Arsip Kategori: Puisi

Kotak

Puisi Agung Triatmoko

Aku pernah membuat sebuah kotak tanpa ukiran dan tanpa kaca, agar tak nampak istimewa dan timbul alasan untuk diperebutkan.

Bagian dalam kotak aku buat nyaman dengan lapisan karpet merah jambu yang aku pintal sendiri, bahannya aku ambil dari benang-benang yang lembut namun kuat, yang aku kumpulkan dari hari-hari aku merayu semesta.

Di kotak itu……

Aku letakkan setangkai kembang liar yang aku petik dari kerumunan duri dan auman serigala-serigala garang.

Pelahan aku letakkan kembang liar di pembaringan kotak, aku selimuti tubuhnya dengan do’a, aku terangi ruang kotak dengan puisi-puisi, dan aku hembuskan kesejukan dengan harapan.

Di kotak itu……

Aku sematkan sebuah nama…….. namamu.

Aku tak pernah pergi tanpa kotak itu.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di tepi pantai, agar sang kembang liar pandai menirukan gemulai ombak yang sering membuatku terpesona.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di tepi riuhnya jalanan, agar sang kembang liar menjadi cerdas dan tangguh seperti angin dan debu.

Sesekali, aku letakkan kotak itu di puncak gunung tandus, agar sang kembang liar mampu memandang dunia dengan tatapan pasti.

Sesekali, aku letakkan kotak itu disampingku berbaring, agar dapat kuhirup aroma wanginya.

Suatu hari, sesaat setelah seribu kepenatan mulai hendak beranjak pergi, saat kerinduan akan aromanya memuncak, kucoba membuka kotak itu, namun tak kutemukan lagi kembang liar di dalamnya, yang tertinggal hanya sisa aroma yang mengabarkan sebuah kepergian.

Kini kotak itu tak berpenghuni, tak akan pernah lagi mengabarkan harapan, kapan dapat kugenggam tangkainya yang lembut, sembari kuhirup aromanya.

Bangku Kosong
Bangku Kosong (Photo credit: Gage Batubara)

Ya sudah…, aku simpan saja kotak ini untuk menyimpan bulir demi bulir

air mata yang membatu. Lantas kutulis sebait puisi di dinding luarnya, “Terimakasih kembang, aroma rindumu yang kemarin dulu masih aku simpan jauh di dalam hati”.

Puisi-puisi Sonny H. Sayangbati

1). Surat Dari Rumah

Selembar surat yang tertulis dalam kertas putih, tertulis dengan tinta biru, ditulis olehmu dengan huruf miring, aku terima seminggu kemudian, saat aku di Pontianak

Dua kali kamu menulis surat rindumu, selanjutnya kita tenggelam dalam liku-liku kehidupan, surat itu tertulis dan tersimpan dalam sebuah kamus, sebuah buku bagian darimu, kukenang

2). Satu Pintu

Setiap hari aku melewatinya,
sebuah rumah tanpa jendela,
tanpa lubang agin,
hanya satu pintu,
seseorang keluar dan masuk

Puisi Kolaborasi Sonny H. Sayangbati dan Muhammad Rois Rinaldi

3). Jalan Seorang Lelaki

Seorang lelaki menentukan langkahnya,
memilih jalan yang harus ditempuh,
menuju cahaya terang,
tanpa mengeluh dan lelah,
karena cinta-Nya

4). Kekasihku

Dia seperti angin sepoi-sepoi,
meniup dalam bisikan rindu,
selalu manja,
wajahnya memandang rembulan,
di dada kekasih hati

5). Engkau Akan Tahu Birunya Laut (Stanza)

Menangislah dengan kencang kekasihku,
deras air matamu seperti sungai mengalir,
bilur-bilur lukamu akan sembuh,
kesedihan membuatmu setangguh batu karang,
janganlah berpaling lagi ke hulu sungai,
mengalirlah ke lautan maha luas,
engkau akan tahu birunya laut,
dan dalamnya cinta.

Biodata Singkat Penulis

Bekerja sebagai konsultan lubricant, tinggal di Jakarta, pendidikan Komunikasi Massa (S1), aktif menulis puisi di beberapa group puisi facebook, pages pribadi dan blog pribadi, puisi di terbitkan beberapa media online seperti : Kompas.com, Rima News.com, Atjeh Post.com, Lintas Gayo.com, Jurnal Kebudayaan Tenggoma, Our Voice LGBT.com

Sedangkan di media cetak : Berita Minggu Singapura, New Sabah Times dan Koran Republika

Sedang mempersiapkan buku puisi Antologi PBKS yang akan terbit bulan Juni 2013 dan Antologi 45 Penyair CDK yang akan terbit akhir bulan Maret 2013

Sahaja Embun

Puisi Binandar Dwi Setiawan

sebening-embun
gambar diunduh dari photoppi.com

Aku masih tidak mengerti mengapa harus merasa senang untuk semua hal yang tak kutahu apakah itu memang baik. Aku, sekaligus juga masih tidak mengerti mengapa harus berduka untuk semua hal yang tak kutahu apakah itu memang buruk. Aku masih tak sempat untuk memberi pakaian kepada sebuah kejadian, nilai. Aku tak ingin dan tak hendak berurusan dengan batas batas. Aku hanya ingin menari dengan pepohonan, tak lagi penting apakah cemara apakah sakura. Aku hanya ingin melihat sebagaimana adanya, dalam realitas yang tak butuh dinamai. Aku ingin setiap mata berkata jujur tentang apa yang dilihatnya, aku ingin aku percaya kepada mata mata itu. Aku telah terlampau lelah ditipu seumur hidup, aku ingin mengakhiri memaksakan kesaksian berkepanjangan ini, aku ingin aku sendiri yang melihatnya. Semua berita, apakah benar apakah salah. Masih perlukah sebagai benar, masih perlukah sebagai salah. Bukankah telah jelas bahwa terlalu banyak ragam, dan tak berguna apa apa untuk kita menariknya sebagai yang berdua kutub.

Tidak menjadi musuh seseorang, kecuali dirinya sendiri. Tidak menjadi kekasih seseorang, kecuali dirinya sendiri. Sepanjang hidup aku hanya berurusan dengan diriku sendiri, menyelesaikan setiap hal yang masih menjadi kebutuhan baginya, aku menghabisinya perlahan tetapi meyakinkan, terus kuburu setiap jatah waktu. Dan tak akan berhenti sampai dia menyadari ketidakbutuhannya untuk ada. Aku hanya ingin menjadi lebih dekat kepada apa yang seharusnya memang aku lebih dekat. Agar aku tidak bertanya lagi tentang maksud segala maksud. Tetapi kudapati marathon ini tak diawali oleh garis starts dan tak diakhiri oleh garis finish. Aku sendiri masih tidak mengerti apakah ujung memang ada. Apakah aku sedang pergi atau aku sedang pulang. Seluruh keutuhan diriku dipaksa menyadari kesendirian yang luar biasa hebatnya. Dan lantas bagaimana bisa kutemukan jawabnya jika aku hanya berbincang dengan diriku. Maka menguaplah air, dan ia benar benar uap, bukan lagi air.

Semua keindahan itu berasal dari akar yang sama. Mengembang dengan kembangan yang diluar benak setiap kehidupan. Maka tidak didapati keadaan kecuali kebingungan. Dan jalan mencari jawaban adalah jalan menuju sesuatu yang tiada habis, sebab tidak disertakan oleh sebuah jawaban kecuali seribu pertanyaan. Yang selamanya sedang menghadap kepada kita ini adalah wujud dari dia yang selamanya sedang berada dalam diri kita. Maka pada jalan yang sama sebagian menganggap pulang, sebagian yang lain menganggap pergi. Pada pembagian yang sama sebagian menganggap pemberian, sebagian yang lain menganggap penolakan. Nama adalah sesuatu yang terlahir dari keangkuhan dan kebodohan. Temaramnya gelisah meracik rasa takut dalam sebuah sudut ketika aku ditodong oleh sejuta ketergesaan, aku tiba tiba saja memanggilmu, itu dosa pertama yang seluruh waktuku kuhabiskan untuk merajukmu melupakan itu. Jika saja aku bercinta dengan dirimu yang sesungguhnya, sebelum akhirnya aku memanggilmu.

Aku sebenarnya bukan masih mengingatmu, tetapi masih mengalamimu. Aku dengan kamu, tak bisa dijarak oleh lupa. Tetapi engkau masih saja bersikeras untuk berusaha menipuku, sedangkan kau tahu aku tak lagi peduli kepada diri yang engkau kirimkan sebagai engkau. Adalah tentang kamu, ketika aku berjuang untuk membunuh seluruh sifat sifatmu, aku hanya tak mau jatuh cinta pada mereka. Aku terlalu murni, tak butuh untuk menunggu engkau suap dengan sifat sifatmu agar aku membersamaimu. Akulah singgasana terluas yang bisa kau tempati. Maka bersenang senanglah sekehendakmu. Dan singgasanamu akan tetap saja sesurga yang kau bisa kerjakan. Tak perlu beresah tentang akan menjadi seperti apa aku nanti, sebab aku ada hanya untukmu. Kau tahu seberapa rindunya aku terhadap pulang, juga seberapa bersikerasnya aku melalui jalan ini, bahkan seberapa hebatnya aku menafikan setiap kepahitan, tetapi tidak tahukah kamu bahwa aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang bagaimana ini akan berakhir atau diakhiri.

Tetap saja semua terlihat begitu seimbang dimataku. Karya maha sempurna yang mewah yang tak memberiku setitik ruangpun untuk berkeluh.

Puisi-puisi Alra Ramadhan

gambar disediakan oleh Alra Ramadhan
gambar disediakan oleh Alra Ramadhan

KOPI

setelah menjura untuk kesekian kali, kaucabut
kepada lembut
kabut, kaupusatkan dua lensa
yang nila
“oh, kau harus lihat garis edar bendabenda angkasa.”

aih, ya saja, merekamereka berputarberputar
di gelas memar
waktu kaudaratkan ujung penamu di kotak
tekateki silang, dan kekatamu tak pas:
revolusi, katamu
revolusi (?), ini aku
revolusi, kau beri tanda seru
dan kausebut angka pasti
ratus hari

tapi aku tak ingat angka itu
dan revolusi, aku cuma menjawabnya sendiri
sebab sejak itu kauberlalu
sisakan ampas kopi yang masih mengorbit
di kotakkotak yang belum kaupenuhi

(Malang, 2013)

TEH

tenang,
sebentar lagi bakal datang,
sst… kubilang tenang,
tahan pelatukmu
dan lihat itu, di celah pohonan yang menyerap air langit, dekat semak tempat kaukencing tadi, kau lihat bukan, itu buruan kita!

toh aku mengangguk saja waktu ia menyuruhku untuk tenang. baru kali ini aku benarbenar menurut. tapi bagaimana lagi, dia memang lebih jago berburu, sedang aku tak tahu apaapa soal ini. amatir. maka kutahan juga pelatukku–butuh waktu menariknya

kubilang juga apa,
dia mengendusnya,
bau pipismu! haha, dia benci itu. ia tak senang ada pengganggu masuk wilayahnya. dan kalau kau sadari, dia segera mencarimu setelah ia tahu cirimu. dan perlu kugaris bawahi, seperti dugaanku, ia tak akan pedulikan jika itu air seniku

oh ya, dia berkata begitu,
sebelum menyuruhku
keluarkan kelamin dan menyemprot pohon itu,
katanya: kalau aku, buruanku sudah hapal pada taktikku, kita perlu yang baru, tenang saja, kau akan tetap aman di dekatku

tenang, tenang,
aku tempelkan telunjukku di mulut,
kudesiskan desis,
sempat ia tadi tak percaya: bagaimana kautahu ia akan mencariku, dengan membaui kencingku? seakan kaubisa menjadi mereka saja!

tapi dia benar,
dan kami duduk di beranda sekarang,
dengan hasil buruan
dan gelas yang masih penuh
berisi teh panas
di mana di sana muncul raut wajah tenang
sang serigala yang kutembak mati tadi

(Malang, 2013)

SUSU

nyatanya masih aku palingkan juga
wajah ke arah celahnya
bahkan ketika kausekedar lewat
di depanku dan tanpa sapaku,
tanpa juga sapamu,
sapa kita

siapa kita
yang tak dikenal tak dikekang tak dikenang?

ah tapi kuingat juga senyummu manis
dan gigigigimu yang berbaris
begitu rapi,
dekat sisasisa susu, di pojok bibirmu,
yang kuhapus dengan kecupan merdu

nyatanya aku masih palingkan pula
wajahku
ke arah tak tentu
ketika kuteguk hangat susu
dan berharap kutemu lagi kamu
serta baris putih gigimu rapi
di sudut gelas bundar ini

(Malang, 2013)

Alra Ramadhan lahir di Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, dan sekarang berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang. Saat ini ia sedang menyiapkan himpunan puisi dengan judul Salindia. Selebihnya, dipersilakan merapat ke twitter @alravox

Musim Semi, Deru Ombak

Puisi John Kuan

sendiri di pantai
gambar diunduh dari amorimagenes.net

Musim semi, jalan raya, tepi laut

濤 聲 迴 盪 兮 臘 月 的 街 巷
[ tāo shēng huí dàng xī là yuè de jiē xiàng ]
Dibalik selembar cahaya terkurung 70 tahun
demikian kau berkata. Deru ombak patahan
sajakmu, terus bergaung dari Minguo 32 tahun
hingga hari ini, bahkan bergulung berputar keluar
percikan buih-buih huruf Latin ku kenal:
[ Ah, deru ombak lorong-lorong Bulan Pertama ]

 Aku melangkah di jalan imlek, angin laut bersiul

Pada jamanmu disebut Lorong Taopekong, lurus
menembus Lorong Pisang menembus kain gendongan
nenek mendekap aku nanar di depan Jalan Merdeka
kembali bercahaya setelah dihangus tahun 1959
Aku menembus timbangan karet mentah, arang bakau
tepung sagu, ikan asin, udang kering, mungkin
di atas meja kasir remaja bersinglet putih ini, kau
menjentik sempoa sambil merancang sepatah sajak

Melewati Hok An Kiong, sehabis hujan, jalanaan berpijar

Bagai berulang kali ditulis, variasi baris-baris puisi kita
terus menunggu tanpa peduli betapa jauh jalan gunung
jalan laut pengembara. Datang di tepi pantai ini ( kupu-kupu
istirahat di atas bunga liar dalam rindang pokok kelapa,
seolah julur tangan bisa tangkap ), bersiul perlahan,
bernyanyi melengking, semalam penuh kaki-kaki joget
dan kini mulai berserpih. Sehabis cahaya pagi, aku melihat
tangan-tangan berpukat melewati gulungan ombak.

Angin, mengibas laut musim semi bagai lembaran partitur

Kami petik senar petik kelapa, kami petik awan juga
berselancar nada ikut ayunan ombak. Kami bakar dupa,
kami tuang arak, kami panggang sajak bau samudera.
Angin senja bersiul, laut yang agung memberi kami
sebuah mesin peras, dengan gema gulungan ombak,
desir pelepah kelapa, memori putaran rumah keong
membantu rongsokan mimpi, perangkat keras hidup kami
diperas jadi jus dibawa angin, jilat telinga, lidah, dan dahi

Ah, musim semi, resmi dan sehat berdesir lagi

pecah di udara jadi lonceng es lilin, yang menolak
leleh kami jilat jadi puisi, jadi berbagai bau dermaga
dan kapal, pernah membawa kau pergi atau pulang
mengikuti asap dupa, mengikuti bintang Serigala Langit
melewati sederet tebing terjal, selaut angin amis,
sungai tenang, jerit siamang, seekor kupu-kupu di rawa
hutan bakau, sebab indah, tanpa maksud atau tanpa daya
jatuh di dalam cahaya celah dedaunan, menolak kepak sayap

Nyanyian Kemerdekaan

Nota Puitika A. Kohar Ibrahim

a kohar ibrahim

(681)

HARI
GURU?

Sulit kiranya
melupakan peranan
penting guru diguru guru
di dalam hidup kehidupanku
selain guru guru diguru mengguru
di dalam keluarga istimewa sekali ortu
dan kalangan masyarakat manusia seumat
seperti terutama sekali kaum cerdik cendekia
seniman dan seniwati dalam ragam macamnya
Para penyedia penyaji pemberi ilmu pengetahuan
para pelaku pencerahan sesungguhnyalah sungguh
punya peranan amat penting sebagai pembimbing
Tanpa ilmu pengetahuan bagaimana seseorang
bagaimana grup kelompok kolektip manusia
bisa melakukan kegiatan bawa kemajuan?
Akan tetapi situasi kondisi mendebarkan
jika dalam kenyataan amat memprihatinkan
situasinya seperti stagnan alias jalan di tempat
maka tak urung timbul pertanyaan: keras menyengat
Apa yang sudah diberikan kaum guru kepada murid
Selama ini? Kenapa banyak putera puteri bangsa
yang putus sekolah
kenapa bahkan yang sekolahan
dan malahan pula tamatan perguruan tinggi,
bertitel sarjana, hanya untuk jadi pengangguran?
Kenapa dibandingkan dengan negeri-negara lain
di dunia Inddonesia berada di posisi belakang?
*
(25.11.2012)
*
(682)

KI-ASI
PU-ISI

Kias berkias kiasan
menghias rias kias isi puisi
Seperti gerak hidup kehidupan
Gerakan kehidupan tanpa henti.
Rubah berubah ubah perubahan
Maju mundur Merendah meninggi
Kanan kiri dari Segala penjuru
arah mengarah sang bayu.
Seperti ombak menggelombang
Gelombang pasang naik pasang surut.
Seperti perubahan cuaca musim musiman
Bervariasi Musim dingin Musim semi  Musim panas
Musim gugur Kesemuanya selaras gerak perubahan.
Oh iya iyah iyalah Seperti juga gerak  perubahan
alam perasaan dan pikiran Tanda pertanda
petunjuk bukti aksi tindakan  dilakukan.
Iya iyah iyalah selaras sikap pendirian.
Selaras petunjuk ajar: segala sesuatu
adalah waktunya. Awal mula kelanjutan
dan berakhirnya. Bisa dari ketiadaan
sampai kesadaran
hingga militansi penuh
dinamika dan keberanian.
Ah, bisalah pula berkebalikan:
ragu, stagnan, pangku-tangan,
mapan sampai tiarap ketakutan.
Karena mapan kemampanan
Karena takut kecut ketakutan
kehilangan kepentingan
kedudukan atau kepemilikan.
Itu begitulah lagak lagu manusia
dalam segala variasi bentuk nada
rama ragam warna warni nuansanya.
Aduhai Tuan Puan ! Jangan coba-coba
rayu aku ikut-ikutan  Segala ancaman terus
ancam mengancam Kebebas-Merdekaan Ku
akan terus ku lawan! Ku takkan kehilangan apapun
Keuali belenggu dan fitnah Yang kalian berlakukan
dari arogansi kekuasaan tirani ke dahiku dicapkan!
Lagi dan lagi aku tegak berdiri teriak semarak:
Tegakkan Kebenaran dan Keadilan
serta Hak-hak azasi Insani
Hak bagi Yang berhak!

*
(25 November 2012)
*

(683)

KI-ASI
PU-ISI

Kias rias kiasan
menghias puisi.
P u i s i
Itu puisi
ekspresi diri
c u r a h a n h a t i

*
(26.11.2012)
*

(684)
KI-ASI
PU-ISI
kias menghias
rias merias kiasi puisi
buah aktivitas-kreativitas bernas
tanda pertanda menanda ekspresi diri
tercurah rurahan rasa dirasa terasa rasa
hati sanubari. puisi swara nada irama hati
swara nyanyian jiwa. dalam gerak berjejak
juang perjuangan kehidupan senantiasa:
jikalah maju majulah mundur mundur lah
ah ah kata dimakna dikata orang itu doa
konsekwen konsistensi kata-tindakan
tindak bertindak lah utama ukuran.
seperti ujar kata aku ulang bilang:
asah pena terus lanjutkan juang
selaras dinamika kehidupan.
insyallah insyallah insyallah!

*
(27.11.2012)

*

(685)

KI-ASI
PU-ISI

Kias berkias
hias rias kiasan puisi.
Seperti indahnya kekuat-indahan
kembang ati Anggrek menarek hati
Mawar penawar Melati harum mewangi
Ah, seperti tanda pertanda bukti nyata
Aktivitas kreativitas bernas seni budaya
Takar utamanya adalah segar tegar:
buah hasil karya. Berkaryalah!
Rayakan Hidup Kehidupan
Bebas Merdeka Di Taman Raya Indah Seni Budaya
Pertanda Adab Peradaban Bangsa Bangsa Di Dunia

*
(27.11.2012)
*

(686)
KI-ASI

PU-ISI

Kias rias hias
kiasan isi berisi puisi.
Seperti pula seniman seniwati
Pencipta penyedia saji buah kreasi
Sesungguhnyalah kaum dermawan dermawati.
Pemurah hati Pemberi diberi berkahNya sedekah
Bagi Berbagi dalam Hidup Kehidupan Indah Megah
Tersirat tersurat swara terirama nada musikalia
gerak hidup dinamika. Seperti terkesan pesan
menggeitik puitik penyair Chairil Anwar:
aku mau hidup seribu tahun lagi!
Seperti juga manfestasi aksi
dinamika musikalia
Seniman Seniwati Madura:
Sandorennang. Nengsennengan.
Sungguh membanggakan
sekaligus mengharukan.
Salam Merdeka!
*
(27.11.2012)
*

(687)
KI-ASI
PU-ISI.

Kias dikias terhias
rias kiasan puisi.
Seperti kiasan
Tak Kenal Maka Tak Sayang.
Itu soal Rasa perasaan memang
Soal Hati soal kesubyektifan diri sendri.
Tak urung Suka atau tak itu memang soal
Rasa rasa dirasa terasa rasa bagi perasa
Ah ah ah bisa bisa saja terekspresi aksi
dalam ragam macam ekspresi diri
Terutama dalam kreasi Seni
terutama sekali dalam puisi
Di Ruang Waktu Tertentu
Yang Sudah sudah
Yang Sedang sedang
Yang Mendatang terjelang
Sambung Berkesinambungan
Seperti rangkai serangkai mata rantai
Seperti butir dan butir permata mutiara
Seperti planit bintang dan bintang di langit?
Iya iyah iyalah, sayang disayang. Oh Sayang!
Kenalilah Maka sayang disayang.
Dahulu Kini Masa Datang Mendatang.
Segala sesuatu ada waktunya. Memang.

*
(28.11.2012)
*

688)
KI-ASI
PU-ISI

Kias berias
rias hiasi puisi.
Seperti ekspresi diri
gerak juang perjuangan
mengayomi hidup senantiasa
Dari masa ke masa Usia sendiri
Usia segala ragam makhluk alam insani
Gerak melebar layar maju melaju gapai pantai
Gapai titik arah tuju sebentang cakerawala
Dari jabang bayi hingga dewasa lansia
Oh! gerak dinamika tak mau sudah.
Senja ku fenomena pesta makna
hidup anugerah terindah Nya
Senja ku hingga jingga menjingga
Warna Warni Cahaya yang tak mau sudah.
Seketika ku simak Masa Usia lukisan David Friedrich
Seketika senyum berseri sembari bisik berbisik:
Yes! Perjalanan Layak Dilanjutkan.
Terus kibar bendera lebar layar
menggapai pantai tujuan.

*
(29 November 2012)
*

689)
KI-ASI
PU-ISI

kias hias rias
menghiasi puisi
seperti wajah
sumringah
pagi hari
senyum
berseri
meski tak urung
wajah muram terselimut
mega mendung cemberut
tergugat gundah teramat gawat
tercegat bingung murung tak untung
pula wajah wajah sangar tegar
galak bak siap menyalak.
duhai wajah manusia!
ragam macam wajah
tanda tertada bertanda
rasa dirasa terasa rasa
pun pikiran ragam macam
makhluk alami insani hewani
sesungguhnyalah layak simak
layak kaji ungkap arti dimengerti
saling mengerti sesama insan insani
demi mengayomi etika hidup kehidupan
layak selayaknya insani seraya menata bina
tradisi adab peradaban. Bukan yang kebalikan
yakni kebiadaban hewan berkehewanan
seperti hewan liar rakus ganas barbar
sebangsa sekawanan prema koruptor
seperti gerombolan begundal brandal
pawang uang kapital-imperial-kolonial!

*
(29.11.2012)
*

(690)
KI-ASI
PU-ISI

kias rias menghias
hias mengisi isi puisi
seperti kias tak pernah basi:
Tak Kenal Maka Taklah Sayang.
dampaknya rusak kerusakan dahsyat
malah ada yang mengeluh. ada yang prihatin
ada yang masabodoan ajah. celakanya
ada yang girang adanya konstatasi
banyaknya kaum buta sejarah.
dibodohi sejarah versi resmi
Iya iyalah — dampaknya
seperti dikeluh-kesah
diprihatin-sesalkan
makin menipisnya
rasa patriotisme
berkebangsaan
siapakah salah jika diingat banyak yang tuna-sejarah
siapakah salah terjejali sejarah yang dibengkokkan
aduhai! sayang disayang — adalah benarnya
sapatah dua kata kiasan kata pepatah:
Tak kenal maka tak sayang.

*
(30.11.2012)
*

"Empat Masa Usia" - lukisan cat minyak pelukis realis-romantis Caspar David Friedriech
“Empat Masa Usia” – lukisan cat minyak pelukis realis-romantis Caspar David Friedriech

Catatan:

(1).Rangkuman Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan disusun berdasarkan notasi-status AKI di FB – tertanggal. Disaji kembali dengan gaya penampilan ala kaligram: 19 Februari 2013.

Serial Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan dimulai dalam bulan Juli 2011 hingga Januari 2013 sudah mencapai 800.

NP Nyanyian Kemerdekaan merupakan Ekspresi kebebas-merdekaan berawal dari dalam jiwa diri sendiri; tanda nyata naluri makhluk insani semenjak keberadaannya dalam zaman dahulu kala.

Udara, Air, Tanah, Api

Puisi Binandar Dwi Setiawan
 

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Udara

 
kekasih, mata belumlah terhalangi dari melihat
terlunta aku dibelantara, kehilangan makna ku mencakupnya
percakapanmu itu terlalu berwibawa bagiku
secuilpun tak engkau rasa ketakterbenakkan yang merajam setiap titik bagian tubuhku
aku mampu saja membagi kepadamu, aku tidak mampu saja membagi kepadamu
jatah, curahan, mengapa menyanggahnya terus menerus
pintu yang mana yang terbuka jika seluruhnya adalah kungkungan dinding tek tertembuskan
cobalah rasakan kesakitan yang mendalam ini
cobailah hembusan dinginnya saja, niscaya eranganlah nafasmu yang engkau anggap gagah itu
aku tak sedang meragukanmu, tapi kebodohan merangkumku, menodong syairku maju
dan tangan diatas tangan diatas nada diatas tangisan diatas keperihan
diatas apa yang engkau tak bakal sanggup menanggungnya
ketika hari itu tiba, niscaya menyapaku pun engkau segan sepenuhnya jiwa
sebenarnya engkau tak pernah mengenalku
menangislah, menangislah saat ini juga, aku menuntutmu, aku memaksamu!
kawan yang terdekat, aku melihat samuderamu sebagai hitam tanpa arah, gelisah, memekak
dan enak saja engkau mengklaimnya sebagai yang membeningkan..!
bukan tentang konsep, bukan tentang prosedur, bukan tentang bagaimana yang seharusnya
wahai yang seluruh perhatianku tertuju kepadamu, aku tak memintamu menuruti
aku tak memintamu jadi ini itu, dan teruslah berusaha membunuhku
berjanjilah untuk terus berdiri… engkau dengar itu..!!!
erangilah keperihan yang membusuk di pucuk pucuk daun tua ini
sudah kusampaikan kepadamu, dan sudinya kekosongan membakar
dan ketidakmungkinan padamu melekat selekat diri
kekasih, aku ulangi lagi, mata belumlah terhalangi dari melihat…
 

Air

 
habis sudah cerita tertulis
tinta mengental atau kering, aku tak peduli lagi
akulah yang menghabisinya, mengembalikannya kepada asalnya
identitas yang paling menyala yang tak terhentikan yang marah
 
maukah engkau disampingku untuk menelisik lebih dalam lagi
sebab tak kutemukan lagi apa yang dulu sering terbuka bagiku
di kerincian gelas gelas itu tak kutahu apakah udara atau tanah
apakah air atau api, yang mana yang memfrustasikan kelahiran gelas
ketika tidak ada yang terputus, ketika itulah pencarian terhentikan, dan mawar menyemburkan darah
 
pastilah ini bukan perasaan
sebab tidak kulakukan kecuali menghindar
kehendakmu menantangku, bukan hanya untuk siapa yang akan pergi
setiap molekulku adalah kesalahan yang takkan pernah memungkinkan perbaikan
maka jangan heran dengan semua keherananku, biarkanlah aku maju
sebab akulah pemilik seribu jurus dari seribu jurus yang ada
definisi pun tak mendeklarasikan akanku
ketika penalaan selalu saja terjadi pada setitik saja bentukan benakku
maka lebih agung aku mati, agar aku tak terkait dengan apa yang memang sesungguhnya
tak pernah terkait padaku, sekali saja jangan menoleh kearahku
bukan aku pelakunya, bukan aku tersangkanya, bukan yang berbuat aku
ketika ini hanyalah sebuah koma, bukan kata atau kalimat
hatimupun terpaksa mengernyit dan bertapa dalam semedi yang harusnya milikku
percayakah engkau sedangkan aku percaya
seluruh tentangmu pun akan terbenarkan
bukan dimulai dari saat ini atau telah ada sejak dulu
tapi karena memang seperti itulah yang kejadian inginkan….
 

Tanah

 
Aku ingin lebih tidur dari ini
Berkipasnya udara memanjakan daya
Dan terus bertambah kekuatan tanpa pusat tanpa batas
Aku ingin lebih tidur dari ini, saja
 
Aku ingin engkau lebih menginjakku, lebih melukaiku, lebih menyakitiku. dan sah bagimu bila hendak menguliti luka per luka disekujur rasaku. atau cahaya yang mencegahmu, atau kegelapan yang memberhentikanmu. bolehlah aku terjatuh dari atap langit mengabadikan kealpaanku akan kejatian dirimu yang keseluruhannya cakrawala tergetar betapa setianya aku kepadamu. termabuk aku mengungkap sari, dan ini benar bahasaku. yang tak menuntutmu untuk tahu, hanya aku yang menyertaimu dalam segala jenis predikat. merebut sepenuhnya dirimu dalam pola yang mustahil untuk engkau pahami. merasuki, menjadikan aku sebagai engkau. hingga terasakan olehku segala yang menimpamu. pergi menghilanglah semiliar citra pagar dan batas. berada diantara kepenjaraan dan kebebasan, aku syahdu menari pada kesemuanya gerakan, tertabuhkan oleh tangisan dan tawamu. oleh segala rupa ambiguitas. makna makna pun akhirnya berseliweran, menyalami satu per satu keanggunan tegak berlakunya kejadian. siapa yang membingkis ini menjadi sedemikian indahnya.
 
Aku ingin menceritakan kepadamu, betapa keadaan ini tak pernah bertopeng
Bahwa aku bersedih seketika kebahagiaan tiba, bahwa aku bahagia seketika kesedihan tiba
Maafkan aku jika memilih membahagiakanmu esok hari, daripada melukaimu saat ini
Sempurna
 

Api

 
jangan lukiskan aku dengan kemarahan dan nada yang tak berimbang
telah kucuri dari kalian semua, sesuatu yang tak kalian tahu dalam keberhargaannya
dengan itulah kehidupanku, dengan itulah sempurnaku, dengan itulah aku sang aku
dan memang akan selalu beginilah samaranku melengkapkan yang tak lengkap
aku berani menyandang sifat ini, meski itu menutup kesempatan akan sebuah percakapan
sampaikan salamku pada segala kedambaan yang kurelakan
kepada kesucian cahaya ketika putih adalah terang, pada agungnya pertumbuhan yang tak tertetesi keangkuhan
menjadi keberhakan atasnya menyentuhku, dia yang kekejamannya tak pernah terpahami
wajarlah aku bertanya bilamanakah dua cawan satu permadani teradakan kembali
untukku bersyahdu dengan diriku sendiri
mengenalkannya pada identitasnya yang sebenarnya
bahwa tak apalah buah berbeda bentuk dengan akarnya, tak apalah tak semuanya terjawab
maka dengankulah keberputaran berlangsung, keseimbangan tersakralkan
syarat menjadi kenyataan yang samar, membiarkan bersebaran pandang demi apa yang dipesanggrahan mata
bukan hendak mempersulit segalanya, aku hanya ingin meletakkan segala sesuatu pas sesuai pada tempatnya
maka beginilah adanya dalam keseharusannya…

Bersama Selembar Daun

Puisi Anwari WMK

daun gugur
ilustrasi diunduh dari iwanandesta.blogspot.com

Pagi hari di akhir bulan Januari
Dalam dekapan tahun penuh resah
Engkau datang bersama selembar daun

Ucapanmu waktu itu:
Di selembar daun ini tertulis tergores
Rajutan-rajutan takdir cinta
Cinta yang tak sampai

Saat hendak kutanya:
Cinta siapakah itu?

Tiba-tiba runtuh air hujan
Dan engkau bergegas pergi
Bersama selembar daun itu
Daun yang hendak kumiliki

Sejak saat itu
Sajak-sajak cinta dan rindu
Puisi-puisi cinta dan rindu
Bersimbah airmata

(2013)

Dua Tiga Perihal Teh Susu Masa Kecil

Puisi John Kuan

1.

Dari kaleng teh oolong masa kecil
pertama kali mengenal sungai dan gunung
Tiongkok, kata kakek: awan dan kabut
Gunung Wuyi terkurung di dalam kerutan daun.
Duduk di pelantar, ombak putih, pantai abu-abu
camar berputar, teriak, kami tujuh mulut delapan lidah
berebut cicip dan tanya: Kakek injak awan atau ombak datang?
Angin menyobek daun pisang, buah jambu jatuh di atap,
ayam berkokok petang, jauh dekat bunyi ketuk tambal kapal,
matahari tropis, punggung telanjang, bau damar terbakar
Sungai meliuk keluar kaleng, gunung berlapis,
ranting dedalu menyentuh muka meja, ada seseorang,
amat kecil, menuntun kuda, menoleh di ujung jembatan,
beberapa helai daun jambu terbang ke atas meja,
gunung dan sungai di kaleng ikut bergetar, asap
gubuk membumbung, suara seruling merayap keluar
mulut jendela di tepi sungai, hujan baru jatuh di dermaga
Suatu hari aku pasti ikut perahu berlayar: lautan jauh,
cinta platonik, mulut menghafal sabda Guru dan puisi Tang
hati ikut angin amis terombang-ambing di Laut Mediterania.

2.

Dari kaleng susu kental masa kecil
pertama kali mengenal Olanda, negeri air, negeri bunga,
negeri berbagai ternak, padang rumput dipotong kanal-kanal
Sapi perah hitam putih, yang muda bagai nyonya bangsawan
yang tua bagai kepala keluarga. Domba putih, rumput hijau,
gerombolan babi hitam menganguk-anguk,
seolah apapun setuju, anak ayam berjuta, kambing hutan
berbulu panjang, tapi tidak tampak bayang manusia
Petang, ada orang di atas geladak kapal kecil
duduk memerah susu, langit barat dikuas kuning emas
di jauh ada suara peluit kapal uap, selebihnya senyap
pemerah susu lebih suka tutup mulut
Tong-tong penuh susu bergerak perlahan-lahan
truk, kereta api, menuju kota dekat dan jauh
Anjing tidak menyalak, sapi tidak melenguh
kuda tidak menyepak kandang, malam hitam pekat,
beberapa mercusuar berkedip cahaya lemah

3.

Dari botol minyak ikan masa kecil
pertama kali mengenal Eropa Utara, ternyata juga ada
polusi, grafiti, dan sapaan petang kincir angin,
voltase 220, bak mandi lebar dan dalam,
pintu kamar berpalang, perlu hati-hati,
sekitar Helsingor, Kastil Kronborg, ada perkara Hamlet
Sepanjang malam putih bulan Juli, tanpa buka lampu
juga bisa membaca lembaran-lembaran melankolis
Kierkegaard, filsafat selalu kebutuhan sekunder,
warna abu-abu merpati, domba sesat mengembek pedih
Soren Kierkegaard sepanjang hidup cuma pernah ke Berlin
Selain tidak pindah ke negeri tetangga, hatinya pun utuh diberikan
bisa ratap bisa tertawa, atau sambil ratap sambil tertawa
hijau tua Finlandia, hijau hambar Islandia,
ungu Swedia, cokelat Norwegia
Denmark hitam putih kuning, seolah kejadian itu
persahabatan Nietzsche dan Brandes yang mengepul
satu lalluby di tengah badai telah kabarkan keheningan.

Alir Api

Puisi Binandar Dwi Setyawan
Maka baur hilang segala
Wajah kekasihmu tak lagi terang
Kau semakin diburu rindu
Dikerubut bingung
Mati oleh kasmaranmu sendiri

Rusak arah penisbatan, sudah
Ditenangi ketidaktenangan
Membiasai keonaran
Lalu dari apakah lagi kau bisa terkejut
Bahkan pembaringan kauanggap medan laga

Pengaturanmu meluar batas
Takut dalam dirimu menakuti tiang tiang
Segalanya menyebab
Tafsiri
Kelebat tujuan bagai kesejatian

Menguat atau melemahkah kau
Jawab jawab tersekat
Asing semakin asing
Kau tak tahu lagi dengan apa kau musti bertarung
Lalu kekasihmu muncul
Jelas sudah bagimu siapa dia

alir api
gambar diunduh dari meydianmey.wordpress.com

Pembayar Pajak, 1940

Puisi John Kuan

tax payer
gambar oleh John Kuan

Melihat kau jongkok di dalam halaman tua

National Geographic, katanya: [ Orang Toraja

memakai bahu jalan sebagai blangko pajak ]

——— dua raut wajah negeri atas, seolah baru

melangkah keluar dari mimpi purba leluhur, berbalut selimut.

Dingin, serius, melankolis, menghitung jumlah ladang

dan ternak dalam segenggam serpihan kayu

Tiga orang satu kursi, tentu buat pemungut pajak

dari negeri bawah. Santai, hangat, sulit diduga

entah menyindir atau bercanda. Jemarinya mondar-mandir

memindahkan ladang dan ternak ke atas sekeping batu tulis

Dari mantel kapas, hitam, menjulur keluar satu tangan cekatan

menjelma seluruh milikmu menjadi angka dan tanda.

Dua pasang kaki telanjang mencengkeram bumi, begitu kekar

menyatu, kau ingin aku tahu tubuhmu adalah tanahmu.

Kau ingin aku tahu hal begini tidak bisa dirasakan

orang beralas kaki. Atau kau sengaja meninggalkan blangko ini

buat puluhan tahun kemudian diisi pajak waktu, denyut hati.

Desember Debu Kelabu

Puisi Anwari WMK

burung pipit
gambar oleh Anwari WMK

Bertengger di reranting pohon
Seekor burung bernyanyi
Senandungkan lagu ihwal
Desember mendebu kelabu

Nyanyian adalah tanda
Tentang suka cita jiwa
Untuk selarik makna
Nikmat mereguk fana

Sukma kian tercabik dingin
Desember mendebu kelabu
Seekor burung di reranting pohon
Hanya dimampukan takdir
Senandungkan tembang pilu

Hingga senja menjelang
Burung itu masih bernyanyi:

“Tak ada perih lebih sembilu
Dari Desember mendebu kelabu
Tak ada pedih di atas nyeri
Dari Desember mendebu kelabu”

(Desember 2012)