Arsip Tag: kawanku

Pay Jarot Bermalam di Rumahku

Flash Fiction: Martin Siregar

Sprei, sarung bantal sudah kuganti. Kamarmu kusapu dan pel supaya lebih segar. Ruang tamu juga sudah kurapikan. Aku hanya senyum manis mendengar suara tegas istriku yang sudah capek menyambut kedatangan  Pay beberapa jam mendatang. ”Kau…Tidur di depan tv, sudah kusediakan bantal selimutmu. Tak usah kau sekamar sama si Pay. Nanti dia yang sudah capek naik motor tak bisa tidur karena kau tidur sangat lasak. Bisa saja kakimu macam orang mabok menendang mukanya.” “Hua…ha…ha.. Iyalah ..Hua…ha…ha..” Aku ketawa terbahak bahak mendengar garis komando yang selalu aku dengar kalau kawanku berkunjung dari tempat jauh.

Satu jam yang lalu Pay SMS katakan sudah meluncur dari Sosok. Berarti satu jam mendatang sampai di rumahku. ”Cepat!! Kau mandi, nanti jijik si Pay ngobrol sama kau yang masih bauk dan jorok.” Hua…ha…ha..Matilah aku ini. Kupikir sudah berakhir  cerewet istriku. Rupanya masih berlanjut ketika aku mau duduk menghabiskan kopi sekitar jam setengah enam sore.

Tidak terlalu meleset, Pay sudah tiba ketika aku sedang mandi. “Cepat !!! Cepat bapak mandi, Om Pay sudah datang. Cepppaaatttt….!!”. OooaaLlaa…Anakku Jati ketularan cerewet mamaknya. Maka akupun macam cacing kepanasan bergegas menyambut Pay di ruang tamu. ”Nah !!! Ini Pay kakakmu terpingkel pingkel baca buku karya tulismu:”Sepok”. Pay hanya tersenyum tipis merespon ucapanku.

Menjelang malam, Pay malas mandi. Lebih baik kita secepatnya makan supaya kerja edit naskah bisa segera selesai sebelum larut malam. Siap makan, langsung ke ruang tamu sudah tersedia seteko kopi dan air putih disediakan Jati. Pay segera buka notesnya dan dengan ringan kami kategorikan tulisan tulisanku. ”Bang lebih cocok Bab I Wacana Unkonvensionil. Supaya sidang pembaca punya panduan tuk melangkah ke Bab II. Nah !! Bab II kita masuk ke: Dunia Tulis Menulis” Pay memberi saran yang langsung kusambut sangat setuju. Kalau  begini ceritanya berarti penerbitnya bukan LPs Air, karena mereka tak jadi kasih konstribusi. Oke…Pay soal itu nanti saja kita diskusikan. ”Tapi abang nggak kecewa kan?” Aku hanya senyum kecut menahan gigi supaya jangan berlaga Hua….ha…ha…

Ternyata tugas rombak naskah tidak serepot yang kami bayangkan. Sekitar jam setengah sebelas kerja tuntas dan laptop tak aktif lagi. Pay mengaku agak sulit tidur apabila tubuh terlalu letih. Maka akupun (senang ?) punya kesempatan tanya pendapat Pay tentang sikapku. “Iya…Pay. Kurasa dunia ini sudah terlalu sering berpendapat bahwa paham humanisme universal adalah missi penjajahan negara maju ke negara berkembang. Menyebarkan nilai universil (menyeragamkan) pandangan hidup di negara berkembang. Dengan demikian, negara maju akan lebih mulus menjalankan (A) Eksploitasi sumber daya negara berkembang. Agar kesadaran pemerintah (negara berkembang) semakin mandul maka negara maju (biasanya) melakukan strategi (B) Penetrasi budaya. Dihancurkan budaya lokal dan tak sadar sumber daya semakin banyak di eksploitasi. Supaya eksploitasi dapat berjalan permanent, maka (C) Politik negara berkembang harus di dominasi.”

Ketiga (A,B,C) di atas sudah terjadi di Indonesia. Dalam aksi mahasiswa sering disebut dengan semangat:”Usir NeoLibs”. Mendadak aku tersadar sudah terlalu banyak bicara membiarkan Pay hanya diam mendengar.”Gimana pendapatmu Pay?” Aku sentak si Pay.”Abang teruskan saja, aku tetap menyimak.” “Okelah…Pay.”

Jadi humanisme universal adalah poros utama imperialisme. Begitu pemahaman yang terjadi sejak zaman dahulu kala. Nah !! tulisanku terlalu banyak tinggalkan pesan humanisme universal. “Apa mahasiswa tak benci sama tulisanku?” Pay diam saja isap rokok makin dalam matanya menerawang.

Yah.., Hal ini yang berkecamuk dalam benakku. Pada sisi lain aku melihat bahwa nilai humanisme universil adalah obat mujarab untuk meruntuhkan watak primordialisme primitif (pemicu konflik SARA). Kusudahi kalimatku. Selang beberapa waktu Pay angkat bicara:”Walau lelah aku sudah bisa tangkap pesan yang abang sampaikan.” Ini pergumulan kita dalam proses penerbitan buku abang yang jalannya terseok seok. Hi…hi..hi… Okelah…Mari kita tidur Pay.

Bason Mengbahagiakan Badrun Kemis

Flash Fiction Martin Siregar

Gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Gara gara baca tulisan Tantri di komunikasi sastra, Bason terkejut. Rupanya Pak Badrun Kemis masih dengan watak lamanya yang aneh dan masih bertani. Padahal ketika masa pelarian Bason, Pak Badrun mengaku sudah jenuh jadi petani.”Ah !!! Saya ingin merantau ke kota”. Sejak nenek moyang zaman dahulu, sampai masa saya sekarang ini — nasib kami belum berubah —. Saya mau pindah ke ibukota negara. Banyak kawan saya walau hidup susah tapi bisa menikmati kemewahan kota. Waktu itu Bason sudah merekomendasi beberapa kawan akrabnya yang mengorganesr buruh.”Ini nama dan alamat kawan kawanku”. Pak Badrun jual saja namaku, pasti akan mereka terima dengan senang hati.

Kisah itu berlangsung 25 tahun yang lalu, ketika Bason frustasi bertengkar keras dengan pastor Simon pimpinan lembaga pelestarian hutan. Lantas secepat kilat meninggalkan lembaga tersebut patah arang melanglang buana secara pribadi investigsi penggudulan hutan. Pada saat itulah Bason berkenalan dan menjalin cinta kasih dengan gadis Biyok yang sekarang menjadi istrinya.

*) Baca cerpen : Kawanku  Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II Martin Siregar.

Bulan lalu aku heboh ngurus Kantril yang ingin kembali ke tabiat lama. Mabok ganja Jhoni Walker bersama Payman yang sedang mumet gara gara rencana kawin. Waktu itu Pak Longor marah besar sama Payman. Dan, syukur Kantril pasrah dituntun Bason bermeditasi, sehingga Kantril kembali ke jalan yang benar.

Sekarang wajah dan tingkah laku Pak Badrun kembali lagi menghiasi khayal Bason. Kasus Kantril dan Pak Badrun hampir sama saja. Frustasi jenuh sangat monoton menjalani kehidupannya yang sama sekali tidak menjamin kehidupan lebih baik. Tapi. Level sosial si Kantril sangat bertolak belakang dengan Pak Badrun. Berarti aku harus temukan kiat khusus tuk membahagiakan Pak Badrun. Hua….ha…ha…Bason tertawa puas menikmati kehidupan sarat dengan keanekargaman perkawanan yang berasal dari level sosial berbeda ekstrim. Hua….ha…ha….Kantril anak jutawan yang anti kemapanan, sedangkan Pak Badrun seolah ditakdirkan(Tuahan) sengsara sepanjang hidup. Hua…ha….ha…Akan kucurahkan energiku tuk membahagiakan Pak Badrun yang ditulis miskin oleh si Tantri (?) Hua…ha…ha…

“Dua hari ini aku tak masuk kantor”. Ada kerja mendadak, harus ke desa beberapa hari. Di telepon Bason ajudannya di kantor.”Iya…iya Pak Bason”. Apa yang perlu kami sediakan untuk bapak ke desa?”.  Feodalisme ternyata masih melekat kuat di kantor yang sudah sangat profesionil. Bahasa kaum paria mental kaum budak sangat sangat dominan didengar setiap  hari. Bahasa kaum bawahan tak ada beda dengan abdi dalem dinasty kerajaan sekitar 300 tahun yang lalu. Hal ini sering membuat Bason jengkel dan tak kuasa lagi merombatk mental budak feodalisme di kantornya.”Tak ada yang perlu kau siapkan”. Kau monitor saja Payman apa masih isap ganja atau tidak. Lantas kau jumpai Kantril sepulang kantor, kau tanya pengalaman empiriknya dalam bermeditasi. Awas !! Kalau tak kau kerjakan kedua tugas itu. KU-SIKAT KAU!!! Hua…ha….ha..Bason tertawa di telepon, membuat Wawan ajudannya ketakutan suaranya gemetar:”Baik…baik Pak Bason”. Lantas telepon ditutup.

Dikeluarkannya mobil BMW mewah dari garasi.”Biyok, aku mau jemput Pak Badrun ke desa. Dua hari ini nginap dirumah kita. Kau siapkan kamar serta fasilitasnya ya… Biyok istri Bason terkejut mendengar rencana suaminya.”Jadi, kau ngak ke kantor ???”. Gila !!! Kok suka suka kau saja yang hidup ini ?????. Biyok suntuk melihat suaminya yang terlalu santai dalam hidup ini. Hua…ha…ha…Tenang kau sayangku. Pak Badrun adalah orang yang memberi konstribusi dalam kehidupan kita. Kalau ngak ada dia, mana mungkin kita kawin Hua….ha…ha…Memang hidup ini sangat ringan dijiwa Bason. Walau kadang suntuk berat menghadapi kawan kawannya yang tidak memperdulikan kesehatan tubuh jiwa dan roh. Dua minggu lalu kembali lagi Bason harus repot ngurus Isim yang mendadak pingsan di bandara.

Dibelinya 2 bungkus rokok merah di kedai kecil langgannya , milik Bik Iyem yang sudah jadi janda. Sambil dengar lagu Startway to Heaven milik Led Zeplin ditinggalkannya kota menuju desa Pak Badrum.

 

Cerita ini bisa bersambung, apabila aku punya waktu berimaginasi menikmati tekanan hidup ini Hua…ha…ha…Matilah kita ini.