Buku Baru: Antologi Cerpen RetakanKata 2012

hari ketika seorang penyihir menjadi nagaKabar RetakanKata– Jika kita perhatikan, mungkin anda sependapat bahwa dunia sastra kita semakin hari semakin berkembang, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Berbagai acara berbau sastra dipagelarkan di berbagai tempat. Dengan mesin pencari google, anda bisa menemukan berbagai macam lomba menulis. Meningkatnya budaya baca-tulis merupakan petanda baik perkembangan budaya masyarakat yang menumbuhkan harapan di tengah hingar-bingarnya gempuran budaya instan.RetakanKata sebagai salah satu Blog Seni dan Budaya, tidak mau ketinggalan laju kereta perubahan. Lomba-lomba menulis terus digiatkan. Dan salah satu hasil dari lomba menulis di RetakanKata ini dibukukan menjadi Antologi Cerpen RetakanKata 2012. Antologi ini memuat 15 (lima belas) cerita pendek terbaik dari 361 cerpen yang lolos seleksi dalam perlombaan. Lima belas cerpen karya lima belas penulis dari 490 peserta lomba tersebut berjudul:

  1. Cincin karya Canaliy
  2. Rantai Mawar karya Adellia Rosa Rindry Poetri
  3. Rhesus karya Zakiya Sabdosih
  4. Dia karya Meilia Aquina Hakim
  5. Depan Cermin karya Dandun Suroto
  6. Budak-budak Tuhan karya M Nasif
  7. Ibuku Pelacur karya Sam Edy Yuswanto
  8. Cinta yang Menyebalkan karya Miftah Fadli
  9. Bungkam karya Latifatul Khoiriyah
  10. Tempe Busuk karya Victor Delvy Tutupary
  11. Stasiun Kesunyian karya Gatot Zakaria Manta
  12. Dotage karya MK Wirawan
  13. Burung Gereja di Nagoya karya Beta Tangguh
  14. Arwah Keibuan karya Fahrul Khakim
  15. Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga karya Maria Wiedyaningsih

Soe Tjen Marching, salah satu juri dalam lomba penulisan cerpen ini mengatakan:

Cerpen-cerpen luar biasa telah lahir dari para penulis yang namanya tak dikenal dalam dunia sastra. Dengan berbagai tema dan gaya bahasa, sebuah imbuhan segar bagi dunia sastra.

Dan memang demikianlah adanya. Lima belas penulis yang memenangkan lomba tersebut adalah kaum muda berbakat yang namanya tak begitu dikenal dalam dunia sastra. Sebagian besar dari mereka masih berstatus mahasiswa. Namun, dengan berbagai gaya penulisan masing-masing, mereka mampu mengangkat tema-tema yang berbeda menjadi sebuah bacaan yang segar dan menarik. Tema sosial cukup mendominasi karya-karya mereka. Simak misalnya dalam cerpen Rhesus yang mengangkat tema aborsi, Kemudian Dia, mengangkat tema pengguna obat-obatan terlarang, Depan Cermin mengangkat tema kepalsuan, Budak-budak Tuhan, Ibuku Pelacur,  dan Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga mengangkat tema kekerasan psikologis. Kisah anak jalanan dapat dibaca pada cerpen Arwah Keibuan, sedang kisah kemunafikan hidup seseorang diceritakan dengan sangat manis dalam cerpen Tempe Busuk.

Tema cinta yang disampaikan dengan gaya bahasa unik menambah segar kumpulan cerpen ini. Rantai Mawar, Cinta yang Menyebalkan dan Burung Gereja di Nagoya, tidak melulu melihat cinta sebagai sesuatu yang mendayu-dayu melainkan sebagai dilema-dilema yang harus dihadapi. Demikian juga dengan Cincin, Bungkam, Stasiun Kesunyian dan Dotage. Para penulis tema cinta ini seperti hendak menyampaikan bahwa setiap orang akan memberi respon yang berbeda ketika berhadapan dengan dilema cinta. Orang bisa mengambil sikap serius, namun juga bisa easy going -semua akan baik-baik saja. Membaca kisah-kisah mereka, mau tidak mau, pembaca diajak tersenyum getir sekaligus geli menghadapi kekonyolan-kekonyolan hidup ini. Para penulis ini begitu piawai merangkai kisah dan menyerahkan penyikapan situasi pada pembaca.

Berbagai ragam tema dan gaya bahasa tersebut telah menciptakan harmoni keindahan dalam buku kecil ini, Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga: Antologi Cerpen RetakanKata 2012– persembahan RetakanKata dan Rose Management untuk Anda.

hari ketika seorang penyihir menjadi nagaJudul Buku: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga: Antologi Cerpen RetakanKata 2012
Penulis : Kumpulan 15 Penulis
Penyunting: Ragil Koentjorodjati
Penerbit: Rose Management
Tahun: 2012
Tebal: xx + 284 halaman
Harga: Rp. 45.000,-
ISBN: 978-602-19991-5-8

Pemesanan buku dilayani melalui:

Blog RetakanKata

Email retakankata@gmail.com
Sms 085958 55 11 55
Facebook Redaksi RetakanKata

Rose Management:

twitter@rosemanagement; @KRofficial_ ;
sms 0812 844 26 788 ; 0856 991 2595

Catatan: Harga di atas belum termasuk ongkos kirim.

Melihat Dunia dalam Keindahan

Gerundelan Ardika Abuzaid

prosa liris
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Setiap kali berbicara tentang sastra, pikiran kita menerawang kembali ke masa-masa Chairil Anwar ketika menuangkan ide-ide spektakulernya dalam rangkaian puisi-puisi indah atau ke masa Merari Siregar ketika menuliskan penderitaan hidup dalam Si Jamin dan Si Johan-nya atau mungkin yang selainnya. Begitulah bangunan pemikiran yang sudah tertanam dalam otak pelajar di negeri ini. Sastra adalah puisi, gurindam, balada, novel dan yang sejenisnya.
Namun demikian, akan sangat sempit jika sastra hanya berkutat pada seputar masalah di atas karena sebenarnya puisi, gurindam dan yang selainnya hanyalah produk dari sastra itu sendiri. Ada yang lebih luas dan lebih dalam untuk dibicarakan terkait sastra ini, yakni bagaimana melihat dunia dan mengubah dunia melalui pena. Sejarah mencatat bahwa berbagai perubahan di dunia ini terjadi ketika pena telah berbicara melalui tangan-tangan mulia para penyair, pujangga dan orang-orang alim yang ada di masa itu. Lalu apa kaitannya dengan sastra? Secara sederhana, penulis mengibaratkannya sebagai sebuah sistem dalam mempresentasikan pemikiran orang-orang di masa itu dalam bahasa terbaik. Maka tidak mengherankan ketika ada banyak sekali karya sastra yang tetap masyur dari masa ke masa.
Lihatlah bagaimana maha karya yang sangat tua Ramayana dan Bharatayuda masih menarik untuk dikaji, atau setumpuk roman karya Khalil Gibran yang begitu menginspirasi atau karya-karya lain yang masih banyak jumlahnya dan tersimpan rapi serta terus digali melalui  berbagai pengkajian. Hal itu menunjukkan bagaimana sastra itu dapat mewarnai kehidupan ini dan menawarkan perubahan-perubahan yang besar di tengah-tengah masyarakat.
Namun demikian, dalam tulisan yang singkat ini penulis cukup membatasi pada pembahasan sastra dalam dunia pendidikan. Lebih khusus lagi, penulis ingin mengungkap benang merah antara sastra dan pendidikan yang selama ini hanya melambai-melambai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal sastra amatlah luas dan mampu memberikan ruh baru dalam mengubah generasi Indonesia menjadi generasi yang berperadaban maju dan unggul. Dunia sastra adalah dunia yang memberikan cara pandang terindah dalam membaca kebesaran ayat-ayat kauniah-Nya, melihat realita dan menyenandungkan sebuah gerakan perubahan.
Realita pendidikan yang ada saat ini, sastra menjadi sesuatu yang seringkali terpinggirkan. Bahkan seolah-olah sastra hanyalah milik orang-orang linguistik, dalam hal ini adalah guru bahasa. Dampaknya adalah sedikit siswa yang tertarik dalam dunia sastra. Jangka panjangnya adalah terbentuknya bangunan pemikiran picik seperti ini yang justru dimulai dari dunia sekolah, tempat yang seharusnya meningkatkan kualitas kemanusiaan seseorang. Sampai-sampai banyak guru eksak yang skeptis terhadap sastra dan cenderung suka mempertentangkan sebagai penghambat dalam pelajaran-pelajaran mereka.
Demikianlah realita yang ada saat ini. Adalah tidak penting bagi kita menggerutu atas kenyataan yang ada. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana menunjukkan sastra sebagai salah satu akselerator perubahan masyarakat khususnya dalam dunia pendidikan. Baik dalam mendidik kepribadian sekaligus mendongkrak kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang. Dan ini telah dibuktikan oleh sastrawan-sastrawan kita di abad ini yang menurut penulis mampu membuka ruang geliat bagi dunia sastra untuk lebih memasyarakat.
Kita ambil contoh Habiburrahman el-Shirazy yang berhasil mengguncang Indonesia bahkan dunia ketika berhasil menerbitkan novel Ayat-Ayat Cintanya sebagai salah satu karya terpopuler di Indonesia pada abad ini. Isinya sederhana tetapi ternyata mampu memberikan pengaruh yang luar biasa bagi perubahan masyarakat. Banyak sekali testimoni yang menunjukkan adanya perubahan positif perilaku masyarakat pascapeluncuran novel tersebut. Bahkan karya-karya beliau berikutnya begitu dielu-elukan sekaligus dinanti-nantikan.
Contoh lainnya adalah Andrea Hirata. Ekonom yang tulisan-tulisan ilmiah sering dijadikan referensi di Eropa ternyata juga mampu mengguncang masyarakat kita dengan memotivasi para pemuda dalam menjalani pendidikan mereka. Bahkan jika kita membaca novel Laskar Pelangi-nya, banyak hal yang tak terpikirkan di otak kita dapat tersaji secara apik melalui rangkaian deskripsi yang luar biasa dan memikat. Kemudian Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov pun tidak kalah serunya. Semua itu menjadi salah satu contoh bagaimana sastra berbicara untuk membawa angin perubahan bagi masyarakat menuju ke arah yang lebih baik.
Yang terpenting di sini adalah seharusnya sastra dapat dijadikan sebagai salah satu media atau mungkin sistem pengantar pendidikan di negeri ini yang kehalusan budinya mulai luntur. Di sadari atau tidak, pelajaran sastra (dalam hal ini Bahasa Indonesia) terkesan membosankan karena pendekatan yang digunakan kepada peserta didik belum mampu membangkitkan sense mereka. Apakah setiap orang dapat bertahan dengan bacaan-bacaan ilmiah yang bahasanya kaku dan membosankan? Apakah setiap orang harus memahami matematika dengan menyusun rumus-rumus paten dan sulit dihafal secara konvensional? Apakah setiap orang harus melihat fenomena alam melalui rangkaian teori fisika, kimia dan biologi yang ada dalam buku-buku karangan orang asing yang jelas beda cara pembahasaan mereka? Di sinilah ruang bagi sastra untuk memberikan jawaban.
Salah seorang pengajar berdedidkasi bagi pendidikan negeri ini, Munif Chatif, murid angkatan pertamanya Bobbie de Porter menyampaikan bahwa manusia dikaruniai oleh tuhan kecerdasan majemuk. Di antara kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik. Kecerdasan ini boleh jadi merupakan pondasi bagi seseorang untuk mengenal bahasa dan sastra secara lebih kuat meskipun anggapan ini belum tentu benar. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memanusiakan bukan mengatur dan mendoktrin, yaitu pendidikan yang memberikan ruang kepada setiap siswa untuk berkembang meng-upgrade kapasitas mereka sesuai dengan potensi yang dimiliki. Maka segala pendekatan yang dilakukan seorang guru hendaknya disesuaikan dengan kecenderungan kecerdasan anak tersebut.
Benang merah dari uraian Munif tersebut adalah bagaimana sastra dapat menjadi warna dalam meng-upgrade potensi peserta didik dalam menguasai pelajaran dan kecakapan hidup. Dengan sastra, dunia dapat dieksplorasi dengan cara pandang dan cara berpikir yang indah. Jika pelangi dapat diungkapkan dalam rangkaian puisi, cerpen atau lagu yang lebih dekat dengan dunia anak-anak, mengapa harus dipaksakan dengan rumus-rumus yang begitu sulit dan terkesan hiperbolik di mata dan pikiran mereka. Jika ekosistem dapat dideskripsikan dalam novel menarik yang panjangnya berjilid-jilid mengapa mereka harus dipaksa untuk menelan mentah-mentah setiap butir teorinya. Di sinilah sastra berbicara, membuka dunia dalam untaian keindahan dan kearifan.
Dan masih banyak ruang-ruang yang dapat dimasuki sastra untuk membuktikan eksistensi dirinya. Sastra di mata pendidikan adalah sebuah keindahan. Sebuah senjata untuk menembus ruang-ruang pikiran siswa yang konkrit untuk dibentuk menjadi ruang-ruang abstrak yang siap melihat, mencerna dan mempresentasikan kenyataan. Dengannya perubahan yang diharapkan akan segera terjadi. Perubahan besar dan mendasar mulai dari pola pikir dan cara pandangnya. Dengan sastra, dunia ini terasa indah, hidup ini akan sangat halus, lembut, dan penuh dengan keharmonisan.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #12

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 12

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Minggu lalu diadakan pelatihan Penyadaran Hukum dan Non Litigasi, ketiga kelompok petani bergabung di Wisma Dimalana. Latihan makan waktu sampai seminggu sangatlah melelahkan peserta. Walaupun uang transpor, akomodasi dan uang pengganti kerja mereka diberikan oleh FDP, tapi pada hari kelima, sudah mulai banyak petani yang bolos tidak mengikuti session. Mereka justru berkumpul dikedai tuak.

“Mari Pak,…kita kembali ke ruangan, sesion sudah dimulai,”  kata Arman.

“Ah !! biarkan saja mereka di sini, mereka masih sangat asing dengan pulpen, buku tulis dan mendengar kotbah.” Tigor tidak setuju terhadap Arman yang menghimbau petani untuk tertib mengikuti acara pelatihan. Para petani sangat setuju dengan pendapat Tigor. Setelah Arman pergi, Tigor masih duduk bersama petani.

“Kalau terus menerus belajar seperti ini kapan kita berontak kepada pemerintah yang seenaknya menaikan harga pupuk,” kata Pak Regar.

“Ah, benar juga.” Kata Tigor yang merasa sependapat dengan Pak Regar. “Okelah, nanti setelah pelatihan ini kita kumpul lagi membicarakan rencana aksi. SETUJU?!! Tigor ancungkan genggam tanganya. Serentak peserta pelatihan yang ada di kedai tuak menjawab: SETUJU !!” Tak berapa lama kemudian secara bergilir mereka tinggalkan kedai tuak masuk ke ruang pelatihan dengan semangat yang baru. Semangat yang tidak diketahui oleh kawan-kawan lainnya. Semangat memberontak pemerintah sesuai dengan gagasan Tigor.

Di dalam ruangan dalam perasaan jenuh jengkel dan mungkin jijik, mereka masih sempat senyum-senyum sambil mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti dan setuju atas segala ucapan yang disampaikan oleh nara sumber. Lapar tak bisa ditunda, pemerintah sudah keterlaluan maka tekad memberontak semakin membatu. Sudah semakin tak sabar berada dalam ruang pelatihan. Wajah Tigor juga tegang dan geram melihat pelatihan yang terlalu lama menyiksa bathin petani.

Sekretariat FDP heboh sehabis pelatihan. Mikail yang paling panik melengkapi proses pelatihan untuk laporan ke lembaga dana. Tigor juga sarat dengan bertumpuk buku memberikan analisanya tentang kondisi peserta, materi session, proyeksi pelatihan maupun mencari metodologi pelatihan yang lebih tepat lagi. Tapi, karena kerja seperti ini adalah kegemaran Tigor, maka dia asyik saja sepanjang hari sampai larut malam mengerjakannya. Mesin tik sudah tersedia di kamarnya di rumah Pak Guntar desa Kembang Bondar.  Sambil mengetik, kepalanya heboh memikirkan langkah-langkah melakukan aksi ke ibukota Rilmafrid. Aksi kali ini harus besar-besaran. Harus mengikutsertakan elemen masyarakat yang lain. Mahasiswa, tukang becak, buruh bangunan dan buruh pabrik dan lain lain harus ikut terlibat dalam aksi kali ini. Dan, dia tak butuh kawan-kawan FDP ikut serta membantu dia mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan aksi besar besaran ini.'”Aku akan kerjakan sendiri semuanya.” Ditinjunya meja kerjanya dengan ganas.

Dengan motor dinasnya, Tigor bolak balik dari desa ke kota. Karena memang ini pekerjaan yang menarik buatnya, maka dengan gampang saja dia berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan buruh, mahasiswa maupun para tukang becak dekat kantor DPR. Kabar angin mengenai kerjaan pribadi dari belakang layar yang dilakukan Tigor sudah terdengar juga oleh warga FDP. Tapi, Tigor selalu mengelak kalau diintrograsi oleh kawan-kawan FDP. Pokoknya Tigor dinilai semakin misterius. Sangat sulit dipahami oleh orang lain. Dan, anggota kelompok petani yang berada di kedai tuak waktu pelatihan yang lalu juga konsisten membantu segala usaha aksi yang mereka rencanakan bersama. Segalanya dirahasiakan mereka dengan ketat.

Rasa penasaran warga FDP sudah sampai puncaknya. DR Pardomuan sengaja memanggil Tigor ke sekretariat untuk menceritakan segala hal yang sedang dirancangnya. Menerangkan rancangan kerjanya di luar program yang sudah digariskan. Sore itu seluruh staf FDP sudah kumpul.

“Selamat sore. Dalam 2 minggu belakangan ini seluruh pelaksana program FDP bingung memperhatikan kegiatan-kegiatan Tigor yang sangat heboh mundar mandir dari desa ke kota. Di kota juga Tigor tidak ke sekretariat. Tigor sering kelihatan ngobrol dengan tukang becak, buruh dan komunitas-komunitas di luar kelompok sasaran program. Yang tidak ada kaitannya dengan program yang telah kita susun. Dan semua pertanyaan staf tentang hal ini di respon Tigor acuh tak acuh. Oleh sebab itu saya sebagai penangung jawab program dituntut oleh kawan-kawan untuk mengundang Tigor memaparkan maksud dan tujuan Tigor dalam menjalin kontak dengan berbagai komunitas tersebut. Kami persilahkan Tigor untuk angkat bicara.”

Tigor tampak gelagapan. Dia tak menyangka bahwa undangan rapat kali ini adalah untuk mengintrograsi dirinya. Dengan agak terbata-bata Tigor angkat bicara: “Tidak ada yang prinsip. Saya merasa bahwa masih banyak waktu luang saya setelah jalankan program. Nah, dari pada waktu terbuang sia-sia, saya coba mengenal kehidupan komunitas-komunitas miskin perkotaan. Siapa tahu saya bisa memproduksi sebuah buku dari hasil interaksi saya dengan komunitas miskin kota. Hanya itu maksud saya. Jadi kawan kawan tak usah curiga.”

Tigor kemudian diam dan kondisi pertemuan sore ini sunyi senyap beberapa saat.

“Tapi, dari sumber yang dipercaya aku dengar informasi bahwa Tigor akan melakukan pemberontakan besar-besaran. Aku bingung mendengar istilah pemberontakan besar-besaran,” Mikail buka bicara.  Dari nada suaranya kelihatan tidak ada maksud Mikail memojokan Tigor.  Tapi, Tigor merasa dirinya dipojokkan.

“Ah !! tidak ada itu! Aku hanya terangkan tentang bentuk-bentuk perubahan sosial seperti yang disampaikan oleh Pendeta DR Tumpak Parningotan. Mereka saja yang menggantikan istilah itu dengan kata pemberontakan.” Dengan nada suara yang agak tinggi Tigor menjawab pertanyaan Mikail.

“Yah,… terlepas dari pertanyan Mikail, saya melihat memang belum saatnya kita melakukan aksi besar-besaran. Sejarah telah membuktikan bahwa gerakan sosial yang tidak rapi pasti mengalami kegagalan. Kekuatan status sosial yang dilindungi oleh militer dengan anggaran dana yang berkelimpahan pasti dengan mudah mematahkan semangat perjuangan kita. Makanya kalau ada rencana aksi. Yah,.. marilah kita bicarakan bersama sama  di FDP. Jangan main sendiri.” DR Pardomuan memang sudah jengkel melihat Tigor yang paling sulit diaturnya. Tigor tidak macam Muslimin yang patuh bekerja sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.

Pertemuan ditutup jam 8 malam. Seluruh warga FDP berinteraksi seperti apa yang selama ini terjadi. Ketawa saling olok antar Ucok dan Arman. Muslimin yang lugu melawak membuat suasana cerah ceria. Hanya Tigor yang diam seribu bahasa tunduk kepala dan tak mau ikut tertawa bersama kawan kawannya.

“Malam ini kau tidur di rumah ya..Gor. Ada film ‘The Man With The Golden Gun’, Film James Bond. Bintang kesayanganmu Roger More main lagi di bioskop Mayestik tengah malam,” kata Mikail yang baru kembali dari mengantar Susanti pacarnya. Supaya kau jangan stres Hua..ha..ha..,” kata Mikail bersahabat. Tapi, Tigor tampak tegang diam seribu bahasa. Kemudian,” Sudahlah Mikail, aku sedang tulis opini yang belum siap di rumah Pak Regar. Besok saja kita nonton.”

“Oh..ya Gor, mana tulisanmu? Ini tulisanku, Kita kan sudah janji setiap minggu tukar menukar tulisan,” kata Ucok. “Maaf Cok, aku tak ada tulisan minggu lalu. Tapi dalam minggu ini aku akan setor 2 tulisan,” kata Tigor dengan sikap dingin tak bergairah. Kemudian Ningsih datang: “Bang Tigor kwitansi untuk transportasi kelompok tani Kembang Bondar belum komplit, Kapan aku terima?” Tigor jadi panik: “Dua hari lagi kuantar ya..Ningsih.” Semua pihak tampak ingin menghibur hati Tigor yang sedang suntuk sehabis pertemuan. Tapi, Tigor tidak terhibur. Dia masuk ke rumah utama menjumpai DR Pardomuan mau pamit lebih dulu. “Hati hati di jalan Tigor, sekarang dekat jembatan ke Kembang Bondar semakin sering perampokan.” DR Pardomuan memang selalu memberikan perhatian yang besar kepada seluruh warga FDP. Ibu dan Arben Rizaldi juga merasakan ketegangan dalam tubuh FDP. Mereka juga bingung menganalisa kondisi FDP.

“Bu… ada apa ya… Kok kegembiraan mereka tidak seperti biasanya,” Arben membuka komentar.

“Itulah kau, gara gara film sinetron kita tak mendengar isi pertemuan mereka,” Ibu jadi kesal mendengar komentar Arben.

“Sekarang tak dibutuhkan peran para akademisi dari perguruan tinggi dalam perubahan sosial. Mereka itu kaki tangan imperialisme,” Tigor menyatakan sikapnya, sepulang nonton film Midnigt Express. Tapi Mikail diam saja. Usahanya menyadarkan Tigor agar jangan selalu melihat permasalahan melalui pendekatan ideologis, tak pernah diperhatikan Tigor. Seolah badan Tigor saja yang ada dalam bioskop, sementara kepalanya melayang jauh membayangkan rencananya. Rencana terselubung yang dinilai oleh warga FDP sangat misterius. Tigor tidak lagi memahami film Midnight express yang bercerita tentang percintaan dua remaja yang pupus karena sang jantan dituduh bawa narkoba. Lantas dimasukan ke dalam penjara. Permainan kedua aktor muda tersebut sangat memukau. Oleh sebab itu, film Midnight Express telah menerima Piala Oscar. Sangat layak didiskusikan. Tapi, diskusi yang selama ini mereka lakukan sudah tak sesegar dulu lagi. Tigor menuduh Mikail adalah menusia yang mempertahankan status kelas borjuasinya.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 11

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik, Sebuah Tanggapan

Gerundelan Soe Tjen Marching

hati perempuan
Gambar diunduh dari http://www.images03.olx.com.ph

Sangat mengejutkan membaca artikel “Lesbian dalam Pandangan Psikiatrik” di Koran Tempo, Kamis, 14 Juni 2012. Sang penulis, H. Soewadi, mengajukan argumen bahwa lesbian adalah penyimpangan dan gangguan seksual yang perlu disembuhkan. Padahal, sejak 1973, the American Psychiatric Association sudah menetapkan bahwa homoseksualitas tidak lagi digolongkan sebagai gangguan mental. Lalu, pada 17 Mei 1990, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) secara resmi menyatakan homoseksualitas bukanlah penyakit atau gangguan jiwa. Di Indonesia, Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa III juga mencabut homoseksualitas sebagai gangguan, pada 1993.

Yang tidak kalah mengejutkan, penulis menyetujui pendapat bahwa homoseksual terjadi karena berbagai faktor, antara lain: (1) Faktor biologi berupa terganggunya struktur otak kanan dan kiri serta adanya ketidakseimbangan hormonal; (2) Faktor psikologis, kurangnya kasih ibu, dan tidak adanya peran seorang ayah; (3) Pengaruh lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan kematangan seksual yang normal; (4) Faktor pola asuh, kurangnya ketaatan agama.

Saya ingin membahas satu per satu faktor yang telah disebut oleh penulis artikel sebagai penyebab homoseksualitas. Pertama, kalau homoseksualitas memang manusia yang terganggu struktur otak dan hormonnya, artinya mereka akan mengalami rasa letih, pening, stres, insomnia, dan terkadang disertai dengan kejang. Apakah para homoseksual mempunyai gejala demikian? Mungkin benar, banyak homoseksual di Indonesia yang mengalami stres berat, pening, dan insomnia. Tapi bukan lantaran gangguan otak, melainkan karena banyak dari mereka mendapat tekanan dan stigma dari masyarakat!

Sekarang sudah tersedia berbagai terapi dan pengobatan bagi mereka yang struktur otak atau hormonnya terganggu. Saya telah menjumpai beberapa pasien, baik yang heteroseksual maupun homoseksual, dengan gangguan otak atau hormon. Dan setelah gangguan otak pasien homoseksual disembuhkan, ia tidak lalu menjelma menjadi heteroseksual. Para homoseksual yang masuk rumah sakit dengan gangguan otak biasanya akan keluar dari rumah sakit sebagai homoseksual juga-–mereka tetap setia pada orientasi seksual masing-masing. Jadi tidak ada hubungannya struktur otak dan gangguan hormon dengan orientasi seksual manusia. Dan gangguan otak macam apa yang dialami petenis lesbian Martina Navratilova, sehingga dia bisa bermain dengan dahsyat-–memenangi 18 grand slam. Navratilova bahkan masih bertarung di Wimbledon pada usianya yang ke-50.

Faktor kedua yang disebut oleh H. Soewadi adalah kurangnya kasih ibu dan tiadanya peran seorang ayah. Namun saya mengenal banyak sekali homoseksual yang tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tua mereka, dan banyak juga heteroseksual yang tidak mempunyai ayah dan ditelantarkan oleh ibu mereka. Ilmuwan Dede Oetomo (juga homoseksual) bahkan sempat menceritakan bahwa ayahnya sangat memperhatikan dirinya, dan betapa ibunya begitu mendukung ide-ide dan aktivitasnya dalam memperjuangkan hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia. Yang sering terjadi di Indonesia bukannya anak menjadi homoseksual karena kurangnya kasih sayang orang tua, tapi orang tua (konservatif) berkurang kasih sayangnya setelah mengetahui anak mereka homoseksual.

Faktor ketiga yang disebut oleh penulis ini: pengaruh lingkungan yang tidak baik. Mungkin banyak dari kita yang telah mendengar nama Socrates, Plato, Aristoteles, dan Alexander Agung, para filsuf terpelajar dengan lingkungan para bangsawan. Tapi apakah kita semua sadar bahwa para lelaki ini mempunyai kekasih lelaki? Apakah ini karena lingkungan mereka yang tidak baik?

Sekali lagi, saya akan menyebut Dede Oetomo, yang saya kenal cukup dekat. Dia mempunyai orang tua dan saudara heteroseksual, dan teman-teman heteroseksual juga. Tidak ada “lingkungan” yang membentuk dia menjadi homoseksual! Yang lebih tepat mungkin bukan lingkungan yang tidak baik yang membentuk homoseksual, tapi homoseksual di Indonesia sering kali harus menghadapi lingkungan yang “tidak baik” (yang berpikiran sempit dan menyudutkan LGBT).

Faktor keempat, kurangnya ketaatan agama. Dalam artikel ini, sang penulis menyiratkan, dalam agama, heteroseksuallah yang diklaim benar. Tapi agama mana yang dimaksud? Dewa-dewi di Nusantara (yang kebanyakan berasal dari India) tidak mengacu pada dualisme heteroseksual. Salah satunya adalah Ardhanarishvara, yang merupakan persatuan antara Dewi Parwati dan Dewa Syiwa, sehingga ia mempunyai dua tubuh (separuh lelaki dan separuh perempuan). Patungnya masih bisa ditemukan di Bali dan di Museum Trowulan (Mojokerto).

Begitu juga dalam agama Hindu. Beberapa dewa-dewi agama Hindu tidak berpaku pada kemapanan gender. Misalnya, Wishnu, yang pandai menjelma menjadi beberapa makhluk. Suatu ketika ia menjelma menjadi Dewi Mohini, dan saat itu Dewa Syiwa jatuh cinta kepadanya. Akhirnya, bersetubuhlah penjelmaan Dewa Wishnu dengan Dewa Syiwa. Dari persetubuhan ini, lahirlah seorang bayi bernama Ayyapa.

Selain Mohini, tokoh pewayangan Hindu yang kisahnya memuat ambiguitas gender adalah Srikandi, yang merupakan titisan Dewi Amba. Dalam kitab Mahabharata, Srikandi lahir sebagai seorang wanita, tapi karena sabda para dewa, ia diasuh sebagai seorang pria. Srikandi sering kali dianggap mempunyai jenis kelamin waria, dan ia jatuh cinta kepada seorang perempuan juga.

Agama masyarakat Bugis mempunyai pendeta lelaki yang feminin (biasa dikenal sebagai waria di Indonesia), yang disebut bissu. Bissu mempunyai kedudukan yang cukup disegani di masyarakat Bugis-–karena perpaduan karakter feminin dan maskulin dalam satu tubuh inilah, ia dianggap sebagai makhluk yang lebih sempurna daripada mereka yang hanya mempunyai sifat maskulin atau feminin. Masih ada beberapa contoh agama yang tidak menabukan homoseksual atau biseksual, tapi karena keterbatasan tempat, saya tidak bisa menyebut semua.

Sangatlah disayangkan bila stigma yang diberikan kepada LGBT dipertahankan. Inilah yang sering kali tidak disadari: bila LGBT disudutkan, masyarakat itu sendiri juga mengalami kerugian. Berapa banyak waktu dan uang orang tua yang terbuang untuk mengirim anak LGBT mereka ke psikiater dan mencoba menyembuhkan orientasi seksual mereka? Energi yang tersia-sia hanya untuk merendahkan hak manusia. Justru stigma seperti inilah yang bisa menyebabkan stres dan depresi berkepanjangan.

Di negara-negara yang tidak melecehkan LGBT, mereka bisa mengembangkan kemampuan dengan lebih leluasa. Dengan demikian, akhirnya kemampuan para LGBT tidak terhambat dan tersia-sia, atau menjelma menjadi frustrasi berkepanjangan, hanya karena kutukan masyarakat atau stigma.

Selama kita merendahkan keberadaan LGBT, kita juga telah ikut membunuh kemampuan mereka yang di masa depan bisa menjadi penerus tokoh-tokoh seperti Leonardo da Vinci, Hans Christian Andersen, Jodie Foster, dan Martina Navratilova.

 

(Soe Tjen Marching ;  Komponis.)

Artikel ini telah dimuat di KORAN TEMPO, 21 Juni 2012

Ketika Bang Tigor Galau

Flash Fiction Risma Purnama

butet dan tigor
Gambar diunduh dari ivanaldie.files.wordpress.com

Sudah hampir sebulan ini Butet tak bertemu Tigor. Jangankan batang hidungnya, suaranya pun tak terdengar. Seperti hilang diculik alien! Berkali kali Butet memeriksa sms, inbox atau email, tak ada pesan di sana. Hapenya pun tak pernah aktif. YM, Twitter, fesbuk pun tak ada menunjukkan aktivitas terbaru. Ke mana kau bang Tigor? Butet mulai bertanya tanya dalam hati. Resah! Aku harus segera menemuimu! Butetpun mengambil keputusan, bergegas pergi ke rumah kontrakan Tigor, kekasih hatinya selama setahun terakhir ini. Tapi ke mana? Tigor tak pernah memberitahu alamatnya yang jelas. Jangan jangan alamat palsu, nanti aku kesasar pula, batin Butet berbisik.
Malam minggu mendadak menjadi selalu kelabu bagi Butet. Biasanya ada tawa canda Tigor di ujung telepon, atau sms gombal lebay, atau hanya sekedar jalan berdua di sepanjang trotoar kota sambil gandengan tangan…, hm romantisnya. Tukang bakso lewat pun tak lagi dihiraukan! Tapi kini semua itu seakan menjadi kenangan tak terlupakan. Tapi kenapa Tigor menghilang begitu saja? Apa sebabnya? Mungkinkah karena aku pernah menyinggung soal pernikahan? Ah, Tigor juga ga bilang kok kalau dia menolak akan melamarku, bahkan sepertinya Tigor sudah mempersiapkan arah ke sana. Butet mencoba menghibur diri sendiri. Langkah kakinya terus tak henti,sampai terdengar suara nyanyian, suara yang Butet kenal betul. Butet mengarahkan pandangan matanya ke sekitarnya.
Nah, itu dia asalnya suara itu. Di perempatan jalan dari sebuah lapo tuak di bawah rerimbunan pohon yang di depannya ada tambal ban. Butet berjalan mendekat, bibirnya tersenyum lega. Orang yang sedang dicarinya, bang Tigor sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Marmitu sambil marlissoi. Bah,di sini kau rupanya! Tanpa rasa malu Butet masuk ke sana di antara ramainya tetamu lapo yang  sedang  asyik dengan mendengarkan Tigor bernyanyi. Ueeee…Tigor kaget begitu melihat Butet hadir di sana, sontak dia menghentikan gitarnya dan nyanyiannya. Tigor menarik tangan Butet keluar…
“Bah, Tet…kenapa kau cari aku ke sini, apa kau tak malu?” tanya Tigor dengan raut wajah serius dahi berkernyit.” Kok dia tahu aku di sini ya,” hati  Tigor bertanya.
“ Tak sengaja bang, tadi aku lewat sini, kudengar seperti suaramu…” jawab Butet sambil tertunduk, takut kalau kalau Tigor marah karena dikira telah mengintainya. Berdua mereka duduk di kursi panjang di samping lapo itu di bawah rimbunnya daun pohon ceremai.” Kau tak ada kabar sebulan ini bang…”lanjut Butet lagi. Tigor menghela nafas mencoba menenangkan diri membersihkan pikirannya yang lagi galau.
“Begini ya Tet, aku bukannya menghilang apalagi diculik alien! Aku lagi ada masalah besar ini, sebulan lalu aku menabrak motor dan aku terpaksa ganti rugi, mana pula SIM aku sudah mati. Angkotku disita sama juraganku Tet! Angkot itu akan dijual karena rusak bekas tabrakan, mana pula BBM akan naik nanti. Juraganku  babeh Tohir terpaksa mau menjual saja angkot itu karena tak mau menanggung  kerugian yang lebih besar kalau ga dapat setoran. Sudah sebulan aku tak bayar kontrakan Tet, makanya aku hidup hanya menumpang di rumah teman. Aku memutuskan akan pulang kampung saja ke Laguboti, aku akan bertani saja! Soal hubungan kita, aku minta maaflah kalau aku tak kasih kabar berita, aku takut menyakiti hatimu dan menganggu pikiranmu.”
Butet hanya terdiam sambil menelan ludah di kerongkongannya yang kering. Hatinya tercekat. Pikirannya pun ikut menjadi galau. Tigor akan memutuskan hubungan mereka?”Oh…aku belum siap, “ teriak bathin Butet.
“Tapi begini Tet, kalau kau memang cinta sama aku, ikutlah aku pulang ke kampung, kita menikah di sana, hidup bertani, orangtuaku masih punya sawah yang bisa kita olah, bagaimana Tet?” tanya Tigor mendesak.
“Pulang kembali ke kampung?Oh…tidak! aku sudah meninggalkan kampungku Samosir karena sulitnya hidup bertani di sana, sekarang aku sudah ada pekerjaan meskipun hanya kerja kantoran staff rendahan. Sekarang aku harus kembali lagi demi mengejar cinta Bang Tigor?” bathin Butet berkecamuk. Dia harus memilih.
Sekarang tak lagi hanya Tigor yang galau, Butet pun tertular menjadi galau! Berdua mereka menghabiskan waktu hingga larut malam, membicarakan akan nasib masa depan mereka. Semoga kau tak sedang mabuk Tigor, bisik hati Butet, karena tercium bau aroma tuak dari mulut Tigor, kekasihnya yang sekarang jadi pengangguran.

Mengenang Kenangan Masa Kecil

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*

kumcer mengenangDengan tampilan sampul yang sekilas mampu mengalihkan pandangan calon pembaca dari beberapa deretan buku yang tersedia. Serta pemilihan judul pun menjadi salah satu keunikan tersendiri, menciptakan kolaborasi pada kesan cerita masa lalu yang kini tinggal menjadi sebuah kenangan saja.

Masa SD yang ditempuh selama 6 tahun atau kurang, bahkan tak mengelak ada pula yang lebih dari 6 tahun, menjadikan masa ini sebagai dimensi kehidupan yang menjadi dasar hidup hingga kini. Masa awal sebagai akar diri tumbuh membangun karakter sebagai manusia. Menggambarkan bahwasannya begitu urgent-nya bagaimana roda perjalanan SD terlewati, serta sederetan peristiwa yang menjadi kenangan. Para lakon di dalamnya paham betul akan masa-masa itu, masa di mana seseorang tumbuh sebagai sosok yang sudah harus tersingkirkan karena latar belakang keluarga yang miskin. Tumbuh menjadi pujangga karena kekaguman atas sesama teman sebayanya. Bahkan tumbuh seakan-akan menjadi sosialis yang mengajarkan solidaritas kepada sesama teman, yang kelak dalam kehidupan sekarang menjadi dasar dalam memahami pluralisme.

“Masa kecil menjadi masa yang sangat penting dan perlu digarap dengan seksama, masa kecil menjadi fondasi terbentuknya karakter dan budi pekerti seseorang”. Begitulah tulisan Aji Wicaksono dalam Nostalgia Masa Kecil. Semakin kuat fondasi yang telah terbangun, akan semakin kokoh pulalah bangunan selanjutnya. Anak kecil juga merupakan sosok manusia, ia memiliki perasaan dan emosi yang masih bertumbuh sehingga perlu dibina dan diarahkan. Untuk itulah diperlukan peran serta orang tua, masyarakat dan sekolah. Orang tua menjadi kunci utama pembentukan karakter anak.

Buku kumpulan 25 cerpen yang terangkum dalam satu buku “mengenang…” tak hanya menjadi bukti dokumentasi atas kenangan pribadi di waktu kecil. Bahkan di masa itulah tumbuh pemahaman akan rasa solidaritas, masa penuh dengan kerjasama dan kebersamaan. Masa SD menjadi masa yang kebanyakan didominasi dengan belajar kelompok, begitulah kiranya yang dialami oleh Budiawan Dwi Santoso dengan Merah Celanaku, Putih Bajuku. Kegiatan rutinitas menjadi hal-hal yang dominan untuk diingat. Upacara bendera, senam pagi, bahkan berjalan mengendap-endap memasuki ruang kelas ketika telat dan tak bisa mengikuti kegiatan rutin pun menjadi kenangan tersendiri.

Dua puluh lima (25) judul cerpen mewakili kisah masa kecil yang telah terlewati. Dua puluh lima judul cerpen dengan 25 penulis, sekaligus sebagai sutradara. Di sisi lain merekalah pemeran dari jalannya narasi itu. Mereka mampu melibatkan pembaca untuk menikmati dan menyatu dengan kisah yang diceritakan, sehingga kita seakan-akan diajak untuk melihat gambaran masa lalu sebagaimana ia menggambarkannya dalam cerita di buku ini. Masing-masing penulis berhasil mendiskripsikan dan mengulas cerita masa kecil hadir di mata pembaca.

Tersurat dalam buku ini cerita tentang pergaulan masa kecil/keakraban dengan sesama anak yang tidak pernah membedakan antara juragan dan bawahan serta faktor perbedaan agama yang tidak pernah menjadi masalah. Yang ada dalam permainan adalah berbagi dan bertukar peran karena giliran, itu lebih karena pilihan atau menang kalah pingsut, bahkan prinsip negosiasi sudah diaplikasikan dalam proses berlangsungnya permainan. Pembagian ini bukan karena faktor agama/peranan ekonomi. Inilah pelajaran hidup yang berhasil dimunculkan Sanie B Kuncoro peroleh dari kampung tempat tumbuhnya. Dan di kemudian masa, pengalaman inilah yang menjadi dasar ia dalam memaknai pluralisme.

Keaktifan, kesombongan bahkan pengalaman akan cinta menjadi bumbu tersendiri dalam alur narasi ini. Pengalaman mengagumi sosok teman sebaya menjadi hal yang tabu sekaligus lucu. Pembaca diajak tertawa, karena yang ada di sini adalah perasaan kagum yang diekspresikan lewat kenakalan.

Jika kita menjadi penonton sebuah pertunjukan wayang, maka sang dalang mampu menunjukkan sisi lain dari masa-masa alur cerita perwayangan. Selain yang kita lihat tentang kesenangan, akan kita dapati makna lain dari pertunjukannya. Sang dalang seolah-olah menunjukkan adegan gara-gara yang membuat penonton sontak terkejut. Sebagaimana dikisahkan dalam buku ini, ada beberapa alur kisah yang menyiratkan termarginalkannya sang lakon. Munculnya tragedi ketidaksetaraan dalam hubungan antar manusia karena latar belakang materi, seorang berpotensi mendapatkan perlakuan lebih baik karena lebih berdaya ekonominya. Realitas gara-gara yang dihadirkan sang dalang menunjukkan pada kita bahwa dimensi ini membawa pada pengenalan dunia yang materialistis, pada kesadaran kelas.

Sungguh ironis melihat beberapa fenomena yang harus menjadikan anak-anak emas ini kehilangan sebagian senyum nikmatnya dunia pendidikan serta pupusnya rasa nikmat melahap buku. Sekolah menjadi suatu hal yang dipertanyakan kualitasnya karena tak mampu menghasilkan beras bagi keluarga. Di dalam kelas mereka dibuai dengan iming-iming kesejahteraan, namun jangankan membeli beras, untuk membeli buku, mereka sangat kerepotan.

Latar belakang keluarga menjadi faktor penentu teman mana yang pantas. Anak-anak sekolah dipaksa untuk memahami kelas-kelas sosial masyarakat. Batasan ini sekarang malah semakin jelas dengan adanya kelas atau sekolah eksklusif.

Kumpulan cerpen ini mengingatkan kepada pembaca bahwa sejarah bangku SD yang telah berganti, jika dahulu kita akrab dengan lagu lir-ilir ataupun bintang kecil serta deretan mainan tradisional. Kini telah berganti menjadi lagu-lagu bergenre cinta yang semestiny untuk mereka yang dewasa. Hal ini menyebabkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang sering berimajinasi dengan kegalauan jiwa. Permainan karet diiringi dengan celotehan sesama anak kini sirna berganti dengan deretan status di situs jejaring sosial.

“Mengenang kenangan masa kecil” menjadi sebuah nostalgia romantis sekaligus mengharukan. Bagaimana tidak? Sekilas kita mengenang masa-masa kecil kita dengan berbagai cerita asyiknya. Berpetualang menyusuri sungai, seakan-akan menjadi nahkoda yang handal, asyik berimajinasi dengan alam pikiran penuh fantasi. Namun, kenangan itu akan segera tergantikan dengan keharuan ketika melihat realitas yang terjadi sekarang. Permainan-permainan tradisional yang menjadi penghibur sekaligus wahana pembentukan karakter anak telah hilang. Apakah hilangnya tradisi ini disebabkan dampak dari modernitas?

Menjadi sebuah keprihatinan ketika pancasila tak terkenang dalam sanubari. Namun memang begitulah kenyataan yang ada kini, pancasila yang sarat dengan nilai keagungan kini hanya tinggal tulisan. Sebagaimana disuratkan dalam buku ini “Pancasila menjadi milik umum, dilahirkan orde lama, diasuh dan dibesarkan orde baru, namun dibuang sebagai wacana bungkus kacang oleh pasca-reformasi.” Nasib pancasila selanjutnya tergantung pada kita kaum-kaum muda, bila kita hanya diam saja, itu sama saja dengan membiarkan kemandegan yang terjadi saat ini.

“Mengenang…” menjadi salah satu buku kumpulan 25 cerpen dengan masing-masing ceritanya yang menimbulkan kekaguman, keheranan bahkan kemirisan. Di sisi lain buku ini juga mengisyaratkan pentingnya masa SD sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan. Begitulah kiranya kita patut dan perlu membaca buku ini untuk menghadirkan kembali masa SD, masa kanak-kanak yang penuh akan nilai solidaritas.

 

kumcer mengenangJudul Buku: mengenang…
Penulis : Kumpulan 25 Penulis
Editor: Bandung Mawardi
Penerbit: Jagad Abjad
Tahun: 2012
Tebal: 172 halaman
Harga: Rp. 25.000,-
ISBN: 978-979-1032-73-5

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi UMS Angkatan Tahun 2010. Aktif mengembangkan Komunitas 3 Pena Buku (K3PB)

Padrè

Cerita KauMuda Hylda Keisya

Gambar dari shutterstockphoto.com

Risa merebahkan sebuah pigura kusam yang telah bertengger di atas televisi sejak 15 tahun lalu. Sungguh, ia tak ingin lagi melihat seringai khas wajah orang dalam pigura tersebut. Andai bisa, ia ingin mengubur sosoknya hidup-hidup sekarang juga.

“Mengapa kamu tutup pigura itu, Risa?”

Mati, ketahuan oleh Ibu! Risa langsung mengendap-endap menuju pintu depan.

“Bu, Risa pamit berangkat ekskul!” serunya cepat-cepat sambil membetulkan tali sepatu.

“Kamu belum jawab pertanyaan Ibu, Risa,” sahut Ibu yang entah sejak kapan ada di belakang Risa.

“Bu,” Risa memutar badan lalu menatap dalam-dalam wajah teduh Ibunya yang telah lapuk termakan usia. “Sampai kapan Ibu menunggu orang itu kembali? Orang yang telah meninggalkan kita sejak bertahun-tahun lalu itu tak akan pulang, Bu! Tak akan!”

“Walau bagaimanapun itu Bapak kamu, Risa,” tukas Ibu, nada suaranya tetap pelan. Gurat di wajahnya ikut berkerut saat beliau bicara.

“Bukan! Itu bukan bapak Risa! Seorang bapak yang benar tak akan meninggalkan anak istrinya terlunta-lunta seperti ini,” tandasnya lalu berlari meraih sepeda gunungnya, meninggalkan Ibunya termenung sendiri.

*****

            Dalam kamus hidup Risa, semua cowok itu bullshit dan cinta itu tai kucing. Menurutnya, prinsip hidup cowok adalah habis manis sepah dibuang. Kalau sudah bosan, ya cari yang lain. Itu yang paling tak disukainya. Kurang ajar betul makhluk bernama cowok itu. Berkat lelaki pula, ia harus menyongsong hidup yang memprihatinkan. Hidup seadanya dengan mengandalkan upah ibu sebagai buruh yang tidak seberapa. Beruntung ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru mengaji anak tetangganya selepas maghrib. Namun yang membuatnya tak habis pikir, ibu tak pernah lelah menanti kedatangan bapak yang telah disinyalir minggat sampai kiamat. Bahkan beberapa tetangga sempat mengakui keberadaannya berkeliaran sebagai preman pasar. Hah, masa bodoh sekali dengan orang keji itu. Sekalian saja diciduk polisi biar tahu rasa. Namun sekali lagi ya Tuhan.. tak pernah seumur hidupnya ibu membenci bapak, setelah semua luka yang telah ditorehkan padanya, tak pernah! Sebesar itukah cinta ibu kepada bapak? Cinta..cinta, memang membuat sakit jiwa.

Risa mengayuh kebut laju sepedanya mendekati gerbang sekolah sambil membatin dalam hati. Pokoknya jangan sampai aku menjadi korban seperti ibu! Mulai detik ini ia  bersumpah, tak akan ia berurusan dengan cinta! Tak sudi untuk menjalin hati dengan lelaki mana pun!

“Lalu bagaimana dengan masa depanmu? Emang kamu mau jadi lesbong?” tanya Dina menyudutkan.

“Ish, tak bakalan aku senajis itu! Mungkin hanya tak menikah seumur hidup,” sahutnya enteng.

“Lah, dunia ini kan dihuni lelaki juga. Masa kamu tak mau mengenal lelaki sama sekali?”

“Hei,” Risa menepuk bahu sahabatnya itu. “Untuk berteman dengan lelaki, it’s okay. Untuk menjalin hubungan khusus, no way!

“Usai ekskul bahasa Itali, kau ada acara tidak?” Dina mengalihkan topik.

“Hmm… kukira tidak. Kenapa?”

“Main ke Kafe Kopi, yuk.”

Risa mengangguk, menyanggupi.

*****

            “Din, hampir maghrib. Pulang, yuk!”

Mereka pun menyudahi sesi curhat. Usai membayar di kasir, mereka bergerak menuju parkiran.

“Oh, shit!

Dina menghampiri Risa yang ribut dengan sepeda gunungnya. “Kenapa, Ris? Ada masalah?”

“Nggak tahu. Tiba-tiba aja gak bisa dikayuh,” sahutnya putus asa.

“Mungkin aku bisa membantu.”

Risa sedikit terkejut mendapati seorang cowok berbekal obeng di tangannya berdiri di sisinya. Ia mengerling pada Risa, menawarkan bantuan. Akhirnya Risa membiarkan cowok itu mengutak-atik kayuh sepedanya. Kontras dengan Dina yang terkesan segan pada si cowok dengan gesture yang tak dapat dijelaskan.

Tujuh menit berselang, sepeda gunung Risa pun beres. Risa menghujani si cowok ribuan kata terima kasih.

“Ah, itu bukan apa-apa, kok,” rendahnya lalu beranjak kembali menuju kafe. Risa tak mampu berkata apa-apa lagi, ada sesuatu yang berbeda tengah dirasakannya.

“Ris, kamu sadar gak, sih?” bisik Dina usai kepergian si cowok.

“Gak tau deh, Din. Aku ngerasa.. ngerasa ada yang aneh, aku.. aku..”

“Bukan!” potong Dina. “Maksudku, kamu sadar gak sih kalo itu tadi Mas Bayu Ketua OSIS sekolah kita?”

Risa menggeleng tanpa dosa. Dina menepuk jidatnya sendiri.

“Tau gak, Mas Bayu itu orang cool, pendiam, dan disegani satu sekolah. Beruntung banget kamu sempat ditolong dia.”

*****

            TEET! TEET!

Ah.. our superhero is coming! Dongeng mata pelajaran fisika yang sedari tadi memenuhi otak langsung menguar. Siswa-siswi pun berhamburan keluar.

“Kamu istirahat kemana?” tanya Dina.

“Aku lagi pengen ke perpus, Din. Kali aja ada buku baru,” ujar Risa sembari membenahi buku-buku pelajarannya.

“Aku ikut,” seru Dina akhirnya. Keduanya pun meninggalkan kelas. Saat di koridor..

“Hai, kamu cewek yang kemarin, ya?”

Srett! Dunia bagai berhenti berputar dan es melingkupi jagat raya. Mas Bayu! Tuhan.. kenapa tubuhnya mendadak lemas begini?

“Eh, iya, ada apa Kak Bayu?” hanya kalimat itulah yang mampu ia lontarkan.

Mas Bayu menyunggingkan senyum.Maniiis sekali! “Aku lupa menanyakan sesuatu kemarin. Namamu siapa?”

“Risa, Kak. Triasa Ekantari.”

“Mau ke mana, nih?”

“Ke perpus aja, kok. Ini bareng sama Dina.”

Tampang Mas Bayu malah bersemangat. “Nah, kebetulan aku juga mau kesana. Kita bisa berangkat bersama, kan?”

Risa mengangguk. Saat posisi Mas Bayu selangkah di depan, Dina berbisik di telinga kiri Risa. “Kamu gak bakalan suka Mas Bayu, kan? Soalnya diam-diam aku suka dia.”

*****

            Apa ini pertanda Risa menaruh hati pada Mas Bayu? Ah.. tak mungkin! Bukankah ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak berurusan dengan cowok? Tapi dia kan berbeda, bisik hati kecilnya. Risa gamang. Lagipula apa ia tega melukai hati Dina, sahabatnya sendiri, dengan menginginkan Mas Bayu?

Sore ini Risa menghabiskan waktu di Taman Apsari ditemani sepeda gunungnya demi memburu inspirasi untuk tugas bahasa Indonesia mengarang cerpen. Eh, yang ia dapatkan malah perang batin sejak pertemuannya dengan Mas Bayu. Mas Bayu.. Mas Bayu, kenapa harus kamu?

“Sendirian aja disini?”

Alamak, hampir saja jantung Risa copot dikejutkan oleh suara.. Mas Bayu! Bagaimana dia bisa disini? Ia pun mengambil tempat di sisi Risa.

“Aku temani, ya?”

Risa hanya mengangguk, tak tahu harus berkata apa lagi. Sedang Mas Bayu malah menatapnya lekat.

“Dari tadi kok diem? Jangan bilang kalo kamu sungkan sama aku, ya. Aku tahu benar reputasiku dikenal sebagai anak pendiam dan tak aneh-aneh, tapi itu membuatku sedikit tak nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain. Selalu saja mereka terkesan sungkan. Padahal aku tak berbeda dengan mereka,” curhatnya panjang.

“Ngh.. kalo aku kan gak terlalu kenal Kak Bayu,” kata Risa membela diri.

“Kamu beda, Ris,” ucap Mas Bayu tiba-tiba menyimpang dari topik. “Kalo di sekul, cewek-cewek yang gak aku kenal itu selalu heboh tiap ada aku. Emang aku kenapa?”

“Ya, mereka kan menganggap Kak Bayu itu berwibawa, cool, … jadinya gitu deh,” komentar Risa ngasal.

“Nah itu dia. Kamu gak seperti mereka. Tiap kali ada aku, kamu malah kayak gak pernah kenal aku. Bukannya sombong, mestinya kamu tahu aku, kan,” ujarnya dengan tatapan mata makin merasuk. Hah, belum tahu dia kalo Risa aja baru kenal Mas Bayu kemarin! Kalo dia tahu mungkin bakal epilepsi.

“Ris, kamu bawa sepeda, kan? Ikut aku, yuk!”

“Ha? Kemana?”

“Ada deh pokoknya. Ayo!”

Lantas keduanya menaiki sepeda masing-masing. Risa berkendara di belakang Mas Bayu sampai sepeda Mas Bayu terhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Mas Bayu memasuki rumah itu dan menyuruh Risa membawa serta sepedanya.

“Ini rumahku, Ris,” terang Mas Bayu tanpa diminta. “Masuklah dulu.”

Risa memasuki ruang tamu dan duduk pada sofa empuk berwarna pastel. Tak lama kemudian Mas Bayu muncul bersama seseorang yang entah tak begitu asing bagi Risa.

“Ini ayahku.”

DHARRR! Risa menatap Mas Bayu tak percaya dan orang itu bergantian. Orang itulah sosok dalam pigura kusam yang tak pernah bergeser dari tempatnya, tetap di samping televisi. Yang hingga kini masih dinanti oleh ibunya.

Padrè.[1]


[1] Bahasa Italia yang berarti ayah

 

 

Hylda Keisya adalah siswa Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Nurul Ummah Mojokerto.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #11

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 11

parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom
Memorandum of Understanding antar Sabidaor Foundation dan FDP telah ditandatangni. Dua surat yang sudah ditandangani Sabidaor sampai di alamat FDP. Satu surat yang ditandatangni DR Pardomuan sebagai penanggung jawab program dikirim kembali ke Sabidaor Foundation. Dengan cara begitulah kerja sama FDP dan Sabidaor memiliki kekuatan hukum — sederhana sekali —
FDP harus mengontrak rumah sekretariat. Kebetulan di depan rumah DR Pardomuan ada rumah Dr Harahap yang dikontrakan. Betapa gembiranya warga FDP. Terbayang oleh mereka kalau habis kerja di sekretariat bisa bermeditasi atau latihan pernafasan di markas yang lama. Hanya jalan kaki sekitar 50 meter saja sudah sampai. Pesta ucapan syukur kecil-kecilan pun diselenggarakan sekaligus rapat perdana program kerja “Pengorganisasian dan Penyadaran Hukum” di tiga kelompok tani. Desa Kembang Bondar, desa Jaejulu, dan Pohontoru. Ucok, Arman dan Mikail sebagai staf lapangan. Tigor sebagai koordinator ketiga lapangan. Ningsih dokumentasi dan inventaris, Susanti adminitrasi keuangan DR Pardomuan dan Muslimin membantu Tigor bidang penyadaran hukum. Laporan tertulis dari lapangan harus ada dalam setiap minggu termasuk laporan keuangan. Jadi setiap minggu staf lapangan harus tinggal di desa paling sedikit satu malam dalam seminggu, sedangkan kordinator paling sedikit 2 kali kunjungan setiap desa dalam sebulan. Tapi, jauh sebelum program berjalan Tigor sudah bertekad tinggal selamanya secara bergilir di ketiga desa tersebut. DR Pardomuan mencoba melunakkan sikap Tigor, tapi Tigor tetap berkeras. Nasib DR Pardomuan sama saja dengan Mikail. Ditolak mentah-mentah oleh Tigor.

1982 – Setahun kemudian.

Tidak ada masalah serius laporan tahun pertama program kerja FDP. Laporan tepat waktu dikirim bersama laporan keuangan. Otomatis dana untuk program termin kedua juga tepat waktu ditransfer. Muslimin yang paling gembira karena honorarium sebagai staf FDP bisa juga untuk membeli baju baru dan kue-kue menyambut Lebaran di kampung. Walaupun kemampuannya menulis opini di koran tidak juga mengalami kemajuan, tapi, namanya tetap populer oleh karya DR Pardomuan. Ucok ternyata tidak seperti dugaan Arman. Ucok ternyata konsisten ingin meniru kebiasaan DR Pardomuan yang menulis segala hal dalam buku hariannya. Sekarang Ucok juga rutin mengisi tulisan di Mimbar Kampus dan koran lokal. Arman, juga berubah. Walaupun sudah mandiri secara ekonomi yang statusnya di atas rata-rata mahasiswa, tapi Arman tidak digerogoti watak komsumtif. Kebutuhannya menambah ilmu pengetahuan dengan membeli buku-buku adalah sasaran utama penggunaan dana honorarium bulannya. Tapi, niat Arman untuk mulai menulis belum juga terbit karena terlalu asyik membaca. Arman adalah orang yang paling sering kena cerewetnya Ningsih. Karena selalu lupa meminta kwitansi apabila membeli barang-barang. Termasuk kwitansi dari kelompok tani untuk transportasi dan akomodasi pengorganisasian. Ningsih beberapa kali tak masuk kuliah demi untuk melengkapi kwitansi-kwitansi pengeluaran dana program. Ningsih sering jengkel dibuat oleh kawan-kawannya gara-gara persoalan kwitansi. Susanti selalu menggunakan honorariumnya untuk jajanan orang di sekretariat dan melengkapi hiasan-hiasan di ruang tamu sekretariat. Susanti selalu diingatkan oleh ibunya, agar program kerja FDP jangan sampai menggangu kuliahnya. Ketika kawan dekat DR Pardomuan datang dari belanda sempat terdengar komentar tamu tersebut:” Enak juga mengamati dinamika sekelompok mahasiswa yang mulai belajar mengelolah program bersama masyarakat.” DR Pardomuan tersenyum: “Yah,..mereka cocoknya kuliah bukan di negara berkembang seperti Trieste ini. Kampus tak sanggup memfasilitasi kebutuhan mereka yang haus ilmu pengetahuan.”
Di kampusnya masing-masing mereka juga agak bergengsi, karena sangat jarang mahasiwa yang dapat menikmati pekerjaan seperti warga FDP. Dan, pandangan hidupnya maupun wacana ilmu pengetahuannya lebih tinggi dari pada mahasiswa umumnya. Realitas masyarakat lapis bawah secara kongkrit mereka dapat lihat.

Kabar tentang perkembangan Tigor dalam setahun ini dinilai agak misterius. Walaupun segala laporan lapangan dan laporan keuangan tetap diserahkannya sesuai dengan waktu, tapi, Tigor sudah tak ada beda dengan petani pedesaan. “Dulu kau menolak bekerja di ladang pertanian bersama orang tuamu. Sekarang kau yang paling getol pergi ke sawah bersama orang-orang yang baru saja kau kenal.” Mikail kasih komentar mengenai Tigor yang sudah hitam legam berotot keras pertanda Tigor banyak habiskan waktu di ladang.
“Iya… aku juga heran. Seluruh anggota kelompok tani di 3 wilayah ini sudah kuanggap saudara kandungku. Tidak ada jarak sosial antara aku dan mereka semua.”
Waktu bayar uang kuliah semester dan urusan akademis lainnya, Tigor terpaksa harus menginap di Trieste seminggu. Dia sama sekali tak betah di kota dan sangat rindu bertemu dengan petani petani di pedesaan.
Mikail merasa macam tukang ojek saja dibuat Susanti. Ke sekretariat maupun kuliah Mikail harus jemput Susanti, lantas pergi kuliah dan harus menunggu Susanti sampai selesai kerja baru diantar kembali ke rumahnya. Kecuali kalau Mikail ke lapangan, maka Susanti harus naik angkot ke sekretariat dan kuliah. Dan, hubungan berpacaran mereka semakin mesra saja. Kadang mereka jumpai Tigor ke pedesaan demi untuk memelihara semangat kerja Tigor.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 10

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Juni

Puisi Nihayatun Ijaji

sendiri dalam hujan
gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

Juni

Langit kian terbakar ketika senja mendekatinya

Tanpamu….

Segala yang mudah pun kianlah sulit

Kenangan tentangmu

Berliku luka yang dalam

 

Juni

Aku sesak

Bahkan ketika segar udara membanjiri tubuhku

Tanpamu …

Segala yang manis pun kianlah pahit

 

Juni

Cerita kita

Tak mungkinkah terjalani lagi

Segalanya berlalu

Waktu berlalu

Siang berlalu

Dan hanya cintamu yang tak pernah berlalu di jiwaku..

 

 

 

Penulis seorang aquarius kelahiran 2 Februari, bernama lengkap Nihayatun Ijaji.

Menyerukan Kembali Pentingnya Ijtihad

Resensi Arif Saifudin Yudistira*)

Bila kamu melakukan ijtihad dan benar maka kamu mendapatkan pahala senilai dua, sedang bila ijtihadmu salah maka kamu akan mendapat pahala satu. Sedang tak ada dosa dalam ijtihad.

allah, liberty and loveBegitulah kiranya agama sudah menganjurkan kita melakukan ijtihad. Ijtihad dimaknai memperjuangkan dan mencari kebenaran, untuk mencapai perubahan. Dalam konteks sekarang, agama berubah menjadi sosok yang mandek, stagnan dan tidak mampu menghadapi realitas jaman yang sudah sebegitu cepat dan rusak.

Betapa islam sendiri kemudian tak mampu menghadapi teror yang melanda sejak terjadinya 9/11. Peristiwa itu seperti meruntuhkan bangunan, hingga membangkitkan stereotype yang aneh. Islam itu teroris, islam itu kejam dan islam adalah bom dan kekerasan. Irshad Manji mengawali ceritanya dengan gambaran demikian. Ia ingin menolak stereotype itu. Islam tidak demikian, islam mesti keluar dari stigmatisasi ini. Islam mesti kembali ke islam sebenarnya yakni islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Pesan itu yang kini tegas dan layak disuarakan oleh Irshad Manji. Ia tak ingin mendengar lagi islam seperti di media massa yang identik dengan tiga kengerian yakni pengeboman, pemenggalan, dan darah.

Manji tak hanya ingin menegaskan bahwa, kenapa takut melakukan tafsir dan menjadikan iman itu melampaui teks saja. Kita tak tahu siapa yang memegang otoritas kebenaran, karena kebenaran hanya dipegang oleh Tuhan saja. Maka dari itu, orang-orang yang merasa memegang otoritas kebenaran dan menghakimi penafsiran yang lain itulah yang menurut Irshad justru menyimpang. Betapa Allah sudah memberikan kebebasan sebebas-bebasnya pada umatnya.

Integritas

Tanpa adanya kebebasan untuk berpikir dan berekspresi tidak mungkin ada integritas baik dalam diri maupun dalam masyarakat. Oleh karena itu, prasyarat dari integritas tak lain adalah kebebasan berpikir dan berekspresi. Menyikapi beragamnya ekspresi dan aneka ragam pemikiran itulah dialog menjadi jembatan dan media untuk menghindari konflik. Tak ada persoalan yang mestinya tak dapat diselesaikan, dialog mampu menjangkau dan mencapai yang lebih dari yang sebelumnya. Sikap dialog dan kebebasan berekspresi inilah yang seringkali membuat orang justru ditentang oleh kelompok atau sekte keagamaan lain. Dialog dilupakan, sedang kesempitan berpikir justru lebih dikedepankan. Akhirnya, jalan untuk menjembatani perbedaan jadi tak ada.

Integritas, menurut Irshad dalam buku Allah, cinta dan kebebasan, adalah fondasi yang mesti dibangun. Integritas bisa melampaui dinding dan tembok keagamaan. Bagian dari integritas itu misalnya menentang hukum rajam hingga mati. Hingga hukum pancung, hukum yang mengerikan dan kejam itu tentu saja akan kita sepakati bila sesuai konteksnya. Akan tetapi, bila kita melihat kasus di Arab Saudi yang seringkali melakukan hukuman pancung yang ternyata lebih banyak korban yang justru dipancung daripada pelaku asusila sebut saja kisah pembantu Indonesia (tki) yang sering mengalami hal itu. Maka hukum pancung mesti ditinjau kembali, di sinilah pentingnya ijtihad. Ijtihad jelas tidak meninggalkan nalar dan pikiran kita.

Integritas adalah bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita. “Tuhan bisa menjadi nurani anda, pencipta anda, atau gabungan keduanya yang sungguh memesona yang dikenal sebagai integritas”(xxvi). Maka dari itu, membangun integritas mesti dijalani dari hakikat kesadaran diri bahwa kita melampaui dari apa yang kita bisa. Agama adalah sarana, sedang bagaimana kita mempraktekkan agama dan mencapai kesempurnaannya itulah yang mesti kita laksanakan. Oleh karena itu, Irshad menyarankan kita untuk lebih menghilangkan identitas kita  dan menunjukkan integritas kita.

Relatifitas Budaya

Kita seringkali tak bisa menempatkan antara seberapa besar posisi budaya dan posisi agama dalam kehidupan sehari-hari kita. Orang tua kita sering mengajarkan “jangan berani padaku, niscaya engkau masuk neraka”, maka ketika kita menjawab “suruh saja Tuhanmu memasukkan aku ke nerakanya”. Jawaban semacam itu dinilai melanggar nilai-nilai agama. Maka agama tiba-tiba jadi sesuatu yang mencekam dan menerkam kita. Agama menjadi topeng kedirian kita.

Maka ketika melihat budaya yang ada di negeri ini, yang sudah lebih jauh berada daripada agama yang masuk di negeri kita, kita seringkali bersikap ekstrem terhadap kebudayaan yang ada. Atau sebaliknya ketika budaya yang ada di Arab yang mengekang masyarakatnya – utamanya perempuan- membelenggu mereka. Maka budaya lebih cenderung dianggap sebagai agama.

Oleh karena itu, budaya itu relatif dan tidak sakral. Ketidaksakralan budaya ini yang mesti dijelaskan. Budaya itu cipta dan karsa manusia, jika kita melebih-lebihkan budaya daripada agama, maka yang terjadi yakni perebutan kekuasaan tafsir keagamaan. Akhirnya agama pun dijalani dengan membabi buta dan identik dengan kekerasan dan juga permusuhan. Adat kehormatan sudah ada sebelum islam. Jika kita bertahan pada budaya dengan mengatasnamakan islam, maka kita sama saja menyembah apa yang manusia -bukan tuhan- ciptakan! Bukankah itu disebut menyembah berhala?(99)

Dengan buku ini, Irshad tak hanya menjelaskan bagaimana pentingnya mengembangkan integritas, karena dengan integritas itu pula ia berharap dapat membangkitkan para umat agama yang merasa takut berbicara tentang agama dan tentang kebenaran. Buku ini pun mengajak kita, bahwa agama mesti disandingkan dengan iman. Iman tidak melarang eksplorasi, dogmalah yang melarang. Secara intrinsik dogma terancam oleh pertanyaan-pertanyaan. Sementara iman menerima pertanyaan-pertanyaan karena iman meyakini bahwa Tuhan yang maha pengasih bisa menghadapi semua itu (xx).  Terakhir buku ini sebagaimana dalam pembuka setidaknya menyerukan pesan penting yakni pentingnya mengubah amarah menjadi aspirasi. Mengapa eskpresi kemarahan berbagai orang yang merupakan ekspresi keagamaan kita tidak kita jadikan aspirasi untuk membangun dunia yang lebih baik?

allah, liberty and loveJudul buku: Allah, Cinta dan Kebebasan
Penulis: Irshad Manji
Penerbit: Rene book
Tebal: 352 halaman
ISBN: 978-602-19153-4-9
Harga: Rp.69.900,00

*) Penulis adalah Mahasiswa UMS, mengelola kawah institute Indonesia

Catatan:

Download Buku Allah, Liberty and Love, GRATIS.

Pay Jarot Bermalam di Rumahku

Flash Fiction: Martin Siregar

Sprei, sarung bantal sudah kuganti. Kamarmu kusapu dan pel supaya lebih segar. Ruang tamu juga sudah kurapikan. Aku hanya senyum manis mendengar suara tegas istriku yang sudah capek menyambut kedatangan  Pay beberapa jam mendatang. ”Kau…Tidur di depan tv, sudah kusediakan bantal selimutmu. Tak usah kau sekamar sama si Pay. Nanti dia yang sudah capek naik motor tak bisa tidur karena kau tidur sangat lasak. Bisa saja kakimu macam orang mabok menendang mukanya.” “Hua…ha…ha.. Iyalah ..Hua…ha…ha..” Aku ketawa terbahak bahak mendengar garis komando yang selalu aku dengar kalau kawanku berkunjung dari tempat jauh.

Satu jam yang lalu Pay SMS katakan sudah meluncur dari Sosok. Berarti satu jam mendatang sampai di rumahku. ”Cepat!! Kau mandi, nanti jijik si Pay ngobrol sama kau yang masih bauk dan jorok.” Hua…ha…ha..Matilah aku ini. Kupikir sudah berakhir  cerewet istriku. Rupanya masih berlanjut ketika aku mau duduk menghabiskan kopi sekitar jam setengah enam sore.

Tidak terlalu meleset, Pay sudah tiba ketika aku sedang mandi. “Cepat !!! Cepat bapak mandi, Om Pay sudah datang. Cepppaaatttt….!!”. OooaaLlaa…Anakku Jati ketularan cerewet mamaknya. Maka akupun macam cacing kepanasan bergegas menyambut Pay di ruang tamu. ”Nah !!! Ini Pay kakakmu terpingkel pingkel baca buku karya tulismu:”Sepok”. Pay hanya tersenyum tipis merespon ucapanku.

Menjelang malam, Pay malas mandi. Lebih baik kita secepatnya makan supaya kerja edit naskah bisa segera selesai sebelum larut malam. Siap makan, langsung ke ruang tamu sudah tersedia seteko kopi dan air putih disediakan Jati. Pay segera buka notesnya dan dengan ringan kami kategorikan tulisan tulisanku. ”Bang lebih cocok Bab I Wacana Unkonvensionil. Supaya sidang pembaca punya panduan tuk melangkah ke Bab II. Nah !! Bab II kita masuk ke: Dunia Tulis Menulis” Pay memberi saran yang langsung kusambut sangat setuju. Kalau  begini ceritanya berarti penerbitnya bukan LPs Air, karena mereka tak jadi kasih konstribusi. Oke…Pay soal itu nanti saja kita diskusikan. ”Tapi abang nggak kecewa kan?” Aku hanya senyum kecut menahan gigi supaya jangan berlaga Hua….ha…ha…

Ternyata tugas rombak naskah tidak serepot yang kami bayangkan. Sekitar jam setengah sebelas kerja tuntas dan laptop tak aktif lagi. Pay mengaku agak sulit tidur apabila tubuh terlalu letih. Maka akupun (senang ?) punya kesempatan tanya pendapat Pay tentang sikapku. “Iya…Pay. Kurasa dunia ini sudah terlalu sering berpendapat bahwa paham humanisme universal adalah missi penjajahan negara maju ke negara berkembang. Menyebarkan nilai universil (menyeragamkan) pandangan hidup di negara berkembang. Dengan demikian, negara maju akan lebih mulus menjalankan (A) Eksploitasi sumber daya negara berkembang. Agar kesadaran pemerintah (negara berkembang) semakin mandul maka negara maju (biasanya) melakukan strategi (B) Penetrasi budaya. Dihancurkan budaya lokal dan tak sadar sumber daya semakin banyak di eksploitasi. Supaya eksploitasi dapat berjalan permanent, maka (C) Politik negara berkembang harus di dominasi.”

Ketiga (A,B,C) di atas sudah terjadi di Indonesia. Dalam aksi mahasiswa sering disebut dengan semangat:”Usir NeoLibs”. Mendadak aku tersadar sudah terlalu banyak bicara membiarkan Pay hanya diam mendengar.”Gimana pendapatmu Pay?” Aku sentak si Pay.”Abang teruskan saja, aku tetap menyimak.” “Okelah…Pay.”

Jadi humanisme universal adalah poros utama imperialisme. Begitu pemahaman yang terjadi sejak zaman dahulu kala. Nah !! tulisanku terlalu banyak tinggalkan pesan humanisme universal. “Apa mahasiswa tak benci sama tulisanku?” Pay diam saja isap rokok makin dalam matanya menerawang.

Yah.., Hal ini yang berkecamuk dalam benakku. Pada sisi lain aku melihat bahwa nilai humanisme universil adalah obat mujarab untuk meruntuhkan watak primordialisme primitif (pemicu konflik SARA). Kusudahi kalimatku. Selang beberapa waktu Pay angkat bicara:”Walau lelah aku sudah bisa tangkap pesan yang abang sampaikan.” Ini pergumulan kita dalam proses penerbitan buku abang yang jalannya terseok seok. Hi…hi..hi… Okelah…Mari kita tidur Pay.

Sabdatama

kabar budayaNgarsa Dalem Sampeyan Dalem Hingkang
Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati
Ing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama
Kalifatullah Hingkang Jumeneng Kaping Sadasa Ing
Ngayogyakarta Hadiningrat.“Ingsun Kang Jumeneng Nata Mataran medarake Sabda:
Dene Kraton Ngayogyakarta saha Kadipaten Paku Alaman iku, loro-loroning atunggal.
Mataram iku Negri kang merdika lan nduweni paugeran lan tata kaprajan dewe.Kaya kang dikersaake lan dikaperangake, Mataram ngesuhi Nuswantara, nyengkuyung jejeging negara, nanging tetep ngagem paugeran lan tata kaprajane dewe.

Kang mangkana iku kaya kang dikersaake, Sultan Hamengku Buwono sarta Adipati Paku Alam kang jumeneng, katetepake jejering Gubernur lan Wakil Gubernur.

Ngayogyakarta, Suryo kaping 10 Mei 2012
Sri Sultan Hamengku Buwono X

——————-
terjemahan :

AMANAT RAJA

Bahwa Kraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman adalah dwi tunggal yang tak bisa dipisahkan.
Mataram itu negara merdeka dan memiliki aturan dan tata kelola pemerintahan sendiri.

Atas karsa dan kehendak rakyat, Mataram mengasuh Nusantara, tetap mendukung keberadaan Nusantara (Indonesia), tapi (Mataram) punya aturan dan tata kelola pemerintahan sendiri.

Hal itulah seperti yang diinginkan dan diizinkan, bahwa HB dan Pakualam itu menjadi pemimpin, serta ditetapkan sebagai gubernur dan wakil gubernur.

——————————————-

Ketika Sri Sultan HB IX Raja Ngayogyakarta Hadiningrat menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia (RI), langkah tersebut kemudian diikuti oleh hampir semua raja dan tokoh politik di berbagai daerah yang saat itu menjadi pimpinan masing-2 daerah dalam NEGARA INDONESIA SERIKAT (RIS). Semua pimpinan daerah saat itu satu-persatu menyatakan diri bergabung dengan RI dan membentuk NKRI

Maka NKRI tak lagi hanya mimpi. Langkah mewujudkan NKRI menjadi lapang dan lancar, dan Belanda tersingkir dengan sendirinya, tidak mampu kembali , Devide et Impera tak lagi ampuh.

Jika saat itu Sri Sultan HB IX tidak mau bergabung dengan RI, bisa dibayangkan sendiri akibatnya. Barangkali NKRI tidak akan pernah ada.

Kemantaban sikap Sri Sultan HB IX inilah yang tidak dapat dinilai dengan uang berapapun.
Benar bahwa banyak daerah menyumbangkan emas dan kekayaan untuk tegaknya NKRI pada saat permulaan (1945 – 1950).
Tetapi sikap Sri Sultan HB IX & Yogyakarta Hadiningrat, yang dituangkan dalam Maklumat (ijab qobul) adalah sumbangan tak ternilai bagi tegaknya NKRI.

Ketika Presiden RI Soekarno mendapat kabar tentang pernyataan sikap Yogyakarta Hadiningrat, beliau terloncat dari kursi, kaget dan bertakbir, lalu sujud syukur.

 

#Catatan Sapto Poedjanarto

Karena Setiap Kata Punya Makna