Arsip Kategori: Retakan Kata

RetakanKata Terpilih sebagai Kandidat Blog Terbaik dari Indonesia

Kabar Budaya – RetakanKata

DWIni tentang kebebasan berekspresi tingkat internasional. Seluruh pengguna internet di bumi ini diminta memberikan suaranya untuk memilih yang terbaik versi pengguna pada acara The Bobs Award yang diselenggarakan Deutch Welle.

Lebih dari 4200 website dan proyek online telah didaftarkan pada The Bobs – Best of Online Activism Awards tahun 2013. Seribu lebih banyak dari tahun lalu. Dan juri telah memilih 364 finalis untuk maju pada masing-masing kategori.

“Ini menunjukkan begitu banyak cara untuk menunjukkan kebebasan berekspresi dan mendorong transparansi politik,” ungkap Ute Schaeffer, editor Deutch Welle untuk muatan regional. Berbagai tema diangkat seperti perubahan kondisi sosial dan ekonomi, hak atas air, hak-hak perempuan, dan perlawanan atas sensor-sensor, ungkap Gabriel González, Manajer the Bobs Award.

Deutch Welle adalah kantor berita Jerman yang mulai menyelenggarakan penghargaan ini sejak tahun 2004. Sepanjang sembilan tahun terakhir, acara ini memberikan penghargaan kepada upaya-upaya membangun hubungan budaya, mendorong transparansi, dan menciptakan jembatan penghubung antar budaya di negara-negara yang berbeda bahasa.

Tahun ini The Bobs memilih blog dalam 14 kategori lomba. Dari kategori blog berbahasa Indonesia, RetakanKata menjadi salah satu blog yang dinominasikan, menemani 9 blog dari Indonesia. Tentu ini menggembirakan dan sudah sepatutnya RetakanKata menyampaikan terima kasih untuk dukungan dan kesetiaan sahabat RetakanKata menyambangi blog ini. Selanjutnya RetakanKata akan masuk pada putaran pilihan pengguna. Sahabat RetakanKata dapat memberikan suaranya dengan cara sign in melalui Facebook atau Twitter kemudian klik link di bawah ini.

RETAKANKATA on THE BOBS!

Mary, Mary, Godwin, Shelley #3

Kolom John Kuan

Dua tahun setelah Mary dan Shelley minggat bersama, isteri sang penyair mati bunuh diri. Maka Mary Wollstonecraft Godwin pun resmi menikah dengan Shelley.

Mary selalu berdiskusi dengan Shelley seluruh rencana penulisannya. Mereka bersama-sama mengunjungi kota besar dan kecil juga hutan gunung dan tepi laut daratan Eropa, selain catatan harian ditulis bersama-sama, mereka juga memendam kepala masing-masing, menulis puisi dan novel sendiri, seringkali memasukkan negeri asing tempat mereka hidup bersama ke dalam tulisan, samar-samar sebagai latar, namun lebih sering melampaui, simbolis. Mary dengan bakat alamnya, ditambah pendidikan luar biasa dan harapan yang diberikan orangtuanya, saat itu sepenuh cinta dan saling menggetarkan dengan Shelley yang penuh daya imajinasi, wawasan, dan cita-cita yang menjulang, memberi dia daya kreasi yang tak terbayangkan, melepas keluar seluruh kekuatan terpendam seni dan filsafatnya.

~

Mary dan Shelley, juga banyak teman-teman mereka suka sekali berkisah cerita hantu, sekalipun mereka adalah intelektual menonjol yang rasional dan kaya rasa. Mary pernah menulis sebuah artikel tentang hantu (On Ghost), membaca ini bisa membuat bulu kuduk berdiri. Salah satu bagian konon adalah pengalaman pribadi salah satu temannya. Temannya bercerita bahwa tidak lama setelah seorang temannya meninggal dunia, almarhum tahu dia sangat mengenangnya, sehingga setiap malam mengunjunginya. Begitu dia berbaring di atas ranjang antara tidur dan tidak, temannya yang telah meninggal itu akan pelan-pelan mendekat dan menyentuh kedua pipinya, sehingga dia bisa dengan tenang tertidur. Demikian berlangsung beberapa hari. Mary menambah satu kesimpulan: Bisa dibayangkan, hal begini sangat bisa dipercaya; namun temannya berkata bahwa temannya yang telah meninggal dunia itu suatu hari berhenti mengunjunginya (sekalipun dia setiap malam masih berdebar baring di atas ranjang), hanya karena dia pindah rumah. Kalau menurut perkataannya ini, hantu ternyata tidak dapat menemukan alamat rumah barunya, dan sebagainya dan seterusnya.

~

Di sekitar hutan lebat sebelah timur Jerman, ada orang sedang memacu kuda menuju rumah teman, dan di sekitar pinggir hutan, dia tersesat. Orang itu terus mencari jalan di antara pepohonan, akhirnya tampak di jauh ada setitik cahaya remang. Dia berjalan ke arah cahaya, baru tahu ternyata cahaya berasal dari sebuah biara terlantar. Sebelum mengetuk pintu, dia merasa seharusnya mengintip sedikit bagian dalam dari jendela. Dia melihat sekelompok kucing berkerumun di depan sebuah liang lahat, dan empat ekor di antaranya sedang bekerja sama menurunkan sebuah peti mati, di atasnya tergeletak sebuah mahkota. Orang itu kaget setengah mati, hatinya menerka dia mungkin sudah masuk ke alam hantu atau kampung penyihir jahat, cepat-cepat melambungkan badan ke atas kuda, dengan kecepatan penuh lari dari tempat tersebut. Agak lama, akhirnya dia sampai di rumah teman, dan teman sedang duduk begadang menunggunya. Temannya bertanya kenapa wajahnya begitu pucat dan takut? Awalnya dia ragu-ragu, tidak ingin buka mulut, amat yakin temannya tidak akan percaya. Namun akhirnya juga membeberkan apa yang terjadi. Dia baru selesai menceritakan bagian peti mati yang ada mahkota di atasnya bagaimana diturunkan, tampak kucing temannya yang lelap di depan perapian tiba-tiba berdiri, langsung berkata: “Sekarang giliran aku jadi raja kucing!” cepat-cepat memanjat ke puncak cerobong, hilang tanpa bekas.

~

Cerita di atas adalah salah satu bagian yang dicatat Mary di dalam On Ghost, cerita ini berasal dari seorang pengarang cerita misteri yang dia dan Shelley kenal di Jenewa.

 Ada orang mengatakan Mary tidak mendengar langsung dari penulis cerita misteri itu.

Mei 1816, Mary dan Shelley, bersama adik perempuannya yang lain bapak lain ibu, Claire pergi ke Swiss, tinggal di Jenewa yang dingin beku, kala malam sering bersama teman hidup api berkisah cerita hantu. Sekitar Agustus, Shelley dan seorang temannya pergi mengunjungi penulis cerita misteri itu, mendengar lima buah cerita hantu, dan semuanya dicatat, cerita di atas adalah salah satu. Teman yang bersama-sama Shelley pergi mendengar cerita hantu bukan orang lain, dia adalah Byron.

~

 A gentleman journeying towards the house of a friend, who lived on the skirts of an extensive forest, in the east of Germany, lost his way. He wandered for some time among the trees, when he saw a light at a distance. On approaching it he was surprised to observe that it proceeded from the interior of a ruined monastery. Before he knocked at the gate he thought it proper to look through the window. He saw a number of cats assembled round a small grave, four of whom were at that moment letting down a coffin with a crown upon it. The gentleman startled at this unusual sight, and, imagining that he had arrived at the retreats of fiends or witches, mounted his horse and rode away with the utmost precipitation. He arrived at his friend’s house at a late hour, who sate up waiting for him. On his arrival his friend questioned him as to the cause of the traces of agitation visible in his face. He began to recount his adventures after much hesitation, knowing that it was scarcely possible that his friend should give faith to his relation. No sooner had he mentioned the coffin with the crown upon it, than his friend’s cat, who seemed to have been lying asleep before the fire, leaped up, crying out, ‘Then I am king of the cats;’ and then scrambled up the chimney, and was never seen more.

 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley suka nuansa misterius, suka mengali ke daerah yang dalam, mencari ke jaman kuno, pasti akan suka yang begini, setengah klasik setengah populer, suatu bentuk tulisan yang mencurigakan juga menggembirakan, bentuk ini juga pernah sangat populer, terselip di dalam tradisi besar kebudayaan, ditampilkan dalam bentuk cerita misteri, legenda, catatan, juga novel, dengan daya hidup yang demikian kuat, menggembirakan juga mencurigakan, kiranya Mary pasti sangat menyayangi, juga Shelley, juga Byron juga teman-teman mereka.

~

Kesulitan dalam mengarang, awalnya bukan masalah tema, adalah makna yang diberikan tidak menemukan sandaran yang dapat ditelusuri dan tepat, kata-kata tidak bisa secara efektif menjadi rujukan, menyebabkan hati dan pikiranmu menyelam terlalu lama, teori yang dibaca dan dipelajari terombang-ambing, pada saat itu, sekalipun sendiri merasa kata-kata telah selesai diungkapkan, orang lain merasa kamu samasekali belum bicara.

Atau, kamu belum berbicara, orang lain sangka kamu telah bicara, bahkan telah berbicara banyak; mereka menerka tujuanmu, dengan kata-kata yang terbatas sebagai landasan, sesuka hati intepretasi, mencemari karyamu, kadang-kadang seluruhnya salah.

Kadang-kadang, mereka sengaja salah.

~

 Kitab Sejarah Dinasti Jin – 晉書 mencatat suatu kali Raja Kuaiji ( 会稽 ) Sima Daozi – 司马道子 dan Xie Chong – 谢重 sedang duduk berbicara. (Saat itu malam berbulan, terang dan bersih, Daozi merasa pemandangan begini bagus sekali, sangat menikmati) Xie Chong menimpali: “lebih baik dihias sedikit awan tipis.” Sebab Daozi ingin bercanda sambil menyindir Xie Chong maka berkata: “Anda sengaja mengotori hati, bahkan mau memaksa langit ikut tercemar?”

Ini adalah pelajaran yang sangat bagus

Su Dongpo ketika menulis buku esainya (zhilin – 志林), tidak dapat menahan diri menambah beberapa goresan pena: (Langit biru bulan putih, tentu merupakan satu hal yang menyenangkan di dunia; atau masih ada yang berkata: Lebih baik dihias sedikit awan tipis. Sebab tahu hati memang tidak bersih, sering ingin mencemari langit.)

Tahun 1100 Masehi, Su Dongpo di dalam pembuangan di Pulau Hainan mendapat pengampunan Kaisar, dalam perjalanan pulang melewati Qiongzhou, pada malam tanggal 20 bulan 6 menyeberangi lautan, menggunakan maksud di atas, berputar jadi sebait puisi begini:

Awan bubar bulan terang siapa menghias?

Langit rangkul laut warnanya memang jernih.

云散月明谁点缀?天容海色本澄清

~

Februari 1821 John Keats meninggal dunia di Roma karena sakit, saat itu Mary dan Shelley menetap di Pisa, latar belakang Shelley dan Keats sangat berbeda, samasekali tidak ada hubungan persahabatan, mereka juga tidak saling mengapresiasi. Namun kematian John Keats di usia muda, 25 tahun, membuat Shelley sangat sedih, terutama karena dia mendengar bahwa John Keats menderita sakit dan ambruk, disebabkan oleh para kritikus menyerang puisi-puisinya, lalu menulis sebuah elegi panjang (Adonais) untuknya.

~

Kritikus dapat memarahi seorang penyair sampai sakit, sampai mati?

Tidak mungkin.

 ~

Januari 1818 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley menerbitkan Frankenstein, tidak lama kemudian bersama sang penyair berangkat ke Italia. Tahun itu Shelley mulai menulis drama liris Prometheus Unbound. Selain itu, karya puisi tidak putus, ada panjang ada pendek, salah satu adalah sebuah soneta yang berubah bentuk:

Ozymandias

Aku bertemu seseorang datang dari tanah purba

Berkata padaku: Dua potong paha besar pahatan batu

Tegak di atas gurun, tanpa batang tubuh… tak jauh di dalam pasir

Setengah terkubur satu wajah hancur, mengernyit,

Bibir berkerut, aba-aba sinis dingin yang angkuh

Buktikan pematung kala itu demikian bisa membaca hatinya

Dalam-dalam memahat ke benda mati itu, bertahan hingga kini

Lebih lama dari hati yang menjaga dan tangan tukang yang meniru;

Dan di atas dudukan patung hanya muncul beberapa kata:

Aku bernama Ozymandias, Raja Segala Raja

Lihat hasil karyaku, alangkah perkasa, mengeluhlah!

Di sisinya tiada apapun, hanya kelihatan tumpukan serpihan

Dikelilingi kehancuran, tak bertepi, mati senyap

Adalah pasir rata yang luas dan sunyi menjulur hingga jauh.

 

I met a traveller from an antique land

Who said: Two vast and trunkless legs of stone

Stand in the desart. Near them, on the sand,

Half sunk, a shattered visage lies, whose frown,

And wrinkled lip, and sneer of cold command,

Tell that its sculptor well those passions read

Which yet survive, stamped on these lifeless things,

The hand that mocked them and the heart that fed:

And on the pedestal these words appear:

“My name is Ozymandias, king of kings:

Look on my works, ye Mighty, and despair!”

Nothing beside remains. Round the decay

Of that colossal wreck, boundless and bare

The lone and level sands stretch far away.

Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

Sebenarnya kami kurang begitu suka menyebut ini sebuah lomba. Kami lebih suka menyebut ini sebagai ajang bersuka ria dengan menulis. Semacam seremoni merayakan kemerdekaan untuk menulis. Tapi, apa boleh buat, istilah lomba ini terlanjur memudahkan komunikasi kita tentang bagaimana sebuah perayaan ini dilakukan sehingga menjadi semacam kegembiraan bagi siapa saja. Yah, itulah tujuan utama kegiatan menulis kita kali ini: merayakan kemerdekaan menulis dengan penuh suka cita. Penggunaan istilah lomba cukup dipandang sebagai pemudahan komunikasi saja.

Seharusnya lomba ini diselenggarakan setiap menyambut ulang tahun berdirinya RetakanKata. Tetapi karena beberapa hal mengganggu agenda, terpaksa tahun ini sedikit mundur ke belakang. Dengan parade lomba yang begitu panjang sepanjang tahun 2012, kami berharap, mundurnya agenda lomba menulis cerpen ini dapat dimaklumi. Tentu kami membutuhkan sedikit jeda untuk bernafas setelah lomba cerpen RetakanKata 2012, menyusul rangkaian lomba-lomba yang lain, sebut saja misalnya lomba menulis opini sebanyak dua kali, lomba menulis resensi, lomba menulis flash fiction, weekly writing challenge dan festival blog sastra indonesia. Meski cukup melelahkan, namun kebahagiaan sahabat RetakanKata menjadi penghibur yang menyemangati kami untuk terus mempertahankan RetakanKata.

Mengawali lomba di tahun 2013 ini, RetakanKata kembali menyelenggarakan lomba menulis cerpen yang tetap GRATIS bagi siapa saja. Dengan menambah kategori lomba, mudah-mudahan perayaan kemerdekaan menulis ini menjadi lebih meriah. Ya, lomba kali ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu: kategori untuk umum dan kategori untuk buruh migran. Kategori umum terbuka bagi siapa saja, baik warga negara indonesia maupun bukan. Sedang kategori buruh migran hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran di mana pun mereka berada. Ketentuan lebih lengkap mengenai lomba cerpen ini dapat disimak di page Lomba Cerpen RetakanKata. Selain menambah kategori lomba, kali ini juga menambah daftar panjang hadiah untuk para juara. Semoga perayaan kemerdekaan menulis ini benar-benar membawa kegembiraan bagi siapa saja.

Untuk membaca ketentuan lomba dan mengunduh formulir pendaftaran klik: LOMBA CERPEN RETAKANKATA 2013.

Kami tunggu karya-karya Anda dan Selamat Bersukacita!

Mary, Mary, Godwin, Shelley #2

Kolom John Kuan

Cerita Detektif

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Cerita detektif seandainya hanya untuk membuang waktu, ditulis dengan plot berdebar dan mengundang curiga sebagai hiburan, maka tidak akan jauh berbeda dengan cerita-cerita silat, dengan bayang pisau cahaya pedang, getaran angin pukulan, jurus-jurus tombak memilin, ditambah dengan amis darah petarungan dan pengejaran cinta yang bertepuk sebelah tangan sebagai titik koma, garis lintang dan bujur, ditulis buat main-main, samasekali tidak ada hubungan dengan genre sastra, dengan penjelajahan dan pembacaan sastra.

~

Siapa berani bayangkan Godwin menulis Caleb Williams hanya untuk menyediakan hiburan kepada pembaca London? Tentu tidak, siapa itu Godwin! Bapak Kaum Anarkis, tahu! Namun saya berani mengatakan bahwa cerita silat maupun tidak silat yang heboh di rak-rak laris, tidak peduli kata-katanya bisa dicerna atau tidak, jalan ceritanya dan tokoh-tokohnya seberapa hidup, temanya berbobot atau tidak, tidak peduli keluar dari ujung pena siapa, saat dia pegang pena menulis, tujuannya hanya untuk memikat perhatianmu, sedapat mungkin berusaha jangan sampai hatimu bercabang di tengah jalan, lempar buku terlelap, mengerek daya hiburan hingga lapisan teratas, buat merebut kepercayaanmu akan kemampuannya membantu kau menghabiskan waktu.

 ~

Sirkus pada masa-masa awal hanya memiliki satu lingkaran besar, sebagai tempat pertunjukan ( ring ). Orang-orang duduk menggelilingi tempat pertunjukan, serentak memandang ke lingkaran, orang-orang yang memandang begini, disebut penonton ( audience ). Di dalam lingkaran petunjukan ada berbagai kegiatan terus berlangsung, satu menyambung satu, ini disebut acara ( program ).

Lihat sekarang! Seorang badut berbaju bintik topi berbunga sedang lenggang lenggok bergaya, selanjutnya adalah monyet naik sepeda, gajah berdiri tegak berbaris, menumpang kaki depannya di punggung koleganya yang berjalan di depan, kemudian adalah kuda putih dan kuda hitam yang dihias indah berlari kecil dengan teratur. Lihat, manusia terbang, orang perkasa menelan pedang, sang jelita meloncat lewat lingkaran api penuh mata pisau, cambuk pawang binatang buas berambut pirang berlengan tato melayang menjerit, perintah singa jantan duduk baik-baik, lalu sendiri menyodorkan sepotong daging ke mulut singa, selanjutnya badut keluar lagi, mengitari lingkaran pertunjukan satu kali, melambaikan tangan kepada penonton, sekarang suara musik sedikit agak membosankan, sebab pemain-pemain musik sedang istirahat, minum dan merokok. Tidak lama, dari belakang meloncat keluar dua ekor monyet, bersama badut berlari beriring, dan melambaikan tangan kepada penonton…

Acara begini, lihat saja, sirkus jaman dulu umumnya demikian, hiruk-pikuk, penuh gaya penuh warna, permainan bagus sambung menyambung. Namun bagaimanapun juga, di dalam seluruh acara sekalipun sebagian besar waktu kau tetap bersemangat, antusias, riang, sesekali juga merasa ada acara tertentu yang tidak begitu memikat, oleh sebab itu ketika singa jantan akhirnya berhasil duduk dengan baik, kau angkat tangan melihat jarum arloji, mengetahui sekarang sudah jam sekian sekian, ada sedikit lelah, tidak tahu acara apa selanjutnya?

Suatu kali dalam acara yang sedang berlangsung, serentak ada seperempat penonton (termasuk lelaki perempuan tua dan muda) yang sedang menonton di lingkaran pertunjukan menunjukkan ekspresi kebosanan, dan di antaranya (seperempat penonto ) ada separuh serentak angkat tangan melihat jarum arloji, sesaat ketika pawang berambut pirang berlengan tato menarik kembali cambuknya yang panjang, singa jantan pelan-pelan duduk sempurna, menunggu dia menyodorkan sepotong daging ke dalam mulutnya.

Badut berbaju bintik topi berbunga memperhatikan kondisi begini, hatinya sangat galau: “Banyak orang merasa membosankan, pada saat ini.” Dia melapor kepada kepala penyusun acara, si Kumis: “Harus dicari solusinya.” Si Kumis menghela nafas berkata, dia telah memperhatikan masalah ini, sebab manusia terbang nomor dua sudah pernah melapor kepadanya, lalu orang Kazak penuntun kuda juga, pemain alat musik tiup juga, Jenny pelompat lingkaran api juga, dan beberapa anggota lain, semuanya pernah mengutarakan bahwa tidak peduli acara apapun sedang berlangsung, sedikit banyak pasti ada penonton menunjukkan kebosanan. “Bagaimana menyedot perhatian semua orang sehingga hatinya tidak bercabang di tengah jalan, bahkan berebutan meninggalkan tempat duduk?” Kumis kepala penyusun acara masuk ke dalam renungan: “Bagaimana mengerek daya hiburan hingga lapisan teratas. buat merebut kepercayaan mereka akan kemampuannya membantu mereka menghabiskan waktu?”

“Saya punya solusi!” Badut berbaju bintik topi berbunga pecah ilham berkata: “Tempat pertunjukan dari satu lingkaran ditambah menjadi tiga lingkaran, setiap menit setiap detik, biarkan tiga macam acara berbeda berlangsung di dalam tiga lingkaran pada waktu bersamaan, dan penonton tetap duduk mengelilingi, mengelilingi di luar area tiga lingkaran, suka melihat acara di lingkaran mana, tinggal pilih, kalau bosan, boleh memilih lingkaran lain, selamanya tidak akan kehabisan tontonan, selamanya tidak lelah, tidak bosan, terus menjaga hati yang mengebu, hingga acara berakhir bersamaan.”

 ~

Pemaparan di atas, adalah cikal bakal three-ring circus.

Nama badut tidak dicantum, namun sumbangannya terhadap industri hiburan amat kasat mata, tidak bisa diabaikan, perihal ini bukan saja terjadi di sirkus, juga mempengaruhi pembuatan film, penyusunan acara di parlemen, media berita, juga memberikan inspirasi yang amat besar kepada semua orang yang bertekad menulis novel, tentu bukan hanya cerita detektif atau cerita silat saja.

~

Godwin menggunakan cerita detektif sebagai kritik sosial, di Inggris pada ujung abad kedelapan belas Masehi. Mary Wollstonecraft Godwin Shelley juga mengikuti langkahnya. Dia menulis Frankenstein, menciptakan monster rekayasa ilmuwan pertama dalam sejarah. Sebuah fiksi ilmiah begini sesungguhnya juga merupakan kritik sosial, mencerminkan intelektual Eropa Barat hidup di pembukaan abad kedelapan belas, sebuah jaman yang penuh tantangan, bagaimana memandang sifat manusia dan sains, dan juga sisi gelap sifat manusia dan sains.

Transaksi Lewat Internet: Ini yang Harus Diperhatikan

Akhir-akhir ini berita penipuan berkedok investasi emas kembali ramai. Dikatakan kembali ramai karena pada tahun-tahun sebelumnya, penipuan serupa sudah banyak diungkap, tidak saja soal investasi emas, tetapi juga investasi lain semacam forex, saham atau bahkan pertambangan. Mungkin kali ini menjadi lebih ramai karena penipuan membawa label halal dari MUI.

Sebuah stasiun televisi swasta membahas secara berlebihan penipuan kali ini dengan memberi tips-tips yang saya duga mengambil dari blog-blog di internet. Pembahasan melebar, bukan pada persoalan investasi namun pada persoalan internet atau bisnis online. Dengan mengutip tips-tips yang ada di blog yang di-capture ini, penjelasan dari siaran televisi swasta tersebut perlu mendapat penjelasan tambahan.

penipuan-berkedok-investasi

Tentu tidak semua yang menggunakan website gratis pasti penipuan. Tidak selalu juga yang menggunakan domain dot com (.com) atau dot co dot id (.co.id) bukan penipuan. Penipuan bisa saja terjadi, namun hal-hal ini perlu diperhatikan, seperti website gratis, jejaring sosial ataupun blog-blog gratis. Harus dicatat juga bahwa sistem online (website) dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya cyber crime.

Jika ditinjau dari tingkatan keamanan secara sistem, maka urutan sederhananya sebagai berikut:

Website dengan fixed address. Yang dimaksud fixed address bukanlah nama yang tertampil di layar komputer seperti misalnya http://retakankata.com, tetapi rangkaian angka internet protokol (IP), misalnya 25.215.113.001, yang sifatnya tidak berganti-ganti. Ciri yang bisa dikenali jika suatu website menggunakan fixed address adalah Anda dapat membuka internet  dengan menggunakan https:// Huruf s terdapat di belakang http merupakan kependekan dari secure, artinya Anda masuk secara aman. Hal ini penting jika Anda masuk (login) ke suatu situs, misal situs jejaring sosial facebook, usahakan menggunakan https://facebook.com agar data yang Anda tuliskan aman.

Kaitan fixed address dengan dunia nyata adalah bahwa fixed address diberikan kepada orang atau perusahaan yang memiliki identitas jelas dan dapat diverifikasi. Penyalahgunaan mungkin saja terjadi seperti misalnya pemalsuan identitas, namun konsekwensi dari tindakan ini lebih berat daripada menggunakan website gratisan. Jika Anda masih kurang yakin dengan fixed address, ada banyak perangkat lain yang disediakan seperti misalnya sitelock. Sitelock diberikan kepada pemilik website yang  telah memverifikasi identitas, termasuk nomor dan alamat tinggal. Contoh sitelock dapat dilihat di http://bukuonlinestore.com.

Website dengan fixed address tidak selalu berekor .com atau .co.id. Ia bisa menggunakan domain .net, .biz, .us dan sebagainya. Yang harus Anda pegang jika bertransaksi keuangan (misalnya menggunakan kartu kredit, paypal, atau mengirim data personal) adalah pastikan Anda dapat login menggunakan https.

Setingkat lebih rendah dari fixed address adalah website dengan share hosting. Sederhananya, website ini memiliki nama yang tetap tetapi tidak memiliki angka internet protocol (IP) yang tetap. Ciri yang langsung bisa dikenali adalah jika Anda mencoba login menggunakan https, maka Anda akan mendapati peringatan yang secara umum meminta Anda untuk verifikasi kebenaran sertifikat keamanan alamat website atau Anda akan dibelokkan ke http. Hal ini bukan berarti tidak aman. Verifikasi yang diminta adalah Anda memasukkan website tersebut ke daftar website yang bisa dipercaya dalam browser Anda. Blog-blog berbayar pada wordpress atau blogspot adalah contoh dari jenis website ini.

Setingkat lebih rendah lagi adalah blog gratisan. Yang dimaksud blog gratisan adalah blog yang menumpang pada suatu situs internet tanpa membayar dan tidak ada batasan siapa saja yang dapat membuat blog gratisan. Blog gratisan ini bisa juga beralamat semacam website, misalnya websitemu.com. Sepintas muka tampak sama dengan website berbayar. Hal ini menjadi celah yang dimanfaatkan penipu untuk membuat banyak blog gratisan. Mengapa penipuan banyak menggunakan website gratis? Jawabannya sederhana, sebab mereka tidak mendapat kewajiban untuk melakukan verifikasi dan tidak rugi jika hendak menghapus sewaktu-waktu.

Beberapa situs internet menambahkan fitur tertentu untuk mencegah penipuan lewat internet. Sebagai contoh, blog gratisan tidak dapat digunakan untuk software e-commerce. Kaskus menggunakan sistem rating untuk para penggunanya.  Semakin baik rating seseorang, maka transaksinya semakin dapat dipercaya. Situs Berniaga,com menggunakan sistem premium member. Dan BukuOnlineStore.com menggunakan sistem premium blog yang bisa dilihat di Lapak RetakanKata.

Setingkat lebih rendah dari blog gratisan adalah jejaring sosial gratisan.

Selain menggunakan website gratisan, para penipu biasanya menggunakan banyak akun jejaring sosial dan memiliki banyak identitas yang berbeda. Dengan banyak blog gratisan dan akun jejaring sosial, mereka setiap saat dapat menghapus salah satu dan menggunakan akun yang lain untuk beroperasi.

Maka, sebelum bertransaksi lewat internet, entah investasi, jual beli barang atau jasa, email-email spam, lowongan kerja,  atau bahkan perlombaan, setidaknya perhatikan hal-hal berikut untuk keamanan Anda:

  1. Periksa website dengan mengacu panduan di atas. Semakin rendah tingkat keamanannya, semakin tinggi kemungkinan Anda menjadi korban cyber crime.
  2. Periksa apakah memiliki banyak website gratisan atau tidak, apakah sering berpindah-pindah alamat website atau tidak, apakah memiliki banyak akun yang berbeda-beda atau tidak.
  3. Periksa apakah memungkinkan untuk kontak langsung dengan pemilik website.
  4. Periksa seberapa banyak komplain terhadap website atau pemilik website. Anda bisa menggunakan google untuk mengetahui track record suatu produk, seseorang, panitia, penyelenggara atau perusahaan.
  5. Periksa apakah ada kontrak tertulis yang bisa dipegang.
  6. Pastikan Anda memperoleh jaminan dari setiap hal yang Anda lakukan.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sistem di internet dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya cyber crime. Penipuan lewat internet bukan persoalan gratis atau tidak gratis. Kita tahu banyak blog gratis yang memberi sumbangan pada orang lain. Dan Anda tahu juga, penjahat selalu selangkah lebih maju dari yang lain. Tidak ada salahnya melengkapi diri dengan kewaspadaan.

Gunakan internet secara sehat!

Mary, Mary, Godwin, Shelley #1

Kolom John Kuan

mary Wollstonecraft
gambar diunduh dari exhibition.nypl.org

Mary Shelley adalah isteri sang penyair, Shelley. Nama lengkapnya adalah Mary Wollstonecraft Godwin Shelley. Seuntai nama yang begini panjang, di antaranya (Godwin) berasal dari nama ayahnya, (Wollstonecraft) berasal dari nama ibu kandungnya. Baru lahir sepuluh hari, ibunya sudah mati; ayahnya demi mengenang isteri, seuntai nama panjang ini langsung diberikan kepada putri kecilnya.

~

Mary Wollstonecraft Godwin Shelley sangat berbakat, mandiri dan berpendirian seperti suaminya, juga menulis banyak buku. Dia adalah perempuan yang memukau, sungguh. Namun, seandainya ingin benar-benar mengenal dia, kita perlu terlebih dahulu mengenal ibunya, Mary Wollstonecraft, penulis, pemikir, pengagas dan aktivis gerakan emansipasi, seorang perempuan yang luar biasa begini. Mary Wollstonecraft di ujung abad ke delapan belas Masehi sudah sangat jelas mengetahui betapa brutal dan hipokritnya masyarakat yang dikuasai lelaki; dia tahu lelaki meminta perempuan patuh, tergantung, inferior, tidak ambisius, tidak lebih hanya karena lelaki egois dan lemah. Cita-citanya adalah pada kemandirian, menciptakan karier, sebab itu dia terus bekerja, menulis novel, menulis buku politik, bahan kuliah, catatan perjalanan, opini, dan kritik sastra, menganjurkan sebuah landasan yang memiliki kebebasan yang sesungguhnya untuk membangun sebuah masyarakat yang benar-benar demokratis.

Tahun 1792 Mary Wollstonecraft menerbitkan Vindication of the Right of Woman, berpendirian bahwa hanya ketika perempuan memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang sama, dapat bebas memilih pekerjaan, dan memiliki sebagaimana umumnya hak rakyat di atas bumi, baru mungkin ada masyarakat yang demokratis dan bermoral. Para penggagas dan aktivis gerakan feminisme di ujung abad ke dua puluh Masehi umumnya kenal dengan Mary Wollstonecraft sebagai perintis gerakan mereka.

Mary Wollstonecraft sering seorang diri mengunjungi berbagai tempat, dalam maupun luar negeri, dan pada masa itu seorang perempuan melangkah sendiri di jalan saja bisa menjadi gunjingan. Dia mendukung Revolusi Perancis, berharap perubahan di Paris suatu hari akan mempengaruhi London, memicu demokratisasi di Inggris.

~

 Satu tahun setelah Vindication of the Right of Woman terbit, William Godwin menerbitkan sebuah buku ajaib yang menganjurkan rasionalitas, pendidikan umum, dan ingin pemerintah sedapat mungkin tidak mengatur: Enquiry Concerning Political Justice, mengundang reaksi yang sangat besar. Setahun kemudian, Godwin menerbitkan sebuah cerita detektif. Ada orang percaya Godwin adalah Bapak Cerita Detektif Inggris. Namun cerita detektif bukan ditulis buat menggosok waktu, bagi Godwin, ditulis buat menyindir keadaan sosial masa itu.

Mary Wollstonecraft dan William Godwin saling tertarik, sangat pasti, bisa dibayangkan, dan keduanya sama-sama menolak institusi perkawinan. Mary Wollstonecraft samasekali tidak ragu, sebelum dirinya dan Godwin saling mencintai, dia telah melahirkan seorang anak perempuan dari hubungan dengan seorang lelaki dari Amerika Serikat bernama Imlay, menurut cerita, dia melahirkan anak perempuan ini karena pandangan politik lelaki tersebut searah dengannya; tujuan? Untuk membuktikan perkawinan sah adalah sangat tidak berarti.

~

 Mary Wollstonecraft Godwin Shelley, isteri sang penyair, sejak kecil hidup di dalam lingkungan begini, segala macam pendapat termasuk dari pemerintah dengan ibunya sebagai salah satu contoh dosa pembaharu ekstremis, seringkali melecutnya. Ayahnya, William Godwin, duduk di ruang tengah rumah tua yang penuh lemari buku, mengenang kecantikan, kebaikan, kepintaran dan keberanian isterinya. Mary kecil selalu berlama-lama duduk mendengarnya, mendengar ayahnya menceritakan kisah ibunya yang dia tidak pernah bertemu, tersentuh, sepenuh hati; mendengar sahabat-sahabat ayahnya, Coleridge, William Hazlitt, Charles Lamb, berbincang politik, sastra, dan filsafat, bahkan sering mengungkit -rupanya dia sangat menyerupai ibunya-. Ini membuat dia merasa tenang, bahagia, dan bangga. Dia sejak kecil sudah selesai membaca semua tulisan ibunya, maka setiap kali pergi ke pemakaman di St Pancras, ia hendak mengungkapkan semua pemahamannya kepada ibunya yang tidur panjang di bawah tanah. Dia demikian pasti demikian percaya diri, merasa dirinya tentu adalah kelahiran kembali ibunya. Sepanjang hidup, tanda tangannya tidak pernah melupakan kata Wollstonecraft yang panjang itu.

Menulis Perjalanan Malam

Puisi John Kuan

perempuan-kesepian
gambar diunduh dari lonelypinay.com

Terapung, terapung, seperti apakah ini?
Seekor camar di antara Langit dan Bumi
——— Du Fu

Dari sekeping cairan kristal aku mengayuh sampan turun
angin kelana bermimpi lari di cabang jalan berkerut
setiap situs jejaring telah lelap, siapa masih di dalam
satu kwatrin Tang membaca seruan air berlalu

Saat bayang letih di kursi aku pangku kembali
dan kembali, dengan puisi mencari satu perahu
berlabuh di tepi sungai sunyi, amat hijau
tunas rerumput, menjelma jadi coretan sandi menyerbu
masuk ke batang usia ranggas, berdiri senyap
di mulut jendela seluruh warna malam luntur

Tahun itu, gugusan bintang yang kita gembala
sudah semuanya pulang ke kampung halaman?
Di atas Jalan 49 Brooklyn, dengan cahaya bulan
mengalir dari Sungai Hudson, kulipat
ke dalam beberapa potong cerita terburai, juga
jejak pensilmu dan sindiranmu, malam-malam
di tengah gelombang kata menggulung bagai laut pasang

Puisi masih mau ditulis?
Aku mengerut diri ke dalam jejaring yang ramai tapi senyap
mengikuti surel, menjelma
jadi seekor yang terapung di antara langit dan bumi
camar, ingin sekali ingin sekali
di dalam mimpimu bagai ladang bagai kebun hinggap…

FBSI: Catatan dan Pengumuman Festival

Kurang lebih dua bulan berlalu sejak peluncuran Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI) di blog RetakanKata. Sebanyak tujuh belas blog perorangan turut serta dalam festival kali ini. Meski hanya tujuh belas, namun blog-blog tersebut menunjukkan kelebihan para pemiliknya yang tidak saja mengerti dunia kepenulisan namun juga mengerti bagaimana menggunakan teknologi untuk mendukung talenta menulis mereka. Terima kasih kami sampaikan kepada para blogger yang turut memeriahkan festival ini.

Satu bulan penilaian blog yang dimulai sejak Januari hingga Februari telah usai. Dan berikut ini disampaikan beberapa catatan hasil dari pengamatan blog-blog para peserta festival. Mudah-mudahan catatan ini memberi manfaat buat para sahabat blogger khususnya yang bergulat di bidang seni.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
https://retakankata.com/fbsi/

Secara umum, tampilan blog para peserta menarik dan menunjukkan ciri khas masing-masing. Sayang jika blog yang sudah menarik tersebut jarang sekali di-update. Blog yang sangat jarang di-update menyebabkan pengunjung malas untuk kembali mengunjungi blog Anda sebab tidak mendapat sesuatu yang baru. Ibarat tuan rumah, pemilik blog semestinya tidak membiarkan tamunya disuguhi “yang itu-itu saja.” Jika ada tamu yang mengajak Anda berbicara, tamu itu seperti berbicara di rumah kosong tak berpenghuni. Tentu hal semacam ini membuat mereka malas untuk kembali mengajak berbicara.

Selain itu, update blog tidak harus melulu masalah isi (content). Sahabar blogger bisa melakukan update tata letak (layout), tampilan yang salah seperti misalnya kode html muncul ke permukaan atau memeriksa link-link yang putus (broken links). Perawatan yang baik tentu bermanfaat bagi mesin pencari dan para pengunjung sehingga mereka tidak masuk ke tempat yang salah atau tersesat di blog Anda.

Tampilan yang baik, petunjuk arah yang jelas serta tidak banyak gangguan (noise), atau biasa disebut clean, membuat pembaca nyaman. Dan karena ajang ini adalah festival blog sastra, maka content tetap merupakan kekuatan utama sebuah blog. Maka dengan memperhatikan berbagai pertimbangan untuk memilih blog terpopuler dan terbaik, berikut ini adalah blog-blog yang berhak mendapat penghargaan dari RetakanKata.
 

de baron martha
Street Poems

Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,- adalah Blog STREET POEMS;
 
catatan ahmad saadilah
Catatan Diriku (Ahmad Saadillah)

Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,- adalah Blog CATATAN DIRIKU
 
sebuah tanya di ladang sunyi
Sebuah Tanya di Ladang Sunyi

Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,- adalah Blog SEBUAH TANYA DI LADANG SUNYI

 

Selamat kepada para pemenang dan silakan melakukan verifikasi dengan mengirim surel ke RetakanKata yang dilampiri data diri dan nomor rekening bank. Kami akan memverifikasi melalui nomor telepon genggam.

Salam sastra Indonesia!

Puisi-puisi Arinta Ds Tika

Bersama Gerimis

Melihatmu, seperti melihat gerimis datang
Berarah dan menetes setiap langkahnya
Merasakan hal yang ingin aku jumpai
Bersama gerimis dan bersamamu
Aku mengenalmu itu
Entah kapan aku akan berhenti mengenalmu
Aku selalu mengingatmu
Entah apa yang ingin aku lakukan
Mengenalmu dan berbagi cerita
Aku ingin bercerita tentang satu hal
Denganmu.. bersama angin dan gerimis

Mereka

Semua mengatakan tentang kebodohan
Entah apa yang mereka lakukan
Berdesir kuat saat aku tenang
Melamunkan satu hal yang awam
Mereka tak tau, dan mungkin tak kan tau tentang itu
Aku memilih satu subjek
Mereka memilih lebih dari aku
Aku tak percaya tentang kepastian hal
Mereka slalu mengatakan
Apa akan terus mendesir jika itu benar?
Uh… payah sekali hal itu
Kenapa aku harus bersimpati?
Kenapa juga aku harus memikirkan hal itu?
Bukankan hal itu akan membuat kita merasa mati?
Sia-sia dan tak kan pernah terjadi
Yah… itu hal konyol
Aku tak mengerti tentang mereka
Apa aku terlalu kolot tentang itu?
Jauh… aku sama sekali tak mengerti
Terlalu konyol untuk dipikirkan

tears become rain
gambar diunduh dari isgodasquirrel

Ingin Bersamamu

Hanya mengagumimu dari jauh
Mungkin itu sebab aku tak berkutik
Sama sekali..
Aku hanya ingin melihat malam saat ini
Bintang begitu cerah tanpa terluka
Aku melakukan dengan mataku
Melihat dan sesekali mencoba memohon
Apa kamu tau itu?
Sesekali melihat itu
Begitu indah..
Dan sesekali ingin melihatnya bersamamu
Uh.. aku hanya bermimpi
Semuanya tak kan terjadi
Dan aku sadar hal itu

Kamu

Hanya bergaung di lintasan kerdil yang suram
Berlutut hingga padam hatimu
Tak bisakah kamu melihat?
Bagaimana aku melakukan ini untukmu?
Kamu bergaung hanya untuk pembelaan
Harusnya kamu sadar
Tak bisakah kamu sadar?
Aku sedikit marah denganmu
Marah dan mungkin membencimu
Apa kamu mata, hanya untuk melihat?
Apa kamu telinga,hanya untuk mendengar?
Kamu tak akan sadar jika hanya bergaung
Rendah dan akan semakin rendah
Mulutmu benar tak berguna
Aku kira kamu super
Tak lain hanya kosong
Hanya itu…
Dan mungkin itu…

Penulis adalah pelajar di SMK Telkom Sandhy Putra Malang

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #3

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (3)

Oleh Hendi Jo

SEHARI USAI MENINGGALKAN Pelabuhan Oleh Le, secara resmi pimpinan pemberontakan mengeluarkan suatu  pernyataan pers dalam bahasa Belanda, Inggris dan Indonesia. Pernyataan yang dibacakan oleh Rumambi berbunyi sebagai berikut:

berita
berita kapal tujuh di media belanda

“Kapal perang ini kami ambil alih. Zeven Provincien pada waktu ini ada di bawah kekuasaan kami, anak buah kapal  Zeven Provincien  berbangsa Indonesia, dengan bermaksud menuju Surabaya. Sehari sebelum tiba kami akan menyerahkan komando kembali kepada komandan semula. Maksud kami melakukan aksi ini adalah untuk memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan! Keadaan dalam kapal aman tidak ada paksaan dan tidak ada orang yang terluka”

Pemerintah Hindia Belanda tentu saja tidak tinggal diam terhadap aksi pemberontakan tersebut. Lewat KM, mereka lantas  memerintahkan kapal perang Aldebaren untuk memburu Kapal Tujuh. Letnan Kolonel Laut Eikenboom  yang merasa terhina dengan aksi anak buahnya itu, turut serta dalam pengejaran itu.

Kendati berhasil menyusul Kapal Tujuh, namun  Kawilarang dan para marinir pemberontak tidak memberi kesempatan sedikitpun Aldebaran  untuk mendekat. Mereka mengirimkan isyarat jika kapal perang itu mendekat maka akan langsung ditembak. Aldebaran pun gentar dan menghentikan pengejarannya.

Habis Aldebaran muncul Goudenleeuw. Kapal perang penyebar ranjau itu dalam  kenyataannya tak memiliki nyali untuk mendekat. Mereka hanya bisa mengikuti kapal Tujuh dalam radius yang sangat jauh. Kenapa dua  kapal perang terkemuka milik KM itu sebegitu ciut nyalinya? Rupanya diantara ketiga kapal itu, Kapal Tujuh-lah yang memiliki kelengkapan paling canggih (saat itu)  termasuk tersedianya meriam yang paling besar dan persenjataan yang paling kuat.

Pada 5  Februari, Kapal Tujuh sudah memasuki wilayah Pulau Berueh. Besoknya, mereka merambah Pulau Simeuleu, Pulau Nias, Tapaktuan, Pulau Sinabang. Tepat jam 9 pagi, pada 10 Febuari 1933,  Kapal Tujuh berada di perairan Selat Sunda. Di laut sempit pembatas Sumatera dan Jawa itulah, Kapal Tujuh dikepung oleh 3 kapal perang (Goudenleeuw, Sumatera dan Java), dua kapal pemburu torpedo (Piet Hien dan Evetsen) dan dua skwardon Dornier (pesawat pemburu yang dilengkapi bom seberat 50 kg).

Sebelumnya, semua anak buah kapal bumiputera di kapal perang  Java, Sumatera, Piet Hein dan Evertsen yang dicurigai, telah di turunkan di Pelabuhan Surabaya dan senjata mereka telah dilucuti. Itu dilakukan sebagai bentuk tindakan antisipasitif pihak militer Hindia Belanda. Dikhawatirkan jika melibatkan pelaut bumiputera dalam pengejaran mereka akan menolak untuk menembak kawan sebangsanya.

Kapal perang Java  yang dipimpin oleh Van Dulm memberikan ultimatum agar Kapal Tujuh segera menyerah. Alih-alih takut terhadap ultimatum tersebut, Kapal Tujuh malah mengarahkan moncongn Meriam 28 ke arah kapal perang Java. Van Dulm mengancam lagi akan menyapu bersih Kapal Tujuh dari permukaan laut jika tidak mau menyerah. Tetapi lagi-lagi Kawilarang, Rumambi, Paradja, Boshart dan para marinir pemberontak lainnya,  enggan menyerah: “Kami tidak mau diganggu dan akan meneruskan pelayaran menuju Surabaya” jawab Kawilarang.

awak kapal tujuh ditangkap
awak kapal tujuh ditangkap

Begitu ultimatum ditolak, terdengar dengungan mesin pesawat terbang Dornier D 11 di atas Kapal Tujuh. Mereka mengirim pesan agar Kapal Tujuh menyerah saja. Tetapi rupanya urat takut Kawilarang dan kawan-kawannya  sudah putus. Mereka bertekad tidak mau menyerah dan tetap akan melanjutkan perjalanan sampai Surabaya.

Sepuluh menit berlalu tanpa jawaban. Deru pesawat Dornier terdengar seperti ribuan tawon yang ingin menerkam mangsanya. Rupanya mereka tengah menyiapkan formasi untuk menyerang. Pesawat Dornier pertama mulai menukik dan membuang bom seberat 50 kg itu.  Bom pertama hanya mengenai lautan biru Selat Sunda dan luput mengenai sasaran.

Pesawat Dornier kedua seperti marah. Ia menukik, bermanuver dan bergerak  cepat menghunjam ke arah geladak Kapal Tujuh. Serentetan tembakan senapan otomatis menyambut serangan si burung besi tersebut. Luput. Sebaliknya bom kedua yang dijatuhkan tepat mengenai geladak kapal. Bunyi dasyat mengerikan pun terdengar diiringi jeritan para marinir pemberontak yang tengah bertahan di Kapal Tujuh.

J Pelupessy  yang tengah bertahan dengan senapan otomatisnya mendapat luka-luka cukup parah. Namun ia sempat melihat rekannya, Sagino yang kehilangan sebelah mata mendekati dirinya sambil berkata lirih namun tegas,  “Pessy tolong aku, inilah nafasku yang penghabisan, aku yakin Kerajaan Belanda tidak lama lagi akan tamat riwayatnya. Dan bagi kita, tempat ini bukan Selat Sunda  tapi Selat Kapal Tujuh!”

Sagino kemudian melepaskan nyawanya.  Disusul oleh  marinir lainnya: Amir, Said Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad Basir, Simon dan sang komandan: Paradja.

Kondisi Kapal Tujuh sendiri benar-benar lumpuh. Saat para marinir itu bahu membahu membentuk pertahanan,  sebuah bom meluncur lagi dari udara, menimbulkan desis mengerikan dan waktu itu pula langsung  memusnahkan sejumlah besar manusia yang berdiri menonton pesawat-pesawat terbang. Begitu bom jatuh, Boshart ingat dirinya terpelanting di atas geladak dan secara refleks ia berdiri lagi untuk mencari perlindungan.

Ia kemudian lari menuju bagian depan. Dan menyaksikan kawan-kawannya seperjuangan tergeletak di atas geladak dengan tubuh yang sudah terbagi-bagi menjadi potongan-potongan kecil. Ada yang terbakar, ada yang berguling-guling dan mandi dalam darahnya dengan luka-luka yang sangat mengerikan. Boshart menyaksikan pula seorang karibnya terluka membentuk lubang sebesar kepalan tangan manusia dewasa di dadanya. “Saya menangis, saya tidak dapat menahan air mata saya ketika menyaksikan pemandangan seperti itu,” kenangnya.

****

pemberontak dibawa ke pengadilan militer
pemberontak dibawa ke pengadilan militer

KAPAL TUJUH akhirnya takluk. Para pemberontak berbangsa Indonesia lantas diangkut dengan kapal perang  Java  sedangkan yang berbangsa Belanda diangkut dengan kapal Orion. Kapal pemburu  Eversten mengangkut para marinir yang gugur dan kemudian  memakamkan mereka dalam satu lobang di Pulau Kerkhof (Pulau Kelor), sedangkan rekan-rekannya yang berbangsa Belanda di Pulau Purmerend (Pulau Bidadari). Dua pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.

Para pemberontak yang masih hidup diborgol dengan rantai dan dimasukkan ke dalam kamp tawanan di Pulau Onrust. Itu nama sebuah pulau karang bekas galangan kapal-kapal VOC yang terletak di sebelah utara Batavia. Di sana mereka ditempatkan dalam sebuah barak  yang dikepung oleh sebuah tembok setinggi orang dengan atap terbuat dari seng. Diantara atap dan tembok terdapat ruang kosong setengah meter yang ditutup dengan kawat berduri.

Peraturan di barak tersebut sangat ketat. Setiap lima tawanan diborgol secara berantai. Jadi jika ada salah seorang tawanan yang ingin mandi atau buang hajat misalnya, otomatis keempat tawanan lain yang terhubung dengan rantai harus ikut pula.  Di Onrust juga diterapkan peraturan: ” Siapa yang melalui ruang terbuka akan ditembak tanpa peringatan. Jikalau membuat ribut, maka granat tangan akan dilemparkan tanpa peringatan ke dalam barak. Tindakan ini diambil juga terhadap kelasi-kelasi yang berani tertawa atau berbicara dengan suara keras,” ungkap Boshart.

Para tawanan yang tidak mau menandatangani pernyataan bersalah dihukum dengan tidak diberi makan selama 3 hari. Para tawanan yang diperiksa tidak boleh berpindah dari pusat atau melewati batas lingkungan yang diberi tanda garis di lantai dengan kapur. Mereka juga harus berdiri dari pagi sampai sore dengan tangan terborgol sambil dicaci maki oleh para serdadu bersenjata lengkap.

Tujuh bulan lamanya mereka menjadi penghuni “neraka” Onrust.  Hingga pada 19 September 1933, mereka dipindahkan ke Penjara Sukolilo kecuali Kawilarang dan Boshart (karena dianggap pentolan pemberontak paling berbahaya). Mereka berdua ditahan  di Batavia.

Dalam catatan Departemen van Marine (Departemen Kelautan Kerajaan Belanda), ada sekitar 545 marinir bumiputera dan 81 marinir bangsa Belanda dan Indo yang ditahan terkait pemberontakan di Kapal Tujuh. Itu sudah termasuk 182 awak Kapal Tujuh yang dipenjara di kamp konsentrasi Onrust.

Atas terjadinya Insiden Kapal Tujuh itu, Gubernur Jenderal De Jonge sendiri mendapat kecaman keras dari media-media Eropa dan Amerika Serikat. Ia dinilai tidak becus memimpin sebuah koloni terutama soal mengurus disiplin dan kesehjateraan tentaranya di Hindia Belanda. Sementara itu di tanah air, serangan bertubi-tubi pun dilontarkan oleh para jurnalis anti kolonial seperti Raden Tahir Tjindarboemi dari Harian Soeara Oemoem. Imbasnya,  harian milik Dr.Soetomo itu diberedel dan Raden Tahir Tjindarboemi dipenjara.

Lalu menyesalkah para marinir  yang melakukan pemberontakan di Kapal Tujuh tersebut? “Dihukum mati pun saya merasa bangga, karena bagaimanapun saya pernah memimpin De Zeven Provincien, kapal perang kebanggaan Kerajaan Belanda,”ujar Kawilarang, saat pengadilan Mahkamah Militer Hindia Belanda menjatuhkan hukuman 17 tahun penjara baginya. Kebanggan itu pula yang puluhan tahun kemudian masih dimiliki oleh Agih Subakti,seorang putera dari salah satu rekan seperjuangannya.

****

Baca sebelumnya: Pemberontakan Kapal Tujuh

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #2

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (2)

Oleh Hendi Jo

PELABUHAN SABANG, 27 Januari 1933. Belasan kelasi pribumi tengah membersihkan lantai Kapal Tujuh yang sedang menurunkan jangkar di sana. Beberapa di antaranya, ngobrol dalam suara berbisik. Ketegangan meliputi wajah-wajah sawo matang tersebut. Pasalnya adalah keterangan dari seorang Kopral berkebangsaan Belanda yang mendapat informasi A1 (sangat valid) dari radio bahwa hari-hari itu tengah terjadi pemogokan besar-besaran memprotes penurunan gaji yang dilakukan oleh kawan-kawan mereka di Surabaya.

pemimpin pemberontak
maud boshart pemimpin pemberontakan kapal tujuh

Kopral Maud Boshart—nama salah satu marinir Belanda totok  yang pro pemogokan—kelak memberi kesaksian bahwa berita tersebut menjadi percikan awal dari api pemberontakan yang beberapa hari kemudian akan berkobar di Kapal Tujuh. “Kami semua resah, karena secara politis kami sangat mendukung aksi-aksi yang dilakukan oleh para marinir di Surabaya itu,”tulis Boshart dalam Muiterij in de Tropen (Pemberontakan di Daerah Panas).

Kasak-kusuk para marinir tersebut  pada akhirnya mengerucut kepada rencana pemufakatan gelap untuk membahas soal itu besok harinya. Tempatnya mereka tentukan di sebuah gedung bioskop yang terletak di pusat kota Sabang. Dengan alasan untuk merayakan Hari Idul Fitri, permohonan izin pun kemudian diajukan ke Komandan Kapal yang bernama Eikenboom, seorang Belanda yang memiliki pangkat paling tinggi di Kapal Tujuh yakni Letnan Kolonel Laut.

Awalnya para perwira Belanda tidak menaruh syakwasangka dengan pengajuan izin para kelasi pribumi untuk turun ke darat itu. Kecurigaan mulai muncul saat mereka mengetahui ada 30 marinir bangsa Belanda pimpinan Maud Boshart dan Hendrik yang ikut turun juga ke darat. Pikir mereka, apa perdulinya orang-orang Belanda yang Kristen itu ikut-ikutan merayakan Hari Lebaran?

Tak mau ambil resiko, Eikenboom pun lantas berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat. Dan jadilah pertemuan yang tadinya akan bersifat rahasia itu itu diawasi oleh polisi. Namun dalam situasi  kritis itu, tiba-tiba terjadi kebakaran besar di pusat kota. Saya menduga, peristiwa itu bukan suatu kebetulan.Bisa jadi itu sesungguhnya merupakan  bagian skenario yang sudah dibuat para  marinir itu  untuk menghindari pengawasan polisi lokal.

Namun terlepas dari benarnya tidaknya dugaan itu, yang jelas saat terjadi kepanikan tersebut, semua polisi yang menjaga pertemuan para marinir itu seolah lupa dengan tugas utama mereka. Alih-alih tetap siaga di tempat, mereka dengan tergopoh-gopoh malah berlarian kearah pusat api. Begitu lepas dari pengawasan polisi, rapat kilat pun dilakukan. Pidato-pidato keras menolak penurunan gaji serta dukungan terhadap aksi Surabaya dengan lantang disuarakan.

Rombongan para polisi pengawas baru datang setelah acara rapat akan berakhir. Kendati luput mendengar pidato-pidato revolusiener dari para marinir, mereka sempat juga mendengar “para lelaki laut” itu mengumandangkan hymne perjuangan kaum buruh dunia yakni Internationale.

“Werkers, waar g’ ook zwoegt en lijdt Zijn wij niet van enen bloede? Striemt ons niet dezelfde roede? Een in’t juk, dat w’ allen dragen Een de strijd, die heft te wagen‘t Ganse proletariat

(Buruh, di mana saja kau membanting tulang dan menderita Tidakkah kita ini berasal dari satu darah? Tidakkah cambuk yang sama menghantam kita? Satu dalam beban yang kita sekalian pikul Satu saja perjuangan yang berani menempuh Segenap kekuasaan proletariat”.)

Berita pengumandangan lagu Internationale tersebut, tak pelak membuat khawatir para perwira Belanda di Kapal Tujuh. Terlebih dari hari ke hari, mereka mendengar dari radio, aksi pemogokan para marinir Surabaya alih-alih berhenti malah semakin menggila. Karena itu adalah wajar jika kemudian mereka mulai menghubung-hubungkan dan timbul curiga pengaruh “Revolusi Surabaya” telah menyelusup sampai ke tubuh Kapal Tujuh.

Sebagai upaya mengantisipasi terjadinya pergolakan di Kapal Tujuh, pada 31 Januari 1933, Eikenboom mengumpulkan semua awak kapal. Di hadapan 460 para marinir Kapal Tujuh, ia mengatakan: “Berita yang saya terima mengatakan bahwa sekarang ini telah terjadi pemogokan di kalangan marinir di Surabaya. Saya harap jangan sampai kalian meniru contoh yang jelek untuk mengadakan pemogokan juga di kapal ini dengan alasan bahwa kalian tidak dapat menyetujui penurunan gaji. Saya sangat menyesal bilamana kalian berbuat sesuatu yang tidak baik, karena di kapal ini sayalah yang bertanggung jawab. Jadi saya harap semua ABK Tujuh jangan sampai ikut dalam aksi pemogokan seperti yang terjadi di Surabaya itu!”

Bagi para sebagian besar awak Kapal Tujuh, pidato Eikenboom justru seperti  membongkar api dalam sekam. Alih-alih membuat mereka menjadi lebih tenang, keinginan berontak justru semakin berkobar. Setelah melakukan serangkaian pertemuan diam-diam, para pimpinan awak kapal pribumi seperti Sukantaparadja, Rumambi, Gosal dan beberapa kawan-kawan mereka yang berkebangsaan Belanda namun pro terhadap perjuangan menuntut kenaikan gaji, sepakat untuk menjalankan sebuah pemberontakan.

Rencananya mereka akan mengambil alih kekuasaan atas Kapal Tujuh. Setelah itu,  para pemberontak akan mengarahkan kapal kembali menuju Surabaya. Tujuannya, selain untuk membebaskan kawan-kawan mereka yang ditahan di Sukolilo, juga untuk menarik perhatian internasional terhadap  upaya perjuangan mereka.

“Selama ini, saya sering mendengar para perwira kami  mengejek bahwa kelasi-kelasi inlander tak lebih hanya penggosok tembaga saja. Mereka bilang, sebenarnya  kalian sangat tidak pantas ada di sebuah kapal perang milik Kerajaan. Saya pikir, inilah waktunya  untuk kawan-kawan membuktikan bahwa kaum pribumi pun dapat juga memimpin kapal perang dan menyumpal omong kosong mereka yang selalu menghina kita!” seru Boshart  dalam sebuah pidato terakhir untuk merencanakan pemberontakan tersebut.

Sebagai komandan pemberontakan, para awak kapal memilih Kawilarang. Ia dibantu oleh Rumambi, Gosal, Paradja, Tumuhena, Suwarso, Hendrik dan Boshart. Mereka percaya bahwa sebuah pemberontakan lintas kebangsaan akan berlangsung di sebuah kapal perang kolonial!

kapal pemberontakISU PEMBERONTAKAN di Kapal Tujuh bukannya tidak diketahui oleh para perwira kapal perang tersebut. Namun rupanya, sikap merendahkan potensi inlander lebih dominan bersingasana di benak mereka. “Babi-babi itu hendak melarikan sebuah kapal yang begitu besar? Itu tidak masuk akal, sedangkan sebelah kanan kapal saja mereka tidak dapat membedakan dari sebelah kirinya, apalagi melarikan sebuah kapal yang begitu besar !”ujar Eikenboom saat dilapori anak buahnya kelak saat  para marinir sedang menyiapkan pemberontakan di kapalnya.

Tidak ada upaya antisipasi terhadap isu  pemberontakan itu. Alih-alih begerak cepat menangkap para marinir yang dianggap sebagai pentolan pemberontakan, para elite pimpinan Kapal Tujuh malah membuat situasi blunder. Bentuknya, mereka memilih untuk pergi ke pesta dansa di kantin KNIL di Uleelheue, Aceh.

“Pesta yang menghadirkan noni-noni Belanda itu, konon menelan biaya sampai 500 gulden,” tulis M. Sapiya dalam Pemberontakan Kapal Tujuh.

Untuk “mendinginkan” para marinir bumiputera, pada 4 Februari siang, Eikenboom malah menyelenggarakan pertandingan sepakbola  antara anak buah kapal Tujuh dengan pihak tentara Angkatan Darat (KNIL) pada 4 Februari. Pertandingan persahabatan itu berakhir dengan kekalahan para marinir KM dalam skor 2-4.

Usai magrib, suasana tenang masih meliputi Kapal Tujuh. Para anak buah kapal terlihat santai. Di geladak, beberapa di antara mereka, masih terlibat perbincangan sekitar pertandingan sepakbola tadi siang. Sementara itu, rangkaian bunga sebagai tanda penghormatan dari pihak KNIL masih segar tergantung di dekat tangga kapal. Belakangan Boshart  mengakui rangkaian bungai itu sengaja digantungkan oleh dirinya, sebagai taktik  untuk mengelabui suasana tegang sebagian besar awak Kapal Tujuh yang tengah bersiap menjalankan pemberontakan.

“Rupanya pra kondisi yang kami lakukan berhasil, sekitar jam 8 malam Eikenboom,  Meijer dan para perwira tanpa curiga memutuskan turun ke daratan untuk menghadiri pesta dansa di Aceh Club,”tulis Boshart.

Begitu iring-iringan para perwira tersebut hilang dari pandangan dan situasi dinilai kondusif, secara cepat Kawilarang  mengatur tugas  para kelasi bumiputera  untuk menduduki pos-pos yang telah ditetapkan. Wahab, Saleh, Katenghado dan Manuputty memegang kemudi kapal, beberapa orang lainya mengurus mesin pengangkat jangkar, menyiapkan peta-peta untuk pelayaran menyusuri pantai Sumatera.

“Sementara para marinir bumiputera dipimpin langsung oleh Kawilarang, maka para marinir Belanda dan Indo dipimpin oleh saya dan Dooyeweerd,” ujar Boshart

Setengah jam setelah kepergian para perwira tersebut, Kawilarang memerintahkan ABK Subari (yang bekerja dalam ruangan makan para perwira) untuk memeriksa semua pistol yang ada di ruangan perwira. Ia pun memerintahkan ABK Hardjosuria (yang bekerja di dalam ruang makan bintara) untuk memeriksa tempat penyimpanan gewerrek  (senjata kokang)  dan gudang amunisi  meriam 28 cm.

Para pemberontak pimpinan Boshart juga tak kalah cepat bergerak. Mereka masuk melalui schoorsteen  (cerobong asap) kapal dalam gerak senyap dan turun ke bawah menuju kamar mesin dengan dibantu oleh kawan bumiputera yang bernama Ali Partodihardjo. Setiba di kamar mesin, mereka mulai memanaskan mesin sedemikian rupa sehingga orang tidak dapat menduga bahwa mereka sedang mengadakan persiapan untuk memberangkatkan kapal.

Di bagian lain,  para kelasi bumiputera  pimpinan  Parinussa dan Suwarso mengawasi gerak para marinir Belanda yang dicurigai dan juga membantu menaikkan sekoci jika kapal berangkat.Semua tugas tersebut dilakukan sebelum pemberontakan dimulai. Salvo tanda dimulainya pemberontakan dilakukan dengan jalan meniup bootsmanfluitje (peluit serang) yang dilakukan oleh Kawilarang sendiri sebagai komandan tertinggi kapal.

Sekitar pukul 10 malam, para petugas  piket berkebangsaan Belanda ribut. Saat memeriksa, pimpinan mereka yang bernama Letnan (Laut Kelas Dua) Van Boven mendapati peluru-peluru dalam lemari di atas geladak raib. Mereka lantas mencari Paradja yang menjadi penanggungjawab keberadaan peluru-peluru tersebut di Kapal Tujuh. Saat ditemui, Paradja ada dalam situasi yang tengah santai di geladak kapal dekat Meriam 28: bercelana jeans pendek dan berkaos oblong.

Demi menyaksikan pemandangan tersebut, Van Boven menegur keras Paradja sambil memerintahkan untuk segera berpakaian lengkap dan pergi menghadap atasannya di daratan. Mendapat teguran keras tersebut, Paradja naik pitam. Alih-alih, menemui atasanya untuk melapor, ia  malah turun ke ruangan makan khusus untuk kelasi bumiputera, tempat para pemberontak bersenjata lengkap tengah bersiap.

“Hai, saudara-saudara sekalian, sekarang sudah tiba saatnya untuk berontak, marilah kita berontak, ayo, serbu sekarang!” teriaknya.

Salah satu orang Belanda yang ikut memimpin pemberontakan: Maud Boshart

Kawilarang yang mendengar suara Paradja langsung meniup peluit serangnya sebagai tanda pemberontakan dimulai pada jam 10 malam itu. Begitu peluit berbunyi, seluruh lampu kapal tiba-tiba padam diiringi aksi penyerangan mendadak dibawah pimpinan Paradja, Gosal, Sudiana, Mitje J, Parinussa dan Suahardjo serta para ABK bangsa Belanda dan Indo  pimpinan Boshart dan Dooyeweerd. Lima belas pemberontak lainnya langsung menguasai dan bekerja di kamar mesin.

”Seluruh pasukan lawan dapat kami lumpuhkan dan semua ruangan dalam kapal akhirnya kami bisa kuasai, kecuali ruang radio,” kisah Boshart.

Untuk menguasai ruangan radio tersebut, Kawilarang memerintahkan pasukan Boshart untuk menanganinya. Begitu pasukan pemberontak sampai di ruangan radio, terlihat perwira Belanda bernama Baron Devos Van Steenwijk  tengah menghardik seorang kelasi Belanda untuk segera menyiarkan terjadinya pemberontakan di Kapal Tujuh.

Boshart balik membentak Baron Devos. Dengan mengacungkan pistolnya, marinir yang merupakan aktivis serikat buruh sosialis itu berteriak “Ga Weg, jij, of ik schiet (pergi dari situ atau kau aku tembak)!”Demi melihat ramainya para marinir  sebangsanya datang bersenjata lengkap dan memandangnya dengan mata penuh ancaman,  perwira radio itu pun memutuskan untuk menyerah.

Dua perwira berkebangsaan Belanda: Vels dan Bolhouwer -yang pada malam itu ditugaskan untuk mengawasi kapal selama Eikenboom dan perwira lainnya turun ke daratan- berhasil lolos. Saat proses penguasaan Kapal Tujuh dilakukan, mereka diam-diam meloloskan diri lewat patrijspoort (jendela kapal) dan berenang menuju daratan. Seorang kelasi bumiputera coba membidik mereka.Namun sayang, tembakannya luput. Bisa jadi mereka berdua radiusnya sudah terlalu jauh.

Beberapa perwira Belanda lainnya juga ada yang berhasil lolos. Sebelum meloloskan diri, mereka sempat mengunci kemudi kapal, hingga tak bisa digunakan oleh para pemberontak.  Di tengah kesulitan karena kemudi terkunci, Kawilarang dengan tangkas menggunakan dua buah mesin (stuurboord dan backboard) sebagai pengganti kemudi yang sudah lumpuh itu. Kendati Pelabuhan Oleh Le banyak dipenuhi oleh pulau-pulau kecil dan ranjau-ranjau karang, pelaut asal Sulawesi itu berhasil membawa kapalnya dengan selamat keluar dari pelabuhan tersebut.

Lepas dari Pelabuhan Oleh Le,  Kapal Tujuh memutar haluannya menuju Surabaya. Atas perintah Kawilarang, kemudi yang terkunci dengan slot merek Lips, dibongkar paksa dengan mengggunakan sebuah palu besi  seberat 8 kg. Dengan demikian kemudi Kapal Tujuh itu dapat berfungsi kembali.

***

Baca Sebelumnya: Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih

Baca Selanjutnya: Pemberontakan Kapal Tujuh Kalah

I’ll Be Waiting For You

Cerita Phelina Felim

Aku mengenakan sebuah gaun berwarna coklat selutut dengan sebuah syal melingkari leherku. Dengan cepat aku mengambil tas dan payung transparanku keluar kamar asramaku. Di luar hujan sangat deras. Aku membuka payung dan berlari keluar untuk mencari taksi. Hari ini aku akan menemui seseorang di sebuah bandara, seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Aku mengenalnya melalui situs jejaring sosial. Dia pria yang menyenangkan, umurnya 26 tahun, 5 tahun di atasku. Sayangnya ia tidak pernah memasang foto dirinya di sana dan menurut khayalanku, ia adalah seorang pria yang tampan, tinggi, dan putih, mengingat bahwa ia mengaku dirinya adalah keturunan chinese, sama denganku.

Setelah kurang lebih satu tahun aku mengenalnya, aku merasa aku mulai menyukainya, bahkan bisa dibilang aku jatuh cinta padanya. Konyol, memang, tapi aku tahu hatiku tidak pernah berbohong. Kami tinggal di kota yang sama, tapi aku tidak pernah sekalipun menerima ajakannya untuk bertemu. Aku takut kecewa, takut bila semuanya tidak sesuai dengan harapanku, takut dia juga tidak menyukaiku dan hubungan kami akan kandas begitu saja. Dia memaklumi alasanku untuk tidak menemuinya. Aku senang ia mau memahamiku.

Namun kemarin saat kami sedang mengobrol di chatting, kabar buruk itu datang secara mendadak. Pria itu bilang bahwa ia akan keluar negeri untuk waktu yang lumayan lama dan kemungkinan kami untuk sering ngobrol pun akan berkurang. Aku sedih sekali mendengarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk menyusulnya ke bandara hari ini. Aku juga sudah memberitahunya hal ini dan ia sangat antusias dengan keputusanku ini.

Sialnya hari ini aku bangun kesiangan. Pesawat akan berangkat pukul 11 dan aku baru bangun pukul 10. Dengan cepat aku mandi, mungkin mandi tercepat yang pernah kulakukan dan langsung berangkat ke bandara. Dan di sinilah aku berada, di dalam taksi yang tengah melewati jalanan yang ramai menuju bandara. Hatiku sangat gelisah. Aku terus saja memandangi jam tangan, sebentar lagi pukul 11 dan aku masih setengah perjalanan.

Singkat cerita, aku sampai di bandara pukul 11.15, pupus sudah harapanku untuk bertemu dengannya. Tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya, aku berharap pesawatnya akan mengalami delay. Aku langsung berlari menuju sebuah cafe di mana aku dan dia berjanji untuk bertemu kemarin. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe, berusaha mencari sosok pria yang kucari, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Aku berharap instingku bisa diandalkan kali ini. Begitu banyak pengunjung di cafe itu dan aku tidak tahu pria itu di mana.

“Ada yang bisa saya bantu?” seorang wanita pelayan cafe menghampiriku.

“Ah, aku sedang mencari seseorang.”

“Apakah anda yang bernama Xiao Ling?”

“Ah iya! Dari mana anda tahu?”

“Tadi ada seorang pria yang menitipkan pesan bahwa ia sudah harus pergi ke ruang tunggu pesawat dan ia menitipkan surat ini.”

Aku kecewa dan kakiku langsung lemas. Sudah terlambat, aku tidak bisa lagi menemuinya.

“Tapi tadi saya dengar pesawat yang ditumpangi pria itu mengalami delay setengah jam. Anda pasti mengharapkan seperti itu bukan? Pria itu juga berharap begitu, tadi ia mengatakannya padaku.”

“Benarkah?”

“Pergilah.”

“Apa?”

“Kejar dia. Mungkin dia masih ada di ruang tunggu pesawat.”

Aku mematung sejenak kemudian tersenyum gembira.

“Baiklah, terima kasih!”

Aku pun berlari sambil menangis. Aku sungguh berharap aku masih sempat. Sambil menggenggam surat darinya, aku tidak berhenti berlari. Sesampainya di ruang tunggu aku mengedarkan padanganku. Aku terus berdoa dalam hati, kembali mengandalkan instingku untuk mengenalinya. Aku menutup mata, meminta bantuan Tuhan untuk menemukannya. Tapi saat kubuka mataku dan kembali memandangi seluruh ruangan, aku belum juga menemukannya. Ya, Tuhan, yang mana dirinya? Mengapa susah sekali mengenalinya? Kenapa dia tidak pernah memasang fotonya di situs sosial itu? Dasar bodoh!

Tiba-tiba saja mataku tertuju pada satu titik. Ada seorang pria tidak jauh dariku yang sedang memainkan ponselnya dengan serius. Sesekali ia mendekatkan ponsel itu di telinganya. Pria itu tampak gelisah. Wajahnya putih dan tampan, sesuai dengan khayalanku tentang pria yang kukenal itu. Lalu aku tersadar. Ponsel! Mengapa aku begitu bodoh? Sekarang aku hidup di jaman apa?! Aku kan bisa menghubungi ponselnya. Bodoh sekali aku.

Aku mengeluarkan ponsel dari tasku. Ada 20 misscall di sana. Sejak kemarin aku memang men-silent ponselku, kebiasaanku saat hendak tidur supaya aku tidak terganggu bunyi SMS di pagi-pagi buta dan aku lupa mengaktifkan nada deringnya lagi karena bangun kesiangan. Betapa terkejutnya saat kubuka siapa yang misscall itu. Semuanya dari pria itu. Aku hendak meneleponnya balik saat tiba-tiba ponselku berdering lagi dan jantungku berhenti berdetak begitu melihat namanya. Pria itu! Berarti ia belum naik ke pesawat. Harapanku kembali timbul. Aku berdebar-debar saat mengangkatnya.

“Ha.. Halo..” kataku grogi.

“Hei, akhirnya kau angkat juga. Kau di mana? Tidak jadi datang? Kau tidak apa-apa kan? Aku menunggumu dari tadi. Aku khawatir sekali. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” nadanya terdengar kecewa dan cemas. Aku senang ia mengkhawatirkanku.

“A.. Aku bangun kesiangan. Maaf..”

“Syukurlah, aku kira kau kenapa-kenapa. Jadi kau sekarang masih di asrama?”

Aku terdiam. Haruskah aku mengakuinya? Sejujurnya aku masih takut untuk menemuinya, tapi kapan lagi? Ini kesempatan terakhirku.

“Aku.. Aku sudah di bandara.”

“Apa?! Kau di mana?” suara pria itu terdengar sedikit keras sehingga aku menjauhkan sedikit ponselku. Seketika itu juga aku melihat pria tampan tadi berdiri dari kursinya dan melihat-lihat ke sekelilingnya. Jantungku semakin berdetak cepat. Apakah pria itu yang aku cari?

Da Dong ge* , kau di mana sekarang? Kau pakai baju apa?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku sudah di ruang tunggu bandara. Aku memakai kemeja berwana biru dan celana putih. Hey, kenapa kau menanyakan hal itu? Kau di mana sekarang?”

“Aku.. Aku sedang melihatmu, ge.. Aku juga ada di ruang tunggu sekarang.”

Ya benar! Pria tampan itulah yang sedang kucari, dan begitu mendengar jawabanku pria itu terdiam sejenak. Matanya mengelilingi ruang tunggu dan kemudian berhenti saat pandangannya terarah kepadaku. Jantungku berdebar cepat. Da Dong mengenaliku? Benarkah?

“Kau mengenakan gaun coklat dengan syal hitam di lehermu?” Aku melihat pria itu menggerakkan bibirnya sambil terus menatap ke arahku. Ponselnya masih di telinganya. Aku mengangguk pelan.

“Iya..”

Pria itu kemudian menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Ia berjalan menghampiriku. Jantungku semakin cepat berdetak, rasanya ingin pingsan saja. Pria tampan itu benar-benar Wang Dong Cheng, yang biasa aku panggil Da Dong. Dialah pria yang selama setahun ini membuat hari-hariku semakin berwarna. Dialah pria yang kucintai, meski aku tidak pernah bertemu dengannya.

Semakin dekat ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Perlahan aku menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku gaunku, tepat saat Da Dong sudah berdiri di hadapanku.

“Kau.. Xiao Ling?”

Aku mengangguk. Air mataku sudah tak terbendung. Aku bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

“Hey, kenapa kau menangis?” Da Dong menghapus air mataku dengan jarinya yang hangat. Hatiku senang dan hangat karena sentuhannya.

“Kau.. tidak kecewa bertemu denganku?” aku bertanya dengan hati-hati.

“Kenapa aku harus kecewa? Kau.. cantik.. Rambutmu.. Kupikir rambutmu panjang seperti di foto profilmu. Makanya aku tidak mengenalimu tadi.”

“Y.. Ya.. Aku memotong rambutku 3 bulan yang lalu. Itu foto lamaku. Ke.. kenapa? Terlihat aneh?”

“Tidak. tentu saja tidak. Kau.. cantik.. sungguh..”

Aku tersenyum.

“Kau sendiri? Tidak kecewa bertemu denganku? Kau selalu bilang bahwa kau takut kalau kita bertemu. Kau takut kecewa saat tahu wajahku tidak seperti bayanganmu kan?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Hey, kita sudah satu tahun berteman. Walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu, bukan berarti aku tidak mengenalmu. Aku tahu semua isi hatimu.”

Wajahku memerah. Semua isi hatiku? Apakah dia juga tahu bahwa aku menyukainya?

“Jadi? Kau kecewa?” tanyanya lagi.

“Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang, sungguh.”

“Karena wajahku tampan? Karena itukah kau senang? Tapi jika wajahku jelek, kau akan kecewa?”

Bukan! Bukan itu maksudku.. Bagaimana mungkin ia berpikir seperti itu?!

“Hahaha..” tiba-tiba ia tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku tahu kau tidak akan kecewa bagaimanapun penampilanku. Kau sudah datang ke sini saja, itu sudah menandakan bahwa kau serius berteman denganku, tidak peduli bagaimana wajahku nantinya kan?”

Aku mengangguk cepat. Aku memang menyukainya, tidak peduli bagaimana penampilannya. Mungkin aku memang akan sedikit kecewa apabila tidak sesuai dengan khayalanku selama ini, tapi aku sudah terlanjur menyukainya, mencintainya!

“Kau suka padaku?” pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuatku terbelalak.

kiss goodbye
gambar diunduh dari iiayayarahayu.blogspot.com

“A.. apa?”

“Hahaha.. Kau ini lucu sekali!”

Ugh, ternyata ia hanya mempermainkanku! Aku merengut.

“Ehm.. Maaf.. Tapi.. Pertanyaanku serius. Kau menyukaiku?”

Aku jadi salah tingkah. Wajahku memanas. Haruskah aku mengatakan ya? Tapi jika ia tidak punya perasaan yang sama, bagaimana?

“Sayang sekali bila kau tidak menyukaiku. Berarti aku baru saja patah hati.”

“Apa?” Maksudnya? Dia..?

“Aku menyukaimu. Ehm.. Aku mencintaimu.” Da Dong memandang mataku dengan tatapan yang sangat dalam. Wajahku kembali memanas, pasti sekarang wajahku sudah memerah sekarang.

“Kau menyukaiku?” aku bertanya ragu.

“Ya..” Da Dong menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. “Mungkin ini terdengar bodoh, padahal aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi setiap kali aku ngobrol denganmu di telepon, atau bahkan melihat namamu sedang online, hatiku berdebar, aku senang sekali, ingin selalu berbagi cerita denganmu dan mendengar semua kegiatanmu. Semua ceritamu itu membuatku merasa, kau adalah wanita yang ceria. Walau mood-mu gampang berubah, tapi aku menyukainya. Aku.. menyukaimu.”

“Kau.. Kau tidak bodoh..” aku akhirnya berani bersuara. “Karena aku.. merasakan apa yang kau rasakan,” kataku perlahan.

“Benarkah?” Da Dong tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, membuatku ingin sekali memeluknya.

Aku mengangguk pasti.

Da Dong memelukku dengan cepat. Membuatku sedikit terkejut karena baru saja aku berpikir ingin memeluknya. Kami berpelukan lama sekali, tidak peduli semua mata tertuju pada kami.

“Pesawat _______ akan segera berangkat. Diharapkan semua penumpang memasuki pesawat.” informasi itu membuat hatiku mencelos. Inikah saatnya aku akan berpisah dengan Da Dong? Secepat ini?

“Xiao Ling.” Da Dong berbisik di telingaku, kami masih saja berpelukan.

“Ya?” aku berusaha tegar. Air mataku sudah mengumpul di pelupuk mata tapi aku menahannya.

“Maukah kau menungguku? Tiga tahun. Apakah terlalu lama?”

“Tentu saja tidak. Aku akan menunggu.” Jangan pergi! Aku ingin sekali meneriakkannya.

“Aku akan berusaha menghubungimu kapanpun aku sempat.”

Take your time, ge. Jangan mengkhawatirkanku. Jaga dirimu ya.”

“Kau juga. Aku akan segera kembali. Aku janji.”

Da Dong melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak beludru berwarna merah. Ia membukanya dan tampaklah sebuah cincin yang sangat indah.

“Maukah kau memakainya? Mungkin ini bukan cincin mahal yang pantas kuberikan padamu. Tapi aku janji, tiga tahun lagi aku akan kembali dan menukarnya dengan cincin yang lebih indah dari ini, dengan namaku terukir di dalamnya..”

Aku mengangguk. Air mataku pun mengalir.

“Jangan menangis. Oke?” Da Dong menghapus lagi air mataku dan memakaikan cincin itu di jari manis kananku. Kemudian mencium keningku.

“Sampai jumpa.” katanya lalu mengambil kopernya. Menatapku sejenak, tersenyum dan melambaikan tangan sambil melangkah menuju pesawat. Aku pun membalas lambaian tangannya dengan senyuman.

I’ll be waiting for you, Da Dong ge. Aku janji. Sampai jumpa! Wo ai ni.

 

Catatan:

Da dong ge: kakak laki-laki dalam bahasa mandarin.

*)Penulis adalah mahasiswi Universitas Tarumanagara jurusan DKV semester 8 dan sedang menyiapkan skripsi. Menyukai bidang tulis-menulis dan bercita-cita untuk menerbitkan minimal 1 buku seumur hidup.