Arsip Kategori: Puisi

Tukang Cuci, 1932

Puisi John Kuan

1932
gambar diunduh dari laman fesbuk John Kuan

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan airnya berpijar keluar
1932, berpijar keluar air kotor sejarah.
Seandainya kau ikut airnya berjalan
ke bawah, mungkin akan bertemu
kincir angin, ampas tebu, mesin giling,
pabrik gula, atau seekor bangau putih
simpan sayap, tutup mata, berdiri satu kaki
istirahat, di atas sebongkah batu bertulis
seperti nisan, seperti prasasti: Phoa Beng Gam

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera
Derap delman lewat, deru oto lewat, gemeretak
roda gerobak, lonceng sepeda. Di dalam gelak
tawa tukang cuci ada busa sabun, keringat basi,
aroma kopi. Di tangan mereka setiap debu
kerah jaman dibilas putih kembali, begitu cepat
seolah tidak bergerak, ketika kau buru-buru
menoleh lihat air merembes keluar 1648
keruh, bau, mampat di dalam bingkai ingatan.

Membantu sepotong kanal potret,
membiarkan dirimu menyusuri cahaya pagi
keluar, tidak lama, kau akan melihat panggung itu
semua topeng dan dekorasi telah dilepas,
yang terlibat ( sutradara tiga, empat orang,
tata lampu satu orang, penulis naskah tidak jelas )
siap siaga, setiap saat bisa dinyalakan.
Bau hangus berputar di dalam lingkaran tahun
tiang-tiang jati gosong, pemain utama sesat
di dalam sebuah notulen rapat: Ni Hoe Kong

Ada begitu banyak perlu ditangkap mata kamera.
Bertugas monolog berdiri di depan, seperti membaca
sebuah puisi; mimik, hematku, secukupnya saja.
Musik latar, diatur sesuai kecepatan memori
Angin meniup turun beberapa derajat, mengerutkan
permukaan kanal, sepenggal ekor dialog melayang
keluar: seluruh penghuni pecinan telah dibantai!
Dari sebuah bingkai jendela 1740, cahaya lilin
berkedip lewat 1998, masuk menerangi
lubang telinga lembab berjamur

Sekerat Roti Sepiring Nasi Lanskap Curahan Hati Nurani

Puisi A. Kohar Ibrahim

(1)
Sekerat Roti 
Lanskap Curahan Hati
 
subhanallah
betapa pun adanya
betapa pula indahnya
bangun pagi nikmat lezat
hela nafas lega hirup udara
meski sejuk dingin empat drajat
gugah kangen pertiwiku amat sangat
syukur alhamdulillah ragam rasa tercurah
nikmati secangkir kopi sekerat roti pula buah
kreativitas saudara dan saudari pertiwiku tercinta
sajian tersaji kreasi puisi lanskap alami pula insani
silvie ditha audna – imron tohari – hafney maulana
begitupun tak urung warta cerita penimbul murung
dalam gambar gambaran pamer pamor penggede
oh gede-gadangnya perut telanjang kelewat kenyang
rupa gaya rupanya bagai penari perut penghibur bar
mata jalang cuma ‘tuk pelampiasan pawang uang
aduhai! petinggi penggede perut besar-gadang
kegemaranmu memang sekitar bar bar barbar
tinggi-gede tapi cuma seperti kantong nasi!
kontras dengan pemimpin pejuang sejati
sehidup semati dikancah revolusi 
sehidup semati proklamasi
kemerdekaan bangsa
berdirinya r.i.
duhai!
peggede-petinggi 
gede-besar-gadang-tinggi
tak sepadan pertanggungjawaban
jika negeri negara kaya tapi rakyat melarat
sejak jabang bayi kekurangan gizi nyaris mati sekarat
sedangkan kaum pawang uang seperti kalian keliaran
seperti ular seperti buaya seperti tikus kecil besar
dalam pesta selingkuh melestari budaya orba
dalam rimba gedung pencakar langit 
hotel hotel berbintang bintang
karavan sedan sedan
edan sungguh
zaman
edan
penggugah gugat rasa dan pikiran terheran heran
selagi aku sarapan pagi secangkir kopi sekerat roti
seraya menikmati sajian kreasi puisi teman kawan
*
(14.12.2012)
*
 
(2)

Sepiring Nasi

Nasi
Nasi Nasi
Nasi Atau Kah Roti
Sepiring Nasi Sekerat Roti
Pertanda Harkat Rezki Didapat
Apakah Di Tunisia Kalkuta Atau Jakarta
Tuntutan Rakyat Sederajat Tak Sudi Melarat
Tak Mau Terbelenggu Kegelap Pengapan
Tak Sudi Kembali Ke Alam Perbudakan
Memeras Keringat Nafkah Didapat
Namun Kian Langka Kian Susah
Di Rimba Gedung Tinggi Pun
Kian Banyak Kisah Resah :
Mesti Jibaku Rebutan
Sisa Sisa Makanan
Semakin Banyak
Tukang Nyiping
Hanya Makan
Nasi Aking !
Oh Ibu Ibu Pak Bapak
Oh Ibu Kota Ibu Derita Sengsara
Semakin Padat Rakyat Hidup Melarat
Kilau Menyilau Galau Pergulatan Sengit
Di Tengah Rimba Gedung Pencakar Langit
Duhai ! Tuan Puan ! Jika Semua Tersumbat
Lapar Dahaga Bisa Berubah Bencana Murka
Seperti Gempa Tsunami Ledakan Merapi !
Rakyat Perlu Demokrasi Pun Sepiring Nasi
(15 .01.2011)
*
Catatan :
Nasi Aking – nasi rebus asal nasi sisa yang setelah dicuci dijemur kering.
Tukang Nyiping – pemungut-pengumpul butir-butir beras yang tercecer di jalanan.
Kemiskinan Pengangguran di Indonesia diperkirakan sekitar 70.000.000 jiwa.
Lanskap: pemandangan. Karavan: kafilah
Budaya OrBa: Budaya Dusta & KKKN.

~diunggah oleh RetakanKata~

Ketika Entah

Puisi Ragil Koentjorodjati

Benarkah ini musim panen?
Bertumpuk surat tanpa alamat. Tentang senja jatuh di pematang,
Kelopak bunga jagung dan juga ingatan
:kita begitu damai, katamu.
Selembar selembar surat kaukirim,
Kepada siapa saja yang bersedia menerimanya
Masih saja ada yang kurang.

:Sepertinya benar ini musim panen.
Desismu tak lagi ragu,
di tengah hujan engkau menari,
Menari dan terus menari. Tanpa henti.

~diunggah oleh RetakanKata~

Sehalaman Kitab Flora Buatmu

Puisi John Kuan

Verbena

verbena
gambar diunduh dari bbc.co.uk

Mencari ke sudut kau siram bunga, satu kerabat
verbanaceae, kusebut sakura jelita, dari setumpuk sajak
dia nyeletuk, ekor suaranya putih, sedikit merah plum,
seolah mengatur sudut bibir, mulut gigit setetes honey
Kata orang itu warna musim semi, kau bilang rekah, aku
bilang celah. Lalu angin bertengkar dengan harumnya,
perabot ringkuk di sisi musik, puisi sembunyi ke dalam waktu

Bambu

bamboo
gambar diunduh dari treehousede.blogspot.com

Musim gugur telah masuk ke alam mimpi ikan salmon
aku perlahan mengikuti mimik dan logat suaramu
coba bayangkan sehamparan air laut musim panas
hijau, hangat, lembut dan sabar menahan samudera waktu.
Ketika angin naik, kau gemulai mengepak satu tarian
ombak, putih menggulung ke atas pantai awan senja:
sebiji bintang di luar pagar bambu bagai mutiara ungu

Birch

betula
gambar diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Birch

Tadi malam embun kristal menyerang, daun melayang
jatuh di sudut basah anak tangga, perlahan menutup sepetak
kebun sayur pagi sore kubersihkan, dan jejak bakicot berkilau
di atas setapak batu. Pohon ini dingin berdiri bagai aliran sastra
kedaluwarsa, bayang berdesir masuk ke dalam pekarangan,
aku membacanya di dalam sajak Inggris dan puisi Song
juga cerita Jepang, sedih, nyata, sehalaman sejarah sastra

Malus Asiatika

malus asiatika
gambar diunduh dari http://zh.wikipedia.org/wiki/File:Malus_asiatica_1.jpg

Satu pokok tua di halaman belakang, berjuntai buah kuning
matahari, kabarkan musim gugur telah dalam, telah amat dalam
Seringkali, kau duduk di depan jendela tulis surat panjang, terdengar
suara buah jatuh bagai sebuah titik. Petang musim gugur penuh
dengan suara limkim matang di sudut bibirmu, buka pintu lihat
dan hitung, ada berapa apel di atas tanah, pasti ada berapa titik
di atas kertas surat. Juga, dedaunan gugur adalah tanda koma.

Azalea

bunga azalea
gambar diunduh dari www. flowerinfo.org

Setiap kali melihat dia, bersandar di mulut jendela kamar bacaku
Sering diam, bawa sedikit semu malu, dia datang dari tanah jauh,
Negeri Dali di puncak awan, sungai mengalir jauh, setiap bunga
ceritakan sebuah kisah jaya dan runtuh. Dia bagaimana mengarungi
samudera, di dalam gerimis bersandar di jendelaku penuh bertata
cerita fantasi Tang dan Song, adakah sedikit cinta ditakdirkan?
Setiap kuntum mengulum airmata bagai sajak reruntuhan Tang.

Juniper

jupe
gambar diunduh dari http://www.finegardening.com

Dia merangkak di sisi setapak pekarangan depan, bagai seekor naga
merenung dalam, jarum-jarum pinus jatuh di atasnya, juga buah sanza,
bulu burung, bunga gugur. Tiada seranting kembang menjulur lewat.
Setelah oktober, dia tampak makin hening, seolah ingin menyelam
di kedalaman arus sungai. Di malam salju aku kembali hidup lampu
baca Du Fu, mendengar dia menahan isak di dalam sajak-sajak
musim gugur, bayangkan dirinya betapa kesepian dan babak belur

Mawar

bunga mawar
gambar diunduh dari http://www.flowertops.blogspot.com

Terakhir baru melihat kau, blak-blakan merah sendiri di sisi pagar
maksud awal memang tidak ingin meliputmu, di titik puncak Simbolisme
dunia barat, kau dari atas tanah bergerak ke dalam kitab, lalu memenuhi
pekarangan orang timur. Tapi aku duga para dewa tiada pengalaman
mencipta bunga, misalkan kau: Rosa. Awalnya Multiflora, dicela gampangan,
lalu diubah: Aeieularis, tapi jadi simpang siur, lalu dikelola: Indica
seperti kurang mulia, habis seluruh tenaga baru dapat: Rosa rugosa...

Narasi Sungai

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Sungai adalah sebuah metafora dari perjalanan, sedetik yang mengalir di ujung jemari waktu, kemudian bergeser, meluapkan tepi-tepinya, tertawa dan menangis, mencatat gigil terakhir di antara dua alir mata air. Meski angin mungkin saja berjinjit di antara ranting-ranting waru. Seekor belalang menatap tenang puncak sekeping batu. Air mengalir. Tepian penuh gelagah, sangkik plastik, kaus kaki hitam, dan angin yang jatuh menembus daun-daun waru dan sayap belalang dan, seperti tak percaya, sebangkai mimpi yang terapung di tengah permukaan sungai — timbul tenggelam. Kau bertanya: Masih lama? Aku menjawab: Entahlah. Angin memeluk arus di tepian sungai. Laut membayang dalam mimpi arus sungai. Kita seperti berada dalam lingkaran, katamu. Akhir menjadi awal yang baru, kataku. Kau melangkah perlahan ke dalam mataku. Aku melangkah perlahan ke dalam senyummu. Aku mesti pergi, katamu. Aku mesti kembali, kataku. Sepasang sayap kecici itu berkepak terbang, menyeberangi sungai yang mengalir di antara jejak-jejak kaki, melupakan arah mata angin. Kau tak ingin menunggu? tanyaku. Seperti batu yang dikutuk itu? jawabmu. Dua bayangan itu tertawa dalam mimpi bangkai seorang pemburu yang terapung di tengah sungai. Kupikir kita berdua telah menemukan sesuatu, katamu. Atau telah kehilangan yang bukan-sesuatu, kataku. Sungai di antara dua mata air itu bertemu. Sepasang mata mendekap lindap dua bayangan di bawah pohon waru. Masih lama? tanyaku. Entahlah, jawabmu. Aku pergi, kataku. Aku pulang, katamu. Kita cuma bertukar tangkap dengan lepas, katamu. Entahlah, kataku.

 

melankoli sungai
gambar diunduh dari facebook Ahmad Yulden Erwin

Kita berdua melompat ke sungai itu. Timbul tenggelam. Sesaat. Kemudian kau mengayuh mataku. Aku pun mengayuh senyummu. Aneh juga, kita berdua seperti mencecap sedikit rasa garam di arus sungai itu. Seperti di muara? tanyaku. Sudah dekat? jawabmu. Keraguan kita berlompatan seperti dua ekor mujair yang mengejek kail seorang pemancing. Selembar daun waru tua terambing di permukaan sungai. Mungkin sedang menuju muara yang entah di mana. Mungkin rindunya pada laut di ujung muara tak habis memantulkan cahaya matahari, di antara gelembung arus, yang berteduh di sela rumpun gelagah. Kita bukan pencari, katamu. Hanya sepasang peziarah, kataku. Lalu kau teringat perayaan musim panen padi tahun lalu. Dan aku teringat sewaktu angin pagi melepas kuntum-kuntum bunga layu tenggelam di telaga itu. Terlalu sepi di sini, katamu. Terlalu piuh di sana, kataku. Kita tahu, ada yang tak mungkin kembali, meski kita telah bersiap untuk melangkah pergi, menatap ke belakang setiap jejak kaki, di jalan setapak berlumpur itu, tanpa perlu merasa perih, tanpa perlu merasa kehilangan…

Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin

The Tibetan Book of Dead

 

Satu gerbang terbuka. Foton-foton karma

    melompat ke lorong warna: Cahaya hijau

sehitam cahaya biru, cahaya merah seputih

    cahaya ungu. Biri-biri tembaga merumput

di padang air mata. Debu kembali ke debu,

    cahaya kembali ke pusar waktu: Samudra

 

hening tanda tanya. Para tulku mulai berjapa,

    burung-burung hering mematuki biji mata.

Fajar telah kembali dengan cambuk apinya.

    Sepasang dakini menendang gerbang kedua,

juga milyaran gerbang lainnya. Kau terkunci

    di ruang hampa. Kau ingin pergi, tapi tak bisa.

 

Kau terpaku menunggu perahu jemputanmu,

    tapi tak ada perahu itu. Sebentang cakrawala

menderu: Kau telah kembali ke rahim ibumu.

    Semua proyeksi itu terjadi di batang otakmu:

Tepat sebelum kauhembuskan napas terakhirmu.
 

Lirik Narita

    Kaumasuki wajahku. Sebuah ruang tunggu

kini terbuka. Satu elevator dari pecahan mimpi,

    kebohongan bagai kertas tisu di toilet usia,

 

dinding menara pemantau dari sayatan luka:

    Bandara dari serpihan tanda tanya. Cermin

di mataku telah menyusun lekuk hidungmu,

    kerut keningmu, juga seuntai tanka pada maut

dan permainan warnanya. Tak ada yang mesti

    kautunggu. Misteri itu telah jadi sebutir salju.

 

Lalu kau ingat sepoi angin di teras rumahmu,

    menjadi film-film kosong di layar batinku.

Kumasuki wajahmu. Detik-detik berguguran

    menjelma laron-laron cahaya, juga metafora

tentang api lilin yang membakarnya. Cermin

    telah pecah di matamu. Satu ilusi telah sirna.

 

Sekarang, ruang tunggu itu kembali terbuka.

    Namun, telah kubatalkan jadwal terbangmu,

dan telah kupilih sunyi untuk menghantarmu:

    Pulang ke rumah hati.

 

keindahan bawah laut
ilustrasi diunduh dari impactlab.net

Kitab Laut

Kini pendar lampu bulan
dipadamkan cahaya pagi
seekor semut-api terjun
ke laut setetes air mata.

Di arus-dalam keheningan
waktu pelan-pelan beringsut
menyulurkan alga merah
ke mulut dua ekor kuda laut.

Seekor cumi dari palung utara
menutup pintu rumah kerang
menghitamkan karang-karang
menyusun rencana tertunda.

Kau berdiri di bawah tatapan
sepasang mata beku seperti maut
mengawasi ikan-ikan berebut
plankton hijau terbawa arus selatan.

Kau mulai bergerak di antara
dua jeda: yang satu berdesis
di tengah tenggorokan, yang lain
bersisik mencium pipi mutiara.

Seekor cacing terusir dari terumbu
karang mencatat persekongkolan ini
Tak heran mereka telah membuihkan
hatimu seasin rasa bersalah yang abadi.

Seekor hiu terpilih sebagai putra matahari.

Perawi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di Portland yang dingin, sepasang gagak
               menolak menjadi angin. Matamu tersedak
mencari langit yang lain. Fajar musim semi
                 mematuki embun di putih kuntum cherry.
Hitam paruh gagak mengepak ke batang
               pohon oak. Kuning napas waktu merayap
di kerah jaketmu. Matamu telah terjepit
               di ruang tunggu. Derit kereta menjemput
jerit gagak. Para penumpang menjemput
               jerit yang lain, senyap yang lain. Tak ada
angin akan menjemput hitam sayap gagak
            ke hijau bukit itu. Sebuah teluk terbentang
ke dalam matamu. Kausesap bau ombak
               dengan kulitmu. Kautangkap jerit senyap
dengan bibirmu. Langit menjadi lidahmu.
foto yulden erwin
Foto diambil dari album Ahmad Yulden Erwin

*Perawi: orang yang menyampaikan kabar bahagia.

Kwatrin Musim Gugur

Setelah mendapat contoh puisi bentuk tanka, kali ini RetakanKata menampilkan puisi bentuk kwatrin yang diambil dari buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad.

(1)

Di udara dingin proses pun mulai: malam membereskan daun
menyiapkan ranjang mati.
Hari akan melengkapkan tahun
sebelum akhirnya pergi.

(2)

Kini akan habis matahari
yang membujuk anak ke pantai.
Tinggal renyai.
Warna berganti-ganti. Dan engkau tak mengerti.

(3)

Pada kalender musim pun diam.
Pada kalender aku pun bosan.
Di bawah daun-daun merah, bersembunyi jejak-Mu singgah
Sunyi dan abadi. Musim panas begitu megah.

(4)

Kabar terakhir hanya salju.
Suara dari jauh, dihembus waktu.
Kita tak lagi berdoa. Kita tak bisa menerka.
Hanya ada senja, panas penghabisan yang renta.

 

 

Autumn Quatrains

(1)

And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,
making the death bed.
Day will end the year
befor it finally departs.

(2)

Soon it will die,
the sun that herds children to the beach.
Leaving only drizzle.
Shifting colors. And you do not understand.

(3)

On the calendar the season is mute.
Even I am bored with the calendar.
Beneath the red leaves, Your footprints are buried,
still and unchanged. The summer was so great.

(4)

The latest news is snow.
A distant murmur, ushered by time.
We pray no more. We fail to know.
We have only dusk, the worn-out final heat.

 

 

(Diambil dari Goenawan Mohamad: Selected Poems)

 

 
Membaca puisi yang lain:
September Suatu Hari
A JUBILEE
Puisi-Puisi Paulus Catur Wibawa

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati #4

Sembilu

berjalan di kegelapan
Ilustrasi dari blogspot.com

1.
Setiap langkahmu adalah jarak,
menjauh dari kenangan yang rapuh,
meninggalkan luka di setiap jejak.

2.
Harapanmu merimbun jadi sepiku,
mekar liar di ufuk fajar,
rubuh luruh di kaki subuh.

3.
Tentang rasa yang tak pernah kautahu,
serupa labirin di ruang kosong,
berkelindan di kekal ketidakpastian.

4.
Tanpamu,
setiap kata adalah perjumpaan kekalahan demi kekalahan,
pelan menuntunku menuju kekalahan selanjutnya,
hingga entah.

Kutiup Malam

Bila namamu tak mampu lagi kusebut,
Kutiup malam,
Biar tenggelam dalam hitam.

Pejalan

Seorang pejalan, bercerita segala sesuatu yang ditemu di jalan. Tentang pohon, tentang kayu, tentang tanah, tentang batu. Tentang yang lekat, tentang yang luruh, tentang igau atau denyut semak perdu. Angin barangkali diam, tetapi sunyi seringkali lebih lolong dari pecahan hati.
Kaki goyah harus tetap kokoh menopang dada -tempat kenangan bersemayam-, juga benak -tempat resah berlabuh dan hiruk pikir berkecamuk-.
Tidak banyak hal dapat dibawa dalam kantung nasib. Lorong panjang kadang bercecabang. Cukupkan bekal untuk esok sehari. Sebab lusa, -mungkin datang, mungkin juga tidak-.
Hari adalah hitungan rasa bosan. Dan waktu telah menjelma pemburu. Mata lintang pukang mencoba untuk tidak tertipu fatamorgana. Telinga sedikit berkarat. Banyak suara tetapi tidak banyak lagi yang didengar selain isak dan tangis. Selebihnya air mata yang berbicara. Mulut sesekali tersenyum pada siapa saja yang kebetulan berpapasan. Sepotong firman terlipat rapi di tepi jalan.
Setiap pejalan akan berpapasan, dan juga kembali sendirian. Setiap kota adalah rumah. Setiap cinta adalah dermaga. Dan kabut adalah pengingat kerinduan tempat doa-doa dikabulkan.
Senja dan kicau burung, liuk padu batang padi adalah penghibur harap yang terbunuh beribu kali. Angan yang terbang ke pelukan entah, tak jarang pecah mengalir bersama getir.
Seseorang mencari seorang yang lain. Mereka yang kalah tertidur dalam lelah. Dan malam menjadi semakin sepi. Pejalan hidup tidak untuk berhenti.

Masih

Puisi Anwari WMK

Setelah berucap
Selamat tinggal
Engkau balik badan
Hatimu berkata:
Telah terlesapkan
Segenap kenang

Di tikungan jalan
Engkau hilang
Jiwamu berguman:
Telah tercampakkan
Segenap beban

Tapi di hatiku
Engkau masih ada
Tak pernah kemana-mana
Takkan kemana-mana

Dan kini,
Sajak-sajak adalah saksi
Bahwa akulah
Pencinta sejati

Bersenandung sepi
Aku lantas pulang
Ke rumah puisi
Sambil terus mengenang
Wajahmu
Meski kian kaku
Sebeku batu

(2012)

Lukisan Terakhir

Puisi Lila Prabandari

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

sudah kulukiskan,

pondok kecil berdinding kayu bangkirai

di tepi danau tenang yang beriak kecil airnya

ada dermaga panjang dan tempat makan di ujungnya

merapat sampan hangat di tepinya

dan kebun bunga di halaman depannya

oh tentu…

ada tempat workshop keramik mungil di sampingnya

kukuaskan warna-warna pelangi segar

dan kusapukan suasana nyaman

karena aku tahu

di situlah kau akan meninggalkanku…

Puisi Lila Prabandari

Lagu ke-empat

 

hei,

ini lagu ke empat yang telah kunyanyikan untukmu

dengan nada dasar c memang tak cukup bagus untuk didengar

entah suaraku entah lagunya

atau barangkali syairnya

tapi aku ingin menyanyikannya

dan aku pun ingin kau mendengarnya

tentang hatiku yang merindumu

ingin sekali kau ada disini

melihat senyummu

atau obrolanmu yang terbata-bata gagu

aku rindu sikap salah tingkahmu

saat kunyanyikan lagu ke empat ini

lagu rindu

 

 

gambar diunduh dari shutterstock

Biarlah

 

kubiarkan luka itu,

untuk yang kesekian kali

meradang dan bernanah

perih? tak lagi…

mati

kaku

dan tak berasa

senyum dan tatap mata kosong

tak bernyawa

diam…

dan lebih berarti