Pengumuman ‘Menulis Opini Dapat Pulsa’: Seks Pranikah

RetakanKata – Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ dengan tema SEKS PRANIKAH. Jangka waktu tiga hari ternyata tetap tidak membatasi semangat para sahabat untuk mengirimkan opininya.
Dan berikut ini diumumkan nama penulis dan opini yang terpilih sebagai opini terbaik pertama, kedua dan ketiga.

Selain ketiga opini tersebut, sebagai bentuk penghargaan RetakanKata kepada rekan-rekan mahasiswa, maka RetakanKata juga memilih satu opini favorit dari rekan mahasiswa berjudul “Keluargaku Adalah Segalanya Untukku” karya Anita Rachmawati.
Opini terbaik pertama akan mendapat hadiah pulsa senilai Rp 100.000,00. Opini terbaik kedua dan ketiga akan mendapat pulsa senilai Rp 50.000,00. Untuk opini favorit dari rekan mahasiswa akan mendapat pulsa senilai Rp 25.000,00. Pastikan nomor hape yang dicantumkan aktif sebab RetakanKata akan menghubungi anda dengan nomor 085958551155 untuk memastikan pengiriman pulsa jarak jauh.
Semoga pengumuman ini dapat memacu gairah menulis para sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa di seluruh penjuru Nusantara yang ingin ikut berpartisipasi atau yang karyanya belum terpilih untuk dimuat di blog RetakanKata. Sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa dapat mengikuti sayembara ‘menulis opini dapat pulsa’ berikutnya, dengan tema ABORSI.
Selamat mengikuti sayembara berikutnya! Salam membaca dan menulis!

Di Mana Kampung Halaman

Gerundelan John Kuan

Kolam teratai musim gugur hanya menyisakan serpihan bunga dan daun rapuh, melalui kisi-kisi jendela saya duduk merasakan kesunyian setelah seluruh warna musim panas pudar, merasakan waktu pelan-pelan mendinginkan secangkir teh Cina, merasakan semacam sepi yang mengharukan di dalam lukisan-lukisan Sanyu yang dipamerkan di Museum Sejarah Nasional Taiwan hari itu. Pameran lukisan Sanyu berjudul Di Mana Kampung Halaman

Sanyu, dalam Bahasa Mandarin dipanggil 常玉 ( baca: Chang Yu ) lahir di Provinsi Sichuan, Cina pada tahun 1901, berasal dari keluarga kaya. Sejak ke Paris belajar melukis ketika berumur 20 tahun hingga meninggal dunia di usia 67 tahun di Paris karena keracunan gas di studionya, dia hanya sekali saja kembali menginjak kakinya di tanah kampung halaman, sisa hidupnya hampir seluruhnya dihabiskan di perantauan, menjelma jadi sebutir bintang seni yang sunyi menggantung di tepi langit.

Sanyu tidak meninggalkan catatan apa pun, riwayatnya yang ada sekarang hanya berupa anekdot-anekdot dalam beberapa tulisan teman-teman sejamannya atau sesama pelukis Cina yang merantau ke Paris. Beberapa cerita itu muncul berulang kali dalam tulisan mengenai dirinya; seperti dia pernah menikah dengan seorang gadis Perancis, tetapi tidak bertahan lama, atau dia pernah hidup seatap dengan seorang gadis bertubuh montok, atau pun dia pernah hidup bersama dengan seorang gadis Jerman. Dalam tulisan lain diceritakan bahwa dia pernah akan dipromosikan oleh seorang agen lukisan yang sangat berpengaruh, namun tidak dapat menyerahkan 20 lukisan seperti yang dijanjikan tepat waktu, sehingga agen tersebut terpaksa mengangkat pelukis Asia yang lain, seorang pelukis Jepang: Foujita. Juga beberapa hal lain yang berhubungan dengan sifatnya yang agak eksentrik, tertutup, kurang bertanggung jawab, memuja kebebasan jiwa, seperti banyak kehidupan seniman di Paris sehabis Perang Dunia.

Agak kabur, tetapi ada dua hal yang sangat jelas. Pertama, hampir semua teman-temannya dan sesama pelukis mengakui Sanyu sebagai pelukis yang sangat berbakat. Kedua, hidup sengsara dan melarat di Paris, terutama setelah kakak sulungnya yang mendukung hidupnya di Paris meninggal. Kehidupannya di hari tua sangat menyedihkan, dia bertahan hidup sebagai tukang cat dan tukang kayu bagi teman-temannya sesama perantau Cina di Paris; pemilik restoran dan pemilik toko perabot. Pada masa-masa sulit inilah Sanyu melukis seekor gajah yang sangat kecil berlari di gurun yang tak bertepi. Sambil menunjuk gajah kecil yang hampir terkubur gurun itu berkata kepada temannya: Itulah diriku!

Melihat lukisan Sanyu di Museum Sejarah Nasional Taiwan bukan sekedar menikmati sebuah karya seni, tetapi seolah membaca sepotong sejarah senirupa Cina Moderen. Sekitar tahun 1968 Menteri Pendidikan Taiwan mengundang Sanyu mengadakan pameran lukisan di Taiwan. Sanyu setuju, dia memilih empat puluh dua lukisannya untuk dikirim ke Museum Sejarah Nasional Taiwan, dan pemerintah Taiwan juga segera mengirim biaya perjalanan untuknya. Setelah menerima uang Sanyu tiba-tiba berubah pikiran, dia merasa sinar matahari dan piramida Mesir jauh lebih menarik. Tetapi begitu pulang dari melancong dia sendiri juga bingung kemana mencari biaya untuk perjalanannya ke Taiwan, dia tidak muncul, museum terus menunggu, setelah menunggu beberapa waktu, tiba-tiba Sanyu meninggal dunia di Paris.

Sanyu tidak memiliki keturunan, maka museum akan selamanya mewakili dia menyimpan lukisan-lukisannya itu. Tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau sesuatu yang sudah direncanakannya. Tanpa kebetulan ini sesungguhnya sangat sulit mengumpulkan lukisan-lukisan Sanyu dari berbagai periodenya dalam jumlah begitu banyak. Apalagi sekarang, lukisannya sudah merupakan lukisan cat minyak pelukis Cina yang paling mahal. Kalau melihat sikap dia terhadap karyanya seperti yang dicatat teman-temanya, dia mungkin sengaja mewariskan lukisan-lukisan ini kepada museum. Dia pernah berkata dengan enteng ketika seorang temannya bertanya kenapa dia menolak seseorang yang ingin membeli lukisannya: ” Saya tidak suka wajahnya, dan saya juga tidak ingin lukisanku hidup bersamanya ”

Banyak dari lukisan itu dilukis di atas selembar papan kayu atau daun pintu atau daun jendela, karena pelukisnya tidak ada uang untuk membeli kanvas, sehingga di dunia pun muncul ” lukisan cat minyak di atas papan kayu “. Hubungan antara cat dengan papan kayu kadang-kadang agak sulit, maka tak terelakan banyak sudut-sudut lukisan retak, mengelupas, tergores, membuat orang iba. Terindah dan terburuk bersama-sama hadir dalam sebuah lukisan, apakah bukan sebuah peringatan?

Ada satu masa, seperti semua pelukis Barat mesti melukis pot bunga, tentu termasuk pot bunga matahari milik Van Gogh itu. Bunga pelukis Barat selalu begitu cemerlang dan penuh sehingga mata orang yang melihat seolah kewalahan menangkapnya. Dan Sanyu juga melukis bunga, namun tidak seperti ” bunga potong ” pelukis Barat, bunga Sanyu selalu ditanam di dalam pot tanah liat berbentuk persegi. Menurut pandangan saya, pot itu pasti produk dari dapur pembakaran di kampung halamannya: Sichuan. Kenapa Sanyu melukis bunga mesti memberi juga kita satu pot tanah dangkal? Apakah itu cara dia bertahan? Hidup di perantauan, di Paris, di pusat kekuasaan keindahan Barat, dia melawan, mungkin saja bunga kecil dan lemah yang dia lukis itu adalah dirinya? Di dalam hatinya pasti juga menyisakan sepotong tanah sempit dan dangkal untuk dirinya hidup?

Anehnya, tanah di dalam pot begitu dangkal, bukan saja ada pohon yang tumbuh, bahkan berbunga, walaupun kecil-kecil, dan di sana-sini juga ada tunas mencuat, dan lebih mengejutkan adalah ada seekor burung hinggap di sana, dan ternyata burung itu sedang bernyanyi.

Saya merasa di belakang bunga, burung, dan pot tanah liat itu ada sepatah dua patah kata yang menunggu dijelaskan ——— namun, saya juga tidak ingin mengungkapkan, maka saya memilih pergi duduk melihat teratai layu di musim gugur, sambil menerka mengapa semua perempuan di dalam lukisannya tampak samping dan belakang?

Kematian (T)uhan

Puisi Dianna Firefly
kenaikan isa
Gambar diunduh dari blogs.elca.org
Kini (T)uhan hanya sebaris kalimat yang kau gunakan sebagai mantra pembunuh dan mereka adalah tumbal yang darahnya menjadi perlambang bahwa kebenaran sudah mati. (T)uhan pun ikut mati. Aku melihat (T)uhan mati di genangan darah yang keluar dari tubuh mereka. Mati dengan keji dan (T)uhan tidak pernah bangkit sejak hari itu. (I)a tidak pernah menuju surga.
Satu persatu manusia mati dalam raganya yang hidup. Mereka berkeliaran seperti anjing-anjing tidak bertuan. Mengais alasan sebagai pembenaran. Menggerogoti tulang belulang yang ia anggap lawan. Kadang menangis tanpa air mata lalu tertawa hingga gila.
Sejak kematian (T)uhan yang entah. Aku berdiri di bawah tiang salib. Merenungi apa yang kuimani. Berkali-kali mencari. Mencari sesosok manusia yang dua ribu tahun lalu disalibkan. Tiang salibnya kini dijadikan kayu bakar. Apakah yang telah (T)uhan korbankan? Ada atau tidak. Apakah yang aku mau dari sesuatu yang kukehendaki? Tentang (T)uhan dan hidup.
Dunia telah banyak berubah. Dua ribu tahun sejak saat itu berlalu, bahkan lebih dari itu. Para ilmuwan menghitung umur bebatuan –mereka lebih suka menghitung umur bebatuan daripada mengingat umurnya sendiri– dan mendapatkan hasil bahwa bumi berumur milyaran tahun, (T)uhan dimana selama itu?
(T)uhan baru saja lahir, tepat pada saat (K)itab pertama diturunkan. (K)itab yang entah. Melayang-layang dari langit kepada orang (t)erpilih, yang memang terpilih atau menganggap diri menjadi pilihan.
(K)itab lain pun bermunculan. Mungkin, itu terjadi saat (T)uhan lahir berkali-kali. Reinkarnasi. Dalam rupa dan watak berbeda. Lahir di bangunan mirip kastil dan berlonceng, di bangunan yang selalu malam penuh bulan bintang, di bangunan yang terbuat dari batu-batu, di bangunan yang selalu diasapi, di patung-patung, di gunung, di lembah dan ngarai, dimana saja (T)uhan-(t)uhan mau lahir. Toh, (I)a adalah (T)uhan kan?
(T)uhan pun hidup bersama manusia. Bergandengan tangan, tertawa ria. Hanya saja, (T)uhan terkadang menjadi pencemburu, tamak, dan tidak berbelas kasih. Manusia apa lagi? Akhirnya mereka berebut harta warisan: (s)urga. (T)uhan melawan (T)uhan, (T)uhan melawan manusia. Manusia melawan manusia.
Aku menyaksikan semua itu. Aku diam saja. Aku menderita. Setiap luka mereka adalah lukaku, begitu juga tangisnya. Namun aku tidak peduli, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan meskipun aku diper(t)uhankan.

MISTERI GUA KUCING

Cerpen Era Sofiah

Editor Ragil Koenjorodjati

kucing gua
Cave Cat by Erica Shipley, diunduh dari erica-shipley.com

Val benar-benar kagum dengan eksotika pulau ini. Di bagian timur dan selatan pulau tersebut membentang pasir putih yang lautnya belum tercemar dan nampak kebiru-biruan. Pasti sangat menyenangkan berada di tengah-tengah pulau nan indah, jauh dari kebisingan kota dan suara-suara teriakan minta deadline ‘’bisik Val’’ ditambah keramahan penduduk pulau yang jarang Val temukan di kota. Baru beberapa jam Val tiba warga kampung beramai-ramai datang ke rumah pak Rustam tempat Val menginap untuk sekedar bersalaman dengan Val. Val diperlakukan bak seorang selebritis. Lalu semangkok soto khas Madura lengkap dengan toppanya menjadi hidangan yang cukup mengganjal perut Val yang sedari tadi sudah bernyanyi setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam.
Gili ketapang, begitulah nama sebuah kampung dan pulau kecil di Selat Madura, tepatnya 8 km di lepas pantai utara Probolinggo yang menjadi tujuan Val kali ini. Gili ketapang dihuni oleh suku Madura. Tak seperti kebanyakan dalam pikiran orang yang menganggap mereka suku yang arogan dan kasar dengan sebilah celurit yang setiap saat siap memakan korban. Bagi Val mereka cukup ramah dan bersahabat. Ah, masalah suku ini kerap kali menjadi awal pertikaian di negeri tercinta ini. Val yang asli Solo sering kali menjadi bahan ledekan teman-teman sekantornya yang selalu mengkonotasikan dirinya dengan putri Solo yang kerjanya lamban. Namun akhirnya Val bisa membuktikan bahwa putri solo juga bisa bekerja secara cekatan dan ulet hingga akhirnya Val bisa menduduki jabatan sebagai redaktur. Atau si Roy yang berasal dari ujung negeri ini kerap kali dipanggil si keriting. Val tak habis pikir, bukankah Tuhan menciptakan umat-Nya berbeda-beda dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain bukan untuk saling mencaci dan saling bermusuhan.

***
Pagi cerah ditemani Munah anak pak Rustam, Val berjalan menyusuri pantai. Semilir angin dan deburan lembut ombak hangat menusuk-nusuk kalbunya. Bagaikan labrin yang membentuk formasi begitu indah, saat Val menyaksikan di kejauhan perahu-perahu nelayan yang baru pulang melaut. Sementara di pinggir pantai para perempuan berjejer menanti kepulangan suami dan anak-anak mereka. Maka setelah puas bermain dengan deburan ombak sampailah Val pada sebuah titik. Sebuah batu karang raksasa berbentuk bulat memanjang yang memang menjadi tujuan kedatangan Val ke pulau ini.
‘’Inilah yang dinamakan gua kucing Kak, konon menurut cerita, dahulu pulau ini dihuni ribuan kucing yang dipelihara oleh syech Ishaq, salah seorang penyebar agama Islam di pulau ini. Namun setelah beliau meninggalkan tempat ini kucing-kucing itu menghilang tanpa diketahui rimbanya. Tapi anehnya setiap malam jum’at legi suara- suara kucing itu terdengar dari dalam gua.” Val mendengarkan cerita Munah dengan seksama. Tak hanya misteri tentang gua kucing yang membuat Val penasaran, namun bau-bau kemenyan serta beberapa bekas ritual yang dibiarkan berserakan membuat bulu kuduk Val merinding.
Meong!!! Seekor kucing berwarna belang tiba-tiba meloncat dari balik batu karang tepat disamping Val diikuti kucing-kucing lainnya hingga jumlahnya puluhan. Lalu di belakang kucing-kucing itu muncullah seorang gadis kecil berperawakan sedang. Beberapa saat kemudian gadis itu melemparkan remah-remah ikan asin membuat suara kucing-kucing itu semakin gaduh.. Gadis itu bagaikan ratu kucing di antara puluhan kucing-kucing itu.
‘’Dia Naila kak. Kasihan dia, emaknya meninggal saat melahirkannya sementara Eppaknya hilang di laut beberapa bulan lalu karena terseret ombak dan sekarang Naila hanya tinggal bersama kakeknya yang sudah tua. Kakeknya dari pagi hingga sore bekerja memperbaiki jaring dan kapal-kapal nelayan di kampung sebelah. Jadi setiap hari Naila hanya ditemani kucing-kucingnya itu. Orang-orang sini percaya bahwa Naila merupakan titisan salah satu pengikut syech Ishaq, yang lama tinggal di pulau ini dan kemudian menikah dengan salah satu penduduk’’ Gadis kecil yang unik, Val mengambil beberapa gambar keakraban dua makhluk berbeda rupa itu dengan camera pocketnya.
Ngapote…..
Wak lajere ethangale….
Reng majeng tantona la padha mole….
Sambil membelai kucing-kucingnya gadis itu ngejungan lirih, membuat Val semakin penasaran untuk mengenalnya lebih dekat.
***
Esoknya Val kembali ke tempat itu. ‘’Hai, aku Val, boleh kakak duduk di sini?’’ Val mengambil tempat di sebelah Naila. Sesekali Val ikut membelai kucing-kucing itu yang terlihat bersahabat. Gadis bernama Naila itu hanya sesaat tersenyum ke arah Val, sebelum kembali. bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Namun dari sorot matanya, Val yakin gadis itu menerima kehadirannya. Beberapa saat mereka terdiam dan hanya terdengar deburan ombak dan suara riuh kucing-kucing Naila.
‘’Namaku Naila, kalau kakak ingin kenal dengan kucing-kucingku yang lain mari ikut ke rumahku.’’ Gadis itu berlari-lari kecil menuju rumahnya, tak jauh dari gua. Di sebelah rumah sederhana itu terdapat sebuah tempat semacam kandang ayam lengkap dengan kardus-kardus bekas dan kain perca sebagai alas. Di dalam kardus beberapa ekor bayi kucing yang masih merah sedang menyusu pada induknya. Tak beberapa lama Naila masuk ke dalam dan mengambil piring kemudian meletakkan remah-remah ikan asin lalu mengelus bayi-bayi kucing itu penuh kasih. Setelah memberi makan kucingnya, Naila mengajak Val masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sangat jauh dari kata layak untuk dihuni, batin Val. Hanya ada sebuah meja dan dipan tua berbaur menjadi satu dengan dapur sehingga menimbulkan aroma yang sangat tidak nyaman. Namun ada hal lain yang membuat Val berdecak kagum. Dinding-dinding yang sebagian telah berlubang dipenuhi lukisan-lukisan yang juga bergambar kucing.
‘’Ini lukisan Nai, bagus kan Kak?’’ Gadis itu membawa selembar lukisan yang masih basah oleh cat warna. Val mengangguk mantap.
Val teringat beberapa waktu lalu, Val juga memiliki sepasang kucing ras pemberian seorang sahabatnya. Setiap saat Val menghabiskan waktunya bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Val begitu sayang terhadap kucing-kucingnya. Val memberi mereka makanan juga tidak sembarangan. Dia memberi makanan khusus untuk kucing ras yang berharga cukup mahal, sehingga kucingnya terlihat sehat dan menggemaskan hingga rajin membawa ke dokter hewan. Satu hari kucingnya melahirkan beberapa ekor anak kucing yang juga lucu-lucu. Semakin ramailah rumah Val dengan kehadiran kucing-kucing mungil itu. Setiap pagi kucing-kucingnya mengantar Val ke depan pintu gerbang rumahnya sambil berputar-putar dan mengeong-ngeong manja seakan ingin mengatakan agar Val cepat pulang dan kembali bercengkerama dengan mereka. Namun pekerjaan Val sebagai seorang jurnalis yang harus meninggalkan rumah hingga berhari-hari membuat Val tak bisa merawat kucingnya seperti dulu. Pun demikian mama papanya juga sibuk bekerja. Lalu Val pun berpikir untuk menyewa seorang pembantu yang khusus merawat kucing-kucingnya. Namun binatang juga punya perasaan seperti halnya manusia. Mereka akan lebih nyaman jika yang merawat adalah majikannya sendiri. Kucingnya berubah menjadi pemurung dan tidak mau menyentuh makanan. Karena takut terjadi sesuatu akhirnya Val menitipkan kucing-kucingnya untuk dirawat saudaranya yang juga memiliki beberapa ekor kucing ras. Sungguh, Val sangat merindukan saat-saat menyenangkan itu.
***
Malam telah larut saat Val menyelesaikan laporannya. Val membuka kelambu, angin laut lembut menampar wajah putihnya. Di kejauhan lampu kelap-kelip dari perahu-perahu nelayan menambah indah suasana malam. Malam ini tepat malam jum’at legi, sayup-sayup Val mendengar puluhan kucing mengeong-ngeong riuh. Seperti kepercayaan warga setempat, setiap malam jum’at legi akan teredengar suara-suara kucing dari dalam gua. Namun Val lebih berpikir realistis, bahwa suara-suara itu pastilah datang dari kucing-kucing Naila yang memang dibiarkan bebas berkeliaran.
Namun bukan suara-suara itu yang mengganggu pikirannya. Ada hal lain yang lebih penting yang membuat matanya tak juga terpejam. Tiga hari lalu Gili Ketapang kedatangan tamu dari dinas kesehatan kota yang memberikan pengobatan secara gratis. Satu hal yang sangat menggembirakan dan ditunggu-tunggu warga kampung. Karena bagi mereka yang kebanyakan adalah nelayan kecil biaya kesehatan masih teramat mahal. Setelah pemeriksaan usai tersiarlah kabar yang mengejutkan sekaligus mengerikan. Beberapa perempuan didiagnosis terjangkit virus toksoplasma dan harus mendapatkan perawatan secara intensif. Dan menurut dokter satu-satunya cara memutus rantai penyebaran toksoplasma adalah dengan mengkarantina seluruh hewan peliharaan warga yang terindikasi menularkan virus itu termasuk puluhan kucing milik Naila. Berat bagi Val menyampaikan berita yang pasti akan sangat menyakitkan bagi Naila, namun harus Val katakan demi keselamatan warga kampung. Selama ini terjalin kedekatan yang cukup akrab antara Val, Naila dan kucing-kucingya. Naila banyak bercerita betapa dia sangat menyayangi kucing-kucingnya dan tak ingin berpisah dengan mereka selamanya.
Bagai petir di siang bolong. Naila benar-benar shock mendengar kabar yang disampaikan Val siang itu. Sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Air matanya luruh saat petugas dari dinas kehewanan lengkap dengan masker dan sarung tangan mengambil satu persatu binatang piaraan milik warga untuk dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng besar. Hingga tiba pada eksekusi kucing-kucing Naila. Namun tak seperti binatang peliharaan warga lain yang begitu penurut ketika dibawa petugas. Kucing-kucing Naila yang semula jinak, berubah menjadi liar dan ganas. Beberapa mencoba mengeong, mencakar, meronta, seakan tidak rela dipisahkan dari tuannya.
‘’Jangan, jangan ambil kucingku.’’ Naila berusaha sekuat tenaga mencoba menghalangi proses eksekusi dengan membentangkan kedua tangan mungilnya di depan petugas.
‘’Biarlah Nak, mereka sementara membawa kucing-kucingmu,’’ kakeknya mencoba membujuknya. Namun Naila bersikeras tetap tak mengijinkan petugas membawa kucing-kucingnya.
‘’Kak Val, mengapa mereka begitu jahat ingin mengambil kucing-kucing Naila. Apa salahku?’’ kali ini suaranya merintih
‘’Percayalah, Bapak-bapak itu tidak sejahat yang Naila pikirkan, mereka hanya ingin mengobati kucing-kucing Naila supaya sehat ‘’
‘’Benarkah kak?’’
Val mengangguk kelu. Val menghapus air mata yang membanjiri pipi mungil Naila.
Meong!!! Seekor kucing berwarna kuning keemasan tiba-tiba lepas dari gendongan petugas dan menghambur ke pelukan Naila kemudian menjilati tangannya seakan ingin mengucapkan salam perpisahan.
“Pergilah pus, nanti Naila pasti akan datang mengunjungi kamu,’’ sesaat Naila memeluk dan menciuminya berkali-kali sebelum menyerahkan kepada petugas. Val benar-benar terenyuh menyaksikan peristiwa ini. Terbuat dari apa hatimu Nai, hingga makhluk-makhluk tak berdosa itu begitu mencintaimu dan ingin selalu ada di sisimu, batin Val. Beberapa saat kemudian truk yang membawa puluhan ekor kucing itu menderu pelan, meninggalkan jejak luka di hati Naila.
Lalu kegetiran melingkupi hari-hari Naila. Kemurungan tampak jelas di wajahnya. Sepulang sekolah atau mengaji Naila lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Tak ada lagi keceriaan atau canda tawa Naila dengan kucing-kucingnya. Tak ada riuh suara berebutan remah-remah ikan asin. Val benar-benar merasa bersalah tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus kesedihannya. Beberapa kali dia menanyakan kabar kucing-kucingnya dan kapan mereka dikembalikan membuat hati Val makin trenyuh. Karena Val tahu untuk mengembalikan binatang yang telah terjangkit penyakit tidaklah mudah. Ingin rasanya Val membawa Nai ke kota, membelikannya beberapa boneka kucing yang lucu atau mug-mug cantik bergambar kucing, sekedar menjadi pelipur hatinya.
Menjelang hari-hari terakhir kepulangannya, tiba-tiba Naila menderita demam tinggi. Val yang mengunjunginya sempat mendengar beberapa kali Naila mengigau memanggil kucing-kucingnya. Naila terlihat sangat merindukan kucing-kucingnya. Kembalikan kucingku, kembalikan! Val menitikkan air mata, tak kuasa setiap mendengar rintahannya. Beruntung setelah mantri desa memberi obat penurun panas, demam Naila sedikit mereda.
‘’Kak, jangan pergi!‘’ Naila menatap wajah Val dengan tatapan sendu. Matanya menyiratkan kesedihan sekan tak rela kehilangan sahabat untuk kedua kalinya. Val mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa dia pasti akan mengunjunginya kembali.
‘’Kalau kakak ke kota, Nai titip salam yah untuk kucing-kucingku. Tolong bilang kalau Naila sangat merindukan mereka.’’ Val mengangguk mantap
‘’ Ini ada hadiah untuk kakak.’’ Naila menyerahkan sebuah lukisan sederahana yang telah dibingkai dengan selembar plastik.
‘’Terima kasih saying.’’ Val memeluk dan mengecup pipi Naila lembut.
***
Val kembali memandangi gambar yang diberikan Nai. Gadis bermata belok dan berambut panjang dikelilingi oleh puluhan kucing, sungguh sangat indah dan terasa hidup. Anak itu benar-benar berbakat menjadi pelukis hebat, batin Val. Tiba-tiba ekor mata Val tertumbuk pada sudut lukisan yang lain. Sebuah titik-titik buram berwarna hitam. Seingat Val titik-titik itu tak ada sebelumnya. Penasaran, dengan sebuah spidol Val menghubungkan titik-titik itu. Deg! Sebuah perasan bergemuruh, seakan tak percaya dengan pengliatannya. Batu bulat memanjang dengan ujung lancip dan sebuah nama tertulis di sana, NAILA, aneh, apa maksud gambar ini. Belum selesai Val berpikir, Roy menyerahkan sebuah surat bersampul coklat susu. Maimunah, Gili Ketapang, Val membaca alamat yang tertera di sampul surat. Keringat dingin membanjiri wajahnya saat membaca kalimat demi kalimat dalam surat itu. Singkat namun membuat kepala Val berputar-putar tak karuan, Naila dan kucing-kucing kesayangannya. Malam jum’at legi. Mungkinkah ini jawaban misteri gua kucing itu? Jantung Val semakin berdetak tak karuan.

Malang, 09 Februari 2012

Keterangan :
Topa : sejenis lontong
Probolinggo : nama salah satu kota di Jawa Timur
Eppak : bapak
Ngapote ….Wak lajere ethangale…. Reng majeng tantona la padha mole…. ; Lagu berbahasa Madura
Ngejungan : bernyanyi
Toksoplasma : semacam infeksi kandungan yang disebabkan oleh hewan peliharaan seperti kucing, kera ataupun anjing. Toksoplasma akan berbahya jika menyerang wanita hamil, karena akan menyebabkan janin yang dikandung menjadi cacat.

Puisi-Puisi Paulus Catur Wibawa

danmedhurst.com
Foto Anna, Maria, Venice by danmedhurst.com, diunduh dari flickr.com

Doa dalam Sebotol Waktu

Aku tak pintar bikin doa yang merdu
Jadi kumulai doaku dengan
“Aku tak bertanya kenapa cuaca begini buruk, Ibu
Tapi beri aku gerimis yang manis
Dalam sebotol waktu
Tegukkan di leher ayahku yang sedang sakit rindu”

Kututup dengan “Amin” sebelum kutitipkan padamu

Lalu kita menunggu
Selagi kemarau gigih meyakinkan kita bahwa langit menyimpan begitu banyak cahaya
Doa kita mungkin akan sampai di sana
Sebagai air mata yang mengental dalam sebongkah mega

Dan masih saja kita menunggu
entah sampai kapan
sampai doa kita pulang bersama hujan
sampai kudengar tawa ayahku dari seberang
sampai kututup doaku dengan “Terima kasih, Ibu” padamu

sementara engkau masih saja bertahan menunggu
di dalam gua batu

***

Seorang Anak di Depan Patung Maria

Tak rela melihat gadis yang dipujanya
Berdiri terus di dalam gua, letih, kurang tidur dan tampak merana
Peziarah kecil datang menyerahkan pensil dan buku tulisnya

Tiap pagi kutulis kata-kata pak guru di sini
Kalau sudah siang dan pak guru mulai membosankan
Aku selalu tertidur di atas buku ini
Tapi kini buku tulis ini untukmu
Agar kau bisa menulis pesanan mereka yang memohon-mohon padamu Agar kau bisa tidur dengan tentram kalau lilin doa dan bunga-bunga Mulai membosankanmu

Sesat Pikir dan Lelayu Akademik

Gerundelan Arif Saifudin Yudistira*

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com
Kabar duka baru saja mengemuka di solo. Diskusi dan bedah buku Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan yang rencananya diadakan di Balai Sudjatmoko sabtu (12/5/12) dibatalkan karena desakan polisi. Menurut kabar, polisi di desak ormas yang menilai diskusi buku tersebut tak layak diselenggarakan dan kemudian mendesak Balai Sudjatmoko membatalkan agenda diskusi.
Sebelumnya secara beruntun kekerasan terjadi di dunia akademik kita. Penolakan bedah buku Alloh,cinta dan kebebasan karya Irshad Manji yang rencana diadakan di Balai Sudjatmoko (8/5/12) dibatalkan oleh LUIS (5/5/12). Kemudian di Jakarta pembatalan diskusi serupa dibubarkan polisi (4/5/12) dan di Yogja pun demikian halnya (9/5/12). Pembubaran maupun bentuk penekanan yang terjadi selama ini lebih didasarkan pada motif arogansi dalam masyarakat kita. Di mana letak kebebasan akademik dan kebebasan menyuarakan pendapat jika diskusi dan dialog sudah dianggap sebagai suatu ancaman.
Kekerasan yang dikedepankan mencerminkan bahwa moralitas akademik sudah tak ada dalam masyarakat kita. Apa jadinya bila bangsa yang berbudaya dan beragama lebih mengedepankan kekerasan? Agama lebih dianggap sebagai momok dan juga monster menyeramkan. Dialog yang menjadi kunci dan ciri orang beragama sudah dilupakan begitu saja. Apa jadinya bila orang beragama lengkap dengan pakaian dan senjatanya hanya untuk menyerang orang mau berdiskusi dan berdialog? Ada kesalahan paradigma yang mendasari mereka melakukan perbuatan tersebut. Sudah sejak jaman nabi-nabi dahulu, dialog dan diskusi adalah strategi yang diutamakan daripada kekerasan dan pedang. Nabi Muhammad SAW adalah contoh yang nyata. Bila diijinkan Nabi Mohamamd SAW, Jibril akan menimpakan Gunung Uhud pada kaum Quraisy, tapi Nabi lebih memilih berdoa agar orang kafir mendapat hidayah. Kekerasan adalah cara yang ditempuh bagi orang yang lemah, kata Gandhi. Maka dialog dan musyawarah dan diskusi intelektual adalah jalan yang mesti di kedepankan.

Sesat pikir

Ada semacam fenomena sesat pikir di kelompok yang mengedepankan kekerasan dan tak sepakat dengan dialog. Iman adalah sesuatu yang mutlak dalam diri, tapi alangkah nistanya bila iman hanya berlandaskan pada dogma dan dalil yang sempit semata. Bukankah sudah ada sejarah para nabi kita yang menggunakan akal untuk mencerna, memahami dan menghayati setiap peristiwa dan ayat tuhan di alam ini. Agama sekali lagi bukan dan tidak mengajarkan pemberangusan apalagi menggunakan cara-cara kekerasan menghadapi diskusi. Diskusi dan dialog semestinya dilawan dengan dialog. Maka harus kita tegaskan bahwa kekerasan dalam dunia akademik di ruang publik melalui bentuk-bentuk pelarangan, penekanan, intimidasi sampai pada tahap pembubaran orang berdiskusi dan berdialog adalah sesat pikir yang mesti diluruskan. Dalil agama mestinya tak disalahgunakan hanya untuk melegitimasi perbuatan mereka. Agama terlampau kotor bila digunakan untuk melegitimasi perbuatan mereka.
Agama semestinya lebih mengedepankan dialog dan juga diskusi intelektual. Bukankah islam pun mengajarkan “katakan kebenaran walau pahit?” Agama apapun pasti tak mengajarkan cara-cara kekerasan dalam menghadapi sesama manusia. Untuk apa beragama bila pedang dan darah lebih dikedepankan daripada perdamaian dan cinta kasih? Bukankah agama mengajarkan demikian? Seorang pemikir anti kekerasan Dom Holder Camara mengatakan dalam bukunya “spiral kekerasan” : “Apapun agamamu, cobalah berusaha agar agama membantu menyatukan umat manusia, bukan untuk memecah belah”. Setidaknya itulah ajaran yang ada juga di agama kita, bukan sebaliknya justru mengedepankan pedang daripada pikiran dan hati kita.

Arogan

Sikap pembubaran diskusi yang ada di Solo, Yogja dan Jakarta adalah bentuk arogansi semata. Hal ini bukan tidak berdasar, melainkan negara kita bukan negara agama. Justru karena negara kita bukan negara agama, mestinya kita menghormati hak-hak orang beragama menjalankan keyakinannya. Apalagi di forum intelektual, bila ingin menggugat, gugatlah dengan cara-cara akademik dan dialog. Bukan dengan membubarkan paksa, pembubaran paksa adalah cara-cara yang memicu kekerasan. Intelektual mestinya sejajar dengan iman. Bila iman tidak bisa diterima dengan rasionalitas maka iman tersebut mestinya diragukan. Oleh karena itu, pembubaran diskusi dan juga bedah buku adalah bentuk arogansi yang mendasarkan pada ego kelompok yang dipicu dengan semangat agama yang melenceng.
Pembubaran diskusi dan bedah buku Irshad Manji dan bedah buku gerwani yang ada di Solo dan Jakarta serta Yogja adalah representasi kematian akademik. Artinya, akademisi dan juga manusia sudah tak lagi mempunyai moralitas dan nalar akademik yang maju. Bila sikap seperti ini masih berkembang dan ada di negeri ini, maka konflik dan juga kekerasan akan semakin rentan terjadi di negeri ini. Persoalan ini hanya bisa diselesaikan dengan menghidupkan kembali ruang-ruang dialog dan juga forum kerukunan umat beragama. Agar nalar akademik dan juga nalar intelektual lebih dikedepankan daripada kekerasan. Kekerasan hanya akan membuat kerukunan makin sulit diusahakan.
Terlebih lagi, dunia akademik mestinya tidak mengembangkan doktrin dan juga pemikiran yang sempit. Kebebasan akademik mesti dikembangkan, kampus mesti mengawali, bahwa setiap pemikiran mesti dihargai dan dihormati. Kita tidak membicarakan pro dan kontra, setuju atau tidak, diskusi adalah cara intelektual untuk mencari dan menemukan kebenaran. Bila tidak demikian, maka ilmu dalam dunia akademik kita tak lebih dari sekadar doktrin dan dogma semata. Kampus itulah yang mesti mengawali, kasus di UGM adalah peristiwa yang mencoreng dunia akademik kita.
Jika kampus yang semestinya menjadi corong dan gerbong untuk ruang akademik dan kebebasan akademik sudah memiliki pemikiran yang sempit. Maka ini adalah tanda bahwa lelayu akademik itu sudah ada di dunia akademik dan ruang publik kita.

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhamadiyah Surakarta, bergiat di Bilik Literasi Solo, mengelola Kawah Institute Indonesia

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #9

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 9
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Waktu berjalan terus. Tak ada seorang pun manusia yang mampu menghentikan lajunya perjalanan waktu. Dan, waktu yang telah berlalu tak bisa terulang kembali. Pertemuan sore hari di rumah Susanti memberikan kemampuan Tigor dan Mikail merefleksikan persahabatan mereka. Keduanya merasa perlu mengembalikan kondisi persahabatan mereka seperti sedia kala. Tetap dengan intensitas perjumpaan yang padat sambil mengulas persoalan-persoalan filosofi untuk melengkapi kerangka berpikir konstruktif struktural. “Belakangan ini aku sudah tak pernah lagi membaca buku dan menulis opini.” Tigor menyesali hari-harinya yang terbuang dengan sia-sia.
“Aku juga sering berangan-angan belakangan ini. Mengerjakan apa saja pun aku malas,” kata Mikail. “Okelah,.. besok kujemput kau pulang kuliah. Mari kita jalan terus sampai larut malam, mengulang apa yang selama ini kita lakukan.”
Jalan bersama sampai larut malam, nonton bioskop, Tigor nginap di rumah Mikail ngobrol panjang tentang banyak hal, membuat kehangatan persahabatan mereka kembali lagi bersemi. Ibu Mikail senang sekali melihat Tigor kembali lagi sering nginap di rumah mereka. “Kemana selama ini Gor,” Ibu menyapanya. “Ingatkan Mikail supaya tetap serius menyelesaikan kuliahnya. Ibu takut penyakit lama Mikail kambuh lagi dan kuliahnya berantakan.”
“Iya,..Bu.” Tigor sudah merasa ibunya Mikail adalah ibunya juga. Karena perhatian keluarga Mikail kepada Tigor tak ada bedanya dengan ibunya sendiri. Mau mandi, mau makan atau mau tidur di kamar Mikail seenaknya saja Tigor kerjakan. Sudah macam rumah sendiri.
Acara makan pisang goreng di rumah Susanti pun rutin diselenggarakan, serta sikap Mikail menunjukan usaha-usaha mengisi suasana percintaannya bersama Susanti. Persahabatan tiga serangkai bersemi lagi.
***
Ucok ditugaskan FDP untuk mengirim proporsal ke Sabidoar Foundation. Armand dapat tugas menyusun daftar kebutuhan sekretariat dan mekanisme internal kelembagaan bersama Ucok dan Ningsih. DR Pardomuan mengurus badan hukum FDP sekaligus membuka nomor rekening Yayasan FDP. Agar (seandainya) Memorandum of Understanding bulan Juni mendatang jadi ditandatangani, persiapan institusionil FDP sudah mantap. Karena melihat latar belakang perkenalan FDP dengan Sabidaor Foundation adalah kontak person bersama direktur pelaksana Sabidaor, lantas membangun hubungan emosionil melihat kunjungan Mukurata yang terus menjalin kontak respondensinya, maka peluang FDP mendapat dukungan dana dari Sabidaor tidak diragukan lagi. Seluruh warga FDP tidak terlalu khawatir proporsal mereka ditolak oleh Sabidaor Foudation.
***
Dua bulan lagi Anita Theresia dibaptis menjadi suster, setelah 3 tahun berdiam di biara Katolik Tantangun. Tapi, perasaannya sangat gundah gulana. Perkenalannya 6 bulan yang lalu dengan pemuda Johan Niskeno kaya raya pejabat pemerintahan Trieste mengguncangkan sikapnya yang ingin mengabdikan diri seumur hidup untuk gereja katolik. Kegigihan Johan tak mengenal kata mundur sambil terus menunjukan perhatiannya yang sungguh mempersunting Anita, ternyata berhasil meluluhlantakkan hati Anita. Pada akhirnya, Anita lebih memilih menjadi istri Johan Niskeno dari pada bertahan hidup di biara. Semua pihak terpukul dan marah terhadap komitmen Anita yang goyah gara-gara Johan. Sempat juga keluarganya berhasrat membatalkan maksud perkawinannya. Tapi, berkat usaha keluarga Johan Niskeno melakukan pendekatan kekeluargaan akhirnya perkawinan mereka dibaptis di gereja kristen protestan.
Hidup gemerlapan sebagai istri Johan Niskeno yang hidup mewah, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan biara — tidaklah membuat Anita Theresia lupa daratan —-. Karakter yang dibangun selama berada dibiara tetap dipeliharanya sampai saat sekarang ini. Hanya Mikail Pratama anaknya yang butuh perhatian khusus . Sedangkan ketiga anaknya Rini Anggelina, Yayuk Astuti dan Jimmi Rocky, sudah dapat berjalan dengan baik tanpa kontrol yang ketat dari beliau. Dan, walaupun sekarang sudah beragama kristen protestan, tapi ibu Mikail masih tetap melakukan meditasi katolik yang diajarkan di biara. Beliau sangat takut kehilangan hati nurani akibat kondisi ekonomi keluarganya yang berkelimpahan. Cinta yang tulus kepada sesama umat manusia juga dirasakan Tigor bekas anak brandalan itu: Tigor, kalau uang kiriman dari kampung belum datang dan kalau perlu uang minta sama ibu ya… Tak usah malu malu. Ibu sudah menganggap dirimu adalah anak sendiri,” Ibu berkata lembut kepada Tigor. “Iya..bu” Tigor juga sangat mengasihi ibu Mikail. Beberapa saat kemudian. “Sebenarnya ibu khawatir kalau saja dana program yang didukung Sabidaor jadi dilaksanakan. Ibu khawatir kuliah kalian jadi teganggu.” Ibu nampak cemas mendengar rencana kerja FDP.
Kalau istri DR Pardomuan dan Arben Rizaldi hanya tahu mengejek kegiatan ayahnya bersama FDP, tapi ibu Mikail memonitor segala jenis kegiatan anaknya dengan baik. Seluruh perkembangan kegiatan anaknya dipahaminya secara mendalam. “Tidak…tidak usah ibu kawatir.” Justru program kerja yang dibangun oleh FDP akan mendukung perkuliahan kami. Bahkan akan memberi kami nilai plus karena di saat kawan-kawan masih belajar teori kemasyarakatan, kami sudah mempraktekannya.” Mikail memberi argumentasi menolak pendapat ibunya. “Yah,…semoga sajalah.” Ibu lebih banyak melihat sejarah orang yang bekerja di masyarakat, sementara kalian masih ingin membuat sejarah. Percayalah terhadap ucapan ibu.” Kemudian ibu pergi kekamar meninggalkan Mikail dan Tigor makan malam. “Selamat malam,” kata ibu yang kelihatan susah.

“Aku pikir ucapan Ibu tadi perlu kita renungkan dengan serius. Nampaknya dia tidak main main.” Kondisi Tigor agak tegang waktu masuk ke kamar Mikail.
“Ah! Tak usah terlalu kau pikirkan. Ibu itu kayak post power sindrom, apa yang ingin dilakukannya pada masa muda gagal semua. Mungkin akibat perkawinan dengan ayah. Mana mungkin mimpi calon seorang suster dapat terfasilitasi dalam kehidupan berumah tangga,” Mikail mencoba menganalisa sejarah hidup ibu. “Nah! Justru karena itu aku yakin analisanya tak meleset.”
Mikail pikir, beban Tigor merenungkan kata-kata ibu semakin berkurang setelah Mikail menjelaskan latar belakang ibu. Ternyata Tigor semakin percaya sama ucapan ibu.
“Mikail aku berharap skripsi sarjanaku judulnya ‘Gerakan Petani dalam Konteks Kekuatan Hukum di Trieste’. Walapun kita bikin skripsi 2 tahun lagi, tapi aku punya komitmen untuk tulis skripsi dari program FDP,” kata Tigor sambil berbaring menarik bantal. Rokok dihisapnya kuat-kuat dan, “Kapan lagi perguruan tinggi memaparkan aspirasi masyarakat kelas bawah secara orisinil dan ilmiah”.
Mikail terperanjat, dia tak sangka bahwa renungan Tigor sudah sedalam itu. “Aku dukung pikiranmu, Gor,” Mikail bersemangat. “Iya…bulan Juli mendatang aku tidak tidur di kamar kost lagi. Aku akan tidur di rumah kelompok tani yang menjalankan program kita.” Kembali lagi Mikail terkejut, “Jadi, kau tak kuliah? Nanti tak bisa ujian.” Mikail semakin khawatir membayangkan keberadaan kawannya Tigor. Sudah jenuh sekali rupanya Tigor dengan kondisi kampus. Padahal, status seorang mahasiswa sangat terhormat di tengah-tengah masyarakat Trieste. Sebuah status yang disejajarkan dengan masyarakat lapis atas. Mahasiswa adalah kaum elite di masyarakat.
“Aku hanya titip absen saja sama kawan-kawan. Karena masuk perkuliahan itu tak ada ilmunya. Lebih baik kita baca buku wajibnya di rumah. Kemudian kita singkatkan buku itu, agar intisari bukunya dapat kita pahami. Masukan dari dosen ketika kuliah sama sekali tak ada. Jadi, percuma saja kuliah isi absen.” Tigor tarik lagi rokok kreteknya sekuat tenaga. Mikail terdiam tak bisa bilang apa-apa.
“Gor,.. Melihat kedekatanmu dengan keluarga kami, maka layaklah kami turut bertanggung jawab atas perkuliahanmu di hadapan keluargamu di Pangkoper. Apa yang kami bilang ke keluargamu kalau kuliahmu gagal?”
Mikail kelihatan panik memperhatikan Tigor yang seenaknya baring sambil tetap merokok.”Tak usah khawatir, aku akan langsung sampaikan maksudku ini ke kakak Rosita Dameria. Aku yakin dengan gampang keluargaku bisa mengerti,” kata Tigor dengan tenangnya.
“Justru aku tak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini ke ibumu. Dia bukan basa basi mengasihi aku. Kau dibelikannya kaos t-shirt yang cantik, aku juga dapat. Kita dua sudah tak dibedakannya. Aku takut mengecewakan beliau.” Tigor buka bajunya, diambilnya celana pendek Mikail dan dinyalakannya rokok untuk kesekian kalinya. Lantas keduanya terdiam. Sebuah persoalan besar mendominasi pikiran mereka.
Biasanya mereka menghabiskan malam bersama suara tape yang tiada henti. Tapi malam ini situasi diskusi cukup serius, seolah musik tidak boleh terdengar. “Okelah..Gor, aku tidur duluan.” Mikail peluk bantal guling dan melapis tubuhnya dengan selimut tipis membiarkan Tigor berbaring dengan isapan rokok kretek. Rokok para dukun kata kawan-kawan mereka.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 8

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Sekali Lagi: Menulis Opini, Dapat Pulsa!

RetakanKata – Mengingat jangka waktu ‘Menulis Opini Dapat Pulsa‘ sebelumnya sangat pendek (hanya 3 hari), saya memaklumi kesulitan rekan-rekan RetakanKata dalam membuat tulisan. Untuk menebus ‘dosa’ tersebut, maka sekali lagi RetakanKata menyelenggarakan sayembara menulis opini dapat pulsa lagi. Hadiah tetap sama, yaitu tulisan pertama terbaik mendapat pulsa Rp 100.000,- dan dua tulisan terbaik berikutnya mendapat pulsa Rp 50.000,- Jadi jangan sampai lupa mencantumkan nomor hape ya!
Ketentuan sayembara sebagai berikut:

  • Tema: ABORSI
  • Panjang tulisan: minimal 1 lembar A4, dengan huruf Times New Roman, spasi 1,5, margin 3 atas, 3 kiri, 2,5 kanan dan 2,5 bawah. Maksimal 2 lembar A4.
  • Menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD
  • Jika ada referensi, kutipan dan daftar pustaka, maka harus mencantumkan sumber-sumbernya. Sumber referensi tidak boleh mengambil dari wikipedia.
  • Batas waktu kirim artikel 3 Juni 2012 pukul 00.00 WIB
  • Cantumkan identitas pengirim secukupnya dan mudah dihubungi.
  • Pemenang adalah yang artikelnya dimuat pada minggu berikutnya (tanggal 10 Juni 2012)

Kami tunggu karya-karyamu!

Sekali Lagi Mempertanyakan Sikap Pemerintah Terkait Kekerasan Atas Nama Agama

Gerundelan Ragil Koentjorodjati
merpati lambang perdamaian
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Jauh hari sebelum tahun 2012, sudah banyak pihak mempertanyakan sikap pemerintah terkait dengan kekerasan atas nama agama. Anda bisa mengunakan alat pencari google untuk menemukan berbagai pendapat dan pandangan para tokoh, mulai dari akademisi seperti Anies Baswedan, Benny Susetyo, Magniz Suseno, tokoh-tokoh mahasiswa, dan berbagai organisasi LSM. Intinya sama, mempertanyakan sikap pemerintah terkait kekerasan atas nama agama. Puncaknya –jika boleh disebut demikian- pada bulan Mei 2011 Komisioner PBB untuk Hak-hak Asasi Manusia, Navanethem Pillay, menyurati pemerintah Indonesia, menyatakan keprihatinan mereka terhadap peningkatan jumlah laporan mengenai kekerasan terhadap kelompok keagamaan minoritas di Indonesia. Surat keprihatinan terhadap kekerasan atas nama agama dan sekaligus keprihatinan terhadap respons pemerintah yang dinilai kurang memadai. Dan kita tahu, sampai hari ini, tidak ada perkembangan signifikan menuju ke arah yang lebih punya harapan. Kekerasan masih terus berlanjut bahkan cenderung meningkat. Dari laporan media massa, sudah lebih dari 65 kasus kekerasan dalam waktu setahun terakhir, belum ditambah dengan kekerasan yang tidak terpublikasi media.

Tirani Minoritas.

Ada satu pemikiran yang berkembang bahwa kekerasan terjadi karena provokasi dari minoritas. Dalam konteks negara demokrasi, tirani minoritas tidak diijinkan terjadi. Demokrasi ala ‘suara rakyat suara Tuhan’ merujuk pada suara terbanyak untuk mengambil sebuah tindakan pada level pragmatis kemasyarakatan. Dengan menggunakan label agama mayoritas, maka pemahaman makna ‘minoritas’ terbatasi pada terminologi ‘bukan islam’. Pada titik ini, ada banyak pertanyaan yang timbul karena pemikiran tersebut menuntun pada arah yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris.
Berdasarkan data BPS tahun 2010, dari jumlah penduduk sebanyak 237, 6 juta jiwa, sebanyak 207,2 juta jiwa (87,18 persen) mengaku beragama Islam, 16,5 juta jiwa (6,96 persen) beragama Kristen, 6,9 juta jiwa menganut agama Katolik (2,91 persen), 4 juta penganut agama Hindu (1,69 persen), 1,7 juta penganut Buddha (0,72 persen), 0,11 juta penganut Konghucu (0,05 persen), dan agama lainnya 0,13 persen.
Sumber data lain menunjukkan bahwa sebagian besar Muslim adalah Suni. Dua organisasi massa Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, diperkirakan mempunyai lebih dari 40 juta dan 30 juta pengikut Suni. Sekitar satu juta hingga tiga juta adalah Muslim Syiah. Dalam jumlah yang lebih kecil lagi mencakupi al-Qiyadah al-Islamiya, Darul Arqam, Jamaah Salamullah, dan pengikut Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII). Dalam skala yang lebih kecil, Ahmadiyah –yang mana status keislamannya masih dipersoalkan beberapa pihak- memiliki anggota sekitar 400.000. Ahmadiyah ini terdiri dari dua kelompok yaitu Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore.
Agama lain, agama yang belum diakui pemerintah sebagai agama resmi, mencakupi berbagai agama asli suku-suku di Indonesia dan lebih dari 200 aliran kepercayaan di seluruh penjuru nusantara, diperkirakan memiliki lebih dari 300.000 pengikut.
Jika mengacu pada model demokrasi ‘suara rakyat suara Tuhan’ dengan jumlah suara mayoritas sebagai acuan kebijakan, maka jumlah suara yang menginginkan kebebasan beragama tanpa kekerasan, secara statistik jauh lebih banyak dari aliran minoritas yang memaksakan kehendaknya. Sebab sikap aliran minoritas yang melakukan penyegelan gereja, menurunkan patung Budha dan melakukan tindakan anarkis berlabel agama di berbagai tempat, bukan representasi valid sikap mayoritas Islam secara keseluruhan. Logika tirani minoritas yang selama ini diarahkan pada penganut agama selain Islam, pada kenyataannya berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di lapangan.

Pemerintah, Negara dan Agama.

Secara singkat, hubungan negara dan agama dipedomani sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan mengatakan bahwa cantuman ini klise dan sudah kuno, sebab pada kenyataannya sila itulah yang ada di Pembukaan UUD’45. Sila itulah yang memberi pedoman bahwa Indonesia bukan negara agama. Sila itulah yang memberi pedoman pada pemegang kekuasaan bahwa semua agama dan aliran kepercayaan berhak menjadi anak kandung bangsa Indonesia. Secara sederhana, Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna spiritualitas –kualitas hidup batin yang merujuk pada keyakinan akan Tuhan dan kemanusian- adalah nomor satu bagi seluruh penghuni rumah bernama Republik Indonesia, apapun jalan yang ditempuh menuju spiritualitas itu.
Merujuk pada pemahaman di atas, fungsi pemerintah adalah mengeksekusi tataran ide tersebut sehingga menjadi sesuatu yang konkrit di masyarakat dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Akuan pemerintah atas keenam agama resmi, absennya pemerintah dalam berbagai tindak kekerasan atas nama agama dan penguasaan atas akses-akses beragama atau akses menuju manusia Indonesia berspiritual, adalah bukti-bukti nyata kegagalan memahami makna sila pertama Pancasila oleh seluruh komponen pemerintah, terutama aparat penegak hukum dan aparat Kementerian Agama. Mengapa dua entitas ini? Sebab dua entitas inilah yang berinteraksi langsung dengan segala persoalan keagamaan di tataran masyarakat. Mereka gagal memisahkan antara kepentingan pribadi, agama dan negara. Gagal memedomani Pancasila sebagai cara pandang bangsa Indonesia. Gagal memahami agama yang dianutnya dalam konteks keberagaman kehidupan berspiritual di Indonsia.
Dampak dari berbagai kegagalan tersebut, tidak saja mewujud pada ketidakpedulian atas konflik yang terjadi di masyarakat, tetapi juga malah mengekploitasi konflik demi konflik untuk kepentingan pribadinya. Agama dijadikan kendaraan untuk memenuhi berbagai ambisi pribadinya.

Lantas Bagaimana?

Sudah jamak dipahami bahwa beragama adalah salah satu jalan menjadi manusia spiritual. Mayoritas warga bangsa menginginkan semangat hidup bersama dalam damai dan tolong menolong. Standar minimal yang harus diterapkan pada aparat pemerintah adalah tidak membiarkan berbagai kekerasan dan konflik bernuansa agama terus terjadi. Aparat pemerintah minimal memahami tugas pokok dan fungsinya menyelenggarakan kepemerintahan yang sehat dan transparan. Transparan dalam arti keterbukaan terhadap segala akses bagi warga bangsa untuk memperoleh hak-haknya. Sehat dalam arti tahu diri sebagai orang yang digaji oleh para pembayar pajak yang mana kontribusi nominalnya didominasi orang tidak beragama Islam. Sehat berarti juga mampu menempatkan diri sebagai anggota masyarakat majemuk dengan atribut keagamaannya dalam wadah warga bangsa sebagaimana kutipan ‘Islam 100% dan Indonesia 100%’. Tentu saja tidak hanya Islam, tetapi juga aparat-aparat yang beragama lain.
Pada tataran ideal, tentu kita harus bersepakat kekerasan -atas nama apapun- tidak pernah menyelesaikan persoalan. Untuk itu, mengembalikan Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara adalah mutlak. Dengan memedomani Pancasila, negara mengakui semua agama memiliki hak hidup yang sama sekaligus memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk mencapai kehidupan spiritualitasnya masing-masing. Oleh sebab itu, pemerintah tidak bisa membuat aturan main sendiri yang bertentangan dengan Pancasila. Apapun agama atau kepercayaannya, hak-hak sipil harus dipenuhi, tanpa meninggalkan koridor apa yang kita sebut sebagai tindak pidana.

Data dihimpun dari berbagai sumber.

Siapa Namamu?

Puisi Karen Kamal*

cinta buta
gambar diunduh dari x1a.xanga.com

Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Kita lupa kapan pertama kali bertemu
Tapi kita tak terpisahkan
Layaknya detik mengikuti menit, menit mengikuti jam
Kau berdiri menghadap si pencatat waktu saat rindu menerjang,
agar bayangan tetap memanjang
Lelah dan air bening di kening jatuh berlomba-lomba pada pipi seperti air mata
Dalam waktu 3 bulan kau bentuk hati dalam rongga dada yang sudah retak
Menghidupkan kembali bayangan berbadan manusia hingga mengisi jarak di antara jari-jarimu
membalas senyumanmu seperti sedang bercermin
selalu menciummu seperti kesetanan
Bayangan selalu menggerutu dan mengumpat pada naskah-naskah tak berjudul yang menggerogotinya
Mereka tak bedanya belatung pemakan mayat busuk
Kau diam dan mendengar — tak pernah marah
Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Sekali-kali ucapkan namamu dengan lantang karena semua bayangan punya tuan yang bernama
Ia juga akan setia pada tuannya

Karen Kamal: seorang pelajar yang sedang bergelut dalam industri start-up. Menghabiskan hari-hari dengan pergi ke kampus, les, dan browsing sambil ditemani secangkir kopi. Kontak: hello@karenkamal.com

Gejolak Waktu yang Rapuh

Gerundelan Matroni el-Moezany*

fakir cinta
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Aku ingin bersikap seperti tuhan, tapi itu sebuah perjalanan yang belum engkau sudahi, tapi engkau sudah tahu jalannya tinggal engkau mencari siapa dirimu.

Malam yang kutunggu hanya sebuah ilusi yang tak akan pernah ada dalam keadaan ini. Walau pun sesuatu tidak akan ada dari ketiadaan. Mungkinkah yang tidak itu ada? Ini hanya sebuah teori yang tidak bisa sampai pada titik puncak yang akan dicapai oleh para penghasil teori maupun para filosof.
Dalam dunia, kita akan menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada menjadi orang yang hanya berwaktu dalam diri (sok-sokan). Tapi mungkinkah sok-sokan itu menjadi waktu yang setia dalam jiwa dan perjalanan rohanimu? Inilah yang pantas menjadi Tanya dan Tanya dalam jiwa. Sehingga langkah awal untuk mencapai itu semua tiada lain hanyalah perjalanan, baik perjalanan dalam diri maupun perjalanan dalam pikiran, dan perjalanan dalam kesunyian.
Dalam kesunyian ini, kita tidak akan menemukan sesuatu yang menyakitkan, karena dalan sunyi yang ada hanyalah kesendirian dari kita. Seketika itu sebuah kata itu akan lahir sebagai tanda percakapan yang senantiasa menggugah rasa di jiwa. Walau itu membuat Tuhan mati itu tidak masalah yang paling penting dalam dirimu ada “aku” yang seutuhnya. Dan menjadi “Aku” yang benar-banar Aku dalam dirimu sendiri.
Semangat zaman (zitsim libern) itu yang membuat Tuhan mati, tapi dalam jiwa ini apakah Tuhan dapat mati kalau kita terus mengaliri kata-kata sejuk yang menyirami kegsersangan pasir itu?. Inilah sebuah fenomena yang saat ini tidak banyak orang menyelami, lalu apakah dengan itu kita semua bisa mencapai ketakterbatasan? Kita hanya bisa bertanya tentang apa, bagaimana, di mana, kapan, siapa, dengan apa.
Dalam sebuah ketika yang kadang kita tidak merasa bahwa kita berada dalam kegelapan. Kegelapan apa yang disebut dengan kematian. Kematian dalam diri maupun kematian dalam dunia serta kematian dalam kata-kata. Semangat waktu tidak akan menjadikan kita berbuat apa-apa selama kita belum bisa menggali sebuah ketika tersebut. Sebuah ketika di mana kita bisa mencipta kata-kata. Kata-kata yang memang sudang tidak lagi ingin lepas keluar dari jiwa dan tubuhmu.
Sebab waktu karena engkau, maka dari itu jangan kau pernah memaki waktu itu karena engkaulah waktu itu yang senantiasa menjaga dari sebuah kegelapan itu. Jadi tidak salah kalau kita berdoa untuk waktu. Waktu, kata dan kau adalah segitiga dalam ruang yang hampa, dengan demikian agar tidak terjadi kehampaan doaakan dan sirami ia dengan kata-kata yang sebisa mungkin dapat membanjiri semesta. Tidaklah kau kira jalan yang kita langkahi itu sebuah ayat-ayat Tuhan yang tak pernah kita baca untuk dihaturkan pada matahari dan bulan.
Apakah kita pernah berpikir untuk mencipta ayat-ayat tuhan walau kita merupakan manusia. Apakah bisa? Bisa! Kita jalani kegelapan yang panjang di depanmu itu. Sampai kita menemukan nilai-nilai langkah yang kita injak untuk mencapai nir-wana dan nir-nilai. Siapa sangka kobaran yang sederhana dapat membanjiri semesta. Artinya bagaimana kita melihat sesuatu yang paling terkecil, sebab sesuatu yang kecil akan bisa dan selalu masuk untuk apa saja. Laksana bawang. Mungkinkah? Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Kalau kita berjalan melintasi gejolak kata yang senantiasa ingin berubah untuk mencari sesuatu yang lain. Apakah sesuatu yang lain itu?
Kita akan tahu sendiri itu semua. Selama kita terus mencari dan me-rasa setiap gejolak secuil kata-kata yang timbul dari jiwa dan tubuhmu. Dan menatap indahnya semesta yang lain. Adakah? Ada! Dimana itu? Ia berada pada setiap jiwa dan tubuhmu sendiri selama kita senantiasa me-rasa. Karena rasa adalah kata-kata yang tak terkata.
Terdiam kita terlena karena kita belum bisa meracik apa itu waktu dan kata. Hanya kata yang bisa merapuhkan jiwa dan akhirnya kita lupa bahwa semua itu ada dalam jiwamu. Dan kita retak kala tidak bisa meramunya. Betapa sungguh kasihan sekali kita. Hanya meracik satu kata tidak bisa. Apalagi meracik kata-kata yang ada di semesta ini. Saya yakin bila satu sesuatu tidak bisa dijaga untuk dijadikan bahan waktu yang sangat panjang itu akan seperti jiwa, tubuh dan Indonesia yang rapuh saat ini.
Suatu yang tidak mungkin kalau kita merana dalam kata-kata, karena kata-kata itu merana itu sendiri. Artinya selagi kita bisa meracik dan meramu kata-kata tersebut kita tidak akan mengalami yang namanya MERANA, yang ada hanyalah kesunyian. Kesunyian yang memang sepi dari derita, merana, gelau, dan tangisan-tangisan. Kalau kita bisa memasuki ruang ini kita akan selalu bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Apakah kita mau kebahagian seperti itu? Saya kira setiap kita pasti ingin kebahagiaan.
Apakah kita tahu dalam samudera ada hutan yang tidak banyak orang tahu, mungkin akal tidak akan menerima hal itu, karena yang ada di kedalaman samudera adalah karang dan dasar lautan. Lalu mengapa kau mengatakan di samudera ada hutan. Apakah kau tahu setiap makhluk itu bernyawa dan bertasbih? Kalau kau sudah tahu kau tidak perlu bertanya tentang hal itu. Yang penting kau mencari dan merasakan hal-hal yang paling terdekat di dalam jiwamu dan itu lebih penting daripada kita hanya berpikir sesuatu yang tidak berharga dan bermain dengan keterbatasan. Dengan adanya keterbatasan itu kita akan diam dan diam. Tempat paling tepat dalam hal ini adalah KESUNYIAN.
Saat kau pergi untuk mencari tempat itu. Kau akan menemukan apa arti air mata yang sebenarnya. Apa itu “aku” sebagai “aku” yang seutuhnya dalam dirimu. Kita boleh menangis dengan adanya perpisahan. Kita boleh menangis karena ditinggal kekasih. Kita boleh menangis karena kecewa. Kita boleh menangis karena kekasih diambil orang lain. Tapi apakah kita perlu menangis dalam kesunyian? Inilah pertanyaan yang harus kita renungkan dan dijadikan upaya untuk menghadirkan sesuatu yang menciptakan tangis itu sendiri.
Kalau Nietzsche mengatakan Tuhan telah mati tapi kita tidak. Sebab Nietzsche bilang seperti itu karena dia masih dalam tahap perncarian dalam kesunyian itu. Di mana dalam pencarian kita tidak akan lepas dari apa yang namanya riyadhah (proses). Kita boleh terbuai dengan fisik, tapi akan lebih baik kita terbuai dengan keindahan yang ada dalam Sunyi dan Sebuah Tanya di Ladang Sunyi serta yang ada dalam dirimu sendiri.
Sebab, dalam Sebuah Tanya kita senantiasa berpikir dan bertanya dalam kesunyian itu di mana langkah awal untuk memasuki ruang sunyi adalah kita harus melihat dan merasa apa yang kita lihat. Sebab apa yang akan kita lihat saja itu belum tentu benar, kita hidup sering bahkan selalu tertipu dengan adanya dunia ini. Mengapa? Karena Tuhan sendiri sudah mengatakan dalam kitab sucinya bahwa kehidupan ini hanya senda gurau. Jadi apa pun yang kita lihat walaupun benar adanya itu belum benar sejatinya. Kejujuran bukanlah kebenaran. Ia hanya kata dalam kata-kata itu sendiri. Artinya kita hanya melihat dari fisiknya saja. Siapa yang tidak melihat matahari ketika terbit di ufuk timur, tentunya kita semua bisa melihatnya, tapi apakah kita melihat sejatinya atau substansi dari matahari tersebut. Adakah kata-kata yang tidak terkata. Tidak ada. Semua kata pastilah terkata walau itu tidak tertuang melalui lisan atau kertas. Kita hanya bisa mencipta kata dalam lubang yang tidak kita sadari bahwa ia adalah sumber segala bencana dalam di diri, dunia, dan nanti.
Jadi wajar kalau kita akan merasa senang dan bahagia dalam kesunyian dan kesepian itu, karena hal itu merupakan suatu hal yang sangat vital dalam perjalanan hidup kita dan seseorang. Dalam varian ini kita hanya tinggal berjalan dan terus memasuki lorong panjang di depan kita, tapi tidak semudah itu kita melangkah memasuki waktu yang tak berwaktu dalam diri dan jiwa. Kita terus mencari hingga tidak mengenal batas waktu dan kematian, bila sebuah ketika tidak ada dalam hidupmu. Mungkinkah kita berjalan tanpa waktu? Sangat mustahil kalau kita berjalan tanpa waktu dan ruang.
Oleh karenanya, boleh kalau kita mengusung kata-kata untuk dijadikan lahan pertanyaan dalam perjalanan hidup yang tidak menentu ini. Kalau kita merasa ada yang kurang dari dirimu carilah apa kira-kira yang dari dirimu. Dengan begitu kita mengerti apa sebenarnya jiwa dan dunia ini. Sebab tidak selamanya kita merana dalam kata-kata yang sulit untuk dilemparkan pada semesta, karena semesta sudah merasa tersakiti oleh kita. Dengan menggali perut dan isi semua kebahagiaannya. Seperti juga kita kalau kita ditusuk perut dengan jarum atau dengan pisau apakah tidak merasakan hal yang sama dengan sakit yang dirasakan oleh semesta.
Kita hanya bisa mengais-ngais semesta, tapi kita tidak menjaga kelestarian alam. Apakah kita mendengar kata burung bahwa aku makan tapi aku tetap menjaga kelestarian alam inilah kata burung. Hewan masih merasa kalau ia tetap setia dan sangat mencintai semesta ini, tapi kita, tidak. Alangkah naifnya kita kalau sampai kita kalah dengan perasaan hewan. Padahal kita mengira bahwa hewan yang kau kurung adalah hewan yang tidak mempunyai perasaan, katamu. Kita salah dalam mengambil kebijakan dalam setaip langkah. Hewan pun hati-hati dalam segala hal, tapi mengapa dengan kita. Apakah kita tidak memiliki cinta? Tidak! Aku punya cinta.
Lalu cinta dalam hal ini sangat berperan untuk dijadikan bahan renungan dan suatu jembatan yang sangar berarti dalam perjalanan sebuah semesta dan sejarah. Mungkin kita mengira bahkan ini sudah menjadi tradisi bahwa karena dengan adanya Cinta kita merasa tersakiti, bagitu kata orang-orang yang sedang suka pada seseorang. Aku sakit karena cinta, padahal kalau kita merasa dan berfikir tidak ada yang namanya cinta itu menyakitkan, tidak ada. Sebab kata Kahlil Gibran cinta berasal dari cahaya, menuju cahaya. Jadi dalam hal ini cinta laksana sebuah kesejukan. Kesejukan yang membuat seseorang bisa tenang dan damai di dunia maupun di alam yang akan datang nanti.
Cinta bagi saya adalah sebuah embun yang bisa menyejukkan segala bunga-bunga pagi dan bunga senja. Sebab dengan cinta semesta tercipta, dengan cinta manusia bisa hidup, dengan cinta kita menerima shalat dari lima puluh menjadi lima dalam sehari semalam. Berangkat dari sinilah bahwa cinta selamanya tidak bisa kau anggap selalu menjadi penyakit, karena kalau kita menganggap yang membuat orang sakit hati karena cinta, maka orang tidak bisa dijadikan bahan referensi yang cocok dalam kehidupan dunia ini. Karena selama cinta masih ada dunia ini tidak akan hancur. Cintalah yang membuat semesta ini menjadi tegak, hewan hidup, bunga-bunga bermekaran selamanya. Apakah kau masih mengira dan menyangka bahwa yang membuat orang sakit hati gara-gara cinta?
Kalau kamu masih menganggap cinta yang membuat seseorang sakit hati, maka berfikirlah dan pakailah akalmu agar hidupmu tidak sia-sia. Apakah hubungannya dengan musibah yang melanda bangsa kita? Pasti ada! Di mana? Di kala kau tidak merasa nyaman dengan hadirnya cinta maka di situlah kau merasakan bahwa bencana sudah melanda bangsa kita saat ini. Sebab dengan adanya rasa cinta, air tidak akan menjebol, lautan tidak akan naik mengisi rumah-rumah kita, banjir tidak akan melanda desa kita, ini semua disebabkan karena tidak adanya rasa cinta kita terhadap lingkungan, alam, hewan dan makhluk-makhluk lain yang ada di sekitar kita, kita tidak merasa bahwa itu semua yang membuat bencana melanda kita semua.
Sebab cinta, dunia ada, sebab cinta air mata tidak jatuh berlinang, sebab cinta tiada lagi kesakitan, tapi sebab cinta airmata mengalir karena rindu, pada sesuatu yang tak berwaktu. Adakah sesuatu yang masih sakit karena cinta?. Tidak ada. Karena cinta dicipta tidak untuk menyakiti seseorang. Ia dicipta hanya untuk menyejukkan segala tatanan kehidupan baik di sekarang maupun nanti. Jadi tiada lagi kesakitan yang melanda ruang-ruang itu, karena cinta telah mengisi semua ruang yang ada dalam jiwa dan semesta ini. Karena cinta bagi saya adalah sebuah kesunyian yang tidak ada lagi sesuatu yang membuat orang menjadi sakit, karena dalam kesunyian yang ada hanyalah kekosongan abadi dan seutuhnya. Kita akan merasakan kesejukan cinta kalau kita memasuki dunia cinta yang ada dalam kesunyian tersebut. Dunia Kesunyian adalah dunia aman, sejuk, damai, dan kebahagiaan selamanya. Dunia di mana kita bisa bermesraan dengan cinta itu sendiri. Cinta yang bisa membuat semua orang merasa kaya, merasa cukup dari segala yang nyata.
Cinta ini antara lain mengajukan semerbak harum rerumputan terhadap berbagai macam bunga yang hadir di belakang cinta dan matahari serta bertanggungjawab terhadap arah semesta dengan segala silaunya. Dengan senyum ganda cinta melihat matahari pada jiwa yang berkembang pun berani membawa nilai-nilai akibat dari akan terjadinya masa yang disebut dengan kegelapan (hampa cinta).
Mungkinkah sebuah risau hilang dengan sendirinya, tanpa ada dorongan rasa dan keinginan? Pada sebuah ketika di mana manusia tidak lagi mengenapa apa itu kata-kata, apa itu cinta. Manusia ini akan kehilangan sebuah makna yang ada dalam dirinya. Apakah mungkin sebuah makna yang sudah ada dalam dirinya bisa hilang? Tentunya sangat bisa, karena setiap kita selalu merasa kurang dalam apa pun. Di dunia adakah orang mengatakan bahwa dirinya cukup? Hanya sedikit orang yang bisa merasa bahwa dirinya sudah merasa cukup dalam hal apapun terutama hal yang menyangkut masalah keduniaan.
Masih adakah saat ini orang yang sadar bahwa dirinya adalah korban dari semua virus yang masuk dalam tubuh kita? Juga sedikit orang yang merasa bahwa dirinya adalah korban dari semua peradaban yang masih belum matanng alias mentah, dan biasanya diambil secara mentah-mentah oleh yang tidak sadar bahwa dirinya berjalan di atas hasil orang-orang yang tidak kita kenal identitasnya. Dengan melihat realitas tersebut, maka Jalaluddin Rumi dalam puisinya menyeru kita untuk merenungkan apa itu cinta yang sebenarnya:

Kehidupan tanpa cinta tiada artinya
Cinta adalah air kehidupan-reguklah ia dengan
Hati dan jiwa

Manusia yang jauh dari perangkat cinta
Adalah burung tanpa sayap

Setiap waktu yang berlalu tanpa cinta
Akan menjelma wajah yang memalukan di
Hadapan Tuhan

Pilihlah cinta, cinta!
Tanpa manisnya cinta, hidup akan beban
Seperti apa yang telah kau ketahui

Jadi dorongan cinta dalam diri seseorang tidak
Menggetarkannya,
Jadilah ia Plato, ia tak ada bedanya dengan
Seekor keledai

Jika kau bukan seorang pecinta
Jangan pandang hidupmu adalah hidup
Karena pada hari perhitungan, ia tidak akan dihitung

Seperti juga Erich Fromm yang mengingatkan sebelumnya, bahwa cinta yang produktif berbeda dari apa yang disebut cinta. Pasalnya dalam pengertian umum yang dikenal selama ini, cinta cenderung dipahami secara salah kaprah sebatas hanya persoalan asmara romantis dan remeh-temeh gaya hidup budaya hedonis yang membingungkan dan bahkan absurd. Cinta adalah hubungan kita yang bebas dan sederajat di mana setiap orang berpasang-pasangan dapat mempertahankan individulitas kita. Artinya perasaan relasional tercapai tanpa harus mengorbankan identitas dan kemerdekaan seseorang tetap terpelihara dan cinta yang mengandung perhatian, tanggungjawab, respek, dan pengetahuan.
Pada tanggal 22 Juni 2009 aku dikecewakan dengan kata-kata “engkau suka padaku gara-gara aku memiliki banyak uang” itulah kata-kata yang sangat sederhanya tapi merupakan kekecewaan aku dan orang tuaku, karena orang tuaku tidak bisa mengirim aku untuk membiayai kuliah dan kehidupan aku saat kuliah. Memang kata-kata sederhananya tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap siapapun, tapi bagiku itu merupakan pukulan yang luar biasa yang patut aku jadikan perjalanan selama aku masih tidak memiliki identitas.
Pada tanggal itu dan di waktu siang aku menuliskan puisi yang berjudul:

Aku Baru Mengerti

Aku baru mengerti sikap wajahmu pada semesta
Ketika diri ini tak memiliki rasa kemewaktuan
Pada batu yang keras, tapi dia berkata seperti matahari

Mengingat kenyerian hari-hari yang jauh
Ternyata buku suram terbuka dengan sendirinya
Tanpa aku harus memaksa merobek dari bibirnya

Senyerian bukanlah apa-apa, tapi
Kedirian yang terbuat ibu menjadi sakit,
Karena buku-buku suram terbuka rapi pada malam

Entah bagaimana aku membersihkan lagi hingga putih tanpa tinta
Padahal keterjatuhan waktu sudah menjadi sejarah

Pagi yang cerah setelah semalaman aku membaca buku-buku itu
Ternyata aku tak bisa menguraikan kecuali hanya nyeri yang ada
Aku gantikan sebagai kata ganti yang tak sempurna
Agar kenyerian waktu yang terlupakan “Tertulis dalam jiwa”

Yogyakarta, 22 Juni 2009

Begitulah sebuah puisi yang aku tulis ketika mataku tak bisa redup dan lelap untuk istirahat siang. Tapi itu semua merupakan sebuah anugerah yang sangat luar biasa karena masih ada orang yang mengingatkan aku untuk tahu diri dalam menjalani hidup tanpa apa-apa.
Memang hidup harus dijadikan jembatan dalam menyikapi dirinya dan orang lain. Karena hidup merupakan sebuah gangguan yang tak pernah akan selesai. Mulai dari mengenal tuhan, sampai tidak mengenal tuhan dan kembali mengenal tuhan. Tapi tidak bagiku, tuhan adalah kehausan jiwaku ketika kenyerian menjadi-jadi dalam diri. Aku ingin bersikap seperti tuhan, tapi itu sebuah perjalanan yang belum engkau sudahi, tapi engkau sudah tahu jalannya tinggal engkau mencari siapa dirimu.

* Penyair, kelahiran di desa Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura. Aktif menulis di banyak media. Buku antologi bersamanya adalah “Puisi Menolak Lupa” (2010) “Madzhab Kutub” (2010) Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 Dewan Kesenian Jatim. Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja (2011) kini tinggal di Yogyakarta.

Menulis Opini Dapat Pulsa, Mau?

RetakanKata – Fenomena SEKS PRANIKAH, siapa yang tidak tahu itu? Sebuah fenomena ‘kewajaran’ yang menimbulkan persoalan baru terutama bagi kaum muda perempuan. Kewajaran dalam tanda kutip yang berarti bahwa secara umum seks pranikah dianggap tabu namun pada kenyataannya telah dilakukan banyak orang sehingga menjadi sebuah rahasia umum. Beberapa penelitian yang telah dibukukan menunjukkan fenomena tersebut.
Fenomena tersebut bisa jadi memunculkan persoalan baru terutama bagi pihak perempuan, yaitu luka dalam arti sesungguhnya dan dalam arti psikologis. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah: bagaimana pemikiran kamu, sebagai kaum muda, untuk menyembuhkan ‘luka’ akibat seks pranikah pada perempuan yang terlanjur menyerahkan kehormatannya kepada lelaki yang ternyata tidak menjadi suaminya.
Anggaplah salah satu temanmu curhat masalah yang dihadapinya yang intinya sudah terlanjur melakukan seks pranikah tetapi ditinggalkan pasangan lelakinya. Tulis pendapatmu dalam bentuk opini, dengan titik fokus pada pemecahan masalah (BUKAN MEMPERSOALKAN SEKS PRANIKAH ITU TABU ATAU TIDAK). Tidak ada batasan jumlah lembar dan kata. Kirim opinimu ke RetakanKata melalui menu ‘kirim naskah’ atau lewat email retakankata@gmail.com paling lambat (deadline) hari Minggu tanggal 13 Mei 2012 pukul 00.00. Cantumkan identitas pengirim dengan jelas.
Artikel terbaik pertama sampai ketiga akan dimuat pada minggu berikutnya dan mendapat pulsa sebesar:
Rp 100.000,- untuk artikel pertama terbaik.
Rp 50.000, untuk artikel kedua dan ketiga terbaik.

Ditunggu pemikiranmu!

Karena Setiap Kata Punya Makna