Arsip Tag: doa

Penuai Padi

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari unpad.ac.id
Musim kemarau sesekali berhujan. Meski sama satu desa, nasib mereka tidaklah sama. Sawah mereka terbelah sungai. Yang sebelah kiri menuai padi setahun tiga kali, yang kanan untuk panen dua kali harus rela setengah mati. Sebab tanah miring tidak memilih kepada siapa ia hendak membagi rezeki. Saat pagi begini engkau dapat melihat ironi para penuai padi.
Baik, aku membagi mereka menjadi penduduk kanan dan kiri sungai. Jelas sungai mengalir dari atas bukit menuju entah laut jawa atau samudera hindia, ini tidak terlalu penting. Yang penting dan jadi pokok persoalan adalah tanah penduduk kanan sungai lebih tinggi dari sungai, sementara tanah penduduk kiri sungai lebih rendah dari sungai. Tentu saja air lebih mudah mengalir ke pesawahan di kiri sungai. Soal ini cukup merepotkan sebab penduduk kanan sungai pernah datang ke rumahku meminta kebijakan yang lebih baik soal pengairan sawah mereka. Andai engkau jadi pamong desa, apa yang akan kauperbuat? Bukankah sulit menjelaskan pada mereka bahwa tidak ada yang berhak membelokkan aliran sungai?
Sungai itu adalah urat nadi tidak hanya desa kami, tetapi juga desa di muara. Membelokkannya sama dengan menabuh genderang perang. Desa yang cukup primitif. Orang kota berpikir bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan uang. Dengan uang mereka menyarankan membangun bendungan, memasang pompa air, membuat sumur untuk pengairan sawah sisi kanan sungai dan juga membantu menyuburkan benih iri pada pemilik sawah sisi kiri sungai.
Selama ini uang tidak menyelesaikan masalah. Selain kami tidak punya, bantuan uang itu juga hanya wacana orang kota. Kami menjadi lebih sering berdoa dan bersesaji pada Yang Widi, pada leluhur dan pada kali. Yang kiri bersyukur atas panen tiga kali dan yang kanan memohon keadilan atas panen dua kali. Tuhan begitu tega membuat ketidakadilan di desa kami. Doa kami terkabul. Musim hujan datang tidak pada waktunya. Air sungai meluap dan menenggelamkan sawah dan para penuai padi di sisi kiri sungai. Keadilan telah bicara dan kami lebih giat memanjatkan doa.

Akhir Oktober 2011

Saat Hati Ingin Bersandar

Puisi Siska Premida Wardani

ilustrasi dari gp.blogspot.com

Kemana lagi ku akan datang
Pabila kegalauan bertubi menghadang
Membiarkanku terhimpit sesak dan dalam…begitu dalam
Tanpa teman ku sendiri menanggung beban

Kemanakah sungguhnya jalanku
Saat pejam dan nyaman pun enggan menyapaku
Luluh lantak hati ini merasakan
Seolah urat nadi ingin segera disayatkan

Oh..di manakah harusnya aku berada
Tatkala hanya gulita memenuhi pikiran dan mata
Menggantikan sejuknya fajar, hangatnya siang,….teduhnya senja
Ku tahu aku tak punya tempat tuk singgah

Ya Allah Ya Rahim
Sungguh air mata tak tahan terbendung
Kaki lemah ini sigap tuk bersimpuh
Tiada kataku selain memohon lautan ampun-Mu
Hanya pada-Mu kuhadapkan diri…wajah lusuhku…mata sembabku

Ya Rabb Ya Karim
Kutahu hidupku tak pernah mudah
Tak kuminta jalan yang mulus, tanpa debu, tanpa batu
Bekali hamba dengan segenggam kuat
Hujani hamba dengan sabar dan ikhlas
Tanamkan kompas di hati hamba
Agar hamba tidak tersesat…dan tahu ke mana arah pulang

Dan aku hanyalah hamba-Mu yang mengadu

yang tanpa malu mengajukan pinta
Engkau dengarlah suara hamba
meminta pada-Mu yang Maha Tahu
yang Maha Tinggi lagi Maha Hidup
Laa haulaa walaa quwata illa billa

(di suatu tempat kurajutkan kata menjelang Dhuha. Persembahan untuk kalian yang percaya pada doa, semoga pengembaraan hidup kita membawa sejuta hikmah)

21 Agustus 2011

Retakan Kata

Pernah dulu kurangkai kata dari setiap serpihan luka,
mencoba melukis makna agar asa tak jadi sirna.
Kutorehkan pada kayu,
pada batu,
dan pada tubuh bernanah.

Kubasuh dengan air mata,
Kubaluri dengan doa-doa.
Sekiranya nyawaku tinggal sejengkal,
aku masih dapat membacanya,
abadi, membara.
Meski nafasku tersengal,
disanalah rohku pernah singgah.
terkapar, berdarah-darah.

Hingga tiba masa kata tak lagi berdaya,
Hidup bagai palu godam menghantam,
Meretakkan setiap kata yang tersisa,
Meluluhlantakkan butir-butir nyali yang sempat bersemi.

Kini aku tinggal di dalamnya,
Menari dan bernyanyi di sela retakan kata,
Menanti Sang Pemahat Sejati memurnikan jiwa sunyi.
Sendiri.

14 Feb 2011

Doa Saja Tidak Cukup

image from dodiksetiawan.wordpress.com
…dan kita termangu,
masihkah bumi ini punya kita?

Berduyun orang menjerit dan limbung
terpatah…
tercabik awan panas membumbung.
Lalu legam nasib menghitam
bau daging terpanggang memenuhi ruang
sapi, kerbau, ayam, kambing
(…dan kami sama perihnya)
tak lagi lada sebagai penghangat suasana
tapi berton-ton debu membasuh kalbu.
Kalbu yang sekian lama buta, tuli dan bisu
…dan kita termangu.
Benarkah kita kuasa atas semesta?
pantai
gunung
udara
tanah
tak lagi ramah
lalu semua beribadat
tanpa beribadah

…dan kita termangu,
tak juga beranjak berkarya …….
meski sederhana,
doa saja tidak cukup

Atau…
Sangkamu, Tuhan itu budakmu?

Repost: puisi yag dibuat untuk mengenang korban merapi 2010