BAH!

Resensi Anggie Maharani

Ini adalah buku ketiga Martin Siregar. Buku pertama “Istriku” Kumpulan Cerpen Unkonvensionilm Jilid I (2003)”, langsung laris manis habis terjual. Buku terbit atas dukungan program kerjasama Ikatan Penerbit (IKAPI) Kalbar dengan Ford Foundation. Terbitnya buku ini mendorong Martin Siregar semakin mencintai kegiatan menulis. Sempat rutin menulis opini dan komentar pada surat kabar Suaka Pontianak tahun 2004. Dan selalu menulis makalah, refleksi, fiksi dan mencicil cerpen tuk diterbitkan. Sebenarnya naskah cerpen sudah tuntas naik cetak 2005. Tapi buku:”Kawan Kentalku Bason” Kumpulan Cerpen Unkonvensinil Jilid II, baru dapat diterbitkan tahun 2007 atas dukungan Members of The Camp Connection Medan. Buku kedua punya nasib yang sama dengan buku pertama. Laris manis laku terjual lewat gaya jual perkawanan model indi.Hadirnya facebook membuat Martin Siregar semakin terpacu, Sangat produkti menulis fiksi opini renungan yang disebarluaskan di kalangan perkawanan facebook. Naskah buku:”Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensinil”. Sebenarnya sudah bisa diterbitkan tahun 2010. Kembali lagi Martin Siregar mengalami hambatan untuk menerbitkan buku ini. Dan, atas dukungan “gerombolan unkonvensinil” (**)buku ini terbit september 2012.

Diawali kata penghantar dari Pay Jarot Sujarwo Pontianak dan Jemie Simatupang Medan (keduanya perwakilan gerombolan unkonvensionil), buku langsung membahas Wacana Unkonvensionil yang sampai sekarang belum terformulasi dengan baik dan benar. Bab II Bertutur tentang:”Dunia Tulis Menulis”. Pada kesempatan ini Martin Siregar mengaku bahwa sejak zaman dahulu kala dihimbau untuk menulis. Tapi dia tidak memperdulikan dan baru bertobat mulai giat menulis ketika berumur 41 tahun, Nilai filosofi menulis, kegagalan membentuk kelompok, serta perdebatan hal ikwal unkonvensinil dipaparkan pada Bab II

Setelah itu Martin Siregar memberikan tinjauan kritis mengenai kehidupan ummat beragama. Kemunafikan, dan penyimpangan dogmatika/teologia agama ditelanjangi Martin Siregar pada …Bab III:”Perspektif Teologia”. Buku ini mengalir lancar karena pada Bab IV”Aku dan Kehidupan” menceritakan konflik bathin maupun kisah manis sejarah linear kehidupannya menyusuri garis matahari. Banyak pesan yang bisa memandu pembaca menghadapi kehidupan yang pincang. Selanjutnya Bab V:”Kisah Tentang Kawan Kawan” Realitas kehidupan sehari hari, kepincangan sosial, sosok sahabat muda yang kerja untuk perubahan sosial, pergumulan dalam gerakan sosial, dikupas tuntas pada bab ini.

Buku diakhiri dengan Bab VI:”Lampiran”.Jemie Simatupang menceritakan pengalaman Martin Siregar mengorganeser kelompok anak pedesaan korban Tsunami di Meulaboh Aceh Barat. Selanjutnya, cerita tentang keunikan yang dirasakan Budi Rahman melihat karakter bohemian acuh tak acuh sahabat tuanya Martin Siregar. Muchin cerita soal gaya Martin Siregar desak dan terror orang agar selalu menulis dengan gaya hasut PKI. Iphiet Safitri Rayuni kawan muda Martin Siregar ikut menulis. Semula Iphit pikir orang gendut Martin Siregar adalah kaki tangan intelijen yang nyusup ke aksi mahasiswa (1998). Tapi pada akhirnya mereka berkawan akrab saling curhat walaupun berjauhan. Pada lampiran ada juga tulisan kawan lama Martin Siregar. Yayak Yatmaka (sekaligus ilutrator dan cover buku ini) kartunis dan buron orde baru yang sampai sekarang masih membandel Hua…ha…ha.., menuliskan kesan tentang kawan kentalnya Martin Siregar.

Yah,..Buku ini berenergi menuntun kita semakin tajam melihat realitas kehidupan, walau dengan bahasa yang ringan santai. Tapi, memberi pesan yang sangat mendalam.

(**) Gerombolan Unkonvensionil: Merupakan kelompok kecil yang terus menerus mempertebal kecintaan terhadap kegiatan menulis dan usaha menerbitkan buku. Tidak patuh terhadap tata bahasa baku bahasa Indonesia. Lebih tertarik mempergunakan bahasa yang gampang dimengerti daripada bahasa Indoensia yang baik dan benar. Selalu bertutur tentang hiruk pikuk kehidupan sehari hari sebagai sarana menjernihkan mata hati sidang pembaca. Dan, berharap dapat memberi konstribusi untuk perubahan sosial dalam arti sesungguhnya.

Judul: BAH! :Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensionil
Karya Tulis : Martin Siregar
Design Cover dan ilustrasi gambar : Yayak Yatmaka
Lay out : Pay Jarot Sujarwo
Tebal : xvi + 294 Halaman

*)Anggie Maharani adalah Pemerhati sastra Sanggau Kalbar.

Catatan:

Harga Eceran: Rp.70.000 (belum termasuk ongkos kirim di luar pontianak)
Transfer No. Rekening :

Bank Mandiri Sanggau 146 – 00 – 0652365 – 3 atas nama Martin Siregar
atau
Bank BCA no rekening: 0291465781 atas nama PY. Djarot Sujarwo

Bagi pemesan di luar pontianak, yang berminat membeli ongkos kirim 20.000 rupiah. dan jika sudah transfer, harap alamat pengiriman dikirim ke inbox Pay Jarot Sujarwo atau Martin Siregar, atau SMS ke 085750568003 atau 081256918507

Ponte Vecchio

Cerpen Indah Margaret
Editor Ragil Koentjorodjati

 

gambar diunduh dari pengusaha.org

Jakarta, 1998

“Dinara! Aku dapat sepuluh. Aku yang menang!” Ranum tertawa riang sambil menari-nari di bawah cahaya senja yang mengabur perlahan menjadi malam.
“Ah, curang kamu Ranum. Pasti tadi sudah kamu bawa dari rumah. Masa baru berapa menit sudah dapat sepuluh?” aku menyahut tidak terima. Namun ia malah ikut menari bersamaku.
“Eh..eh..wah gerombolannya datang lagi. Itu..sstt..happ!”  Ranum menghentikan tariannya, lalu  berlari perlahan meraih dedaunan yang menjuntai lembut menyentuh rambutnya yang berwarna cokelat emas. Dengan cekatan ia menangkap satu kunang-kunang baru.
“Huwa..! Dapat lagi! Sekarang aku dapat sebelas kunang-kunang!” Serunya puas.
“Haaaa.. Ranum sekarang punya sebelas kunang-kunang. Aku hanya punya satu..” keluhku  sambil memandangi kunang-kunang hasil tangkapannya di dalam sebuah kotak transparan.
“Ini.  Aku berikan lima kunang-kunangku buatmu.”
Aku terdiam. “Ah..Ranum..”
“Jadi sekarang kita sama-sama punya enam kunang-kunang.” Ranum tersenyum puas saat memandangi kotak milikku yang sudah berisi lima kunang-kunang miliknya.
“Terimakasih ya, Num.”  Kami saling melempar senyum, kemudian duduk menyandarkan tubuh yang mungil pada dinding jembatan yang kokoh. Air sungai menderai sejuk seperti suara burung-burung gereja di pagi hari.
“Num, kenapa sih kamu sebut tempat ini Ponte Vecchio? Ini kan hanya kolong jembatan saja?” Ranum hanya memandang langit, sambil menghamparkan hatinya yang damai tertiup angin malam yang mesra.
“Nenekku sering  bercerita tentang kisah jembatan Ponte Veccio. Kisah dalam sebuah lagu klasik, tepatnya.”
“Lagu klasik?”
“O Mio Babbino Caro[1]. Nenekku sering sekali menyanyikan lagu itu. Kisahnya tentang seorang perempuan yang bercerita pada Ayahnya tentang rasa cinta pada kekasihnya. Dia ingin Ayahnya merestui cinta untuk kekasihnya itu. Seandainya Ayahnya tidak setuju, perempuan itu akan pergi ke Ponte Vecchio, dan menceburkan diri ke sana.”
“Maksudmu?”
“Dia mau mati.”
“Lalu, apa dia mati?”
Ranum mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu. Ceritanya hanya sampai di situ.”
“Memangnya, apa itu Ponte Vecchio? Jauh tidak dari sini? Ayo kita ke sana!”
“Mana bisa kita ke sana, Nar. Ponte Vecchio itu nama sebuah jembatan di Italia.”
“Oh.. ya ampun! Kamu sebut tempat ini Ponte Vecchio karena cerita itu?” Dipandanginya jembatan yang melingkar menyambung sungai di atas kami dengan wajah jenaka. Ranum yang dari tadi bertindak sebagai pencerita itu tersenyum menerawang cahaya senja di depannya  yang mulai menghitam.
“Aku kan tidak bisa ke sana. Tempatnya jauh sekali. Tapi aku suka sekali lagu itu. Jadi..” Ia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan ceritanya lagi. “Kusebut saja tempat ini, Ponte Vecchio kolong Jakarta.” Senyumnya cerah seperti sinar matahari yang membias di balik kelopak bunga mawar di pagi hari.
“O mio babbino caro. Mi piace è bello, bello..”
Ia pun mulai bersenandung.

***

Jakarta, 2012

Ranum, kita harus bertemu.
Kularikan ragaku menembus  udara sore yang entah mengapa terasa cukup pengap untuk kuhirup.  Sejauh mataku memandang, hanya ada lautan manusia yang semerawut menjejaki aktivitas sore kota Jakarta yang rimbun dan sesak. Ada yang dengan tanpa bersalah menerobos si tuan lampu merah dengan percaya diri, ada yang memaksakan bunyi klakson mobilnya dengan penuh kemarahan, ada yang pasrah saja melepas kopling mobilnya karena yakin bahwa kesemerawutan ini hanya akan menimbulkan kemacetan tanpa pergerakan sedikit pun.

‘Tin, tin, tiiiiiiiiiiin…’

Kutekan klakson mobilku dengan geram. Kenapa tiba-tiba sore ini rimbunnya jalanan sudah lebih-lebih dari pasar ikan pagi hari di pinggir kota? Akh!

‘Tin, tiiiiiiiiiiiiiin..’

‘Ngeng..ngeeeeng.’ Seorang pengendara sepeda motor mengepulkan asap dari knalpot motornya di depan mobilku, sambil membalikkan wajahnya yang tertutup helm ke arahku. Tampaknya pria dengan jaket kulit cokelat itu kesal dengan bunyi klakson mobilku.

“Apa? Apa lihat-lihat?” Aku bergumam kesal ketika si tuan lampu merah berubah warna menjadi hijau. Semua makhluk di jalanan seketika melakukan pergerakan dengan kendaraan masing-masing, Begitu pun denganku. Kupandangi langit sekilas, lalu kembali melemparkan pandanganku ke arah jalan yang ada  di depanku.

Ranum, kita harus bertemu.

Kupegang erat kemudi mobilku, berusaha menekan perasaanku sendiri yang terlalu berkecamuk untuk mampu kulukiskan. Tiba-tiba saja aku merasa ingin sekali menghilang dari dunia. Aku tahu entah bagaimanapun keadaanku, toh langit tetap masih biru, dan udara masih tersisa banyak untuk membiarkanku tetap hidup. Namun ternyata, itu tak mampu menggoda hatiku untuk merasa lebih baik saat ini. Bukankah seharusnya hari ini aku berbahagia? Bukankah seharusnya hari ini akan menjadi hari terindah setelah esok? Aku menarik nafas panjang.

Ranum, kita harus bertemu.

Dan meskipun mobilku sejuk karena air conditioner yang menunjuk tombol ON, namun entah mengapa udara semakin lama semakin terasa sesak untukku. Kunyalakan audio mobilku, menekan tombol yes pada sebuah lagu favorit. Namun ternyata, suara merdu Elton John pun tak mampu meredam kegundahanku. Malah, resahku semakin menjadi-jadi. Kuputuskan untuk mematikan audio mobil. Sepertinya, sunyi lebih baik. Ingin sekali rasanya memejamkan mata untuk beberapa menit, dan melepaskan diri dari kemudi yang sebenarnya semakin membuatku takut. Namun tentu saja itu tidak bisa. Mobil ini harus terus berjalan menembus jalan. Mobil ini harus mengantarku pada sebuah kejelasan. Mobil ini harus kulajukan demi menebus resah yang membuncah tidak karuan.

Ranum, kita harus bertemu.

Mobilku melaju melewati sebuah gereja tua di pinggir kota.

Tidak pernah berubah..

Aku berbisik pelan berdialog dengan diriku sendiri saat sebentar kupandang gereja tua itu. Masih saja kucintai, bunga-bunga Lily yang cantik itu, juga halaman yang tak terlalu besar namun cukup lega untuk tempat aku bermain semasa kecil dulu. Ranting-ranting kecil yang jatuh menyebar di kaki pohon, daun-daun hijau yang seringkali berguguran saat angin menghembus di kala terik, bunga madu yang seringkali kupetik sampai gundul karena rasa penasaranku untuk menghisap madunya; semua mendesirkan jiwaku. Rindu ini menggumpal di pembuluh darahku. Lalu, apakah aku akan menangis sekarang? Atau lebih tepatnya, apakah aku cukup pantas untuk menangis sekarang?

Kulajukan terus mobilku tanpa henti. Kutelusuri jalan berbatu yang semakin lama semakin menyempit. Dari sini, wangi desa mulai terasa meskipun aku tidak membuka kaca jendela mobilku. Ingin benar rasanya berhenti sebentar dari lintasan ini, dan mencium satu per satu kerinduan yang merogoh hatiku sejak tadi. Namun, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus bergerak cepat sebelum senja mencuri kesempatanku. Kuinjak pedal gas mobilku, merasakan adrenalin semakin menghujamku bagai cambukan yang melukai punggungku dengan beraturan. Suara air sungai yang teduh menjadi gerbang yang kutunggu-tunggu. Baiklah..

Ranum, kita akan bertemu.

Kuhentikan laju mobilku, dan menyandarkan diri sejenak pada kecamuk yang merindangiku. Kutarik nafas dalam-dalam, dan menguatkan diri untuk sanggup membuka pintu mobil dan berdiri menghadapi kenyataan. Namun sebelum aku mampu melakukan itu, kupandangi sebuah kotak transparan yang kuletakkan di sampingku. Kupandangi kotak itu dengan kerinduan dan irama lain yang sungguh terlalu sulit untuk kujelaskan. Kuraih kotak itu, dan kugenggam dengan kedua tanganku. Perlahan kubuka pintu mobil, dan saat itu pula, jantungku seperti tertohok sesuatu yang keras. Seperti ada lonceng besar yang berdentum keras di kerongkonganku. Kubiarkan kakiku melangkah menyusuri tepian sungai yang wanginya segar seperti wangi pepohonan Cytrus. Di depanku, awan menyulam tarian-tarian malaikat lewat angin yang bertiup mesra. Seperti yang aku tahu, angin membawaku ke tempat di mana aku harus berada hari ini.

Dan di depanku,  aku melihat Ranum.

Ia berdiri menahan sinar matahari yang mulai menjingga di pelupuk mataku dengan tubuhnya. Bayangan tubuh rampingnya jatuh remang menghampar di atas bebatuan. Rambut cokelat emasnya terhempas-hempas oleh angin sore yang merinai mesra menjemput malam. Wajahnya yang lembut berkilau-kilau tersiram cahaya langit sore.

“Dinara..” Ia menyebut namaku saat melihatku datang.

Ranum.. Ranum.. Maafkan aku..Maafkan aku.. Belum saja aku sanggup berkata-kata, mataku sudah perih menahan air mata.

“Apa kabar, Nar? Seperti sudah begitu banyak hal yang berubah, ya?” Kedua mata sendu itu tenggelam memandangi aliran air sungai yang tampak seperti anak-anak kecil yang berlarian hendak pulang ke pangkuan ibunya.

Aku bahkan tidak sanggup memandang kedua mata itu. Kubuang saja pandanganku ke arah jembatan besar yang melenggang gagah di atas sungai ini. Jembatan besar yang tampak seperti lembayung romansa setiap kali aku menghabiskan waktu bermainku bersama seorang sahabat kecil di kala senja dahulu. Kurasakan perih meluruh dalam hatiku.

“Bagaimana rasanya, Nar?” Ranum tetap tidak bergerak dari tempatnya.

“Bagaimana rasanya akan menikah dengan orang yang kau cintai esok hari?”

Tiba-tiba aku merasa seperti ada malaikat menamparku keras-keras. Ranum memandangiku dengan tatapannya yang penuh luka.

“Ranum.. Maafkan aku..” Aku menangis saat kupandangi wajahnya. Tapi Ranum hanya terdiam.

“Aku tidak pernah berniat merebut kekasihmu. Aku juga tidak mengerti mengapa aku tidak bisa berhenti mencintai Adian. Aku merebut Adian darimu. Aku jahat kepadamu. Maafkan aku, Ranum..” Tangisku pecah.

Kenapa harus kekasihmu, Num?  Kenapa harus laki-laki yang paling kau cintai? Kenapa harus sahabat yang paling kusayangi? Kenapa harus kau yang sudah begitu baik kepadaku? Kenapa harus aku? Kenapa harus kita?

“Kenapa tidak dari awal kau katakan? Kenapa kau harus menusukku dari belakang? Kenapa harus kau yang merebut Adian? Kenapa?” Suara Ranum terdengar pelan dan tenang. Namun, aku dapat merasakan luka dari suara itu. Luka itu menggetarkan dan semakin meyesakkan hatiku.

“Maafkan aku, Num..” Kusentuh kedua lengannya, sementara ia tetap diam.

“Semoga kau bahagia dengan hidup barumu, Nar. Maaf, besok aku tidak bisa datang ke pernikahan kalian.” Suara Ranum bergetar.

“Aku akan pindah ke Italia.” Ucapan Ranum barusan membuatku nyeri sampai ke ujung kepala.

“Kenapa, Num? Apa karena..”

“Aku akan melanjutkan studi ke sana. Mungkin..” Ia terdiam sejenak.

“Akan menetap selamanya..” Ranum memandang nanar ke arah langit. Wajahnya sudah basah karena air mata.

Selamanya? Selamanya? Aku merasa seperti ada badai berputar-putar di belakangku.

Apakah karenaku, Num? Apakah karenaku kau akan pergi jauh? Lalu, apakah kau akan melupakanku? Kalau kau pergi, aku tidak akan pernah punya sahabat lagi. Tidak akan pernah ada yang sebaik engkau, Num. Tidak akan ada..

Kurasakan duka mencambuk hatiku keras-keras.

“Aku akan merangkai hidupku dari awal. Lagipula sudah lama Paman memintaku untuk tinggal di sana. Kau tahu, aku selalu ingin berkunjung ke Ponte Vecchio.” Ranum tersenyum simpul. Namun senyum itu malah semakin melukaiku.

Ponte Vecchio.. Ponte Vecchio.. Bukankah kita biasanya mencari kunang-kunang di Ponte Vecchio kolong Jakarta ini bersama-sama? Lalu, apakah kita tidak akan pernah lagi..?

“Semoga kau bahagia, Dinara. Aku hanya bisa bilang itu..” Ranum memandangi wajahku dengan kedua matanya yang menyiratkan luka. Perlahan, Ia melangkahkan kakinya beranjak melaluiku, meninggalkanku.

“Ranum.” Ia menghentikan langkahnya saat aku memanggilnya, namun tak sedikit pun ia membalikkan tubuhnya.

“Ini.” Dengan hati bergetar aku memberikan kotak transparan yang dari tadi kugenggam dengan tanganku. Ranum menerima kotak itu, dan memandanginya selama beberapa detik.

“Ini.. ada sebelas kunang-kunang di dalamnya. Kau ingat? Dulu kau pernah memberikan lima kunang-kunangmu untukku. Padahal, seharusnya kau punya sebelas kunang-kunang dan aku hanya punya satu. Tapi kau malah memberikan lima kunang-kunangmu untukku. Sehingga kita sama-sama punya enam kunang-kunang.” Aku melihat Ranum terdiam saat menerima kotak berisi sebelas kunang-kunang itu, sebelum ia mulai menangis lagi.

Aku menghambur memeluknya.

“Maafkan aku, Ranum. Aku jahat kepadamu. Seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin melukaimu. Kumohon, maafkanlah aku..”

***

Hari ini adalah sebuah sore yang tak terlukiskan ketukannya. Seperti sebuah sore yang datang terlambat atau terlalu cepat dari rotasi waktu yang seharusnya. Suara angin riuh lelah seperti puing-puing hujan yang beku. Di sekelilingku, daun-daun bergoyang anggun bagaikan tirai pagelaran yang membuka  sebuah pementasan yang indah. Namun  ironisnya, pementasan itu adalah sebuah panggung tanpa warna. Tidak ada violinis yang memainkan melodi-melodi adagio yang menyayat hati, tidak ada pianis yang memainkan irama staccato yang melonjak-lonjakkan nadi, tidak ada timbaland yang memainkan dentuman ketukan dengan gagah, tidak ada suara. Ini adalah sebuah pementasan kosong. Yang ada hanya orang lalu lalang di atas panggung melafalkan setiap dialog bisu, tanpa irama.

Lalu, di atas sana, kulihat beberapa burung-burung kecil menari-nari lugu membelah udara. Dua di antaranya terbang beriringan, ikut mengikuti satu sama lain. Dua yang lainnya menari dengan irama yang berbeda. Lebih bebas, lebih luwes. Empat burung kecil itu seolah membentuk rasi bintang termanis yang tak pernah tertulis dalam kisah sejarah  astrologi. Kubayangkan aku dan sahabat kecilku berlari-lari mengejar kunang-kunang senja di Ponte Vecchio. Aku tersenyum saat mulai menangis.

Ranum.. Apa kabarmu, sekarang?

Aku merindu.


[1] O Mio Babbino Caro adalah sebuah lagu klasik dari opera Gianni Schicchi, 1918.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #21

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 21

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Begitulah kehidupan FDP. Cukup progresif dengan dunia anak muda maju terus menghayati pekerjaan. Dewi dan Dirga juga sudah ikut latihan meditasi ke rumah DR Pardomuan. Setelah beberapa kali dibimbing, mereka lakukan sendiri latihan meditasi di ruang monumental FDP.

“Bagaimana  perasaanmu setelah mengenal latihan pernafasan dan meditasi. Kalian berdua sudah menjadi keluarga besar FDP jadi harus memahami bahwa sakit suka dirasa bersama-sama di FDP ini.” DR Pardomuan memberi wejangan untuk kedua staf ini.

“Iya…Pak, rasanya daya tahan kerja saya meningkat. Dan, saya merasa damai dan tenang walaupun ada rintangan hidup.” Dirga memberi keterangan.

“Kalau kau macam mana Dewi?” DR Pardomuan beralih ke Dewi. “Sama saja Pak, sama dengan yang dirasakan Dirga.” Dewi bicara singkat saja. “Saya khawatir kalau kalian salah tafsir dengan meditasi. Karena meditasi itu oleh kaum mapan adalah hanya sebagai alat untuk menyempurnakan kepribadiannya saja. Bagaimana supaya mereka semakin sabar, semakin tabah dan semakin dapat diterima oleh masyarakatnya. Pemahaman seperti itu salah. Meditasi itu adalah alat agar kita semakin bersemangat melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah-tengah rakyat tertindas. Mempertebal nafas perjuangan kita. Jadi bukan menempa kita menjadi genit dan eksklusif.” DR Pardomuan memberikan pendapatnya.  “Jadi, dalam latihan kalian harus kaitkan dengan program FDP, bukan hanya sekedar penata kepribadian yang terlepas dari perlakuan ketidakadilan kepada masyarakat miskin.”

Pada akhir tahun 1984 penyusunan laporan FDP semakin rumit saja. Karena laporan dilampirkan proporsal baru untuk tahun 1985 – 1988 sebagai tindak lanjut. Disamping proporsal untuk tindak lanjut, proporsal untuk peningkatan kesejahteraan melalui ternak ikan lele secara kolektif juga dilampirkan. Oleh sebab itu perlu rekrut staf baru. Mungkin juga restruktur organisasi pelaksana FDP dan staf baru untuk program ternak lele kolektif. Harus ada penambahan staf dengan 2 bidang kerja. Itulah hal yang paling mendasar mulai tahun 1985 ini.

Susanti tampaknya ingin keluar dari FDP. Karena selama ini dia yang sebentar lagi selesai kuliah dari fakultas hukum harus meninggalkan tugas bagian keuangan. Lembaga dana menuntut bidang keuangan dikerjakan oleh sarjana ekonomi.

Setelah 3 bulan hidup bersama Yuni dalam kesesakan, akhirnya Susanti merasa kalah. Dia menyerah merasa tak mampu hidup penuh keprihatinan bersama Yuni di kamar yang sempit. Di kamar itu pula tempat mengupas bawang, menampi beras, menggoreng sayur dan lain sebagainya. Kegiatan dapur di dalam kamar membuat ruangan sempit itu menjadi jorok, panas dan berminyak. Beberapa kali Susanti mengajak Yuni untuk tidak makan di rumah. Lebih baik kita tidak usah repot masak di kamar. Lebih baik kita makan di warung saja. Semula Yuni mau dan senang hati diajak Susanti, tapi lama kelamaan Yuni tidak bersedia. Dia merasa terlalu banyak pengorbankan Susanti untuk hidupnya.

Makanya sore itu Susanti kembali memboyong segala harta bendanya pulang ke rumah orang tua. Orang tuanya dingin saja melihat Susanti sudah kembali ke rumah. Mereka takut mempertanyakan alasan Susanti kembali pulang ke rumah. Mereka hanya bicara soal-soal yang prinsip saja. Kedatangan tukang ojek menjemput sewanya juga tidak disambut hangat seperti dahulu. Dampak dari kesesakan Susanti berada dalam rumah berakibat juga terhadap Muslimin.

“Aku sedang heboh memikirkan tempat lain selain kamar Yuni,” kata Susanti.

“Ah! Kau ini bikin masalah saja. Tahankan saja tinggal di rumahmu itu sebelum mendapat rumah sendiri.”

Kembali lagi beda pendapat antar Susanti dan Muslimin terjadi sebagai bunga-bunga cinta.

Tanpa disadari Ningsih selesai dari fakultas ekonomi universitas Zatingon. Setelah makan siang bersama di sekretariat FDP sekedar ucapan syukur internal FDP, Ningsih katakana, “Saya sudah sangat cocok kerja seperti ini di FDP. Saya tidak akan cari kerja di tempat lain.” Ningsih membuat semacam pernyataan sikap.

“Syukurlah kalau begitu, asalkan kau jangan merasa dipaksakan harus di FDP. FDP memberikan kebebasan mutlak untuk kita semua memilih tempat kerja.”

Tahun 1985 adalah tahun pengembangan program FDP. Pada periode tahun proporsal 1985 – 1988 akan dibentuk 7 kelompok tani, 3 kelompok peternakan ikan lele oleh ibu-ibu dan akhir tahun 1988 berdiri bangunan Balai Latihan dan Pendidikan 2 lantai lengkap dengan aula, kamar peserta, dapur besar dan lain lain. Untuk itu dibutuhkan penambahan staf paling sedikit 8 orang.

Armand menyusul Ningsih selesai dari fisipol universitas Sandiega beberapa bulan kemudian juga punya komitmen untuk tetap bekerja di FDP sebagai koordinator kelompok tani. Ucok juga tidak tertarik kerja di tempat lain.  Ucok mengaku bahwa pengalaman kerja di instansi negeri maupun swasta tidak memberi kebebasan berekspresi seperti di FDP. Yuni diajak Susanti untuk kerja sementara di FDP sebelum mendapat tempat kerja yang lebih sesuai. Yuni senang sekali berada di FDP. Walaupun di sekretariat FDP sudah ada kompor dan alat-alat dapur, diangkutnya segala harta benda masak memasaknya ke FDP.

“Lebih baik aku masak di sini, nanti pulangnya aku bungkus nasi untuk makan malam di rumah.”

Yuni menjadi fasilitator kelompok ibu di desa Jaejulu bersama staf baru Maemunah di desa Pohontoru dan Inggrid di desa Kembangbondar di bawah koordinasi Ucok. Maemunah yang sejalan dengan kost Yuni bersama-sama naik motor  ke FDP. Muslimin di kelompok tani Pohontoru bersama Armand ditugaskan mendampingi staf-staf baru dalam interaksinya di kelompok tani yang baru.

DR Pardomuan senang sekali melihat kondisi FDP yang sudah ramai dengan para muda yang tidak tergiur hidup dengan kelimpahan. Justru ingin bekerja bersama petani secara kongkrit. Sebuah kondisi kerja yang sudah lama diidamkannya. Walaupun anak kandungnya Arben Rizaldi tidak punya minat bekerja bersama rakyat, tapi, banyak anak muda yang sudah dianggapnya anak kandungnya sendiri dengan senang hati bekerja di masyarakat.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 20

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Puisi Lila Prabandari

Lagu ke-empat

 

hei,

ini lagu ke empat yang telah kunyanyikan untukmu

dengan nada dasar c memang tak cukup bagus untuk didengar

entah suaraku entah lagunya

atau barangkali syairnya

tapi aku ingin menyanyikannya

dan aku pun ingin kau mendengarnya

tentang hatiku yang merindumu

ingin sekali kau ada disini

melihat senyummu

atau obrolanmu yang terbata-bata gagu

aku rindu sikap salah tingkahmu

saat kunyanyikan lagu ke empat ini

lagu rindu

 

 

gambar diunduh dari shutterstock

Biarlah

 

kubiarkan luka itu,

untuk yang kesekian kali

meradang dan bernanah

perih? tak lagi…

mati

kaku

dan tak berasa

senyum dan tatap mata kosong

tak bernyawa

diam…

dan lebih berarti

DISAMBUT MERIAH, GEBYAK BANTENGAN MAHANDHAKA SEMERU 2012

Gubuk Klakah, Minggu, 7 Oktober 2012.
Menyambut upacara Yadnya Karo yang diselenggarakan pada bulan ke dua pada penanggalan Jawa, masyarakat suku Tengger merayakan dengan mengadakan acara kesenian Gebyak Bantengan. Bertajuk “Gebyak Bantengan Mahandhaka Semeru 2012” ini telah terselenggara dengan sukses dan meriah. Event menarik ini digelar tepat hari minggu pagi hingga sore di rest area desa Gubuk Klakah, Kec. Poncokusumo-Kab. Malang dan mendapat sambutan meriah dari wisatawan berbagai kota yang sengaja datang untuk menyaksikan. Menurut salah satu warga yang sempat penulis wawancarai, acara semacam ini diharapkan dapat menjadi agenda tetap pariwisata kabupaten Malang wilayah selatan, khususnya desa Gubuk Klakah. Gebyak Bantengan Mahandhaka Semeru 2012 kali ini diikuti tidak kurang dari 13 group Bantengan yang rata-rata tampil memukau, “garang” namun tetap indah.Acara Gebyak Bantengan dimulai dengan mengirap group-group Bantengan di sepanjang jalanan, start kirap dari wilayah bagian bawah desa menuju areal pertunjukkan yang berada di ujung desa bagian atas. Arak-arakan sepanjang satu kilometer itu disambut antusias oleh masyarakat desa bersama para wisatawan. Mereka bertepuk tangan dan bersuit-suit keras memberi spirit pada para pemain Bantengan. Tak cuma itu, perhatian masyarakat bahkan lebih mengesankan yakni dengan menyediakan air minum atau jajanan di piring, bahkan ada warga yang menyajikan beberapa “tundung” buah pisang di depan rumahnya dengan harapan dapat disuguhkan untuk para pemain Bantengan yang kehausan.

Desa Gubuk Klakah yang makmur dengan masyarakatnya yang ramah adalah potret desa di perbukitan, berudara sejuk dengan pemandangan alamnya yang indah. Desa ini terletak di lereng bukit dengan udara sejuk dengan kemiringan tanah cukup serta memiliki kesuburan tanah yang tinggi, sangat cocok untuk ditanami buah “apel Malang” yang rasanya manis-masam. Desa ini diapit perbukitan hijau lereng gunung Semeru. Desa Gubuk Klakah ini tidak terlalu jauh dari kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Dari desa ini kita dapat menuju ke kawasan wisata gunung Bromo melewati sisi Timur gunung. Menurut beberapa wisatawan, pemandangan alam ke gunung Bromo melewati jalur ini jauh lebih indah, kita akan menjumpai pepohonan rindang dengan suara-suara burung hutan yang saling bersautan merdu. Dari desa Gubuk Klakah itu kita ke akan ketemu desa Ngadas, kemudian diteruskan dengan menuruni jalanan di pinggiran tebing sampai akhirnya bertemu lautan pasir gunung Bromo.

Kembali ke event ini, adalah seorang Takim, pegiat seni Bantengan yang juga ketua Padepokan Galogo Djati, pada event Gebyak Bantengan Mahandhaka Semeru 2012 ini, ia ditugasi sebagai koordinator Bantengan Wilayah Timur. Lelaki ganteng berjanggut, berkacamata minus dengan gubatan ikat kepala khas suku Tengger, menjelaskan kepada penulis “Saya masih belajar dengan event ini, mas” katanya merendah “… semoga tahun depan akan lebih baik sehingga dapat menjadi agenda tetap pariwisata kabupaten Malang” tambahnya berharap.

Gebyak Bantengan Mahandhaka Semeru 2012 diikuti group-group Bantengan berkwalitas baik. Mereka hadir dari wilayah Timur, maksudnya dari wilayah Kabupaten Malang sebelah Timur. Kalau ada group tamu yang ikut nimbrung di acara tersebut adalah Group Bantengan dari kota Batu yang dipimpin oleh mas Agus Tobron. Group Bantengan yang ikut pada acara “Gebyak Bantengan Mahandhaka Semereu 2012” antara lain: Group Bantengan “Giras” dari Poncokusumo, “Singo Barong” dari Gubuk Klakah, “Maeso Lawong” dari Wringinanom, “Bromo Kembar” dari Pakis, “Lembu Gumarang” dari Petung Sewu dll.
Ada hal menarik dalam gebyak ini yakni para pemain Bantengan-nya yang rata-rata ber-usia muda. Mungkin dikarenakan jenis permainan ini memerlukan olah fisik dan stamina yang cukup prima. Bayangkan saja seorang pemain Bantengan mesti kuat mengangkat kepala banteng yang besar dan terbuat dari kayu berjenis keras. Kepala bantengan itu masih harus dimainkan (ditarikan) sambil lari ke sana dan kemari mengejar para penggodanya. Di sisi lain kita dapat melihat para pemain Bantengan yang tengah kerasukan roh (trance), dalam ketidak sadarannya tetap saja mereka menari hingga bermandikan keringat dan nafas terengah-engah.

Kemudian kalau mau disampaikan kritik pasti diseputar masuknya budaya modern (barat) ke dalam seni tradisional. Perhatikan saja uniform pemain yang rata-rata anak muda, mereka ikut bermain di acara tradisonal (Bantengan) dengan memakai kaos oblong bertulis jargon-jargon budaya pop (lihat foto). Kondisi begini tentu perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak, bukan untuk melarang atau mengijinkan, tapi lebih jauh lagi adalah untuk dijadikan bahan kajian budaya menyoal pada perkembangan seni-budaya dalam masyarakat post tradisional.

Meyakini kesenian Bantengan akhir-akhir ini sangat populer di masyarakat Malang Raya, maka rasanya sudah diperlukan sebuah “strategi budaya” yang disusun dan disepakati bersama oleh berbagai pihak, agar kesenian yang tumbuh akan semakin berkembang secara mantap. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah diharapkan dapat menjadi motor penggerak yang cukup siknifikan bersama-sama para budayawan, pelaku seni , lembaga kesenian, media, journalis, sejarawan dan masyarakat. Semoga!

Malang, 8 oktober 2012
ditulis oleh: AW/IDD

(Sumber: Indonesia Discovery)

Satu Sudut Cerita

Puisi John Kuan

1.

Minke tidak tahu dirinya kembali menjadi pembukaan sebuah novel.

Sudah dua tahun di ibukota jual-beli peluh, kulit, perut dan hasil bumi

Sesekali juga sejarawan bawah tanah rangkap geolog jarang ke lokasi,

katanya tidak penting. Apalagi hari ini, tapi hari ini sungguh G30S/PKI

Hari ini adalah absolut, bukan apalagi. Novel masa kini ingin pembukaan

baru kembali: Belum pernah melihat langit melengkung begini rendah

dan mendung, sekalipun kilat berkali menyapu genangan tinta dramatis.

Minke keluar dari UG pencakar langit mencari otak kecil, dia lepas-tangkap

di dalam sebuah taksi melaju di antara spasi kata-kata dekoratif. Minke

kaget, tidak pernah melihat badai ibukota bisa demikian membabi-buta

mengaduk jiwa seorang penjual-beli, juga mengaduk jiwa neokapitalis

juga jiwa supir taksi poskolonialisme, bahkan jiwa seorang pemain filem

menempel di kursi, ingatan dan tekad adalah pemercik api otomatis, sejarah

sial negeri malang ditransfusi lewat pembuluh darahnya ke ujung nozel

membakar mesin, mendinginkan cuaca tropis, melesat di jalan demokrasi

Tapi beberapa puluh kaki di bawah tanah, beberapa jiwa bergelombang

tapi bukan kaget. Minke kembali masuk ke UG pencakar langit, kelihatan

otak kecil duduk di satu sudut, satu sudut sejarah, dikepung hantu bisu

Otak kecil sedang melamun, seperti dapat mimpi bagus, bermimpi sulur

merambat di bawah tanah jadi hutan, mengantar air hujan, dan api,

hantu bisu tersenyum, hilang mendebu di dalam udara rima Angkatan 66.

gambar diunduh dari lil4ngel5ing_files_wordpress_com

2.

Minke dari gesekan rima Angkatan 66 menyusup ke dalam mimpi siang

Bersama otak kecil bernostalgia ——— hari itu juga celaka gelap, berdua

somnabulisme di dalam hujan miring, seandainya memang ingin caci-maki

mereka harus menghujat terlahir di dalam sebuah novel, di latar jaman

celaka gelap itu. Tapi memorial adalah tidak perlu, masa muda mereka

tidak usah dikenang hari ini. Mereka hanya perlu antar air hujan dan api,

melewati sebumi genangan hening. Minke menemukan latar telah jadi danau

beberapa bongkah awan hitam sedang menyelam, di atas pencakar langit

kilat sedang geram mengasah gigi. Dan otak kecil melihat latar makin kuyup

akhirnya menjelma jadi lumpur hitam. Bayangkan penjual-beli peluh, kulit,

perut dan hasil bumi bersama sekerat otak kecil bahu membahu meratap

seseorang tidak perlu identitas, seperti sang priyayi sesat di dalam lumpur.

Mungkin ini sedikit OOT: Beberapa tahun kemudian, ketika otak kecil bertatap

muka dengan regu penembak Sang Maut, mungkin akan teringat tahun 2000

suatu petang di depan rumah jagal sebuah kota provinsi, nama tidak penting

Rumah jagal itu telah telantar, dikuasai sekelompok seniman jadi rumah seni.

Namun seni eksperimen pura-pura itu membuat lambung luka. Mereka lebih

memilih keluar mengisap udara masa lampau: Di dalam ketenangan mengisap

habis bau darah terakhir. Tidak tahu mati berapa banyak babi, di udara

seakan penuh roh babi. ” Mungkin juga ada roh manusia ” Seseorang mulai

berbicara dunia-akhirat. ” Coba bayangkan, setelah mati apapun tidak ada ”

3.

Memori selalu di saat termenung berpapasan, menoleh kemudian melongo

Otak kecil terayun-ayun dalam perjalanan pulang, tidak tahu siapa berkedip

mata kepadanya, meniru senyum Maut, tapi senyum begitu hanya bikin orang

menguap. G30S tiap tahun pasti lewat, otak kecil tiba-tiba sadar sesungguhnya

novel ini tidak perlu sebuah pembukaan baru. Kalau curhat, otak kecil memang

ada sedikit. Tulis novel juga sudah pernah, namanya [ Curhat Tahun Celaka ]

Cerita tentang seorang lahir salah ruang dan waktu, negaranya dibombardir

guru kebenaran agung, bahkan rumah sakit bersalin juga, orang itu gunakan

waktu setahun taruh nyawa dewasa, tapi lupa dia mesti belajar bahasa apa,

tunjuk langit dalam hati: Cepat atau lambat kalian pasti akan mencicipi lihainya

Curhat Tahun Celaka! Novel terlalu absurd, apalagi kenyataan. Ketika otak kecil

sampai di rumah, Minke masih berjalan di alur cerita, berputar di dalam indeks

tapi tidak tersesat, hanya hampir menginjak bibir jurang negara. Pengawal alur

cerita menghardik, figuran juga memohon, namun dia samasekali tidak hirau

Minke amat jelas destinasinya, otak kecil juga tahu. Sebuah negara memalukan,

sebuah pemerintah memalukan, pejabat menggosok aus suatu hari suatu bulan

di kertas almanak, menetaskan berapa butir hukum, orang-orang tidak peduli,

mau cinta bisa cinta, mau pisah bisa pisah, alam tukar musim, hati siapa terluka?

Begitulah, otak kecil sampai di rumah, hanya dengan kaleng bir dia berbisik

Menyewa sepetak utopia di antara pasar moderen dan pasar tradisional, juga

diberi bonus neraka, sulur merambat sampai sini, transportasi air hujan dan api.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #20

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 20

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Siang itu FDP kedatangan 2 orang tamu. Bertampang preman gaya bicara membentak-bentak dipersilahkan Ningsih duduk di ruang tamu. Ucok kawani mereka bicara. “Kalian ini memberi penyadaran atau menganjurkan urban kota memberontak.” “Pembebasan tanah sudah selesai 2 semester yang lalu, tapi kenapa unjuk rasa tetap dilakukan?” Salah seorang tamu gencar bicara. “Apa apaan ini ? Abang jangan sembarangan bicara ya… Kami belum tahu apa masalahnya, sudah langsung main bentak bentak!” Ucok keberatan atas cara tamu yang datang ini. “Kalau kami pukuli abang berdua di sini lantas kami adukan abang ingin merampok, pasti abang berurusan dengan polisi.” Armand lanjutkan bicara Ucok. Nampak kedua tamu tak menyangka dapat perlawanan dari tuan rumah. “Kalau di tempat lain abang bisa sembarangan tapi kalau di sini jangan sembarangan.” Muslimin juga naik darah nampaknya. Mendengar respon yang bertubi-tubi sang preman lontong yang 2 ekor itu mengendur.

“Begini, Dik, dekat jalan keluar menuju desa Kembang Bondar akan dibangun perumahan mewah. Tadi, masyarakatnya unjuk rasa ke DPR dan kontraktornya hampir terbunuh oleh unjuk rasa itu. Kami dengar FDP adalah organisasi yang mengorganisir masyarakat di sana.” Preman itu menjelaskan.

“Terus terang kami mendukung sikap keberatan masyarakat terhadap rencana pembangunan tersebut. “Kami punya data tentang itu. Tapi, karena terlalu banyak unsur yang bermain dalam kasus itu, kami tidak ikut bergabung,” kata DR Pardomuan.

Kedua preman itu langsung tarik diri dari FDP. Dari ucapan DR Pardomuan jelas kelihatan bahwa FDP tidak takut berhadapan dengan preman. Hanya saja kebetulan FDP tidak terlibat pada kasus yang dimaksud, maka kedua preman itu tidak dilayani. Di meja tugas Muslimin, Susanti datang berbisik,” Rupanya Ricard Lonardo tadi hampir dibunuh pengunjuk rasa.” Muslimin hanya mengangguk-angguk kecil. Lalu DR Pardomuan katakana, “Cok,…kalau mau investigasi kasus itu silahkan saja, tapi jangan bawa nama FDP. Kita sudah merubah citra.”

“Hua…ha..ha…,” ketawa semua orang yang ada di FDP. Sudah ringan rasanya perbedaan pendapat yang sempat terjadi di FDP.

Ternyata, Ricard Lonardo mendapat tantangan yang cukup serius sebagai developer. Beberapa kontraktor lokal yang tidak kebagian proyek, bersatu menggugat keberadaan perusahaan Ricard.  Ikatan alumni fakultas teknik Universitas Sandiega bergabung dengan alumni dari Universitas Zatingon mempertanyakan: “Kenapa mesti menunjuk kontraktor nasional, padahal kontrakor lokal punya kemampuan untuk mengerjakannya”. Organisasi pemuda secara bertubi-tubi setiap hari datang ke kantor Ir Ricard Lonardo minta uang keamanan. Termasuk minta jatah pemasuk pasir, semen dan material lainnya. Ini membuat rasa iba Susanti, tapi dia lebih cenderung memihak kawan-kawannya kontraktor lokal.

Kalau sudah begini, jangan harap rakyat pemilik tanah bisa menang. Kalau kasusnya begini, pastilah perwakilan kontraktor lokal diundang ke Trieste, kemudian diberi jatah pembangunan oleh departemen, sehingga kontraktor nasional tidak mendominasi pembangunan tersebut. Hanya ini persoalan di departemen, sementara persoalan keadilan di tengah-tengah rakyat yang kena gusur, pastilah ditangani militer. Trieste oh…Trieste…entah kapan keadilan dan kedamaian dapat tercipta di sini. Ucok patah semangat.

Ucok memang agak repot belakangan ini. Karena semakin santer kedengaran bahwa Dewi Lyana jatuh cinta kepadanya. Sedangkan Ucok belum tertarik untuk menjalin asmara dengan Dewi.

“Terlalu manja dan tidak tahan banting si Dewi itu. Cantiknya sih…cantik, tapi itulah…manja kali kutengok.” Inilah pengakuan Ucok di tengah-tengah Armand dan Muslimin.

“Yah,…tapi, lama kelamaan ‘kan bisa juga Dewi berubah kau bikin.” Arman mencoba menjelaskan. “Lagi pula Dewi itu dari keluarga baik-baik,” Armand menambahkan.

“Pukimak kau Mand! Berapa kau dibayar Dewi.” Ucok suntuk mendengar ucapan Arman.

“Tidak…tidak Cok, dari pada Dewi yang lugu itu jatuh ke tangan laki-laki hidung belang, kan gawat…,”  Muslimin mendukung maksud Arman.

“Ah, taiklah sama kalian berdua. Kok jadi ini yang kita bicarakan. Apa tak ada lagi pembicaraan yang lebih bermutu ?” Ucok semakin suntuk mendengar celotehan-celotehan Arman dan Muslimin. Rumah makan langganan mereka siang itu jadi gemuruh dibuat ketiga staf FDP.

 

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 19

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Gadis Terbungkus Kertas Koran

Cerpen Willybrodus Wonga

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

Rasanya hantu-hantu berdesing melewatiku; hantu hitler dengan moncong pistol menempel pada pelipisku, hantu bethoven yang mendayukan sonata kesedihan, hantu karl Max menyeringai lebar lebar dengan sepotong pizza yang mencederai cintaku pada tahu isi,hingga hantu Bung Tomo dengan telunjuk seolah mencongkel mataku karena melupakan sejarah bangsa. Belum lagi hantu-hantu lain dengan segala masa lalu mereka yang melekat di bumi, entah urusan apa mereka berputar-putar mengenakan jubah bau bangkai ini. Hantu mereka berkerumun di bawah kakiku, menjepit leherku dengan napas-napas dingin serta wajah penuh belatung, dan Hitler mencemoohku habis-habisan ketika kereta ini menuntunku menemuimu; menuju masa lalu. Pasti Hitler yang pasi itu mengolok-olok karena kejahatanku atau mungkin karena sebentar lagi aku akan memilih mati mengikuti hantu-hantu tersebut. Tetapi aku telah menabung keberanianku untuk hari ini; ketika  ribuan hari melebur dalam bilangan tahun demi tahun yang datang dan berlalu kadang berbekas kadang terhapus oleh hujan di tiap musimnya, bahkan ketika kenangan telah terkuras habis oleh keringat yang mengalir deras dari tubuh kuyu yang beranjak sepuh, aku putuskan menemuimu sekali lagi. Bukan sekedar kunjungan dengan gairah-gairah terkekang, tetapi karena aku pernah keceplosan berkata padamu bahwa kutukan memilih jalannya sendiri. Jadi alih-alih mengindahkan hantu-hantu yang berusaha mencegahku aku mengutuk mereka: menyingkirlah kalian, mahkluk tanpa nurani, sejenak ke neraka atau ke surgamu.

Meski harus kuakui dengan semborono bahwa ingatanku pada setiap detil tubuhmu seakan tidak ikut terlebur oleh jutaan menit, aku cukup tegang akan menatapmu untuk sebuah jangka waktu 21 tahun perpisahan kita. Otak setengah mesumku mengandai; barangkali kau akan keluar dari pintu berpelitur halus itu dengan pulasan lipstik merah marun kebangganku, mengenakan celana pendek mencekik paha dan sebuah sweater yang menyembunyikan kutang hitam yang sering kau siram dengan parfum kesayanganmu. Kau akan berdiri di sana, dengan batas tidak jelas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik pintu. Akankah aku terpana seperti pandangan kesekian kali kala kita bertemu di tengah keramaian kampus, dengan menawarkan senyum profesionalmu tetapi selalu aku bilang senyummu lebih menarik kala kau kelelahan di samping ketiakku? Yang pasti akan aku katakan padamu, dengan setengah linglung, dengan setengah pucat bahwa kendati kita adalah sesama pemuja globalisasi yang memarkir norma susila dalam garasi kultur kita yang masih purbawi, lalu memilih bersuka cita oleh cara kehidupan asing yang menyusup lewat burger dan mac donalds dan kini kau punya kehidupan normalmu yang mungkin antah berantah aku ingin bertemu sekali lagi.

Langit tempat rumahmu tumbuh kini meludahkan hujan. Jogjakarta basah. Kereta tetap melaju mendekati stasiun.

Jangan kecewakanku, sebab bukankah kemarin siang kau menjawab teleponku lalu dengan riang kau nyatakan ada waktu bagi seorang sahabat lama? Jantung sialan ini masih juga menabuh genderang mendengar suaramu, meneteskan keringat yang menari-nari keluar dari pori tubuhku dan folikel rambutku yang mulai kendur. Berbohonglah pada suamimu, atau kepada siapa lelaki yang kini sering meminjam ragamu untuk sebuah kenikmatan yang dulu milik kita berdua. Jangan pula kau sertakan anakmu, bayimu mungkin, sebab itu akan mengingatkan akan berbagai hal lain, dosa-dosa tak termaafkan kita.

Hai,,,Petra! Puput! Marsha! Bela!!!!

Sapaan apalagi selain keempat nama yang cenderung, dan ini sesuai persetujuanmu, kunamaimu sesuai suasana hatiku? Kau hanyalah Petra yang biasa-biasa saja di pagi hari, yang mengolesi mukamu dengan make up lalu mengubahnya jadi topeng kecantikan, kemudian berubah jadi puput yang menawan pada makan siang, yang kadang menolak masakan pribumimu dan merasa lebih cocok menipu lidahmu dengan masakan ala jepang atau ala perancis. Aku kagum dengan caramu beradaptasi secara global. Dengan rambut kadang dikelabang dengan pita kau disapa Bela oleh teman-temanmu namun dalam hangat gesekan kulit kita kau berubah jadi Marsha yang penuh gairah. Dulu kadang aku membiarkan mulutku mendesahkan kata seperti; sayang! Atau my baby! Atau honeyku! Namun kata-kata itu terasa gombal dan tidak sepadan dengan dirimu. Pernah sekali, karena perasaan yang melimpah pada setiap lekak tubuhmu aku nyaris memanggilmu dengan kata; Malena, yang pada akhirnya Aku mengutuki diri sebab telah memikirkanmu sebagai maria magdalena, nama si pelacur itu. Oh, maafkan aku sebab aku telah memanggilmu dengan banyak nama dan membuatmu terkesan sedikit murahan, meski bersama teman-temanmu, harus kuakui, kau lebih sering memajang dirimu di mal-mal dan tempat-tempat hiburan.

Aku melangkah keluar stasiun dalam dedas angin. Jogjakarta, kota pelajar, mahasiswa berserakan dan aku makin mengingat masa kuliahmu.

“Sederhana. Kamu royal dan aku membutuhkan uang saku yang lebih demi pendidikanku yang mahal.” Kau menerawang saat menjawab tanyaku mengapa kau menodai kegadisanmu denganku.

Lalu akankah kau masih tersenyum manis, yang tentunya terlalu palsu dalam gaya genitmu, saat mendengarkan salah satu nama di atas tercetus dari bibir berkumis yang pernah melekat di atas bibirmu? Atau malah kamu melengos pergi untuk sebuah masa lalu kita yang benderang oleh kasmaran serta sebuah cinta terpasung?

Ah, Petra! Seandainya aku memiliki sedikit nyali untuk menciptakan Tuhan yang benar-benar baru, dimana kepadanya aku akan bersembah dan berterima kasih karena telah menciptakanmu, aku yakin akan melupakan norma agama yang ada dalam kultur kita ini dan berpaling dari istriku kepada tawaran dadamu yang membuncah. Tetapi, sekalipun menjadi anggota laskar westernisasi yang membutuhkan seks seolah seorang istri tidaklah mencukupi dan pernikahan tidaklah terlalu suci untuk setia serta yakin jiwaku akan masuk neraka, aku masih saja takut membenarkan hubungan kita kepada orang kebanyakan. Namun karena pengertian luarbiasamu untuk suami kesepian macamku, Aku semakin mencintai, bahkan berharap aku mati sambil mencium telapak kakimu.

Aku yakin sudah lebih dari sekali membuka-buka kenangan lama kita yang masih terasa semanis es jeruk di lapak Bu Wati pada siang-siang musim panas kita. Aku akan membayangkan dengan sedikit kehilangan bagaimana rupamu bila disengat panas, dengan butir-butir keringat hinggap di dahi, hingga wangi minyak wangimu meruap melalui udara yang kering. Menyangkut bau tubuhmu Puput; Aku pernah membelikan parfum mahal pada hari natalmu, kemudian berbulan-bulan kemudian kamu mengirim pesan bahwa parfum itu cocok buatmu sehingga uang bulanan selalu kusisipkan beberapa lembar sampai botol-botol serupa parfum pertama berjejer di atas lemarimu. Musim panas kita, setelah kuingat kembali, seolah-olah matahari berhenti berputar di atas kamarku atau kamarmu. Biar aku katakan kepada orang-orang mengenai gairah liar kita. Entah siang entah malam, oleh gelenyar desah dan tabuhan jantung yang seakan diremas kenikmatan cinta liar, kita selalu berakhir dengan bersimbah peluh. Dengan napas memburu. Bahkan di tengah malam sekalipun, ketika seluruh jagat seakan larut dalam penat kita malah masih saling menjamah. Kala tiap orang dibius mimpi dan telinga mereka berhenti dari kebisingan, telinga kita masih saja jangak menelan bisikan demi bisikan yang selalu terulang keesokan hari.

Petra, Bidadari liarku, cinta sesatku: pasti kau telah sangat merindukan jakarta. Ketika hujan tiba-tiba mengurungmu di kamar kosku, kau akan selalu jadi gadis beliaku sayang. Kendati dua puluh satu tahun membenamkan rahasia-rahasia tak terbongkar kita, aku akan selalu dibayangi mimpi tentangmu.

Biarkan aku melantur, Bella, karena aku tahu bahasaku akan mewakili semua ekspresi kejahatan seorang suami kepada istrinya. Sekalipun berhasil mendapatkan logika untuk diriku bahwa aku hanya ingin sebuah hubungan tanpa ikatan dan sebuah makan malam yang tenang, aku masih saja meragukan akal sehat kita berdua. Kau adalah mahasiswa keperawatan yang bisa saja memiliki kekasih normal dengan segenggam iming-iming tentang masa depan sementara aku adalah pria dua puluh tujuh tahun yang baru tiga tahun menikah namun memilih menghindari istriku yang serewel anak tujuh tahun. Pertemuan sehari kita di plaza yang mengawali tiap derap gairah tentu kau masih kenang. Aku memang memiliki setidaknya beberapa alasan yang menurutku cukup wajar membuatku menemuimu, begitupun kau pasti memiliki kesenangan tersendiri dari hubungan kurang ajar kita. Kau bisa memiliki motor sendiri, bukan dari hasil keringatmu tetapi oleh karena belas kasihku atas pemberianmu yang tiada batas. Namun, sekuat apapun aku menghindari rasa bersalah, sekuat itu pula rasa bersalah menggerogoti jiwaku.

Akhirnya, kamu berbicara tentang anak;

“Ceritakan mengenai anak pertamamu,” demikian kau bertanya pada sebuah makan malam yang sudah tidak kuingat. Aku mendelik, bagimu pasti kelihatan sangat genit untuk ukuran seorang lelaki, membuatmu tertawa renyah. Aku sahut;

“Menginginkan seorang anak adalah naluri seorang suami yang baik.” Aku cukup filosofis, pujimu selanjutnya. Kini, setelah dua puluh satu tahun wanita cerewet teman pelaminanku tersebut belum juga menetaskan sebuah janin sekalipun, Marsha. Dari cerita-cerita kita tentang berbagai hal, kau memberitahu bahwa kau pecinta makhluk-mahkluk kecil yang lucu itu. Mimpi-mimpi besarmu tentang masa depan selalu berhiaskan bayi-bayi mungil, bukankah begitu bela? Kau pun membingkiskan senyum buat bayi-bayi impianmu. Duhai Petra-ku, seharusnya aku tidak merusak mimpi-mimpi muliamu. Sebab sebelum aku berhasil meyakinkanmu kalau kau akan jadi seorang ibu yang baik kelak, rahimmu telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Seketika fantasi indahmu musnah dalam simbahan tangis pertama di kamar kosku. Aku turut diurung ketakutan serupamu, sayang, takut karena tiba-tiba mahkluk malang itu berkunjung ke dalam perutmu. Kita hanya bisa saling bertanya; kapan, malam keberapa, siang yang mana, saat kesiagaan kita dilebur gelombang nafsu-nafsu purba sehingga kita begitu teledor membiarkan pertemuan dua cairan tubuh kita melakukan pembuahan? Kau menangis sekali lagi dengan bisikan kecemasan yang luar biasa gundah. Tetapi, sekali lagi kukatakan sangat beruntunglah diriku memilikimu oleh karena loyalitasmu. Tidak macam gadis cengeng dengan seratus alasan untuk memerasku, kau lebih memilih pasrah. Katamu, seperti kutukan, hidup juga memilih jalannya sendiri. Di sanalah dirimu. Kau menolak menggugurkan jabang bayi kita. Bagian kecil dari fantasimu tentang bayi-bayi mungil di hari yang lain, menyisakan rongga di hatimu yang terluka. Meski dengan tangis, kau relakan makananmu turut menutrisi si penyusup kecil itu. Kau biarkan tanganmu mengelus-elus dirinya dari balik kulit pucatmu. Aku sangat tertekan melihat cinta tanpa pamrihmu.

Namun, bagaikan tersengat arus listrik atau kalajengking bunting aku menjerit di suatu senja setelah beberapa hari kelahiran putri kita. Kau mengiba-iba. Terucap serentetan kalimat memelas dari mulutmu bahwa karena beban moral, karena kau masih kuliah, dan karena hubungan terlarang kau telah bungkus bayi terkasihmu dalam sebuah kertas koran berlapis, dalam sebuah kardus bertuliskan indomie, kau letakan dia di depan toko swalayan yang sepi pada subuh yang dingin. Oh, itulah awal dari akhir kita.

Sudahlah, aku tak mau berlama-lama mengusik harta-harta kenangan sementara ini, meskipun aku berhak berlarut-larut, sebab langkahku telah mencapai pintu beralamatkan sesuai pemberianmu. Aku di depan pintu rumahmu, sayang.

Bukalah pintu itu, segera!!

*****

Aku mulai saja karena sudah hampir sejam kita berpelukan, hanya berpelukan seolah kata-kata kerinduan menjalar lewat kehangatan suhu kita. Kau hanya perlu mendengarkan, aku akan mengisahkan dia selama kita masih berpelukan dan terima kasih kau masih menggunakan merk parfum ini.

Seperti pribadimu; kekasih baruku punya banyak nama. Benar-benar kebiasaan tak patut ditiru dariku menamai sesuka hati. Mungkin aku mencontohi indutri musik kita yang memberi peluang tiap orang boleh bebas meniru gaya, penampilan, yang belaka milik orang sehingga musik zaman sekarang begitu trendy, sehingga aku merasa akan lebih terkesan bila kunamai kekasihku dengan nama-nama terkini. Dia adalah paula dengan gaun kuliahnya di pagi hari. Dia adalah Tasya dalam sebuatan ibu kosnya tiap kali aku mampir menanyakan dia. Dalam kartu mahasiswanya dia adalah paula anastasya. Namun dalam pelukanku, dia kunamai karlita. Sungguh aku punya maksud menamai dia seperti itu, sekedar menghidupkan sensasi lama kita bila kulit kita bergesekan di atas kasurku yang empuk dan yang selalu kau senangi.

Bella, izinkanku menceritakan tentang setan menggairahkan itu. Inilah tujuanku menemuimu; mencaritahu tentang dia.

Aku mula-mula bertemu paula pada suatu malam di sebuah tempat hiburan, dosaku terkasih, dan aku mendapati diriku tidak mengeluhkan kebiasaan anak muda yang menghabiskan uang kuliah seperti ini. Aku malah terus memandanginya hingga ia jengah, sebab dalam balutan gaun seronok, sumpah kupikir dia adalah dirimu. Aku sampai gila mengira Tasya adalah titisanmu. Sampai pada batas kewarasanku yang berpikir dia adalah dirimu yang tidak akan pernah menua, aku pun berhasil menutup “fase”-mu dengan sosoknya. Lalu, tak malu-malu lagi kami pun jatuh cinta. Oh, Marsha; makan malam bersama kita di waktu-waktu yang telah menumpuk dalam sejarah sungguh menenangkanku dari segala omong kosong di meja kerja. Dan demikian kami sekarang, sayangku. Paula sangat manusiawi dengan menolak pikiran pelajarnya bahwa aku hanyalah si tua beruban yang mengincar paha mulus gadis dua puluhan. Sejauh ini, aku yakin dia tidak pernah menuntut terlalu banyak. Tidak memanfaatkan dompetku yang tebal. Mengapa ada kemiripan hampir mutlak macam ini antara kalian, Bela?

Petualangan kecil kami, membujukku menyewa kamar kos di sekitar kampusnya. Aku menginap di sana selalu dua hari dalam seminggu yang menyedihkan karena perselingkuhanku, dan tahukah kamu bahwa istriku sama sekali menelan kebohonganku seperti menelan pil-pil yang membantunya tertidur lebih awal? Lembur di kantor. Minum bersama teman. Membahas peluang investasi, dan sebagainya. Dan sebagainya. Istriku percaya begitu saja selama cinta adalah uang dan uang adalah kebahagiaan rumah tangga kami.

Aku adalah kuda, Marsha. Maksudku bertenaga kuda. Dengan mengantongi angka usia menjelang lima puluh tahun, api sulbiku masih memanas memandangi paha mulusnya. Paula sangat wangi saat pertama kali segala pertanyaannya tentang rahasia apa di balik kulitnya yang sesegar jambu air menemui jawaban melalui lenguhanku. Gelenyar asmara berpendar hingga ke langit. Sayangnya, tidak sepertimu yang tabah, dia menitikkan air mata. Entahlah. Namun kau harus pandai menduga bahwa keesokan harinya dia mengirimi pesan singkat tentang kalimat-kalimat rindunya. Hmm, bagaikan kembang krisan mekar di sela-sela pagi.

Puput sayang, Jakarta selalu cocok buatku. Dimana macet menawarkan asusila kami di dalam mobilku yang merayap. Peluh bersimbah di balik baju kuliahnya, lutut kami bergetar takut ketahuan di negara hukum kita ini. Namun ketika mobil melaju lagi dalam kecepatan standarku, kami pun akan saling menertawakan lagi. Kegilaan yang manis dan bertabur bintang-bintang.

Petraku terkasih,,singkat cerita dia adalah dirimu. Semacam titisan yang mendebarkan. Aku menyerah berbulan-bulan ini untuk mengabaikan kemiripan kalian. Dan sebelum kisahku berakhir, benar-benar tuntas dalam satu letusan kembang api tahun baru itu aku ingin bertanya padamu. Pertanyaan antara kita berdua. Kau mesti mengetahui keberanian amat besar dalam diriku bahkan mengabaikan sekerumunan hantu-hantu yang tengah mengejekku untuk bertemu wajah masa lalumu, jadi bersikaplah terbuka padaku sayang.

“Apakah, bayiku, bayi kita…oh, betapa memalukan aku mengakui sebagai ayah mahkluk tak bersalah itu, memiliki setitik penanda di pipinya? Tepat di pipinya seperti milikku ini? Sebintik hitam yang katamu tahi lalat? Benarkah, bela?..jawablah!”

Aku juga selalu berprasangka, bahwa karena setelah kelahirannya aku tidak pernah sekali jua berani menatapnya, menggendong, menciuminya, Tuhan berhenti memberiku seorang bocah kecil pada rahim istri sahku. Ini pula yang membuatku tidak pernah tahu seperti apa rupa anak kita, sayang. Mungkin itu bagian dari kutukan-kutukanku.

Oh Marsha, tataplah aku. Biarkan matamu menyampaikan kebenaran. Kau berpaling, matamu meredup, padahal sesungguhnya aku mimpikan melihat cahaya dalam biasan korneamu yang sehitam malam. Karena redup memiliki arti mengerikan seumpama rasa bersalahmu. Aku terpaku ketika kamu mengangguk.

Aku teringat pernah berdoa kepada Tuhan yang mungkin telah meludahi perbuatan nekadku, memohon agar apapun kesamaan fisik antara kau dan dia, paula bukanlah hasil rahimmu. Malahan aku masih tekun bersujud setelah dengan gamblang pada suatu malam Tasya mengatakan bahwa dia adalah anak pungut, benar-benar anak pungut. Dengan bersungguh-sungguh, aku berdoa agar bayi yang kau bungkus dengan kertas koran dan ditinggalkan di dekat toko pada subuh yang dingin itu tidak pernah tumbuh sebagai remaja yang memabukanku. Kau tahu berapa usianya kini? 22 tahun, Bella. Bukankah 22 tahun yang lalu seorang bayi perempuan pernah dibiarkan digeluti gigil sendirian, hingga barangkali Tuhan mengirimkan seorang malaikatnya, mungkin seorang penjaga toko atau seorang pengemis jalanan atau seorang pengendara motor memungutnya. Aku mau mati saja karena berharap paula bukan bayimu, Petra tersayang…

Namun, aku ingat akan kalimatku. Kutukan memilih jalannya sendiri. Barangkali, di usia hendak menuju senjaku, dengan uban di sana-sini sementara kebejatanku belum berakhir juga, Tuhan telah mengutukku dengan membuat kutukan paling mengerikan ini. Dan hantu si Lincoln tersenyum bijak. Aku berbisik-bisik di sampingmu oleh ketakutan akan dosa tak termaaf; apakah aku masih layak hidup di pagi besok sementara wujud manusiaku seharusnya telah berubah jadi seekor anjing karena telah meniduri putrinya sendiri?? Hantu-hantu itu mengerubungikui bagai belatung, dari mulut Hitler terdengar bisikan sesak, “bergabunglah bersama kami, besok!”

Sementara hantu Max menyodorkan sisa pizza-nya.

Kehidupan dalam Bingkai Kesederhanaan

Resensi Riza Fitroh K*)

“Pergilah ke mana kau harus pergi, tapi jangan sampai keadaan mendesakmu untuk melakukan apa pun yang sedang kau lakukan. Kau harus melakukannya karena kau memang memutuskan untuk itu. Jangan biarkan orang lain mendikte jalan hidupmu.”

            
syafii maarifSyafii tumbuh menjadi salah satu anak Muhammadiyah yang siap mengabdi dimanapun demi tanah airnya. Dengan berbekal kesederhanaan dan kemauan yang teguh, ia mampu melewati setiap rintangan yang didepannya. Karier pertama dimulai dengan menjadi guru sekolah dasar di Lombok Timur. Namun kerinduan yang terpendam selama 5 tahun kembali membawanya ke kampung halamannya di Sumpur Kudus.

Kesejukan alami dan keasrian yang belum terjamah teknologi modern menjadi daya tarik tersendiri bagi Lombok. Sesaat Pi’i-nama panggilan syafii- merasa berada di tempat kelahirannya kembali. Di lombok dia mengajar sekolah dasar dengan 4 kelas yang dikelompokkan berdasarkan umur dan mereka akan masuk kelas dengan bergantian. Dengan segera syafii menyukai murid-muridnya yang berwajah polos. Saat menatap wajah merek, ia bertekad, bahwa beberapa dari wajah mereka yang dilihatnya ini harus melanjutkan pelajaran ke sekolah yang lebih tinggi, mencencang awan, meraih langit.

Dua bulan berjuang sendirian dipulai ini, mencoba mencintai ilmu pasti yang tak disukainya. Pi’i tak menghiraukan kehidupan sosialnyam ia tak memperhatikan ketika beberapa wanita di desa itu meliriknya dan berusaha menarik perhatian sang guru alim tampan ini. Ia berkonsentrasi pada apa yang harus dikerjakannya, dan ia melakukannya dengan sepenuh hati.

Ditengah konsentrasinya di daerah perantauan, ditengah semangatnya para muridnya, tataannya jatuh pada munaris, sang orator cilik. Munaris maju kedepan dengan penuh percaya diri dengan wajah berseri-seri, muli berbicara mengenai penerapan islam dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan apa yang diperintahkan dalam Alquran selama di sekolah dan di rumah. Itulah gambaran semangat anak didik Pi’i saat lomba pidato.

Sebelas bulan kebersamaannya dengan masyarakat Kampung Pohgading menjadi purna, dan Syafii mulai mengalami pa yang dirasakan santoso-teman seperjuangannya yang telah pulang ke kampung halaman-. Kerindun akan kampung halamannya terasa dahsyat, tempatnya dibesarkan dan membuai diri dalam kelembutan kasih sayang. Ia mengabarkan kepulangannya kepada Pak halifah, saudagar kaya di padang, untuk mengabarkan bahwa ia akan menginap di tempatnya selama sehari sebelum melanjutkan perjalanannya e Sumpur Kudus.

Bulan Maret 1957 Syafii menatap laut luas didepannya. Dua puluh dua tahun sudah terlewati dengan hampir lima tahun merantau, akhirnya ia pulang ke kampungnya. Setelah kapal lautna berlabuh, ia menuju rumah pak halifah dengan menenteng keranjang bawang merah. Sesampainya dirumah Pak Halifah yang kelak menjadi keluarganya, ia disambut dengan hangat oleh keluarga saudagar kaya itu. Tingkah laku Nurkhalifah gadis 13 tahun, putri ketig Sarialam -lip sapaannya- yang sangat lugu tak membuat Syafii berpikir panjang. Tidak ada yang dipikirkan dalam benaknya saat itu, bahwa wanita itu akan memainkan bagian penting dalam hidup Syafii.

Taun 1958. Perjuangan rakyat Sumatra barat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dilakukan dalam pemahaman mereka yang bertentangan dengan Presiden Soekarno, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein semakin panas, dan akhirnya terputuslah hubungan para perantau Minang di Jawa dengan kampung halaman mereka. Saat itu Syafii berusia du puluh tiga tahun. Pertama-tama yang dilakukan adalah berpikir untuk melanjutkan sekolah tingkat enam Mua’limin Yogyakarta. Syafii berembuk dengan teman-temannya yang bernasib sama mereka semua masih ingin melanjutkan pendidikan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti kelas persiapan masuk Universitas Tjokroaminoto.

Di Surakarta ini Syafii bersama Masiak, Hamid dan Talman menyewa sebuah tempat indekos mahasiswa. Untuk berhemat mereka menawarkan untuk menolong tante Nani sang pemilik kos, dengan memotong kebun setiap minggu dan mengepel lantai kos setiap pagi demi mendapatkan sewa kamar kos yang lebih murah.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mendaftar di Universita Tjokroaminoto. Mereka tidak menemui banya kesulitan. Kelas persiapan yang diselenggarakan adalah persyaratan dan berfungsi hanya sebagai jembatan agar mereka dapat masuk ke universitas. Langkah berikutnya adalah berusaha menyambung nyawa agar tetap bernapas di bumi, khususnya di Surakarta: mencari pekerjaan.

Syafii menjadi pengajar mengaji bagi Saidah, gadis lim belas tahun yang menaruh harapan pada Syafii, Ia putri pak Lenggogeni seorang juragan kerajinan Surakarta. Yang sebelumnya ia menganggap bahwa dia akan mengajar anak laki-laki. Syafii merasa janggal harus mengajari seorang perempuan. Ia bukan seseorang yang anti kesetaraan gender. Hanya saja, ia sering merasa canggung berhadapan dengan wanita. Selama ini ia selalu bergaul dengan laki-laki.

Syafii mengambil pendidikan di kelas persiapan dan menenpuh ujian. Ia yakin telah mengerjakan ujiannya dengan baik. Tante nani sedang duduk-duduk di depan rumah dan melihat kedatangan Syafii dengan wajah serius. Dan keadaan ini membuat Tante Nani menyapanya. Dari perbincangan keduannya, akhirnya Syafii memperoleh pekerjaan baru setelah purna mengajar saidah yang tak terpikirkan lagi olehnya. Ia bekerja pada juragan tukang besi namanya Dalga. Beberapa bulan berlalu dan Syafii diangkat menjadi mandor, ia bertahan hidup, namun kuliahnya tidak.

Hidup sebagai perantauan membuat Syafii memegang prinsip bahwa prinsip hidup memang tidak boleh mudah dipatahkan. Dan kerinduan akan kampung halaman pun kembali dirasakannya. Payakumbuh, 1962, diseberang sana Etek Bainah sedang memikirkan keadaan Pi’i, dissampingnya ada Ismael Rusyid, keduannya terlibat perbincangan serius akan Pi’i. Perbincngan mengenai sebuah perjodohan antara Pi’i dan Lip, gadis lincah yang ditemuinya saat singgah di rumah saudagar kaya di Padang, pak halifah.

Bagi Syafii sekolah bukan saja menjanjikan sebuah pekerjaan yang lebih baik di masa depan., namun ia merasa bahwa berpengetahuaan sebanyak-banyaknya adalah sesuatu yang harus dilaksanakannya. Syafii dijodohkan dengan Lip, ia sosok wanita berjiwa sosial meski hidup dalam kecukupan yang lebih. Ia menyadari dirinya sangat pencemburu, bahkan apabila ada hal kecil yang kurang beralasan pun, ia dapat menjadi cemburu.

 Setelah itu Syafii harus kembali ke Surakarta, sejak ssat itu ula kabar tak sedap tentang Syafii terdengar ditelinga sang tunangan-Lip-. Dikabarkan Syafii telah memiliki satu anak, dan hal ini membuat Lip kian bersedih setelah kepergiann Sarialam-Ibundanya-. Syafii mengisi hari-harinya dengan kuliah, membaca di perpustakaan, menulis skripsi, pergi ke Pasar Pon naik kereta menuju Baturetno untuk mengajar di STPN, mengajar di sekolah Surakarta, dan satu kegiatan lagi: menulis surat pada Lip, menceritakan apa yang dilakukannya, menceritakan buah pikirannya, menceritakan perjuangannya.

Sumatra Barat, 5 februari 1965, sebuah catatan penting dalam kehidupan Syafii terukir pada hari itu dalam sebuah relief hidup yang berwujud akad nikah. Syafii Maarif, berdiri dengan gagah, memakai pakaian yang didominasi warna hitam dengan taburan sulaman emas dan kain songket bertaburan emas dengan ornamen khas Padang dan keris, menandatangani akad nikahnya. Disana Lip telah menunggu kedatangannya, wanita yang disandingkan menjadi istrinya itu memiliki sebuah aura kuat dan ketegasan yang tidak mudah ditaklukkan yang membuatnya merasa tertantang.

Syafii kembali merantau dengan membawa istrinya, meninggalakan kehidupan nyaman yang selama ini dijalani Lip. Diperantauan dari hari ke hari Lip makin gelisah, ia merasa tidak nyaman terus-terusan berada di kontrakan suaminya ditambah dengan kecemburuannya pada suaminya ini. Akhirnya Syafii memutuskan untuk mengambil program doktoralnya di FKIS-IKIP Yogya.

Dalam perjalanannya memasuki program doktoral di FKIS-IKIP tak semudah yang dibayangkan. Ia harus berhadapan dekan pembantu dekan FKIS-IKIP, Drs. Lafran Pane, yang merupakan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dengan pertolongan beberapa orang mulia yang menemaninya maupun memberikan surat rekomendasi. Hingga akhirnya ia dapat diterima dengan bantuan Onga Sanusi Pane, seseorang yang membawanya ke tanah rantau pertama kali.

Sementara untuk biaya kuliahnya, Syafii menerima bantuan dari halifah. Di kotagede, Syafii menghabiskan waktu dengan menimba ilmu dari Profesor Kahar. Ia juga melakukan dialog agama dan intelektual dengannya. Seiring dengan berjalannya waktu, Syafii sering diminta menjadi khatib di masjid Kotagede dan masjid Perak-tempat alm. Kiai Amir, yang pernah menjadi majelis tarjih PP Muhammadiyah.

Tahun 1965 menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Syafii dan Lip, mereka akan memiliki buah hati dalam beberapa saat lagi. Bagi Syafii kelahiran adalah sebuah anugerah yang datang dalam kemasan kebahagiaan, harapan, dan konsekuensi.

30 september 1965, terjadi peristiwa G30S/PKI yang juga merupakan puncak peristiwa yang menuntun pada pergantian Soekarno sebagi presiden pada Soeharto. Pada waktu itu terjadi berbagai kejadiaan besar yang mengguncangkan tatanan negara. Kehidupan ekonomi masyarakat, termasuk kehidupan ekonomi Syafii dan Lip mengalami ujian yang berat, dan Syafii pun terbelenggu dengan keadaanya-tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan calon ayah, lagi pula ia masih kuliah. Kesulitan ekonomi sedang mengalami masa puncak.

Syafii tidak dapat banyak berperan bagi masyarakatnya dan berbela rasa karena kantong pertahanannya pun sedang menipis. Kekuatannya sebagai seorang laki-laki, kepala keluarga, dan cendekiawan sedang diuji dan dengan merangkak, menyeret berbagai beban berat di pundaknya, ia berusaha terus bertahan. Ia menyimak dan berkomentar dengan aktif di kampung, namun tidak dapat sampai turut berjuang kecuali secara konsep, bahwa ia memeras otak dan keringat ersama rakyat kecil yang juga berpayah lelah mengisi perutnya-berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Pada awal tahun 1966 terjadi demonstrasi di mana-mana. Tuntutan Tritura (Tri tuntutan Rakyat) meminta pemerintah membubarkan PKI, membersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI, dan menurunkan harga dan meningkatkan perbaikan ekonomi. Sementara itu perut Lip mulai membesar. Akhirnya, pada bulan Maret 1966, saat Syafii baru pulang dari tempat kuliah, ia melihat Lip mengejag kesakitan sambil memegang perutnya. Dengan keringat mengalir deras, Syafii berlari untuk memanggil becak, kemudiaan menggotong istrinya ke Pusat Kesehatan muhammadiyah.

Anak pertama mereka bernama Salman, seorang anak yang tampan dan manis sekali. Syafii dan Lip menyadari akan kesehatan yang memburuk pada putra pertamanya ini, hingga akhirnya Lip memutuskan untuk mebawa Salaman ke Padang, agar memperoleh perawatan yang lebih baik sembari menunggu keadaan syafii membaik.

Pada saat anak dan istrinya berada di padang, syafii diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan tinggi dengan gaji 868 rupiah sebulan, dan ia diberi tugas mengajar Sejarah indonesia kuni, dan Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah UII (Universitas Islam Indonesia).

Kehidupannya mulai lancar dan kini Syafii mulai dapat menabung untuk anak dan istriya. Pada awal bulan Februari 1967, ia mengetahui bahwa mereka baik-baik saja, karena Lip mengirimnya paket dengan catatan dari Lip. Pertengahan semester, Syafii bermaksud menjemput Lip dan anaknya, namun niat itu diurungkan sampai tutup semester. Hingga akhirnya menjelang akhir tahun, saat itu musim penghujan yang dingin. Tiba-tiba Syafii menerima telefon dari Lip dengan nada sendu di kantor Suara Muhammadiyah, ia meminta untuk dijemput, ia akan menyusulnya kembali.

Syafii pun merasakan kerinduan yang memuncak pada keluarganya. Sudah waktunya mereka kembali bersama. Tabungannya sudah cukup memadai dan universitas sedang libur semester. Hal pertama yang dilihatnya di pelabuhan setelah kapalnya merapat adalah istrinya yang memakai pakaian hitam. Hati syafii langsung memberikan tanda bahaya. Sesuatu telah terjadi. Namun ia tak melihat kedatangan lip dengan buah hatinya. Ismael yang menemani Lip menyatakan bahwa anaknya sudah lemah, ia meninggal tanggal 21 november 1967. Begitu pilunya hati Syafii yang belum sempat melihat dan merawatnya kembali. Terselip dalam dirinya sebuah kesakitan yang melebihi sebuah penghakiman yang ingin dijatuhkan orang padanya.

 Buih-buih ombak mencium pantai kemudian berlalu dalam rangkaiaan waktu dan irama music sendu mengiring langkah-langkah berat perjuangan hidup yang bagai tak kunjung lalu…..

Ia merintih pilu, merasa paku menusuk kalbu, dan mendakwa hati yang menjadi kelu…..

Namun nurani itu tahu……..

Sebuah kejujuran hati dan imannya pada sang Illahi mengerti… dan memberinya kekuatan untuk bangkit berdiri…..

sekalipun dalam sepi,

syafii maarifJudul buku: Si Anak Panah (BERDASAKAN KISAH BUYA SYAFII MAARIF)
Penulis: Damien Dematra
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Harga : Rp. 50.000
Tahun: 2010
Tebal: 260 halaman
ISBN: 978-979-22-5812-7

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi Semester IV Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tahi Lalat

Puisi Arif Saifudin

Di usia yang tak pernah kita duga
kita saling mengenali dan berbagi

di waktu yang singkat dan cepat
kita sempat berdebat

tentang pagi, malam dan siang
yang selalu riuh dengan peristiwa yang menantang

di pertemuan yang singkat
aku masih mengenangmu

mengenalimu
menyimpan hangat senyummu

tapi ada sesuatu yang tak bisa kulupa
yaitu tanda di dagumu

Yang membuatku kelu sekaligus pilu
bila merindu tak menemuimu

Kini, tahi lalatmu telah
kusimpan dalam album foto
di hatiku

kurawat selalu

Tanda Mata

Cerpen Chotibul Umam

gambar diunduh dari 1.bo.blogspot.com

Seorang pemuda dengan wajah tenang sedang duduk di atas kursi roda. Sudah sekian bulan dia terbaring seperti tak bernyawa. Entah penyakit apalagi yang tak jenuh menghinggap di tubuhnya. Daya tahan tubuh seakan tak lagi mau berpihak pada niatnya untuk menjalani hidup. Tapi di balik matanya yang bulat dia masih menyisahkan cita-cita yang selama ini tertunda. Seperti sedang merencanakan sesuatu yang barangkali dia sendiri tak tahu bagaimana akan bertindak.

Dari kejahuan tampak seorang gadis yang tiba-tiba mampu memecah ingatannya. Diputarlah roda yang membawa tubuh lemahnya untuk lebih dekat namun tetap menjaga jarak dengan gadis tersebut. Gadis berambut gelombang itu seakan tak sungkan untuk mengenakan pakaian layaknya seorang pria. Rambutnya yang tergerai ditutup dengan topi khas gaya Putu Wijaya, dan tas yang menungging di punggungnya seolah ingin menunjukkan bahwa dia menyimpan berbagai macam lensa yang dibutuhkan, di sisi lain baju rompi yang turut mempercantik penampilannya lebih memberi kesan bahwa dirinya memang  fotografer yang berpengalaman.

Sepucuk mawar di pagi itu mulai mekar. Harumnya mulai turut memperindah taman bunga di tepian kolam air mancur. Angin segar yang berhembus ringan semakin kian diburu oleh para pasien sebelum ikut membaur bersama polusi, ditemani sanak famili atau perawat pribadi, mereka berharap segala duka akan segera hilang.   

Pemuda itu sempat menyimpan pertanyaan dalam hati saat melihat gadis itu. “Apa yang diharapkannya dengan mengambil gambar di tempat seperti ini? Bukankah ada yang lebih indah dari sekedar mengabadikan orang-orang yang dirundung duka?” ujarnya dalam hati.

Matanya terlihat cekung dengan warna hitam yang membalut tepat di pelupuknya. Belum sempat keinginannya untuk menyapa tiba-tiba rasa nyeri di kepala menyerang. Diputarlah kursi roda yang membawa tubuh ringannya untuk segera kembali ke kamar. Kembali untuk mengurai beban kepala yang tak sebanding dengan cintanya.

“Bagaimana dengan hari ini Mas Adam? Apakah sudah lebih baik,” tanya suster pribadinya sembari mengantarkan sarapan pagi. 

Ia seperti terkejut ketika melihat suster muncul dari bilik pintu kamarnya. Hanya dengan senyum ringan pemuda berparas layu itu menjawabnya, selebihnya tak ada kata yang keluar.

“Sebelum dokter datang memeriksa, ada baiknya Mas Adam sarapan dulu mumpung lagi hangat buburnya.”

“Sus, masih berapa lama lagi saya tinggal di sini?” tanyanya

“Kata dokter tidak lama lagi. Hanya saja kondisi tubuh Mas Adam masih diragukan maka dari itu dokter menyarankan lebih baik tinggal di sini dulu,” jawabnya.

“Boleh saya bertanya Sus?” tanya pemuda beralis tebal itu.

“Boleh Mas…”

“Apa Suster pernah jatuh cinta?”

“Ya sering Mas, malahan hampir tiap hari,” jawabnya meledek.

“Apa yang biasanya orang berikan sebagai tanda cinta kepada orang yang dicintainya?”

“Ya macam-macam Mas. Dengan bunga boleh. Lukisan juga boleh atau puisi apalagi. Bisa juga dengan memberikan sesuatu yang menjadi kesukaannya. Oh…, ada yang sedang jatuh cinta ya,” guraunya.

“Mungkin Sus, tapi nggak tahu.”

“Nggak tahu atau nggak berani Mas,” seraya tersenyum.

“ Heheh…ya terimakasih Sus atas sarannya”

“Ya sama-sama Mas,” senyumnya ramah.

Kamar bernomor 13 ruang VIP adalah tempat dimana dia merebahkan segela penat. Tak ada satupun keluarganya yang berkunjung, sebab dia menutup diri dari keluarga maupun teman dekatnya. Dipilihnya rumah sakit sebagai tempat tinggalnya sementara adalah atas kemauannya sendiri. Dia sangat menyadari dengan kondisinya yang telah berbulan-bulan menahan rasa sakit di kepala.

Malam telah menjelang dan bulan yang terang  sinarnya perlahan jatuh menembus dinding-dinding sepinya malam. Bila saat-saat seperti ini para pasien tak lagi diperbolehkan keluar dari kamarnya. Karena udara malam dianggap  liar seperti tak kenal memilih untuk dijadikan korbanya. Di setiap barisan bangsal mata malaikat maut seolah mengintai para penghuninya. Meski itu sebuah resiko usaha dan doa harus tetap dilakukan.

Mula-mula kepalanya mulai nyeri dicarinya tempat obat. Dia menelusuri disekitar laci ,meja, sampai dibawah ranjang. Ketika tak sengaja dia menendang kotak sampah lalu jatuh berserakan dia melihat sebungkus obat. Diambilnya dengan tergesah-gesah lalu lekas diminumnya sesaat kemudian jatuh tertidur di atas lantai tanpa alas.

“Mas Adam,….!” teriaknya suster ketika membuka pintu

“Mas Adam bangun Mas” sembari meanggoyangkan tubuhnya.

Akhirnya dia terbangun dengan tergagap. Dengan wajah pucat pasi dia dipapah berdiri kemudian dibaringkan tubuhnya di atas ranjang.

“Bagaimana Mas Adam bisa tertidur di atas lantai” tanya suster penuh.

“Tidak  tahu Sus, setelah saya minum obat langsung terjatuh”

“Pasti terlalu capek.”

“Sekarang Mas Adam mandi dulu habis itu kita jalan-jalan keluar” lanjut suster.

Dia bergegas membersihkan tubuhnya. Berpakain rapi dengan sedikit berdandan. Hari ini tidak seperti biasanya dia terlihat tampan, berbeda betul dengan hari-hari sebelumnya. Rambutnya yang pendek dibiarkan sedikit acak-acakkan. Tak ketinggalan pula dia memakai wangi-wangian. Disemprotkan parfum bermerk ke tubuh kurusnya seperti ingin memberi aroma semangat dalam hidup.

“Wah  hari ini mas terlihat tampan,” puji suster.

“Memang Mas Adam punya janji hari ini, dengan seseorang mungkin,? ujarnya.

“Nggak ada Sus, cuma ingin tampil beda dari hari biasanya.”

“Baguslah Mas, saya senang mendengarnya,” katanya begitu riang seraya mendorang kursi roda.

Dari kejauhan terlihat lagi seorang gadis fotografer seperti tempo itu. Untuk kali ini dia sedang membidik objek. Sekali bidik sesekali itu pula dia langsung melihat bidikannya mengoreksi hasil dari gambar kameranya. Mungkin dirasa belum cukup puas hasil jepretannya lalu diarahkan lagi mata kamera ke objek tadi. Setelah sekian kali dia membidik, baru sebentar senyumnya mulai mengembang seperti merasa puas dengan hasil yang terakhir ini. Sejurus kemudian dia mengedarkan matanya dengan jeli berharap menemukan sesuatu yang menarik. Tiba-tiba kamera itu diarahkan kepada sosok pemuda yang duduk di kursi roda dengan seorang suster sedang mendorong dibelakangnya.

“Cekrek.”

Tersontak ketika dia tahu bahwa dirinya sedang dijadikan objek gambar seorang fotografer.

“Sus, dia itu fotografer?” tanya pemuda itu dengan menunjuk ke arah gadis yang sedang mengambil gambar.

“Ya Mas, hampir satu minggu dia di sini katanya mau mengadakan pameran fotografi di kota ini.”

Si gadis sepertinya menyapa pemuda yang berkursi roda itu dengan tersenyum manis. Gadis itu pun berjalan menuju ke arah pemuda yang ditemani seorang suster tersebut.

“Pagi Mas, kenalkan saya Ana” gadis cantik itu menyapa sembari memperkenalkan namanya    

“Pagi juga Mbak Anan, saya Adam” pemuda itu pun membalasnya.

“ Mbak Ana katanya ingin mengadakan pameran fotografi di kota ini?”  

“Ya Mas, rencananya bulan depan bareng teman-teman”

“Mas, saya tinggal dulu mau ke ruang dokter pribadi Mas Adam” sela suster di tengah percakapan mereka.

“Mbak Ana saya tak tinggal dulu ya?” lanjutnya.

“Oh ya silahkan Sus.”

“Kalau boleh tahu kenapa yang jadi objek rumah sakit Mbak?”

“Heem, karena saya ingin mengabadikan orang-orang yang tegar dan berani bertahan menghadapi hidup, dan saya kira orang-orang di luar sana harus bisa mengambil pelajaran dari orang-orang yang sakit. Mereka yang jelas-jelas dalam keadaan sakit masih mau mencuri kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya” jawabnya dengan lugas.

Angin pagi itu menerpa tubuh sakitnya. Semacam duka atau suka meski itu semua silih berganti beranjak. Entah apa yang ada dalam pikiranya seperti ingin menyampaikan kata-kata tapi tak selugas apa yang biasa dia katakan.

“Begini Mbak, saya punya permintaan yang mungkin bisa dijadikan bahan untuk pameran nanti” pintanya dengan tatapan sedikit nanar.

“Apa itu Mas?”

“Tolong bidik mata saya, cuma mata saya,” tegasnya.

“Boleh juga Mas.”

“Cekrek,,cekrek,,cekrek” beberapa kali gadis bermata jelita itu mengambil gambar sesuai keinginannya.

“Terima kasih Mbak”

“Ehm punya kertas dan pensil Mbak”

“Ini Mas” disodorkannya kertas dan pensil.

Tidak lama dia menuliskan sesuatu di atas kertas. Lalu diberikannya lagi kepada gadis bernama Ana itu.

“Kalau memang gambar tadi bisa dijadikan sebagai bahan pameran. Saya minta judul dan sinopsis ceritanya sama persis dengan apa yang saya tulis tadi Mbak” pintanya.

“Siap Mas” jawabnya gadis berparas anggun itu.

Selang beberapa saat sang suster datang bersama dokter pribadinya. Mereka pun akhirnya berpamitan kepada  si gadis . Ditariknya pemuda tersebut dari tempat semula. Entah baru beberapa jam lewat. Tak lama kemudian sebuah kereta ranjang keluar dari kamar bernomor 13. Terlihat kain putih itu telah menutup seluruh tubuh yang nampak terbujur kaku berjalan di depan mata si gadis. Dia  terpaku melihat sosok yang telah tertidur panjang. Suara serak roda kereta ranjang itu seperti ingin mengabarkan bahwa usia hidupnya memang tak sepanjang usia cintanya.

Tepat ketika pameran fotografer itu dibuka. Di samping pintu masuk pameran terpajang foto berukuran paling besar. Siapa pun yang akan masuk ke ruang galeri itu pasti tak akan melewatkan foto bertuliskan tanda mata dengan sinopsis” ketika kata-kata tak lagi bisa menjadi peluru, bisakah tanda mata sebagai ungkapan cintaku padamu?” teruntuk Fhy Savitri.

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #19

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 19

boncengan mesra
gambar diunduh dari http://www.mygoldmachine.files.wordpress.com

Tidak ada yang menyangka bahwa Susanti berani bertindak nekad meningalkan rumah hanya berbekal beberapa helai baju. Dan, sudah dua hari dilacak, belum juga ada perkembangan. Muslimin yang paling heboh ke sana ke mari mondar mandir mencari di mana Susanti berada, belum juga menemukan titik terang. DR Pardomuan sudah janji akan tulis proposal untuk arisan ternak ikan lele untuk diajukan ke Sabidaor Foundation terpaksa menunda kerjanya. Kembali lagi FDP dirundung malang. Memang program FDP dapat terus berjalan, walaupun suasana hati warga FDP tersendat gara-gara kasus yang menimpa keluarga Susanti.

 Tanpa diketahui oleh orang lain, akhirnya Muslimin menemukan Susanti.

“Om dari Trieste akan datang ke Rilmafrid. Setelah menghadiri pernikahan sepupuku, aku akan pulang bersama dia ke Trieste. Aku sama sekali tidak tertarik menetap di Trieste. Itu makanya aku melarikan diri dari rumah,” terang Susanti.

Muslimin baru teringat bahwa dia pernah dapat amanah untuk menyampaikan hal ini ke Susanti. Tapi, karena dia tak berani melaksanakan amanah orang tua Susanti, terpaksa Susanti harus melarikan diri dari rumah.

“Dua hari lagi aku akan pulang ke rumah, karena Om akan pulang besok. Aku segan saja bertengkar dengan orang tua di hadapan Om,” Susanti lanjutkan menerangkan.

“Oh…,kalau begitu tak ada persoalan serius, — yang penting kau bisa mengatasi masalahmu dengan orang tuamu.” Muslimin mencoba menenangkan jiwa Susanti.

Tadi pagi kawan kuliah Susanti yang tidak dikenal warga FDP dan tak dikenal orang tua Susanti sengaja menjumpai  Muslimin di rumahnya. Juni kawan Susanti sampaikan pesan bahwa Susanti berada di rumahnya kepingin jumpa dengan Muslimin.

Perjumpaan tersebut tidak disampaikan Muslimin kepada siapapun. Hanya kepada DR Pardomuan saja Muslimin sampaikan kabar baik itu, agar DR Pardomuan bisa langsung kerja memburu tugas membuat proposal susulan ke Sabidaor Foundation. Dia serahkan persoalan lari dari rumah dapat diselesaikan berdasarkan proses yang berlangsung. Muslimin yakin bahwa Susanti pasti mampu mengatasi masalah ini dengan baik dan benar.

Berada di rumah orang tua yang melahirkannya, dari waktu ke waktu membuat Susanti semakin sesak. Sudah tak dirasakannya kebahagian tinggal bersama  keluarga dalam satu atap. Tidak seperti dulu, ketika almarhum Tigor dan Mikail sering main ke rumah. Intervensi keluarga terhadap kehidupannya membuat Susanti semakin merasa sesak nafas. Sementara, sang ayah ibu merasa bahwa Susanti semakin sulit diatur. Segala bentuk penggunaan waktu dan uang Susanti sama sekali tak bisa lagi mereka monitor. Susanti semakin misterius di mata orang tuanya.

“Seolah ada api dalam sekam di rumah kami,” Susanti curhat ke Muslimin.

“Sabarlah kau, kan  sebentar lagi akan selesai kuliah,” Muslimin coba besarkan hati Susanti.

“Eh, kok sok kali bicaramu! Sok orang tua. Sok memahami jiwa anak muda. Padahal kita sebaya.” Ternyata Susanti kesal mendengar ucapan Muslimin.

“Sama kau ini serba salah. Suntuk kau lihat keluargamu, aku jadi kena sasaran,” Muslimin jadi jengkel.

“Hua..ha..ha..dijatuhkan Susanti kepalanya ke bahu kiri Muslimin. Digenggamnya tangan Muslimin penuh mesra. “Untunglah kau ada di sampingku Mus. Aku tidak merasa sunyi.”

Di dinding tepas pinggir pantai yang agak terbuka mereka duduk menghabiskan ikan bakar makanan kesenangan Susanti. Warung sederhana itu sedang tidak ramai pengunjung sehingga mereka lebih leluasa bercengkerama.

Anak gubernur Rilmafrid telah menyelesaikan studi sipil arsitektur di Amerika. Bersama rekan-rekan alumus Amerika mendirikan perusahaan kontraktor di Trieste. Tentu saja dengan gampang segala proyek kebijakan pembangunan phisik di tingkat nasional dimenangkan oleh perusahaan mereka. Membangun koneksi dengan berbagai departemen pemerintahan atas restu orang tua sebagai pejabat negara langsung terjalin. Salah satu mega proyek pembangunan pusat perumahan mewah di Rilmafrid dipimpin oleh Ir Ricard Lonardo anak gubernur Rilmafrid.

Ricard Lonardo adalah kawan Susanti satu SMA, patah arang karena cintanya tak disambut Susanti. Malam ini datang lagi ke rumah Susanti dengan penampilan yang sudah sangat berbeda dengan penampilan anak SMA ABG belasan tahun yang lalu. Betapa gembiranya ibu dan ayah menyambut Ricard. Betapa inginnya hati mereka apabila dapat berkeluarga  dengan gubernur. Tapi, hati nurani Susanti bertolak belakangan. Susanti sama sekali tidak tertarik pacaran dengan Ricard.

Secara filosofi Susanti katakan, “Aku sekarang mau mencoba menghargai hal hal yang non material. Aku mencoba mengerti bahwa manusia tidak akan puas hanya karena soal-soal material”. Ricard mungkin tak paham maksud Susanti yang secara tidak langsung menyatakan tidak setuju dengan profesi Ricard yang penuh gemerlapan material. Karena tidak mengerti kalimat yang dimaksud Susanti, Ricard tetap saja selalu datang  untuk melakukan pendekatan. Dipikirnya lama kelamaan pasti Susanti akan luluh dan menerima kehadirannya. Apalagi kedua orang tua tersebut mendukungnya.

Kekesalan Susanti memuncak di rumahnya yang macam api dalam sekam. Obsesi Susanti yang kuat untuk mengenal kehidupan mahasiswa yang hidup pas-pasan, kembali lagi menggugah pikiran Susanti. Ditinggalkannya rumahnya berbekal beberapa helai baju saja. Ricard nampak kecewa malam itu di hadapan ayah ibu. Tapi, tak bisa bilang apa-apa, selain menunjukan rasa solidaritasnya terhadap kepedihan hati kedua orang tua tersebut.  

Kamar indekost Yuni beserta kompor dan segala peralatan dapur sederhana adalah tujuan Susanti. Yuni sangat heran melihat sikap kawan dekatnya, Susanti, yang tidak mau hidup cukup sejahtera. Tapi dia tak berani bertanya tentang hal ini, karena Susanti kelihatan tegang dan berbeban berat.

“Aku yang besok belanja dan masak makan pagi dan siang. Kebetulan besok aku kuliah sore.” Yuni diam saja sambil menjahit sarung bantal yang koyak untuk Susanti. “Tapi, jangan lupa, kalau bisa sempatkan jumpai Muslimin, Ini ongkos ya…Yuni.” Yuni terima duit itu dan tetap diam kebingungan.

“San,.. kalau besok masak di sini, hati hati ya. Kompor sangat dekat dengan buku kuliah dan lemari pakaian.” Diusap Yuni keringatnya yang bercucuran. Kali ini tidak ada lagi yang heboh mencari Susanti, karena alamat jelas Yuni ditinggalkan waktu berangkat dari rumah.

“Yah,…kalau itu pilihan hidupnya, Kita bisa bilang apa?” “Biarkanlah dinikmatinya hidup yang dipilihnya itu.” Ibu kesal tidak membolehkan Ricard menjumpa Susanti di rumah Yuni.

Tetap bersama tukang ojeknya Susanti juga ke sekretariat FDP. DR Pardomuan ingatkan Susanti,”Yah,…walaupun sudah pisah rumah, sesekali kau perlu juga berkunjung ke rumah ayahmu. Terus mengikuti perkembangan rumah sekaligus informasikan kegiatanmu. DR Tumpak Parningotan juga sudah tahu bahwa kau tidak tinggal di rumah orang tuamu. Beliau ikut memberi pengertian agar orang tuamu membebaskanmu dalam menentukan jalan hidup.”

Susanti tak sangka bahwa begitu besar perhatian DR Pardomuan dan Om-nya, DR Tumpak Parningotan, terhadap dirinya. Teman-teman se-FDP juga demikian. Ada rasa prihatin melihat Susanti merasa terkekang di rumah orang tuanya.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 18

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Karena Setiap Kata Punya Makna