Tunangan (3)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata

Ketika Nadya terbangun, waktu menunjukkan pukul 2:00, saat cahaya mulai bersinar. Ketukan penjaga malam terdengar dari suatu tempat yang jauh. Dia tidak lagi mengantuk, tempat tidurnya terasa sangat lembut dan kurang nyaman. Nadya duduk di tepi ranjang, pikirannya melayang pada hal-hal yang dia lakukan setiap malam pada bulan Mei. Yang dia pikirkan sama dengan apa yang dipikirkan pada malam-malam sebelumnya, tidak berguna, pikiran yang terus-menerus, selalu sama, tentang bagaimana Andrey Andreitch mulai memacarinya dan memberinya tawaran, lalu bagaimana ia menerimanya dan kemudian sedikit demi sedikit datang perasaan untuk menghargai kebaikan hati lelaki cerdas itu. Tapi untuk beberapa alasan, sekarang, ketika waktu tinggal hampir satu bulan tersisa sebelum pernikahan, dia mulai merasa takut dan gelisah seolah-olah sesuatu yang samar seakan menindasnya.
“Tik-tok, tik-tok…” penjaga mengetuk malas. “… Tik-tok.”
Melalui jendela kuno besar dia bisa melihat taman dan agak jauh di semak-semak, kembang bungur berbunga penuh, kedinginan, mengantuk tanpa daya; dan kabut putih tebal melayang lembut mencoba menyelimutinya. Gagak yang masih mengantuk berkaok-kaok jauh di pepohonan.
“Ya Tuhan, mengapa hati saya begitu berat?”
Mungkin setiap gadis merasakan hal yang sama sebelum pernikahannya. Tidak ada yang tahu! Atau pengaruh Sasha? Tapi untuk beberapa tahun terakhir Sasha mengulangi kebiasaan yang sama, seperti buku fotokopian, dan ketika dia berbicara tampak naif dan aneh. Tapi kenapa dia tidak mampu mengeluarkan Sasha dari kepalanya? Mengapa?
Untuk beberapa saat, penjaga berhenti mengetuk sesuatu. Burung-burung berkicau di bawah jendela dan kabut telah menghilang dari kebun. Semua bercahaya sebab sinar matahari musim semi yang secerah senyuman. Dengan segera, segenap isi taman menghangat, kembali ke kehidupan oleh belaian matahari, dan embun seperti kilau berlian pada dedaunan. Di pagi itu, taman tua yang terabaikan tampak muda dan riang berhias.
Nenek sudah bangun. Batuk serak Sasha dimulai. Nadya mendengar mereka di bawah sedang menggeser kursi dan mempersiapkan Samovar. Waktu berjalan perlahan, Nadya sudah turun dari tempat tidur dan berjalan beberapa saat mengitari kebun sepanjang pagi itu.
kasih tak sampaiTiba-tiba Nina lvanovna muncul dengan wajah bernoda air mata, membawa segelas air mineral. Dia selalu tertarik pada spiritualisme dan homeopati, banyak membaca, gemar berbicara tentang keraguan yang tidak mampu ditundukkannya, dan bagi Nadya semua itu tampak seperti ada sesuatu yang sangat misterius.
Nadya mencium ibunya lalu berjalan di sampingnya.
“Apa yang kau tangisi, ibu?” dia bertanya.
“Tadi malam aku membaca sebuah cerita tentang orang tua dan putrinya. Orang tua itu bekerja di beberapa kantor dan atasannya jatuh cinta pada putrinya. Aku terbangun sebelum mimpiku selesai, tapi ada bagian yang membuat sulit untuk menahan air mata, “kata Nina lvanovna dan dia meneguk gelasnya. “Pagi ini aku kembali memikir itu dan air mata ini menetes lagi.”
“Beberapa hari ini aku begitu tertekan,” kata Nadya setelah jeda. “Aku tidak tahu mengapa aku tidak dapat tidur di malam hari!”
“Aku tidak tahu, Sayang. Ketika aku tidak bisa tidur, aku menutup mataku kuat-kuat, seperti ini, dan gambaran diriku, Anna Karenin bergerak dan berbicara, atau sesuatu yang bersejarah dari dunia kuno…..”
Nadya merasa bahwa ibunya tidak memahami dan tidak mampu memahami. Dia merasakan hal ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dan itu tampak menakutkan dan membuatnya ingin menyembunyikan diri. Nadya pergi ke kamarnya.
Pukul dua, mereka duduk untuk makan malam. Saat itu hari Rabu, hari yang begitu cepat, dan begitu penuh sup sayuran. Dan ikan air tawar dengan gandum direbus diletakkan di hadapan Nenek.
Untuk menggoda Nenek, Sasha makan sup daging serta sup sayuran. Dia membuat lelucon sepanjang waktu makan malam, tapi gurauannya berat, menyangkut standar moral. Efeknya sama sekali tidak lucu ketika sebelum membuat beberapa gurauan dia mengangkat jari-jari tangannya yang sangat panjang, tipis, dan seperti jari mayat. Dan ketika seseorang ingat bahwa dia sangat sakit dan mungkin tidak akan lama lagi di dunia ini, orang merasa kasihan padanya dan siap menangis.
Setelah makan malam Nenek pergi ke kamarnya untuk berbaring. Beberapa saat Nina Ivanovna memainkan piano, dan kemudian ia pun pergi.
“Oh, Nadya sayang!” Sasha memulai percakapan sore seperti biasanya, “Andai saja kamu mau mendengarkanku! Andai saja kamu mau!”
Nadya duduk agak jauh ke belakang, di sebuah kursi berlengan tua-kuno, dengan mata terpejam sementara Sasha dengan perlahan mondar-mandir di ruangan dari ujung ke ujung.
“Andai saja kamu mau pergi ke kampus,” katanya. “Hanya orang yang tercerahkan dan suci yang menarik. Hanya itu yang mereka inginkan lebih dari yang diharapkan orang-orang, yaitu Kerajaan Allah datang ke bumi lebih cepat. Kemudian dari kotamu tidak satu batu pun akan ditinggalkan, semua akan Ia tiup dari pondasinya, semuanya akan berubah seolah-olah terkena kekuatan gaib. Dan kemudian akan ada rumah-rumah besar dan megah di sini, taman indah, air mancur ajaib, orang yang luar biasa….. Tapi bukan itu yang paling penting. Yang paling penting adalah bahwa kerumunan, dalam arti kata, dalam pengertian yang ada sekarang – kejahatan tidak akan ada lagi karena setiap orang akan percaya dan setiap orang akan tahu bahwa dia hidup dan tak seorang pun akan mencari dukungan moral dalam kerumunan. Nadya, sayang, pergilah! Tunjukkan pada mereka bahwa kamu muak dengan kehidupan yang stagnan, abu-abu, dan berlumur dosa. Setidaknya, buktikan pada dirimu sendiri!”
“Aku tidak bisa, Sasha, aku akan menikah.”
“Oh, omong kosong apa! Untuk apa menikah?”
Mereka pergi ke taman dan berjalan naik turun beberapa saat.
“Dan bagaimanapun juga, sayangku, kamu harus berpikir, kamu harus menyadari betapa najis dan tidak bermoral kehidupanmu yang beku,” Sasha melanjutkan. “pahamilah bahwa jika, misalnya, kamu dan ibumu dan nenekmu tidak melakukan apa-apa, itu berarti bahwa orang lain sedang bekerja untukmu. Kamu sedang makan kehidupan orang lain, dan apakah itu bersih? Bukankah itu kotor?”
Nadya ingin mengatakan “Ya, itu benar”, dia ingin mengatakan bahwa dia mengerti, tapi air mata datang ke matanya, semangatnya terkulai, dan menyusut ke dalam dirinya. Dia pergi ke kamarnya.
Menjelang malam Andrey Andreitch datang dan seperti biasa bermain biola untuk beberapa saat. Sesuai aturan, dia tidak diperkenankan banyak bicara, dan sangat menyukai biola, mungkin karena orang bisa diam saat bermain biola. Pukul 11:00, saat ia akan pulang dan sudah mengenakan mantel, ia memeluk Nadya dan mulai rakus mencium wajah, bahu, dan tangannya.
“Sayangku, manisku, cantikku,” gumamnya. “Oh, betapa bahagianya aku! Aku disamping diriku sendiri dengan penuh kebahagiaan!”
Sepertinya dia telah mendengar semua itu bertahun lalu atau pernah membacanya, entah di mana, mungkin dalam beberapa novel tua yang compang-camping yang telah dibuangnya. Di ruang makan, Sasha sedang duduk minum teh dengan cawan siap pada kelima jarinya yang panjang; Nenek menata kesabaran; Nina lvanovna sedang membaca. Api di bola lampu mengerjap dan semuanya, tampaknya tenang dan berjalan baik. Nadya mengucapkan selamat malam, pergi ke lantai atas menuju kamarnya, naik ke tempat tidur dan tak lama kemudian pulas. Tetapi sama seperti pada malam sebelumnya, ia terbangun sebelum cahaya bersinar. Dia tidak mengantuk, ada perasaan tidak enak menindas hatinya. Dia duduk dengan kepala di atas lututnya, memikirkan tunangannya dan pernikahannya. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat ibunya yang tidak mencintai almarhum ayahnya dan sekarang hidup tergantung pada ibu mertuanya, Nenek. Semakin lama merenung Nadya semakin tidak bisa membayangkan mengapa ia sampai sekarang tidak dapat melihat sesuatu yang istimewa atau luar biasa pada ibunya, bagaimana ibunya tidak menyadari bahwa dia hanyalah seorang sederhana yang biasa, dan wanita yang tidak bahagia.
Di lantai bawah Sasha tidak tidur, Nadya bisa mendengar batuknya. Dia seorang pria aneh dan naif, pikir Nadya, yang dalam semua mimpi-mimpinya ia merasa semua taman air mancur yang indah dan mengagumkan selalu ada sesuatu yang absurd. Tapi untuk beberapa alasan dalam buku kenaifannya, dalam absurditas selalu ada sesuatu yang tiba-tiba begitu indah sesegera setelah dia memikirkan kemungkinan untuk pergi ke universitas. Dengan begitu ia mengirimkan getaran dingin melalui hati dan dadanya serta membanjiri mereka dengan sukacita dan kenikmatan.
“Tapi lebih baik tidak berpikir, lebih baik tidak berpikir…” Nadya berbisik. “Aku tidak harus memikirkannya.”
“Tik-tok,” ketukan penjaga malam masih terdengar di tempat yang jauh, sangat jauh.
“Tik-tok… Tik-tok….”

Bersambung…

Catatan:

Samovar
Samovar: semacam alat seperti poci untuk menjaga teh tetap panas di meja makan.

Beri Tanggapan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s