Gambar diunduh dari meme.zenfs.com“Lihatlah sungai yang mengalir itu,” kata sahabatku suatu hari di bulan Agustus tahun 1930. Saat itu kami sedang duduk di tepi sungai yang memisahkan desa kami dengan desa sebelah. Aku mengalihkan perhatianku dari sekumpulan anak seusia kami yang berenang-renang dengan gembira—dengan menggunakan batang bambu milikku dan sahabatku sebagai pelampung—lalu memandang wajah sahabatku. Mata cokelatnya bersinar terang ketika aliran sungai memantulkan cahaya matahari ke wajahnya di siang yang terik itu. Matanya indah, namun lebam kemerahan di kelopak mata kanannya membuat bola mata kanannya yang indah itu sedikit tersembunyi.
“Pada tahun 1582, Oda Nobunaga memerintahkan Toyotomi Hideyoshi untuk mengambil alih Benteng Takamatsu1 ,” katanya lagi dengan ekspresi serius. Aku tersenyum saat mendengarnya mulai menceritakan lagi tokoh-tokoh yang dikaguminya. “Toyotomi Hideyoshi dibekali 20.000 pasukan, sementara pihak lawan hanya mempertahankan bentengnya dengan lima ribu samurai.” Dia sudah akan melanjutkan, tapi aku menyelanya.
“Tentu saja Toyotomi Hideyoshi menang,” kataku. “Itu kemenangan yang mudah.”
Sahabatku tersenyum. “Dia hampir mengalami kekalahan,” katanya.
Aku terkejut mendengarnya.
“Benteng Takamatsu terlindung oleh sungai, danau, dan rawa di sekelilingnya. Itu menghambat pergerakan pasukan Toyotomi Hideyoshi. Ketika prajurit dari pihaknya mulai berjatuhan, Toyotomi Hideyoshi menyadari bahwa taktik biasa tak akan berguna. Dia pun memutar otak, dan mendapatkan sebuah pencerahan tentang bagaimana cara membuat kekuatan yang dimiliki Benteng Takamatsu menjadi kelemahannya. Jika sungai melindungi Benteng Takamatsu, mengapa dia tidak menjadikan sungai itu sebagai senjata? Dia pun membangun sebuah bendungan, membelokkan aliran sungai, dan menghancurkan benteng itu dengan serangan air. Benteng Takamatsu akhirnya berubah menjadi danau buatan dan menyerah tidak lama setelah itu.”
Aku mendengar ceritanya dengan mata berbinar dan mulut menganga. Augusto selalu menceritakan kisah-kisah hebat padaku, karena saat itu aku belum bisa membaca. Tapi, di antara banyak tokoh hebat yang diceritakannya padaku, Toyotomi Hideyoshi telah menjadi semacam idola bagi kami. Terutama bagiku, karena aku menyukai beberapa kemiripan kami. Kami sama-sama merupakan anak petani miskin, sama-sama ditinggalkan satu orang tua (meskipun Toyotomi Hideyoshi ditinggalkan ayahnya sementara aku telah ditinggal ibuku), dan sama-sama bertubuh pendek.
Augusto mengalihkan wajahnya dariku dan menatap sekumpulan anak laki-laki yang masih berenang dengan tatapan penuh kemarahan. Aku mengikuti jejak Augusto dan menatap kumpulan anak-anak itu. Mereka dulu temanku. Namun, setelah aku memutuskan berteman dengan Augusto, mereka mulai menjauhiku. Mereka bahkan memukuliku saat aku mulai membela Augusto ketika mereka mengeroyok Augusto yang, meskipun tubuhnya lebih tinggi dari kami anak-anak pribumi, nyalinya tidak ada seujung kuku kami.
Hari itu mereka juga mengeroyokku dan Augusto. Awalnya kami berdua turun ke sungai dengan suka cita sambil membawa sebatang bambu yang telah dipotong oleh ayahku. Namun, belum sempat kami menggunakan potongan bambu itu sebagai pelampung, sekumpulan anak nakal itu menghadang kami. Mereka merebut paksa bambu kami dan menghajar kami ketika—dengan keras kepala—kami mencoba mempertahankan potongan bambu yang berharga itu.
Setelah itu aku dan Augusto hanya bisa duduk di tepi sungai dan memandang kebahagiaan anak-anak itu dengan iri. Augusto berdiri dan berjalan pulang beberapa saat kemudian. Aku mengikuti di belakangnya.
“Toyotomi Hideyoshi mampu menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan, dan kelebihan lawan menjadi kekurangan,” katanya. Menyadari dia masih melanjutkan ceritanya, aku berlari kecil di sampingnya untuk menyamakan langkah kami, seperti seekor anjing yang setia. “Aku pun, suatu saat nanti, ingin sepertinya.”
Aku tersenyum saat menyadari bahwa sebenarnya dia tengah berbicara tentang anak-anak itu.
“Tentu saja kau bisa,” kataku dengan lembut; masih tersenyum.
Wajah Augusto sedikit lebih cerah setelah mendengarnya. Dia menyeringai, tapi lalu meringis ketika rasa sakit menyerang bibirnya yang robek. Aku pun tertawa.
“Berhenti tertawa!” bentaknya, tapi aku tahu dia tidak sungguh-sungguh, maka aku tidak menghentikan tawaku. Baru kusadari bahwa wajahnya yang lebam di sana-sini membuatnya tampak konyol. Augusto menatapku sambil mendengus. Tanpa peduli rasa sakit yang menyerang bibirnya, dia pun ikut tertawa bersamaku, sambil meringis dan memegangi lebam-lebam di wajahnya.
***
Penjajahan Portugis berakhir pada abad ke 16. Masa pendudukan Belanda dimulai. Setelah kekalahannya melawan Belanda, tidak semua bangsa Portugis meninggalkan Bumi Nusantara. Banyak yang memilih untuk menetap di beberapa daerah, sementara sisanya sengaja dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang setelah VOC menaklukan Malaka pada tahun 1641, termasuk leluhur Augusto.
Augusto dan ayahnya datang ke desaku sekitar dua tahun sebelum hari ketika kami duduk di tepi sungai dengan lebam di sana-sini. Desaku berada jauh di pedalaman gunung dan sangat sulit diakses dari luar, sehingga, meskipun terdapat beberapa rumah orang Belanda di desa yang lebih rendah, hari ketika Augusto dan ayahnya datang adalah hari pertama bagiku dan penduduk desa melihat orang-orang dengan kulit terang. Kabar tentang orang-orang kulit putih yang mengambil alih tanah rakyat dan memaksa pribumi bekerja untuk mereka telah mencapai desa jauh sebelum Augusto dan ayahnya, João de Fretes, tiba. Hal itu membuat mudah bagi kami untuk salah paham dan mengira bahwa ayah Augusto adalah salah satu dari orang-orang kulit putih biadab itu.
Ayah Augusto membeli tanah dari seorang tuan tanah di desa kami dan mendirikan rumah di sana dengan meminta bantuan penduduk desa. Ayahku termasuk salah satu orang yang membantunya mendirikan rumah yang kelak akan menjadi rumah terindah dan termegah di desa kami.
Suatu malam seseorang mengetuk pintu rumah ayahku yang reyot. Aku dan ayahku sedang bersiap-siap tidur saat itu. Begitu mendengar suara ketukan di pintu, dengan sigap dan secepat kilat aku melompat dari dipan dan berlari untuk membuka pintu itu, karena jika seseorang di balik pintu itu mengetuk lebih lama dan lebih kuat, tak diragukan lagi pintu itu akan lepas dari engselnya.
Aku membuka pintu itu, terkejut mendapati dua orang asing berkulit putih sedang berdiri di depanku, satu orang dewasa sedangkan yang lainnya adalah anak-anak. Aku menatap mata cokelat dari orang kulit putih yang masih anak-anak, yang kelak kuketahui bernama Augusto de Fretes. Dia menatapku sekilas, tapi lalu menunduk. Ayah telah berdiri di belakangku dan membuka pintu lebih lebar agar bisa melihat siapa tamu yang datang. Aku melihat keterkejutan yang sama dari matanya saat dia melihat kedua tamunya.
Malam itu ayah Augusto mengutarakan keinginannya untuk meminta bantuan ayahku mendirikan rumahnya, sementara aku dan Augusto hanya duduk diam. Malam itu pun, karena hari telah larut dan terlalu berbahaya untuk berjalan menerobos kegelapan di tempat yang didominasi pepohonan, ayahku menawarkan kepada ayah Augusto untuk menginap. Ayah Augusto menyetujuinya. Aku dan Augusto hanya diam, beberapa kali kami saling mencuri pandang. Bahkan saat itu pun, ketika kami hanya duduk diam dan saling mencuri pandang, aku tahu kami akan menjadi teman suatu hari nanti.
Hari itu tiba kurang dari setahun kemudian, ketika rumah besar itu selesai dibangun, dan mereka berdua meninggali rumah barunya. Entah apa yang dipikirkan ayah Augusto, tapi saat itu dia memintaku dan ayahku untuk tinggal bersama mereka di rumah besarnya. Ayah meminta waktu untuk memikirkannya. Dia tidak mendiskusikannya padaku, tapi keesokan harinya kami telah tinggal di sebuah kamar di rumah besar itu. Sejak itu ayahku menjadi pelayan di rumah besar itu, mengubah statusku dari anak seorang petani miskin menjadi anak seorang pelayan di rumah besar. Aku tidak tahu mana yang lebih baik dari keduanya.
Aku pun mulai menjalankan tugas sebagai anak pelayan setelah itu. Pada pagi hari, aku menghidangkan sarapan, membersihkan rumah, dan menyeterika pakaian Augusto dan ayahnya. Sementara aku bekerja, Augusto hanya duduk di dekatku sambil membaca buku-buku milik ayahnya. Aku tahu dia ingin berbicara denganku dan aku pun ingin bicara dengannya. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari kami yang bersedia memulainya.
“Kau tahu siapa sebenarnya yang ingin kita tinggal di tempat ini?” tanya ayahku suatu malam. Kami berbagi selimut di kasur yang sama. Aku membuka mataku dengan enggan dan melihat wajah Ayah yang hanya terlihat sebagai siluet hitam. “Augusto yang menginginkannya,” katanya. “Dia tidak bisa membayangkan anak sekecil dirimu tidur kedinginan setiap malam.” Ayah tertawa sesaat, sementara aku terdiam sambil memikirkan kata-katanya. “Ya, rumah kita memang punya banyak lubang, angin malam bisa menerobos masuk dengan leluasa.” Ayah mengubah posisi tidurnya sehingga wajahnya bisa menghadap wajahku. “Tuan Fretes yang menceritakannya padaku tadi pagi.” Ayah lagi-lagi tertawa kecil. “Menurutku, mungkin Tuan Augusto hanya ingin berteman denganmu,” katanya. Selama beberapa saat Ayah terdiam, sehingga hanya suara nafas kami yang terdengar kala itu, sementara aku meresapi kata-katanya. “Selain itu… bukankah di sini sangat nyaman?” Ayah memelukku.
Malam itu aku memikirkan semua kata-katanya. Jantungku berdebar-debar memikirkan, jika esok aku harus menghadapi Augusto, apa yang harus kukatakan padanya.
Aku menuangkan teh untuk Augusto keesokan harinya. Sementara Augusto menyeruput teh itu dengan perlahan, aku tetap berdiri mematung di sisinya.
“Apakah terlalu panas?” tanyaku saat dia meletakkan cangkir itu di meja. Augusto memandangku dengan wajah memerah. Dia menggeleng.
“Apakah terlalu manis?”
Augusto tidak menjawab. Aku melihat Ayah dan Tuan Fretes di seberang ruangan, mereka memandang kami berdua dengan senyuman tipis di bibir mereka. Ketika kembali mengalihkan pandangan ke Augusto dengan gugup, aku terkejut melihatnya tengah tersenyum.
“Teh ini tidak terlalu panas maupun terlalu manis,” kata Augusto. Itu pertama kalinya aku mendengar suaranya. Aku membalas senyumannya.
“Terima kasih,” kata kami bersamaan, lalu mendengus tertawa sedetik kemudian.
***
Asap membubung tinggi dari bagian belakang kediaman Tuan Fretes. Bau asap menyebar di udara. Aku dan Augusto berjalan terseok-seok dengan wajah penuh memar, senyuman menghilang dari wajah kami, sementara rasa sakit semakin terasa. Sesekali Augusto mendesis menahan sakit, begitu pun aku. Beberapa saat kemudian kami tiba di belakang kediaman Tuan Fretes, di mana Ayah dan Tuan Fretes sedang membakar sampah-sampah kering. Api berwarna jingga berkobar-kobar di hadapan mereka.
“O Pai2 ,” panggil Augusto. Tuan Fretes menoleh, terkesima beberapa saat melihat anak dan putra pelayannya yang sedang mendekat dengan wajah lebam. Aku mengikuti di belakang Augusto, mencoba melirik Ayah, dan melihatnya sedang menggelengkan kepala sambil menahan cengiran.
“Berkelahi lagi?” tanya Tuan Fretes. Augusto mengangkat bahu sambil mengambil selembar daun kering yang menggelepar di sisi kakinya dan membuangnya ke dalam api menyala-nyala.
Aku menghampiri Ayah dan mengambil sapu lidi yang ada di tangannya. “Aku akan menggantikan Ayah.”
Setelah itu Ayah dan Tuan Fretes meninggalkanku dan Augusto yang termenung menatap api dengan tatapan merana.
“Saat rumahmu terbakar oleh api, tanpa memikirkan api itu berasal dari dalam atau dari luar rumah, kita pasti akan berusaha memadamkannya,” kata Augusto.
“Kewajiban kita untuk mencegah perang terjadi. Namun, jika perang itu benar-benar terjadi, siapapun yang memulainya, kita harus mempertahankan diri,” kataku.
“Kau mengingatnya dengan cukup baik,” Augusto pasti akan tersenyum beberapa saat sebelum itu. Tapi ketika rasa sakit akibat berkelahi itu semakin terasa, kami berusaha melakukan gerakan bibir sesedikit mungkin.
“Itu kata-kata Thomas Jefferson , bukan?” tanyaku; nyaris tanpa menggerakkan bibir.
“Hm,” sahutnya dengan ekspresi datar.
Malam harinya, di kamar Augusto, setelah seorang wanita tua dari desaku merawat luka-luka kami, aku dan Augusto sibuk membicarakan rencana kami memadamkan “api” di antara kami dan anak-anak yang dulunya adalah teman-temanku. Kini masalahnya, bagaimana cara menemukan hal yang menjadi kelemahan anak-anak itu, seperti yang dilakukan Toyotomi Hideyoshi pada Benteng Takamatsu?
Berbagai cara dan ide bermunculan, namun tak ada satu pun yang akan terealisasi dengan benar. Dengan putus asa, Augusto melempar-tangkap sebuah buku tebal bersampul kulit yang akan dibacakannya untukku. Augusto melempar buku itu sekali lagi, tepat ketika pintu kamar terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang akan masuk; Augusto mengerang dengan tiba-tiba. Aku tidak menoleh, tapi, dari suara yang dihasilkan, aku menduga buku dengan sampul kulit itu telah menimpa kepalanya.
“Aku lupa membicarakan ini sebelumnya, tapi besok aku akan ke kota,” kata Tuan Fretes. Dia sudah duduk di ujung ranjang Augusto. “Apakah ada yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu?”
Augusto tidak menjawab, terlihat berpikir. Tuan Fretes menatapku, “Apakah ada yang kau inginkan?”
Aku berpikir sejenak, lalu ide itu melintas di kepalaku. Aku melompat mendekat pada Augusto dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Aha!” dia berteriak keras beberapa detik kemudian, lalu meringis kesakitan saat luka yang telah mengering di bibirnya kembali pecah.
***
Rencana kami berhasil dengan baik. Beberapa hari setelah pergi ke kota, Tuan Fretes pulang dengan membawa berbagai barang. Dia meletakkan karung kecil di hadapan kami ketika Augusto sedang bersamaku di dapur untuk membuat teh. Tanpa mengatakan apapun, Tuan Fretes mengangkat alis dan pergi. Aku dan Augusto saling bertukar pandang, lalu, dengan tidak sabar, menyerbu karung itu dan membukanya. Kami menahan nafas saat melihat lebih dari sepuluh gasing di dalam karung itu.
Teh di dapur segera terlupakan. Aku dan Augusto, tanpa berbicara satu sama lain, berjalan tergopoh-gopoh menuju sungai dengan menggotong sekarung gasing. Seperti dugaan kami, anak-anak itu sedang bermain di sungai. Aku dan Augusto terhenti. Memandang anak-anak itu dengan jantung berdebar-debar karena dua alasan. Pertama, karena gelisah memikirkan apakah rencana itu akan berhasil. Kedua, karena kami takut pulang dengan lebam-lebam di wajah kami.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan kami, insting mereka memerintahkan untuk menghampiri kami. Dengan wajah galak, Bogel, yang terbesar di antara mereka, merebut karung di tanganku dan Augusto.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara kasar. Begitu membukanya, wajahnya seketika merona. Aku mengenali ekspresi penuh damba pada wajahnya saat itu. Bagaimanapun, aku lebih lama berteman dengannya dari pada dengan Augusto.
“Itu punya kalian,” kata Augusto dengan suara gemetar. Anak-anak itu menatap Augusto dengan ekspresi tidak percaya. “Ayahku yang membelikannya. Ambillah,” kata Augusto. Aku heran dengan suaranya yang terlalu gemetar. Maksudku, aku tidak mengira dia akan setakut itu. Saat menoleh untuk menatapnya, aku menyadari bahwa itu bukanlah rasa takut.
“Aku selalu ingin berteman dengan kalian,” katanya. Suaranya bergetar karena emosi yang tidak terduga. “Tapi kenapa kalian selalu memperlakukanku dan dia dengan kejam?”
Bogel terlihat kehilangan kata-kata. Dia menggeleng lalu berkata, “Tapi kau kulit putih! Kau penjajah!”
“Aku bukan penjajah!” teriak Augusto. Setelah itu dia tidak mengatakan apapun dan menangis, bahkan ketika aku membimbingnya pulang.
Kami duduk di teras rumah ketika senja sore itu membuat bayang-bayang pepohonan memanjang, sehingga rumah terlihat lebih gelap.
“Aku bahkan bukan kulit putih,” kata Augusto dengan mata sembab. “Aku bangsa Kaukasian.”
“Apakah itu berbeda?” tanyaku.
Augusto mengangguk. Bogel dan anak yang lain muncul tiba-tiba tanpa kami sadari sebelumnya. Bogel terlihat salah tingkah, tapi lalu berkata kepada Augusto, “Kau serius tentang gasing-gasing itu?”
Augusto berdiri, menghampiri mereka, lalu mengangguk.
“Terimakasih,” kata Bogel, diikuti anak-anak yang lain.
“Apa kita teman sekarang?”
Bogel menunduk malu, lalu mengangguk. Augusto memeluknya seketika. Aku tidak ingin kehilangan momen itu dan berlari menghampiri mereka untuk memeluknya. Anak-anak yang lain juga memeluk kami setelah itu.
Senja itu, api di antara kami berhasil dipadamkan. Aku tahu sebenarnya mereka adalah teman-teman yang baik. Hanya saja, sebelumnya, mereka tidak ingin membuka diri kepada orang yang terlalu berbeda. Hal sederhana seperti gasing—atau malah tangisan Augusto?—telah membuka diri mereka kepada Augusto. Sebagai hadiah atas ideku, Augusto mengajariku membaca untuk pertama kalinya malam itu.
***
Suatu hari di bulan Januari tahun 1940, Tuan Fretes meninggal. Ayahku meninggal beberapa hari setelahnya. Bahkan, dengan keberadaan Augusto di rumah besar itu, semuanya tetap terasa begitu kosong. Seperti ada sesuatu yang salah.
Kami duduk di teras rumah pada senja setelah pemakaman ayahku, persis seperti sepuluh tahun sebelumnya, ketika kami berusia sembilan tahun. Senja itu, Augusto mengutarakan keinginannya untuk pergi dari tempat ini.
“Terlalu banyak kenangan di tempat ini,” katanya. “Beberapa hari terakhir aku hanya menutup mata tanpa tidur di malam hari, dengan harapan, ketika membuka mata, kita akan kembali ke masa-masa itu.”
Aku tersenyum. “Mungkin malam ini aku pun akan begitu.”
“Aku berpikir,” katanya dengan suara berbisik, “apakah kau akan baik-baik saja.” Dia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, “Apakah tidak apa-apa kalau aku pergi meninggalkanmu?”
Aku menatap wajahnya, dan dia menatap wajahku. Aku tahu, tidak ada yang bisa kukatakan untuk mencegahnya pergi. Seminggu setelah itu, aku menatap lekat-lekat mata cokelat Augusto untuk terakhir kalinya. Saat-saat itu begitu emosional dan dia memelukku erat-erat.
“Selama ini aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayan,” katanya. “Kau adalah saudaraku.” Dia melepas pelukannya, mencengkeram bahuku erat-erat. Dia tersenyum, tapi aku melihat matanya berkilau oleh air mata. “Semua bukuku kini milikmu. Kau bisa membaca kisah Toyotomi Hideyoshi dengan leluasa sekarang.”
Aku tersenyum tanpa berkata-kata, karena aku tahu, mengucapkan sepatah kata saja akan membuatku menangis.
“Selamat tinggal, saudaraku,” katanya sambil berjalan menjauh.
***
Ada kerinduan yang menyeruak di antara hujan petang itu, di bulan Februari tahun 1941. Aku berdiri di depan jendela di kediaman baruku di Djodipan, Malang. Tetes-tetes hujan sebesar butir peluru memberondong tanah. Tangan kananku menggenggam selembar kertas, sepucuk surat dari Augusto, singkat, tapi sanggup menggugah suasana hatiku menjadi tidak menentu.
Tepat sehari setelah kepergian Augusto pada bulan Januari tahun 1940, aku memutuskan untuk pergi dari tanah kelahiranku. Sebelum itu, aku meminta Bogel menjaga dan merawat rumah Tuan Fretes dan meninggali kamarku. Di Malang-lah pada akhirnya aku memilih kehidupan baruku. Di kota itu, aku bekerja sebagai seorang juru cetak di sebuah percetakan surat kabar dan berbagi rumah dengan Kromo (dia bekerja di Radio Goldberg ). Pekerjaanku cukup merepotkan, karena kala itu percetakan-percetakan masih menggunakan handset; huruf demi huruf harus disusun membentuk kata, kata per kata disusun membentuk kalimat di sebuah permukaan. Setelah seluruh alinea tersusun, aku akan memasukkannya ke mesin cetak dan mulai mencetak lembar demi lembar; harus berhati-hati agar tanganku tidak terjepit mesin cetak saat meletakkan selembar kertas dan mengambilnya. Jika pencetakan telah selesai, aku akan melepas huruf-huruf itu dan menyimpannya untuk kemudian hari. Lebih dari setahun aku menjalani hidup di tempat ini hingga pada suatu siang di bulan Februari tahun 1941, Bogel—terlihat lebih hitam dan kurus—tiba-tiba muncul di kediamanku untuk mengantarkan sepucuk surat.
Aku membukanya, isinya cukup singkat. Augusto memberitahuku bahwa saat itu dia tinggal di sebuah kota di Jepang. “Bukan kota di mana istana Toyotomi Hideyoshi berada,” tulisnya. “Tapi aku akan mengunjunginya suatu hari nanti.”
Senyum bahagia mengembang di bibirku. Aku menuliskan balasan untuknya, mengirim surat itu keesokan harinya, dengan harapan balasan darinya akan meluncur dengan cepat mengarungi lautan. Sejak itu, setidaknya dalam setahun akan selalu ada sepucuk surat darinya untukku.
***
Pada 7 Desember 1941 pagi, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menyerang Honolulu, Hawai. Serangan ini dikenal dengan Serangan Pearl Harbor dan memicu pecahnya Perang Pasifik. Dengan menggunakan taktik Jerman, Jepang melancarkan perang kilat ke Asia Tenggara. Negara-negara jajahan Barat jatuh ke genggaman Jepang; Nusantara jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942, dan, pada 8 Maret 1942, Jepang memasuki Malang.
Jepang mengeluarkan sebuah pengumuman yang intinya berupa larangan untuk mencetak segala hal yang berhubungan dengan pengumuman atau penerangan, kecuali untuk badan-badan yang mendapatkan izin. Dengan peraturan baru itu, penerbitan tempatku bekerja ditutup dan aku kehilangan pekerjaan. Kromo sudah lama kehilangan pekerjaannya, tapi dia beruntung karena pada akhinya bekerja di eks-radio Belanda yang diperbaharui menjadi Malang Hosokyokai6 setelah menyatakan bersedia mendukung alat propaganda Jepang itu.
Kromo dan rekan-rekannya melakukan kegiatan “bawah tanah”—dengan melakukan observasi siaran radio asing—memasuki tahun 1944 untuk menggali informasi tentang apa yang terjadi di dunia luar. Mereka harus memperhitungkannya dengan tepat karena, jika tidak, mereka akan bernasib sama dengan seorang wartawan Domei7 yang dibunuh karena dituduh mendengarkan siaran radio musuh. Melalui radio-radio asing itu, kami mengetahui kejadian-kejadian mendebarkan di awal Agustus 1945.
Saat itu aku baru saja memasuki rumah ketika Kromo mengatakan sebuah kabar yang membuatku membeku selama beberapa saat. Sebuah bom atom telah dijatuhkan Amerika di atas Hiroshima pada tanggal 6 Agustus. Aku ingat tubuhku yang menjadi dingin dan membeku. Suara dentuman bom itu seakan terdengar di telingaku, membuatnya berdenging untuk beberapa saat.
Hari itu juga, dengan jantung berdegub kencang, aku menulis surat untuk Augusto. Aku bersepeda dengan kencang menyusuri Pecinan8 menuju Kantor Pos dan Tilgram9 di Jalan Kayutangan. Mendekati Alon-alon, terlihat gedung-gedung megah yang mengelilinginya, di antaranya Javasche Bank10 , Palace Hotel11 , Gedung Societeit Concordia12 , sebuah gereja bergaya Neo Gothik, gedung Asisten Malang Residen13 , dan Kantor Pos dan Tilgram sendiri. Aku menghentikan sepedaku yang melaju begitu kencang di depan Kantor Pos dan Tilgram, membuat roda depan sepedaku berdecit nyaring. Begitu masuk ke dalamnya, aku menjalani beberapa prosedur, dan mengirim surat itu; berharap Augusto masih akan membaca suratku.
***
Hari ini, ketika aku berdiri kembali di kediaman Tuan Fretes, adalah bulan Agustus tahun 1957, dua belas tahun sejak surat terakhir yang kukirimkan untuk Augusto, sahabatku, tak berbalas. Bagiku, ini adalah waktu yang cukup lama untuk membuktikan satu hal: bahwa Augusto telah tiada, tepat di hari ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima.
Aku berjalan ke belakang rumah yang pernah megah ini, dan melihat halaman belakang. Samar-samar, aku seakan mendengar suara dua langkah kecil yang terseret-seret, lalu suara Augusto yang memanggil ayahnya, “O Pai.”
Tuan Fretes menoleh, di sebelahnya berdiri ayahku yang menopangkan berat tubuhnya pada gagang sapu lidi. Aku dan Augusto muncul dari sesemakan dengan wajah lebam di sana-sini dan mendekati api. Aku menatap mata cokelat gelap milik Augusto dengan haru, sekali lagi. Mata itu memantulkan api yang berkobar di hadapan kami, terlihat menyala-nyala, lalu aku menghampiri sahabatku yang telah lama pergi dan memeluknya untuk melepas rindu.
Kenzarah Zhetira Alam adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta, Penulis Novel “Kick-Off!!!”
Catatan: 1. Berdasarkan The Swordless Samurai Pemimpin Legendaris Jepang abad XVI oleh Kitami Masao, diedit oleh Tim Clark. DIterbitkan di Indonesia oleh Zahir Books.
2. Pai adalah Ayah; dalam bahasa Portugis.
3. Thomas Jefferson adalah Presiden ke-3 Amerika Serikat. Masa jabatan: 1801-1809.
4. Radio Goldberg, berada di Toko Goldberg, sekarang Jalan Basuki Rahmat. (http://www.rri-malang.com/history/index.html)
5. Serangan Jepang ke Honolulu berdasarkan sumber Wikipedia.
6. Terletak di Jalan Betek, sekarang Jalan Mayjen Pandjaitan.
7. Bernama Koesen, pembunuhnya bernama Kenpei. Berita lain menyebutkan Koesen dibunuh karena menyembunyikan buronan Jepang. Sumber: http://www.stikosa-aws.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157:sejarah-pers-indonesia-pada-masa-penjajahan&catid=138:artikel&Itemid=107
8. Sekarang Jalan Pasar Besar.
9. Sekarang sudah dibongkar.
10.Sekarang Bank Indonesia.
11.Sekarang Hotel Pelangi.
12.Sudah runtuh, di atasnya dibangun pertokoan.
13.Terletak di selatan Alon-alon, sekarang sudah dibongkar.
Gambar diunduh dari health.detik.comAdalah seorang bocah yang senang bertanya pada Ayahnya ketika menurutnya ada sesuatu yang janggal. Suatu hari rumahnya didatangi pengemis dan bocah itu melemparkan uang kepada pengemis itu. Sang Ayah pun menegurnya. Lalu bocah itu membela diri, katanya,”Ayah, orang itu pemalas. Badannya masih sehat tapi mengemis.”
“Aku menyuruhmu memberi uang dengan cara yang baik, supaya ia belajar malu. Kalau kamu ingin menjadi anak baik, lakukan dengan cara yang baik.”
Suatu hari datanglah penjaja makanan keliling ke rumah mereka. Oleh Ayahnya, si anak disuruh membeli. Tetapi karena sebelumnya ia pernah membeli dan makanan itu tidak enak, si anak protes,”makanannya tidak enak Yah.”
Kata sang ayah,”belilah. Lama-lama ia akan membuat makanan yang enak untukmu. Ia menjual makanan karena tidak mau menjadi pengemis yang malas itu.”
Sang anak pun terdiam.
Ketika dewasa, bocah itu paham maksud ayahnya bahwa memberi tidak bisa dengan cara melempar dan ketulusan perbuatan lebih penting dari nasehat terbaik. Lalu ia pun rindu jajanan bocah yang dulu sempat dikatainya tidak enak.
Ilustrasi dari febhkfileswordpressdotcomPada awal tahun 1981 negara Trieste membuka lowongan kerja menjadi pegawai negeri. Seluruh instansi pemerintah menerima surat lamaran kerja dari masyarakat umum untuk ujian duduk di birokrasi pemerintahan. Mulai dari ijazah Pendidikan SMA, Sarjana Muda, Sarjana serta Master dan Doktor dibuka selebar-lebarnya oleh pemerintah pusat sampai ke daerah.
Tigor, Mikail dan DR Pardomuan pada akhir 1980 sudah memprediksi kebijakan negara ini. Sehingga mereka tak begitu heran melihat seluruh lapisan masyarakat berbondong-bondong membeli map, melegalisir ijazah, foto kopi berkas lamaran, mencetak pas foto dan lain lain, dan lain lain. Sebuah kesempatan emas untuk hidup bermalas-malasan dapat gaji buta dan bisa korupsi sebagai pegawai negeri adalah incaran penduduk negara Trieste. “Dasar Negara Pegawai” Kata Tigor di atas motor bergoncengan dengan Mikail.
Memang Forum Diskusi Pelangi (FDP) yang dibentuk DR Pardomuan pada acara Diskusi Tutup Tahun bulan Desember yang lalu mengambil tema: “Trieste akan Menjadi Negara Pegawai”. Cukup hangat diskusi tersebut pada waktu itu. Semua pihak yang hadir sangat pesimis di Trieste dapat terwujud negara yang demokratis dan menjunjung tinggi keadilan di tengah-tengah masyarakat. Omong kosong test ujian pegawai negeri yang akan berlangsung dinilai secara objektif. Sebelum ujian dilaksanakan, sudah banyak anak pejabat militer, pengusaha dan pejabat negara yang menitipkan nama anaknya maupun nama anak orang lain yang berani memberikan uang sogok. Jangan harap anak rakyat terlantar dapat lulus menjadi pegawai negeri posisi menengah ke atas. Pasti anak orang terlantar selalu menjadi pegawai negeri dengan status rendah. Karena posisi-posisi penting pegawai negeri sudah digarap oleh anak-anak penguasa status quo Trieste. Dan, hampir dapat dipastikan bahwa anak-anak mereka yang menjadi pegawai negeri akan meniru watak korupsi orang tuanya.
Watak kerajaan-kerajaan yang ada di bumi pertiwi Trieste berabad abad yang lalu sangat kaku dengan sistem feodalismenya. Oleh sebab itu untuk mengekang suara-suara dari hati nurani masyarakat sipil yang menuntut keadilan, watak feodalisme tersebut harus dipertahankan dalam birokrasi pemerintahan. Agar pemegang tampuk pemerintahan negara dari sejak dulu dapat mempertahankan status kekuasaannya sampai sekarang, tanpa gangguan dari kekuatan pihak oposisi. Apalagi penguasa negara dilindungi kekuatan militer yang terus dipelihara dengan baik. Selalu siap sedia melakukan intimidasi secara brutal di tengah-tengah masyarakat. Sebagai konsekuensinya, korupsi kolusi dan nepotisme menjadi karakter budaya pemerintahan yang saat sekarang ini semakin berurat berakar di negara Trieste. Dokumentasi Forum Diskusi Pelangi tentang hal ini cukup rapi. Ketekunan program investigasi dan penelitian tentang kasus-kasus pelanggaran demokratisasi oleh negara dapat dipertahankan secara ilmiah dan berkesinambungan.
Forum Diskusi Pelangi hadir di Rilmafrid atas prakarsa DR Pardomuan. Doktor antropologi yang diperolehnya dari Universitas Uni Sovyet tahun 1978. Karena DR Pardomuan sering berdebat panjang dengan sesama dosen di Universitas Sandiega alumni Eropa Barat. Bahkan beberapa kali perdebatan itu hampir berakhir dengan pertikaian fisik. DR Pardomuan pernah juga dua kali diinterogasi oleh polisi akibat argumentasinya tentang ilmu antropologi dinilai bernuansa komunis. Wajar saja, karena beliau adalah alumni Universitas Uni Sovyet.
“Para doktor alumni Eropa Barat sarat dengan ideologi kapitalisme”. “Dan mereka terlalu memaksakan gagasan mereka di dunia perguruan tinggi” Padahal belum tentu pikiran Eropa Barat itu sesuai dengan karakter budaya di negara kita, Trieste” Inilah argumentasi DR Pardomuan kalau ditanya alasannya mengundurkan diri dari universitas ternama itu.
Pemahaman DR Pardomuan tentang wacana ilmu-ilmu sosial dan penguasaannya mengenai selera kaum muda terhadap ilmu pengetahuan, membuat gairah Tigor dan Mikail terus menjalin kontak dengannya. Tigor dan Mikail berhasil mengumpulkan kawan-kawan mereka dari Universitas Rilmafrid dan Universitas Zatingon dari berbagai fakultas untuk mendirikan FDP. Tentunya kawan kawan yang tidak mau dicemari oleh watak komsumtif dunia pendidikan di negara Trieste.
Pada acara forum diskusi perdana bulan Januari tahun 1981, ditetapkan temanya adalah : Strategi Pengembangan Masyarakat. Tigor ditugaskan menyiapkan 4-5 lembar tulisan untuk sekedar bahan pengantar diskusi. Betapa beratnya tugas ini diemban Tigor, tapi kalau ditolak maka Tigor merasa akan kehilangan kesempatan untuk melatih diri menulis karya ilmiah. Gara gara tugas berat inilah Tigor hanya setengah hati merayakan Natal dan Tahun Baru. Ia sibuk mengumpulkan buku-buku referensi. Tapi, sampai minggu pertama Januari tak sebuah kata pun dapat ditulis. Dia bingung tujuh keliling.
bersambung…
*)Bahasa batak yang berarti ‘Kisah dari Tanah Rilmafrid’
TRADISI ADZAN PITU [ TRADISI ADZAN TUJUH ]: Kumandang Adzan Tujuh di MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA, Cirebon
Oleh Rere ‘Loreinetta
Biasanya adzan dilakukan oleh satu orang. Namun, apa yang bisa kita lihat di mesjid unik ini sangat berbeda. Mesjid ini adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.
Di masjid yang dibangun sekitar tahun 1480 ini, adzan justru dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus secara bersamaan.
Inilah tradisi adzan pitu di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Adzan dikumandangkan serentak oleh tujuh orang muadzin pilihan di masjid peninggalan Sunan Gunungjati. Suasana terasa khusuk saat koor panggilan sholat berkumandang. Satu hal yang tidak akan kita pernah temui di belahan dunia manapun. Subhanallah.
Tradisi ini telah berlangsung sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, adzan pitu dilantunkan setiap waktu sholat, namun kini hanya dilakukan pada saat sholat Jumat saja, pada azan pertama.
ASAL USUL MENGAPA “TUJUH (=PITU)”
Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon. Masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon dan dibangun sekitar tahun 1480 M.
Wali Songo berperan besar terhadap pembangunan masjid ini. Sunan Gunung Jati yang bertindak sebagai ketua pembangunan masjid ini menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Nama masjid ini sendiri diambil dari kata “sang” yang artinya keagungan, “cipta” yang artinya dibangun, dan “rasa” yang artinya digunakan.
Pembangunan masjid ini melibatkan 500 pekerja dari Demak, Majapahit, dan Cirebon sendiri. Selain itu, yang cukup menarik, didatangkan Raden Sepat (Masyarakat sekitar menyebut : Raden Sepet).
Raden Sepat merupakan arsitek Majapahit yang menjadi tahanan perang Demak-Majapahit. Raden Sepat didatangkan dari Demak. Tindakan ini dilakukan oleh Demak sebagai imbalan kepada Cirebon karena telah membantu mengirim pasukan dalam penyerangan ke Majapahit.
Raden Sepat berperan dalam membawa tukang-tukang dari Majapahit. Bahkan, menurut cerita dalam babad dikatakan bahwa serambi utama masjid itu berasal dari kota Majapahit. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter persegi. Tempat imam menghadap barat dengan tingkat kemiringan 30 derajat arah barat laut.
Keunikan lain dari masjid ini adalah tidak mempunyai kubah. Tidak adanya kubah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini diawali oleh cerita kumandang adzan pitu (adzan tujuh). Menurut informasi dari buku Babad Cirebon, adzan tujuh atau dikenal dengan sebutan adzan pitu berawal sejak masa awal perkembangan Islam di Cirebon.
Konon di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dahulu ada musibah yang menyebabkan tiga orang muadzin tewas berturut-turut secara misterius. Ketika masjid ini didirikan, memang masyarakatnya sebagian besar belum memeluk agama Islam. Mereka menolak pembangunan masjid ini. Penolakan itu diwujudkan melalui kekuatan sihir yang menyebabkan kematian misterius tiga muadzin masjid ini.
Konon saat itu, sihir itu melalui perwujudan makhluk siluman bernama Menjangan Wulung yang bertengger di kubah masjid, dan menyerang setiap orang yang melantunkan adzan maupun hendak sholat.
Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Menjangan Wulung tidak senang dengan penyebaran agama Islam, dan ingin menghambatnya. Kondisi ini membuat resah umat Islam.
Akhirnya para wali meminta petunjuk Allah atas masalah yang terjadi.
Para wali menganggap ada satu kekuatan khusus yang menolak Islam berkembang di daerah Cirebon. Setelah Sunan Gunungjati bermusyawarah dengan para tetua dan memohon petunjuk dari Allah, Sunan Kalijaga mendapat petunjuk untuk segera mengumandangkan adzan yang diserukan oleh tujuh orang muadzin sekaligus sebelum sholat, lalu dititahkan oleh Sunan Gunungjati, kemudian disebut tradisi adzan pitu. Adzan pitu merupakan titah Sunan Gunungjati untuk mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam bernama Menjangan Wulung.
Tujuh orang yang melantunkan adzan ini merupakan pengurus masjid yang telah dipilih penghulu masjid. Meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muadzin adzan pitu sebelumnya. Mereka mengaku, mendapat ketenangan dan lebih khusuk beribadah sejak menjadi muadzin adzan pitu.
Pada saat akan melaksanakan shalat Subuh, itulah pertama kali adzan pitu (tujuh) dikumandangkan. Bersamaan dengan itu, dentuman besar terdengar dari kubah masjid. Kubah masjid mendadak jebol dan hilang.
Bersamaan dengan itu seketika binasalah kekuatan gaib yang disebarkan oleh makhluk halus bernama Menjangan Wulung. Ternyata selama ini Menjangan Wulung bertengger di atas kubah tersebut. Setelah Menjangan Wulung dapat dikalahkan, pemiliknya masuk Islam.
Menurut cerita, karena ledakan dahsyat tersebut, kubah masjid itu terlempar ke Banten. Itu sebabnya mengapa hingga saat ini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak mempunyai kubah sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah.
Sampai sekarang tradisi adzan pitu masih dilaksanakan. Kalau dahulu adzan pitu itu dikumandangkan ketika shalat Subuh, saat ini adzan pitu dikumandangkan pada saat shalat Jumat, oleh tujuh orang dengan berpakaian serba putih.
BANGUNAN MASJID YANG UNIK
Masjid Sang Cipta Rasa ini juga dikenal sebagai ‘masjid kasepuhan’, karena berada di lingkungan Keraton Kasepuhan. Meskipun masjid ini telah dipugar beberapa kali, namun sebagian besar bangunannya masih asli.
Selain adzan pitu, masjid yang didirikan Sunan Gunungjati tahun 1478 ini memiliki sejumlah keunikan lain. Diantaranya adalah tempat wudhu dengan mata air yang tak pernah kering. Sejumlah warga bahkan mengambil air yang disebut Banyu Cis ini untuk dijadikan obat berbagai penyakit manusia dan kesuburan sawah.
Di dalam masjid terdapat tiang yang disebut saka tatal. Tiang ini dibuat oleh Sunan Gunungjati dari sisa-sisa kayu yang disatukan. Lewat tiang ini, Sunan Gunungjati memberi pesan bahwa persatuan yang kokoh, bisa menopang beban seberat apapun.
Pintu masjid dibuat rendah, hanya seukuran badan manusia. Sehingga siapapun yang masuk atau keluar masjid, harus merunduk. Maknanya adalah, saat beribadah di hadapan Tuhan, manusia tidak boleh sombong.
Di dalam masjid terdapat dua pagar, yakni di bagian kanan depan dan kiri belakang. Dua ruangan khusus ini hanya boleh diisi oleh keluarga Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoma, dua kesultanan yang masih bertahan di Cirebon.
Saat bulan puasa, tak hanya warga Cirebon yang beribadah di masjid ini. Sejumlah peziarah maupun warga dari luar kota memperoleh pengalaman spiritual saat beribadah di masjid ini.
Gambar diunduh dari kompas.comTetapi setiap mata memang berada pada urusannya masing masing. Bahwa tak ada satu pun pembicaraan yang benar benar membicarakan hal yang sama, bilangan perbedaan terlalu mustahil untuk dilenyapkan. Ada yang menyembunyikan mengapa semuanya menjadi sebegini tak tersatukan. Rentang perjalanan telah menemukan terlalu banyak hal yang seharusnya tak penting untuk ditemukan. Pakaian kita berlimpah, senjata kita terlalu beragam, pemandangan kita terlampau luas, bukan hendak aku mengatakan bahwa kita belum siap akan apa yang secara angkuh kita terjang bersama, tetapi memang kita tak pernah memandang diri kita setajam yang seharusnya, dan itu pula yang menutupi kita dari memandang apa yang seharusnya terpandangkan bagi kita. Menyedihkan sekali bahwa telah tercipta terlalu banyak dahaga yang tak memungkinkan terpuaskan. Apakah kita harus mencari sesuatu yang lain, yang sangat kita tahu, pasti mencurigakan. Seakan setiap dari kita berada dalam kebingungan yang hebat, sebuah ruangan luas dengan seribu pintu keluar, yang hanya satu pintu saja yang benar benar mengeluarkan, maka apakah yang bisa kamu dan aku lakukan untuk kerumitan berlipat tak terbatas ini.
Ah, bukan. Aku masih mengetahui apa yang hendak engkau tuju dari sejuta cabang yang maya. Untuk mengakhiri ini. Menuju sebuah tempat yang bisa dikatakan akhir, jika toh memang yang seperti itu ada. Masih ada yang bisa kupantaskan sebagai yang mengemudi kendara yang tak berkesudahan, bukan berarti aku tak mengambil peranku. Hanya saja aku mengakui akan siapa mata yang menembus pandang dalam haq yang sepenuhnya benar. Dan aku sebagai ksatria, sangat mempunyai keberanian untuk bertindak sendiri maupun bertindak tak melibatkan diri. Keindahan hanya bisa dimenangkan melalui apa yang tak berada dalam kendalimu. Pintu yang itu memang nyata adanya, dan kamu tahu, dia terbentuk dari sejuta bekasan kegetiran yang setiapnya bagaikan sakaratul anak anak perasaanmu. Aku tak sedang menakut nakutimu, tetapi memang kamu sangatlah bodoh jika tak sanggup menatap nyala ketakutan yang tak bisa diriasi dengan apapun ini. Kutelanjangkan kepadamu akan siapa aku, hanya kamulah wadahku, yang tak sedikitpun bergeser dari tempatmu berada saat ini.
Bukan berarti, ketika seperti ini aku tak menghargaimu, sebab hanya telingamulah yang bersetuju kepada suaraku, akan seperti apa merdu itu. Carilah tempat di sana seperti ketika aku mencari tempat di sini, kamu yang menuntunku dan aku yang menuntunmu, dan kita lihat betapa kebingungan tak akan pernah bertempat. Tak usah mencari tahu dengan apa kita tersambungkan, kekasih, aku mendengar suaramu bagai kamu di sini. Maka, setujuilah segala hal yang dinuranikan oleh hatimu, sebab di situ tak ada yang kamu dengar kecuali suaraku. Ketika pertemuan terjadi, ketika nanti, kamu sudah mengenal siapa aku, dan aku sudah mengenal siapa kamu. Ketika itu cinta telah sangat sangat bertanggungjawab. Dan, pasti, kita bisa membicarakan hal yang sama, benar benar sama. Kini.
Ilustrasi dari dayu_ledys_blogspotdotcomSeorang gadis cilik naik ayunan,
tubuhnya yang mungil meregang, mencoba tegak melawan ketidakseimbangan.
Kaki menegang ke bawah, sedikit lebar mengangkang,
tangan memegang tali di kanan kiri kepala, sedikit lebar terentang.
Aku melihatnya seperti ‘the vitruvian man’
Ia sedikit menahan tangis ketika dengan segala daya upaya, ayunan tidak terayun.
Bocah lain tertawa, usianya sedikit lebih tua.
Gadis mungil tak berdaya,
Ia mencoba meniru dari sesuatu yang pernah dilihatnya,
dari yang lebih tua, dari yang lebih bisa,
Ia meniru gerak dalam ingatannya tentang bagaimana berayun dan mengibarkan gelombang di rambutnya.
Badan sedikit membungkuk, memusatkan tenaga di kedua kakinya,
Awalnya hanya sedikit bergoyang, kemudian perlahan mulai melayang,
Tak berapa lama, ia sudah merasa bagai terbang.
Lalu saya berpikir, mengapa saya tidak suka orang yang meniru orang lain,
mungkin itu langkah awal orang untuk menjadi dirinya.
Dengan sedikit terlambat di usia senja,
seseorang menjadi dewasa pada usia yang tidak sama.
Lalu saya rindu bermain ayunan di belakang rumah yang, entah, sudah berapa tahun saya lupakan.
Resensi Riza Fitroh K*
Editor Ragil Koentjorodjati
Kematian, adalah kejadian paling pasti yang memberikan konfirmasi
atas kesementaraan ini. Adanya kematian sejelas adanya diri kita: maka,
tak ada alasan untuk tidak membicarakannya.
Mengungkap tabir akan arti dari sebuah kematian antara ada dan mengada-ada. Kematian sering kita lihat dalam kehidupan bersosial. Fenomena kematian sangatlah dekat dengan kita, bahkan kematian adalah suatu sisi lain dari kehidupan. Namun, tahukah kita akan makna dari kematian itu sendiri. Konsep kematian yang berkembang di tengah masyarakat pada umumnya adalah berpisahnya antara ruh dan tubuh. Dalam kehidupan bersosial kematian selalu dinilai dengan hilangnya harapan, terputusnya cita-cita dan hilangnya eksistensi diri dari kehidupan nyata.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kematian itu berwujud? Mengapa pula kematian harus kita takuti, mengapa pula kematian dianggap sebagai sebuah kondisi yang meniadakan apapun yang ada pada manusia sedangkan kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang nyata untuk kita. Dalam buku ini kita akan banyak bertanya-tanya tentang bagaimanakah hakikat dari kematian itu sendiri dan apakah sebenarnya kita membutuhkan kematian itu. Teka-teki tentang kematian tak akan pernah hilang dan lenyap begitu saja tanpa kita menyelami dari makna mati itu sendiri.
Persepsi yang terbangun tentang apakah yang menentukan keberadaan seorang individu adalah tubuh biologisnya, jiwanya atau kemampuan untuk memiliki kesadaran diri, merupakan persoalan yang tak bisa kita abaikan ketika membicarakan tentang kematian yang terjadi pada manusia. Jikalau kematian selalu diidentikan dengan tangisan, bendera putih, batu nisan, kain mori, dan diiringi dengan berselang selingnya tangisan dari para peziarah, benarkah kematian selalu identik dengan kesedihan dan keputusasaan?
Mengingat akan fenomena penciptaan manusia, di sana harus ada beberapa peristiwa kematian, dalam perkembangannya kita harus merelakan pula kematian-kematian itu sehingga terwujudlah bentuk yang sangat sempurna seperti yang ada pada diri masing-masing kita. Ketika kita membicarakan tentang kematian, kemudian kita akan menjumpai istilah bahwa kematian adalah sebuah pilihan atas keadaan, seperti apa yang dilakukan oleh Socrates yang mati karena meminum racun cemara. Lalu benarkah kematian sebagai sebuah noktah atas penerimaan diri akan takdir?
Konsepsi yang mengendap dalam alam pikiran kita tentang kematian adalah kematian yang terjadi pada tubuh korporeal, karena tubuh korporealah yang pernah dilahirkan sehingga memiliki kehidupan, sedangkan tubuh sosial tak pernah dilahirkan namun di-ada-kan. Dalam diri manusia tidak hanya melekat satu tubuh. Namun juga tubuh yang diadakan pula, yang bukan dihasilkan secara institusionalisasi. Mampukah tubuh sosial ini lenyap pula?
Steven Luper (2009:44-46) mengadakan satu eksperimen yang bisa membuat manusia hidup kembali dengan cara; meletakkan atom-atom penyusunnya, lantas diletakkan di tempat mereka semula, sebelum kematian itu terjadi, sehingga orang yang bersangkutan bisa hidup kembali. Bertolak dari teori Steven Luper, Sigmund Freud memperkenalkan sebuah teori Death Drive yang merenungkan tentang dorongan untuk melakukan perubahan melalui disolusi, sebuah dorongan untuk mengubah keadaan dengan mengobrak-abrik situasi yang sudah ada dan terbangun. Dalam teori ini sangat erat dengan munculnya bunuh diri sebagai sebuah perwujutan untuk mendapatkan harapannya.
Dari buku Kematian Sebuah Risalah Tentang Eksistensi Dan Ketiadaan ini kita akan mengetahui di manakah kita akan menemukan kehidupan dan dari manakah kita tahu akan keberadaan kematian itu. Pengetahuan akan kematian ini akan membuat kita lebih memahami akan kehidupan, karena kematian hanya menjadi urusan bagi orang-orang yang masih hidup, tidak pernah menjadi urusan mereka yang telah mengalaminya. Namun, hal ini tidak membawa kita semakin dekat pada pengetahuan paripurna. Di sini kita akan menemukan tentang manakah orang yang mati dan manakah orang yang hidup.
Judul buku : KEMATIAN
Sebuah Risalah Tentang Eksistensi Dan Ketiadaan
Penulis : Muhammad Damm
Penerbit : Kepik
Harga : Rp. 30.000
Tahun : 2011
Tebal : 115 halaman
ISBN : 978-602-99608-1-5
*Riza Fitroh K adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
Ilustrasi dari 3_bp_blogspotdotcom1Musim gugur telah berlalu, dan musim dingin juga telah pergi. Nadya mulai rindu dan setiap hari berpikir tentang ibu dan neneknya. Dia juga memikirkan Sasha. Surat-surat dari rumah terasa baik dan lembut, seolah-olah semua kejadian masa lalu telah diampuni dan dilupakan. Pada bulan Mei, setelah ujian, dia berangkat pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan semangat yang tinggi, dan berhenti sejenak di Moskow untuk melihat Sasha. Sasha masih sama dengan tahun sebelumnya, jenggot yang sama dan rambut acak-acakan, mata yang sama -indah dan besar- dan dia masih mengenakan mantel serta celana panjang kanvas yang sama. Tetapi ia tampak tidak sehat dan khawatir. Ia tampak lebih tua dan lebih kurus, dengan batuk yang terus menerus, dan untuk beberapa alasan hati Nadya terpukul dengan warna kelabu dan tampang Sasha yang seperti orang asing.
“Ya Tuhan, Nadya telah datang!” katanya, dan tertawa riang. “Gadisku tersayang!”
Mereka duduk di ruang percetakan yang penuh dengan asap tembakau, berbau kuat, gerah dengan tinta India dan cat. Kemudian mereka pergi ke kamar Sasha, yang juga berbau tembakau dan penuh dengan jejak meludah; dekat Samovar dingin berdiri sebuah piring pecah dengan kertas gelap di atasnya. Beberapa lalat terkapar mati di atas meja dan di lantai. Semua itu menunjukkan bagaimana Sasha mengatur kehidupan pribadinya dengan cara jorok, dan hidup bagaimanapun, mengucapkan kenyamanan adalah penghinaan. Dan jika ada yang mulai bicara dengannya tentang kebahagiaan pribadinya, kehidupan pribadinya, kasih sayang baginya, ia tidak akan mengerti dan hanya akan tertawa.
“Semua baik-baik saja, segala sesuatu yang telah berlalu, telah kembali berjalan baik,” kata Nadya buru-buru. “Ibu datang menemuiku di Petersburg pada musim gugur, ia mengatakan bahwa Nenek tidak marah. Nenek hanya masuk ke kamarku dan membuat tanda salib di dinding.”
Sasha tampak ceria, tapi ia terus batuk, dan berbicara dengan suara serak, dan Nadya terus memandangi dia, tidak dapat memutuskan apakah dia benar-benar sakit parah atau hanya berpura-pura.
“Sasha sayang,” kata Nadya, “kamu sakit.”
“Tidak, ini tidak masalah. Aku memang sakit, tapi biasa saja…”
“Oh, Sayang!” seru Nadya, dalam nada agitasi. “Mengapa kamu tidak pergi ke dokter. Mengapa kamu tidak merawat kesehatanmu? Sayangku, Sasha sayang…,” katanya, dan air mata mengalir keluar dari matanya dan entah mengapa tiba-tiba bayangan Andrey Andreitch dengan wanita telanjang dan vas, muncul di benaknya beserta semua masa lalu yang tampaknya sekarang sudah menjauh seperti masa kecilnya. Lalu ia mulai menangis karena Sasha terlihat tidak lagi baru, tidak semenarik dan berbudaya dengan tahun sebelumnya.
“Sasha sayang, kamu sangat…, sangat sakit … Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu tidak begitu pucat dan kurus. Aku sangat berhutang budi kepadamu. Kamu tidak akan dapat membayangkan berapa banyak yang telah kamu lakukan buatku, Sashaku yang baik! Kenyataannya hanya kamulah orang terdekat dan terkasih bagiku.”
Mereka duduk dan berbicara, dan sekarang, setelah Nadya menghabiskan musim dingin di Petersburg, Sasha, karya-karyanya, senyumnya, dan segala sesuatu yang ada padanya seperti berkata tentang sesuatu yang ketinggalan zaman, kuno, sesuatu dari masa lalu dan mungkin sudah mati dan dikuburkan.
“Lusa, aku akan turun ke Volga,” kata Sasha, “kemudian minum koumiss. Maksudku minum koumiss. Seorang teman dengan istrinya akan pergi denganku. Istrinya seorang wanita yang indah; Aku selalu berusaha membujuknya untuk pergi ke universitas yang kuinginkan. Aku ingin ia mengubah hidupnya.”
Setelah berbicara, Sasha mengantar Nadya ke stasiun. Sasha membawa serta teh dan apel, dan ketika kereta mulai bergerak, Sasha melambaikan sapu tangannya ke arah Nadya, tersenyum, dan bisa dilihat bahkan dari getar kakinya, Sasha terlihat sakit -sangat sakit- dan tidak akan hidup lama.
Nadya mencapai kota asalnya pada tengah hari. Perjalanan pulang dari stasiun terasa bagai siksaan yang mendera dirinya. Begitu jauh dan rumah-rumah terlihat kecil seperti sedang jongkok; tidak ada orang, tidak ada siapa pun yang ditemui kecuali seorang pianis Jerman dalam mantel berkarat. Dan semua rumah tampak terkubur debu. Nenek, yang tampak menua, tetapi tetap gemuk dan sederhana seperti biasa, melempar lengannya memeluk Nadya, menyandarkan wajahnya di bahu Nadya dan menangis untuk waktu yang lama. Nadya tidak mampu membebaskan dirinya dari pelukan yang merobek dirinya. Nina Ivanovna tampak jauh lebih tua dan tampak layu, tapi pakaian ketat berenda masih lekat di tubuhnya dan berlian berkedip di jarinya.
“Sayangku..,” katanya, gemetar seluruh tubuhnya, “sayangku!”
Kemudian mereka duduk dan menangis tanpa berbicara. Ini adalah bukti bahwa ibu dan nenek menyadari bahwa masa lalu telah hilang dan pergi, tidak pernah kembali, mereka sekarang tidak memiliki posisi dalam masyarakat, tidak ada prestise seperti sebelumnya, tidak berhak untuk mengundang pengunjung, dan semua itu seperti -ketika di tengah-tengah mudahnya hidup ceroboh, polisi tiba-tiba mendobrak pintu di malam hari dan mencari pencuri, dan ternyata kepala keluarga telah menggelapkan uang atau memalsukan dokumen- dan selamat tinggal kemudahan hidup ceroboh untuk selama-lamanya!
Nadya naik ke atas dan melihat tempat tidur yang sama, jendela yang sama dengan tirai putih naif, dan di luar jendela ada taman yang sama, renta dan berisik, bermandikan sinar matahari. Dia menyentuh meja, duduk dan tenggelam dalam pikiran. Dan dia harus makan malam yang baik dan minum teh kaya krim yang lezat. Tetapi ada sesuatu yang hilang, ada rasa kekosongan di kamar dan langit-langit yang menggantung rendah. Pada malam hari ia pergi tidur, menutupi dirinya dan untuk beberapa alasan, tampaknya dia menjadi lucu terbaring di tempat tidur yang nyaman dan sangat lembut.
Tidak berapa lama kemudian Nina Ivanovna datang, duduk sebagai orang yang merasa bersalah duduk, takut-takut memandang Nadya.
“Nah, katakan padaku, Nadya,” dia bertanya setelah beberapa saat, “kau puas? Cukup puas?”
“Ya, ibu.”
Nina Ivanovna bangun, membuat tanda salib di atas Nadya dan jendela.
“Aku telah beragama, seperti yang kamu lihat,” katanya. “Lagipula aku belajar filsafat sekarang, dan aku selalu berpikir dan berpikir …. Dan bagiku, banyak hal telah menjadi sejelas siang hari. Bagiku, tidak ada yang lebih diperlukan dalam hidup selain bahwa hidup harus terus berjalan seolah-olah kita melewati sebuah prisma.”
“Katakan padaku, ibu, bagaimana kesehatan Nenek?”
“Dia tampak baik-baik saja. Ketika kamu pergi waktu itu dengan Sasha dan telegram darimu datang, Nenek jatuh di lantai saat dia membacanya. Selama tiga hari ia berbaring tanpa bergerak. Setelah itu dia selalu berdoa dan menangis. Tapi sekarang.. dia baik-baik lagi.”
Nina Ivanovna berdiri dan berjalan sekitar ruangan.
“Tik-tok,” ketukan penjaga malam terdengar di kejauhan. “Tik-tok, tik-tok ….”
“Di atas semua yang diperlukan dalam hidup adalah bahwa hidup harus terus berjalan seolah-olah kita melewati sebuah prisma,” katanya, “dengan kata lain, bahwa hidup dalam kesadaran berarti menganalisis hidup menjadi elemen-elemen yang paling sederhana, menjadi tujuh warna utama, dan setiap elemen harus dipelajari secara terpisah.”
Apa yang dikatakan Nina Ivanovna semakin tidak terjangkau dan ketika dia pergi, Nadya tidak mendengar, karena dia sudah tertidur.
Mei berlalu; Juni datang. Nadya sudah terbiasa berada di rumah. Nenek menyibukkan diri dengan Samovar, menghela desah dalam. Di malam hari Nina Ivanovna berbicara tentang filosofi hidupnya dan dia masih saja tinggal di rumah seolah dalam situasi yang buruk, dan harus pergi ke Nenek untuk setiap pengeluaran yang dibutuhkan. Ada banyak lalat di rumah, dan langit-langit tampak menjadi lebih rendah dan lebih rendah. Nenek dan Nina lvanovna tidak lagi keluar jalan-jalan karena takut bertemu Bapa Andrey dan Andrey Andreitch. Nadya berjalan di sekitar taman dan jalan-jalan, melihat pagar abu-abu, dan tampaknya, segala sesuatu di kota itu menjadi tua, ketinggalan zaman dan hanya menunggu hari baik untuk berakhir, atau awal dari sesuatu yang muda dan segar. Oh, andai saja sesuatu yang baru, andai kehidupan yang cerah datang lebih cepat – kehidupan di mana seseorang dapat menatap langsung nasibnya dengan berani, mengetahui bahwa ada sesuatu yang benar, menjadi bahagia dan gratis! Dan cepat atau lambat, kehidupan seperti itu akan datang. Saatnya akan tiba ketika rumah Nenek, yang mana hal-hal begitu diatur, -seperti empat pelayan hanya bisa hidup dalam satu ruang kotor di bawah tanah -. Saatnya akan tiba ketika rumah yang tidak lagi punya jejak tetap dan dilupakan, tidak ada yang akan mengingatnya. Dan satu-satunya hiburan bagi Nadya adalah olok-olok anak-anak sebelah, ketika ia berjalan di kebun, mereka mengetuk pagar dan berteriak: “tunangan, sudah tunangan!”
Surat dari Sasha tiba dari Saratov. Dalam tulisan tangan menari bahagia ia mengatakan kepada mereka bahwa perjalanannya di Volga telah meraih sukses, tetapi dia telah menjadi agak sakit setibanya kembali di Saratov. Ia telah kehilangan suaranya, dan sudah dua minggu terakhir di rumah sakit. Nadya tahu arti semua itu, dan dia mulai kewalahan dengan firasat bahwa sesuatu telah terjadi. Firasat yang menjengkelkan dan pikiran tentang Sasha yang terancam bahaya menjadi begitu banyak, tidak seperti sebelumnya. Nadya merasakan gairah kerinduan pada kehidupan, rindu untuk berada di Petersburg, dan persahabatannya dengan Sasha begitu terasa manis, namun sesuatu tiba-tiba terasa menjauh dan begitu jauh! Dia tidak tidur sepanjang malam, dan di pagi hari duduk di jendela, mendengarkan. Dan pada kenyataannya dia mendengar suara-suara di bawah ruangannya; Nenek, sangat gelisah, bertanya ke sana kemari dengan pertanyaan yang cepat. Kemudian seseorang mulai menangis. Ketika Nadya turun, Nenek berdiri di sudut, berdoa di hadapan gambar suci dan wajahnya penuh air mata. Sebuah telegram tergeletak di meja.
Untuk beberapa saat Nadya mondar-mandir dalam ruangan, mendengarkan tangisan Nenek, kemudian dia mengambil telegram dan membacanya. Telegram yang mengabarkan bahwa pagi sebelumnya Alexandr Timofeitch, atau lebih sederhana, Sasha, diumumkan telah meninggal di Saratov.
Nenek dan Nina lvanovna pergi ke gereja untuk menyiapkan pelayanan berbela sungkawa, sementara Nadya terus berjalan mondar-mandir di kamar dan berpikir. Dengan jelas Nadya mengakui bahwa hidupnya telah berubah total dan berjungkir balik sesuai keinginan Sasha; bahwa -di sini –dia asing, terisolasi, tidak berguna dan bahwa segala sesuatu di sini adalah tidak berguna baginya; bahwa semua masa lalu telah tercabik darinya dan menghilang seolah dibakar dan abunya disebar kepada angin. Dia pergi ke kamar Sasha dan berdiri di sana untuk sementara waktu.
“Selamat tinggal, Sasha Sayang,” pikirnya, dan dalam benaknya, hamparan ketakjuban hidup baru yang lebar, luas, dan -bahwa hidup masih tidak jelas dan penuh misteri-, mengulurkan tangan dan menenggelamkannya.
Dia naik ke lantai atas, ke kamarnya sendiri untuk berkemas, dan pagi berikutnya mengatakan selamat tinggal kepada keluarganya, dan dengan penuh semangat kehidupan ia meninggalkan kota – ke tempat ia seharusnya tinggal selamanya.
Catatan: koumiss: sejenis minuman hasil fermentasi dan beragi.
Perhatikan: Itu bukan minyaknya yang diperdagangkan. Tetapi "omongan" soal minyak.Ada satu pertanyaan sederhana dari tetangga sebelah yang ternyata jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sesederhana pertanyaannya. Pertanyaannya begini: “Mas, banyak orang bilang negara kita itu kaya akan minyak, kalau harga minyak naik kan itu artinya kita akan tambah makmur? Tinggal kita jual minyak kita ke orang-orang, duitnya bisa untuk menghidupi rakyat kecil seperti saya. Lalu kenapa kita malah menolak harga minyak dinaikkan?”
Sejenak saya termenung. Bingung, darimana harus menjelaskan tentang ruwetnya jualan minyak kepada tetangga saya itu. Pendapat tetangga saya itu bisa jadi benar jika ia membayangkan warungnya yang jualan bensin eceran, beli dari pom bensin Rp 6.000,- lalu dijual Rp 7.000,- mendapat untung Rp 1.000,- per liter. Sebelumnya ia membeli seharga Rp 4.500,- per liter dan menjual dengan harga Rp 5.000,- per liter dari hasil pembulatan 0,9 liter. Kemudian dia membayangkan bahwa karena kita punya minyak sendiri, maka kenaikkan harga dari Rp 4.500,- menjadi Rp 6.000,- berarti ada tambahan laba Rp 1.500,- per liter. Masalahnya, benarkah kita sungguh-sungguh punya minyak itu?
Sungguh-sungguh memiliki itu jika dianalogikan sama seperti orang menanam jagung. Kita mengolah tanah, menyemai benih, memanen jagung dan mengolahnya dengan alu dan lesung untuk kemudian dimasak menjadi nasi jagung yang gurih. Itu artinya kita sungguh-sungguh memiliki jagung yang bisa saja dijual atau memilih dimakan sendiri. Tapi menjelaskan urusan minyak ternyata tidak segampang menjelaskan nasi jagung apalagi untuk konsumsi otak nasi jagung dan ikan asin. Ini cukup membingungkan.
Bagaimana menjelaskan kepadanya bahwa minyak kita itu hanya ada di dasar bumi yang tidak bisa diolah jika tidak pinjam alat orang asing dan tenaga asing karena orang kita malas dan tidak mau kerja tetapi maunya untung besar? Sumur minyak dicari, yang survei orang asing. Pengeboran sumur dilakukan tapi alat dan tenaganya bukan punya kita. Hasil ngebor sumur itu kemudian dibagi, dan yang tidak kerja tidak mungkin dapat bagian besar. Teman-teman kita dipabrik minyak itu lebih senang nongkrong bagai juragan, yang penting untung bersih kira-kira sepuluh dua puluh tak masalah daripada repot tapi untungnya cuma tiga puluh. Selisih sepuluh tidak masalah sebab memang kita lebih baik menghemat tenaga untuk mengerjakan yang lain seperti buka tender sebanyak-banyaknya. Itu sudah menutup kehilangan yang sepuluh tadi. Jadilah mereka orang minyak tapi tidak mahir sama sekali dalam urusan minyak tetapi lebih mahir bermain intrik dan politik. Jadilah politik minyak!
Kembali ke soal menanam jagung, pemilik ladang yang malas bekerja biasanya “maro” kepada penggarap ladang. “Maro” atau bagi hasil separo-separo. Tapi kalau soal ladang minyak, jangankan separo, seperempatnya pun kalau dihitung bener tidak sampai.Alhasil kita tidak punya gudang minyak sebab kita harus beli dari penggarap ladang minyak kita. Aneh kan? Bayangkan saja sampeyan membeli jagung dari penggarap ladang jagung sampeyan. Kok bisa?
Lebih sulit lagi menjelaskan harga minyak. Kita pakai saja logika jagung. Ketika penggarap ladang mengolah ladang, ia sudah memperkirakan kira-kira berapa ton jagung yang akan dihasilkan. Dari perkiraan itu dia kemudian menjual “omongan hasil panen” yang belum pasti ke tengkulak jagung. Kira-kira begini kalimatnya: “Saya sedang nggarap ladang jagung, tahun ini akan menghasilkan 100 ton jagung, sampeyan mau beli berapa?”Istilah jawanya “ditebaske”. Yang dijual itu omongannya, bukan jagungnya.
Tengkulak kemudian menghitung untung rugi dari panen yang “akan” diperolehnya. Dan dia akan membayar dengan harga tengkulak karena akan dijual lagi. Kenapa penggarap menjual sesuatu yang belum pasti? Tentu saja karena dia tidak mau rugi seandainya panen gagal. Sudah ada yang akan mengganti kerugian itu, yaitu tengkulak jagung. Resiko panen gagal akan ditanggung si tengkulak.
Dengan cara “ditebaske” itu, penggarap tidak rugi apapun dan yang rugi pemilik ladang sebab dia tidak lagi menerima panen separo tetapi hasil “tebasan” separo. Celakanya lagi, kalau soal minyak, “tanda jadi tebasan” itu bisa diperjualbelikan antar para pedagang. Akibatnya, ketika hari panen benar-benar tiba, harga jagung atau minyak sudah tidak lagi menjadi harga yang sesungguhnya dalam arti harga yang terbentuk karena permintaan dan penawaran, tetapi harga yang terbentuk karena spekulasi dan gosip-gosip yang tidak jelas. Ketika tengkulak menghembuskan gosip “panen gagal” harga melonjak setinggi-tingginya sebab konsumen takut tidak kebagian. Lebih celaka lagi, si pemilik ladang – karena sudah tidak menerima hasil panen- ikut-ikutan harus membeli jagung yang sesungguhnya berasal dari ladangnya sendiri. Dan jagungnya itu belum ada! Masih di ladangnya sebab belum dipanen! Benar-benar lucu permainan ini! Itulah politik jagung karena barangnya jagung. Kalau barangnya minyak, jadilah itu politik minyak!
Entah, tetangga saya itu mengerti atau tidak dengan penjelasan yang saya berikan. Intinya, benar kita punya ladang. Benar ada minyak di ladang itu. Tetapi tidak lagi benar bahwa minyak-minyak itu masih punya kita. Saya hanya berpesan kepadanya, jangan mempercayakan kebun dan pohon-pohonmu pada penggarap palsu yang bekerja untuk tukang ijon. Dan lebih dari itu, jangan bermain-main dengan minyak, jangan mengurangi literan dalam botol untuk disimpan di dalam rumah, sebab nanti rumahmu bisa kebakaran.
Cerpen Jimmo Morison
Editor Ragil Koentjorodjati Ilustrasi dari shutterstockApa yang bisa kubuat dalam hidup ini selain menyanyi. Ya, hanya itu keahlianku. Memainkan lagu dengan gitar tua yang kubeli dari seorang teman dengan cara mencicil. Hampir semua pengunjung café suka dengan lagu yang kubawakan, bahkan ada yang mengundangku untuk acara keluarga atau pernikahan. Rata-rata mereka suka. Tapi tidak dengan perempuan berkemeja lengan panjang dan be-rok mini yang diam tanpa ekspresi, sepertinya sama sekali tidak menikmati musik yang kumainkan.
Aku berkesimpulan seperti itu, karena dalam empat hari berkunjung ke Café ini, perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Saat tamu lain memberi tepuk tangan, perempuan itu tetap diam. Dengan pelan tangannya mengambil kopi di depannya dan meneguk perlahan, sepertinya menikmati setiap cecapan dan rasa di lidahnya, sama sekali tidak terpengaruh dengan suara tepukan. Kemudian matanya menatap panggung dengan tatapan tak peduli. Perempuan itu duduk sendiri, dan lebih sering sendiri, walau kadang beberapa temannya datang untuk sekedar mengobrol. Ketika teman-temannya terhipnotis lagu yang kumainkan, perempuan itu tetap saja tak peduli.
Hampir setiap datang ke Café perempuan itu melakukan kebiasaan yang rutin. Datang, duduk lalu memesan beberapa gelas kopi sampai café tutup. Selalu begitu. Dia tak peduli dengan lagu, obrolan atau suara gaduh apa pun di café. Di tengah kebisingan, perempuan itu mempunyai dunianya sendiri yang berbeda dan tenggelam di dalamnya.
“Kau lihat perempuan berkemeja panjang itu?” tanyaku pada Roni, salah satu pelayan tersenior di café. Roni hanya menoleh sepintas kemudian pergi membawa pesanan untuk tamu. Beberapa menit kemudian Roni menghampiriku yang masih duduk di sela istirahat menyanyi.
“Kau suka?” tanya Roni sambil lalu. Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia sudah pergi lagi. Entah, mengantar pesanan ke meja yang mana, aku tidak terlalu peduli. Beberapa detik kemudian Roni datang kembali.
“Perempuan itu selalu memberi tips banyak. Wajar kalau kau menyukainya.” Roni nyerocos sesukanya, kemudian pergi lagi sebelum aku menjelasan maksud pertanyaanku. Kesal juga mengikuti polahnya. Ia berbicara sesukanya sedang aku, setiap hendak membuka mulutku ditinggalnya pergi. Sialan!
Lagu lawas sekitar akhir delapan puluhan kumainkan. Sepasang sejoli, entah mereka suami istri atau bukan, ikut menyanyikan. Mungkin pasangan itu generasi akhir delapan puluhan. Tapi yang jelas bukan mereka yang kuharapkan ikut menyanyi. Perempuan dengan secangkir kopilah yang kuharapkan. Tapi sekali lagi harapanku untuk membuat perempuan itu menyanyi atau sekedar memberi tepuk tangan, sirna. Perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan lagu yang pernah hits di akhir delapan puluhan. Dan perempuan itu juga tidak peduli dengan usahaku menyanyikan lagu sesempurna mungkin.
***
Hari itu, hujan datang sejak pagi. Udara terasa lebih dingin, lembab dan tanah basah. Café menjadi sepi pengunjung. Aku sedikit malas untuk naik panggung. Bukan karena alasan, pengunjung yang sepi membuatku seperti kehilangan semangat. Mungkin perasaan yang sok artis telah masuk dalam jiwaku. Musisi tanpa album dan tanpa karya, tapi tidak salahkan kalau aku ingin dikenal walau hanya sekelas pengamen café.
Tanpa kuduga, perempuan itu datang dengan sedikit basah. Tangannya mengelap bahu dengan sapu tangan, kemudian dikibaskannya rambut tebal menghitam berkilatnya. Perempuan itu berjalan ke arah panggung dan duduk lima meter dari tempatku duduk. Biasanya perempuan itu menghindari meja dekat panggung walau sering kali kursi di sana kosong. Ia lebih suka duduk di meja pojok dekat jendela, kemudian matanya akan menatap riuh jalan yang kadang macet dan kadang lancar.
Matanya melihat sekeliling, mungkin perempuan itu sedang merasakan sesuatu yang beda di café, atau juga merasakan sepi yang tak seperti biasa. Pandang matanya jatuh ke arahku, boleh dibilang kami saling pandang walau hanya sekian detik dan mungkin punya arti, atau tidak sama sekali. Perempuan itu memanggil pelayan, bicara sebentar lalu menyulut rokoknya. Aku tak pernah melihat dia merokok. Selama perempuan ini menjadi pengunjung café, beberapa kali aku diam-diam memperhatikannya. bukan karena dia cantik atau menarik, tetapi karena dia tidak pernah bertepuk tangan, tak pernah ikut bernyanyi dan tak pernah meminta lagu. Dia yang menganggapku seolah tidak ada.
Perlahan ia mengisap rokoknya, kemudian melepaskan asapnya dengan nikmat. Asap sejenak mengapung di udara, bergumpal putih kemudian musnah. Itu serupa beban yang lama dipendam kemudian dilepas begitu saja. Matanya kembali menyapu isi ruangan hingga berhenti beberapa detik menatapku. Ah, bukan detik kukira, kalau aku hitung hampir lima menit. Terasa cukup lama dikurung pandangan yang sempat membuatku beku. Memandang orang asing dalam waktu lima menit itu aneh. Perempuan itu menggeser kursinya lalu berdiri dan berjalan ke arahku. Kemudian duduk dan meletakan sisa rokok di dalam asbak.
“Mainkan satu lagu untukku,” pinta perempuan itu setelah duduk di depanku. Tanggannya sibuk mematahkan sisa rokok dalam asbak. Tanpa kata tolong, kalimat itu terasa dingin dan angkuh, meski tidak ada nada memerintah. Mungkin itu lebih tepat sebuah ejekan.
“Aku kira kau tak mengerti musik. Buat apa kau minta lagu,” jawabku mencoba menekan suara sedatar mungkin.
“Aha..?” mulut mungilnya sedikit terbuka, kening mengerenyit mencipta lipatan alis dan bulu mata yang terlalu sulit untuk kulupa. Bahu sedikit terangkat, begitu sempurna ia berkata,”Atas dasar apa?” Nada dan gerak tubuh perempuan itu serasa membuatku tenggelam pada rasa begitu rendah. Aku mencoba tersenyum, mungkin tebakanku benar.
“Karena kamu sama sekali tidak pernah ingin mendengar musik yang kumainkan. Kalau kau tahu musik atau penikmat musik, paling tidak kau memberi tepuk tangan.” Terangku dan kembali tersenyum. Senyum yang cukup berhasil. Perempuan itu menyulut rokoknya lagi dengan ekspresi biasa di wajahnya.
“Mainkan saja musiknya, aku ingin mendengar,” ucap perempuan itu tanpa membahas kata-kataku tadi.
“Untuk apa bila kau tak menikmati?”
Perempuan itu tersenyum,kemudian mematikan rokoknya yang baru beberapa hisapan. Matanya jernih dan tajam menikam. Tepat ke mataku.
“Kau tahu arti menikmati?” tanya perempuan itu.
“Ya,” jawabku cepat.
“Jelaskan padaku,” pintanya.
Aku bingung menjelaskan dengan kalimat apa. Untuk pengertian dari sebuah kalimat menikmati, otakku bekerja keras. Pertanyaan sederhana namun otakku cukup bekerja sangat keras untuk menjelaskan.
“Ternyata kau tak bisa menjelaskan, tapi kau bisa menuduh orang dengan pikiranmu dan kesimpulanmu,” ucap wanita itu tanpa ekspresi setelah beberapa menit tidak dapat jawaban dariku. “Mainkan satu lagu untukku,” pinta perempuan itu sekali lagi. Aku hanya mengangguk dan membawa gitarku. Lagu lawas pertengahan tahun sembilan lima kumainkan. Dan seperti biasa, kulihat perempuan itu hanya meneguk kopinya, tanpa ekspresi, tanpa peduli ddengan lagu dan lirik yang kunyanyikan.
***
Setelah beberapa hari hujan turun, sepertinya malam ini langit mengerti, purnama bersinar terang meski kalah dengan terang lampu-lampu di setiap sudut kota. Tiga lagu sudah kumainkan. Sejak lagu pertama, mataku terus mencuri pandang ke arah meja tempat perempuan itu biasa duduk. Biasanya, sebelum aku bernyanyi perempuan itu sudah datang, paling telat lagu kedua. Kualihkan mataku ke pintu masuk berharap perempuan itu datang, namun yang kulihat hanya pengunjung café lain.
Beberapa menit lagi cafe tutup, aku menyarungkan gitarku. Segelas air putih yang dari tadi belum kuteguk kini kuteguk sampai habis. Manager café menghampiriku dan menyelipkan amplop jatah setiap selesai ngamen.
“Kau kenapa?” tanya Roni saat melihatku masih duduk di kursi.
“Enggak apa-apa,” ucapku lalu berdiri.
“Kau menunggu perempuan itu?” tebak Roni. Aku hanya menggeleng tanpa menoleh ke Roni.
“Hati-hati, jangan sampai kau nasksir kawan,” ucap Roni sedikit keras, kemudian kembali mengelap meja.
Ini hari ketiga perempuan itu tidak datang ke café, entah mengapa aku seperti kehilangan. Beberapa lagu yang diminta pengunjung tak maksimal kumainkan. Aku seperti kehilangan seseorang, seperti waktu masa SMA dulu, saat aku kehilangan cinta pertamaku. Hidup seperti hampa dan not-not yang kumainkan seperti nada-nada tak bertuan, kosong,sunyi dan tanpa makna. Perempuan itu seperti nyawa, entah sejak kapan. Walau di antara kami tidak pernah ada saling rasa, bertanya sekedar meminta nomor telepon, atau juga tidak berkencan.
Hari ketujuh, lima menit sebelum café tutup, perempuan itu mendatangiku. Entah ada sesuatu yang menahanku untuk tak segera pulang seperti malam-malam biasanya.
“Kau mau pulang?” tanya perempuan itu setelah matanya melihat gitarku yang sudah masuk dalam sarung. Aku hanya mengangkat bahuku tanpa jawaban, tapi hatiku berbunga-bunga, seperti bertemu kekasih yang lama tak jumpa.
“Kukira café sudah tutup,” jawabku. Perempuan itu tak menjawab. Kemudian ia membalikkan badannya, melangkah pergi. Aku melirik Roni, meminta sesuatu yang berharap dikabulkan. Dan sepertinya Roni paham, maka tanpa hitungan detik Roni langsung mengangguk.
“Kau mau kutraktir kopi?” tanyaku dengan suara sedikit kukeraskan sebelum perempuan itu sampai pintu keluar. Sejenak ia berhenti dan menoleh sembari menatapku. Tatapan yang tak sanggup kumengerti.
“Bukankah sudah tutup?” tanyanya dengan masih berdiri di dekat pintu keluar.
“Hari ini spesial, ada tamu yang memberiku tips lumayan,” jelasku. Kemudian perempuan itu berjalan ke arahku. Sesampai di dekatku dengan cepat dia menarik kursi di depanku. Roni kemudian datang membawakan dua gelas kopi yang mengepul nikmat.
Entah mengapa, sejak perempuan itu telat datang ke café, aku selalu memikirkannya. Dan setiap kali perempuan itu datang ke café aku seperti mempunyai kekuatan lebih untuk bernyanyi. Walau seperti biasa, perempuan itu tak peduli, dan aku tak pernah tahu dia menikmati musik atau tidak. Sekarang buatku tak penting, aku cukup bahagia dengan kedatangannya, meski kita tidak pernah ada ikatan apa-apa.
Seperti seminggu yang lalu, tiba-tiba perempuan itu hilang lagi. Aku berpikir pasti ia telat seperti beberapa hari sebelumnya, kemudian ia akan datang dan mengajakku minum kopi di café yang sepi dengan lampu temaram setelah tidak ada lagi pengunjung yang lain. Berdua menikmati kopi. Aku tak langsung menyarungkan gitarku, aku berharap perempuan itu datang seperti waktu itu kemudian memintaku untuk memainkan sebuah lagu. Dan hanya lagu itu yang dia selalu pinta, aku tak pernah tahu alasanya. Mungkin lagu itu sangat berarti untuknya atau menyimpan sebuah kenangan. Aku tak ingin bertanya, kadang bila seorang laki-laki bertanya sering kali diartikan merayu, dan aku tak ingin merayu perempuan itu. Kalaupun ada yang bergejolak dalam hatiku, cukup aku saja yang tahu, selebihnya biar Tuhan yang mengaturnya.
“Kau sudah baca koran hari in?” pertanyaan Roni membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng.
“Bacalah,” sambung Roni.
“Sejak kapan aku baca koran?” jawabku sedikit kesal. Bukan karena pertanyaan Roni yang membuatku kesal, tetapi terlebih karena perempuan itu sepertinya tidak adakn datang malam ini.
“Mungkin berita ini bisa mengubah pikiranmu tentang Koran,” jelas Roni lalu meletakkan koran di meja. Kupandangi Roni yang meninggalkan koran begitu saja. Sejatinya aku menghindari koran karena aku muak membaca berita politik negeri ini. Setiap membaca koran aku selalu mendapatkan berita yang sama dalam kurun beberapa tahun, mungkin bertahun-tahun berita Koran di negeri ini sama, maka dari itu aku berhenti membaca koran.
Dengan malas aku mengambil koran, mataku langsung menatap sebuah foto perempuan dengan kemeja yang aku kenal di halaman depan. Di samping foto itu terpampang berita ‘SEORANG PEREMPUAN YANG DIDUGA ISTRI MUDA TEWAS DI KAMAR HOTEL DENGAN LUKA TUSUKAN DI LEHER DAN DADA’. Sedikit gemetar, kulihat meja tempat di mana perempuan itu biasa duduk. Nanar aku pandangi samar meja itu di bawah cahaya lampu temaram. Dan kini aku mengerti cara memandangnya yang dingin, tatapan tanpa ekspresi dan kenapa ia menyukai lagu yang sama, berulang-ulang.
-Ruang berantakan sehabis hujan dan sebotol air putih, 10 January 2012-