Lomba Menulis Flash Fiction RetakanKata

Kabar RetakanKata – Ingin mendapat pulsa plus buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga? Ikuti saja lomba menulis flash fiction di Blog RetakanKata. Lomba menulis ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda, 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2012. Kali ini lomba dikhususkan untuk menulis flash fiction bertema “Kebangkitan Pemuda”. Kamu bisa menulis segala lika-liku terkait dengan peran pemuda dan atau mahasiswa dalam berkontribusi pada kemajuan masyarakat atau pun generasinya.
Ketentuan lomba adalah sebagai berikut:
  1. Peserta lomba tidak perlu mendaftarkan diri. Siapa saja yang ingin mengikuti lomba dapat langsung mengirim naskah lomba sebanyak-banyaknya melalui email retakankata@gmail.com dengan subyek email LOMBA FF_nama pengirim.
  2. Karya yang dikirim dilampiri dengan kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia) dan alamat email atau nomor handphone yang mudah dihubungi.
  3. Karangan adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
  4. Jika ada kutipan dari pihak lain dalam karangan, harus mencantumkan referensi di catatan kaki.
  5. Karangan ditulis pada kertas A4 dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, dengan spasi 1,5 margin 3 cm dari atas, 2 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 2 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 400 sampai dengan 1000 kata.
  6. Karya-karya pilihan akan dikumpulkan dan jika para pengarang menghendaki untuk dibukukan, RetakanKata akan membantu proses selanjutnya sepanjang memenuhi persyaratan untuk diterbitkan dalam sebuah buku.
  7. Hadiah:
  • Pemenang I mendapat pulsa sebesar Rp150.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang II mendapat pulsa sebesar Rp 100.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang III mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Batas akhir pengiriman naskah tanggal 16 November 2012 pukul 24.00 WIB.
Nama peserta dan naskah lomba tidak akan dipublikasikan. Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 30 November 2012. Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
NB:
Hadiah pulsa dapat ditukar dengan uang tunai jika pemenang menginginkan.
Selamat Berkarya!
Didukung Oleh:

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati #4

Sembilu

berjalan di kegelapan
Ilustrasi dari blogspot.com

1.
Setiap langkahmu adalah jarak,
menjauh dari kenangan yang rapuh,
meninggalkan luka di setiap jejak.

2.
Harapanmu merimbun jadi sepiku,
mekar liar di ufuk fajar,
rubuh luruh di kaki subuh.

3.
Tentang rasa yang tak pernah kautahu,
serupa labirin di ruang kosong,
berkelindan di kekal ketidakpastian.

4.
Tanpamu,
setiap kata adalah perjumpaan kekalahan demi kekalahan,
pelan menuntunku menuju kekalahan selanjutnya,
hingga entah.

Kutiup Malam

Bila namamu tak mampu lagi kusebut,
Kutiup malam,
Biar tenggelam dalam hitam.

Pejalan

Seorang pejalan, bercerita segala sesuatu yang ditemu di jalan. Tentang pohon, tentang kayu, tentang tanah, tentang batu. Tentang yang lekat, tentang yang luruh, tentang igau atau denyut semak perdu. Angin barangkali diam, tetapi sunyi seringkali lebih lolong dari pecahan hati.
Kaki goyah harus tetap kokoh menopang dada -tempat kenangan bersemayam-, juga benak -tempat resah berlabuh dan hiruk pikir berkecamuk-.
Tidak banyak hal dapat dibawa dalam kantung nasib. Lorong panjang kadang bercecabang. Cukupkan bekal untuk esok sehari. Sebab lusa, -mungkin datang, mungkin juga tidak-.
Hari adalah hitungan rasa bosan. Dan waktu telah menjelma pemburu. Mata lintang pukang mencoba untuk tidak tertipu fatamorgana. Telinga sedikit berkarat. Banyak suara tetapi tidak banyak lagi yang didengar selain isak dan tangis. Selebihnya air mata yang berbicara. Mulut sesekali tersenyum pada siapa saja yang kebetulan berpapasan. Sepotong firman terlipat rapi di tepi jalan.
Setiap pejalan akan berpapasan, dan juga kembali sendirian. Setiap kota adalah rumah. Setiap cinta adalah dermaga. Dan kabut adalah pengingat kerinduan tempat doa-doa dikabulkan.
Senja dan kicau burung, liuk padu batang padi adalah penghibur harap yang terbunuh beribu kali. Angan yang terbang ke pelukan entah, tak jarang pecah mengalir bersama getir.
Seseorang mencari seorang yang lain. Mereka yang kalah tertidur dalam lelah. Dan malam menjadi semakin sepi. Pejalan hidup tidak untuk berhenti.

Algojo

Cerpen Junaidi Abdul Munif
Editor Ragil Koentjorodjati

Perkenalkan, namaku Jimmy. Lengkapnya, aku tak perlu menyebutkannya, karena aku takut Anda akan terus mengingat namaku. Kasihan sekali Anda jika tahu nama lengkapku, karena otak Anda akan diisi oleh sesuatu yang –menurutku- kurang berarti. Aku sarjana ekonomi lulusan dari sebuah universitas ternama. Kalau ditulis lengkap, namaku akan menjadi Jimmy……… SE. Hebat bukan?
Namun, aku sering dipanggil dengan nama Jack. Apa hubungannya? Jangan dibahas terlalu lanjut. Dan aku rasa itu bukan hal penting. Banyak sekali nama panggilan yang sangat jauh berbeda dan kelihatannya sama sekali tak ada hubungannya dengan nama asli. Kalau nama panggilanku Jack, minimal masih ada hubungannya bahwa keduanya sama-sama diawali dengan huruf J.
Profesiku? Mungkin Anda akan mengira aku bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar. Berpenampilan parlente dengan menenteng tas ke mana-mana. Bukan, bukan itu. Aku sangat jauh dari kesan itu: seorang eksekutif muda yang jadwal hari-hari dipenuhi rapat dan rapat, ketemu relasi bisnis, seorang pekerja yang tak pernah kekurangan uang di kantong, dompet dan rekeningnya, yang jika berbelanja hanya tinggal menggesekkan kartu kredit.
Sekarang aku akan memberitahukan apa pekerjaanku. Dan, ini penting, Anda harus mencatatnya, sekaligus……waspada! Pekerjaanku adalah pembunuh bayaran!
Tentang profesi yang mengerikan ini, aku juga tidak tahu pasti mengapa ada profesi seperti itu di dunia ini. Sangat jauh dari ilmu yang aku pelajari selama kuliah. Tapi itulah, di negara tercinta ini sudah terlalu banyak sarjana sehingga lapangan pekerjaan yang sedikit itu pun harus diperebutkan oleh orang yang di belakang namanya dipenuhi dengan gelar. Pekerjaan seperti sebutir gula yang diperebutkan oleh ribuan semut. Dan karena aku gagal bersaing untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku, apa boleh buat, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi, akhirnya aku memilih pekerjaan ini.
Aku cukup bersyukur. Di tengah persaingan hidup yang semakin sengit, pekerjaanku masih jalan terus. Pekerjaanku tidak pernah terkena imbas krisis global. Bahwa sering ada orang yang kena PHK, aku sama sekali tak pernah mengalami hal itu. Ya, Anda harus tahu, kalau Anda sering menonton berita kriminal di televisi, banyak sekali terjadi peristiwa pembunuhan. Tahukah Anda, bahwa dari yang mati itu ada yang merupakan korbanku? Aku sangat beruntung, polisi tak bisa melacak jejakku. Bukankah ada adagium, penjahat selalu selangkah lebih maju dari polisi? Mungkin Anda menganggap aku sebagai pembunuh profesional yang sangat lihai. Terima kasih kalau Anda berpikir begitu, artinya Anda memberi apresiasi pada pekerjaanku.
Tentang polisi yang selalu gagal mencium jejakku, aku tak tahu kenapa. Padahal aku tak pernah secara khusus belajar keterampilan membunuh secara canggih, yang jejaknya tak bakal diketahui polisi. Aku menjadi percaya, bahwa nasib baik dan keberuntungan itu memang ada. Dan selalu lolosnya aku dari tangkapan polisi adalah salah satu keberuntungan itu.
Order pembunuhan yang pertama kali kuterima datang dari seorang pemilik toko. Aku tak akan menyebutkan jenis tokonya itu. Aku takut Anda akan mencurigai orang itu. Toko itu menghidupi banyak karyawan. Kasihan jika karyawan-karyawan itu mesti kehilangan pekerjaannya jika banyak orang seperti Anda akan memboikot toko itu.
Dia menyuruhku karena benci usahanya disaingi. Ya, pada awalnya toko pengorder jasaku ini masih bisa mengimbangi toko saingannya. Namun pelan-pelan, para pelanggannya mulai beralih ke toko saingannya itu. Pengorderku merugi. Ia mendapat modal dari mengutang. Karena ia tak bisa membayar utangnya, ia semakin benci pada saingannya dan berniat menghabisinya. Tapi ia bingung bagaimana caranya menghabisi nyawa pemilik toko rival bisnisnya. Ia takut tertangkap polisi.
Beruntung saat itu aku sedang membeli suatu barang di tokonya. Aku bilang padanya, aku sangat butuh barang itu tapi tak mampu membayarnya. Ia pun mengatakan bahwa usahanya mulai seret. Ia berkeluh kesah tentang keuntungannya yang semakin hari semakin menyusut. Lantas aku bilang, akan bekerja menjadi pelayan di tokonya. Ia menjawab bahwa ia sudah tak mampu lagi membayar karyawan. Lalu aku mengatakan apa pun akan kulakukan untuk membayar sebagai kompensasi kalau aku telah mengambil barangnya. Secara tak terduga, dia memanggilku masuk ke ruangan kecil yang sunyi. Di situ dia mengeluarkan ide gila untuk membunuh pemilik toko yang membuat usahanya bangkrut. Gilanya, aku menyanggupi untuk membunuhnya. Bukankah aku sudah mengatakan akan melakukan apa saja untuk membayar barang yang kuambil itu?
Selama dua hari aku selalu datang kepadanya, berdiskusi dengan cara apa aku harus membunuh saingannya. Kami saling bertukar pendapat tentang cara yang paling aman dari kecurigaan polisi. Dan akhirnya kami sepakat membunuhnya dengan suatu cara. Cara apa itu? Aku tak akan menjelaskannya di sini. Takut kalau Anda tertarik untuk mengikutinya. Bisa-bisa orderku berkurang, diserobot oleh Anda!
Pemilik toko saingannya itu seminggu kemudian mati di tanganku. Pengorderku senang bukan main. Ia memberiku uang dua juta. Tapi aku menolaknya. Dalam perjanjian sebelumnya tak ada kesepakatan kalau aku akan menerima imbalan uang. Aku menganggap pembunuhan itu sesuai dengan nilai barang yang kuambil darinya. Ya, mau apa lagi, kalau sedang butuh, tak ada nilai yang sanggup menghargai sebuah barang.
Dari mulut ke mulut, kabar tentang keberhasilanku membunuh yang tak mampu terlacak oleh polisi menyebar secara rahasia. Aku diberitahu oleh pengorder pertamaku bahwa ada temannya yang akan menyewa jasaku. Akhirnya aku meminta handphone pada pengorder pertamaku -dan ia tak keberatan- agar memudahkan berkomuniksi dengan pengorder selanjutnya.
Mulailah aku menjalani sepak terjang sebagai seorang pembunuh profesional. Banyak dari pengorder langsung menyebutkan harga untuk nyawa orang yang aku bunuh itu. Sangat menggiurkan. Kalau sepuluh kali saja aku mendapat order membunuh, aku akan langsung jadi orang kaya. Jika telah menjadi kaya, aku berjanji akan mulai usaha dengan jalan yang benar, tentu dengan strategi membangun yayasan untuk membantu kerja pemerintah mengentaskan kemiskinan dan merawat anak-anak terlantar.

***
pembunuh bayaran
gambar diunduh dari http://www.fitr4y.files.wordpress.com

Sekarang aku akan menceritakan order terakhir pembunuhan yang kuterima. Anda adalah orang yang beruntung karena mengetahuinya. Jarang-jarang lho.
Aku sedang tiduran di kasur butut sambil merokok dan menikmati segelas kopi.
Tiba-tiba sebuah sms masuk ke nomor handphone-ku.
“Bisa Anda ke Jl Melati 20? Sangat penting.” Begitu isi sms itu.
Aku langsung membalasnya. “Bisa. Kapan? Sekarang?”
“Iya. Sekarang.”
Aku segera mengambil jaket kulit dan keluar menyetop taksi. Malam yang pekat dengan udara dingin cukup membuat kota yang siang hari sangat menggeliat ini mati.
Tak ada keramaian seperti yang terjadi di siang hari.
Setelah berdiri di pinggir jalan, sekitar seperempat jam, akhirnya aku mendapat sebuah taksi.“Jalan Melati,” kataku.
Sopir taksi langsung menjalankan taksinya tanpa sedikitpun menoleh kepadaku. Aku lebih banyak diam dari pada mengajak sopir untuk bercakap-cakap, meski sekadar omong kosong yang akan menghangatkan suasana malam yang begitu dingin ini.
Jalan Melati sangat sepi. Seperti bagian lain kota ini, seperi seorang tua renta yang kehabisan tenaga sehingga tak mampu bergerak sedikitpun. Aku mencari rumah benomor 20. Ketemu. Sudah gelap memang, tapi sebuah lampu lima watt yang menyala cukup memberi bukti bahwa memang betul ada orang memintaku untuk datang ke tempat ini.
“Selamat datang, Jack. Saya sangat butuh jasa Anda,” katanya. Ia seorang laki-laki parlente yang masih memakai setelan jas rapi, meski hari sudah malam begini.
“Siapa yang mesti saya bunuh?” tanyaku setelah duduk di sofa butut yang di sana-sini sudah berlubang.
“Ini alamatnya,” ia menyodorkan secarik kertas padaku “Dan ini fotonya,” lanjutnya sambil menyerahkan selembar foto bergambar laki-laki tua yang dandanannya tak kalah parlente dengan pengorderku ini.
“Kapan nyawanya harus keluar dari tubuhnya?” tanyaku sambil mengambil sebatang rokok filter dan menyelipkannya di bibir.
“Malam ini.”
Secepat itukah? Pertanyaan ini batal kulontarkan. Sebagai pembunuh profesional, aku memang dituntut siap bekerja kapan saja. Kapan diperintah untuk membunuh, saat itu juga aku akan membunuh.
“Ini dp-nya. Sisanya setelah pekerjaan Anda selesai,” ia menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku tak tahu berapa isinya, karena langsung kumasukkan ke saku jaket. Tabu bagiku untuk tahu berapa ongkos tiap nyawa yang kucabut.
Aku segera melesat menembus malam yang dingin. Rokok yang kuhisap cukup untuk menghangatkan tubuh yang mulai diserang bermacam penyakit ini. Jalan Wisanggeni 35. Itu adalah alamat yang diberikan pengorderku di Jl Melati 20.
Entahlah, aku merasa kurang nyaman malam ini. Tidak seperti biasanya, aku akan sangat bersemangat untuk menghabisi nyawa seseorang. Menyaksikan orang mati terkapar oleh tanganku, ada kepuasan tersendiri. Anda bilang aku sadis? Itu terserah Anda. Yang penting aku puas, dapat uang banyak. Sederhana bukan?
Tapi nyatanya, aku bukan termasuk orang yang kaya. Sudah lebih dari seratus kali aku menghabisi nyawa orang, tapi tetap tidak kaya. Masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit dengan kebersihan yang tidak terjamin. Kamar mandi bau pesing karena harus bergantian dengan penghuni kontrakan lainnya. Dan kenyamanan yang terenggut karena penghuni kamar di sebelahku selalu menyetel musik rock keras-keras, seolah penghuni lainnya harus mendengar musik yang disukainya itu.
Aku telah sampai di jalan Wisanggeni 35. Sayang, aku tak bisa segera beraksi. Masih banyak orang di rumah itu. Bahkan suara para penghuni yang ada di dalamnya terdengar hingga ke pinggir jalan di tempat aku sekarang berdiri. Aku mencari tempat yang aman untuk sembunyi dan mengintai. Menunggu waktu yang tepat untuk beraksi menghilangkan nyawa orang yang fotonya ada di tanganku ini.
Aku menelepon pengorderku di Jalan Melati 20.
“Suasana belum aman. Bisa ditunda besok saja?” kataku mengabarkan situasi rumah di Jalan Wisanggeni 35.
“Harus sekarang. Tunggu sampai ada waktu yang tepat. Kalau malam ini Anda tidak berhasil membunuhnya, bisa-bisa besok saya yang akan mati.”
Akhirnya aku tetap berdiri di tempat yang terhalang semak-semak, sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang ada di saku jaketku. Gila! Lama sekali orang yang berkumpul itu membubarkan diri? Tapi sebagai pembunuh profesional, mau tak mau aku harus tetap menunggu.
Akhirnya jam dua pagi tak ada lagi keramaian di rumah itu. Aku segera menyelinap ke sana. Kebetulan lampunya masih menyala. Berarti orang yang harus kubunuh itu belum tidur. Bukan masalah buatku, orang yang akan kubunuh sudah tidur atau belum. Kalau sudah, tentu akan sangat mudah membunuhnya. Kalau belum, berarti aku harus bertarung dulu dengannya karena dia pasti akan mempertahankan diri. Ya, itung-itung sebagai hiburan dan pengalaman. Kalau pekerjaan yang aku jalani ini tidak semuanya berjalan mulus.
Aku sudah berada di depan pintu. Kudorong pintu itu sedikit. Ternyata belum dikunci. Aku tak membuang tenaga untuk mendobrak membuka pintu yang sudah dikunci.
Aku tak menyangka, orang yang akan kubunuh ini tahu kalau nyawanya mungkin sebentar lagi akan melayang di tanganku. Sama sekali ia tak takut sedikitpun menghadapiku. Malah ia tersenyum, seperti bertemu dengan sahabat yang lama tidak ketemu.
“Anda Jack? Algojo yang ditugaskan untuk membunuh saya? Sabar, masih banyak waktu. Jangan terburu-buru. Saya tak akan lari dari Anda,” katanya tenang.
Gila! Pikirku. Mau mati saja masih santai kayak gitu. Apa dia belum tahu reputasiku selama ini?
“Anda pasti pembunuh yang sangat profesional. Saya yakin akan segera mati jika Anda sekali saja menyentuh saya. Ngomong-ngomong dengan apa saya akan Anda bunuh? Anda belum pernah gagal dalam membunuh, bukan? Jangan takut, saya tak akan mengecewakan Anda. Tapi sebelum saya mati di tangan Anda, saya ingin meditasi dulu. Semacam persiapan kalau kematianku sudah tiba. Tadi banyak tamu yang datang ke rumah saya ini hingga meditasi baru bisa saya lakukan sekarang.”
Menyebalkan! Mau mati saja masih memikirkan meditasi. Kenapa ia tidak berpikir bagaimana caranya meloloskan diri dari tanganku?
Tapi memang, malam ini aku merasa aneh. Perasaanku tidak tenang seperti biasanya. Aku kurang enjoy untuk beraksi. Bahkan gugup menghadapi orang yang begitu tenang menjelang ajalnya ini.
Aku duduk di kursi yang ada di belakang tempat dia meditasi. Aku harus sabar menunggunya. Bukankah aku cukup baik membiarkan calon korbanku melaksanakan keinginannya untuk yang terakhir kali sebelum pergi untuk selama-lamanya? Jarang aku berbaik hati seperti ini.
Tapi lama sekali ia meditasi. Ia tenang duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit. Entah sedang membaca apa. Dan aku pun tak sabar untuk menghabisinya karena waktu sudah hampir menunjukkan jam tiga pagi.
Aku mendekatinya, merogoh belati dari dalam jaket kulitku. Pelan-pelan aku dekati dia. Aku begitu hati-hati mendekatinya hingga langkah kakiku nyaris tak menimbulkan suara. Ia sama sekali tak menghiraukan kalau aku sudah berada di belakangnya. Tinggal pegang lehernya dan aku tancapkan pisau belati ini ke dadanya. Beres sudah. Aku tak pernah gagal dalam membunuh.
Namun tiba-tiba, seperti ada yang mencegah tanganku untuk memegang lehernya dan menancapkan belati di dadanya. Nafasku tiba-tiba sesak. Aku jatuh tersungkur di lantai. Aku berusaha bangkit untuk membunuhnya. Tapi aku tak pernah bisa bangkit lagi. Aku pun mati sebelum berhasil membunuh orang itu. Untuk pertama kali inilah aku gagal menyelesaikan tugasku, pembunuhan ke-seratus satu.

***

Dua hari setelah kegagaln itu, sebuah berita di koran menyebutkan ada seorang laki-laki yang frustrasi karena terhimpit masalah ekonomi hendak mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di sebuah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya untuk liburan ke Paris. Namun sebelum berhasil membunuh dirinya sendiri dengan belati yang digenggamnya, ia keburu mati. Tak ditemukan bekas penganiayaan di tubuh lelaki itu. Tak ada sesuatu yang menjelaskan identitas lelaki itu. Di saku jaketnya hanya ditemukan sebuah amplop berisi potongan-potongan kertas yang ditata menyerupai uang. Diduga kuat laki-laki itu juga mengalami sakit jiwa, mungkin karena saking lamanya terhimpit kemiskinan.
Berita itu ada di pojok kanan bawah koran dengan gambar seorang lelaki yang diburamkan wajahnya, mengenakan jaket kulit sedang terkapar di lantai dengan tangan memegang belati. Sayang, tak ada yang begitu antusias membaca berita yang berjudul “Gagal Bunuh Diri, Tetap Mati” itu.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #Tamat

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 23

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Kemisteriusan almarhum Tigor dalam integrasinya bersama kelompok tani, terulang kembali oleh Ucok. Sudah 2 buah laporan lapangan Ucok tidak diserahkan ke sekretariat. Ucok semakin misterius.  Dan, semakin sering warga FDP kehilangan jejak, di mana Ucok berada ketika diperiksa di lapangan tidak ada, di sekretariat juga tak nongol, padahal dia punya tanggung jawab besar membimbing para  pemagang. DR Pardomuan tampak susah menerima laporan Armand.

“Dari Pak Regar aku dengar dia sudah bersama calo TKW menghabiskan malam di Pub Trienjel bersama para gadis dan minuman keras. Memang semakin marak kasus-kasus penculikan anak gadis orang dari desa-desa. Sudah ramai desa oleh para calo  berkeliaran.” Armand tambahkan keterangannya. DR Pardomuan hanya menatap jauh, sangat berat memikul beban. Karena laporan yang sama sudah diterimanya juga dari Maemunah dan Inggrid. Walaupun belum diangkat menjadi staff, tapi mereka berdua sangat konsisten menjaga citra FDP di tengah masyarakat.

“Yah…mungkin minggu depan kita sidang si Ucok. Kalau saja dia menerima cinta si Dewi, bisa semakin tertib hidup si Ucok itu.” DR Pardomuan kembali ke ruang kerjanya.

 ***

Sampailah saatnya penampilan teater perkawinan palsu dimulai. “Oleskan minyak gosok ini ke sekitar matamu,” kata Susanti. “Untuk apa?” Muslimin bingung.

“Supaya nampak baru siap nangis, Tolol!!” kata Susanti pula. “Pakai baju yang agak kusut agar terkesan kau sedang sangat susah menghadapi ini. Jam 8 malam diperkirakan ayah ibu baru siap makan malam bersama. Di situlah kita datang.”

Muslimin tak bisa menyembunyikan ketegangannya. Jantungnya yang berpacu kuat tak bisa dinetralisir. Dikeluarkanya motor dari garasi kostnya.

“Tenang kau menghadapinya. Masya.…debar jantungmu bisa kurasakan di goncengan ini. Tapi, aku yakin debar jantungmu pasti lebih kuat lagi kalau aku tak mau kawin sama kau, Jelekku oh Muslimin, hua..ha…ha..”

Susanti masih bisa iseng sambil mencubit perut si Muslimin di atas motor yang gemetar jalannya dibawa Muslimin.  Ayah, ibu…malam ini kami datang uh…uh…uh.. Susanti lap air mata buayanya. Muslimin tunduk gemetaran.

“Ada apa…?” Mata ibu terbelalak. Ayah juga tampak bingung melihat anak gadisnya yang selama ini keras kepala datang malam ini dalam kondisi yang sangat lemah.

“Aku yang salah Bu…” kata Susanti sambil peluk ibunya. “Aku sering lari malam dari kamar Yuni uh…uh… ke rumah Muslimin. Dan…, mendesak Muslimin melakukan zinah Bu..uh..uh..uh..” Susanti mahir sekali memainkan peran.

“HEH! Kurang ajar kau, kau rusak Muslimin, KURANG AJAR!!!” maki Ayah penuh berang.

“Maaf kan aku ayah Uh…uh…uh..” Muslimin tak berani mengangkat kepala. Hening beberapa saat, Susanti kembali tunduk duduk di tempat duduknya semula.

“Jadi, bagaimana rencana kalian?” akhirnya Ibu hapus air matanya.

“Saya harus masuk agama islam. Minggu depan kita makan bersama di desa rumah orang tua Muslimin, sekaligus akad nikah.” Susanti masih heboh menghilangkan sisa-sisa kepedihan hatinya. “Maafkan kami Ayah” Muslimin peluk tubuh mertuanya, lantas mertuanya pun memeluk kuat tubuh menantunya. Mereka saling peluk dan berurai air mata mirip di film-film India.

Baru saja keluar dari gerbang rumah.

“Hua…ha…ha….berhasil!” teriak Susanti merayakan kemenangannya, tak perduli orang-orang di jalan raya.

“Pukimak kau! Kau memang hebat!” Muslimin ikut gembira. Motor sudah berjalan normal atas kendali Muslimin yang beban beratnya  sudah terangkat dari jiwa. Minggu depan akan ada sandiwara lanjutan di rumah Muslimin. Sandiwara yang tidak seberat sandiwara malam ini.

TAMAT

Kisah Sebelumnya: Bagian 22

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Masih

Puisi Anwari WMK

Setelah berucap
Selamat tinggal
Engkau balik badan
Hatimu berkata:
Telah terlesapkan
Segenap kenang

Di tikungan jalan
Engkau hilang
Jiwamu berguman:
Telah tercampakkan
Segenap beban

Tapi di hatiku
Engkau masih ada
Tak pernah kemana-mana
Takkan kemana-mana

Dan kini,
Sajak-sajak adalah saksi
Bahwa akulah
Pencinta sejati

Bersenandung sepi
Aku lantas pulang
Ke rumah puisi
Sambil terus mengenang
Wajahmu
Meski kian kaku
Sebeku batu

(2012)

Kajian Kearifan Lokal: “Kembang Galengan”

Gerundelan David Ardyanta

foto David Ardyanta
#Syair lagu Kembang Galengan
(Cipt: B.S. Noerdian)

Kembang galengan
Meletik sing nggawa aran
Tanpa rupa tanpa ganda
Mekare mung sak sorenan

Kembang galengan
Kaudanan kepanasan
Kaidek eman-eman
Dipetik sapa oyan

Kaidek eman-eman
Dipetik sapa oyan
Dipetik sapa hang oyan
Dipetik sapa hang oyan

Taping temena nyawang langit
Ngelirik unyike godong
Weruh obahe wit-witan
Kepingin milu angin nggoleki sangkan paran

Kembang galengan
Iming-imingana emas berlian
Aluk mituhu nunggu kedokan
Meluk nggandoli lemah prujukan

#Terjemahan bebasnya:

Bunga penghias pematang
Terlempar tanpa nama
Tanpa pesona tanpa aroma
Hanya mekar untuk satu sore

Bunga penghias pematang
Kehujanan kepanasan
Terinjak sayang
Dipetik, siapa yang mau?

Terinjak sayang
Dipetik, siapa yang mau?
Dipetik, siapa yang mau menerimanya?
Dipetik, siapa yang maumenerimanya!

Tetapi, lihatlah langit dengan seksama
Melirik pupus-pupus daun
Terlihat gemulai gerak pepohonan
Ingin mengikuti arah angin mencari asal usul

Bunga penghias pematang
Bujuk rayulah ia dengan emas permata
Akan lebih baik menunggu petak-petak sawah
Memeluk dan memperjuangkan tanah dimana ia telah dibesarkan

Rangkaian kata-kata sederhana namun menurut saya memiliki kedalaman filosofi dan pemikiran dari penciptanya B.S Noerdian yang berasal dari kota Gandrung, Banyuwangi Jawa Timur. Syair lagu ini menggunakan bahasa Osing dari suku Osing yang tersebar di beberapa daerah di lereng Gunung Ijen.

Lirik lagu Kembang Galengan ini seakan mengisyaratkan tentang seseorang yang dengan sederhana dalam menyikapi hidup ini. Kembang galengan. Meletik sing nggawa aran. Tanpa rupa tanpa ganda. Mekare mung sak sorenan. Seseorang yang sederhana ibarat hanya sekuntum bunga penghias pematang, yang tak pelu mengunggulkan nama dan pribadi sebagai sebuah pencintraan. Penampilan yang sederhana, ibarat bunga pun ia tak beraroma dan ia sangar sadar benar bahwa hidup ini demikian pendek dan terbatas, seperti bunga yang hanya mekar untuk satu sore lalu layu dan mati.

Bungan penghias pematang yang demikian sederhana telah melakoni kehidupan yang penuh suka duka ini, sayang jika harus diinjak-injak dan hanya disia-siakan saja, namun jika dipetik pun siapakah gerangan yang mau menerima sesuatu yang begitu sederhana ini? Sesuatu yang mungkin dianggap tak ada harganya! Apa yang ia inginkan hanyalah untuk menjadi sesuatu, sebuah warna yang telah memperkaya warna-warna yang ada di kehidupan ini, apapun warna itu.

“Taping temena nyawang langit. Ngelirik unyike godong. Weruh obahe wit-witan. Kepingin milu angin nggoleki sangkan paran.” Sebuah unsur keyakinan dan religi yang demikian kokoh tersirat dalam syair ini. Ia yang sederhana dengan segala kesederhanaannya, hati, jiwa dan pikirannya selalu bermunajat dan berbhakti pada Tuhan Pencipta Semesta, mengagumi dan menyelaraskan diri dengan segala ciptaanNya serta mencoba mengerti/membaca segala firman-firmanNya yang tak tertulis namun tersirat dalam setiap materi ciptaanNYa. Selaras dengan konsep manusia Jawa tentang “Sangkan Paraning Dumadi”, sebuah konsep tentang asal usul, jati diri dan kemana kembalinya manusia pada akhirnya. Demikianlah juga mereka, sangat religius!

Ungkapan rasa Nasionalisme kebangsaan, kecintaan mereka pada tanah air, tanah kelahiran mereka, juga tersirat tegas dalam lirik terakhir dari syair lagu ini. “Kembang galengan. Iming-imingana emas berlian. Aluk mituhu nunggu kedokan. Meluk nggandoli lemah prujukan.” Sekali lagi meski dengan kesederhaannya, bujuk rayu dengan emas permata atau apapun juga, tak akan dapat menggoyahkan untuk tetap berpijak, memeluk dan memperjuangkan tanah kelahirannya, tanah yang telah menumbuhkan dan membesarkannya. Betapa nasionalis!

Semoga ada petikan makna yang bermanfaat yang dapat diambil dari syair lagu dan tulisan sederhana ini.

“kembang galengan, hang meletik sing nggawa aran, tanpa rupa tanpa ganda, mekare mung sak sorenan!”

Bulan, Air, dan Teratai dalam Penciptaan Borobudur

Kabar Budaya – RetakanKata.
Bulan itu berarti Pikiran, Air itu berarti ketenangan, Mekarnya Teratai berarti lambang kehidupan.

Candi Borobudur dibangun oleh tiga hal tersebut : Bulan, Danau dan Teratai. Arsitek borobudur adalah Gunadharma, membangun Borobudur sebagai bangunan terindah pada masanya, dulu Borobudur dibangun di tengah danau, danau itu adalah danau purba, danau yang melingkari dataran Kedu.

Suatu saat Gunadharma didatangi sang Guru yang bernama Arimpala, ia ahli arsitek India. Disana Gunadharma arsitek muda Jawa itu belajar tentang susunan batu-batu. Gunadharma berpikir bahwa alam akan menyatukan pikiran dalam bangunan.

Di Usia 42 tahun, Gunadharma diangkat menjadi kepala urusan tata kota kerajaan Syailendra yang saat itu baru saja memenangkan pertempuran dengan kerajaan Mataram Kuno dan membangun kota baru di sekitar bukit Menoreh. Gunadharma diperintahkan untuk membangun candi yang akan dijadikan pusat-nya dunia.

Kerajaan Syailendra pada masanya memegang hak kuasa jalur perdagangan di seluruh pesisir Jawa dan Sumatera. Juga merupakan kerajaan terkaya di wilayah Selatan Dunia. Kerajaan Syailendra bahkan memiliki perwakilan dagang sampai ke Yunani.

Adalah sebuah mangkok putih yang bernama Cempalatupa yang dijadikan inspirasi atas bentuk lereng dan stupa candi borobudur. Suatu saat Gunadharma duduk diam di beranda rumahnya, ia melihat mangkok cempalatupa berwarna putih itu, dari situ ia berpikir tentang bulan.

“Rembulan adalah pikiran yang tercerahkan” gumam Gunadharma saat melihat bentuk Cempalatupa. Dari cempalatupa kemudian digambarlah bentuk stupa yang kita kenal sekarang ini. Candi Borobudur adalah gambaran dari mekarnya bunga teratai. Dulu diatas bukit menoreh ada Istana Raja, namanya Bharashmabya, itu tempat tetirah para Pangeran Syailendra sebelum menyucikan diri masuk ke Borobudur.

Dari atas Bharashambya bisa dilihat Borobudur yang seperti bunga teratai sedang mekar. Setiap Bulan Purnama bulat sempurna diadakan pendidikan meditasi dengan diikuti lebih dari 10.000 para bhiksu, para bhiksu ini dididik dalam ratusan ashram yang mengelilingi Borobudur, salah satu Biksu ini terkenal dengan nama Dharmakirti, yang merupakan guru dari Atisha, dan Atisha adalah seorang paling suci dalam tradisi Buddha Tibet di India.

Pembangunan Borobudur melibatkan ribuan ahli ukir dan ahli teknik sipil baik dari India ataupun dari Asia Kecil, mereka berdatangan ke Jawa dan berkonsolidasi membangun bangunan suci bagi umat Buddha, juga umat manusia umumnya. Konstelasi arsitektur Borobudur amat seimbang, perpaduan antara posisi bulan, posisi cahaya matahari pagi dan cahaya matahari sore serta posisi bintang-bintang. Borobudur adalah keseimbangan. Dan keseimbangan adalah langkah pertama dalam memahami kemanusiaan.

Sumber: Status FB Gusblero Free

Lukisan Terakhir

Puisi Lila Prabandari

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

sudah kulukiskan,

pondok kecil berdinding kayu bangkirai

di tepi danau tenang yang beriak kecil airnya

ada dermaga panjang dan tempat makan di ujungnya

merapat sampan hangat di tepinya

dan kebun bunga di halaman depannya

oh tentu…

ada tempat workshop keramik mungil di sampingnya

kukuaskan warna-warna pelangi segar

dan kusapukan suasana nyaman

karena aku tahu

di situlah kau akan meninggalkanku…

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #22

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 22

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Susanti justeru mau keluar dari FDP. “Kenapa kau keluar?” Muslimin marah. “Kau jangan langsung marah. Biasanya, dalam sebuah lembaga seperti FDP tidak boleh suami istri bekerja dalam tempat yang sama.” Susanti kasih pengertian. “Apa kita sudah suami istri?” suara Muslimin meninggi. “Kita kan masih lama kawin.” Masih belum diterima Muslimin alasan Susanti mengundurkan diri dari FDP. “Aku sudah diterima magang di BNT (Bank Negeri Trieste) selama 3 bulan di bagian perkreditan. Setelah itu diangkat menjadi staf. Gaji sebagai staf di FDP tidak begitu tinggi, walaupun kita berdua bekerja. Anak kita nantinya harus hidup agak nyaman, tidak tersendat-sendat dalam soal biaya masa perkembangannya. Itu makanya aku lebih baik kerja di BNT. Ini demi masa depan kita.”

Mengendur kemarahan Muslimin. “Besok aku akan sampaikan ke DR Pardomuan.” Kemudian tempat makan bakso di simpang Deigo mereka tinggalkan. “Mus,.. sebenarnya ada soal lain yang lebih prinsip ingin kusampaikan padamu. Tapi, aku takut kau marah.” Susanti masih melanjutkan pembicaraan di atas motor. “Apa itu?” Muslimin penasaran. “Besoklah kita bicarakan sepulang dari FDP. Ini memang rencana gila tapi kupikir cukup efektif,” jawab Susanti.

Pada manusia pertama Adam dan Hawa rencana Tuhan yang maha mulia dirusak iblis melalui buah terlarang dan ular. Adam dan Hawa digoda oleh buah terlarang dan ular sehingga dunia ini berantakan sampai saat sekarang ini. Rencana Tuhan tidak dapat terwujud, karena iblis sudah merajalela menguasai manusia.

Nah, sekarang rencana Tuhan sedang dirusak iblis melalui struktur organisasi yang mapan permanen. Negara, departemen pendidikan, departemen keuangan, partai politik, bahkan organisasi agama adalah organisasi-organisasi yang sudah sangat mapan dan permanen. Itu semua dipakai iblis merusak rencana Tuhan. Makanya tak perlu heran kalau orang ke gereja maupun ke masjid tidak lagi dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Justru, orang tersebut akan dipakai iblis merusak rencana Tuhan. Kita lihat sendiri, di masjid  dan gereja penuh dengan korupsi, kemunafikan, penyelewengan sexual, dan lain lain.

Penghantar diskusi yang disampaikan DR Tumpak Parningotan beberapa waktu yang lalu masih terngiang-ngiang di hati sanubari warga FDP. Itu makanya tak ada ketaatan hidup beragama di kalangan staf FDP. Dan, itu bukanlah dianggap suatu kesalahan. DR Pardomuan pun tak pernah sembayang ke masjid.

 

Demikian juga hubungan kisah cinta antar Susanti dan Muslimin yang berlainan agama. Mereka berdua sebenarnya tidak terganggu dengan perbedaan agama tersebut, tapi tentunya akan menjadi sorotan masyarakat umum. Oleh sebab itu, beberapa kali ayah Susanti ingin memutuskan hubungan mereka, tapi tidak juga berhasil.

“Begini usul gilaku, Mus. Minggu depan kembali aku pamit tidur lagi di rumah Yuni. Setelah seminggu kita menghadapi orang tuaku. Kita katakan bahwa kita terlanjur berkawan sehingga apa yang tidak layak dilakukan oleh pasangan yang masih pacaran sudah kita lakukan. Seolah aku sudah hamil dan datang menghadap orang tuaku minta maaf.” Susanti sampaikan pikirannya dengan sangat hati-hati.

“Rencana GILA! Apa kau kepingin melihat aku dipukuli orang tuamu? Sudah GILA KAU!” Muslimin panik atas usulan itu. Justru Susanti jadi marah melihat ekspresi Muslimin yang uring-uringan.

“Kau ini yang GILA. Kau pikir apa kita bisa kawin normal seperti penganten pada umumnya? Dipestakan lantas seluruh sanak saudara dan kawan-kawan hadir, salam-salaman, berfoto dan lain sebagainya. Apa mungkin?!” Susanti marah. “Belum lagi kita perhitungan biayanya yang sangat besar. Sebenarnya bisa untuk cicil rumah. PAKAI OTAKMU!” Susanti yang semula sangat hati-hati menyampaikan usulnya, ternyata lepas kontrol. Tak bisa ditahannya emosi menghadapi respon si Muslimin yang gamang itu.

“Okelah kalau begitu. Pokoknya aku patuh sama aturan main yang kau gariskan,” Muslimin duduk bersandar lemas kehilangan gairah hidup. Di sekretariat FDP semua orang sudah pulang, disinilah pikiran gila itu dibahas oleh dua insan sambil memadu kasih.

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 21

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Kucing

Flash Fiction Maria Ita

gambar diunduh dari informazioniunique.blogspot.com

Bu Marno dibuat geregetan setahun belakangan. Kamar sebelah dihuni oleh seorang gadis jomblo penyuka kucing berusia dua puluh sembilan tahun. Bu Marno dan si Gadis sama-sama menghuni rumah dinas yayasan tempat mereka bekerja. Yang bikin pusing tentu saja semua kelakuan si Gadis dan kucing-kucingnya. Suara mereka yang sangat ribut beradu dengan suara televisi yang menggelegar. Kucingnya bukan hanya satu tapi tiga ekor. Mulai dari yang badannya paling kurus berkaki panjang dan berdada montok bernama Meme, lalu yang paling kecil berbulu putih paling merasa cantik bernama Tutik dan yang paling gemuk berbulu paling panjang, paling manja, bernama Titin.
Ajaib! Ketiga kucing itu bisa bicara. Setiap hari mereka bermalas-malasan di lantai sambil ngoceh tak karuan dan menonton film Korea. Topik ocehannya macam-macam. Ada yang ngomongin kucing-kucing jantan imajiner, lalu gosip-gosip selebriti di televisi, dan yang tak pernah absen adalah ngomongin makanan. Sore harinya mereka berkebun dengan berkostum tanktop-hotpant sambil tetap ngeang-ngeong tidak jelas.
Kucing-kucing itu sangat mendewakan si Gadis sebagai sosok mamak yang perhatian, konsultan cinta yang jitu, orang penting karena dekat dengan para pembesar yayasan dan sering tercatat sebagai bendahara dalam setiap kepanitiaan. Titin, kucing termuda, paling terlihat mengagungkan si Gadis. Bu Marno semakin muak melihat gaya si Gadis yang tertawa-tawa bangga mendengar celotehan para kucing.
Dinding rumah bu Marno yang terbuat dari batu bata pilihan sepertinya tak mampu menjadi tameng bagi lengkingan-lengkingan mereka. Suaranya seperti menembus dinding lalu menusuk-nusuk gendang telinga bu Marno. Bu Marno selalu mengurung diri di kamar atau minggat dari rumah jika lengkingan tak juga berhenti, menyumpal telinganya dengan headset atau menaikkan volume speaker laptopnya. Suatu kali bu Marno pernah membanting pintu kamar. Tapi malang, bantingan pintu itu hanya disambut dengan tawa cemoohan dan sindiran-sindiran. Tak ada yang mempedulikan keberadaan bu Marno, sedikitpun.

Lahat, 15 Oktober 2012
*)Maria Ita, penulis kumpulan puisi Ibukota Serigala

Erina ke Jakarta

Cerpen Bhima Yudistira
Editor Ragil Koentjorodjati

City_Rain_by_jesidangerously

Senja di desa Wae Sano memang menyilaukan mata, dengan keindahan latar belakang bukit-bukit kapur yang terbentang sepanjang danau belerang, di tepi barat pulau Flores. Seorang gadis, bernama Erina sudah ditakdirkan lahir di alam yang mengagumkan ini. Segalanya akan dimulai dari tanah leluhur ini, tanah penuh harapan sekaligus kebencian, tanah masa lalu sekaligus menyimpan mimpi seorang Erina, gadis Wae Sano, begitu orang biasa memanggilnya. Ia asli Flores, lahir dan dibesarkan di kampung Wae Sano, dengan kondisi yang hampir tidak terjamah manusia kota. Dengan debit air diambang batas kritis, penduduk desa hidup dalam keterbatasan yang mungkin menyebabkan separuh dari penduduk desa meninggalkan kampungnya dalam seperempat abad terakhir ini.  Mereka yang mampu bertahan tinggal orang-orang tua dengan kaki kapalan karena harus menempuh jarak berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan satu jerigen air bersih. Jangankan berbicara kehidupan layak, listrik pun belum dikenal di desa ini.

Anak-anak yang berangkat ke sekolah tidak membawa buku tulis dan  pensil atau jenis lainnya dari keperluan normal sekolah, mereka membawa jerigen air, bayangkan kawan, jerigen air bukan lainnya. Mereka dengan semangat mendaki bukit-bukit terjal di sisi kampung, masuk ke pedalaman hutan di Lenda hingga ke tepi danau berbau asam, berlarian membawa jerigen kosong yang akan penuh terisi ketika mereka pulang sekolah. Kehidupan manusia-manusia di Wae Sano tidaklah seindah dongeng-dongeng pahlawan atau lagu-lagu yang sering dinyanyikan orang tua saat meninabobokan anak mereka. Kehidupan di Wae Sano sangat keras, dan menyakitkan.

Bukit-bukit terjal di sekeliling Wae Sano menjadi saksi kerasnya kehidupan masyarakat desa. Danau yang elok jika dilihat oleh para wisatawan tidak dapat mendatangkan kemakmuran apapun, bahkan menjadi malapetaka di setiap awal musim hujan. Debit air danau belerang yang tajam baunya perlahan bertambah, seiring dengan racun-racun berwarna kuning kehitaman yang meluap-luap di pesisir danau. “Jangan sekali-kali Kae dekati danau itu! Sebuah laknat akan menimpa setiap orang. Ya benar, danau itu keramat,” ujar Tua Golo. Keramat karena telah menelan puluhan nyawa yang mencoba untuk berenang, atau menyebrangi danau penuh lumpur kuning beracun. “Danau sial!” begitu sebut Tua Golo (adat) ketika berkeliling sekitar danau sebagai tradisi menolak segala celaka yang bisa timbul di tahun-tahun penuh hujan.

Pernah Erina seorang diri berendam di pemandian air panas di balik danau, tiba-tiba warna air berubah menjadi abu-abu penuh lumpur. Erina berteriak, untung Papa Petrus dengan sigap berlari dari rumahnya untuk menyelamatkan Erina yang mulai merasakan mati rasa di kakinya. Danau itu mengalirkan racun yang teramat berbahaya, bahkan pemburu hutan menggunakan lumpur danau untuk menjebak babi hutan, yang tewas seketika memakan daun-daunan bercampur air danau.

Erina memang bukan sembarang gadis, ia tergolong anak cerdas, di tengah penduduk desa yang kurang gizi dan air bersih, soal hitung-menghitung Erina paling pandai. Ia anak tunggal dari Papa Pedo, seorang tukang batu yang menjual keringatnya kepada pemerintah kabupaten. Batu-batu dikumpulkan mulai matahari belum terbit, hingga malam dengan penerangan lampu minyak seadanya, Ayah Erina menggali dan memukul batu kemudian menjualnya untuk perbaikan jalan antar kabupaten di Labuan Bajo. Hasil kerja kerasnya digunakan untuk membeli beras dan kecap di pasar tiap sabtu, itu pun masih berhutang sana-sini. “Yang penting kamu sekolah yang tinggi Nak, capai cita-citamu. Itu pesan bapak, jadilah perempuan seperti Kartini yang pernah Bapak baca waktu seumur kamu dulu, sayang bapak sudah tidak bisa membaca lagi,” pesan Ayah Erina. Ia peluk anaknya dengan kehangatan seorang bapak tukang batu.

Perjalanan kehidupan membuat Ayah Erina sadar, bahwa profesi tukang batu akan segera tergantikan oleh mesin-mesin pemecah batu pesanan kabupaten. Ia bergumam, “Tenaga tua ini segera akan punah, ya Tuhan, harus kerja apa lagi untuk hidup, mengapa hidup begitu penat dan berat seperti ini?” Terkadang Erina mengintip ke dalam kamar ayahnya ketika melihat ayahnya menangis, meratapi tembok-tembok rumahnya yang hampir rubuh. Erina terlahir dari keluarga serba kurang, namun semangatnya tinggi, ia rela menghabiskan waktu tanpa bermain hampir 10 tahun dari waktu hidupnya.

Pulang dari sekolah, Erina mengambil alat pemukul kemiri, lalu membuka karung goni berisi kemiri milik pamannya. Erina diupah per kilogram lima ratus rupiah, tidak pernah naik mulai dari dulu ia pertama kali mencoba membantu pamannya menjadi kuli pecah kemiri. Ibu Erina sudah lama meninggal akibat wabah disentri yang tidak jelas kapan datang dan hilangnya. Ketika bercerita soal ibu Erina, Papa Pedo hanya mengumpat danau belerang yang terkutuk itu, menuduh danau itu penyebab malapetaka hilangnya nyawa Ibu Erina. Walaupun dokter keliling sudah menjelaskan kepada penduduk, bahwa disentri bukan disebabkan karena belerang, tetap saja Ayah Erina tidak percaya, bahkan sekali waktu dokter keliling yang ditugaskan langsung dari Dinas Kesehatan Kabupaten dibentaknya dengan sumpah serapah karena menurutnya dokter itu menyebarkan kebohongan tentang disentri.

Danau yang tidak pernah menghasilkan ikan apapun itu selalu dikutuk oleh penduduk ketika salah seorang diantara mereka meninggal, sakit jantung, ginjal, bahkan tertabrak truk, tetap saja danau itu yang disumpah telah membawa kematian. “Oh. Betapa bodohnya penduduk desa ini, semoga Tuhan memberi kesempatan belajar untuk anak-anak yang tertular penyakit bodoh orang-orang tua itu. Ya Tuhan selamatkanlah anak-anak, aku tidak peduli dengan manusia-manusia kolot sok pintar di desa ini!” Hanya itu yang bisa Pastur Maksimus gumamkan ketika ia mendapati berbagai macam tingkah aneh penduduk ketika meratapi kematian saudara atau teman dekatnya.

Sebulan sudah sejak Ayah Erina tidak mendapatkan pesanan memecah batu untuk perbaikan jalan karena dana kabupaten untuk membeli batu guna memperbaiki jalan dihentikan, anggarannya digunakan untuk membeli mesin pemecah batu yang baru. Waktu mendengar kabar datangnya rencana pembelian mesin itu, ayah Erina segera meloncat dari tempat tidurnya jam dua malam, berlarian seperti orang kesetanan, menyumpah di tepi danau, “Mati kau Danau sial! Terkutuk!”

Ya, gejala orang frustasi, mungkin ia terkena sakit gila pikir penduduk yang terganggu tidurnya akibat teriakan-teriakan ayah Erina. Di jalan ia berteriak-teriak, “Habis sudah kae, habis sudah!” Penduduk mungkin sudah terbiasa mendengar orang tiba-tiba berteriak sambil berlarian di jalan-jalan kampung, kalau bukan ada festival desa, kemungkinan kedua, ada orang gila.

Tua Golo malam itu berkumpul di rumah Pastur Eman, sambil membawa oleh-oleh buah-buahan yang biasa diberikan kepada Pastur sebelum memulai jamuan rohani di minggu pagi. Tua Golo bercerita tentang peristiwa tadi siang yang menimpa Papa Pedo. Ia dengan miris bercerita tentang malangnya kehidupan ayah satu anak itu setelah pemerintah kabupaten tidak membutuhkan tenaganya lagi. “Dua puluh lima tahun sudah ia bekerja menjadi tukang batu, bayangkan Bapa, 25 tahun! Dan sekarang pekerjaan satu-satunya hilang sudah! Nasib benar Kae Pedo!” seru Tua Golo yang bersemangat bercerita tentang malapetaka hari ini. “Lalu, apa kita masih mengumpat pada danau yang membawa celaka itu?” kata Pastur sambil tertawa. “Tentu itu bukan maksud saya Bapa, tapi mungkin danau itu malapetaka juga, lain waktu aku akan menyumpahi danau itu! Sekarang kita harus menolong Kae Pedo mendapatkan pekerjaan. Menurut Bapa bagaimana?” Pastur terdiam sebentar berhenti tertawa sambil melihat mata bulat Tua Golo yang berapi-api memikirkan satu penduduk kampungnya yang baru saja menjadi pengangguran. “Itu yang saya tunggu Tua Golo, kebetulan saya punya kawan di Jakarta, ia kerja jadi tukang bangunan, mungkin Kae Pedo bisa bantu-bantu sedikit.” Secercah harapan muncul di mata Tua Golo, “Baiklah besok saya sampaikan, tolong Bapa bantu atur ya, saya tidak mau penyakit gilanya Kae Pedo menular ke penduduk lain, bencana! Bencana benar itu Bapa! Kasihan juga Erina harus menanggung beban berat, ia sudah banyak berkorban Bapa!”

Setelah berusaha menghibur ayah Erina, Tua Golo memberikan informasi pekerjaan dengan penghidupan yang lebih baik di kota Jakarta. Banyak pemuda yang bekerja di Jakarta setelah lulus sekolah menengah di desa ini, lalu bertaruh nasib menjadi tukang bangunan atau juru parkir di Jakarta. “Ah.. aku memang belum tau Jakarta, tapi aku yakin d isana lebih baik, dan di sana juga tidak ada danau pembawa sial seperti di sini, Semoga kau mendapatkan kerja di sana, aku sudah atur dengan Bapa, apa yang bisa kami bantu, mungkin uang seperlunya dan bekal makanan hingga kau tiba di Jakarta.” Kemudian ayah Erina menatap Tua Golo sambil matanya berkaca-kaca, “Kau memang pemimpin desa, kau bahkan tidak pernah berutang budi padaku, aku yang akan mengingat kebaikanmu dan desa ini, aku berjanji Kae!” Sambil meminum kopi, kemudian ayah Erina memanggil Erina, “Nak, kau sudah besar sekarang, sudah gadis pula, Bapak ingin cari kerja di Jakarta, kau teruslah sekolah, setiap bulan Bapak kirim uang untuk sekolahmu, jangan putus atau kau gunakan untuk membeli barang yang tidak perlu! Ingat! Sekolah! Itu yang utamanya, Mau kau jadi seperti Bapak?” Erina hanya terdiam. Ayah Erina menyadari bahwa keputusan untuk pergi ke Jakarta dan meninggalkan anak gadisnya di desa merupakan hal yang harus dilakukan.

Setahun berlalu..

Sudah tiga bulan Erina tidak mendapatkan kabar dari ayahnya, di mana ia sekarang atau bagaimana kesehatannya. Kiriman uang pun berhenti, Erina hanya membantu menjadi penjaga toko kelontong milik Tua Golo di sudut pasar Lenda. Ia bertanya pada setiap orang yang baru kembali dari Jakarta di terminal pasar Lenda, “Ada yang tau bapak? Pedo namanya, tinggi dan berkumis, dengan tanda bekas luka di dahinya, pernahkah Kae melihat?” sambil ditunjukkan foto ayahnya. Tak satu pun yang tahu keberadaan ayahnya. Selama ini ayahnya hanya menelpon untuk mengetahui kabar Erina dan menanyakan apakah uang kirimannya telah sampai ke tangan Erina, tanpa menyebutkan alamat tempat dia kini tinggal di Jakarta.

Didesak oleh situasi yang membuat hatinya cemas, akhirnya Erina mengambil sisa uang di amplop wesel berwarna biru kiriman terakhir ayahnya sebelum kabar ayahnya tidak terdengar lagi. Dibuka amplop itu dan terdapat selembar kertas, mungkin berisi alamat rumah pikir Erina, ternyata ia tersentak, itu semacam surat pesan yang biasa ditulis oleh orang yang sangat dekat dengan kematian.

Ananda Erina,

Surat ini bukan untuk dijawab, simpanlah baik-baik, dan jagalah. Berikan kepada anakmu kelak…

Apa menurutmu kebahagiaan yang paling ingin Bapak rasakan? Bapak ingin sekali lagi melihat kau dipangku oleh ibumu dalam dekapan yang penuh hangat. Kini aku hanya seongok manusia yang tidak pantas kau panggil Bapak. Aku sudah gagal, gagal di dalam kehidupan ini, uang yang kukirimkan ini, mungkin uang Bapak yang terakhir. Simpanlah baik-baik. Ingat pesan Bapak yang selalu terucap, tapi jangan pernah kau bosan mendengarnya Nak, Bapak ingin kau sekolah setinggi-tingginya, jadilah manusia bebas, lakukan apa saja yang kau inginkan Nak dengan ilmumu, jadilah manusia-manusia yang punya harapan!

Hidup bukan untuk menangisi kesedihan, hidup untuk melawan, melawan nasib yang menidurkanmu Nak, nasib yang berkuasa atas hidupmu. Lawan Nak! Lawan! Kau harapan bapak yang terakhir!

 

Ttd.

Ayah seorang “putri penantang nasib!”

Setelah membacanya, Erina menangis terisak-isak, “Di mana bapak sekarang? Tegakah melihat aku sendiri di sini? Pulang Pak. Erina ingin bersama Bapak.”

Satu bulan telah berlalu sejak wesel terakhir dikirim ke Erina, berisi uang Rp.500.000,-. Teringat akan foto ayahnya yang ia letakkan di bawah bantal, sewaktu-waktu ia ingin menangis, ia lihat foto ayahnya untuk membangunkan semangat yang hampir runtuh. Gadis belia kini tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa, dan hidupnya hanya menunggu dipinang oleh pemuda desa, itu pun jika beruntung mendapatkan pemuda yang ingin menikahinya. Mungkin dijadikan istri ketiga sudah bersyukur.

Sejak saat itu Erina tidak percaya lagi akan adanya doa, ia tidak lagi pergi ke gereja seperti yang pernah ia lakukan dulu. Tuhan baginya tidak pernah ada, kalaupun ada, Tuhan hanyalah gambaran akan nestapa dan rasa sedihnya. “Tuhan tak mampu menjawab doaku. Aku Erina dan aku ingin menjadi manusia-manusia bebas seperti yang bapak bilang dulu,” gumam Erina di dalam hati.

Sudah setahun semenjak surat terakhir bapak, Erina sangat ingin pergi ke Jakarta, berusaha menemukan tempat tinggal terakhir ayahnya, di surat weselnya tercantum alamat pengirimnya yang mungkin saja mengarahkan Erina kepada ayahnya yang sangat ia rindukan. Berangkatlah Erina dengan uang secukupnya, dari Wae Sano ke Jakarta membutuhkan waktu 4 hari pelayaran dan bisa mencapai waktu 1 minggu jika pelabuhan sape di Bima terpaksa ditutup karena tingginya ombak membuat kapal membatalkan jadwal normalnya.

Erina akhirnya sampai di kota Jakarta, kota dengan bayangan-bayangan aneh, wanita-wanita malam di sepanjang stasiun Senen dengan rok mini menjajakan cinta semalam, dan pedagang-pedagang asongan di sekitar Pasar Senen membuat mata Erina berputar-putar mencari nama jalan yang sulit untuk diingatnya, jalan Kampung Rambutan no.3, Pasar Senen seperti yang tertulis di belakang wesel pos berwarna biru. Akhirnya Erina menemukan rumah dengan pintu cat hijau, dan pagar setinggi lutut. Setelah bertanya pada tetangga, ternyata rumah itu memang pernah dijadikan tempat tinggal tukang bangunan yang sedang mengerjakan proyek perumahan tak jauh dari situ. Kini dada Erina berdebar-debar, berharap ia masih bisa mencari alamat tinggal ayahnya, setidaknya jika ayahnya sudah tiada ia masih bisa menemukan tempat ayahnya dikubur. Senja semakin gelap, Erina terpaksa mencari tempat penginapan, sekalian makan, pikirnya. Ada sebuah rumah yang bertuliskan “menerima tamu” tak jauh dari stasiun Pasar Senen. Ia sendirian masuk ke dalam rumah itu, dengan uang seadanya ia memesan satu kamar dengan kipas angin. Hmm ini murah, Jakarta tidak seperti dugaanya dulu, semua begitu mahal, dan orang-orangnya brutal. Ternyata Jakarta sangat ramah dengan tempat penginapan yang murah, “apa mungkin aku sedang beruntung?”. Ia rebahan di atas kasur kemudian tertidur.

Esoknya ketika bangun ia meraba-raba tas yang seingatnya tadi malam di simpan di dalam lemari. Hilang semua. Hilang tak tersisa, beserta uang dan amplop wesel biru dan foto ayahnya. Ia bertanya kepada penjaga penginapan yang tidak tahu menahu masalah tas yang hilang di dalam kamar malah membentaknya dengan kasar. “Maaf Mbak, tapi itu salah lu sendiri ga hati-hati naroh tas di dalam lemari yang ga dikunci, barang hilang gue ga bisa tanggung jawab, lo urus sendiri! Sekarang lo mau bayar pake apa nih?” Dengan nada mengancam ibu penjaga malah menagih uang sewa kamar kepada Erina. Dengan bingung Erina tidak bisa melakukan apa-apa, lalu bu Retno menunjuk rumah di depannya sambil berkata “Udah, mending lo sekarang cari kerja di situ, bantu cuci-cuci piring, atau ngapain deh yang penting ntar lo balikin uang sewa ya! Sana kerja!”

Sebulan sudah semenjak Erina tiba di Jakarta, kini ia menyewa kamar di rumah bu Retno, dan sehari-hari penghasilannya hanya cukup untuk membayar uang sewa dan makan nasi sayur secukupnya bahkan terpaksa berhutang. Ia terjebak, tapi tak bisa apa-apa. “Sekarang aku bekerja mencuci piring, kukumpulkan uangku sedikit demi sedikit untuk mencari rumah ayah,” besar harapan Erina untuk bertemu kembali dengan ayahnya.

Di hari yang panas itu, Erina sedang mengerjakan mencuci piring seperti biasa, kini ia bertugas membersihkan kamar-kamar kosong di lantai dua gedung yang gelap penerangannya. Ketika membersihkan kamar di pojokan, tiba-tiba Erina tersentak hingga ia hampir terjatuh. Di dalam kamar itu ada sosok laki-laki yang dikenalinya, sedang berdua dengan wanita dalam kondisi yang tak layak. Segera ia memekik, “Ayah?” Pria yang sedang asyik berduaan dengan wanita tersebut kemudian berbalik badan dan setengah telanjang ia menarik selimutnya, “Siapa kau?”

“Aku Erina, kaukah Papa Pedo?” seru Erina secara spontan

Dengan keadaan yang aneh itu pria tadi menjawab, “Ah, Anakku,” sambil matanya berkaca-kaca seolah tidak percaya.

“Apa yang sedang Ayah lakukan?” tanya Erina

“Tidak anakku, mari kukenalkan dengan teman Ayah,” sapa hangat ayah Erina

Pertemuan singkat ini bukanlah momen yang diharapkan oleh Erina, aneh, tak terduga dan membuat pikirannya berputar-putar, lutut Erina langsung lemas, “Benarkah ia Ayah yang Erina kenal? Yang ia cari selama ini? Atau aku sedang bermimpi?” gumam Erina.

Sambil memakai baju, pria yang memang ayah Erina berkata, “Mendekatlah anakku, aku takut sekali menghadapi Jakarta. Aku ingin kita pulang ke kampung lagi, menyumpahi danau Wae Sano yang telah membawa laknat kepada tanah leluhur kita. Mari anakku, bukan tempatmu di sini,” sambil ia berusaha memeluk Erina.

Erina tidak menangis sedikitpun, ia masih belum percaya pria setengah telanjang yang beberapa menit yang lalu sedang tidur dengan wanita entah dari mana kini memanggilnya lembut “Mari pulang Anakku”. Pria yang dulu menjadi teladan hidupnya, kini begitu asing.

Di tengah-tengah hiruk pikuk Jakarta, Erina dan Ayahnya keluar dari kamar itu, sambil berpengangan tangan, dengan latar gedung tempat Erina bekerja sebulan ini, di kamar penuh tanda tanya itu tertulis “Panti Pijat Sinar Melati”.

Hina Mulia Tubuh Ini

Gerundelan John Kuan

1.

Dari sebuah situs Kebudayaan Hongshan Zaman Neolitikum di Provinsi Liaoning, Cina Timur Laut, digali keluar sebuah patung perempuan, sudah cacat kurang berbentuk, tubuhnya hanya tinggal sekitar 5 cm, namun bisa jelas kelihatan adalah seorang perempuan hamil. Patung ini dengan Ibu Bumi dari situs-situs Zaman Neolitikum Mesopotamia maupun Eropa termasuk satu kategori. Dengan tubuh perempuan sedang mengandung sebagai simbol permohonan kesuburan, reproduksi dan berkembang biak. Di Zaman Neolitikum, periode awal pertanian dan pembuatan tembikar, citra perempuan dengan perut dan pinggul besar, hampir merupakan awal mula sejarah seni rupa di berbagai tempat di dunia.

Seni rupa Mesopotamia, India dan Mesir, setelah melewati tahap Ibu Bumi, dengan cepat transformasi menjadi wujud lelaki penguasa, kira-kira bersamaan waktu dengan berdirinya kekaisaran. Konsep pemerintah dengan sistem klan, membentuk struktur masyarakat patriarkis. Penguasa, pemimpin adat, atau pemimpin suku berjenis kelamin lelaki semuanya pasti dilengkapi dengan sifat ‘ kedewaan ‘, dan patung-patung dalam bentuk firaun, raja, ataupun dewa juga terus-menerus didirikan.

Tidak seperti patung Ibu Bumi yang kebanyakan dibentuk dari tanah liat, berukuran kecil, sederhana dan lembut, patung-patung lelaki penguasa ‘ kedewaan ‘ umumnya dibentuk dari batu, sangat menekankan terbuat dari bahan yang keras dan tahan lama; berukuran sangat besar, sehingga patung menampakkan suatu sifat agung, tinggi tak tergapai. Terutama di Mesopotamia dan Mesir, patung-patung lelaki yang berukuran puluhan meter adalah sangat umum, sehingga membuat struktur sosial politik patriarkis memiliki lambang yang tak tergoyahkan.

Tetapi Cina agak berbeda, sebab jaman purba-nya tetap tidak ditemukan patung yang berukuran besar. Sebagian besar patung manusia dari jaman Pra-Qin, baik dibentuk dari batu giok, tanah liat, perunggu ataupun kayu menampakkan suatu kondisi eksistensi yang lemah dan rendah. Keberadaan manusia seperti tanah di bumi, tampak begitu lemah dan rendah; datang dari debu bumi, kembali bersama debu bumi.

Sekalipun kecil dan lemah, patung-patung manusia tetap sangat jarang ditemukan di situs-situs purbakala Cina, yang digali keluar umumnya adalah perkakas, ini menunjukkan suatu karakter yang realistis di dalam kehidupan yang prihatin. Dari sedikit patung manusia yang ditemukan, kadang-kadang hanya merupakan bagian dari perkakas, misalnya menempelkan sebuah kepala manusia yang dibentuk dengan kasar di atas kendi atau bejana. Manusia berubah menjadi bagian dari perkakas, tertegun melihat diri sendiri, tertegun melihat perkakas, seperti tidak bisa dengan jelas melihat perbedaan antara dirinya dan perkakas.

Hampir semua kebudayaan kuno pernah membangun wibawa, harga diri, kemegahan, kekekalan, kemuliaan, dan berbagai estetika tubuh yang membuat iri di antara patung-patung raksasa mereka. Kecuali Cina, sampai hari ini masih belum pernah ditemukan patung manusia yang berukuran raksasa dan gagah. Kekurangan patung manusia di dalam seni rupa Cina Kuno mungkin bisa dijadikan semacam pelajaran penting kebudayaan buat direnungkan.

Di dalam kitab-kitab filsafat Pra-Qin sangat sedikit ditemukan uraian tentang tubuh manusia. Pembahasan tentang orang di dalam kitab-kitab penting ajaran Ru

( Konghucuisme ) langsung diletakkan di dalam kerangka etika. Orang, sangat kecil kemungkinan ditelaah secara mandiri, Xiao Jing ( Kitab Bakti; salah satu kitab utama ajaran Ru ) berkata:

     Tubuh adalah pemberian orangtua, tidak boleh dirusak dilukai

Dengan uraian begini, seandainya keberadaan tubuh memiliki makna tertentu, itu juga atas pemberian orangtua, dan tetap adalah uraian yang bersumber dari etika. Tubuh seperti tidak mungkin dibahas secara mandiri. Menekankan etika, berarti menekanan keberadaan komunitas, dan menyepelekan keberadaan pribadi.

Komunitas biasanya akan diwakili dengan simbol komunitas, oleh sebab itu paras dan tubuh perorangan yang khas akan menjadi sangat sulit ditonjolkan. Dimulai dari batu giok, tembikar, terus sampai alat-alat perunggu banyak sekali ditemukan bentuk-bentuk hewan, terutama motif-motif naga, ular, dan burung feniks. Lembu, kambing, harimau, ikan, gajah, badak juga tidak sedikit, hanya saja bentuk [ orang ] yang hampir tidak ada. Motif-motif hewan yang ada di tembikar ataupun di alat-alat perunggu ini kemungkinan adalah semacam totem klan.

Totem-totem yang sangat menawan ini, dengan dua mata bercahaya, seolah adalah tatapan seluruh leluhur yang telah tiada pada setiap gerak-gerik anak-cucunya. Totem-totem bukan ditampilkan dengan paras dan bentuk tubuh pribadi tertentu, tetapi semacam simbol suci klan, kemudian mengental menjadi ingatan bersama sebuah komunitas, kurang lebih sama dengan bendera dan lambang negara masa kini, tetapi lebih memiliki semacam persembahan agama yang khidmat dan misterius. Begitulah, perorangan hilang di dalam totem-totem besar ini. Perorangan kehilangan arti keberadaan yang mandiri di dalam kebesaran kelompok.

Dipandang dari sudut estetika, Cina seolah sangat sulit membuat ‘ perorangan ‘ secara mandiri diapresiasi. Di dalam struktur masyarakat hierarkis, setiap pribadi mesti masuk ke dalam susunan tingkatan masyarakat. Keberadaan ‘ perorangan ‘ baru memberi makna ketika sudah berhubungan erat secara berurut dengan keluarga, komunitas, dan negara. Wajah ‘ perorangan ‘ adalah sangat kabur, perorangan juga tidak mungkin menonjolkan bentuk dan gaya yang mandiri. Mengorbankan begitu banyak kekhasan ‘ perorangan ‘, mungkin demi mengukuhkan simbol keagungan kelompok.

Kadang-kadang melihat patung-patung tanah liat dari jaman purbakala dengan raut wajah dan lekuk tubuh yang begitu samar, seakan tidak peduli terhadap keberadaannya, seperti serangga, seperti rumput, dengan rendah dan lemah bertahan hidup, dari dalam debu tanah kuning merangkak menggeliat keluar, juga tidak jauh berbeda dengan debu tanah kuning itu sendiri. Adalah semacam debu tanah juga, dengan bentuk yang tidak kokoh, setelah ditiup angin akan berubah jadi debu selangit, ketika disiram hujan becek menjadi lumpur.

Jika punya kesempatan berdiri di sisi lobang galian situs-situs purbakala Delta Sungai Kuning, melihat jejak-jejak yang bertahan selama beribu tahun, melihat sebuah boneka tanah liat yang serampangan dibentuk, setelah bosan dijadikan mainan, akan serampangan lagi dibuang. Begitukah sebuah peninggalan? Seketika bentuk-bentuk manusia yang merangkak dan menggeliat di dalam lobang tanah, bukan lagi boneka ribuan tahun yang lalu, namun adalah petani masa kini, begitu samar, selamanya demikian bertahan hidup, seperti tidak mempunyai pendapat apapun terhadap keberadaannya, tapi juga seperti suatu cara bertahan hidup yang paling tegar. Betul, adalah cara bertahan hidup yang paling tegar.

Kondisi hidup begini telah digambarkan Lu Xun di dalam ceritanya [ Kisah Nyata Ah Q ] yang menggundang iba dan tawa, tetapi dengan begitu keras kepala tetap bertahan hidup. Citra Ah Q seperti tidak cocok dipamerkan dengan pahatan batu ala Mesir, juga sulit dimuliakan dengan menggunakan bentuk patung dewa Yunani. Ah Q bertahan hidup di dalam suatu keadaan yang hina dan lemah, bahkan sedemikian menggelikan hingga membuat orang berpikir: Apakah cara bertahan hidup begini masih berarti? Dan boneka-boneka di dalam tanah kuning yang hanya samar-samar menampakkan seraut wajah manusia dengan bentuk yang demikian kasar, juga membuat orang curiga: Apakah yang begini juga boleh disebut [ manusia ]?

Zhuang Zi di dalam bab [ Sang Mahaguru ] ada deskripsi begini:  

Hidup diumpamakan sebagai kutil dan tonjolan daging yang melekat, dan mati adalah berpisahnya kutil dan berakhirnya isi tonjolan daging.

( 彼以生為附贅縣疣,以死為決病潰癰. )

[ Hidup ] dianggap sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi beban tubuh, sebagai kutil, sebagai tonjolan daging, sebagai tumor yang merepotkan, dan mati, justru terbebas dari kutil, tumor yang melekat dan menyiksa. Mungkin sikap [ hidup ] yang tersimpan di dalam kitab-kitab Pra-Qin bisa dibaca beriringan dengan boneka-boneka buruk dan lemah di dalam situs-situs purbakala.

Ada sebuah massa maha besar, aku menumpang dalam wujud, aku bekerja keras dalam hidup, aku menyepi dalam tua, aku istirahat dalam kematian; apa yang membuat hidupku baik, juga akan membuat matiku baik.

(  夫大塊載我以形,勞我以生,佚我以老,息我以死。故善吾生者,乃所以善吾死也。)

Sepenggal sikap di dalam filsafat Zhuang Zi ini seolah sudah bukan lagi pandangan seorang filsuf, dan dalam kenyataan, ini mungkin sudah merupakan sikap hidup sebagian besar orang Cina.

Perhatian orang Mesir yang begitu terpusat dan teguh terhadap kematian, bagi orang Cina adalah sesuatu yang sangat sulit dimengerti. [ aku menyepi dalam tua, aku istirahat dalam kematian ] adalah dengan [ menyepi ] dan [ istirahat ] memandang kematian. Kematian bukan sedemikian tragis dan heroik, dan hidup juga bukan sedemikian riuh rendah dan menggemparkan. Hidup mati di dalam kehidupan masyarakat Cina, lebih mirip sesuatu yang alamiah, lebih mirip layu dan berkembangnya tumbuhan, di musim semi pecah kecambah, di musim gugur dan musim salju layu dan luruh, bukan begitu mengejutkan langit menggetarkan bumi.

[ Membuat hidupku baik ] menjadi semacam keteguhan. Seperti yang dikatakan Kongfuzi [ Belum tahu hidup, bagaimana tahu mati ]. Penekanan terhadap [ hidup ] mengisyaratkan bahwa segala macam bentuk [ hidup ] jauh lebih berarti daripada [ mati ]. Kemudian berubah menjadi semacam ungkapan yang beredar luas di dalam masyarakat [ Hidup hina daripada mati terhormat ]. Sebuah ungkapan kasar yang berasal dari jaman yang jauh dan kedengarannya hina dan menggelikan, tetapi jika digunakan untuk melihat boneka-boneka yang bertahan hidup di dalam kondisi lemah dan tidak perlu keteguhan di dalam lapisan tanah kuning situs purbakala, mungkin akan tiba-tiba sadar terhadap kepedihan yang terkandung di dalam [ hidup hina ] itu. Seakan bertahan di dalam keadaan paling hina, paling lemah, paling tak berarti, adalah hakikat dari [ hidup ].

2.

Sekitar Periode Musim Semi dan Gugur ( 771 SM – 400 SM ), seni rupa Cina dengan bentuk ‘ orang ‘ mulai berkembang pesat, pelan-pelan menggantikan totem-totem berbentuk hewan yang telah begitu lama mendominasi topik kesenian. [ Orang ], akhirnya memiliki kedudukan utama, dia mulai memperhatikan bentuk rupa sendiri, dia juga mulai merenungkan keberadaannya. Berbeda dengan burung yang terbang di langit, hewan yang merangkak di bumi, dan ikan yang berenang di air. [ Orang ] telah melepaskan diri dari kedunguan dan kekacauan, memiliki pandangan yang agak jelas terhadap dirinya.

[ Orang ] yang paling awal muncul di atas alat-alat perunggu, bukanlah seseorang yang mandiri, juga tidak menekankan mimik rupa perorangan yang khas, biasanya dengan ukiran timbul menggurat di atas alat perunggu sekelompok-sekelompok orang; barisan prajurit yang sedang menyerang tembok kota, sekelompok nelayan di atas perahu menangkap ikan di sungai, petani-petani bekerja di tengah ladang, ataupun perempuan-perempuan yang bermain alat musik dan menari di dalam sebuah pesta. Kesadaran terhadap [ orang ] pada periode ini masih ditampilkan dalam bentuk kelompok masyarkat.

Seni rupa Yunani pada periode yang sama, kebanyakan adalah patung perorangan yang menunjukkan kekhasannya. Tiga dimensi, kurang lebih sebesar manusia biasa, diletakkan di dalam kuil atau di balai kota, patung-patung ini membuat seni rupa Yunani menunjukkan makna keberadaan perorangan yang mandiri. Orang Yunani percaya, makna [ orang ], berada di dalam pencapaian perorangan.

Di dalam epik dan mitologi Yunani penuh dengan pencapaian perorangan, dan perorangan-perorangan ini tidak perlu direnungkan dari sudut masyarakat atau komunitas, bahkan tidak perlu memikul beban moralitas kelompok, perorangan melakukan pencapaian yang tidak mungkin tergantikan oleh orang lain: Medea di tengah keputus-asaan terhadap cinta berlinang airmata mencelakakan anaknya demi membalas dendam; tubuh muda Icarus jatuh mati demi mengejar cita-citanya untuk terbang tinggi; sakit derita tubuh Prometheus yang tiada habis dicabik-cabik cakar tajam elang, dan sebagainya dan seterusnya. Sastra Yunani Kuno menurunkan berbagai cerita tentang [ orang ], mungkin itulah jiwa sesosok-sesosok patung Yunani yang didirikan.

Seni rupa Cina pada periode ini mungkin masih berusaha mencari bentuk bersama dari [ orang ].

[ Orang ] di sini bukan perorangan, [ orang ] hanya salah satu unsur rangkaian kecil di dalam susunan masyarakat yang sangat besar. Mereka bekerja, perang, bertani atau berpesta, samasekali tidak ada wajah [ perorangan ], tidak ada khas perorangan, hanya merupakan satu unsur dasar [ orang ]

Seandainya menggunakan epik Yunani [ Odissei ] atau [ Iliad ] melihat [ Kitab Puisi ] Cina, juga akan merasakan perbedaan antara perorangan dan pahlawan, dengan keseharian dan rakyat jelata. Di dalam [ Kitab Puisi ] sangat sedikit pahlawan, juga jarang ada tragedi yang menusuk hati dan menggetarkan tulang. [ Kitab Puisi ] lebih banyak adalah lelaki dan perempuan yang berada di pematang atau di tepi sungai, mereka tidak memiliki nama di dalam catatan sejarah, mereka adalah orang biasa dan bersikap pasrah, hidup turun-temurun di atas tanah pertanian, ada harapan terhadap cinta, ada kesedihan akan hilangnya cinta, ada perang, ada pengungsian, namun hampir tidak ada peristiwa yang begitu luar biasa hingga harus menggunakan epik memuji dan meratapnya.

Di dalam [ Kitab Puisi ] penuh dengan nuansa muda-mudi yang sederhana:

Bujang kelana bujang lapuk,

peluk kain dagang sutera,

bukan datang dagang sutera,

mengitariku dia berkupu-kupu.

( 氓之蚩蚩,抱布贸丝, 匪来贸丝,来即我谋 )

di dalam [ Kitab Puisi ] kita tidak akan menemukan balas dendam cara Medea, juga tidak ada Echo yang bersembunyi ke dalam gua menjadi gema yang gelisah dan menyiksa diri sendiri. Kesedihan yang ada di dalam [ Kitab Puisi ] adalah seperti perputaran musim, tetap begitu tenang dan terkendali seperti [ orang ] yang hidup di atas tanah pertanian, tidak akan ada tragedi yang menyesakkan:

Ai, murbei sudah gugur

yang kuning semua luruh

( 桑之落矣,其黄而陨。 )

Tanpa kemurkaan dan kepedihan yang membahana langit dan mencakar bumi, adalah sangat sulit berkembang menjadi epik yang agung dan pilu menggemuruh; kesedihan dan keriangan di dalam [ Kitab Puisi ] adalah sangat jelata, ada ketergantungan kepada alam di dalam musim yang silih berganti, ada kepuasan dan ketenangan dapat berdiri di atas bumi dari hari ke hari, tidak peduli hidup bisa bagaimana riang dan sedih, kemungkinan besar tidak akan ada pengembaraan dan pertualangan keluatan cara Yunani.

[ Kitab Puisi ] sepenuhnya terpusat pada ketenangan dan kedamaian ‘ orang ‘, seolah di atas bumi yang luas, karena jarak pandang yang terlalu jauh, sehingga tidak dapat melihat jelas apakah sedang gembira atau bersedih. seluruh kegembiraan dan kesedihan orang seperti alam, bagai pohon dedalu di musim semi, juga seperti hujan dan salju di musim dingin, sebab itu tidak akan ada yang luar biasa:

Ai, dulu waktu aku pergi,

ranting dedalu gemulai gemulai;

hari ini aku balik tertegun,

salju hujan bertabur bertabur

( 昔我往矣,杨柳依依。今我来思,雨雪霏霏。)

dan ini:

Hijau hijau kerah abang,

sunyi sunyi hatiku terkapar,

walau aku tidak pergi bersua,

tidak bolehkah abang bocorkan kabar?

( 青青子衿,悠悠我心。纵我不往,子宁不嗣音?)

Kedalaman rindu dan cinta [ orang ] tidak akan lebih dari ini, sudah pasti tidak akan berkembang menjadi darah pembunuhan mengenangi kota ala kuda troya. sudah pasti tidak akan ada jelita Helene yang membinasakan, dan juga pasti tidak akan ada Agamemnon yang membawa kepedihan sepanjang hayat.

Yunani Kuno dengan sistem politik negara-kota memunculkan sosok-sosok unggul, mungkin pahlawan dengan keperkasaannya atau perempuan dengan kecantikannya, mereka adalah [ dewa ] di antara manusia, mereka bijaksana, cerdas dan cakap, mereka menantang nasib, mereka mengharapkan pertualangan lautan; kesepian menjadi semacam kesombongan, mengembara juga menjadi semacam pembuangan diri yang angkuh.

Sedangkan landasan pertanian Cina adalah dibangun di atas rakyat jelata yang berjumlah besar dan tersebar luas, mereka memetik daun murbei, menangkap ikan, bersawah, membuka perigi; di dalam kehidupan mereka jarang ada gejolak-gejolak luar biasa yang aneh atau berbahaya. Mereka bukan sosok pahlawan atau sang jelita, mereka puas menerima posisinya sebagai [ orang ], dan dengan tegar dan nyata menjalani hidupnya. Pertanian sesungguhnya tidak perlu terlalu banyak merintangi bahaya. Pertanian perlu kesabaran, perlu semacam keyakinan dan ketergantungan terhadap tanah, perlu pemahaman dan rasa terhadap peralihan musim, dengan demikian hidup mati dan cinta dendam manusia juga akan seperti tanah dan musim, bersiap-siap menjadi kekal.

Sebuah keganjilan dalam seni rupa Cina purbakala terjadi di Sanxingdui, sebuah situs Zaman Perunggu di Sichuan. Pada 1986 dari situs ini digali keluar sebuah patung perunggu yang tingginya lebih dari dua meter, sangat menyedot perhatian. Patung-patung perunggu dari situs ini umumnya berpenampilan khidmat, memakai topeng emas, menampakkan wibawa manusia dewa atau dukun pemimpin upacara agama, atau pemimpin adat; misterius dan agung, menimbulkan rasa hormat.

Seni rupa Sanxingdui paling tidak ada tiga titik pokok yang tidak ditemui di atas alat-alat perunggu yang ditemukan di Delta Sungai Kuning pada periode yang sama ( Dinasti Shang hingga Dinasti Zhou Barat; 1600 SM – 771 SM ): Pertama, Alat perunggu Delta Sungai Kuning kebanyakan menggunakan bentuk hewan, jarang dengan rupa manusia. Kedua, sebagian kecil patung yang ditemukan di Delta Sungai Kuning umumnya berukuran kecil dan merupakan bekal kubur, ini mungkin menunjukkan dia sebagai pendamping kubur atau budak dalam tingkatan paling rendah, sedangkan yang ditemukan di Sanxingdui berukuran besar, kebanyakan adalah raja atau pemimpin adat yang berpenampilan khidmat. Ketiga, Topeng emas dan tongkat emas Sanxingdui jelas berbeda dengan tradisi penyembahan batu giok di Delta Sungai Kuning.

Disebabkan temuan di Sanxingdui, sumber dan keunikan Budaya Shu ( Berpusat di Dataran Sichuan ) kembali hangat dibahas. Pada jaman purbakala, setidaknya jika ditinjau dari seni rupa, Budaya Shu sangat mandiri, dan tampak berbeda dengan kebudayaan Han yang berkembang di dua sisi Sungai Kuning dan Sungai Huai pada periode yang sama. Dan topeng emas membuat pikiran orang langsung berasosiasi dengan Mesopotamia, Tutankhamun di Mesir, dan topeng emas Agamemnon di Mykenai, Yunani. Bagaimanapun, patung berukuran besar dan topeng emas yang ditemukan di Sanxingdui telah menunjukkan suatu perbedaan yang sangat mencolok dalam estetika tubuh dengan kebudayaan Delta Sungai Kuning, keunikan dan kemandirian [ orang ] seperti lebih mendapat perhatian di dalam Budaya Shu.

Selain seni rupa Budaya Shu di situs Sanxingdui yang berbeda dengan Delta Sungai Kuning, [ orang ] di dalam Budaya Chu ( boleh disebut sebagai budaya Cina Selatan ) juga lebih memiliki kemandirian dan kebebasan. Pada tahun 1973 digali keluar sebuah lukisan di atas kain sutera dari abad ke-5 SM yang diberi nama [ Lelaki Penunggang Naga ] dari kuburan kuno di Changsha, Hunan, lukisan seorang lelaki dengan jubah panjang berlengan lebar, memakai topi, dengan sebilah pedang terselip di pinggang, dia menunggang naga, gayanya luwes, samar-samar membuat teringat deskripsi Qu Yuan terhadap tubuh di dalam puisinya [ Nyanyian Chu ] pada jaman yang sama:

Buat daun teratai dan singhara

sebagai baju, oh

kumpul bunga lotus sebagai gaun

( 製芰荷以為衣兮,集芙蓉以為裳。)

Tinggi menjulang aku bertopi tinggi, oh

seuntai panjang giok berjuntai aku pergi

( 高余冠之岌岌兮,長余佩之陸離。)

Tidak peduli baik dari diksi yang mewah ataupun bentuk kalimat yang mendayu, [ Nyanyian Chu ] sangat berbeda dengan [ Kitab Puisi ]. Di dalam nyanyian-nyanyian Tanah Chu lebih banyak menyuarakan [ perorangan ] dan pribadi yang mandiri. Juga menampilkan sosok unggul yang berbeda dengan rakyat jelata umumnya.

[ Nyanyian Chu ] sarat dengan deskripsi rasa sayang [ orang ] terhadap tubuhnya. Topi tinggi di atas kepala menjulang bagai puncak gunung, untaian giok yang tergantung di tubuh bergoyang-goyang, petik dan kumpul teratai dan lotus buat pakaian. Cinta dan rasa sayang terhadap tubuh [ perorangan ] menunjukkan gaya Tanah Chu yang romantis.

Di suatu tempat yang hangat dan makmur di Tanah Selatan, di antara sungai-sungai yang tenang meliuk lewat, orang bisa demikian taruh harapan, boleh demikian memanjakan tubuh dan masa muda yang indah dan ceria, juga boleh demikian bersedih terhadap tubuh yang melorot, layu dan tua:

Ranting bercabang daun lebat bunga memerah,

semoga tunggu saat matang aku datang memetik;

walau daun layu bunga gugur juga tidak bersedih,

hanya pilu seluruh bunga rerumput hilang wangi.

( 冀枝葉之峻茂兮,願俟時乎吾將刈。

雖萎絕其亦何傷兮,哀眾芳之蕪穢。)

Budaya Chu di Selatan telah melepaskan kekangan budaya agraris, sudah ada petualangan, sudah ada pengembaraan, sudah ada semangat yang berkobar, juga ada pilu dalam keputus-asaan, seni rupa di dalam Budaya Chu menampakkan wajah yang berubah-ubah, panjang gemulai, anggun, di dalam harapan menunjukkan adanya kepercayaan diri akan eksistensinya.

3.

Penemuan patung-patung terakota dari Dinasti Qin ( 221 SM – 206 SM ) pada tahun 1970-an memberikan data-data yang sangat penting buat sejarah seni rupa Cina. Patung-patung yang digali dari makam Kaisar Qin Shihuang umumnya adalah prajurit, menampilkan sisi maskulin yang keras, menjadi perbedaan yang sangat mencolok dengan Budaya Chu yang halus gemulai.

Patung-patung terakota ini adalah bekal kubur, dan sebagai bekal kubur, penciptaan patung-patung ini bukan untuk dinikmati orang hidup, jadi tidak ada motivasi buat apresiasi. Penemuan patung terakota Qin adalah suatu kecelakaan. Di dalam pandangan kaisar jaman kuno, makam raja adalah sesuatu yang luar biasa rahasia, tidak mudah ditemukan, juga tidak ada maksud dipamerkan untuk umum seperti di masa sekarang. Patung-patung ini menampakkan mimik dan gerak tubuh yang cerdas dan cekatan, suatu kekaleman dan percaya diri yang diperoleh dari latihan yang ketat dan beraturan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga penonton dapat melalui patung-patung ini membuktikan keunikan-keunikan tertentu di dalam budaya Qin.

Dalam keadaan normal, patung bekal kubur seharusnya tidak terlihat oleh orang hidup. Oleh sebab itu, pembuatan patung-patung terakota Qin yang begitu persisi dan realis bukan berasal dari motif kesenian dan apresiasi. Kepala, badan, dan empat tungkai patung-patung ini dibuat dengan cetakan, hanya dengan demikian patung-patung ini baru dapat diproduksi secara massal. Tetapi, patung-patung pada saat yang sama juga sangat menekankan keunikan satu per satu. Maka setelah dicetak, perlu lagi diberi sedikit pemolesan, memberi alis dan mata, kumis dan janggut, gaya rambut yang berbeda dengan halus dan terperinci.

Cara produksi dengan membaurkan [ massal ] dan [ terperinci ] ini mencerminkan budaya Qin yang dibawah politik Legalisme demikian haus [ kebenaran ]. Arus utama kebudayaan Cina, baik itu Konghucuisme ataupun Taoisme, selalu mendudukkan [ kebajikan ] jauh di atas [ kebenaran ]. Konghucuisme dengan sepenuh kekuatan mengejar hubungan antar manusia dan ketertiban yang harmonis berdasarkan etika, Taoisme justru di atas etika berusaha keras melepaskan perorangan dari ikatan masyarakat. Baik Konghucuisme maupun Taoisme, sama-sama berusaha berpikir dengan sebuah hati yang bermoral. Sedangkan [ hukum ] yang menjadi pijakan Legalisme bagaimanapun tetap diletakan di bawah moralitas di dalam arus utama kebudayaan ini.

Dinasti Qin adalah suatu jaman di mana negera dibangun di atas landasan hukum yang sangat sedikit ditemui di dalam sejarah Cina. Pelatihan hukum yang ketat membuat budaya Qin memiliki semangat menaati aturan yang objektif. Realisme di dalam patung-patung terakota Qin pada dasarnya adalah semacam aturan objektif dalam [ mencari kebenaran ]. Patung-patung ini begitu terperinci, tinggi dan lekuk tubuh patung dibentuk sesuai dengan orang nyata, juga parasnya, letak tulang alis, bentuk mata, tonjolan tulang pelipis, bentuk bibir dan potongan rambut, semuanya begitu terperinci. Ini jelas berbeda dengan seni rupa Cina pada umumnya yang lebih menekankan penangkapan image.

Semangat Dinasti Qin dalam mengatur negara dengan hukum benar-benar tercermin di atas patung-patung terakota, dan sebab itu patung-patung ini memancarkan gaya yang maskulin, wibawa, serius dan tegas yang jarang ditemui di dalam seni rupa Cina. Garis lekuk tubuh patung penuh dengan garis lurus dan tegang, terutama di sudut-sudut potongan rambut, hampir semuanya membentuk sudut 90 derajat, tajam dan samasekali tidak menyisakan tempat buat melengkung, sehingga patung-patung yang khidmat ini seolah menyimpan semacam kekuatan membunuh. Sangat mengerikan.

Patung-patung ini kurang bermakna apabila dipandang satu per satu, sulit merasakan kekuatannya. Kita baru merasakan kekuatan yang mendesak dan mendominasi ketika sudah berada di makam Qin Shihuang, melihat ribuan prajurit terakota terbentang dalam barisan-barisan yang panjang dan rapat, ini seharusnya dipandang sebagai satu karya utuh.

Tidak seperti patung Yunani yang selalu menonjolkan keindahan tubuh yang khas, yang tersendiri, misalnya, keindahan terhormat ketika seorang atlet menerima mahkota laurel, keindahan Appolo sebagai dewa cahaya yang tiada duanya, keindahan Afrodit ketika terlahir di dalam air yang tak tergantikan…Indah adalah sesuatu yang jarang, yang minoritas. Sedangkan kekuatan patung terakota Qin adalah bersifat kelompok, adalah tekad yang mengkristal di dalam kehidupan bersama, perorangan tidak bisa terlepas dari kelompok.

Lokasi deretan prajurit-prajurit terakota Qin tentu juga adalah lokasi kebudayaan Qin, setiap keunikan patung menghilang. Di tempat ini, hanya terasa kekuatan Dinasti Qin yang pamer kuasa pamer wibawa, samasekali tidak ada perorangan.

Apakah mungkin suatu hari dari tempat ini akan digali keluar patung Qin Shihuang? Dia adalah tuan yang mengerahkan berpuluh ribu prajurit terakota, dia adalah pemilik sebuah Dinasti yang menggemparkan, tapi tubuhnya, di mana tubuhnya?

Berbeda dengan makam-makam kuno di Mesir, di sana firaun selamanya akan menjadi pemeran utama di dalam seni rupa, selalu hadir dengan patung yang besar dan bernilai. Tetapi di Cina, sampai hari ini patung yang diekskavasi dari makam-makam kuno kebanyakan adalah bekal kubur: Prajurit, kerani, budak. Di dalam barisan budak yang berjejal bagaimanapun tidak bisa menemukan tubuh tuannya.

Berdiri di lokasi barisan patung terakota Qin, menunggu tuannya yang tidak bisa ditemukan, [ tubuh ] akhirnya hanya tenggelam di dalam debu waktu. Atau mungkin [ waktu ] yang sesungguhnya adalah tuan di sini, dia mengauskan semua tubuh! Prajurit-prajurit terakota yang awalnya berwarna-warni dan berkilau kini sudah retak dan pudar, menampakkan dasar tanah kuningnya. Mereka putus tangan patah kaki, atau kehilangan kepala, namun masih tetap tegar berdiri. Patung-patung terakota Qin telah menunjuk arah pemikiran kepada sejarah seni rupa Cina, antara perorangan dan kelompok, antara budak dan tuan, antara kehormatan negara dan kebebasan pribadi…

Dan indah, di dalam debu waktu berubah menjadi gema kosong. Ketika sebuah dinasti dalam semalam lenyap, kemewahan sebuah makam kaisar tertimbun, menunggu beberapa ribu tahun kemudian baru pelan-pelan siuman satu kali. Setelah bangun, seolah semua tubuh yang pernah hidup ada begitu banyak kata-kata yang ingin diungkapkan, namun seperti sudah lupa cara mengeluarkan suara, mereka terus membisu, membiarkan orang tunjuk sana tunjuk sini.

Hukum, objektivitas, realisme jaman Qin, di dalam sejarah seni rupa Cina bagai mata sekejap

Tunggu hingga berdirinya Dinasti Han ( 206 SM – 220 Masehi ) yang sengaja menggunakan Budaya Chu dari daerah selatan sebagai landasan, untuk mengimbangi kekerasan Qin, memoles sudut-sudut tajam, mengubah garis-garis lurus dan kaku menjadi garis-garis lembut melengkung, menciptakan semangat Dinasti Han yang moderat.

Patung-patung terakota dari makam Han Jingdi ( Kaisar Jing Dinasti Han ) yang baru diekskavasi pada akhir tahun 1980-an dengan jelas menunjukkan metamorfosis dalam seni rupa Cina setelah terpaut sekitar setengah abad dengan patung terakota Qin. Patung-patung yang sering disebut patung terakota Yangling ini membulatkan sudut-sudut tajam potongan rambut, raut wajahnya juga tidak lagi tegang seperti patung terakota Qin. Di wajah yang tembam dan lembut itu muncul sebuah senyum yang kalem dan bahagia.

Senyuman di wajah patung terakota Yangling mengisyaratkan semacam pelepasan. Catatan sejarah tentang Han Jingdi yang tidak perlu menggunakan hukuman selama empat puluh tahun dia bertahta, seperti bisa dicerminkan dari sesosok-sesosok patung dengan wajah tersenyum. Setelah memasuki Dinasti Han, patung-patung terakota yang sebagai bekal kubur seolah memiliki kesempatan untuk menjadi tubuhnya sendiri. Atau mungkin kita sudah terlalu optimis, di dalam seni rupa Cina, patung terakota, bagaimanapun hanya budak bekal kubur, tubuh yang mandiri apakah benar-benar memiliki kesempatan tersadarkan?

Karena Setiap Kata Punya Makna