Tears don’t lie by ThysLara Gambar diunduh dari creativephotographymagazine.com
~tentang kamu~
angin muson adalah kamu,
dari barat daya membawa riuh yang basah,
dari timur laut membawa sepi yang kering,
silih berganti,
sepanjang tahun.
~Maria~
aku ingin mempersuntingmu,
oh, sang perawan,
tak peduli pun bila harus berkelahi dengan tuhan.
~pagi yang rapuh~
aku tertawa menatap pagi yang rapuh,
tertatih-tatih menuntun setiap orang bertegur sapa dengan kesakitan.
Ia dilupakan, sebab orang lebih rindu pada malam.
~sesuatu hilang di sore tadi~
sore tadi,
matahari begitu merah saga,
bulat penuh, di langit biru bersih.
Kupandangi cukup lama hingga aku menyadari harus kembali melangkah.
Sebagian diriku yang tertinggal dibawanya entah ke mana.
~ketika senja tiba namun aku belum mati~
ketika senja tiba,
saatnya aku tenggelam,
bersama matahari,
dan semua menjadi dingin.
Sangat dingin.
~malam: ketika bahagia~
di kepak riang burung hantu,
ada bulu-bulu yang rontok,
dan duka mata yang terlalu bercahaya di kegelapan.
Hanya saja mungkin engkau tidak mampu melihatnya.
Catatan:
mengenali orang yang menyayangimu adalah sederhana,
jika kamu sedang bahagia, ia menunjukkan turut bahagia,
jika kamu sedang tidak bahagia,
ia mencoba membangkitkan kebahagiaanmu,
jika kamu memberi, ia akan memberimu lebih banyak,
jika kamu menolak pemberiannya, ia merasa sedih.
Jika kamu direndahkan, ia akan marah.
Jika kamu ditinggikan, ia mengabarkan ke sahabat-sahabatnya.
Jika ada yang menyakitimu, ia ikut tersakiti.
Jika ia menyayangimu,
ia akan mencari cara mewujudkan rasa sayangnya itu.
:::di tepi hujan sepanjang hari di awal tahun 2012:::
Betapa haru ketika menyaksikan seorang ibu yang dengan sepenuh jiwa bertaruh nyawa demi menghadirkan sang cabang bayi yang telah 9 bulan bersemayam dalam rahimnya tak peduli rasa sakit itu menyayat tubuhnya. Detik demi detik serasa waktu begitu lama berlalu. Dan perlahan rasa sakit itu berganti bahagia ketika mendengar tangisan sang bayi dan itulah awal perngabdian seorang ibu membesarkan buah hatinya.
Lain lagi cerita seorang ibu yang mendambakan kehadiran anak dalam perkawinannya yang telah dibina selama bertahun-tahun namun Tuhan belum juga menitipkan anugerah-Nya. Segala upaya pun ditempuh tak peduli berapapun biaya yang dikeluarkan hingga berobat keluar negeri demi kehadiran sang buah hati yang diharapkan akan semakin merekatkan ikatan perkawinannya. Kelak bayi-bayi di atas akan merasa beruntung dapat merasakan kasih yang tak terbatas dari sang bunda. Amat kontras dengan kehidupan bayi-bayi malang yang harus menelan pil pahit di kehidupan awal harus tersingkirkan karena kehadirannya tak dikehendaki. Di kolong jembatan, di hulu sungai, di tempat pembuangan sampah menjadi kuburan mereka. Atau bahkan sebelum mereka sempat menghirup udara dunia mereka para bayi malang itu dipaksa kembali ke surga lewat berbagai cara atau lazim disebut aborsi.
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus” berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Tindakan aborsi diizinkan jika memang memiliki indikasi medis tertentu, misalnya kelahiran tersebut dapat membahayakan nyawa sang ibu. Tindakan aborsi yang dilakukan atas dasar indikasi medis disebut sebagai abortus provocatus medisinalis. yaitu aborsi yang dilakukan atas keinginan pasien (Wirawan, 2007). Istilah ini kontras dengan abortus provokatus medisinalis, yaitu aborsi yang dilakukan atas indikasi medis.
Setiap tahun, diperkirakan ada 2,5 juta nyawa tak berdosa melayang sia-sia akibat aborsi. Angka ini terhitung besar sebab jumlahnya separuh dari jumlah kelahiran di Indonesia, yaitu 5 juta kelahiran per tahun. Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi tersebut, 1 – 1,5 juta di antaranya adalah remaja berusia 15 -24 tahun. ( detik Health30/5/2012). Dalam situs berita VIVA news (2011), tercatat bahwa terdapat 70.000 ibu yang meninggal dunia akibat praktik aborsi yang ilegal. Data lainnya dipublikasikan dalam situs VOA Indonesia (2012), bahwa diperkirakan terjadi lebih dari 45 juta kasus aborsi setiap tahunnya.
Seks bebas yang sekarang menjadi bagian dari gaya hidup hingga maraknya prostitusi khususnya di kalangan remaja menjadi pemicu tingginya angka aborsi. Ketidaksiapan mental untuk bertanggung jawab atas tindakannya serta anggapan bayi yang dikandungnya kelak hanya akan membawa aib menjadi alasan utama dan aborsi menjadi pilihan. Dan ironi, seringkali keputusan untuk melakukan aborsi kerap didukung oleh orang-orang terdekat pelaku dan lagi-lagi alasannya demi menutupi aib. Dan fenomena ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuka praktek aborsi illegal. Padahal sejatinya melakukan aborsi bukanlah solusi dan hanya menutupi masalah dengan menghadirkan masalah baru Post abortion syndrome (PAS).
PAS adalah dampak dari pelaku aborsi berupa trauma emosional, psikologis, fisik, dan spiritual yang diakibatkan oleh aborsi, di mana kejadian tersebut berada di luar pengalaman manusia biasa (Rooyen & Smith, 2004). Babbel (2010) mengungkapkan gejala-gejala dari PAS, yaitu: (1) rasa bersalah, yang dialami karena membuat sebuah kesalahan atau melanggar moralitas; (2) gelisah atau anxiety, yang mungkin muncul pada isu-isu kemandulan dan kemungkinan untuk hamil kembali; (3) mati rasa atau depresi; (4) kilas balik atau flashback, aborsi dilakukan dengan operasi dan umumnya terjadi saat pasien dalam keadaan sadar sehingga dapat menjadi sebuah pengalaman yang menjadi sumber stres; (5) pemikiran untuk bunuh diri, terjadi dalam kasus-kasus ekstrim. Mencegah lebih baik dari mengobati. Sebagai bahan renungan adalah Penelitian dari Robert Blum, seorang profesor perkembangan remaja di University of Minnesota mengatakan bahwa remaja yang dekat dengan ibunya cenderung takut dalam melakukan hubungan seks (Harnowo, 2012).
Aborsi bukan lagi fenomena yang baru kita dengar. Perempuan Indonesia khususnya mengalami kehamilan tanpa rencana dan sebagian perempuan melakukan aborsi untuk mengakhiri kehamilan, sekalipun menyadari bahwa aborsi adalah tindakan ilegal. Perempuan-perempuan Indonesia mencoba mencari praktek-praktek non-medis yang menggunakan cara-cara tradisional dan tidak melihat dampak jangka panjang yang kemudian membahayakan diri sendiri.Pada tahun 2000, sekitar dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi. Hal ini diketahui ketika fasilitas-fasilitas kesehatan melakukan penelitian di enam wilayah dan juga termasuk aborsi yang dilakukan secara spontan yang tidak diketahui jumlahnya. Pengukuran pada penelitian ini yakni 37 aborsi untuk setiap 1.000 perempuan usia reproduksi antara 15-49 tahun dan perkiraan ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan beberapa negara di Asia yaitu 29 kasus aborsi untuk setiap 1.000 perempuan usia reproduksi.
Perempuan-perempuan yang melakukan aborsi dikarenakan ada dua hal, yaitu 1) kondisi ibu atau janin yang tidak memungkinkan untuk memiliki kehidupan di luar kandungan dan 2) kondisi ibu yang tidak menginginkan janin untuk hidup di dunia ini. Aborsi atau abortus (bahasa medis) merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan yang kurang dari 26 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram. Hal-hal yang menyebabkan abortus itu dilakukan, yaitu : a) kelainan pada plasenta misalnya endarteritis dapat terjadi dalam vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian pada janin, b) ibu mengalami penyakit yang mendadak, seperti pneumonia, tifus abdominalis, anemia berat, dan keracunan, c) ibu mengalami kelainan bawaan uterus yang menyebabkan abortus. Dan selain itu, servik inkompeten disebabkan oleh kelemahaan bawaan pada serviks, dilatari serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks luar yang tidak dijahit dan hal ini terjadi pada usia tiga bulan pertama kehamilan.
Proses abortus dalam dunia medis terjadi pendarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas. Uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari delapan minggu, vili korialis belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Sedangkan, pada kehamilan antara delapan sampai empat belas minggu menyebabkan perempuan mengalami pendarahan yang banyak karena penembusan lebih dalam sehingga plasenta tidak terlepas dengan sempurna. Usia kehamilan lebih dari empat belas minggu, janin dikeluarkan dari plasenta. Pendarahan tidak terlalu banyak, jika dilepas dengan lengkap dan peristiwa abortus seperti persalinan dalam bentuk miniatur.
Pada kondisi kedua, ibu memang tidak menginginkan adanya kehamilan sehingga memutuskan untuk aborsi dengan alasan bahwa a) masih menginginkan untuk tetap sekolah, b) belum siap menjadi ibu, dan c) tidak ingin menambah anak lagi. Alasan masih ingin tetap sekolah dan belum siap menjadi ibu kebanyakan terjadi pada kasus remaja yang melakukan seks pranikah tanpa menggunakan pengaman. Atau bisa jadi perempuan yang mengalami kasus pemerkosaan-tidak siap untuk menerima pengalaman ini karena trauma yang diderita. Selain itu, perempuan yang mengupayakan aborsi adalah mereka sudah mencapai jumlah anak yang diinginkan.
Di Indonesia, perempuan-perempuan seringkali melakukan aborsi tidak pada tenaga-tenaga medis melainkan tenaga-tenaga non-medis yang memungkinkan tidak diketahui oleh pihak lain, biaya yang relatif murah, dan tanpa menyadari bahwa risiko-risiko negatif yang akan dialami. Aborsi yang dilakukan dengan tidak aman menimbulkan gangguan kesehatan hingga kematian pada perempuan itu sendiri. Kenyataan yang lain bahwa perempuan-perempuan Indonesia lebih memilih dukun bersalin, dukun tradisional yang menggunakan cara pemijatan untuk melakukan tindakan aborsi. Aborsi yang tidak aman dapat menyebabkan pendarahan yang berat, infeksi dan keracunan dari bahan yang digunakan untuk pengguguran kandungan, mengalami kerusakan pada alat kemaluannya, rahim, dan perforasi rahim.
Setelah melihat kenyataan-kenyataan di atas, masih pantaskah aborsi dilakukan? Ketika kita berbicara dari sudut etika, baik etika agama maupun hukum, maka aborsi tidak bisa dibenarkan, karena hal ini menyangkut pembunuhan nyawa manusia dengan kata lain kita merampas hak orang lain atau nyawa manusia yang tidak berdosa untuk memiliki kehidupan di dunia ini. Sehingga, perempuan-perempuan Indonesia perlu menyadari bahwa kehamilan sesungguhnya bagian dari anugerah Yang Maha Kuasa-yang tidak bisa ditolak.
Pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan setiap orang, khususnya perempuan untuk secara bijak perlu memikirkan kondisi-kondisi lain yang lebih memungkinkan bernilai positif bagi diri ketimbang hal-hal negatif yang merugikan diri sepanjang hidup.
SUMBER – SUMBER:
Badan Kesehatan Dunia (WHO), Aborsi Tidak Aman: Estimasi Globaldan Regional dari Insiden AborsiTidak Aman dan Kematian yangBerkaitan pada tahun 2003. (UnsafeAbortion: Global and RegionalEstimates of the Incidence of UnsafeAbortion and Associated Mortality in2003), edisi kelima, Geneva:WHO, 2007.
Badan Pusat Statistik (BPS) dan ORC Macro, Survei Demographi danKesehatan Indonesia 2002-2003 (Indonesia Demographic and HealthSurvey 2002-2003), Calverton, MD.USA: BPS dan ORC Macro, 2003.
Grimes DA dkk., Aborsi yang tidak aman: pandemik yang dapat dihindari (Unsafe abortion: thepreventable pandemic), Lancet, 2006, 368(9550):1908-1919.
Supriyadi, 2001, ”Politik Hukum Kesehatan terhadap Pengguguran Kandungan”, Makalah disampaikan dalam Diskusi Ilmiah, ”Aborsi Dari kajian Ilmu Politik Hukum” (Hukum Kesehatan dan Hukum Pidana), Yogyakarta: Bagian Hukum Pidana, FH-UAJY, tanggal 2 Juli 2002
Wignyosastro, G. 2001. Masalah Kesehatan Perempuan Akbat Reproduksi, Makalah Seminar Penguatan Hak-Hak Reproduksi Perempuan, diselenggarakan PP Fatayat NU dan Ford Foundation, Jakarta, 1 September 2001.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, aborsi diartikan sebagai pengguguran. Dan aborsi juga dibedakan menjadi dua, yaitu aborsi kriminalis dan aborsi legal. Aborsi kriminalis adalah aborsi yang dilakukan dengan sengaja karena suatu alasan dan bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Sedangkan aborsi legal adalah pengguguran kandungan dengan sepengetahuan pihak berwenang.Sementara itu, yang lebih berbahaya dan secara tidak langsung sedang menjadi trend di jaman sekarang adalah aborsi kriminalis, dan pelakunya adalah mayoritas pelajar dan mahasiswa. Berkembangnya jaman bukan membuat generasi muda makin pintar malah makin sesat. Pergaulan yang menggila, kebebasan yang keblabasan, dan mulai terkikisnya budaya timur, mungkin tiga hal tersebutlah yang menjadi pencetus lahirnya pikiran sempit yang tak bertanggung jawab. Dan pada akhirnya yang menjadi korban adalah perempuan serta calon manusia yang tak berdosa.
Di era globalisasi di mana pertukaran budaya sedang gencar dipromosikan, menggeser budaya kolot ke budaya modern, yang kini berpacaran di tempat-tempat umum sudah bukan hal tabu lagi malah dapat dilihat dengan mata telanjang oleh semua orang, seperti tontonan adegan romantis gratis. Tapi sayang, mereka tidak mengimbanginya dengan proses kontrol diri. Dan nasi telah menjadi bubur.
Sebenarnya tidak semua kesalahan harus ditumpahkan kepada dua insan yang sedang dimabuk cinta saja namun peran masyarakat, pemerintah dan orang tua juga sangat berpengaruh penting. Jika tiga elemen tersebut bersatu padu dan saling berpegangan tangan untuk lebih peduli maka persentase tingkat aborsi akan turun dengan signifikan dan nasib generasi muda juga akan terselematkan.
Peran masyarakat dibutuhkan untuk mengurangi beban batin bagi para perempuan yang sudah terlanjur mengandung. Biasanya, para tetangga malah menggunjing, mengolok, dan bergosip jika diketahui memiliki tetangga yang hamil duluan sebelum nikah. Bukankah hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya aborsi? Bukankah seharusnya yang tua yang dewasa? Rangkul dan dekati, karena tidak ada satu manusia pun yang luput dari khilaf dan dosa. Setiap manusia berhak mempunyai kesempatan kedua, dan mereka semua juga tahu, bahwa hanya keledailah yang akan jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama.
Selain itu, ada fakta yang mencengangkan, jasa aborsi dijadikan sebagai lahan untuk mengais rejeki. Yang lebih menyedihkan lagi, yang menyediakan jasa tersebut adalah mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan yang katanya berpendidikan serta memiliki tugas mulia menolong sesama. Sangat disayangkan, kesempatan dan keahlian yang telah dianugerahkan oleh Tuhan disalahgunakan hanya untuk mengantongi pundi-pundi dari hasil membunuh yang sudah tentu haram.
Dan untuk peran pemerintah sendiri, masih terkesan malu-malu kucing dalam bersosialisasi pada masyarakat luas. Karena dapat dilihat, bahwa para pelaku aborsi masih lebih takut aibnya tersebar luas dari pada resiko dari aborsi itu sendiri, yaitu yang biasanya sering terjadi adalah pendarahan dan tidak jarang berujung pada kematian. Acara talkshow di televisi memang sudah ada yang membahas mengenai bahaya aborsi namun masih kurangintens. Masih sekedar topik pilihan. Seharusnya bisa dibuatkan iklan di televisi, seperti iklannya keluarga berencana yang dibintangi oleh pasangan artis papan atas, dengan slogan yang membahana dan selalu terngiang di otak pemirsanya.
Meskipun nantinya pemerintah sudah getol mengkampanyekan anti aborsi tapi jika peran orang tua tidak ada, mustahil persentase aborsi di seluruh dunia bisa menurun. Karena pada hakekatnya, yang sedang dibutuhkan remaja bukan belaian pacar yang jika berlebihan akan berakibat fatal namun mereka butuh perhatian, pengertian, dan persahabatan dari orang tuanya. Jangan sungkan jika berdiskusi mengenai pacar anak-anak kalian, jangan menggurui juga jika anak sudah mulai membahas soal ketertarikan mereka pada lawan jenis, dan ini yang lebih penting jangan pelit waktu pada anak sendiri. Nah, bukan teori yang sulit kan? Sekarang tinggal mempraktekannya saja.
*) Alra Ramadhan, lahir di Kulon Progo, tinggal di Malang sebagai Mahasiswa Teknik Universitas Brawijaya. Selengkapnya: @alravox, atau alravox.wordpress.com
Saat masih kecil aku tidak mengenal Indonesia. Dan setiap kali aku tanyakan tentang Indonesia tiada satu pun orang yang mengenalnya. Tapi pamanku bilang di Indonesia itu rumahnya tinggi-tinggi dan menggapai langit. Di sana jika berjalan tidak perlu mengandalkan kaki, orang-orangnya bisa berjalan sambil duduk dan bernyanyi. Masih menurut pamanku, di sana cuacanya sanget aneh. Meski di luar hawanya begitu panas tapi di dalam ruangan akan terasa dingin. Sementara untuk makan mereka tidak perlu menanam padi, atau tanaman lainnya untuk kemudian di jual. Mereka dapat uang dengan duduk menghadap kotak aneh dengan gambar bergerak-gerak.
Tapi menurut Samuel, Indonesia tidak seindah seperti yang dikatakan pamanku. Indonesia adalah tempat pembunuh. Mereka tidak berburu binatang seperti yang kami lakukan di desa pamilin di tengah belantara Kalimantan. Tapi mereka berburu manusia. Bukan saja menggunakan Mandau atau sumpit, mereka menggunakan benda aneh berbentuk kelamin laki-laki yang bisa mengeluarkan benda bulat yang terbuat dari timah tapi panas. Bahkan Samuel juga bercerita jika kakaknya dibunuh oleh orang Indonesia saat berada di sana.
Saat aku Sekolah Dasar ibu guru Maria menjelaskan bahwa Indonesia adalah Negara kaya yang luas dan memiliki beragam suku dan budaya. Mereka hidup rukun dan bergotong royong seperti kehidupan di kampung ini. Sebuah kampung yang di kepung belantara Kalimantan, tempat di mana aku bisa bermain dengan otan dan wao–wao, serta berburu burung tiung untuk aku latih bicara seperti manusia. Dan ibu Maria juga mengatakan bahwa kampung Pamilin adalah wilayah Indonesia. Tapi aku meragukannya, karena di sini aku tidak menemukan rumah yang tinggi mencakar langit seperti kata pamanku. Aku juga tidak pernah melihat manusia membunuh manusia seperti kata Samuel. Hanya saja ibu Maria menjelaskan jika di Indonesia juga ada gereja.
“Ibu Maria! indonesia itu apa?” tanyaku lugu pada saat itu.
”Indonesia itu adalah negara kita, tanah air kita, tempat kita dilahirkan.”
“Indonesia itu jauh ya Bu?”
“Indonesia ada di sini, ada di hati kita seperti tuhan Yesus berada di hati kita.”
Begitulah tanyaku terus menerus karena ingin tahu apa itu Indonesia. Namun semakin Ibu menjelaskan tentang Indonesia, semakin aku mengerti jika Indonesia itu jauh. Jauh berbeda dengan bayanganku, juga jauh berbeda dengan keadaan di sini.
Pada buku yang aku baca, di Indonesia anak sekolah pakai seragam merah putih sementara aku dan teman-temanku tidak. Di Indonesia ada lampu pijar yang bisa menyala siang dan malam sementara di sini tidak pernah ada lampu pijar kecuali saat aku menginap di rumah teman Ibu di Emplanjau sebuah kota kecil di Malaysia. Itupun karena kami kemalaman untuk pulang ke Pamilin setelah menjual beberapa karung gabah. Sementara di luar hujan sangat deras sehingga jalan menuju kampung tidak mungkin lagi untuk dilewati.
Setelah umurku lima belas tahun aku diajak teman ayahku untuk merantau di kota Kuching. Kota itu benar-benar menakjubkan. Rumah-rumah yang tinggi menggapai langit dan orang-orang masuk dalam sebuah peti yang mampu bergerak sendiri. Mirip seperti yang dikisahkan pamanku. Tapi aku hanya mengagguminya dan tidak berbicara apa-apa. Aku malu jika Kai Apu teman ayah dan anak-anaknya mengejekku sebagai orang kampungan. Apalagi setelah aku bertanya pada anak gadis Kai Apu yang bernama Margaret itu.
“Apakah tempat ini adalah indonesia seperti yang dikatakan pamanku?”
“Ha ha ha……………..,” seketika Margaret tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang dia pikirkan. Aku berprasangka ia menertawakan ketololanku.
“Mico, ini adalah kota Kuching di Malaysia. Sedangkan yang berasal dari Indonesia adalah kamu,” terangnya yang semakin membuatku tidak mengerti.
Akhirnya aku berlaku sewajarnya seperti yang dicontohkan oleh orang yang ada di sekitarku. Aku bekerja seperti mereka, mengangkat karung-karung kain dari atas truk ke dalam pasar. Kemudian ada orang yang memberiku upah. Aku panggil dia Cik Lan dan Koh Yap, mereka sangat baik dan mengizinkan aku tinggal di rumahnya. Mereka adalah majikanku yang umurnya dua kali umur ibuku dan memiliki anak seumuran kakakku. Aku panggil dia Nona Mey.
Setelah tinggal dua tahun bersama keluarga itu aku menjadi sangat akrab dengan Nona Mey. Diam-diam ia mengajari aku menyetir mobil dan mendaftarkanku ke sebuah sekolah berseragam. Sekolah itu adalah sekolah lanjutan khusus yang belajar pada malam hari. Karena umurku saat itu sudah tujuh belas tahun sementara Nona Mey tidak lagi mau aku panggil Nona. Ia minta dipanggil Mey saja.
Selama sekolah, aku bekerja di siang hari sebagai sopir keluarga Koh Yap. Tapi aku lebih sering menghantarkan Nona Mey yang semakin sibuk mengurusi bisnis plasmanya. Dan saat itu pula aku juga semakin tahu mengenai Indonesia. Indonesia adalah negara tetangga Malaysia. Mereka sering berkonflik. Orang Indonesia sering mengumbar ganyang Malaysia sebagai bentuk kekecewaan terhadap tentara Malaysia yang suka menangkap nelayan Indonesia di selat Melaka. Mereka benci perlakuan majikan asal malaysia yang menyiksa pembantu rumah tangga bahkan juga mereka sangat tidak suka pada klub sepak bola Malaysia yang mereka rasa curang dalam memenangkan pertandingan.
Meski kata orang kampung Pamilin adalah bagian dari Indonesia, tapi selalu saja aku menganggap kampung kelahiranku itu begitu jauh dari Indonesia. Orang kampung Pamilin memandang orang malaysia sebagai kawan sementara orang Indonesia sulit jangkauannya. Bahkan semua kebutuhan orang Pamilin dipenuhi dari Malaysia, apalagi tentara Diraja Malaysia tidak seseram seperti menurut orang Indonesia. Mereka justru sering membantu memperbaiki jalan menuju Pamilin, sementara tentara Indonesia tidak aku tahu apa pekerjaannya.
“Nona, saya hendak pulang sejenak,” aku mengutarakan pamitku pada Nona Mey untuk pulang ke kampung setelah mendapat sesuatu kabar.
”Pulang ke Indonesia?” tanya dia
“Bukan.., saya hendak pulang ke Pamilin,” jawabku ringan tapi Nona Mey justru tersenyum, bahkan menurutku dia menahan tawa. Kemudian ia mengangguk mengizinkan.
“Cepatlah kembali lagi, aku semakin sibuk hari-hari ini.”
“Baik Nona.”
Setelah dua hari perjalan darat aku tiba di Pamilin. Setelah dua tahun aku tinggal, keadaan tanah lahirku begitu porak poranda. Seolah terkena musibah atau bencana. Rumah-rumah sebagian hancur. Sementara belantara di sekeliling desa sudah hampir sirna karena telah terbakar dan hangus.
Tapi aku mencoba bersikap biasa saja, karena mungkin inilah yang di ceritakan Agustinus saat tiba di Kuching kemarin. Ia bercerita tentang musibah yang menimpa kampung dan memporakporandakannya. Kemudian aku ingat ibu dan ayahku yang tinggal di tabing tengah kampung di samping gereja. Dan di hari minggu seperti ini mereka pasti berada di gereja yang sedang ramai kebaktian. Maka aku langsung memutuskan menuju gereja.
Tapi belum sampai halaman gereja, aku dapati penduduk sudah bergerak beriringan meninggalkan gereja. Padahal ini masih pukul 09.00, biasanya kebaktian selesai pukul 11.00. Namun yang paling aneh di antara orang yang berjalan beriringan menuju pohon besar itu terdapat beberapa orang membawa Mandau dan kampak. Sedangkan Romo Yosep justru berada di barisan paling belakang. Maka aku segera mengikuti barisan itu dan menuju Samuel yang aku lihat berjalan di samping Romo.
Setelah bergabung di barisan, aku mencium tangan romo dan berjabat tangan dengan Samuel.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Samuel.
“Penduduk hendak menumbangkan pohon malapetaka itu.”
“Pohon malapetaka?”
“Iya, pohon itu sumber malapetaka,” jawabnya.
Samuel juga bercerita jika mula dari malapetaka itu ada pada pohon itu. Karena pada suatu hari ada seseorang dari Indonesia datang di kampung. Ia membawa benda kotak kecil yang bisa menyala-nyala. Dengan kotak kecil yang disebutnya telepon seluler itu ia berbicara sendiri di bawah pohon. Dan katanya hanya di bawah pohon itu ia bisa berbicara dengan dunia luar yang ia sebut sebagai Jakarta, Surabaya dan Samarinda. Katanya ia akan mengundang teman-temannya ke sini pada suatu hari yang telah ditentukan.
Di hari yang telah ditetapkan itu penduduk desa mengadakan upacara penyambutan dengan tarian dan makanan yang jarang sekali mereka nikmati sendiri. Tapi ternyata sambutan itu tidak pernah memberi apa-apa. Dan kedatangan orang Indonesia itu juga tidak membawa berkah apa-apa, malah mereka membawa malapetaka bagi kami. Mereka meminta penduduk kampung meninggalkan Pamilin pada hari yang telah ditentukan. Tapi penduduk tidak bersedia diusir begitu saja dari tanah kelahirannya oleh orang yang bahkan belum pernah mengenal Pamilin sebelumnya.
Mengantisipasi tantangan pengusiran itu beberapa orang atas persetujuan pemimpin adat menggeser patok perbatasan antara Republik dan Kerajaan. Mereka menggeser patok lebih dekat dengan wilayah Republik sehingga wilayah kerajaan bertambah beberapa kilometer persegi. Itu dilakukan agar Republik tidak menghancurkan hutan itu juga, hutan tempat hidup beragam binatang dan tumbuhan. Maka binatang yang hidup di selatan kampung digiring menuju arah kerajaan daripada mereka kehilangan rumah dan mati sia-sia di hari yang telah ditentukan.
“Hari ini adalah hari yang ditentukan itu, para pemburu manusia akan mengusir dan membunuh kita,” ucap Samuel mengakhiri kisahnya.
“Tenanglah anakku, Tuhan tidak akan membiarkan ini terjadi,” tiba tiba Romo berbicara. Ia menyesalkan arogansi orang Indonesia yang sebelum meratakan kampung ini ternyata telah lebih dulu memusnahkan hutan dan membakarnya. Mereka akan membuka lahan untuk dijadikan kebun sawit dan kami adalah hama bagi perkebunan itu kelak jika tidak dibinasakan.
“Apa yang bisa kita lakukan?” tanyaku di saat pohon meranti itu mulai roboh. Rebahannya menimpa rerimbunan pohon yang lebih kecil dan menghancurkannya. Seiring ranting yang bercerai berai penduduk justru mengangis tersedu. Sementara gemuruh mulai terdengar dari balik rerimbunan hutan, suaranya mengaum-aum menyeramkan.
“Pergilah kembali ke Kuching, datangilah tempat yang disebut stasion telefision dan kabarkan cerita ini. Sementara kami akan tetap bertahan di sini mempertahankan tanah ulayat kami,” perintah Kai Albertinus pemimpin adat Pamilin.
“Segera pergi sebelum malapetaka besar itu benar-benar datang!” perintah Kai itu sekali lagi. Mendengar perintahnya aku segera berlari kepada ayah dan ibu. Aku memeluk mereka erat dan mengajaknya ikut pergi.
“Pergilah sendiri Nak, Ayah dan Ibu lebih baik mati mempertahankan tanah leluhur ini. Apalagi kami memang sudah pantas mati sebab usia sudah senja. Dan kau yang masih perkasa berjuanglah di luar. Masa depanmu masih cemerlang.”
Ujar ayahku meminta aku untuk tidak ikut bertahan di sini melainkan harus meninggalkan tempat ini sebagaimana pemuda seperti Agustinus, Yama serta remaja seumuranku lainnya.
“Pergilah anakku, kabarkan pada dunia tentang apa yang mereka sebut Indonesia.”
Maka sesegara mungkin aku berlari menjauh bersama Samuel. Kami berlari menuju gua walet di atas bukit yang dari sana kami bisa melihat Pamilin dengan jelas. Dengan jelas kami melihat truk besar, tank , dan mobil besar menerjang kampung serta merobohkan pohon-pohon dan rumah penduduk. Kemudian orang-orang berbadan tinggi dan berseragam loreng yang disebut Samuel sebagai pemburu manusia keluar dari dalam truk dan tank serta langsung memberondong seluruh penduduk kampung dengan senjatanya. Samar-samar aku dengar umpatan mereka.
Tapi seiring angin berhembus dan hujan turun berlahan kemudian melebat suara itu jadi menghilang. Begitupun gambarnya. Sementara Samuel masih saja bergumam,“ orang Indonesia, pembunuh sesama manusia.”
Melihat kondisi Samuel yang kurang stabil kejiwaannya karena kembali mengenang bagaimana kakaknya dibantai di kota Sampit beberapa tahun lalu, aku mengajaknya masuk ke dalam gua sarang wallet. Hawa dingin di luar segera menjadi hangat. Aku pun tidur pulas karena masih lelah melakukan perjalanan dari Kuching ke Pamilin. Namun begitu bangun aku sudah tidak melihat Samuel di sampingku seperti semula. Aku segera berlari keluar gua.
Di luar gua matahari telah mengintip di balik bukit karena ternyata pagi telah menjelang, kabut tipis pun mulai tersibak oleh hangat sinarnya. Begitu pun kabut yang menutupi pemandangan Pamilin dari atas bukit. Seiring kabut yang tersibak berlahan-lahan, tampak kampung itu telah menjadi merah. Sungai-sungainya pun ikut menjadi merah dan pohon juga memerah. Burung gagak mulai terbang mengitari kampung . Di salah satu sudutnya masih ada manusia berseragam loreng dan di bagian lain mesin pemotong telah menumbangkan beberapa pohon.
Tanpa pikir panjang, juga tanpa berpikir tentang Samuel aku segera berlari menuruni bukit sambil mengingat perintah pemimpin adat untuk kembali ke Kuching dan mengabarkan tragedi ini di stasiun telefision. Aku kembali menembus hutan namun tidak berani menengok kampung Pamilin yang telah menjadi kampung merah.
***
Seperti biasa, cuaca kota Kuching terasa begitu panas. Tapi rupanya tidak sepanas hatiku. Sudah beberapa media cetak dan telefision yang aku temui tapi mereka tidak bersedia menanggapi kabar yang aku ceritakan. Meski awalnya mereka sangat antusias dan saling memandang tapi begitu mereka menelpon seseorang pasti kemudian mereka menolak memberitakan ceritaku atas tragedi yang menimpa Pamilin dan penduduknya.
“Maaf Tuan, kami tidak bisa memberitakan kisah anda. Kami takut akan terjadi konflik komunal yang lebih besar di negeri anda seperti yang terjadi di Kota Sampit beberapa tahun lalu.”
Begitulah kira-kira jawaban mereka kepadaku sebelum kemudian kami berjabat tangan. Senyum mereka mengembang seperti bunga cubung yang membuatku makin pusing dengan tingkah mereka.
Ketika harapanku pupus dan pikiranku kacau karena putus asa, media terakhir yang aku kunjungi menyarankan aku agar melapor ke NGO Lingkungan hidup. Dan dari NGO itu, aku mendapat informasi bahwa media tidak bersedia memberitakan kisahku bukan karena takut konflik komunal yang akan terjadi. Karena mereka tidak berkepentingan terhadap konflik itu. Mereka takut memberitakan kisahku karena di balik perusakan hutan di Kalimantan pada umumnya dan pembantaian di kampungku pada khususnya ada perusahaan plasma kelapa sawit asal Malaysia. Dan biasanya perusahaan itu memiliki andil dalam hiruk pikuk media dalam negeri. Maka sangat wajar jika media takut memberitakan ceritaku karena akan sangat berpegaruh bagi kelangsungan hidup media mereka.
Tapi ada satu hal yang membuatku terkejut dan begitu kecewa bahkan tidak ada dalam bayanganku sebelumnya. Ternyata di balik pembantaian di Pamilin ada perusahaan kelapa sawit milik Nona Mey. Majikanku sendiri yang baik dan bersedia menyekolahkanku hingga setingkat SMA bahkan bersedia membiayai kuliahku .
Meski dengan kekacauan dan kegalauan yang berkecamuk di benaku. Tanpa media aku menulis kisah ini. Kisah tentang betapa jauhnya Indonesia.
*) Penulis adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya.
Tuhanku, Terima kasih telah memberiku umur cukup panjang sampai saat ini. Terima kasih telah melimpahiku dengan nikmat yang berlebih, keluarga yang hebat, teman-teman yang luar biasa, serta…orang-orang baru dalam hidupku.
Tuhanku, mungkin aku bertemu denganMu setiap hari dalam doa-doaku, tapi mungkin aku tidak mengucapkan dengan khusyuk betapa aku berterima kasih atas semua yang telah Kau berikan kepadaku, terutama kesempatan untuk belajar mengenai kehidupan melalui jalan yang telah Kau pilihkan untukku. Lurus maupun berliku.
Tuhanku, tahun lalu begitu banyak yang telah terjadi dalam hidupku. Jujur mungkin tahun lalu adalah tahun terberat sepanjang hidupku sampai saat ini. Baik karena masalah masa depan, keluarga dan cinta. Aku tahu Kau bergerak dengan cara yang misterius, dan entah bagaimana aku merasa mulai memahami semua kesulitan yang ada kemarin sebagai suatu caraMu untuk menjadikanku seseorang yang lebih baik dalam berbagai hal.
Tuhanku, Kau menemukanku dengan orang-orang baru dalam hidupku, menghantarkanku pada kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, menamparku dengan pengalaman-pengalaman yang begitu menyentuh, menyadarkanku akan kehidupan superficial yang selama ini aku jalani. Membuatku lebih sangat bersyukur dan menyadari besarnya nikmat yang ada dalam hidupku. Apakah aku menjadi seseorang yang lebih baik karenanya?? Aku sangat berharap hal itu terjadi.
Tuhanku, Terima kasih,terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas kesempatan yang telah Kau berikan untukku di sepanjang kehidupanku. Tolong terus bimbing aku, arahkan aku, tegur aku, lindungi aku, dan bantu aku untuk terus mengingat bahwa aku sangat mencintaiMu dan membutuhkanMu…
Tuhanku, bila tidak terlalu merepotkan, dengan caraMu, tolong sampaikan pada orang-orang tercinta dalam hidupku bahwa aku sangat menyayangi mereka. Mungkin caraku tak dapat mereka mengerti atau malah dapat mebuat mereka salah paham akan maksudku. Aku masih terus belajar menjadi orang yang lebih baik dan lebih pengasih kepada orang-orang di sekitarku. Jadi untuk saat ini aku hanya dapat meminta Kau membukakan jalan ke hati mereka, baik keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-temanku dan orang-orang yang selintas bertemu dalam hidupku namun memberikan dampak kecil maupun besar dalam hidupku, untuk membiarkan mereka tahu bahwa aku mencintai mereka dan sangat menghargai mereka dalam hidupku.
Tuhanku, untuk seseorang yang ada saat ini, baik dia akan menjadi seseorangku di masa depan maupun hanya sesaat saat ini, tolong beritahu dia bahwa aku menyayanginya. Aku menghargai keberadaannya dalam hidupku dan dengannya aku merasa sangat bahagia. Bantu dia untuk mengerti aku sebenarnya, karena sepertinya terkadang dia tersesat untuk mengetahui aku yang sesungguhnya. Bantu dia mengerti, bahwa dalam kekerasan, keacuhan dan ledakan emosionalku aku hanya butuh dia selalu menyayangiku dan ada untukku. Mungkin dia tak akan mengerti aku seutuhnya sampai kapanpun, tapi aku hanya butuh dia mau untuk berusaha mengerti sebagaimana aku terus berusaha untuk memahami dia dan ada untuknya. Bahwa dalam setiap keraguanku untuk bersamanya, setiap itu jugalah aku berdoa agar Kau menghapus keraguan itu. Bahwa setiap aku merasa dia ragu padaku, saat itu jugalah aku berdoa agar Kau yakinkan dia. Bahwa saat bersamanya aku merasa menjadi seseorang yang lebih baik, aku berdoa padaMu agar dia menjadi seseorang yang lebih baik karenaku. Bahwa setiap aku berkeluh kesah mengenai sikapnya, sesaat setelah itu aku menyesal karena tidak cukup berterima kasih atas semua usaha yang telah dia buat untuk menyayangiku. Bahwa saat aku berfikir seandainya dia memang bukan untukku, aku sangat-sangat berdoa dengan siapapun dia, dia akan bahagia. Sebagaimana dia sudah membuatku bahagia selama ini. Bahwa saat aku berfikir seandainya aku bukan untuknya, seseorangku di masa depanku memiliki kebaikan hatinya, kesabarannya, kepintarannya dan kehangatannya. Tuhanku, Aku berjanji untuk berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Selama Kau membimbingku Tuhanku terkasih, aku tahu aku akan baik-baik saja.
Penuh Cinta, Gadis yang Merayakan Hari Kelahiran
Dobo, 17 February 2011
Kirana: Hanya seseorang yang kadang tersesat dalam alam pikirannya dan menemukan jalan keluar melalui goresan-rangkaian kata.
pada benderangnya siang yang gempita..
di heningnya malam yang senyap
aku akan selalu mengingatmu..
tiada henti aku merinduimu sayang
…
burung merpati di angkasa menukik turun membawa kabarmu
kudengar kamu sedang murung melamunkanku..
Kurasakan jua kamu merintih merinduiku sayang..
…
angin berhembus lembut sepoi
menyapu sampai jantungku..
kudengar degup jantungmu
yang berdetak menyerukan namaku selalu..
…
cintaku
dalam kerinduanmu
selalu aku merinduimu..
dalam tangis harapmu
selalu kuteteskan air mata untukmu
…
sabarlah cintaku
hari indah itu segera tiba
satu purnama lagi sayang..
kau dan aku akan satu dekapan hangat lagi..
satu purnama lagi
kita akan bersatu dalam rumah cinta kita
rumah cinta yang selalu kamu rindu dan aku damba
…
Sepi itukah kamu?
Seusai gema raya semesta membuai mata, telinga dan celana.
Aku gigil ngilu.
Terbelenggu bahu membatu.
Luka itukah kamu?
Seusai kutelanjangi sebuah dada dengan air mata.
Lecut bekas bibirmu.
Kamu tergugu, aku termangu.
Kamu membisu, aku sudah beku.
Di kamar nomor enamsembilan, kita sama memunggungi nyata.
Lalu lihatlah, langit tua yang kita bunuh dengan sebilah dahaga.
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Penulis: Dianna Firefly, berusia dua puluh tahun namun terkadang merasa telah hidup ratusan tahun lamanya. Tentu usia seperti itu tidak terbukti karena usia twitternya saja baru dua tahun. Twitter? Intinya mau promosi, jangan lupa follow @DiannaFirefly ya.
Gara gara baca tulisan Tantri di komunikasi sastra, Bason terkejut. Rupanya Pak Badrun Kemis masih dengan watak lamanya yang aneh dan masih bertani. Padahal ketika masa pelarian Bason, Pak Badrun mengaku sudah jenuh jadi petani.”Ah !!! Saya ingin merantau ke kota”. Sejak nenek moyang zaman dahulu, sampai masa saya sekarang ini — nasib kami belum berubah —. Saya mau pindah ke ibukota negara. Banyak kawan saya walau hidup susah tapi bisa menikmati kemewahan kota. Waktu itu Bason sudah merekomendasi beberapa kawan akrabnya yang mengorganesr buruh.”Ini nama dan alamat kawan kawanku”. Pak Badrun jual saja namaku, pasti akan mereka terima dengan senang hati.
Kisah itu berlangsung 25 tahun yang lalu, ketika Bason frustasi bertengkar keras dengan pastor Simon pimpinan lembaga pelestarian hutan. Lantas secepat kilat meninggalkan lembaga tersebut patah arang melanglang buana secara pribadi investigsi penggudulan hutan. Pada saat itulah Bason berkenalan dan menjalin cinta kasih dengan gadis Biyok yang sekarang menjadi istrinya.
*) Baca cerpen : Kawanku Bason Kumpulan Cerpen Unkonvensionil Jilid II Martin Siregar.
Bulan lalu aku heboh ngurus Kantril yang ingin kembali ke tabiat lama. Mabok ganja Jhoni Walker bersama Payman yang sedang mumet gara gara rencana kawin. Waktu itu Pak Longor marah besar sama Payman. Dan, syukur Kantril pasrah dituntun Bason bermeditasi, sehingga Kantril kembali ke jalan yang benar.
Sekarang wajah dan tingkah laku Pak Badrun kembali lagi menghiasi khayal Bason. Kasus Kantril dan Pak Badrun hampir sama saja. Frustasi jenuh sangat monoton menjalani kehidupannya yang sama sekali tidak menjamin kehidupan lebih baik. Tapi. Level sosial si Kantril sangat bertolak belakang dengan Pak Badrun. Berarti aku harus temukan kiat khusus tuk membahagiakan Pak Badrun. Hua….ha…ha…Bason tertawa puas menikmati kehidupan sarat dengan keanekargaman perkawanan yang berasal dari level sosial berbeda ekstrim. Hua….ha…ha….Kantril anak jutawan yang anti kemapanan, sedangkan Pak Badrun seolah ditakdirkan(Tuahan) sengsara sepanjang hidup. Hua…ha….ha…Akan kucurahkan energiku tuk membahagiakan Pak Badrun yang ditulis miskin oleh si Tantri (?) Hua…ha…ha…
“Dua hari ini aku tak masuk kantor”. Ada kerja mendadak, harus ke desa beberapa hari. Di telepon Bason ajudannya di kantor.”Iya…iya Pak Bason”. Apa yang perlu kami sediakan untuk bapak ke desa?”. Feodalisme ternyata masih melekat kuat di kantor yang sudah sangat profesionil. Bahasa kaum paria mental kaum budak sangat sangat dominan didengar setiap hari. Bahasa kaum bawahan tak ada beda dengan abdi dalem dinasty kerajaan sekitar 300 tahun yang lalu. Hal ini sering membuat Bason jengkel dan tak kuasa lagi merombatk mental budak feodalisme di kantornya.”Tak ada yang perlu kau siapkan”. Kau monitor saja Payman apa masih isap ganja atau tidak. Lantas kau jumpai Kantril sepulang kantor, kau tanya pengalaman empiriknya dalam bermeditasi. Awas !! Kalau tak kau kerjakan kedua tugas itu. KU-SIKAT KAU!!! Hua…ha….ha..Bason tertawa di telepon, membuat Wawan ajudannya ketakutan suaranya gemetar:”Baik…baik Pak Bason”. Lantas telepon ditutup.
Dikeluarkannya mobil BMW mewah dari garasi.”Biyok, aku mau jemput Pak Badrun ke desa. Dua hari ini nginap dirumah kita. Kau siapkan kamar serta fasilitasnya ya… Biyok istri Bason terkejut mendengar rencana suaminya.”Jadi, kau ngak ke kantor ???”. Gila !!! Kok suka suka kau saja yang hidup ini ?????. Biyok suntuk melihat suaminya yang terlalu santai dalam hidup ini. Hua…ha…ha…Tenang kau sayangku. Pak Badrun adalah orang yang memberi konstribusi dalam kehidupan kita. Kalau ngak ada dia, mana mungkin kita kawin Hua….ha…ha…Memang hidup ini sangat ringan dijiwa Bason. Walau kadang suntuk berat menghadapi kawan kawannya yang tidak memperdulikan kesehatan tubuh jiwa dan roh. Dua minggu lalu kembali lagi Bason harus repot ngurus Isim yang mendadak pingsan di bandara.
Dibelinya 2 bungkus rokok merah di kedai kecil langgannya , milik Bik Iyem yang sudah jadi janda. Sambil dengar lagu Startway to Heaven milik Led Zeplin ditinggalkannya kota menuju desa Pak Badrum.
Cerita ini bisa bersambung, apabila aku punya waktu berimaginasi menikmati tekanan hidup ini Hua…ha…ha…Matilah kita ini.
RetakanKata – Karo merupakan sebuah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Suku Karo yang dalam bahasa aslinya disebut Kalah Karo merupakan salah satu suku asli di Sumatera Utara. Suku ini memiliki bahasanya sendiri, yaitu bahasa Karo atau Cakap Karo dan aksaranya sendiri.
SEJARAH AWAL KARO
Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aroe) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya “Karo dari Zaman ke Zaman” mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama “Pa Lagan”. Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo (Darwan Prinst, SH :2004). Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar dikalangan peneliti.
Dalam sebuah naskah kuno mengenai suku Karo, diceritakan bahwa leluhur orang Karo adalah Putri Kerajaan Aroe dan Umang (mahluk yang diyakini memiliki fisik seperti manusia, tetapi tumit kakinya berada di depan). Namun, beberapa tetua Karo mengatakan bahwa suku Karo tidak berasal dari satu darah yang sama (berbeda dengan suku Batak Toba yang diyakini merupakan keturunan dari Si Raja Batak).
MARGA dan IKATAN PERSAUDARAAN
Dalam suku Karo terdapat marga yang bersifat patrineal (berasal dari pihak ayah/diturunkan dari ayah) namun tetap membawa marga ibu-nya(beru ibunya) yang disebut bere. Misalnya seorang anak ayahnya bermarga A, dan ibunya bermarga(berberu) B, maka si anak dikatakan bermarga A bere B. Dalam suku Karo marga disebut merga yang secara etimologis berasal dari kata meherga yang berarti berharga, jadi marga sangat berharga bagi masyarakat Karo.
Dalam suku Karo terdapat lima marga induk yang disebut MERGA SILIMA. Lima marga induk tersebut antara lain:
Sembiring
Ginting
Tarigan
Karo Karo
Perangin-angin
Kelima marga induk tersebut juga memiliki beberapa sub-marga. Sub marga dalam Karo ada diyakini ada yang asli suku Karo dan ada pula yang berasal dari negara lain. Sub marga tersebut yaitu:
1. Sembiring
Sembiring terdiri dari:
Kembaren (boleh memakan anjing)
Sinulaki (boleh memakan anjing)
Keloko (boleh memakan anjing)
Pandia (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Gurukinayan (tidak boleh memakan anjing)
Brahmana (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Meliala (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Depari (tidak boleh memakan anjing)
Pelawi (tidak boleh memakan anjing)
Maha (tidak boleh memakan anjing)
Sinupayung (boleh memakan anjing)
Colia (tidak boleh memakan anjing)
Pandebayang (tidak boleh memakan anjing)
Tekang (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Muham (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
Busok (tidak boleh memakan anjing)
Sinukaban (tidak boleh memakan anjing)
Keling (tidak boleh memakan anjing)
Bunu Aji (tidak boleh memakan anjing)
Sinukapar (tidak boleh memakan anjing)
Kapour(tidak boleh memakan anjing)
Tarigan terdiri dari:
Sibero
Tambak
Silangit
Tua
Tegur
Gersang
Gerneng
Gana-gana
Jampang
Tambun
Bondong
Pekan
Purba
4. Karo Karo
Karo Karo terdiri dari:
Sinulingga
Surbakti
Kacaribu
Sinukaban
Barus
Simbulan
Jung
Purba
Ketaren
Gurunsinga
Kaban
Sinuhaji
Sekali
Kemit
Bukit
Sinuraya
Samura
Sitepu
5. Perangin-angin
Perangin-angin terdiri dari:
Namohaji
Sukatendel
Mano
Sebayang
Pencawa
Sinurat
Perbesi
Ulunjandi
Penggarus
Pinem
Uwir
Laksa
Singarimbun
Keliat
Kacinambun
Bangun
Tanjung
Benjerang
Itulah keseluruhan marga yang terdapat dalam suku Karo.
Dalam ikatan persaudaraan dikenal istilah Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh, dan Perkaden-kaden si Sepuluh Dua tambah Sada.
1. Rakut Sitelu
Dalam suku Karo posisi Rakut Sitelu sangatlah penting. Rakut Sitelu dapat diumpamakan sebagai tungku kaki tiga. Jika salah satu unsur tidak ada maka akan terjadi ketimpangan. Rakut sitelu terdiri atas
Kalimbubu, secara sederhana dapat diartikan keluarga istri.
Anak Beru, secara sederhana dapat diartikan sebagai keluarga yang memperistri
Senina, diartikan sebagai keluarga satu marga.
Dalam suku Karo, jika diadakan suatu aktivitas adat, maka yang menjalankan kegiatan adat tersebut adalah Rakut Sitelu.
2. Tutur Siwaluh
Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan. Tutur Siwaluh terdiri dari:
Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang atau Puang kalimbubu adalah kelompok kalimbubu dari kelompok pemberi dara
Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri. Anak beru ini terdiri lagi atas:
Anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.
3. Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada
Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada ialah bentuk kekerabatan saudara terdekat dalam bentuk panggilan, yaitu:
Nini
Bulang
Kempu
Bapa
Nande
Anak
Bengkila
Bibi
Permen
Mama
Mami
Bere-bere
Tambah Sada ialah mereka orang-orang terdekat diluar lingkup keluarga seperti sahabat.
BUDAYA DAN KESENIAN
Rumah Adat Karo “Siwaluh Jabu”
Budaya utama dari setiap peradaban adalah rumah. Konstruksi rumah mennjukkan kemajuan suatu peradaban. Rumah Adat Karo disebut sebagai Rumah Siwaluh Jabu, ini dikarenkan rumah ini dihuni oleh delapan kepala keluarga.
Rumah Siwaluh Jabu,memiliki bentuk rumah panggung dengan ukiran dan ornamen mistis diseluruh bagian rumah.
Disamping rumah adat, suku Karo juga memiliki alat musik tradisional, seperti gambar dibawah ini:
Alat musik Karo
Dan masih banyak seni-seni lainnya.
Seperti halnya dalam kebanyakan suku yang ada di Indonesia, suku Karo juga memiliki “ritual-ritual” adat khusus yang berbeda untuk perkawinan dan kematian.
PERKAWINAN
Dalam pandangan masyarakat Karo dalam adat perkawinan, dikenal berbagai jenis perkawinan menurut adat.
Berikut adaah jenis-jenis perkawinan dalam suku Karo dan penjelasannya yang mudah dimengerti. Lako Man (Ganti Tikar)
Perkawinan ‘Lako Man” terjadi apabila seorang laki-laki,terlepas dari ia sudah pernah kawin atau belum mengawini istri dari adik atau kakaknya yang telah meninggal dunia.(tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi sejak adanya agama di suku Karo) Gancih Abu
Perkawinan ini terjadi karena seorang istri meninggal dunia, dimana untuk tetap langgengnya hubungan keluarga, terlebih karena sudah ada keturunan, maka pihak suami mengawini saudara kandung dari istrinya yang sudah meninggal Mindo Nakan
Seorang anak yang sudah dewasa mengawini ibu tirinya dikarenakan ayahnya sudah meninggal dunia. Biasanya umur sang anak denga ibu tirinya tidak terlalu jauh berbeda. Mindo Lacina
Perkawinan ini terjadi antara seorang laki-laki denga seorang wanita yang menurut kekerabatan silaki-laki memanggil nenek kepada wanita tersebut(karena istri kakeknya). Di dalam hal ini hubungan kekerabatan antara edua belah pihak masih dekat dimana perkawinan dapat berlangsung, karena /jikalau si nenek itu telah janda. Merkat Sinuan
Perkawinan terjadi apabila seorang laki-laki kawin dengan putri “puang kalimbubu”. Menurut adat, sebenarnya perkawinan sepert ini tiddak dibnarkan,karena “erturangku”. Tapi, karena pertimbangan dan faktor lain atau mempererat hubungan keluarga, menyambung keturunan dan lain-lain, perkawinan yang sebenarnya dilarang itu dilangsungkan juga. Tapi acara adat yang dijalankan harus sempurna (ua Banggong). Caburken Bulung
Caburke bulung adalah perrkawinan anak-anak di bawah umur atara seorang anak laki-laki dengan iparnya. Acara peresmiannya memang agak sama dengan acara peresmian perkawinan biasa. Hal itu terjadi atas persetujuan kedua belah pihak orang tua, karena berbagai faktor. Ini bukan menjadi jaminan kalau sudah dewasa nanti keduanya harus menjadi suami istri.
Berikut ini adalah dokumentasi perkawinan karo tertua yang berhasil saya dapatkan.
Perkawinan masyarakat Karo yang satu ini turut menampilkan Si Gale- Gale dari Toba.
Di luar jendela adalah Central Park. Pepohonan yang gugur habis dedaunan di dalam musim dingin menjulur hingga jauh dari bawah telapak kaki, menampakkan semacam sapuan warna keabuan ranggas dan kuning keemasan, di dalam diam senyap mengisyaratkan daya hidup yang tak terhingga. Pencakar langit di sisi dua jalan besar sebelah timur dan barat taman berdempetan naik turun seolah bergerak pergi, menatap ke bawah hamparan pepohonan itu. Langit adalah abu-abu diselingi warna biru muda. Pukul delapan pagi, mungkin bertepatan dengan hari minggu, kau akan merasakan New York adalah mati kaku, seperti baru saja terjadi sebuah kudeta, diam-diam dirasuki sedikit gelisah dan teror, orang-orang berada di dalam rumah menunggu, mengamati, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, tidak tahu bagaimana mengurus satu hari ini, waktu sehari penuh ini.
Dari lantai enam belas memandang ke bawah, jalanan seakan kosong luas terbentang. Lampu lalu lintas masih berkedip seperti biasa. Di seberang jalan ada dua patung perunggu, dua-duanya adalah penunggang, dengan gaya pamer perkasa pamer wibawa, menebarkan hijau murung yang kuno, topi tentara dan tapak kuda membentuk sudut yang agak menggelikan, keseimbangan yang tak terkira. Pedang panjang penunggang menunjuk ke bawah, saya konsentrasi memandang ke arah itu, di bawah ujung pedang yang tajam ada dua lelaki mengelilingi sebuah drum sambil berloncat, di dalam drum dihidupkan segumpal api yang penuh asap, mungkin koran kemarin, dipungut dari tong sampah. Mereka menyulut koran dengan api, lalu berdiri di sisi drum mengambil kehangatan, mengerutkan leher menggosok telapak tangan, sesekali meloncat, juga berbicara, namun saya tidak dapat mendengar apa yang mereka ceritakan. Api berkobar sejenak kemudian melemah, mereka bergilir pergi mengorek ke dalam tong sampah yang di sisi jalan, setumpuk-setumpuk koran dilempar ke dalam drum, asap putih tiba-tiba memanjat naik, di pagi yang dingin beku, di satu pojok taman, di bawah ujung pedang patung penunggang perunggu.
Merpati-merpati yang bangun pagi berpencar terbang datang.
Merpati-merpati lalu mendarat di lapangan, senyap sekali.
2.
Saya menarik sebuah kursi ke mulut jendela, duduk menguji kesunyian. Beberapa orang di kamar lain sedang berbicara tentang masalah kebebasan berpendapat. Sesungguhnya tidak ada yang perlu dibicarakan, sebab mereka saling menyetujui, hampir sepenuhnya saling menyetujui, kebebasan berpendapat adalah hak asasi, semuanya seperti berebut mengatakan, samasekali tidak bisa diubah dan sebagainya dan sebagainya. Mereka seperti bukan sedang bertukar pendapat, tetapi lebih mirip bertukar logat masing-masing. Sesekali terdengar ada suara mengaung: Chauvinism!
Sekarang di atas jalan yang membelah taman mulai ada beberapa mobil bergerak pelan-pelan, keluar masuk di antara pepohonan. Langit menampakkan sekeping biru, cahaya matahari dengan hangat menyorotinya. Di telingaku terdengar gaung suara orang-orang berbicara, tanpa henti, penuh diselingi suara gelas berbenturan dengan es batu, dan suara batuk yang sesekali melayang naik. Semua ini mengapung di dalam ruangan, cahaya lampu memenuhi hingga ke setiap sudut, dan di luar jendela adalah diam senyap.
Mereka bergiliran mengeluarkan pendapat, sepenuhnya saling menyetujui.
3.
Sore itu saya kembali ke mulut jendela melihat Central Park, pepohonan, dan pencakar langit yang berkilau di dua sisi. Hari itu sejak pagi, matahari masih belum mengundurkan diri. Di jalanan kian bertambah pejalan kaki, bahkan ada beberapa pedagang sedang menjual sweeter di mulut pintu taman, sehelai-sehelai digantung di minibus, berwarna terang, membuat orang berhalusinasi musim semi telah tiba.
Tapi musim semi belum tiba, atau mungkin sudah tiba. Saya melihat danau kecil berbentuk bulan sabit di dalam taman, setelah lama membeku, ternyata mengepak beterbangan beberapa ekor merpati yang riang. Merpati bermain air di beberapa bagian permukaan danau yang sudah mencair, bolak-balik menjulang menusuk, begitu mendekati permukaan air mengepak sayap mereka, cepat dan bernyali, menebarkan percikan air yang tak terhitung, begitu semangat bergiliran mengepak sayap, berebutan, tidak juga takut air danau yang baru mencair terlalu dingin.
Saya berdiri di tempat tinggi. Seumur hidup ini masih belum pernah melihat pemandangan yang begitu nyata, mencairnya sedanau air, setelah air danau itu menutup diri karena terlalu lama menahan dingin, setelah terkejut jadi retak-retak, tiba-tiba karena ada aliran hangat lewat, ternyata bisa juga dengan diam-diam mencair dari dalam, bahkan meluap keluar segenang air jernih, sekalipun di saat orang-orang bergegas memburu perjalanan, atau agak bosan terpaksa berdagang keliling sweeter, atau mengurung di satu sudut lantai tinggi berdiskusi Whitman, berdiskusi sastra anak-anak, memetik, meminjam, menghempas dengan keras sebuah ungkapan, mengisap rokok dengan gelisah, agak panik menggunakan Bahasa Inggris, sedang menguji-coba perlunya perdebatan dan unjuk diri, satu musim semi tiruan seakan telah tiba, air danau telah mencair, merpati dari tengah jalan terbang masuk ke dalam taman, sedang membersihkan sayap mereka di permukaan air yang dangkal.
Di bawah cahaya matahari musim dingin yang hangat dan warna-warni, merpati mengepakan sayap mereka dalam tempo cepat, gayanya yang bernyali itu bahkan membuat orang lupa bahwa sesungguhnya mereka mesti termasuk salah satu jenis burung berwarna abu-abu, sekarang tanpa henti memamerkan bulu-bulu mereka yang putih bersih, yang tersembunyi di tempat yang paling mendekati darah dan tulang, pernah di dalam dingin beku mempertahankan sedikit kehangatan. Saya dari atas menatap ke bawah, seolah mendengar sepotong alunan piano yang jernih, jari-jari tangan lentik bergerak berloncat dengan cepat beterbangan di atas tuts-tuts hitam dan putih, hanya melihat kumpulan merpati mendekati permukaan danau berputar, menusuk ke arah air jernih yang baru mencair, mengepak dengan sayap-sayap bergelora, menebarkan percikan air yang menyilaukan mata, berpijar bagai api.
*
See, they return; ah, see the tentative
Movement, and the slow feet,
The trouble in the pace and the uncertain
Wavering!
——— Ezra Pound
1.
Saya ingin berbicara denganmu, dengan cara begini. Saya ingin duduk begini, duduk di mulut jendela, di luar hujan masih terus turun, seolah belum pernah berhenti sejak tadi malam. Di luar jendela kamar penginapan, langit dan bumi basah kuyup, dinding-dinding gedung tampak berwarna kuning pupus, jejak-jejak air malang melintang tercetak di atasnya, bergetar di dalam lembab dan dingin. Di satu sudut yang agak jauh tegak sebatang tiang bendera yang luar biasa besar, bendera yang terlalu lama direndam air hujan, menumpuk jadi segumpal kain basah dan berat, walaupun warnanya tampak jelas, tetapi lelah tergantung di sana, samasekali hilang semangat. Lebih jauh lagi apapun sudah tidak kelihatan, bersembunyi di belakang hujan senja, ada sedikit bayangan agak kabur, mungkin atap restoran, atau papan reklame, atau antena. Saya sesuka hati menyapu pemandangan di luar, ada semacam perasaan yang aneh: Bagaimana bisa bertemu dengan cuaca yang begini lembab, di Taipei?
Saya coba mengatur kembali pikiran yang kacau.
Hanya kacau saja, tidak apa-apa, bukan, bukan, bukan tidak senang, bukan gelisah.
Saya sudah lupa kapan pertama kali berkunjung ke kota ini, lima belas tahun yang lalu? Atau lebih? Musim panas tahun itu saya seorang diri datang ke kota ini. Kita berjanji bertemu di sebuah kedai kopi, seperti biasa, cerita-ceritamu membuat seluruh perjalanan menjadi ringan. Saya mesti mundur lagi lima tahun, teringat malam pertama kita, di atas sepuluh ribu kaki, membelah Lautan Teduh, saya ingin mengajak kau bicara, bersama-sama membunuh waktu yang tak terhingga di dalam sebuah penerbangan panjang, namun kau mati-matian menggenggam sebuah injil, membenamkan diri ke dalam cerita-cerita kudus, saya tidak tahu harus masuk dari celah sebelah mana. Akhirnya saya mengambil resiko dengan beberapa buah puisi, sebotol tabasco dan sesungai cerita ikan salmon melawan arus mempertahankan spesiesnya. Ternyata ampuh, kau mencair jadi searus air jernih, sebuah nyanyian merdu dari lembah yang hening, tanpa henti, dari Taipei hingga Anchorage hingga Seattle hingga New York, saya disihir jadi pendengar tak terhingga, dan kau tetap adalah gadis dari sekolah katolik yang ingin menjadi santa.
Kau membawa saya keluar masuk lorong-lorong sempit, bercerita tentang rencanamu pindah ke San Fransisco, membeli sebuah rumah di tepi laut. Kita berputar dan berputar lalu keluar di sebuah jalan yang cukup lebar, saya masih pendengar tak terhingga, tetapi di saat matahari senja dengan potongan-potongan besar cahayanya menumpah di atas bangunan di satu sisi jalan hingga terang dan mewah, konsentrasiku pecah, sedikit tersentuh melihat bangunan itu berkata:
” Matahari ini sungguh bagus ”
” Memang bagus. Begitu terang. Begitu hangat. ”
” San Fransisco pasti juga begitu. ” Saya berkata: ” Sesungguhnya belum pasti. Ada orang merasa California semestinya begini atau begitu, namun sering bukan demikian. Nathanael West pernah menulis sebuah novel… ”
” Novel apa? ”
” Judulnya sudah lupa. Begini kira-kira ceritanya, ada seseorang yang sejak kecil seluruh harapannya tertuju ke California. Dia tumbuh besar di sebuah kota kecil di Midwest. Dia berpikir, California sama dengan buah orange dan sinar matahari, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya dengan susah payah dia sampai di California — mungkin California Selatan — baru menyadari bahwa bukan di setiap tempat dapat menemui buah orange dan sinar matahari. Mungkin saja ada buah orange dan sinar matahari, namun juga ada hal-hal lain, seperti berbagai macam kekerasan, penipuan. Dia sangat kecewa. ”
” Lalu? ”
” Sangat kecewa, lelah, sedih. ”
” Lalu? ”
” Lalu mati. ”
” Mati? ”
” Mati. ”
Kau berkata bahwa saya benar-benar tidak pandai bercerita. ‘ Lalu mati ‘ bagaimana bisa dianggap sebagai penutup novel? Saat itu kita berputar masuk ke jalan lain, pelan-pelan bergerak ke depan menghadap matahari senja, seperti tak berujung, seperti menuju rumahmu yang di tepi laut, di San Fransisco itu. Kau kelihatan begitu bersemangat, mulai mendeskripsikan bagaimana dan bagaimana rumahmu yang di tepi laut itu. Saya kehilangan konsentrasi. Bukan tidak berminat, saya sangat nyaman memandang jalan yang terhampar di depan, cahaya matahari senja yang berpijar jatuh menutupi seluruh jalan, memantul di atas rumah-rumah bergaya kolonial, genteng merah, tembok putih, pagar rendah dan pohon hijau bunga merah. Kau terus mendeskripsikan rumahmu yang di tepi laut, saya hanya menyahutnya, tidak henti-hentinya mengangguk.
2.
Saya membawa sebuah payung hitam turun ke jalan, keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar, tergesa-gesa menyeberang, saya ingin begini berbicara denganmu, dalam suara hujan, dalam suara nafas saat berjalan, mobil-mobil bergerak pelan dan senyap, samasekali tidak terdengar suara mesin. Air hujan yang jatuh di atas payung, menimbulkan suara tumpul yang menggema, membuat saya terasa begitu aman, benar-benar aman. Di atas trotoar bata merah orang lalu lalang, tidak kelihatan ada raut wajah tidak bahagia. Taipei telah hujan. Muka toko besar maupun kecil semuanya bergantungan butiran air dan uap, namun di dalamnya masih seperti biasa, banyak orang berdiri atau duduk, sedang memilih lagu-lagu di dalam cakram, sedang menutup dan membuka buku, sedang memperhatikan sebuah baju rajutan, sedang mencoba sebuah topi, sedang tertunduk menyeruput sup, sedang dengan sendok keramik menikmati pangsit rebus, ada orang angkat kepala minum anggur, matanya menatap lurus keluar jendela, tepat mengenai saya. Di sudut lobi sebelah sana, terpisah sebuah meja ada lelaki berbicara dengan perempuan, di dinding tergantung beberapa lembar poster, selembar adalah New York, selembar adalah Brussel, selembar adalah Sydney, selembar adalah Bali.
Saya samasekali tidak ada ekspresi tidak senang, sesungguhnya saya sangat senang, saya dan kau yang hidup di dalam nafasku, kita cukup tidur, kondisi prima, samasekali tidak ada masalah jetlag. Saya tertarik memperhatikan orang-orang yang berjalan di trotoar, berani pastikan yang menyeberang ke sana kemari sebagian besar adalah turis, turis semacam diriku, di musim dingin, karena suatu keperluan harus melakukan perjalanan, mungkin bisa menemui sedikit kesulitan, mungkin juga tidak, dan dengan santai sudah mendarat di Taipei.
3.
Di hari kedua hujan sudah berhenti, saya masih juga keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar. Orang-orang telah mengatupkan payung pegang di tangan, agak ringan mengayunkan kaki, lihat sana lihat sini. Dari satu sudut jalan yang agak jauh meniup datang sedikit suara seruling atau alat tiup lain, orang-orang mengitari satu pojok itu, kelihatannya seperti turis, iya, turis yang mirip diriku dan dirimu ini. Saya menpercepat langkah, sebab musik itu menarikku. Seorang polisi muda dengan seragam biru berputar keluar dari samping lalu bergerak maju serentak bersamaku. Dia mungkin juga tertarik oleh musik itu, matanya menatap lurus ke pojok jalan yang ada kerumunan. Suara musik kian dekat, nada yang tidak asing, seperti nyanyian, sahutan, keluhan orang Indian, juga seperti nyanyian Spanyol, membawa sedikit irama religi abad pertengahan yang bertahan hingga hari ini, displin agama Katolik dan puasa agama Islam, seolah, atau mungkin, adalah penyatuan syair dan nada itu, semacam harapan dan permohonan yang berulang kali ditumpuk, bermaksud, bersabar, dengan irama cepat disiarkan kemari, menceritakan, seolah, atau mungkin saja, seolah menceritakan sepotong dan sepotong kisah yang hampir sama, yang terjadi di dataran tinggi, di dalam lebat hutan hujan, di dalam sungai besar yang menggemuruh, di padang datar dan bukit yang dekat laut berangin, seorang lelaki dan perempuan saling mencintai, ternak diam-diam memamah rumput, di atas dahan burung-burung bercericit, dua ekor elang berputar di langit biru, di dalam dusun lelaki sedang menimba air sumur, sedang memperbaiki tapal kuda, sedang memberi makan keledai, perempuan-perempuan duduk menjadi lingkaran, di bawah pohon rindang sedang mengupas kacang, rambut tebal dibiarkan jatuh di pundak, di belakang punggung, di dalam gelap menembus sedikit keemasan misterius.
*
Begitu masuk saya langsung terpukau dengan semua yang ada di luar jendela, merasa kapan saja buka mata memandang keluar, seperti bisa diduga, akan terjadi sesuatu, misalnya matahari pagi dan cahaya senja bagaimana timbul tenggelam, awan dan angin bagaimana berubah, warna pulau-pulau, jejak kapal melintas, bahkan mungkin saja dapat melihat kibasan ekor ikan hiu — konon perairan ini adalah tempat ikan hiu berkembang biak. Tempat ini di ketinggian lantai sembilan, seandainya memiliki cukup kesabaran, bisa saja memandang hingga sangat jauh. Awalnya memang demikian, terhadap penorama asing ini memiliki semacam pandangan yang polos, tulus, antusias, romantis, oleh sebab itu tidak henti-hentinya mengatur jarak pandang, semoga dapat melihatnya dengan sangat teliti, paling bagus adalah teliti namun tidak begitu jelas; semoga membiarkan ia memelihara sedikit misteri, sehingga saya bisa bertahan lebih lama mencarinya, karena tidak mengerti maka lebih ingin mencari, tentu saya tidak tahu apa yang dicari, atau kenapa pernah mencarinya, sekalipun antusias, romantis.
Hampir tengah hari, saya ingat adalah di saat matahari tengah hari sedang berpijar, saya berjalan ke arah mulut jendela yang di sisi pintu kaca menuju balkon, pasti kelihatan lelah dan serius, wajah yang baru keluar dari tumpukan buku kurang lebih mesti begitu, dan di dalam ruangan sunyi senyap. Saat itu, cahaya matahari yang dipantul masuk dari arah tenggara sudah mundur habis, namun di empat dinding masih berpijar kehangatan, mungkin ditebarkan oleh bayangan air berkilau di permukaan laut yang jauh. Saya melihat seekor elang.
Dia begitu nyata berdiri di sana, di atas pagar balkon, mungkin hanya sedepa di luar pintu kaca, membuat saya demikian terkesima memandangnya, lalu dengan lirikannya yang mempesona memandangku sebelah mata, seperti samasekali tidak mengacuhkan, elang memandang saya sekali lagi, matanya persis seperti mata barbar yang dinyanyikan Du Fu, tapi kepalanya berputar lalu berhenti menatap air laut yang berpijar, lama sekali, baru memutar kembali, tetapi pasti bukan demi melihatku, dia begitu kanan kiri berputar mengamati, saya pikir itu hanya semacam gaya angkuh bawaan, refleksi pundak dan leher, tegar, tegas, berwibawa. Saya menahan nafas melihatnya, dia berdiri di dalam cahaya matahari, di belakang pagar balkon yang berwarna hijau apel adalah biru air laut yang luas, dan langit yang tak terhingga, menampilkan sebuah latar yang amat misterius sekaligus sangat biasa, timbul tenggelam berjalin dengan alunan tipis musik yang seolah dekat seolah jauh. Saya melihat, mendengar semua ini.
Elang begitu saja berdiri di atas pagar balkon, memamerkan pada saya gaya indahnya yang lengedaris. Kepalanya kokoh, warnanya hijau keabuan membawa sedikit kuning gelap; kedua matanya bergerak sangat cepat, dan paruhnya yang melengkung seperti setiap saat dapat melumpuhkan ular dan kalajengking di padang tandus. Bulu-bulu di sayapnya berwarna terang, mengikuti corak kepala dan leher menjulur, menutup, setiap helai bulu mungkin saja telah diatur, disusun, tidak ada sedikit pun kekusutan, berlawanan, begitu teratur, begitu tenang, terpenjam istirahat, samasekali tidak menaruh perhatian terhadap antusias dan eksistensiku. Dengan cakarnya yang laksana besi bagai rantai erat-erat mencengkeram pagar balkon, lihat kanan lirik kiri.
Mungkin di dalam hati terbesit berbagai macam bentuk dan suara yang berbeda. Atau mungkin di satu dunia lain yang jauh, saya juga pernah bertemu dengannya, dengan antusias, kaget, dan satu ketulusan yang sama untuk mengingat dia selamanya, dan menangkapnya, tidak perlu jaring perangkap atau anak panah, gunakan puisi:
Dengan kedua tangan bengkok dia cengkeram tebing;
mendekati matahari di tanah yang agak sunyi,
selingkaran dunia biru mengitarinya, dia berdiri
Laut penuh kerutan merayap di bawahnya;
dari sebaris dinding gunung, dia memandang,
lalu berguling jatuh, bagai halilintar membelah langit
——— Alfred, Lord Tennyson
Elang seketika seperti terganggu, sejenak setelah saya membisikkan enam baris serpihan puisi Inggeris ini, menghadap sepuluh juta garis cahaya emas yang bergetar, dia benar-benar menggulingkan tubuh jatuh, membuka sayap, begitu ringan, merentangkan kedua sayapnya yang kokoh, menggores langit, pergi.