Kenduri

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati
Lima atau tujuh orang duduk melingkari daun pisang berikut makanan di atas tikar pandan. Ada nasi, gudangan, ikan asin dan satu telur. Yang terakhir ini dibagi sejumlah tamu yang datang. Desa kami tak pernah kekurangan.

Berapapun jumlah irisan telur itu, Pak Modin selalu mendapat bagian paling besar, sebab dialah yang membaca doa.

Pak Modin memulai ritual dengan bismillah lalu ditutup dengan Alkamdulilah. Entah bahasa arab mana yang dia ucapkan, kami menimpali setiap kalimat dengan amin. Kami sungguh percaya doanya suci dan benar.

Dengan degup debar aku menunggu Bapak pulang membawa seiris telur kenduri. Irisan tak pernah kutemukan dalam bungkusan daun pisang.

“Bapak, aku minta sunat.”
“Kenapa?”
“Aku ingin makan telur utuh bulat.”

2 tanggapan untuk “Kenduri”

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s