Arsip Tag: Karena

Catatan Pinggir Ceramah Umum Prof. Sudaryanto

Beliau memulai ceramahnya pagi itu dengan bertanya siapa di antara kami semua yang orangtuanya pernah mengenyam pendidikan tinggi. Dari sekian banyak hadirin, hanya sembilan orang yang mengacungkan jari, termasuk saya. “Memang kebanyakan dari kita menjadi penggagas dalam keluarganya, menjadi generasi pertama pencari ilmu pengetahuan dalam keluarga”. Itu yang pertama. Yang kedua, coba perhatikan hampir semua teori yang dipakai dalam lingkungan akademis adalah barang impor. Nama-nama disiplin ilmu, sebut saja sosiologi, biologi, antropologi, arkeologi, fisika, bahkan linguistik sekalipun diserap dari bahasa Latin. Karena memang dari sanalah disiplin ini dirintis sejak zaman Yunani kuno. Ilmu pengetahuan itu barang impor buat kita orang Indonesia. Karena kebanyakan dari kita masih merupakan generasi pertama pencari ilmu pengetahuan, maka problem lain yang muncul adalah bahwa kita tidak punya tempat untuk bertanya dan mengadu ketika menemukan masalah dalam proses pencarian ilmu tadi. Sehingga jika terjadi kesalahan, maka kekhawatiran akan terjadinya pembiaran kesalahan itu secara turun temurun tidaklah mengejutkan. Meminjam istilah beliau, banyak ilmuwan Indonesia yang keblinger dengan kesalahan yang tak disadari karena tidak ada panutan itu tadi. Demikian kendala perkembangan ilmu pengetahuan di negara kita.

Merujuk pada tema ceramah “Penutur Bahasa Indonesia yang Kreatif dan Kreator Kebudayaan”, profesor yang berpenampilan sederhana tapi sedikit nyetrik ini mencoba menguraikan kembali makna kata kebudayaan secara umum dan makna dalam Bahasa Indonesia khususnya. Kebudayaan merupakan sesuatu yang membedakan kita dengan makhluk lain, terutama binatang. Kebudayaan, pada hakikatnya, merupakan segala bentuk hasil kreatifitas manusia yang terus menerus berkembang seiring dinamika manusia itu sendiri. Manusia yang bergerak –semula tidak berpakaian menjadi makhluk mode seperti zaman sekarang, itulah kebudayaan. Jika dulu manusia hanya belajar dengan mengandalkan kedekatannya dengan alam, berubah menjadi makhluk yang menggemari institusi formal seperti sekolah, itu juga bagian dari kebudayaan. Jika dulu diet sehari-hari mengandalkan sumber-sumber yang tersedia di alam, kini berubah menjadi makhluk pencinta supermarket dan sejenisnya, itu juga namanya kebudayaan. Kebudayaan sebagai hasil cipta manusia, terus bergerak, berubah, dan berkembang. Berbeda dengan binatang, -memang binatang juga punya kreatifitas seperti kreatifitas burung membangun sarang di atas pohon. Namun perhatikanlah bahwa kreatifitas yang demikian bersifat statis, tidak dinamis. Sarang yang dibangun oleh burung dari zaman dahulu hingga kini sama saja, begitu-begitu saja. Sampai abad ke-21 ini belum ada rasanya burung yang mampu berkreasi membangun apartemen khusus burung sebagai pengganti pohon. Hanya manusia yang mampu berkreasi secara dinamis, sehingga kebudayaan menurut saya menjadi hak istimewa yang diberikan kepada manusia.

Kebudayaan memang memiliki cengkeraman yang sangat luas dalam berbagai lini kehidupan. Menurut Koentjaraningrat (1985), ada tujuh elemen kebudayaan yaitu sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem – sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian. Namun pada kenyataannya, ada satu hal yang menarik terkait definisi kebudayaan di negara kita. Dalam makalah Profesor Sudaryanto yang berjudul Dari “Anu” sampai “Nah” Terentanglah “Kebudayaan”. Beliau membeberkan istilah-istilah yang pasti sudah akrab di telinga kita, seperti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Dirjen Kebudayaan, Atase Kebudayaan, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Bahasa, Sastra, dan Budaya, Program Studi Ilmu Religi dan Budaya, dll. Menurut kaidah Bahasa Indonesia, konjungsi dan dipakai untuk menghubungkan dua kata atau lebih yang memiliki hubungan setara. Jika di atas kita sudah sepakat dengan Koentjaraningrat, bahwa ada tujuh elemen yang tercakup dalam kebudayaan, yang artinya tujuh elemen tersebut merupakan bagian dari kebudayaan, maka apa yang terjadi dengan pelabelan-pelabelan institusi di atas? Apakah kata kebudayaan  telah mengalami penyempitan makna dalam masyarakat Indonesia? Apakah kebudayaan di negara kita yang katanya berbudaya kaya ini hanya sebatas tarian tradisional, baju adat, musik daerah, dan kuliner daerah saja? Sesempit dan semiskin itukah?

Fenomena penyempitan makna kata kebudayaan ini mengingatkan saya kepada seorang pemikir multikulturalisme yang berkiprah di Kanada, Will Kymlicka. Pemikiran Kymlicka berfokus pada kebijakan untuk memberikan perlakuan khusus kepada dua kelompok etnis multikultural, yaitu kelompok bangsa pribumi minoritas dan kelompok imigran. Dalam tulisannya, Multiculturalism: Success, Failure, and the Future (2012), beliau menentang model multikultural 3S (saris, samosa, dan steeldrum). Model 3S menunjukkan bahwa ada tiga penanda multikulturalisme, yaitu tradisi (ia mengistilahkannya dengan tradisi sari dari India), musik (ia mengistilahkannya dengan alat musik steeldrum), dan makanan (samosa, yang merupakan makanan khas India). Model 3S ini melihat bahwa fokus kebudayaan hanyalah tiga hal ini, padahal pada kenyataannya fokus sebenarnya yang ingin ditekankan oleh Kymlicka adalah masalah sosial seperti pengangguran, masalah ekonomi, pendidikan yang rendah, segregasi tempat tinggal, penghasilan rendah, kemampuan Bahasa Inggris yang kurang. Tapi malah masalah ini tidak ditampilkan. Menurut saya apa yang ditentang oleh Kymlicka ini persis sama dengan kekhawatiran-kekhawatiran dari pertanyaan yang saya ajukan di atas tadi. Apakah benar kebudayaan di Indonesia bergerak menuju model 3S ini? Profesor Sudaryanto memberikan pekerjaan rumah bagi hadirinnya untuk merenungkan fenomena ini sendiri-sendiri.

Diakhir ceramahnya, beliau meninggalkan satu petuah yang bagi saya sungguh dalam maknanya. Jika kita mau merenungkan, satu hasil kebudayaan yang sangat sederhana sekalipun sebenarnya melibatkan banyak sekali kerjasama dari sekelompok orang yang jumlahnya tak terbayangkan oleh kita. Beliau menunjuk kancing bajunya dan berkata Ini juga hasil kebudayaan. Bayangkan bagaimana proses sebuah kancing baju bisa terpasang di baju Anda? Tentu Anda harus membelinya dari seseorang di toko kancing. Untuk pergi ke toko itu, Anda barangkali perlu alat transportasi, ada supir angkot di sana. Setelah mendapatkan kancing bajunya, tentu Anda membutuhkan benang. Siapa yang membuat benang? Siapa yang memproduksi bahan baku benang? Bagaimana dengan jarum? Anda membeli jarum dari seorang pemilik toko jarum. Pemilik toko biasanya menyimpan jarum di dalam kotak, siapa yang membuat kotak itu? Kotaknya bisa saja dipajang di etalase toko, siapa yang merancang etalasenya? Siapa yang membuat kacanya? Dari mana bahan kaca itu diperoleh? Barangkali kita tidak pernah menelisik sejauh ini. Perlu diingat bahwa ketika menggunakan sebuah hasil kebudayaan, kita sebenarnya telah menggunakan jasa orang-orang yang mungkin tidak pernah kita perhatikan sebelumnya. Lalu jika demikian, bagaimana bisa kita masih menjadi manusia yang sombong?

Kontributor:

Lidia K. Afrilita
Mahasiswa S2 Ilmu Linguistik Universitas Indonesia.

Ujung Lorong

Cerpen Agus Sulistyo
Editor Ragil Koentjorodjati

Diam, adalah selalu tujuan pelarianku. Dalam dekapannya, aku merasakan kehangatan pelan menjalari tubuh ini. Hingga aku selalu berharap, siapa saja yang ada di dekatku tidak akan terlalu banyak berbicara. Karena jika itu dilakukan, berarti ribuan jarum seolah berebut masuk ke telingaku. Satu suara mengiris kulitku. Suara-suara berikutnya merajam setiap jengkal jarak di tubuhku. Sementara orang lain tertawa di riuhnya kata, aku lebih menikmati kesendirianku. Bersembunyi di sudut hati. Hingga pada saat-saat tertentu, aku ada pada titik paling sunyi. Menggigil dalam sepi. Lautan sedang marah di depanku, dan aku masih saja terdiam. Orang-orang tertawa ke arahku dan aku tak yakin lagi bahwa itu adalah aku.

“Nama bapakmu siapa?” tanya Pak Mursidi, guru SD-ku. Aku terdiam. Selalu begitu.

“Bapaknya PKI Pak,” sahut salah seorang temanku. “Hahaha …” Disusul suara tawa teman-teman sekelasku yang lain. Semakin membuat aku terdiam. Aku tertunduk. Kusembunyikan wajahku di atas meja. Berbantal kedua tanganku yang terlipat di atas meja tempat dudukku. Air mata meleleh di kedua pipiku membasahi tangan. Tubuhku bergetar, tersia-siakan. Seolah tanpa penghuni di dalamnya.

Pak Mursidi memegang kepalaku sebentar. Mengusapnya, lalu berlalu kembali ke depan kelas. Pak Mursidi, yang sangat aku harapkan mau sekedar menabahkanku, tidak berkata apa-apa. Hingga yang kurasakan adalah, seolah Pak Mursidi ikut membenarkan perlakuan teman-temanku terhadapku. Aku benar-benar tidak mengerti apa itu PKI. Aku hanya merasakan bahwa PKI itu adalah sebuah aib yang luar biasa memalukan. Lebih menjijikkan daripada kelakuan buruk apapun di atas jagad ini.

“Benteng …,” aku tergagap. Kuangkat kepalaku. Mata nanarku terbentur pada satu wajah. Teman sekelasku juga. Perempuan. Maryam namanya. “Ketiduran ya?” sapanya lagi. Aku mencoba tersenyum kepadanya. Memang begitu. Seringkali aku ketiduran ketika menangis di kelas. Teman-temanku tak mengusikku lagi. Mungkin menjadi lebih baik bagi mereka untuk tidak melihat wajahku lagi. Daripada harus menahan kebencian mereka menyaksikan keturunan PKI.

Derit engsel jendela terdengar. Jendela-jendela ruang kelasku yang mulai ditutup Pak Ranto, penjaga sekolahku.

Hampir tidak ada patahan kata yang saling kami ujarkan, ketika akhirnya kami berdua pulang bersama. Baru saja kaki melangkah dari pintu kelas, tiba-tiba serombongan teman sekelasku muncul dari samping pintu.

“Dua orang aneh lewat … ha ha ha …,” tawa mereka pun mengiringi kepulangan kami berdua. Aku dan Maryam terus berjalan. Dengan kepala tertunduk.
Satu-satunya orang yang mau berteman denganku memang hanya Maryam. Nasib dia tidak lebih baik daripada aku. Keluarganya dikucilkan orang sekampung. Pernah suatu saat rumah Maryam hendak dibakar. Kata orang-orang kampung itu, orangtua Maryam memelihara pesugihan. Waktu ada anak kecil di dekat rumah Maryam meninggal, orang-orang kampung menuduh orangtua Maryam-lah penyebabnya. Kata mereka, anak kecil itu mati dijadikan tumbal pesugihan orangtua Maryam.
Bakar rumahnya!” teriak mereka.
“Tangkap buto ijonya!
“Bakar … bakar!”

Semakin liar dan tak terkendali suara-suara orang kampung itu. Maryam hanya terdiam di sudut halaman rumahnya, sepertiku. Mungkin air matanya juga sudah bosan mengalir di kedua pipinya yang tembem. Aku berdiri di sampingnya. Tidak ada kata-kata. Namun bahasa tubuh kami sudah saling memahami. Sorot mata kami sudah saling menguatkan.

Untunglah Pak Lurah saat itu berhasil meredakan amarah warga. Kedua orangtua Maryam disumpah pocong di mesjid kampung kami.

***

Lorong di depan kami begitu panjang. Hitam. Hingga ketika ada secercah cahaya, kami enggan menghampiri. Takut cahaya itu tak mampu terangi jalan kami sampai ke ujung. Dan kami harus susah payah menyesuaikan diri kami lagi. Menyesuaikan diri terhadap gelap yang telah terbiasa menyertai. Meski ketika aku menatapnya dan Maryam balik menatapku, bumi seolah berjalan sebagaimana mestinya.

Akan aku coba memperbaiki ketidakseimbangan ini,” kataku. “Dan aku akan bertahan untuk menjadi seorang teman di antara kita. Teman yang akan selalu mengisi hidupmu,” lanjutku.

Hanya seorang teman? Bapakku tidak tahu apa itu PKI. Dia hanya ikut-ikutan orang,” kata Maryam mencoba menengok asa.

“Hei…, bapakmu tahu, orang-orang itu tahu. Dan mereka benar. Aku telah menempatkan diriku pada keadaan yang mempersempit kesempatanku, meski aku tak pernah diberi pilihan untuk itu ,” kataku pasrah.

Dan seperti biasanya, angin pun sepertinya juga tak pernah merasa lelah untuk selalu menguapkan air mataku. Air mata Maryam juga. Angin sore yang ramah, yang menemaniku melepas Maryam mencari jalannya. Meski pilihan juga tak pernah ada bersamanya. Kehendak bapaknya.

Keluarga Maryam memutuskan untuk pindah ke Lampung. Alasannya, di tanah kelahirannya sendiri semakin banyak orang yang memusuhi. Dalam hati kecilku, aku lebih yakin keputusan itu dibebabkan oleh kedekatanku dengan Maryam.

“Kita harus menjaga yang kita miliki Maryam, sedikit dari milik kita.”
“Benteng.”
“Maryam.”

Aku tersenyum ke arahnya. Maryam melambaikan tangannya. Semakin menjauh.

***

“Le..,” suara ibuku membuyarkan lamunanku. Pandangan kami beradu. Di mataku berdiri sosok perempuan yang sangat aku cintai. Di matanya, ada gambaran rasa iba terhadap darah dagingnya. Yang pasti, dari mata kami terpancar rasa saling memiliki. Satu-satunya yang kami miliki. Dulu masih ada Maryam di antara kami. Aku sama sekali tidak menyangka kalau bapaknya Maryam tega merenggut satu-satunya hati yang kumiliki itu. Satu-satunya yang dimiliki oleh Maryam juga. Aku sangat tidak menyangka, kebersamaan nasib sedikit pun tidak mampu menggeser jalan hidupku.

“Maafkan Ibu ya Le…” Aku tersenyum ke arahnya. “Jaman sudah berubah, mungkin saatnya kamu tahu siapa bapakmu…, setelah sekian lama,” kata Ibu.

“Sudahlah Bu, apalah gunanya, toh semua tak dapat berubah. Andai  berubah pun, tak semudah perubahan jaman ini,” kataku pasrah.

“Tiga puluh lima tahun yang lalu, ibu dan bapakmu diterima bekerja di Pos telegraf dan telepon di sebuah kota kecamatan di Surabaya,” kata ibu tanpa menghiraukan keberatanku. “Tahun enam puluh, ketika diterima di jawatan itu, ibu dan bapakmu disodori formulir keanggotaan serikat buruh oleh kepala jawatan kami. Hampir seluruh pegawai menjadi anggota serikat itu.”

Aku diam, mataku setengah terpejam.

“Saat itu, ibu dan bapakmu setuju saja. Pikir Ibu, serikat buruh itu semacam kerukunan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai. Membantu menangani masalah yang dihadapi pegawai. Ada juga iuran anggota. Waktu itu besarnya seringgit, atau dua setengah rupiah tiap bulan. Dipotong dari gaji Ibu,” lanjut ibuku mengenang.

Kulihat tipis airmata ibu mulai menutupi selaput matanya.

“Serikat buruh itu memang berafiliasi ke Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia. Meski tak ada hubungan langsung secara struktural organisasi. Pada saat itu, SOBSI dikait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia.

Aku peluk Ibu erat ketika kristal-kristal di matanya mulai jatuh membentur lantai rumah.

“Sudahlah Ibu…”
“Ketika usiamu setahun. Setelah peristiwa enam puluh lima, semua pegawai di-screening”. Waktu itu, Ibu dan Pak Marsam bapakmu, berterus terang apa yang sebenarnya kami alami. Waktu mereka tanya ‘Saudara anggota SB?’ ibu jawab ‘iya’. ‘Saudara pernah ikut rapat SB? ibu pun menjawab ‘tidak pernah.’ Ibu tidak tahu apa yang dikatakan bapakmu Le. Setelah itu mereka membawa bapakmu. Sampai sekarang…,” memelas sekali suara ibu.

Beberapa saat hening. Ibu melepaskan pelukanku. Di saat itu juga tiba-tiba kedua mata ibuku memancarkan sebuah keteguhan. Sebuah kewibawaan yang mengiringi kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian.

“Jaman sudah berubah Le. Ada lorong hidup yang bisa kaulalui. Jalanmu masih panjang. Pergilah, cari Maryam. Biar Ibu hadapi bapaknya,” dalam sekali suara ibuku saat itu. Tanpa senyum. Tanpa ada pancaran kesedihan!

Dan saat itu tiba-tiba aku temukan apa yang selama ini aku cari! Apa yang selama ini sangat aku rindukan. Sebuah sikap. Aku merasakan apa yang hilang dari diriku, memancar keluar dari sorot mata ibuku. Meski aku tak tak yakin itu bisa mengisi jiwaku yang terlanjur kosong. Mengembalikan milikku yang telah terenggut. Setidaknya saat itu ada sebuah penutan untuk bisa bersikap sebagai lelaki, yang selama ini, selama hampir empat puluh tahun perjalanan hidupku, tidak pernah bisa kutemukan.

Hiruk pikuk di luar, yang meneriakkan kata-kata reformasi itu sama sekali tidak aku hiraukan. Pandanganku lurus ke depan. Menatap lorong yang akan aku lalui. Berharap bayangan Maryam kutemui di sana.

***

Lama tidak ada yang berbicara di antara kami berdua. Semilir angin sore membiarkan alunan hati kami masing-masing. Angin sore desaku yang tidak mampu lagi menghapus gerah yang menjalari seluruh tubuhku. Entah dengan Maryam.

“Kalau kedatanganku membuatmu tidak nyaman, aku pamit saja ya,” pelan suara perempuan yang sangat aku rindukan itu. Sepelan kekuatan hatiku yang sedang berusaha menerima kenyataan di hadapanku.
“Berapa bulan kandunganmu itu?” tanyaku dengan sedikit memaksa memberinya sebuah senyuman.
“Tujuh bulan …”
“Maryam …,” kataku. Setengah mati aku menahan air mata, hingga akhirnya tidak kuasa lagi. Dengan air mata bertetesan, aku tatap Maryam.
“Kenapa harus orang lain Maryam? Kenapa?!”
“Benteng, dulu dirimu sudah janji untuk selalu menjaga satu-satunya yang kita miliki. Persahabatan kita. Dulu, aku pun sudah mencoba menawarkan sebuah peluang untuk kita melangkah lebih jauh. Kini …”
“Sudahlah Maryam, aku tahu memang bukan salahmu,” potongku cepat.
Beberapa saat, kembali tidak ada suara di antara kami.
“Dia sudah tua Benteng. Tapi entahlah, dia begitu mengingatkanku kepada dirimu. Tatapan matanya, cara berbicaranya, bahkan … ah Benteng, maafkan aku.”

Pipi tembem itu mulai basah juga oleh air mata. Aku keluarkan sapu tangan dari celanaku. Aku usap pelan. Maryam memegang erat tanganku.

“Benteng, aku akan selalu menjaga yang kita miliki, sedikit dari milik kita,” kata Maryam. Aku ingat persis. Itu adalah kata-kataku kala aku melepas kepergiannya dulu. Tanpa sadar tanganku mengelus perut Maryam.

“Semoga menjadi anak baik, seperti ibunya,” bisikku sambil tersenyum. Maryam pun membalas senyumanku.

Di depan rumah terdengar suara mobil berhenti.

“Itu suamiku,” kata Maryam memberitahuku siapa yang datang. “Benteng, aku pamit dulu. Besok langsung pulang ke Lampung. Semua sudah berubah Benteng, kamu tak perlu takut lagi mencari penggantiku. Keburu tua nanti, hehehe. Jaga dirimu ya …”

Aku tersenyum mengangguk. Bergegas kami menuju ke depan. Baru saja kaki ini menjejak tanah halaman depan rumahku, aku melihat ibuku menjerit tertahan.

“Mas Marsam?!”
Orang yang baru keluar dari mobil itu pun kaget setengah mati. Pandangannya lurus tajam menatap ibuku.
“D a r r r t i i i i … ?!” kata orang itu tergagap.

Solo, Jan ‘12

Haramkah Pemimpin Non Muslim?

Pemimpin yang zalim akan binasa, walaupun muslim. Pemimpin yang adil akan jaya, walaupun bukan muslim. (Sayidina Ali)

Menyikapi polemik Lurah Susan yang semakin sengit dengan semakin banyaknya tokoh yang terlibat seperti misalnya dapat dibaca Mendagri Minta Jokowi Pertimbangkan Pindahkan Lurah Susan atau pernyataan Amien Rais : Jangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pemimpin sebagaimana dikutip VOA-Islam, ada baiknya untuk membaca pemikiran Akhmad sahal berikut ini.

HARAMKAH PEMIMPIN NON MUSLIM?

Gerundelan Akhmad Sahal

Benarkah memilih pemimpin non muslim haram? Setidaknya begitulah pendapat sebagian kalangan Islam seperti yang mengemuka dalam kisruh isu SARA di pemilukada DKI akhir-akhir ini. Dalil Al-Qur’an yang mereka pakai di antaranya adalah surah Ali Imran 28 dan Al Ma’idah 51. Dalam terjemahan Indonesia, ayat terakhir berbunyi : “Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Kata “pemimpin-pemimpin” pada ayat di atas adalah terjemahan dari kata ‘auliya’. Pertanyaannya, tepatkah terjemahan tersebut? Coba kita telusuri terjemahan ayat ini dalam bahasa Inggris. Yusuf Ali dalam The Meaning of the Holy Qur’an menerjemahkan auliya’ dengan friends and protectors (teman dan pelindung). Muhammad Asad dalam The Message of the Qur’an dan M.A.S Abdel Haleem dalam The Qur’an sama-sama menerjemahkannya dengan allies (sekutu). Bagaimana dengan penerjemah Inggris yang lain? Muhammad Marmaduke Pickthal dalam The Glorious Qur’an mengalihbahaskan kata auliya’ menjadi friends. Begitu juga N.J. Dawood dalam The Koran dan MH. Shakir dalam The Qur’an. Sedangkan berdasar The Qur’an terjemahan T.B. Irving, auliya’ diartikan sebagai sponsors.

Walhasil, tak satupun terjemahan Inggris yang saya sebutkan tadi mengartikan auliya’ sebagai “pemimpin.” Dan secara bahasa Arab, versi terjemahan Inggris ini agaknya lebih akurat. Perlu diingat, kata auliya’, bentuk jamak dari waliy, bertaut erat dengan konsep wala’ atau muwalah yang mengandung dua arti: satu,  pertemanan dan aliansi; kedua proteksi atau patronase (dalam kerangka relasi patron-klien).

Karena itulah agak mengherankan ketika dalam terjemahan Indonesia pengertian auliya’ disempitkan, kalau bukan didistorsikan, menjadi “pemimpin”, yang maknanya mengarah pada pemimpin politik. Bisa jadi karena kata tersebut dianggap berasal dari akar kata wilayah, yang memang artinya kepemimpinan atau pemerintahan.

Selintas masuk akal. Tapi kalau kita perhatikan lebih teliti, akan kelihatan bahwa anggapan ini tidak tepat. Mengapa? Kalau memang kata auliya’ bertolak dari kata wilayah, mestinya kata itu disertai dengan preposisi ‘ala. Dengan begitu, kalau QS 5:51 berbunyi ba’dhuhum auliya’ ‘ala ba’dh, auliya’ pada ayat tersebut bermakna pemimpin.Tapi ternyata redaksi ayat tersebut berbunyi ba’dhuhum auliya’u ba’dh, tanpa kata ‘ala setelah auliya’. Jadi tidak pas kalau akar katanya wilayah. Yang tepat, seperti sudah saya sebut di atas, adalah wala. ’Singkat kata, penerjemahan auliya’ sebagai pemimpin terbukti tak berdasar.

Lantas bagaimana kita mesti memahami ayat wala’ seperti QS 5:51 dan QS 3:28 yang secara harfiah melarang kaum mu’min untuk menjalin pertemanan dan aliansi dengan kaum non muslim, apalagi minta perlindungan dari mereka? Apakah ini larangan yang berlaku mutlak atau situasional? Memahami ayat tersebut secara literer dan berlaku mutlak di manapun dan kapanpun akan sangat bermasalah. Ada tiga alasan.

Pertama, makna harfiah ayat itu bertentangan dengan ayat lain yang justru menyatakan kebalikannya. Misalnya ayat yang menghalalkan laki-laki muslim menikah dengan perempuan Yahudi atau Kristen. Dalam ayat yang sama juga ditegaskan bolehnya kaum muslim untuk memakan makanan mereka, dan sebaliknya (Q 5:5) Selain itu, ada juga ayat lain yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk “berbuat baik dan berlaku adil” terhadap pemeluk agama lain yang tidak memerangi mereka dan mengusir dari tanah kelahiran mereka (QS: 8).

Kedua, Nabi sendiri pernah menjalin aliansi dan meminta perlindungan dari kalangan non Muslim. Kita ingat cerita hijrah para Sahabat ke Abessina (Habasyah) yang saat itu diperintah oleh seorang raja Kristen. Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi pernah meminta perlindungan kepada non muslim. Ketika di Madinah, Rasulullah memelopori pakta aliansi dengan komunitas Yahudi kota itu dalam bentuk Piagam Madinah. Bahkan pada level personal, Nabi  bermertuakan orang Yahudi, yakni dari istrinya Sofiah binti Huyai.

Ketiga, kalau QS 3:28 dan QS 5:51 dipahami secara harfiah dan mutlak, lalu bagaimana dengan pendirian Republik Indonesia yang dalam arti tertentu merupakan hasil kerjasama antara kaum muslim dengan pemeluk agama lain? Kasus lain: bagaimana  dengan keterlibatan negara-negara Islam di PBB yang nota bene terdiri dari banyak negara non muslim sedunia? Bagaimana pula dengan Saudi Arabia, negara yang tak mungkin berdiri tanpa sokongan dari imperialisme Inggris untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah pada awal abad 20? Sampai sekarang pun kita tahu Saudi mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Bukankah semua itu termasuk dalam kategori menjadikan non muslim sebagai auliya’? Berarti haram? Oh alangkah absurdnya jalan pikiran semacam ini!

Karena itulah ayat tersebut mesti ditafsirkan secara kontekstual. Penerapannya pun tak bisa sembarangan. Di sini ada baiknya saya mengutip Rashid Rida. Menurutnya, ayat-ayat pengharaman aliansi dengan, dan minta proteksi dari non muslim sejatinya hanyalah berlaku untuk non muslim yang nyata-nyata memerangi kaum muslim. Aliansi yang dilarang juga yang nyata-nyata merugikan kepentingan umat Islam (Tafsir Al Manar, Vol.3, 277).

Pandangan Rida ini juga sejalan dengan pendapat Fahmi Huwaydi, pemikir Islam kontemporer dari Mesir. Dalam karyanya Muwathinun La Dimmiyyun (Warga Negara, Bukan Dzimmi) Huwaydimenyatakan bahwa Islam sejatinya tidak melarang umatnya untuk membangun solidaritas kebangsaan yang berprinsip kesetaraan dengan non muslim, khususnya Kristen Koptik di Mesir. Ayat wala’/muwalah, di mata Huwaydi, mestinya tidak dilihat sebagai larangan terhadap solidaritas semacam itu. Ayat 5: 51, misalnya, sebenarnya diarahkan kepada kaum munafiq yang ternyata membantu pihak non muslim yang kala itu berperang dengan umat Islam.

Dengan kata lain, dalam pandangan Rashid Rida dan Fahmi Huwaydi, QS 3:28 dan QS 5:51 tidak berlaku secara mutlak, melainkan situasional. Artinya, larangan menempatkan non muslim sebagai sekutu atau protektor hanya berlaku manakala pihak non muslimnya jelas-jelas memerangi umat Islam. Adapun jika mereka tidak seperti itu, maka berarti larangan tadi otomatis tidak berlaku.

Menarik untuk dicatat, argumen Rida dan Huwaydi ini sebenarnya bisa dipakai juga untuk membantah klaim sejumlah kalangan Islam yang bergeming untuk memaknai kata auliya’ dalam QS 3:28 dan 5:51 dengan bersandar pada terjemahan Indonesia yang saya kutip di awal tulisan, yakni sebagai “pemimpin.” Dengan demikian, mereka tetap ngotot untuk mengharamkan memilih pemimpin non-muslim.Terhadap mereka kita bisa katakan bahwa ayat tersebut tidaklah berlaku mutlak melainkan situasional. Artinya, larangan menjadikan non-muslim sebagai pemimpin berlaku manakala si non muslim tersebut nyata-nyata memerangi  umat Islam. Di luar itu, larangan tersebut tidak berlaku.

Tapi lepas dari itu, kalaupun auliya’ tetap diartikan sebagai “pemimpin,” penerapan QS 3:28 dan 5:51 untuk konteks Indonesia modern juga salah sasaran. Perlu diingat, negara kita berbentuk republik yang menerapkan demokrasi langsung, sesuatu yang sama sekali tidak dikenal dalam sistem politik Islam klasik. Dalam sistem politik Islam klasik yang lazimnya berbentuk kerajaan, otoritas kepemimpinan yang dipegang khaliafah didasarkan pada legitimasi kuasa dari Tuhan, bukan dari rakyat.

Pemimpin dianggap sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, dengan kekuasan yang absolut. Tidak ada yang namanya pembagian kekuasaan a la Trias Politica sehingga sang pemimpin memegang kekuasaan tertinggi dalam ranah legislatif, eksekutif, dan yudikatif sekaligus. Dengan kata lain, kepemimpinan dengan model “Daulat Tuanku.”

Ini secara diametral berbeda dengan sistem republik yang menganut asas kepemimpinan bersendi “Daulat Rakyat.”Di sini pemimpin bukanlah pemegang kedaulatan tertinggi, karena legitimasinya justru berasal dari rakyat yang memberinya mandat melalui pemilu. Kekuasaannya tidak tak terbatas, karena ia bekerja dalam sistem demokrasi yang menerapkan pembagian kekuasaan.  Dalam sistem semacam ini, presiden atau gubernur hanyalah pemegang kuasa eksekutif saja alias “hanya” pelaksana. Sebagai pemimpin, ia hanya berkuasa sepertiga.

Dengan demikian, kalau memang pemimpin non-muslim hukumnya haram, mestinya penerapannya untuk konteks negara kita bukan hanya berlaku untuk lembaga eksekutif saja, melainkan juga legislatif dan yudikatif. Ini karena kepemimpinan dalam sistem republik modern bukanlah bersifat personal melaiankan kolektif dan sistemik.Tapi kalau itu dilakukan, maka sejatinya yang diharamkan bukan hanya memilih pemimpin non muslim, melainkan juga bisa mengarah pada pengharaman terhadap republik kita.

Hal lain, kalau memang dipimpin oleh non Muslim hukumnya haram, bagaimana dengan umat Islam yang menjadi warga negara di India, Amerika atau Eropa? Apakah mereka semuanya berdosa hanya karena jadi warga negara di negara-negara yang dipimpin oleh non muslim? Apakah para pemain bola seperti Zinedine Zidane, Mesut Oziel, Sami Khedira, Samir Nasri, Ibrahim Afellay, yang semuanya dipimpin oleh presiden atau perdana menteri non muslim, harus hijrah ke negara orang tuanya masing-masing di Timur Tengah?

Dengan paparan di atas, saya ingin menunjukkan bahwa wacana pengharaman pemimpin non-muslim  bukan hanya berbahaya karena membawa kita berkubang dalam isu SARA yang berpotensi memecah belah Indonesia. Yang tak kalah problematis, wacana tersebut ternyata tidak punya pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri, karena pedomannya adalah terjemahan ayat secara  tidak akurat, penafsiran yang sempit, dan penerapan yang salah alamat.

* Tulisan ini  telah juga dimuat di Majalah TEMPO edisi 16 Agustus 2012

Akhmad Sahal adalah Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika-Kanada dan kandidat PhD Universitas Pennsylvania.

Sumber: Jakartabeat.net

Artikel Terkait:

Fatwa Natal, Ujung dan Pangkal

Muslim Controversy ove ‘Merry Christmas’ Greeting

Mohammad Roem dan Hubungan Muslim Kristen di Indonesia Masa Lalu