Arsip Kategori: Puisi

Lianju Hujan Musim Gugur

Puisi John Kuan

———  bersama Meng Jiao  dan Han Yu

 

Sepuluh ribu jerit pohon bersahut,

uap seratus sungai bergumul.   – Meng Jiao

 

Pekarangan bergolak pohon renggang merapat,

jendela menjelma semata jernih dan rukun.   – Han Yu

 

Seribu dua ratus tahun dan seguyur hujan berlalu,

satu baris kuning trengguli menyusup ke kolam waktu.

Walau deras belum habis tumpah ke mulut sungai,

terbang terapung bahkan naik menusuk awan    – Meng Jiao

 

Tuntun kenangan hingga ke gunung hampa,

dengar air menggelepar lewat pasir dan batu.   – Han Yu

 

Jujur di sini hujan tanpa musim gugur, teh celup,

Edith Piaf mendayu, seekor kucing kuyup di bawah mobil.

Atap miring menitis hujan sehelai sutera putih,

pintu air meluap sungai lebar dan jernih.    – Meng Jiao

 

Liur manis genangi embun dan hujan padi wangi,

perlahan lembabkan sebatang sudamala gundul berisi.   – Han Yu

 

Daun dipetik jatuh sehelai E Minor. Langit sebuah

microwave: hangatkan beberapa ruas mimpi dan tulang rematik.

Ombang-ambing di dasar ngarai gema bertengkar,

di dalam gigil angin ringkuk dibasuh sungai.   – Meng Jiao

 

Sepoi datang mengelus di depan kelambu,

kembali tinggi hinggap di langit luar.   – Han Yu

 

Ditempias Hujan Bulan Juni: SDD, tampak mirip

Du Mu. Agak ringan, mungkin tidak suka ngebir.

Betapa sempit liang belalang gelap dan sesak,

Tonggeret dari ranting ke ranting melumur muntahan jerit.   – Meng Jiao

 

Pagar mapel dan krisan berhamburan wangi bunga baru,

anggrek di sisi setapak menyepuh kelabu senja.   – Han Yu

 

Tarik keluar sepotong sajak dari kulkas waktu. Keras dingin

: kata sendok posmo. Haagen-Daz rasa sirup mapel bisa bersaksi.

Sekeping cermin bumi pantul pagi pantul petang,

kolam gemintang ternyata apung berlari.   – Meng Jiao

 

Decak kagum hanya satu bunyi lumrah,

tertuang penuh tenggorok sebaris seruling bambu.   – Han Yu

 

Cempaka Amir Hamzah tumbuh di dalam suhu kamar.

Aduhai bunga pelipur lara/ Terlebih pula duduk di sanggul.

Artikel Terkait:

Puisi Sejoli Sunyi

Puisi Sebuah Anti Travelogue

Puisi Bukan Sebuah Anti-Travelouge

(Lagi) Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin

gambar oleh AYE
gambar oleh AYE

——–

ITU

——–

 

Lelaki itu berpikir dia bisa baku tipu terus soal dunia

Bayang tubuhnya pas teng 12 siang fanatik benar

Sepuluh jarinya terjulur di ranting jadi tangan Budha  

 

 

————————

PENARI TOPENG

————————

 

Kadang dia melenggok ke kanan, buka-tutup

Topengnya sedikit-sedikit, kayak tak percaya

Orang jaman kini tak lagi ngotot butuh subyek

 

Dipertahankan mati-matian di balik topeng kayu;

Kerincing kaki, tarik biji mata dua-dua lirik ke kiri

Pikirnya dengan begitu obsesi tuntas keliling dunia

 

Bisa nyata, dia kira semua penontonnya bodoh apa?

 

 

———————————-

DARI MEMOAR MATSUO

———————————- 

 

1.

Tidak asing lagi secangkir teh hijau terasa

Di lidah orang bisa belajar kebajikan asal

Bukan yang tinggi, hanya sececap getah

 

Sepah pucuk rumput terasa manis berabad

Ini bukan kembara jauh, bilang kakiku dekat

Dua-tiga langkah ditarik ke sisi tak terduga

 

Sekarang, orang bisa jalan dengan lidahnya

 

2.

Bila tidak suka tinggi-tinggi, bilang aku bisa

Terjun ke samudera di sumsum mata kaki

 

3.

Bisa pilih jalan lempang, sudah jadi karunia

Suka-suka orang berpikir tahu arah pulang

Tengok belakang tengok depan cuma jejak

Kelinci atau rakun. Pasti jelas bukan embun  

 

4.

Penyair tidak paham debam ekor paus bikin

Ombak di piring orang lapar, matanya buta

Nekat saja ia tulis haiku sampai lupa pulang  

 

5.

Sok-sok-an begini dibilang rahasia, tidak lihat

Hujan daun sakura gugur dekat bunga nazuna

 

 

———————–

Agustus 2013

———————–

Sebuah Anti-Travelogue

Puisi John Kuan

Satu Malam di Haurgeulis

Tidak ada cinta palsu, kawin tipu

raja ratu satu baju, sejarah di sini juga

legenda telah lama tidur. Udara hangat

padat, daun muda mangga Indramayu tebar

semacam harum, pipa bambu dalam gelap

menetes sejuk. Perkutut, juga seekor entah

burung apa sedang bersiul. Agak jauh

beberapa jendela mati lampu. Bulan penuh

di atas lumbung, Langit ada petir, terangkan

bunga-bunga mekar, di pekarangan daun

rimbun, rumah utama setengah ambruk.

Pipa bambu terus menetes, ada suara percik,

ayam berkokok, di malam angin aduk hujan

selalu begitu, awan hitam bersekongkol

guruh mengertak di jauh, saat itu angin baru

gila meniup, daun-daun menyahut, setetes

air hujan, banyak tetes air hujan kecipuk

kandang kambing dan atap seng

Dua Hari di Polandia

1.

Jembatan rel, pemusik buta jual nasib,

sebuah peti kayu, seekor camar,

siap siaga mematuk kertas nujum

kurogoh kocek, tapi ragu, sekitar penuh

penonton, aku berhenti, tarik keluar secarik

uang kertas 10 zloty, tertunduk, tidak

pandang bulu, sodor kepada pemusik

buta, camar seolah kilat, dari dasar peti

gigit secarik kertas, aku terima, berlagak

tenang: Awas pada kawan, kata kertas

Hati-hati masuk angin, kata kertas lagi

Aku kasihan kepada uang 10 zloty itu

Esok bangun, muka tebal, sebab pulas

ditampar angin garang, radang sendi

Kalau kawan, sejak itu tidak berani

2.

Biru tua beku, pantai dangkal, tepi Sungai

Wisla, es menumpuk sekujur tanggul

Duduk di atas balak, lonjong tapi basah

pelan-pelan diseka matahari terbenam

Tadi malam bersama Maria diguyur

Etude Szymanowski. Tahu, cinta telah

berakhir, persis seperti cheesecake

gosong dibakar temperatur tinggi

Sisi gereja di seberang Istana Potocki

pekerja belah batu tutup setapak

mata pisau berkedip dalam warna senja

telunjuk mandor mondar mandir

Tiga Jam di Rumah Lu Xun

Duduk hening di bawah bayang waktu, sejarah

tidak teriak lagi. Namun, puisi masih ditulis

pada semrawut jalan-jalan tikus pikiran

Negerimu sudah bangun? Di sudut-sudut ruang

memorial luas, tak terhitung batok kepala sehabis

dipotong taucang, pergi, hanya sisakan segumpal dahak

erat mencekik leher pengunjung, di antara mau

muntah dan tidak, menjaga garis pertahanan terakhir

pita suara. Maka, cekal suara, tidak bicara ihwal negara

diam menembus lewat satu bayang tubuh kesepian

demikian kosong, ingatan dikubur ke dalam bahasa derita,

tertidur, kita hanya berani pelan-pelan melangkah lewat

takut mengejutkan roh sedang merenung

lelah memikul seluruh Cina yang menggelembung

kita melangkah lewat, pada bayang perlahan mengecil

matahari di tengah hari, sebatang pohon jujube, dan langit

sebatang pohon jujube, tiada guruh, hanya segerombolan

suara kepak sayap merpati gegas melintas…

Empat Menit di Akademie Schloss Solitude

Schiller, Goethe telah diundang

ke sini menulis, membaca

setiap hari pukul enam pagi

pelayan ketuk pintu,

diperintah segera bangun

aku teriak: Baginda Yang Mulia

Muse masih amat pulas

buat apa pula aku bangun cepat

pinggiran Stuttgart bagian selatan Jerman

seperti kastil seperti istana di Baden-Wurtternberg

jauh dari debu dunia, tinggi bersemayam di puncak

cuma ada suara angin suara hujan suara burung

orang-orang pakai baju kuno naik kuda gagah

tapak kuda mengetuk bumi berlapis batu kali

di dalam batu kali pernah ada hatiku sebiji

Sejoli Sunyi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di mana akan kausimpan cahaya

Bulan padam menjelma debur ombak

Memeluk urat-urat laut di lenganmu?

 

Tersimpan di sini, di sela tebing rintih

Sebenting karang terlipat tatap matamu

Bercak-bercak perih, jejak kata digerus waktu

 

‘Kadang kita tak bisa memilih,’ lirihmu

‘Hingga mimpi kita membiru.’ Tapi, luka adalah pantai

Adalah cahaya dan gelap pada nadir yang sama

 

Kukecup desir angin lewat ujung rambutmu

Sebutir embun terbit di ufuk matamu, memercik

Sebagai gerimis usai menggaris pagi di telapak tanganku

 

‘Antar aku pulang, Sayang, antar aku kembali

Berlayar ke negeri paling sunyi, ketika dusta bukan lagi

Sehitam pedagogi,’ bisikmu. Aku membisu, jauh menatap

 

Debur ombak, memimpikan revolusi berderap di lentik jemari

Kakimu, tak lain segurat proyektil di tembok batas kota itu

‘Lupakan mimpi-mimpi gilamu, Sayang, tapi rabalah bibirku

 

Di rimbun rumpun alfalfa, di gerimis tatap matamu,’ pintamu

Berharap jadi sejoli, sepasang lelaki yang dipaksa bermimpi

Melawan ilusi, hingga kauledakkan tubuhmu di stasiun kereta pagi

 

 

26 Agustus 2013

Tiga Puisi Ahmad Yulden Erwin

KITAB HALAMAN

Kini mulai kubaca lagi halaman rumahku:
Pagar batu, dua rumpun seruni, sepasang
kelinci, atau tiga larik haiku berlari memeluk

ranting petai cina. Kau tidak bisa bertanya:
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?
Tiada batas kecuali dalam pikiranmu semata.

Tanah basah, genangan air bekas hujan, kilat
tiba-tiba menyergap seperti sekuntum anyelir
mekar penyap di fajar mataku. Jika kau dapat

melihat dengan jernih, maka akan kaudengar
sepasang kutilang berkicau di dahan mangga;
akan kaurasakan manis desir angin membelai

kuntum-kuntum widuri di halaman tetangga.
Pada saat itu, janganlah sungkan bertanya:
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?

————————————————————————–

IMPROVISASI

                                       Aku pergi…
                                       – Tanzan

1
Hujan belum turun pada baris sajakmu,
juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu.
Malam yang tersangkut ranting kering

tak juga bergeming oleh tatap matamu.
Kau tahu, semua mesti berakhir, seperti
bangkai capung yang terinjak sepatumu.

Pintu. Debu. Remah roti. Semut-semut
merayap di toples gula. Segalanya adalah
mimpi yang terbakar di telapak tanganmu.

Tak ada yang kekal, juga bayangan bulan
yang terpantul pada kedua bola matamu.
Sepatu kautaruh di raknya. Baju, celana,

singlet, sempak: kaugantung di samping
jendela. Kautatap tubuhmu di depan kaca:
Bukan sabda. Bukan kata. Bukan tanda.

2
Tak ada satori saat kautatap percik hujan
di nako jendela kamarmu. Tak ada kensho
saat petir menyergap gendang telingamu.

Kau tersenyum memandang kotak sampah
di pojok ruang tamu. Waktu telah menjadi
segelas air bening yang mengalir perlahan

di dinding ususmu. Kau tak lagi menatap
arloji di tangan kirimu. Kaubiarkan saja
detik-detik memercik pada tiga larik haiku.

Kautatap bunga-bunga krisan di meja tamu.
Kau tertawa. Semua menjelma metafora:
Bukan suara. Bukan udara. Bukan cahaya.

———————————————————————–
MENATAP KELUAR JENDELA

Ujung sebatang ranting
kering, langit biru bening,
sepasang capung hijau
hinggap di pucuk ranting.
Pikiran adalah lidah-lidah
kering, amat merindukan
setetes air: kesegaran dalam
kebeningan. Tapi langit,
di sana, terlihat amat jauhnya.

Kini kau kembali terkurung
dalam kenyerian kamar.
Mungkin ada baiknya kau
belajar mencintai kamar,
menghargai arti debu dan abu,
tumpukan kertas tak terpakai,
serakan pena tak terpakai,
sederet rencana di luar rencana.

Dari balik jendela,
di luar segala rencana,
kau mulai menyerap
kebeningan: kristal kilau maut,
pikiran hanyut menuju awal,
awal pun hanyut menuju akhir,
akhir yang berawal di jendela terbuka.

Kini, dalam kekinian
yang paling kini,
kau mulai menyadari
ada yang tak bisa kausadari.
Ujung sebatang ranting
kering, langit biru bening —
daun hijau tumbuh di pucuk ranting.

——————————————————

Bandarlampung, 2012 – 2013

Tiga Puisi Cinta dan Satu Nyanyian Pilu

Puisi John Kuan

——— meniru Inger Christensen

1.

cintai aku titik/ kalau tidak aku akan lenyap di udara titik/ biarkan
aku bagai mobil parkir di garis kuning tengah malam koma/ numpang
hidup sebelum fajar menyingsing titik// cintai aku titik/ biarkan aku
sebagai sisa pijar minyak di sela jarimu koma/ erat mendekap
keringat hangat koma/ tidak ingin dikuras jatuh titik// cintai aku titik/
walau cinta licin macam belut koma/ spesimen seperti aku ini titik/
hanya di saat kau menatap koma/ baru kembali peroleh kebebasan titik
// cintai aku titik/ kalau tidak aku sudah mau bernyanyi buatmu titik/
oh my god koma/ dijamin membuat kau merasa lebih baik koma/
lebih baik mencintaiku titik//

2.

jangan lagi memberondong ke arahku koma/ bukan pula aku robohkan
bentengmu koma/ jangan lagi memberondong ke arahku koma/ sungguh
aku tidak cukup nyali merampok bank koma/ jangan lagi memberondong
ke arahku koma/ pendapatku masih belum menang piala perdamaian koma/
jangan lagi memberondong ke arahku koma/ aku tidak ambil topi baja
ke medan perang koma// sedihku hanya 21 derajat celsius koma/ terpurukku
masih menunggu elevator koma/ deritaku diserahkan kepada askes koma/
sepiku telah dikirim menemani kucing koma// satu tembakan lagi aku akan
berubah jadi mazinger z koma/ satu tembakan lagi aku akan transparan koma
/ ayo tambah satu tembakan koma biarkan sakit membuktikan koma/
roh ini masih belum dibius koma/ biarkan cinta menampakkan mujizat
terbesar titik dua/ sehabis mati koma/ masih bisa mati sekali lagi koma//

——— bukan meniru Pablo Neruda

3.

tidak ingat lagi nama jalan itu
hanya tahu kau tinggal di loteng YAMAHA
papan nama sudah padam, tidak tahu lampu rumah siapa
bergoyang menyapu permukaan jalan
cuma tahu jalan memutar pulang amat panjang, amat panjang
bagai melewati galaksi lain.
tidak ingat lagi rupa jalan itu
hanya tahu angkat kepala akan disambut hujan garpu pisau jarum
itu adalah malam di hari ketiga
hari kedua aku masih ikut pawai
biarkan tempurung kepala diisi penuh suara drum
hari keempat sudah lupa
ingat betul telah minum sup buah pare
namun ujung lidah seperti bisa mencicip manis irama di ujung jalan
sehari berikutnya mungkin adalah banyak tahun kemudian
aku kembali ke jalan itu ( kita sama-sama sudah tua di dalam mimpi )
jalan itu, masih sepi, kacau, indah, biasa
kau kembali ke loteng, aku angkat kepala menatap
sekalipun dunia mau kiamat juga tidak hirau

4.

aku harap sendiri bukan sebuah sangkar
tapi angin yang menyusup lewat
aku harap bisa dengan nyanyian kau riang
tapi bukan cinta
aku harap bisa dengan bersih sorot mata
menikmati sebiji ceri
aku harap setelah pisau dicabut dari ranjangku
mampu rapat sendiri
hanya kadang di paruh malam
aku masih bisa ambles ke lobang luka
berebut menyantap habis ceri terakhir
nyanyian indah diulang hingga sumbang
kadang aku biarkan pintu sangkar terbuka
tapi tidak ada orang ingin masuk
atau keluar

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati #5

1. Ketika Malam
 
Cinta-cinta bersandar,
di gigir bening,

sungai cintamu.

mengalir,
begitu hening.

2. Kita mencinta, seperti tak mencinta

Lama,
seperti selamanya.
-tanpa kata, -tanpa bicara.

Diam ini,
terlalu dalam, -teramat dalam.
hingga batas, -tanpa batas.
-tanpa henti, -tanpa tepi.

Letihmu lelah,
lelahku letih.
Kita mencinta, seperti tak mencinta.

Teronggok bagai batubatu,
yang tenggelam makin dalam.
-dalam diam, -dalam dalam.

Diam ini, seperti selamanya.

gambar diunduh dari http://ismimei.files.wordpress.com
gambar diunduh dari http://ismimei.files.wordpress.com

3. Perahu Kertas

Seharusnya kita tidak terkejut,
bila musim hujan datang sedikit lebih cepat,
atau sedikit lebih lambat.
Perahu kita akan mengapung,
begitu hening, begitu tenang,

Dua atau tiga nelayan cukup membuat bahagia,
seorang memancing nila, yang lain menyiapkan penggorengan,
masa bodoh dengan semua hal yang tidak masuk akal.
Dari balik jendela bambu, kita bahagia bersama mereka.
Biasanya engkau tidak tahan untuk tidak campur tangan,

Sungai menggelora, menerabas akar bunga bakung,
air tumpah ruah,
Nelayanmu menangis, engkau pun menangis,
Perahu kita kandas,
kembali terurai menampilkan harga makanan yang tak mampu kita beli.
Lain waktu, itu mengajarimu melipat daun pisang membuat payung.

: kita buat satu lagi, kataku

Kita tertawa, memayungi perahu dan nelayan kita,
menyusuri sungai entah sejauh apa,
begitu mudahnya lapar terlupa,
begitu sulitnya bertahan pada bahagia.

Hujan yang datang sedikit lebih cepat, atau sedikit lebih lambat,
Tidak pernah mengejutkan hati yang bahagia.

Mengantar Wang Wei Pulang

Puisi John Kuan

Buat Ahmad Yulden Erwin

gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com
gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com

Sedahan burung gunung tegak ngantuk, kaget
terbangun oleh risik bulan origami kertas puisiku
Suara kepak sayap menghardik bubar seluruh daun
Gunung hampa. Tiadakah orang? Hanya kau
tangan di tepi sungai menyentuh lumut di atas batu

Ah! Sudah begini tua. Selembah musim semi, bunga
sesuai waktu lalu gugur. Tarikh Tianpo 10 tahun?
12 tahun? 15 tahun? Hidup boleh, mati boleh, gontai boleh
santai boleh bagai sekuntum teratai di kolam belakang
dan setiap petang, dalam luar tubuh selapis hijau kelabu

hanya tinggal lekuk batu tinta belum kering
masih tergenang penuh keangkuhan hitam
sebab itu, agak santai, agak malas, tongkat ranting
di tangan, keluar tiga li ke arah tepi air melangkah

.

Tegak, mendongak, tengok gunung, tengok awan
melintas, bergeser, menyebar dari keningmu yang sunyi
di saat begini mendadak terpetik sepatah puisi indah
lalu hilang ditiup rambut kusut baru kau rapikan
Beberapa saat lalu, ada orang datang menyapa:

Puisimu yang mana paling ada renungan zen?
Kau menjawab santai: Bukankah bangau putih itu
diam-diam terbang keluar baris ketiga Genangan
Hujan Wangchuan. Habis ucap, selengan baju bunga alfalfa
menyusuri batu anak tangga, terguncang jatuh

Musim gugur, dengan kurus, dengan ikut
hangat senja, menyusup ke dalam sepi rumahmu
hari disiram hujan gunung, bisa semadi, bisa edit puisi
cicip sedikit hambar Zhuangzi, atau lewat jendela kuyup
menonton asap liar di kaki gunung kepang rambut

Kadang juga teringat An Lushan dan segala rutinitas
Dinasti Tang, atau berdiri, atau duduk, atau lempar pena
bangkit, hingga matahari di ujung dermaga terbenam
dimuat sampan nelayan ke seberang. Pada hening kolam pagi
melihat diri telah sebatang bambu, ditiup angin

setiap ruas bergoyang, setiap ruas tampak kukuh

.

Antar kau, di setapak Hujan Wangchuan, memasuki
kosong ruasmu yang terakhir kau sisakan buatku

Tiga Kilasan Gaya John Kuan

Puisi Ahmad Yulden Erwin

john kuan

1.

Ini bukan soal tiga pon jerami, barangkali
Cuma cahaya tiga lampion, atau mirip senyum
Peramal Tao dengan sebotol arak di bahunya
Lalu pergi: jalan itu, kerikil itu — ia melangkah
Lurus, pelan — sesekali bayangnya bisa menoleh

2.

Tiga koi merah bersisik perak di kepala
Berkilat di kolam dekat kuil; jembatan itu lama
Ditinggalkan — hanya sesekali gema genta
Dicuil jadi sarapan bangau lukisan — mereka
Sebut itu gugus awan: jembatan Joshu yang lain

3.

Koko telanjang dada di bawah bulan petik
Kecapi — sebelum lubang cacing putih memilin
Ujung telunjuk Juzhi pada touchscreen — mungkin
Kita pas berpisah frekwensi di ruang yang sama
Begini saja mestinya sudah cukup jadi jalan pulang

Dua Puisi Kotbah

Puisi John Kuan

1. Santo Fransiskus Berkotbah pada Burung

Pak Fransiskus, santo dari Asisi, bruder kita
pendiri ordo Fransiskan: padang liar abad ke-13
Italia bagaimana? Berbagai rupa dan warna
burung berbaju bagaimana berbeda, berkicau
bagaimana memukau, membuat kau tidak bisa
menahan diri siapkan buat mereka satu pelajaran
demikian indah. Menguak satu tradisi baru, riang
fokus dan bebas begini sebuah ekstrakurikuler?
Mereka sebagai pendengarmu, kau anggap kawula
burung liar sebagai gurumu, membuat kau di abad 21
serentak diangkat sebagai ketua kehormatan WWF,
klub burung, dan perlindungan lingkungan hidup.
Hari itu cahaya matahari berkilau, kau melangkah
di jalan gunung pinggiran Asisi, melewati jembatan
kecil, sampai di bawah sebatang pohon ek hijau, duduk
istirahat di atas sebongkah batu, memandang lembah
di depan mata. Kau mendengar di balik hutan ek
mengapung datang suara nyanyian seekor robin, seolah
searus sungai kecil mengalir berbagai mutiara langka:
memakai satu topi indah berwarna hitam, dada merah
oranje, saudara kita bersayap ini. Kau sungguh
berharap bukan memakai ikat kepala bruder, tetapi
adalah topi hitam seperti dia, selanjutnya seekor wren
tampil melengking, gegas berputar, seolah dipental
ke sana kemari oleh tunas bening di langit, betapa lucu
burung merah kecil! Suster tekukur juga bersenandung
pelan-pelan, kemudian kau mendengar suster vireo
bertopi hitam bolak-balik mencat warna vokalnya
Ah, aku tahu, begini rupanya coloratura soprano berasal

Dia tarik datang lebih banyak kicauan, kau bahkan
mendengar siulan seekor robin kuning bagai tiupan
seruling di tepi mimpi, suaranya lincah seperti cikukua
di dalam senja bertabur cahaya permata, suaranya
terputus-putus mendendangkan suster kita remetuk laut…
Nyanyian mereka mengumpal jadi sebuah pulau suara
penuh bertebaran bermacam warna tanda seru,
tanda titik, tanda koma, titik koma, titik dua, kutip tunggal,
kutip ganda, elipsis terapung di atas laut berlangit biru
kidung mulia nan indah dari paduan suara semesta.
Memuji siapa? Memuji Sang Pencipta memberi mereka
keriangan dan kebebasan, gunakan warna dan irama
berbincang dengan langit dan bumi, berbincang
dengan Dia, dan Dia bersama langit dan bumi
juga membalas dalam warna dan irama…

Kau tiba-tiba bangkit dari bongkahan batu, melangkah
ke tengah jalan bergetar bayang pohon ek,
luruskan pinggang, mendongak bagai seorang tamu
mata telinga dan hati habis dijamu santapan enak,
tegak khidmat bersiap memberi seuntai terima
kasih. Kau tatap burung-burung bernyanyi
di dua sisi hutan pohon ek, mereka lalu heningkan diri,
bangga juga rendah hati berlagak menyambut piala
atau pidato ” Saudara-saudari burung yang tercinta ”
Kau mulai berbicara. ” Terima kasih kalian gunakan
bahasa malaikat, musik tanpa kata membantu aku
buktikan kebenaran Dia bocorkan kepada kami.
Dia beri kalian sepasang sayap lincah, beri kalian langit,
atmosfer, awan, angin, bulan, matahari dan bintang
sebagai pandu dan rambu lalu lintas kalian. Dia beri
kalian warna-warni, aneka bentuk pakaian bulu
dua lapis tiga lapis, walau kalian tidak tahu
merajut dan menjahit. Dia beri kalian pohon tinggi,
rumput hijau, lumut buat sarang, beri kalian air
sungai dan kolam lepas dahaga, sediakan makanan
kesukaan kalian, tidak usah tanam dan panen,
juga tidak usah gesek kartu atau bayar tunai.
Dia cinta kalian, mengajar kalian bersyukur indah
dan riangnya dunia, menikmati perjalanan gaib…
Ah, teruslah kalian memujiNya, dengan berbagai
warna suara, dengan berlembar-lembar gambar
berbeda, perangko berbeda, terbang ke empat penjuru,
bersama segala benda, di antara nyata dan hampa,
tembus waktu, jauh dekat satu cinta, begitu mengikat… ”

2. San Antonio Berkotbah pada Ikan

Melalui Des Knaben Wunderhorn ciptaan Mahler 
di akhir abad ke-19 pertama kali mendengar kisah
kau berkotbah pada ikan: dari kampung halamanmu
Lisboa ke Italia, saudara fransiskan kita, bruder
Antonio, yang berusia 26 tahun dalam Kapitel Tikar di Asisi
tempat berkumpulnya 3000 bruder bertemu santo
Fransisikus yang 39 tahun. Kalian gelar tikar tidur,
pakai kain belacu, dengan kaki telanjang, dengan miskin,
dengan menyebar ajaran, dengan membantu orang
sebagai hiburan. Kau pasti pernah mendengar cerita
dia berkotbah pada burung ( atau mungkin kalian
bisa dengan daya komunikasi ajaib masing-masing
berdialog dengan bahasa ikan dan burung ) Dia minta
kau buka pikiran dulu baru belajar. Kau justru
menyebar ajaran kepada penganut agama lain
di dalam gereja suaramu lantang bergema,
di luar gereja mereka menutup telinga. Kau berjalan
sampai muara sungai, nelayan di atas perahu melihat
kau bagai transparan, kau berbicara pada air mengalir
ke laut, berbuih-buih tiada habis, emang sangat cair.
Tiba-tiba meloncat keluar seekor ikan barakuda
santai menembus permukaan air, dia sambil cuci telinga
sambil menegakkan badan dengar, bagai sebuah roket
didorong panah api semangat bersiap naik angkasa
Salmon yang sedang mudik juga datang, ikan mas
yang mengandung telur juga, belut plotos bermuka
mulus, juga ikan trout yang bergerak anggun.
Mereka begitu riang mengitarimu, bagai menunggu
undian promosi produk baru. Ketam yang malang
melintang, udang di balik batu, pelan-pelan bergerak
dari laut. Kau tersenyum pada mereka dan berkata:
” Aku tidak menjual barang, hanya memberi kalian
hadiah, Bapa yang setiap hari memberi kalian makan
tiga kali, memberi kalian kenikmatan ikan bertemu air
sungai dan laut itu, ingin aku menyampaikan kepada
kalian suaraNya. Dia memberi alam sebuah lemari baju
maha besar, agar kalian kawula ikan bisa memilih
sehelai baju renang atau baju kasual atau formal
sesuai selera masing-masing dan pas. Kalian sering
dengan gerakan tari paling luwes, suasana hati
paling gembira, memuji Bapa! ” Ikan-ikan setelah dengar
mata terbelalak, mulut menganga, berebut goyang
sisik-sisik ditubuhnya, suara sisik bagai suara lonceng
bergetar, segelombang-segelombang umpama tsunami
mencapai permukaan laut, perahu-perahu yang baru
bertolak lekas balik haluan, semua nelayan serentak
mengetuk papan geladak, dengan jempol mereka
menekan [ suka ], irisan-irisan sashimi di atas perahu
disayat hidup-hidup dari ikan tuna, ikan todak,
setengah mati berusaha menemukan jati diri, seolah
telah resureksi bergegas lompat ke dalam air.

Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin #2

AJISAKA
Bapak moyang saya seperti ayat
Dicatat pagi jadi sesayat mata mayat
Menatap kosong angkasa, kemukus

Melintas sekejap, saya tersadar
Sebentar pikiran saya akan berkisar
Pada sebelas bintang rasi dan arah angin

Jadi pedoman para pelaut pemburu paus
‘Lemparkan mata tombak itu, cepat!’
Tapi saya ganti lihat kilasan yang lain

Sebelum pecah perang paling keji
Tanpa musuh, cuma virus buatan berbiak
Menyantap habis neuron di otak

Dalam ruang kemudi pesawat antariksa
Terakhir saya tatap stratosfer planet biru
Saya mesti pergi menuju pusat paling sunyi

Ke inti Bima Sakti, menyingkap teka-teki
Sejarah 200.000 tahun para dewa bintang
Pembiak bibit genetik para pemburu binatang

Sebelum seorang perawi pelan terhisak
Mencatat laung kisah peradaban yang hilang
Pada tabula berkilat darah di ujung duri landak

Bandarlampung, 20 Mei 2013

THE NEW LEMURIA

Jalan-jalannya  terbuat  dari wangi bunga.

Setiap orang bebas  memilih  harumnya,

dan  tak ada  orang  akan  bilang: ‘Dusta!’

 

Gedung-gedungnya beratap tawa canda.

Seluruh  terminal,  stasiun,  dan  bandara

dibangun  dari  tepung kerang-suka-cita.

 

Setiap rumah semata  pintu yang  terbuka.

Jendelanya  sepoi  angin  di daun angsana.

Halamannya  tak  lain  jiwa-jiwa  merdeka.

 

Warganya  bebas  memilih kertas atau palu

sesuka mereka. Tak ada tuan atau hamba.

Di sana senyum tulus adalah bahasa utama.

Para bocah selalu berbinar saat membaca,

tapi hati mereka bebas  bermain di angkasa,

melayang bersama kakatua dan elang raja.

 

Kebahagiaan adalah hukum pertama. Musik,

tarian, dan pantun  itulah  samadi mereka.

Misteri adalah  cahaya lilin beraneka warna.

 

Kini,  aku  tak  mungkin pulang ke kotaku,

karena mimpinya tengah berlayar ke hatimu.

Perawi Rempah

Puisi Ahmad Yulden Erwin

1

 

Minggu  pagi  menggigil  di sayap  burung  undan, seperti ratusan

minggu pagi  lainnya, menyusun  sesatu  kenangan. Kau  mencari

beberapa  onggok pulau  di Timur dengan wangi  cengkih  tertiup

angin  muson, dan kelasi itu  berteriak,  ‘Surga telah  ditemukan!’

 

Ketika itu  di anjungan, kau  nampak berdiri menatap  selengkung

ombak biru, setapak  jejak  sepatu mengutuk layar  kapalmu; kini

kaubayangkan putri duyung  berbau  pala  di  ranjang  kabut pagi,

kaubayangkan  lidah jahe  menjilat  ususmu.  Saat itu angin mati,

 

separuh  kelasi  lapar  dihajar kudis.  ‘Bunuh saja aku!’ gerutumu.

Lalu kaukenang  janjimu, atau  mimpi  buruk itu:  berkarung  lada

dan kapulaga bagi tumbung gurita raksasa saat  kembali, delapan

tentakelnya membelit  sepeti  koin  emas, tentu  saja bajingan itu

 

keranjingan menuntut  balas andai tiada kautebus  amis mulutnya

dengan  kayu  manis, plus  bebiji lada, dari ladang rahasia. Maka,

demi berkah Yesua, kauburu rempah sepanjang bandar antik dan

teluk  Afrika:  ‘Meski  badai  mendampar  kami ke tengah pasifik.’

 

‘Surga  telah  dihamparkan!’  kelasi itu  kembali berteriak, ombak

mencium wangi  tangkai  cengkih  di puting  pelangi. Kau terjaga.

Bagai tak percaya  kaugosok  kedua  matamu  di bawah alis pagi:

Yesua telah berbaring nudis di pantai sunyi. ‘Haleluyah!’ Alangkah

 

bahagia: kau tengah menapak di pasir pantainya. Tentulah wajar

bila kaupungut  bebulir hitam  terserak di sana, surga akan selalu

berlimpah. Pantaslah  tamak-tamak  kauisi palka kapalmu dengan

bebiji rempah. Beginilah  hikayat  Nusa Permata sebelum dijarah.

 

 

2

 

Sesayat mimpi  bersama  irisan daging kering, kutu dan belatung

pasti  lebih  dulu menyantapnya, begitu  sarapan bagi para kelasi

hingga  makan siang  dan makan malam mereka; sesayat mimpi

demi  setimbun  rempah  eksotis  di pulau tropika. Mereka bukan

 

awak perompak  Selat  Malaka, mereka  lanun  penggila  misteri,

juru selamat  kaum kafir dari ketel neraka. Tiada gentar mereka,

sebab wahyu  telah  mekar di ladang nyali  musim  dingin Eropa,

sebab tukak dihangati lada, sebab tafsir tertera dalam sabdanya:

 

Setiap sebiji rempah kaurampas di tanah ini akan menjelma doa,

sebab  misi  sempurna, resah  tiada, kaulah wakil kerajaan Bapa.

Di  pantai itu  kau  berdoa: ‘Undanglah  kami, O Yesua, mencicipi

lezatnya gurita,  beraroma rempah, semeja-hidang Ratu Sheba.’

 

Fakta cogito akhirnya, bukanlah Yesua  undang kalian, melainkan

diseret  tentara  Sultan:  ‘Kalian  babi bulai pencuri  pala petani!’

Randai beriring  mereka  digiring  ke halaman istana; menanting

aneka  piring,  panci,  kuali dan peralatan makan lainnya –– juga

 

kompas  juru  peta,  juga  Kidung  Cinta Salomo  penakluk dunia:

kuasa gaharu  di hidung  surga.  ‘Kenapa Tuan Nakhoda  curi  itu

bebiji  pala?’  murka  Sultan Boalief.  ‘Sebab di sini tanah  Yesua,

segala bole  dipungut  seturut  kami suka,’ singut Tuan  Nakhoda,

 

sejenak  kecut,  ditatapnya  merah  jambul  kasuari di pici Sultan

dandan Persia.  ‘Di Nusa Tarnate  orang  bole ambil segala suka,

andailah  bisa Tuan  ganti  kami  punya!’  Ciutlah  nyali  nakhoda,

bekal segala habis di Sunda Kelapa, hanya jubah lusuh dan zirah

 

besi  miliknya semata. Cemas oleh gagal akan misinya, pias akan

cekik delapan  tentakel gurita, ia letakkan sarung  belati dan kitab

suci di duli kaki  Sultan Tarnate,  ‘Habis  kini  harta  tersisa.’ Haru

sebab siasah begini, setengah tertawa, Sultan berbagi jatah pala.

 

 

3

 

Mereka  membangun  benteng  kecil  di  tengah  padang  ilalang,

sebelum  kaum kafir itu  mengayunkan  pedang,  sebelum  tarian

bumbung hantu dikepung tabun perang. Cuaca melesit langit biru

jadi kelabu, disorot gahar sebiji mata kucing lapar. Dagumu naik,

 

sedikit bergetar, lekas  meracau kalimat jemu, ‘Salju tak laik ada

di lekang pulau tropika.’  Kecuali  batu dan  kepulan debu, musim

kemarau menyulut pasukan Tidore  membakar  benteng kecilmu,

melampuskan segenap harapmu; begitulah kauputuskan  segera

 

menikahi gadis  coklat itu, pentil  sepasang teteknya berbau pala.

Jadi, diam-diam  kautakik   tradisi  membenci, melawan nasibmu

sembari berburu babi, begitu  jelas taktik  paling minim, sebelum

fajar kaukirim sepucuk surat itu, sebelum  datang  penjarah baru

 

melocok  senapan  dengan mesiu; terayun  dari  moncong buaya

ke taring singa, begini nasibmu terbantun dikutuk aroma rempah

serupa kemaruk busuk mulut gurita. Tiada Yesua di pantai surga,

tiada Bapa, kecuali  sepasang  beruk  keling memanjat  sebatang

 

pohon Cockyane tumbuh subur di ranah mimpimu, mereka kawin

dan berpinak di sana, merekalah moyang segala penjarah terkeji

di  muka  bumi, pelahir  jadah-jadah  sinting  sejarah, penghasut

jenial cacing-cacing  pita  penafsir vagina-kedamaian paling suci;

 

‘Jadi begini  saat  paling  tepat  buat pembalasan, bukan?’ Begitu

kaucatat dalam  suratmu  ke Lisbon, usai  perjanjian  paling oon

membelah bumi semata milik dua kerajaan –– seekor paus putih

resmi melontarkan restu  dari moncongnya menganga kelaparan

 

melahap  segala  plankton, ubur-ubur,  plus  ganggang beracun;

teritip  di lambung kapalmu makin mengganas, kau tak berharap

bisa kembali, jadi  kauputuskan  wajib menjarah dan membantai

sepulau  penduduk  surga ini, meski Yesua mesti disalib dua kali.

 

perawi rempah

Catatan:

1. Cogito: aku berpikir; prinsip filsafat Descartes: Cogito Ergo Sum.

2. Bole: boleh.

3. Oon: dungu.

4. Gahar: garang.