Wanita Itu Bernama Marida #7

Cerbung Willy Wonga
 

“Aku suka seorang pemula, Mas, maksudnya orang baru di tempat ini. Lebih menarik karena penuh rasa ingin tahu. Tidak seperti mereka yang hanya mau menenggak alkohol sebelum ber-ihik di tepi-tepi pantai.”

Aku sebenarnya tidak mau membeberkan satu rahasia besar mengenai perempuan itu. Tentang siapa dia sebenarnya. Namun lantaran sekarang aku tengah melecut murka yang besar, biar aku tunaikan saja rasa ingin tahu akan dia. Marida, wanita itu ternyata pelacur. Hmm, betapa aku kasar memberi label padanya. Biar, supaya aku puas dengan menamai kehidupannya seperti itu. Lebih kasar dari pemuja malam atau pengejar rembulan atau penunggu pagi. Suatu hari di masa mendatang, tatkala perang ini berakhir dan masa damai mengalir bagai sungai dari surga, pelacur itu menceritakan sendiri kisah pertemuannya dengan Andre padaku. Penuh haru. Penuh bangga pula.
Begini aku terakan setelah aku kutip kisahnya;
Pada suatu malam terlupakan, sewaktu sepi menggigit dan penat menjalar hingga ke pangkal tubuh, Andre pertama kali jadi lelaki pulang subuh. Sebelum itu dia paling banter pulang larut, dengan alasan pekerjaan kendati aku telah simpan jawab bahwa ada perempuan teman kencannya.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Di salah satu tempat hiburan, Andre bertandang. Dia itu lelaki bebas, sebebas ikan berenang di lautan. Tetapi baru pertama kali ini dia berenang ke tempat hiburan paling vulgar. Di mana ada lautan segala macam serak suara. Di mana segala macam jenis ikan seperti dia datang setelah matahari melorot dari langit. Kemudian berenang terbius kemolekan kaum duyung setengah telanjang.
Lantas segelas bir terteguk. Riuh suara bersenggama dengan buih dari bibir-bibir gelas, bersatu menebarkan gairah para penikmat malam. Musik di sana berdecak, dan mengentak dalam irama yang hanya bisa diikuti dengan sedemikian indah para penari berbusana minim. Pada sudut gelap lenguh kadang terlempar begitu saja, melampaui sendawa alkohol dari masing-masing tenggorokan. Malam adalah malam, gelap serta penuh tipu daya. Kendati ada cahaya remang di sana, pun keramaian yang kentara.
Sebelum akhir kekacauan ini, aku tak tahu, selain bebas Andre pun lelaki sepi. Maafkan aku, semula kiraku cuma aku perempuan sepi kau jadi lelaki sepi pula sampai-sampai tega pula di waktu terkini aku benci akan dirimu!
“Mau ditemani, Mas?” sepotong nada bicara manja mendahului sesosok pribadi dengan rambut tergerai. Terkesan lupa disisir atau memang kesengajaan belaka. Kulit itu, dalam remang sekalipun Andre bisa menimbang seberapa lembut dan perlu berapa banyak bedak untuk melaburnya tiap hari. Namun, putihnya bukan lantaran bedak, asli. Tubuhnya matang sebagai wanita dan bukan seorang gadis lagi. Ada aura pesona di sana. Ya, seorang wanita yang menarik. Andre hanya tersenyum samar, membungkus gugup biar tak terlihat. Pantas dia gugup, sebab sebelumnya tak pernah muncul wanita secantik dia. Dan juwita malam melenggak duduk berhadapan, saling menatap sebelum Andre berpaling dengan muka merah.
“Mas sering ke sini? Atau baru pertama kali?” Bibir itu berlepot senyum.
Andre ragu sejenak lalu menggeleng pasti. Dia punya segudang wanita, namun bukan dari tempat begini dia dapat, juga tidak ke sini dia berajak kencan. Jadi ini pertama kali tentu. Tak apalah jadi pemula, toh setiap orang pasti pernah mengalami. Selalu jadi pemula sebelum terbiasa kemudian terbilang ketagihan. Segelas lagi bir tertuang, membasahi bibir Andre yang hitam oleh asap tembakau. Segelas lagi dia tuang untuk makhluk di depannya. Pasti akhir dua puluhan atau paling banter awal tiga puluh. Seorang wanita dewasa.
“Aku suka seorang pemula, Mas, maksudnya orang baru di tempat ini. Lebih menarik karena penuh rasa ingin tahu. Tidak seperti mereka yang hanya mau menenggak alkohol sebelum ber-ihik di tepi-tepi pantai.”
Andre tertegun. Dia cangkungi wajah wanita itu, bibirnya sedikit merah diwarnai, wajah polos tiada bercak. Pun tiada sebekas jerawat.
“Jadi, ini sebenarnya tempat apa?” tanya Andre polos sementara gelas bir ketiga telah memuarakan cairan kuning di lambung. Dia hanya tahu ini tempat minum. Bukan sekaligus wahana ber-ihik seperti kata wanita itu tadi. Di sini dia mirip anak kecil yang tersesat dalam permainan kartu orang dewasa.
“Mas seorang suami? Atau kekasih yang setia? Bila benar demikian, ini bukan tempatnya,” hanya perasaan atau benar kenyataan, suara wanita itu sangat mendayu, merayu barangkali lebih tepat.
Andre jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya perempuan ini, bila bukan seorang perayu, juga bukan penghibur. Apa dulunya dia tersesat pada gemerlap malam di sini hingga dia mau saja menasihati seorang pengunjung macamku? Gelas ketiga pun berlanjut jadi empat, lalu lima, enam…malam itu, untuk kali pertama Andre tidak pulang larut. Dia pulang subuh.
 
bersambung…
 
 
Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida 6

Perjalanan ke Bulan

Fiksi Kilat Merry Fatma

 

gadis rembulan
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Hari ini ada seorang teman yang sedang melakukan perjalanan ke bulan. Aku diam, tidak mengucapkan selamat berpisah padanya. Aku yakin, perjalanan ke bulan ini tidak berarti untuk selamanya, kami akan bertemu lagi. Tetapi alasanku bukan itu. Aku tidak mengantar kepergiannya, toh, nanti kami akan berjumpa kembali. Sekali lagi, bukan karena itu.
Sore ini mendung begitu pekat di langit kotaku. Aku tidak begitu tahu apakah perjalanannya baik-baik saja. Dengan enggan kuambil telepon genggam, penasaran ingin tahu kabar darinya.
Teman, bagaimana perjalananmu?
Secepat kilat di antara mendung yang pekat, kuketik deretan huruf lantas kukirim ke nomornya. Oh ya, begitu lama kami tidak saling bicara. Biasanya jika tiga hari saja kami tidak saling bertegur sapa dia akan meledekku: sombong.
Aku kira, ini sudah lebih dari selamanya kami tidak saling bicara. Apa pun alasannya, ini sudah salah. Seperti ada semacam pengkhianatan perjanjian tidak tertulis yang telah kami sepakati bersama. Aku mencoba mengingat hari-hari yang lalu, ketika segala serupa pelangi terbit usai hujan reda. Memang, aku yang menjauh saat itu. Aku mengaku. Aku terlalu cemburu perlakuannya pada teman-temannya selain aku.
Kami sudah lama bersama, baik jika engkau tahu, itu lebih dari akrab dengan kata berdua. Tentu saja ada rasa tidak rela saat satu atau dua atau bahkan serombongan teman-temannya hadir di antara kami. Apalagi kemudian aku tahu, ada salah satu yang istimewa baginya.
Barangkali ini sudah salah. Tetapi debar di dadaku lebih menggelegar dari guntur di mendung sana. Aku deg-degan menanti balasan darinya.
Tentu saja sudah kuperkirakan sebelumnya bahwa sudah tidak ada lagi yang istimewa di antara teman-temannya. Aku yang lebih dulu, seharusnya aku yang paling istimewa. Akan tetapi soal hati siapa yang tahu, bukankah cinta tidak lantas tertuju kepada siapa yang datang lebih dahulu?
pip,pip,pip… Pesan balasan darinya.
Baik-baik saja. Sombong sekali baru menyapa sekarang. Ke mana saja?

Bah, memang pada awalnya aku yang menjauh darinya. Tetapi bukankah dirinya juga tidak mencariku? Tidak merasa kehilangan aku? Aku berharap di bulan juga sedang mendung. Seperti di sini, lalu gerimis. Semoga dia tidak lupa membawa jas hujan.
Ada pelangi di ujung sini, cantik sekali. maaf aku lupa pernah berjanji untuk mengajakmu kemari.
Pesan lagi darinya. Satu permintaan maaf. Tanpa sesal. Tanpa usaha memenuhi janji. Sudahlah. Dia tinggal lama di bulan pun tidak mengapa. Aku cuma akan berdoa untuk kesehatannya. Dan untuk sisa waktunya di bulan, yang katanya akan ia gunakan untuk melakukan penghijauan.
Mengenai sisa perasaanku ini, kuusahakan untuk mengalirkannya perlahan-lahan, ke sungai. Supaya kelak bermuara di lautan, menguap kemudian menjadi hujan. Semoga kelak hujannya akan turun sampai ke bulan. Menemani perjalanannya.
 
 
*) Merry Fatma, saat ini tengah berkutat menyelesaikan skripsi di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogja.

Tentang Cerpen Terowongan Maut

Apresiasi Hudan Hidayat

Sitoyen Sant-Jean
Novel “Sitoyen Sant-Jean – Antara Hidup Dan Mati” oleh A.Kohar Ibrahim; Penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri 2008. Editing: Lisya Anggraini.
CERITA pendek ini menyapa hampir maut dengan lembut sekali – nyaris sebuah kepasrahan dari seseorang yang telah sabar mengalami derita panjang, derita yang nampaknya bukan sekedar dalam makna pikiran, tapi derita pikiran dan derita fisik dari sebuah perjalanan hidupnya yang panjang.
Saya adalah anak sejarah yang masamasa lalu itu seolah sejarah itu sendiri. Sejarah pahit yang gelap. Hingga saat ini pun masih gelap. Tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Ada pernah saya diberitahukan, bahwa karya sastra orang-orang LEKRA adalah tak lebih dari pamplet belaka. Semua kata yang mencungkup peristiwa dan makna memuara ke satu arah: politik revolusi. Sehingga cerita-cerita mereka, demikian sejarah itu memberitahukan,tak ada yang bermakna.
Tapi waktu membaca Pramoedya Anantatoer, semua kesimpulan semacam itu pupus. Apalagikah makna kalau kita berhadapan dengan cerita besar seperti Bumi Manusia itu misalnya.Lalu kini saya tertumbuk dengan sebuah cerita kecil hidup seseorang, yang dilambangkannya dengan terowongan. Terowongan, aduh, alangkah pas tanda ini untuk mengatakan hidup itu sendiri. Hidup adalah terowongan panjang yang kita tak tahu ujungnya. Sehingga berteriaklah orang seperti Albert Camus: absurd. Dan karena absurd, aku memilih tak Bertuhan saja.
Tapi lihatlah cerita A Kohar Ibrahim ini. Tiap katanya adalah sapaan lembut kepada Tuhannya. Kata yang berlapis membentuk dan mencampur dari jenis kata yang sama, seolah menganya labirin, seolah memasuki dan terowongan kata itu sendiri.
Tak sekalipun ia bercerita mati dalam peristiwa singkat yang diceritakannya ini. Ia begitu detil memapar daerah asing dari suatu peristiwa medis, detil asing seolah alam dari suatu daerah yang kita tak kenal tumbuhan dan batuannya. Ia pasrah saja berjalan melalui alam yang tak ia kenal itu. Pasrah dari sebuah tingkatan jiwa yang telah meninggi dari tempaan hidupnya sendiri. Seakan ia hendak berkata: sudah kulalui macam-macam terowongan fisik dan terowongan makna- seperti yang disebutkannya dengan mengutip beberapa cerita fiksi dari awal karangannya ini. Lalu apa lagi yang harus kutakuti?
Tentu saja takut bukanlah kata yang tepat. Yang lebih tepat lagi asing. Perasaan asing yang aneh seperti yang bolak-balik dikaitkannya dengan alat-alat medis agar ia selamat dari terowongan yang bernama operasi itu. Tapi dari cerita ini saya melihat sekali suatu ekspose dari manusia fakta dan manusia fiksi (yang lagi menuliskan ceritanya – seorang narator bernama aku) dengan terowongan itu seolah mengajak kita mengenang akan sepenggal kehidupan. Agar dari sepenggal kehidupan itu kita merenungkan apakah artinya dan apakah kesudahannya.
Di ruang yang sangat kecil ini, perasaan itulah yang saya alami. Mungkin kalau saya mengetik di ruang layar yang lebar komputer kelak, beberapa denyar yang merasuki hati saya ini bisa saya elaborasi ke dalam detildetil yang mungkin menjadi hak bagi peristiwa dan makna yang diletakkan, atau telah terjadi di sana. Saya kagum dengan cerita anda, Bung kohar.

Terowongan Maut

Cerpen A. Kohar Ibrahim

Sitoyen Sant-Jean
Novel “Sitoyen Sant-Jean – Antara Hidup Dan Mati” oleh A.Kohar Ibrahim; Penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri 2008. Editing: Lisya Anggraini.
KISAH sekitar atau berkaitan dengan terowongan seringkali sarat akan perasaan gairah penuh asa bisa sekalian juga tak lepas rasa was-was. Seperti kisah dalam cerpen Maxim Gorky yang justeru berjudul ‘Terowongan’. Seperti kisah kapal tenggelam Titanic. Juga seperti perasaan yang timbul campur imajinasi ketika mengunjungi terowongan yang digunakan Tentara Merah dalam sejarah Perang Rakyat Tiongkok. Dan juga ketika kami sempat mengunjungi musium tambang batu bara Bligny di daerah Walonia Belgia. Yang kesemuanya, kisah-kisah itu saling silang seling berkaitan dengan makna operasi, makna kekerasan dalam aksi peperangan maupun aksi kerja keras rakyat pekerja.
Sungguh sesungguhnyalah kata operasi adalah kata yang jarang aku gunakan. Kata yang kedengarannya tak aku suka, lantaran secara subyektif kontan mengingatkan pada tindakan kekerasan. Apa pula ditambah kata bedah atau pembedahan. Lebih-lebih lagi operasi pembedahan itu bukan tertuju pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. Pada tubuhku sendiri. Pada perutku sendiri. Kedua kata itu – operasi bedah – sungguh membuat aku terkejut melongok, tercenung merenung, bingung.

Aku rasakan, aku bayangkan, diriku bagai sehelai daun menguning nyaris kering di ujung ranting. Antara asa dan putus asa. Runtuh jatuh melayang-layang antara bumi dan kahyangan. Betapa gamang kegamangan ini begitu mengerikan dalam kelengang-hampaan. Takut. Rasa takut ketakutan menerjang sekalian menyergap, menikung jiwa-ragaku dalam kurungan. Aku berteriak. Memberontak. Aku tak mau dikurung pun terkurung dalam kebingungan sekalian dirajam ketakutan.

Dalam mengayunkan langkah menelusuri perjalanan hidup kehidupanku tidaklah sederhana dan mudah. Seperti tertera dalam catatan atau kenangan tertulisku, sejak masa muda remaja sampai lansia. Antara lain pengakuanku: Iya, aku terjatuh jatuh bangun. Namun jejak langkah terus kuayun. Menelusuri rimba raya, lembah, lereng bukit dan gunung atau pun gurun. Ya Allah, Allahu Akbar! Betapa tabah ketabahan bermakna besar, seraya setia menjaga marwah dalam gairah maupun dalam susah payah. Tak kan sekali kali kubertekuk lutut sekalipun garangnya musuh dan maut. Sekali pun sekali terjatuh aku bangun lagi, mengayun langkah dengan tabah sekalian menjaga marwah.

Aku jatuh terjatuh lalu bangkit kembali menegakkan langkah yang jadi kebiasaanku selama ini. Begitulah. Tekadku tak berubah. Meski aku ngaku, ragaku tidak lagi dalam masa remaja sampai dewasa yang gagah; memasuki masa lansia terasa keperkasaannya berangsur melemah. Apa pula jatuh terajam penyakit yang tak pernah aku suka pun tak pernah aku duga. Hingga menjadi lemah lantaran kekurangan darah: Anemia adanya. Lantas mesti mengalami operasi bedah? Ah… !

Operasi dioperasi dibedah, sungguh aku tak suka mendengar ujar kata itu. Apa pula mesti aku sendiri yang akan mengalaminya. Tapi apa daya, hal itu sudah merupakan keputusan dari tim kedokteran dan pengobatan Klinik Saint-Jean. Sebagai diagnosa dari pemeriksaan-pengobatan-perawatan sejak aku masuk rumah sakit atau klinik ini. Jelasnya, sebagai hasil kesimpulan dari pemeriksaan yang terakhir aku jalani. Yakni gastroskopi dan kolonoskopi.

Dua pemeriksaan yang aku jalani Jumat kemarin — pagi-pagi sekali kemudian siang hari — macam pemeriksaan keadaan kesehatan badan yang paling berat aku rasakan.

Yang pertama. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Jam enam. Badanku yang sudah lemas bertambah lemas lantaran puasa. Tidak boleh makan dan minum sejak kemarin malam. Pagi hari tentu saja tanpa sarapan pagi. Pada jam delapan seorang juru-rawat sudah siap mengantarku, dengan menggunakan kursi-dorong, dari kamar biasa di tingkat tiga turun ke ruangan lantai bawah-tanah. Perutku yang memang sering terasa sakit dan mual, kian bertambah mual saja, ketika turun menggunakan lift.

“Courage, Monsieur“, ujar sang juru-rawat asal Afrika bernama Clemantine – seperti tertera di kartunama tanda pengenal yang nyantel di dadanya. “Gastroskopi merupakan pemeriksaan yang tak menyenangkan. Harap sabar dan tabah.”

Harus tabah dan bersabar, itulah nasihat sang juru-rawat berkulit-hitam manis teriring senyum, menyerahkanku kepada seorang juru-rawat yang bertugas di lantai bawah-tanah. Di ruangan yang cukup luas memanjang, dengan warna dinding tembok yang putih keabu-abuan. Rasanya dingin kebanding di ruang lantai atas. Dan aku dideret-jajarkan dengan para pasien lainnya. Lantas menyuruhku meminum segelas besar air yang sebenarnya dicampur zat obat pengobatan. Rasanya agak aneh sekalipun ada aroma jeruknya. Setelah tiga perempat jam baru aku dibawa masuk ke ruang khusus untuk gastoskopi. Dibaringkan dengan posisi miring sebelah kiri, di atas meja yang mirip ranjang berseprei putih. Lantas seorang dokter datang menyapa dengan ramah seraya minta kerjasamaku. Agar supaya pemeriksaan berlangsung secara lancar dan mencapai hasil yang diperlukan. Ketika aku penasaran tanya,” Kerjasamanya bagaimana, Tuan Dokter?”

Sang dokter tersenyum. “Mudah saja,” katanya. “Jaga ketenangan, jangan panik. Meski nanti terasa haus dan hangat di tenggorokan. Dan bernafaslah dengan mulut, setuju?”

Oui, Docteur. D’accord,” jawabku polos.

Jawaban polosku itu sesungguhnya berupa kepasrahan saja, meski sarat nekad sekalian itikad untuk memulihkan kembali kesehatanku. Dengan mencari sekaligus menemukan sebab-musabab keadaan anemia lantaran terjadinya pendarahan. Maka aku tak berkutik pun tanpa berkata apa-apa lagi ketika menerima saluran oksigin via lubang hidungku. Ketika ada alat di mulutku supaya tetap mangap. Ketika menerima zat yang hangat-hangat panas mengalir di jalur kerongkonganku. Dan ketika, akhirnya, via kerongkongan sang dokter memasukkan pipa mungil yang dilengkapi kamera untuk mendeteksi sekaligus memotret panorama perutku — usus besar dan jalur kolon-nya sekalian. Rasa perasaan aneh menghujam-rajam diriku, seluruh jiwa-ragaku. Anehnya rasa haus kehausan dan sakit kesakitan yang luar biasa, ketika sang dokter melakukan pencariannya dengan alat yang bagiku aneh pula itu. Kadang rasa haus dahaga begitu terasa. Ah, kehaus-dahagaan melebihi ketika puasa di bulan Ramadan; mungkin lebih jitu kehaus-dahagaan seperti musyafir di padang pasir? Kadang pula terasa dingin, seperti terbenam di dasar laut. Tak ubahnya seperti kapal Titanic yang diselami penyelam dengan dilengkapi pipa berkamera untuk mendeteksi sekaligus memotret apa saja yang dianggap penting, sebagai penemuan yang layak disimak dan sebagai pengetahuan bermakna.

Selama beberapa saat panas-dingin merejam badan kian menigkat terasa, sepertinya aku telah kehabisan nafas, nyaris pingsan. Sampai saat sang dokter menarik kembali pipa secara keseluruhan, dan aku bisa bernafas kembali seperti biasanya. Aku pejamkan mata lantaran keletihan. Baru terjaga beberapa lama kemudian ketika sudah kembali berada di kamar pasien di lantai atas.

Agaknya selama dua jam lebih aku terlena dengan nyenyak, membikin badan terasa lebih enak. Hanya untuk mengalami pemeriksaan lainnya – kolonoskopi — beberapa jam kemudian. Yakni pada jam lima sore. Pemeriksaan yang juga aneh, menimbulkan rasa aneh keanehan akibat alat yang digunakan — semacam pipa yang juga dilengkapi pendeksi sekaligus pemotret keadaan kolon. Keanehan yang menerkam rejam jiwa raga terkesankan kenyerian dan kewaswasan serta penasaran. Meskipun berlangsung tidak lama dan betapa sigap-cakapnya sang dokter memanipulasi alat yang digunakannya – mulai dari mulut lubang dubur sampai masuk merasuk ke dalam perut, istimewa ke usus yang disebut kolon itu — namun kiranya, ya ampun, cukuplah sekali itu saja.

Iya. Sekali itu saja. Masing-masing sekali itu saja – pemeriksaan yang disebut gastroskopi dan kolonoskopi itu. Sekali itu saja dan terakhir kali, akupun bergerak secara otomatik begitu mendengar saran sang dokter supaya aku cepat ke toilet. Gerak cepat seperti robot otomatik dari meja pasien ke toilet hanya untuk secepatnya mengeluarkan isi perut sehabis-habisnya hingga kempis. Untuk kedua kalinya perasaan aneh lantaran keletihan menyergap jiwa-ragaku. Ketika sang juru-rawat menjemputku kembali ke ruang kamar pasien, aku segera terbaring di ranjang dan tertidur lelap.

Suasana kedua macam pemeriksaan medis itu layaknya membawaku pada kenangan sekaligus pengalaman yang menimbulkan perasaan sarat asa dan ketiadaan asa, campur-baur rasa ngeri dan was-was berkenaan dengan terowongan. Timbulnya rasa perasaan aneh di dalam terowongan sekaligus sebagai terowongan. Terowongan dalam perjuangan hidup-mati di medan laga peperangan, pekerjaan dan di dalam jiwa-raga diri sendiri.

Akan tetapi, suka tak suka, kedua macam pemeriksaan bagaikan terowongan itu, merupakan lanjutan yang wajar. Sebagai mata-rantai tak terpisahkan dari rangkaian pemeriksaan medis lainnya yang tidak bisa tidak dijalani. Karena atas dasar kesemuanya itulah team kedokteran menyatakan diagnosanya, menarik kesimpulan dan memutuskan cara terbaik untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Yakni dengan melakukan operasi pembedahan. Operasi untuk melikwidasi tumor yang mengidap di bagian kolon dalam perutku.

Iya. Kolon itu tak ubahnya bagai terowongan yang selain bisa hidup menghidupkan, sebagai saluran pembuangan sampah atau kotoran dari dalam perut, sekaligus juga bisa mematikan jika tersumbat atau diidapi tumor yang gawat jadi penyebab pendarahan hingga kehilangan darah.

Catatan:

Naskah “Terowongan Maut” bisa dianggap cerpen, meski merupakan bagian dari Novel berjudul “Sitoyen Sant-Jean – Antara Hidup Dan Mati” oleh A.Kohar Ibrahim, hlm 129-137; Penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri 2008. Editing: Lisya Anggraini.

Tukang Cuci, 1932

Puisi John Kuan

1932
gambar diunduh dari laman fesbuk John Kuan

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan airnya berpijar keluar
1932, berpijar keluar air kotor sejarah.
Seandainya kau ikut airnya berjalan
ke bawah, mungkin akan bertemu
kincir angin, ampas tebu, mesin giling,
pabrik gula, atau seekor bangau putih
simpan sayap, tutup mata, berdiri satu kaki
istirahat, di atas sebongkah batu bertulis
seperti nisan, seperti prasasti: Phoa Beng Gam

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera
Derap delman lewat, deru oto lewat, gemeretak
roda gerobak, lonceng sepeda. Di dalam gelak
tawa tukang cuci ada busa sabun, keringat basi,
aroma kopi. Di tangan mereka setiap debu
kerah jaman dibilas putih kembali, begitu cepat
seolah tidak bergerak, ketika kau buru-buru
menoleh lihat air merembes keluar 1648
keruh, bau, mampat di dalam bingkai ingatan.

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan dirimu menyusuri cahaya pagi
keluar, tidak lama, kau akan melihat panggung itu
semua topeng dan dekorasi telah dilepas,
yang terlibat ( sutradara tiga, empat orang,
tata lampu satu orang, penulis naskah tidak jelas )
siap siaga, setiap saat bisa dinyalakan.
Bau hangus berputar di dalam lingkaran tahun
tiang-tiang jati gosong, pemain utama sesat
di dalam sebuah notulen rapat: Ni Hoe Kong

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera.
Bertugas monolog berdiri di depan, seperti membaca
sebuah puisi; mimik, hematku, secukupnya saja.
Musik latar, diatur sesuai kecepatan memori
Angin meniup turun beberapa derajat, mengerutkan
permukaan kanal, sepenggal ekor dialog melayang
keluar: seluruh penghuni pecinan telah dibantai!
Dari sebuah bingkai jendela 1740, cahaya lilin
berkedip lewat 1998, masuk menerangi
lubang telinga lembab berjamur

Wanita Itu Bernama Marida #6

Cerbung Willy Wonga

Dan pertanyaanku selama ini akhirnya terjawab. Bahwa mengapa tiba-tiba wanita itu telah berada di rumah tidak lain dari sebuah pertumbuhan kecil pada perutnya.

Aku pernah bilang; wewangian di tubuh Marida sering membuat aku betah berada di dekatnya. Wangi siraman parfum. Sebab saat menciumnya pertama kali aku jadi teringat suatu waktu pernah wewangian macam itu jadi milik kami, aku dan Yohana. Namun semenjak Yohana sudah tidak menjejaki bumi lagi aku pun berusaha melupakan segala kelimpahan surga yang pernah kami nikmati bersama. Aku suka wangi bunga lavender dalam kemasan botol parfumnya, entahlah ini mungkin sebuah kebetulan belaka. Bukan pekerjaan mulia mengusut-usut bau tubuh. Katakan saja Andre yang belikan dia parfum serupa milik Aku dan Yohana dulu. Berarti bukan kebetulan namanya.

Setelah secara menyakitkan gagal menang dalam perang frontal, aku mencetuskan perang dingin sepihak. Lebih-lebih saat-saat hanya aku dan Marida, semisal dia menjemputku usai belajar. Dia jemput dengan sebuah mobil yang tiba-tiba beberapa waktu lalu telah bersanding dengan mobil Andre di garasi. Aku tak mau ambil pusing mengetahui apakah mobil si wanita atau dibelikan Andre untuk dia. Kendati Andre pernah menabung untuk membelikan aku sebuah mobil lain yang sampai hari ini tabungan itu belum cukup juga.

cerita bersambung
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

“Mobil bukan barang mewah, Sayang. Aku akan membelikan satu lagi khusus buatmu.” Demikian katanya pada ulang tahunku, bukan yang kemarin itu, tetapi tiga tahun lalu.

Aku melancarkan diskriminasi terus-menerus selama perjalanan pulang itu. Apalagi Marida sering pula berputar mengelilingi beberapa tempat lebih dulu. Sekedar mengintip keramaian dan kemewahan kota dari balik kaca. Maka kupingnya kujejali sejumlah fitnah dan hinaan.

“Sampai kapan kau berhenti pura-pura jadi Yohana?”

“Maafkan aku jika aku nampak berpura-pura Aleks,” kata-katanya tidak berbelit, namun bagiku tetap kearifan dibuat-buat.

“Kau membohongi Andre bukan cuma dengan kecantikan saja. Rasanya aku lebih mencium kebusukan dari sikap baik seperti yang kau tunjukan.” Aku kunyah coklat di mulut hingga gigiku saling menekan. Gemas. Sadar aku telah sering bertindak kasar, aku tiada peduli. Marida bergeming. Dia pasti heran mendengar kata cela yang sangat pintar dan cekatan terformula oleh bibirku.

“Kau kira kau mampu bertahan setelah aku usir berkali-kali, tetapi bagiku itu tidak tahu malu.”

“Kamu kasar, Aleks. Perkataan macam itu hanya milik orang dewasa yang tidak berpendidikan. Belajarlah menggunakan kalimat yang lebih halus.” Dia tatap aku dan aku balas menantang matanya, sebelum dia memilih menghindar. Di matanya sama sekali tiada kemarahan.

“Kamu menyebabkan aku menjadi kasar, dan menyebabkan semua sikap burukku timbul.”

“Aku janji akan memperbaikinya, Aleks.” Marida pasti bosan beradu oceh, soalnya bicaranya tidak panjang lebar tiap aku menghinai dia.

Sering pula kami berhenti di tempat-tempat penjualan pakaian atau sepatu dan dia menggelontorkan sejumlah dana untuk menambah beban pada lemari pakaian dan rak sepatu. Selalu dia belikan dua. Buat kami berdua. Tetapi sogokan macam mana aku tidak surutkan dengki. Gaun yang dia belikan tak pernah kusentuh, apalagi sepatu.

Aku mengatakan untuk singgah di toko buku. Sebelum aku memaksa, Marida sudah suka rela menelusuri toko-toko yang ada dalam daftar mulutku. Dia tidak kesal, hanya menunggu di mobil sementara aku berlama-lama, pernah sejam lebih, mencari buku terbaik akan aku baca.

“Kamu tidak merasa bersalah?” sadar bahasa dan cara pengungkapan ledakan kemarahanku terkadang sering keluar jalur, aku tetap memaksakan membahasnya. Rasanya tidak cukup dengan bertindak, seperti membiarkan dia menunggu terlalu lama, atau mengusik waktu tidur siangnya dengan memutar penuh volume piano saat jari-jemariku bertingkah tidak setulus hati.

“Karena menyukai Andre? Andre butuh cinta yang berbeda, Aleks. Kamu tidak pantas bersikap mengikat. Dia mencintaimu, kamu mesti tahu itu. Tetapi dia tidak cukup dengan hanya memilikimu. Dia mau ada orang menggantikan tempat Yohana. Kamu tidak boleh berpikir egois.”

“Egoiskah mempertahankan seseorang yang kita cintai? Aku kira egois itu pantas tersemat pada dirimu.” Kami sama-sama wanita dewasa, pikirku, jadi aku terpikir pula kadar pemahaman kami sama.

Pernah sekali aku menghina bahwa dia mau menumpang tenar lewat karir Andre. Wanita itu tersenyum kecut, sejenak menampakan gusar pada raut. Sebelum gusar itu gegas seketika berganti diamnya yang seolah tabah.

“Mainkan sekali lagi Aleks.” Suatu siang Marida berhenti dari kursus memasak otodidaknya setelah mendengar dentingan piano.

“Bagus?” aku terpengaruh akan suara pemujiaannya dan lupa sejenak bahwa bisa saja itu akal bulus. Pura-pura senang.

“Kamu akan melampaui Andre dalam hal memainkan piano. Aku baru tahu kamu sehebat itu, ayo mainkan sekali lagi bagian terakhir tadi!”

“Itu hanya lagu bodohnya il Divo. Aku sudah sering memainkan lagu itu dan tidak ada yang benar-benar istimewa.”

“Siapa itu il Divo?

“Kamu tidak tahu? Setiap orang yang mengenal Andre mengenal musik. Il Divo para gelandang dari italia.” Aku mengoloknya. Menertawakan kebodohan Marida tentang sebuah nama grup musik.

“Mainkan sekali lagi lagu il divo itu.”  Dia bersungguh. Aku makin menertawakan, mengejek dengan memelodikan lagu itu dengan tidak terlalu benar. Tetapi Marida duduk di kursi sebelah dan terpaku mendengar. Kemudian bertepuk tangan.

Marida benar tidak tahu malu. Semakin aku keras mengingkari kehadirannya di rumah dia makin kerasan menghadapiku. Percekcokan kami berlarut-larut, bahkan sekarang aku syukuri Andre sering tidak pulang sampai larut. Dengan alasannya sebagai pencipta lagu. Jangankan hingga larut, hingga subuh seperti sebelum kala dia masih hanya denganku di rumah ini, aku sudah tak peduli. Sebab aku bisa bebas merajam dendam pada wanita itu.

Hmm, terlalu banyak aku bicarakan dendam. Juga terlalu banyak menjual kata cinta. Tapi sebanyak itu pula hatiku merasai keduanya. Cinta hidup berdamping dengan benci yang berbuah dendam. Saat menghabiskan akhir pekan dengan memilih menonton film di bioskop bertiga, aku tersiksa menahan penderitaan batin. Aku dan wanita itu duduk di sisi-sisi Andre. Mereka berbicara sepanjang pemutaran film sementara aku berkesan mendalami cerita di layar. Cemburuku sampai ke ubun-ubun, mungkin akan muncul asap tidak lama lagi dari ubun-ubunku.

Panas hatiku ini. Sesekali Andre menyadari kehadiranku dan memberikan ciuman lembut di pipi. Tetapi tidak seindah biasanya. Tawar dan terlalu basa-basi. Aku curi-curi dengar cakap mereka yang mesra, lalu aku layu lagi oleh nyeri di hati. Aku tahu mereka bicara masa depan. Wanita itu tertawa renyah seenak perut, dia mencuri momen seperti ini membalas semua penghinaan dariku. Dan pembalasan serupa itu sangat menyakitkan. Benar-benar akhir pekan yang memakan hati.

Pada sebulan terakhir ini Andre jarang keluar lagi. Apalagi di malam hari. Meski aku tetap menyebut dia dalam hati sebagai lelaki pulang subuh. Sekedar informasi saja, bahwa kedatangan Marida membuat Andre tidak pernah lagi pulang subuh. Dia jadi terbiasa pulang larut. Entahlah, pasti Andre tidak enak hati meninggalkan wanita itu sendirian sementara perasaanku terabai terus.

Dan pertanyaanku selama ini akhirnya terjawab. Bahwa mengapa tiba-tiba wanita itu telah berada di rumah tidak lain dari sebuah pertumbuhan kecil pada perutnya. Semula tak kuperhatikan, hingga suatu pagi hendak berangkat ke tempat aku belajar, kulihat gundukan samar di balik terusan yang dia kenakan. Kaki tanganku bergeletar. Betapa tidak, ternyata Andre tega berbuat curang. Bukan seorang saja dia datangkan ke rumah tetapi dua. Atau mungkin tiga bila ada dua mahluk lain pada perut Marida. Benar-benar kekejian paling menjijikan. Aku merasa makin tersingkir. Apalagi sebentar lagi Marida akan punya sekutu. Yang akan menggantikan perannya sebagai pengalih perhatian Andre dariku.

Oh, ya, Yohana, wanita berhati malaikat versiku mengajarkan; ketakjuban paling besar adalah ketika menyaksikan sesuatu tumbuh dari yang tak pernah terbayang sebelumnya. Dia mengubur dua buah biji salak di pekarangan, kemudian setiap pagi dia akan melewatkan waktu sekilas dengan memperhatikan pupus-pupus yang mungkin akan tumbuh dari balik gembur tanah. Aku kagum akan keteguhan hati Yohana, betapa dia sangat mengedepankan eksistensi Tuhan ketimbang ilmu pengetahuan. Saat kuncup-kuncup salak pertama kali membuka tirai tanah di atasnya, Yohana ingatkan aku bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menciptakan keajaiban itu. Sains tidak punya penjelasan, menurutnya. Tuhanlah yang memberikan kekuatan menakjubkan pada tanah untuk merespon setiap benih yang ditanam, menutrisinya hingga pertumbuhan dapat terjadi. Aku percaya pada Yohana, hingga kemudian aku mencintai setiap kehidupan. Sebelum Marida turun tangan, akulah orang yang paling peduli pada tanaman di pekarangan itu. Aku kenang-kenang perasaan tak terdefenisi bila menyentuh bebungaan mekar menyeka pagi. Di waktu sebelum Marida datang lalu mendominasi kekuasaanku.

Namun ketika sebuah pertumbuhan lain terbentuk di perut Marida, pertama kali aku mengutuk keajaiban tersebut. Aku tak mau tahu apakah ini sebuah eksistensi Tuhan atau karena masalah sains yang dapat dijelaskan.

 

bersambung…

Baca kisah sebelumnya: Wanita Itu Bernama Marida #5

Mendengar Sehamparan Suara Katak – Mo Yan

Kolom John Kuan
 

Ini adalah kata pengantar novel Katak karya Mo Yan, saya rasa tidak mungkin menerjemah sebuah novel di catatan begini, bagi yang penasaran atau terpancing bisa mencari novelnya.

katak novel mo yanJudulnya diambil dari sebaris puisi Xin Qiji (1140 -1207) Bulan Sungai Barat. Malam Berjalan di Jalur Pasir Kuning. Sebaris puisi Song yang sudah saya kenal sejak kecil. Kenal dan tidak akan terlupakan, karena di dalamnya ada [sehamparan suara katak] yang sangat erat berhubungan dengan kenangan masa kecilku. Bagi yang pernah membaca novel saya, mungkin ingat saya pernah berulang kali mendeskripsikan bunyi katak, tetapi belum tentu tahu saya juga sangat takut pada katak. Orang ada alasan timbul rasa takut terhadap ular berbisa atau binatang buas, tetapi terhadap katak yang berguna buat manusia dan dapat sesuka hati ditangkap seperti tidak ada alasan takut. Namun saya memang luar biasa takut katak. Begitu teringat mata mereka yang melotot dan kulitnya yang basah, saya langsung menggigil. Kenapa takut? Saya tidak tahu. Ini mungkin merupakan salah satu sebab saya mengambil [katak] sebagai judul novel ini.
Persis seperti yang digambarkan di dalam novel ini, saya memang ada seorang bibi, seorang dokter kandungan yang telah lama berpraktek. Ada ribuan bayi di kampung kami, Dusun Timur Laut Gaomi yang atas bantuan bibi sampai di dunia. Tentu, juga tidak sedikit bayi, sebelum melihat cahaya, telah gugur ditangannya. Bibi yang di dalam novel dengan bibi di dalam kehidupan nyata, tentu ada perbedaan yang sangat besar. Bibi di dalam kehidupan nyata, hanya merupakan satu karakter awal dalam proses kreatif saya. Dia sekarang tinggal di kampung kami, dikelilingi anak dan cucu, melewati kehidupan yang damai dan tenang. Musim semi tahun 2002, saya pernah menemani penulis Jepang, Kenzaburo Oe pergi mengunjungi dia. Waktu itu saya berkata kepada Kenzaburo Oe, saya ingin menggunakan karakter bibi menulis sebuah novel, Kenzaburo Oe sangat tertarik, bahkan berulang kali bertanya mengenai perkembangan penulisan novel ini.
Musim panas tahun 2002, saya mulai menulis novel ini, waktu itu judulnya adalah [Pil Kecebong], ilham judul ini saya dapat dari sebaris berita di selembar surat kabar tahun 1958: Lelaki dan perempuan, jika sebelum berhubungan badan menelan mentah-mentah 14 ekor kecebong maka bisa mencegah hamil. Orang tidak perlu terlalu mempunyai pengetahuan umum juga bisa membaca absurditas di dalam berita ini, namun pada masa itu, cara ini ternyata bisa sangat populer. Situasi begini sangat mirip dengan [suntik darah ayam], [minum jamur teh merah] yang sangat populer di seluruh Cina beberapa puluh tahun kemudian, saya menyusuri jalan pikiran begini menulis sampai lima belas ribu kata. Namun cara tulis ini tanpa sengaja mengulangi lagi jalan lama yang absurd dan hiperbol itu, apalagi bentuk yang digunakan (dengan seorang penulis naskah drama sedang menonton naskahnya yang dimainkan di atas panggung dan segala kenangan ketika menulis naskah tersebut sebagai plot) juga kelihatan ada kesengajaan membuat penekanan yang berlebihan, oleh sebab itu, naskah novel ini sementara dibekukan, mulai merangkai pikiran dan menulis [Aku Capek Hidup Mati]. Hingga tahun 2007, kembali menghidupkan tungku, menulis buku ini, bentuknya diubah menjadi surat-menyurat, dan judulnya disederhanakan menjadi [Katak]. Tentu, saya tidak akan puas dengan narasi datar dan lurus menceritakan kisah ini, oleh sebab itu, bagian kelima buku ini menjadi sebuah naskah drama yang sedikit bersepuh warna magis yang bisa saling melengkapi dengan novel ini, semoga pembaca dapat merasakan kesungguhan saya dari dua bentuk penulisan yang berbeda ini.
Keluarga berencana di Cina Daratan, selama tiga puluh tahun pelaksanaannya memang nyata telah memperlambat pertumbuhan penduduk, namun di dalam proses melaksanakan [kebijakan dasar negara] ini, juga memang telah terjadi banyak kasus yang memerahkan mata dan mengerutkan hati, terhadap ini, media Barat banyak melakukan penilaian, namun seandainya ingin secara mendalam investigasi keadaan yang sesungguhnya, maka akan sangat sulit mempunyai sebuah kesimpulan yang tegas. Masalah Cina sangat rumit, masalah keluarga berencana Cina lebih rumit, hal ini menyentuh politik, ekonomi, hubungan manusia, moral dan sebagainya, walaupun tidak berani mengatakan kalau sudah mengerti masalah keluarga berencana di Cina berarti sudah mengerti Cina, namun jika tidak bisa mengerti keluarga berencana di Cina, maka tidak usah bermulut besar mengerti Cina.
Beberapa tahun ini, persoalan mengenai kebijakan satu anak dilanjutkan atau tidak, telah mengundang perdebatan sengit. Banyak tulisan-tulisan dalam rangkaian perdebatan ini adalah dari tokoh-tokoh masyarakat, dan tulisan-tulisan ini umumnya juga dimuat di media-media utama. Apalagi di internet, perdebatan persoalan ini telah menutup separuh langit. Dari ini bisa kelihatan, introspeksi dan penelitian terhadap keluarga berencana, telah menjadi sebuah topik pembicaraan paling panas. Dan dengan makin dalamnya [Kebijakan Perubahan dan Keterbukaan], dengan arah perubahan ekonomi komunitas menuju ekonomi individu, dengan berpuluh juta petani mendapat kebebasan berpindah dan mencari kerja, keluarga berencana sesungguhnya hanya tinggal nama saja. Petani dapat berpindah melahirkan, curi-curi melahirkan, dan orang kaya dan pejabat korup rela didenda atau cari isteri muda, dengan terbuka, sesuka hati melampaui keluarga berencana, memuaskan harapan mereka meneruskan garis keturunan atau mewarisi harta keluarga. Mungkin cuma tinggal pegawai-pegawai negeri yang bergaji kecil saja yang masih mengikuti kebijakan satu anak ini, pertama adalah mereka tidak berani bermain-main dengan periuk nasinya, kedua adalah tidak dapat menanggung biaya pendidikan yang mendaki setinggi matahari tengah hari, sekalipun diberi kesempatan melahirkan anak kedua, mereka juga tidak berani.
[katak] saya ini, melalui penggambaran hidup bibi, telah mempertontonkan sejarah beberapa puluh tahun keluarga berencana di pedesaan, juga tidak menghindari menyingkap kekacauan masalah kelahiran di Cina masa kini. Langsung menghadapi persoalan masyarakat yang sangat sensitif adalah satu keteguhan saya sejak mulai menulis, sebab roh sastra masih harus menaruh perhatian kepada manusia, menaruh perhatian kepada penderitaan, kepada nasib manusia. Dan persoalan sensitif, selalu bisa paling konsentrasi menunjukkan watak manusia. Tentu, menulis persoalan sensitif perlu keberanian, perlu teknik, namun yang lebih diperlukan adalah sebiji hati tulus penulis.
Dalam dunia sastra Cina sekarang, seandainya kau tidak menyentuh persoalan sensitif masyarakat, maka akan ada orang mencerca kau [bersandar dan berteduh ke arah kuasa], [dipelihara pemerintah], seandainya kau menulis masalah sensitif, kembali orang-orang ini akan memaki kau [berkedip mata dengan Dunia Barat]. Ada satu kurun waktu, saya memang sangat hati-hati, takut mendapat sabetan cambuk dari pendekar-pendekar kita yang selamanya benar ini, namun, kemudian saya pelan-pelan mengerti, sekalipun saya tidak menulis satu kata pun, mereka tetap tidak akan membiarkan saya leluasa, sebab sastra saya telah menyentuh luka mereka, karena itu saya menjadi musuh mereka.
Hempaskan orang-orang yang memandang saya sebagai musuh di belakang, dengan langkah lebar dan cepat maju ke depan, melangkah di jalan sendiri. Di bawah panduan hati nurani, memilih bahan-bahan yang dapat membangkitkan daya kreatif saya; di bawah panduan estetika novelku, menentukan bentuk novel sendiri; di bawah panduan semacam kesadaran otokritik yang keras, sewaktu mempertontonkan kedalaman hati tokoh-tokoh cerita juga menguak isi hati saya kepada pembaca.
Setelah selesai menulis buku ini, ada delapan kata yang berat menekan di hati saya, itu adalah: Orang lain ada dosa, saya juga ada dosa.

Kabar Lengkung Pelangi

Fiksi Kilat A.Kohar Ibrahim
KILAT cahya itu sekilat seterang kilat pedang tajam tapi ketajamannya begitu panjang membelah langit berselubung mega biru kehitam-legaman. Cahya belah bedahan yang teriring denyar guruh mengejutkan. Teriring hujan deras seperti air mancur tertumpah dari langit-langit megah yang bolong melompong. Kederasan hujan yang menggugah gelisah resah: apakah banjir akan kembali melanda lembah?
eagle
Elang – karya lukis Abe alias Aki
Seketika sekali lagi pedang cahaya yang besar-panjang luarbiasa itu beraksi pun teriring denyar halilintar menggelegar, sepintas lintas pandang mataku tertumpu tuju pada lembah. Pada jalur jemalur pematang sawah. Akan tetapi hujan deras pun seketika terhenti; gerimis mengganti. Kabut mengikut. ; lalu tersapu sang bayu. Meski langit masih berselimut mega biru kelabu kehitam-legaman, nun jauh di balik puncak gunung berapi yang tertidur, segoresan panjang kaki langit menampakkan kecerahan. Cahya bak pertanda pesan terkesankan : Jangan sampai kehilangan harapan.
Seketika pula aku menghela nafas panjang lega. Iya, selayaknyalah demikian itu begitu. Tanpa pernah kehilangan asa. Sekali pun batu batu ujian ringan pun berat selalu sering jadi penghalang sepanjang jalan. Jangankan dalam perjalanan panjang kehidupan, dari sejarak tempat kediaman hingga di ketinggian lereng di mana aku berdiri ini saja pun berapa kali aku tersandung sandung, nyaris jatuh mencium bumi. Tapi untunglah aku tak terjatuh. Dan hasrat keinginan mendapatkan kabar dari sorang lelaki yang aku sayang tak pernah punah. Sebaliknya malah. Aku ingin sekali menerima kabar darinya. Kabar bagaimana dan di mana kini dia berada sebenar benarnya.
Lagi dan sekali lagi kilat berdenyar guruh menggelegar tapi agak di kejauhan dan gemanya pun semakin jauh semakin lemah kedengaran. Terganti sunyi sepi. Tertinggalkan berkas luas kecerahan di tengah lembah lintang melintang pematang. Cahya dari kaki langit nun jauh di sana dan yang dari celah mega mendung jadi penambah penerang ingatanku serta kangenku pada sorang lelaki. Sorang lelaki yang suka terlentang di pematang sana; hanya mengenakan celana panjang hitam komprang berkaos merah dalu, kadang berikat kepala hitam atau merah pula, jika tidak merah-putih. Itulah makanya, aku pun mengenakan paduan warna yang dia suka. Berkerudung merah marong. Hadiah darinya.
Dia memang penggemar warna warni bervariasi, tetapi busana yang dikenakannya seringkali warna hitam hitam dan merah. Katanya, dulu, bahkan ketika ikut berjuang di Sumatera dan Sulawesi menumpas pemberontakan reaksioner dan bahkan seketika dalam perjuangan pembebasan Irja, busana yang dikenakan pun demikian warna-warninya. Alasannya, katanya, nyaman. Lebih lincah dalam mengayun gerak jejaknya. Sekalipun, ada perkecualiannya; terutama dalam masa genting, dalam perjuangan hidup-mati. Pada saat saat gawat malah dikenakannya ikat-kepala warna dwiwarna. Warna Sangsaka Merah-Putih.
Sekali dan sekali lagi kilat berdenyar guruh menggelegar, meski nampak dan gemanya di kejauhan. Kian jauh melemah lambat lamat. Tapi tak urung, cahya kilat meninggalkan bekas di seberkas pertengahan lembah. Di lintang melintang pematang. Oh, sepertinya aku menampak sosok sorang lelaki yang berbusana sederhana: bercelana panjang hitam komprang berkaos oblong merah dalu berikat kepala merah-putih. Aku buka mata lebar-lebar. Tetapi seketika dia sudah tiada. Seketika aku tutup mulut dengan tapaktangan kananku. Menahan jerit ekspresi kangenku. Hanya untuk mendengar ujar katanya yang pernah dibisikkan ke telingaku: “Kalau dikau sangat rindu, upaya menampak lengkung warna warni di atas puncak gunung. Jika warna merah Pelangi itu cerah, jangan nangis tapi senyum meski meringis miris: aku pasti pulang. Bukan berpulang….”
Dari menutup mulut, tapak tanganku beralih ke sepasang mataku, mengusap basah titik air bening yang tak tertahankan mengalir. Seketika aku nampak benar benarlah warna merah lengkung pelangi itu merahnya cerah. Secerah darah lelaki Sang Pemberani. Kekasihku.

 

27 September 2011

 

A.KOHAR IBRAHIM

Nama lengkap: Abdul Kohar Ibrahim
Nama Pelukis (tandatangan pelukis): Abe

Kelahiran Jakarta 1942.
MULAI kegiatan tulis menulis dalam usia belasan tahun di media massa Ibukota, terutama sekali Harian Bintang Timur, Bintang Minggu (BT Edisi Minggu), Warta Bhakti, Harian Rakyat, HRM (Harian Rakyat edisi Minggu) dan majalah seni & sastera Zaman Baru.
Pada tanggal 27 September berangkat ke Beijing sebagai anggota Delegasi Pengarang Indonesia atas undangan Himpunan Pengarang Tiongkok untuk menghadiri perasyaan Ultah Ke-XVI berdirinya RRT dan peninjauan kebudayaan.
Pernah bekerja di Majalah Tiongkok Bergambar edisi bahasa Indonesia.
Medio 1972, atas kemauan sendiri, bersama beberapa teman meninggalkan RRT, membelah benua dengan keretapi Trans Siberia. Sampai ujung Eropa Barat, Brussel, Belgia.

Menerima pendidikan terakhir di Akademi Seni Rupa — : Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles, Brussel, Belgia.

Alamat:
Belgia : Bruxelles, Belgique.
Indonesia : Batam ; Jakarta, Ciputat Tangerang Selatan, Indonesia.

Penghargaan / Diploma:

(1) Brevet d’Exellence & Diplôme de Fin d’Etude de l’Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles (1975, 1979).
(2) Prix de Gouden Pluim (Spectraal, Gent, 1981).
(3) Médaille d’Argent du Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1987).
(4) Médaille d’Argent de l’Académie Internationale des Arts Contemporains et Diplôme d’Officier (pour reconnaître et protéger sa valeur artistique) 1986.
(5) Médaille d’Or (1987) et Médaille de Platine de l’AIAC (Enghien, 1988).

Biodata. Bibliographie :

(1) Media Massa, antara lain : Le Soir, La Lanterne, La Dernière Heure, L e Pourquoi Pas ? Le Jalon des Arts, Gazet Van Antwerpen, Het Laste Nieuws, De Autotoerist, Sontags Kurier, Cellerche Zeitung. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, KB Antara dan media online: SwaraTV, DepokMetroNet, CybersastraNet, CimbuakNet. Sedangkan buku-buku dan kamus yang memuat biodata, antara lain :
(2) Spectraal Kunstkijkboek VI, éd. Spectraal, Gent 1984.
(3) 50 Artistes de Belgique, par Jacques Collard, critique d’art, éd. Viva Press Bruxelles 1986.
(4) Art Information, éd. Delpha, Paris 1986.
(5) Who’s who in Europe, éd. Database, Waterloo 1987.
(6) Who’s who in International Art, international biographical Art dictionary, éd. 1987-1996, Lausanne, Suisse.
(7) Dictionnaire des Artistes Plasticiens de Belgique de XIXe et XXe Siècles – Editions Art in Belgium 2005.
(8) Artis Peintre Abe Alias A.Kohar Ibrahim dan Karya Lukisnya oleh Lisya Anggraini, Batam, Indonesia 2005.

Exposisi :

Sejumlah eksposisi individual maupun kolektif. Antara lain : Galerie Hendrik De Braekeler (Antwerpen, 1977). Galerie Rik Wauters (Bruxelles, 1977). Galerie Van de Velde (Gent, 1979). Les Arts en Europe (Bruxelles, 1979). Galerie APAC (Schaerbeek, Bruxelles, 1980). Mérite Artistique Européen (Coxyde, 1980, 1987, 1990). Galerie Escalier (Bruxelles, 1980). Spectraal (Gent, 1981). Galerie Gouden Pluim (Gent, 1982). Galerie Erasme (Anderlecht, 1983, 1990). Galerie Schadow (Celle, RFA, 1986). Europa Bank (Gent, 1987, 1988, 1990). 50 Artistes de Belgique (Bruxelles, 1986). A.I.A.C. (Enghien, 1987). Spectraal (Nieuwpoort, 1988). Galerie Het Eeuwige Leven (Antwerpen, 1993). De Kreiekelaar (Schqerbeek 1997). Parcours d’Atistes (Commune de Schaerbeek, 1998). En Modus Vivendi (Oude Kerk, Vichte, 2003). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2004). Museum Haji Widayat (Magelang, Indonesie, 2004). Galeri Novotel (Batam, Kepri, 2006). Ruang Expo Balaikota Hotel Communale de Schaerbeek, Brussel 2007. Guilliaum & Caroline Gallery, Bruxelles 2008.

Sebagai Penulis:

Sebagai penulis, A. Kohar Ibrahim mulai banyak menulis prosa dan puisi serta esai atau kritik sastra dan seni sejak akhir tahun 50-an di beberapa media massa Ibukota, antara lain Bintang Timur, Bintang Minggu, HR Minggu, Warta Bhakti dan Zaman Baru. Setelah Era Reformasi, berkas-berkas karya tulisnya ada yang disiarkan di media massa cetak dan online. Anatara lain : Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, Majalah Gema Mitra, Majalah Budaya Duabelas (Penerbit : Dewan Kesenian Kepri), Cybersastra, Depokmetro.com, Swara.tv, Bekasinews.com, Art-Culture Indonesia, Multiply.
Dari tahun 1989-1999, selama sedasawarsa mengeditori terbitan yang tergolong pers alternatip, terutama sekali berupa terbitan Majalah Sastra & Seni « Kreasi » ; Majalah Budaya & Opini Pluralis « Arena » dan Majalah Opini « Mimbar ».

Sejumlah esai seni-budayanya, antara lain :

(1).“Sekitar Tempuling Rida K Liamsi », telaah buku kumpulan puisi Rida, terbitan Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.
(2).« Identitas Budaya Kepri », kumpulan esai bersama, terbitan Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005.
(3).« Kepri Pulau Cinta Kasih », kumpulan esai berddua dengan Lisya Anggraini, Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam 2006.
(4).« Catatan Dari Brussel : Dari Bumi Pijakan Kaum Eksil »
(5).« Sekitar Tembok Berlin : Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas »
(6).« Hidup Mati Penulis & Karyanya : Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008-09.
(7).”Sekitar Prahara Budak Budaya”.
(8).« Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis ».

Buku dan atau kumpulan tulisan bersama berupa kucerpen dan kupuisi, antara lain :
(1).Kumpulan cerpen « Korban » , penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, 1989.
(2).Kumpulan puisi « Berkas Berkas Sajak Bebas », penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N° 37 1998.
(3).Kumpulan esei bersama : « Lekra Seni Politik PKI », Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N° 10 1992.
(4).Kumpulan sajak bersama : « Puisi », Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 11 1992.
(5).Kumpulan esei bersama : « Kritik dan Esei », Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 14 1993.
(6).Kumpulan cerpen bersama: « Kesempatan Yang Kesekian », Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 26 1996.
(7).Kumpulan sajak bersama : « Yang Tertindah Yang Melawan Tirani » I, Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 28 1997.
(8).Kumpulan sajak bersama : « Yang Tertindas Yang Melawan Tirani » II, Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N° 39 1998.
(9).Kumpulan sajak : « Di Negeri Orang », penerbit Yayasan Lontar Jakarta & YSBI Amsterdam, 2002.
(10).Kumpulan tulisan bersama: Antologi Puisi Cerpen Curhat Tragedi Nasional 1965-2005, penerbit Sastra Pembebasan & Malka, 2005.
(11).Novel : « Sitoyen Saint-Jean – Antara Hidup Dan Mati », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008.
(12).Kumpulan puisi : « Untukmu Kekasihku Hanya Hatiku », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008-09.
(13).Kumpulan cerpen berdua Lisya Anggraini-A.Kohar Ibrahim : « Intuisi Melati », penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, 2008-09.

Yang belum atau dalam perencanaan untuk dibukukan : Berkas berkas naskah kumpulan esai seni budaya, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, Nota Puitika (sebanyak 700-an) dan lain sebagainya lagi.

SEGERA TERBIT:

(1).Kumpulan 30 Cerpen A.Kohar Ibrahim: “Seusai Badai & Korban”.
(2).Kumpulan 40 Esai Sastra: “CdB Dari Bum Pijakan Kaum Eksil.”
Penerbit: Titik Cahaya Elka, Batam Kepri. Editor: Lisya Anggraini.
 
Catatan : Nama asli, alias dan samaran. Sejak mulai melakukan kegiatan tulis menulis medio tahun 50-an, sebagai tanda-tangan digunakan nama asli A.Kohar Ibrahim atau lengkapnya : Abdul Kohar Ibrahim. Tanda-tangan untuk semua karya lukis : Abe. Sedangkan nama samaran atau pen-name : Aki, A. Brata Esa, Rahayati, Bande Bandega, DT atau Dipa Tanaera (Dipa Tanahaer Rakyat).

Hujan

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

 

“Kalau pun saya masih menulis puisi, karena puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil (Wiji Thukul)”

Tinta
 
Kisah yang tak pernah mati
Dalam beribu kertas bertuliskan kisahnya
Sepatu pun tak ubahnya jadi dinding-dinding yang bersuarakan keras
Batu-batu hinggap di petilasan para kaum hartawan
Angin pun menempel dalam berbagai kisah yang tak diinginkan
Kini, ia merubah semua jadi nyata
Bahkan nanti, ia merubahnya jadi tiada –

 
kumpulan puisi arif syaifudinSebait puisi sebagai awalan untuk kita mengenali pengarangnya. Arif Saifudin Yudistira dalam bait puisinya ini menyapa para pembaca dengan satu baris dari bait puisinya, yaitu Kisah yang tak pernah mati. Memperkenalkan diri sebagai seorang individu yang tak mengenal kematian. Menjadikan dirinya sebagai seorang yang memiliki paham eksistensialisme. Menjadikan dirinya sebagai seorang penyair yang mampu merekam setiap peristiwa yang dilihat, hingga kematian bosan menjemput kisahnya. Hingga sampai pada saatnya, kematian menjemput kisah itu, membuatnya tiada secara ragawi, namun aromanya masih tertinggal. Arif Saifudin Yudistira sebagai penulis buku ini juga tercatat sebagai seoarang aktivis yang juga aktif menulis di berbagai media. Membuat jiwa sosialnya benar-benar diasah dan diuji keloyalitasannya.
Hujan di Tepian Tubuh layaknya deras air yang selalu membasahi tubuh. Air yang selalu memberikan kesejukan, meskipun kadang air itu menimbulkan keresahan karena derasnya air itu. Air bisa menjelma menjadi banjir yang memporak-porandakan, atau justru memberikan kehidupan di kolam-kolam yang kekeringan. Bagi AS. Yudistira bait puisinya layaknya hujan-hujan yang selalu memberikan kesegaran bagi para pembacanya, meskipun kata-katanya tajam dan menusuk. Namun, rupanya puisi-puisinyalah yang mampu membangkitkan kesadaran atas status quo yang telah lama dinikmati sebagian dari kita. Tak jarang puisi-puisi inilah yang ditakutkan akan menciptakan banjir kegelisahan bagi mereka yang telah lama beromantisme dengan kenyaman.
Kumpulan puisi Hujan di Tepian Tubuh ini menjadi kumpulan puisi yang tidak saja berkutat pada romantisme remaja, kita akan temukan di dalamnya kisah dengan Tuhan-Nya, bahkan buku ini memuat tentang dunia perpolitikan. Sebagaimana yang diungkapkan Han Gagas, penulis buku Sang Penjelajah Dunia dan Tembang Tolak Bala, ia mengungkapkan; “AS. Yudistira, besar dari jaman yang benderang namun puisinya juga menyembulkan kegelapan. Semburan orasi aroma politik, kegelisahan, sosok ibu, pertemuan, cinta, dan keperihan hidup mewarnai puisi-puisinya……
Sebuah kata “perlawanan” bagi penulis yang pernah menjabat sebagai Ketua DPM UMS ini bukanlah sesuatu yang menakutkan. Perlawanan baginya adalah sesuatu yang harus disuarakan. Aroma perlawanan ini akan kita temukan pada puisinya berjudul Titik (8) ……Aku ingin menciptakan titik, tapi bukan akhir, hanya tanda untuk mengakhiri setiap pertikaian, Untuk menutup segala kenangan kelam, dan untuk memulai zaman terang. Ia seolah ingin menegaskan bahwa titik bukanlah pertanda berakhirnya sebuah perlawanan. Titik yang pada umumnya sebagai sebuah pemberhentian, dijadikan oleh dirinya sebagai sebuah tanda jeda untuk berfikir.
Menggunakan jeda sebaik mungkin untuk berfikir membuatnya selalu menemukan hal baru. Hal baru inilah yang selalu tersimpan sebagai sebuah misteri. Seperti yang dituliskan oleh pria kelahiran 30 Juni 1988 ini dalam puisinya Dilema (5) Aku memburu misteri, misteri yang tak kunjung usai hingga hari ini, Aku mengaji, setiap detik yang kita alami, aku hilang…/Ketika mata mulai terbuka,/Kutemukan tubuhku telah bersamanya, Meski tubuhku yang lain meronta. Secara halus ia ingin mengatakan pada para pembaca bahwa misteri baginya bukanlah sesuatu yang menakutkan. Melainkan sesuatu yang penuh tantangan ketika ditelusuri, hingga tanpa sadar misteri itu terpecahkan. Walaupun fakta yang ada di dalamnya selalu menyakitkan beberapa pihak. Namun itulah cerminan titik-tik air yang selalu deras ketika hujan turun di atas payung, dingin menusuk namun menyejukkan untuk dinikmati.
Realita dan kekejian di tengah masyarakat menuntut sang penyair untuk bergerak dengan kepekaan sosialnya. Begitu juga dengan kemampuan penulis dalam merekam setiap peristiwa yang dijumpainya. Permainan kata-katanya membuat orang tergelitik untuk menguak makna di dalam puisinya. Dengan kumpulan 70 Puisi AS. Yudistira, penulis mampu mewakili dirinya sebagai seorang seniman yang peka akan kondisi di sekitarnya. Realita buruk kondisi sosial-politik di tengah masyarakat yang kemudian kita kultuskan menjadi sebuah kekejian, tak akan berarti apa-apa tanpa adanya keberanian menyuarakannya kembali di tengah masyarakat.
Dari buku ini kita bisa mengenal bagaimana sesungguhnya kita sebagai manusia, mengenal diri kita, juga mengenal lingkungan kita. Bahkan mengenal Tuhan kita tanpa harus mengesampingkan ego kita dalam mengenal Tuhan kita. Menafsirkan tiap sajian puisi yang tertuliskan dalam buku ini, hingga sampai taraf kita mengerti akan arti yang sesungguhnya. Hal ini tidak bertanda bahwa pengetahuan akan pemaknaan buah pikir yang tertuang dalam bentuk puisi harus paripurna. Namun kita bisa jadikan buku ini sebagai pemantik awal menuju pengetahuan yang lebih luas.
Hujan di Tepian Tubuh bukanlah hujan yang selalu membuat tubuh menggigil kedinginan. Namun, hujan di sini adalah kumpulan keindahan beningnya butiran-butiran air yang memberikan kesejukan bagi tubuh yang merasa. Kumpulan puisi dalam buku ini menjelma menjadi hujan dengan keindahan butir-butir sajian kata dalam bait puisi. Hujan ini menjadi fatamorgana keindahan Hujan yang sesungguhnya dalam kumpulan buku puisi ini.
 
kumpulan puisi arif syaifudinJudul buku: HUJAN DI TEPIAN TUBUH
Penulis: Arif Saifudin Yudistira
Penerbit: Greentea
Harga: Rp. 30.000
Tahun: September 2012
Tebal: xxii + 70 halaman
ISBN: 978-602-98704-0-2

 

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi Semester 5 Universitas Muhammadiyah Surakarta, aktif sebagai asisten laboratorium.

Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

Kabar Budaya – RetakanKata

festival blog sastra indonesiaMendasarkan pemikiran yang ada di sini dan menyadari bahwa setiap pemikiran dalam upaya menumbuhkembangkan seni dan sastra Indonesia adalah berharga maka RetakanKata menyelenggarakan Festival Blog Sastra Indonesia.  Untuk FBSI kali ini khusus diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap pelajar dan mahasiswa yang secara mandiri menuliskan karya-karyanya di blog. Untuk FBSI yang bersifat umum, kami menunggu kalau sudah ada sponsornya. Yang berminat menjadi sponsor FBSI untuk umum, silakan menghubungi Redaksi RetakanKata.

Untuk mengikuti festival ini, simak ketentuan-ketentuan berikut:

Kriteria Peserta

  • Pelajar dan atau Mahasiswa warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.
  • Usia peserta antara 17 – 30 tahun.
  • Memiliki blog pribadi yang berusia minimal 3 bulan.
  • Sudah menjadi follower RetakanKata. Jika belum, sila daftarkan dulu blog atau user email pemilik blog sebagai follower blog yang ada di sidebar blog RetakanKata. (Perhatikan: follower blog bukan follower di facebook atau twitter)

Kriteria Blog

  • Blog mengandung unsur tema seni dan budaya Indonesia (tidak terbatas pada seni tulis saja). Blog yang –minimal-, memuat puisi, cerpen atau otobiografi, diperbolehkan ikut serta.
  • Blog bersifat pribadi dan mandiri. Artinya blog bukan merupakan bagian dari blog keroyokan atau blog yang diisi oleh banyak orang.
  • Tidak ada batasan dalam penggunaan platform blog (wordpress, blogspot, blogger, multiply.)
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mendaftarkan satu blog.

Ketentuan Umum dan Tata Cara

Peserta mendaftarkan blog yang diikutsertakan festival blog sastra Indonesia dengan tata cara sebagai berikut:

1)      Kirim surel (email) dengan subyek “DAFTAR FBSI_NAMA” ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri:

a)      identitas diri (copy/scan) kartu identitas pelajar/mahasiswa

b)     nama dan alamat blogmu, logo atau image Blog (ukuran maks 400×400) dan slogan (tagline) atau deskripsi blogmu (maksimal 120 kata). Buatlah sebagus-bagusnya sebab deskripsi blogmu akan ditampilkan di laman FBSI.

2)      Lakukan reblog atas artikel festival ini dan pasang banner FBSI di laman depan (frontpage) blogmu.  Jangan lupa mentautkan banner dengan alamat link yang mengarah ke laman (page) FBSI.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
https://retakankata.com/fbsi/

3)      Jika proses pendaftaran di atas sudah purna, maka logo dan deskripsi blogmu akan ikut tampil di laman FBSI.

Keuntungan yang Didapat

  • Memperkenalkan blogmu pada pembaca yang lebih luas
  • Kamu bisa saling tukar menukar link dengan sesama pecinta sastra
  • Menambah kenalan para pecinta seni dan budaya dari seluruh Indonesia
  • Dan tentu saja, yang beruntung akan mendapat hadiah atau uang pengembangan blog sebagai berikut:
  1. Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,-
  2. Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,-
  3. Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,-
Kriteria Penilaian

Penilaian blog akan ditentukan dengan menggunakan gabungan cara-cara berikut:

  1. Penilaian juri independen
  2. Popularitas (rating) dan pendapat atas blogmu di laman FBSI. Gunakan hashtag #festivalblog untuk mengundang kawanmu di twitter dan google plus untuk memberi komen dan memberi rating logo blogmu di laman FBSI.

Untuk mengetahui rating dan pendapat, kamu dapat klik logo blogmu di laman FBSI.

  • FBSI akan dimulai sejak 16 Desember 2012 dan ditutup pada 10 Januari 2013.
  • Periode penilaian dimulai sejak 10 Januari 2013 sampai 10 Februari 2013.
  • Target pengumuman lomba tanggal 14 Februari 2013.

Contoh tampilan festival blog akan seperti Galeri Foto. Jika logo atau foto yang ditampilkan di-klik, maka akan tampak gambar diperbesar.

Di gambar tersebut terdapat tombol komentar, reblog dan suka. Kawanmu bisa memberi rating suka dan meninggalkan balasan di ruang komentar -di bawah nama gambar-. Jadi, tunggu apa lagi, ajak kawan-kawan bloger memperkenalkan blog-blog sastra di seluruh Indonesia melalui Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

Sekerat Roti Sepiring Nasi Lanskap Curahan Hati Nurani

Puisi A. Kohar Ibrahim

(1)
Sekerat Roti 
Lanskap Curahan Hati
 
subhanallah
betapa pun adanya
betapa pula indahnya
bangun pagi nikmat lezat
hela nafas lega hirup udara
meski sejuk dingin empat drajat
gugah kangen pertiwiku amat sangat
syukur alhamdulillah ragam rasa tercurah
nikmati secangkir kopi sekerat roti pula buah
kreativitas saudara dan saudari pertiwiku tercinta
sajian tersaji kreasi puisi lanskap alami pula insani
silvie ditha audna – imron tohari – hafney maulana
begitupun tak urung warta cerita penimbul murung
dalam gambar gambaran pamer pamor penggede
oh gede-gadangnya perut telanjang kelewat kenyang
rupa gaya rupanya bagai penari perut penghibur bar
mata jalang cuma ‘tuk pelampiasan pawang uang
aduhai! petinggi penggede perut besar-gadang
kegemaranmu memang sekitar bar bar barbar
tinggi-gede tapi cuma seperti kantong nasi!
kontras dengan pemimpin pejuang sejati
sehidup semati dikancah revolusi 
sehidup semati proklamasi
kemerdekaan bangsa
berdirinya r.i.
duhai!
peggede-petinggi 
gede-besar-gadang-tinggi
tak sepadan pertanggungjawaban
jika negeri negara kaya tapi rakyat melarat
sejak jabang bayi kekurangan gizi nyaris mati sekarat
sedangkan kaum pawang uang seperti kalian keliaran
seperti ular seperti buaya seperti tikus kecil besar
dalam pesta selingkuh melestari budaya orba
dalam rimba gedung pencakar langit 
hotel hotel berbintang bintang
karavan sedan sedan
edan sungguh
zaman
edan
penggugah gugat rasa dan pikiran terheran heran
selagi aku sarapan pagi secangkir kopi sekerat roti
seraya menikmati sajian kreasi puisi teman kawan
*
(14.12.2012)
*
 
(2)

Sepiring Nasi

Nasi
Nasi Nasi
Nasi Atau Kah Roti
Sepiring Nasi Sekerat Roti
Pertanda Harkat Rezki Didapat
Apakah Di Tunisia Kalkuta Atau Jakarta
Tuntutan Rakyat Sederajat Tak Sudi Melarat
Tak Mau Terbelenggu Kegelap Pengapan
Tak Sudi Kembali Ke Alam Perbudakan
Memeras Keringat Nafkah Didapat
Namun Kian Langka Kian Susah
Di Rimba Gedung Tinggi Pun
Kian Banyak Kisah Resah :
Mesti Jibaku Rebutan
Sisa Sisa Makanan
Semakin Banyak
Tukang Nyiping
Hanya Makan
Nasi Aking !
Oh Ibu Ibu Pak Bapak
Oh Ibu Kota Ibu Derita Sengsara
Semakin Padat Rakyat Hidup Melarat
Kilau Menyilau Galau Pergulatan Sengit
Di Tengah Rimba Gedung Pencakar Langit
Duhai ! Tuan Puan ! Jika Semua Tersumbat
Lapar Dahaga Bisa Berubah Bencana Murka
Seperti Gempa Tsunami Ledakan Merapi !
Rakyat Perlu Demokrasi Pun Sepiring Nasi
(15 .01.2011)
*
Catatan :
Nasi Aking – nasi rebus asal nasi sisa yang setelah dicuci dijemur kering.
Tukang Nyiping – pemungut-pengumpul butir-butir beras yang tercecer di jalanan.
Kemiskinan Pengangguran di Indonesia diperkirakan sekitar 70.000.000 jiwa.
Lanskap: pemandangan. Karavan: kafilah
Budaya OrBa: Budaya Dusta & KKKN.

~diunggah oleh RetakanKata~

Ketika Entah

Puisi Ragil Koentjorodjati

Benarkah ini musim panen?
Bertumpuk surat tanpa alamat. Tentang senja jatuh di pematang,
Kelopak bunga jagung dan juga ingatan
:kita begitu damai, katamu.
Selembar selembar surat kaukirim,
Kepada siapa saja yang bersedia menerimanya
Masih saja ada yang kurang.

:Sepertinya benar ini musim panen.
Desismu tak lagi ragu,
di tengah hujan engkau menari,
Menari dan terus menari. Tanpa henti.

~diunggah oleh RetakanKata~

Karena Setiap Kata Punya Makna