Arsip Kategori: Retakan Kata

Kisah Lamalera

Cerita Rikardus Miku Beding

kisah lamalera
ilustrasi diunduh dari http://www.myshofiya.files.wordpress.com

Saat semua orang terlelap tidur dalam dekapan dinginnya malam, baik di pantai maupun di rumah, aku dan saudaraku, Anderas Soge, harus bangun meneguk segelas kopi dan sebatang rokok koli sembari aku sibuk menyiapkan perlengkapan untuk berlayar di tengah lautan pagi ini. Ibuku Khatarina Kneo Tapoona sibuk menyiapkan bekal. Sebelum berangkat, kami sempatkan diri untuk melihat foto dinding almarhum Baba Benediktus H. Beding sambil mengucap dan berdoa selalu,“Bapa jaga grie kame liko lapak kame di kre kme.” Ada sebuah semburan semangat yang kami dapatkan setelah melakukan itu, karena semangat kerja almarhum tak kan pernah dilupakan.
Kebahagiaan yang kami dapatkan setelah pulang melaut bukanlah banyak tidaknya hasil laut yang kami dapatkan. Tapi… rasa bahagia itu muncul manakala dari kejauhan kami  sudah melihat wajah seorang ibu yang menyambut kami dengan senyum manis dan manja untuk menyambut kami. Semangat almarhum (BH), semangat kami, semakin terpatri dalam hati. Kami bertambah bahagia saat kami dan ibu berjibaku memilih ikan untuk dijual. Aku bahagia  dan bangga sekali memiliki sesosok ibu yang sabar dan penyayang. Berkali-kali ucapan syukur aku panjatkan kepada Tuhan yang telah memberi aku seorang ibu  yang sangat peduli pada anak-anaknya
“Senyum, ekspresi manusia untuk mengungkapkan suka maupun duka. Namun senyum yang satu ini saya katakan  lebih super dari kata Mario Teguh.”

Dilema

Puisi Alvino Aryo Nugroho

Bimbang temani dalam jiwa yang sesak akan tanya
terus bertanya di antara waktu yang berputar singkat
aku dan cintanya . . terambang di tengah ketakutan akan sebuah kebenaran
aku takut akan kenyataan, ia takut untuk mengungkapkan . .

Aku mengendap di antara malam yang berbisik sunyi
tergopoh melangkah penuh kegontaian
berpijak diri seperti sebuah angan yang takkan menjadi realita . .
hatiku seperti sepi, karena fikir selalu berusaha untukku menebak sebuah mimpi

Aku sudah di tengah-tengah lautan hujan badai. .
angin tak mengizinkan ku kembali . .
tapi melangkah jauh ke depan, juga kenyataan untukku mati . .

masihku terduduk dalam buaian lamunan perih
hati ini selalu menjerit akan kebebasan sebuah cinta,
ia berteriak melafalkan arti sejati,
tapi sebenarnya hanya mengingkari sebuah luka . .
yang digores perlahan . . dibuat indah agar tak terasa pilu . .

aku benar-benar ragu . .
seperti sebuah embun yang takut terjatuh dari helaian hijau kehidupan . .
takut murninya ternodai hitam tanah kenistaan . .

masihku mengelak dalam kata manis terselubung
yang padahal hanya lari dari kenyataan sakit . .
tersenyum hanya hiasan latar sarat makna
yakinkan dirinya bahwa ku tak apa ..

aku punya pertanyaan untukku . .
masih sanggupkah aku merangkai perjalanan ini?
atau aku palingkan saja jalan panjang ini?

dan aku punya pertanyaan untuknya . .
buang jauh-jauh dirinya?
atau aku yang keluar dari cerita ini?

Abelard, Heloise, Birahi dan Reinkarnasi

Gerundelan John Kuan

tragedy love story
Gambar diunduh dari http://www.derekdelintfansite.com

Sudah beberapa kali saya melepaskan kesempatan mengunjungi Cina, selalu merasa sebaiknya menjaga sedikit jarak, mungkin dengan begini akan lebih bagus terhadap panoramanya, produk budayanya, atau orang-orang yang hidup di dalam sejarahnya. Pernah seorang teman bertanya seandainya saya berkunjung ke Cina lagi, paling ingin kemana, saya menjawab Yicheng dan Tibet.    Yicheng dan sekitarnya adalah daerah pengembaraan dan tempat Li Bai menumpang hidup di masa tua. Nama tempat ini agak jarang disebut, ia terletak di barat laut provinsi Hubei, atau mungkin saya kasih titik koordinat saja: 111°57′-112°45′ bujur timur, 31°26′-31°54′ lintang utara.

Dan Tibet, adalah demi berbagai lapis perbandingan sejarahnya dan letak geografinya, tentu juga demi agamanya.

*

Reinkarnasi lama, saya kira, adalah satu hal yang paling misterius di dunia moderen ini. Dan yang percaya akan hal ini kelihatannya sungguh tidak sedikit ——— bahkan yang tidak percaya agama Buddha Tibet juga mengakuinya dalam diam. Ini adalah salah satu sisi yang memancarkan kebaikan dunia manusia, saya berharap akan terus berlangsung. Kadang-kadang penganut agama Kristen terhadap perihal tertentu bisa menjadi sangat ketat dan sempit, seringkali memiliki semacam gaya ‘ ketika menguasai sebuah perdebatan, akan mengejar hingga lawan kehabisan nafas ‘, tetapi terhadap reinkarnasi lama, seperti tidak ada orang yang tampil meragukannya. Mengikuti perkembangan ini, tampaknya kelanjutannya tidak ada masalah besar.

 

*

Reinkarnasi lama biasanya seperti tidak keluar dari lingkup Dataran Tinggi Tibet.

Pada 3 Maret 1984 Lama Yeshe mencapai nirwana di San Fransisco, tanggal 12 Februari tahun berikutnya ada seorang bayi laki-laki lahir di Granada, Andalusia Spanyol, ternyata adalah reinkarnasi sang lama. Granada adalah dunia agama Katolik Spanyol kuno, Federico Garcia Lorca pernah menulis sebuah puisi, judul dan temanya mengambil ‘ Santo Mikael ‘, dengan Malaikat Agung Santo Mikael sebagai malaikat pelindung Granada. Saya pernah coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, puisinya sekitar enam puluh baris, bait pertama dan bait terakhir kira-kira begini:

 

Dari pagar balkon juga bisa kelihatan

bayang antara barisan keledai dan barisan keledai

penuh memikul bunga matahari, telah mendaki

gunung, gunung, gunung

 

……

 

Santo Mikael, raja segala benda Langit

raja diraja sejak dahulu kala

penuh dengan keagungan orang Berber

jeritan dan keanggunan jendela balkon

 

bagaimana seorang lama bisa memilih reinkarnasi di dunia seperti di atas? Tetapi menurut cerita, semasa hidup lama Yeshe pernah beberapa kali ke Granada menyebarkan Darma, dan kedua orangtua anak lelaki itu: Osel Hita Torres, adalah pengikut agama Buddha Tibet, ah, rupanya mereka adalah murid-muridnya!

Ketika Osel Hita Torres berumur dua tahun, dia dibawa orangtuanya ke India, Dalai Lama menatapnya dari dekat, memastikan bahwa anak Spanyol ini memang reinkarnasi lama Yeshe, maka prosesi masuk kuil dilakukan, dia menjadi pemimpin Kuil Kopan di Nepal, melanjutkan posisi lama Yeshe sebelumnya. Di seluruh dunia bukan sedikit orang yang tahu hal ini, saya kira, dan semua orang membelalakkan mata lihat, diam-diam mengakui maknanya yang penuh misteri itu, tanpa hingar-bingar.

Ini sungguh mitologi moderen yang paling menyentuh, sebuah kitab wahyu besar yang sulit dijelaskan. Saya sampai tidak tahan menulis sebuah puisi, meniru gaya nyanyian rakyat. Mengapa menggunakan gaya ini? Rupanya Malaikat Agung Santo Mikael yang di bawah pena Lorca membimbing saya, Granada yang dia lindungi membimbing saya.

 

     Datanglah datanglah, datang sampai di Andalusia

     Carilah daku carilah daku di Granada yang jauh…

 

*

Rasa kesunyian yang diberikan agama kepada manusia dapat saya bayangkan, bahkan saya percaya saya dapat menghargai kesunyian begini. Asketisme adalah sesuatu yang mulia, hal ini saya setuju juga, maka membaca karya sastra Barat abad pertengahan, masih bisa memahami.

Konon, agama juga memberi orang rasa khidmat dan puas. Mengenai ini saya masih belum bisa memahami. Kadang-kadang di dalam filem menunjukkan adegan demikian, misalnya seorang prajurit yang telah mengalami duka dan luka pelan-pelan bersujud menghadap angin dan awan di padang luas berdoa, rendah hati, lelah, dan di jauh seperti ada cahaya ilahi berpijar, menciptakan semacam rasa khidmat dan puas, seperti juga sangat mengharukan. Namun saya berpikir kembali, yang membuat hati tersentuh, bukan ‘ seperti ada cahaya ilahi berpijar ‘, bagi saya, yang menggetarkan hati, rupanya adalah efek yang dihasilkan dari crescendo musik latar.

*

Kesunyian relijius membuat orang tetap memiliki kesempatan kontemplasi, memang bagus.

Membuang dan menutup hawa nafsu seharusnya juga merupakan satu bagian dari kesunyian.

Saya sering berpikir: yang paling sulit di dalam kehidupan biara, pasti adalah membuang dan menutup hawa nafsu. Seorang lelaki atau perempuan di masa remaja karena hasutan sisi rohani meninggalkan kehidupan duniawi, masuk ke dalam kesunyian relijius, menjadi biarawan, memutuskan akar dari perasaan dan emosi alamiah, menekan birahi, bagaimanapun adalah sesuatu yang sulit dipercaya.

Walaupun sulit dipercaya, namun saya memilih sikap tidak begitu curiga ——— memang sulit, tetapi bukan samasekali tidak mungkin.

*

Perancis di abad ke-12 ada seorang teolog bernama Abelard, dengan pengetahuan yang luas dan penampilan yang menarik menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa, kemudian karena hubungan percintaan dengan muridnya, seorang gadis bernama Heloise, dia menikah dan mempunyai anak secara rahasia, melanggar sumpahnya, mereka masing-masing dikurung di dalam biara, seumur hidup tidak bisa bertemu. Ada yang menceritakan bahwa di masa tua Abelard menulis surat kepada teman, menyayangkan cinta lamanya yang makin kabur; hal ini diketahui Heloise, lalu menulis surat mengutarakan cintanya yang masih tumbuh merambat. Setelah keduanya meninggal dunia, surat-surat cinta mereka dicetak dan dibaca, menjadi salah satu kisah legendaris abad pertengahan yang paling memilukan dan memukau. Penyair Inggeris abad ke-18 Alexander Pope menulis sebuah puisi panjang: Eloisa to Abelard, membayangkan penerimaan dan penolakan Heloise terhadap cinta dan nafsu, membuat orang tercengang. Salah satu bagian seperti begini:

 

Datanglah, Abelard! Apa yang membuat kau takut?

Obor Venus tidak dibakar untuk yang mati.

Kemampuan alamiah tidak teledor, hanya agama tidak perbolehkan;

sekalipun kau mati jadi dingin, Eloisa tetap mencintaimu.

Ah putus asa ini, lidah api tak padam! Seperti demi yang mati membakar

terang, percuma cahaya yang hangatkan tempat abu tulang.

 

Setiap kali aku beralih pandang, apa pula itu?

Paras yang akrab, ke arahnya aku terbang mengejar,

bangkit dari dalam pepohonan, bangkit di depan altar,

menodai jiwaku, membuat sepasang mataku berenang liar,

Berkeluh demi kau, meniup mati lampu doa subuh,

kau diam-diam ikut campur di antara aku dan tuhan,

di dalam setiap himne aku seperti bisa mendengar dirimu,

sebiji rosari dihitung, setetes airmata lembut jatuh,

dan di saat gulungan awan harum dari tungku membumbung,

suara organ penuh berisi naikkan jiwaku berkibar,

begitu teringat dirimu, semua kekhidmatan menghilang,

biarawan, lilin panjang, gereja, berenang di depan mataku:

jiwaku yang terempas karam di dalam lautan lidah api,

dan altar menyala, malaikat-malaikat geleng menoleh.

 

Aku menelungkup di dalam kesedihan yang rendah, di sini

butiran kelembutan, kebajikan berkumpul di dalam kelopak mata,

aku gementar berdoa, berguling di dalam debu dunia,

mulai tahu di kedalaman jiwa kehormatan berpijar bagai cahaya fajar ———

Datanglah, kau yang paling sempurna, jika berani

dengan diri melawan Langit, merebut hatiku,

datanglah, dengan lirikan sepasang mata yang menggoda

sirnakan seluruh gambaran benderang sepenuh langit!

Bawa seluruh kehormatan, kesedihan, airmata itu pergi,

bawa seluruh pengakuanku yang tak berbuah dan doa pergi,

renggut aku, satu tarikan ke atas, renggut aku dari tempatku yang diberkati,

bantu setan-setan merebut paksa diriku dari sisi tuhan!

 

Tidak, tinggalkan aku jauh-jauh bagai kutub selatan buat kutub utara!

biarkan Gunung Alpen memisahkan kita, lautan luas menggemuruh.

Jangan datang, jangan tulis surat, tolong jangan mengingat diriku,

juga jangan seperti aku karena dirimu hati menjadi pedih!

Sumpah dapat dibatalkan, aku akan menghapus kenangan masa lalu,

lupakan aku, buanglah aku, sungguh-sungguh membenciku.

Mata yang indah, tampang memikat ( aku bisa melihatnya )

adalah paras yang telah lama aku cinta dan harap, selamat tinggal!

Oh cahaya kehormatan khidmat, oh kebajikan seindah Langit,

kelupaan suci membebaskan kegelisahan rendah!

Harapan yang segar merekah, gadis riang lembut punya Langit,

dan Keyakinan, kekekalan dini kita!

Silakan masuk, setiap tamu yang damai, yang ramah,

terima diriku dan selimuti aku di dalam peristirahatan kekal.

 

 

Come, Abelard! for what hast thou to dread?

The torch of Venus burns not for the dead.

Nature stands check’d; Religion disapproves;

Ev’n thou art cold–yet Eloisa loves.

Ah hopeless, lasting flames! like those that burn

To light the dead, and warm th’ unfruitful urn.

 

What scenes appear where’er I turn my view?

The dear ideas, where I fly, pursue,

Rise in the grove, before the altar rise,

Stain all my soul, and wanton in my eyes.

I waste the matin lamp in sighs for thee,

Thy image steals between my God and me,

Thy voice I seem in ev’ry hymn to hear,

With ev’ry bead I drop too soft a tear.

When from the censer clouds of fragrance roll,

And swelling organs lift the rising soul,

One thought of thee puts all the pomp to flight,

Priests, tapers, temples, swim before my sight:

In seas of flame my plunging soul is drown’d,

While altars blaze, and angels tremble round.

 

While prostrate here in humble grief I lie,

Kind, virtuous drops just gath’ring in my eye,

While praying, trembling, in the dust I roll,

And dawning grace is op’ning on my soul:

Come, if thou dar’st, all charming as thou art!

Oppose thyself to Heav’n; dispute my heart;

Come, with one glance of those deluding eyes

Blot out each bright idea of the skies;

Take back that grace, those sorrows, and those tears;

Take back my fruitless penitence and pray’rs;

Snatch me, just mounting, from the blest abode;

Assist the fiends, and tear me from my God!

 

No, fly me, fly me, far as pole from pole;

Rise Alps between us! and whole oceans roll!

Ah, come not, write not, think not once of me,

Nor share one pang of all I felt for thee.

Thy oaths I quit, thy memory resign;

Forget, renounce me, hate whate’er was mine.

Fair eyes, and tempting looks (which yet I view!)

Long lov’d, ador’d ideas, all adieu!

Oh Grace serene! oh virtue heav’nly fair!

Divine oblivion of low-thoughted care!

Fresh blooming hope, gay daughter of the sky!

And faith, our early immortality!

Enter, each mild, each amicable guest;

Receive, and wrap me in eternal rest!

 

Bait pertama di atas dengan cahaya api melambangkan cinta, disebut ‘ obor Venus ‘, adalah biarawati memohon Abelard datang, masuk ke dalam hati dan pikirannya, hidup nyalakan cinta dan birahinya, membuka kemampuan alami hidup dan nafsu. Bait kedua makin jelas menggambarkan yang siang malam dibayangkan Heloise adalah paras Abelard, sekalipun di depan altar juga tidak sirna, sehingga merasa Abelard telah masuk mengacau penglihatannya, berdiri di antara dia dan tuhan. Empat baris di awal bait ketiga, Heloise sendiri merasa terguncang oleh lindungan tuhan, merasa telah kehilangan kekuatan hati buat memikirkan Abelard, maka kian tidak peduli dengan bergelora memanggil nama Abelard, memohon dia dengan cintanya melawan tuhan, merebut hatinya, menghapuskan gambaran-gambaran malaikat di depan matanya, lalu bergabung dengan setan, merampas dirinya dari dekapan tuhan. Sekarang kita tahu nafsu adalah tidak baik, atau setidaknya di depan altar adalah sesuatu yang buruk, yang berlumuran dosa, yang dikuasai setan ——— dan Heloise dengan lantang meminta Abelard bersama setan, menuntaskan cinta dan birahinya terhadapnya. Ini adalah klimaks dari cinta yang menggelora dan gila, membuat pikiran orang terombang-ambing. Bait terakhir dimulai dengan [ Tidak ], Heloise jatuh dari puncak kegilaan cinta ke dalam kenyataan yang mati senyap, kembali ke dalam kesunyian yang mengelilingi biara, lelah, takut, lemah, hilang rasa, memohon malaikat menerimanya sebagai seorang biarawati yang taat, dan [ menyelimutinya di dalam peristirahatan kekal ].

Puisi Pope ini, telah memiliki kerangka discovering psychology, beberapa ratus tahun setelahnya, bagi yang pernah bersentuhan dengan psikologi analisis Freud, pasti akan melihat isyarat-isyarat seksualitas yang kuat di dalamnya. Dengan sedikit lebih dekat memperhatikan penggalan puisi yang tidak sampai lima puluh baris ini, dapat menguak gambaran yang diberikan Pope, mungkin adalah semacam proses masturbasi, adalah proses segelombang-segelombang menggulung naik gemuruh tumpukan fantasi seks Heloise. [ Merebut paksa diriku dari sisi tuhan ] tentu adalah klimaks, selanjutnya pelan-pelan surut, masuk ke alam kegelisahan, bimbang, penyesalan, dan putus asa.

*

Sesuai data sejarah sastra, ketika Heloise digoda, dirinya masih seorang gadis muda, sedangkan Abelard sudah lama melampaui parobaya. Setelah skandal ini meletus, Abelard dikebiri, dikurung di biara, Heloise juga dikurung di biara perempuan, membawa kenangan yang tak terkira.

Bagi Abelard, menghadapi [ biarawan, lilin panjang, gereja ] tidak terlalu sulit, walaupun masa lalu membuat sedih dan putus asa. Bagi Heloise, semua itu adalah hukuman tambahan yang dipaksakan dunia luar kepadanya: dia kehilangan kekasih, anak, dusun dan ladang, disekap di balik tembok biara; masa lalu tentu membuat orang sedih dan putus asa, yang terpampang di depan mata juga membuat sedih dan putus asa.

 

*

Umpama Heloise tidak mengalami sepenggal kisah dengan Abelard itu, umpama dia sejak gadis dan masih perawan sudah dibawa masuk ke biara sebagai biarawati, dia tentu tidak akan mempunyai nafsu yang begitu kuat bagai arus pasang naik. Kita seperti bisa begitu mengumpamakan, namun juga belum pasti.

Dengan demikian, kesunyian seharusnya adalah ritme kehidupan yang paling alamiah. Dia menengadah ke arah tuhan dan malaikat, khusuk mendengar lonceng doa subuh, bayang cahaya lilin panjang membawa damai hening dan ketaatan. Di bawah situasi begini, Heloise mungkin tidak akan mengalami pertentangan antara tubuh dan jiwa. Kemungkinan akan begini, namun juga belum pasti. Hal ini begitu sulit, begitu sulit benar-benar dipahami.

*

Mengekang nafsu di mulut dan perut, kekuasaan dan harta, nama dan lain-lain bisa dipahami, bisa dilaksanakan, hanya mengekang birahi adalah tantangan paling besar dalam hidup, dan yang bisa benar-benar teguh melaksanakannya sepanjang hidup sungguh sangat sedikit.

*

Apakah tuhan juga perlu mengekang birahi?

*

Maksud saya tuhan yang esa, apakah dia perlu mengekang birahi? Saya pikir, tuhan, yang esa itu, awalnya juga tidak mengekang birahi, kalau tidak dia tentu hanya menjadi tuhan bagi biarawan-biarawan yang teguh dan suci, dan tidak akan sejak awal sudah menjadi tuhan yang kita menengadah bersama.

 

*

Agama mendidik penganutnya dengan ‘ pengekangan nafsu ‘ yang terkandung di dalamnya, adalah hal yang baik. Seandainya ingin melalui pengekangan nafsu, meraba ke arah pertapaan, kesunyian, kehampaan, maka pasti harus ada sedikit ketentuan ——— yang disebut terakhir itu bukan setiap orang memerlukannya. Menurut saya, melakukan pengekangan nafsu, manusia masih bisa terus berkembang biak dan berkelanjutan, namun terhadap yang lain-lain mungkin agak sulit diduga.

Kecuali kita sungguh percaya perihal reinkarnasi itu.

Lomba Menulis Resensi Buku

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Kabar RetakanKata – Ingin mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga? Ikuti saja lomba menulis resensi di Blog RetakanKata.Sesuai dengan yang telah diumumkan melalui funpage RetakanKata di facebook, maka untuk bulan Juli ini, Blog RetakanKata kembali mengadakan lomba menulis berhadiah. Kali ini lebih seru lagi, sebab hadiah dan pemenangnya diperbanyak. Jika sebelumnya kami hanya memilih dua pemenang, maka pada acara lomba kali ini, kami akan memilih tiga pemenang. Hadiahnya pun semakin menarik. Dan yang paling penting, lomba ini tetap gratis!

Lomba menulis kali ini dikhususkan untuk menulis RESENSI BUKU dengan ketentuan lomba sebagai berikut:

  1. Kamu dapat mengirim naskah lombamu sebanyak-banyaknya.
  2. Tentu saja karya yang dikirim dilampiri dengan kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia) dan alamat email atau nomor handphone yang mudah dihubungi.
  3. Resensi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan.
  4. Buku yang diresensi berupa buku fiksi.
  5. Resensi ditulis pada kertas A4 dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, dengan spasi 1,5 margin 3 cm dari atas, 2 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 2 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 1200 sampai dengan 2000 kata
  6. Hadiah:
  • Pemenang I mendapat pulsa sebesar Rp100.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang II mendapat pulsa sebesar Rp 50.000,00 ditambah buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
  • Pemenang III mendapat buku Antologi Cerpen RetakanKata 2012.
Batas akhir pengiriman naskah tanggal 29 Juli 2012. Naskah dikirim ke retakankata@gmail.com.
Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
Selamat Berkarya!

Buku Baru: Antologi Cerpen RetakanKata 2012

hari ketika seorang penyihir menjadi nagaKabar RetakanKata– Jika kita perhatikan, mungkin anda sependapat bahwa dunia sastra kita semakin hari semakin berkembang, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Berbagai acara berbau sastra dipagelarkan di berbagai tempat. Dengan mesin pencari google, anda bisa menemukan berbagai macam lomba menulis. Meningkatnya budaya baca-tulis merupakan petanda baik perkembangan budaya masyarakat yang menumbuhkan harapan di tengah hingar-bingarnya gempuran budaya instan.RetakanKata sebagai salah satu Blog Seni dan Budaya, tidak mau ketinggalan laju kereta perubahan. Lomba-lomba menulis terus digiatkan. Dan salah satu hasil dari lomba menulis di RetakanKata ini dibukukan menjadi Antologi Cerpen RetakanKata 2012. Antologi ini memuat 15 (lima belas) cerita pendek terbaik dari 361 cerpen yang lolos seleksi dalam perlombaan. Lima belas cerpen karya lima belas penulis dari 490 peserta lomba tersebut berjudul:

  1. Cincin karya Canaliy
  2. Rantai Mawar karya Adellia Rosa Rindry Poetri
  3. Rhesus karya Zakiya Sabdosih
  4. Dia karya Meilia Aquina Hakim
  5. Depan Cermin karya Dandun Suroto
  6. Budak-budak Tuhan karya M Nasif
  7. Ibuku Pelacur karya Sam Edy Yuswanto
  8. Cinta yang Menyebalkan karya Miftah Fadli
  9. Bungkam karya Latifatul Khoiriyah
  10. Tempe Busuk karya Victor Delvy Tutupary
  11. Stasiun Kesunyian karya Gatot Zakaria Manta
  12. Dotage karya MK Wirawan
  13. Burung Gereja di Nagoya karya Beta Tangguh
  14. Arwah Keibuan karya Fahrul Khakim
  15. Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga karya Maria Wiedyaningsih

Soe Tjen Marching, salah satu juri dalam lomba penulisan cerpen ini mengatakan:

Cerpen-cerpen luar biasa telah lahir dari para penulis yang namanya tak dikenal dalam dunia sastra. Dengan berbagai tema dan gaya bahasa, sebuah imbuhan segar bagi dunia sastra.

Dan memang demikianlah adanya. Lima belas penulis yang memenangkan lomba tersebut adalah kaum muda berbakat yang namanya tak begitu dikenal dalam dunia sastra. Sebagian besar dari mereka masih berstatus mahasiswa. Namun, dengan berbagai gaya penulisan masing-masing, mereka mampu mengangkat tema-tema yang berbeda menjadi sebuah bacaan yang segar dan menarik. Tema sosial cukup mendominasi karya-karya mereka. Simak misalnya dalam cerpen Rhesus yang mengangkat tema aborsi, Kemudian Dia, mengangkat tema pengguna obat-obatan terlarang, Depan Cermin mengangkat tema kepalsuan, Budak-budak Tuhan, Ibuku Pelacur,  dan Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga mengangkat tema kekerasan psikologis. Kisah anak jalanan dapat dibaca pada cerpen Arwah Keibuan, sedang kisah kemunafikan hidup seseorang diceritakan dengan sangat manis dalam cerpen Tempe Busuk.

Tema cinta yang disampaikan dengan gaya bahasa unik menambah segar kumpulan cerpen ini. Rantai Mawar, Cinta yang Menyebalkan dan Burung Gereja di Nagoya, tidak melulu melihat cinta sebagai sesuatu yang mendayu-dayu melainkan sebagai dilema-dilema yang harus dihadapi. Demikian juga dengan Cincin, Bungkam, Stasiun Kesunyian dan Dotage. Para penulis tema cinta ini seperti hendak menyampaikan bahwa setiap orang akan memberi respon yang berbeda ketika berhadapan dengan dilema cinta. Orang bisa mengambil sikap serius, namun juga bisa easy going -semua akan baik-baik saja. Membaca kisah-kisah mereka, mau tidak mau, pembaca diajak tersenyum getir sekaligus geli menghadapi kekonyolan-kekonyolan hidup ini. Para penulis ini begitu piawai merangkai kisah dan menyerahkan penyikapan situasi pada pembaca.

Berbagai ragam tema dan gaya bahasa tersebut telah menciptakan harmoni keindahan dalam buku kecil ini, Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga: Antologi Cerpen RetakanKata 2012– persembahan RetakanKata dan Rose Management untuk Anda.

hari ketika seorang penyihir menjadi nagaJudul Buku: Hari Ketika Seorang Penyihir Menjadi Naga: Antologi Cerpen RetakanKata 2012
Penulis : Kumpulan 15 Penulis
Penyunting: Ragil Koentjorodjati
Penerbit: Rose Management
Tahun: 2012
Tebal: xx + 284 halaman
Harga: Rp. 45.000,-
ISBN: 978-602-19991-5-8

Pemesanan buku dilayani melalui:

Blog RetakanKata

Email retakankata@gmail.com
Sms 085958 55 11 55
Facebook Redaksi RetakanKata

Rose Management:

twitter@rosemanagement; @KRofficial_ ;
sms 0812 844 26 788 ; 0856 991 2595

Catatan: Harga di atas belum termasuk ongkos kirim.

Padrè

Cerita KauMuda Hylda Keisya

Gambar dari shutterstockphoto.com

Risa merebahkan sebuah pigura kusam yang telah bertengger di atas televisi sejak 15 tahun lalu. Sungguh, ia tak ingin lagi melihat seringai khas wajah orang dalam pigura tersebut. Andai bisa, ia ingin mengubur sosoknya hidup-hidup sekarang juga.

“Mengapa kamu tutup pigura itu, Risa?”

Mati, ketahuan oleh Ibu! Risa langsung mengendap-endap menuju pintu depan.

“Bu, Risa pamit berangkat ekskul!” serunya cepat-cepat sambil membetulkan tali sepatu.

“Kamu belum jawab pertanyaan Ibu, Risa,” sahut Ibu yang entah sejak kapan ada di belakang Risa.

“Bu,” Risa memutar badan lalu menatap dalam-dalam wajah teduh Ibunya yang telah lapuk termakan usia. “Sampai kapan Ibu menunggu orang itu kembali? Orang yang telah meninggalkan kita sejak bertahun-tahun lalu itu tak akan pulang, Bu! Tak akan!”

“Walau bagaimanapun itu Bapak kamu, Risa,” tukas Ibu, nada suaranya tetap pelan. Gurat di wajahnya ikut berkerut saat beliau bicara.

“Bukan! Itu bukan bapak Risa! Seorang bapak yang benar tak akan meninggalkan anak istrinya terlunta-lunta seperti ini,” tandasnya lalu berlari meraih sepeda gunungnya, meninggalkan Ibunya termenung sendiri.

*****

            Dalam kamus hidup Risa, semua cowok itu bullshit dan cinta itu tai kucing. Menurutnya, prinsip hidup cowok adalah habis manis sepah dibuang. Kalau sudah bosan, ya cari yang lain. Itu yang paling tak disukainya. Kurang ajar betul makhluk bernama cowok itu. Berkat lelaki pula, ia harus menyongsong hidup yang memprihatinkan. Hidup seadanya dengan mengandalkan upah ibu sebagai buruh yang tidak seberapa. Beruntung ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru mengaji anak tetangganya selepas maghrib. Namun yang membuatnya tak habis pikir, ibu tak pernah lelah menanti kedatangan bapak yang telah disinyalir minggat sampai kiamat. Bahkan beberapa tetangga sempat mengakui keberadaannya berkeliaran sebagai preman pasar. Hah, masa bodoh sekali dengan orang keji itu. Sekalian saja diciduk polisi biar tahu rasa. Namun sekali lagi ya Tuhan.. tak pernah seumur hidupnya ibu membenci bapak, setelah semua luka yang telah ditorehkan padanya, tak pernah! Sebesar itukah cinta ibu kepada bapak? Cinta..cinta, memang membuat sakit jiwa.

Risa mengayuh kebut laju sepedanya mendekati gerbang sekolah sambil membatin dalam hati. Pokoknya jangan sampai aku menjadi korban seperti ibu! Mulai detik ini ia  bersumpah, tak akan ia berurusan dengan cinta! Tak sudi untuk menjalin hati dengan lelaki mana pun!

“Lalu bagaimana dengan masa depanmu? Emang kamu mau jadi lesbong?” tanya Dina menyudutkan.

“Ish, tak bakalan aku senajis itu! Mungkin hanya tak menikah seumur hidup,” sahutnya enteng.

“Lah, dunia ini kan dihuni lelaki juga. Masa kamu tak mau mengenal lelaki sama sekali?”

“Hei,” Risa menepuk bahu sahabatnya itu. “Untuk berteman dengan lelaki, it’s okay. Untuk menjalin hubungan khusus, no way!

“Usai ekskul bahasa Itali, kau ada acara tidak?” Dina mengalihkan topik.

“Hmm… kukira tidak. Kenapa?”

“Main ke Kafe Kopi, yuk.”

Risa mengangguk, menyanggupi.

*****

            “Din, hampir maghrib. Pulang, yuk!”

Mereka pun menyudahi sesi curhat. Usai membayar di kasir, mereka bergerak menuju parkiran.

“Oh, shit!

Dina menghampiri Risa yang ribut dengan sepeda gunungnya. “Kenapa, Ris? Ada masalah?”

“Nggak tahu. Tiba-tiba aja gak bisa dikayuh,” sahutnya putus asa.

“Mungkin aku bisa membantu.”

Risa sedikit terkejut mendapati seorang cowok berbekal obeng di tangannya berdiri di sisinya. Ia mengerling pada Risa, menawarkan bantuan. Akhirnya Risa membiarkan cowok itu mengutak-atik kayuh sepedanya. Kontras dengan Dina yang terkesan segan pada si cowok dengan gesture yang tak dapat dijelaskan.

Tujuh menit berselang, sepeda gunung Risa pun beres. Risa menghujani si cowok ribuan kata terima kasih.

“Ah, itu bukan apa-apa, kok,” rendahnya lalu beranjak kembali menuju kafe. Risa tak mampu berkata apa-apa lagi, ada sesuatu yang berbeda tengah dirasakannya.

“Ris, kamu sadar gak, sih?” bisik Dina usai kepergian si cowok.

“Gak tau deh, Din. Aku ngerasa.. ngerasa ada yang aneh, aku.. aku..”

“Bukan!” potong Dina. “Maksudku, kamu sadar gak sih kalo itu tadi Mas Bayu Ketua OSIS sekolah kita?”

Risa menggeleng tanpa dosa. Dina menepuk jidatnya sendiri.

“Tau gak, Mas Bayu itu orang cool, pendiam, dan disegani satu sekolah. Beruntung banget kamu sempat ditolong dia.”

*****

            TEET! TEET!

Ah.. our superhero is coming! Dongeng mata pelajaran fisika yang sedari tadi memenuhi otak langsung menguar. Siswa-siswi pun berhamburan keluar.

“Kamu istirahat kemana?” tanya Dina.

“Aku lagi pengen ke perpus, Din. Kali aja ada buku baru,” ujar Risa sembari membenahi buku-buku pelajarannya.

“Aku ikut,” seru Dina akhirnya. Keduanya pun meninggalkan kelas. Saat di koridor..

“Hai, kamu cewek yang kemarin, ya?”

Srett! Dunia bagai berhenti berputar dan es melingkupi jagat raya. Mas Bayu! Tuhan.. kenapa tubuhnya mendadak lemas begini?

“Eh, iya, ada apa Kak Bayu?” hanya kalimat itulah yang mampu ia lontarkan.

Mas Bayu menyunggingkan senyum.Maniiis sekali! “Aku lupa menanyakan sesuatu kemarin. Namamu siapa?”

“Risa, Kak. Triasa Ekantari.”

“Mau ke mana, nih?”

“Ke perpus aja, kok. Ini bareng sama Dina.”

Tampang Mas Bayu malah bersemangat. “Nah, kebetulan aku juga mau kesana. Kita bisa berangkat bersama, kan?”

Risa mengangguk. Saat posisi Mas Bayu selangkah di depan, Dina berbisik di telinga kiri Risa. “Kamu gak bakalan suka Mas Bayu, kan? Soalnya diam-diam aku suka dia.”

*****

            Apa ini pertanda Risa menaruh hati pada Mas Bayu? Ah.. tak mungkin! Bukankah ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak berurusan dengan cowok? Tapi dia kan berbeda, bisik hati kecilnya. Risa gamang. Lagipula apa ia tega melukai hati Dina, sahabatnya sendiri, dengan menginginkan Mas Bayu?

Sore ini Risa menghabiskan waktu di Taman Apsari ditemani sepeda gunungnya demi memburu inspirasi untuk tugas bahasa Indonesia mengarang cerpen. Eh, yang ia dapatkan malah perang batin sejak pertemuannya dengan Mas Bayu. Mas Bayu.. Mas Bayu, kenapa harus kamu?

“Sendirian aja disini?”

Alamak, hampir saja jantung Risa copot dikejutkan oleh suara.. Mas Bayu! Bagaimana dia bisa disini? Ia pun mengambil tempat di sisi Risa.

“Aku temani, ya?”

Risa hanya mengangguk, tak tahu harus berkata apa lagi. Sedang Mas Bayu malah menatapnya lekat.

“Dari tadi kok diem? Jangan bilang kalo kamu sungkan sama aku, ya. Aku tahu benar reputasiku dikenal sebagai anak pendiam dan tak aneh-aneh, tapi itu membuatku sedikit tak nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain. Selalu saja mereka terkesan sungkan. Padahal aku tak berbeda dengan mereka,” curhatnya panjang.

“Ngh.. kalo aku kan gak terlalu kenal Kak Bayu,” kata Risa membela diri.

“Kamu beda, Ris,” ucap Mas Bayu tiba-tiba menyimpang dari topik. “Kalo di sekul, cewek-cewek yang gak aku kenal itu selalu heboh tiap ada aku. Emang aku kenapa?”

“Ya, mereka kan menganggap Kak Bayu itu berwibawa, cool, … jadinya gitu deh,” komentar Risa ngasal.

“Nah itu dia. Kamu gak seperti mereka. Tiap kali ada aku, kamu malah kayak gak pernah kenal aku. Bukannya sombong, mestinya kamu tahu aku, kan,” ujarnya dengan tatapan mata makin merasuk. Hah, belum tahu dia kalo Risa aja baru kenal Mas Bayu kemarin! Kalo dia tahu mungkin bakal epilepsi.

“Ris, kamu bawa sepeda, kan? Ikut aku, yuk!”

“Ha? Kemana?”

“Ada deh pokoknya. Ayo!”

Lantas keduanya menaiki sepeda masing-masing. Risa berkendara di belakang Mas Bayu sampai sepeda Mas Bayu terhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Mas Bayu memasuki rumah itu dan menyuruh Risa membawa serta sepedanya.

“Ini rumahku, Ris,” terang Mas Bayu tanpa diminta. “Masuklah dulu.”

Risa memasuki ruang tamu dan duduk pada sofa empuk berwarna pastel. Tak lama kemudian Mas Bayu muncul bersama seseorang yang entah tak begitu asing bagi Risa.

“Ini ayahku.”

DHARRR! Risa menatap Mas Bayu tak percaya dan orang itu bergantian. Orang itulah sosok dalam pigura kusam yang tak pernah bergeser dari tempatnya, tetap di samping televisi. Yang hingga kini masih dinanti oleh ibunya.

Padrè.[1]


[1] Bahasa Italia yang berarti ayah

 

 

Hylda Keisya adalah siswa Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Nurul Ummah Mojokerto.

Juni

Puisi Nihayatun Ijaji

sendiri dalam hujan
gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

Juni

Langit kian terbakar ketika senja mendekatinya

Tanpamu….

Segala yang mudah pun kianlah sulit

Kenangan tentangmu

Berliku luka yang dalam

 

Juni

Aku sesak

Bahkan ketika segar udara membanjiri tubuhku

Tanpamu …

Segala yang manis pun kianlah pahit

 

Juni

Cerita kita

Tak mungkinkah terjalani lagi

Segalanya berlalu

Waktu berlalu

Siang berlalu

Dan hanya cintamu yang tak pernah berlalu di jiwaku..

 

 

 

Penulis seorang aquarius kelahiran 2 Februari, bernama lengkap Nihayatun Ijaji.

Sabdatama

kabar budayaNgarsa Dalem Sampeyan Dalem Hingkang
Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati
Ing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama
Kalifatullah Hingkang Jumeneng Kaping Sadasa Ing
Ngayogyakarta Hadiningrat.“Ingsun Kang Jumeneng Nata Mataran medarake Sabda:
Dene Kraton Ngayogyakarta saha Kadipaten Paku Alaman iku, loro-loroning atunggal.
Mataram iku Negri kang merdika lan nduweni paugeran lan tata kaprajan dewe.Kaya kang dikersaake lan dikaperangake, Mataram ngesuhi Nuswantara, nyengkuyung jejeging negara, nanging tetep ngagem paugeran lan tata kaprajane dewe.

Kang mangkana iku kaya kang dikersaake, Sultan Hamengku Buwono sarta Adipati Paku Alam kang jumeneng, katetepake jejering Gubernur lan Wakil Gubernur.

Ngayogyakarta, Suryo kaping 10 Mei 2012
Sri Sultan Hamengku Buwono X

——————-
terjemahan :

AMANAT RAJA

Bahwa Kraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman adalah dwi tunggal yang tak bisa dipisahkan.
Mataram itu negara merdeka dan memiliki aturan dan tata kelola pemerintahan sendiri.

Atas karsa dan kehendak rakyat, Mataram mengasuh Nusantara, tetap mendukung keberadaan Nusantara (Indonesia), tapi (Mataram) punya aturan dan tata kelola pemerintahan sendiri.

Hal itulah seperti yang diinginkan dan diizinkan, bahwa HB dan Pakualam itu menjadi pemimpin, serta ditetapkan sebagai gubernur dan wakil gubernur.

——————————————-

Ketika Sri Sultan HB IX Raja Ngayogyakarta Hadiningrat menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia (RI), langkah tersebut kemudian diikuti oleh hampir semua raja dan tokoh politik di berbagai daerah yang saat itu menjadi pimpinan masing-2 daerah dalam NEGARA INDONESIA SERIKAT (RIS). Semua pimpinan daerah saat itu satu-persatu menyatakan diri bergabung dengan RI dan membentuk NKRI

Maka NKRI tak lagi hanya mimpi. Langkah mewujudkan NKRI menjadi lapang dan lancar, dan Belanda tersingkir dengan sendirinya, tidak mampu kembali , Devide et Impera tak lagi ampuh.

Jika saat itu Sri Sultan HB IX tidak mau bergabung dengan RI, bisa dibayangkan sendiri akibatnya. Barangkali NKRI tidak akan pernah ada.

Kemantaban sikap Sri Sultan HB IX inilah yang tidak dapat dinilai dengan uang berapapun.
Benar bahwa banyak daerah menyumbangkan emas dan kekayaan untuk tegaknya NKRI pada saat permulaan (1945 – 1950).
Tetapi sikap Sri Sultan HB IX & Yogyakarta Hadiningrat, yang dituangkan dalam Maklumat (ijab qobul) adalah sumbangan tak ternilai bagi tegaknya NKRI.

Ketika Presiden RI Soekarno mendapat kabar tentang pernyataan sikap Yogyakarta Hadiningrat, beliau terloncat dari kursi, kaget dan bertakbir, lalu sujud syukur.

 

#Catatan Sapto Poedjanarto

Mengenal Suku Karo, Sebuah Etnis Asli Indonesia

RetakanKata – Karo merupakan sebuah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Suku Karo yang dalam bahasa aslinya disebut Kalah Karo merupakan salah satu suku asli di Sumatera Utara. Suku ini memiliki bahasanya sendiri, yaitu bahasa Karo atau Cakap Karo dan aksaranya sendiri.
SEJARAH AWAL KARO

Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aroe) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya “Karo dari Zaman ke Zaman” mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama “Pa Lagan”. Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo (Darwan Prinst, SH :2004). Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar dikalangan peneliti.
Dalam sebuah naskah kuno mengenai suku Karo, diceritakan bahwa leluhur orang Karo adalah Putri Kerajaan Aroe dan Umang (mahluk yang diyakini memiliki fisik seperti manusia, tetapi tumit kakinya berada di depan). Namun, beberapa tetua Karo mengatakan bahwa suku Karo tidak berasal dari satu darah yang sama (berbeda dengan suku Batak Toba yang diyakini merupakan keturunan dari Si Raja Batak).

MARGA dan IKATAN PERSAUDARAAN
Dalam suku Karo terdapat marga yang bersifat patrineal (berasal dari pihak ayah/diturunkan dari ayah) namun tetap membawa marga ibu-nya(beru ibunya) yang disebut bere. Misalnya seorang anak ayahnya bermarga A, dan ibunya bermarga(berberu) B, maka si anak dikatakan bermarga A bere B. Dalam suku Karo marga disebut merga yang secara etimologis berasal dari kata meherga yang berarti berharga, jadi marga sangat berharga bagi masyarakat Karo.
Dalam suku Karo terdapat lima marga induk yang disebut MERGA SILIMA. Lima marga induk tersebut antara lain:
Sembiring
Ginting
Tarigan
Karo Karo
Perangin-angin
Kelima marga induk tersebut juga memiliki beberapa sub-marga. Sub marga dalam Karo ada diyakini ada yang asli suku Karo dan ada pula yang berasal dari negara lain. Sub marga tersebut yaitu:

1. Sembiring

Sembiring terdiri dari:
Kembaren (boleh memakan anjing)
Sinulaki (boleh memakan anjing)
Keloko (boleh memakan anjing)
Pandia (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Gurukinayan (tidak boleh memakan anjing)
Brahmana (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Meliala (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Depari (tidak boleh memakan anjing)
Pelawi (tidak boleh memakan anjing)
Maha (tidak boleh memakan anjing)
Sinupayung (boleh memakan anjing)
Colia (tidak boleh memakan anjing)
Pandebayang (tidak boleh memakan anjing)
Tekang (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Muham (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Busok (tidak boleh memakan anjing)
Sinukaban (tidak boleh memakan anjing)
Keling (tidak boleh memakan anjing)
Bunu Aji (tidak boleh memakan anjing)
Sinukapar (tidak boleh memakan anjing)
Kapour(tidak boleh memakan anjing)

2. GintingGinting terdiri dari:
Babo
Sugihen
Gurupatih
Ajartambun
Capah
Beras
Garamata
Jadibata
Suka
Manik
Sinusinga
Jawak
Seragih
Tumangger
Pase
Munte

3. Tarigan

Tarigan terdiri dari:
Sibero
Tambak
Silangit
Tua
Tegur
Gersang
Gerneng
Gana-gana
Jampang
Tambun
Bondong
Pekan
Purba

4. Karo Karo

Karo Karo terdiri dari:
Sinulingga
Surbakti
Kacaribu
Sinukaban
Barus
Simbulan
Jung
Purba
Ketaren
Gurunsinga
Kaban
Sinuhaji
Sekali
Kemit
Bukit
Sinuraya
Samura
Sitepu

5. Perangin-angin

Perangin-angin terdiri dari:
Namohaji
Sukatendel
Mano
Sebayang
Pencawa
Sinurat
Perbesi
Ulunjandi
Penggarus
Pinem
Uwir
Laksa
Singarimbun
Keliat
Kacinambun
Bangun
Tanjung
Benjerang
Itulah keseluruhan marga yang terdapat dalam suku Karo.
Dalam ikatan persaudaraan dikenal istilah Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh, dan Perkaden-kaden si Sepuluh Dua tambah Sada.

1. Rakut Sitelu
Dalam suku Karo posisi Rakut Sitelu sangatlah penting. Rakut Sitelu dapat diumpamakan sebagai tungku kaki tiga. Jika salah satu unsur tidak ada maka akan terjadi ketimpangan. Rakut sitelu terdiri atas
Kalimbubu, secara sederhana dapat diartikan keluarga istri.
Anak Beru, secara sederhana dapat diartikan sebagai keluarga yang memperistri
Senina, diartikan sebagai keluarga satu marga.
Dalam suku Karo, jika diadakan suatu aktivitas adat, maka yang menjalankan kegiatan adat tersebut adalah Rakut Sitelu.

2. Tutur Siwaluh
Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan. Tutur Siwaluh terdiri dari:
Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang atau Puang kalimbubu adalah kelompok kalimbubu dari kelompok pemberi dara
Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.

  • Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
  • Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.

Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri. Anak beru ini terdiri lagi atas:

  • Anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
  • Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.

Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

3. Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada
Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada ialah bentuk kekerabatan saudara terdekat dalam bentuk panggilan, yaitu:
Nini
Bulang
Kempu
Bapa
Nande
Anak
Bengkila
Bibi
Permen
Mama
Mami
Bere-bere
Tambah Sada ialah mereka orang-orang terdekat diluar lingkup keluarga seperti sahabat.

BUDAYA DAN KESENIAN

Siwaluh Jabu
Rumah Adat Karo “Siwaluh Jabu”

Budaya utama dari setiap peradaban adalah rumah. Konstruksi rumah mennjukkan kemajuan suatu peradaban. Rumah Adat Karo disebut sebagai Rumah Siwaluh Jabu, ini dikarenkan rumah ini dihuni oleh delapan kepala keluarga.
Rumah Siwaluh Jabu,memiliki bentuk rumah panggung dengan ukiran dan ornamen mistis diseluruh bagian rumah.

Disamping rumah adat, suku Karo juga memiliki alat musik tradisional, seperti gambar dibawah ini:

alat musik karo
Alat musik Karo

 

Dan masih banyak seni-seni lainnya.
Seperti halnya dalam kebanyakan suku yang ada di Indonesia, suku Karo juga memiliki “ritual-ritual” adat khusus yang berbeda untuk perkawinan dan kematian.

 

 

PERKAWINAN
Dalam pandangan masyarakat Karo dalam adat perkawinan, dikenal berbagai jenis perkawinan menurut adat.
Berikut adaah jenis-jenis perkawinan dalam suku Karo dan penjelasannya yang mudah dimengerti.
Lako Man (Ganti Tikar)
Perkawinan ‘Lako Man” terjadi apabila seorang laki-laki,terlepas dari ia sudah pernah kawin atau belum mengawini istri dari adik atau kakaknya yang telah meninggal dunia.(tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi sejak adanya agama di suku Karo)
Gancih Abu
Perkawinan ini terjadi karena seorang istri meninggal dunia, dimana untuk tetap langgengnya hubungan keluarga, terlebih karena sudah ada keturunan, maka pihak suami mengawini saudara kandung dari istrinya yang sudah meninggal
Mindo Nakan
Seorang anak yang sudah dewasa mengawini ibu tirinya dikarenakan ayahnya sudah meninggal dunia. Biasanya umur sang anak denga ibu tirinya tidak terlalu jauh berbeda.
Mindo Lacina
Perkawinan ini terjadi antara seorang laki-laki denga seorang wanita yang menurut kekerabatan silaki-laki memanggil nenek kepada wanita tersebut(karena istri kakeknya). Di dalam hal ini hubungan kekerabatan antara edua belah pihak masih dekat dimana perkawinan dapat berlangsung, karena /jikalau si nenek itu telah janda.
Merkat Sinuan
Perkawinan terjadi apabila seorang laki-laki kawin dengan putri “puang kalimbubu”. Menurut adat, sebenarnya perkawinan sepert ini tiddak dibnarkan,karena “erturangku”. Tapi, karena pertimbangan dan faktor lain atau mempererat hubungan keluarga, menyambung keturunan dan lain-lain, perkawinan yang sebenarnya dilarang itu dilangsungkan juga. Tapi acara adat yang dijalankan harus sempurna (ua Banggong).
Caburken Bulung
Caburke bulung adalah perrkawinan anak-anak di bawah umur atara seorang anak laki-laki dengan iparnya. Acara peresmiannya memang agak sama dengan acara peresmian perkawinan biasa. Hal itu terjadi atas persetujuan kedua belah pihak orang tua, karena berbagai faktor. Ini bukan menjadi jaminan kalau sudah dewasa nanti keduanya harus menjadi suami istri.
Berikut ini adalah dokumentasi perkawinan karo tertua yang berhasil saya dapatkan.

perkawinan adat karo

perkawinan adat karo_2

Perkawinan masyarakat Karo yang satu ini turut menampilkan Si Gale- Gale dari Toba.

 

Sumber: BAMBANG YUNO WIDODO

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 7 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Ketujuh: Ombak Berkejar Guruh Menggelinding
Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )
Jurus terakhir dari Formasi Tempur Kuasadalah satu goresan yang sering disebut ‘ Kereta Jalan ‘, yakni goresan terakhir dari karakter 道 ( baca: dao, artinya: jalan,… ). Saat dengan kuas menggoreskan garis ini, akan terasa tidak putus diseret dan ditarik. Seperti kaligrafi Huang Tingjian ——— [ Satu gelombang tiga putar ]. Seperti satu goresan itu terus diseret dan diseret, di dalam kekuatan timbul lagi kekuatan, kekuatan menyambung kekuatan.

    Saya sangat tertarik bagaimana Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi jurus terakhir ini? Bagaimana merasakan goncangan, gulungan di dalam goresan ini, bagaimana merasakan hubungan tarik menarik antara ketegangan dengan ketegangan? mengenai satu goresan ini, Nyonya Wei seperti biasa tetap memberikan empat kata: Ombak Berkejar Guruh Menggelinding

Gelombang di laut atau di sungai, bergerak berkejaran ke depan, sambung menyambung, terus menggulung tanpa henti. Pada masa Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi kaligrafi, dia sedang menetap di Cina Selatan yang dekat laut, mungkin di sekitar Nanjing atau Zhejiang. Mereka mempunyai kesempatan bertemu laut, dapat merasakan gemuruh pasang surut air laut atau pun sungai, dapat merasakan ombak berkejar. Gelombang saat air pasang naik, segulung segulung berlari menerjang datang, sampai di tepi tanggul, tiba-tiba seluruhnya menghantam pecah berderai, seperti ombak kaget meretak tebing, pecah menjadi selapis bunga gelombang.

Wang Xizhi yang belajar kaligrafi sudah bukan seorang anak kecil lagi, dia telah mengalami berat dan kecepatan batu jatuh, mengalami gerakan lapisan awan di atas cakrawala, mengalami ketegaran rotan kering sepuluh ribu tahun di kedalaman hutan; hidupnya telah menumpuk cukup banyak rasa, menumpuk cukup banyak cerita dan fenomena alam semesta. Dia telah mengenal cula badak, gading gajah yang ditebas putus; dia juga telah mengenal kekuatan dan kelenturan luar biasa ketika menarik lengkung sebuah busur.

Seorang guru yang menuntun masuk ke dalam keindahan hidup, pada pelajaran-pelajaran terakhir, mungkin tidak perlu lagi menjelaskan terlalu banyak.

Nyonya Wei dan Wang Xizhi mungkin bersama-sama berdiri di tepi sungai atau di tepi laut, bersama-sama mendengar suara air pasang dan surut, pada musim yang berbeda, waktu yang berbeda, purnama atau bulan sabit, subuh atau senja, keadaan air pasang dan surut juga akan berbeda. Kadang-kadang suara ‘ sha, sha ‘ seperti daun bergesekan dalam hujan dan angin, seperti ulat sutera menguyah daun murbei; ada juga kalanya ‘ gong ‘ gong ‘ , seperti sepuluh ribu barisan kuda berpacu menerjang.

Berdiri di tepi pantai, guru dan murid sama-sama dapat merasakan kekuatan yang terpendam di dalam kejaran ombak yang menggetarkan hati. Kekuatan ini berbeda dengan kekuatan lepas dari Busur Melepas Seratus Pikul; ‘ Ombak Berkejar ‘ adalah kekuatan yang lebih kalem, lebih terpendam, sambung menyambung, tidak putus tidak selesai, berkejar menuju pukulan terakhir yang sudah ditakdirkan.

Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 – 1105, Dinasti Song )

Pada masa peralihan antara musim semi dan musim panas, persentuhan antara hangat dan dingin Kanglam yang segera berakhir, panas dan dingin tumpang tindih, Yin dan Yang saling mendorong, di udara ada kegerahan yang siap meledak, dari jauh terdengar suara guruh yang terpendam, teriakan yang tertahan dalam geram, seperti sesaat tidak dapat menemukan mulut keluar. Di antara langit dan bumi yang luas, mengikuti sabetan halilintar, satu-satu suara guruh, juga mirip suara kejaran ombak yang datang dari jauh.

Suara guruh pada musim panas, bagaikan menggelinding datang dari tempat yang jauh, suaranya dari kecil lalu pelan-pelan menjadi besar, segelombang segelombang, ada kekuatan yang bersambungan tanpa jeda, ini yang disebut ‘ guruh menggelinding ‘, yaitu goresan terakhir ketika menulis karakter 道. Satu goresan yang diseret panjang, berkelanjutan, adalah ombak laut menerjang, adalah guruh mengemuruh.

Ombak Berkejar Guruh Menggelinding ——— empat kata ini, adalah ingatan pada ombak laut dan suara guruh. Bukan cuma mata melihat ombak laut, Nyonya Wei seolah ingin Wang Xizhi berubah jadi ombak, merasakan tubuhnya bergerak, menggelegak. Demikian juga dengan guruh yang menggelinding. Di dalam semesta yang luas, ada suara terus menerus menyiar, seperti ada kegerahan luar biasa, mirip guruh di musim panas. Dari dalam kegerahan dan tekanan yang tak terkira, tiba-tiba melepaskan teriakan, agak terpendam, selapis-selapis menumpuk datang.

Mungkin banyak yang mengenal seorang kaligrafer besar bernama Wang Xizhi, dan mungkin juga mesti tahu dia ada seorang guru yang mahir membukakan jiwanya dan menuntun hidupnya ——— Nyonya Wei.

 

SELESAI

Baca Jurus Nyonya Wei sebelumnya

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 6 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Keenam: Persendian Kuat Tali Busur
Contoh kaligrafi gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, diambil dari [ Epitaf Cao Quan ]
Satu jurus lagi dari Nyonya Wei yang menggunakan perumpamaan pemanahan: Persendian Kuat Tali Busur , dan jurus ini bukan membicarakan kelenturan, ketegangan, namun ingin Wang Xizhi memperhatikan sebuah busur, bagaimana menggulung mengikat tali busur dan dahan busur menjadi satu. Sebuah busur, seandainya sambungan tali busur dan dahan busur ( limb ) tidak bagus, maka sangat sulit menghasilkan kekuatan.     Persendian Kuat Tali Busur membicarakan tentang ‘sambungan’ di kelokan tajam pada goresan pertama di dalam karakter 力 ( baca: li, artinya: tenaga ). Goresan ini bermula dari ‘ garis horizontal ‘ lalu berputar tajam lurus ke bawah menjadi ‘ garis vertikal ‘, menjaga kekuatan goresan ‘ garis horizontal ‘ agar tetap berlanjut ke dalam ‘ garis vertikal ‘, bagaimana supaya di antara dua goresan yang berbeda arah, berbeda kekuatan menemukan ‘ sambungan ‘ yang paling mantap. Persis seperti persendian tubuh manusia, karena harus menahan kekuatan yang sangat besar lalu menjadi rumit. Pergelangan dan siku tangan, lutut, pergelangang kaki, semuanya juga begitu.

Coba perhatikan sebuah busur yang bagus, di dua ujung dahan busur baik terbuat dari kayu maupun besi, tersambung dengan tali yang terbuat dari urat atau kulit binatang. Dan di antara tali dan busur, agar tidak lepas, digunakan perekat, digulung dan diikat dengan tali dan benang, sangat mirip persendian tubuh manusia, sangat kuat dan bertenaga. Sewaktu tali busur ditarik, ketegangannya membuat kita merasa ada kekuatan yang tersimpan di dalamnya.

 Jurus Persendian Kuat Tali Busur juga merupakan semacam perubahan di masa peralihan dari gaya 汉隶 ( baca: Han Li ), yaitu gaya ‘ Resmi ‘ pada masa Dinasti Han menuju gaya 楷书 ( baca: Kai Shu ) atau gaya ‘ Umum ‘ pada masa Dinasti Tang.

Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 – 641, Dinasti Tang )
Di dalam gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, kelokan di ujung ‘ garis horizontal ‘ menuju ‘ garis vertikal ‘, tidak tampak ada perhentian kuas. Namun, di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang sudah jelas kelihatan perhentian kuas di kelokan tersebut. Seperti saat menulis karakter 力, di ujung ‘ garis horizontal ‘ gerakan kuas pelan-pelan diangkat sedikit, lalu berhenti sesaat, baru menikung turun menjadi goresan ‘garis vertikal ‘

Di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang, perhentian kuas ini telah menjadi ciri khas, seperti dapat dilihat dalam kaligrafi Ouyang Xun, Yan Zhenqing ( contoh kaligrafinya ada di catatan sebelumnya ) dan Liu Gongquan.

Persendian Kuat Tali Busurdari Nyonya Wei ini bukan hanya salah satu pelajaran kaligrafi kepada Wang Xizhi saja, tetapi mungkin menyimpan beberapa isyarat perubahan gerakan kuas di masa peralihan dari gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han menuju gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang.

Kaligrafi Liu Gongquan ( 778 – 865, Dinasti Tang )
Dan setelah menulis enam jurus Formasi Tempur Kuas, saya merasa mungkin tidak mesti sepenuhnya mengikuti perumpamaan Nyonya Wei. Fenomena alam seperti dalam jurus Batu Jatuh dari Puncak Tinggi, Arakan Awan Seribu Li, Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, bisa dipahami jaman dahulu maupun sekarang. Mengenai pemahaman terhadap kekuatan, ketegangan sebuah busur, sebenarnya bisa diubah sesuai tempat dan waktu. Saya kira banyak alat-alat moderen yang dapat digunakan sebagai perumpamaan ketegangan dan kelenturan. Formasi Tempur Kuas sudah melewati seribu tujuh ratus tahun, mungkin sudah perlu perumpamaan-perumpamaan baru.

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 5 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Kelima: Busur Melepas Seratus Pikul

Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 -641, Dinasti Tang )
Waktu kecil belajar kaligrafi ada banyak ‘ aturan ‘, kemudian baru pelan-pelan menyadari, ternyata bukan semuanya tentang kaligrafi, tetapi adalah ‘ aturan ‘ bersikap terhadap orang maupun dunia luar. Misalnya, waktu kakek mengajari saya menulis karakter Han, selalu menekankan ‘ lurus dan benar ‘, kalau duduk dengan posisi benar dan punggung lurus, pena dengan sendirinya akan ‘ lurus dan benar ‘, maka ‘ lurus dan benar ‘ adalah pelajaran kaligrafi saya yang pertama.

Sebelum mulai menulis, melatih tubuh duduk ‘ lurus dan benar ‘, dua kaki dibuka, selebar bahu. Kakek berkata: ” Ruang di antara kakimu harus bisa ‘ tidur ‘ seekor anjing. ” Perumpamaan ini agak aneh. Suatu sore yang panas, saya sedang latihan kaligrafi, Si Hitam tiba-tiba menyusup ke kolong meja, berbaring tepat di antara kakiku. Saya menunduk lihat anjing itu, senang sekali, sore itu sangat tenang latihan menulis. Saya kira sekarang Si Hitam pasti menemani kakek di atas sana, terakhir kali melihatnya sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dia kelihatan lemah dan murung, mungkin depresi karena dua kali berturut-turut gagal membesarkan anaknya. Akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam semak. Kakek berkata: ” Anjing baik tidak akan mati di depan tuannya, dia bahkan berusaha agar kita tidak menemukan jasadnya ” Saya yang menemukan dia tergeletak kaku di dalam semak. Latihan menulis pada masa kecil seperti dilengkapi dengan berbagai kenangan yang tidak mudah aus.  Mungkin kakek menyuruh saya melebarkan kedua kaki, hanya ingin tubuh saya tidak terkekang, terasa lepas.

Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )

‘ Pergelangan Gantung ‘ adalah salah satu latihan penguasaan kuas, dengan kuas di tangan, pergelangan dan siku tangan menggantung, tidak boleh bersandar pada permukaan meja.  Satu sisi adalah untuk menjaga tubuh tetap ‘ lurus ‘, dan yang lebih penting adalah setelah ‘ Pergelangan Gantung ‘,  maka gerakan kuas tidak lagi hanya dari jari-jari tangan, kekuatan gerakan akan melalui pergelangan tangan yang lentur, menggerakkan siku, lengan dan bahu. Terutama waktu menulis karakter besar, bersama gerakan dari bahu, punggung, sangat menyerupai kungfu, bisa bercucuran keringat.

Kakek selalu berkata bahwa kaligrafi juga semacam olah raga, mungkin karena gerakan dalam kaligrafi mirip Tai Chi, melatih pernafasan dan keseimbangan tubuh, dengan menggunakan tarik lepas gerak diam tubuh, memang sangat mirip dengan latihan pernafasan dalam olahraga Timur.

Berbicara tentang kungfu dan olahraga, jurus kelima dalam Formasi Tempur Kuas adalah pelajaran yang berhubungan erat dengan keduanya: memanah, dan jurusnya disebut Busur Melepas Seratus Pikul

Memanah dan kaligrafi adalah dua dari enam pelajaran ( seni ) yang mesti diikuti kaum terpelajar pada jaman Dinasti Qin ( 221 SM – 207 SM ), sehingga sangat wajar menghubungan goresan kuas dengan pemanahan. Busur Melepas Seratus Pikul di dalam Formasi Tempur Kuas membicarakan ‘ garis vertikal ‘ yang memiring ke kanan, dan ujungnya disertai dengan satu gerakan menekuk jadi mata kail, seperti dalam karakater 戈 ( baca: ge, semacam mata tombak )

Ketika Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis karakter seperti 戈 begini, dia mengingatkan Wang Xizhi yang masih kecil, di dalam goresan ada suatu kelenturan yang sangat kuat, seperti busur yang memiliki kekuatan seratus pikul, siap melepaskan sebatang anak panah.

Nyonya Wei tidak menekankan bentuk busur atau pun anak panah, namun adalah kelenturan yang luar biasa setelah tali busur ditarik hingga menegang, maka, kata ‘ Lepas ‘ berubah menjadi sangat penting ——— satu goresan kuat yang penuh kelenturan, yang dapat melepaskan anak panah.

Memanah harus menggunakan busur, menarik tali busur, ada tarikan antara bahu dan busur, kuat atau lemah tarikan itu hanya sendiri saja yang bisa merasakan. Nyonya Wei memang ingin Wang Xizhi merasakan kekuatan lenturan saat anak panah melesat pergi, dan menggunakan pengalaman ini untuk menulis goresan di dalam karakter 戈

Ini sudah merupakan pelajaran estetika, bukan sekedar teknik menulis. Melalui pelajaran menulis, mengembalikan apa yang dialami tubuh sendiri untuk memahami hidup.

Kaligrafi Yang Ningshi ( 873 -954, Dinasti Tang )