Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Antara Konsistensi Prinsip dan Goda Politik

Arif Saifudin YudistiraResensi Arif Saifudin Yudistira

Aku mencintai bahasa. Aku mencintainya karena perannya terhadap kehidupan kita, bagaimana bahasa menyediakan kita cara untuk mendedakan luka, keagungan nuansa dan kehalusan eksistensi kita (Maya Angelou)

Pram, begitulah kita mengenal sastrawan yang mencintai bahasa dan menggunakan bahasanya untuk berbuat. Pram barangkali adalah sastrawan yang tak hanya kritis tapi juga konsisten dengan apa yang disuarakan. Perjalanan karir dan hidupnya seperti lika-liku yang tak habis untuk dibaca. Di balik kebesaran dan nama Pram, kita mengenal sosok Pram yang lain, Pram dikenal sebagai sosok yang keras, tegas dan juga sangat kritis terhadap para pengkritiknya. Dunia sastra Indonesia seperti tak seimbang menempatkan posisi Pram di samping para sastrawan yang lain. Pram adalah luka, karena keberpihakannya pada PKI yang dinilai Pram sebagai partai paling konsisten terhadap revolusi. Pram pun mengalami nasib naasnya setelah peristiwa 65 dengan menanggung resiko karyanya dihanguskan dan dibuang di pulau buru. Tapi di sanalah Pram justru menciptakan kuartet pulau buru di tahun 1975 meski sudah dilisankan di tahun 1972.
pramoedya ananta toerKarya-karyanya erat dengan kehidupannya, ia seperti meniupkan nyawa dalam karyanya, hingga karya itu secara tak sadar adalah suara jiwanya. Meski demikian, ia menganggap karya sastra tetap tidak bisa dikontrol oleh sang pencipta itu sendiri. Ia adalah anak dan buah pikiran dari penulis yang terbuka terhadap kritik dan interpretasi pembaca. Di awal kepengarangannya, ia kerap diserang oleh para kritikusnya yakni balfas desember 1956 novel perburuan dinilai tidak terstruktur, akhir kisahnya dibuat-buat dan tokoh-tokohnya tidak meyakinkan. Pram pun akhirnya naik pitam dan menanggapi dengan cara yang emosional. Kritik ini dilancarkan setelah Pram dan teman-temannya mempelopori gelanggang seniman merdeka tahun 1947. Tahun 1950 ia ikut menandatangani “surat kepertjayaan gelanggang” 18 Februari 1950. Pramudya ikut menyepakati konsepsi “humanisme universal” yakni istilah yang dipopulerkan oleh HB.Jassin yang menandai angkatan 45. Buku karya Savitri Scherer ini membantu kita memahami mengapa dan bagaimana Pramudya bisa ikut luruh dalam peristiwa perdebatan dan polemik sastra yang semula ia ikut dalam “gelanggang seniman merdeka” hingga akhirnya ia pun tidak sepakat dan melepaskan diri dari kelompok gelanggang, ketika ia bergabung dengan lekra, ia pun mulai simpatik terhadap PKI dan juga terlibat dalam polemik sastra yang menyerang para generasi baru gelanggang dalam manifes kebudayaan 1963.
Goda Politik
Faktor-faktor yang menyebabkan Pram meninggalkan gelanggang dan akhirnya memutuskan hubungan dengan HB Jassin tidak semata persoalan politik semata, tapi juga karena Pramudya merasa dikhianati oleh prinsip-prinsip yang dinilainya tak sesuai dengan yang diajarkan Jassin kala ia mencetuskan “humanisme universal”. Pram menilai, Jassin dan para pengikutnya tak konsisten dan hanya “klenengan” dan tak mempedulikan rakyat sebagai aspek yang penting dalam karya sastra. Pram pun kecewa dengan sikap gurunya yang kemudian tak peduli ketika ia dipenjara karena menulis Hoa kiau di Indonesia (1960).
Buku ini mengurai dengan jelas mengapa Pramudya bergeser pada ideologi kiri dan memihak PKI. Meski ini berakibat dengan tuduhan ia adalah anggota PKI. Melalui lekra itulah ia bersuara dan menyuarakan prinsip-prinsipnya. Ia sadar betul, ide-ide awalnya bermula dari kritik para seniman dan kritikus lekra termasuk A.S Dharta yang membukakan matanya terhadap kenyataan-kenyataan sosial dan akan pentingnya arti rakyat dalam kesenian dan kesusasteraan. Ia pun tak mampu menahan goda politik yang waktu itu menjadi prinsip PKI bahwa politik adalah panglima, yang sebelumnya menggunakan demokrasi rakyat.
Melalui 10 bab dalam buku ini kita diajak tak hanya menelusuri karya Pramudya, riwayat kepenulisannya, tapi juga lika-liku politik dan kehidupan yang dijalani Pramudya sebagai penulis. Buku ini diawali dengan pendekatan kritis yang menganalisis terhadap perkembangan sastra Indonesia, kemudian menjelaskan kehidupan singkat Pramudya, bab berikutnya membahas tentang polemik sastra dan diikuti dengan pembahasan karya-karya Pramudya dan kontroversi karir Pram antara tahun 63-65. Menurut Savitri, Pramudya adalah penulis yang berdiri di tengah masyarakatnya dan bagian hakiki darinya, meminjam Teuw, Pram adalah “novelis yang tidak hanya mewakili Indonesia, melainkan juga seorang sastrawan yang mewakili kawasan Asia”.
Buku ini juga mendudukkan posisi Pram yang larut dalam posisi yang dilema antara berpihak pada corong partai atau tetap konsisten dengan karyanya yang dicipta. Ia menulis novel “Sekali Peristiwa di Banten” yang mencerminkan sikap Pramudya yang harmonis terhadap borjuasi nasional dan kekuatan angkatan bersenjata. Secara teoritis ini tidak sesuai dengan program pembentukan negara sipil sosialis. Di tahun 60, karya Pramudya yang membela minoritas tionghoa menyatakan siapa musuh Indonesia yang sebenarnya dan borjuasi nasional adalah bagian dari musuh tersebut. Savitri menyebut sikap ambivalen Ppramudya dapat dilihat cerminan akurat sikap ambivalen PKI terhadap “borjuasi nasional”.
Di akhir buku ini, Savitri menjelaskan bagaimana Pramudya menciptakan karyanya yang berbeda dari periode sebelum ia di pulau buru. Ia menciptakan “Bumi Manusia” dengan idealisme konservatif yang berbeda dengan “Gadis Pantai” dengan idealisme revolusioner. Bagaimanapun juga Pram adalah penulis yang tak pernah lepas dari prinsip-prinsip dan tujuan awal dia menulis yakni mendekapkan dirinya di tengah-tengah masyarakat dan tidak terlepas dari masyarakat. Pram adalah representasi dari sosok penulis yang konsisten dengan prinsip meski dengan sikapnya itu pula ia harus melibatkan diri dengan goda politik dan sikap politik partainya.

pramoedya ananta toerJudul buku : PRAMOEDYA ANANTA TOER , Luruh Dalam Ideologi
Penulis : Savitri Scherer
Penerbit : Komunitas Bambu
Hal : 190 halaman
ISBN : 978-602-9402-02-5
Harga : Rp.50.000,00

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aktifis IMM, bergiat di Bilik Literasi Solo.

Generasi Muda Harus Berintegritas

Opini Nailatul Faiqoh

gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Setiap tahun, ratusan perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri di seluruh Indonesia mencetak sekian banyak wisudawan, sarjana-sarjana yang siap kerja dengan berbagai visi dan karakter juga watak yang bebeda. Seiring dengan semakin banyaknya tenaga lulusan perguruan tinggi justru memunculkan spekulasi-spekulasi yang baik disadari atau tidak oleh masyarakat, sering terlupakan dalam perkembanganya. Sudah cukupkah hanya dengan ijazah dengan IPK tinggi dan gelar sarjana menjadikan individu tersebut dibilang berhasil? Lantas keberhasilan yang bagaimana?
Seseorang bisa dikatakan berhasil bukan hanya dipandang dari segi berapa banyak jumlah gaji yang diperoleh dari pekerjaan, atau berapa besar kekayaanya setelah mereka bekerja, melainkan keberhasilan yang lebih mencerminkan sebuah hasil yang telah kita lakukan dari hasil kerja atau kegiatan yang berintegritas. Banyak bukti yang dapat kita lihat secara mata telanjang dan terjadi di sekeliling kita, dapat kita lihat di setiap cover surat kabar, atau pun menjadi topik perbincangan terhangat di berita elektronik ibukota, mulai dari masalah maraknya korupsi baik di badan pemerintahan tertinggi sampai rakyat jelata atau masalah-masalah di dunia pendidikan misalnya saja, adanya demo mahasiswa yang anarki bahkan berbagai berita yang membahas tindakan-tindakan tercela para pendidik yang semestinya di gugu dan tiru malah memberi bocoran soal ujian pada siswanya. Sungguh hal menghawatirkan serta memberikan dampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin membuktikan banyaknya pelanggaran-pelanggaran.

Integritas Generasi Muda

Salah satu penyebab dikatakan tidak berhasilnya seseorang adalah terkait telah hancurnya integritas masyarakat baik secara kolektif dan terutama personal. Perlunya kder- kader baru yakni genereasi muda yang sedari sekarang kita pupuk dan tumbuhkan dalam pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial di sistem sosial serta mampu menjadi penyatu unsur-unsur di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
Sudah sewajibnya mulai dari sekarang generasi muda khususnya menyadari bahwa pemuda menjadi tonggak kemajuan segala bidang, yang harus mulai menumbuhkan loyalitas dan integritasnya. Sekarang bukan waktunya untuk mengutuk kegelapan atas apa yang terjadi di negara kita, lebih baik mulai dari masing-masing individu untuk menyalakan obor penerang, dengan menjadi leaderships visioner dan transformative, serta berkekuatan intelektual dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara bijak dan berintegritas. Begerak sesuai jalur dalam birokrasi, tidak melanggar hukum, dan menjadi pribadi anti korupsi. Yang bukan hanya memahami dan menghayati tapi jauh berimbas bila kita mau mengubah pikiran dan pandangan kita akan arti kesuksesan itu dan tentunya diimbangi dengan nilai-nilai budaya serta keagamaan dari masing-masing individu.

mahasiswa universitas negeri semarangNailatul Faiqoh adalah mahasiswa fakultas teknik sipil Universitas Negeri Semarang

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 1 )

Gerundelan John Kuan

Tidak banyak yang tahu nama ini, kecuali mereka yang tertarik dengan sejarah kaligrafi Cina. Dia samasekali tidak meninggalkan jejak tulisan tangannya, kita hanya dapat menduga tulisannya dari delapan baris jiplakan dalam cetakan kayu yang tersimpan di dalam sebuah buku bernama: Kumpulan Kaligrafi Chunhua ( 淳化阁帖, baca: Chun Hua Ge Tei, terbit sekitar tahun 992 ). Dialah Wei Shou – 卫铄, biasa dipanggil Nyonya Wei, hidup di masa Dinasti Jin ( 265 -420 ). Mungkin sedemikian saja yang kita ketahui tentang dirinya.Walaupun Nyonya Wei tidak meninggalkan karya penting, tetapi memiliki pengaruh besar yang tidak bisa diabaikan: Dia telah berhasil melatih seorang kaligrafer paling penting dalam sejarah kaligrafi Cina: Wang Xizhi – 王羲之 dan sebuah karangan pendek mengenai teknik penguasaan kuas Cina: Formasi Tempur Kuas ( 笔阵图, baca: Bi Zhen Tu ). Karangan ini sering dimuat di dalam berbagai macam buku yang membahas kaligrafi, semacam pelajaran dasar kaligrafi Cina. Dan bagi saya, makna Formasi Tempur Kuas adalah untuk memahami bagaimana Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi memasuki dunia kaligrafi pada masa itu.

***

Tulisan tidak pasti sama dengan kaligrafi, menulis mungkin hanya ingin menyampaikan maksud. Bentuk tulisan yang dibangun dari garis, belum pasti akan menimbulkan getaran keindahan bagi indera penglihatan. Artinya, fungsi sebagian tulisan hanya bersifat praktikal. Namun, seandainya kita melihat sepucuk surat yang ditulis seseorang, sehabis membaca, setelah mengerti maksudnya, tidak tahan masih ingin melihat lagi, begitu ‘ melihat ‘ berulang kali, pelan-pelan melupakan artinya, mulai merasa lekuk garis-garisnya amat indah, bentuknya amat indah, bidang kosongnya amat indah, saat itu baru disebut kaligrafi. Kaligrafi bukan hanya teknik, kaligrafi adalah semacam apresiasi keindahan. Melihat keindahan garis, keindahan antara titik dan goresan, keindahan bidang kosong, masuk ke dalam mabuk apresiasi keindahan yang murni, dengan begitu sisi seni kaligrafi baru akan tampak.

Sewaktu kecil, Wang Xizhi dilatih menulis oleh Nyonya Wei, saya ingat waktu kecil juga dilatih menulis tulisan Han oleh kakek dengan sejenis buku tulis bernama ‘ sembilan petak ‘. Buku tulis ini adalah untuk melatih struktur tulisan, setiap halaman penuh dengan kotak-kotak yang dibagi dengan garis merah menjadi sembilan petak.

Jumlah goresan setiap karakter Han bisa sangat jauh berbeda. Bisa banyak hingga tiga puluh sampai empat puluh goresan, misalnya 籲 ( baca: yu, artinya: mengimbau ); ada yang sesederhana hanya satu goresan, misalnya 一 ( baca: yi, artinya: satu ), tidak peduli tiga puluh dua goresan atau pun satu goresan semuanya mesti ditaruh ke dalam ‘ sembilan petak ‘, menempati ruang yang sama, mencapai keseimbangan, serasi, harmonis, mantap dan penuh.

Andaikan mengembalikan kaligrafi ke strukturnya yang paling dasar, dia sesungguhnya adalah latihan indera penglihatan yang sangat menarik. Keseimbangan, keserasian, interaksi, isi dan hampa, berbagai macam latihan dasar apresiasi keindahan ada di dalamnya.

Di dalam sebuah kotak kecil, seperti seorang arsitek, latih menggunakan dan mengatur ruang. Memasukkan karakter dengan goresan paling banyak dan paling sedikit ke dalam ruang ‘ sembilan petak ‘ yang sama besar. Penguasaan setiap ruang harus seolah sama ——— sisi ini paling menarik, sebab sekalipun [ 一 ], di dalam ‘ sembilan petak ‘ juga tidak boleh terasa terlalu lapang, terlalu sedikit, terlalu sepi, sebaliknya, mesti seolah penuh memenuhi ruang. Demikian juga dengan [ 籲 ] yang ditaruh di dalam ‘ sembilan petak ‘, tidak boleh terasa terlalu sesak, terlalu ramai. Dan di saat ini, di antara isi dan hampa, di antara garis dan titik, akan ada perubahan-perubahan yang tak terduga banyaknya.

***

Jurus Pertama: Batu Jatuh dari Puncak Tinggi

Pertama kali membaca Formasi Tempur Kuasyang ditulis Nyonya Wei, saya agak terkejut, sebab catatan yang diwariskan ini terlalu sederhana, sederhana hingga sedikit sulit menafsirkannya. Misalnya, dia membongkar sebuah karakter ( huruf ), setelah dibongkar terdapat sebuah unsur, mungkin adalah unsur paling dasar dalam kaligrafi Cina ——— sebuah titik. Titik ini digunakan di banyak karakter. Menulis 江 ( baca: jiang, artinya: sungai ) ada tiga titik di sisi kiri, namun arah, tekanan, ukuran, gaya ketiga titik ini tetap sedikit berbeda.

Titik, di dalam struktur kaligrafi adalah dasar yang sangat penting

Walaupun hanya berupa sebuah titik, tetapi perubahannya sangat banyak. Misalnya, karakter 無 ( baca: wu, artinya: hampa, tiada ), ada empat titik di bagian bawah, cara menulis empat titik ini baik arah, tekanan, ukuran, maupun gaya kemungkinan juga berbeda. Di lain kesempatan ketika melihat sebuah tulisan Han, mungkin bisa perhatikan apakah ada unsur ‘ titik ‘, atau coba analisa watak ‘ titik ‘ itu, renungkan sejenak ‘ titik ‘ itu, apakah seperti Batu Jatuh dari Puncak Tinggi yang disebut Nyonya Wei.

Kalau melihat Formasi Tempur Kuas, Nyonya Wei seperti tidak mengajari Wang Xizhi menulis, tetapi membongkar karakter ( huruf ), dan ketika sebuah karakter dibongkar, maka maknanya akan menguap. Dia menuntun Wang Xizhi memasuki apresiasi keindahan indera penglihatan, hanya mengajari dia menulis sebuah ‘ titik ‘, melatih ‘ titik ‘, merasakan ‘ titik ‘. Dia ingin Wang Xizhi kecil melihat bekas yang ditinggalkan kuas yang telah mencelup tinta di atas permukaan kertas, sekalian menjelaskan frasa ini: Batu Jatuh dari Gunung Tinggi.

Dia ingin anak ( Wang Xizhi ) yang belajar kaligrafi ini merasakan, merasakan di atas tebing ada sebongkah batu jatuh, ‘ titik ‘ itu, persis seperti kekuatan batu jatuh dari tempat yang tinggi.

Mungkin ada yang curiga: Sebenarnya Nyonya Wei sedang mengajari Wang Xizhi kaligrafi atau gerak jatuh bebas ilmu fisika? Kita tahu yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan kaligrafi saja. Saya selalu berpikir, mungkin Nyonya Wei benar-benar membawa anak ini ke atas gunung, membiarkan dia merasakan batu, lalu menjatuhkan sebuah batu dari puncak, atau bahkan melempar sebuah batu agar Wang Xizhi menyambut. Kalau begini, pelajaran Batu Jatuh dari Puncak Tinggi pasti menjadi sangat menarik.

Batu adalah sebuah benda, di indera penglihatan ada wujud, saat dipegang ada berat. Bentuk dan berat berbeda. Tangan memegang batu, dapat menimbang beratnya, merasakan lekukannya. Saat batu jatuh, akan memiliki kecepatan, kecepatan sendiri di dalam rangka ‘ jatuh ‘ masih memiliki percepatan yang ada di ilmu fisika; menghantam ke atas tanah, akan menimbulkan kekuatan benturan dengan permukaan tanah ——— semua ini begitu kaya rasa diserap seorang anak kecil. Kaya rasa adalah permulaan apresiasi keindahan.

Kata Pengantar Lanting
Kata Pengantar Lanting 兰亭序

Saya tidak tahu ‘ titik ‘ yang ditulis Wang Xizhi setelah dewasa, apakah ada hubungannya dengan pendidikan yang diberikan Nyonya Wei. Banyak yang berkata bahwa titik di setiap karakter 之 yang ada di dalam karya kaligrafinya yang paling terkenal: Kata Pengantar Lanting兰亭序 ( baca: Langting Xu ) berbeda. Ini adalah sebuah draft yang ditulis Wang Xizhi ketika mabuk, oleh sebab itu ada salah tulis, ada coretan. Setelah sadar, dia sendiri mungkin juga terkejut, bagaimana dirinya bisa menghasilkan kaligrafi yang begitu indah, dan mungkin mencoba lagi, namun bagaimana pun sudah tidak bisa menghasilkan yang sebagus ‘ draft awal ‘

Di belakang karya kaligrafi terkenal ini tersembunyi beberapa hal yang menarik, membuat kita menerka: mengapa Nyonya Wei tidak begitu peduli tulisan Wang Xizhi baik atau tidak, malahan sangat peduli Wang Xizhi mampu atau tidak merasakan kekuatan batu jatuh?

Sebenarnya pelajaran pertama Nyonya Wei ini meninggalkan banyak bagian kosong, saya tidak dapat menduga Nyonya Wei membiarkan Wang Xizhi latih berapa lama, apakah waktunya mencapai beberapa bulan atau beberapa tahun, baru dilanjutkan dengan pelajaran kedua? Namun jurus dasar mengenai ‘ titik ‘ ini, seperti sangat dalam mempengaruhi seorang kaligrafer besar di kemudian hari.

Kantril Dinasehati

Flash Fiction Martin Siregar

Sambungan : Kantril Menghisap Ganja

Idola saya, tetap cantik dan gaul tanpa Narkoba.
Pak Longor kecewa terharu mendengar kejadian Kantril dan Payman mabok ganja dan jhoni walker. Dalam kondisi sulit menahan marah: ”Kantril ..sudah patah arang dalam hidup ini. Jangan kau fasilitasi dirinya tuk kembali masuk dalam kegelapan.” Payman yang dipanggil Pak Longor ke rumahnya, hanya menunduk malu memikul penyesalan. ”Maaf Pak Longor, aku sedang panik dengan masalah perkawinanku.” Kemudian suasana hening sejenak.

“Yah,…Memang aku salah.” Dihisap Pak Longor rokok merahnya: ”Kau juga harus mulai berpikir tuk membunuh ketergantungan ganja dan alkohol.”

”Iya…Iya…Pak Longor.” Payman masih duduk menyempit menundukkan kepala.

“Aku sudah dengar berita itu dari Tari. Dalam sedu sedan sedih tak terucapkan Tari bercerita lewat telepon ke aku. Tari sarankan, kita berdua ajak Kantril dialog, supaya kejadian buruk itu tidak terulang kembali.” Bason sampaikan maksud hatinya kepada Pak Longor. Dan tentu saja gayung bersambut, niat tulus Bason direspon Pak Longor dengan baik.

Bason jadi banyak termenung mengenang perjalanan panjangnya bersama Kantril. Ketika SMA pernah Bason ditusuk pisau oleh pembalap liar di jalanan. Perut Bason terkoyak, darah banyak terkuras, harus rawat inap di RS Elizabeth. Kantril yang heboh jaga Bason selama perawatan di rumah sakit. Kantril dan Bason adalah kawan dekat yang selalu berdialog hal ikwal teologia pembebasan bersama Pastor Cevara Lubis. Lantas mereka membakar mobil tentara di pinggir pantai ketika rakyat digusur. Di pantai indah itu akan dibangun hotel mewah. Waktu itu Bason selamatkan Kantril sehingga tidak tertangkap. Sedangkan Bason tertangkap tangan mendekam dalam penjara selama 2 tahun. (Kisah Bason dan Kantril, baca buku: “Kawan Kentalku Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II” karya Martin Siregar)

Betapa senangnya hati Tari melihat kedatangan kedua tamu agung. ”Silahkan masuk Pak Longor, Silahkan masuk Bang Bason. Saya masih sibuk ngurus toko kelontong, Kantril sudah siap menunggu di ruang tamu belakang. Silahkan…Silahkan masuk Pak Longor.”

Di ruang tamu Kantril duduk memandang kejauhan berdiri memberi salam kepada Pak Longor dan Bason. Tak menunggu terlalu lama, Pak Longor langsung bicara: ”Memang benar yang dikatakan Pastor Cevara Lubis. Rencana Tuhan pada manusia pertama dirusak setan iblis melalui ular dan buah terlarang. Sekarang rencana Tuhan masih tetap dirusak iblis melalui struktur birokrasi pemerintahan dan organisasi permanent. Lihat saja negara, partai politik organisasi keagamaan — Sudah tak bisa kita harapkan untuk memelihara martabat kemanusian –Semuanya itu sudah hancur berantakan tak mendapat kepercayaan dari masyarakat maupun umat beragama.”

Kantril tersipu sipu sambil menggeleng gelengkan kepalanya: ”Iya…Aku masih ingat. Waktu itu aku dan Bason heboh membeli berbagai buku multidimensionil sebagai bahan baku memahami hakekat kehidupan ini. Hua…ha…ha… ”

“Nostalgia sejarah hidup kita. Tak mungkin bisa terhapus,…Kantril. Hua…ha…ha..” Bason terbahak bahak mencairkan suasana yang agak beku.

“Tapi, apapun ceritanya, sampai detik ini aku masih pegang erat ucapan Pastor Cevara Lubis. Aku tak mau terlibat pada sarana iblis merusak rencana Tuhan. Tak mau ikut, caleg, partai politik, pengurus organisasi agama. Aku yakin dunia ini hanya bisa diubah oleh orang yang menjalin hubungan interpersonal dengan Tuhan. Oleh orang yang tidak perduli terhadap sarana iblis yang merusak rencana Tuhan Hua…ha…ha..” Bason merasa dirinya berhasil menang melawan keganasan dunia ini. Tampak Kantril cemburu melihat Bason yang ringan saja menghadapi hidup. ”Jadi apa kegiatanmu sekarang Bason?”

Bason tersenyum simpul, “aku masih kerja di media itu. Dan, untuk memelihara kebugaran tubuh phisik dan tubuh nonphisik aku latihan meditasi. Kau pasti tahu ada tiga mahluk hidup yang diciptakan oleh Sang Khalik. Tumbuhan, hewan dan manusia. Ketiga mahluk hidup punya jantung, paru paru, bisa sakit, bisa beranak pinak dan lain lain. Tapi hanya manusia yang diciptakan ‘segambar dengan Tuhan’. Nah !! latihlah dirimu supaya segambar dengan Sang Khalik. Itulah nasehat aku dan Pak Longor pada kedatangan kami kali ini.”

Kantril tersentak:”Loh !!! Gimana aku melatih diri segambar dengan DIA ?”

“Berat aku menguraikan hal ini. Calsesek, Higam. Dulsa sudah puluhan tahun kudidik, tetap saja tak berhasil. Mereka itu orang bebal keras kepala.” Bason santai saja bicara, tapi Kantril semakin penasaran:”Iya, Bason…Aku serius, aku patuh terhadap nasehat kalian.” Aku harus berubah tak akan kusentuh lagi ganja dan alkohol. Mendengar hal ini Pak Longor kasihan melihat Kantril: ”Saya bawa ini buku Panduan Meditasi Konekting Cakra”. Kau baca buku ini, selanjutnya kau akan dipandu Bason yang sudah mendapat predikat master of komtemplasi. Yakinlah…Kantril. Hidupmu pasti semakin cemerlang atas tuntunan Bason.”

Istri yang Sempurna

Flash Fiction Vivi Fajar A.

big smile
Ilustrasi dari shutterstock
Nobody’s perfect, “omong kosong”, batin Luna. Ia harus menjadi sempurna untuk lelakinya. Begitulah, Luna merasa bagai terlahir kembali manakala tiba waktunya menjadi seorang istri dari lelaki yang dikaguminya. Tiba-tiba saja Luna mendapati dirinya melakukan hal-hal baru yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya dulu.
Ia belajar memoles wajahnya yang sederhana agar selalu tampak indah di mata suaminya. Ia menyemprotkan wewangian agar lelaki itu nyaman saat didekatnya, sekalipun sejujurnya ia tak terlalu suka mencium aroma parfume manapun. Ia mulai membaca tabloid otomotif, ikut mendengarkan musik jazz, bahkan rela bangun dini hari untuk menonton kompetisi piala champion di televisi, sekalipun matanya selalu setengah tertutup dan tak pernah bisa membedakan siapa tim yang sedang turun berlaga, semua itu dilakukannya semata agar dapat menjadi teman bicara yang menyenangkan. Ia tertawa untuk lelucon sang suami yang kadang ia tak mengerti, ia ingin jadi yang pertama memberi penghiburan saat suaminya tiba di rumah dengan wajah muram tanpa bertanya apa alasannya tampak berduka. Bagi Luna, menjadi perempuan sempurna adalah harga mati demi menjaga cintanya.
Seperti saat ia berusaha menghidangkan sup terlezat yang pernah dimasaknya. Ia telah memilih resepnya dengan sangat teliti, meracik bumbu rempah selengkap yang ia punya, membuat kaldu ayam asli dengan suwiran daging ayam nan lembut, memasukkan potongan wortel organik segar, kentang dan daun bawang, menambahnya dengan butiran kacang polong serta beberapa kuntum daun seledri pelengkap aroma.
Saat makan malam berdua, dari seberang meja Luna memperhatikan sang suami menikmati sup hangat yang terhidang di hadapannya. Ia mengunyahnya perlahan-lahan, menambah sedikit lada halus, sedikit saus tomat dan sesendok teh sambal kecap ke dalam mangkuk sopnya dan memakannya hingga tak bersisa. Puas rasanya melihat masakannya dinikmati begitu rupa.
Sesaat seusai ia membereskan meja, Luna mendapat hadiah kecupan ringan di keningnya. Sesaat hadir desiran lembut di dada, terlebih saat suaminya berbisik lembut ditelinga, “sayangku, terima kasih untuk supnya, lain kali jangan lupa tambahkan garam secukupnya saat kau memasak”.
Ah, pipi Luna memerah menahan malu. Seketika itu ia menyadari, ketulusan lelaki ini saat menerima kekhilafan dan kekurangannyalah yang telah membuatnya sempurna.

Adelaide, 24 May 2012
The end of the fall

Memburu Penyihir

Gerundelan John Kuan

memburu penyihir
Woman & La Bete, diunduh dari 3bp.blogspot.com
Ini adalah satu halaman paling kelam dalam sejarah Abad Pertengahan Eropa, karena manusia pada masa itu panik terhadap ketidak-jelasan masa depan, ditambah diskriminasi terhadap kemerdekaan berpikir kaum perempuan, sehingga pelan-pelan terbentuk sepotong sejarah panjang pemburuan penyihir selama tiga abad. Dan Vaud ( Swiss ) adalah tempat pemburuan penyihir yang paling gaduh. Dari abad ke-15 hingga abad ke-17, tertangkap sekitar lima ribu penyihir di daerah ini, sekitar tiga ribu lima ratus penyihir dihukum mati, tujuh puluh persen adalah perempuan.

Kastil anggun Chateau de Chillon yang berdiri di tepi Danau Jenewa adalah tempat pengurungan dan eksekusi pada masa itu, sekarang telah menjadi tempat wisata yang mendunia.

Sebenarnya kaum perempuan cukup dihormati di Eropa sebelum Abad Pertengahan, terutama mereka yang mahir meramu obat, melakukan pengobatan, atau pun yang bisa membaca dan menulis. Tetapi mengapa sampai di abad ke-15 ” pemburuan penyihir ” bisa berpusat pada kaum perempuan? Semua ini terutama karena terbitnya sebuah buku, judulnya: Malleus Maleficarum, Martil Para Penyihir. Ini adalah salah satu buku yang paling jahat dan keji dalam sejarah manusia.

Tahun 1487, Malleus Maleficarum terbit di Jerman, menguakkan pintu pengadilan yang sangat gila, dan memperparah pandangan bias dan cenderung merusak terhadap perempuan di Eropa pada masa itu. Isi buku mengajari orang bagaimana mengenali ilmu sihir, membuktikan penyihir perempuan dan melaksanakan hukuman kejam terhadap mereka.

Menurut teori buku ini, karena ” penyihir perempuan ” telah diperdaya iblis, mereka tidak lagi peka terhadap rasa sakit, sehingga bisa sesuka hati melakukan hukuman kejam. Misalnya, menggunakan sekeping besi panas memerah membakar tangan mereka, seandainya tangan terluka, membuktikan mereka berdosa; menyuruh mereka mengambil sebentuk cincin suci di dalam air mendidih, kemudian tangannya diperban dan distempel, tiga hari kemudian jika ada bekas, berarti berdosa; atau pun langsung saja diikat dengan sebongkah batu lempar ke dalam danau, jika bisa selamat, berarti tidak berdosa.

Dalam tiga abad, ” penyihir perempuan ” yang dieksekusi di Kastil Chateau de Chillon berjumlah 3371 orang, kebanyakan dengan pembakaran, sebab waktu itu beredar isu bahwa penyihir perempuan harus dibakar agar tidak bisa reinkarnasi. Korban-korban ini kebanyakan berasal dari lapisan masyarakat bawah, mereka adalah perempuan-perempuan tua, sakit, miskin, tinggal sendiri, dan yang belum menikah.

Meteorologi tentu masih belum begitu dipahami pada masa itu, orang-orang mengalihkan ketakutan dan kegusarannya terhadap cuaca ke ilmu sihir, mereka menganggap ilmu sihir yang menyebabkan bencana yang datang sambung menyambung. Walaupun Gereja telah menolak ada hubungan antara cuaca dan ilmu sihir, namun masyarakat tetap saja sangat percaya. Cuaca yang tak terduga menyebabkan panen tidak stabil, lalu kelaparan menyusul, dan kelaparan menyebabkan tekanan sosial yang dashyat.

Kelaparan ditambah wabah yang meluas, kepanikan makin lama makin tak terkendali, emosi sosial kian perlu terobosan dan pelepasan, terakhir mendesak penguasa mengeluarkan perintah pemburuan penyihir, dan ini adalah salah satu cara masyarakat patriarki mempertahankan kuasa.

Begini tercatat di dalam sejarah Vaud:

Tahun 1572 terjadi kelaparan dan harga pangan melambung, penyihir perempuan pertama, Verena Gehrig mati dibakar. Kelaparan pada tahun 1589 juga menyebabkan beberapa penyihir perempuan dieksekusi. Wabah hitam yang meletus di tahun 1628 menyebabkan makin banyak penyihir perempuan mati… Orang-orang memasukkan berbagai macam bencana ini sebagai perbuatan penyihir perempuan, oleh sebab itu pemburuan penyihir pada tahun-tahun itu mencapai puncaknya, sedikit pun tidak aneh, lagipula semua penyihir perempuan ini termasuk secara terbuka mengakui diri mereka adalah penyebab semua bencana itu.

Berapa orang yang kuat menahan hukuman kejam itu, pengakuan mereka kemungkinan besar adalah karena tidak mampu atau tidak ingin lagi menahan siksaan, dengan kondisi dan kedudukan mereka pada masa itu, bagaimana mereka membela diri mereka?

Dari tahun lalu hingga Juli 2012, Kastil Chateau de Chillon yang pernah mengadili dan mengeksekusi begitu banyak penyihir perempuan ini, memamerkan sepotong sejarah pemburuan penyihir yang penuh bercak darah, ini adalah satu irisan masyarakat yang kehilangan nalar di Abad Pertengahan. Sepotong sejarah kelam ini, menjadi saksi sejarah perjalanan manusia dari ketidak-tahuan menuju peradaban.

Cinta: antara Budaya dan Tanggung-Jawab, Juga antara Perasaan dan Akal Sehat

Gerundelan Rere ‘Loreinetta

bersyukur
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Cinta memiliki dimensi spiritual yang dinamakan Isyq-o muhasbat yang memberikan daya kreatifitas yang hidup dan sebagai berdirinya suatu pribadi dan kepribadian. Dimana cinta menduduki urutan pertama dalam tariqh (suatu jalan, cara atau ikhtiar) hingga menuju penyempurnaan diri dan pensucian hati. Cinta juga merupakan stasiun terakhir yang terletak pada Tuhan yang bersifat fundamental.

*Muhamad Iqbal, seorang philosof asal Pakistan ketika bicara tentang cinta.

Definisi tepat yang dapat menggambarkan tentang cinta sangatlah sulit untuk dijelaskan secara terperinci dan sempurna, karena jika api cinta sudah berkobar dan tertebar maka sesungguhnya akan sangat sulit untuk dipadamkan.

Cinta merupakan kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan fungsi – fungsi kecerdasan emosional dan secara spiritualitas dapat menembangkan potensi – potensi dari orang yang sedang mengalaminya.

Cinta bukan lagi sebuah rasa, bukan sebuah tampilan emosi saja, TETAPI Cinta adalah sebuah KEADAAN, dimana cinta tak hanya berdiri sendiri, karena ada banyak hal tersimpan di dalam kata cinta itu..

Perasaan yang berawal dari pandangan mata hingga turun kehati merupakan bagian dari hidup dan kehidupan manusia, yang esensinya dapat melahirkan kreativrtas dan sesuatu sebagai hasil karya melalui proses tahap akhir, yaitu tanggung jawab.

Cinta pada dasarnya boleh dikatakan sebagai budaya yang menggunakan perasaan serta akal sehat. Yup, CINTA adalah sebuah KEADAAN yang sendi-sendinya mampu membuat (memaksa) Manusia untuk berpikir. Apa yang sebaiknya…dan Apa yang tidak sebaiknya. Yang Tak Sama antara Individu satu dengan yang lainnya, walau semua itu SAMA, yaitu tentang CINTA.

Selebihnya CINTA adalah sebuah ANugerah dari TUHAN, yang bahkan ada yang bilang bahwa tak semua mampu merasakan RASA CINTA itu….eh yang bener…weeeehhh?? Karenanya ALHAMDULILLAH, jika anda masih memiliki cinta dan kasih sayang.

Balada si Butet : Hidup Penuh Tanda Tanya

Flash Fiction Risma Purnama

kiss mu lips
Gabar dari blogspot.com
Akhirnya Butet menyerah juga dengan rongrongan pertanyaan yang selalu menghujaninya. Kapan nikah? Di usianya yang sudah lewat batas menikah pada umumnya, akhirnya Butet menerima perjodohan dengan si pariban yang sudah menyandang status duda, ditinggal pergi istrinya! Bang Tagor menjadi pilihan Butet dengan pertimbangan, dia sudah mapan secara finansial artinya aku ga usah berlelah lelah lagi bekerja, pikir Butet. Bang Tagor juga sudah memiliki putra dan putri, artinya aku tak lagi disibukkan melahirkan dan mengurus bayi. Merekalah yang akan jadi anak anaku.

Putra putri bang Tagor sudah beranjak dewasa sebentar lagi akan selesai kuliah, mereka akan bekerja. Artinya aku bisa menikmati hidup dengan Bang Tagor di usianya yang menjelang pensiun. Hmmm, baiklah kuterima saja pinangannya. Lagi pula kami masih keluarga dekat, artinya dia takkan mungkin berani macam macam padaku apalagi sampai KDRT! Soal kepergian istri Bang Tagor, itu karena mereka tak sepaham lagi di dalam rumahtangganya. Oh, rupanya bisa begitu, pikir Butet lagi.

Setahun pernikahan mereka, Butet dan Tagor hidup bahagia dan harmonis, sedikit cinta yang mereka miliki mampu bertahan untuk terus menjalankan biduk rumahtangga. Sampai suatu ketika pertanyaan kerabat keluarga muncul lagi. “Tet, kapan kau punya anak sebagai pengikat hubunganmu dengan suamimu?” Butetpun mulai gelisah lagi, setiap pesta adat dan pertemuan keluarga, pertanyaan itu selalu muncul. Meskipun suaminya tak memaksanya untuk melahirkan anak. Luluh juga hati Butet karena kebaikan Bang Tagor kepadanya. Tahun kedua mereka di karunia seorang putri, si butet junior.

Si Butet junior tumbuh sehat dan dan sedang lucu lucunya dan membawa kebahagiaan di dalam keluarga Butet dan Tagor. Rasa lelah terasa hilang begitu melihat buah hati mereka. Tapi rupanya kebahagian Butet belum sempurna di mata keluarga dan kerabatnya. Pertanyaan baru muncul lagi “ Tet, kau itu kan halak hita, apa kau tak memikirkan punya anak laki sebagai penerus marga suamimu dari pernikahan kalian?” …Gubrakkk…apalagi ini , hati Butet menjerit! Kenapa pertanyaan ini ga habis habisnya? Butet pun tak kuasa menahan desakan ini. Setahun kemudian lahirlah si Ucok…wajahnya imut dan tampan. Butet sangat bahagia….sambil menimang si Ucok…si Butet berbisik “ nak cepatlah kau besar, sebelum mereka bertanya lagi…kapan punya mantu, kapan punya cucu…..?

Pertanyaan yang menghantui pikiran Butet membuatnya kelelahan sampai akhirnya tertidur. Dalam tidurnya di bermimpi ketemu Lady Gaga….Kapan Lady Gaga datang, aku mau ikut dia aja ke Amrik…si Butet ngigooo….xixixixixixi

Kantril Mengisap Ganja

Flash Fiction Martin Siregar

stop narkoba
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Namanya sebenarnya Kalvin, tapi muak dengan westernisasi yang melekat dalam dirinya. Maka dirombaknya nama itu menjadi Kantril sebelum lulus SMA tahun 1990. Sejak itu dia seolah dibaptis ulang dengan nama Kantril. Seluruh kartu identitasnya bernama Kantril. Anak pengusaha eksportir makanan laut hidup berkelimpahan, membuat dia jadi salah arah. Menghilang dari rumah berkawan akrab dengan alkohol, perempuan, ganja dan hidup dijalanan.

Kapasitas personal Kantril memang luar biasa, walau drop out di semester IV dari fisipol. Tapi kecintaan mengorganeser masyarakt dan mengkaji ilmu pengetahuan secara mendalam tak bisa dihempang. Negara sangat memperhitungkan kapasitas Kantril sebagai tokoh gerakan sipil. Beberapa kasus perampasan tanah rakyat berhasil digagalkan Kantril. Argumentasinya jika berhadapan dengan intelektual genit tak diragukan. Terseok seok orang perguruan tinggi yang memihak neo libs jika berjumpa dengannya.

“Aku tidak siap kecewa dan tidak siap dikhianati”. Kedua karakter busuk tersebut sangat mewarnai gerakan sipil di Indonesia. Inilah alasan Kantril keluar dari gerombolan gerakan sipil. Dengan modal kecil Kantril membuka toko kelontong di pinggir kota. Tidak mau lagi jumpa dengan kawan kawan gerakan karena terlalu sibuk mengurus toko kelontongnya. Secara berlahan menabung, hingga pada akhirnya naik ke pelaminan tanggal 10 november tahun 2000, tanpa sepengetahuan orang tua. Hidup sederhana berjuang mempertahankan eksistensi toko kelontong supaya tak bisa diusir oleh modernisasi.

Untung istrinya sangat memahami keberadaan Kantril. Tari sang istri selalu membahagiakan Kantril sambil gigih mencurahkan tenga mengurus keluarga. Anak sulung mereka Taring sudah kelas III SD karakternya tak banyak beda dengan sang ayah. Mengorganeser kawan kawannya menyelenggarakan kompetisi sepak bola kaki ayam. Hal ini membuat Kantril bangga, walau sering mengeluh bahwa:”Jiwaku sudah lelah menghadapi hidup ini”.

“Bang Kantril, aku sedang suntuk”. Abang ada dirumah, aku mau main ke rumah abang” : Payman telepon Bang Kantril siang itu. “Oke…datanglah kau”. Bawa ganja dan Jhoni Walker ya..”: Direspon Kantril penuh sukacita. Hua…ha….ha…Kawanku Payman akan menghapus dahaga jiwaku nanti malam Hua….ha….ha…Kantril sangat bahagia.

Sehabis magrib Tari sediakan meja kecil beserta 2 kursi di depan toko kelontong yang sudah tutup. Kantril terharu, dibelai belainya pundak Tari dan diciumnya kedua pipi istri tercinta. “Bapak jangan mabok lagi ya…. Wajah Taring keriting melihat persiapan yang dilakukan ibunya. “Tenanglah kau Taring, Om Payman hanya ngajak bapak ngobrol soal perkembangan politik.

“Kenapa kau suntuk Payman…”. Payman duduk kemudian meletakan botol sakti diatas meja disamping 2 gelas yang sudah tersedia.”Naskah bukuku sudah tuntas, Susan pacarku orang italia bersedia membiayai penerbitan.”Tapi dia bilang, siap launching kami bulanan madu ke Brazil dan menetap di Italia. Tak usah lagi kita injak negara yang dipimpin para bangsat. Kantril bingung kenapa Payman menolak hidup indah yang ditawarkan pacarnya.”Untuk apa kau menetap di Indonesia kalau ada kesempatan hidup sejahtra di Italia ?.Heran aku, mata Kantril melotot setelah menghisap rokok yang sudah diisi ganja.”Ah !!!…Sudahlah, minumlah abang” Payman nampak tak mau melanjutkan cerita.

Isap ganja makin nikmat mata Kantril sayu sudah merah. “Sedap ganja kau ini Payman Hua…ha…ha… Belakangan ini aku sering berangan angan. Mendadak dapat duit puluhan milyard. Toko kelontong ini kukasih sama keluarga yang hidup sengsara. Aku bikin rumah besar, ada kamar khusus untuk aku. Dikamar itulah aku hidup sepanjang hari. Sudah jijik aku berinteraksi dengan banyak orang. Aku mau menikmati hidup tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Dari hari senin sampai kamis setiap jam 6 pagi aku berenang dengan standrad latihan atlit renang. Setelah sarapan pagi habiskan waktu tuk baca tulis di kamar. Sore aku latihan phisik pakai barbel. Malamnya latihan pernafasan dan meditasi sampai tertidur. Hari jumat sampai minggu aku jalan sendiri naik sepeda kuno ke pinggir kota. Cari inspirasi sekaligus rekam realitas sosial manusia sengsara yang ditindas negara.”Yah,…Selalu sendiri di tengah hiruk pikuk tatanan sosial yang sudah hancur. Intens menata keluarga sekaligus memonitor dinamika perkembangan Taring menjelang dewasa. Ah !!! Betapa indahnya. Kecintaanku adalah menjaga kebugaran tubuh phisik dan tubuh nonphisik sepanjang hdup ini. Hua…ha…ha….Taring tertawa lepas.

Kantril berdiri mau kencing ke dalam rumah. Pas !! melangkah Kantril jatuh tersungkur muntah sudah terlalu banyak ngisap ganja campur jhoni walker. Setengah sadar Payman penuh kasih menuntun Kantril untuk duduk kembali. “Nanti kita bersihkan muntah ini ya… Supaya aku tak dimarahi Taring.

Payman dan Kantril duduk termenung, sudah agak mabok, hanyut dengan pikirannya masing masing.

Senandung Lirih Lagu Tanpa Syair di Gelapnya Malam dan Seekor Anjing Hitam yang Tertidur di Atas Ranjang

Cerpen Yayag YP

perempuan jalang
Gambar diunduh dari 0.facebook.com
Kusisir helai demi helai rambut panjangku yang menjuntai sampai ke pangkuan dengan jemari-jemari tangan yang bergetar. Kupandangi wajahku di depan cermin besar yang menggantung diam di dinding kamar sambil bersenandung lirih. Lagu yang sama, lagu yang tiap malam kunyanyikan sayup-sayup saat bercermin dan menyisir rambut. Tak satu pun kerlip lampu di dalam kamarku, tak juga jelas mata mereka memandangku ketika bercermin. Hanya ada diriku sendiri disana, hanya aku yang bisa melihat.

“Kenapa selalu lagu itu yang kau nyanyikan tiap bersamaku?”

Kusisir rambutku dari atas hingga sampai pada pangkuan, pelan. Aku menikmati setiap kali duduk di depan cermin dan menyisir rambut dalam gelapnya kamar. Terkadang tidak ada tanya yang mengganggu ketika aku bercermin, hanya sesekali terdengar suara mirip gumam tak jelas dan hembusan angin yang menerobos masuk lewat jendela besar disamping tempatku duduk memagut diri.

Aku terus bersenandung lirih. Malas rasanya menghentikan nyanyian dan membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya. Dari kejadian yang sudah-sudah, kelanjutan adegan berikutnya sangat mudah ditebak. Kemarin aku akan menghentikan senandung lirihku, membalik badan, menatap wajahnya dan menjawab pertanyaannya dengan santun. Tapi sekarang tidak lagi. Aku akan bergeming, terus bersenandung tanpa menggerakkan sedikit pun tubuhku. Dan dari cermin tempatku berkaca, dengan sudut mata kupandangi anjing itu teronggok bisu diatas ranjangku. Tak bergerak. Bulu-bulu hitamnya yang tebal seperti makin menambah gelapnya malam di dalam kamarku. Telinganya yang terbungkus bulu-bulu tipis bergerak naik turun seirama tarikan nafasnya. Moncong hidungnya mengkilat ditimpa sisa lendir yang mungkin di dapatnya dari bagian tubuhku. Entah, bagian tubuhku yang mana. Aku membuang pandangan dari anjing berbulu hitam itu, aku membuang keinginanku untuk ikut berbaring disampingnya, diatas seprai kusut yang masih menyimpan hangat tubuh kami beberapa menit yang lalu. Anjing hitam itu tertidur dengan damai, kedua tangannya memeluk lekat guling itu di dadanya. Ah, hangatnya jika aku ada dalam pelukannya malam ini. Helai-helai rambut yang sebagian menutupi tubuh telanjangku mulai menari ditiupi angin malam. Dingin. Angin malam mulai membuatku ketakutan. Desirnya menyentuh lembut cuping telingaku, bulu kudukku berontak. Kulihat lagi anjing hitam itu dari cermin di depanku. Tidurnya begitu melenakan. Aku ingin ada di sampingnya, luruh dalam buaian bulu-bulu tebalnya, menggulung semua kelelahan, menyerahkan diriku dan memimpikan indahnya cinta yang mungkin ada padanya malam ini. Aku ingin.

“Kau cantik, Nak”

Ibu membelai rambutku dengan lembut ketika kurebahkan diri di pangkuannya malam itu. Senandung lirihnya mulai terdengar di telingaku. Lagu itu, lagu sama yang selalu kunyanyikan tiap malam saat menyisir rambut dengan jemari tangan di depan cermin dalam gelapnya kamarku.
“Kelak akan banyak laki-laki membayar kecantikanmu dengan ego mereka, Nak. Masa itu tidak akan lama lagi,”

Aku tidak terlalu mendengar apa yang ibu katakan. Kepalaku dipenuhi nada-nada dari lagu yang tadi lirih di nyanyikannya. Lagu itu tidak bersyair, hanya nada yang iramanya mengalun seperti deru ombak di laut lepas pada malam-malam yang di sinari bulan purnama, mengajak mata menerawang menjauhi raga. Lagu itu sudah sedari kecil kudengarkan dari bibir ibu yang menggendongku dalam tubuh telanjang dengan keringat hangat yang menyelimutiku dalam gendongannya. Sering aku terkaget ketika dalam tidur lelapku butir-butir airmata ibu menetes di kedua pipiku yang direngkuhnya dalam pelukan menggigil. Terasa sekali tubuhnya yang bergetar memelukku terlalu erat. Aroma tubuhnya tidak seperti aroma tubuhnya yang biasa ku kenali, ada bau lain di helai-helai rambut, leher dada dan sekujur tubuhnya. Entah, aroma apa dan siapa yang menempel pada tubuh ibu malam itu.

Sejak malam dimana aku mengenali ibuku dengan aroma tubuh yang tidak seperti aroma tubuhnya yang akrab dengan penciumanku, sejak itu pula lagu itu menghipnotis malam-malamku bersama ibu. Bahwa sejak malam itu ibu dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar tempatku terbaring di atas ranjang sendirian dengan tubuh telanjangnya, memelukku erat-erat dengan airmata yang menetes satu-satu, adalah malam dimana aku mulai belajar menjadi dewasa.

“Kenapa aku tidak boleh memelukmu?”

Aku menunduk sebentar, menghindari tatapan matanya, lalu berlalu beberapa langkah mendekati jendela. Dia hendak memulai langkahnya,

“Apakah semalam aku tidak memuaskanmu?” Tanyaku.

Dia membatalkan langkahnya, membuat senyum tipis, dan menjawab,

“Hanya kau satu-satunya perempuan yang membuatku bisa menikmati persetubuhan Ryn,”
“Dan selama ini tidak pernah ku kecewakan birahimu di ranjang meski tanpa pelukan,”
“Memang benar….,”
“Pergilah Dan,”

Dan seperti yang lainnya, kau pun akan berlalu, menjauhiku dan membiarkanku menikmati tegak punggung kalian yang perlahan pudar dari pandangan. Kau datang sewaktu matahari tak bisa menyapa wajahmu, dan sebelum matahari datang, kau sudah tidak lagi denganku. Esok, mungkin kau akan kembali, mungkin juga tidak akan pernah kembali. Yang lain tetap akan datang, meski perlakuan kalian terhadapku sama.

Denganmu dan juga mereka tidak akan merubah kebiasaanku pada malam-malam gelap di dalam kamar. Aku tetap akan duduk berlama-lama di depan cermin dalam tubuh telanjang, menyisir rambut dengan jemari tangan sambil berdendang lirih sampai datang pagi, sampai kalian menghilang. Aku harus tetap terjaga saat kau ada di atas ranjangku. Bercermin dan bersenandung di samping jendela besar yang menghitamkan malam-malamku adalah pilihan yang tidak lagi bisa kutawar dengan hal lain.

Aku tidak boleh menyerahkan diri pada ranjang berseprai kusut yang beberapa jam lalu telah menjadi tempat kita membakar birahi dalam tubuh telanjang yang saling mengejar nikmat. Aku tidak akan merebahkan diri di samping seekor anjing berbulu hitam yang sedang pulas dalam tidurnya. Sebesar apa pun kantuk datang menyerang, aku harus bertahan. Aku tidak mungkin bisa tertidur dengan pikiran yang penuh dengan rasa jijik sewaktu membayangkan moncong hitamnya yang berlendir itu menyentuh leher, dada atau mulutku. Aku tidak mau. Aku memilih untuk duduk telanjang di depan cermin sambil menyisir rambut panjangku dengan jemari tangan, bersenandung lirih dengan lagu yang selalu sama dan berharap pagi bisa datang lebih cepat.

Apa yang kulakukan dan pikirkan saat di depan cermin di malam-malam gelap tidak pernah sedikit pun berubah sejak ibu meninggalkanku untuk selamanya. Helai-helai rambut yang kusisir dengan jemari tangan, yang panjangnya sudah sampai pada pangkuanku, adalah malam-malamku berbicara dengan ibu. Ibu meninggalkan banyak cerita pada helai-helai rambutku yang selalu dibelainya tiap malam sewaktu ibu masih hidup. Sebesar apa pun keinginanku untuk bisa tidur disamping laki-laki yang terlelap di ranjangku, sebesar itu pula aku harus membunuh keinginanku. Aku hanya merasa harus duduk bersenandung menatap malam dari luar jendela kamar sambil menyelimutkan rambut panjangku pada sebagian tubuh telanjangku, mengubur jauh-jauh keinginanku akan pelukannya.

“Kita tidak boleh memeluk laki-laki yang datang pada kita, Nak,”
“Kenapa tidak boleh Bu?”
“Kelak kau akan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu,”

Tiba-tiba ada hening diantara kami. Ibu memandang jauh ke depan dalam tatapan kosong. Aku masih berharap ibu menjawab pertanyaannku.

“Apakah ibu juga tidak memeluk laki-laki?”
“Pernah sekali, dan itu kesalahan besar yang pernah ibu lakukan,”

Tak ada penjelasan lagi tentang pertanyaanku itu di kemudian hari. Tiap kali aku bertanya tentang alasan ibu untuk hal yang dilarangnya itu, tiap kali juga aku tidak pernah mendapatkan jawaban dari ibu.

Sampai suatu saat tanpa sengaja aku melihat ibu memeluk erat seorang laki-laki yang tidak ku kenal dari dalam kamarnya. Kedua tangan ibu melingkari punggung laki-laki yang tubuhnya jauh lebih tinggi dari ibu. Mereka berpelukan lama sekali. Ibu melanggar ucapannya sendiri! Aku kecewa pada ibu. Kemarahanku memuncak, aku merasa perlu bereaksi dengan pengkhianatan ibu padaku. Emosi membuatku hendak membuka lebih lebar pintu kamar ibu yang sedari tadi tidak tertutup rapat. Baru saja hendak kubuka pintu kamar ibu lebih lebar, ketika tiba-tiba kudapati seekor anjing berbulu hitam legam berada persis di kepala ibu. Anjing hitam itu mengibas-ngibaskan ekornya dengan moncongnya yang basah, lalu mulutnya terbuka lebar. Ibu masih memeluk laki-laki itu dengan erat, ada sedikit senyum di bibirnya. Laki-laki itu memeluknya dalam seringai yang sulit kutebak artinya. Mata laki-laki itu menatap ibuku dengan pandangan yang sangat aneh. Kedua tangannya yang memeluk tubuh ibuku penuh dengan bulu-bulu hitam legam dan kuku-kukunya yang runcing itu nyaris menusuk punggung ibuku. Aku hendak meneriaki ibu, tapi mulutku gagu dan tubuhku kaku. Anjing itu mencakar-cakar kepala ibu, menumpahkan liurnya di sekitar wajah ibu. Ibu diam saja. Ibu tersenyum!

Secepatnya aku berlari ke kamar meninggalkan ibu dengan laki-laki berbulu hitam tebal yang memeluknya dengan kuku-kuku tajamnya. Perutku terasa mual sekali menyaksikan pemandangan yang membuat perasaanku bercampur aduk, bingung, marah, heran dan benci. Aku bingung, tak menahu ada apa sebenarnya dengan ibu. Apa yang sudah ibu lakukan, kenapa ibu diam saja ketika anjing hitam legam itu mulai mencakar-cakar tubuhnya dengan jemarinya yang dipenuhi kuku-kuku tajam? Lama aku bergelut dengan semua kebingunganku, berhari-hari mengurung diri di dalam kamar, menjauhi ibu. Sampai akhirnya malam itu ibu menghampiriku di kamar.

“Perempuan seperti ibumu ini tidak boleh berharap, Nak…karena harapan yang menghampiri, datangnya selalu bersamaan dengan penderitaan,”

Pandangan mata ibu menerawang jauh, entah ke masa yang mana. Di bawanya kepalaku bersandar di pangkuannya.

“Perempuan seperti kita benar-benar tidak boleh memeluk laki-laki yang datang pada kita. Ketika kita memeluk mereka, ketika itu juga kaki-kaki kita patah, jari-jari kita terlepas, kepala kita pecah berkeping-keping di udara dan hati kita hancur tak berbentuk,”

Suara ibu bergetar, aku tak berani menghentikan ucapan ibu.

“Kita ini hanya pelacur Nak, tempat laki-laki membuang nikmat di pangkal pahanya. Semalam dipakai, selebihnya tak pernah diingat,”

Ibu menangis.

“Kalau saja sedari dulu ibu tidak pernah membiarkan tubuh ibu dipeluk laki-laki, mungkin ibu tidak akan pernah mengerti seberapa kotor dan hinanya pekerjaan ibu,”

Tangis ibu pecah. Butir-butir airmatanya menetes sampai pada luka-luka menganga berwarna merah yang ada di sekujur tubuhku. Perih. Tapi aku tak mampu merintih kesakitan, tidak juga mampu menangis. Seluruh tubuhku lemas. Aku tersungkur di bawah kaki laki-laki itu. Helai demi helai rambut panjangku terlepas dari kulit kepala, berhamburan satu persatu menyentuh lantai dan terbawa angin malam. Luka itu bertambah banyak dan memenuhi tubuh telanjangku yang mulai berwarna merah karena darah yang terus mengucur dari setiap luka yang ada.

Laki-laki itu memelukku. Menghujaniku dengan mimpi tentang sebuah rumah kecil dengan taman bunga yang bermekaran di pagi hari dengannya dan dengan diriku yang tidak lagi telanjang. Mataku berhias wajah-wajah mungil dua anak kecil yang sedang berlarian di atas rumput hijau yang membungkus halaman kecil rumah indah itu. Aku tidak lagi telanjang, aku bukan pelacur. Aku perempuan yang mempunyai seorang suami dengan dua anak dan rumah mungil bertaman bunga. Rambutku tak sepanjang cerita-cerita ibu yang penuh dengan kisah muram dan sedih. Aku memiliki semua yang dimiliki perempuan lainnya. Aku bukan pelacur, aku punyai semuanya.

“Tidurlah, aku harus pulang malam ini. Besok aku akan kemari lagi,”

Kuku-kuku runcingnya yang sedari tadi membelai tubuhku dengan lembut tiba-tiba menusuk tajam menembus kulit dan nadiku. Mulutnya memanjang ke depan, moncong hitamnya berkilatan dengan lendir. Taring-taringnya mencabik-cabik tubuhku. Aku tersungkur penuh luka memerah. Perih. Kucoba mencari rumah mungil, taman bunga, dua wajah anak kecil dan laki-laki itu kesana kemari. Kutengok ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang, tak ada apa pun. Tak ada satu pun terlihat di mataku. Hilang.

Hanya ada anjing berbulu hitam di depanku. Anjing hitam itu terus mencabik-cabik tubuhku dengan biadab. Kemaluannya mengencingi mukaku yang penuh dengan gurat luka cakar. Aku diam, tak mampu melawan, segala daya upayaku memuai. Kakiku patah, jari-jemariku terlepas satu-satu, kepalaku pecah berkeping-keping di udara dan hatiku hancur tak berbentuk. Sekali lagi aku berusaha mencari sosok laki-laki yang tadi memeluk tubuhku dengan erat, aku mencarinya. Tanganku yang tak lagi berjemari, menggapai-gapai ke udara, dimana dia? Pagi sudah datang, tapi mataku tak bisa melihatnya di ruangan ini.

“Kau melakukan kesalahan pertamamu, Nak,”

Aku tersentak. Suara dan sosok ibu tiba-tiba hadir di hadapanku.
Aku menangis tersedu.

“Kita terlanjur kalah, Nak,”
“Aku hanya ingin merasakan pelukannya Bu, sekali saja…,”
“Menangislah kalau kau ingin menangis,”
“Ibuuuu…………………..,”

Ibu memelukku dengan penuh kasih. Tangisku pecah di bahunya.

“Aku melihat surga ketika aku memeluknya, Bu…,”
“Aku menginginkan surga itu, Bu…,”

Ibu tidak berbicara, hanya pelukannya terasa makin erat.

“Surga tidak pernah ada untuk pelacur seperti kita, Nak…Surga yang kau lihat saat memeluknya akan begitu saja terpendar saat pelukannya harus berakhir di pagi hari. Dia akan kembali pada dunianya yang benderang, dunia yang tak kita kenali. Dan kita akan berakhir lagi disini, sendiri menunggunya kembali dengan harapan dan mimpi, sampai terbunuh waktu yang tak pernah lagi membawanya kembali pada kita,”

Dalam perih yang masih terasa sampai malam ini, aku terus bersenandung di depan cermin besar di samping jendela besar dalam tubuh telanjang sambil menyisir rambut panjangku yang sudah sampai di pangkuan dengan jari-jari tangan yang bergetar. Senandung lagu yang sama, lagu tanpa syair. Dan jauh di dalam cermin tempatku berkaca, anjing hitam itu tergolek di ranjang berseprai kusut yang masih menyimpan hangat sisa bara tubuh kami selepas bercinta beberapa jam yang lalu. Bulu-bulu hitam di tubuhnya semakin legam menutupi sekujur tubuhnya. Moncong hitamnya masih mengkilat karena lendir yang menempel disana. Aku masih seorang pelacur yang tiap malam dalam ketelanjangannya menunggu pagi datang dengan senandung lirih lagu tanpa syair ; tak lagi menginginkan pelukan dari anjing-anjing hitam yang datang padaku, tak lagi ingin bermimpi tentang surga yang tak pernah ada.

Virginitas dan Sekelumit Problematikanya

Oleh: Gyan Pramesty
Virginitas dianggap sebagai mahkota terindah yang melekat kepada diri wanita, terjaga, terlindungi dan tak diperkenankan diganggu-gugat. Sebagian manusia mempergunakan eksistensi virginitas sebagai alat untuk mengukur nilai seorang wanita. Selaput tipis yang membentengi liang peranakan wanita dianggap gerbang keramat yang tak boleh terkoyak, sebelum waktu yang ditetapkan, yakni pernikahan. Terkoyaknya selaput tipis tersebut akan merusak nilai seseorang, setidaknya itulah yang ditanamkan oleh ribuan orang kepada wanita-wanita muda yang akan menginjak vase matangnya keinginan akan persetubuhan. Dogma positive yang dimaksudkan untuk memberi pengertian tentang seberapa rendahnya wanita yang membiarkan benda tersebut terkoyak. Amat sangat positive.
Tetapi dogma tersebut, sering kali berpindah fungsi sebagai pembatas hak asasi manusia (HAM), khususnya wanita. Masa puber merupakan masa berkembangnya hasrat terdalam dari seorang wanita, dan dogma tersebut memaksa mereka mengungkung hasrat tersebut sedalam-dalamnya, kewajaran yang dialih-fungsikan menjadi ketidak-wajaran.
Para wanita mengkerut, menyembunyikan hasrat mereka dalam balutan jubah-jubah kehormatan yang digadang-gadang sebagai kesucian. Mereka takut mengekspresikan diri-mereka sendiri, mereka mengingkari eksistensinya sebagai makhluk yang berhasrat. Terpaku dalam keharusan berselaput. Terdidik untuk menyembunyikan kucuran yang hanya bisa terealisasi dalam mimpi. Terdiam.
Salah interpretasi sudah melanda dunia kewanitaan. Masyarakat menuntut mereka tetap virgin, selalu perawan, sebelum ijab kabul di depan penghulu. Mereka melupakan ada hasrat yang keberadaannya tak mampu disangkal siapapun. Hasrat biologis.
Wanita semakin tersudutkan. Mereka yang terlanjur memberikan keperawanannya kepada seseorang, akan terus mempertahankan hubungan tersebut. meskipun mereka terkukung dalam penderitaan. Karena tak dapat dipungkiri, pria yang telah merenggut virginitas seorang wanita akan memperlakukan wanita tersebut sesuai dengan kehendaknya, karena yang ada dalam benaknya adalah si wanita tidak akan meninggalkan si pria karena tidak akan ada pria lain yang sudi menikahi makhluk tak berselaput dara. Alhasil, wanita kehilangan keberhargaannya.
Hal tersebut akan berimbas kepada seluruh aspek kehidupan wanita. Ia akan terlihat lebih suram, wajahnya tak bercahaya. Karena benaknya dipenuhi oleh berbagai yang tak pasti, sudikah si pria yang telah merenggut keperawanannya mengiringi langkahnya hingga ke pelaminan, adakah pria lain yang sudi menjadi suaminya setelah mereka mengetahui ketidak-perawanannya. Ia tertekan.
Maka dari itu, solusi yang paling tepat untuk fenomena tersebut adalah solusi psikologis yang harus diamalkan oleh para wanita di seluruh dunia.
Sebelum melakukan hubungan pranikah, para wanita harus berfikir ulang, cukup kuatkah landasan berfikirnya. Apabila si wanita tidak dapat melepaskan diri dari paradigma tentang virginitas yang ditanamkan masyarakat kepadanya, lebih baik ia menjauhi perbuatan tersebut. karena hanya akan menimbulkan penderitaan jiwa terhadap dirinya.
Tetapi, apabila ia yakin mampu melepaskan diri dari paradigma tersebut yakinlah dengan apa yang dilakukan. Yakinlah bahwa ia dan nilai yang melekat dari padanya tidak berdasarkan kepada selaput tipis yang ada di selangkangannya. Yakinlah bahwa ia adalah mahkluk mulia yang mampu menaklukan dunia. Yakinlah bahwa ia hanya ia yang mampu mendeskripsikan, bukan masyarakat serta paradigma kunonya.

Catatan:
Opini ini terpilih sebagai opini terbaik ketiga tentang ‘Seks Pranikah’

Keluargaku Adalah Segalanya Untukku

Oleh Anita Rachmawati

Fenomena SEKS PRANIKAH, merupakan sebuah fenomena yang menimbulkan persoalan sekaligus merugikan kehidupan kaum perempuan. Fenomena tersebut memunculkan luka mendalam bagi perempuan, terlebih lagi juga mengganggu psikologisnya. Pemikiran saya, sebagai kaum muda untuk membantu menyembuhkan ‘luka’ akibat seks yang dilakukan oleh perempuan yang terlanjur menyerahkan kehormatannya kepada lelaki yang ternyata tidak menjadi suaminya adalah dengan memberinya motivasi, memberikan banyak dukungan dan membangunkan semangatnya kembali. Memberi dukungan adalah hal yang sangat perlu diberikan karena hal tersebut merupakan salah satu obat yang bisa menyembuhkan luka terlebih lagi secara psikologisnya perempuan itu mengalami guncangan yang dahsyat. Karena dengan semangat yang kita berikan itulah ia merasa bahwa hidupnya belum berakhir dan ia tidak akan merasa hidup sendirian di dunia ini.
Seharusnya kesalahan yang telah diperbuatnya, kita sebagai sesama kaum perempuan tidak perlu mengejeknya atau bahkan mengucilkannya. Dukungan dari semua pihak yang terdiri dari dukungan kedua orang tua, teman-teman dan lingkungan di sekitarnya sangat diperlukan. Memberikan dia motivasi juga sangat perlu dilakukan karena hal tersebut dapat membuka hati dan pikirannya karena dengan mendapat motivasi dan dukungan dari semua pihak, perempuan tersebut dapat melanjutkan hidupnya, meraih masa depannya dan berada di jalan yang semestinya ia jalani seperti perempuan yang lainnya pada umumnya.
Konsultasi antar keluarga juga diperlukan untuk mengurangi beban yang ia pikul sendiri. Peran orang tua sangat diperlukan, dengan kasih sayang dan kehangatan dari keluargalah yang dapat menghapus beban dan pikirannya. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, orang tua harus dengan senang hati dan tak pernah lelah memberikan nasehat dan tidak boleh lengah dalam mengawasi anak perempuannya. Hal tersebut sangat dianjurkan untuk mencegah agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Keluarga merupakan segalanya untuk kita karena dalam kondisi apapun kita pasti kembalinya akan keluarga kita juga.

* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang.
Catatan:
Opini ini terpilih sebagai opini favorit dari rekan mahasiswa tentang ‘Seks Pranikah’