Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

Kenduri

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati
Lima atau tujuh orang duduk melingkari daun pisang berikut makanan di atas tikar pandan. Ada nasi, gudangan, ikan asin dan satu telur. Yang terakhir ini dibagi sejumlah tamu yang datang. Desa kami tak pernah kekurangan.

Berapapun jumlah irisan telur itu, Pak Modin selalu mendapat bagian paling besar, sebab dialah yang membaca doa.

Pak Modin memulai ritual dengan bismillah lalu ditutup dengan Alkamdulilah. Entah bahasa arab mana yang dia ucapkan, kami menimpali setiap kalimat dengan amin. Kami sungguh percaya doanya suci dan benar.

Dengan degup debar aku menunggu Bapak pulang membawa seiris telur kenduri. Irisan tak pernah kutemukan dalam bungkusan daun pisang.

“Bapak, aku minta sunat.”
“Kenapa?”
“Aku ingin makan telur utuh bulat.”

Kumpulan Fiksi Super Mini

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari kaskus

~kemarau~
“Sayang, kemarau akan segera usai. Gerimis semalam telah menumbuhkan kuncup rerumputan,” katanya.
“Ya, kecuali di hatiku. Kemarau masih panjang dan ilalang tinggi menjulang.”

~penumpang VIP~
“Tahukah engkau nikmatnya naik kereta eksekutif? Jika engkau mengencingi gembel di sepanjang rel, niscaya engkau tahu nikmatnya”
“Bangsat!”

~perempuanku~
Perempuanku kelaminnya dua, satu di tempat biasanya, satu di dahinya. Yang terakhir ini entah untuk siapa.

~pelacur tua~
“Lima ribu atau kupotong kelaminmu!” bentaknya pada lelaki bermandi keringat di depannya. Setengah telanjang ia melirik pekuburan yang tidak keberatan menerima satu mayat lagi.

~mukjizat~
Selembar daun jatuh dari langit. Tercabik-cabik sebab panas, hujan dan angin.
“Subhanallah, nikmat mana yang kudustakan,” pekiknya ketika daun itu mendarat di kakinya dengan robekan semirip lafal Allah.

Kekasih Terbodoh

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari iStockdotcom
Engkau mangajarku untuk tidak takut terhadapmu,
ya, aku memang tidak takut akan amarahmu,
tapi aku takut membuatmu kecewa,
setelah kemurahan yang kuterima menjadikanku bukan siapa-siapa.

Engkau tidak seperti mereka yg meminjami dan mengharap bunga kembali,
engkau memberi tanpa syarat,
engkau membebaskan tanpa tuntutan di kemudian hari,
dan semua itu membuatku tidak nyaman di dekatmu.

Ketika iblis menyentuhku di purba malamku,
hatiku berbisik,
: satu hal yang membuatku kadang tidak menyukaimu,
: engkau tidak meminta apapun dariku.
: aku tidak suka sebab engkau terlalu baik.

“Sesungguhnya, kamulah kekasihku yang paling bodoh,” katamu.

Penuai Padi

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari unpad.ac.id
Musim kemarau sesekali berhujan. Meski sama satu desa, nasib mereka tidaklah sama. Sawah mereka terbelah sungai. Yang sebelah kiri menuai padi setahun tiga kali, yang kanan untuk panen dua kali harus rela setengah mati. Sebab tanah miring tidak memilih kepada siapa ia hendak membagi rezeki. Saat pagi begini engkau dapat melihat ironi para penuai padi.
Baik, aku membagi mereka menjadi penduduk kanan dan kiri sungai. Jelas sungai mengalir dari atas bukit menuju entah laut jawa atau samudera hindia, ini tidak terlalu penting. Yang penting dan jadi pokok persoalan adalah tanah penduduk kanan sungai lebih tinggi dari sungai, sementara tanah penduduk kiri sungai lebih rendah dari sungai. Tentu saja air lebih mudah mengalir ke pesawahan di kiri sungai. Soal ini cukup merepotkan sebab penduduk kanan sungai pernah datang ke rumahku meminta kebijakan yang lebih baik soal pengairan sawah mereka. Andai engkau jadi pamong desa, apa yang akan kauperbuat? Bukankah sulit menjelaskan pada mereka bahwa tidak ada yang berhak membelokkan aliran sungai?
Sungai itu adalah urat nadi tidak hanya desa kami, tetapi juga desa di muara. Membelokkannya sama dengan menabuh genderang perang. Desa yang cukup primitif. Orang kota berpikir bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan uang. Dengan uang mereka menyarankan membangun bendungan, memasang pompa air, membuat sumur untuk pengairan sawah sisi kanan sungai dan juga membantu menyuburkan benih iri pada pemilik sawah sisi kiri sungai.
Selama ini uang tidak menyelesaikan masalah. Selain kami tidak punya, bantuan uang itu juga hanya wacana orang kota. Kami menjadi lebih sering berdoa dan bersesaji pada Yang Widi, pada leluhur dan pada kali. Yang kiri bersyukur atas panen tiga kali dan yang kanan memohon keadilan atas panen dua kali. Tuhan begitu tega membuat ketidakadilan di desa kami. Doa kami terkabul. Musim hujan datang tidak pada waktunya. Air sungai meluap dan menenggelamkan sawah dan para penuai padi di sisi kiri sungai. Keadilan telah bicara dan kami lebih giat memanjatkan doa.

Akhir Oktober 2011

Puisi untuk My Mine

Puisi Tania Limanto

Dengan langkah perlahan,
dan ragu,
kususuri sungai ini,
tak tahu akan dibawa ke mana.

Awalnya aku mengira kalau aku bisa berhenti kapan saja, namun pada kenyataannya, dalam Kesunyian Indah, ketika malam tiba, di bawah rembulan, aku tertidur dan tak menyadari saat perahu bergerak terus menyusuri sungai dan tiba di Samudra Biru.


Saat itu,
sudah terlambat untuk berhenti,
dan tak kulihat lagi jalan kembali,
di ujung batas Samudra Biru,
di hulu air terjun Niagara.

Saat ini,
apalagi yang bisa kulakukan?

Aku mengira rasa ini bisa dihentikan, namun arus ini terlalu kuat, dan tak bisa kuhentikan. Aku pejamkan mata, dan saat itu, detik itu, aku ingin percaya Tuhan itu ada, agar dia bisa menghentikan rasa rindu ini, agar dia bisa memutuskan rasa rindu ini.

Dan / aku / terjun /
/terjatuh/
/ke dasar/
/air terjun Niagara //

Majelis Ulama vs Pedagang Krupuk: Beda Hari Sama Hukumnya!

Humor Planet Kenthir by Kong Ragile

Alkisah sudah puluhan tahun Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusing kenapa Hari Raya Idul Fitri jatuh pada hari berbeda antar golongan. Lalu salah seorang dari mereka mendapat ilham untuk belajar dari buku. Maka dipanggillah Pedagang Krupuk yang mengarang buku berjudul “BEDA HARI, SAMA HUKUMNYA”.
Dari penjelasan Pedagang Krupuk maka terungkap falsafah yang menggembirakan hati anggota Majelis. Yaitu ibarat menikmati krupuk maka jangan risau hari kapan akan dimakan. Yang penting tidak melempem akibat kelamaan terkena udara.
Hati Majelis berbunga-bunga merasa mendapat dukungan moril dari kandungan falsafah “BEDA HARI, SAMA HUKUMNYA”. Pusing akibat beda hari raya lebaran sirna sudah.
Rencananya Hari Senin akan datang tamu dari luar negeri. (Nggak tahu sekarang hari apa :D) AL Habib dari Emirat Arab adalah tamu istimewa kali ini. Anggota Majelis harus pesan spanduk yang berisi ucapan selamat datang dan poster bergambar wajah sang tamu dengan dirinya sedang senyum-senyum. Poster akan dipasang di halaman rumah. Biar keren…
Teringat pedagang kerupuk, anggota majelis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepadanya dengan cara order spanduk dan poster tanda sambutan kepada tamu yang akan berkunjung besok. Dia janji akan bayar 10x lipat dari tarif normal. Saat itu hari Minggu malam jam 12, sedangkan tamu akan datang Senin pagi.
Pedagang Krupuk girang dapat order senilai 5juta dari harga normal 500ribu.
HARI SENIN:
Tamu datang tapi poster dan spanduk belum dipasang, Pedagang Krupuk tidak bisa dihubungi.
Majelis kecewa berat.
HARI SELASA:
Tamu istirahat di kamar tamu. Pedagang Krupuk datang untuk minta maaf. Majelis kecewa sedikit tapi sangat bersyukur karena tidak jadi keluar ongkos 5juta.
“Aaah tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf. Kalau rejeki pasti datang pada waktunya yang ditentukan, hehe.”
HARI RABU:
Al Habib sudah pulang ke Emirat Arab. Ketika Majelis selesai telpon-telponan datang Pedagang Krupuk membawa invoice (tagihan) 5juta.
Majelis heran!
Dalam keadaan terbengong-bengong dia melongok dari jendela. Matanya menyaksikan spanduk dan poster sudah terpasang di halaman rumah dinas.
“SELAMAT DATANG TUAN AL HABIB DARI EMIRAT ARAB”
Hampir saja Majelis marah besar, tapi urung. Dia ingat buku berjudul “Beda Hari, Sama Hukumnya”.

Spongebob-isme: Sebuah Pengantar

image from google.co.id
Bikini Bottom adalah sebuah kota yang indah. Kota ini berada dalam lautan pasifik. Atau mungkin lebih tepatnya kota yang tenggelam di lautan. Hampir setiap orang dari berbagai umur menyukai kota ini. Bayangkan segerombolan mahkluk hidup yang gembira ria tinggal di selembar bikini yang melekat di bottom (=pantat). Saya termasuk yang menyukai tinggal dekat pantat itu.
Pagi itu, Bikini Bottom belum ramai. Spongebob hendak pergi ke luar. Mungkin hendak belanja bahan-bahan untuk membuat burger Kraby Patty. Sekembali dari “pergi ke luar” SpongeBob menemukan Patrick sedang asyik duduk menonton TV di restoran Krusty Krab.
“Jadi begini kerjamu? Duduk dan menonton TV?” sembur Spongebob pada Patrick.
“Hey, ini tidak segampang yang kamu lihat Spongebob. Kadang saya kehilangan remotenya, kadang saya harus memperbaiki antena tv, dan kadang pantat saya sakit!” jawab Patrick.
Spongebob merupakan tokoh sentral yang memiliki karakter polos, optimis, selalu ceria, dan memiliki prasangka baik terhadap siapapun. Tidak jarang Spongebob mendapat kesulitan karena terlalu “antusias” membantu orang lain. Di sisi lain, Patrick adalah tokoh yang didominasi karakter malas, bodoh yang mendekati idiot dan menimbulkan banyak kelucuan karena pertanyaan-pertanyaan atau jawaban “bodoh”. Percakapan Spongebob dengan Patrick seringkali “menyedihkan” seperti percakapan di atas. Dan percakapan menyedihkan itu menjadi humor segar yang dinikmati semua usia. Coba simak juga percakapan berikut ini:
Patrick : Spongebob? Psstttt, Spongebob? Pssst. Saya mau mengatakan sesuatu, sesuatu yang sangat penting!
Spongbob : Apa?
Patrick : Hai…
image from poster.net
Dan para penonton tertawa terpingkal menyaksikan “ketololan-ketololan” yang ada di Bikini Bottom. Penonton mentertawakan Patrick yang “idiot” mengucapkan “hai”. Atau tertawa mendengar jawaban Patrick yang membenarkan dirinya sendiri dengan alasan yang menurut kelaziman “tidak masuk akal”. Apakah percakapan yang ada di kartun Spongebob itu hanya lelucon biasa? Banyak pemirsa yang mengatakan “tidak”. Banyak pesan-pesan bernas yang belum saatnya dicerna pikiran anak-anak. Misalnya saja, mengapa kota dinamai “pantat (ber)bikini”? Atau mengapa tokoh yang begitu baik di kota lebih mudah dinamai “alat cuci piring”. Atau mungkin lebih tepatnya “sponge pengelap pantat?” Dan memang, pada kenyataanya orang baik hanya menjadi “alat pengelap pantat”. Itu sesuatu yang lucu. Begitulah SpongeBob-isme. Isme yang kental dengan nuansa sarkastis, sinis dan anarkis terhadap segala sesuatu yang dianggap tidak pada tempatnya. Di Bikini Bottom, hidup hanyalah lelucon menyedihkan dan tidak semua orang sanggup mengakuinya. Nasehat dan kata-kata bijak seringkali disampaikan. Kiasan dan kata-kata indah pun tidak kurang. Simak misalnya ucapan Spongebob,”jika kamu ingin terbang, maka yang kamu butuhkan adalah persahabatan.” Atau ucapan Sandy si tupai cantik,” Jika kamu ingin jadi sahabatku, maka jadilah dirimu sendiri.”
Tetapi kata-kata bijak semacam itu hanya membuat orang tersenyum dan tidak segera membuat orang beranjak bangkit dan tetap “status quo” seperti Patrick yang meraih penghargaan sebagai “Yang Tidak Melakukan Apa-apa dalam Waktu Paling Lama.” Hidup menjadi semakin tampak menyedihkan bukan? Dan kehidupan yang semacam itu membuat frustasi setiap orang. Yang rajin berbuat baik seperti Spongebob menjadi malas, tertular kemalasan Patrick. Yang malas menjadi semakin tidak perduli. Dan yang perduli namun tidak mampu berbuat apa-apa menjadi marah seperti Squidward. Simak saja percakapan Spongebob dengan Squidward berikut ini:
Spongebob : Adakah yang lebih baik dari “melayani dengan tersenyum”?
Squidward : Mati! Atau ada yang lain?

Menangislah

Puisi Lila Prabandari

ilustrasi dari webpages_scu_edu

aku tak akan meneteskan airmata,
meski kudengar lirih ceria tawamu
senyum kemenanganmu yang menggores
melengkungkan garis dipipimu

aku juga tak akan meneteskan airmata,
meski alis kananmu kaunaikkan
hingga membentuk kurva enampuluh derajat
atau kaubengkokkan bibir atasmu seperti tikungan

tidak…
aku hanya ingin menatapmu saja
menatapmu dengan rasa
yang mengumpul bergumpal-gumpal di pelupuk mata
dan mungkin…

13 Oktober 2011

Puisimu Mawarku

Puisi Endah Soe Trusthi

mawar dan hujan

aku masih ingin kau buatkan puisi
tukar dengan mawarku

hurufmu mewangi
kuharap bungaku juga bermakna

beri aku sebait
lalu aku petik setangkai

di puisimu ada hujan
juga matahari
mengertilah
di kebunku hujan dan matahari menyuburkan mawarnya
pada pagi mawar takhluk untuk dihinggapi embun
yang menjadi judul kerinduan pada puisimu

6 Oktober 2011

Aku di Sini

Puisi Rere ‘Loreinetta

rere's guitar

Sahabat…
Kemarilah duduk disampingku sebentar
Merapat pada bahuku
Dan dengarkan aku berkata kepadamu
Meski pelan dan tersamar

Genggam erat jemariku
Dan rasakanlah gerakanya yang gemetar
Tataplah jauh di kedalaman danau mataku
Hingga menembus hati

Lalu lihatlah…
Semua rasa dan bahasa kasih yang kusimpan dan kumiliki
Biarkan semuanya mengalir padamu
Untuk kau terjemahkan sendiri

Diamlah sejenak dan dengarkan
Bayangkan dan fikirkan tanpa perlu aku mengungkapkan kepadamu
Bahwa begitu banyak hal hebat yang telah kita lalui bersama

Penuh derai tawa dan juga air mata
Kesedihan…
Amarah…
Bahagia…
Semua kita telah rasa…

Jangan biarkan itu semua tenggelam begitu saja
Ke dalam lubang hitam kenangan dan sejarah suram
Atau kita buang dan abaikan.

Tetapi,
Mari kita jadikan itu semua sebagai kekuatan kehidupan
Dan sejarah yang takkan pernah terlabur dan terlupakan

Sahabat…
AKu ingin kau tahu dan mengerti,
Bahwa perjumpaan dan mengenalmu
Menjadi bagian dari hidup dan hatimu

Adalah takdir dan hadiah yang terindah
Yang telah diberikan oleh Tuhan
Untukku…
Dan semoga semua hadiah ini
Akan tetap kekal abadi sampai nanti
Sepanjang usia kita

26 September 2011