Arsip Tag: jualan

Bermain Minyak: Awas, Terbakar!

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

bagaimana harga minyak ditentukan
Perhatikan: Itu bukan minyaknya yang diperdagangkan. Tetapi "omongan" soal minyak.
Ada satu pertanyaan sederhana dari tetangga sebelah yang ternyata jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sesederhana pertanyaannya. Pertanyaannya begini: “Mas, banyak orang bilang negara kita itu kaya akan minyak, kalau harga minyak naik kan itu artinya kita akan tambah makmur? Tinggal kita jual minyak kita ke orang-orang, duitnya bisa untuk menghidupi rakyat kecil seperti saya. Lalu kenapa kita malah menolak harga minyak dinaikkan?”
Sejenak saya termenung. Bingung, darimana harus menjelaskan tentang ruwetnya jualan minyak kepada tetangga saya itu. Pendapat tetangga saya itu bisa jadi benar jika ia membayangkan warungnya yang jualan bensin eceran, beli dari pom bensin Rp 6.000,- lalu dijual Rp 7.000,- mendapat untung Rp 1.000,- per liter. Sebelumnya ia membeli seharga Rp 4.500,- per liter dan menjual dengan harga Rp 5.000,- per liter dari hasil pembulatan 0,9 liter. Kemudian dia membayangkan bahwa karena kita punya minyak sendiri, maka kenaikkan harga dari Rp 4.500,- menjadi Rp 6.000,- berarti ada tambahan laba Rp 1.500,- per liter. Masalahnya, benarkah kita sungguh-sungguh punya minyak itu?
Sungguh-sungguh memiliki itu jika dianalogikan sama seperti orang menanam jagung. Kita mengolah tanah, menyemai benih, memanen jagung dan mengolahnya dengan alu dan lesung untuk kemudian dimasak menjadi nasi jagung yang gurih. Itu artinya kita sungguh-sungguh memiliki jagung yang bisa saja dijual atau memilih dimakan sendiri. Tapi menjelaskan urusan minyak ternyata tidak segampang menjelaskan nasi jagung apalagi untuk konsumsi otak nasi jagung dan ikan asin. Ini cukup membingungkan.
Bagaimana menjelaskan kepadanya bahwa minyak kita itu hanya ada di dasar bumi yang tidak bisa diolah jika tidak pinjam alat orang asing dan tenaga asing karena orang kita malas dan tidak mau kerja tetapi maunya untung besar? Sumur minyak dicari, yang survei orang asing. Pengeboran sumur dilakukan tapi alat dan tenaganya bukan punya kita. Hasil ngebor sumur itu kemudian dibagi, dan yang tidak kerja tidak mungkin dapat bagian besar. Teman-teman kita dipabrik minyak itu lebih senang nongkrong bagai juragan, yang penting untung bersih kira-kira sepuluh dua puluh tak masalah daripada repot tapi untungnya cuma tiga puluh. Selisih sepuluh tidak masalah sebab memang kita lebih baik menghemat tenaga untuk mengerjakan yang lain seperti buka tender sebanyak-banyaknya. Itu sudah menutup kehilangan yang sepuluh tadi. Jadilah mereka orang minyak tapi tidak mahir sama sekali dalam urusan minyak tetapi lebih mahir bermain intrik dan politik. Jadilah politik minyak!
Kembali ke soal menanam jagung, pemilik ladang yang malas bekerja biasanya “maro” kepada penggarap ladang. “Maro” atau bagi hasil separo-separo. Tapi kalau soal ladang minyak, jangankan separo, seperempatnya pun kalau dihitung bener tidak sampai.Alhasil kita tidak punya gudang minyak sebab kita harus beli dari penggarap ladang minyak kita. Aneh kan? Bayangkan saja sampeyan membeli jagung dari penggarap ladang jagung sampeyan. Kok bisa?
Lebih sulit lagi menjelaskan harga minyak. Kita pakai saja logika jagung. Ketika penggarap ladang mengolah ladang, ia sudah memperkirakan kira-kira berapa ton jagung yang akan dihasilkan. Dari perkiraan itu dia kemudian menjual “omongan hasil panen” yang belum pasti ke tengkulak jagung. Kira-kira begini kalimatnya: “Saya sedang nggarap ladang jagung, tahun ini akan menghasilkan 100 ton jagung, sampeyan mau beli berapa?”Istilah jawanya “ditebaske”. Yang dijual itu omongannya, bukan jagungnya.
Tengkulak kemudian menghitung untung rugi dari panen yang “akan” diperolehnya. Dan dia akan membayar dengan harga tengkulak karena akan dijual lagi. Kenapa penggarap menjual sesuatu yang belum pasti? Tentu saja karena dia tidak mau rugi seandainya panen gagal. Sudah ada yang akan mengganti kerugian itu, yaitu tengkulak jagung. Resiko panen gagal akan ditanggung si tengkulak.
Dengan cara “ditebaske” itu, penggarap tidak rugi apapun dan yang rugi pemilik ladang sebab dia tidak lagi menerima panen separo tetapi hasil “tebasan” separo. Celakanya lagi, kalau soal minyak, “tanda jadi tebasan” itu bisa diperjualbelikan antar para pedagang. Akibatnya, ketika hari panen benar-benar tiba, harga jagung atau minyak sudah tidak lagi menjadi harga yang sesungguhnya dalam arti harga yang terbentuk karena permintaan dan penawaran, tetapi harga yang terbentuk karena spekulasi dan gosip-gosip yang tidak jelas. Ketika tengkulak menghembuskan gosip “panen gagal” harga melonjak setinggi-tingginya sebab konsumen takut tidak kebagian. Lebih celaka lagi, si pemilik ladang – karena sudah tidak menerima hasil panen- ikut-ikutan harus membeli jagung yang sesungguhnya berasal dari ladangnya sendiri. Dan jagungnya itu belum ada! Masih di ladangnya sebab belum dipanen! Benar-benar lucu permainan ini! Itulah politik jagung karena barangnya jagung. Kalau barangnya minyak, jadilah itu politik minyak!
Entah, tetangga saya itu mengerti atau tidak dengan penjelasan yang saya berikan. Intinya, benar kita punya ladang. Benar ada minyak di ladang itu. Tetapi tidak lagi benar bahwa minyak-minyak itu masih punya kita. Saya hanya berpesan kepadanya, jangan mempercayakan kebun dan pohon-pohonmu pada penggarap palsu yang bekerja untuk tukang ijon. Dan lebih dari itu, jangan bermain-main dengan minyak, jangan mengurangi literan dalam botol untuk disimpan di dalam rumah, sebab nanti rumahmu bisa kebakaran.