Aku berharap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku akan berhenti sampai disini. Tapi jarum jam tetap berputar seolah mengingatkan aku bahwa dia lebih berkuasa untuk menaklukan waktu. Aku sedang dihadapkan pada dua pilihan dan detik-detik jam serasa memaksaku untuk segera mengambil keputusan. Pilihan pertama, aku menuruti keinginan paman dan bibiku untuk melanjutkan studi di Amerika, artinya aku akan tinggal bersama mereka disana selamanya. Pilihan kedua, aku menolak perintah mereka dan mulai menentukan masa depanku sendiri. Aku menyandang status yatim piatu sejak berumur lima tahun. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan kerabat satu-satunya yang merawatku selama ini adalah bibi Orora. Ini adalah kebimbangan pertama yang aku alami. Aku berencana melakukan pemberontakan setelah sekian lama patuh padanya.
Aku menekan beberapa digit angka yang kemudian segera diikuti nada sambung. Aku menutup mata sampai terdengar sapaan bibi Orora dari seberang, ”Hallo dear!” Aku serasa tercekik mendengar suaranya yang selama ini berotoritas penuh atas hidupku itu. ”Sayang, kapan kau akan berangkat ke Chicago huh?” Bibi kembali bersuara setelah beberapa detik aku terdiam.
Aku menarik nafas dalam-dalam mengalahkan orang sakit asma. Aku sudah memilih untuk mandiri dan aku tidak tahu bagaimana menyampaikan keinginanku ini pada bibiku. ”Claris?” Nada suara bibi mulai meninggi.
”Emm..emm aku.. ,” nafasku tertahan. Aku memukuli dahiku berharap hal itu bisa menyatukan kata-kata yang teracak dalam pikiranku.
”Carilah jadwal penerbangan tercepat hari ini! Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi.” Bibi mengambil alih semuanya dan komunikasi diputus secara sepihak. Aku menjatuhkan gagang telepon dan membiarkannya menggantung. Aku sangat mengenal bibi Orora. Jika aku tidak menurutinya, maka semua fasilitas yang menyertaiku selama ini akan diberhentikan. Dan mungkin akan berat bagiku untuk memulai semuanya dari awal.
Pyaaar. Aku terjingkat mendengar suara pecahan kaca. Kedengarannya tidak jauh, sepertinya dari arah ruang tamuku. Seorang anak laki-laki menebarkan pandangannya ke segala arah dalam rumahku untuk mendeteksi keberadaan pemilik rumah. Aku menghampirinya dan dia menyambutku dengan sebuah pengakuan, ”Kak Claris maaf, aku menendang bola terlalu keras dan memecahkan kaca rumahmu!”
Oh…gosh! Anak kecil ini tahu siapa namaku sementara aku merasa tidak pernah mengenalnya. Tiba-tiba dia mendekat dan menjabat tanganku, ”Oh ya, namaku Kevin. Aku tahu tentang kakak dari cerita ibuku! Ibu bilang kalau besar nanti aku harus seperti kak Claris yang hidupnya selalu sukses dan membanggakan orang tua.”
Aku tercekik untuk yang kesekian kalinya hari ini. Tapi aku menghargai kejujurannya. ”Baiklah! Pujian yang tepat dan kau selamat! Ambil bolamu dan kejar impianmu!”
”Suatu saat nanti kalau kakak ganti memecahkan kaca rumahku, aku akan memberikan kebebasan padamu.”
Kevin dengan sigap mengambil bolanya dan kembali bermain di halaman rumahku. Sekarang aku sadar hadiah dari bibi Orora bukanlah impianku. Kata-kata kebebasan yang sempat dia ucapkan itulah yang aku inginkan. Aku berlari ke kamarku, meraih beberapa barang penting dan memasukkannya secara paksa kedalam tas koperku. Sekarang aku semakin yakin bahwa rumah dan segala isinya inilah yang memenjarakan masa depanku. Semasa kecil, aku masih ingat bahwa bibi akan memberiku hadiah jika aku menurut pada aturan mainnya. Saat itu, aku lebih memilih belajar seharian di kamar daripada berkenalan dengan tetangga baruku. Aku menurut untuk fokus pada bidang pendidikan yang sebenarnya tidak aku sukai. Aku menekuni pekerjaan yang menurutku membosankan sepanjang hari. Aku harus membaca dan menuruti pesan dinding di facebook yang selalu dia posting. Tidak ada pilihan lain. Aku akan memblokir semua akses internet yang bibi gunakan dan memutuskan semua sarana komunikasi antar negara yang kami lakukan selama ini. Setelah berhasil melaksanakan pemberontakan ringan itu, aku keluar dari rumahku.
”Hey kak, apa yang akan kau lakukan dengan kopermu itu?” tegur Kevin sambil memainkan bolanya dengan lincah.
”Aku menginginkan kebebasan.” Aku melirik kaca rumahnya sekedar menggoda janji yang pernah dia ucapkan.
”Hah? jadi kau akan benar-benar memecahkan kaca rumahku?!”
Keluguannya itu membuat tawaku meledak. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Aku bisa bergurau dengan siapa saja dan melakukan apapun yang aku sukai. Aku tidak percaya bahwa aku akan memblokir jalur komunikasi antara aku dengan orang yang selama ini mengasuhku. Aku akan memblokir semua campur tangan bibi dari kehidupanku. Masa depanku adalah milikku. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bibi, aku akan meraih cita-cita yang selama ini aku harapkan dan rindukan dengan cara-cara sederhana bersama orang-orang yang aku cintai.
Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (1)
Oleh Hendi Jo
Tepat delapanpuluh tahun yang lalu, De Zeven Provincien dibajak oleh ratusan awaknya yang terdiri dari kelasi pribumi, kelasi Indo dan kelasi Belanda. Bagaimana revolusi bisa terjadi di salah satu kapal perang terbesar milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu? Inilah kisahnya.
Salah Basari Wangsadireja di masa muda
Agih Subakti (67) bercerita dalam nada bangga. Sambil menyebut sebuah nama, ia mengisahkan tentang sebuah perlawanan lama. Ya, lebih kurang 80 tahun lalu, sang ayah yang bernama R. Saleh Basari Wangsadiredja adalah salah satu dari ratusan marinir yang terkait dalam pemberontakan di atas Kapal De Zeven Provincien (Kapal Tujuh). Itu adalah nama sebuah kapal perang legendaris milik Koninklijke Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda.
Namun kebanggaan itu seolah bertepuk sebelah tangan. Lelaki dengan 9 cucu tahu betul generasi sekarang sangat asing dengan peristiwa tersebut. Padahal menurutnya, dari aspek sejarah, perlawanan itu sangat penting karena terkait dengan perjuangan bangsa ini dalam merebut kemerdekaan.
”Peristiwa Pemberontakan De Zeven Provincien itu sangat tajam bau nasionalismenya,” ujar mantan adminisratur di beberapa perkebunan milik negara itu.
Pernyataan Agih memang benar adanya. Suyatno Kartodiredjo dalam Pemberontakan Anak Buah Kapal Zeven Provincien Tahun 1933, menyebut Peristiwa Kapal Tujuh merupakan salah satu episode dari sejarah panjang pergerakan nasional di Indonesia.” Getarannya bahkan terasa sampai ke tingkat tertinggi pimpinan politik negeri Belanda saat itu,”tulisnya.
Bahkan sejarah mencatat, bukan hanya di Hindia dan negeri Belanda saja, dunia pun dibuat geger oleh kejadian tersebut. Pers Barat dan Amerika menyebut pemberontakan Kapal Tujuh sebagai Potemkin jilid 2, sebuah nama yang mengacu kepada sebuah kapal perang milik Angkatan Laut Tsar Rusia yang para awaknya pernah menjalankan pemberontakan pada 1905. Motivasi perlawanan mereka pun sama dengan yang dimiliki oleh para awak Kapal Tujuh: kesewenang-wenangan pihak penguasa terhadap mereka dan rakyat pada umumnya.
*
TAHUN 1930-an bencana ekonomi melanda dunia. Situasi krisis tersebut sampai pula ke tanah Hindia Belanda. Harga berbagai komoditas ekspor andalan dari Hindia Belanda seperti teh, kopi, gula, tembakau dan karet harganya merosot tajam di pasaran internasional. Akibatnya banyak perusahaan perkebunan terancam bangkrut.
Pemecatan pun menjadi cerita sehari-hari para buruh di Hindia Belanda. Dalam catatan Suyatno Kartodiredjo, pada awal 1930-an, ada sekitar 100.000 buruh pribumi diberhentikan menyusul berhentinya produksi ratusan pabrik dan perusahaan perkebunan. “Rata-rata mereka memutuskan pulang dan kembali menjadi beban sosial dan ekonomi desa,” ungkap Suyatno.
Angkatan Perang Kerajaan Belanda tak lepas dari situasi depresi besar tersebut. Pada akhir Desember 1932, pemerintah Hindia Belanda di bawah Gubernur Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936) memutuskan untuk melakukan pemangkasan gaji semua anggota militer sebesar 7%. Bisa jadi itu dilakukan sebagai upaya Pemerintah Hindia Belanda menghindari opsi pemecataan massal seperti yang terjadi di perusahaan-perusahaan swasta.
De Zeven Provincien dilihat dari atas
Bagi para marinir KM, keputusan De Jonge itu seolah menggarami luka yang sudah menganga. Bukan rahasia lagi jika sistem penggajian di tubuh KM saat itu berjalan tidak adil. Bayangkan saja, untuk para awak kapal pribumi, gaji mereka hanya 60% dari gaji awak kapal berkebangsaan Belanda. Nasib lebih baik dialami awak kapal Indo Belanda/Eropa. Mereka digaji sebesar 75% dari gaji awak kapal berkebangsaan Belanda. Padahal untuk masalah tugas dan tanggungjawab, mereka memiliki kewajiban sama dengan awak kapal Belanda totok.
Tidak cukup soal penggajian, dalam keseharian pun diskriminasi kerap dipraktekkan secara menyolok mata oleh para perwira Belanda. Sebagai contoh jika awak kapal pribumi cukup mendapatkan ransum ikan asin maka para awak kapal bangsa Belanda selalu mendapatkan ransum daging. Jika lemari pakaian pakaian awak kapal pribumi mendapat tempat di bawah, berdekatan dengan ruangan kamar mesin yang selalu mengeluarkan hawa panas, sebaliknya orang-orang Belanda mendapatkan tempat di sebelah atas yang jauh dari hawa panas ruang mesin.
Perlakuan tidak adil tersebut makin kentara dengan adanya sikap sombong sebagian awak kapal Belanda (terutama para perwiranya) terhadap awak kapal pribumi dan Indo. Tak jarang makian god verdomme alias goblok atau vuile inlander (pribumi tolol) keluar dari mulut orang-orang Belanda dan diterima sebagai sebuah “hal yang biasa” dalam keseharian tugas.
Sesungguhnya sikap diskrimanatif itu bukan hanya menjadi miliki KM semata. Di tubuh KNIL (Koninjlike Nederland Indisce Leger, Tentara Kerajaan Hindia Belanda) situasi yang sama terjadi. Bedanya orang-orang bumiputera di KNIL lebih memilih diam dan menerima nasibnya secara pasrah.
Pada mulanya, para marinir KM bumiputera bersikap sama. Namun lama kelamaan mereka merasa muak juga dan mulai bereaksi keras. Dari hari ke hari, reaksi keras itu semakin menyebar dan membentuk aksi-aksi yang mengarah kepada upaya pembangkangan militer. Contoh yang paling nyata adalah Peristiwa Januari 1933. Itu adalah peristiwa demonstrasi beruntun sebulan penuh yang berpuncak pada pemogokan massal yang melibatkan 308 marinir berkebangsaan pribumi dan indo serta 40 marinir berkebangsaan Belanda di hampir semua kapal perang milik KM.
Aksi ini kemudian melebar ke beberapa basis marinir lainnya di Surabaya seperti tangsi KM di Ujung dan kapal-kapal selam yang tengah berlabuh di Pelabuhan Tandjung Perak. Para awak KM yang bertugas di Pangkalan Pesawat Terbang Moro Kembangan pun tak mau kalah menjalankan aksi menolak untuk bekerja. Akibatnya untuk beberapa waktu kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Belanda lumpuh. Sebuah situasi yang akan sangat fatal jika saat itu ada kekuatan musuh menyerang Hindia Belanda
Demi menghadapi aksi pembangkangan itu,seminggu kemudian Pemerintah Hindia Belanda melancarkan tindakan keras. Mereka mengirim satu batalyon (kurang lebih 700 sedadu) KNIL dari Malang dengan persenjataan lengkap seperti mitraliyur berat. Pada akhirnya, aksi damai para marinir itu dapat dibubarkan dengan cara kekerasan. Ratusan pembangkang dan pemogok pun dijebloskan ke Penjara Sukolilo di Madura.
Terima kasih kepada sahabat RetakanKata dan rekan-rekan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam weekly writing challenge. Untuk tema minggu lalu “Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013”, banyak naskah yang masuk dan rata-rata mengesankan. Sungguh berat hati kami untuk memilih tulisan-tulisan terbagus yang kami yakin, sangat berkesan bagi para penulisnya. Maka, RetakanKata menampilkan empat tulisan terbagus pada weekly writing challenge kali ini. Ini satu lebih banyak dari tiga tulisan yang direncanakan.
Oh ya, tulisan-tulisan terpilih dapat dibaca pada link-link berikut:
Selanjutnya, untuk weekly writing challenge minggu ini, RetakanKata mengangkat tema:
“Tawuran Pelajar/Mahasiswa, Penting?”
Persahabatan kadang melampaui kampus-kampus. Artinya, bisa saja kawan kamu atau saudara kamu atau mungkin bahkan “gebetan” kamu, berbeda kampus dengan tempat kamu belajar. Nah, ketika terjadi tawuran, kadang melebar ke mana-mana, pemicunya tidak jelas, tujuannya juga tidak jelas, bahkan kadang yang terlibat tawuran tidak tahu menahu duduk persoalannya. Pokoknya main hajar. Bayangkan jika tiba-tiba kampus atau sekolahmu tawuran dengan kampus atau sekolah tempat sobat dekatmu atau saudaramu belajar. Main hajar, yang dihajar kawan sendiri, menyedihkan kan?
Nah, weekly writing challenge minggu ini menantang para sahabat RetakanKata untuk menjawab pertanyaan:
Apa sih sebab terjadinya tawuran?
Mengapa harus tawuran?
Cari aktivitas yang positif yuk!
Tentu saja jawabannya dalam bentuk esai, dengan ketentuan penulisan esai sebagaimana tercantum pada artikel kirim naskah. Seperti biasa, kirim lewat surel retakankata@gmail.com dengan subyek WWC_JudulEsaiKamu. Batas akhir kirim naskah 19 Januari 2013. Ebook keren hanya untuk yang artikelnya dimuat.
Tanggal 30 Mei 2012, aku mengalami pertengkaran yang hebat dengan salah seorang teman. Aku melakukan sebuah kesalahan padanya. Bisa dibilang aku tidak menepati janji untuk suatu proyek perkuliahan yang kami rencanakan beberapa minggu lalu. Tentu saja aku sudah minta maaf dan jawabannya klasik”oke nggak apa-apa”. Tapi ternyata “apa-apa”. Dia sakit hati dan meluncurkan beberapa pembalasan dendam untuk menyerangku. Dia mulai menyebarkan berita yang tidak benar tentang diriku kepada teman-teman di kampus. Dia meniru gaya hidupku habis-habisan, entah apa maksudnya. Dia berusaha menggagalkan usaha yang aku bangun dengan cara-cara licik. Aku tetap bertahan hingga suatu ketika dia berhasil membuatku bertengkar dengan sahabatku. Saat itulah pertahananku runtuh.
Aku serasa mengalami kematian ketika harus ditolak, dihindari dan dimaki oleh sahabatku. Aku membangun persahabatan kami dengan cara membunuh karakterku yang sombong dan pemarah, bukan dengan hadiah atau uang. Kami melewatkan banyak waktu bersama untuk tertawa dan menangis. Kami memanjatkan banyak doa satu sama lain di setiap malam. Kami juga mengalami banyak pertengkaran, tapi selalu ada kebesaran hati untuk mengakui kesalahan masing-masing. Kami benar-benar belajar arti mengasihi, mengampuni, dan bagaimana memaknai kebersamaan. Selalu ada dukungan dan tangan yang kuat untuk mengangkat salah satu dari kami ketika terjatuh, berduka atau mengalami kegagalan. Sekarang aku harus melakukan segalanya tanpa sahabat. Itu sungguh sangat sulit.
Tiga bulan berlalu dan aku masih berjuang untuk menjalani keseharianku tanpa sahabat. Aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk tetap berkuliah. Hari itu hujan turun sangat deras dan aku ragu untuk keluar dari lobi kampus, sampai akhirnya seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun menghampiriku. Dia menawarkan sebuah payung padaku seharga dua ribu untuk sekali menyeberang jalan. Ya, ojek payung. Aku setuju dengan tawarannya. Anak itu berjalan satu meter di sampingku sambil bernyanyi nyaris berteriak seolah lagu yang dia lantunkan dapat membuat hujan ini berhenti. Aku menatap matanya yang begitu ceria. Dari mata itu aku tahu menjadi ojek payung bukanlah keinginannya. Aku melihat ada banyak cita-cita yang mulia di sana. Sungguh, dia membuatku merasakan satu ketegaran yang luar biasa.
Belum selesai aku terkagum, dia menunjukkan kekuatan kepribadiannya yang lain. Dia berlari ke sebuah warung dan kembali padaku dengan sebungkus teh hangat. Dia mengatakan bahwa tanganku bergetar di sepanjang perjalanan dan menurutnya aku bisa sakit karena terlalu lama kedinginan.
Aku menawar, “kalau begitu apa rahasiamu agar tidak sakit, sementara hujan terus membasahi tubuhmu dan itu pasti sangat dingin bukan? Beri aku satu jawaban dan aku akan menerima teh hangat ini!”
“Hmm…kau tahu batu karang? Dia dibentuk dari ombak yang besar, jadi tetesan air hujan tidak akan membuatnya hancur. Aku adalah batu karang yang tidak akan pernah sakit hanya karena kehujanan.”
Jawaban itu mengantarkan teh hangat pemberiannya ke dalam tanganku. Baiklah, dia sekarang membuatku sangat iri dengan kepintarannya dan malu karena dia benar-benar sangat kuat. Aku rasa payung yang dia sewakan padaku layak untuk dibayar mahal. Aku melanjutkan pembicaraan, ”apa aku juga bisa jadi batu karang sepertimu?”
”Ya, jika kau mau menghadapi ombak yang menyerangmu! Bisakah kau mengembalikan payungku sekarang? Aku ingin melihatmu menghadapi ombak pertamamu.”
Aku memicingkan mata menunjukkan kebingungan. Apa maksudnya dengan ombak pertamaku. Dia menunjuk semua kendaraan yang melaju dan memintaku menyeberang sendirian. Aku tertawa melihat tingkahnya tetapi aku menurut juga. Setibanya di seberang jalan, aku baru ingat bahwa aku belum membayarnya. Beruntung dia masih di sana. Aku berteriak, ”hey batu karang! Aku belum membayar sewa payungmu!”
Dia menggeleng kuat dan balas berteriak,” tetaplah tersenyum saat ombak menyerangmu dan aku akan menganggap semua ini sudah lunas!” Dia melambaikan tangannya lalu kembali menawarkan jasa sewa payung pada pejalan kaki yang lain.
Aku berjanji akan tetap tersenyum dalam keadaan apapun. Aku akan menjalani setiap hari dengan mandiri. Aku akan melewati tahun demi tahun dengan sangat kuat. Aku akan mengikuti perkuliahan dan diwisuda dengan atau tanpa sahabat. Aku tidak akan marah pada Tuhan untuk semua musibah yang menimpaku, karena aku tahu Dia ingin aku menjadi batu karang.
Tanggal 1 Januari 2013, aku move on. Aku menemukan teman-teman yang baru dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang-orang di sekitarku. Aku adalah batu karang kedua setelah anak kecil yang menawarkan jasa ojek payung itu dan aku siap mengerjakan skripsiku. Selamat datang ombak keduaku!
*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Retna Agustina.
Aku masih tercenung di depan mama yang sedang terlelap tidur ketika tulisan ini aku buat. Perasaanku selalu terguncang setiap menjenguk mama di rumah sakit umum bagian kejiwaan. Sejak awal tahun ini mama sudah 3 kali menjalani rawat inap di bagian kejiwaan ini.
Mama adalah ibu yang relatif ‘rapuh’, mudah panik, mudah merasa khawatir terhadap apa yang belum terjadi. Perasaannya sangat peka. Keinginan yang kuat untuk melindungi orang-orang yang ia cintai – tentu saja dalam hal ini kami anak-anaknya membuat dirinya cenderung khawatir secara berlebihan bila dirinya merasa memiliki ‘kekurangan’ untuk dapat membahagiakan anak-anaknya. Hal ini terjadi ketika papa meninggalkan kami untuk selamanya setahun yang lalu. Macam-macam yang dipikirkan oleh mama. Dia khawatir tidak bisa membiayai sekolah kami, khawatir tidak bisa memberikan materi untuk kami, khawatir tidak bisa membantu menyelesaikan masalah, hingga khawatir tidak bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah Deri, adikku yang masih sekolah dasar.
Mama pun cenderung tidak bercerita kepada siapa pun kesulitan yang sedang ia hadapi meski hanya untuk menceritakan masalah yang ia miliki. Tidak juga kepadaku, anak sulungnya karena mama takut aku menjadi ‘susah’ dengan masalah yang mama miliki.
Namun aku tahu, mama sering menangis di kamar dan melamun sendirian. Mata mama sering ‘kosong’ meski sedang berada di antara kami. Aku, Risti dan Deri mengira mama terus menerus bersedih karena ditinggal papa. Keluarga kami tergolong biasa saja. Papa seorang guru SMA dan mama hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah dipusingkan oleh urusan mencari uang. Papa berusaha memenuhi semua kebutuhan keuangan bagi keluarga.
Mama mengalami gangguan ‘kesedihan yang mendalam’. Selalu murung dan ia merasa lemas. Kehilangan nafsu makan. Ketika aku menerima permintaan para tetangga untuk memberikan les kepada anak-anak sekolah dasar di sekitar rumah, kesedihan mama malah semakin menjadi. Itulah awal mama dirawat di rumah sakit bagian kejiawaan. Mama mulai meracau, menyalahkan diri sendiri hingga ingin bunuh diri.
Aku tak kalah terpukul dan juga mengalami kesedihan yang mendalam. Para tetangga, keluarga, guru-guru hingga psikolog yang menangani mama justru memberikan perhatian dan dukungan yang besar kepadaku. Sekarang akulah orang yang paling ‘dewasa’ untuk mengendalikan situasi keluarga. Mereka ‘mengandalkan’ aku meski aku baru berusia 18 tahun, baru kelas 3 SMA dan mengalami kebingungan yang amat sangat dengan kondisi orang tuaku bahkan masa depanku beserta adik-adikku.
Depresi, itulah yang dialami mama. Dokter Amir dan Ibu Sofi sebagai psikiater dan psikolog yang menangani mama banyak menjelaskan gangguan depresi. Kata mereka, mama harus terus terusan diberi perhatian, dikuatkan melalui kasih sayang dan cinta yang tulus dari kami anak-anaknya karena kamilah sumber dari kegelisahan, ketakutan dan kesedihan yang mendalam pada diri mama. Lebih dari itu, aku juga ‘dikuatkan’ untuk selalu optimis, untuk ikhlas menerima apa yang terjadi dan berusaha mencari jalan keluar bila mempunyai suatu masalah.
Sama sekali tidak mudah ‘menenangkan’ hati mama, membuatnya gembira apalagi menjadi optimis. Kami berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaan sedih dan khawatir di hadapan mama. Padahal, aku sendiri begitu banyak pikiran dan mengalami kesedihan juga apalagi sehari setelah mama dirawat untuk ke-3 kalinya di rumah sakit bagian kejiwaan ini, Dani kekasihku memutuskan hubungan denganku.
Hari ini, hari ke-4 mama dirawat di rumah sakit, juga hari terakhir di penghujung tahun 2012. Hatiku sendu, menghabiskan malam tahun baru di rumah sakit dalam keadaan patah hati pula. Luar biasa, bathinku berkata tahun ini tahun yang penuh dengan pengalaman baru, tak terkatakan. Di sana ada perasaan sedih yang luar biasa namun tak akan aku ucapkan selamat tinggal padanya karena di tahun 2012 ini pula banyak pengalaman baru yang bisa memperkaya bathinku, membantu mendewasakan dan mematangkan pribadiku.
Besok adalah hari pertama di tahun yang baru. Aku masih berlinang air mata ketika bathinku bertekad, hidup harus dijalani. Aku tidak takut untuk menangis. Kata Ibu Sofi, semua orang boleh bersedih tetapi jangan terlalu sedih. Artinya kita harus berusaha untuk mengendalikannya, carilah jalan keluar dari masalah yang dihadapi agar tidak bersedih berkepanjangan. Aku akan mencari teman atau siapa saja yang dapat dijadikan teman bicara untuk ‘meringankan’ beban hati dan pikiran. Dan aku bertekad akan membantu mama mengatasi gangguan depresinya, membantu dia mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan seperti ketika masih ada alm. Papa. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jadi tetaplah optimis.
*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karyaMira Seba.
Salah satu kata pepatah yang kini berperan penting dalam perjalanan hidupku adalah “benci dan cinta memiliki perbedaan yang sangat tipis. Kalau kau terlalu mencintai seseorang, kelak kau akan sangat membencinya. Dan bila kau sangat membenci seseorang, maka kelak kau akan sangat mencintainya.”
Dulu aku sama sekali tak pernah membayangkan dapat hidup bersama Ahmad Muamar, seorang pemuda yang awalnya sangat kubenci. Beberapa tahun silam, ketika kami masih sama-sama bekerja di sebuah restoran, ia jatuh cinta padaku karena aku membuatkannya segelas teh manis. Pada waktu itu aku sama sekali tidak membayangkan bahwa ia akan jatuh cinta padaku, karena aku membuatkan minuman itu bukan untuk menarik perhatiannya, tapi karena ia temanku.
Ia mulai meneleponku tiap malam, membuatkanku minuman di pagi hari, sampai akhirnya ia menyatakan perasaan cintanya padaku. Aku tak pernah menyalahkan rasa cintanya, karena mencintai adalah hak semua orang. Tapi ia mulai menuntut alasanku ketika aku katakan bahwa aku tak mencintainya. Aku hanya menyukainya sebagai teman baik.
Ia terus memaksaku agar aku mencintainya dan itu membuat aku sangat membencinya. Aku tak bisa memaksakan hatiku untuk mencintai orang yang tak aku cintai. Aku mencari alasan untuk menolaknya. Seminggu kemudian aku mengatakan padanya bahwa aku sudah bertunangan dengan orang yang dijodohkan ayahku. Aku sampai harus menyewa seorang teman untuk aku kenalkan sebagai tunanganku di depan Amar.
Lambat laun ia tahu kalau aku berbohong. Ia mulai menuntutku lagi untuk menerima cintanya. Aku benar-benar merasa tertekan dibuatnya. Karena tak tahan lagi, aku menjanjikan waktu tiga bulan. Barangkali saja tiga bulan ke depan aku bisa mencintainya. Tapi kenyataan berkata lain. Aku malah jatuh cinta pada pemuda lain bernama Ikhsan.
Janji adalah hutang, dan hutang harus dilunasi. Mau tak mau aku harus menerima cinta Amar. Aku pun mulai mencoba menjalani hubungan dengannya dan mengesampingkan perasaanku pada Ikhsan. Baru seminggu menjadi pacarnya, aku sudah tidak kerasan. Ia terlalu protektif bagiku yang hobi jalan-jalan. Aku mulai membesar-besarkan kesalahan-kesalahan kecilnya. Setelah dua minggu aku bertahan, aku pun memutuskan hubungan kami.
Seminggu setelah aku putus dengan Amar, aku menjalani hubungan dengan Ikhsan yang ternyata juga mencintaiku. Aku tahu, pasti itu sangat menyakiti hati Amar. Bahkan beberapa temanku mencap aku brengsek karena menyakiti hati Amar. Tapi pada waktu itu aku tak pedulikan apa pun, karena aku sedang jatuh cinta dan sedang terbang mengangkasa menuju nirwana cinta. Lima bulan kemudian aku resign dari restoran dan banting stir jadi penjaga toko yang gajinya sangat pas-pasan. Sebagai seorang perantau, dengan gaji setengah dari gaji lama, hidupku jadi serba kekurangan. Di saat aku terpuruk, Ikhsan malah meninggalkanku. Ia lebih memilih jabatannya daripada aku. Aku luntang-lantung, hilang arah, kerjaanku mulai berantakan, juga hidupku mulai tak karuan.
Empat bulan setelah putus dari Ikhsan, aku dapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan dan mulai menata hidupku kembali. Saat itu aku merasa sangat kesepian. Hati kecilku berharap Amar kembali. Aku baru menyadari bahwa hanya dia yang mencintaiku dengan tulus. Sikap protektifnya kepadaku adalah salah satu caranya mencintaiku. Di setiap sholatku aku memohon pada Tuhan agar memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku pada Amar. Jika Amar sudah sangat membenciku dan tak tersisa lagi cinta untukku, aku harap ia masih bisa memaafkanku.
Setiap ada telepon atau SMS bernomor asing masuk ke Hp-ku, aku akan berharap itu Amar. Sampai akhirnya ia benar-benar meneleponku seminggu sebelum hari ultahku. Baru kali itu aku merasa sangat bahagia sekaligus lega menerima telepon darinya. Aku segera meminta maaf dan mengatakan padanya bahwa ternyata aku membutuhkannya. Aku sangat beruntung karena Amar masih mencintaiku, katanya meskipun ia mencoba membenciku, ia tak pernah bisa melakukannnya.
Lagi-lagi sikap protektif dan tempramentalnya membuatku jengah. Ia juga sangat egois. Ia mau mengkritik tanpa mau dikritik orang lain. Akhirnya untuk kedua kalinya aku putus dengan Amarku.
Tiga bulan kemudian ia datang lagi dan meminta maaf kepadaku. Aku – yang mungkin telah ditakdirkan Tuhan untuk melabuhkan hatiku padanya – pun memaafkannya. Pada malam itu ia mengatakan bahwa ia tak ingin kehilangan aku lagi dan berniat untuk mempersuntingku. Aku bahagia mendengarnya. Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Selamat tinggal masa lalu, karena awal tahun 2013 ini aku akan menikah dengan Amar dan memulai kehidupan baru bersamanya. Aku bersyukur dulu sangat membencinya hingga sekarang aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangan dia sampai nanti maut yang mengambilnya dariku.
*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Rizki Mulya Pratiwi.
Sebentar lagi kita akan meninggalkan 2012 dan memasuki 2013. Tahun yang menyenangkan dan penuh gelombang. Tahun yang membuat saya tumbuh dan berkembang. Dua belas bulan, 52 minggu, dan 365 hari yang terasa singkat adalah bukti betapa saya menikmati hidup. Betapa cepat waktu bergulir. Hingga ketika akan melepas 2012, banyak kenangan indah yang tersimpan dalam memori.
Salah satu pengalaman paling menakjubkan di tahun 2012 adalah saat saya dan tim membuat film dokumenter berdurasi 15 menit dengan tema kebudayaan lokal. Ini terjadi di semester dua kuliah saya di jurusan Komunikasi Diploma IPB. Saya yang tidak punya pengalaman membuat film apalagi terlibat dalam sebuah pembuatan film langsung didapuk sebagai sutradara. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya. Jelas bangga. Teman-teman satu tim memberikan kepercayaan yang luar biasa pada saya.
Film kami berjudul “Bekasi Bukan Betawi”. Dalam film ini kami menyoroti kehidupan Teh Eem Bilyanti dan keluarganya sebagai seniman yang memperjuangkan eksistensi kebudayaan Bekasi. Kami mengikuti kemanapun Teh Eem melangkah. Mulai dari mengurus anaknya yang masih bayi, melatih tari anak-anak di sanggar di halaman rumahnya, hingga mengantar anak didiknya mengikuti lomba tari. Tak kalah dengan sang putri, ayah Teh Eem yang seorang dalang dan ibunya yang sinden masih giat melaksanakan pertunjukan dari panggung ke panggung.
Saya terpesona. Akibat tugas pembuatan film ini, saya tidak hanya mendapat kesempatan menjadi seorang sutradara. Mata saya pun menjadi terbuka. Karena seperti kebanyakan orang awam lainnya, dulu saya berpikir kesenian yang dimiliki Bekasi sama saja dengan Betawi. Padahal Bekasi bukanlah Betawi. Bekasi memiliki ciri khasnya sendiri.
Selain misi mendapat nilai yang bagus, saya dan tim pun terdorong ingin mengangkat kisah perjuangan Teh Eem dan keluarganya agar dapat diapresiasi lebih banyak orang. Dengan memutar film itu di kelas, di depan dosen dan mahasiswa lain, saya ingin menunjukkan “Ini lho Bekasi. Bekasi juga punya seni.” Hasilnya luar biasa. Decak kagum mewarnai pemutaran film kami. Meski hasil penyuntingannya masih standar dengan berbagai kekurangan di sana sini, saya dan tim cukup berbangga hati.
Kini, menyambut 2013, saya akan segera menginjak semester empat. Di semester empat nanti saya akan kembali mendapat tugas membuat film. Hal itu membuat saya senang. Saya sangat ingin melakukan reuni, mengerjakan film bersama tim yang lama. Saya bersyukur pernah dipertemukan dan ditakdirkan mengerjakan proyek bersama mereka. Tim saya adalah orang-orang yang luar biasa, tidak banyak mengeluh, mau bersusah-susah, dan pekerja keras.
Jadi, apa saja keinginan saya di 2013? Pertama, saya ingin kembali membuat film bersama tim, terutama dengan editor. Sebab kami sudah sangat kompak dan saling memahami isi pikiran masing-masing. Kedua, saya ingin UAS berjalan dengan lancar. Saya ingin mengalami peningkatan dalam hal akademik. Ketiga, saya berharap acara yang saya dan teman-teman buat tanggal 3 Januari nanti sukses besar. Acara tersebut dibuat oleh Aksi Event Organizer, yaitu 31 orang mahasiswa yang tergabung dalam 1 kelas praktikum. Acara tersebut bernama Sparteen, akronim dari Sport and Art for Teen. Terdiri dari kompetisi 3 on 3 Basketball, Modern Dance, dan Rally Photo. Tentu, lagi-lagi, proyek sebesar ini dibuat untuk pengambilan nilai.
Tentu semua orang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula dengan saya. Saya juga mengharapkan hal-hal baik untuk mengisi sepanjang 2013. Namun, bukankah tidak ada yang namanya hal baik jika tidak ada hal buruk? Saya tidak mau memiliki daftar resolusi terlalu panjang. Saya hanya akan berusaha memaksimalkan kemampuan dan daya juang. Beginilah indahnya hidup.
*) Artikel terpilih dari weekly writing challenge (WWC) RetakanKata karya Erlinda Sukmasari Wasito, Mahasiswi Institut Pertanian Bogor.
Kutipan dari kumpulan tulisan Mohammad Roem yang diterbitkan penerbit Bulan Bintang tahun 1977.
“Ketika Ibu Roem dan saya beserta anak dan menantu serta cucu (yang pertama) berada di Malang, berhubung dengan adanya Muktamar Partai Muslimin, kami menginap di rumah keluarga Kristen, yaitu keluarga Mawikere.
Hal ini pada waktu itu sangat menarik perhatian.Untuk keluarga-keluarga yang bersangkutan, hal itu biasa. Di Malang kami kenal baik dengan keluarga Koesno sejak kurang lebih 40 tahun. Ibu Koesno adalah ketua Wanita Kristen cabang Malang. Dengan melalui Ibu Koesno kami kenal keluarga Mawikere dengan baik, 10 tahun lalu. Ibu Mawikere adalah wakil ketua Wanita Kristen cabang Malang.
Karena persahabatan yang erat berkat masa yang lama itu maka apabila kami berada di Malang, lebih sering kami menginap di rumah salah satu keluarga itu. Sebaliknya kalau sahabat-sahabat kami itu berada di Jakarta sering pula mereka menginap di rumah kami.
Ketika Wanita Kristen seluruh Indonesia berkonperensi di Jakarta kira-kira 9 tahun lalu, saya sendiri menjemput delegasi dari Malang di Stasion Gambir. Mr. Tambunan yang berada di stasion juga untuk menjemput para delegasi dari tempat-tempat lain, agak heran waktu mengetahui bahwa keperluan saya sama dengan keperluannya. Waktu ia bertanya, mengapa saya datang sendiri, saya menjawab bahwa saya tidak punya sopir. Kawan-kawan saya pemimpin-pemimpin bekas Masyumi dan sekarang pemimpin-pemimpin Partai Muslimin di Malang, sudah tahu hal itu dan tidak heran lagi kalau saya menginap di rumah keluarga Kristen.
Tetapi selama Muktamar Partai Muslimin hal ini sangat menarik perhatian. Keluarga Mawikere mendapat telpon dari pelbagai pihak, juga dari intelijen-intelijen. Kecuali banyak yang heran, banyak juga yang gembira. Karena ada baiknya dalam suasana yang sedang tegang antara kaum Kristen dan Islam. Wartawan harian Sinar Harapan, yang datang untuk memberitakan jalannya Muktamar Partai Muslimin, membuat suatu karangan khusus tentang kejadian ini. Majalah Varia dalam tajuk ceriteranya, menamakan hubungan kami dengan judul karangan ”Persahabatan Keluarga Mawikere-Roem, Lambang Persaudaraan Kristen dan Islam”.
Salah seorang pendeta Kristen di Malang setelah mendengar hal itu merasa demikian syukurnya, sehingga pada hari Minggu, waktu jemaah Kristen sedang berkumpul di gereja ia meminta kepada Ibu Mawikere untuk membacakan doa bagi ”berhasilnya Muktamar Partai Muslimin dan kesehatan keluarga Roem”. Sebenarnya bagi kami yang bersangkutan, hal yang demikian itu tidak kami sukai karena persahabatan itu kurang murni kalau dijadikan bahan propaganda. Tetapi akhirnya kami tidak merasa keberatan kalau orang mensyukuri keadaan yang demikian itu.
Apa sebab persahabatan itu dapat berjalan langsung? Karena kami harga-menghargai. Kalau kami duduk bersama-sama di meja makan, keluarga Roem cukup dengan mengucapkan ”Bismillah”, sedangkan keluarga Mawikere baik waktu berada di rumahnya sendiri maupun waktu berada di rumah kami (di Jakarta) berdoa sesuai dengan agamanya, sebelum makan. Tidak pernah pihak kami berusaha meng-Islamkan pihak yang beragama Kristen dan sebaliknya Ibu Koesno atau Ibu Mawikere tidak pernah mempropagandakan agama Kristennya kepada keluarga Roem.
Demikianlah persahabatan itu telah berlangsung berpuluh tahun dan kami berdoa semoga diridhai Tuhan dan terus berlangsung.”
(Mohamad Roem, 1977, Bunga Rampai dari Sejarah II, Bulan Bintang, Jakarta, h. 238-240).
Sederet jendela hadap ke arah barat, dari pagi hingga siang menembus masuk biru abu-abu yang hening; setelah siang, kuning emas pelan-pelan meluap keluar. Ketika senja, matahari menginjak lewat sederet punggung atap rumah-rumah pendek datang bertatap muka denganku, ingin saya merasakan sedikit kegetiran, sedikit cinta kasih di dalam keletihannya yang tak terucapkan.
Hari panjang hampir berakhir, melangkah pulang dalam kemenangan yang megah keemasan, lampu-lampu gedung tinggi lebih awal menyala daripada bintang-bintang. Bayang ditarik kian panjang, selalu menyeret keluar renungan tak bertepi, urusan-urusan di atas meja kayu kecil untuk sementara dianggap selesai, tidak ada kejutan juga tidak ada yang tak terduga, seharusnya tidak akan diingat oleh siapapun.
Hidup dan kerja begitu rutin juga praktis, saya telah menjadi satu lempengan gir yang berputar bagus dan pas, berputar serentak mengantar pergi embun di pucuk rumput hijau, berputar sendiri menyambut senja, demi setiap pertemuan diam-diam tersentuh, kemudian di dalam perpisahan yang niscaya mengerti akan lupa. Masuk parobaya, tak terhindarkan bercerita dengan orang, berkata [ terhadap segalanya apatis ] adalah bohong, berkata [ pasti ada cita-cita yang lebih jernih ] juga adalah bohong. Kegelisahan yang sesungguhnya di saat ini, di dalam sisa serpihan cahaya keemasan merasakan langit dan bumi bisa demikian hening, bisa dengan ringan mengelus setiap kehidupan yang buta menerjang dan lemah agar bisa rebah dengan tenang, dan tubuhku juga ada di dalamnya.
Ada gunung hijau di luar gunung, ada gedung di luar gedung, sekalipun di dalam kehidupan sering ada tempat yang sedih dan murung, namun pasti juga ada suatu tempat yang terang benderang. Oleh sebab itu saya berencana mencatat getaran hati ini, mungkin ditinggalkan buat gedung kecil gunung hijau yang lain, ditinggalkan buat seseorang yang tersentuh hatinya di tahun lain. Atau mungkin ditinggalkan buat sendiri, di saat-saat menjelang malam, di satu sudut hati yang berkedip-kedip tersimpan sebaris jejak kata yang tidak begitu jelas.
Musim panas seekor lebah mati terkapar ——— membaca Jules Supervielle, sambil berpikir
Pohon telah tumbang……
Penyair berkata:
Carilah wahai burung, carilah
di dalam ingatan begini menjulang
di manakah letak sarangmu?
Seperti penyair Persia Kuno, bisa di dekat air mancur atau di antara bunga-bunga iris pelan-pelan merancang karyanya, di sisi anggur dari madu atau di bawah tenda yang berkepak-kepak digoda angin mempertimbangkan sebuah retorika, betapa bahagia itu. Saya berjalan sampai di taman bunga senyap ini, pohon beringin, bunga azalea, tumbuhan yang sering ditanam di daerah hangat ini diam-diam menerima sengatan matahari semusim, cuma di bawah pohon ketapang di dekat tembok terasa rindang sejuk, menatap langit biru petang yang mulus, hari-hari musim panas bagai sebuah nyanyian jernih menjulur hingga tempat yang tak terjangkau, dari keheningan melantun pelan dan sejuk.
Di bawah rindang pohon, seekor lebah terkapar, sekarat, dia telah rebah di atas tanah kuning, sesekali berusaha mengepakkan sayapnya, namun dia sudah tidak mampu terbang lagi, hanya sia-sia berputar satu kali di atas tanah, setelah itu diam. Begitu berulang-ulang beberapa kali, kemudian perlahan-lahan tidak bergerak lagi, tangan kecilnya melengkung, seolah memanjatkan doa terakhir menjelang ajalnya: Ah, Cahaya sakti! Tolong bersihkan aku yang melahirkan kegelisahan, bawa roh kecil ini ke depan tempat duduk abadi.
Cukup lama memperhatikan, saya berpikir ingin memberi dia beberapa tetes air, begini mungkin bisa sedikit meringankan deritanya, namun ini jelas sangat menggelikan; niat berputar tajam, atau diinjak mati saja agar dia tidak usah lagi menahan kepahitan jatuh di dalam debu pasir, namun langit begini bersih dan indah, sepenuh taman rumput hijau menerbarkan harum, mungkin mata majemuknya masih mengalir spektrum cahaya matahari keemasan, jantungnya yang kecil masih berdenyut, masih menunggu terbang satu kali lagi. Oleh sebab itu saya hanya bisa diam-diam menemaninya, menghadapi satu kematian di puncak musim panas yang terang.
Menurut berita, beberapa tahun terakhir ini di berbagai tempat di dunia, ada suatu sebab yang misterius menyebabkan lebah-lebah peternak tidak pulang sarang, sehingga jumlah mereka berkurang dratis di peternakan-peternakan lebah. Saya tidak tahu apakah lebah ini juga menghadapi masalah yang sama ( penyakit menular, bergesernya medan magnet, penyalahgunaan pestisida, percemaran sumber air, makhluk luar angkasa…… ), adalah perabadan atau ramalan kiamat membuat makhluk kecil ini sesat, atau mungkin dia sudah semestinya terbang sampai di ujung hidupnya. Saya teringat puisi pendek Emily itu:
If I can ease one life the aching,
Or cool one pain,
Or help one fainting robin
Unto his nest again,
I shall not live in vain.
Namun saya tidak tahu di mana sarangnya.
Cahaya matahari dari sela-sela dedaunan setitik-setitik menebar ke bawah, ketika angin sepoi datang, di atas tanah seperti mengalir cairan emas. Sekarang baru bulan Juli, musim gugur masih amat jauh, apalagi musim dingin, mengapa lebah ini sudah mati? Di dalam taman, bunga-bunga sedang gegap gempita merayakan hidup, lebah seharusnya sedang giat-giatnya memanen madu, membantu penyerbukan, dan pembuahan, lalu hidup terus berlanjut, hingga abadi. Namun apa itu abadi? Dikatakan: Ujung paling sempurna adalah tiada ujung; ini adalah serpihan puisi yang tersangkut di dalam ingatan, juga merupakan suatu musim panas yang selamanya menempati dasar hati. Tetapi di ujung keletihan tentu adalah kematian, apakah dia sudah bosan dengan kerja keras setiap hari, bosan dengan cahaya matahari terik, bosan dengan sarang lebah yang penuh sesak, bosan dengan hidup…… Lebah mati terkapar di musim panas, tidak peduli dunia betapa terang berpijar, dia akhirnya juga tenggelam ke dalam kegelapan yang panjang. Kematian tampak memilukan, disebabkan kesunyian di dalam dirinya, atau terlalu mengenang hiruk pikuk dan kemegahan dunia?
Saya dengan tenang menatap makhluk kecil ini, dia berjuang dan mengeliat lemah, lalu perlahan-lahan mati, dunia samasekali tidak ada perubahan apapun, yang haus masih juga haus, yang menunggu masih juga menunggu. Namun saya tiba-tiba merasa cahaya matahari demikian benderang, dan di tempat gelap bersembunyi sederet panjang pasukan yang kelihatan sudah tidak sabar ingin datang memungut. Di dalam puisi Supervielle menceritakan seseorang selalu dengan tangannya bergerak melewati api lilin, buat memastikan dirinya masih hidup; dan suatu hari, api lilin masih sediakala, tetapi orang itu telah menyimpan tangannya.
Saya menjulurkan kedua tangan, menciptakan berbagai bentuk bayangan di atas tanah, menggunakan bayangan-bayangan ini menutup lebah yang sudah samasekali tidak bergerak, laksana sekeping awan hitam…… Sesaat, saya tiba-tiba ingin menyeruput seteguk arak dingin, mendengar sepotong irama Marzuka yang meriah, atau biarkan perasaan yang seperti pasir halus mengalir ke dalam hati, biarkan hati yang membatu beberapa saat ini dalam-dalam dikuasai kembali oleh perasaan yang bercampur aduk, kegembiraan meluap, kesedihan menyayat, keibaan yang ngilu, kegelisahan tiada ujung, sebelum pohon tumbang. Sesaat ——— tubuh masih milikku, roh masih milikku.
~~~
Hotel berada di pinggiran kota, stasiun terakhir trem, bagian tengah yang dikelilingi rel seperti sebuah taman kecil, setiap saat ada orang datang dan pergi.
Pemandangan yang murung dan rusak, persis seperti tempat Tereza dan Tomas bertemu di bawah pena Milan Kundera, bahkan bangku panjangnya juga sangat cocok buat suasana begitu, dan cerita pun dimulai, seandainya hidup hanya satu kali, lalu apakah boleh dikatakan pernah terjadi? Seandainya dunia dibagi menjadi dua sisi, berat dan ringan, jiwa dan raga, lalu sebelah mana yang benar-benar ada?
Di Praha ada terlalu banyak patut dikenang, serangga Kafka, [ Don Giovanni ] Mozart, dan pengamen di sudut jalan tengah malam, namun yang membuat saya berkesan justru taman stasiun kecil ini, saya seolah bertemu Tereza dan Tomas, mereka satu tangan memegang [ Anna Karenina ], tangan lain bergandengan, Tereza menggigit sebuah bagel, seperti angin begitu saja melewati hidupku, [ Turis yang sangat aneh! ] mungkin mereka sedang berpikir demikian, dan mereka pasti tidak tahu saya telah berulang kali bolak-balik membaca seluruh hidup mereka, bahkan percaya sendiri akan bersenggolan dengan mereka di jalan-jalan batu di kota.
Hidup pada dasarnya adalah terus menerus mencari, melalui kebetulan-kebetulan dan tak terduga, ” selama bertahun-tahun, aku terus memikirkan Tomas, seperti hanya mengandalkan kenangan menahan cahaya, baru bisa melihat jelas orang ini. ” Waktu itu adalah jam enam sore, Tereza baru saja pulang kerja, Tomas duduk di bangku panjang tepat di depan hotel membaca, saya berjalan masuk ke dalam cerita mereka yang murung dan dingin, bahkan memotret, buat kenangan.
~~~
Ada kedai-kedai tertentu memang memiliki karya yang luar biasa, ditambah lingkungannya yang membangkitkan selera, sangat cocok buat duduk sejenak mencicipi kenikmatan dunia, hanya saja pemiliknya selalu demi menciptakan semacam suasana akan mengisi ruangannya dengan musik tertentu, tetapi musik yang dimainkan ini tepat pula merusak nuansa yang mereka inginkan, ini tentu mengecewakan, sebab ketika musik mulai melayang naik, seniman tarik suara tanpa basa-basi langsung menunjukkan selera tersembunyi pemilik kedai, maksud awal bersiap-siap menikmati sepiring kecil cuci mulut yang manis tiba-tiba telah berubah menjadi kegelisahan berkalori tinggi, tentu merasa kepuasan telah ditebas sebelum sampai ujung.
Di sekitar pusat Kota Tainan, dekat hotel tempat saya menginap ada sebuah kedai es, namanya [ Xiao Douzi ], khusus menjual es cincau campur ronde talas, es sirupnya yang segar diterjang masuk krim, di dalam wangi segar cincau berputar ronde talas yang kenyal, sebuah pesta meriah di puncak musim panas, dia juga menjual semacam es teh hijau, hijaunya sudah tidak usah cerita, mata lihat saja seluruh badan bisa sejuk, saya juga sudah mencobanya. Dekorasi [ Xiao Douzi ] sangat sederhana, dinding lantai bata merah, kursi meja kayu dan pendek, kasar dan kikuk seperti juga cocok buat seruput es setengah jongkok ( kalau jongkok penuh artinya seruput es kacang hijau dekat Jalan Lautze ). Petang musim panas yang membosankan, hujan dan guruh sedang ragu-ragu entah mau datang entah tidak, di dalam ruangan sedang dialirkan musik, suara penyanyi perempuan yang tinggi melengkung berputar sangat memukau, seperti ada semacam kesepian mendaki sendiri di ketinggian tangga nada, agaknya dari cakram penyanyi Norwegia: Silje Vige, tamu di beberapa meja terdiam di dalam petang yang murung, hanya sebentar hujan sudah tumpah-ruah memenuhi langit dan bumi, dan suara penyanyi masih tetap memukau, bahasa utara yang asing dinyanyikan hingga mengenangi melankolis dunia selatan yang lembab.
Setiap kali bertemu keadaan begini, saya selalu teringat ketika Sabina dan Franz duduk di dalam restoran, Sabina mengeluh musik terlalu berisik, namun berkata di dalam hatinya: ” …… di jaman Bach, musik-musik itu bagaikan mawar yang mekar di atas hamparan salju yang sunyi senyap tak bertepi ”
Ah!
~~~
Ketika pelayan membawa datang semangkuk ramen daging panggang yang masih mengepul, saya teringat di dalam filem Juzo Itami [ Tampopo ], tentang keteguhan orang Jepang terhadap ramen yang sudah mendekati gila, oleh sebab itu menjadi khidmat, makan mi, seruput kuah, menarik satu nafas dalam-dalam, merasakan manis dan sedikit harum pedas daun bawang di dalam kuah yang tertutup uap panas, lalu beribu kali mengingat kenangan akan derita dan keriangan indera rasa, kemudian di dalam sekejap sentuhan, sekuatnya melupakan segalanya.
Di dalam beberapa buku tentang ramen Sapporo di Hokkaido yang pernah saya baca, semua penulis bulat satu suara menjulurkan lidah ke arah pintu Tokeidai Ramen. Letaknya dekat Menara Jam Kota Sapporo ( Sapporo Tokeidai ), saya kira begitulah mereka mengambil nama ini. Sejujurnya, ramen [ Tokeidai Ramen ] memang sedap, namun yang meninggalkan jejak rasa di lidah saya ada di dalam sebuah kedai kecil di dekat stasiun kereta api kota kecil Biei, menelusup lewat kain tirai pintunya yang usang dan robek, di dalam penuh pengunjung berdiri dan duduk, suara kuah membahana, seluruh ruangan penuh suara tenggorokan, tiada seorangpun sempat menggunakan mulut berbicara.
Siang yang gerimis dan dingin, ditambah lagi tersesat di sana-sini, setelah mi kuah sampai di atas meja, saya langsung bergabung dalam barisan panduan suara tenggorokan ini, sedikit menyerupai nyanyian Orang Tuva, sedikit menyerupai nyanyian Orang Inuit, paling mirip mungkin dengan Rekuhkara, nyanyian Suku Ainu Hokkaido. Juzo Itami di dalam filemnya [ Tampopo ] memberi perumpamaan ketika menikmati makanan lezat atau arak harum: ” Waktu tiba-tiba berubah menjadi begitu panjang “, betapa betulnya dia!
Dalam perjalanan pulang singgah lagi ke Sapporo, menyempatkan diri pergi mencicipi semangkuk ramen Tokedai lagi, bagi indera rasa, sering makanan enak yang tersaji di depan mata hanya menyodorkan semacam kesia-siaan dan kesedihan, terhadap yang pernah, juga terhadap yang tidak lagi.
Ini adalah kata pengantar novel Katak karya Mo Yan, saya rasa tidak mungkin menerjemah sebuah novel di catatan begini, bagi yang penasaran atau terpancing bisa mencari novelnya.
Judulnya diambil dari sebaris puisi Xin Qiji (1140 -1207) Bulan Sungai Barat. Malam Berjalan di Jalur Pasir Kuning. Sebaris puisi Song yang sudah saya kenal sejak kecil. Kenal dan tidak akan terlupakan, karena di dalamnya ada [sehamparan suara katak] yang sangat erat berhubungan dengan kenangan masa kecilku. Bagi yang pernah membaca novel saya, mungkin ingat saya pernah berulang kali mendeskripsikan bunyi katak, tetapi belum tentu tahu saya juga sangat takut pada katak. Orang ada alasan timbul rasa takut terhadap ular berbisa atau binatang buas, tetapi terhadap katak yang berguna buat manusia dan dapat sesuka hati ditangkap seperti tidak ada alasan takut. Namun saya memang luar biasa takut katak. Begitu teringat mata mereka yang melotot dan kulitnya yang basah, saya langsung menggigil. Kenapa takut? Saya tidak tahu. Ini mungkin merupakan salah satu sebab saya mengambil [katak] sebagai judul novel ini.
Persis seperti yang digambarkan di dalam novel ini, saya memang ada seorang bibi, seorang dokter kandungan yang telah lama berpraktek. Ada ribuan bayi di kampung kami, Dusun Timur Laut Gaomi yang atas bantuan bibi sampai di dunia. Tentu, juga tidak sedikit bayi, sebelum melihat cahaya, telah gugur ditangannya. Bibi yang di dalam novel dengan bibi di dalam kehidupan nyata, tentu ada perbedaan yang sangat besar. Bibi di dalam kehidupan nyata, hanya merupakan satu karakter awal dalam proses kreatif saya. Dia sekarang tinggal di kampung kami, dikelilingi anak dan cucu, melewati kehidupan yang damai dan tenang. Musim semi tahun 2002, saya pernah menemani penulis Jepang, Kenzaburo Oe pergi mengunjungi dia. Waktu itu saya berkata kepada Kenzaburo Oe, saya ingin menggunakan karakter bibi menulis sebuah novel, Kenzaburo Oe sangat tertarik, bahkan berulang kali bertanya mengenai perkembangan penulisan novel ini.
Musim panas tahun 2002, saya mulai menulis novel ini, waktu itu judulnya adalah [Pil Kecebong], ilham judul ini saya dapat dari sebaris berita di selembar surat kabar tahun 1958: Lelaki dan perempuan, jika sebelum berhubungan badan menelan mentah-mentah 14 ekor kecebong maka bisa mencegah hamil. Orang tidak perlu terlalu mempunyai pengetahuan umum juga bisa membaca absurditas di dalam berita ini, namun pada masa itu, cara ini ternyata bisa sangat populer. Situasi begini sangat mirip dengan [suntik darah ayam], [minum jamur teh merah] yang sangat populer di seluruh Cina beberapa puluh tahun kemudian, saya menyusuri jalan pikiran begini menulis sampai lima belas ribu kata. Namun cara tulis ini tanpa sengaja mengulangi lagi jalan lama yang absurd dan hiperbol itu, apalagi bentuk yang digunakan (dengan seorang penulis naskah drama sedang menonton naskahnya yang dimainkan di atas panggung dan segala kenangan ketika menulis naskah tersebut sebagai plot) juga kelihatan ada kesengajaan membuat penekanan yang berlebihan, oleh sebab itu, naskah novel ini sementara dibekukan, mulai merangkai pikiran dan menulis [Aku Capek Hidup Mati]. Hingga tahun 2007, kembali menghidupkan tungku, menulis buku ini, bentuknya diubah menjadi surat-menyurat, dan judulnya disederhanakan menjadi [Katak]. Tentu, saya tidak akan puas dengan narasi datar dan lurus menceritakan kisah ini, oleh sebab itu, bagian kelima buku ini menjadi sebuah naskah drama yang sedikit bersepuh warna magis yang bisa saling melengkapi dengan novel ini, semoga pembaca dapat merasakan kesungguhan saya dari dua bentuk penulisan yang berbeda ini.
Keluarga berencana di Cina Daratan, selama tiga puluh tahun pelaksanaannya memang nyata telah memperlambat pertumbuhan penduduk, namun di dalam proses melaksanakan [kebijakan dasar negara] ini, juga memang telah terjadi banyak kasus yang memerahkan mata dan mengerutkan hati, terhadap ini, media Barat banyak melakukan penilaian, namun seandainya ingin secara mendalam investigasi keadaan yang sesungguhnya, maka akan sangat sulit mempunyai sebuah kesimpulan yang tegas. Masalah Cina sangat rumit, masalah keluarga berencana Cina lebih rumit, hal ini menyentuh politik, ekonomi, hubungan manusia, moral dan sebagainya, walaupun tidak berani mengatakan kalau sudah mengerti masalah keluarga berencana di Cina berarti sudah mengerti Cina, namun jika tidak bisa mengerti keluarga berencana di Cina, maka tidak usah bermulut besar mengerti Cina.
Beberapa tahun ini, persoalan mengenai kebijakan satu anak dilanjutkan atau tidak, telah mengundang perdebatan sengit. Banyak tulisan-tulisan dalam rangkaian perdebatan ini adalah dari tokoh-tokoh masyarakat, dan tulisan-tulisan ini umumnya juga dimuat di media-media utama. Apalagi di internet, perdebatan persoalan ini telah menutup separuh langit. Dari ini bisa kelihatan, introspeksi dan penelitian terhadap keluarga berencana, telah menjadi sebuah topik pembicaraan paling panas. Dan dengan makin dalamnya [Kebijakan Perubahan dan Keterbukaan], dengan arah perubahan ekonomi komunitas menuju ekonomi individu, dengan berpuluh juta petani mendapat kebebasan berpindah dan mencari kerja, keluarga berencana sesungguhnya hanya tinggal nama saja. Petani dapat berpindah melahirkan, curi-curi melahirkan, dan orang kaya dan pejabat korup rela didenda atau cari isteri muda, dengan terbuka, sesuka hati melampaui keluarga berencana, memuaskan harapan mereka meneruskan garis keturunan atau mewarisi harta keluarga. Mungkin cuma tinggal pegawai-pegawai negeri yang bergaji kecil saja yang masih mengikuti kebijakan satu anak ini, pertama adalah mereka tidak berani bermain-main dengan periuk nasinya, kedua adalah tidak dapat menanggung biaya pendidikan yang mendaki setinggi matahari tengah hari, sekalipun diberi kesempatan melahirkan anak kedua, mereka juga tidak berani.
[katak] saya ini, melalui penggambaran hidup bibi, telah mempertontonkan sejarah beberapa puluh tahun keluarga berencana di pedesaan, juga tidak menghindari menyingkap kekacauan masalah kelahiran di Cina masa kini. Langsung menghadapi persoalan masyarakat yang sangat sensitif adalah satu keteguhan saya sejak mulai menulis, sebab roh sastra masih harus menaruh perhatian kepada manusia, menaruh perhatian kepada penderitaan, kepada nasib manusia. Dan persoalan sensitif, selalu bisa paling konsentrasi menunjukkan watak manusia. Tentu, menulis persoalan sensitif perlu keberanian, perlu teknik, namun yang lebih diperlukan adalah sebiji hati tulus penulis.
Dalam dunia sastra Cina sekarang, seandainya kau tidak menyentuh persoalan sensitif masyarakat, maka akan ada orang mencerca kau [bersandar dan berteduh ke arah kuasa], [dipelihara pemerintah], seandainya kau menulis masalah sensitif, kembali orang-orang ini akan memaki kau [berkedip mata dengan Dunia Barat]. Ada satu kurun waktu, saya memang sangat hati-hati, takut mendapat sabetan cambuk dari pendekar-pendekar kita yang selamanya benar ini, namun, kemudian saya pelan-pelan mengerti, sekalipun saya tidak menulis satu kata pun, mereka tetap tidak akan membiarkan saya leluasa, sebab sastra saya telah menyentuh luka mereka, karena itu saya menjadi musuh mereka.
Hempaskan orang-orang yang memandang saya sebagai musuh di belakang, dengan langkah lebar dan cepat maju ke depan, melangkah di jalan sendiri. Di bawah panduan hati nurani, memilih bahan-bahan yang dapat membangkitkan daya kreatif saya; di bawah panduan estetika novelku, menentukan bentuk novel sendiri; di bawah panduan semacam kesadaran otokritik yang keras, sewaktu mempertontonkan kedalaman hati tokoh-tokoh cerita juga menguak isi hati saya kepada pembaca.
Setelah selesai menulis buku ini, ada delapan kata yang berat menekan di hati saya, itu adalah: Orang lain ada dosa, saya juga ada dosa.
Mendasarkan pemikiran yang ada di sini dan menyadari bahwa setiap pemikiran dalam upaya menumbuhkembangkan seni dan sastra Indonesia adalah berharga maka RetakanKata menyelenggarakan Festival Blog Sastra Indonesia. Untuk FBSI kali ini khusus diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap pelajar dan mahasiswa yang secara mandiri menuliskan karya-karyanya di blog. Untuk FBSI yang bersifat umum, kami menunggu kalau sudah ada sponsornya. Yang berminat menjadi sponsor FBSI untuk umum, silakan menghubungi Redaksi RetakanKata.
Untuk mengikuti festival ini, simak ketentuan-ketentuan berikut:
Kriteria Peserta
Pelajar dan atau Mahasiswa warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.
Usia peserta antara 17 – 30 tahun.
Memiliki blog pribadi yang berusia minimal 3 bulan.
Sudah menjadi follower RetakanKata. Jika belum, sila daftarkan dulu blog atau user email pemilik blog sebagai follower blog yang ada di sidebar blog RetakanKata. (Perhatikan: follower blog bukan follower di facebook atau twitter)
Kriteria Blog
Blog mengandung unsur tema seni dan budaya Indonesia (tidak terbatas pada seni tulis saja). Blog yang –minimal-, memuat puisi, cerpen atau otobiografi, diperbolehkan ikut serta.
Blog bersifat pribadi dan mandiri. Artinya blog bukan merupakan bagian dari blog keroyokan atau blog yang diisi oleh banyak orang.
Tidak ada batasan dalam penggunaan platform blog (wordpress, blogspot, blogger, multiply.)
Setiap peserta hanya diperbolehkan mendaftarkan satu blog.
Ketentuan Umum dan Tata Cara
Peserta mendaftarkan blog yang diikutsertakan festival blog sastra Indonesia dengan tata cara sebagai berikut:
1) Kirim surel (email) dengan subyek “DAFTAR FBSI_NAMA” ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri:
a) identitas diri (copy/scan) kartu identitas pelajar/mahasiswa
b) nama dan alamat blogmu, logo atau image Blog (ukuran maks 400×400) dan slogan (tagline) atau deskripsi blogmu (maksimal 120 kata). Buatlah sebagus-bagusnya sebab deskripsi blogmu akan ditampilkan di laman FBSI.
2) Lakukan reblog atas artikel festival ini dan pasang banner FBSI di laman depan (frontpage) blogmu. Jangan lupa mentautkan banner dengan alamat link yang mengarah ke laman (page) FBSI.
3) Jika proses pendaftaran di atas sudah purna, maka logo dan deskripsi blogmu akan ikut tampil di laman FBSI.
Keuntungan yang Didapat
Memperkenalkan blogmu pada pembaca yang lebih luas
Kamu bisa saling tukar menukar link dengan sesama pecinta sastra
Menambah kenalan para pecinta seni dan budaya dari seluruh Indonesia
Dan tentu saja, yang beruntung akan mendapat hadiah atau uang pengembangan blog sebagai berikut:
Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,-
Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,-
Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,-
Kriteria Penilaian
Penilaian blog akan ditentukan dengan menggunakan gabungan cara-cara berikut:
Penilaian juri independen
Popularitas (rating) dan pendapat atas blogmu di laman FBSI. Gunakan hashtag #festivalblog untuk mengundang kawanmu di twitter dan google plus untuk memberi komen dan memberi rating logo blogmu di laman FBSI.
Untuk mengetahui rating dan pendapat, kamu dapat klik logo blogmu di laman FBSI.
FBSI akan dimulai sejak 16 Desember 2012 dan ditutup pada 10 Januari 2013.
Periode penilaian dimulai sejak 10 Januari 2013 sampai 10 Februari 2013.
Target pengumuman lomba tanggal 14 Februari 2013.
Contoh tampilan festival blog akan seperti Galeri Foto. Jika logo atau foto yang ditampilkan di-klik, maka akan tampak gambar diperbesar.
Di gambar tersebut terdapat tombol komentar, reblog dan suka. Kawanmu bisa memberi rating suka dan meninggalkan balasan di ruang komentar -di bawah nama gambar-. Jadi, tunggu apa lagi, ajak kawan-kawan bloger memperkenalkan blog-blog sastra di seluruh Indonesia melalui Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)
Satu bulan berlalu sejak pengumuman penyelenggaraan lomba menulis RetakanKata menyusul lomba-lomba menulis yang pernah diselenggarakan di sini. Setelah lomba menulis cerpen, lomba menulis opini, lomba menulis resensi buku, dan kini lomba menulis flash fiction. Lomba kali ini diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang agar sahabat RetakanKata dapat mempersiapkan diri dengan baik. Tentu bukan soal kalah dan menang yang diutamakan, namun lomba lebih sebagai ruang belajar bersama. Maka RetakanKata memaklumi jika dalam prosesnya, beberapa sahabat masih bertanya tentang apa yang dimaksud dengan flash fiction. Antusiasme tersebut sangat menggembirakan sehingga dengan senang hati pula, RetakanKata menurunkan tulisan tentang bagaimana menulis flash fiction. Hal tersebut, selain sebagai sarana berbagi pengetahuan, juga sebagai pedoman para sahabat RetakanKata untuk menulis flash fiction yang kemudian dapat diikutsertakan dalam lomba. Maka tibalah hari ini, tanggal 30 November 2012 sebagai hari yang ditentukan untuk mengumumkan pemenang lomba menulis flash fiction dengan tema “Kebangkitan Pemuda”. RetakanKata mengucapkan terima kasih dan apresiasi terhadap karya-karya yang telah masuk. Karya-karya yang menarik dan menyenangkan. Tentu karya yang dikirim akan menjadi lebih menarik jika para penulis lebih bersedia untuk melakukan penyuntingan naskah, membenahi penulisan sehingga mengurangi salah tulis dan juga memperhatikan ketentuan lomba, khususnya pembatasan ‘hanya’ sampai 1000 kata. Kata ‘hanya’ ini diberi tanda kutip karena sebenarnya jumlah 1000 kata tersebut lebih dari cukup bagi penulis untuk ‘bermain-main’ dengan kata-kata. Kekurangsabaran penulis dalam melakukan penyuntingan berakibat fatal sebab naskah tidak akan diikutsertakan dalam penilaian. Semoga hal ini juga menjadi pembelajaran bagi para sahabat RetakanKata agar ke depannya, ketika sahabat mengikuti lomba, baik di RetakanKata maupun di tempat lain, senantiasa memperhatikan aturan main lomba yang ditentukan.
Menilik naskah yang dikirim dan memperhatikan kelayakan naskah, dengan berat hati dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, pada lomba kali ini, RetakanKata terpaksa tidak memilih pemenang lomba menulis flash fiction. Namun sebagai bentuk penghargaan, RetakanKata akan memberikan buku Antologi Cerpen RetakanKata kepada pengirim naskah lomba berikut:
Ika Hikmatilah
Nena Fauzia
Rofiatul Ainiyah
Agista Kylanti Firsaputri.
Alfian Nur Budiyanto
Kepada nama-nama tersebut di atas, mohon mengirim info alamat pengiriman buku lewat email retakankata@gmail.com. Selain itu, karya-karya yang masuk dan layak untuk dipublikasi, akan dipublikasikan di Blog RetakanKata.