“Kalian berencana menikah?” tanpa basa-basi, hujan badai persoalan itu kuturunkan. Aku telah memintal kepercayaan diriku untuk segera menanyakan perkara paling mendasar dalam rumah tangga ini yang mungkin sebentar lagi akan berantah. Setidaknya aku bakal remuk hingga ke tulang belakang.
Pernah membaca tulisan David J. Schwartz; The magic of thinking big? Wow, aku suka sekali. Aku suka kata-kata inspiratif dan provokatifnya tentang berpikir dan berjiwa besar. Bahwa segala hal berkaitan dengan proses berpikir. Aku sedikit banyak percaya.
Namun menerapkan ketika berhubungan dengan prahara Andre, adalah mustahil. Dengan runyam perasaan serupa ini, sulit bagiku terus berpura-pura suatu saat keberuntungan berpihak pada kesabaranku. Dan Andre akhirnya akan menjadi insaf bahwa aku mendambakan perhatian dari dia selama ini. Mana mungkin aku mengubah pola pikirku ini, yang selalu bercokol dalam benak dengan opini berbunyi; Andre akan dimiliki wanita lain atau setelah Yohana, sekarang Andre akan meninggalkanmu, mengkhianati cintamu yang seenteng seputih salju. Makanya aku benci kala ada wanita lain mengalihkan Andre. Terlebih wanita bernama Marida di rumahku kini.
Suatu hari, hari di mana untuk kesekian puluh kali Andre pergi dan tidak menjamin pulang sebelum larut aku mendekati Marida. Sementara wanita sainganku tengah menata ulang tata taman seenak udelnya. Aku tak hirau dia menata atau justru merusak. Itu urusan dia dengan beliau yang pecinta seni di mana entah dia berada kini. Aku masih kalut menghadapi persoalan datangnya manusia jenisku ke rumah ini. Karena dia datang tanpa persetujuanku lantas tinggal berhari-hari hingga hampir dua minggu. Padahal aku tahu dia punya rumah kontrakan di balik bangunan besar di sana. Hanya setengah jam berjalan kaki, sejauh aku dari sekolahku. Baru dua kali dia pulang ke rumahnya lalu kembali lagi ke sini. Kedengkianku padanya setara kebencian kepada Andre, tetapi kepada Andre selalu lebih kusembunyikan dalam lipatan senyum.
Menyadari kehadiranku, Marida berbalik. Telapak-telapak tangannya terbungkus plastik agar terhindar dari lepotan tanah sehingga bibirku mencibir. Bukan iri hati. Hanya merendahkan saja kendati kecantikan tetap membuat aku diam-diam terkagum padanya.
“Kalian berencana menikah?” tanpa basa-basi, hujan badai persoalan itu kuturunkan. Aku telah memintal kepercayaan diriku untuk segera menanyakan perkara paling mendasar dalam rumah tangga ini yang mungkin sebentar lagi akan berantah. Setidaknya aku bakal remuk hingga ke tulang belakang. Dia tebarkan tatap seolah bertanya. Berpura-pura bingung, dasar penggoda! makiku dalam hati.
“Mengapa kamu menanyakan hal itu?” ringan suaranya membuat aku makin meradang. Dia pasti tengah mempermainkan perasaanku. Sebab dia tahu dia sedang pada jalan kemenangan dalam pertarungan ini. gambar diunduh dari bp.blogspot.com“Kamu tidak tahu aku punya hak untuk mengetahuinya? Atau kamu berpikir bisa bebas mencuri Andre dari hidupku?” sumbu percekcokan telah kunyalakan kini. Tinggal tunggu apakah dia masih wanita berhati sabar ketika menghadapi aku atau justru menuju titik rapuh kesabarannya sendiri. Semenjak dia berada di sini aku telah melepas umpan, sekiranya dia menelan lantas kulampiaskan tabungan kemarahanku. Namun hari-hari belakangan dia masih berpura-pura arif bijak. Tak masalah, aku akan mengikuti cara para pemburu paus di ujung pulau Flores, yang setia mengekor mangsanya hingga menyerah. Demikian aku menanti saat di mana Marida akan menyerah pada rasa frustrasiku. Kemudian perang ini menjadi benar-benar meletus.
Barangkali Marida belum tahu menahu bahwa Andre telah lama buat aku jatuh cinta. Cinta pertamaku. Bila bernostalgia di sudut kamarku akibat ditinggalkan Andre sendirian: aku kembali ke masa di mana awal aku menatapnya. Senyum penebar kehangatan begitu menawan di bibir yang telah mengucap bentak itu. Dialah pertama saat kubangun pagi yang menyapa dengan menyingkap korden kamarku. Kemudian menciumiku sepenuh hatinya, semurni cinta kami, hingga senyumku melumer pada dada bidangnya.
Barangkali aku tak akan lupa mengenai wanita istri pertama Andre. Betapa bijaksana perempuan macam dia. Oh, perempuan macam dia hanya patut dipasang sepasang sayap putih. Kemudian disandingkan dengan para malaikat langit, makhluk yang pernah disandangkan namanya oleh Andre padaku. Betapa dia berkorban membagi Andre dengan kehadiranku di rumah ini. Kendati kini aku kikir membagi pria itu kepada wanita lain. Dia merelakan cintaku yang sebening embun menyentuh mata hati Andre, sehingga aku tahu Andre kemudian mencintai aku. Yohana, nama perempuan berhati malaikat itu. Kami berbagi dalam hal cinta bersama Andre. Cinta segitiga sempurna. Pelan namun pasti, segitiga cinta menjadi alasan kenapa kami pernah atau ditakdirkan hidup bersama dalam satu rumah. Dua wanita mencintai seorang pria. Tentu dunia menyimpan sirik melihat cahaya cinta dari segitiga milik kami. Namun, entah Sang khalik tak setuju atau entah pula karena waktunya di bumi sudah cukup si wanita berhati malaikat akhirnya pergi. Saat aku masih tujuh tahun datang ke rumah ini. Bukan waktu yang lama untuk menikmati kekuatan segitiga cinta.
Perihal segitiga, manakala sebuah sisinya diambil mereka bukan segitiga lagi. Hanya sebuah bentuk yang entah. Masing-masing kehilangan sebuah penyangga. Niscaya berantakan. Ya, sepasang bentuk tak berbentuk apa; aku dan Andre. Aku tahu sejak Yohana meninggal, masing-masing kami goyah. Lalu jadi begini. Aku terbujur oleh kehancuran cinta yang pernah dibangun, sementara Andre terlepas bebas dari sekutu cintanya.
Tak usah lama-lama memikirkan kecemerlangan di masa lalu, Aku mesti kembali menatap wajah tak tahu malu ini.
“Kami sebenarnya tak mau menyakiti hatimu, Aleks. Andre bilang kamu belum bisa menerima kehadiran orang lain di rumah ini sehingga kami menyembunyikan hubungan kami selama ini.” Marida berujar seolah meminta maaf. Sayang aku bukan seperti Yohana, wanita berhati malaikat.
“Lalu mengapa sekarang kamu berada di rumah? Sementara tak sekalipun Andre tanya apakah aku sudah siap hidup dengan perempuan lain?” tak pernah surut lecut cambuk murka dari mulutku. Seperti melontarkan proyektil berulang-ulang ke medan saga.
“Aku mengerti perasaanmu, Aleks.”
“Kamu tidak mengerti karena tidak mengalaminya!” kesalku bertambah oleh suara sok tahunya.
“Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya. Biarkan aku menggantikan Yohana. Aku tahu kamu amat kehilangan dia.” Tangan kotornya menyentuh bahuku. Aku menampik, kabut pekat makin gelantungan dalam benak mendengar nama wanita berhati malaikat disebut mulut perempuan hina ini. Demi kemuliaan nama Yohana, aku merasa dia tidak pantas menyebutnya.
“Kamu tidak tahu apa-apa mengenai dia. Tidak usah kamu berdalih atas kehilangan kami, namun lebih dari itu aku belum membutuhkan orang lain mencampuri hidupku. Juga Andre. Tak juga oleh wanita semacam kau!”
“Tak semestinya kamu jadi kasar, Aleks.” Dia buang muka. Berpaling, antara menyembunyikan sakit hati atau kejengkelan aku tidak tahu.
“Bukan urusanmu!” Memang aku bukan Yohana, si wanita berhati malaikat.
“Aku tahu kamu terluka, beri aku kesempatan membantu Andre menyembuhkan luka itu.”
Aku benar-benar kesal kini. Umpanku seolah terdampar pada air keruh. Dan wanita itu tidak juga terpercik api angkaraku.
“Aku bukan seorang anak kecil lagi. Jadi lukaku bisa aku sembuhkan. Asal jauhi Andre!”
“Orang dewasa juga punya luka, sayang. Malah lebih besar daripada seorang anak, kadang-kadang.”
Aku muak dia panggil sayang.
“Stop!” ya, aku mau berhenti mengulur waktu, ” jawab saja tanyaku; benarkah kalian mau menikah?”
Marida diam mengukur situasi. Matanya berkedip-kedip bukan disebabkan kotoran yang masuk. Walau aku harap kotoran telah merusak keindahan kejora mini itu. Dia hanya resah mendengar tanyaku.
“Ya,” jawabnya pasti. Aku terguncang nyaris rebah di tanah saat itu. Dunia terasa berputar terlalu cepat pada porosnya, merusak sistem kesadaranku. Dan aku merasa mengambang sewaktu dengar dia lanjut berujar,
“Dalam waktu dekat.”
Marida menang perang, dan pedangnya masih tertinggal di hatiku. Perih minta ampun.
Entah sejak kapan ia mulai belajar berubah, yang aku tahu, tidak banyak orang yang bersedia berubah. Tentu berubah menjadi lebih baik, maksudku. Buat apa kita membicarakan perubahan ke yang lebih buruk. Secara alamiah, setiap orang memburuk. Itu sebabnya kita berbicara supaya tidak semakin buruk. Persoalannya, siapa yang sungguh-sungguh terurapi untuk menunjukkan perihal baik buruk ini.
Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku ingin bercerita tentang seseorang. Seseorang yang ingin menjadi batu. Mungkin kamu berpikir ini absurd. Jika demikian, itu persis dengan yang ada di benakku. Tetapi coba simak penjelasannya padaku. Begini kata-katanya waktu itu: “pada awalnya, aku bukan apa-apa, hingga aku belajar menjadi segala sesuatu karena seseorang memberitahuku, jadilah orang yang berguna.”
Aku pikir, kamu pun pernah mendengar nasehat yang sama: jadilah orang yang berguna. Celakanya, aku tidak paham arti “menjadi segala sesuatu”, dan ini kusampaikan padanya. Inilah jawabannya. gambar diunduh dari syahyudhi.blogspot.com“Lebih banyak orang yang hanya mau mendengar apa yang ingin didengarnya,” jelasnya suatu hari. “Itu sebabnya banyak nasehat yang tidak jujur.”
Kamu tahu, jawabannya semakin membuatku bingung. Dan itu menyedihkan.
“Segala sesuatu bukanlah manusia,” lanjutnya. Untung hari itu bukan malam Jumat. Aku lupa memberitahumu, kami biasa berbincang di malam purba nyaris larut. Andai waktu itu malam Jumat, mungkin pikiranku lari ke hantu atau segala macam jenis bukan manusia. Untungnya hari itu Sabtu malam di awal Desember. Itu sungguh menyenangkan. Tanpa bulan dan bintang, ia menyalakan lampu minyak. Lindap cahayanya resap ke dada. Suasana tenang. Begitu tenang hingga kadang kamu dapat mendengar degup jantungmu. Lalu dingin itu, begitu sempurna serupa tangan lembut udara malam menyentuh kulitmu, membangkitkan gairah terdalam sebuah kerinduan. Tangan lembut beraroma bunga kopi di atas tanah yang sedikit basah. Suara jengkerik atau serangga malam menjadi sesuatu yang biasa saja. Wajar jika ia memilih tinggal di sana, di tepi belantara.
Aku menatap teduh matanya, mencari sesuatu yang lebih jauh.
“Ketika manusia berambisi menjadi sangat berguna, tidak jarang terjebak menjadi bukan manusia. Tega membunuh. Tega mencuri. Tega menjual diri sendiri. Menjadi mesin, menjadi robot, menjadi tumbuhan, menjadi hewan, menjadi batu bahkan menjadi hantu. Ia menjadi segala sesuatu yang bukan manusia.”
Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menangkap maksud kata-katanya. Dari rekam jejak yang kuselusuri, ia pernah menjadi kuli, pedagang asongan, penjudi, pengamen, dan ….pencuri. Tentu saja, semua itu masih tergolong manusia.
“Aku pernah menjadi batu!” Ia seperti tahu jalan pikiranku.
“Batu?” tegasku.
“Ya. Batu!” tegasnya. Sekali lagi. “Dan aku di sini untuk kembali menjadi batu.”
Aku pernah mendengar, setidaknya beberapa cerita tentang manusia yang kemudian menjadi batu, tapi cerita-cerita itu semacam mitos buatku. Kisah Malin Kundang, aku yakin kamu pun tahu persis jalan ceritanya. Yang lebih tua lagi, kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, – kamu dapat melihat patung Roro Jonggrang di candi Prambanan. Manusia yang dikutuk menjadi batu. Jika kamu menyukai Yogyakarta, cobalah sesekali berkunjung ke candi Prambanan. Itu hanya sedikit berjarak ke arah timur, megah menantang langit Merapi di utara, dan kokoh serupa benteng bagi komplek keraton jaman purba, Candi Boko. Pada musim hujan begini, ia begitu tenteram dengan hamparan hijau bukit berpepohon di sekitarnya. Sunyi adalah candi, dan engkau dapat datang padanya saat ingin bersembunyi. Maaf, ceritaku sedikit menyimpang.
Kembali ke soal manusia menjadi batu, sekali lagi kutegaskan, itu mitos. Ada satu lagi kisah manusia menjadi batu, atau lebih tepatnya menjadi patung. (Entah setan mana yang merasuki Seno Gumira hingga mampu membuat cerita yang begitu gila). Jadi, ceritanya begini, kamu tahu, iblis tidak pernah mati, nah itulah judul bukunya. Judul buku Seno Gumira. Sudah tahu kalau iblis tidak pernah mati, namun ada saja orang yang mencoba membunuhnya. Dalam buku itu dikisahkan seseorang yang begitu membenci iblis dan ingin membunuhnya. Lalu pergilah orang itu ke barat. Seseorang itu, boleh kamu bayangkan sebagai sesosok pendekar sakti mandraguna dengan pedang di punggung. Barangkali pendekar itu pernah bertemu Sun Go Kong atau Pendeta Tong, kamu tahu, mereka sama-sama pergi ke barat. Bedanya, yang satu hendak membunuh iblis, sedang lainnya hendak mengambil kitab suci. Aku tidak mengerti mengapa iblis dan kitab suci berada di sudut yang sama: barat. Tapi itu akan menjadi kisah lain lagi. Yang menarik adalah bahwa Pendeta Tong dan Sang Pendekar, sama-sama selibat, artinya tidak menyentuh lawan jenis. Nah, mungkin di sini ada semacam kekacauan pikiran ketika seorang gadis menunggu Sang Pendekar pulang dari barat. Dengan setia sang gadis berdiri menghadap ke barat menunggu dan terus menunggu kekasihnya kembali hingga menjadi patung. Ya, patung. Hingga berlumut. Hingga ada lagi pendekar lain yang pergi ke barat. Hingga ada lagi gadis lain yang duduk di hadapannya, menunggu kekasihnya kembali dari barat. Hingga dia tahu akan ada manusia menjadi patung serupa dirinya, membeku dan berlumut. Sendiri dan kesepian. Dan pertarungan melawan iblis menjadi pertarungan setiap orang.
Itu kisah manusia menjadi batu versi abad ini. Dan semua itu hanya dongeng.
“Tapi aku pernah menjadi batu!” ulangnya,” hingga aku belajar tidak lagi menjadi segala sesuatu, tetapi menjadi seseorang.”
“Ah, kata-katamu terlalu sulit kumengerti,” ucapku.
“Menjadi berguna itu baik, asal kamu tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan itulah arti menjadi seseorang.”
Malam itu, ya itulah percakapan di malam nyaris larut itu, di sebuah gubug sederhana di tepi belantara. Sangat hutan hingga bagiku kadang pekatnya terasa menjepit dada. Siapa yang dapat bertahan dalam sepi begini, pikirku saat itu. Ia yang dulu pernah menjadi pencuri, lalu berkuasa bagai raja, entah mengapa, ia kini menjadi bukan siapa-siapa.
Ia seperti membaca keraguanku.
“Jika engkau belum siap menjadi bukan siapa-siapa, jadilah seseorang di luar sana,” katanya penuh kasih.
“Aku ingin membunuh iblis. Harus selalu ada orang yang melawan iblis, meski iblis tidak pernah mati,” kataku mengulang kalimat di buku Seno Gumira. Entah mengapa, aku tidak merasa segagah para pendekar itu. Bahkan aku berlalu dari hadapannya dengan muka berlumur malu. Sangat sedikit orang yang bersedia berubah. Barangkali ia kini sudah moksa. Atau mungkin telah menjadi batu. Batu penjuru yang kuharap menuntunku kembali menjadi batu.
Being Stone
Flash FictionRagil Koentjorodjati
I don’t know since when he started learning to change, I know, not many people are willing to change. Certainly changed for the better, I mean. Why should we talk about a change to the worse. Naturally, everyone is getting worse. That’s why we talk so as not to get worse. The issue is, who is truly anointed to show the good and bad.
I don’t want to argue with you. I want to tell you about someone. Someone who wants to be a stone. Maybe you think this is absurd. If so, that is exactly what I had in mind. But try to see his explanation. Here’s his words at the time: “at first, I was nothing, until I learned to be everything because someone told me, be useful.”
I thought you had heard the same advice: be a handy person. Unfortunately, I don’t understand the meaning of “be all things”, and I told him about this. Here’s the answer.
“More and more people who just want to hear what tehy want to hear,” he said one day. “That’s why a lot of advice is unhonest.”
You know, his answer is getting me confused. And that’s sad.
“Everything is not human,” he continued. Fortunately, that day is not Friday night. I forgot to tell you, we used to talk late at night almost primeval. If time was a Friday night, my mind might run into a ghost or all sorts of non-human. Fortunately it was Saturday night in early December. It was really fun. Without the moon and the stars, he lit the oil lamp. Shade of light penetrating into the chest. The atmosphere is quiet. So quiet until sometimes you can hear the pounding of your heart. So cold, so perfect night air like a gentle hand touches your skin, arousing the deepest longing. Hand gently scented flowers of coffee which grown on a little wet ground. Insect cicada sound into something ordinary. Understandable if he chose to live there, at the edge of the wilderness.
I looked shady eyes, searching for something more.
“When people are ambitious to be very useful, it is not uncommon to be stuck not being a human. The heart to kill. The heart to steal. The heart to sell yourself. Being a machine, a robot, a plant, a pet, a rock and even a ghost. He became everything that is not human. ”
It took a while for me to catch the words mean. From the track record I’ve searched, he had become porters, hawkers, gamblers, singers, and …. thieves. Of course, all of that is still quite human.
“I’ve been a stone!” He seemed to know the way my mind.
“Stone?” I said.
“Yes. Stones!” he said. Once again. “And I’m here to get back into stone.”
I’ve heard, at least some of the stories about the man who became a stone, but the stories of myth for me. Story Malin Kundang, I’m sure you also know exactly how the story goes. The older again, the story of Bondowoso and Jonggrang, – you can see the statue of Jonggrang in the Prambanan temple. Condemned man to stone. If you like Yogyakarta, try an occasional visit to Prambanan temple. It is just a little to the east, the magnificent sky challenging Merapi in the north, and a similar strong fort for ancient palace complex, Boko temple. In this rainy season, he was so serene with the green hills surrounding by trees. Silent is a temple, and you can come to him when you want to hide. Sorry, my story a little distorted.
Return to the story of man who turned into stone, once again I assure, it’s a myth. There’s another story of a man into stone, or rather into a statue. (I do not know where the demon possessed Seno Gumira to be able to create a story that is so crazy). So, the story goes like this, you know, the devil never dies, well that’s the title of his book. The title of the book Seno Gumira. Already know that the devil never dies, but there are people who try to kill him. In the book it is told someone that hates the devil and wanted to kill him. Then the man went to the west. Someone that you think may be as powerful as warrior with a sword on his back. Perhaps swordsman that ever met Sun Go Kong or Tong Priest, you know, they both went to the west. The difference is, the one try to kill the devil, while others want to take the holy book. I do not understand why the devil and the holy book is in the same corner: west. But that would be another story. What’s interesting is that the Tong priest and the Swordsman, both celibate, that is not touching the opposite sex. Well, maybe here there is such a mess of mind when a girl waiting for the Warrior returned from the west. Faithfully the girl stood facing west waited and waited until his girlfriend back into a statue. Yes, sculpture. Until the moss. Until there is again another swordsman who went west. Until there is again another girl who sat in front of her, waiting for her lover back from the west. Until she knew there would be people like her, turned into statue, frozen and mossy. Alone and lonely. And the battle against the devil is become the battle of everyone.
That’s the version of a man who turned into a stone on this century. And it’s all just a fairy tale.
“But I’ve become a stone!” he repeated, “until I learned to no longer be everything, but to be someone.”
“Ah.., your words are too difficult to understand,” I said.
“Being useful is good, as long as you do not become a stumbling block for others., And that’s what it means to be a person.”
That night, yes, that’s a conversation late at night almost, in a simple hut on the edge of the wilderness. Very woods to me untill the feeling of the darkness pinch my chest. Who can survive in a quiet way, I thought at the time. He who used to be a thief, then ruling like a king, for some reason, he has become a nobody.
He was like reading my doubts.
“If you are not ready to be a nobody, be someone out there,” she said lovingly.
“I want to kill the devil. Should always be people who resist the devil, although the devil is never dead,” I said, repeating the phrase in the book Seno Gumira. Somehow I do not feel as strong as warriors. Even, I left him with a face covered in shame. Very few people are willing to change. Perhaps now he is moksha. Or may have been a stone. I hope capstone which led me back into the stone.
Verbena gambar diunduh dari bbc.co.uk
Mencari ke sudut kau siram bunga, satu kerabat verbanaceae, kusebut sakura jelita, dari setumpuk sajak
dia nyeletuk, ekor suaranya putih, sedikit merah plum,
seolah mengatur sudut bibir, mulut gigit setetes honey
Kata orang itu warna musim semi, kau bilang rekah, aku
bilang celah. Lalu angin bertengkar dengan harumnya,
perabot ringkuk di sisi musik, puisi sembunyi ke dalam waktu
Bambu gambar diunduh dari treehousede.blogspot.com
Musim gugur telah masuk ke alam mimpi ikan salmon
aku perlahan mengikuti mimik dan logat suaramu
coba bayangkan sehamparan air laut musim panas
hijau, hangat, lembut dan sabar menahan samudera waktu.
Ketika angin naik, kau gemulai mengepak satu tarian
ombak, putih menggulung ke atas pantai awan senja:
sebiji bintang di luar pagar bambu bagai mutiara ungu
Birch gambar diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Birch
Tadi malam embun kristal menyerang, daun melayang
jatuh di sudut basah anak tangga, perlahan menutup sepetak
kebun sayur pagi sore kubersihkan, dan jejak bakicot berkilau
di atas setapak batu. Pohon ini dingin berdiri bagai aliran sastra
kedaluwarsa, bayang berdesir masuk ke dalam pekarangan,
aku membacanya di dalam sajak Inggris dan puisi Song
juga cerita Jepang, sedih, nyata, sehalaman sejarah sastra
Malus Asiatika gambar diunduh dari http://zh.wikipedia.org/wiki/File:Malus_asiatica_1.jpg
Satu pokok tua di halaman belakang, berjuntai buah kuning
matahari, kabarkan musim gugur telah dalam, telah amat dalam
Seringkali, kau duduk di depan jendela tulis surat panjang, terdengar
suara buah jatuh bagai sebuah titik. Petang musim gugur penuh
dengan suara limkim matang di sudut bibirmu, buka pintu lihat
dan hitung, ada berapa apel di atas tanah, pasti ada berapa titik
di atas kertas surat. Juga, dedaunan gugur adalah tanda koma.
Azalea gambar diunduh dari www. flowerinfo.org
Setiap kali melihat dia, bersandar di mulut jendela kamar bacaku
Sering diam, bawa sedikit semu malu, dia datang dari tanah jauh, Negeri Dali di puncak awan, sungai mengalir jauh, setiap bunga
ceritakan sebuah kisah jaya dan runtuh. Dia bagaimana mengarungi
samudera, di dalam gerimis bersandar di jendelaku penuh bertata
cerita fantasi Tang dan Song, adakah sedikit cinta ditakdirkan?
Setiap kuntum mengulum airmata bagai sajak reruntuhan Tang.
Juniper gambar diunduh dari http://www.finegardening.com
Dia merangkak di sisi setapak pekarangan depan, bagai seekor naga
merenung dalam, jarum-jarum pinus jatuh di atasnya, juga buah sanza,
bulu burung, bunga gugur. Tiada seranting kembang menjulur lewat.
Setelah oktober, dia tampak makin hening, seolah ingin menyelam
di kedalaman arus sungai. Di malam salju aku kembali hidup lampu
baca Du Fu, mendengar dia menahan isak di dalam sajak-sajak
musim gugur, bayangkan dirinya betapa kesepian dan babak belur
Mawar gambar diunduh dari http://www.flowertops.blogspot.com
Terakhir baru melihat kau, blak-blakan merah sendiri di sisi pagar
maksud awal memang tidak ingin meliputmu, di titik puncak Simbolisme
dunia barat, kau dari atas tanah bergerak ke dalam kitab, lalu memenuhi
pekarangan orang timur. Tapi aku duga para dewa tiada pengalaman
mencipta bunga, misalkan kau: Rosa. Awalnya Multiflora, dicela gampangan,
lalu diubah: Aeieularis, tapi jadi simpang siur, lalu dikelola: Indica
seperti kurang mulia, habis seluruh tenaga baru dapat: Rosa rugosa...
Sungai adalah sebuah metafora dari perjalanan, sedetik yang mengalir di ujung jemari waktu, kemudian bergeser, meluapkan tepi-tepinya, tertawa dan menangis, mencatat gigil terakhir di antara dua alir mata air. Meski angin mungkin saja berjinjit di antara ranting-ranting waru. Seekor belalang menatap tenang puncak sekeping batu. Air mengalir. Tepian penuh gelagah, sangkik plastik, kaus kaki hitam, dan angin yang jatuh menembus daun-daun waru dan sayap belalang dan, seperti tak percaya, sebangkai mimpi yang terapung di tengah permukaan sungai — timbul tenggelam. Kau bertanya: Masih lama? Aku menjawab: Entahlah. Angin memeluk arus di tepian sungai. Laut membayang dalam mimpi arus sungai. Kita seperti berada dalam lingkaran, katamu. Akhir menjadi awal yang baru, kataku. Kau melangkah perlahan ke dalam mataku. Aku melangkah perlahan ke dalam senyummu. Aku mesti pergi, katamu. Aku mesti kembali, kataku. Sepasang sayap kecici itu berkepak terbang, menyeberangi sungai yang mengalir di antara jejak-jejak kaki, melupakan arah mata angin. Kau tak ingin menunggu? tanyaku. Seperti batu yang dikutuk itu? jawabmu. Dua bayangan itu tertawa dalam mimpi bangkai seorang pemburu yang terapung di tengah sungai. Kupikir kita berdua telah menemukan sesuatu, katamu. Atau telah kehilangan yang bukan-sesuatu, kataku. Sungai di antara dua mata air itu bertemu. Sepasang mata mendekap lindap dua bayangan di bawah pohon waru. Masih lama? tanyaku. Entahlah, jawabmu. Aku pergi, kataku. Aku pulang, katamu. Kita cuma bertukar tangkap dengan lepas, katamu. Entahlah, kataku.
gambar diunduh dari facebook Ahmad Yulden Erwin
Kita berdua melompat ke sungai itu. Timbul tenggelam. Sesaat. Kemudian kau mengayuh mataku. Aku pun mengayuh senyummu. Aneh juga, kita berdua seperti mencecap sedikit rasa garam di arus sungai itu. Seperti di muara? tanyaku. Sudah dekat? jawabmu. Keraguan kita berlompatan seperti dua ekor mujair yang mengejek kail seorang pemancing. Selembar daun waru tua terambing di permukaan sungai. Mungkin sedang menuju muara yang entah di mana. Mungkin rindunya pada laut di ujung muara tak habis memantulkan cahaya matahari, di antara gelembung arus, yang berteduh di sela rumpun gelagah. Kita bukan pencari, katamu. Hanya sepasang peziarah, kataku. Lalu kau teringat perayaan musim panen padi tahun lalu. Dan aku teringat sewaktu angin pagi melepas kuntum-kuntum bunga layu tenggelam di telaga itu. Terlalu sepi di sini, katamu. Terlalu piuh di sana, kataku. Kita tahu, ada yang tak mungkin kembali, meski kita telah bersiap untuk melangkah pergi, menatap ke belakang setiap jejak kaki, di jalan setapak berlumpur itu, tanpa perlu merasa perih, tanpa perlu merasa kehilangan…
Aku teringat lagi akan wanita itu.
“Ini Marida,” kata Andre di hari ketika wanita itu muncul lagi. Ternyata seucap janji tentang cinta seumur hidupku tidaklah mudah dijalani. Ternyata cintaku pada Andre suatu hari, hari wanita itu datang, membara menerabas sekat kebencian yang telah kurenda sebelumnya. Kebencian terpendam akibat diabaikan demi wanita-wanita cantik pasangan kencan, juga teman minumnya, menemui saatnya mencuat seperti nanah dari bisul pecah.
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
“Marida, dia akan sering berada di rumah ini. Aku harap kamu bersikap baik pada dia,” Andre kembali bersuara memecah hening, memperkenalkan wanita itu. Aku terguncang: aku harap kamu bersikap baik pada dia!!
Tentu masih ingat aku akan kecantikan seperti itu. Natur hanya dipoles sedikit bedak. Aku menatap pesona di tengah ruang makan ini. Berdiri semenjulang Andre meski kini dia kenakan sepatu berhak. Dengan blazer biru langit. Kami bersipandang seberang menyeberang. Dia akhirnya lempar senyum, aku melengos mentah-mentah.
Tidak dibilang kalau kemungkinan ini terpikirkan. Bahwa Andre akan mendatangkan seorang wanita untuk menetap, bukan hanya sekedar teman kencan. Dari gelagatnya aku telah memastikan akan datang hari ini. Sungguh mengerikan punya pikiran demikian. Membagi Andre dengan wanita lain, bukan cuma terbakar cemburu tapi aku ingin mati sekalian saja. Meskipun sampai hari ini aku belum mati-mati juga.
Senyumnya terkembang lagi, aku tetap merasa senyum semacam itu ditulus-tuluskan. Drama permusuhan pasti tertangkap pada mata nan elok di sana. Oh, mata serupa sepasang kejora. Aku tiada berdusta. Meski tengah mempertahankan sesuatu yang masih samar dalam benak, aku mengakui kalah dalam hal keindahan rupa. Marida, nama wanita itu, punya wajah dua kali eloknya dariku. Kecantikannya makin menjadi-jadi saja. Bibir terbentuk sempurna, mengubah sepotong senyum yang -pasti biasa bila bertengger pada bibirku-, jadi sesuatu mirip rekahan kuncup mawar menyepuh mentari. Belum lagi pipi mahaindahnya. Aku berani bertaruh Andre akan menggadaikan semua miliknya hanya untuk merengkuh mahkluk di depanku. Tetapi nyatanya dia tidak mengeluarkan sedikit pun biaya memboyong Marida ke sini. Puja bercampur kutuk mengharubiru hatiku.
“Aku harap kamu suka dengan kado dariku.” Bicaranya sepotong. Tetapi suara seolah bermelodi dalam gendang telinga. Aku jadi limbung menyadari menyerah pada tawanan sebuah kecantikan yang sebentar lagi menguasai rumah ini. Setelah beberapa tahun hanya milik kami berdua, mungkinkah kini Andre telah memilih seorang lain untuk memiliki andil dalam hidup kami masing-masing? Lalu di mana akan dia taruh para gadis pasangan kencannya? Apakah aku akan makin tersingkir dalam persaingan yang tidak adil ini?
“Kupikir kamu punya nama bagus. Aleksandra kan? Kamu tahu betapa cantiknya nama itu?” pujian pura-pura. Jelas-jelas dia sedang memperolok titik lemahku, aku membatin. Aku selalu menyesal kenapa tidak dilahirkan secantik wanita seperti dia. Padahal ibuku cantik pula, kendati tetap kalah dari manusia mahakarya pelukis semesta ini. Bila ibuku kalahnya cuma sekali, aku dua kali.
“Jadi kau akan tinggal di sini?” akhirnya muncul juga tanya dari bibirku.
“Setidaknya kita akan sering bersama.” Sahut Marida ringkas. Dia beralih duduk di kursi menyusul Andre. Senyumnya tersungging sedikit malu-malu. Kecantikan dia, pesonanya juga senyumnya itu adalah satu hal yang terpisah dari dari rasa dengki yang dia terima dariku. Sampai hari ini, aku masih sering bertanya-tanya dalam hati mengapa hanya pada wanita itu, aku tidak menaruh benci pada kecantikan rupa? Malah terbalik secara ekstrim; aku memujanya.
“Maksudmu? Apakah kalian punya hubungan istimewa?” tatapku tertuju pada Andre. Menuduhnya, sementara dia balas menantang secara terbuka. Jadi lagi-lagi tanpa persetujuanku. Perasaanku tidak penting untuk jadi bahan pertimbangan.
“Ya.” Andre meneliti wajahku, tetapi cepat-cepat kubaluti dengan senyum. Aku adalah si pemurah senyum.
“Sudah berapa lama? Sebulan?”
Andre diam sebentar, menenun sekerat curiga di hatiku. Aku tak percaya mereka tidak sedang bermain mata di balik punggungku.
“Hampir enam bulan lalu. Baru sekarang aku perkenalkan Marida ke rumah.”
Pantasan dia tahu hari lahirku. Lalu menjejalkan kado tidak istimewa itu dengan berpura-pura memperhatikanku. Puih!! Pintar sekali mereka menyamarkan dusta, dan menurut sebuah tulisanm, dusta itu kebohongan terencana. Persis macam ulah sikap mereka. Pasti wanita itu telah mengakaliku. Pintar pula Andre menyembunyikan dia selama enam bulan ini. Sementara aku hanya tahu sebatas teman-teman kencannya. Dan manusia-manusia jenis lain yang sering datang mencuri hari-harinya. Sungguh sakit diabaikan, apalagi oleh seorang tercinta.
“Marida akan menemanimu di rumah bila aku tidak ada. Kamu tidak usah kesepian lagi sekarang.”
“Aku tidak pernah merasa sepi di sini.” Padahal seharusnya aku bilang sepiku telah menggunung dan bakal muncul lahar panas dari puncaknya.
“Aleksa!” tegur Andre. Dia menuangkan susu coklat panas ke cangkir untuk diletakan depan Marida. Andre menyadari nada ketidaksukaan terselip dalam sandiwara senyumku.
“Dia belum terbiasa,” bisik wanita bersenyum palsu pada Andre. Aku jadi muak diperlakukan demikian.
“Aku bukan anak kecil lagi. Juga tidak butuh ada orang lain mencampuri hidup kami.” Aku semprotkan amarah tepat ke muka Marida, membuat Andre berang. Dia tatapku dengan dingin yang membekukan hingga suasana benar-benar senyap. Sesuatu yang baru dalam diri Andre. Napasku tertatih menahan nyeri. Sekejap aku melambungkan harap agar Marida mengulangi bisik yang sama. Meski tidak tulus sekedar meredakan angkara siap meletus di puncak bibir. Tetapi dia diam.
“Aku tidak suka kamu bersikap kasar!” aku tak berani pandang sumber bentakan barusan. Mukaku terjepit antara dua pandangan mereka. Aku kecewa untuk kesekian kali; Andre begitu menghargai perasaan Marida dan mengabaikan Aku, wanitanya selama ini.
“Aku minta maaf,” desauku. Hancur hati ini berkeping-keping. Dan aku bersimbah malu pada perempuan di sampingnya. Sekali lagi, aku jadi wanita nomor dua dan aku makin kehilangan Andre.
“Kamu jangan terlalu keras padanya,” sekali lagi bisik halus terdengar. Dalam sumpek aku mendumal di hati; wanita tipu daya. Beraninya kau mengatur Andreku!
“Aku yang salah,,” aku tak tahan kini. Malunya diri ini mesti menyerah. Berurai air mata kutuntun tubuhku melewati mereka.
Mengabaikan pandangan-pandangan penuh kebohongan menuju kamar tidurku. Menumpahkan banjir air mata atas kecurangan Andre. Baru sekali ini Andre melontar amarah. Dan aku menangis di depan dia untuk pertama kali semenjak aku jatuh cinta. Bukan aku sengaja memang, tetapi karena senyum yang kugadai sebagai penawar luka hati sudah tak mempan. Aku menangis di atas kasur. Menumpahkan kekesalan pada lelaki yang kucintai selama ini.
Sudah kuberitahu Andre lelaki bebas. Sebebas ikan berenang di lautan. Lalu apakah wanita itu tahu pula bahwa Andre sering menghabiskan waktu dengan teman-teman kencan? Bila tidak, dengan teman minum?
Di hari Marida pertama kali tinggal di rumah Andre pergi hingga larut. Dia bilang ke Marida tidak usah menghubunginya hingga dia pulang sebab ada urusan penting. Wanita itu percaya begitu saja, sementara aku mengurung diri di kamar. Saat makan siang aku dengar ketukan di pintu kamar. Pasti Marida, mengingat Bi Imah senantiasa memanggil namaku bila menyatakan makanan telah siap di meja. Aku tak beranjak dari rebah, oleh sakit hati dan kecewa yang beranak pinak. Ketukan berulang lagi, diikuti sepotong suaranya,
“Bangunlah, aku memasak sesuatu untuk kamu coba.”
Perhatian pura-pura lagi! Belum apa-apa dia sudah unjuk kebolehan di dapur, pasti tidak lama lagi Bi Imah akan terusir. Dan aku akan mempertahankan wanita setengah baya tersebut sebagai pembantu. Persetan dia pintar masak atau keluaran sekolah koki di Itaia sekalipun jangan harap lidahku menyentuh makanan buatannya.
“Aleksandra…” aku bayangkan betapa bibir indahnya menyebut namaku hati-hati. Takut terdengar kasar serta terkesan tidak pantas mendampingi Andre pencinta seni.
“Kamu tidak boleh begitu. Tadi pagi kamu lupa sarapan lalu sekarang kamu tidak mau makan siang lagi?” dia rangkaikan kalimat perayu dalam sentuhan suara halus. Tapi aku tidak mudah disogok. Apalagi sesama wanita, sedikit banyak aku tahu perhatian macam itu kadang dibuat-buat. Dan aku bukan Andre, aku musuh besarmu! Aku biarkan beku semua ucapnya di depan pintu. Beberapa patah kata lagi terucap dari Marida sebelum dia berlalu.
“Aku tunggu kamu di meja makan, ya,”
Persetan dengan bujuk rayumu! Aku tak ingin makan sepanjang hari. Bahkan ketika malam hari, waktu Andre pulang, dan lelaki yang kini aku benci itu memanggil namaku berulang-ulang aku cuma menjawabnya dari balik pintu. Dia bilang aku harus makan malam bersama mereka berdua. Aku jawab tidak mau. Dia paksa aku membuka pintu dengan berkata akan mendobraknya. Aku katakan kalau aku sudah makan tadi sore masakan Bi Imah. Tak lama kemudian Andre pergi. Kemarahan dan kebencian yang menyala-nyala membuatku rela tidak makan sepenuh hari.
Kutekan rasa laparku dengan memikirkan semua kesalahan masa lalu ciptaan Andre agar aku punya alasan untuk makin membencinya. Malam itu aku tidur tengah malam. Setelah air mata kering dan tubuh benar-benar penat sementara besok pagi aku akan bangun kembali dengan semangat kebencian makin berkobar.
Setelah menggesek dan merenggek begitu lama, akhirnya Paman 9 mengangguk bawa aku ikut serta menangkap ketam di malam hari. Itu adalah pertengahan tahun 60-an, tiap tahun pasti pergi tangkap, dua li keluar dari kampung, tempat sebuah rawa terbentang.
Usai makan malam, Paman 9 membawa aku keluar kampung. Waktu akan berangkat, ibu berulang kali berpesan agar aku mesti dengar kata-kata Paman 9, jangan sembarangan lari dan gerak, serta berpesan agar Paman 9 menjagaku baik-baik. Paman 9 berkata: “Tak usah risau Kak, aku tak hilang, dia juga tak akan hilang.” Ibu menyodorkan kepada kami dua potong roti bawang, agar ketika waktu lapar tiba, bisa ganjal perut. Kami memakai jas hujan dari bambu, menutup kepala dengan caping. Aku membawa dua buah karung goni, Paman 9 memegang sebuah lampu minyak dan sebuah sekop di pundak. Belum jauh keluar dari kampung, kami sudah kehabisan jalan, di mana-mana hanya tanah becek air lumpur dan batang-batang sorgum malang melintang. Untung kami berkaki ayam dan punggung telanjang, tidak peduli entah apa air entah lumpur.
Malam itu bulan amat besar. Kalau bukan hari empat belas pasti hari enam belas bulan delapan. Yang jelas sudah pertengahan musim gugur, angin malam sejuk enak. Cahaya bulan putih bersih, menyorot di atas air -di sela-sela batang sorgum-, sekeping-sekeping bagai kilau perak memancarkan cahaya. Puak katak yang telah bising satu musim panas kini sedang sibuk mengheningkan diri, oleh sebab itu sangat tenang. Suara langkah kami yang bawa air seret lumpur kedengaran makin jelas. Terasa seperti sudah berjalan sangat sangat lama, baru berdiri keluar dari lahan sorgum. Memanjat ke atas sepotong pematang, kata Paman 9, ini adalah tanggul kali, tempat memasang jaring menangkap ketam.
Paman 9 melepaskan jas bambu dan caping, juga melorotkan celana yang ikat di pinggang, telanjang bulat-bulat. Dengan sekop di pundak dia loncat ke dalam kali yang lebarnya kurang lebih sepuluh meter itu, menyekop bongkahan tanah basah berserabut akar rumput. Air kali sekitar setengah meter dalamnya, arusnya sangat pelan. Hanya sebentar saja Paman 9 sudah membangun sepotong bendungan hitam di tengah kali, agak mendekati tanggul, dibuka sebuah mulut kurang lebih dua meter, dipasang dua lapis pagar dari batang sorgum sebagai jaring ketam. Paman 9 menggantungkan lampu minyak di samping pagar sorgum, lalu menarik aku duduk di luar cahaya lampu, menunggu tangkap ketam.
Aku bertanya kepada Paman 9, “Jadi tangkap ketam begini mudah?”
Paman 9 berkata,” Lihat saja nanti. Malam ini bertiup angin kecil barat daya. Angin barat daya mengiang, kaki ketam pun miang. Ketam-ketam di dalam lobang lumpur bergegas kumpul ke sungai sehitam tinta rapat. Kali kecil ini adalah jalan yang mesti dilewati, takutnya sampai langit terang, kita pakai dua karung goni pun tidak cukup muat.”
Di atas tanggul memang lembab. Paman 9 mengelar sebuah jas bambu, suruh aku duduk di atasnya. Paman 9 membiarkan tubuhnya tetap bugil, ototnya berpijar-pijar cahaya perak. Aku merasa dia sangat gagah, lalu kukatakan dia sangat gagah. Dia dengan sombong berdiri, merentangkan tangan menyepakkan kaki, polos seperti seorang anak kecil.
Tahun itu usia Paman 9 agaknya delapan belas lebih sedikit, masih belum punya isteri. Dia suka main dan pandai pula main, pukat ikan tangkap burung, curi labu ngutil jujube, semuanya dikuasai, semuanya ahli, kami sangat senang bisa bermain bersamanya.
Setelah menyiksa diri beberapa waktu, dia memakai kembali celananya, duduk di atas jas hujan, berkata, “Jangan gerak atau keluar suara, ketam paling hantu, kalau dengar suara langsung menempel tidak merayap lagi.”
Kami hening, sebentar memandang lampu yang memancarkan cahaya kuning nan hangat, sebentar melototi tembok mematikan dari batang sorgum itu. Paman 9 berkata asal ketam memanjat ke dalam pagar batang sorgum, pasti tidak bisa lolos lagi, kita hanya perlu turun mengambilnya.
Air kali terang berayun-ayun, seolah tidak tampak mengalir, hanya sedikit buih yang memercik dan menggulung di pagar batang sorgum menunjukkan air masih mengalir. Ketam belum tampak, aku mulai sedikit tidak sabar, maka bertanya kepada Paman 9. Dia berkata, hati jangan hilang sabar, hati hilang sabar tidak bisa cicip bubur panas.
Kemudian uap lembab mengapung dari permukaan tanah, bulan memanjat sampai tempat yang sangat tinggi, bulatnya kelihatan agak kecil, tapi pijarnya makin terang, biru-biru lebam, di dalam lahan-lahan sorgum yang jauh dan dekat, uap kabut segumpal-segumpal, selapis-selapis, kadang kental kadang ringan, sedap betul dipandang. Di tengah semak tepi kali, serangga musim gugur teriak nyaring, ada yang mengaung, ada yang mencericit, ada yang mendesah, menyatu jadi sebuah nyanyian. Suara serangga membuat malam seperti makin hening. Di dalam lahan sorgum, sesekali masih ada suara kaki nyemplung ke dalam air, seperti ada orang bergerak dengan langkah-langkah lebar. Kabut di atas kali juga kental ringan tidak merata, terus berubah tak terduga, air kali yang berpijar keperakan kadang-kadang tertutup kabut, kadang-kadang menampakkan diri dari tengah kabut.
Ketam masih belum tampak, aku sudah mulai gelisah. Paman 9 juga menggerutu, berdiri lalu jalan ke samping memeriksa pagar batang sorgum. Setelah kembali dia berkata: “Aneh aneh aneh, malam ini seharusnya adalah arus besar pelintasan ketam.” Katanya, angin barat daya mengiang kaki ketam pun miang, ketam tidak keluar ini macam ada hantu.
Dari sebatang pohon di tepi kali Paman 9 memetik selembar daun yang mengkilap, dijepit di dua bibirnya, meniup keluar suara-suara seperti rintihan yang aneh. Aku merasa tubuhku dingin sekali, lalu berkata: “Paman 9, kau jangan tiup lagi, kata ibuku malam gelap bersiul mengundang hantu.” Paman 9 sembari meniup daun pohon, menoleh lihat aku sekejap, sorotan matanya kehijau-hijauan, menimbulkan rasa aneh. Hatiku seketika berloncat cepat, tiba-tiba merasa Paman 9 amat asing. Aku mengkerut ke dalam jas bambu, kedinginan hingga seluruh tubuh gemetar.
Paman 9 konsentrasi meniup daun pohon, tubuhnya terendam dalam cahaya bulan yang makin putih bersih, bagai sebuah patung yang dipahat dari bongkahan es. Hatiku penuh tanda tanya: Tadi Paman 9 suruh aku jangan menimbulkan suara, takut ketam kaget, kenapa sekejap saja ia malah meniup daun pohon? Ataukah ini adalah salah satu cara memanggil ketam?
Aku mengecilkan suara memanggilnya: “Paman 9, Paman 9.” Dia samasekali tidak hirau dengan panggilanku, masih tetap meniup daun pohon, seperti rintih seperti kesah seperti entah, suaranya semakin didengar semakin aneh. Dalam panik aku coba gigit jariku, sangat sakit, membuktikan ini bukan di tengah mimpi. Menjulurkan tangan mencolek punggung Paman 9, ternyata dingin sampai menusuk tulang. Saat itu, aku benar-benar mulai merasa takut. Aku ingin lari, namun jalan malam sungguh gelap, tanah becek air lumpur, di mana-mana tertutup batang sorgum, bagaimana bisa sampai rumah? Aku telah menyesal ikut Paman 9 datang tangkap ketam. Lelaki dingin yang meniup daun pohon ini mungkin sudah lama bukan lagi Paman 9, mungkin saja siluman buaya atau jejadian ikan atau entah apa. Terpikir sampai di sini, aku takut hingga kulit kepala meledak, aku kira malam ini pasti tidak bisa pulang hidup-hidup.
Aku tidak tahu sejak kapan langit memunculkan sekuntum awan kuning, sepi sendirian, bulan tepat menyelinap ke dalamnya. Aku merasa pemandangan ini terlalu mengada-ada, langit yang begini luas, bulan mempunyai jalan yang begitu lebar untuk bergerak, kenapa mesti menelusup ke dalam gumpalan awan itu?
Cahaya dingin sudah terhalang, kali kecil, lahan-lahan luas mulai kabur menghitam, hingga cahaya lampu minyak itu kelihatan makin terang. Sesaat, tiba-tiba aku mencium ada sejurus bau wangi yang ringan. Bau wangi itu berasal dari kali kecil. Mengikuti bau wangi itu aku menatap, kelihatan di atas permukaan kali berdiri sebatang bunga teratai yang putih bersih. Bunga berada di dalam lingkaran cahaya lampu minyak, begitu luwes, begitu suci. Kolam di depan pintu rumah kami juga selalu memekarkan banyak sekali bunga teratai, namun tidak ada sebatang pun setara dengan yang di depan mata ini.
Munculnya bunga teratai membuat aku lupa akan takut, membuat aku terendam di dalam semacam perasaan bersih dan sejuk yang belum pernah kualami. Tanpa sadar aku berdiri, melepas jas bambu, berjalan ke arah bunga teratai. Kakiku terendam di dalam air hangat dan lembut, air yang mengalir pelan dan hangat mengelus-elus pahaku. Aku merasa sudah hampir mati keenakan. Jarak dengan bunga teratai sebenarnya hanya beberapa langkah, tetapi saat dijalani seperti luar biasa jauh. Antara aku dan bunga teratai jaraknya seolah tidak pernah berubah, seperti aku maju selangkah, ia mundur selangkah. Hatiku berada di dalam suatu kondisi terbius kebahagiaan. Aku tak berharap memetik bunga teratai ini, aku berharap selamanya bertahan di dalam kondisi bunga teratai berjalan dan aku juga berjalan, di dalam suatu pengejaran yang pelan dan memiliki tujuan yang indah, elusan air kali yang hangat, memberi aku suatu pengalaman kebahagian yang tak terlupakan sepanjang hidup.
Kemudian, cahaya bulan tiba-tiba menebar di seluruh permukaan kali, sekejap, aku melihat dia bergetar dua kali, memancarkan beberapa jurus cahaya putih yang lebih menyilaukan mata daripada kilat, kemudian, sekeping-sekeping bunga yang bagai pahatan giok jatuh berguguran. Serpihan bunga menyentuh permukaan air, hancur menjadi kepingan-kepingan bulat kecil, berputar hilang di dalam air kali yang berpijar-pijar. Batang teratai yang tadi mengangkat bunga tinggi-tinggi itu, setelah bunga luruh, juga ikut layu dan ambruk, berkelenjot dua tiga kali di atas permukaan air, lalu berubah jadi lingkaran riak air…
Tanpa terasa di dalam mataku mengalir deras air mata hangat, hati penuh dengan kesedihan yang manis. Hatiku sesungguhnya tidak pedih, hanya sedih saja. Semua yang terjadi di depan mata, bagai sebuah alam mimpi yang indah. Namun aku sedang bugil berdiri di dalam kali, air setinggi jantungku, setiap detakan jantungku membuat air kali bergetar sedikit, membentuk lingkaran riak. Walaupun bunga teratai telah hilang, namun wanginya yang ringan masih belum sirna, mengapung di atas permukaan air, menyatu dengan cahaya bulan yang putih dan jeritan lirih serangga…
Sebuah tangan kuat cengkeram leherku, mengangkat aku ke atas permukaan air. Seuntai-seuntai butiran air, bagai mutiara, dari dadaku, dari perutku, dari burung kecilku yang sebesar kepompong ulat sutera, menetes bergulir ke atas permukaan air. Aku mendengar air kali dikuak sepasang paha yang besar dan kokoh, menimbulkan suara gemuruh. Setelah itu, tubuhku dilempar ke atas, berputar satu kali di udara, kemudian mendarat di atas jas bambu.
Aku kira pasti Paman 9 yang menarik aku keluar dari tengah kali, namun setelah kulihat dengan seksama, Paman 9 masih duduk abadi di atas tanggul, masih begitu terpukau meniup daun pohon, samasekali tidak tampak ada jejak gerakan.
Aku teriak: ” Paman 9!”
Paman 9 masih menggigit daun pohon, menoleh sapu aku semata, sorotan matanya benar-benar seperti sorotan mata orang asing, bahkan dari sorotan itu mengalir keluar sedikit kedongkolan, seperti menyalahkan aku telah mengganggu dia meniup irama. Setelah punya pengalaman turun ke kali mengejar bunga teratai, takutku ternyata telah sirna, aku sudah tidak begitu peduli apakah Paman 9 itu manusia atau hantu. Dia seolah hanya seorang pemandu jalan yang membawa aku masuk ke alam yang aneh, tempat tujuan sudah sampai, keberadaannya juga sudah kehilangan makna. Dengan berpikir demikian, suara tiupan daun pohon yang awalnya seperti rintihan hantu telah berubah menjadi irama yang lembut dan merdu di telinga.
Cahaya kuning buram lampu minyak mengisyaratkan padaku, kami ke sini adalah untuk menangkap ketam. Sekali tunduk kepala, begitu angkat lagi, sudah kelihatan bergerombol berbaris ketam-ketam memanjat ke atas pagar batang sorgum. Ukuran ketam sangat rata, semuanya kurang lebih sebesar tapak kuda, cangkangnya hijau mengkilap, matanya panjang-panjang, capitnya diangkat tinggi-tinggi, gagah dan garang. Sejak lahir aku juga belum pernah melihat ketam yang begitu besar dan begitu banyak berkumpul, di dalam hati riang dan takut bercampur aduk. Colek Paman 9, tapi Paman 9 diam saja. Aku agak marah, ketam tidak datang, kau gelisah; ketam datang, kau tiup daun pohon, kalau memang mau tiup daun pohon buat apa di tengah malam susah payah lari ke tempat begini meniup? Aku sekali lagi merasa Paman 9 sudah bukan lagi Paman 9. ilustrasi disunting dari poster white snake legendSebuah tangan lembut macam kapas menyentuh kepalaku, begitu angkat kepala lihat, ternyata adalah seorang perempuan muda yang mukanya laksana baskom perak. Rambutnya sangat panjang dan tebal, di dekat telinganya terselip sekuntum bunga putih sebesar bunga kamboja, bau wangi menyerang hidung, aku tidak tahu itu bunga apa. Wajahnya menebarkan senyum, di tengah-tengah keningnya ada sebiji tahi lalat hitam. Dia memakai sebuah gaun putih panjang dan sangat longgar, begitu anggun berdiri di bawah cahaya bulan, luar biasa cantik, persis seperti dewi yang digambarkan di dalam legenda.
Dia dengan suara serak dan manis bertanya kepadaku: “Anak kecil, kau buat apa di sini?”
Aku berkata: “Aku ke sini tangkap ketam.”
Dia mulai tertawa terangguk-angguk, berkata: “Kecil begini, juga tahu tangkap ketam?”
Aku berkata: “Aku datang bersama Paman 9, dia adalah orang paling lihai tangkap ketam di kampung kami.”
Dia sambil tertawa berkata: ” Bengak, pamanmu adalah orang paling bodoh sejagat.”
Aku berkata: “Kaulah orang bodoh!”
Dia berkata: “Budak kecil, biar kutunjukkan agar kau tahu aku ini orang bodoh atau bukan.”
Tangannya menarik keluar sebatang sorgum yang masih penuh berjuntai biji dari belakang tubuhnya, kemudian menjulurkan satu ujung ke tengah dua lapis pagar batang sorgum yang di sisi kali, ketam-ketam hijau langsung bergegas menyusuri batang sorgum itu merayap ke atas. Dia lalu memasukkan ujung lain ke dalam mulut karung goni, ketam-ketam itu satu mengikuti satu berbaris masuk ke dalam karung goni. Karung goni yang pipih dan kering sekejap sudah menggelembung, di dalamnya berisik suara beribu cakar menggaruk, beribu mulut membuih ludah. Sebentar saja satu karung goni sudah penuh, dengan kakinya dia angkat seutas akar rumput, dua putar tiga putar, mulut karung goni sudah diikatnya. Karung goni yang lain sebentar saja juga sudah penuh, dia kembali menggunakan seutas akar rumput mengikat mulut karung.
“Bagaimana?” dengan sombong dia bertanya.
Aku berkata: “Kau pasti dewi khayangan.”
Dia menggelengkan kepala, berkata: “Aku bukan dewi khayangan.”
“Kalau begitu kau pasti siluman rubah,” penuh yakin aku berkata.
Dia terbahak: “Aku lebih tidak mungkin adalah siluman rubah, rubah, itu makhluk yang teramat jelek, wajah kurus, ekor panjang, tubuh penuh bulu kotor, seluruh badannya berbau amis.” Dia menyorongkan tubuhnya ke arahku, berkata: “Coba kau cium, apakah di badanku ada bau amis?”
Seluruh wajahku terselubung di dalam bau wanginnya yang memabukkan, kepala terasa agak pusing. Pakaiannya bergesek di wajahku, sedikit sejuk, sedikit licin, nyaman setengah mati.
Aku teringat kata-kata orang dewasa: rubah bisa menjelma jadi perempuan jelita, namun ekornya tidak bisa disembunyikan. Lalu berkata: Apakah kau berani biarkan aku meraba pantatmu? Jika tidak ada ekor, aku baru percaya kau bukan siluman rubah.”
“Iih, budak ini, kau berani melecehkan bibimu?” Dia sangat serius.
“Takut diraba berarti kau siluman rubah.” Aku samasekali tidak mau mengalah.
“Baiklah,” katanya,” Biar kau raba, tapi tanganmu sebaiknya jujur, hati-hati raba, jika kau membuat aku sakit, akan kutenggelamkan kau ke dalam kali.”
Dia mengangkat gaunnya, menyuruh aku memasukkan tangan ke dalam. Kulitnya licin tak tertangkap tangan, dua bongkah pantat besar dan bulat, mana ada ekor?
Dia menoleh bertanya kepadaku: “Ada ekor?”
Agak malu aku berkata: Tidak ada ”
“Masih bilang aku siluman rubah?”
“Tidak lagi.”
Dia menekankan jari telunjuk di kepalaku, berkata: “Budak kecil licin dan licik.”
Aku bertanya: “Jika kau bukan siluman rubah, juga bukan dewi khayangan, kau ini sebenarnya apa?”
Dia berkata: “Aku manusia.”
Aku berkata: “Kau mana mungkin manusia? Mana ada manusia yang begini bersih, begini harum, dan begini pandai?”
Dia berkata: “Budak kecil, kukasih tahu pun kau juga tidak akan mengerti. Dua puluh lima tahun nanti, di atas sebuah pulau di arah tenggara, kita masih akan bersua sekali lagi, sampai saat itu kau pasti akan mengerti.”
Dia mencabut bunga putih yang terselip di dekat telinga itu lalu menyuruh aku cium, kemudian menjulurkan tangan menepuk kepalaku, berkata: “Kau adalah anak yang berbakat, aku hadiahkan kau empat baris kalimat, kau mesti ingat betul-betul, akan berguna di kemudian hari: Gunting pisau lembing kapak, bawang putih kunyit jahe lobak. Kala menyayat hati kau mesti sayat, di atas pohon durian tumbuh buah pinang.”
Kata-katanya masih belum benar-benar selesai, mataku sudah kabur.
Ketika aku sadar kembali, sudah saatnya matahari merah mulai terbit, air kali dan lahan-lahan luas telah diselimuti cahaya merah nan megah, sorgum yang terbentang tak habis dipandang seperti lautan darah yang diam tak bergerak. Saat itu, aku mendengar jauh dan dekat banyak orang sedang memanggil namaku. Aku menyahut dengan keras. Sekejap, ayah ibuku, paman dan bibi, kakak dan isterinya menerobos keluar dari lahan sorgum, di antara mereka juga ada Paman 9. Dia langsung memegangku, sangat marah menanyaku: “Kau lari ke mana?!”
Menurut cerita Paman 9, aku mengikutinya keluar kampung, masuk ke dalam lahan sorgum, dia jatuh terpeleset ke dalam lumpur, begitu bangun berdiri lagi sudah tidak melihat aku, lampu minyak juga hilang. Dia teriak sekuat tenaga, tidak ada sahutan, dia berlari ke rumah mencari aku, di rumah juga tidak menemukan aku. Seluruh anggota keluarga ikut bergerak, membawa lampion, cari semalam suntuk. Aku berkata: “Aku terus bersamamu.”
“Bohong!” kata Paman 9.
“Dua karung goni ini apa?” tanya kakak.
“Ketam,” kataku
Paman 9 membuka ikatan akar rumput di mulut karung, ketam-ketam besar dengan cepat merangkak keluar.
“Ini kau yang tangkap?” Paman 9 kaget sekali bertanya kepadaku. Aku tidak menjawab.
Musim panas tahun ini, di dalam sebuah mal di Singapura, aku ikut teman pergi membeli baju buat anak perempuanku, saat sedang lirik sana lirik sini, mendadak, sejurus wangi menusuk hidung, angkat kepala, dari sebuah kamar pas, sibak tirai berjalan keluar seorang ibu muda. Wajahnya bagai bulan musim gugur, alisnya bagai lembayung musim gugur, matanya dua biji bintang terang, anggun mengepak keluar, laksana belibis kaget memandang bayangnya. Aku tertegun melihatnya. Dia membalas aku satu senyuman ayu, balik badan hilang di dalam hiruk pikuk arus manusia. Raut senyumnya, seperti sebatang panah tajam, tembus melobangi dadaku. Bersandar pada sebatang pilar, hati berloncat nafas tersengal, kepala pusing mata mengabur, lama sekali baru normal kembali. Teman bertanya ada apa, aku tanpa hati menggeleng-gelengkan kepala, tidak menjawab. Setelah kembali ke hotel, tiba-tiba teringat perempuan yang membantu aku tangkap ketam itu, hitung-hitung dengan jari, waktunya pas dua puluh lima tahun, dan Singapura, juga [sebuah pulau di arah tenggara].
Dunia filsafat memang lebih dikenal sebagai dunia yang indah, penuh dengan kebijaksanaan dan utopis. Kata terakhir ini yang menjadikan dunia filsafat lebih cenderung dipandang sebagai dunia yang hanya bermain-main dengan pemikiran. Bagaimana dengan Berger? Peter L Berger adalah sosiolog yang setidaknya mencoba menjawab tantangan itu. Menurutnya dunia yang ada sekarang ini adalah dunia yang perlu kita curigai. Sebab realitas dalam kajian Berger tak datang dengan sendirinya. Ia mengindikasikan realitas subjektif. Untuk itu, ia perlu menjadi realitas yang bernilai ilmiah. Berger memandang ilmiah itu objektivitas, empiris, sistematis dan teoritis (hal. 4).
Buku Peter L. Berger: Sebuah Pengantar Ringkas yang ditulis Hanneman Samuel seorang pengajar mumpuni yang senantiasa bergelut di dunia sosiologi di dalam kajian kesehariannya. Ia adalah pengajar di universitas, meski demikian, ia tak mau memandang sosiologi sebagai ilmu yang selalu dan senantias terhormat. Sebab itulah buku ini ditulis. Hanneman Samuel tak hanya ingin menunjukkan bahwa Berger perlu dikabarkan, Berger perlu diceritakan pada kita semua. Ini bukan hanya karena pemikiran Peter L. Berger begitu penting dalam kajian sosiologi, tapi pemikiran Berger memberikan satu pemahaman penting bagi kita, bahwa kajiannya tentang sosiologi dan ilmu pengetahuan sangat penting.
Berger memberikan satu kata kunci penting untuk memahami dunia kita, yakni “realitas”. Berger mendedah “realitas” perlu mengalami beberapa proses yakni eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi. Ketiga proses inilah yang membentuk pengetahuan kita. Melalui tiga proses itulah, kita memandang “sesuatu” dari pengetahuan akan “sesuatu” tersebut sebelumnya.
Nilai Penting Berger
Hanneman Samuel menghadirkan kembali pemikiran Berger dengan motif bahwa “kajian pemikiran Berger dinilai penting karena ia mengingatkan kembali akan kesejarahan dari sebuah “realitas sosial”. Dengan melihat kesejarahan realitas sosial itulah kita bisa membaca berbagai kepentingan atau realitas yang semu yang dibentuk dan dimanipulasi. Selain itu, Berger menekankan bahwa proses internalisasi itulah yang cenderung lebih dominan dalam diri kita. Sehingga kita tidak objektif memandang sesuatu.
Pemikiran Berger bisa kita praktikkan dengan realitas sosiologis negeri kita. Misalkan ketika muncul berita terorisme di suatu daerah, media menggunakan proses internalisasi yang terus menerus dan tak berhenti. Sehingga kita selaku warga yang berada di lingkungan penangkapan terorisme biarpun mengetahui bahwa sebenarnya lingkungan kita tidak ada masalah, kita akan ikut terpengaruh dan memiliki sugesti bahwa “ada teroris di sekitar kita”. Dengan pemikiran Berger, kita mampu membedakan apa yang sebenarnya terjadi dalam realitas sosiologis masyarakat kita. Meskipun media, berita, dan juga opini publik berkembang, kita bisa menganalisa “apa yang sebenarnya” terjadi. Di sinilah letak dialektika pemikiran Berger.
Dekonstruksi
Pemikiran Berger setidaknya mendekonstruksi atau menggugat pemikiran sosiolog sebelumnya yang memandang bahwa realitas itu dibentuk dari sesuatu yang general dan tampak di permukaan. Sehingga berbagai kebijakan yang dibentuk oleh pemerintah seringkali berasal dari sesuatu yang dinilai umum dan general. Oleh karena itu, kebijakan yang demikian seringkali tak cocok di kalangan bawah. Akan tetapi Berger membalik itu semua, bahwa setiap individu mesti memiliki analisa dan kaca mata untuk menganalisa realitas kesehariannya, realitas keseharian itulah yang membentuk objektifikasi di masyarakat sehingga membentuk realitas sosial. Berger sebagaimana diungkap oleh Geger Riyanto sosiolog yang meneliti Berger bahwa “sumbangsih pemikiran Berger adalah memberikan satu penutup dan simpulan besar para sosiolog sebelumnya yakni kita hidup dalam realitas yang dibuat”.
Buku Peter Berger Sebuah Pengantar Ringkas ini menarik untuk dijadikan kajian awal bagi kita untuk mengenali Berger dan mempraktekkan metodologinya. Berger mengajak kita untuk curiga, waspada, tapi juga senantiasa berpikir ilmiah dan resah akan kondisi masyarakat kita. Ia menyarankan adanya dialektika di dalam realitas sosial. Sehingga kita memiliki objektifikasi terhadap realitas sosial yang benar. Tak berhenti sampai di sana, kita memiliki kewajiban dengan pengetahuan akan realitas sosial itulah, kita menyadarkan dan menyerukan masyarakat, bahwa realitas sosial yang dibuat ini perlu kita sadari dan mengerti bagaimana menyikapi realitas tersebut. Sehingga ia mengatakan dengan kesimpulan sederhana : “….fenomena manusia tidak berbicara dengan sendirinya : ia harus ditafsirkan” (Berger and Kellner,1981:10; hal.42).
Kajian Berger bisa kita gunakan untuk menelaah bagaimana “realitas politik”, “pencitraan penguasa” hingga berbagai pembohongan publik yang disiarkan melalui media bisa kita analisa. Dengan begitu, kita sebagai manusia yang memiliki modal “pengetahuan” bisa menggunakan sosiologi pengetahuan yang kita punya untuk lebih memahami dunia (realitas kita yang sesungguhnya). Karena itulah, buku ini dihadirkan, bahwa Hanneman Samuel tak mau terkungkung dalam satu realitas sosiologis di dunia perkuliahan yang cenderung terkungkung dengan realitas yang lebih cenderung kepada realitas keseharian. Dengan menghadirkan buku ini, Hanneman Samuel juga mengungkapkan pentingnya kesadaran sosiologis. “Kesadaran sosiologis perlu untuk seseorang yang menyebut dirinya “intelektual”. Kesadaran ini akan memberi insane yang hidup di jalan pemikiran kapasitas yang tajam untuk berefleksi, melihat segala sesuatu dalam bingkai yang utuh, bahkan daya ironi dan kemampuan menjaga jarak dengan dirinya sendiri. Meminjam istilah Elias (1987) penarikan diri (detachment) selayaknya berjalan beriringan dengan “keterlibatan” (involvement) (hal. 108).Judul: Peter Berger Sebuah Pengantar RingkasPenulis: Hanneman Samuel
Penerbit: Kepik
Tahun: 2012
Tebal: 120 halaman
ISBN: 978 602 99608 6 0
*) Penulis adalah Mahasiswa UMS, pegiat di bilik Literasi Solo
Hari ini 30 November 2012, PBB mengakui kedaulatan Negara Palestina. Saya langsung teringat kepada salah seorang penyair komunis dari Palestina yang meninggal tahun 2008 lalu, Mahmoud Dharwis. Berikut salah satu artikel tentang sang penyair yang dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui karya-karya sastra dan budaya.
Pengantar: Ahmad Yulden Erwin
——————————————–
MAHMOUD DHARWIS: TANAH AIRKU SEKOTAK KOPOR
Artikel oleh Dian
Gambar diunduh dari fb Ahmad Yulden Erwin
Gempuran Israel atas Palestina mengingatkan pada seorang penyair bernama Mahmoud Darwish, yang meninggal dunia 4 tahun silam. Berikut ini catatan pendek tentang sejarah dirinya.Di usia enam tahun, Mahmoud Darwish menyaksikan peristiwa yang kelak sangat mewarnai puisi-puisinya. Tentara Israel, di tahun 1947, merangsek ke desa-desa Palestina dan menghancurkan al-Birwa, sebuah desa di Galilee Barat, tanah kelahirannya. Seperti kebanyakan keluarga Palestina, keluarga Salim dan Houreyyah Darwish membawa Mahmoud dan saudara-saudaranya mengungsi ke Libanon. Inilah pengasingan pertama Mahmoud.
Setahun di Libanon, keluarga Salim kembali ke desa mereka dan mendapatinya telah berubah: dua permukiman Yahudi sudah tegak berdiri. Tak banyak pilihan bagi mereka, kecuali menetap di Deir al-Asad, Galilee. Sejak itulah, Mahmoud kecil merasakan hidup sebagai orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Kelak, ingatan masa kecil ini ia tuangkan dalam puisinya:
Mereka membungkam mulutnya dengan rantai,
Dan mengikatkan tangannya pada batu maut
Mereka berkata: Engkau pembunuh
Mereka merampas makanan, pakaian, dan benderanya
Dan melemparnya ke dalam sumur maut
Mereka berkata: Engkau pencuri
Mereka melemparnya keluar dari setiap pelabuhan
Dan menjauhkan yang dicintainya
Dan kemudian mereka berkata: Engkau pengungsi.
Kendati menyadari bahwa keluarganya hidup sebagai warga kelas dunia, Mahmoud masih berangan untuk turut merayakan negara Israel. Namun suara nuraninya tak bisa dibendung. Mahmoud kecil menulis puisi. “Saya tidak ingat puisi itu,” ujarnya puluhan tahun kemudian. “Tapi saya ingat gagasannya; ‘engkau bisa bermain di bawah matahari sesukamu, dan engkau punya mainan, tapi aku tidak. Engkau punya rumah, dan aku tidak. Engkau merayakan, tapi aku tidak. Mengapa kita tidak bisa bermain bersama?’” Ia ingat bagaimana ia diancam ketika itu: “Jika kamu menulis puisi semacam itu, aku akan memberhentikan ayahmu agar tidak bekerja lagi di pertambangan.”
Pendudukan, kolonialisme, penindasan, selalu melahirkan perlawanan. Sangat alamiah. Di usia 19 tahun, ketika ia sudah menerbitkan buku puisi pertamanya, Asafir bila ajniha (Burung-burung tak bersayap), ia bergabung dengan Partai Komunis Israel, Rakah. Menulis puisi dan melibatkan diri dalam aktivisme politik menjadi pilihan Darwish di usia muda. Hingga usia 30 ia berkali-kali masuk penjara dan dikenai tahanan rumah. Penguasa Israel, seperti penguasa di manapun di muka bumi ini, memakai ”subversi” sebagai senjata untuk memojokkan mereka yang berkata ”tidak.”
Darwish menjalani pengasingan. Moskow menjadi pilihan Darwish untuk belajar, 1971. Inilah perjalanan yang membawanya berkelana dari Kairo ke Beirut, dari Tunis ke Paris, dari Amman ke Houston, dari Damaskus ke Ramallah. ”Tanah airku sekotak kopor,” ujarnya suatu ketika. Dengan getir ia menulis:
Kita bepergian seperti orang lain, namun kita tak punya tempat untuk kembali
(Tapi) Kita memiliki negeri kata-kata.
Bagi Darwish, pengasingan tak berhenti hanya dalam pengertian geografis—keluar dari tanah kelahirannya yang kini dikuasai Israel. ”Anda bisa terasing di tanah air sendiri, di rumah Anda sendiri, di suatu ruangan,” ujarnya. Pengasingan, akhirnya, bukan sesuatu yang asing bagi Darwish. Malah, ia menduga-duga, ”Dapatkah aku mengatakan bahwa aku kecanduan untuk diasingkan?”
Rasa asing yang non-geografis itu ia rasakan tatkala ia diizinkan pulang ke Tepi Barat. ”Saya tak pernah tinggal di sini sebelumnya,” kata Darwish. ”Ini bukan tanah air pribadiku. Tanpa memori, Anda tak memiliki hubungan nyata dengan suatu tempat.” Betapapun, ucapnya lagi, ”Saya telah membangun tanah air saya, saya bahkan telah mendirikan negara saya—dalam bahasa saya.”
Bagi Darwish, pengasingan merupakan salah satu sumber kreasi sastra—sesuatu yang jamak ditemui di sepanjang sejarah manusia. Di Paris, tempat ia hidup selama sepuluh tahun, ia melahirkan Memory for Forgetfulness—sebuah memoar tentang Beirut dibawah pemboman Israel, 1982. Ia percaya, manusia yang berharmoni dengan masyarakatnya, budayanya, dirinya sendiri, tak bisa menjadi seorang kreator. ”Dan itu benar,” ujarnya, ”sekalipun jika negeri kami Surga itu sendiri.”
Dengan berjarak secara geografis dari tanah kelahirannya, Darwish mengekspresikan kerinduannya akan Palestina. Palestina bukan sekedar sepetak tanah, laiknya orang Yahudi menganggapnya demikian. Palestina adalah metafor bagi hilangnya Surga, kelahiran dan kebangkitan, serta kesedihan mendalam karena ketercerabutan dan pengasingan.
Suaranya yang menuntut keadilan terdengar nyaring: ”Mengapa kami selalu diberitahu bahwa kami tidak bisa memecahkan masalah kami tanpa memecahkan kegelisahan eksistensial orang-orang Israel dan pendukung mereka yang justru telah mengabaikan eksistensi terdalam kami selama puluhan tahun di tanah air kami sendiri?”
Catat! Aku seorang Arab/ Dan kartu identitasku adalah nomor limapuluh ribu/ Aku mempunyai delapan anak/ Dan yang kesembilan akan lahir sesudah musim panas/ Marahkah engkau?/ Catat!/ Aku seorang Arab/ Aku mempunyai nama tanpa hak/ Pasien di sebuah negeri / Di mana orang dibikin marah… Aku tidak membenci orang/ Aku tidak melanggar hak orang lain/ Tapi jika aku menjadi lapar/ Aku akan menyantap daging perampas kuasaku/ Sadarilah… / Sadarilah…/ Kelaparanku/ Dan kemarahanku!
(Kartu Identitas, 1964)
Walau Darwish dipersepsikan secara luas sebagai simbol perlawanan Palestina dan juru bicara bagi oposisi Arab terhadap Israel, ia menolak tuduhan antisemitisme: “Tuduhan itu bermakna saya membenci orang Yahudi. Sungguh tidak enak, mereka menunjukkan saya sebagai setan dan musuh Israel. Meskipun, tentu saja, saya bukan kekasih Israel. Saya tak punya alasan untuk begitu. Namun saya tidak membenci Yahudi..”
Di suatu kesempatan Darwish mengatakan ia akan terus memanusiakan orang lain, musuh sekalipun. Sukar baginya untuk menghindari sikap itu. Guru pertama yang mengajarkan padanya bahasa Ibrani adalah seorang Yahudi. Cinta pertama dalam kehidupannya adalah gadis Yahudi. Hakim pertama yang mengirimnya ke penjara adalah perempuan Yahudi. ”Sejak awal mula, aku tidak melihat Yahudi sebagai setan atau malaikat, tapi sebagai manusia,” tuturnya.
Beberapa puisinya ditujukan kepada kekasih Yahudi. “Puisi-puisi ini mengambil sisi cinta, bukan perang,” ujarnya. Di Knesset, parlemen Israel, Darwish mempunyai sejumlah kawan. Di Knesset pula, 1988, salah satu puisinya, Passers Between the Passing Words, dikutip oleh Yitzhak. Ia dituduh menuntut agar Yahudi meninggalkan Israel, meski ia mengaku bahwa yang ia maksudkan adalah Tepi Barat dan Gaza.
Maka, tinggalkanlah tanah kami
Pantai kami, laut kami
Gandum kami, garam kami, luka kami.
Penyair Ammiel Alcalay menyebut reaksi histeris orang-orang Yahudi terhadap puisi itu menjadi tes litmus yang akurat terhadap psyche orang Israel mengenai isu yang sensitif ini.
Namanya kembali menjadi kontroversi ketika Yossi Sarid, menteri pendidikan Israel, pada Maret 2000, mengusulkan agar dua puisi Darwish dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah menengah. Perdana Menteri Ehud Barak menolak usul itu dengan alasan Israel “tidak siap.” ”Orang Israel tidak ingin mengajar muridnya bahwa ada kisah cinta antara penyair Arab dan tanah ini,” kata Darwish. “Saya hanya ingin mereka membaca saya untuk menikmati puisi saya, bukan sebagai representasi musuh.” Empat jilid puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani oleh Muhammad Hamza Ghaneim: Sareer El-Ghariba (Bed of a Stranger, 2000), Limaza tarakt al-hissan wahida (Why Did You Leave the Horse Alone?, 2000), Halat Hissar (State of Siege, 2003), dan Halat Hissar (Mural, 2006).
Bagi Darwish, tanah yang kini diduduki Israel melahirkan ketegangan tersendiri. Sebuah paradoks bersitegang dalam dirinya: seorang nasionalis yang menulis deklarasi perjuangan Palestina yang diadopsi PLO, 1988, berusaha pula memperoleh kartu identitas Israel agar ia dapat hidup di tanah kelahirannya sepulang dari pengasingan. ”Bagi orang Arab di Israel selalu saja ada ketegangan di antara nasionalitas dan identitas,” kata Darwish. ”Saya menerima dokumen apapun yang melindungi hak saya untuk berada di sana.”
Persepsi dirinya sebagai simbol perlawanan Palestina membuat ia jengah. Darwish terkadang merasa seolah-olah dirinya sudah terbaca sebelum menulis. ”Ketika saya menulis puisi tentang ibu saya, orang Palestina mengira ibu saya adalah simbol Palestina,” ujarnya. ”Padahal saya menulis sebagai penyair, dan ibu saya adalah ibu saya. Ia bukan sebuah simbol.” Penyair Naomi Shihab Nye menulis bahwa Darwish “adalah napas esensial rakyat Palestina, saksi yang fasih atas pengasingan dan hak milik…”
Ia ikut memperjuangkan bangsanya, Palestina, tapi bukan tanpa kritik, khususnya kepada faksi-faksi politiknya. Darwish sering berselisih paham dengan banyak pemimpin Palestina, sebab ia menjaga jarak dari faksionalisme.
Ia mengritik keterlibatan PLO dalam perang saudara di Libanon. Ia mundur dari komite eksekutif PLO, 1993, sebagai protes atas perjanjian Oslo, bukan karena ia menolak perdamaian dengan Israel, tapi karena “tidak ada hubungan yang jelas antara periode sementara dan status final, dan tidak ada komitmen yang jelas untuk menarik dari wilayah pendudukan. Saya merasa Oslo membentangkan jalan bagi eskalasi. Saya berharap saya keliru. Namun saya sangat sedih bahwa saya benar.”
Eskalasi itu mewujudkan diri dalam aksi bom bunuh diri, yang merenggut jiwa pemuda Palestina, yang membuat Darwish memercayai bahwa ini bukan dilatari ideologi, melainkan wujud keputusasaan. “Kita harus memahami—bukan membenarkan—apa yang membangkitkan tragedi ini. Ini bukan karena mereka mencari perawan cantik di surga, sebagaimana para Orientalis menggambarkannya. Orang-orang Palestina mencintai kehidupan,” kata penyair ini. ”Bila kita memberi harapan pada mereka—suatu solusi politik—mereka akan berhenti membunuh diri sendiri.”
Di saat pulang, ketika ia merasa akan dilupakan oleh bangsanya, ia disambut di mana-mana. ”Saya pikir saya dilupakan, namun saya mendapati bahwa mereka masih menyayangi saya dan mengenal puisi-puisi saya,” ujarnya. ”Negeri ini begitu indah. Saya berusia 27 tahun ketika saya pergi, dan sekarang saya melihatnya dengan mata baru, hati baru.” Pembacaan puisinya dihadiri ribuan orang, tak ubahnya ketika ia membaca di Kairo atau Damaskus. Ia tak bisa mengunjungi sebuah kafe di negeri-negeri Arab tanpa menjadi perhatian orang lain. Sebab itulah, ia kerap menghindari tempat-tempat umum. ”Saya suka dalam bayang-bayang, bukan di dalam cahaya,” ungkapnya.
Bakat bersyairnya, yang ia pupuk sejak kecil dan disemangati oleh kakaknya, membuahkan lebih dari 30 jilid kumpulan puisi. Teman sekolahnya ingat betapa sangat bagus bahasa Ibrani Darwish—ia bercakap pula dalam bahasa Inggris dan Prancis. Penyair Irak Abd al-Wahhab al-Bayati dan Badr Shakir al-Sayyab mengesankannya. Begitu pula Nizar Kabbani. Darwish mengenal Frederico Garcia Lorca dan Pablo Neruda melalui bahasa Ibrani. Ia memuji Yehuda Amichai, dan menggambarkan puisi penyair Yahudi itu sebagai “tantangan bagiku, karena kami menulis tentang tempat yang sama. Ia ingin menggunakan lanskap dan sejarah demi keuntungannya sendiri, berdasarkan identitas saya yang hancur. Jadi kami bersaing: siapa pemilik bahasa tanah ini? Siapa yang lebih mencintai? Siapa yang menulisnya lebih baik?”
Puisi, bahasa, menjadi alat perjuangan Darwish. Dalam pidatonya, saat menerima penghargaan Prince Clause di Amsterdam, 2004, ia berkata: ”Seseorang hanya bisa dilahirkan di satu tempat. Tapi, ia mungkin mati beberapa kali di tempat lain: di pengasingan dan penjara, di tanah air yang diubah oleh pendudukan dan penindasan jadi mimpi buruk.
Puisi, barangkali, mengajarkan kita untuk menyuburkan ilusi yang mempesona: bagaimana lahir kembali berkali-kali, dan menggunakan kata untuk membangun dunia yang lebih baik, dunia khayalan yang memungkinkan kita meneken pakta perdamaian yang permanen dan utuh… dengan kehidupan.”
Tema kematian, mistis, kian intens menjelang maut menjemput Darwish. Mungkin karena sakit jantung yang kian menguras sehatnya. Barangkali pula karena peristiwa menjelang pertemuannya dengan Emile Habiby, penulis Yahudi, urung berlangsung lantaran maut lebih dulu menemui Habiby pada malam sebelumnya. Ia toh menghadapi kematian dengan lapang dada. Sebelum operasi jantung dilangsungkan, di Houston, ia meneken dokumen yang berisi permintaan: bila ia dinyatakan mengalami mati-otak, tak usah disadarkan.
Ia menghadapi kematian seperti ia menyikapi sarkasme. ”Sarkasme menolong saya mengatasi kekerasan realitas hidup kita, meringakan penderitaan karena birat, dan membuat orang tersenyum,” ujarnya. Sarkasme bukan hanya terkait dengan realitas saat ini, kata Darwish, tapi juga dengan sejarah. ”Sejarah menertawakan korban dan agresor.”
Di Memorial Hermann Hospital, di Houston, Texas, AS, 9 Agustus 2008, kematian mengalahkan Darwish. Penyair ini dimakamkan di Istana Budaya di Ramallah, di puncak bukit yang menghadap Jerusalem. “Mahmoud bukan hanya milik keluarga, tapi semua orang Palestina, dan harus dikubur di suatu tempat di mana orang Palestina dapat datang dan menziarahinya,” ujar Ahmed Darwish, saudara Mahmoud.
Waktu itu Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan tiga hari masa berkabung untuk menghormati Darwish dan pemakamannya dilakukan setara dengan pemakaman kenegaraan. Sejumlah anggota Knesset sayap-kiri menghadiri upacara resmi dan ribuan orang mengantarkan dengan berjalan kaki dari Mukataa ke Istana Budaya. Koran Israel, Ha’aretz, edisi 14 Agustus 2008 menurunkan laporan Mahmoud Darwish—The death of a Palestinian cultural symbol.
Simbol kultural itu pada akhirnya sampai pada tapal pemahaman: “Kupikir puisi dapat mengubah setiap hal, dapat mengubah sejarah dan dapat memanusiakan orang, dan kupikir ilusi sangat diperlukan untuk mendesak penyair agar terlibat dan memercayai, namun kini aku berpikir bahwa puisi hanya mengubah sang penyair.”
Satu bulan berlalu sejak pengumuman penyelenggaraan lomba menulis RetakanKata menyusul lomba-lomba menulis yang pernah diselenggarakan di sini. Setelah lomba menulis cerpen, lomba menulis opini, lomba menulis resensi buku, dan kini lomba menulis flash fiction. Lomba kali ini diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang agar sahabat RetakanKata dapat mempersiapkan diri dengan baik. Tentu bukan soal kalah dan menang yang diutamakan, namun lomba lebih sebagai ruang belajar bersama. Maka RetakanKata memaklumi jika dalam prosesnya, beberapa sahabat masih bertanya tentang apa yang dimaksud dengan flash fiction. Antusiasme tersebut sangat menggembirakan sehingga dengan senang hati pula, RetakanKata menurunkan tulisan tentang bagaimana menulis flash fiction. Hal tersebut, selain sebagai sarana berbagi pengetahuan, juga sebagai pedoman para sahabat RetakanKata untuk menulis flash fiction yang kemudian dapat diikutsertakan dalam lomba. Maka tibalah hari ini, tanggal 30 November 2012 sebagai hari yang ditentukan untuk mengumumkan pemenang lomba menulis flash fiction dengan tema “Kebangkitan Pemuda”. RetakanKata mengucapkan terima kasih dan apresiasi terhadap karya-karya yang telah masuk. Karya-karya yang menarik dan menyenangkan. Tentu karya yang dikirim akan menjadi lebih menarik jika para penulis lebih bersedia untuk melakukan penyuntingan naskah, membenahi penulisan sehingga mengurangi salah tulis dan juga memperhatikan ketentuan lomba, khususnya pembatasan ‘hanya’ sampai 1000 kata. Kata ‘hanya’ ini diberi tanda kutip karena sebenarnya jumlah 1000 kata tersebut lebih dari cukup bagi penulis untuk ‘bermain-main’ dengan kata-kata. Kekurangsabaran penulis dalam melakukan penyuntingan berakibat fatal sebab naskah tidak akan diikutsertakan dalam penilaian. Semoga hal ini juga menjadi pembelajaran bagi para sahabat RetakanKata agar ke depannya, ketika sahabat mengikuti lomba, baik di RetakanKata maupun di tempat lain, senantiasa memperhatikan aturan main lomba yang ditentukan.
Menilik naskah yang dikirim dan memperhatikan kelayakan naskah, dengan berat hati dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, pada lomba kali ini, RetakanKata terpaksa tidak memilih pemenang lomba menulis flash fiction. Namun sebagai bentuk penghargaan, RetakanKata akan memberikan buku Antologi Cerpen RetakanKata kepada pengirim naskah lomba berikut:
Ika Hikmatilah
Nena Fauzia
Rofiatul Ainiyah
Agista Kylanti Firsaputri.
Alfian Nur Budiyanto
Kepada nama-nama tersebut di atas, mohon mengirim info alamat pengiriman buku lewat email retakankata@gmail.com. Selain itu, karya-karya yang masuk dan layak untuk dipublikasi, akan dipublikasikan di Blog RetakanKata.
Di Porong, Sidoarjo duka itu nyata dan seolah abadi. Hampir setiap orang di sana, akan langsung berwajah muram dan berkaca-kaca matanya, saat menceritakan tentang masa lalu mereka. “Kami tak lagi memiliki sejarah hidup. Semuanya sudah terkubur bersama lumpur-lumpur itu, “ kata Maidi (49), salah seorang penduduk Renokenonggo, salah satu desa yang baru tiga bulan kebagian dihantam bah lumpur Lapindo.
Kesedihan Maidi memang tidak mengada-ada. Sebelum 2006, Renokenongo dikenal sebagai salah satu desa makmur di wilayah Kecamatan Porong. Itu wajar, karena rata-rata warga di sana selain berprofesi sebagai penambak udang juga mereka memilki sawah yang menghasilkan padi yang berkualitas bagus. “ Pokoke, orang sini dulu pada sibuk, makanya tak pernah sepi,” ujar Cahyati (39), istri Maidi.
Kini situasi berputar seratus delapan puluh derajat. Renokenongo nyaris seperti desa mati. Alih-alih manusia, pepohonan pun mengering seperti terbakar. Di sana, kehidupan seolah hanya diwakili oleh puluhan kucing kurus yang berkeliaran dan beberapa ekor ikan sepat yang menggelepar, teracuni asam sulfat lumpur Lapindo. Dan bau zat kimia itu juga, salah satunya penyebab Maidi dan Cahyati menyingkir ke barak pengungsi di Pasar Porong.
Tapi situasi di barak pengungsian pun tak lebih bagus. Di pasar yang luasnya sekitar 1500 meter persegi itu, 2581 orang hidup berdesakan tanpa kepastian dan pekerjaan. Untuk membunuh rasa jenuh, sebagian laki-laki di sana menjadi pemandu jalan para “wisatawan” yang ingin menyaksikan hamparan lumpur Lapindo dari dekat. Sementara sebagian lagi, kerjaannya mempreteli barang yang tersisa di bekas rumahnya seperti genting, kusen, daun pintu dan benda-benda lainnya yang bisa dijual, “ Lumayan sekedar untuk bertahan di barak,” ujar Maidi.
Berbeda dengan kaum laki-laki, para ibu di barak pengungsian mengisi hari-harinya dengan membuat puli atau karak. Itu sejenis kerupuk yang dibuat dari nasi aking. Untuk puli dijual ke pengepul Rp.3500- per kilogram sedang untuk karak Rp.1000- per kilogram. “Setiap hari kami coba saling menguatkan hati dan menumbuhkan harapan,” kata Karyono (50).
Menurutnya, keadaan itu berbeda dengan beberapa bulan lalu. Saat awal pertama pengungsian, mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Pekerjaan rutin yang dilakukan tak ada lain adalah menunggu aliran bantuan dari para dermawan dan Lapindo cepat mencairkan uang ganti rugi. “Karena kami ingin penderitaan ini cepat selesai dan kembali hidup normal, “ kata salah satu sesepuh pengungsi di Pasar Porong itu.
Kendati demikian sampai detik ini, pihak Lapindo belum juga bergerak cepat. Begitu pula pemerintah. Kedatangan Presiden Yudhoyono ke Porong, beberapa waktu yang lalu, ternyata tidak menjadikan bantuan menjadi lebih kongkrit. Alih-alih bantuan dan ganti rugi terwujudkan,malah para korban bencana lumpur Lapindo seolah “dibunuh” perlahan dengan janji-janji dan aturan kaku administrasi yang juga berbelit-belit.
Salah satunya, itu dialami oleh Afifuddin. Pegawai Badan Urusan Logistik (BULOG) Jawa Timur itu mengaku lelah dengan berbagai aturan kaku administratif pihak pemerintah daerah. “ Masa kesalahan menulis titel saja dipermasalahkan? Kan hal yang seperti ini sangat remeh temeh” kata lelaki yang rumahnya di kawasan Jatirejo amblas dihantam lumpur.
Waktu berjalan begitu terburu-buru. Tak terasa, Indonesia sudah berada di ambang usia 68 tahun. Pada lebih setengah abad lalu itu, Soekarno pernah berkata “ Tak ada kemiskinan dan penderitaan dalam Indonesia merdeka.” Tapi, di Porong, Sidoarjo sampai detik ini, duka itu nyata dan seolah abadi.
ilustrasi diunduh dari foto lukisan ibu anak karya A Hadi di situs bejubel.com
Ada yang berbeda di serambi rumah Emak malam ini. Ketiga putranya yang sudah lebih dari lima bulan tak pernah menampakkan batang hidung, tiba-tiba datang berkumpul. Satu tujuan mereka, membicarakan wasiat Emak. Aku turut diundang karena sore tadi hanya aku yang berada di sisi wanita itu sebelum nafas terakhirnya terhembus.
Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,
“Emak minta salah seorang putranya menggantikan Emak berjualan di pasar,” ucapku lirih.
Edi, putra sulung Emak mengernyitkan dahinya. Ia menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara. Aku menahan batuk. Melihat wajah Edi, aku jadi teringat Emak yang dulu selalu mengeluhkan kebiasaan buruk Edi semasa muda. Judi adalah kawan akrab lelaki itu hingga akhirnya Emak harus menjual sawah warisan Simbah untuk menutup hutang putranya.
“Emak tidak sebutkan nama?” tanya Edi. Alis kanannya sedikit terangkat. Mimik mukanya menyiratkan kecurigaan. Sepertinya ia tak percaya padaku.
Aku menggeleng. Aku ingat betul, apa yang diucapkan Emak. Meski dengan terbata-bata, aku dapat mendengarnya dengan jelas.
“Itu saja?”
Aku mengangguk lemah.
“Emak tak bicara soal warisan?” Tono menyesap kopi pekatnya. Di ujung bibirnya tampak ampas kopi yang tertinggal.
Huh, kau bahkan tak mau merawat Emak! Sekarang minta warisan?
Aku menggeleng lagi. Ingin sekali aku mengumpat karena kesal pada putra kedua Emak itu. Meski ia adalah suami kakakku, namun kadang aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin Mbak Yuli bisa memercayakan setengah masa hidupnya kepada lelaki mata duitan dan pelit macam Tono.
“Kita bagi saja biar adil,” Agung, putra bungsu Emak yang sedari tadi asyik menikmati pisang goreng sisa tahlilan, menyampaikan usul. Serentak Edi dan Tono mengangguk setuju.
“Lalu wasiat Emak?” aku terperanjat. Acara membahas wasiat terakhir Emak berubah menjadi ajang pembagian warisan.
“Kita bahas nanti saja,” Agung menyunggingkan senyum di wajahnya. Matanya menghakimiku, isyarat aku tak diperbolehkan ikut campur dalam pembagian warisan. Dengan lunglai, kutinggalkan tiga bersaudara itu.
***
Mendung kelabu menggantung kian rendah di langit gelap. Hawa dingin bertiup mengiringi gerimis yang sejak satu jam lalu hadir bersama galau di hatiku. Malam ini makam Emak pasti basah. Mungkin akan sebasah pipi Emak jika melihat betapa rakus ketiga buah hatinya. Sejauh ini, tak terlihat setitik pun air mata mengaliri wajah mereka karena sedih.
Edi yang tinggal di kota, bahkan rela menempuh perjalanan empat jam demi membahas warisan yang mungkin ditinggalkan Emak untuknya. Padahal, lebaran kemarin ia tak dapat meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar mencium tangan Emak.
Tono, kakak iparku, putra kedua Emak. Meski hidup dalam gelimang harta, tak serupiah pun ia pernah berikan pada wanita yang telah menghadirkan dirinya di dunia ini. Aku, adik kandung istrinya, juga tak dibiayai sekolah. Tiga tahun lalu, lelaki itu malah ’membuangku’ di rumah Emak. Meski begitu, justru aku dapat bernafas lega karena tak jadi putus sekolah. Emak menghidupiku layaknya putra sendiri.
Agung, putra bungsu yang tak pernah absen meminta-minta pada Emak. Usianya sudah menginjak kepala tiga, memiliki seorang istri dan dua orang anak. Namun tak pernah sekali pun ia memberi nafkah yang layak pada keluarga dengan jerih payahnya sendiri. Cerita dari Emak, istrinyalah yang bekerja sejak mereka menikah. Tiga tahun pertama menjadi buruh pabrik. Tiga tahun selanjutnya jadi buruh tani di sawah Tono. Tiga tahun terakhir, mengadu nasib di negeri tetangga. Kabar yang kudengar, istri Agung tak kirim uang lagi sejak tiga bulan lalu.
“Aku minta rumah saja,” sayup terdengar suara Tono. Kami hanya terpisah selembar bilik bambu yang jadi dinding rumah Emak. Jangankan suara, asap rokok ketiga orang itu mampu menyelinap melalui celah anyaman bambu. Kulekatkan telinga pada daun jendela.
“Aku minta semua ternak,” Agung meninggikan suara seperti takut jatah warisannya direbut kedua kakak lelakinya.
“Aku yang memutuskan. Aku anak tertua,” Edi berseru tak ingin kalah.
Aku menahan nafas agar dapat jelas mendengar percakapan mereka. Aku telah menduga sejak awal, Edi akan menggunakan dalih ’anak tertua’ sebagai senjata dalam pembagian harta.
“Tono dapat semua ternak. Agung dapat semua sawah. Rumah Emak jadi bagianku. Adil kan?” Edi beranjak meninggalkan kedua adiknya yang melongo melihat kakaknya jadi hakim.
***
Malam belum usai. Hawa dingin melingkupi seluruh desa yang baru saja diguyur hujan. Aku harus merapatkan sarung untuk mengusir gigitan udara malam. Aroma pohon bambu yang tumbuh mengelilingi pekarangan Emak menyeruak. Suara katak meramaikan nyanyian jangkrik di tengah guyuran hujan. Ramai yang senyap. Sunyi karena malam ini aku tak mendengar cerita Emak tentang ketiga putranya lagi.
Tubuhku terbaring. Mataku terpejam. Tetapi aku masih terjaga. Sekitar sepuluh jam sejak kepergian Emak, hatiku sudah dipeluk kerinduan padanya. Biasanya, tiap jam tiga pagi, Emak mengendap-endap berangkat ke pasar karena takut membangunkanku. Jika aku terlanjur bangun, Emak selalu menyuruhku kembali ke kamar untuk kembali tidur.
Rasa kasihan menggelayut di benakku. Mengira-ngira salah serta dosa apa yang dulu telah diperbuat Emak hingga Tuhan memberinya tiga orang anak lelaki berperangai buruk. Aku yakin, darah Bapak begitu kental mengaliri pembuluh nadi mereka.
Tiga puluh tiga tahun Emak menjanda. Suami Emak juga tak pernah kembali dari rantauannya. Hanya dua kali Bapak pulang kampung. Kepulangannya yang terakhir untuk mengurus cerai. Lelaki tua itu hendak menikah lagi setelah bertemu seorang janda di kota.
Anganku terbang melayang.
Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,
Sepenggal kalimat itu terurai dari bibir Emak menjelang ajalnya. Dengan air mata bercucuran karena ketiga putranya tak sempat mendampingi di saat terakhir. Suaranya begitu lirih dan tersendat-sendat oleh nafas yang hampir putus.
Sebenarnya sejak lusa kemarin, Emak telah meminta mereka untuk menuntun Emak mengucapkan syahadat. Rupanya, wanita itu telah merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa di sisinya. Sayang, meski aku telah pontang-panting menyusuri desa untuk menjemput Tono dan Agung, mereka bergeming. Banyak urusan, kilah mereka.
Meski nyaris putus asa, nama Edi terlintas di ingatanku. Sengaja kupinjam telepon di balai desa untuk menghubunginya. Tetapi dengan menelan kekecewaan, aku harus mendengar penolakan yang begitu kejam.
Katakan pada Emak, aku masih banyak pekerjaan. Belum lagi, aku harus cari uang dulu buat ongkos. Bilang saja, lebaran tahun ini, aku sempatkan ke sana!
Aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengisi sistem pernafasanku dengan udara yang lebih bersih. Asap rokok bertebaran dari luar ruangan itu. Tono dan Agung terus saja membakar tembakau di serambi depan. Mereka tengah asyik berbincang seolah tak ada kantuk yang membebani mata keduanya.
Banyak hal yang mereka bahas. Sayang, semua hanya omong kosong. Kurasa mereka tak berminat membuka memori untuk mengenang kebaikan Emak semasa hidup.
Aku terhenyak. Harusnya mereka bersyukur karena memiliki ibu yang begitu penyayang dan sabar. Dan mestinya mereka menyesal karena belum dapat membalas kebaikan Emak dengan cara yang pantas.
“Kenapa Mas Edi pilih rumah, ya?” pertanyaan seputar warisan. Agung, putra Emak yang paling bodoh itu selalu encer otaknya bila berhubungan dengan uang.
“Karena Emak pasti menyimpan semua hartanya di rumah,”
“Oh, pantas saja kau tadi juga minta warisan rumah Emak,”
“Tentu saja,”
Aku menghela nafas cukup panjang.
Mereka ini terbuat dari tanah atau api? Raganya manusia, hatinya iblis!
“Lalu bagaimana dengan Bowo?”
Tono menyebutkan namaku. Semakin kutajamkan pendengaran. Inilah yang aku cemaskan. Aku belum tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Siapa yang akan berbaik hati untuk membiayai hidupku. Jelas Tono tak akan bersedia menampungku.
***
Sekali lihat saja, aku dapat merasakan betapa lapuknya lapak Emak. Dindingnya terbuat dari papan triplek dengan anyaman bambu yang tersusun berantakan. Rembesan air sisa hujan semalam tampak merayapi bagian bawah yang menancap ke tanah. Sementara selembar seng berkarat jadi atapnya. Beberapa lubang kecil tersebar di sana. Aku yakin jika hujan datang, Emak akan kuyup. Apabila tengah hari, pastilah panas mendera.
Aku terpaku cukup lama. Lapak ini sudah reyot. Beberapa bulan lagi mungkin saja, atap beserta dindingnya runtuh akibat diterpa angin.
Inilah lapak yang tiga bersaudara itu berikan padaku. Tadi pagi, diam-diam mereka mengadakan rapat rahasia. Edi, Tono, dan Agung akhirnya sepakat memberikan wasiat Emak kepadaku.
“Pakailah lapak itu untuk mencari nafkah,” ujar Edi tadi pagi sebelum pulang, kembali ke kota. Aku sedikit kesal. Mereka tak berniat turut tahlilan selama tujuh hari di rumah Emak. Tono dan Agung juga berencana untuk pulang ke rumah masing-masing. Dari percakapan yang kudengar, minggu depan mereka baru akan kembali ke rumah Emak untuk pengurusan perihal warisan.
“Emak ingin salah seorang dari putranya yang mewarisi lapak itu,” sanggahku. Meski dalam hati aku tak keberatan diberi mandat berharga dari Emak.
“Lapak itu sudah diwariskan padaku, sekarang jadi hak milikku, kan?”
Tono dan Agung mengangguk-angguk. Aku juga.
“Ya sudah, kuberikan padamu. Tolong dirawat, ya?” sorot mata Edi menampakkan rasa iba yang dibuat-buat. Bergegas ia pergi dengan mengendarai motor.
Aku menghirup udara semampuku. Aroma pasar yang basah menyengat, berjejalan masuk memenuhi rongga dadaku. Matahari cukup terik. Tiada tampak lagi penjual dan pembeli berkeliaran. Cuma aku.
Kujejakkan kaki memasuki lapak Emak. Aku menelan ludah. Ini lapak yang digunakan Emak semasa hidup untuk mengais rezeki. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, tetapi juga untuk menafkahiku. Kini lapak telah menjadi milikku.
Lapak seisinya adalah wasiat Emak. Harusnya mereka tidak terlalu serakah dan mengabaikan keinginan wanita yang telah memelihara mereka sejak kecil.
Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu,
Kulangkahkan kaki perlahan. Dua langkah, empat langkah. Aku berhenti pada titik di sudut lapak dan berjongkok.
Kugali tanah lempung yang becek dengan jemariku kuat-kuat. Keringat membasahi keningku. Nafasku memburu. Sebuah kotak kayu jati teronggok di pojok ruang gelap yang sempit itu. Aku menelan ludah seolah haus sedang mencapit kerongkongan. Mataku perih. Beberapa tetes peluh menyelinap melewati deretan bulu mataku yang tipis.
Tanganku tergetar ketika membuka kotak itu.
Katakan pada anak Emak, harus ada yang jaga lapak itu, karena di sana Emak menyimpan semua warisan untuk mereka.
***
*) Susan Dwi, mahasiswa kelahiran Surabaya 1987, kini tinggal di Surabaya.