Arsip Tag: martin siregar

Proses Pemberdayaan Masyarakat

Gerundelan Martin Siregar
Metoda adalah cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan; Jadi, secara mendalam sebenarnya kata Metodologi mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat mendasar. Metodologi dalam perspektif pengembangan masyarakat adalah proses membangkitkan kesadaran masyarakat secara bersama-sama, mewujudkan kesejahteraan dan peradaban yang tinggi.
Melalui metodologi kita bersama masyarakat berusaha memperoleh gambaran yang lengkap mengenai realitas sosial multidimensional dalam kaitan struktural dan historis.
Paham Metodologi yang kita anut adalah proses yang terfokus pada pemberdayaan dan pembebasan masyarakat dari belenggu ketidakberdayaan.
Oleh sebab itu mendorong masyarakat memahami realitas kehidupan menjadi titik tekan program kerja yang telah dirancang.
proses berpikir dan bertindak
Lihat, Dengar, Pikir, Tulis Refleksi

Apa yang kita lihat, dengar, pikir, tulis refleksi kehidupan sehari-hari di lapangan akan digodok untuk merancang aksi ke 2. Misi yang diemban pada aksi ke 3 akan ditentukan oleh Lihat, Dengar, Pikir, Tulis Refleksi pada aksi ke dua. Demikian seterusnya. Sehingga melalui proses tersebut kita semakin menguasai gambaran realitas sosial di komunitas. Fase atau sistematika implementasi program dalam konteks metodologi sangatlah ditentukan oleh intensitas hubungan fasilitator di tengah-tengah masyarakat. Secara kelembagaan hanya mengukur kinerja fasilitator dalam interaksinya di komunitas. Inilah pijakan konseptual untuk pelaksanaan/sistematika program.

Dorongan semangat pengulangan terjun ke lapangan dengan disiplin yang ketat akan membantu kita semakin menyadari betapa pentingnya memahami hal-hal yang menarik dan yang menjadi kebutuhan komunitas. Betapa pentingnya jiwa yang rendah hati dalam membangun dialog yang segar . Demi untuk menampung aspirasi – aspirasi yang diutarakan oleh masyarakat. Implementasi program haruslah mengarah kepada pengenalan realitas komunitas secara utuh, sekaligus pengenalan akan diri sendiri.

Atas dasar Metoda pelaksanaan program seperti ini, kita harapkan :
A. Semakin banyak masyarakat terlibat dalam proses memahami realitasnya.
B. Semakin objektif argumentatif menggambarkan realitas sosial.
C. Semakin kuat integrasi antara fasilitator dan masyarakat

Point C di atas, memang harus terus menerus dilaksanakan. Point C di atas adalah persoalan internal yang tidak punya kaitan langsung dengan kontrak kerja. Sedangkan apa yang tertera pada point A dan B harus menjadi perhatian yang tekun dari fasilitator sebagai tahapan dari pelaksana program. Hal itu karena semakin banyak masyarakat terlibat dalam proses Dengar, Lihat, Pikir dan Tulis Refleksi. Dan, semakin objektif argumentatif realitas sosial yang disimpulkan.

Membangun Interaksi dan Komunitas

Ada seorang anak yang sangat suka makan nasi goreng. Pada suatu hari dia berangkat ke pinggir sungai untuk memancing. Di mata kailnya bukan nasi goreng yang dibuatnya menjadi umpan ikan. Melainkan cacing. Karena kita tahu bahwa ikan yang dipancingnya suka makan cacing, bukan nasi goreng.
Oleh sebab itu dalam interaksi dengan komunitas, kita harus membunuh seluruh cita rasa dan status sosial kita. Sambil memeras otak dan hati nurani agar mampu memahami cita rasa serta seluruh aspek kehidupan komunitas. Cita rasa dan aspek kehidupan mereka yang sangat jauh dari realitas kehidupan kita sehari hari.

Dalam proses menghilangkan cita rasa status sosial agar mampu memahami cita rasa kehidupan komunitas, — kita harus sadar bahwa metoda utamanya adalah : “Ngobrol Panjang yang Segar” —. Inilah keterampilan pokok dan mutlak harus dimiliki oleh fasilitator. Karena “Ngobrol panjang dan segar” adalah sarana untuk masuk ke proses memahami alam pikir dan alam kehidupan masyarakat semaksimal mungkin. Bukan ngobrol yang tanpa arah.

Dengan tidak sungguh-sungguh merendahkan hati ketika berinteraksi, maka sering sekali kita jadi jenuh panik sesak nafas dan salah arah dalam menjalankan program. Kita membuat komunitas hanya mendengar instruksi-instruksi dan keinginan kita yang angkuh ini.
Sering juga kita kehabisan kata-kata dalam berinteraksi. Padahal, ngobrol panjang adalah salah satu usaha memberanikan komunitas mengekspresikan dirinya. Dan, terlibat menentukan arah dan tahapan dari program yang dirancang.

Fasilitator dan komunitasnya selalu melakukan komunikasi. Tempat kita untuk saling mempertukarkan pengalaman, saling mengutarakan perasaan serta alat melayani warga mengekspresikan sikap, keinginan dan impiannya.
Mengelola ngobrol dengan metoda partisipatif menempatkan diri sejajar dengan komunitas. Memang dibutuhkan sikap sabar penuh kedewasan.dan selalu belajar.

Lihat, Dengar, Pikir, Tulis Refleksi lama kelamaan akan dikerjakan secara partisipatif bersama sama dengan komunitas. Jangan berhenti dan tidak bergairah menjalankan program. Cambuk diri kerjakan tugas penuh semangat — pasti fasilitator semakin bijaksana —-.
Pantat parang yang tebal itu kalau diasah dengan seksama lama kelamaan bisa juga tajam mampu menyembeleh leher sapi yang tebal..

Pemerintahan Indonesia hanya sarat dengan kolusi korupsi nepotisme dan jauh dari etos kerja produktif. Fasiltator hadir untuk masuk ke proses menggapai kehidupan masyarakat sejahtera yang berperadaban. Betapa beruntungnya kita ini. Itu makanya kita laksanakan proses ini semaksimal mungkin,

Martin Siregar
sejak zaman dahulu kala.

Catatan Tambahan:

Perbedaan Prespektif tentang Pengembangan Masyarakat

Program bersama Masyarakat
Program tentang Masyarakat
Hakekatnya:
Pengorganisasian berada di tengah tengah masyarakat dan menyesuaikan diri
dengan komunitas untuk jangka waktu relative panjang/lama.
Hakekatnya:
Pengorganisasian berada di tengah tengah masyarakat dalam waktu singkat
Cukup untuk mendapatkan informasi dan legitimasi untuk berbicara tentang
kemiskinan.
Output:
Sejumlah orang miskin berhasil memperbaiki nasibnya berkat perubahan wawasan
maupun berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

Masyarakat hidup minim mampu dan trampil menjadi juru bicara bagi kepentingan
kehidupannya.

Output:
Hidup keseharian masyarakat miskin, merupakan representasi tentang kemiskinan
sebagai sarana untuk mendidik orang miskin

Menghimbau orang lain supaya tahu, peka dan mau berbuat untuk memperbaiki
nasib orang miskin.

Disiplin ilmu pendukung

Psikologi praktis, antropologi, ekonomi mikro.

Disiplin ilmu pendukung

Ilmu politik, sosiologi, ekonomi makro.

Kelemahannya

Aktivisme, partikularisme

Nasib hidup komunitas tetap sulit berubah karena pusat pengambilan keputusan
ada di luar komunitasnya (yang mungkin tidak perduli kepada nasib mereka)

Ketergantungan komunitas miskin terhadap program kerja.

Kelemahannya

Verbalisme universalisme

Nasib hidup komunitas yang kebetulan disuarakan nasibnya mungkin akan
meningkat untuk beberapa saat.

Kelas menengah sebagai juru bicara masyarakat miskin.

Lima Tipe Pelayanan Masyarakat
pemberdayaan masyarakat

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #6

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 5
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
“Ada empat jenis gerakan sosial yang dikenal sejak dunia ini diciptakan Sang Khalik Semesta Alam. Pertama sering disebut dengan istilah Karitatif. Sebuah gerakan sosial yang ditujukan kepada fakir miskin atau korban bencana alam. Memberi sumbangan baju, makanan, susu dan lain sebagainya. Inilah gerakan sosial yang paling genit. Oleh sebab itu, acara seperti ini diselenggarakan oleh para ibu. Lengkap dengan baju seragam, mendengarkan kata sambutan, tepuk tangan, doa bersama dan bersalam-salaman, berfoto-foto. Setelah mengumbar berjuta ungkapan saling mengasihi sesama mahkluk Tuhan, rombongan meninggalkan korban muka sayu lemah lunglai. Sementara wajah anggota rombongan kembali lagi segar bugar. Mereka telah menyelesaikan sandiwara satu babak. Hua…ha…ha…”
Suasana jadi meriah dibuat Pdt DR Tumpak Parningotan. Diteguknya kopi yang masih hangat, kemudian dilanjutkannya bicara.
“Kedua adalah gerakan sosial Transformatif. Seluruh perangkat organisasi yang sudah ada dalam sebuah komunitas tidak aktif menyelenggarakan program yang sudah disusun. Program membutuhkan sebuah panitia penyelenggara yang membentuk organisasi baru. Biasanya program yang disusun adalah hal-hal yang berkaitan dengan teknologi tepat guna, ternak ayam, arisan babi atau membuat kolam ikan, pertukangan secara aktif partisipatif. Melibatkan anggota masyarakat sebanyak-banyaknya, agar perasaan memiliki program dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat.”
Mikail sibuk menulis segala ucapan penting yang didengarnya. Dia yakin bahwa dari catatan-catatan kecil itu akan berhasil menuliskan tugasnya membuat pengantar diskusi pada Forum Diskusi Pelangi.
“Berikutnya, gerakan sosial Reformatif. Program yang disusun tak banyak beda dengan apa yang diprogramkan oleh gerakan sosial transformatif. Tapi, dalam gerakan sosial reformatif, tidak membangun organisasi baru. Reformatif memperbaharui organisasi yang sudah ada dalam masyarakat untuk melaksanakan program yang sudah disusun. Harus atas izin restu para petinggi-petinggi desa.”
“Saya pikir gerakan sosial transformatif dan reformatif adalah gerakan sosial yang malu-malu kucing. Tidak menyentuh persoalan-persoalan structural,” Kata Tigor dengan perasan kesal.
“Sudah diam kau dulu!! Oke ..Pak lanjutkan Pak,” Mikail merasa terganggu menyimak pelajaran oleh karena suara Tigor.

Hari sudah jam 7 malam. Di jalan raya tampak sebuah truk besar sesak dengan orang-orang miskin berikat kepala sambil berteriak- teriak menandaskan tenaga mereka yang sudah habis terkuras. Mereka baru pulang dari unjuk rasa ke gedung DPR. Mereka adalah petani miskin yang menuntut DPR agar mendesak pemerintah agar harga dasar pupuk tidak jadi dinaikkan. Tekanan hidup berbiaya tinggi belakangan ini tidak mungkin membuat petani sanggup membeli pupuk jika sudah naik harganya.
“Pasti usaha petani miskin akan mengalami jalan buntu, walaupun mereka sudah habiskan energi ke DPR. Nanti malam pasukan bawah tanah militer, polisi dan preman akan melacak pentolan-pentolan demonstrasi. Dan, secara perlahan tapi pasti, gerakan petani akan semakin melemah.” DR Pardomuan memberi komentar menghentikan uraian DR Tumpak Parningotan.
Dalam menyambut tahun 1981 ini, negara Trieste berada pada kondisi penuh kesesakan. Harga-harga kebutuhan keluarga setiap hari naik membumbung tiggi. Jumlah penduduk miskin akan meningkat secara drastis karena inflasi besar-besaran. Beberapa mantan aktifis mahasiswa yang sangat vocal menghujat negara 10 – 15 tahun yang lalu, sekarang diangkat menjadi menteri. Menjadi pemimpin tertinggi departemen. Prof DR Ir Setiaditis menjadi menteri keuangan. Padahal ketika masih mahasiswa beliau pernah di penjara 2 tahun. DR Fatilda wanita jiwa besi yang keras kepala diangkat menjadi menteri perdagangan.
“Mereka semua alumni Eropa Barat yang menjadi bonekanya kapitalisme di Trieste” DR Pardomuan tertunduk lemas setelah membaca koran.
“Sebentar lagi kita makan malam bersama, ya..,” DR Tumpak melanjutkan,” mari kita persilahkan DR Tumpak Parningotan melanjutkan uraiannya.”
“Baiklah, tadi kita sudah sampai ke jenis ketiga gerakan sosial. Jenis keempat inilah yang paling prinsip, terkenal dengan sebutan gerakan sosial yang radikal revolusioner. Garis massa adalah kekuatan utama dalam gerakan ini. Kaum intelektual yang kesadaran kelasnya tinggi, akan datang dan hidup bersama rakyat tertindas. Melakukan bunuh diri kelas. Dan, secara non formal terus menerus menggugah rakyat miskin untuk semakin kritis melihat realitas kehidupanya. Dan, bangkit melawan segala bentuk penindasan.”
“Nah..! Inilah yang namanya gerakan kiri habis,” Mikail gembira mendengar kalimat DR Tumpak.
“Iya…, dengan cara inilah revolusi industri dilawan oleh kaum proletariat beberapa abad yang lalu,” DR Pardomuan menambahkan keterangan.
DR Tumpak dengan senyum mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Muslimin tampak bingung menyimak pembicaraan. Tak berapa lama kemudian, “Sudahlah,..istri saya sudah siapkan makanan untuk kita.” Lalu mereka bangkit berdiri menuju rumah utama.
“Mari…mari Pak, seadanya saja ya…Pak,” Ibu mempersilahkan tamunya duduk di meja makan. Kemudian istri DR Pardomuan ke dapur menjumpai Arben yang sudah menantinya. Lantas, mereka berdua cekikikan,”Hi…hi..hi..” Cekikikan itu sama sekali tak kedengaran. Hanya ada suasana dan perasaan lucu melihat bentuk-bentuk manusia aneh penghuni dunia antah brantah di Rilmafrid.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 5

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #5

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 5
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
“Tigor.., tak usah kau bingung. Nanti aku jumpakan kau dengan Om (adik mamaku) yang doktor teologi,” kata Susanti, “beliau mungkin nasibnya persis sama dengan DR Pardomuan.
Tigor tersentak. “Persis sama? macam mana maksudmu?” Mikail juga terkejut mendengar ucapan Susanti.
“Gagasannya tentang pelayanan jemaat sering ditentang oleh pendeta-pendeta. Tapi, dia tak perduli, dia tetap berkotbah dan selalu mendapat simpatik dari jemaat. Dia tidak mengundurkan diri dari hirarki gereja. Jadi tidak macam DR Pardomuan yang meninggalkan perguruan tinggi.” Susanti tampaknya kenal betul dengan Om-nya yang doktor teologia.
“Sekarang dia tugas di mana?” Tampak hasrat Mikail ingin jumpa dengan Om-nya Susanti.
“Oh,…dia tugas di Propinsi Kepriano. Bulan ini akan datang berkunjung ke sini, karena ada keponakannya yang melangsungkan perkawinan. Kalian todong saja dia untuk diskusi panjang, Pasti dia bersedia,” kata Susanti sambil berdiri menuju dapur membuat minum untuk Tigor dan Mikail.
“Okelah kalau begitu. Segera kirim surat untuk beliau mengatakan maksud kita kalau Om itu datang ke sini.” Tigor lega, beban beratnya tak dipikul oleh dirinya sendiri. Sudah ada Om-nya Susanti yang bersedia membantunya memikul beban berat tersebut.
Keluarga DR Pardomuan adalah orang kaya berat sejak tujuh keturunan sebelumnya. Sehingga, profesi dosen yang ditinggalkannya tidaklah menggangu biaya hidup keluarga. DR Pardomuan sekarang hidup dari bunga deposito bank setiap bulan warisan keluarga. Beliau berhasrat juga berjumpa dengan bapak Pendeta DR Tumpak Parningotan (Om-nya Susanti). Di ruang meditasi samping rumah utama DR Pardomuan, Tigor sampaikan kabar baik dari Susanti. Setelah mendengar kabar baik itu, DR Pardomuan mengalihkan pembicaraan. “Sekarang ruang meditasi kita masih sunyi dikunjungi orang. Mungkin masih sibuk dengan urusan tahun baru bersama keluarga. Tapi, saya khawatir tahun ini semakin berkurang anggota FDP,” kata DR Pardomuan.
“Ah..! tak usah khawatir Pak,..kapal tetap bisa berjalan walaupun hanya tinggal nahkodanya saja di dalam kapal.” Mikail memberi semangat DR Pardomuan. “Forum kita harus tetap berjalan walaupun hanya tinggal kita bertiga anggotanya.” Mikail melanjutkan ucapannya.
“Ah.., sudahlah. Tolong tutup pintunya, aku mau latihan pernafasan,” kata Tigor kepada Mikail.
Duduk layaknya seorang pendeta Budha dengan mata terpejam, Tigor mulai latihan pernafasan. Sementara DR Pardomuan dan Mikail duduk di teras depan menikmati kopi hangat sore hari. Sedangkan istri DR Pardomuan, sedang kedatangan tamu, mengintip mereka dari jendela rumah utama. Sang tamu adalah ibu tetangga yang merasa heran melihat kegiatan mereka.
“Apa mereka tak capek dengan cara hidup yang sangat serius,” kata sang tamu.
“Saya pun heran dan sering kesal melihat suami saya menghabiskan hari-harinya hanya untuk meditasi sepanjang waktu. Tapi, saya tak kuasa melarang suami saya, karena saya yakin batinnya tersiksa melihat realitas perguruan tinggi yang sangat bobrok. Makanya saya biarkan saja dia heboh melayani kedua murid setia yang goblok ini. Hua…ha…ha….” Mereka tertawa melihat DR Pardomuan dan Mikail sedang ngobrol serius. “Anak saya, saya larang mengikuti kegiatan ayahnya. Saya takut nanti anak saya sudah puas hidup seadanya seperti ayahnya. Untuk apa hidup seadanya kalau kesempatan hidup mewah masih terbuka lebar. Hua…ha…ha..” Kembali lagi istri DR Pardomuan tertawa puas.
Arben Rizaldi, anak tunggal DR Pardomuan, muncul dari kamar. Rupanya dia dari tadi mendengar isi pembicraan ibunya dengan ibu tetangga. “Semua anak muda sedang mendaki gunung yang puncaknya berbeda,” katanya. “Ada yang puncak gunungnya hidup kaya berlimpah ruah. Ada yang puncak gunungnya hidup seperti selebrity. Tapi, tak ada anak muda mendaki gunung yang puncaknya “kekonyolan” seperti Tigor dan Mikail. Hua..ha..ha..” Sekarang ketawa mereka bertiga semakin deras. DR Pardomuan dan Tigor tak sadar bahwa mereka menjadi objek pembicaraan. Sekaligus objek bahan tertawaan. Mereka tetap saja dengan muka ketat berbeban berat mendiskusikan soal-soal yang mendasar dalam hidup ini.
Tibalah waktunya Pendeta DR Tumpak Parningotan berada di rumah Susanti. Hanya basa basi sebentar saja, Tigor langsung undang tamu penting tersebut berkunjung ke rumah DR Pardomuan. Bukan ke rumah utama, tapi ke ruang meditasi.
“Inilah gubuk tempat kami selalu berkumpul,” kata Mikail merendah.
“Seperti rumah sendiri, mau makan atau minum tinggal ambil dari rumah utama. Mau bermalam bermeditasi atau bermalas-malasan sendirian juga boleh nginap di sini. Biasanya kami ada 6- 7 orang yang sering ke sini,” sambung Tigor.
“Ah… sebuah tempat yang menyenangkan. Saya rasa aura saya dingin bahagia berada di sini. Kiranya ini pertanda bahwa kita dapat berkawan dalam tempo yang panjang. Kiranya pula, itulah harapan kita bersama.” Dari bahasa serta intonasi suara yang lembut dan kalimat-kalimat yang dipakai Pendeta DR Tumpak Parningotan kelihatan jelas sekali dia adalah rohaniawan yang rendah hati.
Ibu dan Arben Rizaldi anak sulung DR Pardomuan kembali lagi melakukan kebiasaan mereka. Mengintip kegiatan sambil menyimak ucapan-ucapan gerombolan ayahnya di ruang meditasi.
“Kok macam pengusaha kaya raya tamu mereka sekali ini,” kata Ibu.
“Mungkin mereka sudah mulai sadar bahwa hanya Yesus Kristus saja yang bisa hidup dengan makan roti saja. Sedangkan manusia biasa butuh baju yang cantik, makanan yang lezat di tempat yang bergengsi,” Arben tampak terkejut melihat tamu mereka.
“Ah! mana mungkin orang-orang yang sudah keras membatu seperti mereka dapat merubah falsafah hidupnya.” Ibu membantah Arben Rizaldi.
“Atau mungkin mereka sedang menghasut orang kaya raya supaya meninggalkan kekayaannya dan ikut bergabung bersama mereka yang sudah gila.”
“Huuss !! .. diam kau! Mari kita dengar isi pembicaraan mereka.”
Lalu Ibu dan Arben diam senyap mengkonsentrasikan kupingnya untuk mendengar isi percakapan ayah dan tamu barunya.
“Saya tidak percaya kerajinan orang ke gereja sebagai jaminan orang bisa masuk ke kerajaan Allah,” kata Pendeta Dr Tumpak Parningotan. Mendengar ucapan tersebut Arben segera memberi komentar “Oh..rupanya pakaian dan penampilannya saja seperti pengusah kaya raya. Ternyata isi kepala tamu baru itu sama gilanya dengan mereka. Hi…hi…hi…” Suara sayup volume rendah kedengaran lembut. Kemudian ibu dan Arben meninggalkan tempat, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah lelah kuping ibu dan Arben mendengar nada-nada suara kaum pemberontak norma sosial.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 4

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #4

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 4

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Pada awal tahun 1981 negara Trieste membuka lowongan kerja menjadi pegawai negeri. Seluruh instansi pemerintah menerima surat lamaran kerja dari masyarakat umum untuk ujian duduk di birokrasi pemerintahan. Mulai dari ijazah Pendidikan SMA, Sarjana Muda, Sarjana serta Master dan Doktor dibuka selebar-lebarnya oleh pemerintah pusat sampai ke daerah.
Tigor, Mikail dan DR Pardomuan pada akhir 1980 sudah memprediksi kebijakan negara ini. Sehingga mereka tak begitu heran melihat seluruh lapisan masyarakat berbondong-bondong membeli map, melegalisir ijazah, foto kopi berkas lamaran, mencetak pas foto dan lain lain, dan lain lain. Sebuah kesempatan emas untuk hidup bermalas-malasan dapat gaji buta dan bisa korupsi sebagai pegawai negeri adalah incaran penduduk negara Trieste. “Dasar Negara Pegawai” Kata Tigor di atas motor bergoncengan dengan Mikail.
Memang Forum Diskusi Pelangi (FDP) yang dibentuk DR Pardomuan pada acara Diskusi Tutup Tahun bulan Desember yang lalu mengambil tema: “Trieste akan Menjadi Negara Pegawai”. Cukup hangat diskusi tersebut pada waktu itu. Semua pihak yang hadir sangat pesimis di Trieste dapat terwujud negara yang demokratis dan menjunjung tinggi keadilan di tengah-tengah masyarakat. Omong kosong test ujian pegawai negeri yang akan berlangsung dinilai secara objektif. Sebelum ujian dilaksanakan, sudah banyak anak pejabat militer, pengusaha dan pejabat negara yang menitipkan nama anaknya maupun nama anak orang lain yang berani memberikan uang sogok. Jangan harap anak rakyat terlantar dapat lulus menjadi pegawai negeri posisi menengah ke atas. Pasti anak orang terlantar selalu menjadi pegawai negeri dengan status rendah. Karena posisi-posisi penting pegawai negeri sudah digarap oleh anak-anak penguasa status quo Trieste. Dan, hampir dapat dipastikan bahwa anak-anak mereka yang menjadi pegawai negeri akan meniru watak korupsi orang tuanya.

Watak kerajaan-kerajaan yang ada di bumi pertiwi Trieste berabad abad yang lalu sangat kaku dengan sistem feodalismenya. Oleh sebab itu untuk mengekang suara-suara dari hati nurani masyarakat sipil yang menuntut keadilan, watak feodalisme tersebut harus dipertahankan dalam birokrasi pemerintahan. Agar pemegang tampuk pemerintahan negara dari sejak dulu dapat mempertahankan status kekuasaannya sampai sekarang, tanpa gangguan dari kekuatan pihak oposisi. Apalagi penguasa negara dilindungi kekuatan militer yang terus dipelihara dengan baik. Selalu siap sedia melakukan intimidasi secara brutal di tengah-tengah masyarakat. Sebagai konsekuensinya, korupsi kolusi dan nepotisme menjadi karakter budaya pemerintahan yang saat sekarang ini semakin berurat berakar di negara Trieste. Dokumentasi Forum Diskusi Pelangi tentang hal ini cukup rapi. Ketekunan program investigasi dan penelitian tentang kasus-kasus pelanggaran demokratisasi oleh negara dapat dipertahankan secara ilmiah dan berkesinambungan.
Forum Diskusi Pelangi hadir di Rilmafrid atas prakarsa DR Pardomuan. Doktor antropologi yang diperolehnya dari Universitas Uni Sovyet tahun 1978. Karena DR Pardomuan sering berdebat panjang dengan sesama dosen di Universitas Sandiega alumni Eropa Barat. Bahkan beberapa kali perdebatan itu hampir berakhir dengan pertikaian fisik. DR Pardomuan pernah juga dua kali diinterogasi oleh polisi akibat argumentasinya tentang ilmu antropologi dinilai bernuansa komunis. Wajar saja, karena beliau adalah alumni Universitas Uni Sovyet.
“Para doktor alumni Eropa Barat sarat dengan ideologi kapitalisme”. “Dan mereka terlalu memaksakan gagasan mereka di dunia perguruan tinggi” Padahal belum tentu pikiran Eropa Barat itu sesuai dengan karakter budaya di negara kita, Trieste” Inilah argumentasi DR Pardomuan kalau ditanya alasannya mengundurkan diri dari universitas ternama itu.

Pemahaman DR Pardomuan tentang wacana ilmu-ilmu sosial dan penguasaannya mengenai selera kaum muda terhadap ilmu pengetahuan, membuat gairah Tigor dan Mikail terus menjalin kontak dengannya. Tigor dan Mikail berhasil mengumpulkan kawan-kawan mereka dari Universitas Rilmafrid dan Universitas Zatingon dari berbagai fakultas untuk mendirikan FDP. Tentunya kawan kawan yang tidak mau dicemari oleh watak komsumtif dunia pendidikan di negara Trieste.
Pada acara forum diskusi perdana bulan Januari tahun 1981, ditetapkan temanya adalah : Strategi Pengembangan Masyarakat. Tigor ditugaskan menyiapkan 4-5 lembar tulisan untuk sekedar bahan pengantar diskusi. Betapa beratnya tugas ini diemban Tigor, tapi kalau ditolak maka Tigor merasa akan kehilangan kesempatan untuk melatih diri menulis karya ilmiah. Gara gara tugas berat inilah Tigor hanya setengah hati merayakan Natal dan Tahun Baru. Ia sibuk mengumpulkan buku-buku referensi. Tapi, sampai minggu pertama Januari tak sebuah kata pun dapat ditulis. Dia bingung tujuh keliling.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid

Kisah Sebelumnya: Bagian 3

Cerita Bersambung Yang Lain

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #3

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 3.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Saling memberi apresiasi terhadap karya sastra khususnya karya Mario Puzo serta mendiskusikannya sepanjang malam adalah alat perekat persahabatan Tigor dan Mikail. Apalagi sehabis nonton film-film Itali bertema spionase, pastilah Tigor sampai harus tidur di rumah Mikail guna memperbincangkan film-film tersebut. Lantas, pada sore hari sehabis kuliah parkir di rumah Susanti menceritakan segala hasil diskusi mereka sambil makan pisang goreng. Susanti akan sangat bahagia apabila Tigor dan Mikail berebut bercerita tentang proses diskusi mereka. Kedua lelaki itu sangat mengasihi Susanti, walaupun dengan intensitas yang berbeda. Dan, secara tidak langsung Susanti merasa ilmu pengetahuannya banyak bertambah akibat diskusi kedua kawan akrabnya yang kutu buku itu.
Bukan, berarti Tigor tidak menghargai suasana pribadi yang perlu dinikmati pasangan Mikail dan Susanti. Pada moment-moment tertentu, Tigor tak hadir dalam perjumpaan mereka. Walaupun tak bisa dipungkiri Mikail selalu kena marah Susanti karena menyediakan malam minggunya untuk Tigor, menomorduakan dirinya sebagai pacar kekasih hati Mikail.

Di pinggir pantai dengan pondok kecil muat dua orang sengaja disediakan penduduk setempat untuk para wisatawan yang ingin pacaran. Sambil makan nasi campur ikan bakar atau digoreng, para wisatawan dapat seenaknya bermesraan tanpa gangguan kiri kanan. Di tempat itulah Mikail dan Susanti menghabiskan malam minggunya 2 bulan yang lalu. Santapan ikan lele bakar yang dicolekan ke sambel pedas ditemani sayur selada mentah kesukaan pasangan ini telah lama habis. Susanti duduk berbaring di pangkuan Mikail yang duduk bersila sambil membelai-belai rambut Susanti. Sementara, Susanti mengelus-elus wajah Mikail dalam kondisi sedang naik birahi. Tak ada buaya yang menolak bangkai. Tak ada lelaki menolak perempuan yang sudah pasrah. Maka, dengan gelora membara Mikail hajar bibir Susanti dengan penuh gairah. Respon Susanti tentulah lebih dahsyat lagi. Tak kedengaran suara mereka selain suara mendengus kesesakan nafas. Aaa..ah…aaa.. Tangan Mikail mulai menjalar ke paha Susanti ketika bibir mereka semakin ganas beradu. Tangan Susanti merangkul erat pinggang Mikail, ketika tangan Mikail sudah meraba celana dalam Susanti dengan penuh nafsu birahi. Tiba – tiba AH!! Mikail setengah teriak, “Aku janji sama Tigor malam ini mau ke rumah Dr Pardomuan.” Mikail bergegas keluar dari pondok kecil menuju motor mereka. Susanti sangat keberatan, “Apa kau bisex? Kan janji dengan Tigor bisa ditunda karena kita dapat suasana yang enak malam ini. Jangan-jangan kaujanji bermesraan dengan Tigor.” Susanti marah besar. Dan sepanjang jalan ngebut digoncengan Mikail, Susanti terus menerus merepet marah besar atas kepanikan Mikail membawa motor.
“Jangan ngebut!” Susanti membentak keras. Tapi Mikail tak perduli, sepeda motor dipacu tetap dengan kecepatan tinggi, kembali menuju kota Rilmafrid.
Akibat insiden itu, cinta yang sedang bersemi antar mereka hampir saja putus. Susanti sangat keberatan terhadap Mikail yang merusak suasana mereka gara-gara Tigor. Bila saja Tigor tidak turun tangan membujuk hati Susanti yang sudah membatu, kisah cinta antar Mikail dan Susanti pasti berakhir. Dan sejak saat itu Tigor tak berani membuat janji dengan Mikail apabila malam minggu tiba.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Kisah Sebelumnya: Bagian 2

Cerita Bersambung Yang Lain

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #2

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 2.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Bbrrraaakkk …!! Brrraaakkk… !!! pintu kedai tuak Saut Hasudungan ditendang keras preman mabok menggenggam pisau belati jam 3 subuh. “Anjing !!! kemana kausembunyikan adikmu itu.” Bardo, preman pelabuhan, membentak Saut yang baru selesai membereskan kedai tuaknya. Tanpa menjawab, Saut langsung menghujam kepala Bardo dengan parang tajam yang terletak di meja tuak yang baru bubar. Hujanan parang Saut sangat brutal dan histeris sampai 3 kali. Kedua kawan Bardo langsung menggerek Bardo terkulai ke sepeda motor, mereka lari terbirit birit membawa Bardo ke rumah sakit. Depan pintu masuk kedai tuak itu penuh berlumuran tetesan darah kental Bardo. “Nang…cepat bersihkan darah ini.” Saut Hasudungan panggil istrinya. Kemudian dia dengan langkah tenang, wajah tanpa emosi, menuju kamar mandi membersihkan kedua tangan bekas darah hasil membacok Bardo. Tingkah laku seorang god father adalah karakter yang menonjol dalam diri Saut Hasudungan. Resiko belakangan yang penting orang yang bikin persoalan segera dituntaskan.

Ternyata, Tigor terlibat dalam pembakaran pukat harimau bersama nelayan pinggir pantai. Lima orang nelayan yang ditangkap mengaku bahwa perancang pembakaran pukat harimau itu adalah Tigor. Dan, dua hari polisi bersama preman gagal mencari Tigor sejak perisitiwa pembakaran pukat harimau itu. Tak seorang pun tahu.
Tiga hari kemudian pintu rumah Pak Kurus diketuk lembut jam 2 subuh. “Pak…Pak..buka pintu Pak.” Terdengar suara berbisik sayup. “Siapa itu?” Pak Kurus menuju pintu. Rupanya Tigor, naik motor matikan mesin dan berlahan masukkan motor mati lampu. “Aku mau bawa ijazah SMP dan beberapa pakaian. Di sini sudah tak aman. Aku lanjut SMA di Rilmafrid bersama Kak Dameria. Oke ..ya Pak?” Tigor pamit.
“Hati hati kau,” Pak Kurus ucapkan selamat jalan.
Begitulah dinginnya sikap keluarga Pak Kurus menghadapi kasus kriminal yang menimpa keluarga. Saut Hasudungan,Ibu Kurus, Pak Kurus, Rosita Dameria tak repot mengatasi persoalan berat yang dialami Tigor.
Sangat mencolok perbedaannya dengan sikap keluarga kaya raya mapan aristokrat di kota-kota besar. Mereka sudah hidup dengan nikmat bahagia setiap hari, seakan tak kekurangan sesuatu apapun dalam hidupnya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga akan sangat gampang terganggu oleh masalah-masalah ringan. Mendapat persoalan kecil saja, para keluarga mapan aristokrat itu sudah panik gelagapan. Heboh bukan main. Seluruh energi dikerahkan keluarga untuk mengatasi persoalan sepele. Tidak setenang keluarga Pak Kurus.

Atas bantuan keluarga, Rosita Dameria dengan mudah mendaftarkan adiknya, Tigor, ke SMA Triyatna pinggir kota Rilmafrid. Dan, dengan mudah pula Tigor menyesuaikan diri di sekolah tersebut. Seolah olah tidak ditimpa persoalan serius di Pangkoper. Tapi, keberadaan sekolah Tigor di Pangkoper sangatlah berbeda dengan SMA Triyatna di Rilmafrid. Sengaja Pak Naldo, paman mereka, memilih SMA berkualitas untuk keponakannya dengan harapan agar Tigor tidak bergaul liar lagi seperti di Pangkoper. Harapan keluarga tercapai. Selama tiga tahun menyelesaikan pendidikan SMA Triyatna, Tigor tinggal bersama keluarga Pak Naldo. Segala tata tertib disiplin ketat rumah tangga yang digariskan oleh Pak Naldo dipatuhi dengan baik. Itu makanya Tigor tertempa menjadi anak yang pintar. Dan, lolos seleksi menjadi mahasiswa fakultas hukum Universitas Sandiega di Rilmafrid yang terkenal sangat selektif menerima mahasiswa baru. Guna menghemat biaya transportasi dan agar lebih efisien bergerak, Tigor harus angkat kaki dari rumah Pak Naldo setelah menjadi mahasiswa. Kamar indekos dekat kampus adalah rumah pondokannya.

***
“Mikail Pratama, kau harus kuliah di kota Rilmafrid. Harus di kota ini!” kata sang ayah tegas kepada Mikail Pratama. Mikail Pratama hanya tunduk diam terpaku mendengar titah sang ayah. “Ayah sudah capek menghadapi kau selama SMA. Kalau saja kau lakukan kasus kasus yang sama di kota lain, pasti kau akan dihabisi oleh preman.” Ayah melanjutkan nasihatnya kepada anak tengah mereka Mikail Pratama.
Memang wajar sang ayah berkata begitu. Karena selama SMA, Mikail sudah entah berapa kali diselamatkan oleh ayahnya. Masih 3 bulan duduk di kelas satu SMA, Mikail sudah terlibat penjualan narkoba. Karena polisi masih dengan mudah dapat disogok, maka Mikail tidak jadi dipenjara. Masih kelas satu SMA. Empat bulan setelah kasus penjualan narkoba, Mikail sudah tertangkap lagi dalam kasus pelecehan sexual. Pembantu rumah tangga mereka yang bahenol tiba-tiba hamil. Kembali lagi ayah terpaksa merogoh kantong untuk melarikan si pembantu rumah tangga agar tidak menuntut Mikail. Kasus perkelahian massal antar anak SMA, kebut kebutan di jalan, kasus tabrak lari dan narkoba, terus menerus menghiasi hidup Mikail selama SMA. Padahal 2 orang kakak Mikail dan seorang adik laki-lakinya hidup teratur, sangat santun terhadap kedua orang tuanya.
“Entah kenapa pula si Mikail bisa seperti ini.” Ibu pusing tujuh keliling menghadapi anak laki-lakinya. Rini Anggelina anak sulung keluarga, kakak Mikail, sedang menempuh pendidikan musik di Jerman. Yayuk Astuti anak kedua mendapat bea siswa dari Unversitas Steinbeki Fakultas Antropologi. Sedangkan Mikail Pratama tak akan menjadi mahasiswa apabila sang ayah tidak menyogok dekan Fakultas Ekonomi Universitas Zatingon di kota Rilmafrid.
Sedangkan anak bungsu mereka Jimmi Rocky cerdas layaknya si kakak, Rini Anggelina, tak banyak menyita pikiran keluarga dalam menempuh kehidupan ini.

Keluarga sangat heran melihat perubahan yang mendadak pada diri Mikail setelah menjadi mahasiswa. Sama sekali tidak berminat keluar dari rumah setelah pulang kuliah. Mikail sibuk belajar. Berkurung berlama-lama di dalam kamar membaca pelajaran mata kuliah dan berbagai buku ilmu pengetahuan lainnya. Hingga pada suatu sore Mikail berkata, “Ayah,.. agar aku lebih efisien, lebih baik kendaraanku, mobil ini, diganti saja sama sepeda motror?”
Betapa herannya Ayah mendengar pernyataan Mikail. Karena, status sosial yang tinggi sebagai pejabat elite pemerintahan ada 3 mobil pribadi dan sebuah mobil dinas parkir di garasi mobil mereka. Beberapa kali media massa meributkan kasus korupsi yang menimpa ayah Mikail sebagai pejabat Badan Perancang Pembangunan Nasional. Tapi, tetap saja lolos dari jebakan penjara. Mungkin karena kecerdasannya membagi kue hasil korupsi untuk atasannya di kantor pusat pemerintahan Trieste, membuat beliau tidak pernah menjadi terdakwa di pengadilan.
Sekedar memancing, sang ayah ajukan pertanyaan kepada Mikail,” Ah !! apa kau mau ngebut ngebutan lagi naik motor? Dan, perkuliahanmu berantakan lagi?”
Dengan muka serius Mikail berharap, “tidak..tidak Ayah. Aku menemukan duniaku di fakultas ekonmi. Hanya sekedar agar efisien gerakku setiap hari dan bensin jauh lebih irit”.

Keluarga semakin aneh melihat perubahan Mikail setelah dibelikan motor. Berpakaian necis setiap hari, tidak merokok lagi dan tidak banyak bicara. Dari Jimmi Rokcy, keluarga mendengar informasi tentang keberadaan Mikail. Ternyata Mikail sedang menjalin percintaan dengan Susanti, anak Fakultas Hukum Universitas Sandiega. Mungkin Susanti yang menganjurkan Mikail agar memberhentikan kebiasaan merokok.
“Syukurlah…, sejak SMA kita anjurkan Mikail agar tidak merokok. Tak pernah dihiraukan si Mikail. Nah, sekarang gara-gara pacaran dia berhentikan kebiasaan merokok. Syukurlah.” Si Ibu mengelus dada merasa lega melihat perubahan kongkrit pada diri anaknya, Mikail.
Susanti, anak pengusaha terkenal di Rilmafrid yang sebenarnya adalah kawan dekat ayahnya Mikail. Tapi, hal ini tak pernah terungkap dalam percintaannya dengan Susanti. Mereka sama sama merahasiakan hal ini di hadapan kedua orang tua mereka. Justru, kedekatan hubungan Susanti dengan Tigor kawan sekuliahannya membuat Mikail berkawan akrab dengan Tigor. “Jangan pula kau anggap aku rivalmu merebut hati Susanti ya.. Mikail!” Tigor terus terang kepada Mikail.
“Hua..ha..ha..Kalau kau cinta sama Susanti sudah sejak awal kuhajar kau Hua..ha..ha..,” Mikail hanya berguyon menanggapi Tigor.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Kisah Sebelumnya: Bagian 1

Cerita Bersambung Yang Lain

Torsa Sian Tano Rilmafrid*

Cerita Bersambung Martin Siregar

Bagian 1.
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Tigor memang sudah sangat acap hidup dalam kondisi yang menegangkan. Anak polisi yang tinggal di pinggir pantai penuh dengan berbagai kasus kriminal penyelundupan barang antar Negara, menempa dirinya bermental baja keras tidak cengeng. Bapaknya termasuk polisi bermoral. Tidak seperti kawan-kawan sejawatnya. Walaupun polisi berpangkat rendah, tapi bisa saja hidup mewah sejahtera kaya raya, karena dengan gampang menawarkan diri menjadi pelindung para toke-toke penyelundup yang memasukan barang ilegal dari Melano ke negara Trieste. Bapak Tigor hidup seadanya, tidak mau jadi kaki tangan penyelundup hingga sering dituduh oleh sejawat maupun keluarganya sendiri dengan sebutan : Bapak Sok Moralis. Ia sama sekali tidak tergiur ikut dalam kancah kaki tangan penyelundupan antar negara.
Ketika abang sulung Tigor tamat dari SMA, secara mendadak Bapaknya minta pensiun dini. “Lebih baik aku berladang menanam semangka dan mangga golek, daripada sekantor dengan manusia manusia bejat di kantor polisi busuk itu” kata Pak Kurus. Maka sejak Tigor SMP kelas 2 catur wulan 2 tahun 1975, di tanah leluhur Pak Kurus, bapak kandung Tigor menghabiskan hari-harinya bersama istri tercinta. Bertani seperti ketika mereka masih muda.
Tentulah pelabuhan bebas Pangkoper harus menciptakan kondisi kota yang mampu memfasilitasi kebutuhan para pelaku berbagai jaringan penyelundupan. Seluruh kota penuh sesak dengan tempat-tempat hiburan semarak kegemerlapan malam, ramai gadis penghibur para pelaku bisnis penyelundupan. Tempat semua pihak yang terlibat bercokol setiap malam melakukan transaksi sambil menikmati hiburan. Mulai dari preman kelas kambing peminum tuak murah sampai kelas mafia kaliber puluhan milyar, tentara dan polisi pangkat rendah sampai ke tingkat perwira tinggi berkeliaran memenuhi seluruh sudut kota Pangkoper.
Kota Pangkoper semakin semarak lagi, karena di kota yang sama itu para nelayan penangkap ikan dalam jumlah besar juga melakukan transaksi. Paling sedikit setiap bulan terjadi pembunuhan sesama nelayan dan pembakaran pukat harimau oleh nelayan tradisonil. Berbagai asal usul daerah tempat tinggal nelayan berkecamuk hiruk pikuk di tengah laut saling sikut menyikut berlomba menangkap ikan.
Oleh sebab itu dengan mudah ditebak, bahwa Pangkoper pastilah sebuah kehidupan kota yang penuh dengan kasus-kasus kekerasan kriminal sadistis. Demi untuk menyelamatkan barang selundupan mobil mewah, elektronika, narkoba, sampai dengan penyelundupan mainan anak-anak berharga murah, adalah penyebab utama dari pertikaian antar anak manusia sepanjang waktu di kota Pangkoper.
Saut Hasudungan, abang sulung Tigor, memang ditawarkan Pak Kurus untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi, sebagai tindakan protes terhadap bapak kandungnya yang sok moralis itu, Saut Hasudungan lebih memilih sebagai pengusaha kedai tuak. Walaupun dia sadar, kehidupannya kelak kemudian hari pasti lebih sejahtera apabila menerima tawaran bapaknya masuk ke perguruan tinggi.
Sedangkan adiknya, Rosita Dameria, tamat SMA tahun 1977 kebetulan berotak encer dengan senang hati menyambut tawaran bapaknya untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di ibukota propinsi Rilmafrid. Sebuah perguruan tinggi ternama di negara Trieste. Anak bungsu keluarga itu adalah Tigor, sama sekali tidak tertarik dengan pola hidup kedua orang tuanya yang menghabiskan waktu bercocok tanam sepanjang hari.
Tapi, walaupun begitu, moral bapaknya yang dituduh sok moralis, secara utuh lengket di dalam jiwa Tigor. Tigor tidak merokok apalagi minum minuman keras berpesta pora narkoba seperti kawan-kawan sebayanya. Kegemarannya sepulang sekolah adalah ngobrol dengan para nelayan di rumah gubuk pinggir pantai. Melalui dialog intens, Tigor dengan tekun menguras segala informasi tentang kehidupan para nelayan yang miskin papa sengsara. Dan, ikut menghujat pejabat negara yang terus menerus melindungi pukat harimau dan segala bentuk penyelundupan di pelabuhan bebas Pangkoper tempat Tigor dilahirkan. Kebiasaan Tigor berikutnya adalah membaca novel. Seluruh novel karangan Mario Fuzo bertema intelijen dan kehidupan mafia Italia sudah habis digarapnya.

bersambung…

*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’