Puisi Alra Ramadhan

Puisi Alra Ramadhan

gambar diunduh dari ceritainspirasi.net

Padam

Mungkin malam nanti aku nyalakan lagi,
lilin yang kecil,
yang kemarin dulu terang,
yang pagi lalu redup,
yang sore ini padam,
lalu aura terpancar lagi,
lalu kita bisa membuat bayang-bayang burung, anjing, atau dinosaurus;
lalu kita bisa tertawa atau menyanyi,
mulai malam nanti,
saat lilin itu menyala lagi,
atau esok hari..

“Ya, bisa juga ku nyalakan esok hari..”
lalu kelam lari; menjauh; sembunyi..
Dan bunga mekar,
dan Afrodit cemburu,
Kamaratih juga begitu,
Kamajaya bakal patah hati,
Hathor dan Freya pasti juga iri,
semoga Tuhan tak..

Tapi barangkali ada matahari esok–seperti tadi?

Cahaya lain..
Matari pagi yang hangat,
yang tak silau,
seperti lilin itu, lilin kita–tiada silau
Tapi bukankah matahari memanas saat siang?

Barangkali hanya malam lilin dapat menyala,
atau saat cahaya sedang beristirahat,
saat bulan tak meninggalkan relief,
dan bintang juga,
atau ketika lampu telah ejakulasi,
baru lilin perlu,
baru lilin dinyalakan,
dengan api yang membara di tengah hati..

Sebab kita mesti menunggu Udumbara mekar lagi,
kecuali jika perempuan itu menggumam,
“Masihkah ada yang pantas dipertahankan?”

 

(Malang, 11 September 2012)

 

Balada Lontang dan Lantung

Lontang berjalan menembus malam,
menggendong berat pada pundaknya yang kecil,
mengusir nyamuk-nyamuk yang menguing,
mencoba menikam sepi,
dan dingin bulan yang makin tinggi..

Lantung berjalan membelah siang,
menggendong berat pada hatinya yang karut,
menangkis terik yang menelisik,
membunuh keramaian,
dan matahari yang kian elusif..

Lontang bersandar pada dinding jembatan layang,
Lantung selonjor pada tanah gersang,
tak bisa menjauh,
tak pula mendekat,
dan Lontang bersedih karena pertimbangan,
dan Lantung tertawa karena kerinduan..
Lontang mati, Lantung mati pula..

Lontang bernyanyi di sela candra,
Lantung bercinta di celah matari..
Ceritera mereka terdengar nyaring,
di sela singkat senja dan pagi hening,
bertemu pada bergantinya hari.

 

(Malang, 12 Agustus 2012)

Alra Ramadhan, Lahir 9 Maret 1993 di Kulon Progo, salah satu nama kabupaten di D.I. Yogyakarta.. Saat ini berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Univ. Brawijaya, Malang.. Lebih lanjut, dipersilakan berkunjung di @alravox..

Fragmen Masa Lalu dalam Bingkai Masa Kini

Resensi Achmad Asranur Arifin

Prisca PrimasariPenulis Indonesia yang menulis cerita tentang orang Indonesia dengan setting Indonesia itu biasa. Yang lebih istimewa penulis Indonesia yang mampu menulis cerita dengan tokoh-tokoh orang asing dengan setting di luar negeri. Ini yang dapat dilakukan oleh Prisca Primasari, penulis muda dari Surabaya, dalam novel Éclair ini. Prisca dapat menghadirkan detail setting, suasana dan karakter tokoh dengan baik. konflik ditampilkan dengan wajar dengan penyelesaian yang elegan. Tidak mengherankan novel Éclair ini dicetak ulang sampai tiga kali.

Tokoh-tokoh cerita terdiri dari kelas menengah borjuis-aristokrat berdarah Rusia modern. Pandangan hidup, kegemaran, cita rasa dan pola perilaku mereka tercermin dalam aksi dan gerak emosi para tokoh. Katya, Sergei, Livher, Kay, Stephanyc dan Claudine berdarah Rusia atau blasteran Rusia-Perancis. Satu-satunya tokoh non-Rusia yang ditampilkan Prisca adalah Miss Fuyu Yukiya dari Jepang yang tinggal di Surabaya.

Latar cerita berpindah-pindah antara St. Petersburg, New York, Paris dan Surabaya. Alur cerita berjalan maju (progresif) dengan beberapa kali kilas balik untuk memperjelas keadaan yang sekarang dialami para tokohnya. Uniknya penulis menampilkan setting waktu  yang khas seperti dua minggu, sepuluh hari, lima hari atau dua hari sebelum pernikahan Katya dan Sergei, lengkap dengan lokasi tempat kota berlangsungnya adegan.  Keseluruhan setting waktu berlangsung pada bulan September 1997. Pada bulan itu pula Katya dan Sergei melangsungkan pernikahannya di St. Petersburg, Rusia. Satu-satunya setting waktu yang berbeda dipakai pada epilog, dua belas tahun setelah semua yang terjadi, di St. Petersburg, Desember 2009 di mana tokoh Lhiver akan menikah.

Penyajian detail obyek yang mendukung cerita sangat lengkap dan hampir tidak ada cela. Hal ini menyangkut sastra dunia, terutama yang berwujud puisi dari para penyair Inggris, Rusia, Perancis, Amerika dan Indonesia. Juga mengenai musik klasik, seni lukis impresionis, dan seni kuliner bercita rasa tinggi, teristimewa éclair. Semua obyek melambangkan kegemaran kelas menengah akan benda-benda itu.

Penulis juga menguasai sejarah Rusia dengan baik. Ini tercermin dengan pengaitan cerita dengan sejarah runtuhnya Kekaisaran Rusia zaman Tsar Nicholas II dengan tokoh antagonisnya Rasputin. Tokoh utama Katya (Ekaterina Fyodorov) harus menghadapi sisa-sisa pengikut Rasputin yang merasa dendam atas keterlibatan kakek Katya yang menyebabkan Rasputin dihukum. Kebenaran kisah ini di dunia nyata tentu tidak layak dipertanyakan. Penulis fiksi bebas membuat imaginasi dan referensi atas cerita yang digarapnya.

Cerita dimulai dengan persiapan Katya dan Sergei di St. Petersburg, Rusia. Kita menduga jalan cerita dan gambaran suasan seperti pada roman Anna Karenina-nya Leo Tolstoy. (Tampaknya penulis amat mengagumi sastrawan besar Rusia ini sehingga dia merasa perlu mengutip mutiara kata Tolstoy pada setiap peralihan bagian cerita) Ternyata Katya mendapatkan tugas membantu sahabatnya, Claudine di New York yang sedang menghadapi kesulitan besar. Suami Claudine, Kay, dituduh melakukan pembunuhan terhadap Tatiana, seorang pattisier yang membawakan acara masak di televisi. Dengan kepiawaiannya Katya dapat membantu polisi menemukan sang pembunuh yang sebenarnya dan kemudian membebaskan Kay.

Setting cerita pun berpindah ke Surabaya, Indonesia. Livher, adik Kay,  yang mengalami kekecewaan berat memilih Indonesia untuk melupakan kepahitan hidup yang pernah dialaminya di Rusia dan menjadi pengajar bahasa di salah satu universitas terkenal di Surabaya . Di sini Livher bertemu Miss Fuyu, seorang keturunan Jepang yang belajar bahasa Inggris pada Livher. Ternyata Fuyu juga berbakat memasak dan dapat membuat éclair yang nikmat. Katya mendapatkan tugas untuk menemui Livher dan membujuknya agar mau kembali ke Rusia dan tinggal bersama  dengan saudara dan kawan-kawannya. Livher sendiri menaruh dendam pada Katya, Kay dan Stephanyc yang dianggap menyebabkan bencana menimpa hidup keluarga Livher dua tahun sebelumnya. Dengan pendekatan yang dilakukannya Katya dapat membawa Livher kembali ke Rusia.

Livher membenci dan sukar memaafkan tiga orang yang dianggap menyengsarakan hidupnya yaitu Katya, Kay dan Stephanyc. Bencana kebakaran telah menghancurkan rumah orang tua Livher. Dalam peristiwa itu Mr. dan Mrs. Olivier, orang tua Kay dan Livher tewas terbakar. Demikian pula Aoife, anak angkat Livher, yang terpanggang hidup-hidup. Hal ini disebabkan kakaknya, Kay, bersahabat dengan Katya dan dua bersaudara Sergei dan Stephanyc. Gerombolan itu mengincar Katya dan orang-orang yang dekat padanya. Mereka hendak menghabisi Kay dan Stephanyc yang kebetulan saat itu tidak berada di rumah. Sebagai pelampiasan dendam tidak menemukan yang dicari gerombolan sisa pengikut Rasputin itu pun meledakkan rumah orang tua Kay.

Livher merasa terpukul telah kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Stephanyc juga merasa bersalah sampai menderita depresi berat. Stephanyc, sang pattisier yang piawai membuat éclair itu, menderita sakit parah yang kemudian akan merenggut nyawanya. Hanya Sergei dan Kay yang dibiarkan tetap berpikiran waras. Bersama Katya, mereka dapat menyadarkan kembali Livher dan memaafkan masa lalunya. Giliran berikutnya adalah menyelesaikan masalah yang dihadapi Katya.

Katya mengusung beban masa lalu sepanjang hidupnya. Dia siap menghadapi resiko apa pun. Ayah Sergei, Valentin, menceritakan kronologi cerita masa lalu itu pada Sergei saat menghadiri kremasi kematian Fyodor Dmitreviech. Ayah Fyodor, Dmitry Ivanov adalah seorang detektif pada masa akhir kekaisaran Rusia. Dia dapat mengungkap keterlibatan Rasputin, dukun sakti yang pernah dekat dengan kalangan istana, dalam pencurian medali emas Tsar Nicholas II. Medali itu sedianya akan diberikan pada puteri Tsar, Maria Nikolayevna.   Rasputin pun dihabisi oleh suruhan Tsar.

Revolusi Rusia 1917 mengakhiri masa kekaisaran Romanov hanya selang satu bulan setelah Tsar menghadiahkan medali emas yang sangat berharga itu pada Maria. Seluruh keluarga istana tumpas dihukum oleh massa rakyat. Hanya Maria yang berhasil menyelamatkan diri dan memberikan medali emas itu pada Dmitry Ivanov. Medali emas itu disimpan di tempat rahasia dan kemudian diwariskan pada anak Dmitry, Fyodor, agar dipelihara baik-baik. Sisa pengikut Rasputin tidak tinggal diam dan selalu mengancam hidup Fyodor berpuncak pada pembunuhan Fyodor dengan bahan beracun. Peristiwa itu terjadi dua tahun sebelum pernikahan Katya dan Sergei.

Medali emas itu diwariskan pada puteri Fyodor, Ekaterina Fyodorov atau Katya. Perempuan cantik yang masih muda ini kemudian menjadi sasaran tembak gerombolan Rasputin. Beberapa kali percobaan pembunuhan berhasil dielakkan Katya.

Peristiwa Sergei ikut ayahnya Valentin menghadiri pemakaman Fyodor Dmitreviech itu menjadi awal pertemuan Sergei dan Katya. Secara perlahan tumbuh benih-benih cinta di antara Katya dan Sergei yang berakhir dengan pertunangan. Sebelum hari pernikahan tiba Katya terlibat sejumlah pengalaman di New York dan Surabaya. Katya dibantu Sergei dapat menemukan keberadaan medali emas itu. Ternyata medali emas itu disimpan di rumah puteri Rasputin, Matryona. Medali diserahkan kepada pemerintah Rusia yang bersedia memberikan jaminan keamanan yang lebih ketat pada Katya. Gerombolan pengikut Rasputin dapat digulung aparat keamanan.

Sebenarnya medali emas itu turun-temurun diwariskan pada penguasa Rusia sejak zaman Peter I yang menghadiahkannya pada isterinya, Tsarina Catherine the Great. Ada tulisan yang terukir di sana dalam bahasa Rusia dan Jerman sebab Catherine memiliki darah Jerman. Krasivaya devushka, Ich werde dich immer beschutzen (Beautiful young woman, I will always protect you) menjadi simbol bahwa Peter I akan selalu melindungi isterinya. (hal. 195) Tulisan pada medali itu menunjukkan bahwa yang berharga sebenarnya bukanlah medalinya, tetapi orang yang memilikinya. Pasti itu pula yang dikatakan Tsar Nicholas ketika dia memberikan medali itu kepada puterinya. Juga yang dikatakan Fyodor kepada Katya.

Sergei mau berkorban apa saja untuk melindungi dan membela Katya meskipun nyawa taruhannya. Dia mencintai kekasihnya yang hidupnya selalu berada dalam ancaman musuh. Katya sendiri meskipun merasa dirinya cukup kuat dan tegar, tidak ingin dikasihani, menyambut bantuan dari orang yang mencintainya dengan tulus. Sergei siap mendampingi dan melindungi Katya di mana pun sampai kapan pun sambil menatap masa depan gemilang.

Kebahagiaan mereka ternoda oleh kematian Stephanyc, adik Sergei, akibat penyakit kronis yang dideritanya. Sebelum kematian Stephanyc Miss Fuyu diboyong dari Surabaya ke Rusia untuk belajar dan mencoba resep baru éclair ciptaan Stephanyc. Semua orang yang mengenal Stephanyc bersedih kehilangan orang yang mereka sayangi dan kagumi itu. Pernikahan Sergei dan Katya pun terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Stephanyc meskipun sebelumnya dia telah minta izin pada kakaknya tak bisa mengikuti prosesi upacara pernikahan itu.

Pada setiap bagian cerita éclair, makanan khas dari Perancis yang popular di seluruh dunia ini dihadirkan dan menjadi pengait antar bagian. Éclair menjadi makanan internasional yang dijumpai dan disukai semua orang di Rusia, Perancis, Amerika dan Indonesia. Salah satu bahan pembuat éclair yaitu kakao berasal dari Lampung. Penulis menggambarkan cara pembuatan éclair berikut cara penyajiannya. Terdapat tiga orang chef yang memiliki kepandaian membuat éclair yaitu Stephanyc Snegov, Tatiana Andreyeva seorang koki keturunan Rusia yang menetap di New York dan Miss Fuyu Yukiya.

Cerita menarik dan dramatis. Barangkali kalau ada yang tertarik dapat mengangkat cerita ini ke layar lebar seperti halnya cerita-cerita karya Leo Tolstoy yang pernah difilmkan. Meskipun setting waktu hanya satu bulan tetapi selama itu terdapat pengalaman di berbagai tempat dengan kilasan balik ke masa silam yang mempengaruhi masa kini. Nilai persahabatan dan kasih sayang sangat dihargai dalam cerita ini. Meskipun sebenarnya Stephanyc dan Livher juga menyukai Katya, mereka menganggap Sergeilah yang paling pantas mendapatkan cinta dan bertunangan dengan Katya.

Bahasa mengalir dan padat meskipun alur agak rumit pada bagian tengah. Memasuki bagian akhir barulah tersingkap masalah yang membelit hidup Katya dan mempengaruhi hidup semua orang. Makanan éclair terlalu ditonjolkan dan tidak memberikan kesempatan pada jenis makanan lain untuk diperbandingkan. Ada ilustrasi gambar yang menyegarkan. Sayang tidak ada gambar yang dapat memuaskan hasrat pembaca yang penasaran seperti apa rupa dan wujud éclair itu. Tetapi hal ini tidak mengurangi bobot literasi dan artistik cerita ini.

Sampul depan cukup memikat mata yang melihat pertama. Tetapi tulisan di sampul belakang dengan huruf tegak bersambung agak sukar dibaca kecuali dengan seksama. Layout buku  tertata dengan baik. Jenis kertas dan jenis tulisan yang bagus menjadikan kita nyaman menikmati tulisan halaman demi halaman. Secara keseluruhan novel ini amat berharga dan dapat menambah wawasan sosial budaya kita. Terlalu sayang apabila dilewatkan begitu saja.

Prisca PrimasariJudul buku    : Éclair, Pagi Terakhir di Rusia
Penulis          : Prisca Primasari
Penerbit        : Gagas Media, Jakarta
Cetakan        : Ketiga, 2012
Tebal             : 234 halaman

 

 

*)Achmad Asranur Arifin, lahir dan tinggal di Sleman Yogyakarta. Seorang pembaca dan penikmat buku. Beberapa tulisan resensinya dimuat pada SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Dapat dihubungi lewat email aarifin_73@yahoo.com, facebook Achmad Arifin dan HP 081802718845

Torsa Sian Tano Rilmafrid* #17

Cerita Bersambung Martin Siregar
Bagian 17
parade orang
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcom

Tak terasa waktu berjalan terus. Seakan hari yang berkesan di FDP datang kembali  bersama Tigor dan Mikail. Kesibukan menyusun laporan tahunan membuat iklim FDP mengenang dan merenungkan kedua rekan sejati yang telah kembali ke pangkuan Illahi. Tampak kapasitas Dirga Belanta dan Dewi Lyana kurang mampu mengimbangi semangat kerja kedua teman tercinta itu. Susanti yang paling repot dibikinnya. Harus ajari Dewi menyusun laporan keuangan, harus juga dialog panjang dengan Ucok, Arman dan Dirga merancang program kerja tahun mendatang.

Tapi, di sisi lain FDP merasa gembira. Karena Muslimin sudah mulai pintar menulis artikel, opini dan apa saja untuk diterbitkan mass media atau pun jadi bahan baku refleksi internal FDP. Tak perlu lagi DR Pardomuan pakai nama samaran di koran. Karya orisinil Muslimin sudah lolos seleksi artikel di media massa.

Kemampuan sosialisasi di tengah masyarakat umum dengan suguhan lelucon-lelucon segar adalah cara khusus Muslimin di FDP. Singkat cerita cita rasa Muslimin sudah berubah. Sudah tak kampungan lagi karena kepercayaan dirinya meningkat tajam. Muslimin sekarang memangku jabatan ketua 1 Senat Mahasiswa.

Kota Rilmafrid sudah menjelma menjadi kota metropolitan. Bangunan gedung mewah gemerlapan bertaburan menambah kesesakan kota. Berjalan seiring dengan meningkatnya masyarakat urban memadati sudut-sudut Trieste. Sebuah konsekwensi logis akibat dari perkembangan Rilmafrid tanpa kontrol adalah: biaya hidup meningkat tajam, kriminalitas semakin tinggi, kehidupan malam yang melecehkan harkat kaum hawa dan masih banyak lagi dampak negatif yang terjadi.

Beberapa LSM baru tumbuh mengkonsentrasikan programnya untuk mengantisipasi akibat-akibat buruk yang disebabkan oleh paham developmentalis yang dianut Trieste sebagai negara boneka kapitalisme.

Beberapa kali diusahakaan ada kerja sama yang baik antar FDP dengan LSM yang bekerja diperkotaan. Tapi, sampai sekarang belum ada program kongkrit yang dapat dikerjakan secara bersama-sama. Sedangkan tentara, polisi dan preman mendapat tugas tambahan guna menghadang keberadaan LSM yang dituduh anti pemerintah.

Tanpa disadari, FDP juga harus ikut menyesuaikan diri terhadap realitas Rilmafrid yang berubah ini. Citra diri FDP juga harus bergeser. Sudah jauh dari apa yang ada di kepala Tigor dan Mikail yang terobsesi gerakan radikal revolusioner.

Dalam diskusi perdana FDP Januari 1984 terjadi perdebatan yang keras antar sesama staf dalam rangka merumuskan arah gerakan FDP ke depan. DR Pardomuan yang memulai pembicaran dalam rapat tersebut: “Revolusi Perancis adalah revolusi yang dilakukan oleh kaum proletar. Kaum proletar adalah kelas sosial yang paling rasionil dalam sejarah peradaban manusia. Karena mereka yang secara langsung dapat mengikuti proses produksi di pusat-pusat industri. Misalnya saja seorang buruh rendahan yang bekerja memotong tali listrik dalam pabrik yang memproduksi lampu neon. Kalau kita tanya dia  tentang tahapan produksi di pabrik tersebut, maka dengan lancar dapat diterangkannya dengan lengkap. Termasuk kalau dia diberi tugas untuk mencatat berapa banyak bahan baku yang masuk setiap hari ke pabrik. Dan, berapa banyak hasil produksi yang dikeluarkan oleh pabrik tersebut setiap hari, pasti dia dengan mudah dapat memahaminya. Dan, seandainya buruh pabrik mempelajari manajemen keuangan perusahaan, pasti mereka dapat paham seberapa banyak uang yang harus diterimanya setiap bulan. Pasti jumlahnya jauh di bawah gajinya. Oleh sebab itu untuk membangun tingkat kesadaran buruh dengan menguraikan realitas yang terjadi lebih gampang dari pada kaum tani.

Beda dengan kaum tani. Ada dua orang petani memiliki lahan pertanian yang sama luasnya.  Dan menanam tanaman yang sama dari bibit yang sama pula. Tapi, seorang petani lebih sejahtera dari pada kawannya. Hasil panennya jauh lebih banyak dari pada petani lain. Maka dengan gampang si petani akan menuduh bahwa lahan itu bisa berhasil karena ada arwah nenek moyang mereka yang memberkati lahan pertanian tersebut. Sangat gampang mitos-mitos ditelan begitu saja oleh kaum tani. “Nah, apakah dalam FDP program pembelaan petani kita konsentrasikan untuk penyadaran hukum, atau kita beri dana khusus untuk mengelolah usaha produktif lainya di samping usaha tani yang sudah mereka geluti sejak 2-3  generasi yang terdahulu?”

Inilah pangkal perdebatan yang tajam di FDP.

Susanti bersitegang untuk mengatakan bahwa gerakan seperti yang digariskan pada awal FDP menjalankan program sudah tidak tepat dilaksanakan saat sekarang ini. Karena kesempatan petani untuk banyak berpikir tentang pembelaan secara hukum sudah tidak ada lagi. Mereka sudah sangat letih dan miskin untuk penyadaran hukum. Oleh sebab itu pengembangan ekonomi melalui  bidang usaha pertanian lainnya sebagai konsentrasi program FDP pada tahun ini.

“Kita harus mengubah cita rasa petani terhadap kehidupan ini. Peluang untuk bertani tanaman lainnya yang lebih produktif masih terbuka luas. Sedangkan  usaha menuntut dinas pertanian untuk menyalurkan bibit dan pupuk kepada petani sangatlah memerlukan energi yang besar.”

Ucok keberatan atas sikap Susanti. “Apa kita akan menciptakan kaum kapitalisme kelas rendah di masyarakat petani? Dan, membiarkan korupsi terus merajarela di pemerintahan?”

Pendapat Ucok didukung oleh Dirga Beranta dan Arman. Sedangkan Muslimin walaupun tidak terlalu ekspresif sebenarnya mendukung pikiran Susanti. DR Pardomuan yang bingung untuk memfasilitasi dua arus pemikiran yang bertentangan ini. “Nampaknya kita butuh satu kali pertemuan lagi untuk mentuntaskan masalah ini. Pertemuan kita malam ini hanya sampai di sini.”

Ningsih dan Dewi Lyana sudah menyediakan dirinya untuk tidak perlu terlalu paham atas perbedaan pendapat yang sedang terjadi di tubuh FDP. Dewi katakan, “Makan merekalah program itu sampai mual. Yang penting soal duit dan kerapian administrasi dapat kita kerjakan dengan baik.” Ningsih hanya senyum simpul mendengar pernyataan Dewi yang sangat mencintai pekerjaan keuangan FDP.

bersambung…

Kisah Sebelumnya: Bagian 16

*) Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’

Sekar Sukma

Cerpen Chotibul Umam
Editor Ragil Koentjorodjati

gadis jawa
gambar diunduh dari drop.ndtv.com

Ketika malam-malam telah menyisakan purnama, ketika itu pula aku mulai merasa tak bisa lagi membedakan antara duka dan cinta. Seperti duka yang ingin selalu kulupa. Seperti cinta yang ingin selalu kutanya, namun kenyataannya bagai irama hujan yang terdengar merapat ke dalam pelukan lalu tumpah meninggalkan noda. Ia teramat manis untuk aku kecap. Ia terlalu lembut untuk aku sentuh. Dan terlalu indah untuk aku sebut. Seperti bahasa dan lidah yang tak punya jarak. Seperti aku yang tenggelam terbawa arus ke medan telaga.

Dialah wanita yang sesungguhnya. Seorang gadis yang tak pernah mengira bahwa kecantikan yang ia punya cukup sederhana. Sebuah wujud kesederhanaan yang tak butuh sentuhan berbagai macam kosmetik apapun. Orang cantik yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak tahu bahwa dirinya cantik. Paras yang cantik adalah paras yang tak butuh rumus untuk menemukan titik kecantikannya.

Entah sudah berapa kali aku mengantarkan surat ke rumahnya, namun apa yang selalu teringat olehku hanyalah sebuah nama. Ya, nama si penerima yang melekat pada surat itu, Sekar Sukma. Dialah gadis yang aku maksud selama ini.

“Panggil aku Sekar,” sapanya setelah menyuruhku masuk. Ketika itu hujan mulai turun mengguyur kehangatan tanah.

“Angin di luar begitu kencang.” Seraya berjalan ke tempat duduk.

“Aku Karna,” sahutku sebelum menyerahkan surat yang sedari tadi aku genggam.

“Sering kali aku memperkenalkan nama kepada orang yang ingin aku ajak bicara. Kau tahu kenapa Mas Karna?” Suaranya terdengar datar.

Aku menggeleng dengan mata kosong. Bukan berarti menggeleng karena aku tak tahu, melainkan keherananku pada gadis yang selama ini aku hampiri setiap minggunya itu tak pernah kuduga ternyata memiliki wajah yang indah dengan sorot mata yang tajam. Setajam cinta yang mampu membius kerinduan dalam kabut kelam.

“Saya rasa itu adalah wujud dari kehadiran kita untuk dianggap ada. Sebab kehadiran setiap orang seperti tak ada yang tahu, kapan ia akan pergi dan tak tahu kapan ia akan kembali,” Jelasnya dengan tatapan mata melayang.

Aku tidak paham dengan apa yang ia katakan, tapi aku tetap mencoba untuk mengikuti setiap kata yang ia ucapkan.

“Benar,” kataku mencoba mengangguk.

“Kadang kita selalu menjadikan apa yang telah ada terasa tiada, namun setelah ketiadaan ada, baru di kemudian hari kita akan merasakan derita. Maka ajaklah ia untuk berdialog meski sejenak,” Sembari kakinya berjalan mendekat ke mulut jendela kemudian menutupnya.

“Aku hampir lupa, tunggu sebentar.”

Langkah kecilnya ia seret menuju ke belakang. Meninggalkan tanya dalam rinai air hujan yang mendesak membasahi jalanan batu kerikil. Di sini, di rumah adat jawa ini aku merasa terlahir kembali. Sebuah rumah kuno yang hampir terlupakan oleh sejarah di benak anak-anak jaman sekarang. Sebab rumah-rumah bertingkat serta gedung-gedung megah bergaya eropa telah larut dan rata masuk ke berbagai sudut kota.

Aku yakin bahwa bangunan rumah yang sedang aku tatap ini tidak serta merta dibangun tanpa menyimpan sebuah makna. Lihat saja setiap sudut bangunan yang terbentuk seperti ingin mengajak cerita, tapi aku tak paham. Belum usai aku menatap keindahan arsitektur yang disuguhkan di depan mata, tiba-tiba terdengar suara renyah dari belakang.

“Ayahku sendiri yang merancang rumah ini. Memang beliau adalah sosok yang sangat kuat dalam menjaga tradisi leluhurnya. Ketika orang-orang ramai merombak rumahnya dengan berbagai macam gaya kemewahan seperti sekarang ini, ayahku masih saja setia untuk mempertahankannya.” Sembari meletakkan minuman untukku.

“Silahkan diminum, Mas.”

“Oh ya terimakasih, jadi merepotkan,” basa-basiku.

“Tak apa.”

Angin di luar terdengar kencang menyambar dedaunan yang kemudian gugur berserakan memenuhi halaman rumah. Sedangkan gemuruh badai turut serta mengusik ketenangan. Suara halilintar pun seperti tak mau kalah, dengan pekikannya yang sewaktu-waktu bisa merobek telinga ikut membaur mengejutkan dada. Seakan Tuhan tampak seram dalam senja.

“Kata ayah, siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga kekayaan leluhur ini? Apa harus negara lain dulu yang turun tangan? Baru di kemudian hari kita kalang kabut buru-buru mematenkannya dan menyebut mereka sebagai pencuri. Siapa yang bodoh sebenarnya?” katanya dengan nada tinggi.

“Tanpa disadari kita sedang mengurai borok di kepala sendiri.” Cetusku.

“Benar, Mas Karna.”

“Rumah bergaya jawa klasik ini mempunyai tiga ruang. Ruang yang pertama itu disebut pendopo.” Tangannya menunjuk ke ruang depan.

“Coba Mas Karna lihat,” suruhnya.

Aku sengaja mendekat ke sisinya, bau khas yang tercium adalah bau wangi yang belum pernah menyentuh hidungku. Bau wangi yang dipadukan dengan pakain adat jawa yang dikenakannya. Ia terlihat semakin anggun dan sejuk untuk memanjakan mata. Sore itu aku tersungkur kembali ke peradaun rasa yang sulit aku sebut.

“Ruangan itu letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau terbuka. Mas Karna tahu apa maknanya?” tanyanya

“Aku tidak tahu, coba jelaskan,” pintaku.

”Hal itu merupakan wujud filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah, terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu. Pada umumnya ruangan itu tidak diberi meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa akrab rukun,” terangnya.

“Kalau ruangan yang menghubungkan antara pendopo dan dalem itu disebut pringgitan.”

“Apa itu pringgitan?” selaku.

“Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang.”

Aku hanya mengangguk sebagai wujud pemahamanku atas keterangannya atau justru mengagumi hatiku sendiri yang diam-diam aku merasa tersulut api asmara. Seketika itu pula aku sulit memisahkan pertempuran dua hati ini.

“Dan rungan ini,” sambil mengedarkan telunjukku.

“Ruangan yang sedang kita tempati ini adalah ruangan terakhir yang disebut dengan ruangan dalem atau ruang pribadi. Ruangan ini merupakan ruang pribadi pemilik rumah.

“Kalau begitu aku tidak sopan,” celetukku.

“Tak apa, aku memang sengaja mengajak Mas Karna ke dalam,” timpalnya dengan senyum wajah manis.

“Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Senthong atau kamar hanya dibuat tiga kamar saja.”

“Kenapa harus tiga kamar?”

“Ini akan aku jelaskan. Sebab kamar ini hanya diperuntukkan menjadi tiga bagian yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat bagi laki-laki,” lanjut gadis berambut sanggul itu.

Aku seperti tak punya pilihan lain selain mengamati setiap gerak bibirnya. Ia seperti pemancing yang lihai memainkan kailnya, atau mungkin lebih mirip jika dikatakan seorang ilusionis yang mampu menghipnotis korbannya. Sampai-sampai aku tak sadar kalau hujan sudah mulai reda.

“Maaf, Mas Karna dengar apa yang saya ceritakan?” tanyanya mengejutkanku.

“Dengar.”

“Tapi tatapannya kelihatan kosong.”

“Nggak, lanjutkan saja. Aku mendengarkan.”

“Baiklah,” dengan memperlihatkan mimik yang ramah. “Kamar kedua kosong namun tetap diisi tempat tidur atau ranjang lengkap dengan perlengkapan tidur. Kamar yang kedua ini atau yang tengah biasanya disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan. Sedangkan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan.”  Ia berhenti sejenak untuk menyeruput secangkir teh.

“Aku kira sudah cukup penjelasan ini.”

“Lebih dari cukup mungkin.”

Sesaat setelah usai menjelaskan semua itu, ia menyuruhku untuk minum teh racikannya. “Silahkan Mas diminum lagi tehnya.”

Kini yang terdengar hanyalah gerimis rintik air. Sisa-sisa air hujan yang ikut turun terbawa arus, sekarang menghilang entah pergi ke mana. Dan juga suara gemuruh yang gaduh disertai halilintar yang terdengar kejam terkadang masih mengejutkan dada.

“Setiap kali hujan mulai reda seperti saat-saat ini. Aku selalu membayangkan kalau Tuhan bisa ikut bersedih.”

“Kenapa Tuhan harus ikut bersedih?”

“Cukup aku dan Tuhan yang tahu.”

“Bagaimana mungkin Tuhan bisa semelankolis itu,” ketusku.

“Tidak ada salahnya bukan kalau sekali-kali kita menggambarkan wujud Tuhan sedemikian rupa. Aku tidak mau kalau Tuhan selalu nampak seram seperti yang pernah diajarkan oleh guru-guru agama,” sahutnya dengan suara agak tinggi.

Aku sedikit menahan tawa ketika melihat ekspresi wajahnya yang tampak serius setelah menjelaskan tentang wujud Tuhan. Tanpa aku sadari, ternyata ada sisi lain bahwa sebagian kecantikan yang dimiliki oleh seorang wanita akan terlihat menarik ketika berwajah serius.

Melihat hujan telah berhenti dan waktu mengharuskan aku pulang. Bagiku itu terasa berat untuk meninggalkannya, namun aku masih yakin jika waktu masih milik kami, kesempatan kedua akan menjadi lebih indah dari apa yang pernah aku bayangkan. Detik itu pula aku meminta ijin untuk kembali ke rumah demi sejenak melepaskan lelah.

***

Malam itu adalah malam yang langka untuk aku rasakan seorang diri. Hujan sore itu. Aku tak langsung jatuh tertidur, melainkan menyalakan api kompor untuk memanaskan air sembari menghitung beberapa surat yang belum sempat aku kirimkan. Setelah terdengar air mendidih aku cepat-cepat mematikan api dan menuangkannya ke dalam cangkir yang terlebih dulu aku masukan kopi. Asapnya mulai membumbung meliuk-liuk mengikuti udara berhembus.

Tepat di tepi pintu setumpuk surat telah menunggu pekerjaanku sebagai pengantar surat. Aku turut terharu ketika orang-orang lebih instan mengabarkan informasi lewat teknologi, ternyata masih ada orang yang lebih suka menuliskan informasinya lewat surat. Aku tidak paham di mana asyiknya menuliskan informasi lewat surat. Bagiku mungkin itu tidak penting, yang terpenting adalah aku masih bisa bersyukur karena dari mereka pekerjaanku sebagai pengantar surat tetap berlanjut.

Setelah secangkir kopi habis aku teguk, tiba-tiba terbayang paras cantik Sekar Sukma melayang-layang di atap langit malam itu dan ketika mataku berkedip bayangan itu langsung lenyap. Tinggal susah dan resah yang aku rasakan.

Hujan sore itu masih menyisakan malam yang dingin. Rasa lelah yang menghujam tubuhku sepeti tak mengenal kata kalah meski malam hampir usai. Namun, sepertinya waktu memaksa mataku untuk terpejam meskipun barang sebentar.

***

Terhitung sudah tiga pekan aku tak lagi mengantarkan surat ke rumah gadis jawa itu. Aku seperti terserang rindu, tapi aku ragu. Apa ia sengaja membuatku seperti ini, tapi aku tak yakin. Untuk kesekian kalinya aku memilah-milah surat yang baru saja aku bawa dari kantor. Berharap ada sepucuk surat yang dialamatkan kepadanya.

Harapan itu pun akhirnya tak terwujud. Aku tak menemukan sepucuk surat bertuliskan nama Sekar Sukma. Hingga berhari-hari aku tak juga menemukan surat untuknya lagi. Sudah cukup rasanya untuk aku lanjtukan.

Siang itu, ketika aku membuka pintu untuk keluar mengantarkan surat. Terlihat ada sepucuk surat yang tergeletak di atas lantai. Aku kira itu bagian dari surat yang belum sempat aku masukan ke dalam tasku, namun apa yang aku lihat adalah nama Sekar Sukma yang tertulis sebagai pengirim surat yang ditunjukkan untukku. Awalnya aku tak yakin dengan surat itu, tapi tetap saja rasa penasaran mendorongku untuk membukanya.

Cukup untuk hari ini
Kau tak perlu mengatakan rindu, sebab ketika purnama
Aku selalu menuangkan waktu dalam sebentuk cahaya
Jika seperti itu yang kau rasa
Hanya cukup untuk  satu kata
Kau tak perlu menanyakan cinta

Seusai membaca isi surat darinya hari itu pun juga aku seperti kehilangan segala bentuk bahasa cinta yang aku punya. Seolah bahasa cinta tak lagi pantas untuk dijadikan sebuah prosa atau puisi.

Saat malam mulai menjelang aku bergegas berangkat menuju ke rumahnya dengan menyimpan segala tanda tanya akan isi surat yang dikirimkannya. Malam itu juga aku berharap ia menyambut kedatanganku dengan sambutan yang sama persis saat pertama kali bertemu atau bahkan labih dari itu. Tetapi, sesampainya di sana apa yang aku temukan bukan lagi sebuah rumah yang ditempati seorang gadis bermata tajam itu, melainkan sebidang tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon besar belantara, namun aku tetap yakin bahwa di tempat itu tiga bulan yang lalu aku pernah berteduh. Bersama rinai air hujan yang mulai turun, perlahan ikut membasahi setapak jalan kaki yang aku lewati.

 Kau memang benar adanya teramat manis untuk aku kecap, terlalu lembut untuk aku sentuh, dan terlalu indah untuk aku sebut.

Pilih Selembar Foto Buat Waktu

Puisi John Kuan

gambar diunduh dari http://www.yangunikcantik.blogspot.com

Selembar ini ada rintik hujan Chaplin,

bau mentol, amat sejuk, agaknya musim gugur.

Dua orang duduk berhadapan di kiri, sisanya

dibiarkan kelabu keluar hingga jauh.

Ada ranting sehabis menggugurkan daun-daunya

entah di mana, masuk berkecambah sunyi di sisi atas.

Sebuah meja pendek tegar di antara mereka, menjaga

poci dan cangkir teh tetap berasap, sentuh ranting sentuh awan.

Dia sedang meraba rambutnya, ujung jari menyentuh keringat

dan wangi melati akar rambut, menyusuri helai-helai hitam kilap

berhenti di lekuk leher giok putih. Air mendidih, dunia selembar kabut.

Di seberang meja dia sedang menyeruput hidup, ada aroma teh

ada senyum dikulum sekian tahun, ada harum tertinggal di akar lidah

untuk peristiwa selanjutnya agaknya hambar, atau semacam manis

berayun di antara ada dan tiada, bagai sepotong awan melayang

keluar dunia sejengkal, mungkin tidak lebih dari dua tiga helai

daun kering terapung atau mengendap di dalam cangkir.

Nyanyian Burung Merak di Tepi Sungai Brokat – Puisi-puisi Xue Tao ( 768? – 831 )

Gerundelan John Kuan

Suatu senja di akhir musim semi, seorang ayah duduk bersama anak gadisnya di pekarangan rumah. Mungkin karena tergoda warna pemandangan di depan mata, atau ingin menguji kemampuan anak gadisnya berpuisi, tangannya menunjuk sebatang pohon Wutong di samping perigi sambil mengucapkan sebait puisi:

Di ujung pekarangan ada sebatang Wutong tua,
ranting-rantingnya menerobos ke dalam awan.

Kemudian melirik anak gadisnya yang duduk di sisinya untuk menyambung, gadis kecil berumur delapan tahun itu seketika melengkapi sebait:

Dahan-dahan menyambut burung selatan utara,
dedaunan mengantar angin pergi dan datang.

Sebait puisi ini telah membuat ayah itu terdiam dan sedih, puisi adalah suara hati dan harapan, bagaimana seorang gadis bisa begini terapung dan terombang-ambing? Gadis itu akhirnya memang menjadi perempuan penghibur.
Ini adalah sepenggal cerita masa kecil Xue Tao yang sering ditemukan di dalam berbagai macam buku, tetapi sangat sulit mengetahui kebenarannya. Cerita serupa begini masih bisa ditemui di dalam catatan masa kecil beberapa penyair perempuan Cina Kuno yang lain. Sepenggal catatan pendek begini menyimpan berapa banyak bias gender di dalam masyarakat Cina Kuno, serta posisi perempuan terpelajar di dalam tradisi Konghucuisme selama ribuan tahun. Seandainya sebait puisi di atas keluar dari mulut seorang anak lelaki, maka komentar dan penilaian akan menjadi sangat berbeda. Sebait puisi dari seorang anak berumur delapan tahun yang begini lincah dan ceria, kenapa tiba-tiba berubah menjadi sebuah kutukan? Jawabannya mungkin akan terlalu panjang dan berat juga menyangkut sebuah tradisi yang sangat tua. Sudahlah, saya tebas paku potong besi, tidak usah bahas lagi.

*

Xue Tao lahir di Chang’an antara tahun 768 sampai 770, tidak dapat dipastikan, di dalam catatan sejarah resmi tidak tercantum riwayat hidupnya, sekalipun Xue Tao selalu dianggap sebagai salah satu penyair perempuan Dinasti Tang yang paling berbakat dan penting.
Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah pusat, tetapi beberapa tahun setelah Xue Tao lahir, dia dipindah-tugaskan ke daerah Sichuan, memegang jabatan bendahara di kantor Gubernur Jenderal Sichuan.
Seluruh masa kecil, remaja hingga hari tua Xue Tao dihabiskan di Sichuan. Sichuan pada masa itu termasuk salah satu provinsi otonomi penuh yang disebut Provinsi Militer dalam catatan sejarah. Provinsi-provinsi ini biasanya dipimpin seorang Gubernur Jenderal, mereka selain memiliki tentara sendiri, bebas mengangkat dan menghentikan pejabat-pejabatnya juga tidak perlu menyetorkan pajak kepada pemerintah pusat di Chang’an. Dan satu-satunya hak intervensi pemerintah pusat terhadap Provinsi Militer adalah hak Kaisar mengangkat semua Gubernur Jenderal,  walaupun demikian, pembangkangan dari beberapa Provinsi Militer tetap terjadi sepanjang paruh kedua abad ke-8 hingga abad ke-9. Ini tentu adalah salah satu masalah yang paling mengerogoti keutuhan Dinasti Tang dan terakhir membuatnya ambruk.
Sichuan bukan Provinsi Militer pembangkang, cukup patuh. Tiap tahun tetap menyetor ke pemerintah pusat, tetapi bukan sebagai setoran pajak melainkan sebagai upeti, dan semua Gubernur Jenderal-nya juga diangkat atau ditunjuk oleh Kaisar. Sedikit kepatuhan ini telah membuat Sichuan agak stabil dibandingkan dengan Provinsi Militer lain, sehingga dapat berkembang menjadi daerah yang cukup makmur dan relatif aman di alam Tang yang terus bergolak. Sekalipun gangguan-gangguan di perbatasan Yunnan dan Tibet masih sering terjadi.
Tahun 782 ayah Xue Tao tiba-tiba meninggal dunia, ini adalah petaka yang mengubah jalan hidup Xue Tao. Ada beberapa versi tentang kematian ayahnya; dihukum mati, terbunuh dalam sebuah pemberontakan di Chengdu, atau sakit. Apapun versinya, Xue Tao yang masih berumur 14 tahun akhirnya harus menjalani hidupnya sebagai seorang perempuan penghibur di tempat hiburan yang dikelola oleh pemerintah untuk keperluan pejabat dan tamu-tamunya. Pada masa itu tempat-tempat hiburan begini berkembang pesat di daerah ‘ lampu merah ‘ Chengdu yang gemerlap. Jika ayahnya dihukum mati karena korupsi maka kemungkinan besar Xue Tao dimasukkan ke rumah hiburan milik pemerintah sebagai hukuman, dan lumrah pada masa itu. Jika ayahnya terbunuh dalam sebuah pemberontakan atau meninggal dunia karena sakit, kemungkinan Xue Tao sendiri yang mendaftar ke rumah hiburan milik pemerintah.
Apapun pilihannya atau hanya sekedar menjawab tantangan hidup, Xue Tao memang menjadi seorang perempuan penghibur resmi, masuk ke dalam sebuah dunia di mana perempuan dihargai sebagai pendamping bicara, tempat curhat, seniman, di mana bakat dan kecerdasan lebih diutamakan daripada kecantikan, tempat lelaki rileks atau membuat persekongkolan politik atau persetujuan bisnis atau mencari perempuan pendamping yang secara intelektual tidak mampu dipenuhi oleh isterinya yang terbatas pendidikannya. Tentu, seks juga merupakan bagian dunia ini, tetapi bukan bagian yang terbesar.
Perempuan penghibur di jaman Dinasti Tang tidak sesempit pemahaman sekarang. Perempuan penghibur pada masa itu terbagi dalam berbagai tingkatan sesuai keperluan, Xue Tao termasuk perempuan penghibur resmi, dia bekerja, diatur dan dilindungi pemerintah, dia juga harus membayar pajak. Perempuan-perempuan penghibur resmi juga sering tampil dalam acara-acara resmi, sehingga kesempatan mereka berkenalan dengan lelaki-lelaki yang memiliki kuasa dan terdidik lebih terbuka.
Xue Tao dengan bakatnya yang begitu menonjol dalam usia muda belia tentu telah mencuri perhatian tokoh-tokoh penting Sichuan. Dan memang, tiga tahun kemudian, dia sudah sering dipanggil untuk mendampingi Gubernur Jenderal Sichuan yang baru menjabat bernama: Wei Gao, dalam acara resmi maupun pesta pribadi. Hubungan mereka sangat khusus, tetapi kita tidak dapat menduga seberapa jauh hubungan tersebut, apakah hubungan kekasih atau teman atau patron. Wei Gao adalah salah satu Gubernur Jenderal Sichuan yang sangat berpengaruh, dia memegang jabatan ini selama 21 tahun, memberikan Sichuan ketenteraman dan kemakmuran yang jarang ada pada periode itu di dataran Cina.
Dua tahun kemudian, Wei Bao membantunya melepaskan diri sebagai perempuan penghibur. Setelah memperoleh kebebasan dia memilih menetap sendiri di tepi Sungai Brokat, usianya baru dua puluh tahun. Ini adalah sebuah pilihan yang sangat berani, pada jaman itu seorang perempuan muda berani memilih hidup sendiri sebagai veteran perempuan penghibur adalah tantangan yang sulit kita bayangkan. Dia tetap mencari hidup dengan menulis puisi, mendampingi Gubernur Jenderal dalam acara resmi maupun pesta pribadi hingga Wei Gao mendadak meninggal dunia di tahun 805. Pada masa itu selain sebagai pendamping Gubernur Jenderal dalam acara-acara resmi, Xue Tao juga mempunyai sebuah jabatan setengah resmi: nujiaoshu ( semacam sekretaris ), disebut tidak resmi karena pengangkatan ini tidak disetujui pemerintah pusat. Sekalipun setengah resmi, dan tugas jabatan ini juga sangat ringan, tetapi dia mungkin merupakan perempuan pertama yang masuk dalam birokrasi pemerintah dalam sejarah Cina. Mendampingi Gubernur Jenderal dalam acara resmi dan memegang jabatan jiaoshu setengah resmi ini terus dilakukan Xue Tao hingga hari tua, dia melewati sebelas periode Gubernur Jenderal.
Awal musim semi 809, melalui seorang teman Xue Tao berkenalan dengan Yuan Zhen. Sebagai penyair dan kaligrafer, nama Xue Tao sudah lama menyebar keluar daerah Sichuan, cukup terkenal di kalangan sastrawan dan kaum terpelajar, dan Yuan Zhen adalah sebiji bintang yang sedang bersinar di dunia sastra dan politik. Menurut cerita, dalam waktu singkat Xue Tao sudah jatuh cinta pada Yuan Zhen yang muda, berbakat dan flamboyan itu. Seandainya cerita ini benar, siapa bisa sangka perempuan sangat matang ini akan bertemu dengan sepotong cintanya yang paling mewah di saat begini. Dia 40 tahun dan Yuan Zhen 31. Seandainya cerita ini benar, maka kita pasti juga tahu hubungan ini tidak akan berhasil, terlalu banyak rintangan yang mesti dilalui, lagipula Yuan Zhen terkenal sebagai penyair Tang yang paling playboy. Tidak tahu ada berapa banyak perempuan telah membasuh muka dengan airmata demi dia. Sepotong kisah cinta ini sudah terlalu banyak kali ditulis ulang dan sangat sulit dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Dalam catatan pendek ini saya rasa tidak perlu lagi dipanjang-lebarkan.
Tidak sulit untuk memahami mengapa Xue Tao hidup sendiri hingga akhir hayat, terlepas dari benar tidaknya pengaruh hubungannya dengan Yuan Zhen yang singkat dan cepat menjadi masam itu. Dia jelas adalah seorang perempuan yang memiliki pikiran sangat mandiri, sekalipun untuk ukuran jaman sekarang. Bagi seorang perempuan yang sejak umur 14 tahun sudah menghidupi diri sendiri, saya kira dia juga sangat mandiri secara ekonomi. Ditambah namanya yang kian berkibar dan lingkungan pergaulannya, semua ini tentu membuat dia sulit menemukan pasangan yang cocok.
Di usia senja, Xue Tao lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari ajaran Tao, sering berpenampilan sebagai pendeta Tao, hidup menyepi di tepi Sungai Brokat. Tetapi ini bukan pertapaan, dia masih melayani undangan-undangan dari Kantor Gubernur Jenderal, menerima teman-temannya dari dunia sastra dan politik hingga hidupnya berakhir. Dia meninggal dunia pada tahun 831, menikmati hidup 63 tahun. Xue Tao mungkin adalah penyair Tang Tengah yang paling luas pergaulannya. Dia pernah mendampingi sebelas orang Gubernur Jenderal Sichuan, dia kenal dan saling bertukar puisi dengan hampir semua penyair penting Tang Tengah, seperti: Bai Juyi, Yuan Zhen, Wang Jian, Zhang Ji, Liu Yuxi, Du Mu…
*

Puisi-puisi Xue Tao jarang ditemukan di dalam antologi-antologi yang disusun kemudian, termasuk antologi puisi Tang yang paling populer: Antologi 300 Puisi Tang. Di dalam Antologi Lengkap Puisi Tang terdapat satu bab puisi Xue Tao yang berisi 89 puisi. Jika melihat Antologi yang berisi 42.863 buah puisi dari 2529 penyair ini, dan hanya ada sekitar 600 buah puisi yang ditulis oleh 130 penyair perempuan, maka 89 buah puisi Xue Tao adalah jumlah yang luar biasa. Konon, Xue Tao juga pernah menerbitkan sebuah buku puisi yang diberi nama: Kumpulan Puisi Sungai Brokat, berisi 500 buah puisi-puisinya, sayang buku ini lenyap ditelan jaman.
Selain puisi, jejak-jejak Xue Tao masih bisa kita temui di sebuah taman bernama Taman Tatapan Sungai, yang berada di tepi Sungai Brokat, Chengdu. Pada masa Dinasti Qing ( 1644 – 1912 ) dibangun sebuah pagoda bernama Pagoda Tatapan Sungai untuk mengenang penyair ini, tidak jauh dari Gubuk Du Fu dan Kuil Zhuge Liang. Di dalam taman ini juga ada sebuah sumur yang diberi nama Sumur Xue Tao, dan rumahnya kemungkinan juga berada di dalam taman, sayang sudah tidak berbekas. Rumah penyepian ini dia beri nama: Pagoda Resital Puisi
Puisi-puisi terjemahan dalam catatan ini tetap tidak saya bahas seperti catatan-catatan terjemahan puisi Cina Klasik sebelumnya, biar pembaca yang budiman sendiri menilai dan menikmatinya.

Angin

Sehabis mengejutkan anggrek, wangi lembut bersemilir
jauh, terbang menyentuh senar kecapi jadi satu denting.

Pucuk pepohonan terang bersih, daun-daun berebut jatuh
gemericik, sepanjang setapak hutan pinus, malam sejuk sepi


猎蕙微风远,飘弦唳一声。
林梢明淅沥,松径夜凄清。
Menatap Musim Semi
1.

Bunga mekar, siapa berbagi nikmat
Bunga gugur, siapa berbagi pilu.
Ingin tanya, di mana rindu paling mengaduk
saat bunga mekar atau saat bunga gugur.

2.

Petik rumput dan ikat, satu simpul kekasih
buat kukirim yang tahu nyanyian hati
Baru saja potong kusut gelisah musim ini,
ai, burung terperangkap musim semi menjerit lagi

3.

Bunga di dalam angin, hari ditiup tua. Musim
terindah kita, seakan telah pupus dan jauh
Tiada orang mengikat simpul hati, percuma
petik rumput mengikat simpul kekasih.
4.

Bagaimana menahan, bunga rekah sedahan
penuh, berkepak berguling jadi dua buah rindu.
Untaian giok bening gantung di cermin pagi,
tahu atau tidak dia, hei, angin musim semi?
春望词四首

1.

花开不同赏,花落不同悲。
欲问相思处,花开花落时。
2.

(扌监)草结同心,将以遗知音。
春愁正断绝,春鸟复哀吟。
3.

风花日将老,佳期犹渺渺。
不结同心人,空结同心草。
4.

那堪花满枝,翻作两相思。
玉箸垂朝镜,春风知不知。
Dalam Pembuangan ke Tanah Perbatasan Mengenang Tuan Wei
( dua nomor pilih satu )
Pernah dengar kota perbatasan pahit
empedu, habis mencicip baru tahu
Kian malu, telah kupetik irama dari balik
pintumu, nyanyi bersama prajurit di tanah jauh

罚赴边有怀上韦令公二首

闻道边城苦,而今到始知。
却将门下曲,唱与陇头儿。

Menjawab Orang Bercengkerama dengan Bambu Sehabis Hujan
Saat hujan musim semi tiba di langit selatan,
bisa cermati lagi —— o, betapa ganjil —— gerak lekuk
embun beku dan salju. Seluruh tumbuhan sedang rindang
hijau berbaur, tinggal dia sendiri tegar hampakan hati.
Di situ tujuh bijak hutan bambu bertahan mabuk arak dan puisi,
daunnya sejak dulu berbintik airmata pilu Sang Permaisuri.
Bila tahunmu masuk musim dingin, tuan, kau pantas kenal
dia lagi, hijau dingin kelabu, beruas langka dan kukuh

Catatan:
Tujuh bijak hutan bambu adalah tujuh orang sastrawan yang melawan pemerintah Dinasti Jin ( 265 – 420 ) dengan tidak menerima jabatan apapun dari Kaisar, lebih memilih cara hidup yang agak bohemia, sering berkumpul di hutan bambu minum arak sambil berpuisi.

Sang Permaisuri adalah isteri Raja Shun yang dipercaya hidup pada abad ke-23 SM, karena sedih akan kematian suaminya, menurut legenda percikan airmatanya telah menempel jadi bintik-bintik di daun bambu yang kemudian dikenal sebagai bambu berdaun bintik

酬人雨后玩竹

南天春雨时,那鉴雪霜姿。
众类亦云茂,虚心宁自持。
多留晋贤醉,早伴舜妃悲。
晚岁君能赏,苍苍劲节奇。

Serpihan Bunga Dedalu
Awal Maret bunga dedalu ringan juga gemulai,
angin musim semi goyang membuai baju orang.
Dia aslinya memang benda tiada rasa, sudah
bilang terbang selatan malah terbang utara

柳絮咏

二月杨花轻复微,春风摇荡惹人衣。
他家本是无情物,一向南飞又北飞。

Tepi Sungai
Mendadak angin barat melapor, berpasang-pasang angsa liar
telah tiba, dunia fana, hati dan rupa merosot berdua.
Jika bukan tersebab surat rahasia di perut ikan, ada mantera
cinta, siapa kuat mimpi bersambung mimpi tegak di tepi sungai.

江边

西风忽报雁双双,人世心形两自降。
不为鱼肠有真诀,谁能夜夜立清江。

Jalan-jalan ke Pinggiran Kota di Musim Semi: Buat Suhu Sun
Pagi ini biarkan mata bermain wangi semerbak,
sehelai kain bunga melingkar gaun ujung berenda.
Sepenuh lengan sepenuh kepala sepenuh genggam,
biar orang tahu aku baru pulang melihat bunga.

春郊游眺寄孙处士二首

今朝纵目玩芳菲,夹缬笼裙绣地衣。
满袖满头兼手把,教人识是看花归。

Buat Seseorang di Jauh
( dua nomor pilih satu )
1.

Sekali lagi habicus jatuh, gunung Tanah Su
masuk musim gugur,
buka sepucuk surat bersulam syair, hanya bersua sedih.
Di kamar perempuan, kami tidak tahu apapun
tidak pedang tidak kuda,
saat bulan tinggi, kembali daki menara janda menatap jauh.

赠远二首

芙蓉新落蜀山秋,锦字开缄到是愁。
闺阁不知戎马事,月高还上望夫楼。

Tentang Kuil Pucuk Awan
1.

Konon lumut di Kuil Pucuk Awan, saat angin tinggi
matahari dekat, terbebas dari segala debu dunia.
Awan lintas memercik mewarna dinding padma,
seolah sedang menunggu penyair dan bulan mustika.
2.

Konon bunga di Kuil Pucuk Awan, terbang di udara,
berputar di tangga batu, menyusuri lengkung sungai.
Kadang juga bisa mengunci cermin Chang’er, sang bulan
mengukir awan semu merah di istana Ratu Langit Barat.

赋凌云寺二首
闻说凌云寺里苔,风高日近绝纤埃。
横云点染芙蓉壁,似待诗人宝月来。
闻说凌云寺里花,飞空绕磴逐江斜。
有时锁得嫦娥镜,镂出瑶台五色霞。

Antar Seorang Teman
Malam negeri sungai, pucuk gelagah berselaput embun
beku, bulan gigil gunung berpijar, serentak hijau kelabu
Siapa bilang seribu li dimulai malam ini, jarak mimpi
sepanjang jalan menuju gerbang perbatasan.

送友人

水国蒹葭夜有霜,月寒山色共苍苍。
谁言千里自今夕,离梦杳如关塞长。

Kirim Sajak Lama Buat Yuan Zhen
Terangsang mengaduk puisi siapa juga punya,
hanya aku sendiri tahu menangkap lekuk rinci
angin dan cahaya, bersenandung bunga di bawah bulan,
sedih akan yang pupus dan layu, atau tulis dedalu
di pagi gerimis, demi rerantingnya lengkung berayun.
Perempuan bagai giok hijau simpan di dasar rahasia,
tapi aku tetap sesuka hati menulis di kertas syair merah.
Tumbuh menjadi tua, siapa bisa rangkum karya lama
dan memperbaiki seluruh kesalahan, maka aku kirim
sajak ini buatmu, tampak seolah mengajar seorang bocah

寄旧诗与元微之
诗篇调态人皆有,细腻风光我独知。
月下咏花怜暗淡,雨朝题柳为欹垂。
长教碧玉藏深处,总向红笺写自随。
老大不能收拾得,与君开似好男儿。

Sidang Superhero

Puisi Maria Ita

yudas iskariot
gambar diunduh dari static.republika.co.id

memasuki ruang pengadilan, pagi itu:

seperti berada di persimpangan surga dan neraka,

ada batman, ada spiderman, ada superman, ada cat woman,

ada si anak setan, hellboy, datang tergesa-gesa,

dengan muka merah padam, dengan separuh tanduknya.

ada yudas iskariot/

 

tak seperti biasa,

batman mengenakan topeng berwarna putih,

spiderman menyulam jaring-jaringnya dari butiran berlian,

superman menyembunyikan celana dalam di balik jubah panjang,

cat woman memakai cambuk sebagai ikat pinggang,

si anak setan –hellboy-, melambaikan tangannya pada tangan-tangan,

tak bertuan di jendela-jendela pengadilan,

dan yudas iskariot menghitung kepingan/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa bersalah?’

bisik-bisik terdengar di telinga, lalu para super hero berdiri,

‘dia!’, sambil menunjuk yudas iskariot/

yudas iskariot memegangi perutnya yang koyak,

katanya,’aku?’

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa buang angin?’

bisik-bisik terdengar di telinga, lalu para super hero berdiri,

‘dia!’, sambil menunjuk yudas iskariot/

yudas iskariot melemparkan sekantong uang perak,

katanya,’aku?’

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa pencium ulung?’

yudas iskariot berdiri berdiri seperti siap gantung diri,

katanya,’aku!’

seringai kemenangan menusuk-nusuk mata/

 

‘dia?’, kata para super hero setelah bisik-bisik terdengar,

di telinga/

‘harusnya aku!’, kata spiderman sambil melengos/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa pengecut?’

yudas iskariot berteriak,

katanya,’mereka!’

‘aku bukan pengecut!’, kata hellboy dengan muka semakin padam

dan ekor yang tiba-tiba melecut/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa membunuh?’

tak ada bisik-bisik, semua tunduk menatap lantai/

lalu, hakim keluar dari ruang pengadilan dengan santai//

 

*) Maria Ita adalah penulis buku kumpulan puisi Ibukota Serigala

Selikuran

Puisi Lentera Bias Jingga

gambar diunduh dari ervakurniawan.file.wordpress.com

riang hati
melihat mereka..
anak-anak kampung
bermain kembang api
meriam bambu
bercahakan lilin kecil
di beranda masing-masing

bermain alip cendong,
peta umpet dan umpyang
lepas tarawih malam selikuran
sepuluh ketiga waktu ramadhan
hati bahagia sebentar lagi lebaran

malam bermandikan cahaya
obor, sentir sedikit bintang
anak-anak riang berjelang-jelang
berganti  memegang kembang api
terang benderang

tapi semua tinggal kenangan
malam selikuran sudah tak punya ruang
memasang lilin di halaman senta-senja
lapangan dan taman-taman
malam sepi anak-anak riang bermain kembang
selikuran tak akan terulang sepanjang ramadhan

Losung Aek

Puisi Lentera Bias Jingga

gambar diunduh dari skyscrapercity.com

tempat

matahari memancar

dari timur

dan bau belerang

menyengat pagi yang biru

sawah-sawah menguning

menanti panen tiba,

gemericik  pecahan air di bawah sana

bukit di kiri

berbatu cadas,

hijau tua dibalut lumut

dan semburat bianglala

melekat di langit saga

burung-burung bercanda 

di ranting tua,

ada anak lelaki

datang merajut sapa,

menyapa pagi

dari setiap jendela rumah kayu

yang tua-tua,

tanda seberang  sana

dimulai saja,menyusuri

jalan setapak ,

di bukit-bukit

pembatas kampung utara 

kampung tenggara

tempat ayah berpesan untuk sepetak sawah, pada ketujuh putra,pun keenam putrinya

losung aek selarik cerita dari anak-anak hingga dewasa,isyarat cinta di rantau manusia

Kembali ke Hindia Belanda

Puisi John Kuan

merah putih compang camping
gambar diunduh dari gerrilya.file.wordpress.com

Terbang satu setengah jam, aku tiba di Hindia Belanda
topi demang masih di kepala, baju safari belum dibasuh,
lars kompeni ada bercak darah, campur getah tanaman paksa.
Api liar masih membakar akar rumput, sunda kelapa adalah pokok tua,
sudah lama henti berbuah, tinggal janur kuning masih melambai.

Naik kereta api satu hari satu malam, aku tiba di Hindia Belanda
Nusantara terbaring lemah, di leher Jawa bengkak, di pinggang Borneo
tertikam, wajah Sumatra ada luka bakar, sayatan Celebes bernanah
kaki Papua siap diamputasi. Terlalu pengap, aku buka jendela, kemiskinan
berkeluyuran, di sini kelaparan dan penyakit sering bersua mesra
senapan dan peluru mengokang ke arah wajah ingatan.

Setengah mati mengayun selangkah, aku tiba di Hindia Belanda
sejarah dicuci antiseptik tinggal sayup-sayup pedih, setelah mimpi
Indonesia Raya membalikkan tubuh, bom rakitan menggantikan obor
meledakkan legenda-legenda tua jadi serpihan berita, hijau zamrud pudar
dan kian pudar, hingga tinggal sebuah bilangan negosiasi perdagangan karbon,
sebatang nyiur melambai di dalam saluran National Geographic :
One thousand places you have to visit before you die.
Kapitalisme berdesah basah di hutan hujan perawan:
[ Borneo, hari sudah gelap
kami bantu kau nyalakan setitik lampu! ]

Habiskan enam puluh tujuh tahun, aku tiba di Hindia Belanda
bankir dunia menggorek sisa nasi sayur kemanusiaan di sela gigi palsunya
dengan selembar transaksi, menyetor hak asasi manusia ke dalam rekening
bank dunia, kurs jadi sebuah perang, seuntai zamrud khatulistiwa tertutup rapat
di dalam tas kerja, bersama telepon genggam, sebuah pesan pendek peradaban,
membangunkan secercah cahaya fajar rindu purba kampung halaman.
Terbang satu setengah jam, tidak lebih tidak kurang, pas tegak
jadi patung perunggu, seperti sudah bosan terus menunjuk
arwah leluhur yang tidak menemukan pintu.

TANKA MAGNOLIA

Puisi Ahmad Yulden Erwin

kita adalah percik
dari kesunyian,

jejak kosong
di ladang bintang-bintang,

lalu puisi dituliskan
— perlahan

satu dunia tercipta,
tumbuh di putik magnolia,

mekar dan gugur,
lalu hancur

— tanpa kata
matahari kita:

mekar di kuntum magnolia.

catatan:

cempaka
gambar diunduh dari Ahmad Yulden Erwin facebook

Tanka dalam puisi Jepang artinya: puisi panjang. Padahal sebenarnya tidak panjang. Ia disebut panjang, hanya karena lebih panjang daripada puisi haiku yang hanya terdiri dari 3 baris dan 17 suku kata.

Bunga Magnolia, sejenis bunga cempaka. Wangi. Penyebaran utamanya di Asia Tenggara dan Asia Timur. Sekarang menyebar juga di Amerika Serikat. Fosil-fosil bunga Magnolia ini ditemukan bahkan berumur sampai 20 juta tahun,  sehingga diketahui bahwa Magnolia berevolusi lebih awal daripada lebah, hewan yang sekarang menjadi penyerbuk utama bunga ini. Marga dari bunga Magnolia mencakup sekitar 120 jenis. Nama marga Magnolia ini diambil dari nama botaniwan Prancis, Pierre Magnol.

Engkau dalam Lima Elemen

Puisi John Kuan

five element
gambar diunduh dari http://www.ariellucky.files.wordpress.com

Jika kau adalah mimpi, bagai api di sumbu
lilin, cahayamu di kaca jendela menjilat embun beku.
Jika kau adalah api, mata hangat, nostalgia mendidih,
udara kamar menggelegak, bara cengkeh berdesis
di antara bibir. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah api,
petir, guruh, lintang kemukus, setitik lampu tidak sengaja
terbuka di satu sudut badai, mimpi menyala

Jika kau adalah mimpi, bagai air mencair di dasar
tempayan musim semi, selamatkan dahaga seekor burung sesat.
Jika kau adalah air, sepenuh rongga tubuh, bawa perahu
ke lengkung teluk, hujan menjelang subuh, menetes tembus
buah rindu. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah air,
salju, sungai, kelenjar, uap, setetes kafein di petang senyap
mengapungkan serpihan waktu, mimpi hanyut

Jika kau adalah mimpi, bagai logam di tungku
ingatan, melebur setiap partikel giwang rebah di bantal.
Jika kau adalah logam, sebuah hati emas, setua bumi
gantung di lekuk leher, mendekati jantung, cakram rem
di tikungan maut. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah logam,
rambut perak, kulit tembaga, jarum dalam tumpukan jerami
cahaya mata seribu satu malam, mimpi memuai

Jika kau adalah mimpi, bagai kayu seranting
bunga plum, makin dingin makin pecah kecambah.
Jika kau adalah kayu, suara bakiak tersenyum di ujung lorong,
empat kaki meja, satu bangku di stasiun terlantar, selembar kertas
tertulis rapi. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah kayu,
duri mawar, inang benalu, pijar batubara, menunggumu sejajar
di luar garis lingkaran tahun, mimpi membatu

Jika kau adalah mimpi, bagai tanah penuh
debu cinta, diterbangkan angin hasrat ke ladang-ladang kekal.
Jika kau adalah tanah, segel sebuah fosil di antara bibir,
jejak kaki hujan, aroma lumpur musim semi, rawa ilalang
persembunyian angsa liar. Jika kau adalah mimpi, iya, kau adalah tanah,
bejana, malam savana, pagi tundra, sungai-sungai mengalir
lewat, aku mengayuh sampai di jendelamu, mimpi tumbuh

Karena Setiap Kata Punya Makna