Semua tulisan dari Ragil K

Sebuah titik di jagat semesta.

~kata maaf pada minggu pagi~

Puisi Ragil Koentjorodjati
1.
Seseorang mungkin harus mati tanpa sempat dimaafkan,
pada minggu pagi,
ketika imam kepala meminum anggur dan memecah roti,
:inilah tubuhku
:inilah darahku
:yang dikurbankan bagimu
Seseorang meminum air dan cuka dari lambungnya yang kudus.
Perjamuan sedang dimulai,
tanpa kata maaf untuk kekasih yang usai setengah mati.

ilustrasi dari joehasan.wordpress.com
2.
Katakatamu adalah harapan,
dari setiap kecemasan.
Pada minggu pagi aku tanyakan,
:bagaimana keadaanmu Sayang?
Tidak ada jawaban!
Seseorang masih harus meminum air dan cuka dari lambungnya yang kudus.
Kekasih belum usai setengah mati,
dan kata maaf jauh tertinggal di pintu gerbang,
ruang perjamuan,
tempat pesta sedang dan masih dirayakan.

3.
Tersisa kenang pertarungan semalam,
kekasih terkulai di tepi harap. Memuram.
Rumitnya persoalan adalah labirin kata maaf memaafkan.
Seseorang harus memaafkan tubuh sekarat,
seeseorang harus memaafkan ketidakberdayaan,
seseorang harus memaafkan semua impian,
dan;
seseorang harus memaafkan dirinya sendiri,
sebelum;
seseorang mungkin harus mati tanpa sempat dimaafkan.

kaki Lawu, Awal desember 2011

Surat Cinta

Oleh John Kuan
Berpisah untuk sementara adalah baik, sebab semua yang terpampang di depan mata kelihatan seperti pengulangan, tidak mampu dibedakan. Menara tinggi sekalipun berubah jadi kerdil, seandainya dengan seksama kau melihatnya dari dekat, dan segala remeh-temeh juga akan berubah jadi persoalan besar, ketika kau terus-menerus bersentuhan dengannya. Melibatkan hati, sudah cukup membuat kebiasaan-kebiasaan kecil tampil dalam bentuk yang emosional, dan apabila sasaran sudah tidak ada di depan mata, hasrat itu akan sirna sendiri. Disebabkan sasaran itu sedang dekat, hasrat yang membuncah itu tumbuh dalam bentuk serentetan persoalan-persoalan kecil, namun ketika memiliki jarak, melalui reaksi yang luar biasa, hasrat akan kembali ke dimensinya yang alami.

Ini adalah pembukaan sepucuk surat cinta, tidak usah ragu, bukan disertasi filsafat. Coba terka surat cinta siapa. Selanjutnya dia menulis:

Demikian juga dengan cintaku. Setiap kali kita tidak bersama — sekalipun di dalam mimpi juga begitu — aku langsung dapat rasakan yang waktu berikan pada cintaku untukmu, persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan: dia membuat cintaku terus tumbuh. Setiap kali kita berpisah di dua tempat yang jauh, cintaku padamu, akan muncul begitu rupa, dalam cinta yang demikian besar, penuh berdesakan kekuatan akalku, entitas hatiku. Aku sekali lagi menyadari diriku adalah seorang lelaki, sebab aku kembali dapat merasakan hasrat yang demikian bergelora. Pengejaran akademis dan pendidikan moderen menggulung kita ke dalam situasi yang sulit dan rumit, tidak dapat tidak bersikap skeptis memandang semua pengaruh subjektif dan objektif, demikian secara utuh, kita dirancang menjadi kecil, lemah, kasar, dan plin-plan. Namun cinta ——— bukan cinta demi tipe ( orang ) Feuerbach, bukan demi metabolisme Moleschott, juga bukan demi proletariat ———adalah cinta ini, cinta kepada yang tercinta, adalah cinta untukmu yang terdalam, membuat seorang lelaki kembali menjadi lelaki lagi.

Surat cinta siapa? Kalau bukan Marx siapa lagi? Selain Marx, di dunia ini tidak akan ada orang yang memasukkan dialektika, kontradiksi, subjektif dan objektif, referensi filsafat dan sains moderen ke dalam surat cinta, bahkan tetap tidak lupa mengungkit proletariat-nya. Surat cinta itu berakhir:

“Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali,” iya, di dalam lekukan lenganmu dan sebab ciumanmu — biarkan Brahmana dan Pythagoras terus berpegang teguh pada pandangan mereka tentang reinkarnasi, sebab aku setuju, juga biarkan agama Kristen menyebarkan doktrin bangkit kembali!

Tentu Marx tidak setuju dengan reinkarnasi Brahmana dan Pythagoras. juga memandang enteng doktrin Yesus bangkit kembali. Demi cinta, dia berkata: aku bisa kompromi, bahkan dapat menerima teori-teori menyesatkan itu. Mati di dalam pelukannya, dan karena ciuman bergelora hidup kembali.

*

Marx dan Jenny menikah pada tahun 1843, konon Jenny sangat cantik. Waktu itu Marx baru berumur 25 tahun. Surat cinta di atas ditulis pada tahun 1856 di London, dan Jenny demi berbagai hal mulai menunjukkan gejala jiwanya yang tergoncang. Paling banyak mengulurkan tangan bantuan adalah Engels

*

Persahabatan Marx dan Engels dimulai dari tahun 1843 di Paris

Tahun itu juga dia awal mengenal penyair Heinrich Heine, bersentuhan dengan Sosialisme Perancis, mengintip jiwa dan kehidupan proletariat. Dua tahun kemudian meninggalkan Perancis menuju Belgia, karya-karya tidak berhenti, di antaranya [Theses on Feuerbach], [The Poverty of Philoshopy] dan lain-lain, dan [The Communist Manifesto] merupakan karya tahun 1848. Di antara tahun-tahun ini dia pernah berpolemik dengan Proudhon, dan tahun 1849 menyeberang ke Inggris, baru kemudian ada surat yang saya salin di atas. Desember 1881 Jenny meninggal dunia, tidak sampai dua tahun kemudian Marx juga meninggal, dan [Das Kapital] jilid dua dan jilid tiga setelah melalui penyuntingan Engels baru diterbitkan, memakan waktu sekitar sepuluh tahun.

*

Dia menggunakan cara menulis desertasi menulis surat cinta, sehingga bentuk dan cara penyampaian menjadi samasekali berbeda. Bagian pertama dia menggunakan dialektika yang begitu rapi untuk membicarakan tentang ada dan hilangnya “hasrat”, membacanya bisa membuat orang tercengang. Sebenarnya dia berpanjang lebar setengah hari, hanya ingin berkata: “Sejak berpisah aku sangat merindukan adinda”, tetapi tidak suka tembak langsung, dengan rasionalitas menutup sensibilitas, tujuannya juga untuk menemukan sensibilitas. Di dalam surat ini saya menggunakan “hasrat” untuk menerjemahkan “passion”, dan belum pernah memeriksa teks asli yang tentu dalam Bahasa Jerman yang belum bisa saya kuasai, tidak tahu apakah kata ini sudah tepat? Marx berbuih-buih membicarakan hasrat, yang dimaksudnya selain cinta dan nafsu lelaki dan perempuan, mungkin melebar hingga rasa cemburu, amarah dan lain-lain. Setidaknya dalam Bahasa Inggeris kata ini dapat diartikan demikian. Menurut cerita, Marx pernah menulis puisi untuk Jenny. Saya belum pernah membaca puisinya, namun dari membaca disertasi, saya percaya dia pasti suka puisi dan mahir berpuisi.

Lenin berbeda. Ini dapat kita terka melalui kata “passion” yang disebut di atas. Suatu kali Lenin sedang bersama Gorky mendengar Piano Sonata No. 23 di F minor milik Beethoven, mereka berdua sama-sama terpukau. Namun sebelum seluruh movement berakhir, Lenin tiba-tiba “insyaf”, berkata pada Gorky: Barang ini terlalu indah, terlalu berbahaya, kita harus agak kejam menaklukkannya, menekannya, menghancurkannya, kalau tidak bagaimana melaksanakan revolusi? Sonata Beethoven itu juga bernama Appassionata

*

Makin lama berpisah, cintaku padamu makin besar, Marx berkata: “Persis seperti yang sinar matahari dan air hujan berikan kepada tumbuhan”. Berarti waktu sama dengan sinar matahari dan air hujan, cintaku sama dengan tumbuhan. Seperangkat metafora ini agak berbahaya, namun cukup masuk akal.

Tentu, masih termasuk suatu penyimpangan. Penyimpangan intelektualitas? Penyimpangan puisi?

*

Bagaimana kalau dibandingkan dengan cara penyampaian begini?

Rodolphe tiba-tiba kembali di kala senja, Emma sangat terkejut. Dia berkata: Aku terus ragu-ragu tidak pulang melihatmu adalah tindakan benar, sebab setiap orang dapat memanggilmu Nyonya Bovary, dan kau tidak mengijinkan aku menggunakan nama itu memanggilmu, tapi itu memang bukan namamu, milik orang lain! Kemudian Rodolphe membenamkan wajahnya di dalam ke dua telapak tangannya, berkata dalam suara terputus-putus: ” Aku tidak dapat melupakan kau. Mengingat kau, kembali membuat aku putus asa! Ah, maafkan aku… aku bisa menjauh… selamat tinggal! Aku akan pergi ke tempat yang jauh… tempat yang jauh, di sana tidak akan ada orang mengungkit namaku padamu… ”

Begini Gustave Flaubert menulis ungkapan rindu lelaki dan perempuan yang bertemu setelah berpisah enam minggu, Madame Bovary pertama kali dimuat secara bersambung pada tahun 1856 di Paris, tahun yang sama Marx menulis surat cintanya di London

*

Ilmu pengetahuan dan kajian akademis membuat orang kehilangan intuisi cinta, tidak lagi menyimpan rasa sayang yang ada di dalam percintaan, sebab dia merasa tidak senang di segala sisi, mencurigai segala hal. Ilmu pengetahuan apa? Kajian akademis apa? Penjelajahan Marx terlalu luas dan dalam, saya tidak mampu analisa. Namun dia ada mengungkit Feuerbach dan Moleschott; begitu saja dapat menggores dua nama ini di dalam surat cinta, tentu membuat orang di samping timbul rasa hormat, juga ada iri dan kagum. Ludwig Andreas von Feuerbach adalah filsuf Jerman, mempunyai pandangan yang sangat istimewa tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Marx pernah menulis sebuah buku khusus untuk mengkritiknya [Theses on Feuerbach] di tahun 1846. Jacob Moleschott adalah seorang pakar fisiologi Belanda yang juga merupakan salah satu tokoh penting materialisme. Di ujung surat cinta itu, dia memetik dua baris puisi (Terkubur di dalam lekukan lengannya, sebab ciumannya dan hidup kembali), tidak jelas dipetik dari mana, tapi saya duga mungkin dari Heine. Kemudian, dia berbicara kepercayaan Brahmana tentang reinkarnasi, bahkan Pythagoras juga ikut diseret, filsuf dan ahli matematika Yunani abad ke-5 SM. Kalau kita lihat tesis doktornya di Universitas Berlin ketika dia berumur 23 tahun juga mengkaji filsuf Yunani Kuno: Democritus dan Epicurus.

Tentang Yesus bangkit kembali dan naik ke surga, kemungkinan besar dia tidak percaya. Sekalipun lelehur Marx adalah penganut Yudaisme dan banyak yang menjadi rabi, tetapi ayahnya setahun sebelum Marx lahir masuk agama Kristen Protestan. Dia tidak percaya tentang bangkit kembali, saat ini demi puisi, dia kompromi, demi cinta.

Sesungguhnya seluruh isi surat juga tidak bisa terhindar jatuh ke dalam retorika. Walaupun demikian, ini tetap bukan sebuah disertasi — masih merupakan sepucuk surat cinta. Ingat, Marx di masa muda sangat rajin membaca puisi-puisi Yunani Kuno, Shakespeare, apalagi Kesusasteraan Jerman; dia sendiri juga pernah menulis puisi yang romantik, sebuah tragedi, dan sebuah roman yang belum selesai. Di dalam kata pengantarnya untuk Das Kapital jilid satu edisi Bahasa Jerman, dia mengakhiri dengan sepenggal puisi Dante:

Segui il tuo corse,e lascia dir le genti

*

Kritik Marx terhadap agama sudah merupakan pengetahuan umum

Kritik pengikut Engels terhadap agama dapat ekstrem sampai tingkat tertentu. Mereka percaya hanya dengan ateisme baru dapat membebaskan manusia. Marx selangkah lebih maju. Menurut dia kritik terhadap agama merupakan pendahuluan kita dalam mengkritik segala hal.

Agama adalah [ungkapan kesedihan nyata] kaum proletar, juga merupakan [protes mereka terhadap kesedihan nyata]. Di bawah ini adalah kata-kata Marx yang paling terkenal:

“Agama adalah keluh-kesah makhluk yang tertindas, nurani dunia yang kejam, hati dan jiwa dari seluruh kondisi yang tidak berhati dan tidak berjiwa. Agama adalah candu rakyat ”

Candu rakyat? Kaum proletar disuap candu oleh penguasa sehingga ketagihan berat, dan terkekang? Mungkin seperti ini maksudnya, namun juga terasa tidak begitu tepat. Apakah penguasa pasti dapat menolak agama, melarang candu? Kelihatannya tidak pasti. Kalau demikian, apakah perhatian dan cinta Marx terhadap kaum proletar, sudah melebar hingga ke penguasa? Ini pasti tidak mungkin

Dia mengungkit dalam surat cintanya tentang [cinta terhadap proletariat]. sudah! Patah paku potong besi, sampai di sini saja, tidak bahas lagi!

*

Agama bukan tujuan, ateisme juga bukan tujuan, bahkan komunisme juga bukan tujuan. Bagi Karl Marx, itu hanyalah bagian-bagian dari proses perkembangan manusia. Nyawa manusia barulah tujuan yang sebenarnya.

*

Moleschott, keahliannya memang sudah seharusnya di fisiologi

Kenyataannya, keterlibatan Moleschott dalam sejarah sains dapat dilihat dalam konsep [man-machine]. Dalam sejarah memang ada sekelompok ilmuwan suka melihat, menikmati, menganalisa manusia sebagai mesin. Pertama, ilmu rekayasa awalnya memang dirancang untuk mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi, desain mesin meniru cara pengelompokan taksonomi. Kedua, dengan manusia mesin sebagai bayangan, sangat bisa menjelaskan uraian penting tubuh makhluk hidup (termasuk manusia dan binatang). Ketiga, dalam karya sastra sangat mudah terlihat, seperti Mary Shelley dengan [Frankenstein] coba menyelidiki pengalaman dan nilai manusia.

Konsep [Man-machine] ini sudah ada sejak jaman Yunani Kuno, hanya tidak umum, dan tidak mendalam. Pada jaman renaisans penguasaan teknik di Eropa mulai maju, alat yang terbuat dari tali, tinta, metal, tanah dan kayu makin bertambah, tentu akan teringat hal ini, terutama setelah melalui penjelasan Rene Descartes, sudah menjadi ilmu populer. Descartes dengan semangat filsafat mesin memperlakukan hal ini, bahwa tubuh manusia dan binatang mirip struktur mesin; dalam bukunya [ Traite de L’Homme ] yang terbit pada tahun 1662, dia menggunakan hydraulic automata untuk menjelaskan hubungan unik antara mesin dengan tubuh dan pikiran manusia. Setelah itu, melewati promosi dan penelitian dunia akedemis abad ke-18 dan abad ke-19, sehingga banyak cendekiawan Eropa percaya bahwa manusia dijelaskan sebagai sebuah mesin sangat bisa diterima. Moleschott tepat berada di puncak periode ini.

Konsep [man-machine] dengan iatromathematic. Yang disebut belakangan ini berasal dari astrologi, pelan-pelan mulai menggunakan fenomena alam semesta untuk menjelaskan fisiologi manusia, lama kelamaan tentu tidak dapat terhindar akan tergantung pada penemuan-penemuan alat, desain-desain mesin, hingga hari ini cinta terhadap kalkulator masih begitu dalam.

*

Cinta terhadap kalkulator begitu dalam — membuat orang bergidik

Seandainya berkembang sampai menjadi berkeyakinan kalkulator, lalu tiap hari disembah, tiada hari tanpa dia, situasi bisa jadi sangat genting.

Namun saya percaya manusia hanya akan berhenti pada rencana (mungkin juga sudah dilaksanakan) mempergunakan kalkulator saja, tidak benar-benar mempercayainya. Kau mempergunakannya, menyuruhnya, menindasnya, membohongnya, menyiksanya, suatu hari dia akan berontak. Kalkulator dalam film 2001: Space Odyssey telah berontak, mengerti balas dendam. Kalkulator itu diberi nama HAL, membuat saya teringat pangeran yang dapat begitu saja, tanpa pandang bulu berubah gaya dan sifat sesuai keadaan dalam drama Shakespeare (Lihat Henry IV pertama, kedua, dan Henry V). Namun seorang teman berkata bahwa ini tidak ada hubungannya dengan pangeran, sebenarnya erat berhubungan dengan IBM: tiga huruf HAL masing-masing mundur selangkah, jadi IBM.

*

Konsep [man-machine] adalah menganalisa dan menjelaskan manusia sebagai mesin

Kalkulator sebaliknya, mesin dianggap sebagai manusia, maka disebut komputer. Mereka sama-sama memiliki sesuatu yang unik, namun tidak tahu bagaimana memulainya.

*

Mungkin semua ini juga sudah ada sejak dahulu kala

Xu Zheng-徐整 yang hidup di abad ke-3 Masehi dalam bukunya:Tiga Lima Catatan Sejarah -三五历记 menggambarkan permulaan semesta begini:

Langit dan bumi kacau seperti telor ayam, Pangu lahir di tengah-tengahnya. 18.000 tahun, langit dan bumi terbuka, terang jernih sebagai langit, gelap keruh sebagai bumi. Pangu di tengah-tengahnya, sehari berubah sembilan kali, dewa di langit, yang bijak di bumi; tiap hari langit meninggi 3 meter, bumi menebal 3 meter, Pangu tumbuh 3 meter, begini selama 18.000 tahun, ukuran langit begitu tinggi, ukuran bumi begitu dalam, Pangu begitu panjang, kemudian baru ada Tiga Maharaja.

Paling suka membaca [ Pangu begitu panjang ]. Ren Fang – 任昉 yang hidup di abad ke-5 Masehi menyusun sebuah buku: Kisah Aneh – 述异记, ternyata Pangu telah mati. Ini membuat kita terpaksa teringat [man-machine], [iatromathematic], dan kalkulator, bahkan melampaui semuanya:

Setelah Pangu mati, kepala menjadi Empat Gunung, mata menjadi matahari dan bulan, cairan tubuh menjadi sungai dan lautan, bulu menjadi tumbuhan. Cerita rakyat jaman Qin dan Han menuturkan: Kepala Pangu sebagai Gunung Timur, perut sebagai Gunung Tengah, lengan kiri sebagai Gunung Selatan, lengan kanan sebagai Gunung Utara, kaki sebagai Gunung Barat. Para bijak berkata: Tangisan Pangu menjadi sungai, qi menjadi angin, suara menjadi guruh, bola mata menjadi halilintar. Kisah kuno mengatakan: Pangu senang menjadi cerah, marah menjadi mendung. Cerita rakyat tanah Chu: Suami isteri Pangu, permulaan yin yang.

Ini adalah cerita sempurna, lahirnya semesta, langit bumi gunung sungai, harus tunggu seorang pencipta mati. Awal cerita adalah kesimpulan dari Ren Fang terhadap hal ini, isinya ada di sini. Mencatat perbedaan dalam cerita rakyat Qin dan Han, dan yang menarik adalah: Setelah Pangu mati, tentu tumbang berbaring menghadap langit, kepala di timur kaki di barat. Kita menggabungkan kesimpulan Ren Fang, cerita rakyat Qin dan Han, perkataan para bijak, kisah kuno, kita pasti akan terasa semua ini memang ada sejak dahulu kala, bahkan melampaui semuanya — melampaui Descartes, Newton, Moleschott, bahkan menyamai mitologi, semacam agama.

*

Suami isteri Pangu, permulaan yin yang. Gambaran ini begitu indah, gambaran mitologi, mendekati agama

*

Terkubur di dalam lekukan lengannya

sebab ciumannya dan bangkit kembali

Apa yang susah dimengerti? Sungguh kasihan sama Marx yang demi hal kecil begini panik dan salah tingkah, untuk menjelaskan perkataannya sendiri masih harus menggunakan agama India Kuno, dan teologi agama Kristen: Demi cinta, aku kompromi!

Kondangan

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari static.allbackgrounds.com
Anak Pak Lurah sebentar lagi nikah. Kami semua bersuka ria, bersiap turut kondangan setelah sebulan tidak cukup makan.
Amplop telah disiapkan. Sepuluh ribu terlalu sedikit untuk Pak Lurah. Ibu biasanya menyumbang dua ribu untuk tetangga yang samasama kekurangan. Kali ini Ibu meminjam uang Pakdhe lima puluh ribu dengan jaminan sendok dan garpu.
Tidak ada yang lebih menyenangkan pada saat kondangan bahwa dengan sedikit isi amplop kami akan membawa pulang banyak bungkusan.
Pada hari H, kami duduk memisah. Bukan sebab kami orang susah, tetapi kami tidak mau jika duduk di depan dianggap sebagai orang peminta sedekah.
Pak Lurah tersenyum bangga. Rakyat memujanya seperti raja. Ia peluki siapa saja. Dan kami pulang tiada membawa apaapa.

24 Nov 2011

Tulisan Terkait:
Kenduri
Kumbakarna Gugur

pada malam ketika purnama tinggal sepotong

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari almascatie.wordpress.com
Pada malam ketika purnama tinggal sepotong,
kutitipkan senyum di rembulan.

Bukan getir,
sungguh itu senyum terbahagia yang pernah dapat kurangkai,
Meski patah di ujungnya.
Aku menatapnya,
selalu menatapnya ketika purnama tinggal sepotong,
berharap penuh senyum itu menyempurna

Dan aku pulang ke peraduan.
Adalah luka yang kembali nganga,
menjagaku tetap terjaga,
penggalan senyumku masih tertinggal di sana,
pada malam ketika purnama tinggal sepotong.
Aku mengintipnya,
mencoba meraihnya
siasia

Pada musim ketika angin tak lagi berhembus dari barat daya,
sesuatu mencuri rembulan,
aku kehilangan senyumku yang tersempurna.

17 Nov 2011

Puisi Lain:
ketika pada suatu ketika
Jika
Sajak Rembulan Merah

Kawan Lawan Sama Rata

Cerita John Kuan

Saya mengambil jalur kereta api lokal dari Nara menuju Kyoto.
Kereta api bergerak sangat pelan, kecepatannya sangat cocok untuk menikmati pemandangan atau membaca buku. Negeri Salju Kawabata ada di tangan, namun saya tidak benar-benar membaca, pikiran terus melayang bersama salju dan berbagai hal tentang perempuan-perempuan tanah utara yang dingin itu. Kereta api berhenti di Stasiun Uji, papan petunjuk mengumumkan stasiun berikutnya adalah Obaku
Obaku – 黄檗 – Huang Bo, sebuah nama yang tidak asing bagi saya, nama ini berasal dari suatu tempat di Fujian, Cina. Dimulai dari tempat itu dua guru Zen Dinasti Tang, Baizhang ( 百丈 ) dan Xiyun ( 希運 ) mengembangkan sekte Huang Bo yang merupakan satu aliran besar dalam sejarah Zen di Cina
Saya pernah begitu terpikat dengan Zen, mungkin sewaktu SMA, selalu mencuri baca kitab-kitabnya, paling suka Sutra Huineng. Kemudian Zen menjadi sangat populer, banyak buku-buku tentang Zen ditulis dan diterjemahkan. Dasar Zen adalah membantu melepaskan keterikatan, membantu merobohkan rintangan pengetahuan, kembali ke kehidupan itu sendiri; Zen menjadi populer, mungkin juga merupakan suatu keterikatan lain, hanya saja saya sudah terlalu jauh dari Zen. Tidak tahu bagaimana reaksi guru-guru Zen itu melihat kearifan sederhana yang dipetik dari pengalaman hidup jatuh menjadi permainan kata dan bahasa pamer. Mungkin mereka akan berteriak dan memukul dengan kemocengnya, ketika pengikut sekte Huang Bo berhadapan dengan kekeras-kepalaan dan keterikatan, mereka akan mengunakan teriakan keras dan pukulan kemoceng untuk menghancurkan semua kepalsuan dan kepura-puraan.
Sekte Huang Bo yang dimulai di Gunung Huang Bo di Fujian lalu pindah ke Jiangxi, kemudian dikembangkan Guru Linji – 臨濟 hingga menyebar ke seluruh dataran Cina, tidak duga, di satu sudut Kyoto juga dapat bertemu dengan nama ini. Saya memutuskan turun di stasiun Obaku untuk melakukan sedikit petualangan. Dan ternyata nama stasiun ini memang berhubungan dengan sekte Huang Bo, keluar dari kereta api langsung dapat melihat tulisan besar ——— 萬福寺 – Manpuku-ji
Kuil Manpuku-ji ini didirikan oleh seorang guru Zen bernama Yinyuan – 隱元, orang Jepang memanggilnya, Ingen Ryuki. Tahun 1661, dia menyeberang dari Fujian ke Jepang, ketika itu usianya sudah 68 tahun. Dia memilih pinggiran Kyoto, di sekitar Uji untuk mendirikan kuil ini, dari tempat ini dia menyebarkan ajaran Huang Bo, dan gunung di sekitarnya dia beri nama Huang Bo, kuilnya diberi nama Wan Fu Shi ( Manpuku-ji ), persis seperti nama gunung dan kuil di kampung halamannya.
Cina belum pernah meninggalkan nama tempat yang berhubungan dengan agresi atau pendudukan militer di Jepang, justru di mana-mana dapat dengan mudah bertemu jejak langkah para penyebar kebudayaannya. Di satu sudut Kyoto ini, Guru Yinyuan yang jauh dari Fujian, mengunakan nama gunung dan kuil di kampungnya untuk nama gunung dan kuil di tempat ini, mungkin kampung halaman di hatinya adalah semua tempat yang ada di bawah langit, sebuah cita-cita kehidupan yang diyakini oleh setiap orang. Tidak perlu ada prasangka, tidak terikat cinta, kebencian, dendam dan sayang, semua bisa berasal dari satu sumber. Sehingga semua gunung bisa saja disebut Gunung Huang Bo, semua kuil bisa saja disebut Kuil Wan Fu Shi!
Saya melangkah masuk ke dalam kuil, kuil ini sangat luas, terdiri dari sekelompok bangunan besar dan kecil, selain beberapa bangunan utama, seperti balai agung yang disebut kondo, gedung lonceng atau shoro, ruang sarira, dan beberapa bangunan utama lain, masih banyak bangunan-bangunan kecil yang tersebar di antara rindang hijau pinus dan sipres, seperti dapur, kamar mandi, gudang, ruang tamu, tempat istirahat, dan sebagainya. Bangunan-bangunan kecil ini sangat sederhana, umumnya dari kayu, dijaga bersih dan rapi. Bangunan-bangunan kecil ini ada yang di atas pintunya tergantung sekeping papan kasar dengan tulisan Han ‘ Ayo Minum Teh ‘, ditulis dengan kaligrafi yang indah dan bahasa sederhana yang begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Puncak renungan Zen tidak lebih daripada sebuah hati yang biasa dari orang biasa.
Kuil tua ini terus menjaga hubungan erat dengan kuil induk di Fujian, selama 13 generasi, semua biksu pemimpin kuil datang dari kuil induk di Fujian, setelah itu baru mulai dipimpin secara bergiliran oleh biksu senior dari Cina dan Jepang.
Pada masa Perang Cina – Jepang, kuil yang mempunyai hubungan yang begitu erat dengan Cina ini tentu juga menghadapi sebuah situasi yang sangat sulit. Ketika dendam kesumat yang dinyalakan oleh perang, kebencian yang tidak rasional yang dikibaskan oleh perang, lebih memusnahkan daripada senjata apapun, menghancurkan segala cinta, saling percaya, toleransi, dan kasih sayang di antara manusia, dan kuil yang sudah ratusan tahun menjaga sebuah keyakinan terhadap kehidupan ini juga tergoncang seakan rubuh. Dunia di luarnya penuh dengan tangisan, jeritan, kebencian, dendam, pembalasan, di mana-mana berserakan tubuh-tubuh penuh darah yang dihasilkan oleh dendam dan kebencian itu, suara tangisan memenuhi udara. Kedamaian, keyakinan, nilai kehidupan, di mata orang-orang berperang yang merah membara mungkin hanyalah sebuah keluhan hampa dan tiada daya.
Namun, kuil ini tidak rubuh. di dalam udara yang penuh pekikan kebencian, biksu-biksu Manpuku-ji melangkah keluar, mereka adalah para pengikut yang datang dari Cina dan berbagai tempat di Jepang, mereka berjalan ke dalam reruntuhan, berjalan ke dalam jeritan pilu rakyat, mereka mengumpul dan mengurus mayat-mayat yang tidak dikenal dan tidak dikuburkan, mereka berdoa untuk roh-roh ini, kemudian dikremasi, dicampur jadi satu, bangun sebuah pagoda, disimpan di sana, di depan pagoda didirikan sebuah prasasti, di atasnya dipahat empat tulisan Han yang kokoh ‘ Kawan Lawan Sama Rata ‘
Saya cukup lama berdiri di depan prasasti, di sini ada abu yang datang dari orang Cina, orang Jepang, mungkin juga orang Korea dan orang dari berbagai tempat di Asia, di sini juga ada abu dari penjajah dan yang terjajah. Apakah kawan dan lawan benar-benar bisa sama rata? Di dunia ini ada terlalu banyak perbedaan: Negara, suku, kaya dan miskin, mulia dan rendah, cantik dan buruk, hormat dan hina, pandai dan bodoh, penurut dan pembangkang, penindas dan tertindas…, sungguh kawan lawan benar-benar bisa sama rata?
Tiba-tiba airmata merambat ke seluruh wajah, saya teringat kakek yang terbunuh 30 tahun yang lalu. Senja itu kakek buru-buru berangkat ke kampung tetangga untuk mengobati orang yang terluka parah, jaraknya sekitar dua jam jalan kaki. Di tengah perjalanan dia dirampok, dalam perkelahian dengan empat orang perampok, dia terluka parah, meninggal di hari berikutnya. Dia hanya sempat berpesan tidak perlu ada dendam dan jangan balas dendam.
Kampung kami yang langsung berhadapan dengan Laut Malaka hampir setiap musim angin utara pasti ada mayat yang mengapung di pantai, dan selalu kakek yang mengurusnya. Dia selalu berkata, tidak peduli dia orang dari mana, beri dia sebuah kehormatan terakhir, kubur dia baik-baik.
Saya berpikir, di jaman yang penuh pekikan kebencian dan balas dendam itu, segala keyakinan ditertawakan, segala nilai diinjak dihina, bagaimana biksu-biksu Manpuku-ji bisa begitu yakin dengan empat kata ini ——— Kawan Lawan Sama Rata
Saya lama berdiri di depan prasasti, merapatkan telapak tangan di dada, bungkuk memberi hormat lalu menjauh. Pikiran bergerak tanpa arah, bolak-balik di antara ombak Laut Malaka dan pohon-pohon persik dan plum yang bermekaran di pekarangan rumah-rumah di sekitar kuil.

*
Tempat itu misterius bagai parabel, abstrak seperti alam mimpi.
Setelah berputar separuh pulau Singapura, melewati sebuah pintu pagar besi berwarna hitam yang sempit, kelihatan beberapa baris batu nisan, saya langsung mengerti, ini adalah sebuah perkuburan Jepang. Teman saya menunjuk sebuah nisan kecil berbentuk persegi yang berdiri di antara barisan nisan-nisan, dia berkata bahwa itu mungkin adalah sebuah perkuburan yang paling hemat tempat di dunia, di atasnya tertulis enam karakter Han:
纳骨一万余体
Terkumpul Tulang Lebih dari Sepuluh Ribu Jasad.
Di bawah batu nisan kecil ini terkubur lebih dari sepuluh ribu abu tulang tentara kekaisaran Jepang yang datang menyerang Asia Tenggara. Lalu dia menunjuk ke satu hamparan rumput hijau, di atasnya bertaburan patok-patok batu, ” satu patok batu berarti seorang pelacur Jepang, lihat ada berapa banyak! ” katanya.
Saya tentu tercengang. Jepang yang pernah mengaduk Asia hingga limbung dan setengah pingsan, menebar jelitanya dan kekejamannya hingga tempat sejauh ini, lalu mengores sebuah titik tragis di sini. Ada berapa banyak senyum manis dan jeritan, gincu bedak dan darah segar, akhirnya semua menjadi bisu, membeku, mengumpal di satu sudut. Membeku jadi semacam persembunyian, sembunyi dari keramaian, sembunyi dari sejarah, hanya ingin mendekap rumput hijau dan suara burung, mendekap rasa bersalah, tanpa suara, dan juga tidak ingin didekati orang.
Tidak ada pedagang, karyawan, pekerja, petualang, kelasi, dokter berbaring di sini, hanya ada dua pasukan yang paling gemuruh, kemudian hilang di padang rumput yang tidak seberapa besar ini. Kita mesti hati-hati melangkah, takut ada yang terinjak. Di bawah kaki, di antara berlapis-lapis roh yang berdesakan ini, terkubur berapa tumpuk sejarah Jepang, berapa tumpuk sejarah Asia Tenggara, berapa tumpuk kisah cinta, berapa tumpuk sejarah penjajahan. Setiap tumpuk terlalu pedih dan dalam, maka hanya dapat dari pedih dan dalam kembali ke keheningan, seperti seorang petapa tua yang penuh kerutan di wajah, sudah tidak ingin, sekalipun hanya mengeluh.
Ada sebuah nisan yang cukup megah dan berwibawa di perkuburan ini, dia adalah Hasaichi Terauchi, sebuah nama yang tidak asing bagi peminat sejarah Perang Pasifik. Dalam catatan ini saya sungguh tidak ingin bercerita tentang dia, sebelum diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat Ekpedisi Selatan, dia yang paling bertanggung jawab terhadap kekejaman yang memerahkan Sungai Kuning selama menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat Wilayah Cina Utara, kemudian kekejaman itu dipindahkan ke Asia Tenggara. Bersama Laksamana Yamamoto, Hasaichi Terauchi merancang Perang Pasifik yang mengemparkan dunia. Akhirnya harus bersama bawahannya berbaring di tempat yang tersembunyi ini.

Ilustrasi dari styvopdevianartdotcom
Sekarang seharusnya kita lihat pelacur-pelacur Jepang yang malang itu.
Di perkuburan ini, mereka jauh lebih tua daripada tentara-tentara itu. Dimulai sekitar awal abad ke-20, gelombang kedatangan pelacur Jepang ke Asia Tenggara mencapai beberapa kali puncak, setiap kali selalu berhubungan dengan kelesuan ekonomi Jepang. Perempuan-perempuan muda yang sulit mendapat kerja di tempat asalnya, datang ke Asia Tenggara yang kala itu lebih makmur karena hasil perkebunan dan tambang, menjual senyum mereka yang terhina.
Perempuan-perempuan Jepang yang cantik dan lembut dengan cepat dapat mengalahkan berbagai tempat hiburan lain di Asia Tenggara, kemudian dengan gegap gempita digagas menjadi semacam profesi yang luar biasa. Mulai dari usahawan yang penuh semangat hingga para pekerja tambang yang menderita, pasti dapat menemukan rumah bordil yang sesuai. Para pelanggan dari berbagai negara dan bangsa terus keluar masuk rumah-rumah bordil Jepang. Saat itu, citra Jepang di Asia Tenggara, selain lemah juga sangat kasihan.
Karena kedatangan pelacur Jepang ke Asia Tenggara berhubungan erat dengan kelesuan ekonomi dalam negeri, dan kelesuan ekonomi inilah yang menyebabkan Jepang harus berekspansi. Dengan kata lain, kedatangan pelacur Jepang di awal dan disusul kedatangan tentara Jepang kemudian mungkin ada semacam hubungan sebab-akibat. Dan kuburan mereka yang saling berdekatan, kelihatan seperti sebuah rancangan logika sejarah.
Kisah tentang penderitaan pelacur Jepang tertuang penuh di dalam filem Sandakan No. 8. Namun, menurut saya, bagaimanapun itu adalah sebuah karya orang Jepang sendiri, pada simpul-simpul sejarah tertentu tidak dapat dengan tenang membukanya. Hal-hal yang menimpa pelacur Jepang di Asia Tenggara, harus digabung dengan tentara Jepang yang kemudian datang menduduki Asia Tenggara, dengan demikian sejarah orang Jepang di Asia Tenggara baru dapat diurai lurus dan jelas. Hanya menunjukkan rindu kampung halaman di dalam penderitaan dan penghinaan, jelas telah memperkecil topik.
Ada satu detil di dalam film Sandakan No. 8 yang sulit dilupakan. Pelacur-pelacur Jepang yang meninggal di Asia Tenggara, nisan mereka semuanya membelakangi kampung halaman. Ternyata memang demikian, nisan-nisan yang saya lihat di perkuburan ini persis seperti itu, lebih dari tiga ratus nisan pelacur-pelacur Jepang, semuanya menghadap barat, tidak ada satupun menghadap utara!
Mungkin tidak berani, mungkin enggan, mereka mengeraskan hari, tidak menoleh, lalu menghadap arah yang berbeda dan berbaring, tidak lagi menyayat hati, tidak lagi memendam benci, bahkan ujung mata juga tidak ingin menyapu tempat yang dulu pernah setiap hari rindukan itu.
Saya percaya di bawah nisan-nisan ini pasti tersimpan banyak cerita yang mengharukan, tetapi nisan-nisan ini tidak meninggalkan data apapun, bahkan nama-nama mereka yang di pahat di batu nisan juga jelas bukan nama mereka yang sebenarnya, sehingga berimajinasi saja tidak diberi kesempatan. Misalnya, ada nisan dengan pahatan yang sangat halus, kelihatan agak istimewa, apakah dia seorang perempuan yang sangat berbakat? Baik hati? Sehingga teman-temannya memberi dia sebuah hadiah terakhir yang cantik. Dan mengapa ada nisan yang samasekali tidak ada tulisan? Apakah dia telah melakukan kesalahan besar atau terjadi sesuatu yang di luar dugaan? Dan ada lima nisan yang disusun sebaris, apakah mereka bersumpah sehidup semati? Dan apa yang menyebabkan bersumpah demikian…
Setelah meninggalkan tanah perkuburan itu, pikiran saya berkelana di antara wajah gadis-gadis muda Indonesia yang mangkal di sekitar Boat Quay dan Clarke Quay, di lorong-lorong Geylang, ataupun mungkin di Shinjuku. Di balik senyum lembut dan senyum mengoda itu tersimpan berapa banyak cerita kemiskinan, pembodohan, penindasan, dan di bawahnya masih tersusun berlapis-lapis sejarah penjajahan, sejarah korupsi, sejarah balas dendam politik. Sungguh kawan dan lawan bisa sama rata?

Cerita Lain:
BUDAK
Orang Asing di Malam Paskah

Nada Tiada Titian Nada

Puisi Natayoe Sri Kenezz

Di sudut gelap dimainkannya gitar tua beralas nada miris menyayat malam
Memetik berjuta dawai rindu pada kekasih entah berpijak di mana
Alunan seirama desir angin malam mengantar mimpi
Mengusik ingatan tentang sekeping kenangan
Dibiarkannya matanya nanar terbuka
Menelan semua rajaman siksa pada sebuah nama dan kisah
Menikmatinya sejengkal demi sejengkal
Bergumam lirih memecah hening suara sumbang

Pernah kusentuh halus pualam sinar pori-pori kulitnya
Menyelusuri sudut-sudut keindahan terpatri sempurna di raganya
Melintasi alam tiada batas, berpacu mengejar tahta cinta
Merindu pada penyatuan jiwa tiada sekat
Di akhir penaklukan hasrat,sorot cinta menghujam indah

ilustrasi dari worldartresourcesdotcom
Kembali petikan gitarnya enggan mengikuti nada kehidupan
nestapa menggores sunyi di masa kesendiriannya
Dia hanya punya satu hati yang terbawa pergi
Hilang,
Sakit,
Rindu,
Sendiri.
Pedih seringkali tak bisa ditepis,
Biarkan saja terlelap abadi bersama jiwa meranggas.

Puisi Terkait:
Puisimu Mawarku
Concerto Rasa
Perempuan Kesepian
Waktu untuk Menyendiri

Perempuan Kesepian

Puisi Ragil Koentjorodjati

Alone in The Rain from blogspotdotcom
Satu titik air mata di malam benderang,
bercerita tentang beribu kali gerimis yang ingin di hapus dari ingatan.
Selalu tentang masa silam.

Adalah temaram merkuri mencuri wajah pasi,
serupa bayang berurai tentang dia yang berdiang di balik rerimbun malam,
membiarkannya memeluk dingin.
Sendirian.

Tulisan terkait Perempuan:
Kisah di Balik Pintu: Menyingkap Rahasia Perempuan
Kecantikan Perempuan: Membawa Berkah atau Musibah
Siluet Ibu
Asih Sulastri
Kumpulan Fiksi Super Mini
Tembang Cinta Agata

Pahlawan

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari wordpress.com
Dia yang berlari di antara pematang gedung perkantoran,
dan lalu tenggelam dalam, di sungai kemiskinan dengan harapan yang tersesat,
aku menyebutnya pahlawan

Lelaki yang tulang belulangnya,
menjadi rerangka jalan raya,
aku menyebutnya pahlawan,

Pengelana yang tubuhnya mengering tanpa darah, keringat dan air mata,
membebaskan haus kerongkongan kita,
aku menyebutnya pahlawan,

Anak kecil putus harapan dan yang lalu mati muda,
menyerahkan sisa umurnya pada kita,
aku menyebutnya pahlawan,

Perempuan tanpa payudara,
yang telah kita perah habis susunya,
aku menyebutnya pahlawan,

Ibu yang kehilangan anak-anaknya,
tergerus laju jaman,
aku menyebutnya pahlawan,

Mereka yang bekerja,
dan menyerahkan seluruh nikmatnya kepada kita,
aku menyebutnya pahlawan,

:mereka sempurna terkubur di lorong dan gorong-gorong,
kuburan yang tidak perlu tanda selain bahwa aku menyebutnya pahlawan.

hari ini, aku ikut menyebut hari pahlawan.
10 November 2011

Kisah di Balik Pintu: Menyingkap Rahasia Perempuan

Resensi Ragil Koentjorodjati

Hidup seseorang di luar sana, lewat dalam kesepian, dihantui oleh topeng-topeng manusia lain. Hidup pribadinya lewat dalam keheningan, dihantui oleh topeng diri sendiri.
(Eugene O’Neill)
buku soe tjen marchingSosok perempuan selalu menarik untuk diselisik. Ia seindah debur ombak di permukaan samudera sekaligus menyimpan misteri di bawahnya. Bara ambisi dapat rapi tersembunyi di balik sikap anggun, serapi hasrat seks yang kadang hanya terlihat seperti cahaya pendar. Tidak jarang banyak lelaki terpesona untuk turut mengobarkan setitik bara yang kadang tampak malu-malu tetapi mau. Namun tanpa terduga, perempuan mampu mengatakan “tidak” dengan tersenyum manis sehingga sering kali lelaki lebih percaya pada senyuman itu ketimbang kata “tidak” yang diucapkan. Kerap kali, dalam benak seorang lelaki, perempuan adalah paradoks itu sendiri. Paradoks di mana kata “iya” dapat berarti “tidak” dan kata “tidak” dapat berarti “iya”.
Simak kalimat Sulistina, istri Bung Tomo, pada biografinya yang dikutip Soe Tjen pada bukunya Kisah di Balik Pintu berikut:
Aku digendong dimuka para wartawan dan lampu blits berjepretan mengabadikan peristiwa itu. Aku malu sekali digendong didepan para wartawan…(Soetomo, 1995: 145)
Aneh. Malu tetapi ingin diketahui orang lain perihal malunya itu. Bahkan penting sekali bagi orang lain untuk melihat, mendengar dan menyaksikan rasa malu ini. Rasa malu yang sebenarnya tidak malu (hal. 47)
Acap kali muncul pertanyaan mengapa perempuan merasa perlu untuk menyembunyikan sebahagian dirinya dan pada saat yang sama memunculkan bagian dirinya yang lain. Simak misalnya pembelaan Inggit Garnasih ketika ia memutus suaminya, Sanusi, dan memilih Soekarno yang dua belas tahun lebih muda darinya. Dalam otobiografinya Kuantar ke Gerbang, sebagaimana dipaparkan dalam Kisah di Balik Pintu, ia menulis:
Yang jadi soal bagiku adalah justru suamiku sendiri, Kang Uci. Ia masih juga tetap suka sering keluar rumah. Dan aku sudah tidak bernafsu lagi untuk menegurnya. Biarlah ia mendapatkan kesenangannya sendiri, pikirku (Ganarsih, 1988:7)
Lalu pada bagian lain ia menjelaskan kemesraan hubungannya dengan Kusno atau Soekarno muda sebagai berikut:
Malam hari sering kali kami berduaan. Dengan tidak terasa saat-saat sepi telah direnggut oleh lautan asmara yang menjalar dan naik jadi pasang serta kami dengan tidak sadar telah tenggelam karenanya. Sampai pada satu saat Kusno merayu aku dan aku pun peka. Aku pun terdiri dari darah dan daging, manusia biasa yang luluh oleh kesepian dan musnah oleh pijar sinar cinta yang meluap (Ganarsih, 1988:16).
Jawaban pertanyaan “mengapa perempuan seperti membelah diri di atas” dapat beraneka ragam tergantung dari sudut pandang serta latar belakang si pemberi jawaban. Dan Soe Tjen Marching dengan bukunya Kisah di Balik Pintu menyediakan jawaban yang tidak saja menjelaskan mengapa tetapi juga bagaimana ideologi yang begitu dominan terutama seputar gender dan isu perempuan, mempengaruhi ekspresi para perempuan (hal.xix). Soe Tjen yang juga telah sukses dengan novelnya Mati, Bertahun yang Lalu, kali ini dengan Kisah di Balik Pintu menyediakan bukti-bukti analisis empiris bahwa ideologi yang bias gender punya andil besar dan turut bertanggung jawab atas identitas perempuan yang kadang seperti berkepribadian ganda. Buku ini juga memaparkan analisis serta bukti mengapa perempuan tidak mampu atau tidak berani tampil jujur apa adanya sebagaimana dilakukan kaum lelaki? Dalam istilah sekarang, mengapa harus jaim (jaga image)? Apakah salah jika perempuan ingin berkuasa sebagaimana lelaki? Apakah salah jika perempuan menunjukkan hasrat seksualnya dengan tampil lebih berani, meminta dipeluk atau bahkan memeluk dan mencium, menyampaikan dan mewujudkan ketertarikan pada lawan jenis? Apakah perempuan harus anteng, nurut dan nrimo, cukup sekedar menjadi konco wingking menjalankan tugas-tugasnya di dapur, di sumur dan di kasur?
Jawaban berbagai persoalan perempuan dan telitian tentang identitas perempuan telah cukup banyak disajikan para peneliti dan penggiat pemberdayaan perempuan, sebut saja misalnya buku Identitas Perempuan Indonesia: Status, Pergeseran Relasi Gender, dan Perjuangan Ekonomi Politik yang memuat kompilasi berbagai masalah perempuan di dunia ketiga. Namun Kisah di Balik Pintu sejatinya merupakan penelitian komprehensif atas keterbukaan dan kerahasiaan identitas pribadi perempuan Indonesia. Buku hasil terjemahan desertasi Soe Tjen dalam meraih Ph.D di Australia berjudul The Discrepancy between the Public and the Private of Indonesian Women yang telah diterbitkan sebelumnya oleh The Edwin Mellen Press, New York, 2007 ini, menggunakan buku harian dan otobiografi sebagai pintu masuk menyingkap rahasia-rahasia perempuan yang tidak diketahui publik. Meski terjemahan tersebut menimbulkan kendala bahasa tersendiri seperti salah tulis dan ketidaksepadanan kalimat, namun secara keseluruhan karya empiris yang cukup berat menjadi lebih enak dibaca dan terasa ringan. Harus diakui tidak ada yang lebih menarik selain membaca buku harian orang lain sebab itu seperti mengintip jendela hati seseorang, banyak hal menarik sekaligus mengejutkan.
Pada Kisah di Balik Pintu, setidaknya terdapat sembilan buku harian perempuan dengan berbagai latar belakang dan delapan otobiografi tokoh perempuan Indonesia yang diteliti dan diperbandingkan. Dapat diduga bahwa perbedaan latar belakang penulis buku harian dimaksudkan untuk mementahkan dugaan adanya pengaruh lain seperti suku atau agama. Membaca serta menganalisis “keliaran” perempuan dalam diary atau buku hariannya tentu menimbulkan rasa ingin tahu. Dan itu tidak kalah menarik dengan analisis otobiografi para tokoh seperti Sujatin Kartowijono (Mencari Makna Hidupku, 1983), Rachmawati Sukarno (Bapakku, Ibuku, 1983), Herlina (Pending Emas, 1985; Bangkit dari Dunia Sakit, 1986), Inggit Garnasih (Kuantar ke Gerbang, 1988), Ratna Djuami (Kisah Cinta Inggit dan Bung Karno, 1992), Sulistina Soetomo (Bung Tomo Suamiku, 1995), Lasmidjah Hardi (Lasmidjah Hardi: Perjalanan Tiga Zaman, 1997). Dengan begitu banyak sumber, Kisah di Balik Pintu menjadi begitu kaya dan membuka banyak ruang penafsiran dan pemikiran tentang berbagai persoalan perempuan seperti emansipasi, hasrat diri, kekuasaan, kepuasan seksual dan bagaimana perempuan menempatkan diri pada lingkungan yang dihegemoni maskulinitas.
Lalu untuk apa mengetahui hal-hal yang tersembunyi itu? Temukan jawabannya dari buku setebal 256 halaman terbitan Penerbit Ombak Yogyakarta ini. Buku yang begitu kaya dengan mutiara yang menunggu untuk dituai.

buku soe tjenJudul Buku : Kisah di Balik Pintu (Identitas Perempuan Indonesia: Antara Yang Publik & Privat)
Penulis : Soe Tjen Marching
Penerbit : Ombak
Cetakan : I, 2011
Tebal : xxi + 256 halaman

Tulisan Terkait:
Siapa Soe Tjen Marching?

Order 3 Selebriti Kepada Penggali Kubur

Humor Planet Kenthir by Kong Ragile

Seorang penggali kubur sedang menyapu sampah dedaunan di komplek pemakaman nasional ketika 3 selebriti papan atas dunia bergegas menghampiri untuk memberi order istimewa. Apaan seh? Ternyata mereka bertiga berniat mati muda sebelum usia 50. Dan order itu adalah demi jaminan tersedianya liang kubur yang nyaman. Ehm….
“Lho. Lho. Kenapa buru-buru mati? Eman-eman wong ayu cepet ewes-ewes,” komentar penggali kubur, polos.
Tiga selebriti internasional itu masing-masing berusia 40 tahun, terdiri atas seorang ilmuan peneliti, seorang pedagang berlian, dan seorang ratu ayu sejagat (miss universe). Mereka tiga sekawan yang hidup menjomblo dan bersepakat mati muda selagi reputasi serta karir berada pada puncak. Alasannya adalah agar mereka meninggalkan dunia ketika masih jaya kemudian berharap segera masuk sorga sebelum bintang ketenaran meredup.
“Lho… lho…kenapa tidak kawin dulu? Eman-eman wong ayu gak nyicipi sorga dunia. Kelonan uwenak tenan, lho, ” komentar penggali kubur, polos.
Namun tiga seleb perempuan itu sudah bertekad bulat mati muda. Mereka akan minta bantuan pakar Dr.Death, si jago suntik mati dari Australia, yang buka praktek di sebuah klinik khusus suntik mati di Swis. Tinggal satu persoalan yaitu “Kepastian Masuk Sorga”. Untuk yang satu ini mereka minta masukan dari penggali kubur.
“Lho. Lho. Kenapa khawatir tidak masuk sorga? Eman-eman wong ayu koq jadi mangsa binatang buas di neraka,” komentar penggali kubur, polos.
Kemudian giliran penggali kubur bertanya kepada mereka andaikata mereka sudah mati.
Kepada si ilmuan, “Andaikata malaikat menilai Anda belum layak masuk sorga, apa reaksi Anda?”
“Saya akan tunjukan manfaat ilmu pengetahuan saya, semoga malaikat berubah pikiran,” kata si ilmuan.
Penggali kubur berbisik dalam hati: “hmm… Masuk akal yah.”
Kepada si pedagang berlian, “Andaikata malaikat menilai Anda belum layak masuk sorga, apa reaksi Anda?”
“Saya akan tunjukan manfaat sedekah dari hasil dagang berlian, semoga malaikat berubah pikiran,” kata si pedagang.
Penggali kubur berbisik dalam hati: “hmm… Masuk akal yah.”
Kepada si ratu ayu sejagat, “Andaikata malaikat menilai Anda belum layak masuk sorga, apa reaksi Anda?”
Saya akan copot semua pakaian lalu tunjukan manfaat setiap lekukan tubuh sexy saya, semoga malaikat berubah pikiran,” kata si ratu ayu.
Penggali kubur berbisik dalam hati: “hmm… ayu-ayu tapi goblok.”

Humor lain di Planet Kenthir:

Majelis Ulama vs Pedagang Krupuk

Tunangan (3)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata

Ketika Nadya terbangun, waktu menunjukkan pukul 2:00, saat cahaya mulai bersinar. Ketukan penjaga malam terdengar dari suatu tempat yang jauh. Dia tidak lagi mengantuk, tempat tidurnya terasa sangat lembut dan kurang nyaman. Nadya duduk di tepi ranjang, pikirannya melayang pada hal-hal yang dia lakukan setiap malam pada bulan Mei. Yang dia pikirkan sama dengan apa yang dipikirkan pada malam-malam sebelumnya, tidak berguna, pikiran yang terus-menerus, selalu sama, tentang bagaimana Andrey Andreitch mulai memacarinya dan memberinya tawaran, lalu bagaimana ia menerimanya dan kemudian sedikit demi sedikit datang perasaan untuk menghargai kebaikan hati lelaki cerdas itu. Tapi untuk beberapa alasan, sekarang, ketika waktu tinggal hampir satu bulan tersisa sebelum pernikahan, dia mulai merasa takut dan gelisah seolah-olah sesuatu yang samar seakan menindasnya.
“Tik-tok, tik-tok…” penjaga mengetuk malas. “… Tik-tok.”
Melalui jendela kuno besar dia bisa melihat taman dan agak jauh di semak-semak, kembang bungur berbunga penuh, kedinginan, mengantuk tanpa daya; dan kabut putih tebal melayang lembut mencoba menyelimutinya. Gagak yang masih mengantuk berkaok-kaok jauh di pepohonan.
“Ya Tuhan, mengapa hati saya begitu berat?”
Mungkin setiap gadis merasakan hal yang sama sebelum pernikahannya. Tidak ada yang tahu! Atau pengaruh Sasha? Tapi untuk beberapa tahun terakhir Sasha mengulangi kebiasaan yang sama, seperti buku fotokopian, dan ketika dia berbicara tampak naif dan aneh. Tapi kenapa dia tidak mampu mengeluarkan Sasha dari kepalanya? Mengapa?
Untuk beberapa saat, penjaga berhenti mengetuk sesuatu. Burung-burung berkicau di bawah jendela dan kabut telah menghilang dari kebun. Semua bercahaya sebab sinar matahari musim semi yang secerah senyuman. Dengan segera, segenap isi taman menghangat, kembali ke kehidupan oleh belaian matahari, dan embun seperti kilau berlian pada dedaunan. Di pagi itu, taman tua yang terabaikan tampak muda dan riang berhias.
Nenek sudah bangun. Batuk serak Sasha dimulai. Nadya mendengar mereka di bawah sedang menggeser kursi dan mempersiapkan Samovar. Waktu berjalan perlahan, Nadya sudah turun dari tempat tidur dan berjalan beberapa saat mengitari kebun sepanjang pagi itu.
kasih tak sampaiTiba-tiba Nina lvanovna muncul dengan wajah bernoda air mata, membawa segelas air mineral. Dia selalu tertarik pada spiritualisme dan homeopati, banyak membaca, gemar berbicara tentang keraguan yang tidak mampu ditundukkannya, dan bagi Nadya semua itu tampak seperti ada sesuatu yang sangat misterius.
Nadya mencium ibunya lalu berjalan di sampingnya.
“Apa yang kau tangisi, ibu?” dia bertanya.
“Tadi malam aku membaca sebuah cerita tentang orang tua dan putrinya. Orang tua itu bekerja di beberapa kantor dan atasannya jatuh cinta pada putrinya. Aku terbangun sebelum mimpiku selesai, tapi ada bagian yang membuat sulit untuk menahan air mata, “kata Nina lvanovna dan dia meneguk gelasnya. “Pagi ini aku kembali memikir itu dan air mata ini menetes lagi.”
“Beberapa hari ini aku begitu tertekan,” kata Nadya setelah jeda. “Aku tidak tahu mengapa aku tidak dapat tidur di malam hari!”
“Aku tidak tahu, Sayang. Ketika aku tidak bisa tidur, aku menutup mataku kuat-kuat, seperti ini, dan gambaran diriku, Anna Karenin bergerak dan berbicara, atau sesuatu yang bersejarah dari dunia kuno…..”
Nadya merasa bahwa ibunya tidak memahami dan tidak mampu memahami. Dia merasakan hal ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dan itu tampak menakutkan dan membuatnya ingin menyembunyikan diri. Nadya pergi ke kamarnya.
Pukul dua, mereka duduk untuk makan malam. Saat itu hari Rabu, hari yang begitu cepat, dan begitu penuh sup sayuran. Dan ikan air tawar dengan gandum direbus diletakkan di hadapan Nenek.
Untuk menggoda Nenek, Sasha makan sup daging serta sup sayuran. Dia membuat lelucon sepanjang waktu makan malam, tapi gurauannya berat, menyangkut standar moral. Efeknya sama sekali tidak lucu ketika sebelum membuat beberapa gurauan dia mengangkat jari-jari tangannya yang sangat panjang, tipis, dan seperti jari mayat. Dan ketika seseorang ingat bahwa dia sangat sakit dan mungkin tidak akan lama lagi di dunia ini, orang merasa kasihan padanya dan siap menangis.
Setelah makan malam Nenek pergi ke kamarnya untuk berbaring. Beberapa saat Nina Ivanovna memainkan piano, dan kemudian ia pun pergi.
“Oh, Nadya sayang!” Sasha memulai percakapan sore seperti biasanya, “Andai saja kamu mau mendengarkanku! Andai saja kamu mau!”
Nadya duduk agak jauh ke belakang, di sebuah kursi berlengan tua-kuno, dengan mata terpejam sementara Sasha dengan perlahan mondar-mandir di ruangan dari ujung ke ujung.
“Andai saja kamu mau pergi ke kampus,” katanya. “Hanya orang yang tercerahkan dan suci yang menarik. Hanya itu yang mereka inginkan lebih dari yang diharapkan orang-orang, yaitu Kerajaan Allah datang ke bumi lebih cepat. Kemudian dari kotamu tidak satu batu pun akan ditinggalkan, semua akan Ia tiup dari pondasinya, semuanya akan berubah seolah-olah terkena kekuatan gaib. Dan kemudian akan ada rumah-rumah besar dan megah di sini, taman indah, air mancur ajaib, orang yang luar biasa….. Tapi bukan itu yang paling penting. Yang paling penting adalah bahwa kerumunan, dalam arti kata, dalam pengertian yang ada sekarang – kejahatan tidak akan ada lagi karena setiap orang akan percaya dan setiap orang akan tahu bahwa dia hidup dan tak seorang pun akan mencari dukungan moral dalam kerumunan. Nadya, sayang, pergilah! Tunjukkan pada mereka bahwa kamu muak dengan kehidupan yang stagnan, abu-abu, dan berlumur dosa. Setidaknya, buktikan pada dirimu sendiri!”
“Aku tidak bisa, Sasha, aku akan menikah.”
“Oh, omong kosong apa! Untuk apa menikah?”
Mereka pergi ke taman dan berjalan naik turun beberapa saat.
“Dan bagaimanapun juga, sayangku, kamu harus berpikir, kamu harus menyadari betapa najis dan tidak bermoral kehidupanmu yang beku,” Sasha melanjutkan. “pahamilah bahwa jika, misalnya, kamu dan ibumu dan nenekmu tidak melakukan apa-apa, itu berarti bahwa orang lain sedang bekerja untukmu. Kamu sedang makan kehidupan orang lain, dan apakah itu bersih? Bukankah itu kotor?”
Nadya ingin mengatakan “Ya, itu benar”, dia ingin mengatakan bahwa dia mengerti, tapi air mata datang ke matanya, semangatnya terkulai, dan menyusut ke dalam dirinya. Dia pergi ke kamarnya.
Menjelang malam Andrey Andreitch datang dan seperti biasa bermain biola untuk beberapa saat. Sesuai aturan, dia tidak diperkenankan banyak bicara, dan sangat menyukai biola, mungkin karena orang bisa diam saat bermain biola. Pukul 11:00, saat ia akan pulang dan sudah mengenakan mantel, ia memeluk Nadya dan mulai rakus mencium wajah, bahu, dan tangannya.
“Sayangku, manisku, cantikku,” gumamnya. “Oh, betapa bahagianya aku! Aku disamping diriku sendiri dengan penuh kebahagiaan!”
Sepertinya dia telah mendengar semua itu bertahun lalu atau pernah membacanya, entah di mana, mungkin dalam beberapa novel tua yang compang-camping yang telah dibuangnya. Di ruang makan, Sasha sedang duduk minum teh dengan cawan siap pada kelima jarinya yang panjang; Nenek menata kesabaran; Nina lvanovna sedang membaca. Api di bola lampu mengerjap dan semuanya, tampaknya tenang dan berjalan baik. Nadya mengucapkan selamat malam, pergi ke lantai atas menuju kamarnya, naik ke tempat tidur dan tak lama kemudian pulas. Tetapi sama seperti pada malam sebelumnya, ia terbangun sebelum cahaya bersinar. Dia tidak mengantuk, ada perasaan tidak enak menindas hatinya. Dia duduk dengan kepala di atas lututnya, memikirkan tunangannya dan pernikahannya. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat ibunya yang tidak mencintai almarhum ayahnya dan sekarang hidup tergantung pada ibu mertuanya, Nenek. Semakin lama merenung Nadya semakin tidak bisa membayangkan mengapa ia sampai sekarang tidak dapat melihat sesuatu yang istimewa atau luar biasa pada ibunya, bagaimana ibunya tidak menyadari bahwa dia hanyalah seorang sederhana yang biasa, dan wanita yang tidak bahagia.
Di lantai bawah Sasha tidak tidur, Nadya bisa mendengar batuknya. Dia seorang pria aneh dan naif, pikir Nadya, yang dalam semua mimpi-mimpinya ia merasa semua taman air mancur yang indah dan mengagumkan selalu ada sesuatu yang absurd. Tapi untuk beberapa alasan dalam buku kenaifannya, dalam absurditas selalu ada sesuatu yang tiba-tiba begitu indah sesegera setelah dia memikirkan kemungkinan untuk pergi ke universitas. Dengan begitu ia mengirimkan getaran dingin melalui hati dan dadanya serta membanjiri mereka dengan sukacita dan kenikmatan.
“Tapi lebih baik tidak berpikir, lebih baik tidak berpikir…” Nadya berbisik. “Aku tidak harus memikirkannya.”
“Tik-tok,” ketukan penjaga malam masih terdengar di tempat yang jauh, sangat jauh.
“Tik-tok… Tik-tok….”

Bersambung…

Catatan:

Samovar
Samovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.

Kemuning

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Aku ingin bercerita tentang gadis desa bermata air dan berambut api. Gadis itu bernama Kemuning. Gadis sekokoh beringin hanya saja daun-daunnya menguning.

Ilustrasi dari imgres
Saat musim laron beterbangan, ia tertawa riang. Itu petanda satu minggu ia tidak akan kesulitan mencari makan. Peyek laron yang gurih dari laron yang malang. Ia tidak merasa perlu turut bersedih sebab ia pun satu dari berjuta laron itu. Lahir, menatap api dan lalu mati. Ia tidak merasa perlu cemburu pada kunang-kunang. Sekalipun indah dan bercahaya, kunang-kunang tidak memberinya daya. Baginya, kunang-kunang tidak lebih dari jiwa-jiwa kesepian yang mencoba menerangi dirinya sendiri. Kasihan. Buat apa hidup jika hanya menjadi fatamorgana, batinnya.

Ia hanya paham bahasa kesunyian. Hidup dan tumbuh di tanah tanpa tuan. Bagi kami, ia adalah mimpi yang tak terjangkau. Ia cantik, tapi tak lagi bunga desa sebab ia adalah Kemuning, gadis bermata air dan berambut api. Aku beritahu, engkau akan teduh bila di dekatnya, tapi akan terbakar jika mencintainya. Suatu saat engkau harus mengenalinya.

Akhir Oktober 2011