Arsip Tag: martin siregar

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #12

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 12

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Minggu lalu diadakan pelatihan Penyadaran Hukum dan Non Litigasi, ketiga kelompok petani bergabung di Wisma Dimalana. Latihan makan waktu sampai seminggu sangatlah melelahkan peserta. Walaupun uang transpor, akomodasi dan uang pengganti kerja mereka diberikan oleh FDP, tapi pada hari kelima, sudah mulai banyak petani yang bolos tidak mengikuti session. Mereka justru berkumpul dikedai tuak.

“Mari Pak,…kita kembali ke ruangan, sesion sudah dimulai,”  kata Arman.

“Ah !! biarkan saja mereka di sini, mereka masih sangat asing dengan pulpen, buku tulis dan mendengar kotbah.” Tigor tidak setuju terhadap Arman yang menghimbau petani untuk tertib mengikuti acara pelatihan. Para petani sangat setuju dengan pendapat Tigor. Setelah Arman pergi, Tigor masih duduk bersama petani.

“Kalau terus menerus belajar seperti ini kapan kita berontak kepada pemerintah yang seenaknya menaikan harga pupuk,” kata Pak Regar.

“Ah, benar juga.” Kata Tigor yang merasa sependapat dengan Pak Regar. “Okelah, nanti setelah pelatihan ini kita kumpul lagi membicarakan rencana aksi. SETUJU?!! Tigor ancungkan genggam tanganya. Serentak peserta pelatihan yang ada di kedai tuak menjawab: SETUJU !!” Tak berapa lama kemudian secara bergilir mereka tinggalkan kedai tuak masuk ke ruang pelatihan dengan semangat yang baru. Semangat yang tidak diketahui oleh kawan-kawan lainnya. Semangat memberontak pemerintah sesuai dengan gagasan Tigor.

Di dalam ruangan dalam perasaan jenuh jengkel dan mungkin jijik, mereka masih sempat senyum-senyum sambil mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti dan setuju atas segala ucapan yang disampaikan oleh nara sumber. Lapar tak bisa ditunda, pemerintah sudah keterlaluan maka tekad memberontak semakin membatu. Sudah semakin tak sabar berada dalam ruang pelatihan. Wajah Tigor juga tegang dan geram melihat pelatihan yang terlalu lama menyiksa bathin petani.

Sekretariat FDP heboh sehabis pelatihan. Mikail yang paling panik melengkapi proses pelatihan untuk laporan ke lembaga dana. Tigor juga sarat dengan bertumpuk buku memberikan analisanya tentang kondisi peserta, materi session, proyeksi pelatihan maupun mencari metodologi pelatihan yang lebih tepat lagi. Tapi, karena kerja seperti ini adalah kegemaran Tigor, maka dia asyik saja sepanjang hari sampai larut malam mengerjakannya. Mesin tik sudah tersedia di kamarnya di rumah Pak Guntar desa Kembang Bondar.  Sambil mengetik, kepalanya heboh memikirkan langkah-langkah melakukan aksi ke ibukota Rilmafrid. Aksi kali ini harus besar-besaran. Harus mengikutsertakan elemen masyarakat yang lain. Mahasiswa, tukang becak, buruh bangunan dan buruh pabrik dan lain lain harus ikut terlibat dalam aksi kali ini. Dan, dia tak butuh kawan-kawan FDP ikut serta membantu dia mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan aksi besar besaran ini.'”Aku akan kerjakan sendiri semuanya.” Ditinjunya meja kerjanya dengan ganas.

Dengan motor dinasnya, Tigor bolak balik dari desa ke kota. Karena memang ini pekerjaan yang menarik buatnya, maka dengan gampang saja dia berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan buruh, mahasiswa maupun para tukang becak dekat kantor DPR. Kabar angin mengenai kerjaan pribadi dari belakang layar yang dilakukan Tigor sudah terdengar juga oleh warga FDP. Tapi, Tigor selalu mengelak kalau diintrograsi oleh kawan-kawan FDP. Pokoknya Tigor dinilai semakin misterius. Sangat sulit dipahami oleh orang lain. Dan, anggota kelompok petani yang berada di kedai tuak waktu pelatihan yang lalu juga konsisten membantu segala usaha aksi yang mereka rencanakan bersama. Segalanya dirahasiakan mereka dengan ketat.

Rasa penasaran warga FDP sudah sampai puncaknya. DR Pardomuan sengaja memanggil Tigor ke sekretariat untuk menceritakan segala hal yang sedang dirancangnya. Menerangkan rancangan kerjanya di luar program yang sudah digariskan. Sore itu seluruh staf FDP sudah kumpul.

“Selamat sore. Dalam 2 minggu belakangan ini seluruh pelaksana program FDP bingung memperhatikan kegiatan-kegiatan Tigor yang sangat heboh mundar mandir dari desa ke kota. Di kota juga Tigor tidak ke sekretariat. Tigor sering kelihatan ngobrol dengan tukang becak, buruh dan komunitas-komunitas di luar kelompok sasaran program. Yang tidak ada kaitannya dengan program yang telah kita susun. Dan semua pertanyaan staf tentang hal ini di respon Tigor acuh tak acuh. Oleh sebab itu saya sebagai penangung jawab program dituntut oleh kawan-kawan untuk mengundang Tigor memaparkan maksud dan tujuan Tigor dalam menjalin kontak dengan berbagai komunitas tersebut. Kami persilahkan Tigor untuk angkat bicara.”

Tigor tampak gelagapan. Dia tak menyangka bahwa undangan rapat kali ini adalah untuk mengintrograsi dirinya. Dengan agak terbata-bata Tigor angkat bicara: “Tidak ada yang prinsip. Saya merasa bahwa masih banyak waktu luang saya setelah jalankan program. Nah, dari pada waktu terbuang sia-sia, saya coba mengenal kehidupan komunitas-komunitas miskin perkotaan. Siapa tahu saya bisa memproduksi sebuah buku dari hasil interaksi saya dengan komunitas miskin kota. Hanya itu maksud saya. Jadi kawan kawan tak usah curiga.”

Tigor kemudian diam dan kondisi pertemuan sore ini sunyi senyap beberapa saat.

“Tapi, dari sumber yang dipercaya aku dengar informasi bahwa Tigor akan melakukan pemberontakan besar-besaran. Aku bingung mendengar istilah pemberontakan besar-besaran,” Mikail buka bicara.  Dari nada suaranya kelihatan tidak ada maksud Mikail memojokan Tigor.  Tapi, Tigor merasa dirinya dipojokkan.

“Ah !! tidak ada itu! Aku hanya terangkan tentang bentuk-bentuk perubahan sosial seperti yang disampaikan oleh Pendeta DR Tumpak Parningotan. Mereka saja yang menggantikan istilah itu dengan kata pemberontakan.” Dengan nada suara yang agak tinggi Tigor menjawab pertanyaan Mikail.

“Yah,… terlepas dari pertanyan Mikail, saya melihat memang belum saatnya kita melakukan aksi besar-besaran. Sejarah telah membuktikan bahwa gerakan sosial yang tidak rapi pasti mengalami kegagalan. Kekuatan status sosial yang dilindungi oleh militer dengan anggaran dana yang berkelimpahan pasti dengan mudah mematahkan semangat perjuangan kita. Makanya kalau ada rencana aksi. Yah,.. marilah kita bicarakan bersama sama  di FDP. Jangan main sendiri.” DR Pardomuan memang sudah jengkel melihat Tigor yang paling sulit diaturnya. Tigor tidak macam Muslimin yang patuh bekerja sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.

Pertemuan ditutup jam 8 malam. Seluruh warga FDP berinteraksi seperti apa yang selama ini terjadi. Ketawa saling olok antar Ucok dan Arman. Muslimin yang lugu melawak membuat suasana cerah ceria. Hanya Tigor yang diam seribu bahasa tunduk kepala dan tak mau ikut tertawa bersama kawan kawannya.

“Malam ini kau tidur di rumah ya..Gor. Ada film ‘The Man With The Golden Gun’, Film James Bond. Bintang kesayanganmu Roger More main lagi di bioskop Mayestik tengah malam,” kata Mikail yang baru kembali dari mengantar Susanti pacarnya. Supaya kau jangan stres Hua..ha..ha..,” kata Mikail bersahabat. Tapi, Tigor tampak tegang diam seribu bahasa. Kemudian,” Sudahlah Mikail, aku sedang tulis opini yang belum siap di rumah Pak Regar. Besok saja kita nonton.”

“Oh..ya Gor, mana tulisanmu? Ini tulisanku, Kita kan sudah janji setiap minggu tukar menukar tulisan,” kata Ucok. “Maaf Cok, aku tak ada tulisan minggu lalu. Tapi dalam minggu ini aku akan setor 2 tulisan,” kata Tigor dengan sikap dingin tak bergairah. Kemudian Ningsih datang: “Bang Tigor kwitansi untuk transportasi kelompok tani Kembang Bondar belum komplit, Kapan aku terima?” Tigor jadi panik: “Dua hari lagi kuantar ya..Ningsih.” Semua pihak tampak ingin menghibur hati Tigor yang sedang suntuk sehabis pertemuan. Tapi, Tigor tidak terhibur. Dia masuk ke rumah utama menjumpai DR Pardomuan mau pamit lebih dulu. “Hati hati di jalan Tigor, sekarang dekat jembatan ke Kembang Bondar semakin sering perampokan.” DR Pardomuan memang selalu memberikan perhatian yang besar kepada seluruh warga FDP. Ibu dan Arben Rizaldi juga merasakan ketegangan dalam tubuh FDP. Mereka juga bingung menganalisa kondisi FDP.

“Bu… ada apa ya… Kok kegembiraan mereka tidak seperti biasanya,” Arben membuka komentar.

“Itulah kau, gara gara film sinetron kita tak mendengar isi pertemuan mereka,” Ibu jadi kesal mendengar komentar Arben.

“Sekarang tak dibutuhkan peran para akademisi dari perguruan tinggi dalam perubahan sosial. Mereka itu kaki tangan imperialisme,” Tigor menyatakan sikapnya, sepulang nonton film Midnigt Express. Tapi Mikail diam saja. Usahanya menyadarkan Tigor agar jangan selalu melihat permasalahan melalui pendekatan ideologis, tak pernah diperhatikan Tigor. Seolah badan Tigor saja yang ada dalam bioskop, sementara kepalanya melayang jauh membayangkan rencananya. Rencana terselubung yang dinilai oleh warga FDP sangat misterius. Tigor tidak lagi memahami film Midnight express yang bercerita tentang percintaan dua remaja yang pupus karena sang jantan dituduh bawa narkoba. Lantas dimasukan ke dalam penjara. Permainan kedua aktor muda tersebut sangat memukau. Oleh sebab itu, film Midnight Express telah menerima Piala Oscar. Sangat layak didiskusikan. Tapi, diskusi yang selama ini mereka lakukan sudah tak sesegar dulu lagi. Tigor menuduh Mikail adalah menusia yang mempertahankan status kelas borjuasinya.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 11

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #11

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 11

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Memorandum of Understanding antar Sabidaor Foundation dan FDP telah ditandatangni. Dua surat yang sudah ditandangani Sabidaor sampai di alamat FDP. Satu surat yang ditandatangni DR Pardomuan sebagai penanggung jawab program dikirim kembali ke Sabidaor Foundation. Dengan cara begitulah kerja sama FDP dan Sabidaor memiliki kekuatan hukum — sederhana sekali —
FDP harus mengontrak rumah sekretariat. Kebetulan di depan rumah DR Pardomuan ada rumah Dr Harahap yang dikontrakan. Betapa gembiranya warga FDP. Terbayang oleh mereka kalau habis kerja di sekretariat bisa bermeditasi atau latihan pernafasan di markas yang lama. Hanya jalan kaki sekitar 50 meter saja sudah sampai. Pesta ucapan syukur kecil-kecilan pun diselenggarakan sekaligus rapat perdana program kerja “Pengorganisasian dan Penyadaran Hukum” di tiga kelompok tani. Desa Kembang Bondar, desa Jaejulu, dan Pohontoru. Ucok, Arman dan Mikail sebagai staf lapangan. Tigor sebagai koordinator ketiga lapangan. Ningsih dokumentasi dan inventaris, Susanti adminitrasi keuangan DR Pardomuan dan Muslimin membantu Tigor bidang penyadaran hukum. Laporan tertulis dari lapangan harus ada dalam setiap minggu termasuk laporan keuangan. Jadi setiap minggu staf lapangan harus tinggal di desa paling sedikit satu malam dalam seminggu, sedangkan kordinator paling sedikit 2 kali kunjungan setiap desa dalam sebulan. Tapi, jauh sebelum program berjalan Tigor sudah bertekad tinggal selamanya secara bergilir di ketiga desa tersebut. DR Pardomuan mencoba melunakkan sikap Tigor, tapi Tigor tetap berkeras. Nasib DR Pardomuan sama saja dengan Mikail. Ditolak mentah-mentah oleh Tigor.

1982 – Setahun kemudian.

Tidak ada masalah serius laporan tahun pertama program kerja FDP. Laporan tepat waktu dikirim bersama laporan keuangan. Otomatis dana untuk program termin kedua juga tepat waktu ditransfer. Muslimin yang paling gembira karena honorarium sebagai staf FDP bisa juga untuk membeli baju baru dan kue-kue menyambut Lebaran di kampung. Walaupun kemampuannya menulis opini di koran tidak juga mengalami kemajuan, tapi, namanya tetap populer oleh karya DR Pardomuan. Ucok ternyata tidak seperti dugaan Arman. Ucok ternyata konsisten ingin meniru kebiasaan DR Pardomuan yang menulis segala hal dalam buku hariannya. Sekarang Ucok juga rutin mengisi tulisan di Mimbar Kampus dan koran lokal. Arman, juga berubah. Walaupun sudah mandiri secara ekonomi yang statusnya di atas rata-rata mahasiswa, tapi Arman tidak digerogoti watak komsumtif. Kebutuhannya menambah ilmu pengetahuan dengan membeli buku-buku adalah sasaran utama penggunaan dana honorarium bulannya. Tapi, niat Arman untuk mulai menulis belum juga terbit karena terlalu asyik membaca. Arman adalah orang yang paling sering kena cerewetnya Ningsih. Karena selalu lupa meminta kwitansi apabila membeli barang-barang. Termasuk kwitansi dari kelompok tani untuk transportasi dan akomodasi pengorganisasian. Ningsih beberapa kali tak masuk kuliah demi untuk melengkapi kwitansi-kwitansi pengeluaran dana program. Ningsih sering jengkel dibuat oleh kawan-kawannya gara-gara persoalan kwitansi. Susanti selalu menggunakan honorariumnya untuk jajanan orang di sekretariat dan melengkapi hiasan-hiasan di ruang tamu sekretariat. Susanti selalu diingatkan oleh ibunya, agar program kerja FDP jangan sampai menggangu kuliahnya. Ketika kawan dekat DR Pardomuan datang dari belanda sempat terdengar komentar tamu tersebut:” Enak juga mengamati dinamika sekelompok mahasiswa yang mulai belajar mengelolah program bersama masyarakat.” DR Pardomuan tersenyum: “Yah,..mereka cocoknya kuliah bukan di negara berkembang seperti Trieste ini. Kampus tak sanggup memfasilitasi kebutuhan mereka yang haus ilmu pengetahuan.”
Di kampusnya masing-masing mereka juga agak bergengsi, karena sangat jarang mahasiwa yang dapat menikmati pekerjaan seperti warga FDP. Dan, pandangan hidupnya maupun wacana ilmu pengetahuannya lebih tinggi dari pada mahasiswa umumnya. Realitas masyarakat lapis bawah secara kongkrit mereka dapat lihat.

Kabar tentang perkembangan Tigor dalam setahun ini dinilai agak misterius. Walaupun segala laporan lapangan dan laporan keuangan tetap diserahkannya sesuai dengan waktu, tapi, Tigor sudah tak ada beda dengan petani pedesaan. “Dulu kau menolak bekerja di ladang pertanian bersama orang tuamu. Sekarang kau yang paling getol pergi ke sawah bersama orang-orang yang baru saja kau kenal.” Mikail kasih komentar mengenai Tigor yang sudah hitam legam berotot keras pertanda Tigor banyak habiskan waktu di ladang.
“Iya… aku juga heran. Seluruh anggota kelompok tani di 3 wilayah ini sudah kuanggap saudara kandungku. Tidak ada jarak sosial antara aku dan mereka semua.”
Waktu bayar uang kuliah semester dan urusan akademis lainnya, Tigor terpaksa harus menginap di Trieste seminggu. Dia sama sekali tak betah di kota dan sangat rindu bertemu dengan petani petani di pedesaan.
Mikail merasa macam tukang ojek saja dibuat Susanti. Ke sekretariat maupun kuliah Mikail harus jemput Susanti, lantas pergi kuliah dan harus menunggu Susanti sampai selesai kerja baru diantar kembali ke rumahnya. Kecuali kalau Mikail ke lapangan, maka Susanti harus naik angkot ke sekretariat dan kuliah. Dan, hubungan berpacaran mereka semakin mesra saja. Kadang mereka jumpai Tigor ke pedesaan demi untuk memelihara semangat kerja Tigor.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 10

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Pay Jarot Bermalam di Rumahku

Flash Fiction: Martin Siregar

Sprei, sarung bantal sudah kuganti. Kamarmu kusapu dan pel supaya lebih segar. Ruang tamu juga sudah kurapikan. Aku hanya senyum manis mendengar suara tegas istriku yang sudah capek menyambut kedatangan  Pay beberapa jam mendatang. ”Kau…Tidur di depan tv, sudah kusediakan bantal selimutmu. Tak usah kau sekamar sama si Pay. Nanti dia yang sudah capek naik motor tak bisa tidur karena kau tidur sangat lasak. Bisa saja kakimu macam orang mabok menendang mukanya.” “Hua…ha…ha.. Iyalah ..Hua…ha…ha..” Aku ketawa terbahak bahak mendengar garis komando yang selalu aku dengar kalau kawanku berkunjung dari tempat jauh.

Satu jam yang lalu Pay SMS katakan sudah meluncur dari Sosok. Berarti satu jam mendatang sampai di rumahku. ”Cepat!! Kau mandi, nanti jijik si Pay ngobrol sama kau yang masih bauk dan jorok.” Hua…ha…ha..Matilah aku ini. Kupikir sudah berakhir  cerewet istriku. Rupanya masih berlanjut ketika aku mau duduk menghabiskan kopi sekitar jam setengah enam sore.

Tidak terlalu meleset, Pay sudah tiba ketika aku sedang mandi. “Cepat !!! Cepat bapak mandi, Om Pay sudah datang. Cepppaaatttt….!!”. OooaaLlaa…Anakku Jati ketularan cerewet mamaknya. Maka akupun macam cacing kepanasan bergegas menyambut Pay di ruang tamu. ”Nah !!! Ini Pay kakakmu terpingkel pingkel baca buku karya tulismu:”Sepok”. Pay hanya tersenyum tipis merespon ucapanku.

Menjelang malam, Pay malas mandi. Lebih baik kita secepatnya makan supaya kerja edit naskah bisa segera selesai sebelum larut malam. Siap makan, langsung ke ruang tamu sudah tersedia seteko kopi dan air putih disediakan Jati. Pay segera buka notesnya dan dengan ringan kami kategorikan tulisan tulisanku. ”Bang lebih cocok Bab I Wacana Unkonvensionil. Supaya sidang pembaca punya panduan tuk melangkah ke Bab II. Nah !! Bab II kita masuk ke: Dunia Tulis Menulis” Pay memberi saran yang langsung kusambut sangat setuju. Kalau  begini ceritanya berarti penerbitnya bukan LPs Air, karena mereka tak jadi kasih konstribusi. Oke…Pay soal itu nanti saja kita diskusikan. ”Tapi abang nggak kecewa kan?” Aku hanya senyum kecut menahan gigi supaya jangan berlaga Hua….ha…ha…

Ternyata tugas rombak naskah tidak serepot yang kami bayangkan. Sekitar jam setengah sebelas kerja tuntas dan laptop tak aktif lagi. Pay mengaku agak sulit tidur apabila tubuh terlalu letih. Maka akupun (senang ?) punya kesempatan tanya pendapat Pay tentang sikapku. “Iya…Pay. Kurasa dunia ini sudah terlalu sering berpendapat bahwa paham humanisme universal adalah missi penjajahan negara maju ke negara berkembang. Menyebarkan nilai universil (menyeragamkan) pandangan hidup di negara berkembang. Dengan demikian, negara maju akan lebih mulus menjalankan (A) Eksploitasi sumber daya negara berkembang. Agar kesadaran pemerintah (negara berkembang) semakin mandul maka negara maju (biasanya) melakukan strategi (B) Penetrasi budaya. Dihancurkan budaya lokal dan tak sadar sumber daya semakin banyak di eksploitasi. Supaya eksploitasi dapat berjalan permanent, maka (C) Politik negara berkembang harus di dominasi.”

Ketiga (A,B,C) di atas sudah terjadi di Indonesia. Dalam aksi mahasiswa sering disebut dengan semangat:”Usir NeoLibs”. Mendadak aku tersadar sudah terlalu banyak bicara membiarkan Pay hanya diam mendengar.”Gimana pendapatmu Pay?” Aku sentak si Pay.”Abang teruskan saja, aku tetap menyimak.” “Okelah…Pay.”

Jadi humanisme universal adalah poros utama imperialisme. Begitu pemahaman yang terjadi sejak zaman dahulu kala. Nah !! tulisanku terlalu banyak tinggalkan pesan humanisme universal. “Apa mahasiswa tak benci sama tulisanku?” Pay diam saja isap rokok makin dalam matanya menerawang.

Yah.., Hal ini yang berkecamuk dalam benakku. Pada sisi lain aku melihat bahwa nilai humanisme universil adalah obat mujarab untuk meruntuhkan watak primordialisme primitif (pemicu konflik SARA). Kusudahi kalimatku. Selang beberapa waktu Pay angkat bicara:”Walau lelah aku sudah bisa tangkap pesan yang abang sampaikan.” Ini pergumulan kita dalam proses penerbitan buku abang yang jalannya terseok seok. Hi…hi..hi… Okelah…Mari kita tidur Pay.

Bason Mengbahagiakan Badrun Kemis

Flash Fiction Martin Siregar

Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Gara gara baca tulisan Tantri di komunikasi sastra, Bason terkejut. Rupanya Pak Badrun Kemis masih dengan watak lamanya yang aneh dan masih bertani. Padahal ketika masa pelarian Bason, Pak Badrun mengaku sudah jenuh jadi petani.”Ah !!! Saya ingin merantau ke kota”. Sejak nenek moyang zaman dahulu, sampai masa saya sekarang ini — nasib kami belum berubah —. Saya mau pindah ke ibukota negara. Banyak kawan saya walau hidup susah tapi bisa menikmati kemewahan kota. Waktu itu Bason sudah merekomendasi beberapa kawan akrabnya yang mengorganesr buruh.”Ini nama dan alamat kawan kawanku”. Pak Badrun jual saja namaku, pasti akan mereka terima dengan senang hati.

Kisah itu berlangsung 25 tahun yang lalu, ketika Bason frustasi bertengkar keras dengan pastor Simon pimpinan lembaga pelestarian hutan. Lantas secepat kilat meninggalkan lembaga tersebut patah arang melanglang buana secara pribadi investigsi penggudulan hutan. Pada saat itulah Bason berkenalan dan menjalin cinta kasih dengan gadis Biyok yang sekarang menjadi istrinya.

*) Baca cerpen : Kawanku  Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II Martin Siregar.

Bulan lalu aku heboh ngurus Kantril yang ingin kembali ke tabiat lama. Mabok ganja Jhoni Walker bersama Payman yang sedang mumet gara gara rencana kawin. Waktu itu Pak Longor marah besar sama Payman. Dan, syukur Kantril pasrah dituntun Bason bermeditasi, sehingga Kantril kembali ke jalan yang benar.

Sekarang wajah dan tingkah laku Pak Badrun kembali lagi menghiasi khayal Bason. Kasus Kantril dan Pak Badrun hampir sama saja. Frustasi jenuh sangat monoton menjalani kehidupannya yang sama sekali tidak menjamin kehidupan lebih baik. Tapi. Level sosial si Kantril sangat bertolak belakang dengan Pak Badrun. Berarti aku harus temukan kiat khusus tuk membahagiakan Pak Badrun. Hua….ha…ha…Bason tertawa puas menikmati kehidupan sarat dengan keanekargaman perkawanan yang berasal dari level sosial berbeda ekstrim. Hua….ha…ha….Kantril anak jutawan yang anti kemapanan, sedangkan Pak Badrun seolah ditakdirkan(Tuahan) sengsara sepanjang hidup. Hua…ha….ha…Akan kucurahkan energiku tuk membahagiakan Pak Badrun yang ditulis miskin oleh si Tantri (?) Hua…ha…ha…

“Dua hari ini aku tak masuk kantor”. Ada kerja mendadak, harus ke desa beberapa hari. Di telepon Bason ajudannya di kantor.”Iya…iya Pak Bason”. Apa yang perlu kami sediakan untuk bapak ke desa?”.  Feodalisme ternyata masih melekat kuat di kantor yang sudah sangat profesionil. Bahasa kaum paria mental kaum budak sangat sangat dominan didengar setiap  hari. Bahasa kaum bawahan tak ada beda dengan abdi dalem dinasty kerajaan sekitar 300 tahun yang lalu. Hal ini sering membuat Bason jengkel dan tak kuasa lagi merombatk mental budak feodalisme di kantornya.”Tak ada yang perlu kau siapkan”. Kau monitor saja Payman apa masih isap ganja atau tidak. Lantas kau jumpai Kantril sepulang kantor, kau tanya pengalaman empiriknya dalam bermeditasi. Awas !! Kalau tak kau kerjakan kedua tugas itu. KU-SIKAT KAU!!! Hua…ha….ha..Bason tertawa di telepon, membuat Wawan ajudannya ketakutan suaranya gemetar:”Baik…baik Pak Bason”. Lantas telepon ditutup.

Dikeluarkannya mobil BMW mewah dari garasi.”Biyok, aku mau jemput Pak Badrun ke desa. Dua hari ini nginap dirumah kita. Kau siapkan kamar serta fasilitasnya ya… Biyok istri Bason terkejut mendengar rencana suaminya.”Jadi, kau ngak ke kantor ???”. Gila !!! Kok suka suka kau saja yang hidup ini ?????. Biyok suntuk melihat suaminya yang terlalu santai dalam hidup ini. Hua…ha…ha…Tenang kau sayangku. Pak Badrun adalah orang yang memberi konstribusi dalam kehidupan kita. Kalau ngak ada dia, mana mungkin kita kawin Hua….ha…ha…Memang hidup ini sangat ringan dijiwa Bason. Walau kadang suntuk berat menghadapi kawan kawannya yang tidak memperdulikan kesehatan tubuh jiwa dan roh. Dua minggu lalu kembali lagi Bason harus repot ngurus Isim yang mendadak pingsan di bandara.

Dibelinya 2 bungkus rokok merah di kedai kecil langgannya , milik Bik Iyem yang sudah jadi janda. Sambil dengar lagu Startway to Heaven milik Led Zeplin ditinggalkannya kota menuju desa Pak Badrum.

 

Cerita ini bisa bersambung, apabila aku punya waktu berimaginasi menikmati tekanan hidup ini Hua…ha…ha…Matilah kita ini.

Reuni Bersama Isim

Flash Fiction Martin Siregar

Lanjutan: Kantril Dinasehati

Gambar dari Shutterstock

Terkejut Isim karena calon adik iparnya Payman adalah kawan dekat Pak Longor, Bason dan Kantril. Kebetulan libur musim panas tahun ini Isim kembali ke Indonesia setelah 23 tahun menetap di Italia. “Hallo…Aku Isim baru tiba di bandara Polonia Medan bersama keluarga mau liburan, 3 hari ke danau Toba, Pulau Samosir, tongging dan tanah karo. Jadi mungkin hari ke empat aku bisa main ke Jakarta. Bason terkejut menerima telepon Isim. Tak ubahnya Kantril yang sudah mulai tekun bermeditasi dipandu Bason. Rindu tak jumpa selama puluhan tahun akan terhapus 4 hari lagi.

Kantril, Bason dan Kantril sejak SMA tahun 80-an gabung di The Campino Connection, club anak muda yang mereka dirikan bersama  kawan-kawan sebaya di Medan. Club yang cukup diperhitungkan pada waktu itu. Punya diskotik yang selalu disewakan, balap di jalanan, tapi aktif  softball, skateboard dan selalu mendaki gunung Sinabung maupun gunung Sibayak apabila libur sekolah. The Campino Connection adalah ajang kegiatan anak muda multidimensionil.

Walaupun setelah mahasiswa mereka berpisah, tapi tetap saja berkawan erat. Isim di fakultas pertanian, Kantril fisipol dan Bason di ekonomi. Hanya saja karakter Isim berbeda dengan Kantril dan Bason, Bason Kantril kutu buku aktif membangun kelompok diskusi bedah buku ilmiah di beberapa tempat. Konsep pemikiran ‘Das Kapital’ karya Karl Marx, maupun ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ Paulo Friere dikuasai mereka secara mendalam. Merasa pejuang kelas berat memberikan tinjauan kritis terhadap sistem pembangunan yang dilaksanakan orde baru dinilai sarat dengan ketidakadilan. Sedangkan Isim dijuluki “manusia penikmat hidup”. Playboy kelas kakap yang selalu mencari sasaran mahasiswi kaya raya.

Biasanya, momentum yang ditunggu Isim adalah perayaan natal setiap tahun. Walaupun Isim tak pernah ke gereja, tapi setiap perayaan natal seluruh fakultas di universitas tersebut — pasti Isim hadir sambil menggandeng gadis yang dicintainya —-. Pacaran 3-4 bulan putus hubungan dan cari mahasiswi lain. Kantril dan Bason kagum terhadap kemampuan gombal Isim dihadapan gadis. Dan, tak henti hentinya mereka ingatkan Isim agar menghentikan tabiat buruknya itu. Tapi Isim tetap saja tak perduli.

Pernah satu waktu semester 4 Kantril yang sudah tak kuliah, mencoba hidup bersama gelandangan pinggir rel kereta api. Ikut merasakan penderitaan kaum sengsara mencari kardus, kaleng, besi botol sebagai mata pencaharian. Kantril terhasut buku ‘Partispasi Riset Aksi’ pengalaman Paulo Friere di Brazil. Sekitar 2 bulan Kantril tinggal di pondok sengsara pinggir rel kereta api. Sesekali Bason yang heboh mengorganisir petani pedesaan bermalam di gubuk Kantril. Karakter mahasiswa sok pembela rakyat miskin melekat kuat pada jiwa Kantril dan Bason.

Terpikir Kantril tuk menanam pekarangan sempit pinggir rel kereta api dengan sayur-sayuran maupun anggrek yang mahal harganya. Secepat kilat Bason usul: ”Kita suruh Isim tuk mencuri bibit sayur mayur yang bertebaran di halaman fakultas pertanian. Lantas kita minta Isim bujuk pacarnya Isti (yang cinta tanam anggrek)  kasih bibit anggrek tuk saudara saudara kita yang sengsara ini.”

Dengan ringan senang hati, Isim laksanakan pesan kedua kawannya. Bahkan Isti terlibat mengajari para gelandangan cara bercocok tanam anggrek. ”Nampaknya Isti gadis baik budi. Jangan kau putuskan hubungan kaliam, jadikan Isti jadi istrimu.” Kantril dan Bason sangat terkesan atas kemampuan Isti berintegrasi di tengah-tengah gelandangan sengsara. Segala atribut gadis kaya raya ditinggalkannya di rumah, apabila interaksi ke rumah gubuk pinggir rel kereta api. Tapi, yang namanya Isim palyboy kampungan hanya bertahan 7 bulan pacaran dengan Isti.

Hanya Isim yang berhasil menggenggam ijazah sarjana. Bason Kantril larut akibat jiwa romantisme pejuang rakyat tak tuntas menyelesaikan perkuliahan. Walaupun begitu, Bason yang tak mengantongi gelar sarjana berhasil duduk di posisi penting di penerbitan majalah politik bergengsi. Kantril punya toko kelontong  dan Isim penguasa travel biro di Italia.

Ketika Bason Kantril akan kutatap, hatiku terharu. Seakan hari-hari yang berkesan itu datang kembali membuai kami bertiga. Deg-degan Isim di bandara Sukarno Hatta menunggu kedatangan Bason dan Kantril. Sebenarnya Isim masih sangat capek meninggalkan anak istrinya di Medan melanjutkan liburan. Isim butuh istirahat sebelum lanjutkan perjalanan ke Jakarta. Hasrat jumpa kawan lama tak boleh ditunda, Isim paksakan fisik harus ke Jakarta. Duduk lemas lunglai di ruang tunggu bandara, kepalanya pusing tujuh keliling. Dan, ketika Kantril dan Bason menepuk bahu, Isim tak kuat berdiri. Sakit jantungnya kumat, Isim hampir pingsan,  terpaksa dibopong ke polklinik bandara dalam keadaan tak sadarkan diri.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #10

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 10

“Restrukturnisasi Kepolisian Tak Ada Guna” sebuah artikel di koran Debrita tulisan DR Pardomuan terbit hari ini. Dengan nama samaran Muslimin, selalu dikirim DR Pardomuan ke koran terbesar di Trieste. Beginilah caranya membantu uang saku Muslimin. Muslimin yang paling sering mengalami kekeringan kantong. Muslimin anak petani miskin akhirnya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selama dua tahun kuliah biaya hidupnya ditanggung secara kolektif oleh DR Pardomuan beserta beberapa kawannya. Syukurlah Muslimin tidak sebandel Tigor. Muslimin sangat mematuhi aturan dan peraturan yang diterbitkan oleh fakultasnya. Dia tidak menyia-siakan bantuan yang diberikan kepadanya. Sekali 6 bulan ayahnya datang dari kampung membawa ubi, sayur mayur menginap di ruang meditasi rumah DR Pardomuan, tak muat tidur di kamar kost Muslimin yang sangat berprihatin bersama 2 orang kawannya. Dan, kalau datang dari kamping, ayah Muslimin akan cerita banyak dengan Ibu dan Arben Rizaldi. Ibu dan Arben Rizaldi juga memberi perhatian yang besar kepada ayah Muslimin yang hidup seadanya.

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Tulisan karya imitasi Muslimin tersebut memberikan tinjauan kritis mengenai usaha Kapoltri (Kepala Polisi Trieste) meningkatkan fungsi kepolisian Trieste dalam memberantas kejahatan korupsi, narkoba, kepolisian Trieste dalam memberantas kejahatan korupsi, narkoba, perampokan dan lain sebagainya. Jadi dalam tubuh organisasi Poltri ada tiga departemen baru yaitu : Depbranko (Departemen Brantas Korupsi), Depbrankrim (Departemen Brantas Kriminal) dan Depbrankoba (Departemen Brantas Narkoba). Padahal pada struktur Poltri yang lalu, penanganan kasus narkoba, kriminal sudah ada unit khusus dan satu unit khusus menerima pengaduan korupsi. Unit itu masih ada , tapi masih juga didirikan Depbranko, Debankrim dan Depbrankoba. Sehingga akhirnya tugas unit dan departemen Poltri tumpang tindih, tidak efisien. Sangat gemuk organisasi Poltri dalam menjalankan fungsinya. Otomatis anggaran belanja negara semakin besar dialokasikan untuk poltri. Sementara peningkatan profesionalisme polisi dalam penanganan kasus sama sekali tidak ditingkatkan. Inikan pemborosan uang Negara?. Begitulah inti tulisan (imitasi) Muslimin. Karena begitu rutinnya tulisan imitasi Muslimin, Muslimin jadi banyak dikagumi kawan-kawannya. termasuk para dosen. Sehingga banyak organisasi mahasiswa meminta beliau jadi pembicara dalam berbagai forum. Karena Muslimin tidak menguasai tulisannya sendiri (?) dia tidak pernah menerima tawaran menjadi pembicara.
Kawan-kawan FDP hanya bisa tertawa melihat Muslimin yang sering kelabakan memberi respon simpatik dari berbagai pihak akibat tulisannya di koran. “Tak penting kucing warna apa, yang penting bisa menangkap tikus. Tak perduli dengan cara apa. yang penting dapat duit, hua…ha…ha..” Muslimin hanya bisa tertawa melihat nasibnya sebagai penulis opini yang populer di koran. Hua…ha…ha…

Sikap kaum terpelajar yang getol membaca dan menulis sebenarnya tidak dimiliki Muslimin. Cita-citanya selama menjadi mahasiswa dan apabila sarjana nantinya tidak serumit obsesi Tigor maupun Mikail. Tidak pernah dia mengutamakan bacaan buku di luar buku wajib kuliah. Buku perkuliahan tetap mendapat prioritas utama agar dapat nilai tinggi dalam ujian semester. “Nanti kalau aku dilantik, pasti foto pelantikan bersama ayah ibuku dilengketkan di ruang tamu rumah kami di kampung. Dan kedua orang tuaku merasa bangga punya anak seorang sarjana di tengah-tengah keluarga kami yang tidak memiliki anak yang sarjana. Lantas aku akan melamar menjadi pegawai negeri, agar nanti punya uang pensiun. Tidak seperti pegawai swasta, ayahku akan hidup bahagia sepanjang waktu, hua..ha..ha…” Sangat lugu pikiran Muslimin. Tapi, Tigor , Mikail, Ucok dan warga FDP lainnya tetap mengasihi keluguan Muslimin. “Memang begitulah kelasnya, Apa mau dikata?” kata Dr Pardomuan.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 9

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Kantril Dinasehati

Flash Fiction Martin Siregar

Sambungan : Kantril Menghisap Ganja

Idola saya, tetap cantik dan gaul tanpa Narkoba.
Pak Longor kecewa terharu mendengar kejadian Kantril dan Payman mabok ganja dan jhoni walker. Dalam kondisi sulit menahan marah: ”Kantril ..sudah patah arang dalam hidup ini. Jangan kau fasilitasi dirinya tuk kembali masuk dalam kegelapan.” Payman yang dipanggil Pak Longor ke rumahnya, hanya menunduk malu memikul penyesalan. ”Maaf Pak Longor, aku sedang panik dengan masalah perkawinanku.” Kemudian suasana hening sejenak.

“Yah,…Memang aku salah.” Dihisap Pak Longor rokok merahnya: ”Kau juga harus mulai berpikir tuk membunuh ketergantungan ganja dan alkohol.”

”Iya…Iya…Pak Longor.” Payman masih duduk menyempit menundukkan kepala.

“Aku sudah dengar berita itu dari Tari. Dalam sedu sedan sedih tak terucapkan Tari bercerita lewat telepon ke aku. Tari sarankan, kita berdua ajak Kantril dialog, supaya kejadian buruk itu tidak terulang kembali.” Bason sampaikan maksud hatinya kepada Pak Longor. Dan tentu saja gayung bersambut, niat tulus Bason direspon Pak Longor dengan baik.

Bason jadi banyak termenung mengenang perjalanan panjangnya bersama Kantril. Ketika SMA pernah Bason ditusuk pisau oleh pembalap liar di jalanan. Perut Bason terkoyak, darah banyak terkuras, harus rawat inap di RS Elizabeth. Kantril yang heboh jaga Bason selama perawatan di rumah sakit. Kantril dan Bason adalah kawan dekat yang selalu berdialog hal ikwal teologia pembebasan bersama Pastor Cevara Lubis. Lantas mereka membakar mobil tentara di pinggir pantai ketika rakyat digusur. Di pantai indah itu akan dibangun hotel mewah. Waktu itu Bason selamatkan Kantril sehingga tidak tertangkap. Sedangkan Bason tertangkap tangan mendekam dalam penjara selama 2 tahun. (Kisah Bason dan Kantril, baca buku: “Kawan Kentalku Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II” karya Martin Siregar)

Betapa senangnya hati Tari melihat kedatangan kedua tamu agung. ”Silahkan masuk Pak Longor, Silahkan masuk Bang Bason. Saya masih sibuk ngurus toko kelontong, Kantril sudah siap menunggu di ruang tamu belakang. Silahkan…Silahkan masuk Pak Longor.”

Di ruang tamu Kantril duduk memandang kejauhan berdiri memberi salam kepada Pak Longor dan Bason. Tak menunggu terlalu lama, Pak Longor langsung bicara: ”Memang benar yang dikatakan Pastor Cevara Lubis. Rencana Tuhan pada manusia pertama dirusak setan iblis melalui ular dan buah terlarang. Sekarang rencana Tuhan masih tetap dirusak iblis melalui struktur birokrasi pemerintahan dan organisasi permanent. Lihat saja negara, partai politik organisasi keagamaan — Sudah tak bisa kita harapkan untuk memelihara martabat kemanusian –Semuanya itu sudah hancur berantakan tak mendapat kepercayaan dari masyarakat maupun umat beragama.”

Kantril tersipu sipu sambil menggeleng gelengkan kepalanya: ”Iya…Aku masih ingat. Waktu itu aku dan Bason heboh membeli berbagai buku multidimensionil sebagai bahan baku memahami hakekat kehidupan ini. Hua…ha…ha… ”

“Nostalgia sejarah hidup kita. Tak mungkin bisa terhapus,…Kantril. Hua…ha…ha..” Bason terbahak bahak mencairkan suasana yang agak beku.

“Tapi, apapun ceritanya, sampai detik ini aku masih pegang erat ucapan Pastor Cevara Lubis. Aku tak mau terlibat pada sarana iblis merusak rencana Tuhan. Tak mau ikut, caleg, partai politik, pengurus organisasi agama. Aku yakin dunia ini hanya bisa diubah oleh orang yang menjalin hubungan interpersonal dengan Tuhan. Oleh orang yang tidak perduli terhadap sarana iblis yang merusak rencana Tuhan Hua…ha…ha..” Bason merasa dirinya berhasil menang melawan keganasan dunia ini. Tampak Kantril cemburu melihat Bason yang ringan saja menghadapi hidup. ”Jadi apa kegiatanmu sekarang Bason?”

Bason tersenyum simpul, “aku masih kerja di media itu. Dan, untuk memelihara kebugaran tubuh phisik dan tubuh nonphisik aku latihan meditasi. Kau pasti tahu ada tiga mahluk hidup yang diciptakan oleh Sang Khalik. Tumbuhan, hewan dan manusia. Ketiga mahluk hidup punya jantung, paru paru, bisa sakit, bisa beranak pinak dan lain lain. Tapi hanya manusia yang diciptakan ‘segambar dengan Tuhan’. Nah !! latihlah dirimu supaya segambar dengan Sang Khalik. Itulah nasehat aku dan Pak Longor pada kedatangan kami kali ini.”

Kantril tersentak:”Loh !!! Gimana aku melatih diri segambar dengan DIA ?”

“Berat aku menguraikan hal ini. Calsesek, Higam. Dulsa sudah puluhan tahun kudidik, tetap saja tak berhasil. Mereka itu orang bebal keras kepala.” Bason santai saja bicara, tapi Kantril semakin penasaran:”Iya, Bason…Aku serius, aku patuh terhadap nasehat kalian.” Aku harus berubah tak akan kusentuh lagi ganja dan alkohol. Mendengar hal ini Pak Longor kasihan melihat Kantril: ”Saya bawa ini buku Panduan Meditasi Konekting Cakra”. Kau baca buku ini, selanjutnya kau akan dipandu Bason yang sudah mendapat predikat master of komtemplasi. Yakinlah…Kantril. Hidupmu pasti semakin cemerlang atas tuntunan Bason.”

Kantril Mengisap Ganja

Flash Fiction Martin Siregar

stop narkoba
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Namanya sebenarnya Kalvin, tapi muak dengan westernisasi yang melekat dalam dirinya. Maka dirombaknya nama itu menjadi Kantril sebelum lulus SMA tahun 1990. Sejak itu dia seolah dibaptis ulang dengan nama Kantril. Seluruh kartu identitasnya bernama Kantril. Anak pengusaha eksportir makanan laut hidup berkelimpahan, membuat dia jadi salah arah. Menghilang dari rumah berkawan akrab dengan alkohol, perempuan, ganja dan hidup dijalanan.

Kapasitas personal Kantril memang luar biasa, walau drop out di semester IV dari fisipol. Tapi kecintaan mengorganeser masyarakt dan mengkaji ilmu pengetahuan secara mendalam tak bisa dihempang. Negara sangat memperhitungkan kapasitas Kantril sebagai tokoh gerakan sipil. Beberapa kasus perampasan tanah rakyat berhasil digagalkan Kantril. Argumentasinya jika berhadapan dengan intelektual genit tak diragukan. Terseok seok orang perguruan tinggi yang memihak neo libs jika berjumpa dengannya.

“Aku tidak siap kecewa dan tidak siap dikhianati”. Kedua karakter busuk tersebut sangat mewarnai gerakan sipil di Indonesia. Inilah alasan Kantril keluar dari gerombolan gerakan sipil. Dengan modal kecil Kantril membuka toko kelontong di pinggir kota. Tidak mau lagi jumpa dengan kawan kawan gerakan karena terlalu sibuk mengurus toko kelontongnya. Secara berlahan menabung, hingga pada akhirnya naik ke pelaminan tanggal 10 november tahun 2000, tanpa sepengetahuan orang tua. Hidup sederhana berjuang mempertahankan eksistensi toko kelontong supaya tak bisa diusir oleh modernisasi.

Untung istrinya sangat memahami keberadaan Kantril. Tari sang istri selalu membahagiakan Kantril sambil gigih mencurahkan tenga mengurus keluarga. Anak sulung mereka Taring sudah kelas III SD karakternya tak banyak beda dengan sang ayah. Mengorganeser kawan kawannya menyelenggarakan kompetisi sepak bola kaki ayam. Hal ini membuat Kantril bangga, walau sering mengeluh bahwa:”Jiwaku sudah lelah menghadapi hidup ini”.

“Bang Kantril, aku sedang suntuk”. Abang ada dirumah, aku mau main ke rumah abang” : Payman telepon Bang Kantril siang itu. “Oke…datanglah kau”. Bawa ganja dan Jhoni Walker ya..”: Direspon Kantril penuh sukacita. Hua…ha….ha…Kawanku Payman akan menghapus dahaga jiwaku nanti malam Hua….ha….ha…Kantril sangat bahagia.

Sehabis magrib Tari sediakan meja kecil beserta 2 kursi di depan toko kelontong yang sudah tutup. Kantril terharu, dibelai belainya pundak Tari dan diciumnya kedua pipi istri tercinta. “Bapak jangan mabok lagi ya…. Wajah Taring keriting melihat persiapan yang dilakukan ibunya. “Tenanglah kau Taring, Om Payman hanya ngajak bapak ngobrol soal perkembangan politik.

“Kenapa kau suntuk Payman…”. Payman duduk kemudian meletakan botol sakti diatas meja disamping 2 gelas yang sudah tersedia.”Naskah bukuku sudah tuntas, Susan pacarku orang italia bersedia membiayai penerbitan.”Tapi dia bilang, siap launching kami bulanan madu ke Brazil dan menetap di Italia. Tak usah lagi kita injak negara yang dipimpin para bangsat. Kantril bingung kenapa Payman menolak hidup indah yang ditawarkan pacarnya.”Untuk apa kau menetap di Indonesia kalau ada kesempatan hidup sejahtra di Italia ?.Heran aku, mata Kantril melotot setelah menghisap rokok yang sudah diisi ganja.”Ah !!!…Sudahlah, minumlah abang” Payman nampak tak mau melanjutkan cerita.

Isap ganja makin nikmat mata Kantril sayu sudah merah. “Sedap ganja kau ini Payman Hua…ha…ha… Belakangan ini aku sering berangan angan. Mendadak dapat duit puluhan milyard. Toko kelontong ini kukasih sama keluarga yang hidup sengsara. Aku bikin rumah besar, ada kamar khusus untuk aku. Dikamar itulah aku hidup sepanjang hari. Sudah jijik aku berinteraksi dengan banyak orang. Aku mau menikmati hidup tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Dari hari senin sampai kamis setiap jam 6 pagi aku berenang dengan standrad latihan atlit renang. Setelah sarapan pagi habiskan waktu tuk baca tulis di kamar. Sore aku latihan phisik pakai barbel. Malamnya latihan pernafasan dan meditasi sampai tertidur. Hari jumat sampai minggu aku jalan sendiri naik sepeda kuno ke pinggir kota. Cari inspirasi sekaligus rekam realitas sosial manusia sengsara yang ditindas negara.”Yah,…Selalu sendiri di tengah hiruk pikuk tatanan sosial yang sudah hancur. Intens menata keluarga sekaligus memonitor dinamika perkembangan Taring menjelang dewasa. Ah !!! Betapa indahnya. Kecintaanku adalah menjaga kebugaran tubuh phisik dan tubuh nonphisik sepanjang hdup ini. Hua…ha…ha….Taring tertawa lepas.

Kantril berdiri mau kencing ke dalam rumah. Pas !! melangkah Kantril jatuh tersungkur muntah sudah terlalu banyak ngisap ganja campur jhoni walker. Setengah sadar Payman penuh kasih menuntun Kantril untuk duduk kembali. “Nanti kita bersihkan muntah ini ya… Supaya aku tak dimarahi Taring.

Payman dan Kantril duduk termenung, sudah agak mabok, hanyut dengan pikirannya masing masing.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #9

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 9
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Waktu berjalan terus. Tak ada seorang pun manusia yang mampu menghentikan lajunya perjalanan waktu. Dan, waktu yang telah berlalu tak bisa terulang kembali. Pertemuan sore hari di rumah Susanti memberikan kemampuan Tigor dan Mikail merefleksikan persahabatan mereka. Keduanya merasa perlu mengembalikan kondisi persahabatan mereka seperti sedia kala. Tetap dengan intensitas perjumpaan yang padat sambil mengulas persoalan-persoalan filosofi untuk melengkapi kerangka berpikir konstruktif struktural. “Belakangan ini aku sudah tak pernah lagi membaca buku dan menulis opini.” Tigor menyesali hari-harinya yang terbuang dengan sia-sia.
“Aku juga sering berangan-angan belakangan ini. Mengerjakan apa saja pun aku malas,” kata Mikail. “Okelah,.. besok kujemput kau pulang kuliah. Mari kita jalan terus sampai larut malam, mengulang apa yang selama ini kita lakukan.”
Jalan bersama sampai larut malam, nonton bioskop, Tigor nginap di rumah Mikail ngobrol panjang tentang banyak hal, membuat kehangatan persahabatan mereka kembali lagi bersemi. Ibu Mikail senang sekali melihat Tigor kembali lagi sering nginap di rumah mereka. “Kemana selama ini Gor,” Ibu menyapanya. “Ingatkan Mikail supaya tetap serius menyelesaikan kuliahnya. Ibu takut penyakit lama Mikail kambuh lagi dan kuliahnya berantakan.”
“Iya,..Bu.” Tigor sudah merasa ibunya Mikail adalah ibunya juga. Karena perhatian keluarga Mikail kepada Tigor tak ada bedanya dengan ibunya sendiri. Mau mandi, mau makan atau mau tidur di kamar Mikail seenaknya saja Tigor kerjakan. Sudah macam rumah sendiri.
Acara makan pisang goreng di rumah Susanti pun rutin diselenggarakan, serta sikap Mikail menunjukan usaha-usaha mengisi suasana percintaannya bersama Susanti. Persahabatan tiga serangkai bersemi lagi.
***
Ucok ditugaskan FDP untuk mengirim proporsal ke Sabidoar Foundation. Armand dapat tugas menyusun daftar kebutuhan sekretariat dan mekanisme internal kelembagaan bersama Ucok dan Ningsih. DR Pardomuan mengurus badan hukum FDP sekaligus membuka nomor rekening Yayasan FDP. Agar (seandainya) Memorandum of Understanding bulan Juni mendatang jadi ditandatangani, persiapan institusionil FDP sudah mantap. Karena melihat latar belakang perkenalan FDP dengan Sabidaor Foundation adalah kontak person bersama direktur pelaksana Sabidaor, lantas membangun hubungan emosionil melihat kunjungan Mukurata yang terus menjalin kontak respondensinya, maka peluang FDP mendapat dukungan dana dari Sabidaor tidak diragukan lagi. Seluruh warga FDP tidak terlalu khawatir proporsal mereka ditolak oleh Sabidaor Foudation.
***
Dua bulan lagi Anita Theresia dibaptis menjadi suster, setelah 3 tahun berdiam di biara Katolik Tantangun. Tapi, perasaannya sangat gundah gulana. Perkenalannya 6 bulan yang lalu dengan pemuda Johan Niskeno kaya raya pejabat pemerintahan Trieste mengguncangkan sikapnya yang ingin mengabdikan diri seumur hidup untuk gereja katolik. Kegigihan Johan tak mengenal kata mundur sambil terus menunjukan perhatiannya yang sungguh mempersunting Anita, ternyata berhasil meluluhlantakkan hati Anita. Pada akhirnya, Anita lebih memilih menjadi istri Johan Niskeno dari pada bertahan hidup di biara. Semua pihak terpukul dan marah terhadap komitmen Anita yang goyah gara-gara Johan. Sempat juga keluarganya berhasrat membatalkan maksud perkawinannya. Tapi, berkat usaha keluarga Johan Niskeno melakukan pendekatan kekeluargaan akhirnya perkawinan mereka dibaptis di gereja kristen protestan.
Hidup gemerlapan sebagai istri Johan Niskeno yang hidup mewah, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan biara — tidaklah membuat Anita Theresia lupa daratan —-. Karakter yang dibangun selama berada dibiara tetap dipeliharanya sampai saat sekarang ini. Hanya Mikail Pratama anaknya yang butuh perhatian khusus . Sedangkan ketiga anaknya Rini Anggelina, Yayuk Astuti dan Jimmi Rocky, sudah dapat berjalan dengan baik tanpa kontrol yang ketat dari beliau. Dan, walaupun sekarang sudah beragama kristen protestan, tapi ibu Mikail masih tetap melakukan meditasi katolik yang diajarkan di biara. Beliau sangat takut kehilangan hati nurani akibat kondisi ekonomi keluarganya yang berkelimpahan. Cinta yang tulus kepada sesama umat manusia juga dirasakan Tigor bekas anak brandalan itu: Tigor, kalau uang kiriman dari kampung belum datang dan kalau perlu uang minta sama ibu ya… Tak usah malu malu. Ibu sudah menganggap dirimu adalah anak sendiri,” Ibu berkata lembut kepada Tigor. “Iya..bu” Tigor juga sangat mengasihi ibu Mikail. Beberapa saat kemudian. “Sebenarnya ibu khawatir kalau saja dana program yang didukung Sabidaor jadi dilaksanakan. Ibu khawatir kuliah kalian jadi teganggu.” Ibu nampak cemas mendengar rencana kerja FDP.
Kalau istri DR Pardomuan dan Arben Rizaldi hanya tahu mengejek kegiatan ayahnya bersama FDP, tapi ibu Mikail memonitor segala jenis kegiatan anaknya dengan baik. Seluruh perkembangan kegiatan anaknya dipahaminya secara mendalam. “Tidak…tidak usah ibu kawatir.” Justru program kerja yang dibangun oleh FDP akan mendukung perkuliahan kami. Bahkan akan memberi kami nilai plus karena di saat kawan-kawan masih belajar teori kemasyarakatan, kami sudah mempraktekannya.” Mikail memberi argumentasi menolak pendapat ibunya. “Yah,…semoga sajalah.” Ibu lebih banyak melihat sejarah orang yang bekerja di masyarakat, sementara kalian masih ingin membuat sejarah. Percayalah terhadap ucapan ibu.” Kemudian ibu pergi kekamar meninggalkan Mikail dan Tigor makan malam. “Selamat malam,” kata ibu yang kelihatan susah.

“Aku pikir ucapan Ibu tadi perlu kita renungkan dengan serius. Nampaknya dia tidak main main.” Kondisi Tigor agak tegang waktu masuk ke kamar Mikail.
“Ah! Tak usah terlalu kau pikirkan. Ibu itu kayak post power sindrom, apa yang ingin dilakukannya pada masa muda gagal semua. Mungkin akibat perkawinan dengan ayah. Mana mungkin mimpi calon seorang suster dapat terfasilitasi dalam kehidupan berumah tangga,” Mikail mencoba menganalisa sejarah hidup ibu. “Nah! Justru karena itu aku yakin analisanya tak meleset.”
Mikail pikir, beban Tigor merenungkan kata-kata ibu semakin berkurang setelah Mikail menjelaskan latar belakang ibu. Ternyata Tigor semakin percaya sama ucapan ibu.
“Mikail aku berharap skripsi sarjanaku judulnya ‘Gerakan Petani dalam Konteks Kekuatan Hukum di Trieste’. Walapun kita bikin skripsi 2 tahun lagi, tapi aku punya komitmen untuk tulis skripsi dari program FDP,” kata Tigor sambil berbaring menarik bantal. Rokok dihisapnya kuat-kuat dan, “Kapan lagi perguruan tinggi memaparkan aspirasi masyarakat kelas bawah secara orisinil dan ilmiah”.
Mikail terperanjat, dia tak sangka bahwa renungan Tigor sudah sedalam itu. “Aku dukung pikiranmu, Gor,” Mikail bersemangat. “Iya…bulan Juli mendatang aku tidak tidur di kamar kost lagi. Aku akan tidur di rumah kelompok tani yang menjalankan program kita.” Kembali lagi Mikail terkejut, “Jadi, kau tak kuliah? Nanti tak bisa ujian.” Mikail semakin khawatir membayangkan keberadaan kawannya Tigor. Sudah jenuh sekali rupanya Tigor dengan kondisi kampus. Padahal, status seorang mahasiswa sangat terhormat di tengah-tengah masyarakat Trieste. Sebuah status yang disejajarkan dengan masyarakat lapis atas. Mahasiswa adalah kaum elite di masyarakat.
“Aku hanya titip absen saja sama kawan-kawan. Karena masuk perkuliahan itu tak ada ilmunya. Lebih baik kita baca buku wajibnya di rumah. Kemudian kita singkatkan buku itu, agar intisari bukunya dapat kita pahami. Masukan dari dosen ketika kuliah sama sekali tak ada. Jadi, percuma saja kuliah isi absen.” Tigor tarik lagi rokok kreteknya sekuat tenaga. Mikail terdiam tak bisa bilang apa-apa.
“Gor,.. Melihat kedekatanmu dengan keluarga kami, maka layaklah kami turut bertanggung jawab atas perkuliahanmu di hadapan keluargamu di Pangkoper. Apa yang kami bilang ke keluargamu kalau kuliahmu gagal?”
Mikail kelihatan panik memperhatikan Tigor yang seenaknya baring sambil tetap merokok.”Tak usah khawatir, aku akan langsung sampaikan maksudku ini ke kakak Rosita Dameria. Aku yakin dengan gampang keluargaku bisa mengerti,” kata Tigor dengan tenangnya.
“Justru aku tak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini ke ibumu. Dia bukan basa basi mengasihi aku. Kau dibelikannya kaos t-shirt yang cantik, aku juga dapat. Kita dua sudah tak dibedakannya. Aku takut mengecewakan beliau.” Tigor buka bajunya, diambilnya celana pendek Mikail dan dinyalakannya rokok untuk kesekian kalinya. Lantas keduanya terdiam. Sebuah persoalan besar mendominasi pikiran mereka.
Biasanya mereka menghabiskan malam bersama suara tape yang tiada henti. Tapi malam ini situasi diskusi cukup serius, seolah musik tidak boleh terdengar. “Okelah..Gor, aku tidur duluan.” Mikail peluk bantal guling dan melapis tubuhnya dengan selimut tipis membiarkan Tigor berbaring dengan isapan rokok kretek. Rokok para dukun kata kawan-kawan mereka.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 8

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Kakek Longor Kecewa

Gerundelan Martin Siregar
Cucunya kakek Longor yang paling tua Theresia sudah duduk di kelas III SMP. Sekolah itu dekat rumah kakek Longor, sehingga murid jalan kaki pergi/pulang sekolah menjadi perhatiannya. Pulang sekolah Theresia selalu singgah di rumah Pak Longor. Dan sering kelabakan menjawab pertanyaan sang kakek yang cerewet. Mulai dari pertanyaan cara guru mengajar, materi mata pelajaran, korelasi antar guru, murid dan orang tua murid, interaksi antar murid dan lain lain. Tapi, kadang Theresia bangga punya kakek Longor. Pertanyaan-pertanyaan si Kakek mempertajam kemampuan Theresia memahami realitas kehidupannya.

“Siapa murid yang rambut pendek, cantik, badannya agak tinggi itu?” Mendengar pertanyaan ini Theresia jengkel. ”Banyak murid rambut pendek yang lewat sini. Kenapa rupanya Kek?” Kali ini dengan lembut Theresia merespon sang Kakek. Lantas dengan senang hati sang kakek berkata,”Kami sering beradu pandang, saling lempar senyum dan kakek yakin bahwa dia murid cerdas.” Kalau ada kesempatan kakek mau memandu dia agar lebih kritis merancang masa depannya. Banyak kakek lihat murid cerdas di desa tak berhasil merancang masa depannya dengan baik. Karena berbagai keterbatasan fasilitas yang tersedia di sekolah, keluarga maupun minimnya fasilitas di desa. Ingin menyumbangkan pengetahuannya (tanpa pamrih) untuk para muda membuat Theresia mengagumi jiwa kakek Longor.

Pada misa gereja minggu jam 8 pagi, secara kebetulan kakek Longor duduk bersebelahan dengan murid yang disenanginya. Di celah-celah ibadah kakek Longor membuka dialog. ”Namanya siapa? Kelas berapa?” Interaksi mereka berjalan dengan mulus, kakek Longor tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Mawar juga sudah rindu bisa berkomunikasi dengan kakek Longor. ”Nama saya Mawar, Kek. Kelas II SMP, Kek.” Kita sering beradu pandang dan saling lempar senyum kalau kakek duduk di teras depan. Kesan saya, kakek walau sudah tua tapi punya energi ilmu pengetahuan yang terpendam. Begitulah kesan saya, Mawar cerah ceria menyambut dialog tersebut. Beberapa potong pengalaman hidup dan kerja pengembangan masyarakat membuat Mawar semakin kagum sama kakek Longor.

Senin pulang sekolah Theresia bingung melihat Mawar singgah di rumah tuk mengambil buku dari si kakek.”Iya…Baca buku tipis ini, minggu depan kembalikan ke kakek.” Kita bedah buku ini sebagai bekal Mawar meniti cita-cita. Mawar senyum bahagia melanjutkan jalan kaki pulang ke rumah. Kemudian si kakek berkata kepada Theresia,”Senin depan kakek dan Mawar akan bedah buku yang sudah Theresia baca.” Theresia heran,” Buku yang mana Kek?” Wajar saja Theresia bingung karena sudah banyak buku kakek Longor yang dibacanya. “Buku: Logika dan Interpersonal dengan Tuhan.” Mendengar hal ini Theresia bahagia,” Ooo… Wiwin, Rizki, Dea, juga sudah baca buku tersebut. Mereka mengaku ada beberapa bagian buku yang belum kami mengerti. Jadi diskusi bersama Mawar dan kakek adalah hal yang kami harapkan. Okelah.., Kek, Theresia pulang dulu ya…”

Tapi besoknya Theresia, Rizki, Dea dan Wiwin kelabakan mencari Mawar di sekolah. Mereka ingin membicarakan rencana diskusi bedah buku itu bersama kakek Longor. Kemana Mawar????. Kok nggak ada di sekolah beberapa hari ini??? Hari kamis tanggal 3 Mei mereka sangat terkejut. Dengan kasar penuh emosi Mawar diusir sang ayah dari rumah. Di kamarnya Mawar ketahuan melakukan hubungan lesbian dengan kawan sekelasnya.

Kakek Longor hanya tertunduk pedih kecewa mendengar kabar itu.

panas terik, 7 mei

Akankah hatiku ditabur gerlap gemilangnya bahagia

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #8

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 8
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Susanti gembira sekali mendengar Om-nya memelihara kontak komunikasi dengan kawan-kawannya di FDP. Sementara Tigor merasa bahwa kontak FDP dengan lembaga dana masih terlalu pagi. FDP harus menunjukkan eksistensinya bekerja di masyarakat lapis bawah, setelah itu baru layak menjalin kontak dengan lembaga dana. Armand yang sangat terobsesi untuk membiayai kuliahnya, tidak lagi mendapat subsidi dari orang tua, Arman merasa sangat riang hati. “Kalau sudah ada dukungan dana, maka kita tak perlu minta uang kuliah dari orang tua. Kita harus menjadi mahasiswa yang mandiri. Kiranya, tercapai kesepakatan FDP dengan Mukurata. Walaupun kita masih mahasiswa, tapi kita sudah menjadi orang yang profesionil bekerja di masyarakat. Sudah tak kalah dengan para dosen-dosen yang sok menggurui kita. Ha…ha..ha..” Armand tertawa sendiri membayangkan dirinya sudah menjadi orang yang profesionil.
DR Pardomuan hanya diam mendengarkan segala macam pendapat kawan-kawannya yang masih muda. Dia amati pola tingkah laku bicara kaum muda ini. Beliau cukup tekun mengamati perkembangan psykologis seluruh anggota FDP. Pernah satu waktu beliau lupa mengunci laci lemari kerjanya. Di situlah ditemukan Ucok, bahwa setiap anggota FDP punya map masing-masing. Pada map itu DR Pardomuan menuliskan segala hasil pengamatannya terhadap seluruh personil FDP. Panjang lebar dituliskannya kesan pribadinya pada setiap anggota. Ucok kagum dan terheran melihat ketekunan saudara tua mereka. Dan tak diceritakannya rahasia itu kepada orang lain. Dalam hati, Ucok berjanji akan mencontoh kebiasaan baik yang dipelihara saudara tuanya yang mengasihi mereka dengan sungguh – sungguh. Tekun menuliskan kesan apa saja yang diperoleh dalam realitas hidup sehari-hari pasti akan memampukan kita lebih tajam lagi menganalisa kehidupan sosial kemasyarakatan. Begitulah tekad mahasiswa yang tempramental itu.
“Panas panas taik ayam, sebentar lagi pasti dingin taik ayamnya.” Itulah kalimat yang sering dilontarkan Arman kalau mengejek Ucok.

Mukurata hanya dua hari di Rilmafrid. Dengan bahasa inggris yang sudah lancar, ia banyak berkomunikasi dengan DR Pardomuan dan Susanti yang menjadi juru bicara FDP. Bersama Mukurata FDP lebih banyak menghabiskan waktu membahas penulisan proporsal sesuai dengan standard Sabidaor Foundation.
“Sial! Aku tak lancar berbahasa inggris. Kalau aku lancar,pasti kutanya standard gaji yang ditetapkan Sabidaor,” kata Armand setelah pulang antarkan Mukurata ke airport.
“Dasar mata duitan,” Ningsih kesal mendengar Arman. Ibu dan Arben Rizaldi kali ini bingung menyimak pembicaran mereka. “Rupanya tamu mereka tadi adalah orang Taiwan yang akan memberikan mereka gaji bulanan,” kata Arben.
“Ah! Masyak! Dari mana mereka kenal orang itu dan kenapa pula dia mau memberi gaji kepada pendaki-pendaki gunung yang puncaknya kekonyolan?” Ibu merasa aneh. “Jangan-jangan kau salah dengar,” katanya pula pada Arben.
Sebenarnya Ibu adalah mahasiswa yang cerdas. Mery Anita namanya, dikenal sebagai kembang kampus yang banyak menarik simpatik kaum hawa. Tapi, ketika menulis skripsi, dosen pembimbingnya Drs Bachtiar Harjatmo ingin memperkosa Ibu waktu berkunjung ke rumah Drs Bachtiar Harjatmo yang ketika itu tak ada penghuni. Pulang dari rumah dosen, dibakarlah seluruh naskah skripsinya oleh Ibu. “Saya tidak mau lagi melanjutkan penulisan skripsi. Drs Bachtiar Harjatmo harus dipecat dari dosen fakultas sastra dan dijebloskan ke penjara selama 6 bulan.” Kata Ibu waktu itu. Memang sang dosen akhirnya masuk penjara sesuai dengan keinginan ibu.
Tapi, Ibu sudah tak selera lagi melanjutkan kuliah. Ibu frustasi dan hampir gila. DR Pardomuan-lah yang diminta keluarga untuk sabar tabah membujuk ibu agar memiliki gairah hidup. Intensitas jumpa yang cukup lama membuat mereka berpacaran. Kemudian menjalin mahligai rumah tangga sampai saat sekarang memiliki anak tunggal yang manja, Arben Rizaldi, sudah jadi mahasiswa semester 3 di akademi pariwisata.

“Aku sudah hampir satu jam di kantin tunggu kau.” Mikail jumpai Tigor sehabis kuliah. “Dosennya terlalu asyik memberi kuliah sehingga waktu terlewatkan setengah jam.” Lalu mereka sama sama diam menuju parkir motor. Akibat kesibukan di FDP, kedua mahasiswa ini tak punya kesempatan untuk bertamu ke rumah Susanti. Sudah lebih 2 bulan mereka tak pernah lagi menjumpai Susanti. Berkas proporsal untuk diajukan ke Sabidaor Foundation ada di ransel Mikail untuk diinggriskan Susanti. Sebentar mereka beli pisang goreng Bi Inah langganan tetap Tigor 2 tahun ini. Tapi, dekat simpang empat menuju ke rumah Susanti, ada kerumunan orang. Ada yang bawa pentungan, menggengam batu besar, buka baju muka bringas siap bertempur. Ada dua orang hanya pakai celana dalam dan kaus, badan penuh dengan bengkak. Tangan mereka diikat kuat pakai tali raffia. Mata lebam warna biru meneteskan darah kental habis dipukuli massa yang masih terkonsentrasi di tempat kejadian.
“Pak,.. ada apa Pak.” Mikail sangat ingin tahu.
“Ini dua polisi mau menangkap anak muda itu,” kata bapak setengah baya sambil tunjuk seorang anak muda. “Ketika berdiri mendekati motor anak muda itu, dari kantong celana polisi jatuh setumpuk daun kering ganja. Langsung saja anak muda yang ditangkap polisi itu memukul polisi dan berteriak memanggil semua orang yang ada di sekitar tempat kejadian.”
“Ooaaalllaahh.. mampuslah negara kita ini. Polisi pun sudah kantongi ganja. Mampuslah kita ini.” Mikail tak habis pikir, kenapa ada polisi yang ikut sindikat perdagangan ganja.

“Ah.., syukurlah kalian datang, aku sudah rindu mendengar kalian bertengkar.”
Susanti menyambut mereka dengan piring di tangan. Susanti sudah tahu, pasti mereka datang membawa pisang goreng.
“Iya,..kami juga rindu juga sama kau. Kami sudah tak pernah lagi nonton bioskop bersama. Otomatis tak ada topik pertengkaran kami.”
“Aku pun tak pernah lagi nginap di rumah Mikail.” Tigor juga tersenyum menyambut Susanti.
Kesan terhadap kedatangan Mukurata serta membayangkan keberadaan FDP menangani program yang didukung oleh Sabidaor menjadi topik hangat sore ini.
“Ah, si Mikail ini, namanya saja pacarku. Hanya datang malam minggu. Itu pun hanya sebentar. Tak pernah ada suasana romantic,” Susanti kesal.
Si Mikail hanya menundukan kepala pertanda mengaku kesalahannya di hadapan Susanti dan Tigor. Kondisi mereka sore ini agak tegang juga gara-gara pernyataan Susanti yang merasa status pacaran tak pernah dinikmatinya bersama Mikail. Setelah diam beberapa saat Tigor dengan lembut buka bicara,” Susanti, kalau bisa 2 hari ini proprsal kita sudah siap diinggriskan.”
Masih lemas Susanti menjawab Tigor,” Mudah-mudahan bisa. Soalnya seminggu ini aku janji membantu Evi, kawanku ngerjakan tugas kuliah.”
Suasana yang diharapkan cerah ceria ternyata berubah menjadi tegang dan kaku. Susanti memang sudah lama memendam rasa jengkelnya melihat tingkah laku Mikail yang tak punya perhatian untuknya.

bersambung…


Kisah Sebelumnya: Bagian7

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #7

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 7

Dengan lancar Tigor memberikan pengantar diskusi mereka di ruang meditasi, markas besar FDP. Tanggapan-tanggapan gencar diutarakan oleh peserta diskusi. Sebenarnya sebuah pertemuan ilmiah tidak resmi sedang berlangsung dengan hangat. Bahkan, Ucok, anak sastra Zatingon, berani mengklaim bahwa forum mereka jauh lebih bermutu daripada rancangan para petinggi perguruan tinggi. Segala landasan teori yang selalu dimamah biak peserta diskusi tertumpah pada acara forum perdana tahun 1981. Sehingga, Armand anak fakultas sosial politik Rilmafrid yang bertugas menjadi notulen gelagapan menjalankan tugasnya. Sementara Tigor lunglai segera membaringkan tubuh sehabis diskusi. Di hirupnya rokok gudang garam kretek sekuat tenaga. “Aku takut, kalau kita terlalu intens berdiskusi, maka kemampuan kita berintegrasi di tengah-tengah rakyat miskin akan terganggu. Kita tak tahu lagi bahasa rakyat, karena sudah terlalu banyak istilah ilmiah di kepala kita,” Tigor mengoceh. Dia sudah tak perduli entah siapa yang mendengar ucapannya. Dan, dalam kesunyian, suara Armand bernyanyi:…Lelah …lelah hati ini…menggapai hatimu… Mungkin maksudnya menyindir si Tigor yang sudah tak kuasa lagi berpikir. Mereka berdua memang selalu saling sindir menyindir tanpa rasa dendam. Hubungan interpersonal antar Armand dan Tigor dapat juga dikatakan pencipta suasana segar di FDP.
“Untunglah ada Arman dan Tigor sehingga stres saya bisa hilang.” Muslimin anak fakultas pertanian Rilmafrid tersenyum lega. Ucok juga merasa hal yang sama dengan Muslimin. Ucok memang agak temperamental, dia selalu khawatir kalau saja Tigor dan Arman berkelahi gara-gara beda pendapat yang runcing. Tapi, selama 2 tahun perjalanan mereka, belum pernah terjadi kekhawatiran Ucok. Semuanya berjalan lancar dan menyegarkan. Semuanya berdampak positif untuk perkembangan FDP. Apalagi kadang-kadang Susanti datang bersama kawannya Ayong mewarnai forum mereka yang sangat minim perempuan.

Sekitar 3 bulan berpisah dengan DR Tumpak Parningotan, siang itu suratnya datang ke markas besar FDP. Kebetulan Ningsih dan pacarnya Dedi Kantingan sedang berada di tempat. Segera dibaca mereka surat tersebut.

Kepriano, 23 Febuari 1981

Kepada Yth : Teman – Teman
di
Ruang Meditasi

Salam Pembebasan,

Terus terang saya sangat terkesan berjumpa dengan teman-teman di Rilmafrid. Saya merasa komitmen yang teman-teman miliki sudah sangat kuat. Sudah siap tempur untuk melawan kezaliman penguasa negara kita, Trieste. Sedangkan saya di Kepriano belum pernah bertemu dengan kawan-kawan yang punya perhatian besar terhadap gagasan perubahan sosial. Mereka terlarut oleh watak komsumtif yang dikampanyekan oleh penguasa negeri ini. Itu makanya (sebenarnya) saya iri hati melihat solidnya kawan-kawan yang tergabung dalam FDP. Sementara saya sudah hampir patah arang.

Dua minggu yang lalu, kebetulan di gereja datang tamu dari lembaga dana meninjau program-program gereja kami yang mereka dukung. Salah seorang tamu itu adalah warga negara Taiwan yang bekerja di lembaga dana Sabidaor Fundation. Sebuah lembaga dana yang bersedia memberi dukungan untuk gerakan bawah tanah. Saya tak mengerti kenapa dia bisa ikut hadir dalam kunjungan Ichbenlip Foundation Belanda. Lembaga dana yang siap sedia mendukung program dengan visi transformatif.

Malamnya tanpa diketahui oleh pihak lain, Mukutara (orang Jepang yang jadi warga negara Taiwan) datang berkunjung ke rumah saya.
Dikatakannya Sabidaor Foundation secara rahasia sedang mencari kontaknya di Trieste.
Agar ada jaringan kerjanya di negara kita. Sabidaor sama sekali tidak tertarik membangun jaringan dengan lembaga-lembaga formal. Justru watak organisasi seperti FDP-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Dan, saya sudah mempromosikan FDP sekaligus berikan alamat FDP kepada Mukurata.
Mungkin, pertengahan Maret mendatang, Mukurata akan berkunjung ke FDP. Kiranya kerja sama FDP dan Sabidaor terjalin dengan baik

Selamat bekerja dan sukse selalu
Salam dari keluarga saya untuk seluruh warga FDP

jabat erat

tumpak parningotan

“Tak ditulis gelar kesarjanaannya. Namanya pun seluruhnya pakai huruf kecil,” kata Ningsih sehabis membaca.
“Yah,…mungkin itu simbol kesederhanaan jiwanya.” Kantingan memberi respon simpatik kepada pacarnya Ningsih.
Sore hari sudah semua anggota FDP bergembira hati membaca surat tersebut. Surat Tumpak Parningotan membuat FDP merancang acara apa yang patut disajikan apabila Mukurata datang berkunjung. Kedatangan tamu asing seperti ini adalah pengalaman perdana FDP. FDP sama sekali tidak pernah menjalin kontak dengan lembaga dana. Walaupun DR Pardomuan secara pribadi sering juga dikunjungi oleh kawan-kawannya semasa kuliah di Uni Sovyet.
“Mudah-mudahan Mukurata dapat menuntun kita memformulasikan program FDP lebih permanen lagi,” Ucok berharap.
“Yah,..kita harus lebih profesionil lagi bekerja di tengah-tengah rakyat,” Arman menimpali. Surat yang dikirim pakai kilat khusus tiba di tangan FDP tanggal 25 Febuari. Berarti kita masih punya waktu 2 minggu lagi untuk memikirkan acara-acara untuk menyambut Mukurata.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 6