Transaksi Lewat Internet: Ini yang Harus Diperhatikan

Akhir-akhir ini berita penipuan berkedok investasi emas kembali ramai. Dikatakan kembali ramai karena pada tahun-tahun sebelumnya, penipuan serupa sudah banyak diungkap, tidak saja soal investasi emas, tetapi juga investasi lain semacam forex, saham atau bahkan pertambangan. Mungkin kali ini menjadi lebih ramai karena penipuan membawa label halal dari MUI.

Sebuah stasiun televisi swasta membahas secara berlebihan penipuan kali ini dengan memberi tips-tips yang saya duga mengambil dari blog-blog di internet. Pembahasan melebar, bukan pada persoalan investasi namun pada persoalan internet atau bisnis online. Dengan mengutip tips-tips yang ada di blog yang di-capture ini, penjelasan dari siaran televisi swasta tersebut perlu mendapat penjelasan tambahan.

penipuan-berkedok-investasi

Tentu tidak semua yang menggunakan website gratis pasti penipuan. Tidak selalu juga yang menggunakan domain dot com (.com) atau dot co dot id (.co.id) bukan penipuan. Penipuan bisa saja terjadi, namun hal-hal ini perlu diperhatikan, seperti website gratis, jejaring sosial ataupun blog-blog gratis. Harus dicatat juga bahwa sistem online (website) dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya cyber crime.

Jika ditinjau dari tingkatan keamanan secara sistem, maka urutan sederhananya sebagai berikut:

Website dengan fixed address. Yang dimaksud fixed address bukanlah nama yang tertampil di layar komputer seperti misalnya http://retakankata.com, tetapi rangkaian angka internet protokol (IP), misalnya 25.215.113.001, yang sifatnya tidak berganti-ganti. Ciri yang bisa dikenali jika suatu website menggunakan fixed address adalah Anda dapat membuka internet  dengan menggunakan https:// Huruf s terdapat di belakang http merupakan kependekan dari secure, artinya Anda masuk secara aman. Hal ini penting jika Anda masuk (login) ke suatu situs, misal situs jejaring sosial facebook, usahakan menggunakan https://facebook.com agar data yang Anda tuliskan aman.

Kaitan fixed address dengan dunia nyata adalah bahwa fixed address diberikan kepada orang atau perusahaan yang memiliki identitas jelas dan dapat diverifikasi. Penyalahgunaan mungkin saja terjadi seperti misalnya pemalsuan identitas, namun konsekwensi dari tindakan ini lebih berat daripada menggunakan website gratisan. Jika Anda masih kurang yakin dengan fixed address, ada banyak perangkat lain yang disediakan seperti misalnya sitelock. Sitelock diberikan kepada pemilik website yang  telah memverifikasi identitas, termasuk nomor dan alamat tinggal. Contoh sitelock dapat dilihat di http://bukuonlinestore.com.

Website dengan fixed address tidak selalu berekor .com atau .co.id. Ia bisa menggunakan domain .net, .biz, .us dan sebagainya. Yang harus Anda pegang jika bertransaksi keuangan (misalnya menggunakan kartu kredit, paypal, atau mengirim data personal) adalah pastikan Anda dapat login menggunakan https.

Setingkat lebih rendah dari fixed address adalah website dengan share hosting. Sederhananya, website ini memiliki nama yang tetap tetapi tidak memiliki angka internet protocol (IP) yang tetap. Ciri yang langsung bisa dikenali adalah jika Anda mencoba login menggunakan https, maka Anda akan mendapati peringatan yang secara umum meminta Anda untuk verifikasi kebenaran sertifikat keamanan alamat website atau Anda akan dibelokkan ke http. Hal ini bukan berarti tidak aman. Verifikasi yang diminta adalah Anda memasukkan website tersebut ke daftar website yang bisa dipercaya dalam browser Anda. Blog-blog berbayar pada wordpress atau blogspot adalah contoh dari jenis website ini.

Setingkat lebih rendah lagi adalah blog gratisan. Yang dimaksud blog gratisan adalah blog yang menumpang pada suatu situs internet tanpa membayar dan tidak ada batasan siapa saja yang dapat membuat blog gratisan. Blog gratisan ini bisa juga beralamat semacam website, misalnya websitemu.com. Sepintas muka tampak sama dengan website berbayar. Hal ini menjadi celah yang dimanfaatkan penipu untuk membuat banyak blog gratisan. Mengapa penipuan banyak menggunakan website gratis? Jawabannya sederhana, sebab mereka tidak mendapat kewajiban untuk melakukan verifikasi dan tidak rugi jika hendak menghapus sewaktu-waktu.

Beberapa situs internet menambahkan fitur tertentu untuk mencegah penipuan lewat internet. Sebagai contoh, blog gratisan tidak dapat digunakan untuk software e-commerce. Kaskus menggunakan sistem rating untuk para penggunanya.  Semakin baik rating seseorang, maka transaksinya semakin dapat dipercaya. Situs Berniaga,com menggunakan sistem premium member. Dan BukuOnlineStore.com menggunakan sistem premium blog yang bisa dilihat di Lapak RetakanKata.

Setingkat lebih rendah dari blog gratisan adalah jejaring sosial gratisan.

Selain menggunakan website gratisan, para penipu biasanya menggunakan banyak akun jejaring sosial dan memiliki banyak identitas yang berbeda. Dengan banyak blog gratisan dan akun jejaring sosial, mereka setiap saat dapat menghapus salah satu dan menggunakan akun yang lain untuk beroperasi.

Maka, sebelum bertransaksi lewat internet, entah investasi, jual beli barang atau jasa, email-email spam, lowongan kerja,  atau bahkan perlombaan, setidaknya perhatikan hal-hal berikut untuk keamanan Anda:

  1. Periksa website dengan mengacu panduan di atas. Semakin rendah tingkat keamanannya, semakin tinggi kemungkinan Anda menjadi korban cyber crime.
  2. Periksa apakah memiliki banyak website gratisan atau tidak, apakah sering berpindah-pindah alamat website atau tidak, apakah memiliki banyak akun yang berbeda-beda atau tidak.
  3. Periksa apakah memungkinkan untuk kontak langsung dengan pemilik website.
  4. Periksa seberapa banyak komplain terhadap website atau pemilik website. Anda bisa menggunakan google untuk mengetahui track record suatu produk, seseorang, panitia, penyelenggara atau perusahaan.
  5. Periksa apakah ada kontrak tertulis yang bisa dipegang.
  6. Pastikan Anda memperoleh jaminan dari setiap hal yang Anda lakukan.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sistem di internet dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya cyber crime. Penipuan lewat internet bukan persoalan gratis atau tidak gratis. Kita tahu banyak blog gratis yang memberi sumbangan pada orang lain. Dan Anda tahu juga, penjahat selalu selangkah lebih maju dari yang lain. Tidak ada salahnya melengkapi diri dengan kewaspadaan.

Gunakan internet secara sehat!

Mary, Mary, Godwin, Shelley #1

Kolom John Kuan

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Mary Shelley adalah isteri sang penyair, Shelley. Nama lengkapnya adalah Mary Wollstonecraft Godwin Shelley. Seuntai nama yang begini panjang, di antaranya (Godwin) berasal dari nama ayahnya, (Wollstonecraft) berasal dari nama ibu kandungnya. Baru lahir sepuluh hari, ibunya sudah mati; ayahnya demi mengenang isteri, seuntai nama panjang ini langsung diberikan kepada putri kecilnya.

~

Mary Wollstonecraft Godwin Shelley sangat berbakat, mandiri dan berpendirian seperti suaminya, juga menulis banyak buku. Dia adalah perempuan yang memukau, sungguh. Namun, seandainya ingin benar-benar mengenal dia, kita perlu terlebih dahulu mengenal ibunya, Mary Wollstonecraft, penulis, pemikir, pengagas dan aktivis gerakan emansipasi, seorang perempuan yang luar biasa begini. Mary Wollstonecraft di ujung abad ke delapan belas Masehi sudah sangat jelas mengetahui betapa brutal dan hipokritnya masyarakat yang dikuasai lelaki; dia tahu lelaki meminta perempuan patuh, tergantung, inferior, tidak ambisius, tidak lebih hanya karena lelaki egois dan lemah. Cita-citanya adalah pada kemandirian, menciptakan karier, sebab itu dia terus bekerja, menulis novel, menulis buku politik, bahan kuliah, catatan perjalanan, opini, dan kritik sastra, menganjurkan sebuah landasan yang memiliki kebebasan yang sesungguhnya untuk membangun sebuah masyarakat yang benar-benar demokratis.

Tahun 1792 Mary Wollstonecraft menerbitkan Vindication of the Right of Woman, berpendirian bahwa hanya ketika perempuan memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang sama, dapat bebas memilih pekerjaan, dan memiliki sebagaimana umumnya hak rakyat di atas bumi, baru mungkin ada masyarakat yang demokratis dan bermoral. Para penggagas dan aktivis gerakan feminisme di ujung abad ke dua puluh Masehi umumnya kenal dengan Mary Wollstonecraft sebagai perintis gerakan mereka.

Mary Wollstonecraft sering seorang diri mengunjungi berbagai tempat, dalam maupun luar negeri, dan pada masa itu seorang perempuan melangkah sendiri di jalan saja bisa menjadi gunjingan. Dia mendukung Revolusi Perancis, berharap perubahan di Paris suatu hari akan mempengaruhi London, memicu demokratisasi di Inggris.

~

 Satu tahun setelah Vindication of the Right of Woman terbit, William Godwin menerbitkan sebuah buku ajaib yang menganjurkan rasionalitas, pendidikan umum, dan ingin pemerintah sedapat mungkin tidak mengatur: Enquiry Concerning Political Justice, mengundang reaksi yang sangat besar. Setahun kemudian, Godwin menerbitkan sebuah cerita detektif. Ada orang percaya Godwin adalah Bapak Cerita Detektif Inggris. Namun cerita detektif bukan ditulis buat menggosok waktu, bagi Godwin, ditulis buat menyindir keadaan sosial masa itu.

Mary Wollstonecraft dan William Godwin saling tertarik, sangat pasti, bisa dibayangkan, dan keduanya sama-sama menolak institusi perkawinan. Mary Wollstonecraft samasekali tidak ragu, sebelum dirinya dan Godwin saling mencintai, dia telah melahirkan seorang anak perempuan dari hubungan dengan seorang lelaki dari Amerika Serikat bernama Imlay, menurut cerita, dia melahirkan anak perempuan ini karena pandangan politik lelaki tersebut searah dengannya; tujuan? Untuk membuktikan perkawinan sah adalah sangat tidak berarti.

~

 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley, isteri sang penyair, sejak kecil hidup di dalam lingkungan begini, segala macam pendapat termasuk dari pemerintah dengan ibunya sebagai salah satu contoh dosa pembaharu ekstremis, seringkali melecutnya. Ayahnya, William Godwin, duduk di ruang tengah rumah tua yang penuh lemari buku, mengenang kecantikan, kebaikan, kepintaran dan keberanian isterinya. Mary kecil selalu berlama-lama duduk mendengarnya, mendengar ayahnya menceritakan kisah ibunya yang dia tidak pernah bertemu, tersentuh, sepenuh hati; mendengar sahabat-sahabat ayahnya, Coleridge, William Hazlitt, Charles Lamb, berbincang politik, sastra, dan filsafat, bahkan sering mengungkit -rupanya dia sangat menyerupai ibunya-. Ini membuat dia merasa tenang, bahagia, dan bangga. Dia sejak kecil sudah selesai membaca semua tulisan ibunya, maka setiap kali pergi ke pemakaman di St Pancras, ia hendak mengungkapkan semua pemahamannya kepada ibunya yang tidur panjang di bawah tanah. Dia demikian pasti demikian percaya diri, merasa dirinya tentu adalah kelahiran kembali ibunya. Sepanjang hidup, tanda tangannya tidak pernah melupakan kata Wollstonecraft yang panjang itu.

Menulis Perjalanan Malam

Puisi John Kuan

perempuan-kesepian
gambar diunduh dari lonelypinay.com

Terapung, terapung, seperti apakah ini?
Seekor camar di antara Langit dan Bumi
——— Du Fu

Dari sekeping cairan kristal aku mengayuh sampan turun
angin kelana bermimpi lari di cabang jalan berkerut
setiap situs jejaring telah lelap, siapa masih di dalam
satu kwatrin Tang membaca seruan air berlalu

Saat bayang letih di kursi aku pangku kembali
dan kembali, dengan puisi mencari satu perahu
berlabuh di tepi sungai sunyi, amat hijau
tunas rerumput, menjelma jadi coretan sandi menyerbu
masuk ke batang usia ranggas, berdiri senyap
di mulut jendela seluruh warna malam luntur

Tahun itu, gugusan bintang yang kita gembala
sudah semuanya pulang ke kampung halaman?
Di atas Jalan 49 Brooklyn, dengan cahaya bulan
mengalir dari Sungai Hudson, kulipat
ke dalam beberapa potong cerita terburai, juga
jejak pensilmu dan sindiranmu, malam-malam
di tengah gelombang kata menggulung bagai laut pasang

Puisi masih mau ditulis?
Aku mengerut diri ke dalam jejaring yang ramai tapi senyap
mengikuti surel, menjelma
jadi seekor yang terapung di antara langit dan bumi
camar, ingin sekali ingin sekali
di dalam mimpimu bagai ladang bagai kebun hinggap…

Sahaja Embun

Puisi Binandar Dwi Setiawan

sebening-embun
gambar diunduh dari photoppi.com

Aku masih tidak mengerti mengapa harus merasa senang untuk semua hal yang tak kutahu apakah itu memang baik. Aku, sekaligus juga masih tidak mengerti mengapa harus berduka untuk semua hal yang tak kutahu apakah itu memang buruk. Aku masih tak sempat untuk memberi pakaian kepada sebuah kejadian, nilai. Aku tak ingin dan tak hendak berurusan dengan batas batas. Aku hanya ingin menari dengan pepohonan, tak lagi penting apakah cemara apakah sakura. Aku hanya ingin melihat sebagaimana adanya, dalam realitas yang tak butuh dinamai. Aku ingin setiap mata berkata jujur tentang apa yang dilihatnya, aku ingin aku percaya kepada mata mata itu. Aku telah terlampau lelah ditipu seumur hidup, aku ingin mengakhiri memaksakan kesaksian berkepanjangan ini, aku ingin aku sendiri yang melihatnya. Semua berita, apakah benar apakah salah. Masih perlukah sebagai benar, masih perlukah sebagai salah. Bukankah telah jelas bahwa terlalu banyak ragam, dan tak berguna apa apa untuk kita menariknya sebagai yang berdua kutub.

Tidak menjadi musuh seseorang, kecuali dirinya sendiri. Tidak menjadi kekasih seseorang, kecuali dirinya sendiri. Sepanjang hidup aku hanya berurusan dengan diriku sendiri, menyelesaikan setiap hal yang masih menjadi kebutuhan baginya, aku menghabisinya perlahan tetapi meyakinkan, terus kuburu setiap jatah waktu. Dan tak akan berhenti sampai dia menyadari ketidakbutuhannya untuk ada. Aku hanya ingin menjadi lebih dekat kepada apa yang seharusnya memang aku lebih dekat. Agar aku tidak bertanya lagi tentang maksud segala maksud. Tetapi kudapati marathon ini tak diawali oleh garis starts dan tak diakhiri oleh garis finish. Aku sendiri masih tidak mengerti apakah ujung memang ada. Apakah aku sedang pergi atau aku sedang pulang. Seluruh keutuhan diriku dipaksa menyadari kesendirian yang luar biasa hebatnya. Dan lantas bagaimana bisa kutemukan jawabnya jika aku hanya berbincang dengan diriku. Maka menguaplah air, dan ia benar benar uap, bukan lagi air.

Semua keindahan itu berasal dari akar yang sama. Mengembang dengan kembangan yang diluar benak setiap kehidupan. Maka tidak didapati keadaan kecuali kebingungan. Dan jalan mencari jawaban adalah jalan menuju sesuatu yang tiada habis, sebab tidak disertakan oleh sebuah jawaban kecuali seribu pertanyaan. Yang selamanya sedang menghadap kepada kita ini adalah wujud dari dia yang selamanya sedang berada dalam diri kita. Maka pada jalan yang sama sebagian menganggap pulang, sebagian yang lain menganggap pergi. Pada pembagian yang sama sebagian menganggap pemberian, sebagian yang lain menganggap penolakan. Nama adalah sesuatu yang terlahir dari keangkuhan dan kebodohan. Temaramnya gelisah meracik rasa takut dalam sebuah sudut ketika aku ditodong oleh sejuta ketergesaan, aku tiba tiba saja memanggilmu, itu dosa pertama yang seluruh waktuku kuhabiskan untuk merajukmu melupakan itu. Jika saja aku bercinta dengan dirimu yang sesungguhnya, sebelum akhirnya aku memanggilmu.

Aku sebenarnya bukan masih mengingatmu, tetapi masih mengalamimu. Aku dengan kamu, tak bisa dijarak oleh lupa. Tetapi engkau masih saja bersikeras untuk berusaha menipuku, sedangkan kau tahu aku tak lagi peduli kepada diri yang engkau kirimkan sebagai engkau. Adalah tentang kamu, ketika aku berjuang untuk membunuh seluruh sifat sifatmu, aku hanya tak mau jatuh cinta pada mereka. Aku terlalu murni, tak butuh untuk menunggu engkau suap dengan sifat sifatmu agar aku membersamaimu. Akulah singgasana terluas yang bisa kau tempati. Maka bersenang senanglah sekehendakmu. Dan singgasanamu akan tetap saja sesurga yang kau bisa kerjakan. Tak perlu beresah tentang akan menjadi seperti apa aku nanti, sebab aku ada hanya untukmu. Kau tahu seberapa rindunya aku terhadap pulang, juga seberapa bersikerasnya aku melalui jalan ini, bahkan seberapa hebatnya aku menafikan setiap kepahitan, tetapi tidak tahukah kamu bahwa aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang bagaimana ini akan berakhir atau diakhiri.

Tetap saja semua terlihat begitu seimbang dimataku. Karya maha sempurna yang mewah yang tak memberiku setitik ruangpun untuk berkeluh.

Bunga: Bukan Nama Sebenarnya

Fiksi Kilat Susan Gui

Pria berseragam cokelat meminta Bunga bercerita, kemudian menyebutkan ciri-ciri orang. Bunga tidak bisa melakukan dua hal yang diminta oleh pria berseragam itu, kemudian mereka meyakinkan Bunga kalau hal itu penting untuk menentukan siapa pelakunya.

ilustrasi-perkosaan
ilustrasi diunduh dari genuardis.net

Pria berseragam itu memohon agar Bunga membuka mulutnya, dan mulai bercerita. Bunga tetap bungkam. Untuk mencairkan ketegangan di wajah Bunga, pria-pria ini membuat lelucon. Bunga menatap mereka satu persatu. Putih kulit Bunga terlihat memucat, rambutnya berantakan, dan matanya membelalak; mengisyaratkan kemarahan yang tidak lagi bisa terdamaikan.

Kejadian itu tidak lama. Pria berseragam meminta Bunga dan ibunya pulang ke rumah.

“Bunga butuh istirahat, kita akan lakukan interogasi besok malam,” ujar salah satu pria berseragam. Hanya begitu.

Bunga dan ibunya pun pulang ke rumah. Rumah yang masih dilingkari oleh garis polisi berwarna kuning. Bunga langsung masuk ke kamarnya, sedangkan ibunya hanya menatap sedih.

***

Angin seperti memburu. Derunya begitu riuh, dan manusia dibiarkan gigil, memeluk diri masing-masing. Dalam kesunyian malam, angin bertiup seperti siulan alam. Binatang malam pun seperti tidak berani mengeluarkan suara; lindap dan senyap. Ada purnama, di balik rerimbun bambu, tampak bias cahaya lebih kemilau dari kemarin.

Di dalam rumah, sedari tadi tidak ada suara apapun. Kamar ini senyap, rumah ini sunyi. Tidak ada bunyi gelas, bunyi panci, apalagi suara manusia berbicara satu sama lain. Semua seakan tandas bersama dinginnya malam.

Air matanya belum kering betul ketika ia menaruh bedak pupur putih. Begitu pelan. Begitu letih. Asanya telah luruh, tinggal pudar serupa kusam warna celak yang menghias matanya. Hari-harinya menghitam sehitam kelopak matanya, memancarkan kepedihan dari luka yang paling dalam. Kaca yang sedari tadi ditatapnya, seakan tidak bergeming. Siapakah yang mampu mengerti derita ini, pikir Bunga.

Bunga berdiri, mendekat pada jendela segi empat yang sedari tadi dibiarkan terbuka. Angin tidak berhenti memburu masuk, Bunga memeluk tubuhnya sendiri. Lalu perlahan dia seperti melihat bayang-bayang seorang lelaki yang berdiri, badannya gigil.

Brakkk, sekuat tenaga Bunga menutup jendela, menguncinya, lalu menangis terisak. Bunga mendorong meja riasnya, menutupi jendela yang baru saja dikuncinya. Gegas dan gugup, Bunga mengambil selimut, menutupi tubuhnya, membebat dada sekencang-kencangnya dan sedikit juntai selimut jatuh ke lantai.

Wajahnya yang tertutup pupur menjadi lebih putih dari sebelumnya. Pucat dan pasi. Bunga seperti kebingungan, televisi yang sedari tadi tidak diacuhkan tiba-tiba menarik perhatiannya.

Terkesiap Bunga pada sebuah berita, tubuhnya kaku. Si pembawa berita mengatakan kalau seorang calon hakim agung baru mengeluarkan sebuah pernyataan kontroversial tentang pemerkosaan. Lelucon di tengah malam buta, ketika angin lebih dingin dan gemirisik daun lebih menyeramkan dari ribuan petir yang menghantam bumi.

“Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati.”

Bunga melolong sejadi-jadinya. Lelucon di tengah dunia yang tidak lebih waras dari pada kegilaan dunia.

Prangg..Bunga melempar vas bunga ke televisi yang masih riang memberitakan pernyataan sang hakim agung. Air mata terus mengalir, Bunga berbisik pelan.

“Katakan bagaimana saya melindungi diri sendiri. Ketika binatang dari segala binatang mengendap dan masuk tengah malam dan diam-diam. Tidak ada yang lebih binatang dari manusia yang berperilaku binatang, bukan manusia namanya jika dia berani melukai perempuan.”

Televisi masih terus menyala, kacanya belum remuk benar. Gambarnya menjadi siluet dengan kemiringan 180 derajat, dan suaranya menjadi seperti gemerisik sesarang semut. Bunga terus meneteskan air mata.

Bunga menatap jendela, pelan berbisik “Orang itu binatang, sekali pun melihat aku memohon tapi tetap dia lesakkan kelaminnya hingga menembus jantung hati.”

Keras Bunga memukul dadanya. Ada suara orang mengetuk pintu kamar Bunga, memanggil-panggil nama Bunga untuk keluar dari kamarnya.  Bunga harus segera ke kantor polisi untuk divisum. Suara ibunya terdengar terisak dari balik pintu. Ada sekerat luka dalam dada yang tidak bisa dijawab dengan kalimat mana pun. Bunga mengambil gelas kaca dan melempar ke pintu.

“Bunga Bu.., dikoyak paksa dan si hakim agung membuat lelucon pemerkosaan. Tidak pernah ada lelucon selucu ini, dan tidak pernah ada kenyataan sepahit ini. Kita hidup di antara, kita tidak berada di mana-mana. Kehilangan hanya tentang apa yang biasa di tempatnya tapi tidak lagi bisa kita temukan.” Jerit Bunga dari dalam kamar.

Ibunya semakin terisak dan mengetuk pintu kamarnya dengan lembut, “Keluarlah Nak..”

Bunga mendekat ke pintu, menyentuh gagang pintu, lalu merambat pelan pada kayu-kayu pintu kamar. Tangannya mengambil pecahan gelas.

“Ibu, tidak pernah ada orang yang menginginkan terluka. Jika kita bisa hidup lebih benderang dari cahaya tanpa harus menjadi lilin, kenapa kita memilih untuk membakar diri kita seperti lilin. Ibu, aku ingin main komidi putar, makan gulali, ke taman yang membuat aku kembali hidup,” isak Bunga, tangannya memegang serpihan kaca dari telivisi.

Ibu Bunga terisak kembali. Darah mengucur dari tangan kecil Bunga. Sepintas, Bunga seperti mendengar lelucon pria berseragam itu, lelucon yang sama dengan apa yang dibilang oleh sang hakim agung. Kuping Bunga mendengung gaduh.

“Ibu, aku diperkosa, dan lelaki itu membuat lelucon tentang pemerkosaan. Siapa yang lebih waras ibu?” Suara Bunga pelan sekali, hingga akhirnya tidak terdengar apa-apa.

Angin menderu kencang, menelan isak tangis ibu Bunga hingga tersisa senyap. Tidak ada lagi bebunyi. Layar seperti tertutup, tidak ada lagi cerita, tidak ada lagi kata, tidak ada lagi kaca jendela, tidak ada lagi Bunga, dan cerita hakim agung yang melucu kembali menyala di televisi rusak. Suaranya sedikit serak.

Puisi-puisi Alra Ramadhan

gambar disediakan oleh Alra Ramadhan
gambar disediakan oleh Alra Ramadhan

KOPI

setelah menjura untuk kesekian kali, kaucabut
kepada lembut
kabut, kaupusatkan dua lensa
yang nila
“oh, kau harus lihat garis edar bendabenda angkasa.”

aih, ya saja, merekamereka berputarberputar
di gelas memar
waktu kaudaratkan ujung penamu di kotak
tekateki silang, dan kekatamu tak pas:
revolusi, katamu
revolusi (?), ini aku
revolusi, kau beri tanda seru
dan kausebut angka pasti
ratus hari

tapi aku tak ingat angka itu
dan revolusi, aku cuma menjawabnya sendiri
sebab sejak itu kauberlalu
sisakan ampas kopi yang masih mengorbit
di kotakkotak yang belum kaupenuhi

(Malang, 2013)

TEH

tenang,
sebentar lagi bakal datang,
sst… kubilang tenang,
tahan pelatukmu
dan lihat itu, di celah pohonan yang menyerap air langit, dekat semak tempat kaukencing tadi, kau lihat bukan, itu buruan kita!

toh aku mengangguk saja waktu ia menyuruhku untuk tenang. baru kali ini aku benarbenar menurut. tapi bagaimana lagi, dia memang lebih jago berburu, sedang aku tak tahu apaapa soal ini. amatir. maka kutahan juga pelatukku–butuh waktu menariknya

kubilang juga apa,
dia mengendusnya,
bau pipismu! haha, dia benci itu. ia tak senang ada pengganggu masuk wilayahnya. dan kalau kau sadari, dia segera mencarimu setelah ia tahu cirimu. dan perlu kugaris bawahi, seperti dugaanku, ia tak akan pedulikan jika itu air seniku

oh ya, dia berkata begitu,
sebelum menyuruhku
keluarkan kelamin dan menyemprot pohon itu,
katanya: kalau aku, buruanku sudah hapal pada taktikku, kita perlu yang baru, tenang saja, kau akan tetap aman di dekatku

tenang, tenang,
aku tempelkan telunjukku di mulut,
kudesiskan desis,
sempat ia tadi tak percaya: bagaimana kautahu ia akan mencariku, dengan membaui kencingku? seakan kaubisa menjadi mereka saja!

tapi dia benar,
dan kami duduk di beranda sekarang,
dengan hasil buruan
dan gelas yang masih penuh
berisi teh panas
di mana di sana muncul raut wajah tenang
sang serigala yang kutembak mati tadi

(Malang, 2013)

SUSU

nyatanya masih aku palingkan juga
wajah ke arah celahnya
bahkan ketika kausekedar lewat
di depanku dan tanpa sapaku,
tanpa juga sapamu,
sapa kita

siapa kita
yang tak dikenal tak dikekang tak dikenang?

ah tapi kuingat juga senyummu manis
dan gigigigimu yang berbaris
begitu rapi,
dekat sisasisa susu, di pojok bibirmu,
yang kuhapus dengan kecupan merdu

nyatanya aku masih palingkan pula
wajahku
ke arah tak tentu
ketika kuteguk hangat susu
dan berharap kutemu lagi kamu
serta baris putih gigimu rapi
di sudut gelas bundar ini

(Malang, 2013)

Alra Ramadhan lahir di Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, dan sekarang berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang. Saat ini ia sedang menyiapkan himpunan puisi dengan judul Salindia. Selebihnya, dipersilakan merapat ke twitter @alravox

Musim Semi, Deru Ombak

Puisi John Kuan

sendiri di pantai
gambar diunduh dari amorimagenes.net

Musim semi, jalan raya, tepi laut

濤 聲 迴 盪 兮 臘 月 的 街 巷
[ tāo shēng huí dàng xī là yuè de jiē xiàng ]
Dibalik selembar cahaya terkurung 70 tahun
demikian kau berkata. Deru ombak patahan
sajakmu, terus bergaung dari Minguo 32 tahun
hingga hari ini, bahkan bergulung berputar keluar
percikan buih-buih huruf Latin ku kenal:
[ Ah, deru ombak lorong-lorong Bulan Pertama ]

 Aku melangkah di jalan imlek, angin laut bersiul

Pada jamanmu disebut Lorong Taopekong, lurus
menembus Lorong Pisang menembus kain gendongan
nenek mendekap aku nanar di depan Jalan Merdeka
kembali bercahaya setelah dihangus tahun 1959
Aku menembus timbangan karet mentah, arang bakau
tepung sagu, ikan asin, udang kering, mungkin
di atas meja kasir remaja bersinglet putih ini, kau
menjentik sempoa sambil merancang sepatah sajak

Melewati Hok An Kiong, sehabis hujan, jalanaan berpijar

Bagai berulang kali ditulis, variasi baris-baris puisi kita
terus menunggu tanpa peduli betapa jauh jalan gunung
jalan laut pengembara. Datang di tepi pantai ini ( kupu-kupu
istirahat di atas bunga liar dalam rindang pokok kelapa,
seolah julur tangan bisa tangkap ), bersiul perlahan,
bernyanyi melengking, semalam penuh kaki-kaki joget
dan kini mulai berserpih. Sehabis cahaya pagi, aku melihat
tangan-tangan berpukat melewati gulungan ombak.

Angin, mengibas laut musim semi bagai lembaran partitur

Kami petik senar petik kelapa, kami petik awan juga
berselancar nada ikut ayunan ombak. Kami bakar dupa,
kami tuang arak, kami panggang sajak bau samudera.
Angin senja bersiul, laut yang agung memberi kami
sebuah mesin peras, dengan gema gulungan ombak,
desir pelepah kelapa, memori putaran rumah keong
membantu rongsokan mimpi, perangkat keras hidup kami
diperas jadi jus dibawa angin, jilat telinga, lidah, dan dahi

Ah, musim semi, resmi dan sehat berdesir lagi

pecah di udara jadi lonceng es lilin, yang menolak
leleh kami jilat jadi puisi, jadi berbagai bau dermaga
dan kapal, pernah membawa kau pergi atau pulang
mengikuti asap dupa, mengikuti bintang Serigala Langit
melewati sederet tebing terjal, selaut angin amis,
sungai tenang, jerit siamang, seekor kupu-kupu di rawa
hutan bakau, sebab indah, tanpa maksud atau tanpa daya
jatuh di dalam cahaya celah dedaunan, menolak kepak sayap

Nyanyian Kemerdekaan

Nota Puitika A. Kohar Ibrahim

a kohar ibrahim

(681)

HARI
GURU?

Sulit kiranya
melupakan peranan
penting guru diguru guru
di dalam hidup kehidupanku
selain guru guru diguru mengguru
di dalam keluarga istimewa sekali ortu
dan kalangan masyarakat manusia seumat
seperti terutama sekali kaum cerdik cendekia
seniman dan seniwati dalam ragam macamnya
Para penyedia penyaji pemberi ilmu pengetahuan
para pelaku pencerahan sesungguhnyalah sungguh
punya peranan amat penting sebagai pembimbing
Tanpa ilmu pengetahuan bagaimana seseorang
bagaimana grup kelompok kolektip manusia
bisa melakukan kegiatan bawa kemajuan?
Akan tetapi situasi kondisi mendebarkan
jika dalam kenyataan amat memprihatinkan
situasinya seperti stagnan alias jalan di tempat
maka tak urung timbul pertanyaan: keras menyengat
Apa yang sudah diberikan kaum guru kepada murid
Selama ini? Kenapa banyak putera puteri bangsa
yang putus sekolah
kenapa bahkan yang sekolahan
dan malahan pula tamatan perguruan tinggi,
bertitel sarjana, hanya untuk jadi pengangguran?
Kenapa dibandingkan dengan negeri-negara lain
di dunia Inddonesia berada di posisi belakang?
*
(25.11.2012)
*
(682)

KI-ASI
PU-ISI

Kias berkias kiasan
menghias rias kias isi puisi
Seperti gerak hidup kehidupan
Gerakan kehidupan tanpa henti.
Rubah berubah ubah perubahan
Maju mundur Merendah meninggi
Kanan kiri dari Segala penjuru
arah mengarah sang bayu.
Seperti ombak menggelombang
Gelombang pasang naik pasang surut.
Seperti perubahan cuaca musim musiman
Bervariasi Musim dingin Musim semi  Musim panas
Musim gugur Kesemuanya selaras gerak perubahan.
Oh iya iyah iyalah Seperti juga gerak  perubahan
alam perasaan dan pikiran Tanda pertanda
petunjuk bukti aksi tindakan  dilakukan.
Iya iyah iyalah selaras sikap pendirian.
Selaras petunjuk ajar: segala sesuatu
adalah waktunya. Awal mula kelanjutan
dan berakhirnya. Bisa dari ketiadaan
sampai kesadaran
hingga militansi penuh
dinamika dan keberanian.
Ah, bisalah pula berkebalikan:
ragu, stagnan, pangku-tangan,
mapan sampai tiarap ketakutan.
Karena mapan kemampanan
Karena takut kecut ketakutan
kehilangan kepentingan
kedudukan atau kepemilikan.
Itu begitulah lagak lagu manusia
dalam segala variasi bentuk nada
rama ragam warna warni nuansanya.
Aduhai Tuan Puan ! Jangan coba-coba
rayu aku ikut-ikutan  Segala ancaman terus
ancam mengancam Kebebas-Merdekaan Ku
akan terus ku lawan! Ku takkan kehilangan apapun
Keuali belenggu dan fitnah Yang kalian berlakukan
dari arogansi kekuasaan tirani ke dahiku dicapkan!
Lagi dan lagi aku tegak berdiri teriak semarak:
Tegakkan Kebenaran dan Keadilan
serta Hak-hak azasi Insani
Hak bagi Yang berhak!

*
(25 November 2012)
*

(683)

KI-ASI
PU-ISI

Kias rias kiasan
menghias puisi.
P u i s i
Itu puisi
ekspresi diri
c u r a h a n h a t i

*
(26.11.2012)
*

(684)
KI-ASI
PU-ISI
kias menghias
rias merias kiasi puisi
buah aktivitas-kreativitas bernas
tanda pertanda menanda ekspresi diri
tercurah rurahan rasa dirasa terasa rasa
hati sanubari. puisi swara nada irama hati
swara nyanyian jiwa. dalam gerak berjejak
juang perjuangan kehidupan senantiasa:
jikalah maju majulah mundur mundur lah
ah ah kata dimakna dikata orang itu doa
konsekwen konsistensi kata-tindakan
tindak bertindak lah utama ukuran.
seperti ujar kata aku ulang bilang:
asah pena terus lanjutkan juang
selaras dinamika kehidupan.
insyallah insyallah insyallah!

*
(27.11.2012)

*

(685)

KI-ASI
PU-ISI

Kias berkias
hias rias kiasan puisi.
Seperti indahnya kekuat-indahan
kembang ati Anggrek menarek hati
Mawar penawar Melati harum mewangi
Ah, seperti tanda pertanda bukti nyata
Aktivitas kreativitas bernas seni budaya
Takar utamanya adalah segar tegar:
buah hasil karya. Berkaryalah!
Rayakan Hidup Kehidupan
Bebas Merdeka Di Taman Raya Indah Seni Budaya
Pertanda Adab Peradaban Bangsa Bangsa Di Dunia

*
(27.11.2012)
*

(686)
KI-ASI

PU-ISI

Kias rias hias
kiasan isi berisi puisi.
Seperti pula seniman seniwati
Pencipta penyedia saji buah kreasi
Sesungguhnyalah kaum dermawan dermawati.
Pemurah hati Pemberi diberi berkahNya sedekah
Bagi Berbagi dalam Hidup Kehidupan Indah Megah
Tersirat tersurat swara terirama nada musikalia
gerak hidup dinamika. Seperti terkesan pesan
menggeitik puitik penyair Chairil Anwar:
aku mau hidup seribu tahun lagi!
Seperti juga manfestasi aksi
dinamika musikalia
Seniman Seniwati Madura:
Sandorennang. Nengsennengan.
Sungguh membanggakan
sekaligus mengharukan.
Salam Merdeka!
*
(27.11.2012)
*

(687)
KI-ASI
PU-ISI.

Kias dikias terhias
rias kiasan puisi.
Seperti kiasan
Tak Kenal Maka Tak Sayang.
Itu soal Rasa perasaan memang
Soal Hati soal kesubyektifan diri sendri.
Tak urung Suka atau tak itu memang soal
Rasa rasa dirasa terasa rasa bagi perasa
Ah ah ah bisa bisa saja terekspresi aksi
dalam ragam macam ekspresi diri
Terutama dalam kreasi Seni
terutama sekali dalam puisi
Di Ruang Waktu Tertentu
Yang Sudah sudah
Yang Sedang sedang
Yang Mendatang terjelang
Sambung Berkesinambungan
Seperti rangkai serangkai mata rantai
Seperti butir dan butir permata mutiara
Seperti planit bintang dan bintang di langit?
Iya iyah iyalah, sayang disayang. Oh Sayang!
Kenalilah Maka sayang disayang.
Dahulu Kini Masa Datang Mendatang.
Segala sesuatu ada waktunya. Memang.

*
(28.11.2012)
*

688)
KI-ASI
PU-ISI

Kias berias
rias hiasi puisi.
Seperti ekspresi diri
gerak juang perjuangan
mengayomi hidup senantiasa
Dari masa ke masa Usia sendiri
Usia segala ragam makhluk alam insani
Gerak melebar layar maju melaju gapai pantai
Gapai titik arah tuju sebentang cakerawala
Dari jabang bayi hingga dewasa lansia
Oh! gerak dinamika tak mau sudah.
Senja ku fenomena pesta makna
hidup anugerah terindah Nya
Senja ku hingga jingga menjingga
Warna Warni Cahaya yang tak mau sudah.
Seketika ku simak Masa Usia lukisan David Friedrich
Seketika senyum berseri sembari bisik berbisik:
Yes! Perjalanan Layak Dilanjutkan.
Terus kibar bendera lebar layar
menggapai pantai tujuan.

*
(29 November 2012)
*

689)
KI-ASI
PU-ISI

kias hias rias
menghiasi puisi
seperti wajah
sumringah
pagi hari
senyum
berseri
meski tak urung
wajah muram terselimut
mega mendung cemberut
tergugat gundah teramat gawat
tercegat bingung murung tak untung
pula wajah wajah sangar tegar
galak bak siap menyalak.
duhai wajah manusia!
ragam macam wajah
tanda tertada bertanda
rasa dirasa terasa rasa
pun pikiran ragam macam
makhluk alami insani hewani
sesungguhnyalah layak simak
layak kaji ungkap arti dimengerti
saling mengerti sesama insan insani
demi mengayomi etika hidup kehidupan
layak selayaknya insani seraya menata bina
tradisi adab peradaban. Bukan yang kebalikan
yakni kebiadaban hewan berkehewanan
seperti hewan liar rakus ganas barbar
sebangsa sekawanan prema koruptor
seperti gerombolan begundal brandal
pawang uang kapital-imperial-kolonial!

*
(29.11.2012)
*

(690)
KI-ASI
PU-ISI

kias rias menghias
hias mengisi isi puisi
seperti kias tak pernah basi:
Tak Kenal Maka Taklah Sayang.
dampaknya rusak kerusakan dahsyat
malah ada yang mengeluh. ada yang prihatin
ada yang masabodoan ajah. celakanya
ada yang girang adanya konstatasi
banyaknya kaum buta sejarah.
dibodohi sejarah versi resmi
Iya iyalah — dampaknya
seperti dikeluh-kesah
diprihatin-sesalkan
makin menipisnya
rasa patriotisme
berkebangsaan
siapakah salah jika diingat banyak yang tuna-sejarah
siapakah salah terjejali sejarah yang dibengkokkan
aduhai! sayang disayang — adalah benarnya
sapatah dua kata kiasan kata pepatah:
Tak kenal maka tak sayang.

*
(30.11.2012)
*

"Empat Masa Usia" - lukisan cat minyak pelukis realis-romantis Caspar David Friedriech
“Empat Masa Usia” – lukisan cat minyak pelukis realis-romantis Caspar David Friedriech

Catatan:

(1).Rangkuman Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan disusun berdasarkan notasi-status AKI di FB – tertanggal. Disaji kembali dengan gaya penampilan ala kaligram: 19 Februari 2013.

Serial Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan dimulai dalam bulan Juli 2011 hingga Januari 2013 sudah mencapai 800.

NP Nyanyian Kemerdekaan merupakan Ekspresi kebebas-merdekaan berawal dari dalam jiwa diri sendiri; tanda nyata naluri makhluk insani semenjak keberadaannya dalam zaman dahulu kala.

Pendidikan Karakter Berbasis Sastra

Catatan Pendidikan Anwari WMK

beyond_imagination
gambar dari akamaihd.net

KARYA sastra bermutu tinggi mampu mengungkapkan kerumitan dan kepelikan watak manusia dalam realitas hidup yang kompleks. Novel, roman, cerita pendek, maupun cerita epik kepahlawanan yang ditulis secara prolifik, mampu menampilkan tokoh-tokoh dengan watak mempesona. Karya sastra yang dikonstruksi dengan kepiawaian logika estetik memberikan efek yang menggetarkan dan menggentarkan. Inilah alasannya, mengapa sastra memegang peran penting dalam proses pendidikan karakter. Bahkan, strategi pendidikan karakter dapat dilandaskan pada pencarian hikmah dan makna dari karya-karya sastra.

Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer merupakan contoh karya sastra yang dapat dijadikan dasar penyelenggaraan pendidikan karakter. Baik plot maupun dialog dalam tetralogi tersebut membeberkan sosok tokoh-tokoh protagonis dan antagonis. Pembeberan tokoh-tokoh itu pun tidak karikatural sifatnya, tetapi justru berada dalam nuansa dialektika penuh warna. Tak mengherankan jika tokoh protagonis maupun antagonis dalam tetralogi tersebut melekat erat dalam benak publik pembaca. Langsung maupun tak langsung, publik pembaca memasuki proses pembelajaran untuk memilih watak protagonis dan melawan watak antagonis.

Sebagaimana diketahui, tujuan pokok pendidikan karakter adalah menumbuhkan nalar distingtif agar peserta didik dapat mencerna bahwa kebajikan berbeda secara diametral dengan kejahatan. Melalui nalar distingtif, pendidikan karakter membentuk kesadaran, bahwa ada serangkaian faktor dan sederet variabel penyebab timbulnya kebajikan maupun kejahatan. Pendidikan karakter membentuk kesadaran di kalangan peserta didik untuk memahami bahwa kebajikan atau kejahatan tidak muncul dari ruang vakum, tetapi merupakan akibat logis dari beragam sebab. Kebaikan atau kejahatan terbentuk melalui proses panjang, rumit dan berliku dalam keseluruhan aksi-reaksi manusia dengan alam semesta dan aksi-reaksi manusia dengan sesamanya. Tampak jelas dalam konteks ini, betapa sesungguhnya tidaklah sederhana pendidikan karakter.

Karya-karya sastra bermutu tinggi digdaya menjelaskan secara mempesona lekak-lekuk karakter manusia yang rumit. Hayat tokoh-tokoh protagonis dan antagonis bahkan dibentangkan segala laku dan sepak terjangnya dengan keindahan narasi. Melalui karya sastra, peserta didik lebih mudah memahami distingsi antara kebajikan dan kejahatan. Dari sini terbentuk kondisi psikologis, memilih dengan tegas kebajikan sebagai karakter. Mengabaikan arti penting pembacaan karya-karya sastra, justru membuat praksis pendidikan karakter kehilangan salah satu basisnya.

Masalahnya di Indonesia, pendidikan sastra diabaikan dan terabaikan. Sejak era Orde Baru, sastra sengaja diperlakukan sebagai subyek pembelajaran yang tidak signifikan, tidak penting, tidak berguna, dan segala macam ‘tidak’ lainnya. Dunia pendidikan di Indonesia terlena untuk hanya memandang bermakna pembelajaran sains dan matematika. Meskipun tak diungkapkan secara verbal, sastra dipandang lebih rendah derajatnya dibandingkan sains dan matematika. Ambisi untuk memajukan pendidikan sains lalu pincang, lantaran sengaja mengabaikan pendidikan sastra.

Sejalan dengan kian besarnya kebutuhan terhadap pendidikan karakter kini, mau tak mau pendidikan dan pembelajaran sastra mutlak direvitalisasi. Fokus pembelajaran mencakup pembacaan cerita rakyat (SD), pembacaan karya sastra nasional (SMP), pembacaan karya sastra dunia (SMA). Sastra dalam konteks ini, diperlakukan sebagai basis pendidikan karakter.

Bagaimana murid-murid mampu melakukan pembacaan terhadap karya-karya sastra sudah saatnya diperlakukan sebagai elemen penting pendidikan karakter. Agenda revitalisasi pendidikan sastra pun bermula dari upaya sengaja pemberdayaan guru. Bukan saja kalangan guru dituntut mampu mengapresiasi karya-karya sastra, hingga kemudian saksama membedakan mana karya sastra bermutu, dan mana yang tidak. Di atas segalanya, guru-guru juga dituntut mampu membimbing murid-murid berani melakukan uji coba melahirkan karya-karya sastra.[]

Rambut Merah Maria

Cerpen Octaviana Dina

perempuan-berambut-merah
foto dari shutterstock

Tak sampai satu menit seusai pemaparan mengenai rencananya seputar proyek baru, Winardi segera menyergapnya dengan kontra opini yang tajam. Ia menyuarakan ketidaksetujuannya. Hm, perang dimulai, pikirku. Seperti biasanya, perempuan itu tak berkata sepatahpun dan menyimak dengan seksama  sampai Winardi selesai bicara. Lantas, dia mementahkan opini lelaki itu dengan argumennya yang dinyatakan dalam kalimat-kalimat jelas, lugas dengan dalil-dalil logis yang sulit dibantah. Ia menyampaikan sanggahannya pada Winardi dengan suara mantap dan penuh keyakinan.

Akan tetapi, bukan Winardi namanya jika cepat menyerah. Lelaki itu kembali menyerangnya. Dan perempuan itu dengan percaya diri mematahkan serangan Winardi. Begitulah, kedua orang itu laksana sepasang kutub negatif dan positif. Sama-sama kuat, tapi senantiasa berlawanan. Harus kuakui, aku sangat menikmati pertarungan pendapat di antara keduanya. Pertarungan itu menunjukkan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki. Mereka telah membuatku kagum. Terlebih lagi perempuan yang satu itu. Lugas, brilian, berani, dan -tentu saja- keras kepala.

Namanya Maria. Setelah mengenalnya beberapa lama, aku berpendapat nama itu tak cocok untuknya. Aku tak tahu kenapa, namun setiap kali mendengar nama Maria aku selalu membayangkan sosok seseorang yang benar-benar berbeda dengan dirinya. Sosok perempuan yang pendiam dan tenang. Barangkali aku terlalu berlebihan dalam hal ini. Namun itulah yang selalu muncul dalam benakku setiap kali aku mendengar nama Maria.

***

            Aku ingat, pada suatu hari – saat itu aku berusia lima tahun- aku dibawa ibuku pergi. Kami naik becak dan kemudian tiba di depan sebuah rumah mungil bercat putih. “Ayo, sayang, kasih salam sama Tante Maria,” ujar ibuku. Kuulurkan tanganku pada seorang perempuan dengan rambut hitam panjang tergerai tengah tersenyum padaku. Matanya menatapku dengan hangat dan ramah. “Halo, sayang,” katanya. Tangannya mengelus kepalaku. Aku masih ingat caranya bertutur: manis dan lembut. Pada saat itu juga aku merasa nyaman berada di dekatnya. Itu pertama kalinya aku mendengar nama Maria, dan Tante Maria adalah sosok Maria pertama yang kukenal.

Aku bertemu sosok Maria yang kedua beberapa tahun kemudian saat bersekolah di sekolah dasar. Suatu hari, aku mengikuti teman sekelasku  menyelinap masuk ke sebuah sekolah Katolik yang terletak tak jauh dari sekolah kami.  Sekolah itu cukup besar, dengan beberapa gedung untuk TK, SD dan SMP.

Semula aku takut untuk masuk. Aku takut penjaga sekolah itu menangkap basah kami yang tanpa ijin menyelinap ke dalam.

“Ayo, ikuti saja aku. Tidak apa-apa,” kata temanku menenangkanku. “Sekolah ini punya tempat rahasia. Akan kutunjukkan padamu,” lanjutnya lagi ketika kami tiba di sebuah taman sunyi yang terdapat di belakang sekolah. Aku mengikutinya menuju sebuah tempat serupa gua kecil yang tersembunyi di balik pohon besar. Di dalamnya aku mendapati sebuah patung berukuran besar. Patung seorang perempuan berkerudung terbalut gaun panjang berwarna putih berlapis jubah biru.  Kedua tangannya terbuka dan terulur ke depan seolah ia tengah menyambut hangat kedatangan kami. Ketika pandanganku sampai pada matanya, aku merasa ia sedang menatapku dengan sorot mata menyejukkan. Aku merasa ia tesenyum padaku. Meski tempat itu sunyi dan sedikit gelap, namun hatiku dirambati perasaan nyaman.

“Siapa dia ini?” aku bertanya pada temanku.

“Dia Bunda Maria. Kata orang, dia adalah ibunya Yesus Kristus,” jawab temanku. Sambil terus memperhatikan patung itu, aku melihat rambut hitam di bagian atas dahinya  menyembul sedikit dari balik kerudungnya.

Kemudian, ketika duduk di kelas dua SMP aku mempunyai teman sekelas bernama Maria. Mungkin lantaran kami selalu duduk berjauhan, aku jarang sekali bercakap-cakap dengannya. Meski begitu, aku masih bisa mengingatnya sebagai seorang gadis pendiam yang santun dengan rambut hitam panjang. Sangat pintar, tapi juga amat rendah hati.

Lalu, saat aku duduk di kelas tiga SMA, lagi-lagi seorang bernama Maria masuk dalam kehidupanku. Ia adalah guru Bahasa Inggrisku. Ia selalu berpakaian serasi dan rapi, serta senantiasa mengikat rambut hitamnya dan membentuknya  menjadi sanggul kecil. Aku yakin, rambutnya pasti panjang. Klasik, begitu kesanku padanya. Pembawaan Bu Maria selalu tenang, tanpa banyak riak emosi. Aku tak pernah melihatnya tertawa; hanya senyum yang menyejukkan yang kerap terbit di wajahnya. Kudengar usianya sudah mencapai empatpuluhan saat itu, namun ia terlihat jauh lebih muda.

“Ibu Maria itu perawan tua yang cantik,” bisik salah seorang teman sekelasku suatu ketika. Walaupun aku punya reputasi jelek sebagai pembuat onar di sekolah, aku tak pernah berani menjahili Bu Maria seperti  halnya yang sering aku lakukan pada guru-guru lainnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku menaruh hormat. Tak peduli bagaimanapun buruknya tingkah laku murid-muridnya dalam kelas, Bu Maria tak pernah menaikkan nada suaranya. Ia tampak super sabar, hingga aku bertanya-tanya sendiri apakah ia pernah benar-benar marah dalam hidupnya.

“Ia tak punya emosi. Aku berani bertaruh ia tak pernah jatuh cinta. Mungkin itu sebabnya kenapa sampai sekarang ia belum juga menikah. Tahu nggak, umurnya sudah empatpuluh tahun lho,” ujar teman sekelasku. Aku amat bersimpati pada Bu Maria. Bagiku, ia adalah guru yang benar-benar baik dan cakap.

***

“Hei, ada apa dengan rambutmu?” tanyaku pada Maria suatu hari.

“Memangnya ada apa dengan rambutku?” ia balik bertanya.

“Itu lho, banyak sekali uban bermunculan. Kok dibiarkan saja?” ucapku.

So? Lantas kenapa?” lagi-lagi ia balik bertanya.

“Kau kan perempuan, seharusnya kau memperhatikan rambutmu. Kau kan bukan nenek-nenek berumur tujuhpuluh. Rambutmu seharusnya tidak boleh terlihat seperti itu,” ujarku terus terang.

“Kenapa tidak boleh? Kalau aku suka begini, kau mau apa?” balasnya sambil mengangkat dagu dan menaikkan alis matanya. Jelas ia menantangku.

“Kuberitahu ya, ini memang sudah keturunan. Rambut mendiang nenekku mulai beruban saat beliau masih muda. Ibuku juga begitu. Ubannya mulai muncul pada usia tigapuluh,” lanjut Maria.

“Ya, tapi akan lebih baik kalau kau cat saja rambutmu itu,” jawabku.

“Kenapa sih kau jadi rewel soal rambut ubanku? Ini kan kepalaku, bukan kepalamu. Lagipula, ini cuma rambut. Bagiku, yang terpenting adalah apa yang berada di bawah rambut di kepalaku ini. Otak. Otakku,” tukasnya dengan kukuh. Perempuan ini memang benar-benar keras kepala.

“Kamu ini terobsesi dengan rambut perempuan ya? Hmmm, dasar laki-laki. Jangan-jangan, sepanjang hidupmu selama ini kau selalu dikelilingi perempuan-perempuan berambut hitam panjang. Aku rasa, aku tahu seperti apa perempuan idamanmu. Shampoo girl, gadis shampoo! Gadis dengan rambut panjang hitam berkilat-kilat, iya kan?” sambungnya tajam. Sepasang bibirnya lalu mengukir senyum lebar.

“Sudahlah, Maria,” kataku. Kurasakan wajahku memerah.

“Kau pasti cukup sengsara bekerja di tempat ini. Tak ada perempuan berambut hitam nan panjang di sekitar sini,” ledeknya terus menyudutkanku.

“Oke, cukup. Cukup, Maria. Kau menang. Kau memenangkan pertempuran, seperti biasanya,” sahutku. Aku segera bangkit dari kursiku. Lebih baik aku cepat-cepat menyingkir dari hadapannya.

“Katakan, kenapa sih kamu jadi rewel soal rambutku? Kau tidak sedang jatuh cinta padaku kan? Atau, jangan-jangan, memang iya? C’mmon, honey, tell me, are you falling in love with me?” kejar Maria  lagi. Oh, my God, dia ini benar-benar… ah! gumamku dalam hati. Lantas, sebelum aku menjawabnya (aku tak yakin aku mampu menjawabnya), ia tertawa terkikik-kikik. Aku tak kuasa lagi membuka mulutku. Segera kutinggalkan ruangan itu dengan wajah semerah bunga anyelir.

Semenjak hari yang memalukan itu, aku tak pernah lagi menyinggung soal rambut. Lebih dari itu, aku bahkan tak bisa mencegah wajahku memerah tiapkali Maria menatap langsung ke mataku. Sepertinya perempuan itu bisa membaca apa yang kusimpan rapat dalam hatiku. Dan, ia tetap membiarkan uban menyeruak dari sela-sela rambut hitamnya.

Hingga beberapa minggu kemudian. Pada suatu pagi Maria datang ke kantor dengan penampilan yang sangat berbeda.  Rambutnya. Ia mengecat rambutnya dengan warna merah tua kecokelat-cokelatan yang kemilau. Semua orang dibuatnya terpana , termasuk aku.

“Wow, kau tampak cantik dengan rambut seperti itu, Maria. You undeniably look great!” ujar Winardi. Meski Winardi kerap bersikap berseberangan dengannya, namun ia seorang lelaki yang jujur dan fair. Aku percaya kata-kata Winardi itu benar dan jujur karena, sama seperti dirinya, aku pun berpendapat Maria begitu cantik dengan rambut berwarna demikian. Warna merah kecokelatan tersebut amat cocok untuk wajahnya dan juga untuk kepribadiannya yang terbuka dan kuat.

“Terimakasih ya,” jawab Maria seraya tersenyum senang. Aku berpura-pura tak melihatnya dan berusaha menyibukkan diri dengan tumpukan kertas kerja saat ia akan melewati ruanganku.

“Hai!” Tiba-tiba Maria sudah berdiri di depanku. “Sibuk nih?” celetuknya.

“Yah, begitulah seperti yang kau lihat,” jawabku. Kurasakan wajahku kembali memerah ketika ia mendekatiku.

“Nah, bagaimana pendapatmu soal warna rambutku ini? Kau pasti suka, iya kan?” Jantungku berdetak kencang. Memang benar, namun aku tak ingin perempuan itu mengetahui perasaanku yang sebenarnya.

“Sejujurnya, kurasa warnanya tak cocok untukmu,” kataku berbohong.

“Aku tahu, kau lebih suka hitam.”

“Bukan begitu maksudku, Maria…”

“Ssst, dengar, lebih baik kamu berhati-hati…,” tukasnya dengan matanya berbinar.

“Kenapa?”

“Hati-hatilah kau. Kau bisa benar-benar jatuh cinta padaku. You could be, you know, truly..madly..deeply..fall in love with me,” ucapnya dengan suara sedikit berbisik. Ia tersenyum saat mengatakannya. Maria mengedipkan mata kanannya padaku, lantas segera berlalu.

Aku membeku di kursiku. Kurasakan tubuhku gemetar. Mulutku terkunci. Astaga, berani-beraninya dia mengucapkan hal itu! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, Maria? Apa yang kau tahu soal perasaanku padamu? Tapi… tapi… tapi harus kuakui kalau kau memang benar, Maria. Kau benar sekali. Aku sangat mengagumimu. Aku memang telah jatuh cinta padamu! seruku lantang. Hanya dalam hati.

***

Octaviana Dina, adalah penulis sekaligus penerjemah. Sejumlah cerpen dan essainya dimuat di beberapa media cetak dan online. Ia juga menjadi peneliti untuk Yayasan Yap Thiam Hien –lembaga nirlaba yang berfokus pada isu hak asasi manusia.

Udara, Air, Tanah, Api

Puisi Binandar Dwi Setiawan
 

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Udara

 
kekasih, mata belumlah terhalangi dari melihat
terlunta aku dibelantara, kehilangan makna ku mencakupnya
percakapanmu itu terlalu berwibawa bagiku
secuilpun tak engkau rasa ketakterbenakkan yang merajam setiap titik bagian tubuhku
aku mampu saja membagi kepadamu, aku tidak mampu saja membagi kepadamu
jatah, curahan, mengapa menyanggahnya terus menerus
pintu yang mana yang terbuka jika seluruhnya adalah kungkungan dinding tek tertembuskan
cobalah rasakan kesakitan yang mendalam ini
cobailah hembusan dinginnya saja, niscaya eranganlah nafasmu yang engkau anggap gagah itu
aku tak sedang meragukanmu, tapi kebodohan merangkumku, menodong syairku maju
dan tangan diatas tangan diatas nada diatas tangisan diatas keperihan
diatas apa yang engkau tak bakal sanggup menanggungnya
ketika hari itu tiba, niscaya menyapaku pun engkau segan sepenuhnya jiwa
sebenarnya engkau tak pernah mengenalku
menangislah, menangislah saat ini juga, aku menuntutmu, aku memaksamu!
kawan yang terdekat, aku melihat samuderamu sebagai hitam tanpa arah, gelisah, memekak
dan enak saja engkau mengklaimnya sebagai yang membeningkan..!
bukan tentang konsep, bukan tentang prosedur, bukan tentang bagaimana yang seharusnya
wahai yang seluruh perhatianku tertuju kepadamu, aku tak memintamu menuruti
aku tak memintamu jadi ini itu, dan teruslah berusaha membunuhku
berjanjilah untuk terus berdiri… engkau dengar itu..!!!
erangilah keperihan yang membusuk di pucuk pucuk daun tua ini
sudah kusampaikan kepadamu, dan sudinya kekosongan membakar
dan ketidakmungkinan padamu melekat selekat diri
kekasih, aku ulangi lagi, mata belumlah terhalangi dari melihat…
 

Air

 
habis sudah cerita tertulis
tinta mengental atau kering, aku tak peduli lagi
akulah yang menghabisinya, mengembalikannya kepada asalnya
identitas yang paling menyala yang tak terhentikan yang marah
 
maukah engkau disampingku untuk menelisik lebih dalam lagi
sebab tak kutemukan lagi apa yang dulu sering terbuka bagiku
di kerincian gelas gelas itu tak kutahu apakah udara atau tanah
apakah air atau api, yang mana yang memfrustasikan kelahiran gelas
ketika tidak ada yang terputus, ketika itulah pencarian terhentikan, dan mawar menyemburkan darah
 
pastilah ini bukan perasaan
sebab tidak kulakukan kecuali menghindar
kehendakmu menantangku, bukan hanya untuk siapa yang akan pergi
setiap molekulku adalah kesalahan yang takkan pernah memungkinkan perbaikan
maka jangan heran dengan semua keherananku, biarkanlah aku maju
sebab akulah pemilik seribu jurus dari seribu jurus yang ada
definisi pun tak mendeklarasikan akanku
ketika penalaan selalu saja terjadi pada setitik saja bentukan benakku
maka lebih agung aku mati, agar aku tak terkait dengan apa yang memang sesungguhnya
tak pernah terkait padaku, sekali saja jangan menoleh kearahku
bukan aku pelakunya, bukan aku tersangkanya, bukan yang berbuat aku
ketika ini hanyalah sebuah koma, bukan kata atau kalimat
hatimupun terpaksa mengernyit dan bertapa dalam semedi yang harusnya milikku
percayakah engkau sedangkan aku percaya
seluruh tentangmu pun akan terbenarkan
bukan dimulai dari saat ini atau telah ada sejak dulu
tapi karena memang seperti itulah yang kejadian inginkan….
 

Tanah

 
Aku ingin lebih tidur dari ini
Berkipasnya udara memanjakan daya
Dan terus bertambah kekuatan tanpa pusat tanpa batas
Aku ingin lebih tidur dari ini, saja
 
Aku ingin engkau lebih menginjakku, lebih melukaiku, lebih menyakitiku. dan sah bagimu bila hendak menguliti luka per luka disekujur rasaku. atau cahaya yang mencegahmu, atau kegelapan yang memberhentikanmu. bolehlah aku terjatuh dari atap langit mengabadikan kealpaanku akan kejatian dirimu yang keseluruhannya cakrawala tergetar betapa setianya aku kepadamu. termabuk aku mengungkap sari, dan ini benar bahasaku. yang tak menuntutmu untuk tahu, hanya aku yang menyertaimu dalam segala jenis predikat. merebut sepenuhnya dirimu dalam pola yang mustahil untuk engkau pahami. merasuki, menjadikan aku sebagai engkau. hingga terasakan olehku segala yang menimpamu. pergi menghilanglah semiliar citra pagar dan batas. berada diantara kepenjaraan dan kebebasan, aku syahdu menari pada kesemuanya gerakan, tertabuhkan oleh tangisan dan tawamu. oleh segala rupa ambiguitas. makna makna pun akhirnya berseliweran, menyalami satu per satu keanggunan tegak berlakunya kejadian. siapa yang membingkis ini menjadi sedemikian indahnya.
 
Aku ingin menceritakan kepadamu, betapa keadaan ini tak pernah bertopeng
Bahwa aku bersedih seketika kebahagiaan tiba, bahwa aku bahagia seketika kesedihan tiba
Maafkan aku jika memilih membahagiakanmu esok hari, daripada melukaimu saat ini
Sempurna
 

Api

 
jangan lukiskan aku dengan kemarahan dan nada yang tak berimbang
telah kucuri dari kalian semua, sesuatu yang tak kalian tahu dalam keberhargaannya
dengan itulah kehidupanku, dengan itulah sempurnaku, dengan itulah aku sang aku
dan memang akan selalu beginilah samaranku melengkapkan yang tak lengkap
aku berani menyandang sifat ini, meski itu menutup kesempatan akan sebuah percakapan
sampaikan salamku pada segala kedambaan yang kurelakan
kepada kesucian cahaya ketika putih adalah terang, pada agungnya pertumbuhan yang tak tertetesi keangkuhan
menjadi keberhakan atasnya menyentuhku, dia yang kekejamannya tak pernah terpahami
wajarlah aku bertanya bilamanakah dua cawan satu permadani teradakan kembali
untukku bersyahdu dengan diriku sendiri
mengenalkannya pada identitasnya yang sebenarnya
bahwa tak apalah buah berbeda bentuk dengan akarnya, tak apalah tak semuanya terjawab
maka dengankulah keberputaran berlangsung, keseimbangan tersakralkan
syarat menjadi kenyataan yang samar, membiarkan bersebaran pandang demi apa yang dipesanggrahan mata
bukan hendak mempersulit segalanya, aku hanya ingin meletakkan segala sesuatu pas sesuai pada tempatnya
maka beginilah adanya dalam keseharusannya…

FBSI: Catatan dan Pengumuman Festival

Kurang lebih dua bulan berlalu sejak peluncuran Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI) di blog RetakanKata. Sebanyak tujuh belas blog perorangan turut serta dalam festival kali ini. Meski hanya tujuh belas, namun blog-blog tersebut menunjukkan kelebihan para pemiliknya yang tidak saja mengerti dunia kepenulisan namun juga mengerti bagaimana menggunakan teknologi untuk mendukung talenta menulis mereka. Terima kasih kami sampaikan kepada para blogger yang turut memeriahkan festival ini.

Satu bulan penilaian blog yang dimulai sejak Januari hingga Februari telah usai. Dan berikut ini disampaikan beberapa catatan hasil dari pengamatan blog-blog para peserta festival. Mudah-mudahan catatan ini memberi manfaat buat para sahabat blogger khususnya yang bergulat di bidang seni.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
https://retakankata.com/fbsi/

Secara umum, tampilan blog para peserta menarik dan menunjukkan ciri khas masing-masing. Sayang jika blog yang sudah menarik tersebut jarang sekali di-update. Blog yang sangat jarang di-update menyebabkan pengunjung malas untuk kembali mengunjungi blog Anda sebab tidak mendapat sesuatu yang baru. Ibarat tuan rumah, pemilik blog semestinya tidak membiarkan tamunya disuguhi “yang itu-itu saja.” Jika ada tamu yang mengajak Anda berbicara, tamu itu seperti berbicara di rumah kosong tak berpenghuni. Tentu hal semacam ini membuat mereka malas untuk kembali mengajak berbicara.

Selain itu, update blog tidak harus melulu masalah isi (content). Sahabar blogger bisa melakukan update tata letak (layout), tampilan yang salah seperti misalnya kode html muncul ke permukaan atau memeriksa link-link yang putus (broken links). Perawatan yang baik tentu bermanfaat bagi mesin pencari dan para pengunjung sehingga mereka tidak masuk ke tempat yang salah atau tersesat di blog Anda.

Tampilan yang baik, petunjuk arah yang jelas serta tidak banyak gangguan (noise), atau biasa disebut clean, membuat pembaca nyaman. Dan karena ajang ini adalah festival blog sastra, maka content tetap merupakan kekuatan utama sebuah blog. Maka dengan memperhatikan berbagai pertimbangan untuk memilih blog terpopuler dan terbaik, berikut ini adalah blog-blog yang berhak mendapat penghargaan dari RetakanKata.
 

de baron martha
Street Poems

Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,- adalah Blog STREET POEMS;
 
catatan ahmad saadilah
Catatan Diriku (Ahmad Saadillah)

Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,- adalah Blog CATATAN DIRIKU
 
sebuah tanya di ladang sunyi
Sebuah Tanya di Ladang Sunyi

Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,- adalah Blog SEBUAH TANYA DI LADANG SUNYI

 

Selamat kepada para pemenang dan silakan melakukan verifikasi dengan mengirim surel ke RetakanKata yang dilampiri data diri dan nomor rekening bank. Kami akan memverifikasi melalui nomor telepon genggam.

Salam sastra Indonesia!

Karena Setiap Kata Punya Makna