Angin Daun Pisang Angin Gubuk Rumput

Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in ...
Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in a 13th century depiction by Liang Kai. (Photo credit: Wikipedia)

Puisi John Kuan

|| Angin Daun Pisang ||

 

Kau berkata: Biar di Kyoto, dengar wiwik

menjerit. Kurindu Kyoto. Aku bilang: Biar

di Daik, lihat ombak merajuk. Kurindu Daik.

Berkasut jepang aku injak empat musim

dan kau, lewat setahun lagi ——— tangan

memegang caping, kaki bersandal jerami.

Kau bilang: 行く春や鳥啼き魚の目は涙

yuku haru ya tori naki uo no me wa namida

berlalu musim semi, mata ikan sembab,

burung berkicau Blues. Sebab itu kita tahu

jalan hidup amat sempit, musim bunga

amat pendek. Begitu lengser musim salju

sebaiknya kau buka bilik hatimu, jajakan

riang bunga. Jelas itu sehamparan hening

bagaimana kau bisa dengar suara tonggeret

menyusup ke balik batu? Lalu bagaimana

pula di antara nasi dan asmara, induk kucing

jadi kurus? Kau berkata: Laut dah gelap,

suara panggilan camar, agak memutih.

Aku melihat kadang Selat Berhala kadang

Selat Malaka, laut kampungku pelan-pelan

gelap, kunang-kunang berkedip di kelam

bakau, bagai berjalan di bawah pijar bintang

negeri jauh. Kau berkata: Seladang kapas

laksana bulan telah merekah bunga

Aku bilang: Sekolam cahaya bulan, bagai

ikan perak, menggelepar sisik-sisik tubuhnya.

Di lubuk botan/ seekor lebah miring/ mundur

keluar. Ah, bukan main sedap, kau sedang

di dalam dunia rasa membuat filem iklan

tujuh belas detik tujuh belas silabel, bukan?

Di bawah pohon pinus bertanya katak, ekor

angin telah kacir ke mana: Dia satu suara,

ping pong, lompat ke dalam perigi tua,

daun pisang di permukaan air, suara serpih

daun pisang koyak, perlahan bergoyang

 

|| Angin Gubuk Rumput ||

 

Telah lebih sepuluh musim gugur menginap

di dalam puisimu, Mister Du. Kertas serbuk

emas di dalam angin barat memantul burung

dan tangga giok. Merah padam api peperangan

telah dingin abu. Gemeretak roda kereta juga

barisan prajurit terbangun di dalam sehamparan

panorama huruf-huruf kuning krisan. Chang’an,

sebuah gelas anggur, tidak bisa kau genggam

terlalu erat. Tamu datang, kau utang arak

Musim semi datang, pergi tonton bunga

Harum padi tentu telah habis dipatuk bayan

Setumpuk beras perang, aku curiga sangat

erat terkait dengan sintaksis terpelintir itu

selalu rampung dengan api kecil, berulang kali

diaduk, dikukus. Bukankah aku telah melihat

kau tuang sana tuang sini, meniup sambil nyanyi

karya baru selesai kau tanak, seolah seluruh

dunia hanya mendengar kau Mister Du seorang.

Namun, puisi bagaimana bisa cuma demi nama

ditulis. Saat memancing masih terkenang

Mister Tao Mister Xie, dan mengenai seafood

di mata kail itu, mana tahu apa epik apa liris?

Malam ini menumpang di dalam puisimu lagi

Mister Du, sebaris krisan di depan gubukmu

kuning hingga bibir sungai. Hanya teringat

seperti kemarin saja, aku melihat dia pulang

kantor, demi kupu-kupu sepanjang jalan

mengadaikan jubahnya. Sebuah kotak obat

kosong tercenung di pojok gubuk. Sakit tentu

masih punya, namun gelisah justru berkurang.

Tahu-tahu yang datang mengetuk pintu mimpi

adalah gerombolan ini ——— Li Bai telah mati,

Wei Ba hilang. Itu terjadi di malam bintang

padat merayap seperti kemacetan di pusat kota.

Mendengar angin musim gugur mengepak

atap gubuk, Mister Du buka mulut: Mau main

catur? Ke bandar besar di atas papan catur

adu langkah sambil petik bunga liar di luar bandar

Ujung Lorong

Cerpen Agus Sulistyo
Editor Ragil Koentjorodjati

Diam, adalah selalu tujuan pelarianku. Dalam dekapannya, aku merasakan kehangatan pelan menjalari tubuh ini. Hingga aku selalu berharap, siapa saja yang ada di dekatku tidak akan terlalu banyak berbicara. Karena jika itu dilakukan, berarti ribuan jarum seolah berebut masuk ke telingaku. Satu suara mengiris kulitku. Suara-suara berikutnya merajam setiap jengkal jarak di tubuhku. Sementara orang lain tertawa di riuhnya kata, aku lebih menikmati kesendirianku. Bersembunyi di sudut hati. Hingga pada saat-saat tertentu, aku ada pada titik paling sunyi. Menggigil dalam sepi. Lautan sedang marah di depanku, dan aku masih saja terdiam. Orang-orang tertawa ke arahku dan aku tak yakin lagi bahwa itu adalah aku.

“Nama bapakmu siapa?” tanya Pak Mursidi, guru SD-ku. Aku terdiam. Selalu begitu.

“Bapaknya PKI Pak,” sahut salah seorang temanku. “Hahaha …” Disusul suara tawa teman-teman sekelasku yang lain. Semakin membuat aku terdiam. Aku tertunduk. Kusembunyikan wajahku di atas meja. Berbantal kedua tanganku yang terlipat di atas meja tempat dudukku. Air mata meleleh di kedua pipiku membasahi tangan. Tubuhku bergetar, tersia-siakan. Seolah tanpa penghuni di dalamnya.

Pak Mursidi memegang kepalaku sebentar. Mengusapnya, lalu berlalu kembali ke depan kelas. Pak Mursidi, yang sangat aku harapkan mau sekedar menabahkanku, tidak berkata apa-apa. Hingga yang kurasakan adalah, seolah Pak Mursidi ikut membenarkan perlakuan teman-temanku terhadapku. Aku benar-benar tidak mengerti apa itu PKI. Aku hanya merasakan bahwa PKI itu adalah sebuah aib yang luar biasa memalukan. Lebih menjijikkan daripada kelakuan buruk apapun di atas jagad ini.

“Benteng …,” aku tergagap. Kuangkat kepalaku. Mata nanarku terbentur pada satu wajah. Teman sekelasku juga. Perempuan. Maryam namanya. “Ketiduran ya?” sapanya lagi. Aku mencoba tersenyum kepadanya. Memang begitu. Seringkali aku ketiduran ketika menangis di kelas. Teman-temanku tak mengusikku lagi. Mungkin menjadi lebih baik bagi mereka untuk tidak melihat wajahku lagi. Daripada harus menahan kebencian mereka menyaksikan keturunan PKI.

Derit engsel jendela terdengar. Jendela-jendela ruang kelasku yang mulai ditutup Pak Ranto, penjaga sekolahku.

Hampir tidak ada patahan kata yang saling kami ujarkan, ketika akhirnya kami berdua pulang bersama. Baru saja kaki melangkah dari pintu kelas, tiba-tiba serombongan teman sekelasku muncul dari samping pintu.

“Dua orang aneh lewat … ha ha ha …,” tawa mereka pun mengiringi kepulangan kami berdua. Aku dan Maryam terus berjalan. Dengan kepala tertunduk.
Satu-satunya orang yang mau berteman denganku memang hanya Maryam. Nasib dia tidak lebih baik daripada aku. Keluarganya dikucilkan orang sekampung. Pernah suatu saat rumah Maryam hendak dibakar. Kata orang-orang kampung itu, orangtua Maryam memelihara pesugihan. Waktu ada anak kecil di dekat rumah Maryam meninggal, orang-orang kampung menuduh orangtua Maryam-lah penyebabnya. Kata mereka, anak kecil itu mati dijadikan tumbal pesugihan orangtua Maryam.
Bakar rumahnya!” teriak mereka.
“Tangkap buto ijonya!
“Bakar … bakar!”

Semakin liar dan tak terkendali suara-suara orang kampung itu. Maryam hanya terdiam di sudut halaman rumahnya, sepertiku. Mungkin air matanya juga sudah bosan mengalir di kedua pipinya yang tembem. Aku berdiri di sampingnya. Tidak ada kata-kata. Namun bahasa tubuh kami sudah saling memahami. Sorot mata kami sudah saling menguatkan.

Untunglah Pak Lurah saat itu berhasil meredakan amarah warga. Kedua orangtua Maryam disumpah pocong di mesjid kampung kami.

***

Lorong di depan kami begitu panjang. Hitam. Hingga ketika ada secercah cahaya, kami enggan menghampiri. Takut cahaya itu tak mampu terangi jalan kami sampai ke ujung. Dan kami harus susah payah menyesuaikan diri kami lagi. Menyesuaikan diri terhadap gelap yang telah terbiasa menyertai. Meski ketika aku menatapnya dan Maryam balik menatapku, bumi seolah berjalan sebagaimana mestinya.

Akan aku coba memperbaiki ketidakseimbangan ini,” kataku. “Dan aku akan bertahan untuk menjadi seorang teman di antara kita. Teman yang akan selalu mengisi hidupmu,” lanjutku.

Hanya seorang teman? Bapakku tidak tahu apa itu PKI. Dia hanya ikut-ikutan orang,” kata Maryam mencoba menengok asa.

“Hei…, bapakmu tahu, orang-orang itu tahu. Dan mereka benar. Aku telah menempatkan diriku pada keadaan yang mempersempit kesempatanku, meski aku tak pernah diberi pilihan untuk itu ,” kataku pasrah.

Dan seperti biasanya, angin pun sepertinya juga tak pernah merasa lelah untuk selalu menguapkan air mataku. Air mata Maryam juga. Angin sore yang ramah, yang menemaniku melepas Maryam mencari jalannya. Meski pilihan juga tak pernah ada bersamanya. Kehendak bapaknya.

Keluarga Maryam memutuskan untuk pindah ke Lampung. Alasannya, di tanah kelahirannya sendiri semakin banyak orang yang memusuhi. Dalam hati kecilku, aku lebih yakin keputusan itu dibebabkan oleh kedekatanku dengan Maryam.

“Kita harus menjaga yang kita miliki Maryam, sedikit dari milik kita.”
“Benteng.”
“Maryam.”

Aku tersenyum ke arahnya. Maryam melambaikan tangannya. Semakin menjauh.

***

“Le..,” suara ibuku membuyarkan lamunanku. Pandangan kami beradu. Di mataku berdiri sosok perempuan yang sangat aku cintai. Di matanya, ada gambaran rasa iba terhadap darah dagingnya. Yang pasti, dari mata kami terpancar rasa saling memiliki. Satu-satunya yang kami miliki. Dulu masih ada Maryam di antara kami. Aku sama sekali tidak menyangka kalau bapaknya Maryam tega merenggut satu-satunya hati yang kumiliki itu. Satu-satunya yang dimiliki oleh Maryam juga. Aku sangat tidak menyangka, kebersamaan nasib sedikit pun tidak mampu menggeser jalan hidupku.

“Maafkan Ibu ya Le…” Aku tersenyum ke arahnya. “Jaman sudah berubah, mungkin saatnya kamu tahu siapa bapakmu…, setelah sekian lama,” kata Ibu.

“Sudahlah Bu, apalah gunanya, toh semua tak dapat berubah. Andai  berubah pun, tak semudah perubahan jaman ini,” kataku pasrah.

“Tiga puluh lima tahun yang lalu, ibu dan bapakmu diterima bekerja di Pos telegraf dan telepon di sebuah kota kecamatan di Surabaya,” kata ibu tanpa menghiraukan keberatanku. “Tahun enam puluh, ketika diterima di jawatan itu, ibu dan bapakmu disodori formulir keanggotaan serikat buruh oleh kepala jawatan kami. Hampir seluruh pegawai menjadi anggota serikat itu.”

Aku diam, mataku setengah terpejam.

“Saat itu, ibu dan bapakmu setuju saja. Pikir Ibu, serikat buruh itu semacam kerukunan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai. Membantu menangani masalah yang dihadapi pegawai. Ada juga iuran anggota. Waktu itu besarnya seringgit, atau dua setengah rupiah tiap bulan. Dipotong dari gaji Ibu,” lanjut ibuku mengenang.

Kulihat tipis airmata ibu mulai menutupi selaput matanya.

“Serikat buruh itu memang berafiliasi ke Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia. Meski tak ada hubungan langsung secara struktural organisasi. Pada saat itu, SOBSI dikait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia.

Aku peluk Ibu erat ketika kristal-kristal di matanya mulai jatuh membentur lantai rumah.

“Sudahlah Ibu…”
“Ketika usiamu setahun. Setelah peristiwa enam puluh lima, semua pegawai di-screening”. Waktu itu, Ibu dan Pak Marsam bapakmu, berterus terang apa yang sebenarnya kami alami. Waktu mereka tanya ‘Saudara anggota SB?’ ibu jawab ‘iya’. ‘Saudara pernah ikut rapat SB? ibu pun menjawab ‘tidak pernah.’ Ibu tidak tahu apa yang dikatakan bapakmu Le. Setelah itu mereka membawa bapakmu. Sampai sekarang…,” memelas sekali suara ibu.

Beberapa saat hening. Ibu melepaskan pelukanku. Di saat itu juga tiba-tiba kedua mata ibuku memancarkan sebuah keteguhan. Sebuah kewibawaan yang mengiringi kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian.

“Jaman sudah berubah Le. Ada lorong hidup yang bisa kaulalui. Jalanmu masih panjang. Pergilah, cari Maryam. Biar Ibu hadapi bapaknya,” dalam sekali suara ibuku saat itu. Tanpa senyum. Tanpa ada pancaran kesedihan!

Dan saat itu tiba-tiba aku temukan apa yang selama ini aku cari! Apa yang selama ini sangat aku rindukan. Sebuah sikap. Aku merasakan apa yang hilang dari diriku, memancar keluar dari sorot mata ibuku. Meski aku tak tak yakin itu bisa mengisi jiwaku yang terlanjur kosong. Mengembalikan milikku yang telah terenggut. Setidaknya saat itu ada sebuah penutan untuk bisa bersikap sebagai lelaki, yang selama ini, selama hampir empat puluh tahun perjalanan hidupku, tidak pernah bisa kutemukan.

Hiruk pikuk di luar, yang meneriakkan kata-kata reformasi itu sama sekali tidak aku hiraukan. Pandanganku lurus ke depan. Menatap lorong yang akan aku lalui. Berharap bayangan Maryam kutemui di sana.

***

Lama tidak ada yang berbicara di antara kami berdua. Semilir angin sore membiarkan alunan hati kami masing-masing. Angin sore desaku yang tidak mampu lagi menghapus gerah yang menjalari seluruh tubuhku. Entah dengan Maryam.

“Kalau kedatanganku membuatmu tidak nyaman, aku pamit saja ya,” pelan suara perempuan yang sangat aku rindukan itu. Sepelan kekuatan hatiku yang sedang berusaha menerima kenyataan di hadapanku.
“Berapa bulan kandunganmu itu?” tanyaku dengan sedikit memaksa memberinya sebuah senyuman.
“Tujuh bulan …”
“Maryam …,” kataku. Setengah mati aku menahan air mata, hingga akhirnya tidak kuasa lagi. Dengan air mata bertetesan, aku tatap Maryam.
“Kenapa harus orang lain Maryam? Kenapa?!”
“Benteng, dulu dirimu sudah janji untuk selalu menjaga satu-satunya yang kita miliki. Persahabatan kita. Dulu, aku pun sudah mencoba menawarkan sebuah peluang untuk kita melangkah lebih jauh. Kini …”
“Sudahlah Maryam, aku tahu memang bukan salahmu,” potongku cepat.
Beberapa saat, kembali tidak ada suara di antara kami.
“Dia sudah tua Benteng. Tapi entahlah, dia begitu mengingatkanku kepada dirimu. Tatapan matanya, cara berbicaranya, bahkan … ah Benteng, maafkan aku.”

Pipi tembem itu mulai basah juga oleh air mata. Aku keluarkan sapu tangan dari celanaku. Aku usap pelan. Maryam memegang erat tanganku.

“Benteng, aku akan selalu menjaga yang kita miliki, sedikit dari milik kita,” kata Maryam. Aku ingat persis. Itu adalah kata-kataku kala aku melepas kepergiannya dulu. Tanpa sadar tanganku mengelus perut Maryam.

“Semoga menjadi anak baik, seperti ibunya,” bisikku sambil tersenyum. Maryam pun membalas senyumanku.

Di depan rumah terdengar suara mobil berhenti.

“Itu suamiku,” kata Maryam memberitahuku siapa yang datang. “Benteng, aku pamit dulu. Besok langsung pulang ke Lampung. Semua sudah berubah Benteng, kamu tak perlu takut lagi mencari penggantiku. Keburu tua nanti, hehehe. Jaga dirimu ya …”

Aku tersenyum mengangguk. Bergegas kami menuju ke depan. Baru saja kaki ini menjejak tanah halaman depan rumahku, aku melihat ibuku menjerit tertahan.

“Mas Marsam?!”
Orang yang baru keluar dari mobil itu pun kaget setengah mati. Pandangannya lurus tajam menatap ibuku.
“D a r r r t i i i i … ?!” kata orang itu tergagap.

Solo, Jan ‘12

Sindhen

Contoh Cerkak karya Andjar Any

panjebar-semangatMangkeling mangkel, ora kaya wong lagi pegel. Gelaning gela, ora kaya diblenjani tresna. Ora perduli bagus apa elek, ora perduli pinter apa bodho, Kabeh sami mawon. Jas bukak iket blangkon, sama jugak sami mawon. Mengkono uga Anjasmara. Mripate kelop-kelop, nyawang eternit sing ana ndhuwure peturone. Jane arep nyawang usuk, ning kaling-kalingan eternit. Dadi sing disawang mung eternit. Kang gambarane endah edi, kaya ukir-ukiran. Dhek wingi yen disawang katon edi peni, ning saiki kok ora. Dhek emben sawangane nggemesake ati, ning saiki kok mboseni. Anjasmara melek ora turu nanging atine bingung uleng-ulengan. Kepiye anggone ora, nduwe pacar siji wae nglungani ati.

“Njas Anjas, aja ndongang-ndongong kaya sapi ompong. Kae kanca-kanca wis padha nglumpuk. Tangiya, aja ngglethak ana dhipan wae,” swarane Sumani keprungu saka walike lawang kamar.

“Sapa….?” pitakone Anjas sakena-ne.
“Kae pacarmu barang wis dha ngenteni ana ndhapa,” Sumani nerangake.

Krungu wangsulane Sumani ngono mau, Anjasmara gregah tangi. Pacare teka, edan ane. Perlu diaturake ing kene sing jenenge Anjasmara kuwi dudu Anjasmara ari mami jaman Menakjingga lan Damarwulan. Yen jaman Menakjingga, Anjasmara kuwi ayu kinyis-kinyis, eseme pait madu. Ning yen Anjasmara jaman komputer iki eseme ya nggregetake, ning yen sing nyawang kuwi wanita. Mula ora maido sakploke dheweke nggabung Orkes Campursari “Nyidham Sari” akeh wanita sing kapiluyu nyawang tukang ngendhang siji iki. Tujune dheweke wis dikondhangake pacaran karo penyanyine, sing jenenge Wulandari. Mula akeh wanita penontone campursari sing padha ngeses. Bejamu Lan, Wulan. Duwe pacar wae kok dhe-gus, gedhe tur bagus. Ya wis begjane Wulandari, nduwe hyang wae baguse setengah mati tur dhasare tunggal sak kuliahan, ing Sekolah Tinggi Seni Indonesia ing kutha Sala. Ya ora maido, sing jenenge Wulandari kuwi ayune tumpuk undhung. Baut njoged, pinter nyanyi campursari. Ya ora maido yen Anjasmara gandrung lan gandheng karo Wulandari. Tumbu entuk tutup. Sing lanang bagus, sing putri ayu. Sing lanang tukang ngendhang sing putri baut nembang.

Mula bareng Sumani mbengoki, Anjasmara tangi gregah, nguceg-uceg mripate, banjur mudhun saka peturon. Nyedhaki Sumani karo takon bisik-bisik, “Wulandari melu mapag mrene?”

Sumani mangsuli alon: “Mrene congormu kuwi. Wulandari ya neng desa Purwantara kana, karo bojone. Apa gunane ngenteni kowe, jaka tukang ngendhang, entuke job mung kala-kala. Luwih becik karo bojone sing anggota DPR. Blanjane tetep. Ora kaya kowe Njas, panji klathung, blanjane wae durung, yen turu njingkrung.”

“Lha kok kowe kandha pacarku mrene?” celathune Anjasmoro karo mrengut.

“Lha pacarmu kuwi pira?” Sumani njegeges. “Kae….Nanik ya teka. Jare pacarmu serep?”

“Edan kowe,” tembunge Anjasmara karo njotos lengene Sumani.

“Nik….Nanik, iki lho Anjas lagi tangi. Gereten metu.” Sumani mbengok

“Mas piye, kendharaane wis siap?” pitakone Nanik karo marani kamare Anjasmara.

“Wis beres,” wansulane Anjasmara alon.

“Beres beres, paling sing golek kendharaan ya aku,” Sumani melu nyaut senajan ora ditakoni.

“Ngono-ngono rak uga kanggo kepentingan kanca dhewe ta mas?” celathune Nanik karo tumuju kamare Anjas.
“He, aja mlebu kamar dhisik, bocahe isih arep kathokan,” pembengoke Sumani.
“Diangkrik, kana padha metuwa nyang kendaraan wae, tak dandan dhisik,” celathune Anjasmara karo mlebu kamar maneh. Kanca-kancane padha munggah kendharaan. Tujuwane arep tanggapan menyang Purwantara, dhaerah kang mapan ana sawetane Wonogiri.

“Bangku sandhinge Nanik aja dienggoni lo, sudah dipesan. Mau dipakai Anjas,” Sumani mbengok karo ngguyu. Liyanene melu ngguyu. Nanik mung mesem manis. Anjasmara ora isan-isin trus lungguh sandhinge Nanik.

“Kanca-kanca, minangka kancane Nanik aku matur nuwun dene dhek wingi wis padha rawuh ngestreni slametan neng Nanik,” swarane Sumani ing sela-selane swara mesin kendharaan.

Nanik mencep, liyane ngguyu nyekakak, merga ngerti yen Sumani tukang gojeg. Anjas nyikut Nanik karo celathu,

“Ora sah digagas, ben muni sak unine cangkeme.”
“Lha dhek emben kuwi Nanik rak syukuran, merga Anjas karo Wulan wis putus. Lha calone Anjas rak kembali ke Nanik,” Sumani isih nrocos karo ngguyu.

Liyane padha ngguyu ger-geran. Jan jane Nanik kuwi ora nganakake syukuran. Kuwi mung guyone Sumani wae.

Sakdalan-dalan kanca-kanca Campursari padha cekakakan. Mung Anjas sing kelangan guyu. Dheweke mung mesam-mesem cilik nadyan semu kepeksa.

“Nik…mengko aja nyanyi “Wuyung” Utawa “Weke Sapa”, ndhak Anjas ora bisa ngendhang,” tembunge Sumani karo isih mbebeda.

Anjas nyikut bangkekane Nanik karo kandha lirih, “Ora sah kok tanggapi. Mengko yen kesel rak meneng dhewe cangkeme kuwi.”
Lagi mingkem lambene Anjas, hand phone sing ana kanthongane muni. Nanik sing ngandhani. “Tilpun mas.”

Anjasmara meneng wae terus ngrogoh sak-e, HP ditempelake kupinge. Nanik meneng tanggap sasmita.

“Halo, okey boss, bener aku tiga-tiga,” Anjas mangsuli liwat HP ne.

“Anu….piye boss? Iki aku ana perjalanan. Nyang Purwantara dhaerah Wonogiri. Bener, aku bareng-bareng njagong nyang omahe Wulandari.” Meneng sedhela sajaKe ngrungokake sing nilpun. Let sedhela wis sumaur: “Iki aku jejer dhik Nanik. Iya…tidak ada rahasia. Lha terus leh nangkep kapan? Yen cathetanku wis komplit boss, taksimpen ana disket, taktengeri RHS. Iya, isih ana kantor. Wis ya bengi iki mengko bubar main Campursari aku bali, tak njujug omahmu boss.” HP dipateni terus dikanthongi.

Sumani sing lungguhe ora adoh mbengok, “Edan Njas, lunga nyang Purwantara, sambene ndhempel pacare, isih ketambahan ditilpun boss-e. Mesthi entuk job sing penting”.
Anjas meneng wae karo mesem. Nanik sing nrenjel takon: “Ana apata mas, boss-e?”
“Biasa, kabar gaweyan. Aku dikon bali, penting,” jawabe Anjasmara.
“Lha kok isih semaya?” pitakone Nanik.
“Wis kadhung jejer cah ayu kok dipisahke. Ya emoh ta?” wangsulane Anjas
nggodha. Sing digodha njiwit lengene Anjas. Jane ya lara, ning wong sing njiwit bocah ayu ya nggleges wae.

“Tutugna leh jiwit-jiwitan,” pambengoke Sumani. “Kancane uyel-uyelan kaya ngene, kono mat-matan sakepenake dhewe,” Krungu celathune Sumani mau kabeh dha ngguyu mak gerr, nanging Anjas karo Nanik meneng wae. Nanik nutupi pipine sing abang merga isin, Anjas isih gawang-gawang swarane boss-e mau. Kabar seneng nanging uga gela. Seneng merga boss-e ngabari, yen Rudy Pancadnyana, anggota DPR calone Wulandari, saiki wis ditangkep polisi, jalaran nylewengake dhuwit APBN. Sing mbongkar pokale Rudy kuwi klebu Anjasmara sing uga wartawan ing kutha Sala. Malah laporan penting ana disket-e Anjas ing kantor. Mula yen dina iki mengko boss-e nemokake diskete, ora wurunga Rudy ora bisa endha maneh. Durung yen ketambahan interogasine polisi.

Sing dibingungake Anjasmara, nasibe sing repot. Yen Rudy ditangkep polisi, mangka bengi iki uga dheweke kudu menyang Purwantara nglamar Wulandari, wis mesthi gagal, ora sida. Sing untung Anjas. Nanging kabeh wong padha mangerti menawa ditangkepe Rudy, merga laporan ing korane Anjas. Pikire wong-wong mesthi iki trekahe Anjas anggone berjuang ngrebut Wulandari. Paling ora, wong sak Orkes “Nyidham Sari” padha mangerti persaingan Anjas karo Rudy rebutan sindhen Campursari. Durung pikiran liya. Yen dheweke balen karo Wulandari, lha njur Nanik piye? Loro-lorone sindhen Campursari. Ayune padha, padha dene leh uleng-ulengan. Anjas ngeses-ngeses karo gedrug-gedrug.

“Ana apa ta mas?” pitakone Nanik alon, karo mesem.

Anjas mung mengo karo nggleges, “Pipimu kuwi lho, yen mesem dhekik nggregetne,” celathune sakecekele wae timbang ora mangsuli.

“Ah…. mas Anjas,” Nanik mbales karo njiwit lengen. Sing dijiwit isih bingung.*

CUNTHEL

Dening: Andjar Any/ Panjebar Semangat – 12/2006

Lianju Hujan Musim Gugur

Puisi John Kuan

———  bersama Meng Jiao  dan Han Yu

 

Sepuluh ribu jerit pohon bersahut,

uap seratus sungai bergumul.   – Meng Jiao

 

Pekarangan bergolak pohon renggang merapat,

jendela menjelma semata jernih dan rukun.   – Han Yu

 

Seribu dua ratus tahun dan seguyur hujan berlalu,

satu baris kuning trengguli menyusup ke kolam waktu.

Walau deras belum habis tumpah ke mulut sungai,

terbang terapung bahkan naik menusuk awan    – Meng Jiao

 

Tuntun kenangan hingga ke gunung hampa,

dengar air menggelepar lewat pasir dan batu.   – Han Yu

 

Jujur di sini hujan tanpa musim gugur, teh celup,

Edith Piaf mendayu, seekor kucing kuyup di bawah mobil.

Atap miring menitis hujan sehelai sutera putih,

pintu air meluap sungai lebar dan jernih.    – Meng Jiao

 

Liur manis genangi embun dan hujan padi wangi,

perlahan lembabkan sebatang sudamala gundul berisi.   – Han Yu

 

Daun dipetik jatuh sehelai E Minor. Langit sebuah

microwave: hangatkan beberapa ruas mimpi dan tulang rematik.

Ombang-ambing di dasar ngarai gema bertengkar,

di dalam gigil angin ringkuk dibasuh sungai.   – Meng Jiao

 

Sepoi datang mengelus di depan kelambu,

kembali tinggi hinggap di langit luar.   – Han Yu

 

Ditempias Hujan Bulan Juni: SDD, tampak mirip

Du Mu. Agak ringan, mungkin tidak suka ngebir.

Betapa sempit liang belalang gelap dan sesak,

Tonggeret dari ranting ke ranting melumur muntahan jerit.   – Meng Jiao

 

Pagar mapel dan krisan berhamburan wangi bunga baru,

anggrek di sisi setapak menyepuh kelabu senja.   – Han Yu

 

Tarik keluar sepotong sajak dari kulkas waktu. Keras dingin

: kata sendok posmo. Haagen-Daz rasa sirup mapel bisa bersaksi.

Sekeping cermin bumi pantul pagi pantul petang,

kolam gemintang ternyata apung berlari.   – Meng Jiao

 

Decak kagum hanya satu bunyi lumrah,

tertuang penuh tenggorok sebaris seruling bambu.   – Han Yu

 

Cempaka Amir Hamzah tumbuh di dalam suhu kamar.

Aduhai bunga pelipur lara/ Terlebih pula duduk di sanggul.

Artikel Terkait:

Puisi Sejoli Sunyi

Puisi Sebuah Anti Travelogue

Puisi Bukan Sebuah Anti-Travelouge

Haramkah Pemimpin Non Muslim?

Pemimpin yang zalim akan binasa, walaupun muslim. Pemimpin yang adil akan jaya, walaupun bukan muslim. (Sayidina Ali)

Menyikapi polemik Lurah Susan yang semakin sengit dengan semakin banyaknya tokoh yang terlibat seperti misalnya dapat dibaca Mendagri Minta Jokowi Pertimbangkan Pindahkan Lurah Susan atau pernyataan Amien Rais : Jangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pemimpin sebagaimana dikutip VOA-Islam, ada baiknya untuk membaca pemikiran Akhmad sahal berikut ini.

HARAMKAH PEMIMPIN NON MUSLIM?

Gerundelan Akhmad Sahal

Benarkah memilih pemimpin non muslim haram? Setidaknya begitulah pendapat sebagian kalangan Islam seperti yang mengemuka dalam kisruh isu SARA di pemilukada DKI akhir-akhir ini. Dalil Al-Qur’an yang mereka pakai di antaranya adalah surah Ali Imran 28 dan Al Ma’idah 51. Dalam terjemahan Indonesia, ayat terakhir berbunyi : “Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Kata “pemimpin-pemimpin” pada ayat di atas adalah terjemahan dari kata ‘auliya’. Pertanyaannya, tepatkah terjemahan tersebut? Coba kita telusuri terjemahan ayat ini dalam bahasa Inggris. Yusuf Ali dalam The Meaning of the Holy Qur’an menerjemahkan auliya’ dengan friends and protectors (teman dan pelindung). Muhammad Asad dalam The Message of the Qur’an dan M.A.S Abdel Haleem dalam The Qur’an sama-sama menerjemahkannya dengan allies (sekutu). Bagaimana dengan penerjemah Inggris yang lain? Muhammad Marmaduke Pickthal dalam The Glorious Qur’an mengalihbahaskan kata auliya’ menjadi friends. Begitu juga N.J. Dawood dalam The Koran dan MH. Shakir dalam The Qur’an. Sedangkan berdasar The Qur’an terjemahan T.B. Irving, auliya’ diartikan sebagai sponsors.

Walhasil, tak satupun terjemahan Inggris yang saya sebutkan tadi mengartikan auliya’ sebagai “pemimpin.” Dan secara bahasa Arab, versi terjemahan Inggris ini agaknya lebih akurat. Perlu diingat, kata auliya’, bentuk jamak dari waliy, bertaut erat dengan konsep wala’ atau muwalah yang mengandung dua arti: satu,  pertemanan dan aliansi; kedua proteksi atau patronase (dalam kerangka relasi patron-klien).

Karena itulah agak mengherankan ketika dalam terjemahan Indonesia pengertian auliya’ disempitkan, kalau bukan didistorsikan, menjadi “pemimpin”, yang maknanya mengarah pada pemimpin politik. Bisa jadi karena kata tersebut dianggap berasal dari akar kata wilayah, yang memang artinya kepemimpinan atau pemerintahan.

Selintas masuk akal. Tapi kalau kita perhatikan lebih teliti, akan kelihatan bahwa anggapan ini tidak tepat. Mengapa? Kalau memang kata auliya’ bertolak dari kata wilayah, mestinya kata itu disertai dengan preposisi ‘ala. Dengan begitu, kalau QS 5:51 berbunyi ba’dhuhum auliya’ ‘ala ba’dh, auliya’ pada ayat tersebut bermakna pemimpin.Tapi ternyata redaksi ayat tersebut berbunyi ba’dhuhum auliya’u ba’dh, tanpa kata ‘ala setelah auliya’. Jadi tidak pas kalau akar katanya wilayah. Yang tepat, seperti sudah saya sebut di atas, adalah wala. ’Singkat kata, penerjemahan auliya’ sebagai pemimpin terbukti tak berdasar.

Lantas bagaimana kita mesti memahami ayat wala’ seperti QS 5:51 dan QS 3:28 yang secara harfiah melarang kaum mu’min untuk menjalin pertemanan dan aliansi dengan kaum non muslim, apalagi minta perlindungan dari mereka? Apakah ini larangan yang berlaku mutlak atau situasional? Memahami ayat tersebut secara literer dan berlaku mutlak di manapun dan kapanpun akan sangat bermasalah. Ada tiga alasan.

Pertama, makna harfiah ayat itu bertentangan dengan ayat lain yang justru menyatakan kebalikannya. Misalnya ayat yang menghalalkan laki-laki muslim menikah dengan perempuan Yahudi atau Kristen. Dalam ayat yang sama juga ditegaskan bolehnya kaum muslim untuk memakan makanan mereka, dan sebaliknya (Q 5:5) Selain itu, ada juga ayat lain yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk “berbuat baik dan berlaku adil” terhadap pemeluk agama lain yang tidak memerangi mereka dan mengusir dari tanah kelahiran mereka (QS: 8).

Kedua, Nabi sendiri pernah menjalin aliansi dan meminta perlindungan dari kalangan non Muslim. Kita ingat cerita hijrah para Sahabat ke Abessina (Habasyah) yang saat itu diperintah oleh seorang raja Kristen. Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi pernah meminta perlindungan kepada non muslim. Ketika di Madinah, Rasulullah memelopori pakta aliansi dengan komunitas Yahudi kota itu dalam bentuk Piagam Madinah. Bahkan pada level personal, Nabi  bermertuakan orang Yahudi, yakni dari istrinya Sofiah binti Huyai.

Ketiga, kalau QS 3:28 dan QS 5:51 dipahami secara harfiah dan mutlak, lalu bagaimana dengan pendirian Republik Indonesia yang dalam arti tertentu merupakan hasil kerjasama antara kaum muslim dengan pemeluk agama lain? Kasus lain: bagaimana  dengan keterlibatan negara-negara Islam di PBB yang nota bene terdiri dari banyak negara non muslim sedunia? Bagaimana pula dengan Saudi Arabia, negara yang tak mungkin berdiri tanpa sokongan dari imperialisme Inggris untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah pada awal abad 20? Sampai sekarang pun kita tahu Saudi mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Bukankah semua itu termasuk dalam kategori menjadikan non muslim sebagai auliya’? Berarti haram? Oh alangkah absurdnya jalan pikiran semacam ini!

Karena itulah ayat tersebut mesti ditafsirkan secara kontekstual. Penerapannya pun tak bisa sembarangan. Di sini ada baiknya saya mengutip Rashid Rida. Menurutnya, ayat-ayat pengharaman aliansi dengan, dan minta proteksi dari non muslim sejatinya hanyalah berlaku untuk non muslim yang nyata-nyata memerangi kaum muslim. Aliansi yang dilarang juga yang nyata-nyata merugikan kepentingan umat Islam (Tafsir Al Manar, Vol.3, 277).

Pandangan Rida ini juga sejalan dengan pendapat Fahmi Huwaydi, pemikir Islam kontemporer dari Mesir. Dalam karyanya Muwathinun La Dimmiyyun (Warga Negara, Bukan Dzimmi) Huwaydimenyatakan bahwa Islam sejatinya tidak melarang umatnya untuk membangun solidaritas kebangsaan yang berprinsip kesetaraan dengan non muslim, khususnya Kristen Koptik di Mesir. Ayat wala’/muwalah, di mata Huwaydi, mestinya tidak dilihat sebagai larangan terhadap solidaritas semacam itu. Ayat 5: 51, misalnya, sebenarnya diarahkan kepada kaum munafiq yang ternyata membantu pihak non muslim yang kala itu berperang dengan umat Islam.

Dengan kata lain, dalam pandangan Rashid Rida dan Fahmi Huwaydi, QS 3:28 dan QS 5:51 tidak berlaku secara mutlak, melainkan situasional. Artinya, larangan menempatkan non muslim sebagai sekutu atau protektor hanya berlaku manakala pihak non muslimnya jelas-jelas memerangi umat Islam. Adapun jika mereka tidak seperti itu, maka berarti larangan tadi otomatis tidak berlaku.

Menarik untuk dicatat, argumen Rida dan Huwaydi ini sebenarnya bisa dipakai juga untuk membantah klaim sejumlah kalangan Islam yang bergeming untuk memaknai kata auliya’ dalam QS 3:28 dan 5:51 dengan bersandar pada terjemahan Indonesia yang saya kutip di awal tulisan, yakni sebagai “pemimpin.” Dengan demikian, mereka tetap ngotot untuk mengharamkan memilih pemimpin non-muslim.Terhadap mereka kita bisa katakan bahwa ayat tersebut tidaklah berlaku mutlak melainkan situasional. Artinya, larangan menjadikan non-muslim sebagai pemimpin berlaku manakala si non muslim tersebut nyata-nyata memerangi  umat Islam. Di luar itu, larangan tersebut tidak berlaku.

Tapi lepas dari itu, kalaupun auliya’ tetap diartikan sebagai “pemimpin,” penerapan QS 3:28 dan 5:51 untuk konteks Indonesia modern juga salah sasaran. Perlu diingat, negara kita berbentuk republik yang menerapkan demokrasi langsung, sesuatu yang sama sekali tidak dikenal dalam sistem politik Islam klasik. Dalam sistem politik Islam klasik yang lazimnya berbentuk kerajaan, otoritas kepemimpinan yang dipegang khaliafah didasarkan pada legitimasi kuasa dari Tuhan, bukan dari rakyat.

Pemimpin dianggap sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, dengan kekuasan yang absolut. Tidak ada yang namanya pembagian kekuasaan a la Trias Politica sehingga sang pemimpin memegang kekuasaan tertinggi dalam ranah legislatif, eksekutif, dan yudikatif sekaligus. Dengan kata lain, kepemimpinan dengan model “Daulat Tuanku.”

Ini secara diametral berbeda dengan sistem republik yang menganut asas kepemimpinan bersendi “Daulat Rakyat.”Di sini pemimpin bukanlah pemegang kedaulatan tertinggi, karena legitimasinya justru berasal dari rakyat yang memberinya mandat melalui pemilu. Kekuasaannya tidak tak terbatas, karena ia bekerja dalam sistem demokrasi yang menerapkan pembagian kekuasaan.  Dalam sistem semacam ini, presiden atau gubernur hanyalah pemegang kuasa eksekutif saja alias “hanya” pelaksana. Sebagai pemimpin, ia hanya berkuasa sepertiga.

Dengan demikian, kalau memang pemimpin non-muslim hukumnya haram, mestinya penerapannya untuk konteks negara kita bukan hanya berlaku untuk lembaga eksekutif saja, melainkan juga legislatif dan yudikatif. Ini karena kepemimpinan dalam sistem republik modern bukanlah bersifat personal melaiankan kolektif dan sistemik.Tapi kalau itu dilakukan, maka sejatinya yang diharamkan bukan hanya memilih pemimpin non muslim, melainkan juga bisa mengarah pada pengharaman terhadap republik kita.

Hal lain, kalau memang dipimpin oleh non Muslim hukumnya haram, bagaimana dengan umat Islam yang menjadi warga negara di India, Amerika atau Eropa? Apakah mereka semuanya berdosa hanya karena jadi warga negara di negara-negara yang dipimpin oleh non muslim? Apakah para pemain bola seperti Zinedine Zidane, Mesut Oziel, Sami Khedira, Samir Nasri, Ibrahim Afellay, yang semuanya dipimpin oleh presiden atau perdana menteri non muslim, harus hijrah ke negara orang tuanya masing-masing di Timur Tengah?

Dengan paparan di atas, saya ingin menunjukkan bahwa wacana pengharaman pemimpin non-muslim  bukan hanya berbahaya karena membawa kita berkubang dalam isu SARA yang berpotensi memecah belah Indonesia. Yang tak kalah problematis, wacana tersebut ternyata tidak punya pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri, karena pedomannya adalah terjemahan ayat secara  tidak akurat, penafsiran yang sempit, dan penerapan yang salah alamat.

* Tulisan ini  telah juga dimuat di Majalah TEMPO edisi 16 Agustus 2012

Akhmad Sahal adalah Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika-Kanada dan kandidat PhD Universitas Pennsylvania.

Sumber: Jakartabeat.net

Artikel Terkait:

Fatwa Natal, Ujung dan Pangkal

Muslim Controversy ove ‘Merry Christmas’ Greeting

Mohammad Roem dan Hubungan Muslim Kristen di Indonesia Masa Lalu

Bukan Sebuah Anti-Travelouge

Puisi John Kuan

Setetes Air Hujan

setetes air hujan juga bisa nyanyi

bisa menari di atas jamur tumbuh

bunga mekar sebatang flamboyan

ekor anjing liar, ujung lancip bulan sabit

saat mereka berbaris ketuk sekali

tap dance, riang saat kau juga sudi

mengerutkan diri, membuka selaput

agar-agar waktu, ketuk tapak kaki

menari, bawa lapisan atsmosfer kalbu

pergi bersama, telah lama kau ingin

satu perjalanan tapi tidak terbentang

pada terang dan malam, bagai sepotong

agar-agar, kenyal melompat ke jauh

ke tempat setetes air hujan, begitu

leha-leha, bagai seorang gelandangan

membawa seluruh kisahnya, lupa

dirinya, pernah adalah setetes hujan

Lewat Gubuk Rumput Du Fu

kau di dalam senja sebiji jeruk

mengapit tunas rumput, angin sepoi,

dataran luas, musim gugur segera

matang, umpama kuning kepodang

papan catur baru digambar isteri

Gubuk berjingkat, langkahi dangkal

dalam sealir sungai, dari sana waktu

pasang naik, lalu diam-diam surut

biji catur masih di tangan, sisi depan

kabut, sisi belakang sedikit debu

ikan juga arak juga, dari celah-celah

waktu disodor keluar, matahari terbenam

juga, saat begini tiada orang datang

tiada orang pergi, titian di bawah kaki awan

dijalan jadi selembar peta, tampak jauh

adalah papan catur, siapa masih di dalam

angin malam bermain, taruh dua biji

tiga biji bintang tidak kalah tidak menang

dari mana ada pasukan tentara musuh

pada hidup itu ( atau hidup ini )

kau angkat kepala adalah dataran luas

( atau pantulan dataran luas ), sejarah

juga bukan sejarah, kekacauan atau bukan

kekacauan sekejap itu, dalam hening kelam

malam kepak sayap terbang ke angkasa

Mykonos Terapung

Salju yang siuman, jatuh di punggung

atap rumah musim panas, salah sangka

adalah mimpi lupa dibawa pergi rusa

waktu itu, orang-orang terapung di tengah

angkasa, dengan gaya punggung dan

kupu-kupu berenang, melampaui

hidup lalu yang diterjang ombak

juga hidup lalu yang lalu, dari jauh

terapung datang, di luar bingkai mimpi

kampung halaman entah siapa.

penjaja ikan keliling satu teriakan

sudah pecah berderai

Seekor Rusa Hujan di Nara

Kau pelan-pelan mengunyah

Opium. Ranting zaitun.

Tiga puluh juta seketika

Hujan jatuh di telapak licin

tumbuh jadi sebatang

pohon di tengah mimpi gelap

disambung dengan benang

Esok. Tak terhitung jamur,

serangga juga burung dara

pasti akan terbang naik

putus-putus nyala-nyala

di dalam hujan

di dalam lidah api

Dan kau hanya mengunyah

dedaunan yang riang

menari sepenuh langit

jatuh ke bumi lapuk

bagai lautan termanis

tetesan air paling asin

kau hanya mengunyah

sebatang pohon hidup

dengan langkah tidak bisa

kuberi nama, berkedip mata

ah, perahu biji zaitun itu

menumpang onak mimpi

di saat warna langit

menginjak pingsan senja

luap keluar indah kilau cahaya

 

Artikel Terkait:

Sebuah Anti Travelogue

Tiga Kilasan Gaya John Kuan.

Toleransi Palsu, Kebebasan Beragama Semu

Gerundelan Achmad Munjid

Entah untuk mengubur rasa bersalah atau karena “kurang gaul”, sebagian pejabat kita suka sekali membangga-banggakan diri dalam perkara toleransi dan kebebasan beragama. Berkebalikan dengan laporan-laporan tahunan yang dikeluarkan Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM, Setara Institute, Wahid Institute dan berbagai lembaga kredibel internasional mengenai kehidupan beragama di Indonesia yang bertabur noda, baru-baru ini, misalnya, Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan bahwa hubungan antar-agama di negara kita adalah yang terbaik di dunia. Dengan menengok sejarah sebentar saja, seharusnya kita paham. Sejak 1967, toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia lebih banyak ditafsir dan dipraktekkan menurut perspektif mayoritas.

Interpelasi Simorangkir bisa disebut sebagai peristiwa terbuka pertama menyangkut isu toleransi dan kebebasan beragama setelah kemerdekaan. Persis di awal Orde Baru, interpelasi Simorangkir diajukan kalangan Kristen dalam suatu sidang parlemen DPR GR 1967 guna menggugat pelarangan pendirian gereja Metodis di Meulaboh, Aceh. Menurut mereka, tindakan pelarangan itu menghancurkan semangat toleransi beragama, tidak sesuai dengan Pancasila, melanggar HAM dan mengancam persatuan nasional.

Sebaliknya, kalangan Muslim yang dimotori oleh tokoh seperti HM. Rasjidi dan M. Natsir menuduh bahwa dengan mendirikan gereja dan melakukan kegiatan misi di lingkungan Muslim seperti Aceh—yang pada jaman Belanda pun dilarang di bawah peraturan “double mission”—golongan Kristenlah yang tidak punya toleransi dan tak menghargai kebebasan beragama, membahayakan Pancasila serta mengancam kerukunan dan kesatuan bangsa.

Beberapa bulan kemudian, meletus pula “Peristiwa Makassar” yang dipicu oleh kombinasi antara tindakan pelecehan oleh seorang guru beragama Kristen terhadap Nabi Muhammad dan rencana penyelenggaraan Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI) VI di kota itu. Belasan gereja, sekolah, asrama dan bangunan Kristen dirusak massa Muslim. Bagi kalangan Kristen, ini merupakan bukti lain betapa umat Islam tidak memiliki toleransi dan tak peduli kebebasan beragama, sebagaimana yang telah mereka khawatirkan sejak perdebatan perumusan Konstitusi 1945. Sebaliknya, bagi warga Muslim, tindakan pelecehan dan penyelenggaraan SR DGI di kota berpenduduk mayoritas Muslim itu dipandang sebagai ekspansi terang-terangan dan pelanggaran terhadap prinsip toleransi serta kebebasan beragama.

Musyawarah Antarumat Beragama yang diselenggarakan Pemerintah pada akhir 1967 memang bisa menghentikan perdebatan terbuka yang potensial mengguncang tahun-tahun awal Orde Baru, tapi ia gagal menyelesaikan masalah. Berbagai peristiwa pada1967 dan periode formatif Orde Baru serta solusinya telah membentuk watak hubungan antaragama di Indonesia, sampai sekarang. Di bawah otoritarianisme Suharto, ketegangan dan saling curiga antarumat beragama terus mengendap, kadang pecah seperti dalam kasus pembunuhan seorang pendeta Kristen Australia pada 1974 yang berbuntut pembatalan rencana SR Dewan Gereja-Gereja Dunia 1975 di Jakarta, perdebatan RUU Perkawinan 1973, UU Peradilan Agama, UU Sisdiknas 1989 dan lain-lain.

Dengan menggunakan dalil kerukunan, Pancasila, kesatuan nasional dan HAM, khususnya Islam dan Kristen sebagai dua kelompok terbesar terus berebut tafsir dan berupaya untuk mempergunakan kekuatan negara dalam mendesakkan kepentingan masing-masing sembari saling tuding mengenai siapa yang membela dan siapa yang melanggar prinsip toleransi dan kebebasan beragama.

Dari Isaiah Berlin (2002) kita belajar tentang dua wajah kebebasan, kebebasan positif atau “kebebasan untuk” (freedom for) dan kebebasan negatif atau “kebebasan dari” (freedom from). Keduanya bukan cuma bisa merupakan dua ragam yang berbeda, tapi juga rival dan dua tafsir yang tak saling bersesuaian tentang kebebasan. Apa yang terjadi dalam hubungan antaragama di Indonesia adalah contohnya.

Akibat sejarah yang kompleks, khususnya dalam hubungannya dengan kelompok Kristen, sebagian Muslim di Indonesia cenderung memahami kebebasan beragama sebagai “kebebasan dari” pengaruh dan “gangguan” agama lain. Peraturan izin pendirian rumah ibadah dan pelarangan penyebaran agama terhadap orang yang “sudah beragama” yang dibuat Orde Baru setelah peristiwa 1967 atas desakan kalangan Muslim adalah contoh yang populer. Bagi umat Islam, toleransi dan kebebasan beragama terutama adalah “jangan ganggu iman kami”.

Sementara kalangan Kristen cenderung menekankan aspek “kebebasan untuk”, termasuk kebebasan untuk menyebarkan agamanya kepada siapa saja, baik yang “sudah beragama” maupun “belum”. Dalam perdebatan pada 1950-an, selain Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia, Konstitusi RIS 1949 yang secara eksplisit mencantumkan hak bebas berganti agama kerap mereka rujuk.

Sedangkan kelompok Muslim dan Hindu sama-sama sepakat agar umat yang “sudah beragama” tidak boleh dijadikan sasaran penyebaran agama. Ini memang merupakan isu genting, terutama sejak 1965, ketika Orde Baru mendorong arus konversi kedalam agama-agama resmi sebagai suatu cara untuk menghabisi golongan komunis. Agama-agama yang diakui pun saling berebut penumpang. Akibatnya, kelompok mayoritas takut kehilangan, kelompok minoritas takut tidak mendapat bagian.

Bagaimana dengan para penganut agama lokal? Dalam paradigma kewajiban menganut salah satu agama resmi ala Orde Baru, bukan cuma mereka dilihat sebagai pasar empuk penyebaran agama, nasib agama dan kepercayaan lokal tak perlu dipikirkan.

Sebagaimana kebebasan secara umum, sebenarnya kebebasan beragama selalu hadir dalam dua wajah, yang “positif” dan “negatif”, dan tidak ada yang berdiri sendiri secara mutlak. Karenanya, negara semestinya tidak perlu repot harus berpihak ke mana, kecuali kepada prinsip keadilan dan kesederajatan setiap kelompok dan warga. Agama adalah urusan pribadi yang wajib dijamin oleh negara. Tetapi, pelaksanaan kebebasan beragama, baik yang positif maupun negatif, harus ditindak jika terbukti melanggar aturan hukum. FPI, karena itu, tidak boleh dibiarkan sewenang-wenang menghalang-halangi usaha pembangunan rumah ibadah umat non-Muslim atau menghabisi kelompok-kelompok Islam yang mereka anggap sesat.

Pada masa lalu, Orde Baru dan banyak produk hukumnya, seperti peraturan pendirian tempat ibadah, pengawasan terhadap aliran kepercayaan warga negara, dan pewajiban pelajaran agama di sekolah umum telah membuat masalah toleransi dankebebasan beragama justru kian runyam. Sebab, Orde Baru memang tidak menjamin penegakan prinsip toleransi dan kebebasan beragama itu sendiri, melainkan memihak kepada tafsir keduanya menurut kelompok yang menguntungkan kepentingan politiknya. Sampai sekarang, warisan kebijakan dan paradigma itu rupanya masih terus dipertahankan.

Penganiayaan dan kesewenang-wenangan terhadap kelompok-kelompok minoritas seperti tercermin dalam kasus Syi’ah di Sampang, Ahmadiyah, dan GKI Yasmin, jelas menunjukkan bahwa posisi kita masih belum jauh bergeser dari situasi tahun 1967, lama setelah Orde Baru runtuh.

Mungkinkah yang kita bangga-banggakan selama ini cuma toleransi palsu dan kebebasan beragama semu?

Sumber: Note FB Achmad Munjid

Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo edisi 16 September 2013.

Artikel Terkait:

Agama dan Kesesatan

Agama yang Sempurna: Adakah?

Agama dan Kekuatan Sosial

Arti Penting Agama bagi Keadilan Sosial dan Budaya Perdamaian

Mengenal Puisi-Puisi Sufi yang Menenangkan Jiwa dan Universal

Gerundelan Sonny H. Sayangbati

Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku. – (Rumi – Blog Sastra Indonesia)

Puisi-puisi sufi banyak diperkenalkan oleh para penyair Arab dan Persia sebagai salah satu cara melestarikan nilai-nilai keagamaan atau ajaran-ajaran dalam kitab suci mereka. Para penyair sufi berupaya menulis dengan nilai-nilai luhur atau menggunakan pendekatan yang dinamakan : ” Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi).” – Wikipedia Indonesia.

Pendekatan yang lain mengatakan bahwa : “Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.” – (Wikipedia Indonesia).

Di Indonesia yang saya tahu dan baca buku-buku puisinya tokoh penyair sufi atau pun puisi-puisinya banyak mengulas masalah-masalah sufi dan maknanya adalah : Abdul Hadi WM, Sutardji Colzoum Bachri, Martha Sinaga (Martha Poem), Dhenok Kristianti, juga ada yang mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Remy Sylado (tokoh mbling), dan mungkin banyak yang lain yang belum dipublikasikan dan tidak diketahui, ini pendapat pribadi saya membaca karya-karya puisi mereka yang seringkali memiliki nilai-nilai religi, walaupun saya tahu ada perbedaan antara puisi sufi dan puisi religi menurut beberapa pakar puisi, namun bagi saya perbedaannya sangat tipis sekali.

Tokoh penulis puisi-puisi sufi dunia seperti yang sering disebutkan dalam media dan buku : Jalaluddin Rumi, Ibnu Arabi, Abunawas, Rabiah Al-Adawiyah, Hasan al-Bashr, Malik bin Dinar, Ma’ruf al-Kharkhi, Fudhayl ibn ‘ Iyadh dan banyak lagi yang lainnya yang dicatat.

Sebenarnya masyarakat puisi belum terinformasikan dengan baik mengenai berbagai macam karya puisi-puisi ini, sepenuhnya kita tergantung dengan buku-buku terjemahan baik terjemahan dalam bahasa Inggris atau pun terjemahan dengan menggunakan bahasa yang lain, umumnya para sarjana Barat sangat menaruh minat yang besar sekali terhadap tulisan-tulisan puisi sufi ini dan merekalah yang paling pertama menggali tulisan-tulisan puisi ini untuk menambah kekayaan ilmu puisi sufi mereka, dan kita masyarakat puisi di Indonesia hanya menunggu terbitan penerjemahannya saja dan buku-buku ini boleh di kata sangat langka baik diperpustakaan maupun di toko-toko buku komersial lainnya, ironis sekali.

Buku-buku puisi sufi sungguh sangat bernilai sekali untuk masyarakat yang pluralisme, beragam kebudayaan dan agama, seharusnya tokoh-tokoh pemerintah dalam sastra menuruh minat besar terhadap karya-karya seperti ini dan ini sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai moral yang luhur bagi generasi ke generasi lainnya dan juga sebagai jejak rekaman peristiwa, sungguh sayang sekali buku-buku semacam ini dikalahkan oleh buku-buku yang lainnya.

Saya mengamati, bahwa salah satu kelemahan khususnya juga bagi para ahli sastra dan puisi, mereka kesulitan dalam memperoleh sumber, kesulitan dalam mencari penerjemah sastra yang baik serta mungkin masalah dana dan kesulitan-kesulitan teknis lainnya. Saya berharap bahwa kepada para sastrawan dan tokoh-tokoh yang berwenang bisa mendatangkan karya-karya sastra terjemahan ke dalam khasanah kesuasteraan kita di tanah air, suatu hari kelak !

Mungkin karena di Indonesia memiliki banyak penulis puisi sufi, makanya mereka ingin menjadi tuan di negeri sendiri, iya itu sesuatu yang sangat positif, hanya saja puisi sufi belum populer di Indonesia, seandainya pun banyak dibahas hanya sebatas komunitas, dan mari kita menikmati hidangan rohani dari salah satu penyair religius ini, Abdul Hadi WM dalam blog pribadinya Kampung Puisi :

RAMA-RAMA

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat

meraba cahaya

terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut

menjelmalah kembang di karang

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat

di rambutmu jari-jari matahari yang dingin

kadang mengembuni mata, kadang pikiran

melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat

1974

Sebuah puisi yang indah dan bermakna religius, sejuk di hati, saya menganggap ini puisi bermakna sufi atau religi, mendambakan kehangatan cahaya dan kesejukan embun, bukankah kata-kata ini banyak digunakan untuk sesuatu yang religi ?

Menurut hemat saya siapa pun penyairnya bisa menulis puisi sufi atau bermakna religi ini, tidak terkecuali penyair dari Kalimantan Barat ini, Saifun Arif Kojeh (nama penanya) sedangkan nama aslinya Raden Sarifudin, puisinya menurut saya memiliki makna yang religius, dan dia menulis dengan indahnya dalam buku antologi puisinya : Sembahyang Puisi Menerjemahkan Rindu, h. 13

Sembahyang Puisi

Beduk menabuh di subuh kala

Menalu-nalu jantung kerinduan

Menyegerakan sembayang puisi-puisi terbuai

Menemui dan mencumbui kekasihnya

Dikerelungan yang syahdu ini

Dia mengharu biru dalam munazatnya

“Akulah pecinta dan yang dicinta”

Puisi ini menyejukkan hati, seperti kita ketahui seorang Muslim merupakan kewajiban baginya untuk sembahyang subuh, dan bagi pemeluk agama lain bangun pagi subuh juga merupakan pendekatan yang menyegarkan apabila kita khusuk berdoa dalam keadaan yang segar baik tubuh dan hati yang terdalam, pada saat-saat seperti ini jiwa manusia akan berkomunikasi dengan syahdunya antara pecinta dan yang dicinta.

Kata ‘kekasih’ dan ‘rindu’, seringkali digunakan dalam memaknai sebuah arti dalam puisi sufi dan religi ini, umum diketahui kata-kata ini memiliki arti tersendiri yaitu memaknai : Tuhan atau Allah, saya memaknai puisi Saifun Arif Kojeh ini sebagai puisi sufi dan puisi ini sungguh indah dan puitis :

Bila kutahu

Bahasa air yang mengalir ke muara

Sudah ribuan rindu mampu kuterjemahkan

Rindu ingin terbang seperti burung merpati

Dengan kesetiaannya

Mengantarkan amanat pengirimnya

Kepada orang yang ditujunya

Rindunya Leuser mengarungi laut lepas

menemui bidadari di ujung pulau impian itu

Menantang ombak dan badai yang mengganas

Untuk sampai di sana

Berbagai perasaan yang telah melepas sauh di hati

Bila kutahu

Bahasa bintang menerangi malam

Sudah ribuan rindu mampu kuterjemahkan

(Sembahyang Puisi Menerjemahkan Rindu, Saifun Arif Kojeh, Cover belakang buku)

Sesungguhnya syair-syair dalam puisi sufi itu memiliki nilai keabadiaan, ia sangat dekat dengan ‘Kekasih’, karena Allah adalah Kasih, ia mengasihi manusia tanpa batas dan kasihNya sangat ‘bermartabat’ dan ‘murni’ serta ‘universal’, mengapa demikian ?

Penyair Martha Sinaga (Martha Poem) menulis puisi singkatnya yang religius dalam bukunya : “Kumpulan Seribu Puisi”, h. 30. Ia menulis :

Ayat-Ayat Kekal

Semua ada

Lengkap

Runtun

Ajaib

Mujizat

Pengisi Iman

Kekal

Banyak penyair sufi dan religi beranggapan bahwa nilai-nilai rohani ini membawa manusia kepada sebuah kehidupan yang lebih baik, sebuah kehidupan yang sangat didambakan seluruh umat manusia yaitu kehidupan abadi, sesuatu yang kekal dan tidak binasa, begitupun dengan nilai-nilainya, mungkin juga sebuah puisi akan dibacakan di taman firdaus sebagai pembuka bagi para manusia yang mendapatkan kehormatan untuk hidup abadi di sana.

Banyak sahabat-sahabat penyair yang suka menulis puisi-puisi jenis sufi ini dan beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

MUNAJAT

wahai pemutus tali pusatku, hingga pisah dengan ketuban pahit. ajari aku faham jeriji hidup

di tajamnya kerikil singgahan dan simpang terlewati. tak keliru tafsir perhentian itu

biar dada teguh mengemudi beban dengan roda ganjil. di simpang-siur pertemukan bukan benang kusut

duhai penghulur rahmat. kolong ranah liar meriak. lubang-lubang pecah berserak bertubi-tumbang; aku terambing di bebatuan serpih antara duri-duri

duhai yang Maha. kentali dadaku dengan kasih.

Januari, 2013

(Kameelia, Bintang Kartika, penyair wanita Malaysia)

Artikel Terkait:

Puisi 2 Koma Tujuh, Sebuah Fenomena

Puisi-puisi Sonny H. Sayangbati

Apa Kata Pendukung Petisi Pembubaran Kementiran Agama?

Gerbang Surga

Tidak tahu, saya hanya tertarik saja untuk menulis kembali kisah ini. Sejak pertama kali membacanya, kisah ini melekat dalam benak saya, dalam ingatan saya. Tak pernah menjadi terlupa.

Begini:

kebersamaan-itu-menyenangkan
gambar dari devianart.net

“Terkisahkan di sebuah desa yang tentram sejahtera hidup satu keluarga yang hanya terdiri dari Bapak dan Putranya yang sudah dewasa. Bapak dan Putra ini hidup sangat sederhana dan hanya mempunyai hewan ternak berupa sebuah kuda. Kuda ini yang jadi tulang punggung penghasilan mereka, mereka gunakan sebagai kendaraan jasa angkut hasil hasil panen penduduk desa. Pada sebuah pagi, tanpa diketahui sebabnya kuda ini hilang dari kandang, sudah dicari ke mana mana oleh mereka berdua, tetap saja tidak ketemu. Akhirnya mereka menyerah mencari kudanya dan beralih mata pencaharian menjadi buruh tani .

Para penduduk desa tahu kalau kuda mereka hilang. Satu per satu para penduduk desa mendatangi rumah keluarga kecil ini. Para penduduk desa datang sambil membawakan bahan makanan yang banyak untuk diberikan ke keluarga ini. Mereka datang bermaksud menghibur sambil mengatakan, “Kami turut berduka cita atas hilangnya kuda kalian…”.

Oleh si Bapak dijawab,” Terimakasih atas wujud simpati kalian, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, tapi saya masih tidak tahu apakah peristiwa hilangnya kuda kami ini merupakan kabar duka atau kabar suka…”. Para penduduk desa pun pergi dari rumah mereka dalam keadaan bingung tidak mengerti apa maksud ucapan si Bapak.

Hari demi hari, selang satu minggu ternyata kuda kesayangan keluarga kecil ini kembali. Dan bahkan kembalinya bukan hanya sendiri, entah bagaimana kuda ini bisa kembali dan malah membawa sekumpulan kuda liar sebanyak sembilan ekor. Tentu saja ini kabar yang menggembirakan, artinya kekayaan keluarga ini menjadi sepuluh ekor kuda sekarang. Para penduduk desa mengetahui kabar ini kemudian datang berkunjung ke rumah si Bapak. Para penduduk desa mengatakan,“Selamat atas kembalinya kuda kalian dengan membawa kuda-kuda lainnya, kami turut berbahagia mendengar kabar ini…”

Oleh si Bapak dijawab,”Terimakasih atas wujud simpati kalian, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, tapi saya masih tidak tahu apakah peristiwa ini merupakan kabar suka atau kabar duka…”. Untuk kedua kalinya para penduduk desa pun pergi dari rumah mereka dalam keadaan bingung tidak mengerti apa maksud ucapan si Bapak.

Putra si Bapak begitu senang kini memiliki sepuluh ekor kuda. Setiap hari dia mencoba menaiki masing-masing kuda yang dia punya. Sampai pada suatu hari terjadi kecelakaan, dia terjatuh dari kuda, kaki kanannya patah. Kejadian ini terdengar juga oleh penduduk desa. Mereka mendatangi rumah si Bapak, “Kami turut berduka cita atas jatuhnya putra Anda, semoga kakinya segera sembuh kembali.”, begitu ucap para penduduk desa.

Oleh si Bapak dijawab, “Terimakasih atas wujud simpati kalian, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, tapi saya masih tidak tahu apakah peristiwa ini merupakan kabar duka atau kabar suka…”. Lagi-lagi para penduduk desa dibuat bingung oleh ucapan si Bapak.

Selang satu minggu kaki si Putra masih belum sembuh juga. Ada seorang pejabat pemerintahan yang datang mengumumkan bahwa setiap pemuda yang ada di desa akan diikutkan dalam perekrutan militer karena negara membutuhkan tentara tambahan dalam sebuah perang dengan negara lain. Akhirnya semua pemuda ikut, hanya tinggal putra si Bapak yang tidak ikut karena fisiknya yang sakit tak layak ikut perang.

Waktu berlalu, dua bulan semenjak perekrutan, pejabat pemerintahan yang sama datang kembali ke desa. Dia mengumumkan kepada seluruh warga desa bahwa setiap pemuda yang dulu direkrut dari desa ini telah gugur dalam medan perang. Sontak kesedihan menyelimuti seluruh penduduk desa yang putranya gugur di medan perang.

Kini di desa tersebut hanya tinggal seorang pemuda saja, yakni putra si Bapak. Keluarga kecil ini terpanggil untuk menghibur seluruh penduduk desa. Maka mereka datangi setiap rumah yang mempunyai putra yang telah meninggal. Dibawakan oleh mereka makanan, dan dikatakan oleh mereka kepada penduduk desa,“Kami turut berduka cita atas meninggalnya putra Anda…”

Setiap dari penduduk desa yang mereka datangi rumahnya menjawab,“Terimakasih atas wujud simpati kalian, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, tapi kami masih tidak tahu apakah peristiwa ini kabar duka atau kabar suka bagi kami…” “

Begitulah…

Saya tidak tahu apa yang kini ada dalam benakmu setelah membaca kisah ini. Tapi saya hanya ingin berbagi, kisah ini menginspirasi saya akan begitu banyak hal. Akan keikhlasan, sebuah keadaan di mana sesuatu tampaknya terjadi menimpamu, tapi tak pernah benar-benar menimpa dirimu, kejadian tak pernah benar-benar menjadi terlalu terhormat untuk menyentuh perasaanmu, kamu tahu sesuatu telah terjadi tapi pada saat yang sama kamu juga tahu telah tidak terjadi apa-apa selama ini.

Akan kedamaian sejati, sebuah keadaan di mana ketika kamu tidak tahu apa-apa, dirimu tetap tak tersedihkan oleh buruk sangkamu juga tak terbahagiakan oleh baik sangkamu. Seakan akan tanganmu terbuka menyambut apapun yang terjadi, apapun dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan dalam arti yang terpagari oleh batasan-batasan dalam benakmu.

Akan ketulusan, sebuah keadaan keterserahan yang hebat, pembunuhdirian paling bernilai. Segalanya terjadi tetapi kamu telah tak memiliki diri untuk merasakan, tetapi kamu tak sedang mati, justru kamu sedang hidup dalam kehidupan yang benar-benar hidup.

Akan cinta yang tertinggi, yakni seperti halnya dirimu yang mencintai, yang kamu cintai pun juga sebenarnya sesuatu yang tidak ada, tetapi kamu tetap mencintai, tetapi kamu tetap mencintai, tetapi kamu tetap mencintai.

Di sinilah surga, gerbangnya surga.

Penulis: Binandar Dwi Setiawan

Agama dan Kesesatan

Gerundelan Nasaruddin Umar

harmony gives happiness
ilustrasi diunduh dari peace from harmony.org

Suatu saat ketika Usama, seorang anak muda diminta menjadi panglima angkatan perang memimpin peperangan, menjebak seorang musuh bebuyutan di sudut cekung bebatuan. Merasa terjepit seorang diri, tentara musuh itu tak ada pilihan lain selain harus bersyahadat. Dia bersyahadat secara sempurna: Asyhadu an laillaha illalah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Namun, Usama tetap membunuh tentara itu. Salah seorang sahabat melaporkan hal itu kepada nabi, lalu nabi memanggil Usama dalam keadaan marah. Yang terlihat urat di dahi menonjol ke atas. Nabi menanyai Usama kenapa membunuh orang yang sudah bersyahadat. Usama memberi alasan, orang itu bersyahadat hanya cari selamat karena terdesak, bukan didorong kesadaran. Akhirnya Nabi menyatakan: Nahnu nahkumu bi al-dhawir wallahuyatawallas sarair (kita hanya menghukum apa yang tampak dan hanya Allah yang menentukan apa yang ada di dalam bathin orang).
Sejalan dengan hadis yang diriwayatkan dalam kitab Al-Muwaththa itu ialah firman Allah SWT: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS Al Qashash/28:56). Kita tidak diberi hak memaksa orang masuk agama Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran: Tidak ada paksaan (memasuki) agama (Islam). (QS Al-Baqarah/2:256). Jika kita sudah menyampaikan lantas mereka tidak mau mengikuti ajaran itu, itu menjadi urusan dan tanggung jawab mereka. Demikianlah kehendak Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semua? (QS Yunus/10:99).
Tentu ada kejengkelan atau ketidaksenangan terhadap mereka yang tidak mau mengikuti ajaran yang ditawarkan. Namun, betapapun kejengkelan itu muncul tidak dibenarkan melakukan tindakan tidak terpuji melampaui batas, seperti tindakan anarkistis apalagi membunuh mereka. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (QS Al-Maidah/5:8). Tindakan melampaui batas sangat dicela dan kita tidak dibenarkan mengikuti ajaran siapapun yang dinilai melampaui batas. Sebagaimana ditegaskan Allah: Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas (QS Al Syuara/26: 151-152).
Terlebih kita dilarang membunuh hanya karena perbedaan pandangan. Orang kafir sekalipun tidak halal dibunuh tanpa ada pembenaran khusus dalam syariah. Membunuh anak manusia apapun agama dan kepercayaan, apapun etnik dan warna kulit, tidak dibenarkan membunuh dan menyakiti. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semua. (QS Al-Maidah/5:32).
Dalam ayat di atas Allah SWT menggunakan redaksi man qatala nafsan (barang siapa membunuh manusia), tidak dikatakan man qatala muminan (barang siapa membunuh orang mukmin). Ini artinya Allah SWT memberikan penghargaan besar pada dunia kemanusiaan. Bahkan dalam salah satu ayat ditegaskan: Sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam. (QS Al-Isra/17:70). Allah SWT menggunakan kata Bani Adam (anak cucu Adam). Artinya siapapun yang dipandang sebagai anak cucu Adam tanpa membedakan latar belakang agama, etnik, jenis kelamin, warna kulit, bahasa, perbedaan geografis, juga perbedaan kewarganegaraan, yang penting dia manusia, maka wajib hukumnya yang percaya kepada Al-Quran untuk menghargai dan menghormati.
Perbedaaan adalah sunatullah. Allah SWT sejak awal merancang alam ini dihuni penghuni yang majemuk dan plural. Sebagaimana ditegaskan dalam Al Quran: Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. (QS Al Hujurat/49/13).
Perbedaan agama dan sumber aliran tidak perlu menjadi sumber konflik karena demikianlah rancangan Allah SWT. Idealnya antara umat beragama, terutama agama Samawi, mesti lebih gampang menjalin persatuan dan kesatuan. Karena sama-sama dirancang sejak awal,  sebagai agama monoteisme atau agama anak cucu Ibrahim. Tugas para pemuka dan pemimpin agama ialah bagaimana menekankan aspek persamaan dan pertemuan (encounters) antara satu agama dan agama lain. Bagaimana menitikberatkan persamaan antar agama sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran: katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu. (QS Al Imran/3:64).
Jika para tokoh agama memegang teguh pesan-pesan suci keagamaan ini, sudah barang tentu tokoh-tokoh agama akan tampil sebagai tokoh persatu dan figur yang selalu berwibawa dalam masyarakat. Agama akan tampil mencerahkan. Namun, jika tokoh-tokoh agama tampil sebaliknya, lebih menekankan aspek perbedaan (distinctiveness), dampak pada umat akan mengalami keresahan dan ketegangan. Agama akan tampil menakutkan. Kesabaran dan kejiwabesaran Rasullullah patut untuk diteladani. Sekalipun tumit berdarah-darah karena lemparan batu oleh kaum kafir Thaif dan sekalipun berhadapan dengan Musailamah al-kazzab, seorang yang mendeklarasikan diri sebagai nabi palsu, dia tetap tidak bergeming dan emosional sedikitpun. Agama dijalankan secara konsisten sesuai sendi-sendi ajaran Islam. Karena itu, Islam mempunyai nilai tawar sangat mengesankan ketika itu. Betul-betul membawa perubahan mendasar yang mengarah pada peningkatan martabat kemanusiaan.
Kita berharap, kriris kekerasan yang dihubungkan dengan agama yang terjadi di negeri ini secepatnya diselesaikan bersama. Salah satu cara, kembali menegok substansi dan ajaran dasar agama masing-masing yang sesungguhnya lebih mengedepankan kearifan dan kedamaian. Berhentilah mengekspos agama sebagai komoditas politik atau bisnis yang hanya menguntungkan segelintir masyarakat. Namun, akibatnya ditanggung masyarakat luas.

Sumber: Koran Jurnal Nasional, Senin, 21 Februari 2011

(Lagi) Puisi-puisi Ahmad Yulden Erwin

gambar oleh AYE
gambar oleh AYE

——–

ITU

——–

 

Lelaki itu berpikir dia bisa baku tipu terus soal dunia

Bayang tubuhnya pas teng 12 siang fanatik benar

Sepuluh jarinya terjulur di ranting jadi tangan Budha  

 

 

————————

PENARI TOPENG

————————

 

Kadang dia melenggok ke kanan, buka-tutup

Topengnya sedikit-sedikit, kayak tak percaya

Orang jaman kini tak lagi ngotot butuh subyek

 

Dipertahankan mati-matian di balik topeng kayu;

Kerincing kaki, tarik biji mata dua-dua lirik ke kiri

Pikirnya dengan begitu obsesi tuntas keliling dunia

 

Bisa nyata, dia kira semua penontonnya bodoh apa?

 

 

———————————-

DARI MEMOAR MATSUO

———————————- 

 

1.

Tidak asing lagi secangkir teh hijau terasa

Di lidah orang bisa belajar kebajikan asal

Bukan yang tinggi, hanya sececap getah

 

Sepah pucuk rumput terasa manis berabad

Ini bukan kembara jauh, bilang kakiku dekat

Dua-tiga langkah ditarik ke sisi tak terduga

 

Sekarang, orang bisa jalan dengan lidahnya

 

2.

Bila tidak suka tinggi-tinggi, bilang aku bisa

Terjun ke samudera di sumsum mata kaki

 

3.

Bisa pilih jalan lempang, sudah jadi karunia

Suka-suka orang berpikir tahu arah pulang

Tengok belakang tengok depan cuma jejak

Kelinci atau rakun. Pasti jelas bukan embun  

 

4.

Penyair tidak paham debam ekor paus bikin

Ombak di piring orang lapar, matanya buta

Nekat saja ia tulis haiku sampai lupa pulang  

 

5.

Sok-sok-an begini dibilang rahasia, tidak lihat

Hujan daun sakura gugur dekat bunga nazuna

 

 

———————–

Agustus 2013

———————–

Sebuah Anti-Travelogue

Puisi John Kuan

Satu Malam di Haurgeulis

Tidak ada cinta palsu, kawin tipu

raja ratu satu baju, sejarah di sini juga

legenda telah lama tidur. Udara hangat

padat, daun muda mangga Indramayu tebar

semacam harum, pipa bambu dalam gelap

menetes sejuk. Perkutut, juga seekor entah

burung apa sedang bersiul. Agak jauh

beberapa jendela mati lampu. Bulan penuh

di atas lumbung, Langit ada petir, terangkan

bunga-bunga mekar, di pekarangan daun

rimbun, rumah utama setengah ambruk.

Pipa bambu terus menetes, ada suara percik,

ayam berkokok, di malam angin aduk hujan

selalu begitu, awan hitam bersekongkol

guruh mengertak di jauh, saat itu angin baru

gila meniup, daun-daun menyahut, setetes

air hujan, banyak tetes air hujan kecipuk

kandang kambing dan atap seng

Dua Hari di Polandia

1.

Jembatan rel, pemusik buta jual nasib,

sebuah peti kayu, seekor camar,

siap siaga mematuk kertas nujum

kurogoh kocek, tapi ragu, sekitar penuh

penonton, aku berhenti, tarik keluar secarik

uang kertas 10 zloty, tertunduk, tidak

pandang bulu, sodor kepada pemusik

buta, camar seolah kilat, dari dasar peti

gigit secarik kertas, aku terima, berlagak

tenang: Awas pada kawan, kata kertas

Hati-hati masuk angin, kata kertas lagi

Aku kasihan kepada uang 10 zloty itu

Esok bangun, muka tebal, sebab pulas

ditampar angin garang, radang sendi

Kalau kawan, sejak itu tidak berani

2.

Biru tua beku, pantai dangkal, tepi Sungai

Wisla, es menumpuk sekujur tanggul

Duduk di atas balak, lonjong tapi basah

pelan-pelan diseka matahari terbenam

Tadi malam bersama Maria diguyur

Etude Szymanowski. Tahu, cinta telah

berakhir, persis seperti cheesecake

gosong dibakar temperatur tinggi

Sisi gereja di seberang Istana Potocki

pekerja belah batu tutup setapak

mata pisau berkedip dalam warna senja

telunjuk mandor mondar mandir

Tiga Jam di Rumah Lu Xun

Duduk hening di bawah bayang waktu, sejarah

tidak teriak lagi. Namun, puisi masih ditulis

pada semrawut jalan-jalan tikus pikiran

Negerimu sudah bangun? Di sudut-sudut ruang

memorial luas, tak terhitung batok kepala sehabis

dipotong taucang, pergi, hanya sisakan segumpal dahak

erat mencekik leher pengunjung, di antara mau

muntah dan tidak, menjaga garis pertahanan terakhir

pita suara. Maka, cekal suara, tidak bicara ihwal negara

diam menembus lewat satu bayang tubuh kesepian

demikian kosong, ingatan dikubur ke dalam bahasa derita,

tertidur, kita hanya berani pelan-pelan melangkah lewat

takut mengejutkan roh sedang merenung

lelah memikul seluruh Cina yang menggelembung

kita melangkah lewat, pada bayang perlahan mengecil

matahari di tengah hari, sebatang pohon jujube, dan langit

sebatang pohon jujube, tiada guruh, hanya segerombolan

suara kepak sayap merpati gegas melintas…

Empat Menit di Akademie Schloss Solitude

Schiller, Goethe telah diundang

ke sini menulis, membaca

setiap hari pukul enam pagi

pelayan ketuk pintu,

diperintah segera bangun

aku teriak: Baginda Yang Mulia

Muse masih amat pulas

buat apa pula aku bangun cepat

pinggiran Stuttgart bagian selatan Jerman

seperti kastil seperti istana di Baden-Wurtternberg

jauh dari debu dunia, tinggi bersemayam di puncak

cuma ada suara angin suara hujan suara burung

orang-orang pakai baju kuno naik kuda gagah

tapak kuda mengetuk bumi berlapis batu kali

di dalam batu kali pernah ada hatiku sebiji

Karena Setiap Kata Punya Makna