik/
oh my god koma/ dijamin membuat kau merasa lebih baik koma/
lebih baik mencintaiku titik//

2.

jangan lagi memberondong ke arahku koma/ bukan pula aku robohkan
bentengmu koma/ jangan lagi memberondong ke arahku koma/ sungguh
aku tidak cukup nyali merampok bank koma/ jangan lagi memberondong
ke arahku koma/ pendapatku masih belum menang piala perdamaian koma/
jangan lagi memberondong ke arahku koma/ aku tidak ambil topi baja
ke medan perang koma// sedihku hanya 21 derajat celsius koma/ terpurukku
masih menunggu elevator koma/ deritaku diserahkan kepada askes koma/
sepiku telah dikirim menemani kucing koma// satu tembakan lagi aku akan
berubah jadi mazinger z koma/ satu tembakan lagi aku akan transparan koma
/ ayo tambah satu tembakan koma biarkan sakit membuktikan koma/
roh ini masih belum dibius koma/ biarkan cinta menampakkan mujizat
terbesar titik dua/ sehabis mati koma/ masih bisa mati sekali lagi koma//

——— bukan meniru Pablo Neruda

3.

tidak ingat lagi nama jalan itu
hanya tahu kau tinggal di loteng YAMAHA
papan nama sudah padam, tidak tahu lampu rumah siapa
bergoyang menyapu permukaan jalan
cuma tahu jalan memutar pulang amat panjang, amat panjang
bagai melewati galaksi lain.
tidak ingat lagi rupa jalan itu
hanya tahu angkat kepala akan disambut hujan garpu pisau jarum
itu adalah malam di hari ketiga
hari kedua aku masih ikut pawai
biarkan tempurung kepala diisi penuh suara drum
hari keempat sudah lupa
ingat betul telah minum sup buah pare
namun ujung lidah seperti bisa mencicip manis irama di ujung jalan
sehari berikutnya mungkin adalah banyak tahun kemudian
aku kembali ke jalan itu ( kita sama-sama sudah tua di dalam mimpi )
jalan itu, masih sepi, kacau, indah, biasa
kau kembali ke loteng, aku angkat kepala menatap
sekalipun dunia mau kiamat juga tidak hirau

4.

aku harap sendiri bukan sebuah sangkar
tapi angin yang menyusup lewat
aku harap bisa dengan nyanyian kau riang
tapi bukan cinta
aku harap bisa dengan bersih sorot mata
menikmati sebiji ceri
aku harap setelah pisau dicabut dari ranjangku
mampu rapat sendiri
hanya kadang di paruh malam
aku masih bisa ambles ke lobang luka
berebut menyantap habis ceri terakhir
nyanyian indah diulang hingga sumbang
kadang aku biarkan pintu sangkar terbuka
tapi tidak ada orang ingin masuk
atau keluar

Tiga Kilasan Gaya John Kuan

Puisi Ahmad Yulden Erwin

john kuan

1.

Ini bukan soal tiga pon jerami, barangkali
Cuma cahaya tiga lampion, atau mirip senyum
Peramal Tao dengan sebotol arak di bahunya
Lalu pergi: jalan itu, kerikil itu — ia melangkah
Lurus, pelan — sesekali bayangnya bisa menoleh

2.

Tiga koi merah bersisik perak di kepala
Berkilat di kolam dekat kuil; jembatan itu lama
Ditinggalkan — hanya sesekali gema genta
Dicuil jadi sarapan bangau lukisan — mereka
Sebut itu gugus awan: jembatan Joshu yang lain

3.

Koko telanjang dada di bawah bulan petik
Kecapi — sebelum lubang cacing putih memilin
Ujung telunjuk Juzhi pada touchscreen — mungkin
Kita pas berpisah frekwensi di ruang yang sama
Begini saja mestinya sudah cukup jadi jalan pulang

Dua Puisi Kotbah

Puisi John Kuan

1. Santo Fransiskus Berkotbah pada Burung

Pak Fransiskus, santo dari Asisi, bruder kita
pendiri ordo Fransiskan: padang liar abad ke-13
Italia bagaimana? Berbagai rupa dan warna
burung berbaju bagaimana berbeda, berkicau
bagaimana memukau, membuat kau tidak bisa
menahan diri siapkan buat mereka satu pelajaran
demikian indah. Menguak satu tradisi baru, riang
fokus dan bebas begini sebuah ekstrakurikuler?
Mereka sebagai pendengarmu, kau anggap kawula
burung liar sebagai gurumu, membuat kau di abad 21
serentak diangkat sebagai ketua kehormatan WWF,
klub burung, dan perlindungan lingkungan hidup.
Hari itu cahaya matahari berkilau, kau melangkah
di jalan gunung pinggiran Asisi, melewati jembatan
kecil, sampai di bawah sebatang pohon ek hijau, duduk
istirahat di atas sebongkah batu, memandang lembah
di depan mata. Kau mendengar di balik hutan ek
mengapung datang suara nyanyian seekor robin, seolah
searus sungai kecil mengalir berbagai mutiara langka:
memakai satu topi indah berwarna hitam, dada merah
oranje, saudara kita bersayap ini. Kau sungguh
berharap bukan memakai ikat kepala bruder, tetapi
adalah topi hitam seperti dia, selanjutnya seekor wren
tampil melengking, gegas berputar, seolah dipental
ke sana kemari oleh tunas bening di langit, betapa lucu
burung merah kecil! Suster tekukur juga bersenandung
pelan-pelan, kemudian kau mendengar suster vireo
bertopi hitam bolak-balik mencat warna vokalnya
Ah, aku tahu, begini rupanya coloratura soprano berasal

Dia tarik datang lebih banyak kicauan, kau bahkan
mendengar siulan seekor robin kuning bagai tiupan
seruling di tepi mimpi, suaranya lincah seperti cikukua
di dalam senja bertabur cahaya permata, suaranya
terputus-putus mendendangkan suster kita remetuk laut…
Nyanyian mereka mengumpal jadi sebuah pulau suara
penuh bertebaran bermacam warna tanda seru,
tanda titik, tanda koma, titik koma, titik dua, kutip tunggal,
kutip ganda, elipsis terapung di atas laut berlangit biru
kidung mulia nan indah dari paduan suara semesta.
Memuji siapa? Memuji Sang Pencipta memberi mereka
keriangan dan kebebasan, gunakan warna dan irama
berbincang dengan langit dan bumi, berbincang
dengan Dia, dan Dia bersama langit dan bumi
juga membalas dalam warna dan irama…

Kau tiba-tiba bangkit dari bongkahan batu, melangkah
ke tengah jalan bergetar bayang pohon ek,
luruskan pinggang, mendongak bagai seorang tamu
mata telinga dan hati habis dijamu santapan enak,
tegak khidmat bersiap memberi seuntai terima
kasih. Kau tatap burung-burung bernyanyi
di dua sisi hutan pohon ek, mereka lalu heningkan diri,
bangga juga rendah hati berlagak menyambut piala
atau pidato ” Saudara-saudari burung yang tercinta ”
Kau mulai berbicara. ” Terima kasih kalian gunakan
bahasa malaikat, musik tanpa kata membantu aku
buktikan kebenaran Dia bocorkan kepada kami.
Dia beri kalian sepasang sayap lincah, beri kalian langit,
atmosfer, awan, angin, bulan, matahari dan bintang
sebagai pandu dan rambu lalu lintas kalian. Dia beri
kalian warna-warni, aneka bentuk pakaian bulu
dua lapis tiga lapis, walau kalian tidak tahu
merajut dan menjahit. Dia beri kalian pohon tinggi,
rumput hijau, lumut buat sarang, beri kalian air
sungai dan kolam lepas dahaga, sediakan makanan
kesukaan kalian, tidak usah tanam dan panen,
juga tidak usah gesek kartu atau bayar tunai.
Dia cinta kalian, mengajar kalian bersyukur indah
dan riangnya dunia, menikmati perjalanan gaib…
Ah, teruslah kalian memujiNya, dengan berbagai
warna suara, dengan berlembar-lembar gambar
berbeda, perangko berbeda, terbang ke empat penjuru,
bersama segala benda, di antara nyata dan hampa,
tembus waktu, jauh dekat satu cinta, begitu mengikat… ”

2. San Antonio Berkotbah pada Ikan

Melalui Des Knaben Wunderhorn ciptaan Mahler 
di akhir abad ke-19 pertama kali mendengar kisah
kau berkotbah pada ikan: dari kampung halamanmu
Lisboa ke Italia, saudara fransiskan kita, bruder
Antonio, yang berusia 26 tahun dalam Kapitel Tikar di Asisi
tempat berkumpulnya 3000 bruder bertemu santo
Fransisikus yang 39 tahun. Kalian gelar tikar tidur,
pakai kain belacu, dengan kaki telanjang, dengan miskin,
dengan menyebar ajaran, dengan membantu orang
sebagai hiburan. Kau pasti pernah mendengar cerita
dia berkotbah pada burung ( atau mungkin kalian
bisa dengan daya komunikasi ajaib masing-masing
berdialog dengan bahasa ikan dan burung ) Dia minta
kau buka pikiran dulu baru belajar. Kau justru
menyebar ajaran kepada penganut agama lain
di dalam gereja suaramu lantang bergema,
di luar gereja mereka menutup telinga. Kau berjalan
sampai muara sungai, nelayan di atas perahu melihat
kau bagai transparan, kau berbicara pada air mengalir
ke laut, berbuih-buih tiada habis, emang sangat cair.
Tiba-tiba meloncat keluar seekor ikan barakuda
santai menembus permukaan air, dia sambil cuci telinga
sambil menegakkan badan dengar, bagai sebuah roket
didorong panah api semangat bersiap naik angkasa
Salmon yang sedang mudik juga datang, ikan mas
yang mengandung telur juga, belut plotos bermuka
mulus, juga ikan trout yang bergerak anggun.
Mereka begitu riang mengitarimu, bagai menunggu
undian promosi produk baru. Ketam yang malang
melintang, udang di balik batu, pelan-pelan bergerak
dari laut. Kau tersenyum pada mereka dan berkata:
” Aku tidak menjual barang, hanya memberi kalian
hadiah, Bapa yang setiap hari memberi kalian makan
tiga kali, memberi kalian kenikmatan ikan bertemu air
sungai dan laut itu, ingin aku menyampaikan kepada
kalian suaraNya. Dia memberi alam sebuah lemari baju
maha besar, agar kalian kawula ikan bisa memilih
sehelai baju renang atau baju kasual atau formal
sesuai selera masing-masing dan pas. Kalian sering
dengan gerakan tari paling luwes, suasana hati
paling gembira, memuji Bapa! ” Ikan-ikan setelah dengar
mata terbelalak, mulut menganga, berebut goyang
sisik-sisik ditubuhnya, suara sisik bagai suara lonceng
bergetar, segelombang-segelombang umpama tsunami
mencapai permukaan laut, perahu-perahu yang baru
bertolak lekas balik haluan, semua nelayan serentak
mengetuk papan geladak, dengan jempol mereka
menekan [ suka ], irisan-irisan sashimi di atas perahu
disayat hidup-hidup dari ikan tuna, ikan todak,
setengah mati berusaha menemukan jati diri, seolah
telah resureksi bergegas lompat ke dalam air.

Kotak

Puisi Agung Triatmoko

Aku pernah membuat sebuah kotak tanpa ukiran dan tanpa kaca, agar tak nampak istimewa dan timbul alasan untuk diperebutkan.

Bagian dalam kotak aku buat nyaman dengan lapisan karpet merah jambu yang aku pintal sendiri, bahannya aku ambil dari benang-benang yang lembut namun kuat, yang aku kumpulkan dari hari-hari aku merayu semesta.

Di kotak itu……

Aku letakkan setangkai kembang liar yang aku petik dari kerumunan duri dan auman serigala-serigala garang.

Pelahan aku letakkan kembang liar di pembaringan kotak, aku selimuti tubuhnya dengan do’a, aku terangi ruang kotak dengan puisi-puisi, dan aku hembuskan kesejukan dengan harapan.

Di kotak itu……

Aku sematkan sebuah nama…….. namamu.

Aku tak pernah pergi tanpa kotak itu.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di tepi pantai, agar sang kembang liar pandai menirukan gemulai ombak yang sering membuatku terpesona.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di tepi riuhnya jalanan, agar sang kembang liar menjadi cerdas dan tangguh seperti angin dan debu.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di puncak gunung tandus, agar sang kembang liar mampu memandang dunia dengan tatapan pasti.

Sesekali, aku letakkan kotak itu disampingku berbaring, agar dapat kuhirup aroma wanginya.

Suatu hari, sesaat setelah seribu kepenatan mulai hendak beranjak pergi, saat kerinduan akan aromanya memuncak, kucoba membuka kotak itu, namun tak kutemukan lagi kembang liar di dalamnya, yang tertinggal hanya sisa aroma yang mengabarkan sebuah kepergian.

Kini kotak itu tak berpenghuni, tak akan pernah lagi mengabarkan harapan, kapan dapat kugenggam tangkainya yang lembut, sembari kuhirup aromanya.

Bangku Kosong
Bangku Kosong (Photo credit: Gage Batubara)

Ya sudah…, aku simpan saja kotak ini untuk menyimpan bulir demi bulir

air mata yang membatu. Lantas kutulis sebait puisi di dinding luarnya, “Terimakasih kembang, aroma rindumu yang kemarin dulu masih aku simpan jauh di dalam hati”.

Menulis Perjalanan Malam

Puisi John Kuan

perempuan-kesepian
gambar diunduh dari lonelypinay.com

Terapung, terapung, seperti apakah ini?
Seekor camar di antara Langit dan Bumi
——— Du Fu

Dari sekeping cairan kristal aku mengayuh sampan turun
angin kelana bermimpi lari di cabang jalan berkerut
setiap situs jejaring telah lelap, siapa masih di dalam
satu kwatrin Tang membaca seruan air berlalu

Saat bayang letih di kursi aku pangku kembali
dan kembali, dengan puisi mencari satu perahu
berlabuh di tepi sungai sunyi, amat hijau
tunas rerumput, menjelma jadi coretan sandi menyerbu
masuk ke batang usia ranggas, berdiri senyap
di mulut jendela seluruh warna malam luntur

Tahun itu, gugusan bintang yang kita gembala
sudah semuanya pulang ke kampung halaman?
Di atas Jalan 49 Brooklyn, dengan cahaya bulan
mengalir dari Sungai Hudson, kulipat
ke dalam beberapa potong cerita terburai, juga
jejak pensilmu dan sindiranmu, malam-malam
di tengah gelombang kata menggulung bagai laut pasang

Puisi masih mau ditulis?
Aku mengerut diri ke dalam jejaring yang ramai tapi senyap
mengikuti surel, menjelma
jadi seekor yang terapung di antara langit dan bumi
camar, ingin sekali ingin sekali
di dalam mimpimu bagai ladang bagai kebun hinggap…

Sahaja Embun

Puisi Binandar Dwi Setiawan

sebening-embun
gambar diunduh dari photoppi.com

Aku masih tidak mengerti mengapa harus merasa senang untuk semua hal yang tak kutahu apakah itu memang baik. Aku, sekaligus juga masih tidak mengerti mengapa harus berduka untuk semua hal yang tak kutahu apakah itu memang buruk. Aku masih tak sempat untuk memberi pakaian kepada sebuah kejadian, nilai. Aku tak ingin dan tak hendak berurusan dengan batas batas. Aku hanya ingin menari dengan pepohonan, tak lagi penting apakah cemara apakah sakura. Aku hanya ingin melihat sebagaimana adanya, dalam realitas yang tak butuh dinamai. Aku ingin setiap mata berkata jujur tentang apa yang dilihatnya, aku ingin aku percaya kepada mata mata itu. Aku telah terlampau lelah ditipu seumur hidup, aku ingin mengakhiri memaksakan kesaksian berkepanjangan ini, aku ingin aku sendiri yang melihatnya. Semua berita, apakah benar apakah salah. Masih perlukah sebagai benar, masih perlukah sebagai salah. Bukankah telah jelas bahwa terlalu banyak ragam, dan tak berguna apa apa untuk kita menariknya sebagai yang berdua kutub.

Tidak menjadi musuh seseorang, kecuali dirinya sendiri. Tidak menjadi kekasih seseorang, kecuali dirinya sendiri. Sepanjang hidup aku hanya berurusan dengan diriku sendiri, menyelesaikan setiap hal yang masih menjadi kebutuhan baginya, aku menghabisinya perlahan tetapi meyakinkan, terus kuburu setiap jatah waktu. Dan tak akan berhenti sampai dia menyadari ketidakbutuhannya untuk ada. Aku hanya ingin menjadi lebih dekat kepada apa yang seharusnya memang aku lebih dekat. Agar aku tidak bertanya lagi tentang maksud segala maksud. Tetapi kudapati marathon ini tak diawali oleh garis starts dan tak diakhiri oleh garis finish. Aku sendiri masih tidak mengerti apakah ujung memang ada. Apakah aku sedang pergi atau aku sedang pulang. Seluruh keutuhan diriku dipaksa menyadari kesendirian yang luar biasa hebatnya. Dan lantas bagaimana bisa kutemukan jawabnya jika aku hanya berbincang dengan diriku. Maka menguaplah air, dan ia benar benar uap, bukan lagi air.

Semua keindahan itu berasal dari akar yang sama. Mengembang dengan kembangan yang diluar benak setiap kehidupan. Maka tidak didapati keadaan kecuali kebingungan. Dan jalan mencari jawaban adalah jalan menuju sesuatu yang tiada habis, sebab tidak disertakan oleh sebuah jawaban kecuali seribu pertanyaan. Yang selamanya sedang menghadap kepada kita ini adalah wujud dari dia yang selamanya sedang berada dalam diri kita. Maka pada jalan yang sama sebagian menganggap pulang, sebagian yang lain menganggap pergi. Pada pembagian yang sama sebagian menganggap pemberian, sebagian yang lain menganggap penolakan. Nama adalah sesuatu yang terlahir dari keangkuhan dan kebodohan. Temaramnya gelisah meracik rasa takut dalam sebuah sudut ketika aku ditodong oleh sejuta ketergesaan, aku tiba tiba saja memanggilmu, itu dosa pertama yang seluruh waktuku kuhabiskan untuk merajukmu melupakan itu. Jika saja aku bercinta dengan dirimu yang sesungguhnya, sebelum akhirnya aku memanggilmu.

Aku sebenarnya bukan masih mengingatmu, tetapi masih mengalamimu. Aku dengan kamu, tak bisa dijarak oleh lupa. Tetapi engkau masih saja bersikeras untuk berusaha menipuku, sedangkan kau tahu aku tak lagi peduli kepada diri yang engkau kirimkan sebagai engkau. Adalah tentang kamu, ketika aku berjuang untuk membunuh seluruh sifat sifatmu, aku hanya tak mau jatuh cinta pada mereka. Aku terlalu murni, tak butuh untuk menunggu engkau suap dengan sifat sifatmu agar aku membersamaimu. Akulah singgasana terluas yang bisa kau tempati. Maka bersenang senanglah sekehendakmu. Dan singgasanamu akan tetap saja sesurga yang kau bisa kerjakan. Tak perlu beresah tentang akan menjadi seperti apa aku nanti, sebab aku ada hanya untukmu. Kau tahu seberapa rindunya aku terhadap pulang, juga seberapa bersikerasnya aku melalui jalan ini, bahkan seberapa hebatnya aku menafikan setiap kepahitan, tetapi tidak tahukah kamu bahwa aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang bagaimana ini akan berakhir atau diakhiri.

Tetap saja semua terlihat begitu seimbang dimataku. Karya maha sempurna yang mewah yang tak memberiku setitik ruangpun untuk berkeluh.