Torsa Sian Tano Rilmafrid* #7

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 7

Dengan lancar Tigor memberikan pengantar diskusi mereka di ruang meditasi, markas besar FDP. Tanggapan-tanggapan gencar diutarakan oleh peserta diskusi. Sebenarnya sebuah pertemuan ilmiah tidak resmi sedang berlangsung dengan hangat. Bahkan, Ucok, anak sastra Zatingon, berani mengklaim bahwa forum mereka jauh lebih bermutu daripada rancangan para petinggi perguruan tinggi. Segala landasan teori yang selalu dimamah biak peserta diskusi tertumpah pada acara forum perdana tahun 1981. Sehingga, Armand anak fakultas sosial politik Rilmafrid yang bertugas menjadi notulen gelagapan menjalankan tugasnya. Sementara Tigor lunglai segera membaringkan tubuh sehabis diskusi. Di hirupnya rokok gudang garam kretek sekuat tenaga. “Aku takut, kalau kita terlalu intens berdiskusi, maka kemampuan kita berintegrasi di tengah-tengah rakyat miskin akan terganggu. Kita tak tahu lagi bahasa rakyat, karena sudah terlalu banyak istilah ilmiah di kepala kita,” Tigor mengoceh. Dia sudah tak perduli entah siapa yang mendengar ucapannya. Dan, dalam kesunyian, suara Armand bernyanyi:…Lelah …lelah hati ini…menggapai hatimu… Mungkin maksudnya menyindir si Tigor yang sudah tak kuasa lagi berpikir. Mereka berdua memang selalu saling sindir menyindir tanpa rasa dendam. Hubungan interpersonal antar Armand dan Tigor dapat juga dikatakan pencipta suasana segar di FDP.
“Untunglah ada Arman dan Tigor sehingga stres saya bisa hilang.” Muslimin anak fakultas pertanian Rilmafrid tersenyum lega. Ucok juga merasa hal yang sama dengan Muslimin. Ucok memang agak temperamental, dia selalu khawatir kalau saja Tigor dan Arman berkelahi gara-gara beda pendapat yang runcing. Tapi, selama 2 tahun perjalanan mereka, belum pernah terjadi kekhawatiran Ucok. Semuanya berjalan lancar dan menyegarkan. Semuanya berdampak positif untuk perkembangan FDP. Apalagi kadang-kadang Susanti datang bersama kawannya Ayong mewarnai forum mereka yang sangat minim perempuan.

Sekitar 3 bulan berpisah dengan DR Tumpak Parningotan, siang itu suratnya datang ke markas besar FDP. Kebetulan Ningsih dan pacarnya Dedi Kantingan sedang berada di tempat. Segera dibaca mereka surat tersebut.

Kepriano, 23 Febuari 1981

Kepada Yth : Teman – Teman
di
Ruang Meditasi

Salam Pembebasan,

Terus terang saya sangat terkesan berjumpa dengan teman-teman di Rilmafrid. Saya merasa komitmen yang teman-teman miliki sudah sangat kuat. Sudah siap tempur untuk melawan kezaliman penguasa negara kita, Trieste. Sedangkan saya di Kepriano belum pernah bertemu dengan kawan-kawan yang punya perhatian besar terhadap gagasan perubahan sosial. Mereka terlarut oleh watak komsumtif yang dikampanyekan oleh penguasa negeri ini. Itu makanya (sebenarnya) saya iri hati melihat solidnya kawan-kawan yang tergabung dalam FDP. Sementara saya sudah hampir patah arang.

Dua minggu yang lalu, kebetulan di gereja datang tamu dari lembaga dana meninjau program-program gereja kami yang mereka dukung. Salah seorang tamu itu adalah warga negara Taiwan yang bekerja di lembaga dana Sabidaor Fundation. Sebuah lembaga dana yang bersedia memberi dukungan untuk gerakan bawah tanah. Saya tak mengerti kenapa dia bisa ikut hadir dalam kunjungan Ichbenlip Foundation Belanda. Lembaga dana yang siap sedia mendukung program dengan visi transformatif.

Malamnya tanpa diketahui oleh pihak lain, Mukutara (orang Jepang yang jadi warga negara Taiwan) datang berkunjung ke rumah saya.
Dikatakannya Sabidaor Foundation secara rahasia sedang mencari kontaknya di Trieste.
Agar ada jaringan kerjanya di negara kita. Sabidaor sama sekali tidak tertarik membangun jaringan dengan lembaga-lembaga formal. Justru watak organisasi seperti FDP-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Dan, saya sudah mempromosikan FDP sekaligus berikan alamat FDP kepada Mukurata.
Mungkin, pertengahan Maret mendatang, Mukurata akan berkunjung ke FDP. Kiranya kerja sama FDP dan Sabidaor terjalin dengan baik

Selamat bekerja dan sukse selalu
Salam dari keluarga saya untuk seluruh warga FDP

jabat erat

tumpak parningotan

“Tak ditulis gelar kesarjanaannya. Namanya pun seluruhnya pakai huruf kecil,” kata Ningsih sehabis membaca.
“Yah,…mungkin itu simbol kesederhanaan jiwanya.” Kantingan memberi respon simpatik kepada pacarnya Ningsih.
Sore hari sudah semua anggota FDP bergembira hati membaca surat tersebut. Surat Tumpak Parningotan membuat FDP merancang acara apa yang patut disajikan apabila Mukurata datang berkunjung. Kedatangan tamu asing seperti ini adalah pengalaman perdana FDP. FDP sama sekali tidak pernah menjalin kontak dengan lembaga dana. Walaupun DR Pardomuan secara pribadi sering juga dikunjungi oleh kawan-kawannya semasa kuliah di Uni Sovyet.
“Mudah-mudahan Mukurata dapat menuntun kita memformulasikan program FDP lebih permanen lagi,” Ucok berharap.
“Yah,..kita harus lebih profesionil lagi bekerja di tengah-tengah rakyat,” Arman menimpali. Surat yang dikirim pakai kilat khusus tiba di tangan FDP tanggal 25 Febuari. Berarti kita masih punya waktu 2 minggu lagi untuk memikirkan acara-acara untuk menyambut Mukurata.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 6

Satu komentar pada “Torsa Sian Tano Rilmafrid* #7”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s